Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

NEFROLITIASIS

1. Definisi
Nefrolitiasis adalah Pembentukan deposit mineral yang kebanyakan adalah kalsium
oksalat dan kalsium phospat meskipun juga yang lain urid acid dan kristal, juga
membentuk kalkulus ( batu ginjal ). Nefrolithiasis adalah adanya batu atau kalkulus
dalam Pelvis renal. Batu terbentuk dari traktus urinarius ketika konsentrasi subtansi
tertentu seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, dan asam urat meningkat.

2. Etiologi & Faktor resiko


Batu terbentuk dari traktus urinarius ketika konsentrasi subtansi tertentu seperti
kalsium oksalat, kalsium fosfat, dan asam urat meningkat. Batu juga dapat terbentuk
ketika terdapat defisiensi subtansi tertentu, seperti sitrat yang secara normal
mencegah kristalisasi dalam urine. Kondisi lain yang mempengaruhi laju
pembentukan batu mencakup pH urin dan status cairan pasien (batu cenderung
terjadi pada pasien dehidrasi).
Sampai saat sekarang penyebab terbentuknya batu belum diketahui secara pasti.
Beberapa faktor predisposisi terjadinya batu :

1. Ginjal
Tubular rusak pada nefron, mayoritas terbentuknya batu.

2. Immobilisasi
Kurang gerakan tulang dan muskuloskeletal menyebabkan penimbunan kalsium.
Peningkatan kalsium di plasma akan meningkatkan pembentukan batu.
3. Infeksi : infeksi saluran kemih dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan
menjadi inti pembentukan batu.
4. Kurang minum : sangat potensial terjadi timbulnya pembentukan batu.
5. Pekerjaan : dengan banyak duduk lebih memungkinkan terjadinya pembentukan
batu dibandingkan pekerjaan seorang buruh atau petani.
6. Iklim : tempat yang bersuhu dingin (ruang AC) menyebabkan kulit kering dan
pemasukan cairan kurang. Tempat yang bersuhu panas misalnya di daerah tropis,
di ruang mesin menyebabkan banyak keluar keringat, akan mengurangi produksi
urin.
7. Diuretik : potensial mengurangi volume cairan dengan meningkatkan kondisi
terbentuknya batu saluran kemih.
8. Makanan, kebiasaan mengkonsumsi makanan tinggi kalsium seperti susu, keju,
kacang polong, kacang tanah dan coklat. Tinggi purin seperti : ikan, ayam, daging,
jeroan. Tinggi oksalat seperti : bayam, seledri, kopi, teh, dan vitamin D.

Teori terbentuknya batu ginjal :

a. Teori inti matriks


Terbentuknya batu saluran kencing memerlukan adanya substansia organik sebagai
inti. Substansia organik ini terutama terdiri dari mukopolisakarida dan mukoprotein A
yang akan mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi pembentuk batu.
b. Teori supersaturasi
Terjadi kejenuhan substansia pembentuk batu dalam urine seperti sistin, santin,
asam urat, kalsium oksalat akan mempermudah terbentuknya btauk.
c. Teori presipitasi-kristalisasi
Perubahan pH urine akan mempengaruhi solubilitas substansi dalam urine. Pada
urine yang bersifat asam akan mengendap sistin, santin, asam dan garam urat, sedangkan
pada urine yang bersifat alkali akan mengendap garam-garam fosfat.

