Anda di halaman 1dari 37

BAB I

Pendahuluan

BAB I Pendahuluan
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
REPUBLIK INDONESIA
Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri 1.1 LATAR BELAKANG Regulasi pemerintah saat ini
  • 1.1 LATAR BELAKANG

Regulasi pemerintah saat ini telah mengamanatkan bahwa kegiatan pengembangan Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI) menjadi agenda penting pembangunan industri secara nasional. Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI) merupakan wilayah yang dirancang dengan pola berbasis pengembangan industri dengan pendayagunaan potensi sumberdaya wilayah melalui penguatan infrastruktur industri dan konektivitas yang memiliki keterkaitan ekonomi kuat. Provinsi/kabupaten/kota yang tidak masuk sebagai WPPI, diberikan peranan sebagai pendukung WPPI. Peranannya dapat berupa; penyedia bahan baku, penyedia tenaga kerja, tempat penelitian dan pengembangan, penyedia sumber air bersih dan lain-lain. Oleh karena itu diperlukan suatu kajian pola pengembangan WPPI dalam rangka implementasi penyebaran pusat pertumbuhan industri baru di wilayah Sulawesi Tengah.

Konsep utama WPPI adalah terbentuknya suatu wilayah dengan karakteristik tertentu yang berpotensi untuk menumbuhkan dan mengembangkan industri tertentu yang akan berperan sebagai penggerak utama (prime mover) bagi pengembangan wilayah tersebut serta membawa peningkatan pertumbuhan industri dan ekonomi pada wilayah lain di sekitarnya dalam suatu wilayah regional atau provinsi dengan batas-batas yang jelas. Pemilihan dan penetapan WPPI bukan hanya dimaksudkan untuk memberikan prioritas pembangunan industri pada suatu wilayah, namun juga menjadi strategi agar percepatan penyebaran dan pemerataan pembangunan industri dapat diwujudkan. Lebih jauh, pengembangan WPPI

L a p o r a n ANTARA

PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

Halaman I - 1
Halaman I - 1
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
REPUBLIK INDONESIA
Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri dimaksudkan untuk menekan kesenjangan (disparity) pendapatan dan

dimaksudkan untuk menekan kesenjangan (disparity) pendapatan dan mengurangi kesenjangan kemiskinan antar wilayah (Provinsi dan Kabupaten/Kota) serta kesenjangan antara kota dan desa.

Dari 22 WPPI yang ada di Indonesia, terdapat 10 WPPI di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Sebanyak 6 WPPI ada di Koridor Sumatera dan 4 di Koridor Kalimantan. Pada tahun 2015, Ditjen PPI cq Direktorat Pengembangan Fasilitasi Industri Wilayah I memberikan fasilitasi Kajian Pola Pengembangan WPPI di Koridor Kalimantan untuk 2 WPPI yaitu Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.

Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI) adalah wilayah yang dirancang dengan pola berbasis pengembangan industri dengan pendayagunaan potnesi sumberdaya wilayah melalui penguatan infrastruktur industri dan konektivitas yang memiliki keterkaitan ekonomi kuat. Pengertian wilayah ditetapkan dengan deliniasi atau batas yang tidak terkait dengan batas secara administratif. WPPI adalah suatu bentang alam yang terdiri atas beberapa daerah yang berpotensi untuk tumbuh dan berkembangnya kegiatan industri dan memiliki keterkaitan ekonomi yang bersifat dinamis karena dukungan oleh infrastruktur konektivitas yang mantap.

Sesuai dengan amanat pada Pasal 14 UU No. 3 tahun 2014 tentang perindustrian, pemerintah pusat dan pemerintah daerah melakukan percepatan penyebaran dan pemerataan pembangunan industri keseluruh wilayah negara Republik Indonesia melalui Perwilayahan Industri yang dilaksanakan melalui:

  • a. Pengembangan Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI)

  • b. Pengembangan kawasan peruntukan industri (KPI)

  • c. Pembangunan Kawasan Industri (KI)

  • d. Pembangunan Sentra Industri Kecil dan Industri Menengah (SIKIM)

Pembagian peran Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam percepatan penyebaran dan pemerataan pembangunan industri perlu dilakukan secara tegas. Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI) adalah wilayah yang dirancang dengan pola basis pengembangan industri dengan pendayagunaan potensi sumberdaya wilayah melalui penguatan infrastruktur, industri dan konektivitas yang memiliki keterkaitan ekonomi kuat. Beberapa provinsi/kabupaten/kota yang tidak termasuk

L a p o r a n ANTARA

PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

Halaman I - 2
Halaman I - 2
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
REPUBLIK INDONESIA
Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri sebagai WPPI diberikan peranan sebagai pendukung WPPI.

sebagai WPPI diberikan peranan sebagai pendukung WPPI. Peranannya dapat berupa: penyedia bahan baku, penyedia tenaga kerja, tempat penelitian dan pengembangan, penyedia sumber air bersih, dan lain-lain. Peranan provinsi/kabupaten/kota tersebut merupakan daya dukung wilayah dalam merespon era globalisasi dan liberalisasi ekonomi yang telah membawa dampak sangat signifikan dengan semakin ketatnya persaingan di sektor industri. Era globalisasi mendorong aktivitas industri untuk menyadari pentingnya sebuah sistem yang mengatur sistem logistik. Fungsional aktivitas seperti pengadaan, produksi, pemasaran, dan transportasi sudah melewati batas-batas fungsional perusahaan dalam meningkatkan daya saing produknya. Daya saing yang tinggi dari sektor industri dapat tercapai apabila sektor industri memiliki struktur yang kuat, adanya peningkatan nilai tambah dan produktivitas di sepanjang rantai nilai produksi, dan dukungan dari seluruh sumberdaya produktif yang dimiliki.

Dalam kerangka persaingan yang ketat tersebut, Kementerian Perindustrian mengemban visi pembangunan industri nasional Indonesia yaitu pada Tahun 2020 Indonesia telah menjadi sebuah Negara Industri Maju Baru. Untuk mewujudkan visi tersebut maka strategi yang dilakukan berupa peningkatan nilai tambah dan produktivitas, pengembangan klaster industri, pengembangan lingkungan bisnis yang nyaman dan kondusif, pembangunan industri yang berkelanjutan, persebaran industri, dan pengembangan industri kecil dan menengah.

Implementasi terhadap strategi pembangunan industri tersebut di atas antara lain dilakukan melalui pembangunan pusat-pusat pertumbuhan industri yang berbasiskan keunggulan komparatif daerah. Pembangunan pusat-pusat pertumbuhan tersebut berupa pembangunan kawasan industri dengan ciri-ciri: (1) diarahkan untuk pengembangan kota barn, (2) infrastruktur sudah terintegrasi dengan sistem logistik yang efektif dan efisien, (3) berorientasi pada pelayanan jasa, (4) adanya sarana pendidikan kekhususan industri, (5) adanya pusat inovasi, dan (6) memperhatikan aspek lingkungan. Dengan banyaknya dan beragamnya keunggulan komparatif daerah maka secara teoritis dimungkinkan untuk dibangun beberapa pusat pertumbuhan

L a p o r a n ANTARA

PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

Halaman I - 3
Halaman I - 3
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
REPUBLIK INDONESIA
Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri industri di beberapa lokasi pada wilayah tertentu.

industri di beberapa lokasi pada wilayah tertentu. Untuk meningkatkan kinerja berbagai pusat-pusat pertumbuhan maka konektivitas menjadi suatu keniscayaan.

Sejalan dengan arah pengembangan dan pembangunan wilayah visi Pembangunan perwilayahan industri nasional ditujukan untuk percepatan penyebaran dan pemerataan industri sebagaimana dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN). Salah satu strategi yang diusulkan adalah ditetapkannya Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI). Tujuan WPPI adalah terbentuknya suatu wilayah dengan karakteristik tertentu yang berpotensi untuk menumbuhkan dan mengernbangkan industri tertentu. Sebagai penggerak utama (prime mover) bagi pengembangan wilayah tersebut serta mendorong peningkatan pertumbuhan industri dan ekonomi pada daerah lain sekitarnya dalam suatu wilayah regional, sehingga sasaran-sasaran pembangunan industri yang terdapat dalam RIPIN dapat dicapai. Selanjutnya, sebagai implementasi dari penetapan WPPI tersebut, maka perlu dilakukan penyusunan rencana induk pengembangan WPPI yang menjadi pedoman bagi semua pemangku amanah dalam melaksanakan program-program pengembangan wilayah pusat pertumbuhan industri dalam konteks ini adalah rencana kebutuhan pengembangan infrastruktur pendukung WPPI.

Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian tersebut juga seperti yang telah dijelaskan sebelumnya rnenyatakan bahwa Pemerintah berkewajiban melakukan percepatan dan penyebaran pengembangan Industri ke seluruh Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui Perwilayahan Industri.

Untuk

mewujudkan

hal tersebut

di atas,

pada

prinsipnya

ada

dua

pendekatan dalam membangun lndustri nasional. Pertama adalah

kebijakan top-down dengan membangun klaster industri dan Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri. Kedua adalah pendekatan bottom-up dengan memberikan kewenangan bagi daerah untuk menyusun (Rencana Pembangunan

Industri Provinsi/ Kabupten/ Kota (RPIP/RPIK). Ini sejalan dengan

UU Nomor 23

Tahun 2014 tentang Otonomi Daerah

Industri tidak bisa diserahkan

semata ke

L a p o r a n ANTARA

PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

Halaman I - 4
Halaman I - 4
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
REPUBLIK INDONESIA
Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri daerah, maka dari itu dua pendekatan ini

daerah, maka dari itu dua pendekatan ini harus saling komplementer. Dalam konteks tersebut diatas, Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI) merupakan kebijakan top-down yang dirancang, dibiayai, diimplementasikan, dan dievaluasi oleh Kementerian Perindustrian. Dalam WPPI, pembangunan infrastruktur industri dilakukan oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian PUPR. Hal inilah yang menjadi alasan utama kegiatan analisa kebutuhan infrastruktur WPPI dllaksanakan. Ada juga alasan-alasan lain yakni:

  • 1. Dengan mengembangkan Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri, dan diharapkan akan menjadi lokomotif yang bisa menarik gerbong industri dalam cakupan wilayah yang luas;

  • 2. Pemerintah Pusat dapat memetakan sistem infrastruktur industri yang berdaya jangkau jauh ke depan sehingga tidak akan memberikan kesulitan di kemudian hari;

  • 3. Pembangunan kawasan industri dan sentra lndustri kecil dan menengah sebagai bentuk implementasi perwilayahan industri akan terintegrasi dengan rencana tata ruang dan sektor lain, seperti sektor perdagangan, perumahan, dan pariwisata.

