Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hanya
atas bimbinganNya sehingga makalah dengan judul ISU LINGKUNGAN
GLOBAL dapat terselesaikan dengan baik. Seiring dengan semakin maraknya
masalah-masalah lingkungan global yang timbul, maka makalah ini dibuat untuk
mengetahui lebih jelas tentang masalah lingkungan globlal serta dampak yang
ditumbulkannya bagi keseimbangan ekosistem dan keberlangsungan hidup
makhluk hidup.
Terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu proses penyelesaian
makalah ini baik dalam bentuk materi maupun moril.
Kami menyadari pembuatan makalah masih jauh dari kesempurnaan karena
itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan .
Akhirnya, kiranya makalah ini dapat diterima oleh dosen mata kuliah umum
Ilmu Alamiah Dasar dan bermanfaat bagi pembaca.
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dewasa ini lingkungan menjadi masalah yang perlu mendapat
perhatian yang seksama dan cermat. Lingkungan saat ini mulai terancam oleh
berbagai dampak yang ditimbulkan berbagai aktifitas manusia. Dari tahun ke tahun
lingkungan saat ini mulai menampakan perbahan yang signifikan.
Isu lingkungan global merupakan permasalahan lingkungan dan dampak
yang ditimbulkan dari permasalahan lingkungan tersebut mengakibatkan dampak
yang luas dan serius bagi dunia serta menyeluruh. Isu lingkungan global mulai
muncul dalam berberapa dekade belakangan ini. Kesadaran manusia akan
lingkungannya yang telah rusak membuat isu lingkungan ini mencuat. Isu
lingkungan global yang mencuat ke permukaan yang bersifat global serta yang
paling penting dalam lingkungan adalah mengenai pemanasan global.
Pemanasan global atau yang sering di sebut global warming adalah adanya
proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer,laut, dan daratan bumi. Pemanasan
global atau global warming menjadi isu global mutakhir terkait lingkungan hidup
dimana pencemaran dan pengrusakan terhadap lingkungan dianggap sebagai faktor
penyebab hilangnya sifat kealamiahan bumi akibat pemanasan global. Dunia pun
menyadari untuk melakukan upaya keras mengingat semakin terancamnya
eksistensi kehidupan.
Sebagian besar para ilmuawan telah mencapai suatu kesepakatan mengenai
fenomena yang terkenal dengan nama pemanasan global dan telah menjadi sorotan
utama masyarakat dunia sekarang. Selama setengah abad sekarang ini, gas rumah
kaca CO2, methan, nitrat oksida dan CFC dilepaskan ke atmosfir bumi dalam
jumlah yang sangat besar dan dengan konsekuensi yang sangat besar. Menurut
laporan panel antara pemerintahan antar perserikatan bangsa-bangsa/IPCC, telah
terjadi kenaikan suhu minimum dan maksimum bumi antara 0,5-1,5 derajat.
Kenaikan itu terjadi pada suhu minimum dan maksimum disiang hari maupun
malam hari antara 0,5 sampai 2,0 derajat celcius atau temperature rata-rata global
telah meningkat sekitar 0,6 derajat celcius (33 derajat F) diabandingkan dengan
masa sebelum industri.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui masalah-masalah lingkungan Deforestasi Hutan
2. Mengetahui masalah-masalah lingkungan Desertifikasi
3. Mengetahui masalah-masalah lingkungan Desertifikasi
4.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 DEFORESTASI HUTAN


Penggundulan hutan atau deforestasi adalah kegiatan penebangan hutan atau
tegakan pohon (stand of trees) sehingga lahannya dapat dialihgunakan untuk
penggunaan nir-hutan (non-forest use), yakni pertanian, peternakan atau kawasan
perkotaan. Deforestasi merupakan suatu kondisi saat tingkat luas area hutan yang
menunjukkan penurunan secara kualitas dan kuantitas. Kerusakan hutan
(deforestasi) masih tetap menjadi ancaman di Indonesia. Menurut data laju
deforestasi (kerusakan hutan) periode 2003-2006 yang dikeluarkan oleh
Departemen Kehutanan, laju deforestasi di Indonesia mencapai 1,17 juta hektar
pertahun.
