Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

Reaksi Redoks adalah reaksi yang didalamnya terjadi perpindahan


elektron secara berurutan dari satu spesies kimia ke spesies kimia
lainnya, yang sesungguhnya terdiri atas dua reaksi yang berbeda, yaitu
oksidasi (kehilangan elektron) dan reduksi (memperoleh elektron). Reaksi
ini merupakan pasangan, sebab elektron yang hilang pada reaksi oksidasi
sama dengan elektron yang diperoleh pada reaksi reduksi. Masing-masing
reaksi (oksidasi dan reduksi) disebut reaksi paruh (setengah reaksi),
sebab diperlukan dua reaksi paruh ini untuk membentuk sebuah
reaksi dan reaksi keseluruhannya disebut reaksi redoks.

Oksidasi dan reduksi tepatnya merujuk pada perubahan bilangan oksidasi


karena transfer elektron yang sebenarnya tidak akan selalu terjadi.
Sehingga oksidasi lebih baik didefinisikan sebagai peningkatan bilangan
oksidasi, dan reduksi sebagai penurunan bilangan oksidasi. Dalam
prakteknya, transfer elektron akan selalu mengubah bilangan oksidasi,
namun terdapat banyak reaksi yang diklasifikasikan sebagai "redoks"
walaupun tidak ada transfer elektron dalam reaksi tersebut (misalnya yang
melibatkan ikatan kovalen).

Reaksi oksidasi-reduksi banyak berperan dalam kehidupan sehari-hari.


Mulai dari pembakaran bahan bakar minyak bumi sampai dengan kerja
cairan pemutih yang digunakan dalam rumah tangga. Selain itu, unsur
logam dan non logam diperoleh dari bijihnya dari proses oksidasi atau
reduksi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Reaksi Reduksi Oksidasi (Redoks)

Berdasarkan perkembangannya, reaksi redoks dimulai dari pemahaman


batasan tradisional, yaitu reaksi oksidasi adalah reaksi pengikatan
oksigen, atau pelepasan hidrogen, atau pelepasan elektron. Sedangkan
sebaliknya, reaksi reduksi adalah reaksi pelepasan oksigen, atau
pengikatan hidrogen, atau pengikatan elektron. Batasan lain yaitu bahwa
reaksi oksidasi adalah reaksi penaikan bilangan oksidasi dan reaksi
reduksi adalah reaksi penurunan bilangan oksidasi.

Reaksi Redoks adalah reaksi yang didalamnya terjadi perpindahan


elektron secara berurutan dari satu spesies kimia ke spesies kimia
lainnya, yang sesungguhnya terdiri atas dua reaksi yang berbeda, yaitu
oksidasi (kehilangan elektron) dan reduksi (memperoleh elektron). Reaksi
ini merupakan pasangan, sebab elektron yang hilang pada reaksi oksidasi
sama dengan elektron yang diperoleh pada reaksi reduksi.

2.2 Oksidator dan Reduktor

Senyawa-senyawa yang memiliki kemampuan untuk mengoksidasi


senyawa lain dikatakan sebagai oksidatif dan dikenal sebagai oksidator
atau agen oksidasi. Oksidator melepaskan elektron dari senyawa lain,
sehingga dirinya sendiri tereduksi. Oleh karena ia "menerima" elektron, ia
juga disebut sebagai penerima elektron. Oksidator bisanya adalah
senyawa-senyawa yang memiliki unsur-unsur dengan bilangan oksidasi
yang tinggi (seperti H2O2, MnO4−, CrO3, Cr2O72−, OsO4) atau senyawa-
senyawa yang sangat elektronegatif, sehingga dapat mendapatkan satu
atau dua elektron yang lebih dengan mengoksidasi sebuah senyawa
(misalnya oksigen, fluorin, klorin, dan bromin).

