Anda di halaman 1dari 34

Kelompok 5

 ANGELA MARIA REGINA POE

 FRANSISKA SANJAYA

 MARIA EUPRASIA SUHARTIN

 PATRICIA CLARASULA SIDORE

Kelas :A

Semester :V

TREMATODA USUS, TREMATODA HATI, DAN TREMATODA


DARAH

1.1 Trematoda

Trematoda berasal dari bahasa yunani Trematodaes yang berarti punya lobang, bentuk
tubuh pipih dorso ventral sperti daun.Umumnya semua organ tubuh tak punya ronggat tubuh dan
mempunyai Sucker atau kait untuk menempel pada parasit ini di luar atau di organ dalam induk
semang. Saluran pencernaaan mempunyai mulut, pharink,usus bercabang cabang. Tapi
takpunyaanus. Sistem eksretori bercabang cabang, mempunyai flame cell yaitu kantong eksretori
yang punya lubang lubang di posterior. Hermaprodit, kecuali famili Schistosomatidae. Siklis
hidup ada secara langsung (Monogenea) dan tak langsung (Digenea).
Trematoda atau cacing daun yang berparasit pada hewan dapat dibagi menjadi tiga sub
klas yaitu Monogenea, Aspidogastrea, dan Digenea. Pada hewan jumlah jenis dan macam cacing
daun ini jauh lebih besar dari pada yang terdapat pada manusia, karena pada hewan sub-klas ini
dapat dijumpai.

1
Trematoda disebut sebagai cacing isap karena cacing ini memiliki alat pengisap. Alat
penghisap terdapat pada mulut di bagian anterior. Alat hisap (Sucker) ini untuk menempel pada
tubuh inangnya makanya disebut pula cacing hisap.
Pasa saat menempel cacing ini mengisap makanan berupa jaringan atau cairan tubuh
inangnya. Dengan demikian maka Trematoda merupakan hewan parasit karena merugikan
dengan hidup di tubuh organisme hidupdan mendapatkan makanan tersedia di tubuh inangnya.
Trematoda dewasa pada umumnya hidup di dalam hati,usus,paru-paru, ginjal, dan pembuluh
darah vertebrata, ternak, ikan, manusia Trematoda. Trematoda berlindung di dalam inangnya
dengan melapisi permukaan tubuhnya dengan kutikula permukaaan tubuhnya tidak memiliki sila.
Sistem ekskresi adalah bilateral simetris. terdiri dari sel-sel api dan tabung
mengumpulkan. Sel-sel api ini bisa digunakan sebagai dasar untuk identifikasi tiap spesies dari
termatoda.

2
1.2 Morfologi Trematoda

Pada umumnya bentuk badan cacing dewasa pipih dorsoventral dan simetri, bilateral,
tidak mempunyai rongga badan. Ukuran panjang cacing dewasa sangat beranekaragam dari 1
mm sampai kurang lebih 75 mm. tanda khas lainnya adalah terdapatnya dua buah batil isap, yaitu
batil isap mulut dan batil isap perut. Beberapa spesies mempunyai batil isap genital. Saluran
pencernaan menyerupai huruf Y terbalik yang di mulai dengan mulut dan berakhir buntu pada
sekum. Pada umumnya trematoda tidak mempunyai alat pernapasan khusus, karena hidupnya
secara anaerob. Saluran ekskresi terdapat simetris bilateral dan berakhir di bagian posterior.
Susnan saraf di mulai dengan ganglion di bagian dorsal esofagus, kemudian terdapat saraf yang
memanjang di bagian dorsal, ventral dan lateral badan. Cacing ini bersifat hermafrodit dengan
alat reproduksi yang kompleks.

Cacing dewasa hidup di dalam tubuh hospes definitif. Telur diletakan di saluran hati,
rongga usus, paru, pembuluh darah, atau di jaringan tempat cacing hidup dan telur biasanya
keluar bersama tinja, dahak atau urine. Pada umumnya telur berisi sel telur, hanya pada beberapa
spesies telur sudah mengandung mirasidium (M) yang mempunyai bulu getar. Bila sudah

3
mengandung mirasisium telur,menetes di dalam air (telur matang). Pada spesies trematoda yang
mengeluarkan telur berisi sel telur, telur akan menjadi matang dalam waktu kurang lebih 2-3
minggu. Pada beberapa spesies trematoda, telur matang menetes bila ditelan keong (hospes
perantara) dan keluarlah mirasidium yang masuk ke dalam jaringan keong, atau telur dapat
langsung menetas dan mirasidium berengang di air, dalam waktu 24 jam mirasidium harus sudah
menemukan keong air agar dapat melanjutkan perkembangannya. Keong air di sini berfungsi
sebagai hospes perantara pertama (HP I). Dalam keong air tersebut mirasidium berkembang
menjadi sebuah kantung yang berisi embryo, disebut sporokista (S). Sporokista ini dapat
mengandung sporookista lain atau redia (R), bentuknya berupa kantung yang sudah mempunyai
mulut, faring dan sekum. Di dalam sporokista II atau redia (R), larva berkembang menjadi
serkaria (SK).

Perkembangan larva dalam hospes perantara I terjadi sebagai berikut :

M S R SK : Misalnya Clonorchis Sinensis

M S1 S2 SK : Misalnya Schistosoma

M S R1 R2 SK : Misalnya Trematoda lainnya

Serkaria kemudian keluar dari keong air dan mencari hospes perantara II yang berupa
ikan, tumbuh-tumbuhan air, katam, udang batu dan keong air lainnya, atau dapat menginfeksi
hospes definitif secara langsung seperti pada Schistosoma. Dalam hospes perantara II
serkaria berubah menjadi metaserkaria yang berbentuk kista. Hospes definitif mendapat infeksi
bila makan hospes perantara II yang mengandung metaserkaria yang tidak dimasak dengan baik.
Infeksi cacing Schistosoma terjadi dengan cara serkaria menembus kulit hospes definitif, yang
kemudian berubah menjadi skistosomula, lalu berkembang menjadi cacing dewasa dalam tubuh
hospes.

Morfologi umum trematoda dapat diringkas sebagai berikut.:

 Pipih seperti daun , tidak bersegmen

 Tubuh di tutup kutikula, yang disekresikan o/ sel2 dibawahnya

 Pada beberapa fase larva mempunyai silia

4
 Tidak mempunyai rongga badan

 Mempunyai 2 batil isap : mulut dan perut.

 Mempunyai saluran pencernaan yang menyerupai huruf Y terbalik dan buntu.

 Hermafrodit, kecuali Schistosoma.

