Anda di halaman 1dari 23

CORPORATE GOVERNANCE

RMK SAP 8
“Komite Audit dan Komite Lainnya: Peran, Tanggung Jawab, Komposisi,
Keefektifan, Kasus PT Kerata Api Indonesia”
Dosen Pengampu: Dr. A.A.G.P. Widanaputra, SE., M.Si., Ak.

KELOMPOK 4

Ida Ayu Bintang Gesa Putri 1506305128 / 10


I Dewa Gede Praditya Chandrayatna 1506305129 / 11
Ni Kadek Dwita Lestari 1506305132 / 12

EMA 469 (BP)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


PROGRAM STUDI AKUNTANSI
UNIVERSITAS UDAYANA
2017/2018

0
1. KOMITE AUDIT DAN KOMITE LAINNYA
1.1. Komite Audit
Komite audit di Indonesia masih merupakan hal yang relatif baru.
Perkembangan komite audit di negara kita, sangat terlambat dibandingkan dengan
negara lain. Hal tersebut antara lain disebabkan Pemerintah baru saja menetapkan
kebijakan tentang pemberlakuan komite audit pada Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) tertentu pada tahun 1999. Selain itu anjuran dari Bapepam kepada
perusahaan yang telah go publik agar memiliki komite audit baru ditetapkan pada
tahun 2000. Mengingat pentingnya keberadaan Komite Audit dalam meningkatkan
kinerja perusahaan, terutama dari aspek pengendalian, maka Komite Audit perlu
mendapatkan perhatian dari manajemen dan Dewan Komisaris serta pihak-pihak
terkait yang bertindak sebagai regulator seperti Menteri keuangan, Menteri BUMN,
Bapepam, Bursa Efek Jakarta & Bursa Efek Surabaya.

1.1.1. Peraturan Kementerian Keuangan Republik Indonesia Badan Pengawas


Pasar Modal Dan Lembaga Keuangan Nomor IX.I.5 tentang
Pembentukan Dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit

1. Ketentuan Umum
a. Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:
1) Komite Audit adalah komite yang dibentuk oleh dan bertanggung
jawab kepada Dewan Komisaris dalam membantu melaksanakan
tugas dan fungsi Dewan Komisaris.
2) Komisaris Independen adalah anggota Dewan Komisaris yang
berasal dari luar Emiten atau Perusahaan Publik dan memenuhi
persyaratan sebagaimana dimaksud dalam angka 2 huruf c.
b. Emiten atau Perusahaan Publik wajib memiliki Komite Audit.
c. Komite Audit bertindak secara independen dalam melaksanakan tugas
dan tanggung jawabnya.
d. Anggota Komite Audit diangkat dan diberhentikan oleh Dewan
Komisaris.
e. Emiten atau Perusahaan Publik wajib memiliki piagam Komite Audit
(audit committee charter).
f. Piagam Komite Audit (audit committee charter) paling kurang
memuat:
1) tugas dan tanggung jawab serta wewenang;
2) komposisi, struktur, dan persyaratan keanggotaan;

1
3) tata cara dan prosedur kerja;
4) kebijakan penyelenggaraan rapat;
5) sistem pelaporan kegiatan;
6) ketentuan mengenai penanganan pengaduan atau pelaporan
7) sehubungan dugaan pelanggaran terkait pelaporan keuangan; dan
8) masa tugas Komite Audit.
g. Piagam Komite Audit (audit committee charter) sebagaimana
dimaksud dalam huruf f wajib dimuat dalam laman (website) Emiten
atau Perusahaan Publik.
2. Struktur dan Keanggotaan Komite Audit
a. Komite Audit paling kurang terdiri dari 3 (tiga) orang anggota yang
berasal dari Komisaris Independen dan Pihak dari luar Emiten atau
Perusahaan Publik.
b. Komite Audit diketuai oleh Komisaris Independen.
c. Komisaris Independen wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1) Bukan merupakan orang yang bekerja atau mempunyai wewenang
dan tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin,
mengendalikan, atau mengawasi kegiatan Emiten atau Perusahaan
Publik tersebut dalam waktu 6 (enam) bulan terakhir;
2) Tidak mempunyai saham baik langsung maupun tidak langsung
pada Emiten atau Perusahaan Publik tersebut;
3) Tidak mempunyai hubungan Afiliasi dengan Emiten atau
Perusahaan Publik, anggota Dewan Komisaris, anggota Direksi, atau
Pemegang Saham Utama Emiten atau Perusahaan Publik tersebut;
dan
4) Tidak mempunyai hubungan usaha baik langsung maupun tidak
langsung yang berkaitan dengan kegiatan usaha Emiten atau
Perusahaan Publik tersebut.

3. Persyaratan Keanggotaan Komite Audit


a. Wajib memiliki integritas yang tinggi, kemampuan, pengetahuan,
pengalaman sesuai dengan bidang pekerjaannya, serta mampu
berkomunikasi dengan baik;
b. Wajib memahami laporan keuangan, bisnis perusahaan khususnya yang
terkait dengan layanan jasa atau kegiatan usaha Emiten atau
Perusahaan Publik, proses audit, manajemen risiko, dan peraturan
perundang-undangan di bidang Pasar Modal serta peraturan perundang-
undangan terkait lainnya;

