Anda di halaman 1dari 15

TUGAS UNIT PROSES

ADSORPSI

OLEH:
KELOMPOK 3

ANGGOTA:

1. NINDY HIIDAYAH (1410941011)


2. YASINTA FITRI AZWIR (1410941029)
3. MERIENZA VAROLIA (1510941018)
4. NURWADENIA (1510941027)
5. REVI ALFINO (1510942027)

DOSEN:
SLAMET RAHARJO, DR. Eng

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK-UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu sifat penting dari permukaan zat adalah adsorpsi. Seperti halnya kinetika kimia,
kinetika adsorpsi juga berhubungan dengan laju reaksi. Hanya saja, kinetika adsorpsi lebih
khusus, yang hanya membahas sifat penting dari permukaan zat. Adsorpsi digunakan untuk
menyatakan bahwa zat lain yang terserap pada zat itu, misalnya karbon aktif dapat menyerap
molekul asam asetat dalam larutannya. Tiap partikel adsorban dikelilingi oleh molekul yang
diserap karena terjadi interaksi tarik-menarik. Zat-zat yang terlarut dapat di adsorpsi oleh zat
padat, misalnya CH3COOH oleh karbon aktif, NH3 oleh karbon aktif, fenolftalein dari larutan
asam atau basa oleh karbon aktif, Ag+ atau Cl- oleh AgCl. C lebih baik menyerap non elektrolit
dan makin besar BM semakin baik. Zat anorganik lebih baik menyerap elektrolit. Adanya
pemilihan zat yang diserap menyebabkan timbulnya adsorpsi negatif. Dalam larutan KCl, H2O
diserap oleh arang darah, hingga konsentrasi naik.

Partikel sol padat ditempatkan dalam zat cair atau gas, maka partikel zat cair atau gas akan
terakumulasi. Fenomena ini juga disebut adsorpsi. Adsorpsi terkait dengan penyerapan
partikel pada permukaan zat. Partikel koloid sol memiliki kemampuan untuk meng adsorpsi
partikel pendispersi pada permukaanya. Daya adsorpsi partikel koloid tergolong besar karena
partikelnya memberikan sesuatu permukaan yang luas. Sifat ini telah digunakan dalam
berbagai proses seperti penjernihan air.

Adsorben ialah zat yang melakukan penyerapan terhadap zat lain (baik cairan maupun gas)
pada proses adsorpsi. Adsorben yang paling banyak dipakai untuk menyerap zat-zat dalam
larutan adalah arang. Zat ini banyak dipakai di pabrik untuk menghilangkan zat-zat warna
dalam larutan. Penyerapan bersifat selektif, yang diserap hanya zat terlarut atau pelarut
sangat mirip dengan penyerapan gas oleh zat padat. Ketika pelarut yang mengandung zat
terlarut tersebut kontak dengan adsorben, terjadi perpindahan massa zat terlarut dari pelarut
ke permukaan adsorben, sehingga konsentrasi zat terlarut di dalam cairan dan di dalam
padatan akan berubah terhadap waktu dan posisinya dalam kolom adsorpsi.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah:


1. Apa yang dimaksud dengan adsorpsi?
2. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi adsorpsi?
3. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi adsorpsi?
4. Apa itu isoterm adsorpsi?
5. Apa saja jenis-jenis adsorban?
6. Apa itu karbon aktif?
7. Apa saja kegunaan karbon aktif?

1.3 Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:


1. Mengetahui pengertian adsorpsi
2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi adsorpsi
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi adsorpsi
4. Mengetahui pengertian isoterm adsorpsi
5. Mengetahui jenis-jenis adsorban
6. Mengetahui tentang karbon aktif
7. Mengetahui kegunaan karbon aktif
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Adsorpsi

Adsorpsi merupakan sebuah proses yang terjadi jika gas atau solut cairan terakumulasi pada
permukaan padat atau cair (adsorben), membentuk lapisan molekul atau atom (adsorbat).
Sedangkan Alberty dan Daniel (1987) mendefinisikan adsorpsi sebagai fenomena yang terjadi
pada permukaan. Adsorpsi secara umum didefinisikan sebagai akumulasi sejumlah molekul,
ion atau atom yang terjadi pada batas antara dua fasa. Adsorpsi menyangkut akumulasi atau
pemusatan substansi adsorbat pada adsorben dan dalam hal ini dapat terjadi pada antar muka
dua fasa. Fasa yang menyerap disebut adsorben dan fasa yang terserap disebut adsorbat.
Kebanyakan adsorben adalah bahan - bahan yang memiliki pori karena berlangsung terutama
pada dinding-dinding pori atau letak - letak tertentu didalam adsorben.