Klasifikasi Batu

1. Batu kalsium
Terutama dibentuk oleh pria pada usia rata-rata timbulnya batu adalah dekade
ketiga. Kebanyakan orang yang membentuk batu lagi dan interval antara batu-batu yang
berturutan memendek atau tetap konstan. Kandungan dari batu jenis ini terdiri atas
kalsium oksalat, kalsium fosfat atau campuran dari kedua jenis batu tersebut.
Faktor yang menyebabkan terjadinya batu kalsium adalah :
a. Hiperkalsiuria
Dapat disebabkan oleh pembuangan kalsium ginjal primer atau
sekunder terhadap absorbsi traktus gastrointestinal yang berlebihan.
Hiperkalsiuria absorptif dapat juga disebabkan oleh hipofosfatemia yang
merangsang produksi vitamin D3.
Tipe yang kurang sering adalah penurunan primer pada reabsorbsi
kalsium di tubulus ginjal, yang mengakibatkan hiperkalsiuria di ginjal.
b. Hipositraturia
Sitrat dalam urin menaikkan kelarutan kalsium dan memperlambat
perkembangan batu kalsium oxalat. Hipositraturia dapat terjadi akibat asidosis
tubulus distal ginjal, diare kronik atau diuretik tiazid.
c. Hiperoksalouria
Terdapat pada 15% pasien dengan penyakit batu berulang (> 60
mg/hari). Hiperoksaluria primer jarang terjadi, kelainana metabolisme
kongenital yang merupakan autosan resesif yang secara bermakna
meningkatkan ekskresi oksalat dalam urin, pembentukan batu yang berulang
dan gagal ginjal pada anak.
2. Batu asam urat
Batu asam urat merupakan penyebab yang paling banyak dari batu-batu radiolusen
di ginjal. Batu-batu tersebut dapat terbentuk jika terdapat hiperurikosuria dan urin asam
yang menetap.
3. Batu struvit
Sering ditemukan dan potensial berbahaya. Batu ini terutama pada wanita,
diakibatkan oleh infeksi saluran kemih oleh bakteri-bakteri yang memiliki urease,
biasanya dari psesies proteus. Batu ini dapat tumbuh menjadi besar dan mengisi pelvis
ginjal dan kalises untuk menimbulkan suatu penampilan seperti “tanduk rusa jantan”.
Dalam urin, kristal struvit berbentuk prisma bersegi empat yang menyerupai tutup peti
mati.

3. Patofisiologi

Batu dapat ditemukan disetiap bagian ginjal sampai kekandung kemih, Ukuran bervariasi
dari defosit granuler yang kecil, yang disebut pasir atau kerikil, sampai batu sebesar
kandung kemih yang berwarna oranye. Factor tertentu yang mempengaruhi pembentukan
batu, mencakup infeksi, statis urine, periode immobilitas. Factor-faktor yang
mencetuskan peningkatan konsentrasi kalsium dalam darah dan urine, menyebabkan
pembentukan batu kalsium.
Namun ada beberapa faktor predisposisi terjadinya batu antara lain : Peningkatan
konsentrasi larutan urin akibat dari intake cairan yang kurang dan juga peningkatan
bahan-bahan organik akibat infeksi saluran kemih atau stasis urin menyajikan sarang
untuk pembentukan batu.

Supersaturasi elemen urin seperti kalsium, fosfat, oxalat, dan faktor lain mendukung
pembentukan batu meliputi : pH urin yang berubah menjadi asam, jumlah solute dalam
urin dan jumlah cairan urin. Masalah-masalah dengan metabolisme purin mempengaruhi
pembentukan batu asam urat. pH urin juga mendukung pembentukan batu. Batu asam urat
dan batu cystine dapat mengendap dalam urin yang asam. Batu kalsium fosfat dan batu
struvite biasa terdapat dalam urin yang alkalin. Batu oxalat tidak dipengaruhi oleh pH
urin.

Imobilisasi yang lama akan menyebabkan pergerakan kalsium menuju tulang akan
terhambat. Peningkatan serum kalsium akan menambah cairan yang akan diekskresikan.
Jika cairan masuk tidak adekuat maka penumpukan atau pengendapan semakin bertambah
dan pengendapan ini semakin kompleks sehingga terjadi batu.

Batu yang terbentuk dalam saluran kemih sangat bervariasi, ada batu yang kecil dan batu
yang besar. Batu yang kecil dapat keluar lewat urin dan akan menimbulkan rasa nyeri,
trauma pada saluran kemih dan akan tampak darah dalam urin. Sedangkan batu yang
besar dapat menyebabkan obstruksi saluran kemih yang menimbulkan dilatasi struktur,
akibat dari dilatasi akan terjadi refluks urin dan akibat yang fatal dapat timbul
hidronefrosis karena dilatasi ginjal.

