Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

KEANEKARAGAMAN HAYATI
(BIODIVERSITAS)
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Biologi Umum

Disusun oleh

Ahmad Musthofa Al-Fikri (140310150067)

PROGRAM STUDI FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG

2015/2016
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keanekaragaman hayati atau biodiversitas adalah suatu istilah pembahasan
yang mencakup semua bentuk kehidupan, yang secara ilmiah dapat dikelompokkan
menurut skala organisasi biologisnya, yaitu mencakup gen, spesies tumbuhan,
hewan, dan mikroorganisme serta ekosistem dan proses-proses ekologi dimana
bentuk kehidupan ini merupakan bagiannya. Dapat juga diartikan sebagai kondisi
keanekaragaman bentuk kehidupan dalam ekosistem atau bioma tertentu.
Keanekaragaman hayati seringkali digunakan sebagai ukuran kesehatan sistem
biologis.
Keanekaragaman hayati tidak terdistribusi secara merata di bumi;
wilayah tropis memiliki keanekaragaman hayati yang lebih kaya, dan jumlah
keanekaragaman hayati terus menurun jika semakin jauh
dari ekuator. Keanekaragaman hayati yang ditemukan di bumi adalah hasil dari
miliaran tahun proses evolusi. Asal muasal kehidupan belum diketahui secara pasti
dalam sains. Hingga sekitar 600 juta tahun yang lalu, kehidupan di bumi hanya
berupa archaea, bakteri, protozoa, danorganisme uniseluler lainnya
sebelum organisme multiseluler muncul dan menyebabkan ledakan
keanekaragaman hayati yang begitu cepat, namun secara periodik dan eventual juga
terjadi kepunahan secara besar-besaran akibat aktivitas bumi,iklim, dan luar
angkasa.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimanakah konsep keanekaragaman hayati?
2. Bagaimana tingkat – tingkat keanekaragaman hayati?
3. Manfaat dan nilai apa yang terkandung dalam keanekaragaman hayati?

1.3 Tujuan dan Manfaat


1. Untuk mengetahui keanekaragaman hayati yang terdapat di bumi.
2. mengetahui macam – macam organisme dan tingkat – tingkat keanekaragaman
hayati.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

Keanekaragaman hayati atau biodiversitas menurut Society of American


Forester mengacu pada macam dan kelimpahan spesies, komposisi genetiknya,
komunitas dan ekosistem dan bentang alam dimana mereka berada.
Dalam pengertian lain biodiversitas adalah keanekaragaman organisme yang
menunjukkan keseluruhan variasi gen, jenis, dan ekosistem pada suatu daerah.
Keanekaragaman hayati melingkupi berbagai perbedaan atau variasi bentuk,
penampilan, jumlah, dan sifat-sifat yang terlihat pada berbagai tingkatan, baik
tingkatan gen, tingkatan spesies, maupun tingkatan ekosistem. Secara sederhana,
keanekaragaman hayati adalah semua jenis perbedaan antar mahkluk hidup.

2.2 Tingkat Keanekaragaman Hayati


2.2.1 Keanekaragaman Gen

Gen atau plasma nuftah adalah substansi kimia yang menentukan sifat
keturunan yang terdapat di dalam kromosom. Setiap individu mempunyai
kromosom yang membawa sifat menurun (gen) dan terdapat di dalam inti sel.
Perbedaan jumlah dan susunan faktor menurun tersebut akan menyebabkan
terjadinya keanekaragaman gen.
Makhluk hidup satu spesies (satu jenis) bisa memiliki bentuk, sifat, atau
ukuran yang berbeda. Bahkan pada anak kembar sekalipun terdapat perbedaan.
Semua perbedaan yang terdapat dalam satu spesies ini disebabkan
karena perbedaan gen.
Perbedaan sesama ayam (satu spesies) termasuk keanekaragaman gen
Jadi, keanekaragaman gen adalah segala perbedaan yang ditemui pada
makhluk hidup dalam satu spesies. Contoh keanekaragaman tingkat gen ini
misalnya, tanaman bunga mawar putih dengan bunga mawar merah yang memiliki
perbedaan, yaitu berbeda dari segi warna. Atau perbedaan apa pun yang ditemui
pada sesama ayam petelor dalam satu kandang.

2.2.2 Keanekaragaman Spesies

Spesies atau jenis memiliki pengertian, individu yang mempunyai persamaan


secara morfologis, anatomis, fisiologis dan mampu saling kawin dengan
sesamanya (interhibridisasi) yang menghasilkan keturunan yang fertil (subur)
untuk melanjutkan generasinya. Kumpulan makhluk hidup satu spesies atau satu
jenis inilah yang disebut dengan populasi.
Keanekaragaman jenis adalah segala perbedaan yang ditemui pada makhluk
hidup antar jenis atau antar spesies. Perbedaan antar spesies organisme dalam
satu keluarga lebih mencolok sehingga lebih mudah diamati daripada perbedaan
antar individu dalam satu spesies (keanekaragaman gen).
Keanekaragaman jenis adalah perbedaan makhluk hidup
antar spesies. Contohnya sangat banyak.