Bahkan kalau menilik data yang dikeluarkan oleh State of the World’s Forests
2007 yang dikeluarkan The UN Food & Agriculture Organization (FAO), angka
deforestasi Indonesia pada periode 2000-2005 1,8 juta hektar/tahun. Laju
deforestasi hutan di Indonesia ini membuat Guiness Book of The Record
memberikan ‘gelar kehormatan’ bagi Indonesia sebagai negara dengan daya rusak
hutan tercepat di dunia.
Selain itu, 25 persen lainnya atau setara dengan 48 juta hektar juga mengalami
deforestasi dan dalam kondisi rusak akibat bekas area HPH (hak penguasaan hutan).
Dari total luas htan di Indonesia hanya sekitar 23 persen atau setara dengan 43 juta
hektar saja yang masih terbebas dari deforestasi (kerusakan hutan) sehingga masih
terjaga dan berupa hutan primer.
Laju deforestasi hutan di Indonesia paling besar disumbang oleh kegiatan
industri, terutama industri kayu, yang telah menyalahgunakan HPH yang diberikan
sehingga mengarah pada pembalakan liar. Penebangan hutan di Indonesia mencapai
40 juta meter kubik setahun, sedangkan laju penebangan yang sustainable(lestari
berkelanjutan) sebagaimana direkomendasikan oleh Departemen Kehutanan
menurut World Bank adalah 22 juta kubik meter setahun.
Penyebab deforestasi terbesar kedua di Indonesia, disumbang oleh pengalihan
fungsi hutan (konversi hutan) menjadi perkebunan. Konversi hutan menjadi area
perkebunan (seperti kelapa sawit), telah merusak lebih dari 7 juta ha hutan sampai
akhir 1997.
2.1.1 Dampak Deforestasi.
Deforestasi (kerusakan hutan) memberikan dampak yang signifikan bagi
masyarakat dan lingkungan alam di Indonesia. Kegiatan penebangan yang
mengesampingkan konversi hutan mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan
yang pada akhirnya meningkatkan peristiwa bencana alam, seperti tanah longsor
dan banjir.
Dampak buruk lain akibat kerusakan hutan adalah terancamnya kelestarian
satwa dan flora di Indonesia utamanya flora dan fauna endemik. Satwa-satwa
endemik yang semakin terancam kepunahan akibat deforestasi hutan misalnya
lutung jawa (Trachypithecus auratus), dan merak (Pavo muticus), owa jawa
(Hylobates moloch), macan tutul (Panthera pardus), elang jawa (Spizaetus
bartelsi), merpati hutan perak (Columba argentina), dan gajah sumatera (Elephant
maximus sumatranus).
Kerugian yang diderita negara akibat laju deforestasi hutan di Indonesia
diperkirakan dapat mencapai hingga sekitar Rp71 triliun, menurut lembaga
swadaya masyarakat Indonesia Corruption Watch.
Berdasarkan data riset ICW yang diterima di Jakarta, kerugian dari aspek laju
deforestasi hutan pada periode 2005-2009 mencapai 5,4 juta hektare atau setara
Rp71,28triliun. Jumlah tersebut, terdiri atas kerugian nilai tegakan (Rp64,8 triliun)
dan provisi sumberdaya hutan (Rp6,48 triliun). Kerugian tersebut masih ditambah
tidak diterimanya dana reboisasi.
ICW juga memaparkan bahwa lembaga swadaya masyarakat Human Rights
Watch pernah meluncurkan riset pada 2009 yang menyebutkan bahwa praktik
korupsi dan mafia sektor kehutanan setidak-tidaknya merugikan negara rata-rata Rp
20 triliun per tahun.
2.1.2 UPAYA YANG DILAKUKAN PEMERINTAH
Pemerintah Indonesia melalui keputusan bersama Departemen Kehutanan
dan Departemen Perindustrian dan Perdagangan sejak tahun 2001 telah
mengeluarkan larangan ekspor kayu bulat (log) dan bahan baku serpih. Selain itu,
Pemerintah juga telah berkomitmen untuk melakukan pemberantasan illegal
logging dan juga melakukan rehabilitasi hutan melalui Gerakan Nasional
Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) yang diharapkan di tahun 2008 akan
dihutankan kembali areal seluas tiga juta hektar.