2
c. Wajib mematuhi kode etik Komite Audit yang ditetapkan oleh Emiten
atau Perusahaan Publik;
d. Bersedia meningkatkan kompetensi secara terus menerus melalui
pendidikan dan pelatihan;
e. Wajib memiliki paling kurang satu anggota yang berlatar belakang
pendidikan dan keahlian di bidang akuntansi dan/atau keuangan;
f. Bukan merupakan orang dalam Kantor Akuntan Publik, Kantor
Konsultan Hukum, Kantor Jasa Penilai Publik atau pihak lain yang
memberi jasa assurance, jasa non-assurance, jasa penilai dan/atau jasa
konsultasi lain kepada Emiten atau Perusahaan Publik yang
bersangkutan dalam waktu 6 (enam) bulan terakhir;
g. Bukan merupakan orang yang bekerja atau mempunyai wewenang dan
tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin, mengendalikan, atau
mengawasi kegiatan Emiten atau Perusahaan Publik tersebut dalam
waktu 6 (enam) bulan terakhir kecuali Komisaris Independen;
h. Tidak mempunyai saham langsung maupun tidak langsung pada
Emiten atau Perusahaan Publik;
i. Dalam hal anggota Komite Audit memperoleh saham Emiten atau
Perusahaan Publik baik langsung maupun tidak langsung akibat suatu
peristiwa hukum, maka saham tersebut wajib dialihkan kepada pihak
lain dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan setelah
diperolehnya saham tersebut.
j. Tidak mempunyai hubungan Afiliasi dengan anggota Dewan
Komisaris, anggota Direksi, atau Pemegang Saham Utama Emiten atau
Perusahaan Publik tersebut; dan
k. Tidak mempunyai hubungan usaha baik langsung maupun tidak
langsung yang berkaitan dengan kegiatan usaha Emiten atau
Perusahaan Publik tersebut.
4. Masa Tugas
Masa tugas anggota Komite Audit tidak boleh lebih lama dari masa
jabatan Dewan Komisaris sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar dan
dapat dipilih kembali hanya untuk satu periode berikutnya.
5. Tugas dan Tanggung Jawab Komite Audit
a. Melakukan penelaahan atas informasi keuangan yang akan dikeluarkan
Emiten atau Perusahaan Publik kepada publik dan/atau pihak otoritas
antara lain laporan keuangan, proyeksi, dan laporan lainnya terkait
dengan informasi keuangan Emiten atau Perusahaan Publik;

3
b. Melakukan penelaahan atas ketaatan terhadap peraturan
perundangundangan yang berhubungan dengan kegiatan Emiten atau
Perusahaan Publik;
c. Memberikan pendapat independen dalam hal terjadi perbedaan
pendapat antara manajemen dan Akuntan atas jasa yang diberikannya;
d. Memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris mengenai
penunjukan Akuntan yang didasarkan pada independensi, ruang
lingkup penugasan, dan fee;
e. Melakukan penelaahan atas pelaksanaan pemeriksaan oleh auditor
internal dan mengawasi pelaksanaan tindak lanjut oleh Direksi atas
temuan auditor internal;
f. Melakukan penelaahan terhadap aktivitas pelaksanaan manajemen
risiko yang dilakukan oleh Direksi, jika Emiten atau Perusahaan Publik
tidak memiliki fungsi pemantau risiko di bawah Dewan Komisaris;
g. Menelaah pengaduan yang berkaitan dengan proses akuntansi dan
pelaporan keuangan Emiten atau Perusahaan Publik;
h. Menelaah dan memberikan saran kepada Dewan Komisaris terkait
dengan adanya potensi benturan kepentingan Emiten atau Perusahaan
Publik; dan
i. Menjaga kerahasiaan dokumen, data dan informasi Emiten atau
Perusahaan Publik.

6. Wewenang Komite Audit


a. Mengakses dokumen, data, dan informasi Emiten atau Perusahaan
Publik tentang karyawan, dana, aset, dan sumber daya perusahaan yang
diperlukan;
b. Berkomunikasi langsung dengan karyawan, termasuk Direksi dan
pihak yang menjalankan fungsi audit internal, manajemen risiko, dan
Akuntan terkait tugas dan tanggung jawab Komite Audit;
c. Melibatkan pihak independen di luar anggota Komite Audit yang
diperlukan untuk membantu pelaksanaan tugasnya (jika diperlukan);
dan
d. Melakukan kewenangan lain yang diberikan oleh Dewan Komisaris.
7. Rapat Komite Audit
a. Komite Audit mengadakan rapat secara berkala paling kurang satu kali
dalam 3 (tiga) bulan.
b. Rapat Komite Audit hanya dapat dilaksanakan apabila dihadiri oleh
lebih dari 1/2 (satu per dua) jumlah anggota.

4
c. Keputusan rapat Komite Audit diambil berdasarkan musyawarah
untukmufakat.
d. Setiap rapat Komite Audit dituangkan dalam risalah rapat, termasuk
apabila terdapat perbedaan pendapat (dissenting opinions), yang
ditandatangani oleh seluruh anggota Komite Audit yang hadir dan
disampaikan kepada Dewan Komisaris.
8. Pelaporan
a. Komite Audit wajib membuat laporan kepada Dewan Komisaris atas
setiap penugasan yang diberikan.
b. Komite Audit wajib membuat laporan tahunan pelaksanaan kegiatan
Komite Audit yang diungkapkan dalam Laporan Tahunan Emiten atau
Perusahaan Publik.
c. Emiten atau Perusahaan Publik wajib menyampaikan kepada Bapepam
dan LK informasi mengenai pengangkatan dan pemberhentian Komite
Audit dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) hari kerja setelah
pengangkatan atau pemberhentian.
d. Informasi mengenai pengangkatan dan pemberhentian sebagaimana
dimaksud dalam huruf c wajib dimuat dalam laman (website) bursa
dan/atau laman (website) Emiten atau Perusahaan Publik.
9. Dengan tidak mengurangi ketentuan pidana di bidang Pasar Modal,
Bapepam dan LK berwenang mengenakan sanksi terhadap setiap
pelanggaran ketentuan peraturan ini, termasuk pihak-pihak yang
menyebabkan terjadinya pelanggaran tersebut. Komite audit menurut
Pedoman Good Corporate Governance antara lain bertugas untuk:
a. Mendorong terbentuknya struktur pengawasan internal yang memadai;
b. Meningkatkan kualitas keterbukaan dan pelaporan keuangan;
c. Mengkaji ruang lingkup dan ketepatan external audit, ketepatan biaya
external audit serta kemandirian dan objektivitas external auditor;
d. Mempersiapkan surat (yang ditandatangani oleh ketua Komite Audit)
yang menguraikan tugas dan tanggung jawab Komite Audit selama
tahun buku yang sedang diperiksa oleh external auditor, surat tersebut
harus disertakan dalam laporan tahunan yang disampingkan kepada
pemegang saham

