Anda di halaman 1dari 7

BAB V

SEJARAH GEOLOGI

Berdasarkan analisa yang telah dilakukan, penulis mencoba


menginterpretasikan sejarah geologi yang berkembang dilokasi penelitian.
Menurur Martodjojo (1984) cekungan bogor terbentuk pada kala Eosen Tengah.
dan pada kala Oligo-Miosen terjadi penurunan yang menyebebkan cekungan
bogor semakin jelas terlihat. dan pada kala Miosen cekungan Bogor menjadi
cekungan belakang busur.

Pada kala Miosen tengah daerah penelitian masuk dalam daerah papaaran
Jawa bagian utara dan mulai diendapkan satuan batupasir Formasi Jatiluhur
(Sujatmiko, 1972 dan Bhanuindra, 1974). Satuan ini diendapkan pada lingkungan
transisi, mungkin pada lingkungan lagoon maupun pada dataran pasang surut
(tidal flat) dengan kedalam ± 200 meter (zona neritik tengah) dengan mekanisme
arus yang tenang. Hal ini dicirikan dengan adanya struktur sedimen berupa
parallel laminasi pada satuan batupasir. Pada kala ini kondisi tektonik daerah
penelitian relative stabil.

Foto : Struktur sedimen parallel laminasi pada batupasir sebagi


indikasi arus yang relative tenang

V- 1
?

Gambar. Model pengendapan satuan batupasir (warna Kuning)

Setelah pengendapan satuan batupasir secara selaras diatasnya diendapkan


satuan batulempung. Pada kala ini terjadi pendalaman muka air laut yang
menyebebkan suplai sedimen berkurang dan ruang akomodasi bertambah.
Pengendapan ini terus berlangsung sampai awal Miosen akhir .

V- 2
?

Gambar. Model pengendapan satuan batulempung (warna


hijau)

Setelah pengendapan satuan batulempung, terjadi aktifitas tektonik yang


menyebabkan daerah penelitian terangkat dan terbentuk struktur-struktur berupa
perlipatan dan sesar. Menurut Martodjojo (1984), cekungan Bogor pada kala
Pliosen mulai berubah menjadi jalur magmatik. Tektonik pada kala ini mulai aktif
kembali dan dikenal dengan nama tektonik Plio – Pleistosen. Oleh sebab itu jika
disebandingkan dengan tektonik regional tersebut, struktur-struktur yang terdapat
di daerah penelitian diperkirakan terbentuk pada kala Pliosen – Pleistosen.

V- 3
Gambar. Aktifitas tektonik pada kala Pliosen - Pleistosen

Pada kala Pliosen – Pleistosen aktifitas tektonik yang terjadi adalah tektonik
kompresi. Akibat kompresi ini didaerah penelitian terbentuk lipatan dan juga
sesar. Struktur-struktur geologi yang berkembang melibatkan satuan batupasir dan
satuan batulempung yang berumur Miosen tengah – Miosen Akhir. Lipatan yang
terbentuk adalah Antiklin dan sinklin yang memiliki sumbu lipatan berarah
relative utara selatan yang dipotong oleh sesar mendatar yang berarah baratlaut-
tenggara. Dari keterdapatan sesar-sesar yang ada dapat disimpulkan bahwa rezim
tektonik yang berkembang didaerah penelitian bersifat kompresi dengan arah
tegasan utama relatif utara-selatan.

V- 4
Gambar Model deformasi rezim kompresi berarah relatif Utara-Selatan
menyebabkan pengangkatan dan pembentukan struktur geologi sesar naik,
Sesar Normal, lipatan dan sesar mendatar (Plio-Pleistosen)

Jalur magmatic yang mulai aktif pada cekungan bogor mengakibatkan


banyaknya aktifitas vulkanisme disebelah selatan Jawa. Oleh sebab itu sebelah
selatan daerah penelitian diendapkan satuan breksi piroklastik dan lava. Aktifitas
vulkanisme ini diperkirakan terjadi pada kala Plesitosen sehingga batuan breksi
piroklastik dan juga lava yang diendapkan pada daerah penelitian tidak terganggu
oleh struktur sesar dan lipatan.

V- 5
Gambar Model pengendapan satuan Breksi piroklastik (warna coklat) dan lava
(warna merah)

Satuan batuan termuda yang terendapkan di daerah penelitian adalah


satuan Endapan Alluvial. Pengendapan satuan ini berlangsung sejak Kala Holosen
dan masih terus berlangsung hingga sekarang. Satuan Endapan Alluvial ini
diendapkan secara tidak selaras di atas satuan batuan yang berumur lebih tua

V- 6
Gambar Model pengendapan Satuan Aluvial (warna abu-abu)

V- 7