Anda di halaman 1dari 7

1.

Pengertian Ijtihad
Kata ijtihad berasal dari kata ijtihaada-yajtahidu-ijtahada yang
berarti:”bersungguh-sungguh, rajin, giat”.
Kemudian dikalangan ulama, perkataan ijtihad ini khusus digunakan dalam
pengertian usaha yang sungguh-sungguh dari seorang ahli hukum syari’at. Jadi,
dengan demikian, ijtihad adalah perbuatan menggali hukum syar’iyyah dari dalil-
dalilnya yang terperinci dalam syari’at. Orang yang melakukan ijtihad
disebut mujtahid.
Secara terminologi, Ijtihad adalah pengerahan segala kesanggupan seorang
faqih (pakar hukum Islam) untuk memperoleh pengetahuan tentang hukum
sesuatu melalui dalil syara’ (agama), kenyataan menunjukkan bahwa ijtihad
dilakukan di berbagai bidang, yang mencakup aqidah, mu’amalah, politik,
tasawuf dan falsafat.
Adapun Ijtihad menurut para ulama:
a. Menurut Ibnu Hajib
Ijtihad adalah pengerahan segenap kemampuan yang dilakukan oleh seorang
ahli fiqih untuk mendapatkan suatu tahap dugaan kuat terhadap adanya
sebuah ketetapan syari’ah.
b. Menurut Dr.Wahbah Az-Zuahily
Beliau menyimpulkan bahwa ijtihad adalah upaya mengistimbatkan hukum -
hukum syara’ dari dalil-dalilnya secara rinci.
c. Menurut imam Al-Ghazali
Bahwa ijtihad lebih umum dari qiyas karena kadang kadang ijtihad melakukan
penalaran yang mendalam terhadap lafadz yang umum dan dalil-dalil selain
qiyas.
Imam Al-Ghazali mendefinisikan sebagai usaha sungguh-sungguh dari
seorang mujtahid dalam upaya mengetahui atau menetapkan hukum syari’at.
Dalam batasan lain dikatakan:
Artinya: “Ijtihad ialah mencurahkan seluruh kemampuan untuk menetapkan
hukum syara’ dengan jalan istinbat (mengeluarkan hukum) dari kitab dalam
sunnah”.

2. Hukum Ijtihad
Menurut Syeikh Muhammad Khudlari bahwa hukum jtihad itu dapat
dikelompokan menjadi:
a. Wajib ‘ain, yaitu bagi seseorang yang ditanyai tentang sesuatu masalah, dan
masalah itu akan hilang sebelum hukumnya diketahui. Atau ia sendiri juga
ingin mengetahui hukumnya.
b. Wajib kifayah, yaitu apabila seseorang ditanyai tentang sesuatu dan sesuatu
itu tidak hilang sebelum diketahui hukumnya, sedang selain dia masih ada
mujtahid lain. Apabila seorang mujtahid telah menyatakan dan menetapkan
hukum sesuatu tersebut, maka kewajiban mujtahid yang lain telah gugur.
Artinya ijtihad satu orang telah membebaskan beban kewajiban berijtihad.
Namun bila tak seorang pun mujtahid melakukan ijtihadnya, maka dosalah
semua mujtahid tersebut.
c. Sunnah, yaitu ijtihad terhadap suatu masalah atau peristiwa yang belum
terjadi.

3. Peranan ijtihad
Banyaknya masalah yang secara jelas belum ditentukan hukumnya baik dalam
Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Karenanya, islam memberikan peluang kepada
umatnya yang mempunyai kemampuan untuk melakukan ijtihad. Banyaknya Al-
Qur’an maupun As-Sunnah yang memberikan isyarat mengenai ijtihad ini, antara
lain:
Firman Allah swt:

Artinya:
“Sungguh, kami telah menurunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad)
membawa kebenaran, agar engkau mengadili antara manusia dengan apa yang
telah diajarkan Allah kepadamu” (QS. An-Nisa:105).
Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad saw menyatakan:

Artinya:
“Apabila seorang hakim menetapkan hukum dengan jalan ijtihad, kemudian ia benar,
maka ia mendapatkan dua pahala. Namun bila ia menetapkan hukum dengan jalan
ijtihad dan salah, maka ia mendapatkan satu pahala”.

ijtihad sebagai mana yang telah dijelaskan diatas mempuyai peranan yang sangat
penting dalam penetapan hukum suatu masalah yang tidak atau belum ada
hukumnya secara rinci dalam Al-Qur’an maupun As-Sunah. Tanpa ada ijtihad
banyak masalah yang dihadapi manusia tidak dapat dipecahkan karena tidak
diketemukan hukum dalam kedua sumber pokok tersebut. Dengan ijtihad masalah-
masalah yang belum ada hukumnya menjadi jelas status hukumnya. Seperti tentang
niat sholat, bahwa para ulam sepakat bahwa sholat tanpa niat tidak sah.

