Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS PADA KLIEN DIAGNOSA


MEDIS KETUBAN PECAH DINI (KPD) DI RUANG VK UGD
RSUD dr. R SOEDJONO SELONG

ANDI KURNIAWAN S. Kep.,

PROGRAM PROFESI NERS KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HAMZAR
LOMBOK TIMUR
2018
LAPORAN PENDAHULUAN
KETUBAN PECAH DINI

1. Pengertian
Ketuban Pecah Dini (KPD) adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda
persalinan dan ditunggu satu jam sebelum dimulainya tanda persalinan (Manuaba, 1998).
Ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya/rupturnya selaput amnion sebelum dimulainya
persalinan yang sebenarnya atau pecahnya selaput amnion sebelum usia kehamilannya
mencapai 37 minggu dengan atau tanpa kontraksi.

2. Etiologi
a. Persalinan premature
b. Malposisi atau malpresentasi janin
c. Faktor yang mengabitkan kerusakan serviks
1. Pemakaian alat-alat pada serviks sebelumnya (aborsi terapeutik, dan sebagainya)
2. Peningkatan paritas yang memungkinkan kerusakan serviks selama pelahiran
sebelumnya
d. Riwayat KPD sebelumnya sebanyak dua kali atau lebih
e. Kelebihan berat badan sebelum kehamilan
g. Merokok selama kehamilan
h. Usia ibu yang lebih tua mungkin menyebabkan ketuban kurang kuat daripada ibu muda

3. Patofisiologi
Infeksi dan inflamasi dapat menyebabkan ketuban pecah dini dengan menginduksi
kontraksi uterus dan atau kelemahan fokal kulit ketuban. Pada infeksi juga dihasilkan
produk sekresi akibat aktivitas monosit/makrofag, yaitu sitokrin, interleukin 1, factor
nekrosis tumor dan interleukin 6. Platelet activating factor yang diproduksi oleh paru-paru
janin dan ginjal janin yang ditemukan dalam cairan amnion, secara sinergis juga
mengaktifasi pembentukan sitokin. Endotoksin yang masuk kedalam cairan amnion juga
akan merangsang sel-sel disidua untuk memproduksi sitokin dan kemudian prostaglandin
yang menyebabkan dimulainya persalinan.
Adanya kelemahan local atau perubahan kulit ketuban adalah mekanisme lain
terjadinya ketuban pecah dini akibat infeksi dan inflamasi. Enzim bacterial dan atau produk
host yang disekresikan sebagai respon untuk infeksi dapat menyebabkan kelemahan dan
rupture kulit ketuban.

4. Pathway

5. Tanda dan gejala


Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina, aroma
air ketuban berbau amis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih
merembes atau menetes dengan ciri pucat dan bergaris warna darah, cairan ini tidak akan
berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila anda duduk atau
berdiri, kepala janin yang sudah terletak dibawah biasanya “mengganjal “atau menyambut
kebocoran untuk sementara. Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut
jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi. (buku asuhan
patologi kebidanan, sujiyatini, 2009,hal:14)