Senyawa-senyawa yang memiliki kemampuan untuk mereduksi senyawa


lain dikatakan sebagai reduktif dan dikenal sebagai reduktor atau agen
reduksi. Reduktor melepaskan elektronnya ke senyawa lain, sehingga ia
sendiri teroksidasi. Oleh karena ia "mendonorkan" elektronnya, ia juga
disebut sebagai penderma elektron. Senyawa-senyawa yang berupa
reduktor sangat bervariasi. Unsur-unsur logam seperti Li, Na, Mg, Fe, Zn,
dan Al dapat digunakan sebagai reduktor. Logam-logam ini akan
memberikan elektronnya dengan mudah. Reduktor jenus lainnya adalah
reagen transfer hidrida, misalnya NaBH4 dan LiAlH4, reagen-reagen ini
digunakan dengan luas dalam kimia organik, terutama dalam reduksi
senyawa-senyawa karbonil menjadi alkohol. Metode reduksi lainnya yang
juga berguna melibatkan gas hidrogen (H2) dengan katalis paladium,
platinum, atau nikel, Reduksi katalitik ini utamanya digunakan pada
reduksi ikatan rangkap dua ata tiga karbon-karbon.

Cara yang mudah untuk melihat proses redoks adalah reduktor


mentransfer elektronnya ke oksidator. Sehingga dalam reaksi, reduktor
melepaskan elektron dan teroksidasi, dan oksidator mendapatkan elektron
dan tereduksi. Pasangan oksidator dan reduktor yang terlibat dalam
sebuah reaksi disebut sebagai pasangan redoks.

2.3 Faktor-Faktor yang Menyebabkan Terjadinya Reaksi Redoks

a. Energi ionisasi
Semakin eletropositif elemen maka akan lebih mudah untuk
melepaskan elektronnya, atau energi ionisasinya semakin rendah
sehingga potensial oksidasinya berkurang sedangkan potensial
reduksinya akan naik.
b. Afinitas elektron
Semakain eletronegatif elemen maka afinitas elektron juga akan
bertambah sehingga potensial reduksinya juga naik.
c. Energi atomisasi
Potensial standar reduksi diukur dalam keadaan atomik sehingga
energi atomisasi juga turut menentukan besaran potensial standar
reduksi.
d. Energi solvasi
Jika proses redoks dilakukan pada fase cair maka energi solvasi juga
mempengaruhi besaran potensial reduksi standard.
e. Energi ikat kovalen
Energi ikat kovalen yang besar mendukung kespontanan reaksi;
potensial standard reduksi sebanding dengan energi ikat kovalen.
f. Oksigen
Sesuai dengan prinsip reaksi redoks dimana juga terjadi penambahan
dan pengurangan oksigen di dalam senyawa.

2.4 Penentuan Bilangan Oksidasi (Biloks)

1. Biloks atom dalam unsur tunggal = 0 . Contoh Biloks Cu, Fe, H 2, O2 dll
=0
2. Golongan IA ( Li, Na, K, Rb, Cs dan Fr ) biloksnya selalu +1
3. Golongan IIA ( Be, Mg, Ca, Sr dan Ba ) biloksnya selalu +2
4. Biloks H dalam senyawa = +1, Contoh H2O, kecuali dalam senyawa
hidrida Logam (Hidrogen yang berikatan dengan golongan IA atau IIA)
Biloks H = -1, misalnya: NaH, CaH2 dll
5. Biloks O dalam senyawa = -2, Contoh H2O, kecuali OF2 biloksnya =
+2 dan pada senyawa peroksida (H2O2, Na2O2, BaO2) biloksnya = -1
serta dalam senyawa superoksida, misal KO2 biloksnya = -1/2. Untuk
mempermudah hafalan, bila atom O atau H berikatan dengan Logam
IA atau IIA maka biloks logamnya yang ditentukan terlebih dahulu dan
biloks O dan H nya yang menyesuaikan (besarnya dapat berubah -
ubah)
6. Total Biloks dalam senyawa tidak bermuatan = 0, Contoh HNO 3 :
(Biloks H) + (Biloks N) + (3.Biloks O) = 0 maka dengan mengisi biloks
H = +1 dan O = -2 diperoleh biloks N = +5
7. Total BO dalam ion = muatan ion, Contoh SO4 2- = (Biloks S) +
(4.Biloks O) = -2 maka dengan mengisi biloks O = -2 diperoleh biloks
S = +6
Selain hafalan di atas, ada beberapa ion Poliatom yang juga diperlukan
dalam menentukan harga biloks.

