Anda di halaman 1dari 81

)

FORUM DISKUSI PPDS


BELAJAR BERSAMA CHIEF (BBC)
By : wyrossi
Definisi Asma (GINA)

A Penyakit heterogen, yang ditandai oleh


inflamasi kronis saluran napas dengan

S
gambaran riwayat gejala pernapasan seperti
wheeze, napas pendek, dada sesak dan batuk.

M
Gejala timbul dengan intensitas bervariasi dari
waktu ke waktu dan disertai keterbatasan
aliran udara ekspirasi yang bervariasi
A
 Heterogen : gejala klinis, karakteristik patofisiologi asma yang
bervariasi  fenotipe asma : Asma alergi, Asma non alergi,
Asma late onset, asma dengan Fixed airflow limitation, asma
pada obesitas

 Inflamasi kronis saluran napas : bronkokonstriksi, edema


dinding saluran napas, penebalan dinding jalan napas (airway
remodelling), hipersekresi mukus
 Riwayat/Episodik : serangan yang berulang (hilang timbul) yang
diantaranya terdapat periode bebas serangan

 Bervariasi dari waktu ke waktu: bervariasinya kondisi asma pada


waktu-waktu tertentu : perubahan cuaca, faktor pencetus, dalam satu
hari terjadi variabilitas dengan perburukan pada malam atau dini hari

 Keterbatasan aliran udara ekspirasi yang bervariasi : reversibilitas


meredanya gejala asma dengan atau tanpa pengobatan (SABA)
Faktor Risiko
Faktor Pejamu Faktor Lingkungan
(Host) (Pencetus)

5
6
PATOFISIOLOGI DAN PATOGENESIS ASMA

Airway
Hyperresponsivenes
Hipersekresi mukus
Bronkokontriksi

Edema jalan napas HAMBATAN ALIRAN UDARA

Airway remodeling NHLBI.


Gilbert TW, 2010 2007
KLASIFIKASI ASMA

ETIOLOGI sulit diketahui

FENOTIP : Asma Alergi, Asma non alergi, Asma late onset, asma dengan fix
airflow limitation, Asma pada obesitas

GEJALA KLINIS : intermitten, persisten ringan, sedang, berat

KONDISI TERKONTROL : Tidak terkontrol, terkontrol sebagian, terkontrol total

EKSASERBASI : ringan, sedang, berat, mengancam jiwa


Klasifikasi Derajat Berat Asma Berdasarkan Klinis (Sebelum Pengobatan)
Diagnosa asma
1. Pola gejala yang merupakan ciri khas asma Anamnesis
2. Pemeriksaan fisik
3. Pengukuran fungsi paru
 Spirometri
 Peak expiratory flow / Arus Puncak Ekspirasi
4. Pengukuran respons saluran napas (bronchial provocation
test)
5. Pengukuran status alergi untuk mengindentifikasi faktor
risiko (allergy test)
Diagnosa Asma
1. Gejala Klinis bersifat episodik (hilang timbul) :
• Batuk yang mengganggu terutama saat malam - dini hari
• Batuk atau mengi setelah aktivitas fisik
• Batuk, wheezing, atau dada terasa penuh setelah pajanan
alergen atau pada musim tertentu
• Batuk pilek yang berlangsung lama (lebih dari 10 hari)
• Sembuh/gejela membaik setelah minum obat
• Disertai gejala atopi : rinitis alergi, konjungtivitis alergi,
dermatitis atopi, ekzema, riwayat alergi dalam keluarga
Diagnosa Asma
2. Pemeriksaan Fisis :
• Normal pada saat asma stabil (tidak eksaserbasi)
• Eksaserbasi  Mengi/wheezing pada auskultasi  umumnya
bilateral, lebih terdengar pada fase ekspirasi
• Pada obstruksi jalan napas berat mengi tidak terdengar 
Silent Chest  Px tampak gelisah, kesadaran menurun dan
sianosis
Diagnosa Asma
3. Pemeriksaan fungsi paru:
 Spirometri : menilai obstruksi dan reversibilitas
- Obstruksi  rasio VEP1/KVP < 75% (<70%-80%)
- Reversibilitas  Perubahan VEP1> 12% atau 200 ml post
SABA