Untuk itu dalam upaya mendukung percepatan pengembangan industri di luar pulau Jawa sesuai amanah PP No. 14 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pengembangan Industri Nasional (RIPIN) dan Perpres No.2 Tahun 2015 tentang RPJMN 2015-2019, kegiatan pengembangan Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI) menjadi agenda penting pembangunan industri secara nasional. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, salah satu potensi kekuatan aglomerasi kegiatan ekonomi WPPI Sulawesi Tengah antara lain meliputi wilayah Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Donggala. Pemilihan dan penetapan WPPI tidak hanya dimaksudkan untuk memberikan prioritas pembangunan industri pada suatu wilayah tertentu, namun juga menjadi strategi agar percepatan penyebaran dan pemerataan pembangunan industri dapat diwujudkan.

Selain daya dukung sumber daya industri

dan lingkungan, faktor

penentu

keberhasilan pembangunan WPPI adalah konfigurasi

kapasitas infrastruktur

dan

L a p o r a n ANTARA

PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

Halaman I - 5
Halaman I - 5
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
REPUBLIK INDONESIA
Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri rencana-rencana pengembangan infrastruktur wilayah telah cukup banyak

rencana-rencana pengembangan infrastruktur wilayah telah cukup banyak disusun baik oleh pernerintah pusat maupun pemerintah daerah. Namun rencana- rencana tersebut sebagian besar berada pada tahapan rencana makro strategis. Dengan demikian, diperlukan rencana pembangunan infrastruktur yang dapat menjadi pedoman implementasi program pembangunan infrastruktur yang bersifat taktis operasional yang sesuai kebutuhan pengembangan WPPI Sulawesi Tengah. Rencana pembangunan infrastruktur disusun berdasarkan analisis kebutuhan infrastruktur transportasi, telekomunikasi, energi, air, SDM dan teknologi yang lebih terstruktur dan sistematik termasuk tahapan implementasi pembangunan, kebutuhan pembiayaan dan analisis dampak pembangunan infrastruktur sesuai dengan rencana tahapan pembangunan industri dalam WPPI.

Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian dalam penyusunan

 

perencanaan

kebutuhan infrastruktur

antara lain:

Memperhatikan keterkaitan pembangunan industri di WPPI dengan program- program pembangunan nasional yang menjadi arus utama pembangunan pada periode RPJMN 2015-2019 seperti keterkaitan dengan pengembangan Tol laut, keterkaitan dengan pembangunan

pusat pertumbuhan ekonomi

baru (KEK), Wilayah Pengembangan Strategis

(WPS) dan Pembangunan Infrastruktur Strategis; Mempertimbangkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang

handal serta pemanfaatan pengetahuan dan teknologi (IPTEK), untuk mewujudkan WPPI yang berdaya saing dan berwawasan lingkungan; Mengakomodasikan pengembangan keterkaitan hulu-hilir industri /

Industri Prioritas WPPI; Memperhatikan dukungan terhadap pembangunan konektivitas simpul

transportasi utama WPPI dengan pusat kegiatan strategis urban dan regional WPPI serta memperhatikan pengembangan akses WPPI melalui berbagai moda transportasi; Mengakomodasikan konsep pembangunan berkelanjutan dengan

memperhatikan aspek lingkungan. Sehingga perencanaan pembangunan industri perlu memaksimalkan potensi perwujudan industri hijau dan penggunaan energi berbasis sumber daya terbarukan; Mengedepankan sinergitas dan keterpaduan program pembangunan

L a p o r a n ANTARA

PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

Halaman I - 6
Halaman I - 6
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
REPUBLIK INDONESIA
Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri

infrastruktur WPPI Sulawesi Tengah dengan wilayah

di luar WPPI
di
luar
WPPI

untuk mencapai tujuan pembangunan WPPI yang optimal.

  • 1.2 MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud dari kegiatan ini adalah untuk menyusun Rencana Kebutuhan Infrastruktur Transportasi, Energi, Air, SDM, Teknologi dan lahan di Kabupaten/Kota yang berada di dalam WPPI Sulawesi Tengah, yaitu di Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Donggala untuk jangka waktu perencanaan 20 tahun ke depan, dengan tujuan sebagai panduan bagi pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk menetapkan kebijakan sektoral dalam rangka melaksanakan pengembangan WPPI sesuai dengan kewenangan masing-masing.

  • 1.3 LANDASAN HUKUM

Beberapa regulasi yang menjadi referensi dalam kajian Penyusunan Rencana

Kebutuhan Infrastruktur Industri di WPPI Sulawesi Tengah, adalah sebagai berikut :

  • 1. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian;

  • 2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;

  • 3. Undang-undang Nomor: 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025;

  • 4. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;

  • 5. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 45, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4385);

  • 6. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang;

  • 7. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 tentang Bentuk dan Tata Cara Peran Masyarakat dalam Penataan Ruang;

  • 8. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2013 tentang Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang;

  • 9. Peraturan Pemerintah Nomor 142 Tahun 2015 tentang Kawasan Industri;

L a p o r a n ANTARA

PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

Halaman I - 7
Halaman I - 7
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
REPUBLIK INDONESIA
Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri 10. Peraturan Pernerintah Nomor 14 Tahun 2015
  • 10. Peraturan Pernerintah Nomor 14 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional Tahun 2015-2035;

  • 11. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Pembangunan Sarana dan Prasarana Industri;

  • 12. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-2019;

  • 13. Keputusan Presiden nomor 725 Tahun 2014 Tentang Perubahan Keputusan Presiden nomor 414 Tentang Rencana Induk Pelabuhan Nasional;

  • 14. Peraturan Menteri Perindustrian No 40/M-IND/PER/6/2016 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Kawasan lndustri;

  • 15. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah Nomor 8 Tahun 2013 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2013 2033;

  • 16. Peraturan Daerah Kota Palu, Nomor 16 Tahun 2010 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Palu Tahun 2010-2030;

  • 17. Peraturan Daerah Kabupaten Donggala Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Donggala Tahun 2011-2031;

  • 18. Peraturan Daerah Kabupaten Kabupaten Parigi Mountong Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kabupaten Parigi Mountong Tahun 2010-2030;

  • 19. Peraturan Daerah Kabupaten Sigi Nomor 21 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sigi Tahun 2010-2030.

  • 1.4 RUANG LINGKUP

  • 1.4.1 Ruang Lingkup Wilayah

Ruang lingkup daerah kajian ini yaitu Wilayah Pusat Perturnbuhan lndustn (WPPI) yang berada di Sulawesi Tengah yang telah ditetapkan dalam RIPIN sebagai Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri, yaitu Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Donggala. Secara jelasnya mengenai wilayah kajian ini dapat dilihat pada gambar 1.1.

L a p o r a n ANTARA

PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

Halaman I - 8
Halaman I - 8
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
REPUBLIK INDONESIA
Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
  • 1.4.2 Ruang Lingkup Materi

KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri 1.4.2 Ruang Lingkup Materi Lingkup substansi kegiatan

Lingkup substansi kegiatan ini adalah melakukan penyusunan kajian

terhadap kawasan peruntukkan industri yang ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang dengan cakupan materi kajian :

  • 1. Review Rencana Induk WPPI dan rencana program pembangunan nasional dalam kaitannya dengan pengembangan WPPI, termasuk kajian penjabaran RTR yang telah memilki kekuatan hukum formal dalam konteks pembangunan WPPI dan dokumen perencanaan infrastruktur pendukung dari Kawasan Industri terkait serta Pemda.

  • 2. Analisa dan verifikasi terhadap rencana pentahapan pengembangan industri prioritas serta sasaran pembangunan industri di dalam WPPI.

  • 3. Analisis kondisi infrastruktur eksisting, permasalahan, kinerja serta dinamika perkembangan WPPI.

  • 4. Kajian kebutuhan infrastruktur sesuai kondisi gap antara sasaran pembangunan industri WPPI dengan kinerja infrastruktur yang ada serta rencana pembangunan yang siap dilaksanakan.

  • 5. Analisis spasial dalam bidang transportasi, telekomunikasi, perhubungan untuk identifikasi jaringan transportasi dan pembuatan jalur alternatif baru untuk kelancaran arus transportasi.

  • 6. Analisis spasial dalam bidang energi, air, SDM dan teknologi untuk identifikasi jaringan listrik, gas, suplai air, pengembangan teknologi, penentuan kesesuaian lokasi yang berkaitan dengan pengembangan SDM serta perluasan jaringan energi, air, dan teknologi.

  • 7. Analisis multiplier effects terkait pengembangan infrastruktur industri.

  • 8. Perumusan strategi pelaksanaan program pembangunan infrastruktur.

  • 9. Perumusan roadmap pelaksanaan program pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan WPPI Sulawesi Tengah yang meliputi antara lain penetapan jenis program/rencana aksi pembangunan infrastruktur, dimensi program, waktu pelaksanaan, serta milestone program terkait outcome yang ingin dicapainya. Dalam roadmap yang disusun perlu dijabarkan estimasi besarnya pembiayaan dan penanggung jawab pelaksanaannya/pengelolaan.

L a p o r a n ANTARA

PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

Halaman I - 9
Halaman I - 9
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
REPUBLIK INDONESIA
Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri

Gambar 1.1

Peta wilayah perencanaan

KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Gambar 1.1 Peta wilayah perencanaan L a

L a p o r a n ANTARA

PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

Halaman I - 10
Halaman I - 10
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
REPUBLIK INDONESIA
Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
  • 1.5 KELUARAN KEGIATAN

KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri 1.5 KELUARAN KEGIATAN Output yang dihasilkan dalam

Output yang dihasilkan dalam Perencanaan Kebutuhan Infrastruktur meliputi dokumen perencanaan pembangunan infrastruktur pendukung dalam pengembangan WPPI Sulawesi Tengah di dalamnya memuat strategi dan rencana aksi implementasi program pembangunan transportasi, telekomunikasi, energi, air, SDM dan teknologi sebagai pendukung industri dalam WPPI Sulawesi Tengah.