4. Syarat-syarat Bagi Mujtahid


Ijtihad itu tidak bisa dilakukan oleh setiap orang. Seseorang diperbolehkan
melakukan ijtihad bila syarat-syarat ijtihad dipenuhi. Syarat-syarat tersebut
terbagi menjadi tiga, yaitu syarat-syarat umum, khusus dan pelengkap.
a. Syarat umum
1) Balig
2) Berakal sehat
3) Memahami masalah
4) Beriman

b. Syarat khusus
1) Mengetahui ayat-ayat Al-Qur’an yang behubungan dengan masalah yang
dianalisis, yang dalam hal ini ayat-ayat ahkam, termasuk asbab nuzul,
musyatarak, dan sebagainya.
2) Mengetahui sunnah-sunnah Nabi yang berkaitan dengan masalah yang
dianalisis, mengetahui asbab al-wurud, dan dapat mengemukakan hadis-
hadis dari berbagai kitab hadis seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan
Abu Dawud, dan lain-lain.
3) Mengetahui maksud dan rahasia hukum islam, yaitu kemaslahatan hidup
manusia di dunia dan akherat
4) Mengetahui kaidah-kaidah kulliyah yaitu kaidah-kaidah yang dinisbatkan dari
dalil-dalil syara’.
5) Mengetahui kaidah-kaidah bahasa arab, yaitu nahwu, sharaf, balaghah, dan
sebagainya.
6) Mengetahui ilmu ushul fiqh, yang meliputi dalil-dalil syara’ dan cara-cara
mengistinbatkan hokum
7) Mengetahui ilmu mantiq.
8) Mengetahui penetapan hukum asal berdasarkan bara’ah ashliyah (semacam
praduga tak bersalah, praduga mubah dan sebagainya).
9) Mengetahui soal-soal ijma’, sehingga hukum yang ditetapkan tidak
bertentangan dengan ijma’.

C. Syarat-syarat pelengkap
1) Mengetahui bahwa tidak ada dalil qath’i yang berkaitan dengan masalah
yang akan ditetapkan hukumnya
2) Mengetahui masalah-masalah yang diperselisihkan oleh para ulama dan
yang akan mereka sepakati.
3) Mengetahui bahwa hasil ijtihad itu tidak bersifat mutlak.

5. Tingkat-tingkat Mujtahid
Tingkat ini sangat bergantung pada kemampuan, minat dan aktivitas yang ada
pada mujtahid itu sendiri. Secara umum tingkat mujtahid ini dapat dikelompokkan
menjadi:
a. Mujtahid Muthlaq atau Mustaqil, yaitu seorang mijtahid yang telah memenuhi
persyaratan ijtihad secara sempurna dan ia melakukan ijtihad dalam berbagai
hukum syara’, dengan tanpa terikat kepada madzhab apapun. Bahkan justru
dia menjadi pendiri madzhab, seperti Iman Hanafi, Syafi’I, Maliki, dan Ahmad bin
Hambal. Nama lain bagi mujtahid ini adalah mujtahid fard (perorangan).
b. Mujtahid Muntasib, yaitu mujtahid yang memiliki syarat-syarat ijtihad secara
sempurna, tetapi dalam melakukan ijtihad dia dia menggabungkan diri kepada
suatu madzhab dengan mengikuti jalan yang ditempuh oleh madzhab itu
sekalipun demikian, pendapatnya tidak mesti sama dengan pendapat imam
madzhab tersebut.
c. Mujtahid Fil Madzahib, yaitu mujtahid yang dalam ijtihad mengikuti kaidah
yang digunakan oleh imam madzhabnya, dan ia juga mengikuti imam
madzhab dalam masalah furu’. Terhadap masalah-masalah yang belum
ditetapkan hukumnya oleh imam madzhabnya, terkadang ia melakukan
ijtihadnya sendiri.
d. Mujtahid Murajjih, yaitu mujtahid yang dalam menetapkan hukum suatu
masalah berdasarkan kepada hasil tarjih (memilih yang lebih kuat) dari
pendapat pendapat imam-imam madzhabnya.

