Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

SEMESTER GENAP 2015 – 2016

“ANALISIS KUALITATIF PROTEIN (XANTHOPROTEIN) DAN


ANALISIS KADAR PROTEIN TOTAL (METODE BIURET)”

Hari / Jam Praktikum : Senin / 13.00-16.00

Tanggal Praktikum : 6 April 2016

Kelompok :2

Asisten : 1. Yulina Saragih

2. Alsya Utami Rahayu

LABORATORIUM BIOKIMIA

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS PADJADJARAN

JATINANGOR

2016
I. Tujuan
1. Mengidentifikasi protein pada suatu sampel menggunakan pereaksi
xanthoprotein.
2. Menentukan kadar protein dari suatu sampel menggunakan uji
biuret.
II. Prinsip
1. Analisis kualitatif
Analisis kualitatif digunakan untuk mencari ada tidaknya
komponen-komponen dalam cuplikan. Komponen-komponen
tersebut dapat berupa radikal, ion, kation, ataupun molekul
(Putjaatmaka, 2002).
2. Analisis kuantitatif
Analisis kuantitatif berkaitan dengan penetapan berapa
banyak suatu zat tertentu yang terkandung dalam suatu sampel. Zat
yang ditetapkan sering dinyatakan sebagai konstituen atau analit
(Day dan Underwood, 2002).
3. Pereaksi xanthoprotein
Xanthoprotein ini adalah pereaksi protein yang
menunjukkan adanya inti benzene (cincin fenil). Prinsip dari
pengujian xanthoprotein adalah nitrasi pada inti benzena yang
terdapat pada molekul protein. Uji ini positif untuk protein yang
mengandung asam amino tirosin, fenilalanin, dan triptofan (Azhar,
2010).
4. Metode biuret
Uji biuret merupakan uji umum untuk mengetahui ikatan
peptida dalam suatu protein. Larutan protein dibuat alkalis dengan
NaOH kemudian ditambahkan larutan CuSO4 encer. Uji ini
memberikan reaksi positif yaitu ditandai dengan timbulnya warna
merah violet atau biru violet (Azhar, 2010).
5. Metode spektrofotometri
Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa yang
didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh
suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombamg spesifik
dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi
dengan detektor fototube (Yoky, 2009).

III. Mekanisme Reaksi


1. Reaksi uji biuret terhadap filtat

(Lehninger, 1982)

2. Reaksi uji xantoprotein

(Lehninger, 1982)
IV. Teori Dasar
Protein adalah sekelompok senyawa organik yang nyaris
keseluruhannya terdiri atas karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen. Protein
biasanya suatu polimer yang tersusun atas banyak subunit (monomer) yang
dikenal sebagai asam amino. Asam amino yang biasanya ditemukan dalam
protein menunjukkan struktur sebagai berikut (Fried dan Hademenos, 2006).

(Fried dan Hademenos, 2006).