1.3 Siklus Hidup Trematoda

Hospes definitif dari parasit adalah hewan dan manusia. Berbagai macam hewan dapat
berperan sebagai hospes definitif cacing trematoda antara lain kucing, anjing, kambing, sapi,
babi, tikus, burung, musang, harimau, dan manusia. Pembiakan seksual terjadi di dlm inang
definitif (vertebrata). Pembiakan aseksual terjadi didlm inang intermedier (siput).
Siklus hidup mereka dimulai ketika moluska seperti siput terinfeksi dengan larva cacing.
Larva tahap pertama disebut miracidia. Mereka memiliki struktur seperti ekor, silia yang
digunakan untuk bergerak dalam menemukan moluska.
Cacing dewasa hidup di dalam tubuh hospes definitive. Telur diletakkan di saluran hati,
rongga usus, paru, pembuluh darah atau jariingan tempat cacing hidup dan telur biasanya keluar
bersama tinja, dahak, atau urine. Pada umunya telur berisi sel telur , hanya beberapa spesies telur
sudah mengandung mirasidium (M) yang mempunyai bulu getar. Di dalam air, telur menetas bila
sudah mengandung mirasidium (telur matang). Pada spesies trematoda yang mengeluarkan telur
berisi sel telur, telur akan menjadi matang dalam waktu kurang lebih 2-3minggu. Pada beberapa
spesies Trematoda, telur matang menetas bila ditelan keong (hospes perantara) dan keluarlah
mirasidium yang masuk ke dalam jaringan keong, atau telur dapat langsung menetas dan
mirasidium berenang di air, dalam waktu 24 jam mirasidium harus sudah menemukan keogn air
agar dapat melanjutkan perkembangannya. Keong air di sini berfungsi sebagai hospes perantara
pertama (HP I). dalam keong air tersebut mirasidium berkembang menjadi sebuah kantung yang
berisi embrio, disebut sporokista (S). sporokista ini dapat mengandung sporokista lain atau redia
(R), bentuknya berupa kantung yang sudah mempunyai mulut, farinf, dan saekum. Di dalam
sporokista II atau redia (R), larva berkembang menjadi serkaria (SK).

Perkembangan larva dalam hospes pertantara I mungkin terjadi sebagai berikut :


M  S  R  SK : misalnya Clonoschis sinensis

5
M  S1  S2  SK : misalnya Schistosoma
M  S  R1  R2  SK : misal trematoda lainnya
Serkaria kemudian keluar dari keong air dan mencari hospes perantara II yang berupa
ikan, tumbuh-tumbuhan air, ketam, udang batu dan keong air lainnya, atau dapat menginfeksi
hospes definitive secara langsung seperti pada Schistosoma. Dalam hospes perantara II serkaria
berubah menjadi metaserkaria yang berbentuk kista. Hospes definitive mendapat infeksi apabila
makan hospes perantara II yang mengandung metaserkaria yang tidak dimasak dengan baik.
Infeksi cacing Schistosoma terjadi dengan cara serkaria menembus kulit hospes definitive, yang
kemudian berubah menjadi skistosomula, lalu berkembang menjadi cacing dewasa dalam tubuh
hospes.
Tergantung pada spesies kebetulan larva melewati tahap perkembangan yang berbeda
yaitu:

1. Mirasidium : pada tahap ini hospes perantara akan diinfeksi melalui proses yaitu dengan
transmisi aktif,
2. Sporocyst : dalam siput hospes perantara pertama dan akan menyerap makanan melalui
difusi
3. Redia: rediae juga terbentuk di dalam siput hospes perantara pertama dan akan makan
melalui faring . Entah rediae atau sporocyst berkembang menjadi serkaria melalui

6
polyembrony (adalah suatu bentuk yang lebih luas dari reproduksi aseksual pada hewan,
telur yang dibuahi akan menuju tahap selanjutnya dimana akan dibentuk sel anakan yang
idenetik) di siput.
4. Sercaria : dilihat dari strukturnya memang dibentuk untuk penyebaran. Mereka diadaptasi
untuk mengenali dan menembus hospes perantara kedua, yang berbeda fisik dan keadaan
dari hospes sebelumnya.
5. Mesocercaria :
6. Metaserkaria. : merupakan bentuk kistik yang akan aktif dalam hospes perantara
sekunder.

Bila fase dewasa telah tercapai dalam host akhir yaitu manusia. Maka akan terjadi
reproduksi secara seksual atau aseksual. Telur keluar tubuh dengan kotoran dan menginfeksi
moluska baru.
Telur tersebut diletakkan dalam saluran hati, rongga usus, paru, pembuluh darah atau
jaringan tempat hidup dan akan dikeluarkan bersama tinja, urin atau sputum. Umumnya berisi sel
telur dan beberapa spesies berisi mirasidium (M). Telur akan menetas dalam air atau menetas
setelah ditelan oleh keong (hospes perantara).

7
Telur Trematoda :

 F. buski (seperti telur ayam dengan operculum kecil & tidak nyata), ukuran 130-140 µm
x 80-85 µm .
 S. mansoni ( telur agak panjang & mempunyai duri lateral nyata dekat 1 ujung, ukuran
114-117 µm x 45-68 µm)
 S. haematobium (telur agak panjang dengan duri kecil pd ujung, ukuran 112-170 µm x
40-70 µm).

8
 S. japonicum (telur agak bulat dengan tonjolan tumpul pada sisi lateral, ukuran 70-100
µm x 50-65 µm).
 S. intercalatum (telur agak panjang dengan duri terminal yang lebih panjang & runcing
dibanding dengan S. haematobium, ukuran 140-240 µm x50-85 µm).
 G. hominis (telur lonjong & berbentuk kumparan dengan operkulum nyata pada satu
ujung, ukuran 150-152 µm x 60-72 µm).
 P. westermani (telur ovoid dengan operkulum mendatar, ukuran 80-118µm x 48-60µm)
8. C. sinensis (telur ovoid dengan operkulum nyata yg trletak pada bahu, dengan tonjolan
kecil pada ujung posterior, ukuran 27-35 µm x 12-70 µm).
 Heterophyes-heterophyes (telur ovoid dengan operkulum seperti kerucut, ukuran 28-30
µm x 15-17 µm)

1.4 Jenis-Jenis Trematoda

Cacing dari kelas trematoda terbagi ke dalam tiga subkelas yaitu :