 PEFR/APE : menilai reversibilitas dan variabilitas


- Reversibilitas APE meningkat > 60 L/mnt atau >20% post
SABA
- Variabilitas mengukur APE pagi dan malam selama 2 minggu
(variasi diurnal) nilai APE > 20%
Diagnosa Asma
4. Uji Provokasi Bronkus :
• Menilai hiperaktivitas bronkus / Airway Hyperesponsveness
(AHR)
• Suatu kondisi saluran napas menyempit setelah paparan
stimulus (histamin/metakolin) dimana pada kondisi saluran
napas orang normal tidak menimbulkan reaksi
• Dinyatakan dengan parameter PC 20 : konsentrasi zat inhalasi
yang menimbulkan penurunan VEP1 20%
• Nilai PC 20 < 8 mg/ml Positif AHR
Diagnosa Asma
5. Uji Alergi :
• Uji kulit tusuk  Prick Test
• Uji serum Ig E Spesifik
Komponen Manajemen ASMA Komprehensif
Goals of Long-term Management
 Mencapai dan mempertahankan kondisi Asma terkontrol
 Mempertahankan kemampuan aktivitas normal termasuk
saat olahraga
 Mempertahankan faal paru mencapai normal atau mendekati
normal
 Mencegah asma eksaserbasi
 Mencegah efek samping obat
 Mencegah kematian
Komponen Manajemen ASMA Komprehensif

1. Membangun hubungan dokter-pasien (Edukasi)


WARNING...!!!
2. Mengidentifikasi dan mengurangi pajanan faktor risiko
Penanganan Asma
3. Menilai, mengobati dan memonitor asma  Asma
Komprehensif tidak hanya
Management Cycle
mengandalkan intervensi
4. Mengatasai eksaserbasi akut
farmakologi, tetapi juga
5. Kondisi khusus
komponen non-farmakologi
1. Membangun hubungan dokter-pasien
(Edukasi)
 Menyediakan informasi :
- Diagnosis
- Kontrol Asma
- Mengenal pengobatan asma : pelega dan pengontrol
- Penggunaan obat inhalasi
- Pencegahan dan eksaserbasi
- Bagaimana dan kapan mencari pertolongan medis
2. Mengidentifikasi dan mengurangi pajanan
faktor risiko
 Sebagian Px mudah mengenali pencetus tetapi sebagian
lainnya tidak
 Identifikasi faktor pencetus melalui beberapa pertanyaan
Daftar Pertanyaan Identifikasi Faktor Risiko
3. Menilai, mengobati dan memonitor asma
Asma Management Cycle
Penilaian - Asses
 Kondisi Klinis
 Kondisi terkontrolnya asma
 Komorbiditas
 Faktor pencetus
 Pengobatan yang digunakan (regimen dan dosis)
 Kepatuhan pengobatan
 Cara penggunaan inhalasi
 Efek samping obat
 Kemampuan finansial
Kontrol Klinis Asma

1. Tentukan tingkat atau level kontrol asma awal


untuk menentukan jenis pengobatan
(nilai tingkat kontrol asma pasien)

2. Mempertahankan kontrol asma setelah


pengobatan dilakukan
(nilai risiko asma pasien)

Global
26 Strategy for Asthma Management and Prevention, Global Initiative for Asthma (Updated 2016). Available from
www.ginaasthma.org.
Bagaimana cara mengukur
tingkat kontrol asma?