Semua protein pada semua makhluk, dibangun oleh oleh susunan
dasar yang sama, yaitu 20 macam asam amino baku yang molekulnya sendiri
tidak mempunyai aktivitas biologis sedang protein sebagai enzim dan hormon
mempunyai fungsi khusus. Disamping itu protein dapat berfungsi sebagai
pembangun struktur, sumber energi, penyangga racun, pengatur pH dan bahkan
sebagai pembawa sifat turunan dari generasi ke generasi (Patong, dkk., 2012).
Melalui reaksi hidrolisis protein telah didapatkan 20 macam asam
amino yang dibagi berdasarkan gugus R-nya, berikut dijabarkan penggolongan
tersebut : asam amino non-polar dengan gugus R yang hidrofobik, antara lain
Alanin, Valin, Leusin, Isoleusin, Prolin, Fenilalanin, Triptofan dan Metionin.
Golongan kedua yaitu asam amino polar tanpa muatan pada gugus R yang
beranggotakan Lisin, Serin, Treonin, Sistein, Tirosin, Asparagin dan Glutamin.
Golongan ketiga yaitu asam amino yang bermuatan positif pada gugus R dan
golongan keempat yaitu asam amino yang bermuatan negatif pada gugus R.
Dari ke-20 asam amino yang ada, dijumpai delapan macam asam amino
esensial yaitu valin, leusin, Isoleusin, metionin, Fenilalanin, Triptofan,
Treonin, dan Lisin. Asam amino essensial ini tidak bisa disintesis sendiri oleh
tubuh manusia sehingga harus didapatkan dari luar seperti makanan dan zat
nutrisi lainnya (Samadi, 2012).
Pembagian tingkat organisasi struktur protein ada empat kelas yakni
struktur primer, struktur sekunder, dan struktur tersier. Sedangkan klasifikasi
protein dibagi berdasarkan sifat biologisnya, berdasarkan sifat kelarutannya
dan gugus prostetiknya (Katili, 2009).
Reaksi kimia asam amino mencirikan gugus fungsional yang
terkandung. Karena semua asam amino mengandung gugus amino dan
karboksilat, senyawa ini akan memberikan reaksi kimia yang mencirikan gugus
ini. Sebagai contoh gugus amino dapat memberikan reaksi asetilasi, dan gugus
karboksil esterifikasi. Walaupun kita tidak akan menganalisa semua reaksi-
reaksi organic spesifik asam amino, terdapat dua reaksi penting yang secara
luas dipergunakan untuk melakukan deteksi, pengukuran, dan identifikasi asam
amino (Lehninger, 1982).
Pengujian protein salah satunya dapat dilakukan dengan metode
biuret dan reaksi Xantoprotein. Pada metode Biuret larutan protein dibuat
alkalis dengan NaOH kemudian ditambahkan larutan CuSO4 encer. Uji ini
untuk menunjukkan adanya senyawa – senyawa yang mengandung gugus
amida asam (Ramsuliana, 2012).
Sementara reaksi xantoprotein adalah uji kualitatif pada protein yang
digunakan untuk menunjukkan keberadaan gugus benzene. Metode analisis
protein ini menggunakan larutanasam nitrat pekat, yang merupakan salah satu
asam pekat. Larutan asam nitrat ini ditambahkan dengan ke dalam larutan
protein. Setelah kedua larutan tersebut tercampur maka akan terjadi reaksi ini
sehingga terbentuk endapan berwarna putih. Langkah selanjutnya dilakukan
pemanaskan terhadap larutan tersebut, pada tahapan ini endapan berwarna
putih akan berubah warna menjadi kuning. Reaksi perubahan yang terjadi
tersebut disebut nitrasi pada inti dari benzena yang terdapat pada molekul dari
protein. Hasil positif pada uji xantoprotein adalah munculnya gumpalan atau
cincin warna kuning(Sumardjo, 2006).
Pada uji ini, digunakan larutan asam nitrat yang berfungsi untuk
memecah protein menjadi gugus benzena. Asam amino yang menunjukkan
reaksi positif untuk uji ini, yaitu tyrosin, phenilalanin dan tryptophan. Protein
yang mengandung residu asam amino dengan radikal fenil dalam struktur
kimianya (protein yang mengandung asam amino fenilalanin atau tirosin) jika
ditambahkan dengan asam nitrat pekat akan terbentuk gumpalan warna putih.
Pada pemanasan, warna gumpalan putih tersebut akan berubah menjadi kuning
yang akhirnya berubah menjadi jingga jika ditambah dengan larutan basa.
Sebenarnya, proses ini dapat terjadi jika kulit terkena asam nitrat pekat, yang
segera menjadi kuning karena terjadinya proses nitrasi inti benzena pada asam
amino penyusun kulit (Sumardjo, 2006).
Fungsi protein ditentukan oleh konformasinya, atau pola lipatan tiga
dimensinya, yang merupakan pola dari rantai polipeptida. Beberapa protein
seperti keratin rambut dan bulu, berupa serabut, dan tersusun membentuk
struktur linear atau struktur seperti lembaran dengan pola lipatan berulang yang
teratur. Protein lainnya, seperti kebanyakan enzim, terlipat membentuk
konformasi globular yang padat dan hampir menyerupai bentuk bola.
Konformasi akhir bergantung pada berbagai macam interaksi yang terjadi
(Kuchel dan Ralston, 2006).

V. Alat dan Bahan


1. Alat
a. Gelas ukur

b. Gelas Kimia
c. Microplate

d. Microplate reader

e. Penangas air

f. Pipet tetes

g. Pipet Mikro
h. Tabung reaksi

2. Bahan
a. Ekstrak kacang tanah (4 ml)
b. NaOH 10%
c. Larutan HNO3 6N (1 ml)
d. Larutan CuSO4 0.01 N (2-3 tetes)
e. NaOH 2,5N (1ml)
VI. Prosedur
Pereaksi yang Dibuat
1. Pereaksi Biuret
Larutkan 1,5 gram CuCO4.5H2O dan 4,5 gram Na-K-Tartrat
dalam 250 ml KOH 0.2 N Tambahkan 2,5 gram KI kemudian
encerkan sampai 500 ml dengan menggunakan KOH 0.2 N.
Penambahan dilakukan KI untuk menghambat reduksi tembaga.

