Anda di halaman 1dari 12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Dasar Teori

Secara umum, proses drying suatu bahan padat dapat diartikan sebagai
pemisahan sejumlah kecil air atau zat cair lain dari bahan padat, untuk
mengurangi kandungan sisa zat cair di dalam bahan padat tersebut sampai suatu
nilai rendah yang dapat diterima. Drying pada umumnya merupakan langkah
terakhir dari sederetan operasi, dan produk dari dryer siap untuk dikemas.

Kandungan zat cair dalam suatu bahan padat bervariasi pada tiap produk.
Produk yang tidak mengandung zat cair sama sekali disebut bone-dry. Tetapi
pada umumnya, produk masih mengandung sedikit zat cair. Misalnya garam dapur
yang mengandung sekitar 0,5 persen air serta dried coal yang mengandung
sekitar 4 persen air. Drying adalah suatu istilah mengandung arti bahwa terdapat
pengurangan kadar zat cair dari suatu nilai awal menjadi suatu nilai akhir yang
dapat diterima.

Zat padat yang akan dikeringkan biasanya terdapat dalam berbagai bentuk
diantaranya flake, granule, crystal, powder, slab atau continuos sheet, dengan
sifat yang berbeda satu sama lain. Zat cair yang akan diuapkan itu mungkin
terdapat pada permukaan zat padat (misalnya drying kristal garam), bisa
seluruhnya terdapat di dalam zat padat (pada pemisahan zat pelarut dari
lembaran polimer), atau bisa juga sebagian di luar dan sebagian di dalam zat
padat.

Klasifikasi operasi drying menurut pengoperasiannya adalah batch atau


continuous. Operasi drying secara batch dalam kenyataannya merupakan proses
semibatch, di mana sejumlah bahan yang akan dikeringkan ditebarkan dalam
suatu aliran udara yang kontinyu, sehingga sebagian kandungan air diuapkan.
Dalam operasi secara kontinyu, bahan yang akan dikeringkan dan udara mengalir
secara kontinyu dengan melewati suatu peralatan.

Peralatan yang digunakan untuk drying dapat diklasifikasikan menurut tipe


peralatan itu sendiri dan menurut sifat dari proses drying. Secara lengkap operasi

II-1
II-2

drying dapat dikelompokkan menurut tipe peralatan dan menurut sifat dari
proses drying.

Operasi drying dapat dikelompokkan menurut:

1. Metode Operasi

a. Batch/semi batch, dimana peralatan yang dioperasikan hanya berlangsung


sesaat atau berulang pada kondisi unsteady state, dryer diisi dengan
bahan, yang akan tetap tinggal dalam peralatan sampai kering, kemudian
dikosongkan dan diisi dengan bahan yang baru.

b. Continuous, dimana dryer dioperasikan dalam kondisi steady state.

2. Metode pemberian panas yang diperlukan untuk penguapan kandungan air

a. Direct dryer, dimana panas yang diberikan terjadi dengan mengontakkan


secara langsung bahan yang dikeringkan dengan gas panas (biasanya udara
panas). Direct dryer disebut juga adiabatic dryer.

b. Indirect dryer, dimana panas dipindahkan ke zat padat melalui medium


eksternal, biasanya melalui dinding logam yang dikontakkan dengan bahan
yang akan dikeringkan. Indirect dryer disebut juga nonadiabatic dryer.

3. Sifat dari bahan yang akan dikeringkan

Bahan yang berupa solid seperti papan serat atau kayu, bahan yang fleksibel
seperti kertas atau kain, butiran padat, atau suatu larutan. Bentuk fisik dari
bahan dan metode penanganannya akan menentukan tipe dryer yang akan
digunakan

Rotary Dryer

Rotary dryer merupakan alat drying yang terdiri dari shell berbentuk
silinder dengan peletakannya sedikit miring terhadap sumbu mendatar dan
berputar. Bahan yang akan dikeringkan masuk pada ujung pengering yang tinggi,
dengan adanya perputaran dari pengering serta didukung oleh adanya lifting
flight di dalamnya. Produk akan keluar secara perlahan-lahan pada ujung yang
lebih rendah. Sumber panas untuk pengering biasanya udara panas yang mengalir
II-3

di dalam pengering disebut direct-heated dryer, panas itu dapat juga disuplai
dari luar shell dryer disebut indirect heated-dryer. Dua type alat pengering di
atas tersebut panas dapat diperoleh dari pembakaran bahan bakar atau
memanaskan udara dengan steam. Bila udara dipanaskan dengan steam, udara
dihembuskan melalui satu serie tube berbentuk fin. Bila dipanaskan dengan
pembakaran bahan bakar, ia dapat diproses dalam kamar tertutup atau barisan
tube berbentuk fim. Pemanasan dilakukan dengan kontak langsung dengan udara
panas yang mengalirt secara countercurrent dengan aliran zat padat.