1. Subkelas Monogenea, yaitu parasit yang terdapat pada hewan berdarah dingin (ikan,
amphibia dan reptil) sebagian besar merupakan ektoparasit. Siklus hidupnya adalah
langsung. Misalnya Dactylogyrus vastator dan Gyrodactylus medius
2. Subkelas Aspidogastrea, subkelas ini hanya memiliki satu famili, Aspidogastridae,
bersifat parasit pada ikan, penyu, moluska atau krustacea. Parasit ini tidak pernah
ditemukan pada hewan domestik.
3. Subklas Digenea, merupakan parasit yang menyerang sebagian besar hewan domestic.
Siklus hidupnya membutuhkan satu, dua atau lebih induk semang antara. Umumnya
bersifat hermafrodit, kecuali Schistosomatidae dan Dioymozoidae. Tipe-tipe tubuh
Trematoda Digenea, yaitu:
 Gasterostomes
 Monostomes
 Amphistomes
 Echinostomes
 Strigoids
 Schistosomes

Menurut tempat hidup cacing dewasa dalam tubuh hospes, maka trematoda dapat dibagi dalam :

9
 Trematoda Usus
 Trematoda Hati
 Trematoda Paru
 Trematoda Darah

1. Trematoda usus

Trematoda usus adalah jenis trematoda yang biasanya berparasit pada usus. Dalam daur

hidup trematoda usus tersebut, seperti pada trematoda lain, diperlukan keong sebagai hospes

perantara i, tempat mirasidium tumbuh menjadi sporokista, berlanjut menjadi redia dan serkaria.

Serkaria yang dibentuk dari redia, kemudian melepaskan diri untuk keluar dari tubuh keong dan

berenang bebas dalam air. Tujuan akhir serkaria tersebut adalah hospes perantara ii, yang dapat

berupa keong jenis ikan air tawar, atau tumbuh-tumbuhan air. Manusia mendapatkan penyakit

cacing ini karena memakan hospesperantara ii yang tidak dimasak sampai matang.

a. Fasciolidae

Hospes :

Kecuali manusia dan babi yang dapat menjadi hospes definitif cacing tersebut, hewan
lainnya seperti anjing dan kelinci juga dihinggapi. Penyakitnya disebut Fasiolopsiasis.

Morfologi dan Daur Hidup.

Cacing dewasa yang ditemukan pada manusia mempunyai ukuran panjang 2-7,5cm dan
lebar 0,8 – 2,0 cm. Bentuknya agak lonjong dan tebal. Biasanya kutikulum ditutupi
duri-duri kecil yang letaknya melintang duri-duri tersebut sering rusak karena cairan
usus. Batil isap kepala berukuran kira-kira seperempat ukuran batil isap perut. Saluran
pencernaan terdiri dari prefaring yang pendek, faring yang menggelembung, esofagus
yang pendek, serta sepasang sekum yang tiudak bercabang dengan dua indentasi yang
khas. Dua buah testis yang bercabang-cabang letaknya agak tandem di bagian posterior
cacing. Vitelaria letaknya lebih lateral dari sekum, meliputi badan cacing setinggi batil

10
isap perut sampai ke ujung badan.ovarium bentuknya agak bulat. Uterus berpangkal
pada ootip, berkelok-kelok ke arah anterior badan cacing, untuk bermuara pada atrium
genital, pada sisi anterior batil isap pertut.

Telur berbentuk agak lonjong, berdinding tipis transparan, dengan sebuag operkulum
yang nyaris terlihat pada sebuah kutubnya, berukuran panjang 130-140 mikron dan
lebar 80-85 mikron. Setiap ekor cacing dapat mengeluarkan 15.000-48.000 butir telur
sehari.

 Fasciolopsis buski (Giant Intestinal fluke)

Fasciolopsis buski adalah salah satu trematoda usus yang bersifat hermaprodit yang dapat
menimbulkan penyakit fasciolopsiasis. Hospes definitif parasit ini adalah manusia, babi, kadang-
kadang anjing, hospes intermedier 1 nya keong air, sedangkan hospes intermedier 2 nya adalah
tumbuhan air. Distribusi geografik : China, Taiwan, Thailand, Malaysia, Laos, India, Vietnam
dan Indonesia.

Ciri-ciri morfologi, yaitu :

11
 cacing berbentuk bulat panjang seperti daun, merupakan trematoda yang terbesar,
kelihatan tebal berdaging
 ukuran : panjang 2 – 7 cm, lebar 0,5 – 2 cm, dan tebal 0,5 – 3 mm
 tidak mempunyai cephalic cone / tonjolan konis
 kutikulun berduri
 ventral sucker lebih besar (diameter 2 – 3 mm) daripada oral sucker (diameter 0,5 mm)
 alat pencernaan dimulai dari pharinx dan oesophagus yang pendek dilanjutkan ke
percabangan saekum ke posterior testis bercabang-cabang banyak vitelaria yang terletak
di sebelah lateral meluas dari ventral sucker sampai ujung posterior badan
 uterus berkelok-kelok
 telur besar, berbentuk oval hampir sama dengan telur Fasciola hepatica dengan ukuran
panjang 130 – 140 μm dan lebar 80 – 85 μm
 telur mempunyai operculum berwarna kekuning-kuningan
 Morfologi Telur :

- Bentuk lonjong
- Mempunyai operkulum
- Dinding transparant
- Ukuran (130 – 140) x (80 – 85) µm
- Isi sel telur (unembryonated)
Siklus Hidup
Telur menetas di air → keluar mirasidium → dimakan hospes perantara 1 (keong air dari
genus Segmentina, Hippeutis, Cyarulus) → dalam tubuh keong berkembang menjadi sporokista
→ redia → serkaria dan keluar dari tubuh keong → hidup bebas di air → menempel di hospes
perantara 2 (tumbuhan air seperti enceng gondok, teratai) dan berkembang biak menjadi
metaserkaria dalam waktu 3 – 4 minggu → manusia terinfeksi jika makan tumbuhan air yang

12
mengandung metaserkaria dalam kista → ekskistasi dalam duodenum → melekatkan diri pada
mukosa usus halus dan berkembang menjadi dewasa dalam waktu ± 1 bulan.

Gejala Klinis

 Peradangan akibat perlekatan cacing pada mukosa usus


 Ulserasi yang agak dalam pada luka
 Abses dengan sakit di daerah epigastrium
 Mual Diare ringan sampai berat Pada infeksi yang berat dapat terjadi oedem dan ascites
 Anemia ringan dengan lekositosis dan eosinofilia sampai 35%
Gejala klinis ini kemungkinan diakibatkan oleh toksin dari cacing. Gejala-gejala pada
umumnya terjadi pada pagi hari dan menghilang bila penderita diberi makan. Cacing bisa
didapatkan sampai usus besar, kadang dapat menyebabkan stasis usus atau obstruksi karena
jumlah cacing yang cukup banyak.