27
Tingkat Kontrol Asma
(Menilai tingkat kontrol asma)
Kontrol Gejala Level Kontrol Gejala Asma

Dalam 4 minggu terakhir, apakah pasien memiliki : Terkontrol Terkontrol Tidak


penuh sebagian terkontrol
1. Gejala asma harian lebih dari dua kali
dalam 1 minggu
2. Terbangun di malam hari karena asma Tidak Terdapat Terdapat
terdapat 1- 2 3- 4
3. Penggunaan obat pelega untuk mengatasi satupun kriteria kriteria
kriteria
gejala lebih dari dua kali dalam 1 minggu

4. Pembatasan aktivitas karena asma

Global Strategy for Asthma Management and Prevention, Global Initiative for Asthma (Updated 2016). Available from
www.ginaasthma.org.
Tahap Pengobatan - Stepwise Asthma Treatment
Adjust
Treatment
Pilihan pengobatan
Obat Pelega / Reliever
1. Inhalasi β2-agonis kerja cepat
 Short-acting (SABA)
 Long-acting (LABA)  Early Onset (Formoterol)
2. Systemic glucocorticosteroids
3. Antikolinergik/Antimuskarinik
 Short-acting (SAMA)
4. Teofilin
5. Short-acting oral β2-agonists
© Global Initiative for Asthma
Pilihan pengobatan
Obat Pengontrol / Controller
1. Inhaled glucocorticosteroids (ICS)
2. Leukotriene modifiers
3. Long-acting inhaled β2-agonists (LABA) + inhaled
glucocorticosteroids (ICS) → LABA + ICS = LABACs
4. Long-acting anti muscarinic (LAMA)
5. Systemic glucocorticosteroids
6. Theophylline
7. Cromones
8. Anti-IgE (Omalizumab)
9. Anti Il-5 (Mepolizumab, Reslizumab)
© Global Initiative for Asthma
TAHAP 1
 Gejala asma yang sangat jarang
 Tidak ada gejala malam (terbangun malam hari ec asma)
 Faal paru normal
 Tidak ada riwayat penggunaan ICS sebelumnya

Regimen :
SABA prn
Alternatif :
- Low dose ICS + SABA prn  FEV1 < 80% prediksi / nilai terbaik
- SABA oral, SABA oral + teofilin/SAMA inhalasi  tidak rekomendasi
TAHAP 2
 Didapatkan gejala asma dan ekserbasi/perburukan yang
periodik
 Dengan/tanpa riwayat ICS
Regimen :
ICS dosis rendah + SABA prn
Alternatif :
- LTRA + SABA prn  rinitis alergi
- Teofilin  Px dengan asma malam/nocturnal asma (tidak
rekomendasi)
TAHAP 3
 Jika tahap 2 selama 12 minggu belum terkontrol dan
diyakini tidak ada masalah lainnya
(inhaler,kepatuhan,komorbid,pencetus,dll)
Regimen :
ICS dosis rendah-LABA (LABACS) + SABA prn
ICS dosis rendah-Formoterol  SMART
Alternatif :
- Med.-High dose ICS
- Low dose ICS+LTRA
- Low dose ICS +Teofilin
- Sublingual immunotherapy (SLIT) rinitis alergi/sensitisasi HDM
TAHAP 4
 Merupakan perpindahan dari tahap 3  terapi awal tidak
boleh langsung tahap 4
Regimen :
ICS dosis rendah-Formoterol  SMART
ICS dosis med.-high -LABA (LABACS) + SABA prn
Alternatif :
- Add-on Tiotropium
- Med.-high dose ICS-LABA + LTRA/Teofilin
- High dose ICS-LABA  3-6 bulan
- Sublingual immunotherapy (SLIT) rinitis alergi/sensitisasi HDM
TAHAP 5

 Tahap 4 masih belum terkontrol  keterbatasan


aktivitas,sering eksaserbasi
 Kaji ulang kepatuhan, cara penggunaan
inhaler,komorbid,pencetus
Regimen :
Tahap 4 add on
Tiotropium + anti-IgE (Omalizumab) + anti-IL5
(Sc.Mepolizumab / Iv.Reslizumab)
Alternatif :
- Low dose OCS (prednisone < 7,5mg/day)
- Bronchial Thermoplasty
Monitor Pengobatan – Review Response

