Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Salah satu ciri organisme adalah tumbuh dan berkembang. Kedua aktifitas kehidupan
ini tidak dapat dipisahkan karena prosesnya berjalan bersamaan. Pertumbuhan diartikan
sebagai pertambahan ukuran atau volume serta jumlah sel secara irreversibel.
Irreversibel maksudnya tidak dapat kembali pada keadaan awal. Sedangkan
perkembangan adalah proses menuju kedewasaan.
Pertumbuhan pada tanaman terbagi dalam beberapa tahapan,yaitu perkecambahan
yang diikuti dengan pertumbuhan primer dan pertumbuhan sekunder. Perkecambahan
merupakan proses munculnya tanaman kecil dari dalam biji.
Berdasarkan paparan tersebut kelompok kami tertarik untuk melakukakan penelitian
dengan judul Perbandingan Perkecambahan pada Jagung (monokotil/berkeping satu)
dengan Kacang Merah (dikotil/berkeping dua).
1.2. Tujuan
1.2.1. Untuk memenuhi ujian praktik biologi kelas XII-MIA tahun ajaran 2015/2016
SMAN 1 Singaparna.
1.2.2. Membandingkan pertumbuhaan dan perkembangan embrio antara kacang merah
(dikotil) dengan jagung (monokotil).
1.2.3. Membandingkan tipe perkecambahan embrio kacang merah (dikotil) dan jagung
(monokotil).

1
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Pertumbuhan dan Perkembangan


Salah satu ciri organisme adalah tumbuh dan berkembang. Kedua aktivitas kehidupan
ini tidak dapat dipisahkan karena prosesnya berjalan bersamaan. Pertumbuhan diartikan
sebagai pertambahan ukuran atau volume serta jumlah sel secara irreversibel yang
artinya tidak dapat kembali seperti semula. Sedangkan perkembangan adalah proses
perubahan pada makhluk hidup akibat terdiferensiasinya sel-sel menuju ke stuktur dan
fungsi tertentu. Dengan kata lain, perkembangan dapat pula di artikan sebagai suatu
proses menuju kedewasaan.
Pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman terjadi melalui beberapa tahap yaitu
perkecambahan , pertumbuhan primer dan pertumbuhan sekunder.
2.2. Perkecambahan
Proses perkecambahan terdapat dua tipe perkecambahan yaitu tipe perkecambahan
kotiledon diatas tanah (epigeal) yang biasanya terjadi pada perkecambahan kacang
merah (dikotil) dan tipe perkecambahan kotiledon di bawah tanah (hipogeal) yang
biasanya terjadi pada tumbuhan monokotil. Perkecambahan epigeal terjadi akibat
pertumbuhan ruas batang di bawah kotiledon (hipokotil) yang lebih cepat di bandingkan
dengan ruas batang di atas kotiledon (epikotil). Akibatnya kotiledon akan terangkat
keatas tanah. Perkecambahan seperti ini sering terjadi pada tumbuhan dikotil, misalnya
pada tanaman kacang merah.
Perkecamabahan hipogeal terjadi akibat pertumbuhan ruas batang diatas kotiledon
(epikotil) yang lebih cepat di bandingkan dengan bagian bawahnya (hipokotil). Akibat
dari pertumbuhan seperti ini maka kotiledon tidak terangkat ke atas dan tetap berada di
dalam tanah. Perkecambahan seperti ini terjadi pada tumbuhan monokotil seperti jagung.
2.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkecambahan
2.3.1. Tingkat kematangan benih
Benih yang dipanen sebelum tingkat kematangan fisiologisnya tercapai tidak
mempunyai viabilitas yang tinggi karena belum memiliki cadangan makanan
yang cukup serta pembentukan embrio belum sempurna.