Kerusakan pada struktur ginjal yang lama akan mengakibatkan kerusakan pada organ-
organ dalam ginjal sehingga terjadi gagal ginjal kronis karena ginjal tidak mampu
melakukan fungsinya secara normal. Maka dapat terjadi penyakit GGK yang dapat
menyebabkan kematian

4. Manifestasi klinis

Manifestasi klinis adanya batu dalam traktus urinarius bergantung pada adanya obstruksi,
infeksi dan edema.
a. - Ketika batu menghambat aliran urin, terjadi obstruksi, menyebabkan
peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi piala ginjal serta ureter
proksimal.
- Infeksi (pielonefritis dan sistitis yang disertai menggigil, demam dan disuria)
dapat terjadi dari iritasi batu yang terus menerus. Beberapa batu menyebabkan
sedikit gejala namun secara perlahan merusak unit fungsional (nefron) ginjal.
- Nyeri yang luar biasa dan ketidak nyamanan.
b. Batu di ginjal
- Nyeri dalam dan terus-menerus di area kastovertebral.
- Hematuri dan piuria.
- Nyeri berasal dari area renal menyebar secara anterior dan pada wanita nyeri
ke bawah mendekati kandung kemih sedangkan pada pria mendekati testis.
- Mual dan muntah.
- Diare.
c. Batu di ureter
- Nyeri menyebar ke paha dan genitalia.
- Rasa ingin berkemih namun hanya sedikit urine yang keluar.
- Hematuri akibat aksi abrasi batu.
- Biasanya batu bisa keluar secara spontan dengan diametr batu 0,5-1 cm.
d. Batu di kandung kemih
- Biasanya menyebabkan gejala iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus
urinarius dan hematuri.
- Jika batu menyebabkan obstruksi pada leher kandung kemih akan terjadi
retensi urine.

5. Komplikasi
- Hidroneprosis
- Hipertensi
- Gagal ginjal
- Obstruksi
- Haemoragic.
6. Penatalaksanaan

a. Tujuannya :
- Menghilangkan obstruksi
- Mengobati infeksi
- Mencegah terjadinya gagal ginjal
- Mengurangi kemungkinan terjadinya rekurensi (terulang kembali).
b. Operasi dilakukan jika :
- Sudah terjadi stasis, bendungan.
- Tergantung letak dan besarnya batu, batu dalam pelvis dengan bendungan
positif harus dilakukan operasi.
c. Terapi :
- Analgesik untuk mengatasi nyeri.
- Allopurinol untuk batu asam urat.
- Renisillin untuk batu systin.
- Antibiotika untuk mengatasi infeksi.
d. Diet
Diet atau pengaturan makanan sesuai jenis batu yang ditemukan :

- Batu kalsium oksalat


Makanan yang harus dikurangi adalah jenis makanan yang mengandung kalsium oksalat
seperti bayam, daun seledri, kacang-kacangan, kopi, teh, dan coklat. Sedangkan baut
kalsium fosfat : mengurangi makanan yang mengandung kalsium tinggi seperti : ikan laut,
kerang, daging, sarden, keju dan sari buah.

- Batu asam urat


Makanan yang dikurangi : daging, kerang, gandum, kentang, tepung-tepungan, saus dan
lain-lain.

- Batu struvite
Makanan yang dikurangi : keju, telur, buah murbai, susu dan daging.

- Batu cystin
Makanan yang dikurangi : sari buah, susu, kentang.

Anjurkan pasien banyak minum : 3-4 liter/hari serta olahraga yang teratur.