A. Analisis Kualitatif Protein dengan Uji Xantoproteat


Menggerus sampel dalam mortar dan menambahkan air
secukupnya. Memasukkan 2 ml larutan sampel yang akan diuji ke
dalam tabung reaksi. Menambahkan 1 ml HNO3 6M, mengamati
terrbentuknya endapan putih. Memanaskan sampel selama 1 menit
secara perlahan, mengamati hingga endapan putih berubah menjadi
larutan kuning dengan gumpalan kuning. Mendinginkan sampel
dan menambahkan NaOH 40% setetes demi setetes hingga
berwarna jingga (maksimal 15 tetes).

B. Analisis Kuantitatif Kadar Protein dengan Metode Biuret


Sebanyak 10mg kasein ditimbang dan dimasukkan kedalam labu
takar 10ml, kemudian dilarutkan dengan aquades (1mg/1ml).
Selanjurnya, sebanyak 2ml larutan stok diambil dan dimasukkan
kedalam labu takar 10ml dan digenapkan hingga tanda batas
(200mg/mL). Kemudian microplate diisi dengan 50 µL aquades
dan larutan stok sebanyak 50 µL dimasukkan kedalam kolom B1
dan B2 (50 µL baku 200µg/mL + 50µL aquadest 100µg/mL) dan
dihomogenkan. Selanjutnya diambil sejumlah 50µL dari B1 dan
B2 dan dimasukkan kedlam C1, C2, C3 (50 µL baku 100µg/mL +
50µL aquadest 50µg/mL) dan dihomogenkan prosedur dilakukan
hingga komom H1, H2, H3 dengan konsentrasi baku 1000, 500,
250, 125, 62,5 , 31,25 , 15,625. Selanjutnya, ditambah 150µL
pereaksi biuret dan diinkubasi elama 30 menit pada suhu ruang.

VII. Hasil Pengamatan


No Perlakuan Hasil Foto

Uji kualitatif protein

1. Memipet sampel Didapatkan


sebanyak 1 ml sampel
kemudian sebanyak 1
dimasukkan ml didalam
kedalam tabung tabung
reaksi reaksi
2. Menambahkan 3 Didapatkan
tetes HNO3 campuran
kedalam tabung sampel
reaksi yang berisi dengan
sampel HNO3
3. Memanaskan Didapatkan
tabung reaksi larutan
tersebut diatas sampel yang
penangas air berubah
menjadi
warna
kuning
4. Dalam tabung Didapatkan
reaksi, 10 tetes larutan
NH4OH samoel yang
dimasukkan telah
namun bercampur
sebelumnya dengan
sampel NH4OH dan
didinginkan larutan
terlebih dahulu berubah
warna
menjadi
semakin
kuning dan
ada endapan
oranye
Uji kuantitatif protein

1. Memipet sampel Didapatkan


sebanyak 5 ml 5 ml sampel
dan memasukkan didalam
kedalam labu labu ukur
ukur 100ml 100 ml

2. Meng add sampel Didapatkan


dengan 100 ml
menggunakan larutan
aquades hingga sampel
mencapai tanda dalam labu
batas ukur

3. Melakukan Didapatkan
pengocokan larutan
sampel yang
homogen
4. Menambahkan Didapatkan
aquades 50 µl aquades
dalam microplate dalam
pada kolom 1 dan microplate
2 50 µl
5. Memasukkan 50 Didapatkan
µl bakukerja baku kerja
(Kasein) dalam dalam
kolom B1 dan B2 microplate
50 µl
6. Mengencerkannya Didapatkan
dan sampel
mengambilnya sebanyak 50
sebanyak 50 µl µl dalam
kemudian kolom C1
dimasukkan dan C2
dalam kolom C1
dan C2
7. Pengenceran Didapatkan
dilakukan secara hasil
bertingkat hingga pengenceran
kolom H1 dan H2 pada tiap
kolom H1
dan H2
8. Menambahkan Didapatkan
biuret pada tiap hasil
kolom pengenceran
dan biuret
dalamkolom