Pemerintah sebagai penanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya
memiliki tanggung jawab besar dalam upaya memikirkan dan mewujudkan
terbentuknya pelestarian lingkungan hidup. Hal-hal yang dilakukan pemerintah
antara lain:
1. Mengeluarkan UU Pokok Agraria No. 5 Tahun 1960 yang mengatur tentang
Tata Guna Tanah.
2. Menerbitkan UU No. 23 Tahun 1997, tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Pengelolaan Lingkungan Hidup.
3. Memberlakukan Peraturan Pemerintah RI No. 24 Tahun 1986, tentang AMDAL
(Analisa Mengenai Dampak Lingkungan).
Pada tahun 1991, pemerintah membentuk Badan Pengendalian
Lingkungan, dengan tujuan pokoknya:
a) Menanggulangi kasus pencemaran.
b) Mengawasi bahan berbahaya dan beracun (B3).
c) Melakukan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL).
Pemerintah mencanangkan gerakan menanam sejuta pohon. Jeda penebangan
hutan atau Moratorium Logging adalah suatu metode pembekuan atau penghentian
sementara seluruh aktifitas penebangan kayu skala besar (skala industri) untuk
sementara waktu tertentu sampai sebuah kondisi yang diinginkan tercapai. Lama
atau masa diberlakukannya moratorium biasanya ditentukan oleh berapa lama
waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kondisi tersebut (Hardiman
dalam Hutan Hancur, Moratorium Manjur).
Sebagai langkah awal dalam pencegahan kerusakan hutan nasional, metode
ini dapat dilaksanakan oleh berbagai pihak. Bentuknya dapat berupa reformasi
hutan yang dilaksanakan oleh semua pihak sebgai bentuk partisipasi pemerintah,
privat, dan masyarakat dalam melindungi hutan dari kerusakan. Moratorium
Logging dapat memberikan manfaat bagi semua pihak, diantaranya:
1. Pemerintah mendapatkan manfaat berupa jangka waktu dalam melakukan
restrukturisasi dan renasionalisasi industri olahan kayu nasional, mengkoreksi
over kapasitas yang dihasilkan oleh indsutri kayu, serta mengatur hak-hak
pemberdayaan sumber daya hutan, dan melakukan pengawasan illegal
logging bersama sector private dan masyarakat.
2. Private/investor mendapatkan keuntungan dengan meningkatnya harga kayu di
pasaran, sumber daya (kayu) kembali terjamin keberadaannya, serta
meningkatkan efisiensi pemakaian bahan kayu dan membangun hutan-hutan
tanamannya sendiri.
3. Masyarakat mendapatkan keuntungan dengan kembali hijaunya hutan
disekeliling lingkungan tinggal mereka, serta dapat terhindar dari potensi
bencana akibat kerusakan hutan.

2.2 DESERTIFIKASI
2.2.1 Definisi Desertifikasi
Desertifikasi adalah persisten degradasi dari ekosistem lahan kering dengan
variasi iklim dan aktivitas manusia. Home untuk sepertiga dari populasi manusia
pada tahun 2000, lahan kering menempati hampir setengah dari luas daratan bumi.
Di seluruh dunia, penggurunan mempengaruhi mata pencaharian jutaan orang yang
bergantung pada ekosistem lahan kering manfaat yang dapat menyediakan.
Desertifikasi terjadi sebagai hasil dari kegagalan jangka panjang untuk
menyeimbangkan kebutuhan manusia untuk jasa ekosistem dan jumlah ekosistem
dapat pasokan. Tekanan meningkat pada ekosistem lahan kering untuk
menyediakan jasa seperti makanan, pakan, bahan bakar, bahan bangunan, dan air
yang diperlukan bagi manusia, ternak, irigasi, dan sanitasi. Kenaikan ini disebabkan
oleh kombinasi faktor manusia (seperti tekanan penduduk dan lahan pola) dan
faktor iklim (seperti kekeringan). Sementara interaksi global dan regional faktor-
faktor ini sangat kompleks, adalah mungkin untuk memahaminya pada skala lokal.