7. Pemeriksaan penunjang
a. Urinalisa : warna kuning, coklat gelap, berdarah. Secara umum menunjukkan
adanya sel darah merah, sel darah putih dan kristal serta serpihan, mineral, bakteri,
pus, pH urine asam.
b. Urine (24 jam) : kreatinin, asam urat, kalsium, fosfat, oksalat atau sistin
meningkat.
c. Kultur urine : menunjukkan adanya infeksi saluran kemih.
d. Survei biokimia : peningkatan kadar magnesium, kalsium, asam urat, fosfat,
protein dan elektrolit.
e. Kadar klorida dan bikarbonat serum : peningkatan kadar klorida dan penurunan
kadar bikarbonat menunjukkan terjadinya asidosis tubulus ginjal.
f. Darah lengkap :
- Sel darah putih : meningkat menunjukkan adanya infeksi.
- Sel darah merah : biasanya normal.
- Hb, Ht : abnormal bila pasien dehidrasi berat atau polisitemia.
g. Foto rontgen : menunjukkan adanya kalkuli atau perubahan anatomik pada area
ginjal dan sepanjang ureter.
h. IVP : memberikan konfirmasi cepat urolithiasis, seperti penyebab nyeri abdominal
atau panggul.
i. USG Ginjal : untuk menentukan perubahan obstruksi, lokasi batu.

8. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
a. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
 Riwayat penyakit ginjal akut, kronik.
 Riwayat infeksi saluran kemih.
 Jenis pekerjaan, banyak duduk, suhu lingkungan.
b. Pola nutrisi metabolik
 Mual
 Muntah
 Demam
 Nyeri tekan abdomen
 Diet tinggi purin oksalat atau fosfat.
 Ketidakcukupan pemasukan cairan : tidak minum air dengan cukup.
c. Pola eliminasi
 Perubahan pola eliminasi : urine pekat, penurunan output urine.
 Hematuri
 Piuria
 Rasa terbakar, dorongan berkemih
 Obstruksi sebelumnya
 Penurunan hantaran urine, kandung kemih.
d. Pola aktivitas dan latihan
 Pekerjaan monoton (banyak duduk)
 Immobilisasi/keterbatasan aktivitas
 Kebiasaan olahraga (teratur/tidak).
e. Pola tidur dan istirahat
 Demam
 Menggigil
 Adakah gangguan tidur akibat nyeri.
f. Pola persepsi kognitif
 Pengetahuan tentang terjadinya pembentukan batu
 Penanganan tanda dan gejala yang muncul.
g. Pola reproduksi dan seksual
 Keluhan dalam aktivitas seksual klien sehubungan dengan nyeri pada saluran
kemih.
h. Pola persepsi dan konsep diri
 Perubahan gaya hidup karena penyakit.
 Rasa cemas berhubungan dengan penyakit yang diderita.

2. Diagnosa Keperawatan
A. Pre-Operasi
a. Nyeri b.d peningkatan frekuensi / dorongan kontraksi ureteral.
b. Perubahan pola eliminasi b.d stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal
atau ureteral.
c. Risti kekurangan volume cairan b.d mual, muntah.
d. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b.d
kurangnya informasi.
e. Cemas b.d tindakan invasif, pemeriksaan dan persiapan operasi.
B. Post-Operasi
a. Nyeri b.d adanya luka operasi
b. Risiko tinggi terhadap infeksi b.d adanya luka operasi dan drain.
3. Rencana Keperawatan
Pre-Operasi :

a. Nyeri b.d peningkatan frekuensi/dorongan kontraksi uretral.


Hasil yang diharapkan (HYD) :
Nyeri berkurang sampai dengan hilang dalam waktu 1-2 hari dengan kriteria :
- Pasien mengungkapkan nyeri berkurang/hilang
- Ekspresi wajah tampak rileks
Rencana Tindakan :

1) Kaji dan catat lokasi, lamanya, intensitas nyeri


R/ Membantu mengevaluasi tempat obstruksi dan kemajuan gerakan
kalkulus.

2) Jelaskan penyebab nyeri dan pentingnya melaporkan bila terjadi perubahan


kejadian/karakteristik nyeri.
R/ Memberikan kesempatan untuk pemberian analgesik sesuai waktu.