Diagnosis
Diagnosis pasti dengan menemukan telur pada pemeriksaan tinja atau menemukan cacing
dewasa dalam tinja atau muntahan.

Pencegahan & Pengobatan


Pencegahan fasciolopsiasis dapat dilakukan dengan cara memasak tumbuhan air sebelum
dimakan, serta jangan buang air besar sembarangan terutama di lokasi perairan yang ditumbuhi
tumbuhan air. Fasciolopsiasis dapat diobati dengan Nikosamid, Diklorofoen,dan Praziquantel
secara oral.

b. Echinostomatidae

Hospes

Hospes jenis ini beraneka ragam yaitu manusia, tikus, anjing, burung, ikan, dll
(Poliksen). Penyakitnya disebut Ekinostomiasis.

Morfologi dan Daur Hidup

13
Cacing trematoda dari keluarga Echinostomatidae, dapat dibedakan dari cacing-cacing
trematoda lain, dengan adanya ciri-ciri khas berupa duri-duri leher dengan jumlah antara
37 buah sampai kira-kira 51 buah. Letaknya dalam dua baris berupa tapal kuda,
melingkari bagian belakang serta samping batil isap kepala. Cacing tersebut berbentuk
lonjong berukuran panjang dari 2,5 mm hingga 13-15 mm dan lebarnya 0,4 – 0,7 mm
hingga 2,5 – 3,5 mm.

Testis berbentuk agak bulat, berlekuk-lekuk, letaknya tersusun tandem pada bagian
posterior cacing. Vitelaria letaknya sebelah lateral, meliputi duapertiga badan cacing
dan melanjut hingga bagian posterior cacing. Cacing dewasa hisup dalam usus halus,
mempunyai warna agak merah keabu-abuan. Telur mempunyai operkolum, besarnya
berkisar antara 103-137 x 59-75 mikron. Telur setelah tiga minggu dalam air , berisi
tempayak yang disebut mirasidium. Bila telur menetas , mirasidium keluar dan
berenang bebas untuk hinggap pada hospes perantara I yang berupa keong jenis kecil
seperti genusAnisus, Gyraulus,, Lymnaea dan sebagainya.

c. Heterophyidae

Hospes

Cacing ini sangat banyak, umumnya mahkluk pemakan ikan ini seperti manusia, kucing,
anjing, rubah, dan jenis burung-burung tertentu. Nama penyakitny adalah Heterofiliasis.

Morfologi dan Daur Hidup

Cacing dari keluarga Heterophyidae berukuran panjang antara `1-1,7 mm dan lebar
antara 0,3-0,75 mm,kecuali genus Haplorcis yang jauh lebih kecil, yaitu panjang 0,41-
0,51 mm dan lebar 0,24-o,3 mm di samping batil isap kelamin yang terdapat di sebelah
kiri belakang.

Morfologi dan Daur Hidup :

Cacing ini mempunyai 2 buah testis yang lonjong , ovarium kecil yang agak bulat
dan 14 bua folikel vitelin yang letaknya lateral. Bentuk uterus sangat berkelok-kelok,

14
letaknya diantara kedua sekum. Telur berwarna agak coklat muda,mempunyai
operkulum, berukuran 26,5-30 x 15-17 mikron, berisi mirasidium.

Mirasidium yang keluar dari telur, menghinggapi keong air tawar/payau , seperti
genus pirenella, Cerithidia, Semisulcospira, sebagai hospes perantara I dan ikan dari
genus Mugil, Tilapia, Aphanius, Achantogobius, Clarias dan lain-lain sebai hospes
perantara II. Dalam keong , mirasidium tumbuh menjadi sporokista, kemudian
menjadibanyak redia induk, berlanjut menjadi banyak redia anak untuk pada gilirannya
membentuk banyak serkaria. Serkaria ini menghinggapi ikan-ikan tersebut menjadi
metaserkaria.

 Heterophyes heterophyes
Hospes dan Nama Penyakit

Hospes cacing ini sangat banyak, umumnya makhluk pemakan ikan seperti
manusia kucing, anjing, rubah, dan jenis burung – burung tertentu.
Nama penyakitnya adalah heterofiasis.

Morfologi

Cacing dari keluarga heterophyidae berukuran panjang antara 1-1,7 mm dan lebar
antara 0,3-0,75 mm, kecuali genus Harpocis yang jauh lebih kecil, yaitu panjang
0,41 – 0,51 mm dan lebar 0,24 – 0,3 mm disamping batil isap perut, ciri khas yang
lain adalah, batil isap kelamin yang terdapat disebelah kiri belakang. Bentuk seperti
buah pear ( pyroform ), bagian anterior membulat dan posterior lebih besar. Warna
abu-abu, tubuh diselimuti kutikula dan duri. Mempunyai tiga buah batil isap
(sucker) yakni oral sucker, ventral sucker dan genital sucker ( gonotil ). Organ
refroduksi, dua buah testis berbentuk bulat lonjong yang letaknya berdampingan di

15
posterior tubuh, ovarium bulat di anterior testis dan uterus panjang berkelok-kelok.
Kelenjar vitelaria merupakan folikel-folikel besar pada latero-posterior tubuh.
Sedangkan morfologi telur heterophyes-heteropyes adalah berwarna coklat muda,
mempunyai operkulum, berbentuk bulat lonjong dan berukuran 28-30 x 15-17
mikron. Telur dikeluarkan dari tubuh cacing sudah mengandung mirasidium, akan
menetas setelah dimakan keong air tawar yang cocok yakni pirinella conica
(Mesir), Cerithidia cingulata (Jepang ) atau Semisulcospir.

Siklus Hidup

Cacing dewasa habitatnya pada usus halus, biasanya pada rongga usus halus tetapi
dapat pula pada mukosa usus diantara vili-vili usus. Cacing melepaskan telur
berembrio (mengandung mirasidium) dan keluar ke lingkungan luar bersama tinja
hospes. Setalah termakan oleh siput yang cocok sebagai hospes perantara pertama,
telur menetas dan mirasidium menembus usus siput. Siput yang cocok sebagai
hospes perantara pertama yang penting di Asia dan Timur Tengah dari genus
Cerdhitia dan Feronella. Mirasidium dalam tubuh siput mengalami perkembangan
menjadi sporokista, redia, dan serkaria. Beberapa serkaria dihasilkan dari satu redia.
Selanjutnya serkaria keluar dari tubuh siput dan berenang bebas dalam air. Dan
berkembang menjadi kista metaserkaria pada jaringan hospes perantara kedua yakni
ikan air tawar. Hospes definitif akan terinfeksi bila memakan ikan mentah, setengah
matang atau ikan asin yang mengandung kista metaserkaria.
Manusia mendapatkan infeksi karena makan daging ikan mentah, atau yang
dimasak kurang matang. Pada ikan genus Plectoglossus dan sejenisnya,
metaserkaria tidak masuk kedalam otot, akan tetapi hinggap di sisik dan siripnya.