Gambar 2.1. Ilustrasi proses Adsorpsi

Gaya tarik - menarik dari suatu padatan dibedakan menjadi dua jenis yaitu gaya fisika dan
gaya kimia yang masing-masing menghasilkan adsorpsi fisika (physisorption) dan adsorpsi
kimia (chemisorption). Dalam proses adsorpsi melibatkan berbagai macam gaya yakni gaya
van der Waals, gaya elektrostatik, ikatan hidrogen serta ikatan kovalen:

1. Adsorpsi Fisika (Physisorption)


Adsorpsi fisika adalah proses intertaksi antara adsorben dengan adsorbat yang melibatkan
gaya - gaya antar molekul seperti gaya van der Waals (antar molekul lemah). Pada
adsorpsi fisika, gaya tarik menarik antara molekul fluida dengan molekul pada permukaan
padatan (Intermolekuler) lebih kecil dari pada gaya tarik menarik antar molekul fluida
tersebut sehingga gaya tarik menarik antara adsorbat dengan permukaan adsorben relatif
lemah pada adsorpsi fisika, adsorbat tidak terikat kuat dengan permukaan adsorben
sehingga adsorbat dapat bergerak dari suatu bagian permukaan ke permukaan lainnya
dan pada permukaan yang ditinggalkan oleh adsorbat tersebut dapat digantikan oleh
adsorbat lainnya. Keseimbangan antara permukaan padatan dengan molekul fluida
biasanya cepat tercapai dan bersifat reversibel. Adsorpsi fisika memiliki kegunaan dalam
hal penentuan luas permukaan dan ukuran pori.
2. Adsorpsi Kimia (Chemisorption)
Adsorpsi kimia terjadi jika interaksi adsorben dan adsorbat melibatkan pembentukan ikatan
kimia. Adsorpsi kimia terjadi karena adanya ikatan kimia yang terbentuk antara molekul
adsorbat dengan permukaan adsorben. Ikatan kimia dapat berupa ikatan kovalen/ion.
Ikatan yang terbentuk kuat sehingga spesi aslinya tidak dapat ditentukan. Karena kuatnya
ikatan kimia yang terbentuk maka adsorbat tidak mudah terdesorpsi. Adsorpsi kimia
diawali dengan adsorpsi fisik dimana adsorbat mendekat kepermukaan adsorben melalui
gaya Van der Waals / Ikatan Hidrogen kemudian melekat pada permukaan dengan
membentuk ikatan kimia yang biasa merupakan ikatan kovalen

Pada adsorpsi kimia terjadi pembentukan dan pemutusan ikatan, sehingga energi adsorpsinya
berada pada kisaran yang sama dengan reaksi kimia. Ikatan antara adsorben dengan
adsorbat cukup kuat sehingga tidak terjadi spesiasi, karena zat yang teradsorpsi menyatu
dengan membentuk lapisan tunggal dan relatif reversibel. Batas minimal suatu adsorpsi
dikategorikan sebagai kemisorpsi adalah memiliki harga energi adsorpsi sebesar 20, 92
kJ/mol. Energi yang menyertai adsorpsi kimia relatif tinggi yaitu berkisar 42 - 420 kJ/mol. Hal
ini diperkuat oleh studi spek troskopi bahwa terjadi transfer elektron dan terbentuk ikatan kimia
antara adsorben dan adsorbat.