3) Berikan tindakan nyaman contoh pijatan punggung, lingkungan istirahat.


R/ Meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot dan meningkatkan
koping.

4) Bantu atau dorong penggunaan napas dalam, bimbingan imajinasi.


R/ Mengarahkan kembali perhatian dan membantu dalam relaksasi otot.

5) Dorong/bantu dengan ambulasi sering sesuai indikasi dan tingkatkan


pemasukan cairan sekitar 3-4 liter/hari.
R/ Hidrasi kuat meningkatkan lewatnya batu dan mencegah stasis urine, dan
membantu mencegah pembentukan batu selanjutnya.

6) Perhatikan keluhan peningkatan/menetapnya nyeri abdomen.


R/ Obstruksi lengkap ureter dapat menyebabkan perforasi dan ekstravasasi
urine ke dalam area perirenal.

7) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi analgetik.


R/ Analgetik diberikan untuk mengurangi nyeri.

b. Perubahan pola eliminasi urin b.d stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal
atau ureteral.
Hasil yang diharapkan (HYD) :
Pola eliminasi kembali normal : frekuensi, jumlah / volume dalam waktu 2 – 4 hari
dengan kriteria :
- Berkemih dengan jumlah normal dan pola biasanya.
- Tidak ditemukan tanda obstruksi (hematuri)
Rencana Tindakan :

1) Awasi pemasukan dan pengeluaran dan karakteristik urin.


R/ Memberikan informasi tentang fungsi ginjal adanya komplikasi :
perdarahan.

2) Tentukan pola berkemih normal pasien dan perhatikan variasi.


R/ Kalkulus dapat menyebabkan eksitabilitas saraf yang menyebabkan
sensasi kebutuhan berkemih segera.

3) Dorong meningkatkan pemasukan cairan : 3 – 4 liter/hari.


R/ Peningkatan hidrasi membuang bakteri, darah, dan dapat membantu
lewatnya batu.

4) Periksa semua urin, catat adanya keluaran batu.


R/ Identifikasi tipe batu dan mempengaruhi pilihan terapi.

5) Palpasi untuk distensi suprapubik dan perhatikan pemenuhan keluaran urin,


adanya edema.
R/ Retensi urin dapat terjadi, menyebabkan distensi jaringan (kandung kemih
/ ginjal).

6) Observasi perubahan status mental, perilaku atau tingkat kesadaran.


R/ Akumulasi sisa uremik dan ketidakseimbangan elektrolit dapat menjadi
toksik pada SSP.
7) Kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan laboratorium : elektrolit, BUN,
kreatinin.
R/ Mengindikasikan disfungsi ginjal.

c. Risiko tinggi terhadap kekurangan cairan tubuh b.d mual, muntah.


Hasil yang diharapkan (HYD) :
Tidak terjadi kekurangan cairan tubuh dengan kriteria :
- Mempertahankan keseimbangan cairan adekuat dibuktikan oleh tanda-tanda
vital stabil dan berat badan dalam rentang normal.
Rencana Tindakan :

1) Awasi pemasukan dan pengeluaran.


R/ Membandingkan keluaran aktual dan yang diantisipasi membantu dalam
evaluasi adanya / derajat stasis / kerusakan ginjal.

2) Catat insiden muntah, diare, perhatikan karakteristik dan frekuensi muntah


dan diare, juga kejadian yang menyertai atau mencetuskan.
R/ Mual/muntah dan diare secara umum berhubungan dengan kolik ginjal.

3) Tingkatkan pemasukan cairan sampai 3-4 l/hari dalam toleransi jantung.


R/ Mempertahankan keseimbangan cairan untuk homeostasis juga tindakan
mencuci yang dapat membilas batu keluar.

4) Awasi tanda-tanda vital, evaluasi nadi, pengisian kapiler, turgor kulit dan
membran mukosa.
R/ Indikator hidrasi/volume sirkulasi dan memberikan intervensi yang tepat.