  • 1.6 METODOLOGI PENGEMBANGAN

Upaya

yang

perlu

dilakukan

dalam

penyelesaian

pekerjaan

Rencana

Kebutuhan Infrastruktur Transportasi, Energi,

Air,

SDM,

Teknologi

di

Kabupaten/Kota yang berada di dalam WPPI Sulawesi Tengah adalah

memperhatikan metodologi pelaksanaan kegiatan yang mendasar yakni:

1) Identifikasi kebutuhan infrastruktur melalui analisa gap antara kondisi dan kinerja infrastruktur yang ada di wilayah studi saat ini dengan sasaran pembangunan industri WPPI, melakukan verifikasi rencana pembangunan yang siap dilaksanakan; serta identifikasi terhadap berbagai ketidakpastian yang akan dihadapi dalam proses pembangunan infrastruktur 2) Memperhatikan penggunaan pendekatan dan teknik analisis kebutuhan teknologi (technology needs) dan mengakomodasi konsep-konsep pembangunan sektor industri, infrastruktur, pembangunan urban dan regional, serta kaitannya dengan pembangunan infrastruktur terkini yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah;

3)

Memperhatikan konsep pembangunan infrastruktur wilayah secara terintegrasi baik untuk infrastruktur transportasi, telekomunikasi, sumber daya air, energi, SDM dan teknologi terkait lainnya dalam konteks WPPI;

4) Mempertimbangkan penggunaan metode penyusunan strategi dan rencana aksi pemenuhan kebutuhan infrastruktur dan teknologi untuk pengembangan WPPI secara sistematis;

L a p o r a n ANTARA

PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

Halaman I - 11
Halaman I - 11
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
REPUBLIK INDONESIA
Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
  • 1.6.1 Pengumpulan Data

KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri 1.6.1 Pengumpulan Data Untuk kepentingan pengumpulan data

Untuk kepentingan pengumpulan data dan informasi perlu dikembangkan suatu rancangan survei yang pada dasarnya merupakan cara menyeluruh merumuskan data yang relevan dengan variabel tujuan studi, bagaimana teknik dan metode untuk memperoleh data, kepada populasi sasaran mana, serta bagaimana merancang dan merumuskan variabel data terukur untuk menjawab variabel studi. Rancangan survei sangat diperlukan untuk memperoleh data yang relevan, dapat dipercaya, dan valid. Rancangan survei yang disusun haruslah sesuai dengan metoda penelitian yang akan digunakan dalam pekerjaan ini.

Berdasarkan jenis dan tipe data yang akan dikumpulkan maka dapat dirumuskan 4 (empat) jenis survei yang dilakukan, yaitu survei instansional, observasi lapangan, wawancara semi terstruktur dan penyebaran kuesioner, dan survei kepustakaan.

(1)

Survei Instansional (data sekunder); yakni survey yang dilakukan untuk mengumpulkan data dari lembaga dan SKPD terkait dengan Rencana Kebutuhan Infrastruktur Transportasi, Energi, Air, SDM, Teknologi, dan data lainnya. Data bisa diperoleh dari buku teks, makalah, jurnal, peraturan, ataupun studi-studi yang terkait dengan Rencana Kebutuhan Infrastruktur Transportasi, Energi, Air, SDM, Teknologi di wilayah Sulawesi Tengah.

(2)

Survei kepustakaan (data sekunder); kegiatan yang dilakukan berupa kajian- kajian mencakup tinjauan terhadap teori-teori yang terkait dengan pekerjaan, seperti teori evaluasi, teori penyusunan kriteria, serta studi-studi dan proyek yang pernah dilakukan yang menyangkut perumusan program pengembangan infrastruktur. Kajian kepustakaan ini tidak terbatas pada buku saja, melainkan juga pencarian melalui situs internet terkait dengan berbagai data dan informasi pengembangan infrastruktur di wilayah studi.

(3) Observasi Lapangan (data primer); Survey ini dilakukan untuk memperoleh data kondisi infrastruktur wilayah dengan cara pengamatan lapangan guna menangkap/menginterpretasikan data-data sekunder lebih baik.

(4) Wawancara dan diskusi (data primer dan sekunder); wawancara dilakukan kepada pihak-pihak yang terkait dengan substansi studi serta dianggap relevan serta dan dapat mewakili. Data primer selain diperoleh dengan

L a p o r a n ANTARA

PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

Halaman I - 12
Halaman I - 12
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
REPUBLIK INDONESIA
Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri melakukan wawancara, dapat juga dilakukan dengan teknik

melakukan wawancara, dapat juga dilakukan dengan teknik pengumpulan data yang diterapkan berupa komunikasi langsung. Untuk menghindari adanya tumpang tindih dari hasil-hasil sebelumnya maka cara pengumpulan data diarahkan pada:

  • Focus Group Discussion (FGD) FGD dilakukan 2 kali dengan mengundang lintas SKPD terkait dan stakeholder lainnya. Kegiatan FGD dilakukan untuk memperkaya dalam Penyusunan Rencana Induk Pengembangan WPPI di Provinsi Sulawesi Tengah kegiatan pelaksanaan FGD dilakukan sebagai berikut:

    • 1. FGD I dilaksanakan di Kota Palu sesudah pembahasan laporan pendahuluan.

    • 2. FGD II dilaksanakan di Kota Palu Pasca Laporan Antara.

    • 3. Rakor/konsinyering dilaksanakan di Bali setelah Draft Laporan Final

  • Komunikasi; dilakukan dengan lembaga dan SKPD terkait dengan Rencana Kebutuhan Infrastruktur Transportasi, Energi, Air, SDM, Teknologi, dan data lainnya agar mendapatkan informasi yang komprehensif dalam penyusunan laporan.

    • 1.6.2 Alat Analisis

    Analisis yang digunakan dalam kegiatan penyusunan Rencana Kebutuhan Infrastruktur Industri di WPPI Sulawesi Tengah meliputi:

    • 1. Analisis Pengembangan Industri Prioritas Analisis mengenai pengembangan industri prioritas meliputi Proyeksi Pengembangan Industri Prioritas WPPI, Rencana dan Tahapan Pengembangan Industri Prioritas WPPI.

    • 2. Perhitungan Dan Analisis Kebutuhan Lahan Untuk Industri

    Tinjauan terhadap perkembangan penduduk dilakukan dengan memperkirakan jumlah penduduk di masa yang akan datang. Hasilnya merupakan masukan bagi usaha pengendalian perkembangan jumlah penduduk, dan usaha penyebaran penduduk sesuai dengan ruang yang dapat menampung sesuai perkiraan perkembangan yang akan datang. Metoda yang dapat dipergunakan memperkirakan/memproyeksikan jumlah penduduk di masa yang akan datang digunakan metode Laju Pertumbuhan

    L a p o r a n ANTARA

    PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

    Halaman I - 13
    Halaman I - 13
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
    REPUBLIK INDONESIA
    Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Majemuk Tahunan ( Compound Annual Growth Rate

    Majemuk Tahunan (Compound Annual Growth Rate), biasanya disingkat CAGR, adalah konsep bisnis dan investasi yang memperhalus pandangan pertumbuhan tahunan dari sebuah bisnis dalam beberapa periode. Berikut adalah rumus CAGR:

    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Majemuk Tahunan ( Compound Annual Growth Rate
    • 3. Analisis sistem logistik (intermoda supply chain system) Analisis sistem logistik kajian ini didasarkan pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 26 Tahun 2012 tentang Pengembangan Sistem Logistik Nasional (Sislognas). Dalam Sislognas disebutkan bahwa pengembangan sistem logistik yang baik tercermin dalam terintegrasi secara lokal (locally integrated) dan terhubung secara global (globally connected). Terintegrasi secara lokal (locally integrated) diartikan bahwa seluruh aktivitas logistik mulai dari tingkat pedesaan, perkotaan, sampai dengan antar wilayah dan antar pulau beroperasi secara efektif dan efisien dan menjadi satu kesatuan yang terintegrasi yang akan membawa kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat. Dengan terintegrasi secara lokal ini akan mendorong terwujudnya ketahanan dan kedaulatan ekonomi yang ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang inklusif sehingga akan tercapai peningkatan kesejahteraan masyarakat. Terhubung secara global (globally connected) diartikan bahwa pada sistem logistik yang dibangun terhubung dengan sistem logistik nasional dan sistem logistik regional agar pelaku dan penyedia jasa logistik nasional dapat bersaing di pasar global. Integrasi secara lokal dan keterhubungan secara global dilakukan melalui integrasi dan efisiensi jaringan logistik yang terdiri atas jaringan distribusi, jaringan transportasi, jaringan informasi, serta jaringan keuangan yang didukung oleh pelaku dan penyedia jasa logistik. Dengan demikian jaringan sistem logistik dalam negeri dan keterhubungannya dengan jaringan logistik global akan menjadi kunci kesuksesan di era persaingan rantai pasok global (global supply chain), karena persaingan tidak hanya antar produk, antar perusahaan, namun juga antar jaringan logistik dan rantai pasok. Selain itu, integrasi logistik secara lokal dan keterhubungan secara global akan dapat meningkatkan ketahanan dan kedaulatan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat. Pengembangan sistem logistik nasional bertumpu pada 6 (enam) faktor penggerak utama yang saling terkait, yaitu:

    L a p o r a n ANTARA

    PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

    Halaman I - 14
    Halaman I - 14
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
    REPUBLIK INDONESIA
    Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    • a. Komoditas Penggerak Utama;

    • b. Pelaku dan Penyedia Jasa Logistik;

    • c. Infrastruktur Transportasi;

    • d. Teknologi Informasi dan Komunikasi;

    • e. Manajemen Sumber Daya Manusia;

    • f. Regulasi dan Kebijakan.