Rotary dryer tepat bila digunakan untuk proses pengeringan zat padat
granular. Material yang ditangani harus berupa granular atau kristal, harus dalam
bulk dan dalam keadaan awal sudah cukup kering, tidak bersifat lengket agar
tidak menempel pada dinding, serta pemindahannya dengan cara biasa. Feed
secara kontinyu dimasukkan pada salah satu ujung, sedangkan udara yang telah
dipanaskan dimasukkan melalui ujung yang lain. Silinder ditempatkan memanjang
dengan kemiringan yang dapat diubah sehingga feed dapat bergerak melewati
peralatan. Dalam silinder terdapat lifting flights yang menempel pada dinding
sepanjang dryer yang berfungsi mengangkat feed dan menebarkannya melewati
udara panas. Dryer juga dilengkapi dengan pemanas udara (air heater) untuk
memanaskan udara yang masuk dan blower untuk menghisap udara masuk dalam
dryer.

Pada dryer, gejala perubahan suhu di dalamnya tergantung pada sifat


bahan umpan dan kandungan zat cairnya, suhu medium pemanas, waktu
pengeringan, serta suhu akhir yang diperbolehkan dalam pengeringan zat padat
itu. Pengeringan zat padat basah adalah suatu proses thermal. Walaupun
prosesnya bertambah rumit karena adanya difusi di dalam zat padat atau melalui
gas, kita masih dapat mengeringkan berbagai bahan hanya dengan
memanaskannya sampai suhu di atas titik didih zat cair, terkadang sampai jauh di
atasnya, untuk membebaskan sisa-sisa bahan yang teradsorbsi.

Kalor yang diberikan kepada dryer dipergunakan untuk :

a. Memanaskan feed (solid dan liquid) sampai suhu penguapan.


II-4

b. Menguapkan liquid.

c. Memanaskan solid sampai suhu akhirnya.

d. Memanaskan uap sampai suhu akhirnya.

Rotary dryer didesain dengan basis transfer panas. Persamaan dimensional


empiris untuk koefisien perpindahan panas volumetrik Ua adalah:

0,5.G 0,67
Ua = …………….. (1)
D

di mana :

G = rate massa gas, kg.m-2.j-1

D = diameter, m

Ua = koefisien perpindahan panas volumetrik, J.m-3.j-1.K-1

Persamaan yang menyatakan perpindahan panas yang terjadi dalam rotary


dryer adalah :

qT = Ua.V.T …………….. (2)

di mana :

qT = total panas yang dipindahkan, J.s-1

Ua = koefisien perpindahan panas volumetrik, J.m-3.K-2.s-1

V = volume dryer, m3

T = rata-rata aritmatik suhu,

Neraca Massa dan Neraca Panas untuk Continuous Dryer

mg, Tga, Ya, Hga mg, Tgb, Yb, Hgb

ms, tsa, Has, Xa ms, Tsb, Hsb, Xb


II-5

Gambar neraca massa dan panas untuk continuous dryer

Bila solid masuk pada ms (berat padatan kering/waktu) dan dikeringkan


dari Xa ke Xb (berat moisture/berat padatan kering) dan berlangsung pada
perubahan suhu Tsa dan Tsb.

Neraca massa komponen air adalah sebagai berikut :

ms.Xa + mg.Yb = ms.Xb + mg.Ya atau

ms (Xa - Xb) = mg (Ya - Yb)

Neraca panas :

ms.Hsa + mg.Hgb = ms.Hsb + mg.Hga + Q

di mana

Hsa = entalpi bahan yang akan dikeringkan masuk pada suhu Tsa

Hsb = entalpi bahan yang telah dikeringkan keluar pada suhu Tsb

Hga = entalpi gas keluar

Hgb = entalpi gas masuk

Q = energi yang masuk/hilang.

Beberapa istilah yang digunakan dalam percobaan ini adalah :

1. Humidity, yaitu berat uap air yang dikandung oleh satu satuan berat udara
kering. Harga ini tergantung pada tekanan parsial uap air (p A) dan tekanan
total (P). dalam satuan SI.

2. Saturation humidity, yaitu berat uap air yang dikandung oleh satu satuan
berat udara kering, di mana campuran udara-uap air ini berada dalam
kesetimbangan dengan air pada tekanan dan temperatur tertentu. Tekanan
uap air pada campuran udara-uap air sama dengan tekanan uap PAS dari uap
air murni.