9. Melakukan Didapatkan
inkubasi selama hasil
30 menit inkubasi
yang dapat
terjadi
reaksi antara
kasein dan
biuret
10. Memasukkan Didapatkan
kedalam kolom sampel pada
1,2,3 di kolom1,2,3
microplate tetes
yang baru
11. Menambahkan Didapatkan
biuret pada tiap reaksi antara
kolom dan sampel dan
melakukan biuret
inkubasi selama
30 menit

12. Memasukkannya Didapatkan


kedalam data
microplate reader absorbansi
Tabel Pengamatan Hubungan Konsentrasi dengan Absorbansi Sampel

Absorbansi
Konsentrasi
No Rata- Sampel-
(µg/ml) 1 2
rata blanko
1. 1000 0,205 0,108 0,1565 0,0785
2. 500 0,150 0,086 0,118 0,04
3. 250 0,092 0,117 0,1045 0,0265
4. 125 0,093 0,088 0,0905 0,0125
5. 62,5 0,064 0,101 0,0825 0,0045
6. 31,25 0,083 0,105 0,094 0,016
7. 15,625 0,091 0,106 0,0985 0,0205

Grafik Hubungan Konsentrasi dengan Absorbansi


0.09
0.08
0.07
0.06
ABsorbansi

0.05
0.04
0.03
0.02
0.01
0
15,625 31.25 62.5 125 250 500 1000
Konsentrasi (µg/ml)

Absorbansi blanko

0,080+0,076
= 2
=0,078

Absorbansi blanko+ biuret

0,264+0,156+0,102
= 3

= 0,174

Rumus menghitung konsentrasi

y = Ax + B

dengan y sebagai absorbansi dan x konsentrasi

dengan menggunakan data standar, dilakukan penghitungan A dan B


menggunakan kalkulator, hasilnya adalah

A = 9,408045 x 10-3

B=6,684405 x 10-5

Absorbansi sampel (kubis)

0,503+0,329+0,230
= 3

= 0,354

Absorbansi sampel- (blanko+ biuret)

= 0,354 - 0,174

= 0,18

Konsentrasi sampel

y = Ax + B

0,18 = 9,408045 x 10-3 x + 6,684405 x 10-5

X = 19,12545 µg/ml
VIII. Pembahasan

Protein merupakan salah satu unsur makro yang terdapat pada bahan
pangan selain lemak dan karbohidrat. Protein merupakan sumber asam amino
yang mengandung unsur-unsur C, H, O dan N dalam ikatan kimia. Protein
merupakan senyawa organik komplek berbobot molekul besar yang terdiri
dari asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida.
Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang
kala sulfur serta fosfor. Peptida dan protein merupakan polimer kondensasi
asam amino dengan penghilangan unsur air dari gugus amino dan gugus
karboksil. Jika bobot molekul senyawa lebih kecil dari 6.000, biasanya
digolongkan sebagai polipeptida.

Fungsi utama protein dalam tubuh adalah sebagai zat pembentuk


jaringan baru dan mempertahankan jaringan yang sudah ada agar tidak mudah
rusak. Protein juga dapat digunakan sebagai bahan bakar apabila keperluan
energi tubuh tidak dapat terpenuhi oleh karbohidrat dan lemak. Protein juga
berperan dalam mengatur proses daam tubuh. Dengan cara zat-zat pengatur
proses dalam tubuh. Protein dapat mengatur keseimbangan cairan dalam
jaringan dan pembuluh darah, yaitu dengan cara menimbulkan tekanan
osmotik koloid. Tekanan osmotik tersebut dapat menarik cairan jaringan ke
daam pembuuh darah. Selain itu sifat amfoter protein yang dapat bereaksi
dengan asam dan basa, dapat mengatur keseimbangan asam basa dalam
tubuh.

Pada praktikum kali ini dilakukan uji kualitatif protein menggunakan


pereaksi xanthoproteat dan uji kuantitatif kadar protein menggunakan uji
biuret. Tujuan dari praktikum kali ini yaitu mengetahui adanya ikatan peptida
dari suatu protein, membuktikan adanya asam amino bebas dalam suatu
protein, dan membuktikan adanya asam amino yang berinti benzena.
Sampel yang akan diuji pada praktikum ini yaitu kubis. Kubis, kol,
kobis, atau kobis bulat adalah tanaman dua tahunan hijau atau ungu berdaun,
ditanam sebagai tanaman tahunan sayuran untuk kepala padat berdaunnya.
Berdasarkan sumbernya, kubis mengandung 1,3 g protein per 100 g nya.