Desertifikasi adalah proses yang mengubah produktif menjadi gurun non-
produktif akibat buruk pengelolaan lahan-. Desertifikasi terjadi terutama di daerah
semi-kering (curah hujan tahunan rata-rata kurang dari 600 mm) berbatasan dengan
gurun. Di Sahel, (yang gersang daerah selatan-semi Gurun Sahara), misalnya, gurun
bergerak ke selatan 100 km antara tahun 1950 dan 1975.
Desertifikasi merupakan salah satu masalah yang paling mengkhawatirkan
di dunia lingkungan global. Ini terjadi di seluruh dunia pada lahan kering .
Setidaknya 90% dari penduduk lahan kering tinggal di negara berkembang dan
mereka menderita kondisi ekonomi dan sosial termiskin. Lahan kering menempati
41% dari luas daratan bumi dan adalah rumah bagi lebih dari 2 miliar orang. Telah
diperkirakan bahwa sekitar 10-20% dari lahan kering sudah terdegradasi , luas areal
dipengaruhi oleh penggurunan menjadi antara 6 dan 12 juta kilometer persegi,
bahwa sekitar 1-6% dari penduduk hidup di daerah lahan kering desertified, dan
bahwa miliar orang berada di bawah ancaman dari penggurunan lebih lanjut.
Desertifikasi merupakan fenomena bersejarah; gurun besar dunia
terbentuk oleh proses alam berinteraksi selama selang waktu yang lama. Selama
sebagian besar kali, padang pasir telah tumbuh dan menyusut independen dari
aktivitas manusia. Paleodeserts yang besar lautan pasir sekarang tidak aktif karena
mereka stabil oleh vegetasi, beberapa memperluas luar margin sekarang gurun inti,
seperti Sahara.
Desertifikasi mengacu pada baik penyebaran gurun saat ini dan degradasi
tanah di daerah curah hujan rendah. Hal ini disebabkan oleh faktor alam, seperti
kekeringan, dan faktor manusia, seperti berlebihan. Sebuah iklim dengan variasi
suhu harian besar, angin kencang dan curah hujan intermittent namun intens
membuat tanah rapuh rentan terhadap erosi dan penggurunan.
Kebutuhan manusia meningkatkan menyebabkan penggurunan melalui
overcultivation, berlebihan, penggundulan hutan dan manajemen air yang buruk.
Makan hewan dan kerusakan kayu bakar koleksi vegetasi memegang tanah
bersama-sama. Tanah dipadatkan dengan keras binatang berkaki kurang mampu
menyerap hujan ketika hal itu jatuh dan mudah terkikis oleh air dan angin.
Memotong pohon-pohon untuk kayu bakar daun unshaded tanah, yang
menyebabkan peningkatan suhu tanah dan dalam tingkat penguapan yang menarik
garam ke permukaan. Hal ini semakin mengurangi pertumbuhan tanaman. Tuntutan
tinggi permukaan terbatas dan cadangan air tanah yang berlebihan dan mengarah
ke salinasi lebih lanjut.
2.2.2 Penyebab Desertifikasi
Penggembalaan adalah penyebab utama dari penggurunan di seluruh
dunia. Tanaman daerah semi-kering yang disesuaikan untuk dimakan oleh jarang
tersebar, penggembalaan mamalia, besar yang bergerak dalam menanggapi curah
hujan merata umum untuk daerah ini. Awal manusia penggembala yang tinggal di
daerah semi-kering disalin sistem alam. Mereka pindah kelompok-kelompok kecil
mereka hewan domestik dalam menanggapi ketersediaan pangan dan air.
pergerakan saham biasa tersebut dicegah berlebihan dari tanaman penutup rapuh.
2.2.3 Dampak Desertifikasi
Desertifikasi mengurangi kemampuan tanah untuk mendukung kehidupan,
mempengaruhi spesies liar, hewan domestik, tanaman pertanian dan orang-orang.
Penurunan di cover pabrik yang menyertai penggurunan mengarah ke erosi tanah
dipercepat oleh angin dan air. Afrika Selatan kehilangan sekitar 3-400 ton lapisan
atas tanah setiap tahun. Sebagai penutup vegetasi dan lapisan tanah berkurang,
hujan dampak drop dan-off meningkatkan dijalankan.