Contohnya, dalam keluarga kacang-kacangan dikenal kacang tanah, kacang


buncis, kacang hijau, kacang kapri, dan lain-lain. Di antara jenis kacang-kacangan
tersebut kita dapat dengan mudah membedakannya karena di antara mereka
ditemukan ciri khas yang sama. Akan tetapi, ukuran tubuh atau batang, kebiasaan
hidup, bentuk buah dan biji, serta rasanya berbeda.
Contoh lainnya terlihat keanekaragaman jenis pada pohon kelapa, pohon
pinang, dan juga pada pohon palem.

2.2.3 Keanekaragaman Ekosistem

Ekosistem dapat diartikan sebagai hubungan atau interaksi timbal balik antara
makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup lainnya dan juga antara makhluk
hidup dengan lingkungannya. Suatu lingkungan tidak hanya dihuni oleh satu jenis
makhluk hidup saja, tetapi juga akan dihuni oleh jenis makhluk hidup lain yang
sesuai. Akibatnya, pada lingkungan tersebut akan dihuni berbagai makhluk hidup
berlainan jenis yang hidup berdampingan.

Perbedaan komponen abiotik (tidak hidup) pada suatu daerah menyebabkan


jenis makhluk hidup (biotik) yang dapat beradaptasi dengan lingkungan tersebut
berbeda-beda. Komponen biotik dan abiotik di berbagai daerah tersebut juga
bervariasi baik mengenai kualitas maupun kuantitasnya. Variasi kondisi
komponen abiotik yang tinggi ini akan menghasilkan keanekaragaman ekosistem.
Contoh ekosistem adalah: hutan hujan tropis, hutan gugur, padang rumput, padang
lumut, gurun pasir, sawah, ladang, air tawar, air payau, laut, dan lain-lain.

Jadi keanekaragaman ekosistem adalah segala perbedaan yang terdapat


antar ekosistem. Keanekaragaman ekosistem ini terjadi karena adanya
keanekaragaman gen dan keanekaragaman jenis (spesies).

Keanekaragaman ekosistem terbentuk karena keanekaragaman gen dan keanekaragaman spesies

Contoh keanekaragaman hayati tingkat ekosistem misalnya: pohon kelapa


banyak tumbuh di daerah pantai, pohon aren tumbuh di pegunungan, sedangkan
pohon palem dan pinang tumbuh dengan baik di daerah dataran rendah.
Simpulannya adalah, keanekaragaman gen menyebabkan munculnya
keanekaragaman species, dan akhirnya menyebabkan munculnya
keanekaragaman ekosistem. Itu semua disebut keanekaragaman hayati.

2.3 Keanekaragaman Hayati di Indonesia

Dalam menilai potensi keanekaragaman hayati , seringkali yang lebih banyak


menjadi pusat perhatian adalah keanekaragaman jenis, karena paling mudah
teramati. Sementara keragaman genetik yang merupakan penyusunan jenis-jenis
tersebut secara umum lebih sulit dikenali. Sekitar 10 % dari semua jenis makhluk
hidup yang pada saat imi hidup dan menghuni bumi ini terkandung pada kawasan
negara Indonesia, yang luas daratannya tidak sampai sepertujuhpuluhlima dari luas
daratan muka bumi. Secara rinci dapat diuraikan bahwa Indonesia dengan 17.058
pulau-pulaunya mengandung 10 % dari total jenis tumbuhan berbunga di dunia, 12
% dari total mamalia di dunia, 16 % dari total reptil dan ampibia di dunia, 17 % dari
total jenis burung di dunia dan 25 % atau lebih dari total jenis ikan di dunia.
Dokumen Biodiversity Action Plan for Indonesia (Bappenas, 1991)
menuliskan bahwa hutan tropika Indonesia adalah merupakan sumber terbesar
keanekaragaman jenis –jenis palm, mengandung lebih dari 400 species meranti-
merantian dari Famili Dipterocarpaceae (yang merupakan jenis kayu pertukangan
paling komersil di Asia Tenggara); dan diperkirakan menyimpan 25.000 species
tumbuhan berbunga. Tingkatan Indonesia untuk keragaman jenis mamalia adalah
tertinggi di dunia ( 515 species, di antaranya 36 species endemis ), terkaya
untuk keragaman jenis kupu-kupu ekor walet dari famili Papilionidae (121 species,
44 % endemis), terbesar ketiga utuk keragaman jenis reptilia (lebih dari 600
species), terbesar keempat untuk jenis burung (1519 species, 28 % endemis),
terbesar kelima untuk jenis amphibi (270 species) dan ke tujuh di dunia untuk
tumbuhan berbunga. Selain itu luasnya kawasan perairan teritorial Indonesia yang
merupakan kawasan laut terkaya di wilayah Indo-Pasifik juga mendukung
kekayaan habitat laut dan terumbu karang. Kawasan terumbu karang di Sulawesi
dan Maluku adalah salah satu bagian dari sistem terumbu dunia yang kaya akan
species karang, ikan dan organisme karang lainnya.
Negara Indonesia sebagai salah satu pusat biodiversity dunia menyimpan
potensi keanekaragaman hayati yang tidak ternilai harganya. Selama ini lebih dari
6000 species tanaman dan binatang telah dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup
sehati-hari masyarakat, dan lebih dari 7000 jenis ikan laut dan tawar selama ini
mendukung kebutuhan masyarakat
Penyebaran keanekaragaman hayati di Indonesia