3. Humid heat campuran udara-uap air (cs), yaitu jumlah panas dalam J (atau
kJ) yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1 kg udara kering ditambah uap air
yang ada sebesar 1 K.
II-6

cs = 1,005 + 1,88 H , kJ/(kg uap air.K)

4. Humid volume dari campuran udara-uap air, yaitu volume total dari 1 kg
udara kering dan uap yang dikandungnya pada tekanan 1 atm dan suhu
tertentu.

vH = (2,83.10-3 + 4,56.10-3 H) , m3/kg udara kering.

5. Moisture content, atau kandungan zat cair suatu bahan.

6. Total enthalpy ( Hy ), adalah entalpi satu satuan massa gas ditambah uap yang
terkandung di dalamnya. Untuk menghitung Hy, diperlukan dua keadaan
acuan, satu untuk gas dan satu lagi untuk uap. To adalah suhu acuan yang
dipilih untuk kedua komponen dan entalpi komponen B pada keadaan cair kita
dasarkan pada suhu To ini. diumpamakan suhu gas adalah T dan
kelembabannya H. Entalphy total adalah jumlah ketiga faktor yaitu panas
sensibel, panas latent zat cair pada To, dan panas sensibel gas bebas uap.

Jadi : Hy = CpB (T-To) + Tl + CpA H(T-To)

di mana Tl adalah panas latent zat cair pada suhu To.

Persamaan diatas menjadi :

Hy = cs (T-To) + H Tl

Wet Bulb Temperature

Wet bulb temperature adalah temperatur pada keadaan steady dan tidak
setimbang yang dicapai saat sejumlah kecil air dikontakkan pada kondisi
adiabatis dengan aliran gas kontinyu. Karena jumlah liquida kecil, suhu dan
humidity dari gas tidak berubah. Metode yang digunakan untuk mengukur wet
bulb temperature diilustrasikan sebagai berikut : sebuah termometer ditutup
dengan kapas basah dan ditempatkan dalam aliran udara-uap air yang memiliki
temperatur T dan humidity H. Pada kondisi steady state, air diuapkan ke aliran
gas. Kapas dan air didinginkan sampai temperatur T W dan berhenti pada suhu
konstan ini. Panas laten penguapan sama dengan panas konveksi dari aliran gas
pada suhu T ke kapas pada TW.
II-7

Humidity Chart

Humidity chart adalah grafik dari besaran besaran sistem campuran udara-
uap air pada tekanan 1 atmosfer. Kelembaban pada grafik ini dinyatakan dalam
pound air per pound udara kering, ditempatkan sebagai ordinat yang diplot
terhadap temperatur dalam 0F sebagai absis. Kurva dengan label 100% adalah
kelembaban udara jenuh sebagai fungsi temperatur. Garis humid heat adalah
plot dari humidity terhadap cs (Btu/0F.lb udara kering). Garis spesific volume
udara kering dan untuk saturated diplot terhadap temperatur yang terletak di
bagian bawah dari chart dan spesific volume memiliki dimensi ft3/lb udara
kering. Untuk mendapatkan humidity dari campuran udara-uap air adalah dengan
memetakan temperatur TW dan menarik garis tegak lurus terhadap absis sampai
memotong kurva 100%, kemudian dari titik tersebut ditarik garis sejajar dengan
garis pendinginan adiabatis hingga memotong garis tegak lurus yang dibentuk
oleh Td. Dari titik potong di atas, ditarik garis ke kanan dan harga kelembaban
dapat diketahui.

Efisiensi Rotary Dryer

Efisiensi yang ada pada rotary dryer dapat dikelompokkan menjadi dua
bagian, yaitu :

1. Efisiensi thermal, yaitu perbandingan panas yang tersedia dengan panas yang
masuk.

T thermal = [ ( Qinput - Qloss ) / Qinput ] x 100%

2. Efisiensi drying, yaitu perbandingan panas yang digunakan untuk drying


dengan panas yang tersedia.

T drying = [ Qdrying / ( Qinput - Qloss ) ] x 100%

Nilai dari efisiensi thermal dan efisiensi drying ini menentukan performance dari
rotary dryer yang digunakan.