Air hilang dari tanah bukan perendaman ke dalam tanah untuk
memberikan kelembaban bagi tanaman. Bahkan lama-hidup tanaman yang
biasanya akan bertahan mati kekeringan. Penurunan pada tanaman penutup juga
menghasilkan pengurangan jumlah humus dan nutrisi tanaman dalam tanah, dan
produksi tanaman menurun lebih lanjut. Sebagai penutup tanaman pelindung
menghilang, banjir menjadi lebih sering dan lebih parah. Desertifikasi adalah
memperkuat diri, yaitu satu kali proses dimulai, kondisi yang ditetapkan untuk
penurunan terus-menerus.
Dampak utama dari penggurunan berkurang keanekaragaman hayati dan
berkurang kapasitas produktif, misalnya, dengan transisi dari tanah didominasi oleh
shrublands untuk non-pribumi padang rumput. Sebagai contoh, di daerah semi-
kering Californiaselatan, banyak semak pesisir bijak dan kaparal ekosistem telah
digantikan oleh non-pribumi, rumput invasif karena pemendekan interval
membalas tembakan. Dalam Madagaskar 's dataran tinggi pusat dataran tinggi, 10%
dari seluruh negara telah desertified karena memangkas dan membakar pertanian
oleh masyarakat adat.

2.2.4 Langkah Antisipasi


Untuk menghentikan penggurunan jumlah hewan di tanah harus dikurangi,
memungkinkan tanaman untuk tumbuh kembali. kondisi tanah harus dibuat
menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman dengan, misalnya, mulsa. Mulsa
(lapisan jerami, daun atau serbuk gergaji yang meliputi tanah) mengurangi
penguapan, menekan pertumbuhan gulma, memperkaya tanah seperti membusuk,
dan mencegah dan karenanya limpasan erosi. Reseeding mungkin diperlukan di
daerah yang rusak parah. Mulsa dan reseeding adalah praktek mahal. Namun,
pendekatan realistis skala besar hanya untuk mencegah penggurunan melalui
pengelolaan lahan yang baik di daerah semi-kering.
Lahan kering sangat rentan karena variabilitas iklim dan tekanan manusia.
Kerusakan penutup tanah dan tanaman telah mempengaruhi 70% dari lahan kering
di dunia. Selain itu, negara-negara dan orang-orang yang paling terpengaruh oleh
penggurunan seringkali mereka dengan sumber daya yang sedikit. Namun adalah
mungkin untuk memerangi penggurunan oleh lestari mengelola lahan kering,
merehabilitasi areal yang rusak, dan dengan mendidik pemuda.
Memulihkan dan pupuk tanah, cara mudah dan murah untuk menyuburkan
tanah adalah untuk mempersiapkan kompos, yang akan menjadi humus dan akan
diperbarui tanah dengan bahan organik.
Mengatasi dampak dari angin dengan membangun hambatan dan
menstabilkan bukit pasir dengan spesies tanaman lokal. Reboisasi, pohon
memainkan beberapa peran: mereka membantu memperbaiki tanah, bertindak
sebagai pemutus angin, meningkatkan kesuburan tanah, dan membantu menyerap
air saat hujan deras. Karena pembakaran lahan dan hutan meningkatkan gas rumah
kaca berbahaya, aforestasi - penanaman pohon baru - dapat membantu mengurangi
dampak negatif akibat perubahan iklim.
Mengembangkan praktek-praktek pertanian berkelanjutan, lahan kering
adalah rumah bagi berbagai macam spesies, yang dapat produk komersial juga
becomeimportant: misalnya, mereka memberikan 1 / 3 dari tanaman obat yang
diturunkan di Amerika Serikat. Pertanian keanekaragaman hayati harus
dilestarikan. Tanah eksploitasi berlebihan harus dihentikan dengan meninggalkan
'bernafas' tanah selama periode tertentu-waktu, dengan budidaya tidak, atau
penggembalaan ternak.
Tradisional gaya hidup, gaya hidup tradisional seperti yang dipraktikkan
di zona kering banyak menawarkan contoh-contoh hidup harmonis dengan
lingkungan. Di masa lalu, nomadisme terutama disesuaikan dengan kondisi lahan
kering; bergerak dari satu danau ke yang lain, tidak pernah tinggal di tanah yang
sama, masyarakat pastoral tidak mengerahkan banyak tekanan pada lingkungan.