 Pemberian pengontrol pada tahap apapun harus dipantau


 Pengontrol umumnya memberikan efek optimal  3-4 bulan
 Mencapai asma terkontrol total  mempertahankan
regimen/paduan pengobatan
 Kondisi terkontrol tetap stabil selama 3-6 bulan 
pengobatan diturunkan bertahap
 Monitor Efek samping atau permasalahan lainnya yang
menggangu respons pengobatan
Kapan dan Bagaimana Stepping-Down

 Kondisi terkontrol tetap stabil selama 3-6 bulan 


pengobatan diturunkan bertahap dengan cara :
- Kondisi Px tidak dalam keadaan travelling, tidak hamil, dan
tidak ada infeksi paru
- Menurunkan 50% dosis ICS sedang-tinggi setiap 3 bulan,
bertahap sampai dosis terendah
- Jika dalam ICS dosis rendah Asma terkontrol tetap stabil,
turunkan frekuensi pemberian  1x1
Kapan dan Bagaimana Stepping Down

 Pertimbangkan switch terapi LABACS  ICS dosis rendah


saja  sangat rentan asma kembali tidak terkontrol
Kapan dan Bagaimana Stepping-Up

 Asma merupakan penyakit yang bervariasi/berubah-ubah berkaitan


dengan pajanan lingkungan dan kondisi pejamu
 Jika terjadi perburukan gejala, kebutuhan pelega > 2x/hari
 Peningkatan dosis pengontrol ICS 2- 4x lipat selama 7-14 hari,
kemudian kembali ke dosis/regimen pengobatan sebelumnya  Short-
term Step-Up
 Perburukan periodik, cari faktor penyebab : Kepatuhan,pajanan
pencetus,komorbid (GERD,sinusitis), ABPA,infeksi pernapasan, teknik
inhaler
Terapi Non-Farmakologi

• Berhenti merokok:
Tiap visit, berikan rekomendasi pada pasien untuk merokok dan menjauhi
ruangan/mobil yang terdapat asap rokok

• Aktivitas fisik
Berikan rekomendasi agar pasien melakukan aktivitas fisik yang teratur dan
informasi terkait mengatasi Exercise-Induced bronchoconstriction

• Asma okupasi
Identifikasi dan sarankan untuk menghilangkan allergen okupasi secepat mungkin

• NSAID termasuk aspirin:


Selalu tanyakan riwayat asma pada pasien sebelum memberikan obat tersebut

45
Pelangi Asma
Penatalaksanaan Eksaserbasi Asma
di Unit Gawat Darurat

ATLAS ID 360015 – Feb


17
Definisi Eksaserbasi Asma

Eksaserbasi asma adalah episode perburukan atau


peningkatan progresif dari sesak napas, batuk,
mengi, atau dada terasa berat dan penurunan
progresif dari fungsi paru (APE / VEP1)
Tujuan Penatalaksanaan Eksaserbasi Akut
 Menghilangkan obstruksi secepat mungkin
 Menghilangkan hipoksemia secepat mungkin
 Menekan inflamasi yang menjadi penyebab dasar
terjadinya eksaserbasi
 Mencegah kekambuhan

Global Strategy for Asthma Management and Prevention, Global Initiative for Asthma (Updated 2015). Available from www.ginasthma.org. Accessed on May 26, 2015
Faktor resiko terjadi eksaserbasi

Faktor resiko eksaserbasi yang dapat dimodifikasi:

• Gejala asma yang tidak terkontrol


• Penggunaan ICS yang tidak memadai: tidak ada pemberian ICS, tidak
patuh akan penggunaan ICS, cara penggunaan inhaler yang tidak tepat
• Penggunaan SABA yang berlebihan (mortalitas meningkat jika >1x200-
dosis canister/bulan)
• FEV1 yang rendah, terutama jika <60% predicted
• Masalah psikologi atau socioeconomic Jika pasien memiliki 1 atau
lebih faktor resiko tsb pasien
• Paparan: rokok, paparan allergen jika tersensitisasi memiliki resiko yang meningkat
• Komorbidities: obesitas, rhinosinusitis, alergi makanan untuk terjadi eksaserbasi
meskipun gejala asmanya
• Sputum atau eosinophilia darah terkontrol baik
• Kehamilan