2.4 Manfaat Keanekaragaman Hayati


2.4.1 Keanekaragaman Hayati sebagai Sumber Pangan di Indonesia
Kebutuhan karbohidrat masyarakat Indonesia terutama tergantung
pada beras. Sumber lain seperti jagung, ubi jalar, singkong, talas dan sagu
sebagai makanan pokok di beberapa daerah mulai ditinggalkan.
Ketergantungan pada beras ini menimbulkan krisis pangan yang
seharusnya tidak perlu terjadi. Selain tanaman pangan yang telah
dibudidaya, sebenarnya Indonesia mempunyai 400 jenis tanaman
penghasil buah, 370 jenis tanaman penghasil sayuran, 70 jenis tanaman
berumbi, 60 jenis tanaman penyegar dan 55 jenis tanaman rempah rempah.
Perikanan merupakan sumber protein murah di Indonesia. Kita
mempunyai zona ekonomi eksklusif yaitu 200 mil dari garis pantai yang
dapat dipergunakan oleh nelayan untuk mencari nafkah. Budi daya udang
, bandeng dan lele dumbo sangat potensial juga sebagai sumber pangan.
Oncom , tempe, kecap, tape, laru (minuman khas daerah Timor), gatot,
merupakan makanan suplemen yang disukai masyarakat Indonesia. Jasa
mikro organisme seperti kapang, yeast dan bakteri sangat diperlukan untuk
pembuatan makanan ini. Beberapa jenis tanaman seperti suji, secang,
kunir, gula aren, merang padi, pandan banyak digunakan sebagai zat
pewarna makanan.
2.4.2 Keanekaragaman Hayati sebagai Sumber Sandang dan Papan
Kapas, rami, yute, kenaf, abaca, dan acave serta ulat sutera potensial
sebagai bahan sandang. Tanaman ini tersebar di seluruh Indonesia,
terutama di Jawa dan Kalimantan dan Sulawesi. Di samping itu beberapa
Suku di Kalimantan, Irian dan Sumatera menggenakan kulit kayu, bulu-
bulu burung serta tulang-tulang binatang sebagai asesoris pakaian mereka.
Sementara masyarakat pengrajin batik menggunakan tidak kurang dari 20
jenis tanaman untuk perawatan batik tulis termasuk buah lerak yang
berfungsi sebagai sabun. Masyarakat suku Dani di Lembah Baliem Irian
Jaya menggunakan 6 macam tumbuhan sebagai bahan sandang. Untuk
membuat yokal (pakaian wanita yang sudah menikah) menggunakan jenis
tumbuhan (Agrostophyllum majus) dan wen (Ficus drupacea). Untuk
pakaian anak gadis dipergunakan jenis tumbuhan kem (Eleocharis dulcis).
Untuk membuat koteka/holim yaitu jenis pakaian pria digunakan jenis
tanaman sika (Legenaria siceraria). Sedangkan pakaian perang terbuat dari
mul (Calamus sp).
Rumah adat di Indonesia hampir semuanya memerlukan kayu sebagai
bahan utama. Semula kayu jati, kayu nangka dan pokok kelapa (glugu)
dipergunakan sebagai bahan bangunan. Dengan makin mahalnya harga
kayu jati saat ini berbagai jenis kayu seperti meranti, keruing, ramin dan
kayu kalimantan dipakai juga sebagai bahan bangunan.Penduduk Pulau
Timor dan Pulau Alor menggunakan lontar (Borassus sundaicus) dan
gewang (Corypha gebanga) sebagai atap dan didinding rumah. Beberapa
jenis palem seperi Nypa fruticas, Oncosperma horridum, Oncossperma
tigillarium dimanfaatkan oleh penduduk Sumatera, Kalimantan dan Jawa
untuk bahan bangunan rumah.Masyarakat Dawan di Pulau Timor memilih
jenis pohon timun (Timunius sp), matani (Pterocarpus indicus), sublele
(Eugenia sp) sebagai bahan bangunan disamping pelepah lontar, gewang
dan alang-alang (Imperata cyllndrica) untuk atap.
2.4.3 Sumber daya Hayati sebagai Sumber Obat dan Kosmetik
Indonesia memiliki 940 jenis tanaman obat, tetapi hanya 120 jenis
yang masuk dalam Materia medika Indonesia. Masyarakat pulau Lombok
mengenal 19 jenis tumbuhan sebagai obat kontrasepsi. Jenis tersebut
antara lain pule, sentul, laos, turi, temulawak. Alang-alang, pepaya, sukun,
lagundi, nanas, jahe, jarak, merica, kopi, pisang, lantar, cemara, bangkel,
dan duwet. Bahan ini dapat diramu menjadi 30 macam. Masyarakat jawa
juga mengenal paling sedikit 77 jenis tanaman obat yang dapat diramu
untuk pengobatan segala penyakit Masyarakat Sumbawa mengenal 7 jenis
tanaman untuk ramuan minyak urat yaitu akar salban, akar sawak, akar
kesumang, batang malang, kayu sengketan," ayu sekeal, kayu tulang.
Masyarakat Rejang Lebong Bengkulu mengenal 71 jenis tanaman obat.
Untuk obat penyakit malaria misalnya masyarakat daerah ini
menggunakan 10 jenis tumbuhan. Dua di antaranya yaitu Brucea javanica
dan Peronemacanescens merupakan tanaman langka. Cara pengambilan
tumbuhan ini dengan mencabut seluruh bagian tumbuhan, mengancam
kepunahan tanaman ini. Masyarakat Jawa Barat mengenal 47 jenis
tanaman untuk menjaga kesehatan ternak terutama kambing dan domba.
Di antara tanaman tersebut adalah bayam, jambe, temu lawak, dadap,
kelor, lempuyang, katuk, dan lain-lain. Masyarakat Alor dan Pantar