1.2. Komite Lainnya


1.2.1. Komite Lainnya Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance
(KNKG)
1. Komite Nominasi dan Remunerasi

5
a. Komite Nominasi dan Remunerasi bertugas membantu Dewan
Komisaris dalam menetapkan kriteria pemilihan calon anggota Dewan
Komisaris dan Direksi serta sistem remunerasinya;
b. Komite Nominasi dan Remunerasi bertugas membantu Dewan
Komisaris dalam mempersiapkan calon anggota Dewan Komisaris dan
Direksi dan mengusulkan besaran remunerasinya. Dewan Komisaris
dapat mengajukan calon tersebut dan remunerasinya untuk memperoleh
keputusan RUPS dengan cara sesuai ketentuan Anggaran Dasar. Bagi
perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa efek, perusahaan negara,
perusahaan daerah, perusahaan yang menghimpun dan mengelola dana
masyarakat, perusahaan yang produk atau jasanya digunakan oleh
masyarakat luas, serta perusahaan yang mempunyai dampak luas
terhadap kelestarian lingkungan;
c. Komite Nominasi dan Remunerasi diketuai oleh Komisaris Independen
dan anggotanya dapat terdiri dari Komisaris dan atau pelaku profesi
dari luar perusahaan.
d. Keberadaan Komite Nominasi dan Remunerasi serta tata kerjanya
dilaporkan dalam RUPS.
2. Komite Kebijakan Risiko
a. Komite Kebijakan Risiko bertugas membantu Dewan Komisaris dalam
mengkaji sistem manajemen risiko yang disusun oleh Direksi serta
menilai toleransi risiko yang dapat diambil oleh perusahaan;
b. Anggota Komite Kebijakan Risiko terdiri dari anggota Dewan
Komisaris, namun bilamana perlu dapat juga menunjuk pelaku profesi
dari luar perusahaan.
3. Komite Kebijakan Corporate Governance
a. Komite Kebijakan Corporate Governance bertugas membantu Dewan
Komisaris dalam mengkaji kebijakan GCG secara menyeluruh yang
disusun oleh Direksi serta menilai konsistensi penerapannya, termasuk
yang bertalian dengan etika bisnis dan tanggung jawab sosial
perusahaan (corporate social responsibility);
b. Anggota Komite Kebijakan Corporate Governance terdiri dari anggota
Dewan Komisaris, namun bilamana perlu dapat juga menunjuk pelaku
profesi dari luar perusahaan;
c. Bila dipandang perlu, Komite Kebijakan Corporate Governance dapat
digabung dengan Komite Nominasi dan Remunerasi

6
1.2.2. Komite-Komite Lainnya Di BUMN
Berdasarkan pasal 70 UU No. 17 tahun 2003 tentang BUMN antara lain
disebutkan bahwa komisaris dan dewan pengawas BUMN wajib membentuk
komite audit yang bekerja secara kolektif dan berfungsi membantu komisaris
dan dewan pengawas dalam melaksanakan tugasnya. Selain komite audit,
komisaris atau dewan pengawas dapat membentuk komite lain yang ditetapkan
oleh menteri. Sesuai penjelasan pasal 70 UU BUMN, komite lain yang
dimaksud disini, yaitu komite remunerasi dan komite nominasi.

1.2.3. Komite-Komite Lainnya di Perbankan


Bank Indonesia melalui surat edaran kepada semua bank umum
konvensional di Indonesia No 15/15/DPNP tangal 29 april 2013 mengenai
pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum, pada bagian IV
komite, menyebutkan bahwa dewan komesaris wajib membentuk susunan
organisasi setidaknya komite audit, komite pemantau risiko, serta komite
remunerasi dan nominasi, dalam rangka mendukung efektivitas tugas dan
tanggung jawab dewan komesaris.

1.2.4. Komite Komite Lainnya di Perusahaan Publik


Berdasarkan peraturan OJK No.34/POJK.04/2014 tanggal 8 Desember
2014 tentang Komite Nominasi dan remunerasi emiten atau perusahaan public,
antara lain menyebutkan :
1) Pasal 1 ayat 1, yang dimaksud dengan komite nominasi dan remunerasi
adalah komite yang dibentuk oleh dan bertanggung jawab kepada dewan
komesaris dalam membantu melaksanakan fungsi dan tugas dewan
komesaris dalam membantu melaksanakan fungsi dan tugas dewan
komesaris terkait nominasi dan remunerasi terhadap anggota dewan
komesaris.
2) Pasal 2, emiten atau perusahaan public wajib memiliki fungsi nominasi dan
remunerasi yang wajib dilaksanakan oleh dewan komesaris. Komite
nominasi dan remunerasi dapat dibentuk secara terpisah.
3) Mengenai keanggotaan diatur dalam pasal 3,yaitu komite nominasi dan
remunerasi paling kurang terdiri dari 3 orang anggota dengan ketentuan :
a) Satu orang ketua merangkap anggota yang merupakan komesaris
independen,dan;
b) Anggota lainnya yang dapat berasal dari :
1. Anggota dewan komesaris

7
2. Pihak yang berasal dari luar emiten atau perusahan public yang
bersangkutan ;atau
3. Pihak yang menduduki jabatan manajerial di bawah direksi
yang membidangi sumber daya manusia.

4) Pasal 8, komite nominasi dan remunerasi mempunyai tugas dan tanggung


jawab paling kurang :
a) Terkait dengan fungsi nominasi :
1) Memberikan rekomendasi kepada dewan komesaris mengenai:
a. Komposisi jabatan anggota direksi dan atau anggota dewan
komesaris
b. Kebijakan dan kreteria yang dibutuhkan dalam proses
nominasi; dan
c. Kebijakan evaluasi kinerja bagi anggota direksi dan atau
anggota dewan komesaris
2) Membantu dewan komesaris melakukan penilaian kinerja dewan
direksi dan atau anggota dewan komesaris berdasarkan tolok ukur
yang telah disusun sebagai bahan evaluasi.
3) Memberikan rekomendasi kepada dewan komesaris mengenai
program pembangunan kemampuan anggota direksi dan atau
anggota dewan komesaris; dan
4) Meberikan usulan calon yang memenuhi syarat sebagai anggota
direksi dan atau anggota dewan komesaris kepada dewan
komesaris untuk disampaikan kepada RUPS.
b) Terkait dengan fungsi remunerasi :
1) Memberikan rekomendasi kepada dewan komesaris mengenai :
a. Struktur remunerasi
b. Kebijakan atas remunerasi; dan
c. Besaran atas remunerasi
2) Membantu dewan komesaris melakukanpenilaian kinerja dengan
kesesuaian remunerasi yang diterima masing masing anggota
direksi dan atau anggota dewan komesaris.
2. PERANAN KOMITE AUDIT
Menurut FCGI, peran komite audit adalah untuk mengawasi dan memberi masukan
kepada dewan komisaris dalam hal terciptanya mekanisme pengawasan. Komite audit
memberikan pendapat kepada dewan komisaris terhadap laporan atau hal-hal yang
disampaikan oleh direksi kepada dewan komisaris, mengidentifikasi hal-hal yang
memerlukan perhatian komisaris, dan melaksanakan tugas-tugas lain yang berkaitan dengan
tugas dewan komisaris.