Proses adsorpsi larutan secara teoritis umunya berlangsung lebih lama dibandingkan proses
adsorpsi pada gas, uap atau cairan murni. Hal ini disebabkan pada adsorpsi larutan
melibatkan persaingan antara komponen larutan dengan situs adsorpsi. Proses adsorpsi
larutan dapat diperkirakan secara kualitatif dari polaritas adsorben dan komponen penyusun
larutan. Kecenderungan adsorben polar lebih kuat menyerap adsorbat polar dibandingkan
adsorbat non polar, demikian pula sebaliknya. Kelarutan adsorbat dalam pelarut merupakan
faktor yang menentukan dalam proses adsorpsi, umumnya substansi hidrofilik sukar
teradsorpsi dalam larutan encer.

Pada dasarnya, suatu adsorben harus memiliki:


1. Luas permukaan spesifik yang tinggi, yaitu memiliki pori - pori berdiameter kecil agar
proses retensi partikel adsorbat oleh adsorben berlangsung lebih efektif. Secara spesifik,
ukuran pori juga menentukan adsorpsi suatu senyawa tertentu dalam larutan. Jika ukuran
pori adsorben semakin kecil maka kemampuan adsorpsinya semakin besar, dengan
anggapan bahwa komponen yang teradsorpsi dapat memasuki rongga porinya.
2. Jumlah adsorben yang makin banyak akan memberikan luas permukaan yang makin besar
bagi adsorbat untuk terdesorpsi.
3. Banyak jumlah adsorben juga akan memberi kesempatan kontak yang makin besar
dengan molekul - molekul adsorbat.
2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Daya Adsorpsi

1. Jenis Adsorbat
a. Ukuran molekul adsorbat
Ukuran molekul adsorbat yang sesuai merupakan hal yang penting agar proses
adsorpsi dapat terjadi, karena molekul-molekul yang dapat diadsorpsi adalah molekul-
molekul yang diameternya lebih kecil atau sama dengan diameter pori adsorben.
b. Kepolaran zat
Adsorpsi lebih kuat terjadi pada molekul yang lebih polar dibandingkan dengan molekul
yang kurang polar pada kondisi diameter yang sama. Molekul-molekul yang lebih polar
dapat menggantikan molekul-molekul yang kurang polar yang telah lebih dahulu
teradsorpsi . Pada kondisi dengan diameter yang sama , maka molekul polar lebih
dahulu diadsorpsi.
2. Suhu
Pada saat molekul-molekul adsorbat menempel pada permukaan adsorben terjadi
pembebasan sejumlah energi sehingga adsorpsi digolongkan bersifat eksoterm. Bila suhu
rendah maka kemampuan adsorpsi meningkat sehingga adsorbat bertambah.

3. Tekanan Adsorbat
Pada adsorpsi fisika bila tekanan adsorbat meningkat jumlah molekul adsorbat akan
bertambah namun, pada adsorpsi kimia jumlah molekul adsorbat akan berkurang bila
tekanan adsorbat meningkat.
4. Karakteristik Adsorben
Ukuran pori dan luas permukaan adsorben merupakan karakteristik penting adsorben.
Ukuran pori berhubungan dengan luas permukaan semakin kecil ukuran pori adsorben
maka luas permukaan semakin tinggi. Sehingga jumlah molekul yang teradsorpsi akan
bertambah. Selain itu kemurnian adsorben juga merupakan karakterisasi yang utama
dimana pada fungsinya adsorben yang lebih murni yang lebih diinginkan karena
kemampuan adsorpsi yang baik.

2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efisiensi Adsorpsi

1. Temperatur
Oleh karena proses adsorpsi adalah proses yang eksotermis, maka adsorpsi akan
berkurang pada temperatur lebih tinggi. Jika terdapat reaksi antara kontaminan yang
teradsorpsi dan permukaan adsorben antara 2 atau lebih kontaminan kimia tersebut maka
laju reaksinya akan meningkat pada temperatur yang lebih tinggi.
2. Kelembapan
Uap air mudah diadsorpsi oleh jenis adsorben polar sehingga kelembapan yang tinggi
dapat mempengaruhi dan mengurangi kemampuan adsorben tersebut untuk
mengadsorpsi kontaminan.
3. Laju Alir Pengambilan Sampel
Jika terlalu tinggi laju alir dapat mengurangi efisiensi adsorpsi
4. Adanya Kontaminan Lain
Adanya kontaminan lain dapat mengurangi efisiensi adsorpsi karena adanya kompetisi
antar kontaminan tersebut pada bagian adsorpsi. Reaksi antar senyawaan juga mungkin
terjadi, sehingga diperoleh hasil konsentrasi yang lebih rendah yang seharusnya.