mempunyai 45 jenis ramuan obat untuk kesehatan ternak sebagai contoh
kulit kayu nangka yang dicampur dengan air laut dapat dipakai untuk obat
diare pada kambing. Di Jawa Timur dan Madura dikenal 57 macam jamu
tradisional untuk ternak yang menggunakan 44 jenis tumbuhan. Jenis
tumbuhan yang banyak digunakan adalah marga curcuma (temuan-
temuan). Di daerah Bone Sulawesi Utara ada 99 jenis tumbuhan dari 41
suku yang diprgunakan sebagai tanaman obat. Suku Asteraceae,
Verbenaceae, Malvaceae, Euphorbiaceae, dan Anacardiaceae merupakan
suku yang paling banyak digunakan.
Potensi keanekaragaman hayati sebagai kosmetik tradisional telah
lama dikenal. Penggunaan bunga bungaan sepeti melati, mawar, cendana,
kenanga, kemuning, dan lain-lain lazim dipergunakan oleh masyarakat
terutama Jawa untuk wewangian. Kemuning yang mengandung zat samak
dipergumakan oleh masyarakat Yogyakarta untuk membuat lulur (9 jenis
tumbuhan) yang berhasiat menghaluskan kulit. Tanaman pacar digunakan
untuk pemerah kuku, sedangkan ramuan daun mangkokan, pandan, melati
dan minyak kelapa dipakai untuk pelemas rambut. Di samping itu
masyarakat Jawa juga mengenal ratus yang diramu dari 19 jenis tanaman
sebagai pewangi pakaian, pemangi ruangan dan sebagai pelindung pakaian
dari serangan mikro organisme. Di samping semuanya ini Indonesia
mengenal 62 jenis tanaman sebagai bahan pewarna alami untuk semua
keperluan, seperti misalnya jambu hutan putih yang digunakan sebagai
pewama jala dan kayu malam sebagai cat batik
2.4.4 Aspek Kultural Sumberdaya Hayati di Indonesia
Indonesia memiliki kurang lebih 350 etnis dengan keanekaragaman
agama, kepercayaan, dan adat istiadatnya. Dalam upacara ritual
keagamaan atau dalam upacara adat banyak sekali sumber daya hayati
yang dipergunakan. Sebagai contoh, ummat Islam menggunakan sapi dan
kambing jantan dewasa pada setiap hari raya korban, sedangkan umat
nasrani memerlukan pohon cemara setiap natal. Umat Hindu
membutuhkan berbagai jenis sumber daya hayati untuk setiap upacara
keagamaan yang dilakukan. Banyak jenis pohon di Indonesia yang
dipercaya sebagai pengusir roh jahat atau tempat tinggal roh jahat seperti
beringin, bambu kuning (di Jawa). Upacara kematian di Toraja
menggunakan berbagai jenis tumbuhan yang dianggap mempunya nilai
magis untuk ramuan memandikan mayat misalnya limau, daun kelapa,
pisang dan rempah-rempah lainnya. Disamping itu dipergunakan pula
kerbau belang . Pada upacara ngaben di Bali dipergunakan 39 jenis
tumbuhan. Dari 39 jenis tersebut banyak yang tergolong penghasil minyak
atsiri dan bau harum seperti kenanga, melati, cempaka, pandan, sirih dan
cendana. Jenis lain yaitu dadap dan tebu hitam diperlukan untuk, kelapa
gading diperlukan untuk menghanyutkan abu ke sungai. Pada masyarakat
Minangkabau dikenal juga upacara adat. Jenis tanaman yang banyak
dipergunakan dalam upacara adat ini adalah padi, kelapa, jeruk, kapur
barus, pinang dan tebu. Budaya nyekar di Daerah Istimewa Yogyakarta
merupakan upacara mengirim doa pada leluhur. Upacara ini juga
menggunakan berbagai jenis tumbuhan bunga yaitu mawar, kenanga,
kantil, dan selasih. Untuk pembuatan kembar mayang pada pesta
perkawinan suku Jawa dipergunakan jenis tumbuhan yaitu janur muda dari
kelapa, mayang (bunga pinang), beringin, kemuning, daun spa-spa
(Flemingialineata), daun kara (phaseolus lunatus), daun maja, daun, alang
slang, daun kluwih (Artocarpus cornmunis), daun salam, daun dadap, daun
girang, dan daun andhong. Disamping itu dikenal juga pemotongan ayam
jantan untuk ingkung yang biasanya ayam berbulu putih mulus atau ayam
berbulu hitam mulus (ayam cemani). Aneka tanaman yang dipergunakan
untuk upacara memandikan keris di Yogyakarta adalah jeruk nipis, pace,
nanas, kelapa, cendana, mawar, melati, kenanga, dan kemenyan Selain
melekat pada upacara adat, kekayaan sumber daya hayati Indonesia
tampak pada hasil-hasil kerajinan daerah dan kawasan. Misalnya kerajinan
mutiara, dan kerang-kerangan di Nusa Tenggara dan Ambon, kerajinan
kenari di Bogor, daerah. Pada hari lingkungan hidup sedunia ke-18,
Presiden RI menetapkan melati sebagai puspa bangsa, anggrek bulan
sebagai puspa pesona dan bunga raflesia sebagai puspa langka. Tiga satwa
langka yang ditetapkan sebagai satwa nasional adalah Komodo, ikan siluk
merah dan elang jawa. Kerajinan batik dan tenun ikat, kerajinan tikar,
patung, dan lain-lain. Kekayaan sunber daya hayati juga nampak pada
penggunaan maskot flora dan fauna di senua propinsi di Indonesia sebagai
identitas.