8
3. TANGGUNG JAWAB KOMITE AUDIT
Jenis tugas dan tanggung jawab Komite Audit yang diangkat sebuah perusahaan yang
satu tidak pernah sama persis dengan perusahaan yang lain. Hal itu disebabkan karena adanya
perbedaan skala, jenis usaha, kebutuhan dan domisili masing-masing perusahaan. Walaupun
demikian tugas dan tanggung jawab Komite Audit tidak boleh menyimpang dari tugas dan
tanggung jawab Board of Directors.
Dalam kaitannya dengan penugasan external auditor oleh perusahaan, The ASX
Corporate Governance Council menyatakan komite audit mempunyai tugas khusus, sebagai
berikut :
a. Mengungkapkan dalam laporan tahunan perusahaan, apakah jasa non-audit yang
diberikan perusahan akuntan publik yang mengaudit laporan keuangan perusahaan
telah mempengaruhi independensi mereka
b. Memberikan rekomendasi kepada Boards of Directors dalam pengangkatan,
penggantian, remunerasi dan memonitor efektifitas dan independensi auditor
c. Menentukan ruang lingkup eksternal auditor dan meninjau jangka waktu kontrak
dengan mereka
d. Mempelajari ketidaksamaan pendapat yang substansial antara manajemen
perusahaan dan auditor
e. Memonitor independensi karyawan dalam perusahaan
f. Meneliti apakah berbagai macam hubungan bisnis antara perusahaan dengan
eksternal auditor dapat mempengaruhi independensi auditor dalam mengemukakan
pendapat mereka
g. Paling sedikit sekali setahun menyelenggarakan rapat dengan eksternal auditor,
tanpa dihadiri manajemen perusahaan
Dewan Audit diatur berdasarkan Surat Keputusan Bank Indonesia No.
27/163/KEP/DIR/1995 tanggal 31 Maret 1995 dan Surat Edaran Bank Indonesia No.
27/8/UPPB/1995 tanggal 31 Maret 1995. Menurut ketentuan tersebut Dewan Audit dalam
perbankan memiliki 6 (enam) tanggung jawab sebagai berikut :
a. Menyetujui Internal Audit Charter, menanggapi rencana audit intern dan masalah-
masalah yang ditemukan oleh Auditor Intern serta menentukan pemeriksaan khusus
oleh Satuan Kerja Audit Intern (SKAI) apabila terdapat dugaan terjadinya
kecurangan, penyimpangan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
b. Mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam hal audit tidak
menindaklanjuti laporan Kepala SKAI.
9
c. Memastikan bahwa laporan-laporan yang disampaikan kepada Bank Indonesia
serta Instansi lain yang berkepentingan telah dilakukan dengan benar dan tepat
waktu. Selain itu, Bank juga mematuhi ketentuan dan perundang-undangan yang
berlaku.
d. Memastikan bahwa manajemen menjamin baik auditor ekstern maupun intern
dapat bekerja sama dengan standar auditing yang berlaku.
e. Memastikan bahwa manajemen telah menjalankan usahanya sesuai prinsip
pengelolaan bank secara sehat.
f. Efektivitas pelaksanaan fungsi SKAI. Seperti halnya komite audit di perusahaan.
4. KOMPOSISI KEANGGOTAAN KOMITE AUDIT
Komite Audit biasanya terdiri dari dua hingga tiga orang anggota. Dipimpin oleh
seorang Komisaris Independen. Seperti komite pada umumnya, Komite audit yang
beranggotakan sedikit cenderung dapat bertindak lebih efisien. Akan tetapi, Komite Audit
beranggota terlalu sedikit juga menyimpan kelemahan yakni minimnya ragam pengalaman
anggota. Sedapat mungkin anggota Komite Audit memiliki pemahaman memadai tentang
pembuatan laporan keuangan dan prinsip-prinsip pengawasan internal.
Agar mampu bekerja efektif, Komite Audit dibantu staff perusahaan dan auditor
eksternal. Komite juga harus memiliki akses langsung kepada stand dan penasehat
perusahaan seperti keuangan dan penasehat hukum. Keberadaan Komite Audit diatur melalui
Surat Edaran Bapepam Nomor: SE/03 PM/2002 (bagi perusahaan publik) dan keputusan
Menteri BUMN Nomor: Kep-103/MBU/2002 (Bagi BUMN) Komite Audit sedikitnya terdiri
dari tiga orang, diketuai oleh seorang Komisaris Independen perusahaan dengan dua orang
eksternal yang independen serta menguasai dan memiliki latar belakang akuntansi dan
keuangan.
5. EFEKTIVITAS KERJA KOMITE AUDIT
Meskipun komite audit pada saat ini telah diakui keberadaannya hampir disemua
perusahaan di negara maju, terutama di Amerika Serikat, Inggris dan Kanada. Sampai saat ini
belum ada kesepakatan mengenai tolak ukur dari keberhasilan atau keefektiviitasan komite
audit.
Komite audit dapat melakukan sinergi dengan audit internal untuk lebih meningkatkan
system pengendalian internal perusahaan. Apabila terdapat dugaan penyimpangan atau
kecurangan di perusahaan yang melibatkan direksi perusahaan, maka komisaris dapat
menugaskan komite audit untuk melakukan audit khusus (fraud audit). Dalam hal ini, komite
audit dapat meminta bantuan pihak eksternal (outsourcing) untuk melakukan audit investiatif
(investigative audit) atau audit forensic (forensic audit) guna mengungkap terjadinya praktik
kecurangan yang signifikan di perusahaan.

10
Kalbers dan Fogarty (1993) telah melakukan penelitian mengenai factor-faktor yang
mempengaruhi efektivitas kerja komite audit. Hasil penelitian mereka yang dimuat dalam
Auditing a journal of practice & theory berjudul “Audit Committee Effectiveness : An
Empirical Investigation Of The Contribution Of Power” antara lain mengungkapkan bahwa
terdapat tiga factor dominan yang berpengaruh terhadap keberhasilan komite audit dalam
mengemban tugasnya. Ketiga faktor itu adalah kewenangan formal dan tertulis dari komite
audit, kerjasama mnajemen, dan kualitas (kompetensi) anggota komite audit. Selain itu,
efektivitas kerja komite audit juga sangat dipengaruhi oleh pola hubungan (relationship) dan
tingkat intensitas komunikasi antara komite audiot dengan berbagai pihak.