Global Strategy for Asthma Management and Prevention, Global Initiative for Asthma (Updated 2016). Available from
www.ginaasthma.org.
Manajemen Asma Eksaserbasi Akut
 Penilaian awal :
- Riwayat asma, eksaserbasi, pengobatan, pencetus
- Fisis : APE, VEP1, BGA
-
Penilaian severity :
Foto toraks  tidak rutin kecuali terdapat komplikasi :
Mild-Moderate, Severe, life threatening
infeksi pernapasan, pneumotoraks/mediastinum,
kardiovaskular, Ex berat pro ICU/Irna

Global Strategy for Asthma Management and Prevention, Global Initiative for Asthma (Updated 2015). Available from www.ginasthma.org. Accessed on May 26, 2015
Klasifikasi Asma Eksaserbasi
PENANGANAN ASMA EKSASERBASI DI FASILITAS
PENANGANAN AKUT (UGD)
PENILAIAN AWAL Apakah gejala berikut menyertai?
A: Airway B:Breathing C:Circulation Mengantuk berat, kebingungan, silent chest
YA
TIDAK
Tentukan terapi berdasarkan status klinis Konsul ke ICU, terapi dengan SABA dan O2,
pasien.Dinilai dari gejala yang paling parah dan persiapkan pasien untuk intubasi

RINGAN atau SEDANG BERAT


• Bicara dalam frasa •Bicara dalam kata
• Memilih posisi duduk dibanding berbaring •Posisi duduk membungkuk ke depan
• Tidak gelisah •Gelisah
• Laju respirasi meningkat •Laju respirasi > 30 kali per menit
• Otot bantu napas tidak digunakan •Otot bantu napas digunakan
• Denyut jantung 100-120 denyut/menit •Denyut jantung > 120 denyut/menit
• Saturasi O2 (di udara) 90-95% •Saturasi O2 (di udara) < 90%
• APE > 50% dari angka prediksi atau •APE ≤ 50% dari angka prediksi atau nilai
nilai tertinggi tertinggi
GINA, 2017
RINGAN atau SEDANG BERAT
• Beta-2-agonis kerja cepat Ulangi setiap 20 menit selama
• Beta-2-agonis kerja cepat (SABA) Ulangi
1 jam + Ipratropium bromida
setiap 20 menit selama 1 jam • Kontrol O2 untuk mempertahankan saturasi hingga 93-
• Pertimbangkan ipratropium bromida 95% (pada anak 94-98%)
• Kontrol O2 untuk mempertahankan saturasi • Kortikosteroid oral atau IV
hingga 93-95% (pada anak 94-98%) • Pertimbangkan magnesium IV
• Kortikosteroid oral • Pertimbangkan kortikosteroid inhalasi dosis tinggi

Konsul ke ICU,
Jika pasien terus memburuk, lakukan terapi sebagai terapi dengan SABA & O2,
derajat BERAT dan nilai ulang untuk terapi di ICU
dan persiapkan intubasi

PENILAIAN ULANG ATAS KEMAJUAN KLINIS SECARA BERKALA UKUR FUNGSI PARU
pada semua pasien, satu jam setelah terapi awal

VEP1 atau APE 60-80% dari angka prediksi VEP1 atau APE <60% dari angka prediksi
atau nilai terbaik dan gejala membaik dari atau nilai terbaik, atau respon klinis kurang
derajat SEDANG memadai dari derajat BERAT
Pertimbangkan untuk pasien dipulangkan Lanjutkan terapi seperti diatas dan lakukan
Manajemen Asma Eksaserbasi Akut
Oksigenasi :
• Untuk mencapai saturasi O2 93-95% (94-98% pada anak usia 6-11
tahun) oksigen harus diberikan dengan nasal kanul atau masker