6. Penatalaksanaan
a. Pencegahan
1. Obati infeksi gonokokus, klamidi, dan vaginosis bacterial
2. Diskusikan pengaruh merokok selama kehamilan dan dukung untuk mngurangi
atau berhenti.
3. Motivasi untuk menambah berat badan yang cukup selama hamil
4. Anjurkan pasangan agar menghentikan koitus pada trisemester akhir bila ada
faktor predisposisi.
b. Panduan Mengantisipasi
1. Jelaskan pasien yang memiliki riwayat berikut ini saat prenatal bahwa mereka
harus segera melapor bila ketuban pecah.
2. Kondisi yang menyebabkan ketuban pecah dapat mengakibatkan prolaps tali
pusat
3. Letak kepala selain vertex
4. Herpes aktif
5. Riwayat infeksi streptokus beta hemolitiukus sebelumnya
c. Bila Ketuban Telah Pecah
1. Anjurkan pengkajian secara saksama. Upayakan mengetahui waktu terjadinya
pecahnya ketuban
2. Bila robekan ketuban tampak kasar:
a. Saat pasien berbaring terlentang, tekan fundus untuk melihat adanya
semburan cairan dari vagina.
b. Basahi kapas asupan dengan cairan dan lakukan pulasan pada slide untuk
mengkaji ferning dibawah mikroskop.
c. Sebagian cairan diusapkan kekertas Nitrazene. Bila positif, pertimbangkan uji
diagnostik bila pasien sebelumnya tidak melakukan hubungan seksual tidak ada
perdarahan dan tidak dilakukan pemeriksaan pervagina menggunakan jeli K-Y.
3. Bila pecah ketuban dan / atau tanda kemungkinan infeksi tidak jelas, lakukan
pemeriksaan pekulum steril.
a. Kaji nilai bishop serviks (lihat Nilai Bishop, tabel 5-2).
b. Lakukan kultur serviks hanya bila ada tanda infeksi.
c. Dapatkan spesimen cairan lain dengan lidi kapas steril yang dipulaskan pada
slide untuk mengkaji ferning dubawah mikroskop.
4. Bila usia gestasi kurang dari 37 minggu atau pasien terjangkit herpes Tipe 2,
rujuk ke dokter.
d. Penatalaksanaan Konservatif
1. Kebanyakan persalinan dimulai dalam 24-72 jam setelah ketuban pecah.
2. Kemungkinan infeksi berkurang bila tidak ada alat yang dimasukan kevagina,
kecuali spekulum steril ; jangan melakukan pemeriksaan vagina.
3. Saat menunggu , tetap pantau pasien dengan ketat.
4. Ukur suhu tubuh empat kali sehari ; bila suhu meningkatkan secara signifikan,
dan/atau mencapai 380 C, berikan macam antibiotik dan pelahiran harus
diselesaikankan.
5. Observasi rabas vagina: bau menyengat, purulen atau tampak kekuningan
menunjukan adanya infeksi.
6. Catat bila ada nyeri tekan dan iritabilitas uterus serta laporkan perubahan apa
pun
e. Penatalaksaan Agresif
1. Jel prostaglandin atau misoprostol (meskipun tidak disetujui penggunaannya)
dapat diberikan setelah konsultasi dengan dokter
2. Mungkin dibutuhkan rangkaian induksi pitocin bila serviks tidak berespons
3. Beberapa ahli menunggu 12 jam untuk terjadinya persalinan. Bila tidak ada
tanda, mulai pemberian pitocin
4. Berikan cairan per IV, pantau janin
5. Peningkatan resiko seksio sesaria bila induksi tidak efektif.
6. Bila pengambilan keputusan bergantung pada kelayakan serviks untuk di
indikasi, kaji nilai bishop (lihat label 5-2) setelah pemeriksaan spekulum. Bila
diputuskan untuk menunggu persalinan, tidak ada lagi pemeriksaan yang
dilakukan, baik manipulasi dengan tangan maupun spekulum, sampai persalinan
dimulai atau induksi dimulai
7. Periksa hitung darah lengkap bila ketuban pecah. Ulangi pemeriksaan pada hari
berikutnya sampai pelahiran atau lebih sering bila ada tanda infeksi
8. Lakukan NST setelah ketuban pecah; waspada adanya takikardia janin yang
merupakan salah satu tanda infeksi
9. Mulai induksi setelah konsultasi dengan dokter bila:
 Suhu tubuh ibu meningkat signifikan
 Terjadi takikardia janin
 Lokia tampak keruh
 Iritabilitas atau nyeri tekan uterus yang signifikan
 Kultur vagina menunjukan strepkus beta hemolitikus
 Hitung darah lengkap menunjukan kenaikan sel darah putih
f. Penatalaksanaan Persalinan Lebih Dari 24 Jam Setelah ketuban Pecah
1. Pesalinan spontan
 Ukur suhu tubuh pasien setiap 2 jam, berikan antibiotik bila ada demam
 Anjurkan pemantauan janin internal
 Beritahu dokter spesialis obstetri dan spesialis anak atau praktisi perawat
neonates
 Lakukan kultur sesuai panduan
2. Indikasi persalinan
 Lakukan secara rutin setelah konsultasi dengan dokter
 Ukur suhu tubuh setiap 2 jam
 Antibiotik : pemberian antibiotik memiliki beragam panduan , banyak yang
memberikan 1-2 g ampisilin per IV atau 1-2 g Mefoxin per IV ssetiap 6 jam
sebagai profilakis . Beberapa panduan lainnya menyarankan untuk mengukur
suhu tubuh ibu dan DJJ untuk menentuan kapan aantibiotik mungkin
diperlukan.(buku obstetric dan ginekologi,2009,geri morgan)

7. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Cairan yang keluar dari vagina perlu di periksa warna konsentrasi, bau dan
PH nya. Cairan yang keluar dari vagina kecuali air ketuban mungkin juga urine atu
secret vagina, Sekret vagina ibu hamil pH :4,5 dengan kertas nitrazin tidak berubah
warna, tetap kuning .1.a tes lakmus (tes nitrazin), jika kertas lakmus merah berubah
menjadi biru menunjukkan adanya air ketuban (alkalis).Ph air ketuban 7-7,5 darah
dan infeksi vagina dapat menghaslkan tes yang positif palsu .1b. mikroskop (tes
pakis ), dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek dan dibiarkan kering.
Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran daun psikis.
b. Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam
kavum uteri pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit. Namun
sering terjadi kesalahan pada penderita oligohidroamion. Walaupun pendekatan
diagnosis KPD cukup banyak macam dan caranya ,namun pada umunya KPD sudah
bisa terdiagnosis dengan anamnesa dan pemeriksaan sederhana. (buku asuhan
patologi kebidanan, sujiyatini, 2009,hal:16-17)
8. Komplikasi
Komplikasi paling sering terjadi pada KPD sebelum usia 37 minggu adalah sindrom
distress pernapasan,yang terjadi pada 10-40% bayi baru lahir. Risiko infeksi meningkat pada
kejadian KPD.Semua ibu hamil dengan KPD premature sebaiknya dievaluasi untuk
kemungkinan terjadinya korioamnionitis (radang pada korion dan amnion). Selain itu
kejadian prolaps atau keluarnya tali pusar dapat terjadi pada KPD.
Risiko kecacatan dan kematian janin meningkat pada KPD Praterm. Hipoplasia paru
merupakan komplikasi fatal terjadi pada KPD praterm.Kejadiannya mencapai hampir 100%
apabila KPD praterm ini terjadi pada usia kehamilan kurang dari 23 minggu.
a. Infeksi intrauterine
b. Tali pusat menumbung
c. Prematuritas

9. Pengkajian
a. Identitas ibu
b. Riwayat penyakit
 Riwayat kesehatan sekarang ;ibu datang dengan pecahnya ketuban sebelum usia
kehamilan mencapai 37 minggu dengan atau tanpa komplikasi
 Riwayat kesehatan dahulu
1. Adanya trauma sebelumnya akibat efek pemeriksaan amnion
2. Sintesi, pemeriksaan pelvis dan hubungan seksual
3. Infeksi vagiana /serviks oleh kuman streptokokus
4. Selaput amnion yang lemah/tipis
5. Posisi fetus tidak normal
6. Kelainan pada otot serviks atau genital seperti panjang serviks yang pendek
7. Multiparitas dan peningkatan usia ibu serta defisiensi nutrisi.
c. Pemeriksaan fisik
1. Kepala dan leher
 Mata perlu diperiksa dibagian skelra,konjungtiva
 Hidung, ada atau tidaknya pembengkakan konka nasalis. Ada /tidaknya hipersekresi
mukosa
 Mulut :gigi karies/tidak, mukosa mulut kering dan warna mukosa gigi
 Leher berupa pemeriksaan JVP,KGB Dan tiroid
2. Dada
 Troraks
Inspeksi: Kesimetrisan dada, jenis pernapasan toraka abdominal, dan tidak ada retraksi
dinding dada. Frekuensi pernapasan normal.
Palpasi: Payudara tidak ada pembengkakan
Auskultasi: Terdengar Bj 1 dan II di IC kiri/kanan, bunyi napas normal vesikuler
 Abdomen
Inspeksi : Ada a/tidak bekas operasi, striae dan linea
Palpasi: TFU kontraksi ada/tidak, posisi, kandung kemih penuh/tidak
Auskultasi: DJJ ada/tidak.
 Genitalia
Inspeksi: Kebersihan ada/tidaknya tanda-tanda REEDA (Red, Edema, discharge,
approxiamately); pengeluaran air ketuban (jumlah, warna, bau dan lendir merah muda
kecoklatan)
Palpasi : Pembukaan serviks (0-4)
 Ekstrimitas : Edema, varises ada/tidak.
d. Pemeriksaan diagnostic
1. Hitung darah lengkap untuk menentukan adanya anemia,infeksi
2. Golongan darah dan faktor Rh
3. Rasio lestin terhadap spingomielin (rasio US): menentukan maturitas janin
4. Tes ferning dan kertas nitrazine: memastikan pecah ketuban
5. Ultrasonografi ; menentukan usia gestasi ,ukuran janin ,gerakan jantung janin dan
lokasi plasenta.
6. Pelvimetri ; identifikasi posisi janin
10. Diagnosa Keperawatan
1. Risiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan prosedur infasif, pemeriksaan vagina
berulang dan rupture membrane amniotic
2. Risiko tinggi cedera pada janin yang berhubungan dengan melahirkan bayi premature
/tidak matur
3. Ansietas yang berhubungan dengan krisis situasi, ancaman pada diri sendiri/janin
4. Risiko tinggi cedera pada ibu yang berhubungan dengan intervensi pembedahan,
penggunaan obat tokolitik.
5. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan hipersensitivitas.
6. Risiko tinggi kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan penurunan masukan
cairan