2
2.3.2. Ukuran benih
Benih yang berukuran besar dan berat mengandung cadangan makanan yang
lebih banyak dibandingkan dengan yang kecil pada jenis yang sama. Cadangan
makanan yang terkandung dalam jaringan penyimpan digunakan sebagai
sumber energi bagi embrio pada saat perkecambahan.
2.3.3. Dormansi
Benih dikatakan dormansi apabila benih tersebut sebenarnya hidup tetapi
tidak berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang secara umum
dianggap telah memenuhi persyaratan bagi suatu perkecambahan atau juga
dapat dikatakan dormansi benih menunjukkan suatu keadaan dimana benih-
benih sehat (viabel) namun gagal berkecambah ketika berada dalam kondisi
yang secara normal baik untuk berkecambah, seperti kelembaban yang cukup,
suhu dan cahaya yang sesuai.
2.3.4. Penghambat perkecambahan
penghambat perkecambahan benih dapat berupa kehadiran inhibitor baik
dalam benih maupun di permukaan benih, adanya larutan dengan nilai osmotik
yang tinggi serta bahan yang menghambat lintasan metabolik atau menghambat
laju respirasi. Contohnya deterjen, pestisida dan pupuk.
2.3.5. Air
Penyerapan air oleh benih dipengaruhi oleh sifat benih itu sendiri terutama
kulit pelindungnya dan jumlah air yang tersedia pada media di sekitarnya,
sedangkan jumlah air yang diperlukan bervariasi tergantung kepada jenis
benihnya, dan tingkat pengambilan air turut dipengaruhi oleh suhu.
2.3.6. Suhu
Suhu optimal adalah yang paling menguntungkan berlangsungnya
perkecambahan benih dimana presentase perkembangan tertinggi dapat dicapai
yaitu pada kisaran suhu antara 26,5° sd 35°C.
2.3.7. Oksigen
Saat berlangsungnya perkecambahan, proses respirasi akan meningkat
disertai dengan meningkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan CO2, air
dan energi panas. Terbatasnya oksigen yang dapat dipakai akan menghambat
proses perkecambahan benih.

3
2.3.8. Cahaya
Pengaruh cahaya terhadap perkecambahan benih dapat dibagi atas 4
golongan yaitu golongan yang memerlukan cahaya mutlak, golongan yang
memerlukan cahaya untuk mempercepat perkecambahan, golongan dimana
cahaya dapat menghambat perkecambahan, serta golongan dimana benih dapat
berkecambah baik pada tempat gelap maupun ada cahaya.
2.3.9. Medium
Medium yang baik untuk perkecambahan haruslah memiliki sifat fisik yang
baik, gembur, mempunyai kemampuan menyerap air dan bebas dari organisme
penyebab penyakit terutama cendawan.

4
BAB III

PEMBAHASAN

3.1. Prosedur Penelitian


3.1.1. Tempat : Ruang kelas XII MIA 4, SMA Negeri 1 Singaparna
3.1.2. Waktu : 8 - 14 Agustus 2015.
3.1.3. Alat dan Bahan Penelitian
Dalam penelitian perkecambahan pada embrio kacang merah dan jagung ,
kami menggunakan alat diantaranya satu potong bambu, sepuluh wadah plastik
yang bagian bawahnya dilubangi kecil-kecil.
Sedangkan untuk bahannya, kelompok kami menggunakan lima butir kacang
merah, lima butir jagung, tanah, dan air.
3.1.4. Cara Kerja
Mula-mula kami merendam embrio kacang merah dan jagung selama satu
jam. Setelah satu jam, kami melihat ada embrio yang tenggelam dan ada
embrio yang terapung di atas permukaan air. Kemudian, kami mengambil lima
embrio kacang merah dan lima embrio jagung yang tenggelam. Lalu,
meniriskan embrio-embrio yang tenggelam itu. Selama embrio-embrio tersebut
ditirisakan, kami memasukan tanah gembur sekitar dua pertiga volume wadah
kedalam wadah plastik yang bagian bawahnya sudah dilubangi kecil-kecil,
kami melakukan hal yang sama sampai sepuluh wadah. Setelah itu, kami
menyimpan embrio-embrio yang sudah ditirisakan, masing-masing wadah
memuat satu embrio. Lalu, menyimpan embrio di wadah yang berisi tanah,
kami menutup embrio dengan tanah sekitar 2 cm sampai embrio tidak terlihat
di permukaan tanah. Setelah itu, memberi tanda pada wadah sebagai pembeda
antara embrio kacang merah dan jagung. Kemudian, kami mengamati
pertumbuhan dan perkembangan pada kacang merah dan jagung selama tujuh
hari. Diakhiri dengan mendokumentasikan setiap terjadi proses pertumbuhan
dan perkembangan pada tanaman kacang merah dan jagung.