6. Kedudukan Ijtihad
Ijtihad sangat diperlukan sepanjang masa karena manusia terus berkembang
dan permasalahn pun semakin kompleks, sehingga perlu adanya tatanan hukum
yang sesuai dengan perkembangan zaman tetapi tetap mengacu kepada Al-
Qur’an dan As-Sunah. Tentang kedudukan hasil ijtihad dalam masalah fiqih
terdapat dua golongan yaitu:
a. Golongan pertama berpendapat bahwa tiap-tiap mujtahid adalah benar,
dengan alasan karena masalah tersebut Allah swt, tidak menentukan hukum
tertentu sebelum diijtihadkan.
b. Golongan kedua berpendapat bahwa yang benar itu hanya satu, yaitu hasil
ijtihad yang cocok jangkauannya dengan hukum.

B. Ijma’
1. Pengertian Ijma’
Ijma berarti sepakat, setuju atau sependapat. Sedangkan menurut istilah,yang
dimaksud dengan ijma’ adalah:
Artinya:
“kesamaan pendapat para mujtahid umat Nabi Muhammad saw. Setelah beliau
wafat, pada suatu masa tertentu, tentang masalah tertentu”.
Dari pengertian di atas dapatlah diketahui, bahwa kesepakatan orang-orang yang
bukan mujtahid, sekalipun mereka alim atau kesepakatn orang-orang yang semasa
Nabi. Tidaklah disebut ijma’.
Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah mujtahid yang setuju atau sepakat
senagai ijma’. Namun pendapat jumhur ijma’ itu disyaratkan setuju paham mujtahid
(ulama) yang pada masa itu. Tidak sah ijma’ jika salah seorang ulama dari mereka
yang hidup pada masa itu menyalahinya. Selain itu, ijma’ ini harus berdasarkan
kepada Al-Qur’an dan sunnah dan tidak boleh didasarkan kepada yang lain.
Contoh mengenai ijma’ antara lain ialah menjadikan sunnah sebagai salah satu
sumber hukum Islam. Semua mujtahid dan bahkan semua umat Islam sepakat
(ijma’) menetapkan sunnah sebagai salah satu sumber hukum islam. Contoh lain
ialah tentang pembukuan Al-Qur’an yang dilakukan pada khalifah Abu Bakar Ash-
Shiddiq.
Kesepakatan ulama ini dapat terjadi dalam tiga cara, yaitu:
a. Dengan ucapan (qauli), yaitu kesepakatan berdasarkan pendapat yang
dilakukan para mujtahid yang dilakukan salah dalam suatu masalah.
b. Dengan perbuatan (fi’li), yaitu kesepakatan para mujtahid dalam
mengamalkan sesuatu.
c. Dengan diam ( sukut), yaitu apabila tidak ada di antara mujtahid yang
membantah terhadap pendapat satu atau dua mujtahid lainnya dalam suatu
masalah.