    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri a. Komoditas Penggerak Utama; b. Pelaku dan

    Berdasarkan 6 (enam) faktor penggerak utama (six key-driver) sistem logistik tersebut, maka arah kebijakan yang ditempuh adalah:

    • a. Penetapan komoditas penggerak utama dalam suatu tatanan jaringan logistik dan rantai pasok, tata kelola, serta tata niaga yang efektif dan efisien;

    • b. Pengintegrasian simpul-simpul infrastruktur logistik, baik simpul logistik (logistics node) maupun keterkaitan antar simpul logistik (logistics link) yang berfungsi untuk mengalirkan barang dari titik asal ke titik tujuan. Simpul logistik meliputi pelaku logistik dan konsumen; sedangkan keterkaitan antar simpul meliputi jaringan distribusi, jaringan transportasi, jaringan informasi, dan jaringan keuangan, yang menghubungkan masyarakat pedesaan, perkotaan, pusat pertumbuhan ekonomi antar pulau maupun lintas negara. Integrasi simpul logistik dan keterkaitan antar simpul ini menjadi landasan utama dalam mewujudkan konektivitas lokal, nasional, dan global untuk menuju kedaulatan dan ketahanan ekonomi nasional (national economic authority and security). Pengembangan dan penerapan sistem informasi dan komunikasi yang handal dan aman;

    • c. Pengembangan pelaku dan penyedia jasa logistik lokal yang berkelas dunia;

    • d. Pengembangan sumber daya manusia logistik yang profesional;

    • e. Penataan peraturan/perundangan di bidang logistik untuk menjamin kepastian hukum dan berusaha, serta sinkronisasi antar pelaku dan penyedia logistik baik ditingkat pusat maupun daerah untuk mendukung aktivitas logistik yang efisien dan menciptakan iklim usaha yang kondusif; dan

    • f. Penyelenggaraan tata kelola kelembagaan sistem logistik nasional yang efektif.

    • 4. Analisis kebutuhan sarana dan prasarana/infrastruktur Analisis kebutuhan sarana dan prasarana dilakukan untuk mengetahui:

      • a. Kondisi dan pelayanan sarana dan prasarana wilayah; dan

      • b. Potensi dan kendala peningkatan pelayanan.

    L a p o r a n ANTARA

    PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

    Halaman I - 15
    Halaman I - 15
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
    REPUBLIK INDONESIA
    Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Sarana dan prasarana yang dimaksudkan adalah transportasi,

    Sarana dan prasarana yang dimaksudkan adalah transportasi, telekomunikasi, energi, air bersih, dan prasarana pengelolaan lingkungan. Pada dasarnya analisis kebutuhan sarana dan prasarana akan terkait erat dengan beberapa hal yaitu jumlah penduduk dan hasil proyeksinya, standar jumlah minimal kebutuhan akan fasilitas yang dimaksud, dan standar kebutuhan ruang untuk masing-masing sarana/prasarana. Analisis kebutuhan air bersih, listrik, dan telekomunikasi dilakukan dengan menghitung tingkat ketersediaan dengan proyeksi kebutuhan untuk jangka waktu 20 tahun ke depan. Sedangkan proyeksi kebutuhan akan dihitung berdasarkan hasil proyeksi penduduk, dengan rincian kebutuhan untuk fasilitas umum dan kebutuhan domestik dikali dengan standar kebutuhan.

    Sedangkan kebutuhan sarana dan prasarana transportasi dilakukan dalam skala regional, baik dalam konteks internal maupun eksternal. Tingkat kebutuhan akan sarana dan prasarana jalan, moda angkutan, dan prasarana lain seperti bandara dan pelabuhan laut dikaji dengan mempertimbangkan aspek skala kepentingan pengembangan, kesesuaian wilayah, dan kondisi keuangan daerah. Metoda analisis yang dipergunakan adalah deskriptif kualitatif atas data yang tersedia.

    • a. Analisis Sistem Transportasi Sistem transpotasi memiliki peranan yang penting dalam menunjang aktivitas wilayah dari dan menuju ke Zona industri. Kegiatan produksi tidak dapat terlepas dari ketersedian sarana dan prasarana transportasi. Pengangkutan bahan baku menuju pada Zona industri memerlukan sarana dan prasaran transportasi yang baik dan laik digunakan, begitu pula distibusi dan eksport memerlukan sarana dan prasaran transportasi yang baik dan laik. Penetepan Zona industri tidak dapat terlepas dari dukungan sarana dan prasarana transportasi, seperti darat, udara dan laut. Dimana seluruh sarana dan prasarana yang ada harus berada dalam kapasitas utama dan mampu menampung pergerakan orang dan barang keluar-masuk Zona industri. Kelaikan sarana dan prasarana transportasi sebagai pendukung Zona industri dapat digunakan kriteria sebagaimana pada PP No. 2 Tahun 2011 yang menyatakan bahwa Zona industri harus mendapatkan dukungan sarana dan prasarana transportasi berupa pelabuhan hub nasional/internasional dan bandara udara internasional. Keberadaan bandar udara internasional dan pelabuhan hub nasional/internasional didukung oleh prasarana transportasi yang sesuai dengan kelas pelabuhan atau bandara tersebut. Sehingga kriteria kelaikan sistem transportasi meliputi:

    L a p o r a n ANTARA

    PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

    Halaman I - 16
    Halaman I - 16
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
    REPUBLIK INDONESIA
    Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri a) Sistem Jaringan Darat Zona industri terhubungan
    • a) Sistem Jaringan Darat Zona industri terhubungan dengan jaringan jalan dan Rel Kerata Api yang sangat baik, sehingga memungkikan pergerakan keluar-masuk Zona Industri yang lancar di dalam daerah.

    • b) Sistem Jaringan Laut Zona industri didukung oleh jalur pelayaran internasional dan pelabuhan internasional untuk menciptakan aktivitas eksport-impor.

    • c) Sistem Jaringan Udara Zona industri didukung oleh jalur penerbangan internasional dan bandara internasional untuk menciptakan aktivitas eksport-impor.

    • b. Model Aksesibilitas Metode analisis ini digunakan untuk pengukuran tingkat kemudahan pencapaian, selain itu untuk mengetahui berapa mudahnya suatu lokasi dapat dicapai dari lokasi lainnya. Metoda yang digunakan antara lain :

    Nilai Aksesibilitas

     

    A

    FKT

     

    d

     

    Dimana :

     

    A

    =

    Nilai aksesibiltas

     

    F

    =

    Fungsi jalan (Arteri, Kolektor, Lokal)

    K

    =

    Konstruksi jalan (aspal, perkerasan tanah)

    T

    =

    Kondisi jalan (baik, sedang, buruk)

    d

    =

    Jarak nilainilai F, K dan T diberi bobot

    Indeks aksesibiltas

     

    A

    EJ

    (d )

    ij

    b

    Dimana :

    EJ

    = Ukuran aktivitas (antara

    lain jumlah penduduk

    usia kerja,

    dij

    pedagang dan sebagainya) = Jarak tempuh (waktu atau jarak)

    b

    = Parameter

    Nilai Aksesibilitas

     

    A

    FKT

     

    d

     

    Dimana :

     

    A

    =

    Nilai aksesibiltas

     

    L a p o r a n ANTARA

    PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

    Halaman I - 17
    Halaman I - 17
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
    REPUBLIK INDONESIA
    Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri F = Fungsi jalan (Arteri, Kolektor, Lokal)

    F

    =

    Fungsi jalan (Arteri, Kolektor, Lokal)

    K

    =

    Konstruksi jalan (aspal, perkerasan tanah)

    T

    =

    Kondisi jalan (baik, sedang, buruk)

    d

    =

    Jarak nilainilai F, K dan T diberi bobot

    Indeks aksesibiltas

    A

    (

    EJ

    • d ij

    )

    b

    Dimana :

    EJ

    =

    Ukuran aktivitas (antara lain jumlah penduduk usia kerja,

    dij =

    pedagang dan sebagainya) Jarak tempuh (waktu atau jarak)

    b

    =

    Parameter

    Perhitungan parameter B dengan menggunakan grafik regresi linier yang diperoleh berdasarkan perhitungan :

    K

    Tij

    Pij

    Dimana :

    T

    =

    Nilai individu trip

    P =

    Jumlah penduduk seluruh daerah

    Tij =

    Total trip hipotesa

    Pij =

    Jumlah penduduk di seluruh daerah

    • c. Air Bersih Kebutuhan air bersih dianalisis berdasarkan pertimbangan:

    Kependudukan. Dalam hal ini tidak hanya Jumlah yang ada saat ini tetapi

    Juga memperhitungkan jumlah penduduk pada akhir perencanaan. Namun demikian, tidak hanya Jumlah penduduknya saja, tetapi juga kepadatan dan sebaran. Kepadatan akan memberi indikasi apakah diperlukan sistem perpipaan atau tidak. Sementara sebaran menentukan sistem jaringan maupun sistem distribusinya. Target pelayanan yaitu perbandingan antara pelayanan air bersih yang

    diperhitungkan berdasarkan penduduk yang akan mendapatkan layanan terhadap Jumlah penduduk keseluruhan. Target pelayanan dalam hal ini tergantung kemampuan masing-masing kola dari sisi sumber dayanya. Dalam hal target pelayanan air bersih ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik tetapi juga untuk fasilitas perkotaan lainnya. Jenis pelayanan dan satuan kebutuhan air untuk : domestik, fasilitas sosial, dan kebuluhan khusus.

    L a p o r a n ANTARA

    PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

    Halaman I - 18
    Halaman I - 18
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
    REPUBLIK INDONESIA
    Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri  Karakteristik kebutuhan air yang menggambarkan variasi

    Karakteristik kebutuhan air yang menggambarkan variasi kebutuhan harian

    yaitu kebutuhan rata-rata dan kebutuhan puncak. Jumlah air yang hilang dalam sistem.

    Tabel 1.1. Kriteria Pemakaian Air Bersih (Sistem Perpipaan)

    No

    Parameter

     

    Kota

    Metro

    Besar

    Sedang

    Kecil

    1.

    Kebutuhan Domestik (lt/hari/orang)

     
    • A. Sambungan Rumah (SR)

    190

    170

    150

    130

     
    • B. Kran umum (KU)

    30

    30

    30

    30

    2.

    Kebutuhan Non Domestik

     
    • A. Industri (lt/hari/org)

     
    • a. Berat

    • 43.200 - 86400 = 0,50 - 1,00 (lt/detik/ha)

     
    • b. Sedang

    • 21.600 - 43.200 = 0,25 -0,50 (lt/detik/ha)

     
    • c. Ringan

    • 12.960 - 21.600 = 0,15 - 0,25 (lt/detik/ha)

     
    • B. Komersial (lt/hari/org)

     
    • a. Pasar

    8.640 - 86.400 = 0,1 - 1,00 (lt/detik/ha)

     
    • C. Hotel (lt/hari/org)

     
    • a. Lokal

     

    400

     
    • b. Internasional

     

    1.000

     
    • D. Sosial dan Instansi

     
    • a. Universitas (lt/hari/siswa)

     

    20

     
    • b. Sekolah (lt/hari/siswa)

     

    15

     
    • c. Mesjid (lt/hari/unit)

     

    1.000-2.000

     
     
    • d. Rumah Sakit (lt/hari/kamar)

     

    400

     
    • e. Puskesmas (lt/hari/unit)

     

    1.000 - 2.000

     
     
    • f. Kantor (lt/hari/unit)

     

    864 = 0,01 (lt/detik/unit)

     
     
    • g. Militer (lt/hari/ha)

     

    10.000 = 10 (lm/hari/ha))

     

    3.