2.5 Konservasi Keanekaragaman Hayati


Konservasi keanekaragaman hayati diperlukan karena pemanfaatan sumber
daya hayati untuk berbagai keperluan secara tidak seimbang akan menyebabkan
makin langkanya beberapa jenis flora dan fauna karena kehilangan habitatnya,
kerusakan ekosisitem dan menipisnya plasma nutfah. Hal ini harus dicegah agar
kekayaan hayati di Indonesia masih dapat menopang kehidupan.
2.5.1 Konservasi Genetik

Dalam satu spesies tumbuhan atau hewan bisa terdapat variasi genetik,
sehingga menimbulkan perbedaan yang jelas. Manusia meskipun satu spesies
(Homo sapiens), tapi ada orang kulit putih, Negro, Melayu, Mandarin, dan
lainnya. Macan Tutul dan Kumbang sama-sama spesies Panthera pardus. Bahkan
sering kakak beradik yang satu tutul yang lain hitam. Variasi genetik misalnya
terlihat pada jagung. Ada berbagai bentuk, ukuran dan warna jagung: jagung
Metro, jagung Kuning, jagung Merah. Contoh lain adalah padi. Kita mengenal
ribuan varietas padi, walaupun padi itu hanya satu spesies (Oriza sativa). Variasi
genetika merupakan sumber daya pokok yang penting untuk menciptakan varietas
unggul tanaman pertanian baru. Karena itu istilahnya “sumberdaya genetika
tanaman”. Indonesia menawarkan berbagai sumberdaya genetika tanaman dan
binatang yang sangat berharga guna pemanfaatan saat ini atau di masa mendatang.
Sedikitnya 6.000 spesies flora dan fauna asli Indonesia dimanfaatkan sehari-hari
oleh orang Indonesia untuk makanan, obat, pewarna, dll.
Pembentukan genetik suatu individu tidak statis. Selalu berubah akibat faktor
internal dan eksternal. Keragaman materi genetik memungkinkan terjadi seleksi
alam. Umumnya, kian besar populasi suatu spesies kian besar keanekaragaman
genetiknya, sehingga makin kecil kemungkinannya punah.