2.4 Isoterm Adsorpsi

Isoterm adsorpsi adalah hubungan kesetimbangan antara konsentrasi dalam fase fluida dan
konsentrasi di dalam partikel adsorben pada suhu tertentu. Ada beberapa isoterm adsorpsi
yang diketahui seperti model isoterm Langmuir, Freundlich dan juga model isoterm Brunauer,
Emmet, dan Teller (BET).

Waktu kontak media kosong (EBCT) dihitung melalui volume (V) yang ditempati oleh laju
pembebenan granular karbon aktif (GAC) dibagi dengan laju alir (Q):

Kedalam kritis media (Hcr) menyebabkan konsentrasi efluen sama dengan konsentrasi
breakthrough, Cb. Cb merupakan konsentrasi maksimum efluen yang dapat diterima atau
konsentrasi minimum data yang dapat diindentifikasi. GAC harus diganti atau diperbaharui
hingga kualitas efluen mencapai Cb.

1. Isoterm Langmuir
Model kinetika adsorpsi Langmuir ini berdasarkan pada asumsi sebagai berikut: laju
adsorpsi akan bergantung pada faktor ukuran dan struktur molekul
adsorbat, sifat pelarut dan porositas adsorben, situs pada permukaan yang homogen dan
adsorpsi terjadi secara monolayer. Proses adsorpsi heterogen memiliki dua tahap, yaitu :
a. perpindahan adsorbat dari fasa larutan kepermukaan adsorben
b. adsorpsi pada permukaan adsorben. Tahap pertama akan bergantung pada sifat
pelarut dan adsorbat yang terkontrol

Pada isoterm ini secara teoritis menganggap bahwa hanya sebuah monolayer gas yang
teradsorbsi, selain itu adsorpsi molekul zat terlarut terlokalisasi, yaitu sekali adsorpsi,
molekul-molekul ini tidak dapat bergerak disekeliling permukaaan padatan. Selain
pernyataan di atas isoterm ini juga mengasumsikan bahwa panas adsorbsi, ∆ adsorpsi,
tidak bergantung pada luas permukaan yang ditutupi gas. Persamaan Isoterm Adsorpsi
Langmuir :

Gambar 2.2. Kurva Langmuir Isotherm

Keterangan:
Jumlah adsorbat/ gram absorban meningkat relatif cepat. Selanjutnya menjadi
lebih lambat begitu permukaan tertutup oleh molekul absorbat.

2. Isoterm Freundlich
Pada Isoterm ini persamaan diturunkan secara empirik, dengan asumsi bahwa
penyerapan terjadi multicomponent. Persamaan dapat diturunkan dari adsorpsi zat padat
dalam air atau solid-aquos system. Bentuk persamaannya yaitu:
3. Isoterm BET (Brunauer, Emmet, dan Teller)

Persamaan ini mengembangkan persamaan Langmuir, sehingga dapat digunakan untuk


adsorbsi multi molekuler pada permukaan padatan. Bentuk persaman ini adalah:

Salah satu karakteristik karbon aktif yang berkualitas ialah memiliki luas permukaan yang
tinggi. Semakin besar luas permukaan karbon aktif, semakin besar pula daya adsorpsinya.
Luas permukaan suatu adsorben dapat diketahui dengan alat pengukur luas permukaan
yang menggunakan prinsip metode BET . Pengukuran luas permukaan dengan model BET
ini biasanya menggunakan nitrogen sebagai adsorbat. Pengukuran ini didasarkan pada
data adsorpsi isotermis nitrogen pada suhu 77 K. Adsorpsi isotermis dengan prinsip BET
merupakan jenis isoterm fisis.