KASUS PT KERETA API INDONESIA (PT KAI)


1. PROFIL PT KERTA API INDONESIA (PT KAI)
11
PT Kereta Api Indonesia (Persero), selanjutnya disebut sebagai KAI atau ‘Perusahaan’
adalah Badan Usaha Milik Negara yang menyediakan, mengatur, dan mengurus jasa
angkutan kereta api di Indonesia. KAI didirikan sesuai dengan akta tanggal 1 Juni 1999 No. 2
yang dibuat dihadapan Imas Fatimah, S.H., Sp.N., Notaris di Jakarta, dan kemudian
diperbaiki kembali sesuai dengan akta tanggal 13 September 1999 No. 14. Akta pendirian
tersebut telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia melalui
Surat Keputusan tanggal 1 Oktober 1999 No. C-17171 HT.01.01.TH.99 dan telah diumumkan
dalam Berita Negara Republik Indonesia tanggal 14 Januari 2000 No. 4 Tambahan No.
240/2000.
Riwayat KAI dibagi menjadi tiga periode, yaitu (1) masa kolonial, (2) sebagai lembaga
pelayanan publik, dan (3) sebagai perusahaan jasa.
Pada masa kolonial, industri perkeretaapian dimulai pada tahun 1864 ketika Namlooze
Venootschap Nederlanche Indische Spoorweg Maatschappij memprakarsai pembangunan
jalan kereta api dari Semarang ke Surakarta, Jawa Tengah. Sejak itu tiga perusahaan lain
berinvestasi membangun jalurjalur kereta api di dalam dan luar Pulau Jawa. Perusahaan yang
terlibat dalam industri kereta api zaman kolonial adalah Staat Spoorwegen, Verenigde
Spoorwegenbedrifj, dan Deli Spoorwegen Maatscappij.
Periode sebagai lembaga pelayanan publik bermula pada masa awal kemerdekaan
Indonesia, yaitu pada tanggal 25 Mei 1963 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun
1963, pemerintah Republik Indonesia membentuk Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA).
Pada 15 September 1997 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 61 Tahun 1971, PNKA
diubah menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA). Dengan status sebagai Perusahaan
Negara dan Perusahaan Jawatan, KAI saat itu beroperasi melayani masyarakat dengan dana
subsidi dari pemerintah.
Babak baru pengelolaan KAI dimulai ketika PJKA berubah menjadi Perusahaan Umum
Kereta Api (Perumka) berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 1990. Dengan status