2. Macam-macam ijma’
Dilihat dari sikap para mujtahid dalam mengemukakan pendapatnya, ijma terbagi
dua, yaitu:
a. Ijma’ sharih, yaitu: apabila semua mujtahid menyatakan persetujuannya atas
hukum yang mereka putuskan, dengan lisan maupun tulisan.
b. Ijma’ Syukuti. Yaitu: apabila sebagian mujtahid yang memutuskan hukum itu
tidak semuanya menyatakan setuju baik dengan lisan maupun tulisan, melainkan
mereka hanya diam.
Jumhur ulam a berpendapat bahwa ijma’ yang dijadikan landasan hukum adalah
ijma’ sharih, sedangkan ijma’ sukuti tidak.
Sedangkan dalam tatanan ilmu yang lebih luas lagi, ijma’ dibagi dalam beberapa
macam:
1) Ijma’ Ummah, yaitu kesepakatan seluruh mujtahid dalam suatu masalah pada
suatu masa tertentu.
2) Ijma’ Shahaby, yaitu kesepakatan semua ulama sahabat dalam suatu
masalah.
3) Ijma’ Ahli Madinah, yaitu kesepakatan ulama-ulama madinah dalam suatu
masalah.
4) Ijma’ Ahli Kufah, yaitu kesepakatan ulam-ulama Kufah dalam suatu masalah.
5) Ijma’ Khalifah yang Empat, yaitu kesepakatan empat khalifah (Abu Bakar,
Umar, Utsaman, dan Ali) dalam suatu masalah.
6) Ijma’ Syaikhani, yaitu kesepakatan pendapat antara Abu Bakar dan Umar bin
Khathab dalam suatu masalah
7) Ijma’ Ahli Bait, yaitu kesepakatan pendapat dari ahli bait (keluarga Rasul)
3. Kedudukan Ijma’ sebagai sumber hukum
Kebanyakan ulama menetapkan bahwa ijma’ dapat dijadikan hujjah dan sumber
hukum Islam dalam menetapkan sesuatu hukum dengan nilai kehujjahan bersifat
zhanny. Golongan Syi’ah memandang bahwa ijma’ ini sebagi hujjah yang harus
diamalkan. Sedangkan ulama-ulama Hanafi dapat menerima ijma’ sebagai dasar
hukum. Baik ijma’ qathiy maupun zhanny. Sedangkan ulama-ulama Syafi’iyah hanya
memegangi ijma’ qath’iy dalam menetepkan hukum.
Dalil penetapan ijma’ sebagai sumber hukum Islam ini antara lain: Firman Allah swt:

Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri
di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka
kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-
benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama
(bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. An-Nisa’ 59)

Menurut sebagian ulama bahwa yang dimaksud dengan ulil amri, yaitu mujtahid.
Sebagian ulama lain menafsirkannya dengan ulama.
Apabila mujtahid telah sepakat terhadap ketetapan hukum suatu peristiwa atau
masalah, maka mereka wajib ditaati oleh umat.
Hukum yamg disepakati itu adalah hasil pendapat mujtahid umat Islam, karenanya
pada hakikatnya hukum ini adalah hukum umat yang dibicarakan oleh mujtahid.
Ijma’ ini menepati tingkat ketiga sebagai hukum syar’i, yaitu setelah Al-Qur’an dan
As-sunah.
Dari pemahaman seperti ini, pada dasarnya ijma’ dapat dijadikan alternative dalam
menetapkan hukum sesuatu peristiwa yang di dalam Al-Qur’an dan As-sunah tidak
ada atau kurang jelas hukum.

4. Sebab-sebab dilakukan ijma’


Di antara sebab-sebab dilakukannya ijma’ adalah:
a. Karena adanya persoalan-persoalan yang harus dicarikan status hukumnya,
semantara di dalam nash Al-Qur’an dan As-sunah tidak ditemukan hukunya.
b. Karena nash baik yang berupa Al-Qur’an maupun As-sunah sudah tidak turun
lagi atau telah berhenti.
c. Karena pada masa itu jumlah mujtahid tidak terlalu banyak dan karenanya
mereka mudah dikoordinir untuk melakukan kesepakatan dalam menentukan status
hukum persoalan permasalahan yang timbul pada saat itu.
d. Di antara para mujtahid belum timbul perpecahan dan kalaulah ada
perselisihan pendapat masih mudah dipersatukan.

5. Contoh-contoh ijma’
a. Dikumpulakan dan dibukukannya nash Al-Qur’an sejak masa pemerintahan Abu
Bakar Ash-shiddiq adalah bentuk kesepakatan dari para ulama zaman sahabat. Ide
pengumpulan Al-Qur’an berasal dari Umar bin Khathab tapi kemudian Abu Bakar
Ash_Shiddiq mengumpulkan para ulama saat itu, sehingga terjadi perdebatan,
karana hal itu tidak ditetapkan oleh Rasulullah saw. Tetapi akhirnya para ulama
menyepakati untuk mengumpulkan dan membukukan Al-Qur’an.
b. Penetapan tanggal satu Ramadhan atau tanggal satu Syawwal harus disepakati
oleh para ulama di negerinya masing-masing berdasarkan ru’yatul hilal.
c. Nenek mendapatkan harta warisan 1/6 dari cucu jika tidak terhijab. Ketetapan
hukum ini berdasarkan ijma’ para sahabat, dan tidak ada yang membantahnya.