Namun, perubahangaya hidup dan pertumbuhan populasi menempatkan
meningkatkan tekanan terhadap sumber daya yang langka dan lingkungan yang
rentan. Jalan Sutra di Asia dan rute Trans-Sahara di Afrika adalah contoh yang baik
dari pertukaran ekonomi dan budaya yang kuat yang dikembangkan oleh
masyarakat nomaden.

2.3 Perubahan Iklim


Perubahan iklim adalah terjadinya perubahan kondisi atmosfer, seperti
suhu, san cuaca yang menyebabkan suatu kondisi yang tidak menentu. Perubahan
ini sangat berdampak luas bagi kehidupan manusia dalam berbagai sektor.
Perubahan iklim juga dapat dikatakan sebagai, keadaan dimana temperatur
di bumi mengalami kenaikan dan pergeseran musim. Kenaikan temperatur ini akan
menyebabkan terjadinya pemuaian massa air dan permukaan air laut.
Menurut IPCC (2001) menyatakan bahwa perubahan iklim merujuk pada
variasi rata-rata kondisi iklim suatu tempat atau pada variabilitasnya yang nyata
secara statistik untuk jangka waktu yang panjang (biasanya dekade atau lebih).
Selain itu juga diperjelas bahwa perubahan iklim meungki terjadi karena proses
alam internal maupun ada kekuatan eksternal, atau ulah manusia yang terus
menerus merubah komposisi atmosfer atau tata guna lahan.
2.3.1 Penyebab Perubahan Iklim
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa aktivitas manusia
merupakan penyebab utama terjadinya perubahan iklim. Selain itu pertambahan
populasi penduduk dan pesatnya pertumbuhan teknologi dan industri ternyata juga
memberikan kontribusi besar pada pertambahan GRK (Gas Rumah Kaca). Akibat
jenis aktivitas yang berbedabeda, maka GRK yang dikontribusikan oleh setiap
negara ke atmosfer pun porsinya berbedabeda.
Ada banyak kejadian yang dapat menyebabkan perubahan iklim.
Penyebab-penyebab tersebut adalah:
2.3.2 Kehutanan
Indonesia merupakan salah satu negara di dunia dengan luas hutan
terbesar, yaitu 120,3 juta hektar. Sekitar 17% dari luasan tersebut adalah hutan
konservasi dan 23% hutan lindung, sementara sisanya adalah hutan produksi
(FWI/GFW, 2001).
Namun dari tahun ke tahun luas hutan berkurang. Hal ini disebabkan oleh
penebangan liar atau juga kebakaran hutan (disengaja ataupun tidak disengaja).
Padahal hutan sangat berperan sebagai penyerap CO2dan penghasil O2. Dengan
kemampuan hutan tersebut dapat mengurangi kadar GRK di udara.
2.3.3 Pemanfaatan Energi Bahan Bakar Fosil
Saat ini kehidupan manusia sangat tergantung pada energi listrik dan
bahan bakar fosil. Ketergantungan tersebut sangat berdampak buruk bagi
kehidupan umat manusia. Penggunaan energi fosil seperti, minyak bumi, batu bara,
dan gas alam dalam berbagai kegiatan akan memicu bertambahnya emisi GRK di
atmosfer.
2.3.4 Pertanian dan Peternakan
Sektor pertanian juga berperan banyak terhadap meningkatnya emisi
GRK, khususnya gas metana(CH4) yang dihasilkan dari sawah yang tergenang.
Berdasarkan penelitian sektor pertanian menghasilkan emisi gas metana tertinggi
di banding sektor-sektor lainnya.
Sektor peternakan juga tidak kalah dalam mengemisikan GRK, hal
tersebut dikarenakan kotoran ternak yang membusuk akan melepaskan gas metana
ke atmosfer.
2.3.5 Sampah
Sampah turut mengasilkan emisi GRK berupa gas metana walaupun dalam
jumlah yang cukup kecil. Diperkirakan 1-ton sampah padat menghasilkan sekitar
50 kg gas metana.