Isoterm Langmuir Isoterm Freundlich


1. Adsorben mempunyai permukaan yang Adsorben mempunyai permukaan yang
homogen, energi adsorpsi konstan di heterogen dan tiap molekul mempunyai
semua sisi. potensi penyerapan yang berbeda-beda.
2. Semua proses adsorpsi sama rata di Semua proses adsorpsi tidak sama rata
setiap permukaan adsorben. di setiap permukaan adsorben.
3. Setiap sisi adsorben hanya bisa menyerap Setiap sisi adsorben tidak hanya bisa
satu molekul adsorbate. menyerap satu molekul adsorbate.
2.5 Jenis - jenis Adsorben
1. Adsorben Tidak Berpori (Non-Porous Sorbent)
Adsorben tidak berpori dapat diperoleh dengan cara presipitasi deposit kristalin seperti
BaSO4 atau penghalusan padatan kristal. Luas permukaan spesifiknya kecil tidak lebih
dari 10 m2 /g dan umumnya antara 0,1 s/d 1 m2/g. Adsorben yang tidak berpori seperti filter
karet (rubber filters) dan karbon hitam bergrafit (graphitized Carbon Black) adalah jenis
adsorben tidak berpori yang telah mengalami perlakuan khusus sehingga luas
permukaannya dapat mencapai ratusan m2/g.
2. Adsorben Berpori( Porous Sorbents)
Luas permukaan spesifik dsorben berpori berkisar antara 100 s/d 1000 m 2/g. Biasanya
digunakan sebagai penyangga katalis, dehidrator, dan penyeleksi komponen. Adsorben
ini umumnya benbentuk granular. Klasifikasi pori menurut International Union of Pure and
Applied Chemistry (IUPAC) adalah:
a. Pori-pori berdiameter kecil (Mikropores d < 2 nm )
b. Pori-pori berdiameter sedang ( Mikropores 2 < d <50 nm)
c. Pori-pori berdiameter besar ( Makropores d > 50 nm )

Gambar 2.2. Jenis-jenis Adsorben


Sifat absorban:
1. Karbon aktif: bahan seperti arang dengan luas permukaan yang tinggi.
2. Silica gel: keras, granular, bahan berpori yang dibuat dari presipitasi larutan natrium silikat
yang diolah dengan asam.
3. Activated alumina: aluminium oksida diaktifkan pada suhu tinggi dan digunakan terutama
untuk adsorpsi kelembaban.
4. Aluminosilikat (saringan molekuler): zeolit sintetis berpori, digunakan terutama dalam
proses pemisahan.
2.6 Karbon Aktif

Karbon aktif secara komersial diketahui pertama kali karena penggunaannya sebagai topeng
uap pada perang dunia I. Namun, pada abad ke-15 sudah diketahui bahwa karbon hasil
dekompresiasi kayu dapat menyingkirkan bahan berwarna dari pada abad ke-17. Penerapan
secara komersil arang kayu digunakan dalam sebuah pabrik gula di Inggris.

Karbon aktif merupakan adsorben terbaik dalam sistem adsorpsi. Ini dikarenakan arang aktif
memiliki luas permukaan yang besar dan daya adsorpsi yang tinggi sehingga pemanfaatannya
dapat optimal. Karbon aktif yang baik harus memiliki luas permukaan yang besar sehingga
daya adsorpsinya juga besar. Luas permukaan karbon aktif umumnya berkisar antara 300–
3000 m2/g dan ini terkait dengan struktur pori pada karbon aktif tersebut. Karbon aktif adalah
material berpori dengan kandungan karbon 87%-97% dan sisanya berupa hidrogen, oksigen,
sulfur, dan material lain. Karbon aktif merupakan karbon yang telah diaktivasi sehingga terjadi
pengembangan struktur pori yang bergantung pada metode aktivasi yang digunakan. Struktur
pori menyebabkan ukuran molekul teradsorpsi terbatas, sedangkan bila ukuran partikel tidak
masalah, kuantitas bahan yang diserap dibatasi oleh luas permukaan karbon aktif.