5
3.1.5. Hasil Pengamatan
Hari
Pengamatan Kacang Merah Jagung
ke
1 Pertumbuhan embrio. Tidak ada perubahan. Tidak ada perubahan.
Pertumbuhan Radikula Radikula. Radikula dan
3
dan Plamula. Plamula.
7 Keberadaan Daun Tumbuh Tumbuh
Pertumbahan ruas Pertumbuhan epikotil
Kecepatan batang hipokotil lebih cepat
pertumbuhan hipokotil lebih cepat dibandingkan
dan epikotil. dibandingkan dengan hipokotil.
5
ruas batang epikotil.
Terangkat dari Tidak terangkat
Keadaan kotiledon. permukaan tanah. (berada didalam
tanah).
3.1.6. Analisis Data
3.1.6.1. Pertumbuhan embrio
Berdasarkan data dari tabel hasil pengamatan dihari pertama bahwa
pertumbuhan kedua embrio sama, keduanya tidak mengalami perubahan.
Menurut kami hal ini dikarenakan awal pertumbuhan semua tumbuhan
sama.
3.1.6.2. Pertumbuhan radikula dan plamula
Berdasarkan data dari tabel hasil pengamatan dihari ke tiga
pertumbuhan radikula dan plumula dari kedua embrio berbeda. Pada embrio
jagung radikula dan plamula tumbuh bersamaan sedangkan pada embrio
kacang merah hanya radikulanya saja yang tumbuh.

6
3.1.6.3. Kecepatan pertumbuhan epikotil dan hipokotil
Berdasarkan data dari tabel hasil pengamatan dihari ke lima bahwa
kecepatan pertumbuhan epikotil dan hipokotil kedua embrio berbeda. Pada
embrio jagung pertumbuhan ruas batang epikotil lebih cepat dibandingkan
dengan ruas batang hipokotil sedangkan pada embrio kacang merah
pertumbuhan ruas batang hipokotil lebih cepat dibandingkan dengan
pertumbuhan ruas batang epikotil.
3.1.6.4. Keadaan kotiledon
Berdasarkan data dari tabel hasil pengamatan dihari ke lima keadaan
kotiledon kedua embrio berbeda, pada embrio jagung kotiledon tetap berada
didalam tanah sedangkan embrio kacang merah kotiledonnya terangkat
keatas permukaan tanah menurut kami hal ini disebabkan karena
pertumbuhan radikula dan hipokotil kacang merah cepat sehingga
kotiledonnya terangkat keatas permukaan tanah sedangkan pada jagung
pertumbuhan radikulanya lambat.
3.1.6.5. Keberadaan Daun
Berdasarkan data dari tabel hasil pengamatan dihari ke tujuh
keberadaan daun dari kedua embrio tersebut sama, kedua embrio sudah
mempunyai daun dan bisa berfotosintesis seperti tumbuhan dewasa pada
umumnya.

7
BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Berdasarkan data dan analisis data yang kami temukan, maka kelompok kami dapat
menyimpulkan bahwa :
4.1.1. Pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi antara tanaman kacang merah dan
jagung berbeda. Perbedaan tersebut terletak pada kecepatan pertumbuhan
plamula. Pertumbuhan plamula pada tanaman jagung lebih cepat di bandingkan
pertumbuhan plamula pada kacang merah.
4.1.2. Kecepatan pertumbuhan radicula pada tanaman kacang merah dan jagung sama.
4.1.3. Kecepatan tumbuhnya daun pada tanaman kacang merah dan jagung sama.
4.1.4. Pada tanaman kacang merah kotiledon terangkat ke atas tanah. Sedangkan pada
tanaman jagung kotiledon tidak terangkat ke atas tanah
4.1.5. Perkecambahan yang terjadi pada tanaman kacang merah dan jagung berbeda.
Yaitu, tanaman kacang merah mengalami perkecambahan tipe epigeal yang
pada umumnya ditemukan pada tanaman dikotil. Sedangkan tanaman jagung
mengalami perkecambahan tipe hipogeal yang pada umumnya ditemukan pada
tanaman monokotil.
4.2. Saran
Dalam melakukan penelitian hendaknya memperhatikan kualitas embrio kacang
merah dan jagung serta memperhatikan kondisi lingkungan yang sesuai sehingga hasil
penelitian sesuai dengan tujuan.

8
DAFTAR PUSTAKA

http://biologimediacentre.com/pertumbuhan-dan-perkembangan-1-pertumbuhan-
dan-perkembangan-pada-tumbuhan/

http://saonone.blogspot.co.id/2011/08/tipe-perkecambahan-epigeal-dan-
hipogeal.html

http://www.irwantoshut.com/seed_viability_factor.html

http://www.materisma.com/2014/08/pertumbuhan-dan-perkembangan-pada.html

9
LAMPIRAN-LAMPIRAN

10
Memilih tanah yang subur.

Menggemburkan tanah dengan kayu.

Memasukan tanah kedalam gelas plastik dengan bantuan kayu.

11
Hari
Jagung Kacang Merah
ke

12
Kelompok 1 kelas XII-MIA 4 pada saat mengerjakan tugas biologi tentang
pertumbuhan.

13