    Kebutuhan hari maksimum (lt/hari)

    Kebutuhan rata-rata x 1,15 - 1,20 (faktor jam maks)

    4.

    Kebutuhan jam puncak (lt/hari)

    Kebutuhan rata-rata x faktor jam puncak (165% -

    5.

    Kebutuhan hari rata-rata

    Kebutuhan Domestik + Non Domestik

    6.

    Kehilangan air (lt/hari)

     
    • A. Kota Metro dan Besar

     
    • 25 % dari kebutuhan hari rata-rata

     
     
    • B. Kota Sedang dan Kecil

     
    • 30 % dari kebutuhan hari rata-rata

     

    7.

    Total Kebutuhan Air Bersih (liter/hari)

    Kebutuhan rata-rata + kehilangan air

    Sumber : SNI 03-1733-2004 Keterangan :

    Kota Besar & Metro : > 1 juta jiwa penduduk

    Kota Sedang

    : 100.000 - 1 juta jiwa

    Kota Kecil :25.000 - 100.000 jiwa Desa :< 25.000 jiwa

    • d. Listrik Pada dasamya pelayanan atau pengadaan prasarana listrik masih dipengaruhi oleh kebutuhan konsumen. Kebutuhan konsumen tidak hanya pada pemenuhan sambungan tetapi juga penambahan daya.

    L a p o r a n ANTARA

    PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

    Halaman I - 19
    Halaman I - 19
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
    REPUBLIK INDONESIA
    Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Dalam analisis kapasitas dalam arti supply listrik

    Dalam analisis kapasitas dalam arti supply listrik khususnya dari PLN masih berdasarkan pada kecenderungan permintaan perkiraan besar dan distribusi konsumen. Supply ini tergantung pada sumber tenaga listrik yang ada. Dari berbagai sumber bisa dibuat sistem tertutup dan terpadu. Artinya banyaknya alternatif sumber dan bisa dikoneksikan. Masalah akan timbul bila kebutuhan daya listrik tidak bisa diimbangi dengan supply daya listrik.

    Utilitas listrik menurut kebutuhan berdasarkan SNI 03-1733-2004 tentang Standar Penyediaan Kebutuhan Daya Listrik terdiri dari :

    Perencanaan listrik :

    Perencanaan di perkotaan (20 tahun) Perkembangan pemakaian listrik < 8 % / tahun Kepadatan daerah pelayanan (1km) : < 100 KVA = 100.000 watt Karakteristik konsumen berdasarkan :

    Pola permukiman Kelompok konsumen Pemakaian produktif Untuk menaikkan konsumsi sebesar 6 % pertahun maka daya

    tambahan disiapkan pada tahun ke-3 maksimal 15 %.

    dengan

    kehilangan

    daya

    e.

    Telepon

    Merujuk pada SNI 03-1733-1989 tentang Tata Cara Perencanaan Kawasan Perumahan Kota dan SNI 03-1733-2004 tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan, dimana jenis elemen perencanaan untuk jenis utilitas jaringan telepon yang harus disediakan pada lingkungan perumahan di perkotaan adalah;

    • a) Kebutuhan sambunga telepon; dan

    • b) Jaringan telepon

    Beberapa persyaratan, kriteria dan kebutuhan yang harus dipenuhi dalah;

    • a) Penyediaan sambungan telepon 1) Tiap lingkungan rumah perlu dilayani sambunga telepon rumah dan telepon umum sejumlah 0,13 sambunga telepon rumah per jiwa atau dengan menggunakan asumsi berdasarkan tipe rumah sebagai berikut;

      • - R-1, rumah tangga berpenghasilan tinggi : 2-3 sambungan /rumah

      • - R-2, rumah tangga berpenghasilan menegah: 1-2 sambungan /rumah

      • - R-1, rumah tangga berpenghasilan tinggi : 0-1 sambungan /rumah

    L a p o r a n ANTARA

    PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

    Halaman I - 20
    Halaman I - 20
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
    REPUBLIK INDONESIA
    Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri 2) Dibutuhkan sekurang-kurangnya 1 sambunga telepon umum

    2) Dibutuhkan sekurang-kurangnya 1 sambunga telepon umum untuk setiap 250 jiwa penduduk (unit RT) yang ditempatkan pada pusat-pudat kegiatan lingkungan RT tersebut 3) Ketersediaan antar sambungan telepon umum ini harus memiliki jarak radius bagi pejalan kaki yaitu 200 400 m 4) Penempatan pesawat telepon umum diutamakan di area-area publik seperti ruang terbuka umum, pusat lingkungan, ataupun berdekatan dengan bangunan sarana lingkungan dan 5) Penempatan pesawat telepon harus dapat terlindungi terhadap cuaca (hujan dan panas matahari) yang dapat diintegrasikan dengan kebutuhan kenyamanan pemakai telepon umum tersebut

    • b) Penyediaan jaringan telepon 1) Tiap lingkungan rumah perlu dilayani jaringa telepon lingkungan dan jaringan telepon ke hunian 2) Jaringan telepon ini dapat diintegrasikan dengan jaringan pergerakan (jaringan jalan) dan jaringan prasarana / utilitas lain 3) Tiang listrik yang ditempatkan pada area Damija (Daerah Milik Jalan) pada sisi jalur hijau tidak menghalangi sirkulasi pejalan kaki di trotoar 4) Stasiun Telepon Otomat (STO) untuk setiap 3.000 10.000 sambungan dengan radius pelayanan 3 5 km dihitung dari copper center, yang berfungsi sebagai pusat pengendali jaringan dan tempat pengaduan pelanggan

    • 5. Metode Sistem Informasi Geografis (SIG) GIS merupakan sistem komputer yang mampu memproses dan menggunakan data yang menjelaskan tentang tempat pada permukaan bumi. Lebih lanjut GIS didefinisikan sebagai sekumpulan alat yang terorganisir yang meliputi hardware, software, data geografis dan manusia yang sumuanya dirancang secara efisien untuk dapat melihat, menyimpan, memperbaharui, mengolah dan menyajikan semua bentuk informasi bereferensi geografis (ESRI, 1994). Selanjutnya GIS pada dasarnya dibuat untuk mengumpulkan, menyimpan, dan menganalisis obyek serta fenomena yang posisi geografisnya merupakan karakteristik yang penting untuk di analisis (Stan Aronoff, 1989). Secara garis besar data dalam GIS dibagi menjadi dua bagian, yaitu data spasial yang bereferensikan data geografis (koordinat) dan data atribut yang menjelaskan atau sebagai identitas dari data spasial.

    L a p o r a n ANTARA

    PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

    Halaman I - 21
    Halaman I - 21
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
    REPUBLIK INDONESIA
    Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Keunikan GIS jika dibanding dengan sistem pengelola

    Keunikan GIS jika dibanding dengan sistem pengelola basis data yang lain adalah kemampuan untuk menyajikan informasi spasial maupun non-spasial secara bersama. Sebagai contoh data GIS penggunaan lahan dapat disajikan dalam bentuk luasan yang masing-masing mempunyai atribut penjelasan baik itu tabuler, text, angka,

    maupun image.

    Sedangkan data output yang dapat dikeluarkan oleh GIS dapat berupa hasil analisis spasial berupa peta, laporan statistik, analisis statistik yang secara otomatis dapat dipetakan dalam data spasialnya, dan dapat dijadikan sebagai data input bagi database management system.Dari definisi tersebut diatas, GIS jelas mempunyai karakteristik sebagai perangkat pengelola database, sebagai perangkat analisa keruangan (spatial analysis) dan juga sekaligus proses komunikasi untuk pengambilan keputusan. Lebih sederhana lagi GIS mempunyai dua fungsi utama, yaitu sebagai database sistem dan sebagai alat analisis dan modeling yang berkaitan dengan informasi geografis.

    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Keunikan GIS jika dibanding dengan sistem pengelola

    Gambar 1.2

    Input/Output dalam GIS

    Ada tiga tugas utama yang diharapkan dari sistem informasi geografis adalah :

    • 1. Penyimpanan, menajemen, dan integrasi data spasial dalam jumlah besar.

    • 2. Kemampuan dalam analisis yang berhubungan secara spesifik dengan komponen data geografis.

    • 3. Mengorganisasikan dan mengatur data dalam jumlah besar, sehingga informasi tersebut dapat digunakan semua pemakainya.

    L a p o r a n ANTARA

    PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

    Halaman I - 22
    Halaman I - 22
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
    REPUBLIK INDONESIA
    Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    • 6. Analisis SWOT

    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri 6. Analisis SWOT Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses,

    Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats) merupakan salah

    satu alat yang berguna sebagai alat bantu pembuatan keputusan. Proses penggunaan manajemen analisa SWOT menghendaki adanya suatu survei internal tentang strengths (kekuatan) dan weaknesses (kelemahan) program, serta survei eksternal atas opportunities (ancaman) dan threats (peluang/kesempatan). Pengujian eksternal dan internal yang terstruktur menjadi sesuatu yang unik dalam dunia perencanaan dan pengembangan suatu program.

    SWOT dapat dilaksanakan oleh para administrator secara individual atau secara kelompok dalam organisasi. Teknik secara kelompok akan lebih efektif khususnya dalam menjaga objektivitas, kejelasan dan fokus untuk diskusi mengenai strategi, sehingga tidak bias, dan bahkan akan terkena pengaruh politik atau kesenangan (interest) perseorangan yang kuat (Glass, 1991).

    Survei Internal Tentang Kekuatan dan Kelemahan

    Survei ini merupakan satu proses evaluasi diri (introspeksi) melalui identifikasi

    sejumlah faktor/variabel kunci, kemudian dari faktor kunci tersebut ditentukan faktor-faktor yang merupakan kelemahan dan faktor-faktor yang merupakan kekuatan. Dengan membuat seluruh daftar tentang kelemahan internal maka akan tampak area/aspek yang bisa diubah guna untuk memperbaiki kinerja, sebaliknya daftar tentang kekuatan internal akan memberikan gambaran pada area/aspek yang menjadi tujuan. Penaksiran kekuatan dan kelemahan juga bisa dilakukan melalui survei, kelompok-kelompok fokus. Begitu kelemahan dan kekuatan tergambar, maka akan memungkinkan untuk mengkonfirmasi faktor-faktor tersebut. Perlu dipahami bahwa persepsi yang berbeda-beda bisa timbul, tergantung pada kelompok-kelompok representatif yang dihubungi dan dimintai pendapatnya.