Pereaksi Xanthoproteat adalah pereaksi protein yang menunjukkan


adanya inti benzene (cincin fenil). Untuk identifikasi tyrosin,trptophan, dan
fenilalanin. Prosedur dari pereaksian Xanthoprotein ini adalah protein
bereaksi dengan HNO3 dan menghasilkan + NaOH berlebih. Prinsip dari
pengujian xanthoprotein adalah nitrasi pada inti benzena yang terdapat pada
molekul protein. Awalnya larutan asam nitrat pekat yang dicampurkan
dengan asam amino yang memiliki cincin aromatik atau struktur benzena
yang dipanaskan akan membentuk suatu turunan nitro yang berwarna kuning
dan garam – garam turunannya akan berwarna jingga bila ditambah dengan
NaOH.

Metode analisis protein ini menggunakan larutan asam nitrat pekat,


yang merupakan salah satu asam pekat. Larutan asam nitrat ini ditambahkan
ke dalam larutan protein atau sampel (kubis). Setelah kedua larutan tersebut
tercampur maka terjadi reaksi dan terbentuk endapan berwarna putih.
Langkah selanjutnya dilakukan pemanasan terhadap larutan tersebut, pada
tahapan ini endapan berwarna putih akan berubah warna menjadi kuning.
Reaksi perubahan yang terjadi tersebut disebut nitrasi pada inti
dari benzena yang terdapat pada molekul dari protein. Hasil positif pada uji
xantoprotein ini adalah munculnya gumpalan atau cincin warna kuning.

Pada uji ini, digunakan larutan asam nitrat yang berfungsi untuk
memecah protein menjadi gugus benzena. Adanya pemanasan pada uji ini
bertujuan agar terjadinya nitrasi pada inti benzena yang telah dipecah tadi.
Dimana nitrasi adalah proses kimia yang bertujuan untuk memasukkan gugus
nitro ke dalam senyawa organik. Asam amino yang menunjukkan reaksi
positif untuk uji ini, yaitu tyrosin, phenilalanin dan tryptophan. Protein yang
mengandung residu asam amino dengan radikal fenil dalam struktur kimianya
(protein yang mengandung asam amino fenilalanin atau tirosin) jika
ditambahkan dengan asam nitrat pekat akan terbentuk gumpalan warna putih.
Pada pemanasan, warna gumpalan putih tersebut akan berubah menjadi
kuning yang akhirnya berubah menjadi jingga jika ditambah dengan
larutan basa atau NaOH.

Pada percobaan uji xantoprotein dilakukan penambahan NaOH bertujua


n untuk merenaturasi protein dan menetralkan larutan. Renaturasi adalah
penataan ulang molekul akibat dari perubahan pH. Sebenarnya, proses ini
dapat terjadi jika kulit terkena asam nitrat pekat, yang segera menjadi kuning
karena terjadinya proses nitrasi inti benzena pada asam amino penyusun kulit.
Pada senyawa yang bukan asam amino akan memberikan hasil negatif, seperti
kolagen dan gelatin. Berdasarkan hasil percobaan yang diperoleh, dapat
disimpulkan bahwa kubis mengandung protein yang memiliki inti benzena.

Metode uji berikutnya adalah uji kuantitatif protein menggunakan


pereaksi biuret. Tujuan dari uji Biuret adalah untuk mengetahui ada tidaknya
protein didalam senyawa berdasarkan ikatan peptida. Prinsip dari uji Biuret
adalah menguji ada tidaknya protein dalam suatu senyawa dengan
penambahan NaOH dan CuSO4 berdasarkan ada tidaknya ikatan peptida
dengan Cu2+ didalam suasana basa akan bereaksi dengan ikatan-ikatan
peptida yang menyusun protein dan membentuk senyawa kompleks ungu.
Reaksi ini beraksi positif terhadap dua buah atau lebih ikatan peptida tetapi
negati terhadap asam amino bebas.

(Petsko, 2005)
Kelebihan metode pengukuran dengan menggunakan metode Biuret
ialah mudah dilakukan dan menggunakan bahan yang murah. Namun,
kekurangannya ialah metode ini memerlukan bahan yang cukup karena
sensitivitasnya yang rendah.