11. Intervensi Keperawatan


1. Diagnosis 1 : Ansietas yang berhubungan dengaan krisis situasi, ancaman konsep diri,
ancaman yang dirasakan/actual dari kesejahteraan maternal, dan janin transmisi
interpersonal.
Tujuan : Ansietas pada iibu dapat teratasi
Kriteria hasil :
 Mengungkapkan rasa takut pada keselamatan ibu dan janin
 Mendiskusikan perasaan tentang kelahiran caesarea
 Pasien tampak benar-benar rileks
 Menggunakan sumber / system pendukung dengan efektif
Intervensi :
a. Kaji respon psikologi pada kejadian dan ketersediaan system pendukung
Rasional: makin ibu merasakan ancaman, makin besar tingkat ansietas.
b. Pastikan apakah prosedur direncanakan atau tidak direncanakan.
Rasional: pada kelahiran caesarea yang tidak direncanakan, ibu dan pasangan biasanya
tidak mempunyai waktu untuk persiapan psikologi dan fisiologi.
c. Tetap bersama ibu dan tetap bicara perlahan, tunjukan empati.
Rasional: membantu transmisi ansietas interpersonal dan mendemonstrakan perhatian
terhadap ibu.
d. Beri penguatan aspek positif dari ibu dan janin
Rasional : memfokuskan pada kemungkinan keberhasilan akhir dan membantu
membawa ancaman yang dirasakan/ actual kedalam prespektif.
e. Anjurkan ibu dan pasangannya mengungkapkan atau mengekspresikan perasaan
Rasional : membantu membatasi perasaan dan memberikan kesempatan untuk
mengatasi perasaaan ambivalen atau berduka. Ibu dapat merasakan ancaman
emosional pada harga diri nya karena perasaannya bahwa ia telah gagal, wanita yang
lemah.
f. Dukung atau arahkan kembali mekanime koping yang diekspresikan Rasional :
mendukung mekanisme kopin dasar dan otomatis meningkatkan kepercayaan diri serta
penerimaan dan menurunkan ansietas.
g. Berikan masa privasi terhadap rangsangan lingkungan seperti jumlah orang yang ada
sesuai kenginan ibu.
h. Rasional : memungkinkan kesempatan bagi ibu untuk memperoleh informasi,
menyusun sumber – sumber, dan mengatasi cemas dengan efektif.

2. Diagnosis 2 : Resiko tinggi terhadap infeksi yang berhubungan dengan prosedur


invasif pecah ketuban, kerusakan kulit dan penurunan Hb.
Tujuan : Infeksi tidak terjadi
Kriteria Hasil :
 Klien bebas infeksi
 Pencapaian tepat waktu dalam pemulihan luka tanpa komplikasi
Intervensi :
a. Tinjau ulang kondisi factor resiko yang ada sebelumnya.
Rasional : kondisi dasar ibu : seperti DM dan hemoragi menimbulkan potensial resiko
infeksi atau penyembuhan luka yang buruk. Adanya proses infeksi dapat meningkat
resiko kontaminasi janin.
b. Kaji terhadap tanda dan gejala infeksi ( misalnya peningkatan suhu, nadi, jumlah sel
darah putih atau bau / warna secret vagina.
Rasional : pecah ketuban terjadi 24 jam sebelum pembedahan dapat mengakibatkan
korioamonitis sebelum mengintervensi bedah dan dapat mengubah penyembuhan luka.
c. Berikan perawatan perineal sedikitnya setiap 4 jam bila ketuban telah pecah.
Rasional : membantu mengurangi resiko infeksi asenden.
KOLABORASI
d. Lakukan persiapan kulit praoperatif, scrub sesuai protocol.
Rasional : menurunkan kontaminan kulit memasuki insisi, menurunkan resiko infeksi
pasca-operatif
e. Dapatkan kultur darah vagina dan plasenta sesuai indikasi.
Rasional : mengidentifikasi organisme yang meninfeksi dan tingkat keterlibatan.
f. Catat Hb dan Ht catat perkiraan kehilangan darah selama prosedur pembedahaan.
Rasional : resiko infeksi pasca melahirkan serta penyembuhan lebih lama bila kadar
Hb rendah dan kehilangan darah berlebihan.

g. Berikan antibiotic spectrum luas parental pada pra-operasi


Rasional : Antibiotik profilaktik dapat dipesankan untuk mencegah terjadinya proses
infeksi sebagai pengobatan pada infeksi sebagai pengobatan pada infeksi yang
teridentifikasi.
DAFTAR PUSTAKA

Manuaba, Ida bagus Gede, 1998, Ilmu Kebidanan Penyaki Kandungan dan KB, Penerbit
Buku Kedokteran, EGC : Jakarta.
Mitayani ,2009, Asuhan Keperawatan Maternitas,Jakarta : Salemba Medika
Errol norwiz,2011, anatomi dan fisiologi
Geri morgan,2009, obsteri dan ginekologi panduan praktik, Jakarta EGC.
Sujiyati ,2008, asuhan patologi kebidanan, jakarta ; Numed.
http://firwanintianur93.blogspot.com/2014/01/laporan-pendahuluan-ketuban-pecah-
dini.html