5) Timbang berat badan tiap hari.


R/ Peningkatan berat badan cepat mungkin dengan retensi.

6) Kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan laboratorium : Hb, Ht,


elektrolit.
R/ Mengkaji hidrasi dan keefektifan, kebutuhan intervensi.

d. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b.d


kurangnya informasi.
Hasil yang diharapkan (HYD) :
Pengetahuan pasien dapat bertambah dalam waktu 1-2 hari dengan kriteria :
- Pasien mampu mengungkapkan pemahaman tentang proses penyakit.
- Pasien mampu menghubungkan gejala dan faktor penyebab.
- Pasien mampu melakukan perubahan perilaku dan berpartisipasi dalam
program pengobatan.
Rencana Tindakan :

1) Kaji ulang proses penyakit dan harapan masa datang.


R/ Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan
berdasarkan informasi yang diberikan.

2) Tekankan pentingnya peningkatan pemasukan cairan 3-4 l/hari.


R/ Pembilasan sistem ginjal menurunkan kesempatan statis ginjal.

3) Kaji ulang program diet, sesuai individual.


R/ Diet penting pada tipe batu.

4) Diet rendah purin contoh membatasi daging berlemak.


R/ Menurunkan pemasukan oral terhadap pukusor asam urat.

5) Diet rendah kalsium, membatasi susu keju.


R/ Menurunkan risiko pembentukan batu kalsium.

6) Diet rendah oksalat contoh pembatasan coklat minuman mengandung kafein,


bit, bayam.
R/ Menurunkan pembentukan batu kalsium oksalat.

7) Diet rendah kalsium/fosfat.


R/ Mencegah kalkulus fosfat dengan membentuk presipitat yang tak larut
dalam gastrointestinal, mengurangi beban nefron ginjal.

8) Diskusikan program obat-obatan, hindari obat yang dijual bebas.


R/ Obat diberikan untuk mengasamkan atau mengalkalikan urine.

9) Mendengar dengan aktif tentang program terapi/perubahan pola hidup.


R/ Membantu pasien bekerja melalui perasaan dan meningkatkan rasa
kontrol terhadap apa yang terjadi.

10) Identifikasi tanda/gejala yang menentukan evaluasi medik.


R/ Membantu pasien bekerja melalui perasaan dan meningkatkan rasa
kontrol terhadap apa yang terjadi.

e. Cemas b.d tindakan invasif, pemeriksaan dan persiapan operasi.


Hasil yang diharapkan (HYD) :
Cemas dapat berkurang sampai dengan hilang dalam waktu 2-3 hari dengan
kriteria :
- Ekspresi wajah tenang dan rileks.
Rencana Tindakan :

1) Kaji tingkat kecemasan pasien.


R/ Mengetahui sejauh mana kecemasan pasien.

2) Kaji faktor penyebab pasien cemas.


R/ Mengurangi faktor yang menyebabkan cemas.

3) Dorong pasien untuk mengungkapkan kecemasannya.


R/ Keterbukaan dan rasa percaya diri akan mengurangi kecemasan.

4) Libatkan keluarga dalam proses perawatan klien.


R/ Mengurangi kecemasan pasien.

5) Beri informasi yang jelas kepada pasien setiap sebelum melakukan tindakan :
baik invasif dan non invasif.
Post-Operasi
a. Nyeri b.d adanya luka operasi.
Hasil yang diharapkan (HYD) :
Nyeri berkurang sampai dengan hilang dalam waktu 3-4 hari dengan kriteria :
- Pasien mengungkapkan nyeri berkurang sampai dengan hilang.
- Ekspresi wajah pasien tampak rileks.
- Pasien mampu melakukan tindakan untuk mengurangi nyeri.
Rencana Tindakan :

1) Kaji keluhan nyeri : intensitas, lamanya nyeri (skala 1-10).


R/ Melakukan intervensi yang sesuai dengan keluhan pasien.