Tabel Ion Poliatom yang Penting :

Misal : biloks Cu dalam CuSO4 dapat dihitung dengan (1 x biloks Cu) + (1


x biloks total ion SO4) = 0 maka dengan mengisi biloks ion SO4 = -2
diperoleh:

Biloks Cu + (-2) = 0 ---> sehingga biloks Cu = +2

Contoh lainnya: untuk menentukan biloks P dan Fe dalam Fe 3(PO4)2 kita


harus bentuk anion poliatomnya, yakni PO43- sehingga:

(1 x biloks P) + (4 x biloks O) = -3
biloks P + (-8) = -3 sehingga biloks P = + 5

Kemudian biloks Fe dapat dicari dengan:


(3 x biloks Fe) + (2 x muatan PO4) = 0
(3 x biloks Fe) + (-6) = 0
3 x biloks Fe = + 6 ---> sehingga biloks Fe = + 6/3 = +2

Namun untuk mencari biloks salah satu unsur saja, sedangkan biloks
unsur-unsur yang lainnya sudah diketahui (ada hafalannya) maka biloks
unsur tersebut dapat ditentukan secara langsung tanpa harus menghafal
muatan ion poliatomnya :
Misalnya : Tentukan biloks Cr dalam H2Cr2O7
(2 x biloks H) + (2 x biloks Cr) + (7 x biloks 7) = 0
(2 x (+ 1)) + (2 x biloks Cr) + (7 x (-2)) = 0
(2 x biloks Cr) + (-12) = 0 ---> sehingga biloks Cr = +12/2 = +6

Dalam reaksi redoks juga dikenal istilah reduktor dan oksidator :


Reduktor merupakan zat yang mengalami oksidasi (Biloks naik)
Oksidator merupakan zat yang mengalami reduksi (Biloks turun)
2.5 Contoh Reaksi Redoks

Contoh reaksi redoks adalah apabila batang tembaga dicelupkan dalam


larutan perak nitrat, maka lapisan putih mengkilat akan terjadi pada
permukaan batang tembaga dan larutan berubah menjadi biru.

Dalam hal ini bilangan oksidasi tembaga naik dari 0 menjadi +2 dan
bilangan oksidasi perak turun dari +1 menjadi 0. Tembaga mengalami
oksidasi dan perak mengalami reduksi. Persamaan reaksi antara
keduanya dapat dituliskan sebagai berikut:

Cu (s) + 2 AgNO3 (aq) Cu(NO)3 (aq) + 2 Ag (s)


atau
Cu (s) + 2 Ag+ (aq) Cu2+ (aq) + 2 Ag (s)

Reaksi redoks ini sering dinyatakan dengan penulisan setengah reaksi


secara terpisah, pelepasan elektron sebagai oksidasi dan penangkapan
elektron sebagai reduksi:

Oksidasi: Cu (s) Cu2+ (aq) + 2 e


Reduksi: 2 Ag+ (aq) + 2 e 2 Ag (s)

Reaksi redoks yang sedikit lebih rumit ditemui antara gas hidrogen sulfida
dengan larutan ion besi(III) yang menghasilkan padatan belerang, ion
besi(II) dan ion hidronium menurut persamaan reaksi:

H2S (g) + 2 Fe3+ (aq) + 2 H2O (l) S (s) + 2 Fe2+ (aq) + 2 H3O+ (aq)