Inhalasi SABA
• pMDI SABA 4-10 puffs+spacer setiap 20 menit dalam 1 jam
• Terapi SABA inhalasi harus diberikan secara berulang kali 
maksimal 3x dalam 1 jam dengan interval 15-20 menit pada pasien
asma akut
• Kombinasi SABA+SAMA  menurunkan risiko perawatan dan
meningkatkan perbaikan faal paru. Dianjurkan untuk didahulukan
sebelum menambah aminofilin/teofilin

SABA: Short Acting Beta 2 Agonist


Meninjau Respon

 Lakukan penilaian ulang secara sering untuk mengetahui status


klinis dan saturasi oksigen, dan berikan terapi lanjutan sesuai
respon pasien

 Ukur fungsi paru setelah 1 jam, yaitu sesudah pemberian


bronkodilator 3 kali berturut-turut, dan bagi pasien yang
kondisinya memburuk meskipun telah diberikan bronkodilator dan
kortikosteroid secara intensif maka evaluasi ulang untuk dirawat
di ICU. 
ICU : Intensive Care Unit
Terapi pada perawatan asma akut
Lanjutan :
• Bolus pelan (10 menit) aminofilin 5-6 mg/kgBB  diencerkan sama
banyak dengan jumlah obat yang diberikan
• Lanjut maintenance aminofilin 0,5-0,9 mg/kgBB/Jam

Alternatif :
• SABA injeksi Subkutan/Intravena
• Epinefrin/adrenalin subkutan/intramuskular

SABA: Short Acting Beta 2 Agonist


TERAPI LAIN
Ipratropium bromide
Eksaserbasi sedang – berat, menurunkan lama rawat inap, perbaikan yang lebih besar pada
APE dan VEP1 dibandingkan dengan pemberian SABA saja
GINA, 2017; Rodrigo 2005
Aminophylline dan theophylline
Pada orang dewasa dengan eksaserbasi asma berat, pengobatan tambahan dengan aminofilin
tidak memperbaiki outcome dibandingkan dengan SABA saja
Cochrane, 2012; GINA,
Magnesium
2017
VEP1 <25–30% , Gagal tx awal, hipoksemia persisten, pada anak VEP1 gagal mencapai 60%
prediksi setelah 1 jam perawatan (Evidence A)
Rowe, 2002; GINA, 2017
TERAPI LAIN

Helium oxygen Systemic review  tidak ada peran dalam perawatan rutin

LTRA Masih sedikit data perannya pada serangan asma

Antibiotik Dipertimbangkan bila curiga ada infeksi paru

Sedative Harus dihindari

NIV Masih sedikit data tidak direkomendasikan

GINA, 2017
Kapan dan Bagaimana Pemberian Steroid pada ASMA Ex ..?

Kortikosteroid sistemik (Oral/IV), penting diberikan jika:


• Tidak respon dengan pengobatan awal SABA
• Eksaserbasi terjadi pada pasien yang sedang menggunakan
kortikosteroid oral
• Ex. Berat
• Dosis tunggal 60-80 mg MP atau analognya rawat inap
• Dosis tunggal umumnya 40 mg MP atau analognya
• Diberikan rerata 7 hari tanpa tappering off
• Kombinasi streoid inhalasi/nebulisasi dan sistemik menghasilkan
respons yang lebih baik daripada sistemik saja

SABA: Short Acting Beta 2 Agonist ; ICS : Inhalation Corticosteroid


Kriteria untuk Rawat Inap atau Pulang dari Unit Gawat
Darurat
Status klinis dan fungsi paru dalam 1 jam setelah mulai pengobatan
adalah prediktor yang lebih baik untuk menentukan kebutuhan
rawat inap dibandingkan status saat pasien datang pertama kali.