Alat pengering sering digunakan dalam industri pertanian di Indonesia.


karena ada beberapa hasil pertanian, seperti : padi, jagung, teh dan yang lainnya
II-8

yang harus dikeringkan terlebih dahulu sebelum dipasarkan. Dewasa ini sering
digunakan tiga macam sistem pengering, yaitu :

a. Pengeringan alamiah menggunakan panas matahari dapat dibedakan menjadi


pengeringan sederhana (dengan cara penjemuran) dan menggunakan konveksi
paksa (udara panas dikumpulkan dalam kolektor kemudian dihembus ke
komoditi).

b. Pengeringan menggunakan bahan bakar. Pengeringan alamiah tidak dapat


digunakanpada saat intensitas panas matahari sangat rendah atau malarn
hari. Dalam hal ini keadaan cuaca sangat mempengaruhi proses pengeringan
sehingga perlu dicari tipe pengeringan lain yaitu yang menggunakan bahan
bakar sebagai sumber panas. Sebagai bahan bakar dapat digunakan bahan
bakar cair, padat (arang, batu bara, kayu).

c. Pengeringan gabungan adalah pengeringan menggunakan energi matahari dan


bahan bakar minyak atau biomass.

Beberapa alat pengering yang telah dikembangkan dalam rangka


kerjasama Indonesia-Jerman adalah :

a. Alat pengering energi surya tipe lorong


b. Alat pengering energi surya-biomassa tipe lorong
c. Alat pengering rumah asap
d. Unit prosesing kakao/rumah pengering surya.

a. Alat Pengering Energi Surya tipe Lorong

Alat pengering lorong multiguna dipasang dan diteliti di lapangan


percobaan Pusat Penelitian Perkebunan Ciomas Bogor sejak 1986 sampai 1993
dan selanjutnya dipinclahkan ke Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Kaliwining
jember. Alat ini merupakan perancangan bersama dengan Universitas Hohenheim
Stuttgart jerman. Tujuan penelitian terhadap peralatan tersebut adalah untuk
mengevaluasi adaptasi sistem terhadap kondisi cuaca, ketahanan material
terhadap perubahan cuaca dan kualitas produknya.
II-9

Alat pengering lorong yang pertama hanya terdiri atas kipas angin sentrifugal,
pemanas udara (kolektor) dan lorong pengering. Kolektor dan lorong pengering
dipasang paralel dan diatasnya ditutup dengan plastik transparan. Panjang
kolektor dan ruang pengering sama yakni 20 m, tetapi lebar kolektor hanya 1 m
dan 2 m untuk ruang pengering (Gambar 1). Untuk pengering dengan kapasitas
sampai 300 kg kakao kering, kolektor dan lorong pengering dipasang seri dengan
lbar sama (2 m). Alat pengering dipasang dengan arah membujur utara-selatan
dan diletakkan diatas tanah. Udara pengering yang dihasilkan dalarn kolektor
dihcmbuskan ke komoditi dengan kccepatan 400 - 900 m3/jam agar tercapai
temperatur pengeringan 40 - 60 OC.

b. Alat Pengering Surya-Biomass tipe Lorong

Alat pengering tipe lorong diatas kemudian dimodifikasi menjadi alat


pengering energi surya dan biomass (Gambar 2). Ruang pengering dan kolektor
dipasang pada satu sumbu supaya kehilangan tekanan udara menjadi lebih kecil.
Kipas dengan tenaga listrik 60 watt dapat berfungsi secara efisien, bahkan kipas
arus scarab 32 watt dengan penggerak photovoltaik dapat dipakai pada sistem
tersebut (Hinderer, 1992, Mulato, et al, 1992)

Alat pengering tersebut dipasang diatas struktur kayu dan disangga dengan
batako setinggi 60 cm dari tanah. Pada alat pengering yang dimodifikasi ini
dilengkapi dengan tungku biomass din alat penukar panas yang terbuat dari plat
baja. Hal ini dimaksudkan agar pada waktu hujan atau malam hari masih dapat
dilakukan operasi pengeringan.

c. Alat Pengering Rumah Asap

Karet alam di Indonesia kebanyakan dihasilkan oleh petani kecil. Oleh


karena kebanyakan prosesnya kurang baik, lebih dari 80 % produk total dijual
sebagai karet standar rendah (menurut Standard Indonesia Rubber) sehingga
harganyapun rendah.

Untuk meningkatkan kualitas produk, sebuah prototipe pengering rumah asap


sudah dikembangkan. Alat ini terdiri atas : plat pemanas matahari yang
dihubungkan dengan ruang pengering. Di dalam ruang pengering yang berbentuk
II-10

rumah yang pada bagian atasnya terdapat penggantung komoditas.