12
barunya sebagai perusahaan umum, Perumka berupaya untuk mendapatkan laba dari jasa
yang disediakannya. Untuk jasa layanan penumpang, Perumka menawarkan tiga kelas
layanan, yaitu kelas eksekutif, bisnis, dan ekonomi.
Pada tanggal 31 Juli 1995 Perumka meluncurkan layanan kereta api penumpang kelas
eksekutif dengan merek Kereta Api Argo Bromo JS-950 dan dikembangkan menjadi Kereta
Api (KA) Argo Bromo Anggrek yang dioperasikan sejak tanggal 24 September 1997.
Pengoperasian KA Argo Bromo Anggrek mengawali pengembangan KA merek Argo lainnya,
seperti KA Argo Lawu, KA Argo Mulia, dan KA Argo Parahyangan. Untuk mendorong
Perumka menjadi perusahaan bisnis jasa, pada tanggal 3 Februari 1998 pemerintah
menetapkan pengalihan bentuk Perusahaan Umum (Perum) Kereta Api menjadi Perusahaan
Perseroan (Persero) berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1998. Dengan status
barunya, KAI beroperasi sebagai lembaga bisnis yang berorientasi laba. Untuk tetap
menjalankan sebagian misinya sebagai organisasi pelayanan publik, pemerintah menyediakan
dana Public Service Obligation (PSO).
KAI pada awalnya hanya melaksanakan kegiatan usaha layanan jasa perkeretaapian,
namun seiring dengan dinamika dunia usaha dan berkembangnya tuntutan pasar, KAI saat ini
juga melaksanakan kegiatan usaha penunjang lainnya dengan memanfaatkan sumber daya
yang dimilikinya. Yaitu meliputi antara lain pengelolaan properti yang terkait dengan jasa
kereta api, pariwisata berbasis kereta api, restoran di kereta api (on train services) dan di
stasiun, termasuk jasa catering dan distribusi logistik. Dalam menjalankan bisnisnya, KAI
terus berupaya menerapkan standar terbaik di bidangnya berdasarkan sistem manjemen yang
berlaku.
2. LATAR BELAKANG KASUS
PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) terdeteksi adanya kecurangan dalam penyajian
laporan keuangan. Ini merupakan suatu bentuk penipuan yang dapat menyesatkan investor
dan stakeholder lainnya. Kasus ini juga berkaitan dengan masalah pelanggaran kode etik
profesi akuntansi. Diduga terjadi manipulasi data dalam laporan keuangan PT KAI tahun
2005, perusahaan BUMN itu dicatat meraih keutungan sebesar Rp6,9 Miliar. Padahal apabila
diteliti dan dikaji lebih rinci, perusahaan justru menderita kerugian sebesar Rp63 Miliar.
Komisaris PT KAI Hekinus Manao yang juga sebagai Direktur Informasi dan
Akuntansi Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara Departemen Keuangan mengatakan,
laporan keuangan itu telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik S. Manan. Audit terhadap
laporan keuangan PT KAI untuk tahun 2003 dan tahun-tahun sebelumnya dilakukan oleh
Badan Pemeriksan Keuangan (BPK), sedangkan untuk tahun 2004 diaudit oleh BPK dan
13
akuntan publik.
Hasil audit tersebut kemudian diserahkan Direksi PT KAI untuk disetujui sebelum
disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham, dan Komisaris PT KAI yaitu Hekinus
Manao menolak menyetujui laporan keuangan PT KAI tahun 2005 yang telah diaudit oleh
akuntan publik. Setelah hasil audit diteliti dengan seksama, ditemukan adanya kejanggalan
dari laporan keuangan PT KAI tahun 2005 sebagai berikut:
1. Pajak pihak ketiga sudah tiga tahun tidak pernah ditagih, tetapi dalam laporan keuangan
itu dimasukkan sebagai pendapatan PT KAI selama tahun 2005. Kewajiban PT KAI
untuk membayar surat ketetapan pajak (SKP) pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar
Rp 95,2 Miliar yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak pada akhir tahun 2003
disajikan dalam laporan keuangan sebagai piutang atau tagihan kepada beberapa
pelanggan yang seharusnya menanggung beban pajak itu. Padahal berdasarkan Standar
Akuntansi, pajak pihak ketiga yang tidak pernah ditagih itu tidak bisa dimasukkan
sebagai aset. Di PT KAI ada kekeliruan direksi dalam mencatat penerimaan perusahaan
selama tahun 2005.
2. Penurunan nilai persediaan suku cadang dan perlengkapan sebesar Rp24 Miliar yang
diketahui pada saat dilakukan inventarisasi tahun 2002 diakui manajemen PT KAI
sebagai kerugian secara bertahap selama lima tahun. Pad akhir tahun 2005 masih
tersisa saldo penurunan nilai yang belum dibebankan sebagai kerugian sebesar Rp6
Miliar, yang seharusnya dibebankan seluruhnya dalam tahun 2005.
3. Bantuan pemerintah yang belum ditentukan statusnya dengan modal total nilai kumulatif
sebesar Rp674,5 Miliar dan penyertaan modal negara sebesar Rp70 Miliar oleh
manajemen PT KAI disajikan dalam neraca per 31 Desember 2005 sebagai bagian dari
hutang.
4. Manajemen PT KAI tidak melakukan pencadangan kerugian terhadap kemungkinan
tidak tertagihnya kewajiban pajak yang seharusnya telah dibebankan kepada pelanggan
pada saat jasa angkutannya diberikan PT KAI tahun 1998 sampai 2003.
Perbedaan pendapat terhadap laporan keuangan antara Komisaris dan auditor akuntan
publik terjadi karena PT KAI tidak memiliki tata kelola perusahaan yang baik. Ketiadaan tata
kelola yang baik itu juga membuat komite audit (komisaris) PT KAI baru bisa mengakses
laporan keuangan setelah diaudit akuntan publik. Akuntan publik yang telah mengaudit
laporan keuangan PT KAI tahun 2005 segera diperiksa oleh Badan Peradilan Profesi Akuntan
Publik. Jika terbukti bersalah, akuntan publik itu diberi sanksi teguran atau pencabutan izin
praktik.
14
Kasus PT KAI berawal dari pembukuan yang tidak sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan. Sebagai akuntan sudah selayaknya menguasai prinsip akuntansi berterima umum
sebagai salah satu penerapan etika profesi. Kesalahan karena tidak menguasai prinsip
akuntansi berterima umum bisa menyebabkan masalah yang sangat menyesatkan.
Laporan Keuangan PT KAI tahun 2005 disinyalir telah dimanipulasi oleh pihak-pihak
tertentu. Banyak terdapat kejanggalan dalam laporan keuangannya. Beberapa data disajikan
tidak sesuai dengan standar akuntansi keuangan. Hal ini mungkin sudah biasa terjadi dan
masih bisa diperbaiki. Namun, yang menjadi permasalahan adalah pihak auditor menyatakan
Laporan Keuangan itu Wajar Tanpa Pengecualian. Tidak ada penyimpangan dari standar
akuntansi keuangan. Hal ini lah yang patut dipertanyakan.
Dari informasi yang didapat, sejak tahun 2004 laporan PT KAI diaudit oleh Kantor
Akuntan Publik. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang melibatkan BPK sebagai
auditor perusahaan kereta api tersebut. Hal itu menimbulkan dugaan kalau Kantor Akuntan
Publik yang mengaudit Laporan Keuangan PT KAI melakukan kesalahan.
Profesi Akuntan menuntut profesionalisme, netralitas, dan kejujuran. Kepercayaan
masyarakat terhadap kinerjanya tentu harus diapresiasi dengan baik oleh para akuntan. Etika
profesi yang disepakati harus dijunjung tinggi. Hal itu penting karena ada keterkaitan kinerja
akuntan dengan kepentingan dari berbagai pihak. Banyak pihak membutuhkan jasa akuntan.
Pemerintah, kreditor, masyarakat perlu mengetahui kinerja suatu entitas guna mengetahui
prospek ke depan. Yang Jelas segala bentuk penyelewengan yang dilakukan oleh akuntan
harus mendapat perhatian khusus. Tindakan tegas perlu dilakukan.
3. PEMBAHASAN KASUS
Kasus di atas merupakan Kasus Manipulasi Laporan Keuangan PT KAI yang dilakukan
oleh Manajemen PT KAI dan ketidakmampuan KAP dalam mengindikasi terjadinya
manipulasi.

3.1. Analisis 5 Question Approach


1) Profitable
a) Pihak yang diuntungkan adalah Manajemen PT KAI karena kinerja keuangan
perusahaan seolah-olah baik (laba Rp6.9 M), meskipun pada kenyataannya
menderita kerugian Rp 63 M. Tidak tertutup kemungkinan, pihak manajemen
memperoleh bonus dari “laba semu” tersebut.
b) Pihak lain yang diuntungkan adalah KAP S. Manan & Rekan, dimana
dimungkinkan memperoleh Fee khusus karena memberikan opini Wajar Tanpa
Pengecualian.
2) Legal