2.5.2 Konservasi Spesies

Sangat mengherankan, para cendikiawan lebih tahu berapa banyak bintang di


galaksi daripada jumlah spesies makhluk hidup di bumi. Hingga kini baru 1,7 juata
spesies teridentifikasi, dari jumlah seluruh spesies yang diperkirakan 5-100 juta.
Kelompok makhluk hidup yang memiliki jumlah spesies terbanyak adalah
serangga dan mikroorganisme. Sekalipun demikian masih saja ada anggapan,
bahwa hanya organisme besar seperti tanaman berbunga, mamalia dan vertebrata
lain, yang mempengaruhi kehidupan manusia secara langsung. Padahal
mikroorganisme, termasuk alga, bakteri, jamur, protozoa dan virus, vital perannya
bagi kehidupan di bumi. Contohnya, tak akan ada terumbu karang jika tak ada
alga. Terganggunya keseimbangan mikroorganisme tanah, dapat menyebabkan
kualitas kehidupan di tanah merosot, hingga mengakibatkan perubahan besar pada
ekosistem.
Suatu wilayah yang memiliki banyak spesies satwa dan tumbuhan,
keragaman spesiesnya lebi besar, dibandingkan wilayah yang hanya memiliki
sedikit spesies yang menonjol. Pulau dengan 2 spesies burung dan 1 spesies kadal,
lebih besar keragamannya daripada pulau dengan 3 spesies burung tanpa kadal.
Indonesia sangat kaya spesies. Walau luasnya Cuma 1,3% luas daratan dunia,
Indonesia memiliki sekitar 17% jumlah spesies di dunia. Paling tidak negara
kita memiliki 11% spesies tumbuhan berbunga, 12% spesies mamalia, 15%
spesies amphibi dan reptilia, 17% spesies burung, dan 37% spesies ikan dunia.
Kekayaan dunia serangga kita terwakili oleh 666 spesies capung dan 122 spesies
kupu-kupu.
Spesies didefinisikan secara biologis dan morfologis. Secara biologis, spesies
adalah
Sekelompok individu yang berpotensi untuk ber-reproduksi diantara mereka,
dan tidak mampu berreproduksi dengan kelompok lain. Sedangkan secara
morfologis, spesies adalah Sekelompok individu yang mempunyai karakter
morfologi, fisiologi atau biokimia berbeda dengan kelompok lain. Ancaman bagi
spesies adalah kepunahan. Suatu spesies dikatakan punah ketika tidak ada satu
pun individu dari spesies itu yang masih hidup di dunia. Terdapat berbagai
tingkatan kepunahan, yaitu :
- Punah dalam skala global : jika beberapa individu hanya dijumpai di dalam
kurungan atau pada situasi yang diatur oleh manusia, dikatakan telah punah
di alam
- Punah dalam skala lokal (extirpated) : jika tidak ditemukan di tempat mereka
dulu berada tetapi masih ditemukan di tempat lain di alam
- Punah secara ekologi : jika terdapat dalam jumlah yang sedemikian sedikit
sehingga efeknya pada spesies lain di dalam komunitas dapat diabaikan
- Kepunahan yang terutang (extinction debt) : hilangnya spesies di masa depan
akibat kegiatan manusia pada saat ini
Diperkirakan pada masa lampau telah terjadi 5 kali episode kepunahan
massal. Kepunahan massal terbesar diperkirakan terjadi pada akhir jaman
permian, 250 juta tahun lalu. Diperkirakan 77%-96% dari seluruh biota laut punah
ketika ada gangguan besar seperti letusan vulkanik serentak atau tabrakan dengan
asteroid yang menimulkan prubahan dramatik pada iklim bumi sehingga banyak
spesies mengalami kepunahan. Kepunahan sesungguhnya merupakan fenomena
alamiah, namun mengapa hilangnya spesies menjadi masalah? Pengurangan atau
penambahan spesies secara efektif ditentukan oleh laju kepunahan dan laju
spesiasi. Spesiasi adalah proses yang lambat. Selama laju spesiasi sama atau leih
cepat daripada laju kepunahan maka keanekaragaman hayati akan tetap konstan
atau bertambah. Pada periode geologi yang lalu hilangnya spesies diimbangi atau
dilampaui oleh evolusi dan pembentukan spesies baru. Saat ini tingkat kepunahan
mencapai 100-1000 kali dari tingkat kepunahan. Disebabkan oleh aktivitas
manusia. Kepunahan saat ini disebut kepunahan keenam.
Secara konseptual, biologis, dan hukum, spesies merupakan fokus utama