16
Metaserkaria yang turut dimakan dengan daging ikan mentah, tumbuh menjadi
cacing dewasadalam 14 hari dan bertelur. Setelah termakan, dinding kista akan
pecah pada usus halus. Dan menjadi cacing dewasa berukuran 1-1,7 mm x 0,3-0,4
mm). Di samping manusia beberapa mamalia pemakan ikan (kucing dan anjing)
dan burung dapat terinfeksi oleh Heterophyes heterophyes.

Patologi dan Gejala Klinis


Pada infeksi cacing Heterophyes heterophyes, biasanya stadium dewasa
menyebabkan iritasi ringan pada usus halus, tetapi ada beberapa ekor cacing yang
mungkin dapat menembus virus usus. Telurnya dapat menembus masuk aliran
getah bening dan menyangkut di katub-katub atau otot jantung dan mengakibatkan
payah jantung.
Gejala klinis yang ditimbulkan oleh infeksi berat cacing tersebut adalah mulas
atau kolik dan diare berlendir, serta nyeri tekan pada perut

Pengobatan dan Pencegahan


Obat yang tepat untuk penyakit cacing ini, adalah pirazikuantel. Obat yang dapat
dianjurkan adalah tetrakloroetilen. Pengobatan dengan Drug of choice adalah
pirasikuantel, dosis oral 20 mg/kgBB tiap hari selama 3 hari. Pencegahan pada
Heterofiasis terutama ditunjukkan pada “kista” metaserkaria pada jaringan hospes
perantara kedua yakni ikan air tawar. Hospes definitif akanterinfeksi bila memakan
ikan mentah, setengah matang atau ikan asin yang mengandung kista metaserkaria
oleh sebab itu pencegahan penyakit ini antara lain dilakukan memasak daging
dengan sempurna terutama daging ikan air tawar. Selain itu siput harus
dimusnahkan karena bertindak sebagai hospes reservoir yang selalu akan menjadi
sumber infeksi baru.

 Metagonimus yokogawai

Metagonimus yokogawai merupakan salah satu cacing dari keluarga heterophydae .


Cacing dari keluarga heterophydae adalah heterophyes heterophyes, Metagonimus
yokogawai, dan haplorchis yokogawai.

17
Distribusi geografik

Cacing ini ditemukan di Mesir, Turki, Jepang, Korea, RRC, Taiwan, Philipina, dan
Indonesia. Di Indonesia, Lie Kian Joe (1951) menemukan cacing Haplorchis yokogawai
pada autopsi tiga orang mayat.

Hospes

Umumnya hospes definitif dari cacing ini merupakan mahkluk pemakan ikan ini seperti
manusia, kucing, anjing, rubah, dan jenis burung-burung tertentu. Hospes perantara :
HP1- keong air, HP2-ikan salem. Nama penyakitnya adalah Heterofiliasis.

Morfologi dan Daur Hidup

Cacing dari keluarga Heterophyidae berukuran panjang antara `1-1,7 mm dan lebar
antara 0,3-0,75 mm, kecuali genus Haplorcis yang jauh lebih kecil, yaitu panjang

18
0,41-0,51 mm dan lebar 0,24-0,3 mm di samping batil isap kelamin yang terdapat di
sebelah kiri belakang.
Cacing ini mempunyai 2 buah testis yang lonjong , ovarium kecil yang agak bulat dan
14 buah folikel vitelin yang letaknya lateral. Bentuk uterus sangat berkelok-kelok,
letaknya diantara kedua sekum. Telur berwarna agak coklat muda,mempunyai
operkulum, berukuran 26,5-30 x 15-17 mikron, berisi mirasidium.
Mirasidium yang keluar dari telur, menghinggapi keong air tawar/payau , seperti genus
pirenella, Cerithidia, Semisulcospira, sebagai hospes perantara I dan ikan dari genus
Mugil, Tilapia, Aphanius, Achantogobius, Clarias dan lain-lain sebai hospes perantara
II. Dalam keong , mirasidium tumbuh menjadi sporokista, kemudian menjadibanyak
redia induk, berlanjut menjadi banyak redia anak untuk pada gilirannya membentuk
banyak serkaria. Serkaria ini menghinggapi ikan-ikan tersebut menjadi metaserkaria.

Siklus Hidup

Di sini, siklus hidup M.yokagawai akan diperiksa, namun perlu dicatat M.takahashii
dan M.miyatai mengikuti pola siklus hidup yang sama. Ketiga spesies hermafrodit dan
mampu melakukan pembuahan . Telur berembrio yang masuk ke lingkungan perairan
(air tawar atau payau) masing-masing berisi sepenuhnya dikembangkan larva , yang
disebut mirasidium a. Perkembangan tidak dapat dilanjutkan melewati tahap ini kecuali
telur yang tertelan oleh tuan rumah perantara pertama, siput . Setelah tuan rumah siput
ingests telur, miracidia muncul dan menembus usus siput. Dalam jaringan siput,
mircadia berkembang menjadi sporokista, kemudian rediae, dan akhirnya muncul dari
siput sebagai serkaria . Serkaria kemudian menembus kulit atau pergi di bawah skala
ikan air tawar atau payau dan encyst sebagai metaserkaria dalam jaringan. Jenis ikan
yang berfungsi sebagai tuan rumah sekunder bervariasi berdasarkan lokasi. Tuan rumah
kemudian menjadi terinfeksi oleh mengkonsumsi matang, mentah, atau acar ikan yang
mengandung metaserkaria menular. Metaserkaria kemudian excyst di usus kecil dari
host (manusia, mamalia atau burung), dan berkembang menjadi dewasa. Dalam usus
kecil, orang dewasa menempel pada dinding dan mengembangkan telur baru.

Patologi dan gejala klinis

19
Pada infeksi cacing keluarga Heterophyidae, biasanya stadium dewasa menyebabkan
iritasi ringan pada usus muda, tetapi ada beberapa ekor cacing yang mungkin dapat
menembus vilus usus. Telurnya dapat menembus masuk aliran getah bening dan
menyangkut di katup – katup atau otot jantung dan mengakibatkan payah jantung.
Kelainana ini terutama dilaporkan pada infeksi cacing Metagonimus dan Haplorchis
yokogawai. Telur atau cacing dewasa dapat bersarang di jaringan otak dan menybabkan
kelainan disertai gejala – gejalanya. Gejala klinis yang ditimbulkan oleh infeksi berat
cacing tersebut adalah mulas – mulas atau kolik dan diare dengan lendir, serta nyeri
tekan pada perut.