15
a) PT KAI melanggar Pasal 90 UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal “Dalam
kegiatan perdagangan efek, setiap pihak dilarang secara langsung maupun tidak
langsung menipu atau mengelabui Pihak lain dengan menggunakan sarana dan
atau cara apa pun, turut serta menipu atau mengelabui Pihak lain. Membuat
pernyataan tidak benar mengenai fakta yang material atau tidak mengungkapkan
fakta yang material agar pernyataan yang dibuat tidak menyesatkan mengenai
keadaan yang terjadi pada saat pernyataan dibuat dengan maksud untuk
menguntungkan atau menghindarkan kerugian untuk diri sendiri atau Pihak lain
atau dengan tujuan mempengaruhi Pihak lain untuk membeli atau menjual Efek.”
b) PT KAI dapat dikenakan sanksi sesuai Pasal 107 UU No.8 Tahun 1995 yang
menyatakan:“Setiap Pihak yang dengan sengaja bertujuan menipu atau merugikan
Pihak lain atau menyesatkan Bapepam, menghilangkan, memusnahkan,
menghapuskan, mengubah, mengaburkan, menyembunyikan, atau memalsukan
catatan dari Pihak yang memperoleh izin, persetujuan, atau pendaftaran termasuk
Emiten dan Perusahaan Publik diancam dengan pidana penjara paling lama 3
(tiga) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).”
c) KAP S. Manan & Rekan melanggar Standar Profesi Akuntan Publik (SPAP).
3) Fair
Perbuatan manajemen PT.KAI merugikan publik/masyarakat dan pemerintah.
a) Publik (investor); dirugikan karena memperoleh informasi yang menyesatkan,
sehingga keputusan yang diambil berdasarkan informasi keuagan PT. KAI
menjadi tidak akurat/salah.
b) Pemerintah; dirugikan karena dengan rekayasa keuangan tersebut maka pajak
yang diterima pemerintah lebih kecil.
4) Right
a) Hak-hak Publik; dirugikan karena investor memperoleh informasi yang
menyesatkan, sehingga keputusan yang diambil menjadi salah/tidak akurat.
b) Pemerintah; dirugikan karena pajak yang diterima pemerintah menjadi lebih
kecil.

5) Suistainable Development
Rekayasa yang dilakukan manajemen PT KAI bersifat jangka pendek dan
bukan jangka panjang, karena hanya menginginkan keuntungan/laba untuk
kepentingan pribadi/manajemen (motivasi bonus).

3.2. Prinsip Etika yang Dilanggar


Selain akuntan eksternal dan komite audit yang melakukan kesalahan dalam hal
pencatatan laporan keuangan, akuntan internal di PT. KAI juga belum sepenuhnya

16
menerapkan 8 prisip etika akuntan. Dari kedelapan prinsip akuntan yaitu tanggung
jawab profesi, kepentingan publik, integritas, objektifitas, kompetensi dan kehati-hatian
profesional, kerahasiaan, perilaku profesional, dan standar teknis, prinsip-prinsip etika
akuntan yang dilanggar antara lain :
1) Tanggung Jawab Profesi
Dimana seorang akuntan harus bertanggung jawab secara professional
terhadap semua kegiatan yang dilakukannya. Akuntan Internal PT. KAI kurang
bertanggung jawab karena dia tidak menelusuri kekeliruan dalam pencatatan dan
memperbaiki kesalahan tersebut sehingga laporan keuangan yang dilaporkan
merupakan keadaan dari posisi keuangan perusahaan yang sebenarnya.
2) Kepentingan Publik
Dimana akuntan harus bekerja demi kepentingan publik atau mereka yang
berhubungan dengan perusahaan seperti kreditur, investor, dan lain-lain. Dalam
kasus ini akuntan PT. KAI diduga tidak bekerja demi kepentingan publik karena
diduga sengaja memanipulasi laporan keuangan sehingga PT. KAI yang seharusnya
menderita kerugian namun karena manipulasi tersebut PT. KAI terlihat mengalami
keuntungan. Hal ini tentu saja sangat berbahaya, termasuk bagi PT. KAI. Karena,
apabila kerugian tersebut semakin besar namun tidak dilaporkan, maka PT. KAI bisa
tidak sanggup menanggulangi kerugian tersebut.
3) Integritas
Dimana akuntan harus bekerja dengan profesionalisme yang tinggi. Dalam
kasus ini akuntan PT. KAI tidak menjaga integritasnya, karena diduga telah
melakukan manipulasi laporan keuangan.

4) Objektifitas
Dimana akuntan harus bertindak obyektif dan bersikap independen atau tidak
memihak siapapun. Dalam kasus ini akuntan PT. KAI diduga tidak obyektif karena
diduga telah memanipulasi laporan keuangan sehingga hanya menguntungkan pihak-
pihak tertentu yang berada di PT. KAI.
5) Kompetensi dan kehati-hatian professional
Akuntan dituntut harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan penuh
kehati-hatian, kompetensi, dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk
mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesionalnya pada tingkat yang
diperlukan. Dalam kasus ini, akuntan PT. KAI tidak melaksanakan kehati-hatian
profesional sehingga terjadi kesalahan pencatatan yang mengakibatkan PT. KAI
yang seharusnya menderita kerugian namun dalam laporan keuangan mengalami

17
keuntungan.
6) Perilaku Profesional
Akuntan sebagai seorang profesional dituntut untuk berperilaku konsisten
selaras dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat
mendiskreditkan profesinya. Dalam kasus ini akuntan PT. KAI diduga tidak
berperilaku profesional yang menyebabkan kekeliruan dalam melakukan
pencatatanlaporan keuangan, dan hal ini dapat mendiskreditkan (mencoreng nama
baik) profesinya.
7) Standar teknis
Akuntan dalam menjalankan tugas profesionalnya harus mengacu dan
mematuhi standar teknis dan standar profesional yang relevan. Sesuai dengan
keahliannya dan dengan berhati-hati, akuntan mempunyai kewajiban untuk
melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan
dengan prinsip integritas dan obyektifitas. Dalam kasus ini akuntan tidak
melaksanakan prinsip standar teknis karena tidak malaporkan laporan keuangan
sesuai dengan standar akuntansi keuangan. Contohnya, pada saat PT Kereta Api
Indonesia telah tiga tahun tidak dapat menagih pajak pihak ketiga. Tetapi, dalam
laporan keuangan itu, pajak pihak ketiga dinyatakan sebagai pendapatan. Padahal,
berdasarkan standar akuntansi keuangan tidak dapat dikelompokkan dalam bentuk
pendapatan atau asset.

3.3. Sikap yang Diambil


1. Manajemen PT KAI
a) Melakukan koreksi atas salah saji atas: pajak pihak ketiga yang dimasukkan
sebagai asset; penurunan nilai persediaan suku cadang dan perlengkapan yang
belum dibebankan; bantuan pemerintah yang seharusnya disajikan sebagai
bagian modal perseroan.
b) Meminta maaf kepada stakeholders melalui konferensi pers dan berjanji tidak
mengulangi kembali di masa datang.
2. KAP S. Manan & Rekan & Rekan
a) Melakukan jasa profesional sesuai SPAP, dimana tiap anggota harus berperilaku
konsisten dengan reputasi profesionalnya dengan menjauhi tindakan yang dapat
mendiskreditkan profesioreksi
b) Melakukan koreksi atas opini yang telah dibuat

18
c) Melakukan konferensi pers dengan mengungkapkan bahwa oknum yang
melakukan kesalahan sehingga menyebabkan opini atas Laporan Keuangan
menjadi tidak seharusnya telah diberikan sanksi dari pihak otorisasi, dan
berjanji tidak mengulang kembali kejadian yang sama di masa yang akan
datang.