Kegiatan manusia selalu menghasilkan sampah. Sampah merupakan
masalah besar yang dihadapi oleh kota-kota besar di Indonesia. Data dari
Kementerian Lingkungan Hidup mengatakan bahwa pada tahun 1995 rata-rata
orang di perkotaan di Indonesia menghasilkan sampah 0,8 kg per hari dan terus
meningkat hingga 1 kg per orang per hari pada tahun 2000.
2.3.6 Dampak Perubahn Iklim
Perubahan iklim akan memberikan dampak yang sangat besar pada
berbagai sektor, diantaranya:
1. Dampak Perubahan Iklim terhadap Sektor Pertanian
Perubahan iklim akan menyebabkan pergeseran musim, sehingga musim
kemarau menjadi lebih panjang. Hal ini akan menyebabkan gagal panen, krisis air
bersih dan kebakaran hutan. Sehingga Indonesia harus mengimpor beras dari luar
negeri untuk memenuhi kebutuhannya. Secara otomatis, produktivitas di bidang
pertanian juga akan menurun.
2. Dampak Perubahan Iklim terhadap Kenaikan Muka Air Laut
Kenaikan temperatur menyebabkan es dan gletser di Kutub Utara dan
Selatan mencair. Peristiwa ini menyebabkan terjadinya pemuaian massa air laut dan
kenaikan permukaan air laut. Hal ini membawa banyak perubahan bagi kehidupan
di bawah laut, seperti pemutihan terumbu karang dan punahnya berbagai jenis ikan.
Sehingga akan menurunkan produksi tambak ikan dan udang serta mengancam
kehidupan masyarakat pesisir pantai.
Kenaikan muka air laut akan menyebabkan hancurnya tambak-tambak
ikan di beberapa daerah, juga dapat merusak terumbu karang yang ada di laut
Indonesia.
3. Dampak Perubahan iklim terhadap Ekosistem
Meningkatnya tingkat keasaman dari laut karena bertambahnya
karbondioksida di atmosfer akan membawa dampak negatif pada organisme-
organisme laut. Misalnya, hilangnya jenis flora dan fauna khususnya di Indonesia.
4. Dampak Perubahan iklim terhadap Sumber Daya Air
Pada pertengahan abad ini, rata-rata aliran air sungai dan kelestarian air di
daerah sub polar serta daerah tropis basah diperkirakan akan meningkat sebanyak
10-40%. Sementara di daerah subtropis dan daerah tropis yang kering, air akan
berkurang sebanyak 10-30% sehingga daerah-daerah yang sekarang sering
mengalami kekeringan akan semakin parah kondisinya.
5. Dampak Perubahan iklim terhadap Kesehatan
Frekuensi timbulnya penyakit seperti malaria dan demam berdarah akan
meningkat. Penduduk dengan kapasitas beradaptasi rendah akan semakin rentan
terhadap diare, gizi buruk, serta berubahnya pola distribusi penyakit-penyakit yang
ditularkan melalui berbagai serangga dan hewan.
6. Dampak Perubahan iklim terhadap Sektor Lingkungan
Dengan lingkungan yang rusak, alam akan lebih rapuh terhadap perubahan
iklim. Apabila terjadi curah hujan yang cukup tinggi akan berpotensi menimbulkan
bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.
2.3.7 Solusi terhadap Perubahan Iklim
Mengingat perubahan iklim sangat besar dampaknya bagi kehidupan
manusia dan bumi, maka kita harus mengadakan solusi untuk mengatasinya. Ada
beberapa solusi yang dapat kita lakukan, diantaranya:
1. Melakukan perbaikan dari sektor kehutanan. Seperti mengadakan reboisasi,
menanamkan prinsip tebang pilih dan tebang tanam pada generasi penerus, juga
terhadap pihak-pihak yang bersentuhan langsung dengan hutan.
2. Menyediakan dan mengembangkan energi alternatif yang ramah lingkungan.
Seperti mengganti bahan bakar kendaraan dengan bahan bio seperti dari bahan
biji-bijian atau minyak lobak. Kita juga arus menghemat bahan bakar tersebut
dengan mematikan mesin kendaraan apabila berhenti lebih dari 2 menit. Selain
itu kita juga dapat mengganti lampu di rumah, dikantor dan tempat lainnya
dengan lampu hemat energi, dan mematikan lampu pada malam hari.