dalam konservasi. Sebagian besar masyarakat telah memahami konsepsi spesies
dan mengetahui bahwa dunia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi tetapi
sebagian di antaranya sedang menuju kepunahan. Ahli biologi telah memfokuskan
pada spesies selama berabad abad dan telah mengembangkan sistem penamaan,
pengkatalogan, dan perbandingan antar spesies. Berbagai upaya konservasi telah
dilakukan, mulai dari pendanaan sampai program recovery difokuskan pada
spesies. Peraturan perundangan tentang konservasi juga memfokuskan pada
spesies. Misalnya: US Endangered Species Act, Convention on International
Trade in Endangered Species, Perlindungan Floran dan Fauna di Indonesia.
Faktor-faktor yang mendorong semakin meningkatnya kepunahan antara lain
Kerusakan hutan tropis, Kehilangan berbagai spesies, Kerusakan habitat,
fragmentasi habitat, Kerusakan ekosistem, Polusi, Perubahan iklim global,
Perburuan, eksploitasi berlebihan, Spesies asing/pengganggu, dan Penyakit.
Masing-masing faktor saling mempengaruhi satu sama lain.
a. Hilangnya habitat
Ancaman terbesar bagi keanekaragaman hayati adalah penghancuran habitat
oleh manusia. Pertambahan penduduk dan peningkatan konsumsi
sumberdaya alam, menyusutkan luasan ekosistem secara dramatis.
Pembangunan bendungan, pengurugan danau, merusak banyak habitat
perairan. Pembangunan pesisir menyapu bersih karang dan komunitas pantai.
Hilangnya hutan tropis sering disebabkan perluasan lahan pertanian dan
pemungutan hasil hutan secara besar-besaran. Sekitar 17 juta hektar hutan
hujan tropis dibabat habis tiap tahun, sehingga sekitar 5-10 % species dari
hutan hujan tropis akan punah dalam 30 tahun mendatang.
b. Species pendatang
Dalam ekosistem yang terisolasi, seperti pada pulau kecil yang jauh dari pulau
lain, kedatangan species pemangsa , pesaing atau penyakit baru akan cepat
membahayakan species asli. Di Indonesia, kedatangan padi-padi varietas
unggul secara perlahan dan sistematis menggususr varietas padi lokal. Kini
kita sulit menemukan padi lokal seperti rojo lele, jong bebe, dll. Yang rasanya
jauh lebih enak dari jenis pendatang. Menurut catatan, 1500 jenis padi lokal
Indonesia punah dalam 15 tahun terakhir.
c. Eksploitasi berlebihan
Banyak sumberdaya hutan, perikanan dan satwa liar dieksploitasi secara
berlebihan. Banyak kelangkaan disebabkan oleh perburuan, untuk
mendapatkan gading gajah, cula badak, burung nuri, cenderawasih, dll.
Pengambilan gaharu yang berlebihan mengurangi populasi alami, hingga para
pemburu gaharu harus mencari lebih jauh ke dalam hutan.
d. Pencemaran
Pencemaran mengancam, bahkan melenyapkan species yang peka. Pestisida
ilegal yang digunakan untuk mengendalikan udang karang sepanjang
perbatasan Taman Nasional Coto Donana di Spanyol, telah membunuh
30.000 ekor burung. Pertambakan udang yang intensif di sepanjang pantai
utara pulau Jawa telah merusakkan sebagian besar terumbu karang dan hutan
mangrove, karena sisa makanan udang dan pemupukan tambak merangsang
pertumbuhan alga yang menghancurkan terumbu karang.
e. Perubahan iklim global
Di masa mendatang efek samping pencemaran udara yang menimbulkan
pemanasan global, mengancam keragaman hayati. Efek rumah kaca
o
menaikkan suhu bumi 1-3 C, sehingga permukaan laut naik 1-2 meter.
Banyak species flora dan fauna tidak akan mampu menyesuaikan diri.
f. Monokulturisasi
Industri pertanian dan kehutanan yang memprioritaskan ekonomi terbukti
memberi andil besar bagi hilangnya keragaman hayati. Pertanian dan
kehutanan modern cenderung monokultur, menggunakan pupuk dan pestisida
untuk mendapat hasil sebesar-besarnya. Hutan tanaman industri (HTI)
memprioritaskan tanaman-tanaman eksotik (dari luar) yang dapat dipanen
dengan cepat, seperti acaccia mangium, eucalyptus sp, sehingga menggususr
jenis lokal dan mengubah ekosistem hutan secara drastis.