2) Anjurkan pasien untuk melakukan teknik relaksasi jika muncul nyeri.


R/ Merelaksasi otot-otot yang nyeri dan mengalihkan perhatian pasien.
3) Beri posisi yang nyaman untuk pasien.
R/ Mengurangi rasa nyeri dan meningkatkan rasa nyaman.

4) Observasi tanda-tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah) tiap 2-4 jam.
R/ Deteksi dini terhadap perubahan tanda-tanda vital akibat nyeri.

5) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi analgetik.


R/ Pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri.

b. Risiko tinggi terhadap infeksi b.d adanya luka operasi dan drain.
Hasil yang diharapkan (HYD) :
Tidak terjadi infeksi dengan kriteria :
- Tidak ditemukan tanda-tanda infeksi seperti : merah, bengkak, panas.
- Luka operasi cepat sembuh dan tidak timbul nanah.
Rencana Tindakan :

1) Observasi tanda-tanda vital tiap 2-4 jam.


R/ Deteksi dini tanda-tanda infeksi.

2) Observasi daerah luka operasi.


R/ Indikator terjadi infeksi.

3) Lakukan teknik aseptik dalam perawatan luka.


R/ Mencegah penyebaran infeksi nosokomial.

4) Lakukan perawatan 1x24 jam dan bila luka kotor.


R/ Mencegah terjadinya infeksi.

5) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi antibiotik.


R/ Antibiotik diberikan untuk mencegah infeksi dan membunuh bakteri.
4. Discharge Planning
 Untuk membantu pemulihan pasca bedah atau tindakan.
a. Anjurkan untuk banyak minum untuk mempercepat pengeluaran partikel-
partikel batu.
b. Jelaskan bahwa mungkin akan ada darah yang terdapat dalam urine selama
beberapa minggu.
c. Anjurkan pasien untuk sering berjalan demi membantu keluarnya pecahan-
pecahan batu.
d. Ajarkan tentang penggunaan obat analgetik yang masih diperlukan untuk
mengurangi nyeri kolik yang menyertai keluarnya pecahan batu.
 Untuk mencegah terbentuknya kembali batu tersebut.
a. Anjurkan untuk diet yang berhubungan dengan jenis batu : hindari kalsium
dan fosfor yang berlebihan untuk batu kalsium oksalat, turunkan konsumsi
purin (daging, ikan dan unggas) untuk batu asam urat.
b. Anjurkan patuh terhadap terapi sesuai instruksi dokter, seperti diuretik untuk
menurunkan ekresi kalsium dalam urine. Alopurinol untuk menurunkan
pembentukan asam urat d-penisilamin untuk menurunkan konsentrasi sistin
dan natrium bikarbonat untuk membasakan urine.
c. Anjurkan aktivitas yang menahan beban dan hindari tirah baring yang terlalu
lama, yang akan mengubah metabolisme kalsium.
d. Beritahukan semua pasien dengan penyakit batu untuk minum cukup banyak
air agar volume urinnya mencapai 2000-3000 cc atau lebih setiap 24 jam.
DAFTAR PUSTAKA

Black, Joyce M, M.S.N, R.N (1997). Medical Surgical Nursing : Clinical Management for
Continuity of Care. (Fifth edition). Philadelphia : WB. Saunders Company.

Brunner and Suddarth’s (2002). Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah. (Edisi
kedelapan). Jakarta : EGC.

Doengoes, Marilynn E, RN. BSN, MA, CS (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. (Edisi
ketiga). Jakarta : EGC.

Lewis, Sharon Mantik, R.N FAAN (2000). Medical Surgical Nursing. (Fifth edition). St.
Louis, Missouri : Mosby Inc.

Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses


Keperawatan. (Buku 3). Bandung : IAPK Padjajaran.

Noer, H.M, Sjaifoellah (1996). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. (Jilid kedua, Edisi
ketiga). Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Price, Sylvia Anderson, Ph.D., R.N (1995). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. (Edisi keempat). Jakarta : EGC.