3.4. Rekomendasi Agar Kasus Serupa Tidak Terulang


a. Membangun kultur perusahaan yang baik; dengan mengutamakan integritas, etika
profesi dan kepatuhan pada seluruh aturan, baik internal maupun eksternal,
khususnya tentang otorisasi.
b. Mendahulukan kepentingan publik daripada kepentingan perusahaan.
c. Merekrut manajemen baru yang memiliki integritas dan moral yang baik, serta
memberikan siraman rohani kepada karyawan akan pentingnya integritas yang baik
bagi kelangsungan usah perusahaan.
d. Memperbaiki sistem pengendalian internal perusahaan.
e. Corporate Governance dilakukan oleh manajemen yang dirancang dalam rangka
mengeliminasi atau setidaknya menekan kemungkinan terjadinya fraud. Corporate
governance meliputi budaya perusahaan, kebijakan-kebijakan, dan pendelegasian
wewenang.

f. Transaction Level Control Process yang dilakukan oleh auditor internal, pada
dasarnya adalah proses yang lebih bersifat preventif dan pengendalian yang
bertujuan untuk memastikan bahwa hanya transaksi yang sah, mendapat otorisasi
yang memadai yang dicatat dan melindungi perusahaan dari kerugian.
g. Retrospective Examination yang dilakukan oleh Auditor Eksternal diarahkan untuk
mendeteksi fraud sebelum menjadi besar dan membahayakan perusahaan.
h. Investigation and Remediation yang dilakukan forensik auditor. Peran auditor
forensik adalah menentukan tindakan yang harus diambil terkait dengan ukuran
dan tingkat kefatalan fraud, tanpa memandang apakah fraud itu hanya berupa
pelanggaran kecil terhdaap kebijakan perusahaan ataukah pelanggaran besar yang
berbentuk kecurangna dalam laporan keuangan atau penyalahgunaan asset.
i. Penyusunan Standar yang jelas mengenai siapa saja yang pantas menjadi apa baik
untuk jabatan fungsional maupun struktural ataupun untuk posisi tertentu yang
dianggap strategis dan kritis. Hal ini harus diiringi dengan sosialisasi dan
implementasi (enforcement) tanpa ada pengecualian yang tidak masuk akal.
j. Diadakan tes kompetensi dan kemampuan untuk mencapai suatu jabatan tertentu
dengan adil dan terbuka. Siapapun yang telah memenuhi syarat mempunyai

19
kesempatan yang sama dan adil untuk “terpilih”. Terpilih artinya walaupun pejabat
lain diatasnya tidak “berkenan” dengan orang tersebut, tetapi karena ia yang
terbaik maka tidak ada alasan logis untuk menolaknya ataupun memilih yang orang
lain. Disinilah peran profesionalisme dikedepankan
k. Akuntabilitas dan Transparansi setiap “proses bisnis” dalam organisasi agar
memungkinkan monitoring dari setiap pihak sehingga penyimpangan yang
dilakukan oknum-oknum dapat diketahui dan diberikan sangsi tanpa kompromi.
4. ANALISIS
Dari kasus studi diatas tentang pelanggaran Etika dalam berbisnis itu merupakan
suatu pelanggaran etika profesi perbankan pada PT KAI pada tahun tersebut yang
terjadi karena kesalahan manipulasi dan terdapat penyimpangan pada laporan keuangan
PT KAI. Pada kasus ini juga terjadi penipuan yang menyesatkan banyak pihak seperti
investor tersebut. Seharusnya PT KAI bertindak profesional dan jujur sesuai pada asas-
asas etika profesi akuntansi.

5. KESIMPULAN
Di masa sekarang ini, keberadaan komite telah diterima sebagai suatu bagian dari
tata kelola organisasi perusahaan yang baik (Good Corporate Governance). Selain itu
kehadiran komite audit akhir-akhir ini telah mendapat respon yang positif dari berbagai
pihak. Selain itu, perusahaan yang telah go publik diharapkan agar memiliki komite
audit untuk membantu kegiatan perusahaan dalam mencapai tujuannya. Perusahaan dan
Komite Audit diharapkan telah melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai
dengan prinsip-prinsip akuntansi dan standar audit yang ada demi kestabilan dan
keefektifan kinerja perusahaan.

20
DAFTAR PUSTAKA

Baridwan, Zaki. 2000. Peran dan Fungsi Komisaris Independen dan Komite Audit. Makalah
Seminar Konvensi Nasional Akuntansi IV, Jakarta.

Eddie M. Gunadi & Toto J. Alamsyah. 2000. Direktur Kepatuhan : Gantikan Fungsi Dewan
Audit, Media Akuntansi, No.5 Tahun I.

Effendi, M. Arief. 2001. Persepsi Dewan Komisaris & Direksi Badan Usaha Milik Negara
terhadap pembentukan Komite Audit. Thesis, Program Magister Akuntansi (MAKSI),
Universitas Indonesia.

Herwidayatmo. 2000. Peran dan Fungsi Komisaris Independen dan Komite Audit.
Simposium Nasional Akuntansi II dan Konvensi Nasional Akuntansi IV, Jakarta.

Kalbers, Lawrence P. & Forgathy, Timothy J. 1993. Audit Committee Effectiveness : An


Empirical Investigation of the Contribution of Power, Auditing A Journal of Practice
& Theory.Vol. 12, No. 1, Spring.

Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan BUMN Nomor : KEP-102/M-PBUMN/2002


tanggal 31 Juli 2002 tentang pembentukan komite audit bagi BUMN.

Sutojo, Siswanto dan Aldridge, E John. 2008. Good Corporate governance. Jakarta : PT.
Damar Mulia Pustaka

21
The Institute of Internal Auditors Research Foundation : Improving Audit Committee
Performance : What Works Best, A Research Report prepared by Price Waterhouse,
First printing, 1993.

Utama, Marta. 2004. Komite Audit, Good Corporate Governance Dan Pengungkapan
Informasi. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia Vol. 1 pp. 61 – 79.

22