Polu -
si
Kerusakan
hutan Kerusakan
tropis habitat
Manu -sia

Kehilangan Perubahan
berbagai iklim global
spesies

Perbu -
ruan

Gambar Saling keterkaitan antara faktor-faktor penyebab kepunahan spesies

2.5.3 Konservasi Ekosistem

Dunia yang beraneka ragam ini dapat dikelompokkan menjadi berbagai tipe
ekosistem. Mulai dari puncak pegunungan hingga dasar lautan, dari kutub hingga
daerah tropis. Ekosistem yang paling kaya keragaman hayatinya adalah hutan
hujan tropis. Walau hutan hujan tropis hanya meliputi 7% permukaan bumi,
namun daerah ini mengandung paling sedikit 50% hingga 90% dari semua spesies
tumbuhan dan satwa.
Negeri kita Indonesia memiliki 47 jenis ekosistem alam khas, mulai padang
salju di Irian Jaya hingga hutan hujan dataran rendah, dari danau dalam hingga
rawa dangkal, dan dari terumbu karang hingga taman rumput laut dan mangrove.
Keanekaragaman hayati yang tinggi di Indonesia disebabkan karena letaknya pada
persilangan pengaruh antara benua Asia dan

Australia. Pencetus gagasan pemisahan biogeografi kedua benua itu adalah


Alfred Russel Wallace, pakar biologi yang hidup sezaman dengan Charles
Darwin. Garis itu berawal dari sebelah selatan Pulau Mindanao (Filipina)
menyusuri Selat Makasar, Selat Lombok hingga ujung barat Australia. Kawasan
biogeografi Asia dan bagian-bagiannya disebut Orientalis. Wilayah Indonesia
yang termasuk kawasan ini adalah Sumatra, Kalimantan dan Jawa. Seluruh Pulau
Irian, Australia dan Tasmania termasuk kawasan Australis. Sedangkan Sulawesi,
Nusa Tenggara dan Maluku peralihan antara keduanya. Pemisahan ini terutama
belaku bagi jenis-jenis mamalia. Untuk satwa yang bisa terbang, garis pemisahan
lebih rumit. Pada umumnya, semakin ke timur jenis-jenis burung Indo-Malaya
semakin berkurang, demikian pula sebaliknya. Beberapa hewan khas kawasan
Wallacea adalah Nuri, Kesuari, Cendrawasih, Maleo, Babirusa, Anoa, Komodo,
Kuskus.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Alam Indonesia sangat kaya akan keberagaman flora dan fauna, keberagaman
tersebut dikenal dengan keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati adalah
keanekaragaman makhluk hidup yang menunjukakan keseluruhan variasi gen,
spesies, dan ekosisitem di suatu daerah. Penyebebab keanekaragaman hayati ada 2
faktor, yaitu faktor genetik dan faktor luar. Faktor genetik relatif konstan /
stabilpengaruhnya terhadap morfologi (fenotip) organisme. Sebaliknya faktor luar
relatif labil pengaruhnya terhadap morfologi (fenotip).
Keanekragaman hayati mencakup tiga tingkatan pengertian yang berbeda,
yaitu keanekaragaman gen, jenis, dan ekosistem. Dan tidak ada makhluk hidup
yang bisa hiup sendiri, terpisah dan terasing dari makhluk hidup lain. Manusia,
hewan, dan tumbuhan adalah makhluk hidup, mereka butuh makanan dan tempat
hidup yang nyaman untuk hidup. Dengan demikian terjadi hubungan saling
ketergantungan antar makhluk hidup dan juga antar makhluk hidup dengan
lingkungannya. Hubungan saling mempengaruhi yang terjadi antar makhluk hidup
dengan lingkungan untuk membentuk suatu sistem yang disebut ekosistem.
Ekosistem terbentuk dari komponen hidup (biotik), dan komponen tidak hidup
(abiotik). Kedua komponen ini sangat mempengaruhi distribusi persebaran
organisme pada tempat yang berbeda-beda.
DAFTAR PUSTAKA

Elisa. 2010. Konservasi Keanekaragaman Hayati.


http://elisa1.ugm.ac.id/files/marhaento/4Bp7yftq/Konservasi%20Keanekara
gaman%20Hayati.pdf [Diunduh 16 December 2015]
Isahi, Dosso. 2010. Keanekaragaman Hayati.
http://biologimediacentre.com/keanekaragaman-hayati-biodiversitas/
[Diakses 16 December 2015]
Riyanto, Sugeng. 2005. Keanekaragaman Hayati (ppt).