Dalam reaksi tersebut, besi telah mengalami reduksi dari +3 menjadi +2


dan belerang mengalami oksidasi dari -2 menjadi nol, Jadi persamaan
redoks tersebut dapat dipisahkan menjadi dua setengah reaksi sebagai
berikut:
Oksidasi: H2S (g) + 2 H2O (l) S (s) + 2 H3O+ (aq) + 2 e
Reduksi: 2 Fe3+ (aq) + 2 e 2 Fe2+ (aq)

Contoh reaksi redoks adalah antara hidrogen dan fluorin:


Kita dapat menulis keseluruhan reaksi ini sebagai dua reaksi setengah:
reaksi oksidasi

dan reaksi reduksi

Penganalisaan masing-masing reaksi setengah akan menjadikan


keseluruhan proses kimia lebih jelas. Karena tidak terdapat perbuahan
total muatan selama reaksi redoks, jumlah elektron yang berlebihan pada
reaksi oksidasi haruslah sama dengan jumlah yang dikonsumsi pada
reaksi reduksi.

Unsur-unsur, bahkan dalam bentuk molekul, sering kali memiliki bilangan


oksidasi nol. Pada reaksi di atas, hidrogen teroksidasi dari bilangan
oksidasi 0 menjadi +1, sedangkan fluorin tereduksi dari bilangan oksidasi
0 menjadi -1.

Ketika reaksi oksidasi dan reduksi digabungkan, elektron-elektron yang


terlibat akan saling mengurangi:

Dan ion-ion akan bergabung membentuk hidrogen fluorida:

Reaksi penggantian

Redoks terjadi pada reaksi penggantian tunggal atau reaksi substitusi.


Komponen redoks dalam tipe reaksi ini ada pada perubahan keadaan
oksidasi (muatan) pada atom-atom tertentu, dan bukanlah pada
pergantian atom dalam senyawa.

Sebagai contoh, reaksi antara larutan besi dan tembaga(II) sulfat:


Persamaan ion dari reaksi ini adalah:

Terlihat bahwa besi teroksidasi:

dan tembaga tereduksi:

2.6 Menyeimbangkan Reaksi Redoks

Untuk menuliskan keseluruhan reaksi elektrokimia sebuah proses redoks,


diperlukan penyeimbangan komponen-komponen dalam reaksi setengah.
Untuk reaksi dalam larutan, hal ini umumnya melibatkan penambahan ion
H+, ion OH-, H2O, dan elektron untuk menutupi perubahan oksidasi.

Media Asam

Pada media asam, ion H+ dan air ditambahkan pada reaksi setengah
untuk menyeimbangkan keseluruhan reaksi. Sebagai contoh, ketika
mangan(II) bereaksi dengan natrium bismutat :

Reaksi Tak Seimbang : Mn2+(aq) + NaBiO3(s) → Bi3+(aq) + MnO4-(aq)


Oksidasi : 4H2O(l) + Mn2+(aq) → MnO4-(aq) + 8H+ (aq) + 5e-
Reduksi : 2e- + 6H+(aq) + BiO3-(s) → Bi3+ (aq) + 3H2O (l)

Reaksi ini diseimbangkan dengan mengatur reaksi sedemikian rupa


sehingga dua setengah reaksi tersebut melibatkan jumlah elektron yang
sama (yakni mengalikan reaksi oksidasi dengan jumlah elektron pada
langkah reduksi, demikian juga sebaliknya).