Karbon aktif akan mengambil senyawa organik dari cairan atau gas dengan cara adsorpsi.
Pada proses adsorpsi, molekul organik yang berada di fase gas cair akan ditarik dan diikat ke
permukaan pori karbon aktif, ketika cairan atau gas tersebut melewati karbon aktif. Setelah
zat-zat organik dalam cairan/gas diserap (adsorbsi), kemudian zat organik itu ditahan di dalam
permukaan karbon aktif. Perbedaan antara arang dan arang aktif adalah pada bagian
permukaannya. Bagian permukaan arang masih ditutupi oleh deposit hidrokarbon yang
menghalangi keaktifannya, sementara bagian permukaan arang aktif relatif bebas dari deposit
dan permukaannya lebih luas serta pori–pori yang terbuka sehingga dapat melakukan
penyerapan. Kemampuan adsorpsi arang aktif tidak hanya bergantung pada luas
permukaannya saja tetapi juga struktur dalam pori-pori arang aktif, karakteristik permukan dan
keberadaan grup fungsional pada permukaan pori.

2.7 Kegunaan Arang Aktif


1. Untuk Gas
a. Pemurnian gas
Desulfurisasi, menghilangkan gas racun, bau busuk, asap, menyerap racun.
b. Pengolahan LNG
Desulfurisasi dan penyaringan berbagai bahan mentah dan reaksi gas.
c. Katalisator
Reaksi katalisator atau pengangkut vinil klorida dan vinil acetat.
2. Untuk Zat Cair
a. Pada pengolahan air untuk penjernihan dan mengurangi kesadahan dengan menyerap
bau, rasa, warna, kaporit, kapur (CaCO3), logam berat.
b. Pada pengolahan emas untuk menyerap konsentrasi emas (ore) dalam bentuk Carbon
in pulp (CIP), Carbon in Leach (CIL), Carbon in Clear Solution (CIC) biasanya dari
batok kelapa mesh 8-25.
c. Pada pemurnian gas dengan menyerap belerang, gas beracun, bau busuk, asap dan
pencegahan racun.
d. Pada pengolahan limbah untuk menyerap Bahan Beracun Berbahaya (B3) yaitu
menyerap sianida yang terdapat pada limbah industri serat sintetik.
e. Untuk menyerap logam berat Raksa/Hg, Cadmium/Cd, Plumbum/Pb/Timbal,
Cromium/Cr penyebab sakit kanker.
f. Penyegar/pembersih udara ruangan dari kandungan uap air/gas berbau/beracun,
seperti pada mobil, kamar pendingin, botol obat-obatan serta peralatan-peralatan yang
harus dilindungi dari proses perkaratan.
g. Pada industri obat dan makanan sebagai penyaring, penghilang warna, bau dan rasa
tidak enak pada makanan.
BAB III
PEMBAHASAN SOAL

SOAL

Dalam unit filtrasi media ganda, laju beban permukaan 3,74 gpm/ft2. Persyaratan peraturan
EBCTmin adalah 5,5 menit. Berapa kedalaman kritis GAC?

SOLUSI
BAB IV

KESIMPULAN

Kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut:


1. Adsorpsi merupakan sebuah proses yang terjadi jika gas atau solut cairan terakumulasi
pada permukaan padat atau cair (adsorben), membentuk lapisan molekul atau atom
(adsorbat).
2. Gaya tarik - menarik dari suatu padatan dibedakan menjadi dua jenis yaitu gaya fisika dan
gaya kimia.
3. Isoterm adsorpsi adalah hubungan kesetimbangan antara konsentrasi dalam fase fluida
dan konsentrasi di dalam partikel adsorben pada suhu tertentu.
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya adsorpsi yaitu: jenis adsorbat, suhu, tekanan
adsorbat dan jenis adsorbat.
5. Karbon aktif merupakan jenis adsorbat yang paling banyak digunakan karena memiliki daya
penyerap yang kuat.
DAFTAR PUSTAKA

Atkins, P.W. 1997.Kimia Fisika Jilid II. Jakarta : Erlangga.

Castellan, G. W. 1983. Physical chemistry. New York: Addison Wesley Publising.

Company.Tim Dosen Kimia Fisika. 2012. Diktat Petunjuk Praktikum Kimia Fisik. Semarang:
FMIPA UNNES.

Day, JR. dan Underwood, A. L. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.

Pudjaatmaka, A. Hadyana. 2002. Kamus Kimia. Jakarta: Balai Pustaka.