Epidemiologi
Manusia, terutama pedagang ikan dan hewan lain seperti kucing, anjing, dapat
merupakan sumber infeksi bila menderita penyakit cacing tersebut, melalui tinjanya.
Telur cacing dalam tinja dapat mencemari air serta ikan yang hidup didalamnya. Hospes
definitif mendapatkan infeksi karena memakan daging ikan mentah yang mengandung
metaserkaria hidup. Ikan yang diproses kurang sempurna untuk konsumsi, seperti
fessikh, dapat juga menyebabkan infeksi. Sebagai usaha untuk mencegah meluasnya
infeksi cacing heterophyidae, kebiasaan memakan daging ikan harus diubah.

Pencegahan.
Pencegahan penyakit oleh trematoda dapat di lakukan beberapa hal yaitu pengobatan
penderita sebagai sumber infeksi, desinfeksi dan sanitasi pembuangan tinja, urine atau
sputum, kampanye antimolusca (pemberantasan keong air tawar). Serta pendidikan
terutama menyangkut mandi serta makan.

2. Trematoda hati (Liver flukes)


a. Clonorchis Sinensis(Opisthorchis sinensis)

Kingdom : Animalia
Phylum : Platyhelminthes
Kelas : Trematoda

20
Ordo : Opisthorchiida
Family : Opisthorchiidae
Genus : Clonorchis
Spesies : Clonorchis sinensis

Hospes :

Terdapat pada manusia, kucing, anjing, beruang kutub, dan babi, penyakitnya
disebut Klonorkiasis.

Morfologi dan Daur Hidup

Telur :

 Bentuk seperti botol ukuran 25–30µm


 warna kuning kecoklatan
 Kulit halus tetapi sangat tebal
 Pd bagian ujung yg meluas terdapat tonjolan
 Berisi embrio yg bersilia (miracidium)
 Operculum mudah terlihat
 infektif untuk siput air

Cacing Dewasa :

 Ukuran 12 – 20 mm x 3 – 5 mm
 Ventral sucker < oral sucker
 Usus (sekum) panjang dan mencapai bag. Posterior tubuh
 Testis terletak diposterior tubuh & keduanya mempunyai lobus
 Ovarium kecil terletak ditengah (anterior dari testis)

Hidup di saluran empedu, kadang-kadang ditemukan di saluran pankreas. Ukuran cacing


dewasa 10-25 mm x 3-5 mm, bentuk pipih,lonjong menyerupai daun.

21
Telur berukuran kira-kira 30-16 mikron, bentuknya seperti bola lampu pijar dan berisi
mirasidium, ditemukan dalam saluran empedu.

Gambar 2. Telur cacing Clonorchis sinensis

Patologi

Perubahan patologi terutama terjadi pada sel epitel saluran empedu. Pengaruhnya
terutama bergantung pada jumlah cacing dan lamanya menginfeksi, untungnya jumlah
cacing yang menginfeksi biasanya sedikit. Pada daerah endemik jumlah cacing yang pernah
ditemukan sekitar 20-200 ekor cacing. Infeksi kronis pada saluran empedu menyebabkan
terjadinya penebalan epithel empedu sehingga dapat menyumbat saluran empedu.
Pembentukan kantong-kantong pada saluran empedu dalam hati dan jaringan parenchym
hati dapat merusak sel sekitarnya. Adanya infiltrasi telur cacing yang kemudian dikelilingi
jaringan ikat menyebabkan penurunan fungsi hati.

Gejala asites sering ditemukan pada kasus yang berat, tetapi apakah ada hubungannya
antara infeksi C. sinensis dengan asites ini masih belum dapat dipastikan. Gejala joundice
(penyakit kuning) dapat terjadi, tetapi persentasinya masih rendah, hal ini mungkin
disebabkan oleh obstruksi saluran empedu oleh telur cacing. Kejadian kanker hati sering
dilaporkan di Jepang, hal ini perlu penelitioan lebih jauh apakah ada hubungannya dengan
penyakit Clonorchiasis.

Cacing ini menyebabkan iritasi pd saluran empedu dan penebalan dinding saluran dan
Perubahan jaringan hati yang berupa radang sel hati, Gejala dibagi 3 stadium:

22
 stadium ringan tidak ada gejala
 stadium progresif ditandai dengan menurunnya nafsu makan,
diare, edema, dan pembesaran hati.
 stadium lanjut didapatkan sindrom hipertensi portal terdiri
dari pembesaran hati, edema, dan kadang-kadang menimbulkan
keganasan dlm hati, dapat menyebabkan kematian

Pengobatan

Pengobatan untuk parasit ini adalah sama dengan trematoda lainnya, terutama melalui
penggunaan praziquantel sebagai obat pilihan pertama. Obat diberikan pada 5 mg / kg
stat, atau mingguan.Obatyangdigunakan untuk mengobati
infestasimencakup triclabendazole, praziquantel, bithionol ,Albendazole dan mebendazol.

b. Opisthorchis Felineus

Kelas : Trematoda

Ordo : Prosostomata

Famili : Opistorchoidae

Genus : Opistorchis

Hospes

Terdapat pada kucing, anjing, dan manusia merupakan hospes penyakit ini, penyakitnya
disebut Opistorkiasis.

Morfologi dan Daur Hidup

Ciri-ciri khusus :

 Ukuran : panjang 7-8 mmLebar 2-3 mm


 Bentuk lebih panjang atau langsing.
 Kutikula tertutup duri.

23
 Oral sucker lebih terminal. asetabulum pada 1setengah bagian tubuh depan (1/4 dari
seluruh panjang tubuh)
 Besar oral sucker = besar ventral sucker.
 Sekum panjang tak bercabang
 Testis berlobi miring satu sama lain
 Kelenjar vitelin S pada tengah badan.

Hidup dalam saluran empedu dan saluran pankreas. Cacing dewasa berukuran 7-12 mm,
mempunyai batil isap mulut dan batil isap perut. Bentuknya seperti lanset, pipih
dorsoventral. Telur jenis ini mirip denganC.Sinensis hanya bentuknya lebih langsing.