    Survei Eksternal tentang Ancaman dan Peluang

    Survei ini merupakan proses pemantauan terhadap sejumlah faktor/variabel ekternal yang mempengaruhi kinerja program. Faktor-faktor yang diidentifikasi tersebut haruslah benar-benar yang mempengaruhi kondisi internal. Gambaran eksternal ini secara langsung maupun tidak langsung akan menjadi informasi penting dalam mengenali berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan serta menentukan tindakan antisipasi dalam menghadapi ancaman. Harus dipahami juga bahwa peluang dan ancaman tidak bersifat absolut. Sesuatu

    yang awalnya nampak sebagai kesempatan/peluang, mungkin tidak muncul bila

    L a p o r a n ANTARA

    PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

    Halaman I - 23
    Halaman I - 23
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
    REPUBLIK INDONESIA
    Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri dikaitkan dengan keterbatasan sumber daya atau besarnya

    dikaitkan dengan keterbatasan sumber daya atau besarnya harapan masyarakat. Makin besar sumber daya atau harapan masyarakat, maka makin memungkinkan untuk membuat penilaian yang benar dan tepat serta lebih menguntungkan baik secara institusi maupun lingkungan masyarakat. Gambaran mengenai analisis SWOT ini secara teknis disajikan ke dalam 3 bagian yaitu:

    SAP (Strategic Advantages Profile/Profil Keunggulan Strategis)

     

    SWOT Matrix (matriks SWOT)

    SAP atau Profil Keunggulan Strategis memuat formulasi hasil analisis

    internal yang berisikan faktor-faktor yang berupa kekuatan kelemahan.

    dan

    Analisis faktor-faktor internal mencakup kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

    Mengevaluasi kinerja organisasi/bisnis/industri untuk untuk setiap ukuran

    keberhasilan Menganalisis faktor-faktor yang menunjang dan menghambat pencapaian kinerja untuk setiap ukuran keberhasilan

    Mengidentifikasikan

    faktor-faktor

    yang merupakan kekuatan dan

    kelemahan organisasi/bisnis/industri

    Analisis faktor-faktor eksternal mencakup kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

    Mengenali

    kekuatan

    kunci

    faktor-faktor

    eksternal

    yang

    mempengaruhi

    kinerja organisasi Mengumpulkan data dan informasi mengenai faktor-faktor tersebut. Menilai pengaruh kondisi tersebut pada organisasi/bisnis/industri Mengidentifikasikan faktor-faktor yang merupakan peluang dan ancaman.

    Beberapa faktor yang digunakan dalam analisis SWOT diantaranya dinyatakan oleh Dong Sung Cho sebagai berikut :

    L a p o r a n ANTARA

    PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

    Halaman I - 24
    Halaman I - 24
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
    REPUBLIK INDONESIA
    Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri  Politisi dan Birokrat  Tenaga Kerja

    Politisi dan Birokrat

    Tenaga Kerja

    Manajer

    Wirausahawan

    Lingkungan Bisnis

    Sumberdaya (terbarui dan tidak-terbarui, serta faktor lingkungan seperti lahan, cuaca, sumber air).

    Permintaan Domestik

    Industri terkait dan pendukung.

    Peluang Eksternal

    • 7. Analisis Rantai Nilai dan Rantai Pasok Michael Porter mengilustrasikan tentang konsep analisis rantai nilai bahwa setiap perusahaan merupakan kumpulan entitas yang dilakukan untuk merancang, memproduksi, memasarkan, memberikan dan mendukung produk atau jasa.

    Semua

    kegiatan

    ini dapat

    direpresentasikan dengan

    menggunakan rantai

    nilai. Rantai nilainya dapat dipahami dalam konteks unit bisnis. Rantai nilai dari

    unit bisnis

    hanya salah

    satu

    bagian

    dari set

    yang

    lebih

    besar dari

    nilai

    tambah kegiatan dalam

    suatu sistem

    industri-industri

    rantai nilai atau

    nilai

    System.

    Rantai

    nilai perusahaan pun perlu dipahami sebagai

    bagian

    dari 'sistem' yang lebih besar dari rantai nilai terkait.

    Sebuah rantai nilai adalah rangkaian kegiatan untuk operasi perusahaan dalam industri yang spesifik. Unit bisnis adalah tingkat yang sesuai untuk pembangunan rantai nilai, bukan tingkat divisi atau tingkat korporasi. Produk melewati semua rantai kegiatan dalam rangka, dan pada setiap aktivitas nilai keuntungan beberapa produk. Rantai kegiatan memberikan produk-produk nilai tambah dari jumlah nilai tambah dari semua kegiatan. Hal ini penting untuk tidak mencampur konsep rantai nilai dengan biaya yang terjadi di seluruh kegiatan.

    Rantai nilai mengkategorikan aktivitas umum nilai tambah dari sebuah organisasi. Kegiatan utama mencakup: logistik masuk, operasi (produksi),

    L a p o r a n ANTARA

    PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

    Halaman I - 25
    Halaman I - 25
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
    REPUBLIK INDONESIA
    Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri logistik keluar, pemasaran, dan penjualan (permintaan), dan

    logistik keluar, pemasaran, dan penjualan (permintaan), dan jasa (pemeliharaan). Kegiatan dukungan meliputi: manajemen infrastruktur administratif, manajemen sumber daya manusia, teknologi (R & D), dan

    pengadaan. Biaya dan value drivers diidentifikasi untuk setiap aktivitas nilai. Aktivitas-aktivitas tersebut dibagi dalam 2 jenis, yaitu :

    • 1. Primary activities :

      • - Inbound logistics : aktivitas yang berhubungan dengan penanganan material sebelum digunakan.

      • - Operations : akivitas yang berhubungan dengan pengolahan input menjadi output.

      • - Outbound logistics : aktivitas yang dilakukan untuk menyampaikan produk ke tangan konsumen.

      • - Marketing and sales : aktivitas yang berhubungan dengan pengarahan konsumen agar tertarik untuk membeli produk.

      • - Service : aktivitas yang mempertahankan atau meningkatkan nilai dari produk.

  • 2. Support activities :

    • - Procurement : berkaitan dengan proses perolehan input/sumber daya.

    • - Human Resources Management : Pengaturan SDM mulai dari perekrutan, kompensasi, sampai pemberhentian.

    • - Technological Development : pengembangan peralatan, software, hardware, prosedur, didalam transformasi produk dari input menjadi output.

    • - Infrastructure : terdiri dari departemen-departemen/fungsi-fungsi (akuntansi, keuangan, perencanaan, dsb) yang melayani kebutuhan organisasi dan mengikat bagian-bagiannya menjadi sebuah kesatuan.

  • L a p o r a n ANTARA

    PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

    Halaman I - 26
    Halaman I - 26
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
    REPUBLIK INDONESIA
    Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Gambar 1.3 Analisis Rantai Nilai Produk Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Gambar 1.3 Analisis Rantai Nilai Produk Industri

    Gambar 1.3

    Analisis Rantai Nilai Produk Industri

    Supply chain menyangkut hubungan yang terus-menerus mengenai barang, uang dan informasi. Barang umumnya mengalir hulu ke hilir,uang mengalir dari hilir ke hulu, sedangkan informasi mengalir baik dari hulu ke hilir maupun hilir ke hulu. Dilihat secara horizontal, ada lima komponen utama

    atau pelaku dalam supply chain, yaitu supplier (pemasok), manufacturer

    (pabrik pembuat barang), distributor (pedagang besar), retailer (pengecer),

    customer (pelanggan). Secara Vertikal, ada lima komponen utama supply

    chain, yaitu buyer (pembeli), transpoter (pengangkut), (penyimpan), seller (penjual) dan sebagainya (Assauri, 2011:169).

    warehouse

    Rantai Pasok (Supply chain management) merupakan sebuah ‘proses payung’ di mana produk diciptakan dan disampaikan kepada konsumen dari sudut struktural. Sebuah supply chain (rantai pasok) merujuk kepada jaringan yang rumit dari hubungan yang mempertahankan organisasi dengan rekan bisnisnya untuk mendapatkan sumber produksi dalam menyampaikan kepada konsumen. (Kalakota, 2000: 197).

    Heizer and Render (2005:4) manajemen rantai pasokan mencakup aktivitas untuk menentukan: (1) Transportasi ke vendor; (2) Pemindahan uang secara kredit dan tunai; (3) Para pemasok; (4) Bank dan distributor;

    L a p o r a n ANTARA

    PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

    Halaman I - 27
    Halaman I - 27
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
    REPUBLIK INDONESIA
    Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri (5) Utang dan piutang usaha; (6) Pergudangan

    (5) Utang dan piutang usaha; (6) Pergudangan dan tingkat persediaan; (7) Pemenuhan pesanan;

    (8) Berbagi informasi pelanggan, prediksi, dan produksi.

    Tujuan dasar Supply Chain Management adalah untuk mengendalikan persediaan dengan manajemen arus material. Persediaan adalah jumlah material dari pemasok yang digunakan untuk memenuhi permintaan pelanggan atau mendukung proses produksi barang dan jasa. Perusahaan dapat mengambil pendekatan supply chain management yang efisien untuk mengkoordinasikan aliran material untuk meminimalkan persediaan dan memaksimalkan produkivitas perusahaan

    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri (5) Utang dan piutang usaha; (6) Pergudangan

    Gambar 1.4

    Analisis Rantai Pasok Produk Industri

    • f. GAP ANALYSIS (ANALISA KESENJANGAN)

    Dalam bisnis analisa gap digunakan untuk menentukan langkah-langkah apa yang perlu diambil untuk berpindah dari kondisi saat ini ke kondisi yang diinginkan atau keadaan masa depan yang diinginkan. Banyak orang menyebutnya menjadi analisa kebutuhan dan gap, penilaian kebutuhan atau analisis kebutuhan saja. Analisa gap dapat juga diartikan sebagai perbandingan kinerja aktual dengan kinerja potensial atau yang diharapkan. Sebagai metoda,

    analisa gap digunakan sebagai alat evaluasi bisnis yang menitikberatkan pada

    L a p o r a n ANTARA

    PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

    Halaman I - 28
    Halaman I - 28
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
    REPUBLIK INDONESIA
    Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri kesenjangan kinerja perusahaan saat ini dengan kinerja

    kesenjangan kinerja perusahaan saat ini dengan kinerja yang sudah ditargetkan sebelumnya. Analisis ini juga mengidentifikasi tindakan-tindakan apa saja yang diperlukan untuk mengurangi kesenjangan atau mencapai kinerja yang diharapkan pada masa datang. Lebih dari itu analisis ini juga memperkirakan waktu, biaya, dan sumberdaya yang dibutuhkan untuk mencapai keadaan perusahaan yang diharapkan.