Dilakukan pembuatan tiga larutan yang akan diujikan dengan


pereaksi biuret yaitu larutan blangko, larutan standar kasein dan larutan
sampel. Larutan blanko merupakan larutan tidak berisi analit yang beperan
sebagai larutan pembanding dalam analisa. Untuk blanko digunakan
aquadest yang selanjutnya diperlakukan sama seperti sample. Fungsi blanko
sendiri adalah untuk mendapat titik nol pada spektrofotometer. Larutan
standar kasein berfungsi sebagai acuan untuk mengetahui nilai protein
standar. Larutan sampel yang diujikan adalah kubis.

Semua larutan yang diujikan dimasukan kedalam mikroplate reader


menggunakan alat mikro pipet 100, dan 150 mikroliter, pemilihan alat ini
karena memiliki sensitivitas yang baik, ketepatan kadar larutan ujipun lebih
terjamin sehingga nilai pada perhitungan kadar lebih tepat. Microplate reader
merupakan alat untuk melakukan analisis senyawa aktif atau mikroba cepat
berdasarkan kekeruhan (OD). Fungsi microplate reader sama dengan
spektrofotometer akan tetapi, pada mikroplate reader ukurannya lebih kecil
dibandingkan spektrofotometer. Spektrofotometer itu sendiri merupakan
teknik analisis yang bertujuan untuk mengetahui jumah (konsentrasi) zat
dalam suatu bahan berdasarkan spektroskopi khusus untuk panjang
gelomabang UV-Visible. Pengertian spektroskopi sendiri adaah istiah atau
nama yang digunakan untuk ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara
radiasi (sinar) dan energi ( yang memiliki fungsi panajang gelombang yang
biasa disebut adalah dengan frekuensi) dengan benda.
Prinsip dari spektrofotometri adalah suatu metode analisa yang didasarkan
pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan
berwarna pada panjang gelombang spesifik dengan menggunakan
monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube. Metode ini
dapat digunakan untuk sampel yang berupa arutan berwarna atau tidak
berwarna, karena pada umumnya suatu alat spektrofotometri yang dilengkapi
sumber cahaya untuk mengukur spektrum dan panjang gelombang pada
arutan tertentu. Jumah sinar yang diserap atau diteruskan oleh suatu larutan
merupakan suatu fungsi eksponensial dari konsentrasi arutan dan pada
panjang larutan yang dilalui sinar.

Prinsip kerja penentuan kadar protein dengan metode biuret adalah


menganalisa adanya ikatan peptida dengan cara menambahkan reagen biuret
ke dalam sampel yang kemudian diukur absorbansinya menggunakan
spektrofotometer, reaksinya adalah sebagai berikut:

Pada tes biuret ini penambahan NaOH 10% pada protein menyebabkan
terjadinya hidroisis ikatan peptida dari polimer protein. Hidrolisis ini
menghasilkan monomer-monomer asam amino dan ada sebagian gugus asam
amino yang berubah menjadi amonia. Akibatnya hidrolisis itu jumlah gugus
asam amino berkurang dan pengukuran serapan cahaya oleh ikatan kompleks
yang berwarna ungu dapat terjadi oleh sebab itu protein bereaksi dengan
tembaga dalam lingkungan alkali.

Pada dasarnya suatu peptida adalah sisa-asam amino karena gugus –


COOH dan –NH2 membentuk ikatan peptida. Peptida didapatkan dari
hidrolisis protein yang tidak sempurna. Apabila peptida yang dihasilkan
dihidrolisis lebih lanjut akan dihasilkan asam-asam amino.
Sifat peptida ditentukan oleh gugus –COOH, -NH2 dan gugus R. sifat asam
dan basa pada peptida ditentukan oleh gugus –COOH dan –NH2, namun pada
rantai panjang gugus –COOH dan –NH2 yang terletak diujung rantai tidak
lagi berpengaruh. Suatu peptida juga mempunyai titik isolistrik seperti pada
asam amino. Reaksi biuret merupakan reaksi warna untuk peptida dan
protein.

Setelah larutan uji dimasukan kedalam mikroplate reader dengan variasi


konsentrasi, dilakukan ingkubasi, tujuan dari ingkubasi ini agar dihasilkan
nilai absorbansi yang maksimal dari semua larutan. Selanjutnya campuran
dibaca absorbansinya pada panjang gelombang 530nm dengan menggunakan
spektrofotometer visible.
Panjang gelombang 530nm merupakan panjang gelombang maksimal
dimana serapan optimal sehingga absorbansi dapat dibaca pada
spektrofotometer visible. Dalam praktikum ini digunakan spektrofotometer
visible karena larutan yang akan dibaca absorbansinya berwarna.