3. Produksi daging membutuhkan air, biji-bijian, tanah, dan lainnya dalam jumlah
besar termasuk hormon dan antibiotik, serta menyebabkan polusi tanah, udara,
dan air. Untuk menghasilkan satu pon daging sapi membutuhkan sekitar 12.000
galon air, bandingkan dengan 60 galon air untuk satu pon kentang. Jika Anda
seorang pemakan daging, untuk pemula, cobalah tidak makan daging sekali
dalam seminggu. Menjadi vegetarian atau vegan merupakan pilihan yang sangat
berarti bagi lingkungan.
4. Perlakuan terhadap sampah adalah dengan jalan mendaur ulangnya. Membakar
sampah sama artinya dengan memindahlan sampah tersebut ke udara.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Deforestasi merupakan suatu kondisi saat tingkat luas area hutan yang
menunjukkan penurunan secara kualitas dan kuantitas.
Laju deforestasi hutan di Indonesia ini membuat Guiness Book of The
Record memberikan ‘gelar kehormatan’ bagi Indonesia sebagai negara dengan daya
rusak hutan tercepat di dunia.
Kerusakan hutan telah menimbulkan perubahan kandungan hara dalam
tanah dan hilangnya lapisan atas tanah yang mendorong erosi permukaan dan
membawa hara penting bagi pertumbuhan tegakan. Terbukanya tajuk iokut
menunjang segara habisnya lapisan atas tanah yang subur dan membawa serasah
sebagai pelindung sekaligus simpanan hara sebelum terjadinya dekomposisi oleh
organisme tanah. Terjadinya kerusakan hutan, apabila terjadi perubahan. Yang
menganggu fungsi hutan yang berdampak negatif, misalnya: adanya pembalakan
liar (illegal logging) menyebabkan terjadinya hutan gundul, banjir, tanah lonsor,
kehidupan masyarakat terganggu akibat hutan yang jadi tumpuhan hidup dan
kehidupanya tidak berarti lagi serta kesulitan dalam memenuhi ekonominya.
Perubahan iklim adalah terjadinya perubahan kondisi atmosfer, seperti
suhu, cuaca yang menyebabkan suatu kondisi yang tidak menentu. Perubahan iklim
juga dapat dikatakan sebagai, keadaan dimana temperatur di bumi mengalami
kenaikan dan pergeseran musim. Aktivitas manusia merupakan penyebab utama
terjadinya perubahan iklim.
Ada banyak kejadian yang dapat menyebabkan perubahan iklim. Penyebab-
penyebab tersebut adalah :
1. Kehutanan
Dari tahun ke tahun luas hutan berkurang.
2. Pemanfaatan Energi Bahan Bakar Fosil
Penggunaan energi fosil seperti, minyak bumi, batu bara, dan gas alam
dalam berbagai kegiatan akan memicu bertambahnya emisi GRK di atmosfer.
3. Pertanian dan Peternakan
Sektor peternakan berperan mengemisikan GRK, hal tersebut dikarenakan
kotoran ternak yang membusuk akan melepaskan gas metana ke atmosfer.
Sektor pertanian juga terhadap meningkatnya emisi GRK, khususnya gas
metana (CH4) yang dihasilkan dari sawah yang tergenang.
4. Sampah
Diperkirakan 1 ton sampah padat menghasilkan sekitar 50 kg gas metana.
DAFTAR PUSTAKA
Pusat Penanggulangan Krisis (SETJEN – DEPKES)
Manajemen Bencana Berbasis Masyarakat: Hertanto,Heka. Media Indonesia ;2009
Modul ITB Strategi Hidup Wilayah Berpotensi Bencana: A.Sadisun,Imam
Modul 2.1 Perencanaan & Paradigma Management Bencana: Jonatan Lassa ;2007
Manajemen Bencana seputar bencana di Indonesia: Teguh Paripurno,eka ;2010.
Sumber dari Internet: http://id.shvoong.com/exact-sciences/earth-
sciences/1932953-manajemen-bencana/#ixzz1M6b10COy