    Analisa gap terdiri dari tiga komponen faktor utama yaitu: 1). daftar karakteristik (seperti atribut, kompetensi, tingkat kinerja) dari situasi sekarang (apa yang saat ini), 2). daftar apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan masa depan (apa yang harus), dan 3). daftar kesenjangan apa yang ada dan perlu diisi. Analisis kesenjangan akan memicu organisasi atau perusahaan untuk merenung status dan kemampuan apa yang saat ini dimiliki oleh organisasi dan bertanya ingin berada dimana di masa depan. Jadi dengan lain kata analisa gap adalah studi yang dibuat untuk mengidentifikasi apakah sistem saat ini telah memenuhi kebutuhan. Analisa gap mengidentifikasikan gap (kesenjangan) antara bagaimana operasi bisnis diperlukan untuk melawan apa yang dinginkan tetapi belum atau tidak bisa penuhi. Dengan sendirinya alternatif-alternatif akan dikembangkan pada saat gap fungsi ditemukan. Gap diubah sesuai dengan proses bisnis, laporan yang diinginkan atau penyesuaian perangkat yang digunakan. Sasaran awal dari analisa gap adalah: mengumpulkan requirement dari perusahaan, menentukan penyesuaian (customization) yang diperlukan, memastikan sistem yang baru memenuhi kebutuhan proses bisnis perusahaan, memastikan bahwa proses bisnis akan menjadi best practice, dan mengidentifikasikan permasalahan yang membutuhkan perubahan kebijakan perusahaan.

    Bagaimana dengan langkah-langkahnya, dari beberapa ahli dapat disimpulkan sebagai berikut: 1). Ranking Requirements, yaitu memastikan proses bisnis dapat diakomodasikan selama implementasi sistem yang baru dan memastikan area-area yang penting bagi organisasi yang memberikan nilai tambah bagi perusahaan dalam meningkatkan proses bisnis; 2). Degree of Fit yaitu menentukan sejauh mana kebutuhan dapat diakomodir oleh sistem yang baru; 3) Gap Resolution yaitu menentukan alternative dan merekomendasikan solusi

    L a p o r a n ANTARA

    PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

    Halaman I - 29
    Halaman I - 29
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
    REPUBLIK INDONESIA
    Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri untuk mengatasi gap yang ada. Suatu analisis

    untuk mengatasi gap yang ada. Suatu analisis kesenjangan, yang membandingkan kinerja bisnis yang sebenarnya dengan kinerja yang ideal, yang sering digunakan dalam hubungannya dengan analisis kebutuhan yang

    memaksimalkan “potensi pertumbuhan bisnis” adalah suatu contoh penggunaan analsis gap

    • 1.6.3 Metode Pengumpulan dan Pengolahan Data

    Untuk keperluan pengenalan karakteristik Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri, dilakukan pengumpulan data primer dan data sekunder. Kerangka teknik pengumpulan data pada penyusunan Perencanaan Kebutuhan Pembangunan Infrastruktur Transportasi, Energi, Air, SDM dan Teknologi di WPPI Sulawesi Tengah yaitu sebagai berikut :

    L a p o r a n ANTARA

    PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

    Halaman I - 30
    Halaman I - 30
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
    REPUBLIK INDONESIA
    Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    • a. Metode Pengumpulan Data Primer

    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri a. Metode Pengumpulan Data Primer 1. Observasi
    • 1. Observasi Pelaksanaan pengumpulan data dengan menggunakan metode observasi dimaksudkan untuk mengetahui kondisi terkini di lapangan. Adapun tujuannya yaitu mencocokan data sekunder yang ada hasil kajian awal dengan perkembangan yang terjadi di lapangan, selain itu dengan metode ini diharapkan adanya pembaharuan data. Metode pengumpulan data dengan observasi ini bertujuan untuk mengumpulkan data-data primer (data lapangan).

    • 2. Visualisasi atau Pemotretan Teknik visualisasi ini dilakukan guna mendapatkan gambaran mengenai lokasi studi secara nyata sehingga mendukung data-data hasil observasi.

    • 3. Wawancara Wawancara semi terstruktur merupakan teknik pengumpulan data melalui wawancara dengan menggunakan beberapa pokok topik sebagai pedoman guna mengumpulkan informasi kualitatif dan untuk mengetahui hubungan sebab akibat dengan menggunakan formulir isian. Adapun responden yang diwawancarai diambil secara random dan merupakan wakil masyarakat yang merupakan pengguna utama.

    • b. Metode Pengumpulan Data Sekunder

      • 1. Studi Literatur/Pustaka Tahapan studi literatur merupakan tahapan pengkajian terhadap data atau informasi yang berhubungan dengan wilayah kajian berupa peraturan atau kebijakan dan juga laporan atau makalah yang terkait pekerjaan ini. Untuk studi yang berkaitan dengan kebijakan bertujuan untuk mengetahui peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan perindustrian dari tingkat nasional sampai daerah dan rencana pengembangan industri khususnya di WPPI di Provinsi Banten .

      • 2. Survei Instansional Metode ini bertujuan untuk mengumpulkan data yang bersumber dari instansi, baik pemerintah, swasta atau lembaga, dimana data yang dikumpulkan dapat berupa data spasial (peta) dan tabel. Penggunaan metode pengumpulan data

    L a p o r a n ANTARA

    PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

    Halaman I - 31
    Halaman I - 31
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
    REPUBLIK INDONESIA
    Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri dalam pekerjaan ini dimaksudkan untuk mensinergikan dan

    dalam pekerjaan ini dimaksudkan untuk mensinergikan dan memutakhirkan kondisi data yang berkaitan dengan pekerjaan. Kebutuhan data sekunder secara rinci, dapat dilihat pada Tabel 1-2.

    Tabel 1.2. Kebutuhan Data

    No

     

    Jenis Data

    Kebutuhan Data

     

    Sumber

    1

    Data Sekunder

     

    a.

    Jalan

    Jalan Nasional, Prov, Kab, Desa

     

    RTRW,

     

    Status Jalan

    RDTR, BPN,

     

    Kondisi Jalan

    SHP

     

    Rencana Jalan Baru

    b.

    Air Bersih

    Sumber Air Bersih

    Studi

     

    BPS

    Pustaka

    c.

    Perekonomian Daerah

    Produk Domestik Regional

    Studi

     

    Bruto (PDRB)

    Pustaka

    Pertumbuhan Ekonomi

    d.

    Iklim Usaha

    Investasi Daerah

    Studi

     

    Pustaka

    e.

    Tata Ruang

     

    RTRW, RDTR,

     

    Kawasan Strategis Kawasan Budidaya

    RPJPD, RPJMD

     

    Topografi, Geologi, Geografi

    f.

    Regulasi

    UU. Perindustrian, RIPIN, KIN

    Studi Pustaka

     

    UU, PP, Kepmen, Tata Ruang

     

    UU Infrastruktur

       
     

    UU RPJPN, Perpes, RPJMN PP/Kepmen Kawasan Industri

    2

    Kondisi fisik kuesioner hasil, observasi dan wawancara

     

    A.

    Jalan

    Lebar Jalan

    Dinas Bina Marga

     

    Panjang Jalan

    dan Penataan

     

    Rencana Jalan Baru

    Ruang Provinsi

     

    Kondisi Jalan

    Sulawesi Tengah

    B.

    Air Bersih

    Kondisi Air Bersih

    Dinas Cipta Karya

     

    Kelancaran Aliran

    dan Sumber Daya

     

    Prasarana Sumber Air Bersih

    Air Provinsi Sulawesi

    C.

    Drainase

    Kelancaran Aliran

    Tengah dan PDAM Dinas Cipta Karya

     

    Genangan

    dan Sumber Daya Air Provinsi Sulawesi

    D.

    Energi Listrik

    Kondisi Fisik Jaringan Listrik

    Tengah PLN

    E.

    Telekomunikasi

    Kondisi Fisik Jaringan

    Telkom, Provider,

     

    Jenis Alat Telekomunikasi

    Dinas Kominfo

    F.

    Demografi Dan

    Jumlah Penduduk

    Bappeda, Dinas

    Ketenagakerjaan

    Tenaga Kerja

     

    Jumlah Tenaga Kerja

     

    Sosial Budaya

    G.

    Pendidikan

    Perguruan Tinggi

    Dinas Pendidikan

     

    Sekolah Menengah

     

    Siswa

    H.

    Logistik

    Supply Chain

    Dinas Perindustrian

    L a p o r a n ANTARA

    PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

    Halaman I - 32
    Halaman I - 32
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
    REPUBLIK INDONESIA
    Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri No Jenis Data Kebutuhan Data Sumber Biaya

    No

    Jenis Data

    Kebutuhan Data

    Sumber

       

    Biaya Logistik

    dan Perdagangan

     

    PDRB Sektor Logistik

     

    Penyedia Usaha Logistik

    • I. Energi

    Kapasitas Power Supply

    PLN, Dinas Energi

     

    Rencana Pemanfataan Energi

    dan Sumber Daya

     

    Energi Alternatif

    Mineral

     

    Sumber Energi Eksternal

    • J. Iklim Usaha

    Iklim Investasi

    BPPT, Kesbangpol

     

    Keamanan Usaha

    • K. Industri

    Data Usaha Dan SDM Industri

    Pelaku usaha,

     

    Data Sentra Industri

    Disperindag

    • L. Perbankan

    Pembiayaan Uasaha

    Perbankan, LKBB

     

    Investasi Dan Kredit

    • M. Teknologi

    Teknologi Pengolahan Nikel

    Pelaku Usaha

     

    Teknologi Industri Lainnya

    Industri

    • N. Transportasi

    Angkutan Umum Darat

    Dinas Perhubungan

     

    Angkutan Niaga Laut

       
     

    Angkutan Udara Terminal Umum

     

    Pelabuhan Laut

     

    Bandara

    Sumber : Diskusi Tim Konsultan, 2017

    c. Pengolahan Data Pengolahan data dilakukan melalui beberapa tahap berikut ini :

    • 1. Pengorganisasian dan editing data Pengorganisasian untuk menelaah dan memeriksa kembali isi dari instrumen. Cara yang digunakan : (a) menghitung instrumen yang terkumpul, kaitannya dengan kecukupan jumlah sampel; (b) pemeriksaan isian instrumen; (c) penomoran dan kode terhadap instrumen; dan (d) membuat pedoman skoring.