Rekomendasi Konsensus Pada Studi yang Lain


• Jika pre-treatment FEV1 atau PEF < 25% (prediksi atau terbaik), atau
post treatment FEV1 atau PEF < 40%, (predisksi atau terbaik)
rekomendasi rawat inap.
• Jika fungsi paru post-treatment 40-60% (prediksi), pasien mungkin dapat
dipulangkan dengan mempertimbangkan faktor-faktor resiko dan
ketersediaan perawatan lanjutan.
Manajemen Pasien Pulang
(setelah rawat inap atau dari unit gawat darurat karena asma)

• Kortikosteroid oral
• Dewasa : prednisolone atau setara 1 mg/kg/hari ~
max 50 mg/hari selama 5-7 hari
• Anak : prednisolone atau setara 1-2 mg/kg/hari ~
max 40 mg/hari selama 3-5 hari
• Obat pelega : as needed
• Edukasi : pengobatan, kepatuhan, kontrol, rencana
jangka panjang
Mengapa Penggunaan Obat - obatan Bronkodilator Tidak
Cukup Untuk Mengobati Asma?

Dengan Bronkodilator

“… Penggunaan obat
ß2-agonis saja tidak
cukup mengontrol
asma dan bahkan
dapat membuat asma
 Bronkodilatasi lebih buruk “
 Lumen melebar
X Inflamasi tetap P. J. Barnes at. al. Clin. And
Experimental Allergy.
X Edema tetap 1995, Vol 25, 771 - 787
X Kerusakan sel epitel tetap
X Hipertrofi kelenjar & hipersekresi mukus
tetap
X Penebalan membran dasar tetap
63
Pemberian Anti Inflamasi akan Memperbaiki Kondisi Asma Pasien

Saluran Nafas Penderita Asma Dengan Anti Inflamasi (Terapi


Pencegahan)

 Bronkospasme
 Lumen menyempit  Lumen lebih melebar
 Inflamasi  Inflamasi berkurang
 Edema  Edema berkurang
 Kerusakan sel epitel  Sel epitel membaik
 Hipertrofi kelenjar & hipersekresi  Hipertrofi kelenjar & hipersekresi
mukus berkurang
 Penebalan membran dasar  Membran dasar membaik

64
Terapi SMART:
Terapi maintenance dan reliever dalam SATU inhaler
• Symbicort® SMART™ terapi maintenance dan reliever dalam SATU
inhaler
– Dosis maintenance harian, dan
– Penggunaan sebagai PELEGA dalam keadaan akut

Budesonide Formoterol
(anti-inflammatory (rapid relief and
therapy that acts long-acting
within hours) bronchodilation)

TIDAK diperlukan reliever/SABA terpisah

Balanag VM, et al. Pulm Pharm Ther 2006;19:139-147


65 Symbicort BPOM product monograph
Onset dan Durasi Inhalasi β2-agonis
Onset Durasi Contoh obat Golongan agonis β2

Fenoterol (Berotec pMDI)


Procaterol (Meptin
Swinghaler)
Cepat (Rapid) Singkat (Short) Salbutamol (Ventolin pMDI, **SABA
respule, Tab)
Terbutaline (Bricasma Tab,
Amp)

66
Onset dan Durasi Inhalasi β2-agonis+Steroid
Onset Durasi Contoh obat Golongan agonis β2

12 JAM • BUDESONID/FORMOTEROL
(SYMBICORT 80/4.5 , 160/4.5)

Cepat (Rapid) •INDACATEROL (ONBREZ 150, 300) *LABA with rapid onset

24 JAM • OLODATEROL (STRIVERDI


RESPIMAT 5MCG)

SALMETEROL/FLUTICASONE
( SERETIDE DISKUS : 50/100,
Lambat (Slow) 12 JAM 50/250, 50/500,) *LABA
(SERETIDE pMDI : 25/50, 25/125 )