Sebagian dari udara. buang dikembalikan ke plat pemanas schingga tcmperatur
kembali dapat dinaikkan menjadi 45 - 60°C. Untuk mengurangi ketergantungan
pada kondisi cuaca, alat ini dilengkapi dengan tungku biomass yang dipasang
dibawah rumah asap.

d. Unit Prosesing Kakao atau Rumah Pengering Surya

Alat pengering lorong yang telah dibicarakan diatas hanya untuk petani
yang mempunyai lahan sedikit. Untuk perkebunan besar, sebuah model rumah
pengering energi surya telah dikembangkan.

Bahan yang digunakan terdiri dari bahan bangunan konvensional seperti kayu,
plywood, plat logam, galvanix, fiber glass. Rumah surya mempunyai atap seluas
100 m2 dan berfungsi juga sebagai kolektor matahari. Udara masuk ke kolektor
sehingga menjadi panas. Dengan menggunakan kipas angin (blower), udara panas
tersebut kemudian "ditarik" dan dihembus ke tempat pengering. Pemasangan
atap dibuat dengan kemiringan 10° pada arah utara-selatan.

Sebagai kolektor digunakan plat logam galvanis yang dicat hitam dan diperkuat
oleh rangka atap. Diatasnya dipasang fiber glass yang bening untuk menjaga agar
air hujan tidak masuk ke kolektor. Bloxer ditempatkan dibagian selatan bangunan
dan berfungsi sebagai "penarik" udara dari atap melalui lorong udara dan
mcnghembuskannya ke komoditi.

Biji kakao basah yang akan dikeringkan disebarkan diatas plat aluminium
berlubang pada ruang pengering dengan tebal disesuaikan tingkat produksi kakao
saat panen dan maksimum 30 cm.

Rumah pengering ini (Gambar 4) dirancang untuk memeroses 2-3 ton biji kakao
basah, menggunakan 4 buah blower aksial. Sistem udara dirancang agar marnpu
mengalirkan udara secara optimum sampai 3000 m3/jam per ton kakao basah
atau dengan kecepatan udara 0.3 - 0.5 m/detik. Diameter blower 0,43 m, dapat
mendorong udara 1500 m3/jam pada tekanan statik 70 Pa dan motor listrik 0,25
Tenaga Kuda.
II-11

II.2 Aplikasi Industri

PERILAKU KADAR AIR DAUN NILAM DAN HASIL PENGERINGAN SECARA ROTASI
DENGAN TRAY DRYER

Indonesia merupakan penghasil minyak atsiri yang cukup penting


diperdagangkan di dunia. Dari 14 jenis minyak atsiri, salah satunya adalah minyak
nilam. Keunggulan minyak nilam dari Indonesia sudah dikenal berbagai negara
pengimport minyak nilam (Amerika, Perancis, Belanda, Jerman, Jepang,
Singapura, Hongkong, Mesir, Arab Saudi, dll).

Namun masalah yang dihadapi oleh petani nilam di indonesia salah satunya
adalah rendemen dan mutunya masih rendah. Disamping itu produktivitas
tanaman nilam per harga per tahun juga masih rendah. Salah satu yang
menyebabkan rendemen nilam kurang yaitu perlakuan sebelum minyak disuling.
Yaitu pengeringan daun nilam. Alat yang cocok untuk pengeringan daun nilam
yaitu try dryer.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan-perubahan kadar air


nilam pada setiap tray pengering dengan interval waktu pengamatan 6 jam
sehingga dapat diketahui kondisi kadar air nilam pada masing-masing tray hingga
kadar air nilam mencapai 14 %.

Pengeringan daun nilam menggunakan alat pengering tray dryer (alat


pengerin sistem rak) dengan modifikasi suhu udara pengering yang hampir sama
dengan suhu kamar atau suhu rendah yaitu 35 OC. Untuk menghasilkann suhu
kamar yang stabil dan konstan dipasang element pemanas elektrik kemudian
suhunya dikontrol dengan menggunakan thermo kontrol.

Kadar air rata-rata daun nilam pada saat dimulai proses pengeringan
adalah 62,46 % dan kecepatan udara pengering 90 m per menit. Waktu
pengamatan 0 – 10 pada setiap tray pengering terjadi penurunan kadar air yang
masih rendah berkisar antara 1% hingga 2%. Hal itu disebabkan karena lengas
udara yang dihasilkan diterima oleh tumpukan daun nilam yang berada di tray
ditasnya.
II-12

Kesimpulan pada penelitian ini adalah pengeringan yang paling cepat


untuk menghasilkan kadar air daun nilam sekitar 14% pada masing-masing
kecepatan aliran pengering yaitu 90 meter per menit adalah pada tray 1 dan 2.