Prinsip kerja spektrofotometer visible ini adalah cahaya wolfram jatuh


pada suatu medium homogen, sebagian dari sinar akan dipantulkan, sebagian
lagi akan diserap dalam medium tersebut dan sisanya diteruskan. Nilai yang
keluar dari cahaya yang diteruskan dinyatakan dalam nilai absorbansi karena
memiliki hubungan dengan konsentrasi sampel.

Hasil dari proses Absorbansi pada mikroplate reader terdiri dari dua
bentuk yaitu kualitatif dan kuantitatif. Hasil secara kualitatif adalah
perubahan warna pada larutan uji yang mengindikasikan bahwa terjadi reaksi
yang spesifik. Hasil secara kuantitatif berupa besaran konsentrasi dan nilai
adsorbsi (y) pada sampel. Pengukuran y pada hasil yang terbaca dikomputer
prinsipnya sama dengan pada mesin spektrofotometer. Intensitas cahaya yang
diserap oleh sampel pada panjang gelombang tertentu berbanding lurus
dengan besar nilai y. Jika semakin banyak intensitas cahaya yang diserap,
maka semakin besar nilai y. Semakin kecil nilai intensitas cahaya yang
diserap oleh sampel, semakin kecil pula nilai y.
Persamaan kurva regresi serum standar adalah y = 9,408045 x 10-3 x +
6,684405 x 10-5 Variabel y menyatakan nilai adsorbsi sedangkan variabel x
merupakan nilai yang dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi. Nilai x
dapat diperoleh dengan memasukkan nilai y pada persamaan tersebut. Nilai y
sampel adalah 0,18 sehingga didapat nilai konsentrasi sampel adalah X =
19,12545 µg/ml.
IX. Kesimpulan
1. Protein pada suatu sampel dapat diidentifikasi menggunakan
pereaksi xanthoprotein.
2. Kadar protein dari suatu sampel dapat ditentukan dengan
menggunakan uji biuret sebesar 19,12545 µg/ml.
DAFTAR PUSTAKA

Azhar, amsal. 2010. Dasar-dasar Biokimia. Banda aceh: ar-raniry press.


Day, R.A dan A.L Underwood. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta:
Erlangga.
Fried, G. H. dan Hademenos, G. J . 2006. Schaum’s Outlines Biologi Edisi
Kedua, Jakarta ; Penerbit Eralangga.
Katili, A. S. 2009. Struktur dan Fungsi Protein Kolagen. Tersedia online pada
http://ejurnal.ung.ac.id/index.php/JPI/article/view/587 Jurnal Penelitian,
Vol : 2 (5), Hal : 19-29. Diakses pada [27 Februari 2016].
Kuchel, P. dan Ralston G. B . 2006 . Biokimia Schaum’s Easy Outlines. Jakarta ;
Penerbit Erlangga.
Lehninger. 1982. Dasar-Dasar Biokimia Jilid 1. Jakarta : Erlangga
Patong, A.R., dkk . 2012 . Biokimia Dasar. Makassar : Lembah Harapan Press.
Ramsuliana.2012.Asam Amino. Tersedia online
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/33851/4/Chapter%2
0II.pdf . Diakses pada [27 Februari 2016]
Samadi. 2012. Konsep Ideal Protein (Asam Amino) Fokus pada Ternak Ayam
Pedaging. Tersedia online pada
http://jurnal.unsyiah.ac.id/agripet/article/view/202), Jurnal Penelitian,
Vol: 12 (2), Hal : 42-48. Banda Aceh : Universitas Syiah Kuala,
Sumardjo, D. 2006. Pengantar Kimia : Buku Panduan Kuliah Mahasiswa
Kedokteran dan Program Strata I Fakultas Bioeksakta. Jakarta :
Penerbit Buku Kedorteran EGC

Petsko, Gregory A. 2005. Protein Stucture and Function. Sunderland: New


Science Press
Pudjaatmaka, A.H. 2002. Kamus Kimia. Jakarta: ISBN.
Yoky. 2009. Spektrofotometri. Tersedia online http://www.chem-is-try.org
Diakses pada [25 januari 2016].