    • 2. Memilah data dan informasi Data dan informasi produk (sesuai dengan kebutuhan data dan informasi) dipilah berdasarkan jenis dan kebutuhan akan informasi. Data dan informasi yang dibangun (dalam sistem database) mempengaruhi hasil diagnosis dan analisa. Pemilahan data dan informasi dilakukan melalui penomoran, penamaan, tingkat pengukuran, dan kode kategori.

    • 3. Entry data Entri data ke komputer dengan menggunakan software MS World, excel, GIS atau yang lainnya, untuk kemudahan aplikasi dan perhitungan.

    L a p o r a n ANTARA

    PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

    Halaman I - 33
    Halaman I - 33
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
    REPUBLIK INDONESIA
    Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri 4. Penyajian dan interpretasi data Penyajian data

    4. Penyajian dan interpretasi data Penyajian data hasil olahan di atas diinterpretasikan serta dianalisa untuk mendapatkan kesimpulan. Penyajian data dapat meliputi tabel-tabel dan grafik yang sudah memiliki keterwakilan dengan sampel dan kebutuhan data.

    • 1.7 RENCANA KERJA

    Pekerjaan Penyusunan Perencanaan Kebutuhan Pembangunan Infrastruktur Transportasi, Energi, Air, Sdm Dan Teknologi Di WPPI Sulawesi Tengah dilaksanakan selama 180 (seratus delapan puluh) Hari Kalender atau 6 Bulan. Jadwal pelaksanaan pekerjaan disusun berdasarkan rencana kerja yang telah disusun serta dengan memperhatikan alokasi waktu pelaksanaan pekerjaan sebagaimana telah ditetapkan dalam kerangka acuan kerja. Tahapan pelaksanaan pekerjaan Penyusunan Perencanaan Kebutuhan Pembangunan Infrastruktur

    Transportasi, Energi, Air, Sdm Dan Teknologi Di WPPI Sulawesi Tengah meliputi :

    • a. Persiapan;

    • b. Diskusi Pendahuluan;

    • c. Pengumpulan Data/Survey Lapangan;

    • d. Studi Analisis Kebijakan WPPI Sulawesi Tengah ;

    • e. Kajian Rencana Pembangunan Industri;

    • f. Strategi Pelaksanaan Pembangunan Program Infrastruktur WPPI Sulawesi Tengah

    • g. Diskusi Laporan Semi Rampung;

    • h. Penyusunan Program Rencana Aksi;

    • i. Diskusi Laporan Rencana;

    • j. Tahap Penyempurnaan Rencana.

    Secara lebih rinci diuraikan pada tabel pada berikut ini.

    L a p o r a n ANTARA

    PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

    Halaman I - 34
    Halaman I - 34
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
    REPUBLIK INDONESIA
    Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Tabel 1.3. Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan FINALISASI LAPORAN

    Tabel 1.3. Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan

    FINALISASI LAPORAN

    8.3

    5.1

    8.4

    Laporan Akhir

    Laporan Antara

    Perumusan Strategi dan Roadmap Rencana Pengembangan Infrastruktur WPPI

    5.2

    Perumusan Indikasi Pembiayaan dan Investasi

    5.3

    Perumusan Prioritas Rencana Pengembangan Infratsruktur WPPI

    5.4

    Perumusan Strategi dan Panduan Implementasi Program Pembangunan Infrastruktur

    VI

    Laporan Pendahuluan

    6.1

    7.5

    VII

    DISKUSI DAN PEMBAHASAN LAPORAN

    7.1

    Diskusi Laporan Reset Desain

    7.2

    Diskusi Laporan Pendahuluan

    7.3

    FGD 1

    7.4

    Diskusi Laporan Antara

    Penyempurnaan Laporan Post Diskusi

    Analisis Kebutuhan Pembiayaan dan Investasi

    4.2

    Analisis dan Verifikasi terhadap Rencana Pentahapan Pengembangan Industri Prioritas dan Sasaran

    4.3

    Analisis Kondisi Infrastruktur (Eksisting, Permasalahan, Kinerja dan Dinamika)

    4.4

    4.5

    Analisis Spasial dari multisektor bidang Transportasi, Energi, Telekomunikasi, Air, SDM, dan Teknologi

    4.6

    Analisis Multiplier Effect terkait Pengembangan Infrastruktur

    4.7

    4.8

    Analisis Pembagian peran Pemerintah di dalam Pengembangan WPPI

    V

    KONSEP DAN RENCANA

    Analisis Kajian Infratsruktur (Gap) Antara Sasaran Pembangunan WPPI, Kinerja dan Rencana Pembangunan

    FGD 2

    7.6

    Konsinyering

    VIII

    PELAPORAN

    8.1

    Riset Desain

    8.2

    Kegiatan No.
    Kegiatan
    No.
    Kegiatan No. 2.2 Kajian Pustaka 3.3 Survey Data Sekunder IV ANALISIS DATA 4.1 Analisis Kebijakan Pembangunan
    2.2 Kajian Pustaka 3.3 Survey Data Sekunder IV ANALISIS DATA 4.1 Analisis Kebijakan Pembangunan Infrastruktur 1.5
    2.2 Kajian Pustaka
    3.3 Survey Data Sekunder
    IV
    ANALISIS DATA
    4.1 Analisis Kebijakan Pembangunan Infrastruktur
    1.5 Koordinas Tim Kerja
    1.6 Penyusunan Rencana Kerja
    1.7 Penyempurnaan Metodologi
    1.8 Penyiapn Peralatan Survey
    II STUDI LITERATUR
    I TAHAP PERISAPAN DAN KOORDINASI
    2.3 Studi Terkait Lainnya
    III SURVEY & KOORDINASI DENGAN DAERAH
    3.1 Persiapan Survey
    3.2 Survey Data Primer
    2.1 Kebijakan Peraturan Perundangan
    1.4 Mobilisasi Tenaga Ahli
    1.3 Koordinasi dengan Pemberi Pekerjaan
    1.2 Penelaahan KAK
    1.1 Koordinasi Pekerjaan
    Kegiatan No. 2.2 Kajian Pustaka 3.3 Survey Data Sekunder IV ANALISIS DATA 4.1 Analisis Kebijakan Pembangunan
    1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
    1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
    1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
    1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
    1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
    1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
    1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
    1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
    1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

    1

    2

    3

       
       
    1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
    1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
    4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3
    4
    1 2
    3 4
    1 2
    3 4
    1 2
    3 4
    1 2
    3 4
    1 2
    3 4
    1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
    BULAN KE-4 BULAN KE-3 BULAN KE-2 BULAN KE-1 BULAN KE-6 BULAN KE-5
    BULAN KE-4
    BULAN KE-3
    BULAN KE-2
    BULAN KE-1
    BULAN KE-6
    BULAN KE-5
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Tabel 1.3. Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan FINALISASI LAPORAN

    L a p o r a n ANTARA

    PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

    Halaman I - 35
    Halaman I - 35
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
    REPUBLIK INDONESIA
    Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
    • 1.8 SISTEMATIKA PEMBAHASAN

    KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri 1.8 SISTEMATIKA PEMBAHASAN Laporan Antara Perencanaan Kebutuhan

    Laporan

    Antara

    Perencanaan

    Kebutuhan

    Pembangunan

    Infrastruktur

    Transportasi, Energi, Air, SDM Dan Teknologi Di WPPI Sulawesi Tengah Berisikan:

    Bab 1 Pendahuluan

    Bab ini akan menguraikan mengenai latar belakang, tujuan dan sasaran,

    ruang lingkup, metodologi, rencana kerja dan sistematika pembahasan.

    Bab 2 Landasan Kebijakan Pengembangan WPPI Provinsi Sulawesi Tengah

    Bab ini berisikan Kebijakan perencanaan pengembangan industri serta kebijakan lainnya yang terkait.

    Bab 3 Gambaran Umum WPPI di Provinsi Sulawesi Tengah

    Bab ini berisikan kebijakan perencanaan wilayah Provinsi Sulawesi Tengah

    maupun kebijakan perencanaan atau penataan ruang di masing-masing wilayah perencanaan serta kondisi umum wilayah perencanaan baik dari aspek fisik, sosial, ekonomi serta sarana dan prasarana wilayah.

    Bab 4 Analisis Pengembangan Industri Prioritas WPPI Di Provinsi Sulawesi Tengah

    Pada bab menganalisa industri prioritas yang berada di WPPI Provinsi

    Sulawesi Tengah yang selanjutnya dihitung kebutuhan infrastruktur dalam bab berikutnya.

    Bab 5 Perhitungan Dan Analisis Kebutuhan Infrastruktur WPPI Di

    Provinsi Sulawesi Tengah

    Pada bab ini menganalisis perhitungan Perencanaan Kebutuhan

    Pembangunan Infrastruktur Transportasi, Energi, Air, SDM Dan Teknologi Di WPPI Sulawesi Tengah serta metodologi penyusunan untuk dapat mencapai tujuan dan sasaran pekerjaan.

    Bab 6 Perhitungan Dan Analisis Kebutuhan Investasi Dan Dampak Pembangunan Infrastruktur WPPI Di Provinsi Sulawesi Tngah

    Pada bab ini menganalisis perhitungan Perencanaan Kebutuhan Pembangunan dan dampak pembangunan Infrastruktur Transportasi, Energi, Air, SDM Dan Teknologi Di WPPI Sulawesi Tengah serta metodologi penyusunan untuk dapat mencapai tujuan dan sasaran pekerjaan.

    L a p o r a n ANTARA

    PERENCANAAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI, ENERGI, AIR, SDM DAN TEKNOLOGI DI WPPI SULAWESI TENGAH

    Halaman I - 36
    Halaman I - 36