Reaksi diseimbangkan:

14H+(aq) + 2Mn2+(Aq) +5NaBiO3(s) → 7H2O(l) + 2MnO4-(aq) + 5Bi3+(aq) +


5Na+(aq)
Hal yang sama juga berlaku untuk sel bahan bakar propana di bawah
kondisi asam:

Dengan menyeimbangkan jumlah elektron yang terlibat:

Persamaan diseimbangkan:

Media Basa
Pada media basa, ion OH- dan air ditambahkan ke reaksi setengah untuk
menyeimbangkan keseluruhan reaksi.Sebagai contoh, reaksi antara
kalium permanganat dan natrium sulfit:

Reaksi Tak Seimbang : KMnO4 + Na2SO3 + H2O → MnO2 + Na2SO4 +


KOH
Oksidasi : 3e- + 2H2O + MnO4- → MnO2 + 4OH-
− −
Reduksi : 2OH- + SO23 → SO24 + H2O + 2e-

Dengan menyeimbangkan jumlah elektron pada kedua reaksi setengah di


atas:

Persamaan diseimbangkan:

2.7 Aplikasi Redoks dalam Pengolahan Limbah (Lumpur Aktif)

Salah satu penerapan konsep reaksi redoks dalam kehidupan sehari-hari


adalah dalam bidang pengolahan limbah. Prinsip dasar yang
dipergunakan adalah teroksidasinya bahan-bahan anorganik maupun
organik, sehingga lebih mudah diolah lebih lanjut.

Limbah merupakan salah satu pencemar lingkungan yang perlu dipikirkan


cara-cara mengatasinya. Untuk menjaga dan mencegah lingkungan
tercemar akibat akumulasi limbah yang semakin banyak, berbagai upaya
telah banyak dilakukan untuk memperoleh teknik yang tepat dan efisien
sesuai kondisi lokal.

Berbagai tipe penanganan limbah cair dengan melibatkan mikroorganisme


telah dikerjakan di Indonesia, yaitu sedimentasi, kolam oksidasi, trickling
filter, lumpur aktif (activated sludge), dan septic tank. Pada uraian ini akan
kita pelajari salah satu saja, yaitu teknik lumpur aktif.

Proses lumpur aktif merupakan sistem yang banyak dipakai untuk


penanganan limbah cair secara aerobik. Lumpur aktif merupakan metode
yang paling efektif untuk menyingkirkan bahan-bahan tersuspensi maupun
terlarut dari air limbah. Lumpur aktif mengandung mikroorganisme aerobik
yang dapat mencerna limbah mentah. Setelah limbah cair didiamkan di
dalam tangki sedimentasi, limbah dialirkan ke tangki aerasi. Di dalam
tangki aerasi, bakteri heterotrofik berkembang dengan pesatnya. Bakteri
tersebut diaktifkan dengan adanya aliran udara (oksigen) untuk
melakukan oksidasi bahan-bahan organik. Bbakteri yang aktif dalam
tangki aerasi adalah Escherichia coli, Enterobacter, Sphaerotilus natans,
Beggatoa, Achromobacter, Flavobacterium, dan Pseudomonas. Bakteri-
bakteri tersebut membentuk gumpalan-gumpalan atau flocs. Gumpalan
tersebut melayang yang kemudian mengapung di permukaan limbah.
BAB III
CONTOH SOAL
BAB IV
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA

Ebbing, Darrell, Steven D. Gammon. 2010. General Chemistry, Enhanced Edition. USA:
Cengage Learning.

Oxtoby, David W. 2004. Prisnip-2 Kimia Modern/1 Ed.4. Jakarta: Erlangga.

Pudjaatmaka, A. Hadyana. 2004. Kamus Kimia. Jakarta: Balai Pustaka

Rahmawati, Huda. 2014. Jurnal Praktikum Kimia Anorganik II Pembuatan ZnSO4.


Jakarta

Reger, Daniel, Scott Goode, David Ball. 2009. Chemistry: Principles and Practice. USA:
Cengage Learning.

Salirawati, Das. 2008. KIMIA. Bandung: Grafindo Media Pratama

Stoker, H. Stephen. 2012. General, Organic, and Biological Chemistry. USA: Cengage
Learning.

Sutresna, Nana. 2007. KIMIA. Bandung: Grafindo Media Pratama.