Infeksi terjadi dengan dengan makan ikan yang mengandung metaserkaria dan dimasak
kurang matang.

c. Fasciola hepatica

Kingdom : Animalia

Phylum : Platyhelminthes

Kelas : Trematoda

Ordo : Echinostomida

Genus : Fasciola

Spesies : Fasciola Hepatica

Hospes

Terdapat pada kambing dan Sapi, dan kadang-kadang parasit ini juga ditemukan pada
manusia. Penyakitnya disebut fascioliasis.

Morfologi dan Daur Hidup

Cacing dewasa mempunyai bentuk pipih seperti daun, besarnya kurang lebih 30x13mm.
bagian anterior berbentuk seperti kerucut dan pada puncak kerucut terdapat batil isap mulut yang
besarnya kurang lebih 1mm, sedangkan pada bagian dasar kerucut terdapat batil isap perut yang

24
besarnya kurang lebih 1,6mm. saluran pencernaan bercabang-cabang sampai ke ujung distal
sekum. Testis dan kelenjar vitelin juga bercabang-cabang.

Telur cacing ini berukuran 140x90 mikron, dikeluarkan melalui selauran empedu ke dalam tinja
dalam keadaan belum matang. Telur menjadi matang dalam air setelah 9-15 hari dan berisi
mirasidium.

Patologi

Terjadi sejak larva masuk kesaluran empedu sampai menjadi dewasa. Parasit ini dapat
menyebabkan iritasi pada saluran empedu dan penebalan dinding saluran. Selain itu, dapat terjadi
perubahan jaringan hati berupa radang sel hati. Pada keadaan lebih lanjut dapat timbul sirosis
hati disertai asites dan edema. Luasnya organ yang mengalami kerusakan bergantung pada
jumlah cacing yang terdapat disaluran empedu dan lamanya infeksi gejala dari penyakit
fasioliasis biasanya pada stadium ringan tidak ditemukan gejala. Stadium progresif ditandai
dengan menurunnya nafsu makan, perut terasa penuh, diare dan pembesaran hati. Pada stadium
lanjut didapatkan sindrom hipertensi portal yang terdiri dari perbesaran hati, ikterus, asites, dan
serosis hepatis.

Pengobatan dan pencegahan

Pengobatan yang dapat diberikan antara lain:

 Heksakloretan
 Heksaklorofan
 Rafoxamide

25
 Niklofolan
 Bromsalan yang disuntikkan di bawah kulit

Cara-cara pencegahan

 Tidak memakan sayuran mentah.


 Pemberantasan penyakit fasioliasis pada hewan ternak.
 Kandang harus dijaga tetap bersih, dan kandang sebaiknya tidak dekat kolam atau
selokan.
 Siput-siput disekitar kandang dimusnakan untuk memutus siklus hidup Fasciola
hepatica.

3. Trematoda Darah
a. Schistosoma joponicum

Kelas :Trematoda

Subkelas :Digenea

Ordo :Strigeidida

Genus :Schistosoma

Spesies :Schistosoma joponicum

Hospes

Hospesnya adalah manusia dan berbagai macam binatang seperti anjing, kucing, rusa,
tikus sawah (rattus), sapi, babi rusa dan lain-lain. Parasit ini pada manusia menyebabkan oriental
schistosomiasis, skistomiasis japonika, penyakit Ktayama atau penyakit demam keong.

Morfologi dan Daur Hidup

Cacing dewasa jantan berukuran kira-kira 1,5cm dan betina kira-kira 1,9cm, hidupnya di
vena mesenterika superior. Telur ditemukan di dinding usus halus dan juga di alat-alat dalam
seperti hati,paru dan otak.

26
Gambar . Morfologi Schistosoma joponicum

Gambar . Telur Schistosoma joponicum

Patologi

Setelah parasit memasuki tubuh inang dan memproduksi telur, parasit menggunakan
system kekebalan inang (granuloma) untuk transportasi telur kedalam usus. Telur merangsang
pembentukan granuloma disekitar mereka. Granuloma yang terdiri dari sel motil membawa telur
kedalam lumen usus. Ketika didalam lumen, sel granuloma meninggalkan telur untuk dibuang
dalam feses. Sayangnya sekitar 2/3 dari telur tidak dikeluarkan, sebaliknya mereka berkembang
diusus. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya fibrosis. Pada kasus yang kronis, Schistosoma
joponicum merupakan pathogen dari sebagian besar spesies schistosoma yang menghasilkan

27
3000 telur per hari diamana jumlah telur yang dikeluarkan ini sepuluh kali lebih besar dari
schistosoma mansoni.
Sebagai penyakit kronis, parasit ini dapat menyebabkan demam katayama, fibrosis hati,
sirosis hati, hipertensi hati portal, spinomegali dan ascites. Beberapa telur mungkin masuk ke
dalam paru-paru, system syaraf dan organ lain dimana mereka dapat mempengaruhi kesehatan
individu yang terinfeksi.

Pengobatan

Pengobatan dapat dilakukan dengan memberikan prazikuantel. Selain itu dapat juga
digunakan natrium antimony tartrat. Obat lainnya tidak memberikan hasil yang memuaskan
karena sebenarnya tidak ada obat khusus untuk parasit ini. Obat-obat tersebut akan menyebabkan
cacing dewasa terlepas dari pembuluh darah, sehingga akan tersapu kedalam hati oleh sirkulasi
portal.

Pencegahan

Kontrol infeksi Schistosoma joponicum memerlukan beberapa upaya pencegahan penting


yang terdiri dari pendidikan, menghilangkan penyakit dari orang yang terinfeksi, pengendalian
vektor dan memberikan vaksin pelindung.
Pendidikan dapat menjadi cara yang sangat efektif, tetapi sulit dengan kurangnya sumber
daya. Dilakukan juga untuk meminta orang untuk mengubah kebiasaan, tradisi dan prilaku dapat
menjadi tugas yang sulit.
Kotoran manusia harus dibuang secara hieginis. Kotoran manusia didalam air bila
dibertemu dengan hospes intermediet berupa siput Oncomelania merupakan penyebab utama
untuk kelangsungan hidup cacing Schistosoma. Maka sisa kotoran manusia tidak boleh
digunakan untuk nightsoiling (pemupukan tanaman dengan kotoran manusia). Untuk
menghindari infeksi, individu harus menghindari kontak dengan air yang terkontaminasi oleh
kotoran manusia maupun hewan.
Sesaat sebelum masuk kedaerah air yang berpotensi terinfeksi, salep Cercaricial dapat
dioleskan pada kulit. Barrier krim dengan basis dimenthicone disarankan untuk perlindungan
tinggi selama minimal 48 jam.