67
Dosis Terapi untuk mengontrol Asma dengan Obat
Kombinasi
Salmeterol / Fluticasone Symbicort®
160/4.5 atau 80/4.5

Sal / FP 50/500 > 4 inh. / day


1 inh. bid Asma memburuk
Asma memburuk Asma membaik
Asma membaik 2 inh. bid
Sal / FP 50/250 Asma memburuk
1 inh. bid Asma membaik
Asma memburuk 1 inh. bid
Asma membaik
Asma memburuk
Sal / FP 50/100 Asma membaik
1 inh. bid
2 inh. od
3x
2x

• Turbuhaler® menghantarkan
3x lebih baik deposisi paru Vs.
Diskus®

• Turbuhaler® menghantarkan
2x lebih baik deposisi paru Vs pMDI

70 Thorsson et al., Pharmacokinetics & Systemic Activity of Fluticasone vs Diskus & pMDI, & Budisonide via Turbuhaler, Blackwell Science Ltd BRJ ClinPharmacol, 52:529-538
Symbicort® SMART™
Inhalasi Budesonide/Formoterol

- Symbicort 80/4.5mcg 60D

- Symbicort 160/4.5mcg 60D

- Symbicort 160/4.5mcg 120D


Dosis Terapi Symbicort® 80/4.5 mcg & 160/4.5 mcg
untuk PELEGA & PENGONTROL
Dosis Dewasa (≥ 12 tahun)
• Dosis Terapi Budesonide/Formoterol untuk PELEGA

Maksimal 6 hisapan per 1 kali kejadian sesak


napas
Maks per hari 8 inhalasi, tetapi 12 inhalasi bisa
diberikan temporary jika perlu

• Dosis Terapi Budesonide/Formoterol untuk PENGONTROL

Dosis 80/4.5 dan 160/4.5


1 hisapan dua kali sehari
Atau
2 hisapan satu kali sehari

Catatan untuk 160/4.5, jika perlu


2 hisapan dua kali sehari
Symbicort ® Product Information April 2014
Cara pakai Symbicort

Step 1

Buka penutup turbuhaler

Step 2
Pemakaian pertama pada obat baru:
Putar grip ke kiri sampai bunyi klik, untuk membuka segel

Pada pemakaian selanjutnya:


Putar grip ke kanan, lalu putar balik ke kiri sampai bunyi
klik
Source: Turbuhaler cara pakai, Astrazeneca, data on file
Step 3

Keluarkan napas terlebih dahulu

Step 4
Masukkan turbuhaler ke dalam
mulut dan hiruplah dengan
nafas yang dalam

Source: Turbuhaler cara pakai, Astrazeneca, data on file


Step 5

Tahan napas selama 10 detik, lalu bernafas seperti


biasa.
Setelah itu, jika menggunakan kortikosteroid inhalasi,
berkumurlah dengan air setelah penggunaan

Step 6

Tutup turbuhaler

Source: Turbuhaler cara pakai, Astrazeneca, data on file


pMDI : SERETIDE
25/50, DISKUS : 50/100,
25/125 50/250, 50/50
Mekanisme Kerja Salbutamol
Mekanisme Kerja Kortikosteroid
Cell membrane
GC molecule

GR

Decreased expression Increased expression of:


of proinflammatory  Anti-inflammatory molecules
molecules (e.g., cytokines,
ICAM, VCAM)  b-adrenergic receptors

AP
Gene (DNA)
Nucleus
GRE

Adapted from Barnes, Am J Respir Crit Care Med 1998


Efek Steroid pada Asma
Sel radang Sel struktural
Eosinofil Sel epitel
jumlah
(apoptosis) Mediator
cytokin
Limfosit T
Cytokin Sel endotel
kebocoran
Sel Mast
Glukokortikoid
jumlah
Otot polos saluran napas
Makrofag
Cytokin b2-receptors

Sel dendrit Kelenjar


jumlah Sekresi
mukus
Terima Kasih
Semoga Bermanfaat
Bersama Kita Bisa
Salam Guyub and Always
Breath Smart