28
b. Schistosoma mansoni

Klasifikasi

Kingdom : Animalia
Filum : Platyhelminthes
Kelas : Trematoda
Subkelas : Digenea
Ordo : Strigeidida
Genus : Schistosoma
Spesies : Schistosoma mansoni

Hospes

Hospes definitif adalh manusi dan kera baboon di Afrika sebagai hospes reservoar. Pada
manusia cacing ini menyebabkan skistosomiasis usus.

Morfologi dan Daur Hidup

Cacing dewasa jantan berukuran kira-kira 1cm dan betina kira-kira 1,4cm. Pada badan
cacing jantan S. Mansoni terdapat tonjolan lebih kasar bila dibandingkan dengan S.
Haematobium dan S.japonicum. Badan S.japonicummempunyai tonjolan yang lebih halus.
Tempat hidupnya di vena, kolon dan rectum. Telur juga tersebar ke alat-alat lain seperti hati,
paru dan otak.

29
Morfologi dan telur Schistosoma mansoni

Patologi

Patologi yang berhubungan dengan infeksi denganSchistosma mansonidapat dibagi menjadi dua
bidang utama, yaitu schistosomiasis akut dan kronis. Schistomiasis biasa disebut sebagai demam
katayama. Hal ini terkait dengan timbulnya parasite betina bertelur (sekitar 5 minggu setelah
infeksi), dan pembentukan granuloma sekitar telur terdapat di hati dan dinding usus,menyerupai
hepatosplenomegali dan leukositosis dengan eosinofilia, mual, sakit kepala, batuk, dalam kasus
yang ekstrim diare disertai dengan darah, lendir dan bahan nekrotik. Gejala kronis akan
tampak beberapa tahun setelah infeksi. Gejalanya seperti peradangan padahati dan jarang
ditemukan di organ lain (paru-paru).

Pengobatan

Natrium antimonium tartrat cukup efektif untuk pengobatan penyakit yang diakibatkan
oleh parasit ini. Stiboven dapat diberikan secara intramuskuler. Nitridiasol juga efektif tetapi
bukan sebagai obat pilihan. Obat lain yang cukup baik diberikan peroral adalah oksamniquin dan
nitrioquinolin.

30
Pencegahan

Pengendalian Schistosomiasis, dengan mengontrol setiap organisme yang memungkinkan


untuk menularkan cacing. Hal ini bertujuan untuk mencegah infeksi baru, biasanya oleh
gangguan siklus hidup parasit. Pencegahan dan pengendalian dapat dicapai dengan sejumlah
metode seperti berusaha untuk menghilangkan hospes perantara, penghapusan parasit dari hospes
definitif,pencegahan infeksi pada inang definitif dan pencegahan infeksi pada hospes perantara.

c. Schistosoma haematobium

Klasifikasi

Kingdom : Animalia
Filum : Platyhelminthes
Kelas : Trematoda
Subkelas : Digenea
Ordo : Strigeidida
Genus : Schistosoma
Spesies : Schistosoma haematobium

Hospes

Hospes definitif adalah manusia. Cacing ini meyebabkan skistomiasis kandung kemih.
Baboon dan kera lain dilaporkan sebagai hospes reservoar.

Morfologi dan Daur Hidup

Cacing dewasa jantan berukuran kira-kira 1,3 cm danyang betina kira-kira 2,0cm.
Hidupnya di vena panggul kecil, terutama di vena kandung kemih. Telur ditemukan di urin dan
alat-alat dalam lainnya, juga di alat kelamin dan rectum.

31
Morfologi Schistosoma haemotobium

Patologi dan gejala klinis

Setelah kontak dengan kulit manusia, serkaria masuk kedalam pembuluh darah kulit.
Lebih kurang 5 hari setelah infeksi, cacing muda mulai menjangkau vena portae dan hati. Kira-
kira tiga minggu setelah infeksi pematangan cacing dimulai sejak keluarnya dari vena portae.
Setelah infeksi 10-12 minggu, cacing betina mulai meletakan telur pada venule. Efek pathogen
terdiri atas:
 Reaksi lokal dan umum terhadap metabolit cacing yang sedang tumbuh dan
matang
 Trauma dengan perdarahan akibat telur keluar dari venule.
 Pembentukan pseudoabses dan pseudotuberkel mengelilingi telur terbatas
pada jaringan perivaskuler
Penyakit ini seringkali tidak memperlihatkan tanda-tanda awal. Di beberapa tempat
tanda-tanda umum yang sering terliha tadalah adanya darah di dalam air kencing atau kotoran.
Pada wanita, tanda ini bisa juga disebabkan oleh adanya luka pada alat kelaminnya. Di daerah di
mana penyakit ini banyak terjadi, orangyang memperlihatkan sekedar gejala-gejala yang tidak
parah atau hanya sekedar sakit perut saja, patut diperiksa.

Pengobatan

32
Obat yang biasa digunakan adalah Metrifonate, organoposforus cholinesterase inhibitor.
Dosisnya 5-15 mg/ kg berat badan diberikan dengan interval 2 minggu.

Pencegahan

Penyakit cacing dalam darah tidak ditularkan secara langsung dari satu ke orang lain.
Sebagian hidup cacing harus dihabiskan dengan hidup di dalam keong air jenis tertentu. Program
masyarakat dapat diadakan untuk membasmi keong-keong tersebut pada lingkungan pemukiman
agar mencegah penularan penyakit cacing pada manusia.

Cara menghindari penyebab penyakit ini antara lain:


 Menghindari kencing atau buang air besar di dalam air atau dekat sumber air.
 Hindari berenang di dalam air kotor.
 Gunakan perlindungan kaki saat memasuki air, misalnya menggunakan seoatu
boot

33
DAFTAR PUSTAKA

Natadisastra D. 2009. Parasitologi Kedokteran : Ditinjau dari Organ Tubuh


yang Diserang. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Sutanto, Inge. 2001. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran edisi ke empat. Badan Penerbit FKUI.
Saleha sungkar. Jakarta.

Sandjaja, Bernardus. 2009. Parasitologi Kedokteran Buku II Helmintologi Kedokteran. Prestasi


Pustaka. Jakarta.

Prianto, Juni. 1995. Atlas Parasitologi Kedokteran. Hadidjaja Pinardi. PT Gramedia Pustaka
Utama. Jakarta.

http://ettaabu.blogspot.co.id/2011/06/fasciolopsis-buski.html (diakses pada 28 Desember 2017


pukul 19.30 wita)

https://khairulrizalvet.blogspot.co.id/2015/05/trematoda.html (diakses pada 28 Desember 2017


pukul 19.30 wita)

http://susyyoonshinhye.blogspot.co.id/2011/06/trematoda.html (diakses pada 28 Desember 2017


pukul 19.30 wita)

34