Anda di halaman 1dari 9

BAB VII SISTEM UROGENITALIA

Sistem urogenital terdiri dari dua system, yaitu


system urinaria (systema uropoetica) dan
genitalia (sytema genitalia). Sistem urinaria
biasa disebut sistem ekskresi. Fungsinya untuk
membuang bahan-bahan yang tidak diperlukan
atau membahayakan bagi kesehatan tubuh
keluar dari tubuh sebagai larutan dalam air
dengan perantaraan ginjal dan salurannya.
Pengaturan terhadap tekanan osmotik cairan
tubuh yang relatif konstan adalah hal yang
dibutuhkan ikan agar proses fisiologi di dalam
tubuhnya berjalan normal. Pengaturan tersebut
disebut dengan Osmoregulasi.

A. EKSRESI
Hewan bertulang belakang membuang beberapa
sisa hasil metaboliknya melalui saluran
pencernaan dan kulitnya, tetapi sebagian besar
dibuang melalui ginjal.

Ginjal berjumlah sepasang, berbentuk ramping


dan memanjang dengan warna merah tua,
terletak di bagian atas rongga perut di bawah
tulang punggung. Hasil buangan berupa urine
yang dihasilkan oleh ginjal dialirkan melalui
sepasang ureter (ductus mesonephridicus) yang
berjalan dipinggiran rongga badan sebelah dorsal
menuju ke belakang. Ureter kiri dan kanan
bertemu di belakang menjadi kantong urine
(vesica urinaria) dan dari organ ini urine

74
dikeluarkan melalui urethrea yang pendek dan
bermuara pada porus urogenital.

Ginjal ini ini memiliki dua tipe anatomik dasar,


yaitu pronephros dan mesonephros (gambar.
19). Pronephros pada sebagian besar ikan
terletak di depan mesonephros yang memiliki
struktur sangat sederhana dan hanya berfungsi
pada awal kehidupan, yang kemudian fungsinya
akan digantikan oleh mesonephros ketika
menjadi dewasa.

Mesonephros mempunyai susunan yang lebih


rumit, yang terdiri dari unit-unit yang disebut
nephron. Nephron ini terdiri dari badan Malphigi
(renal corpuscle) dan tubuli ginjal. Badan
malphigi terdiri dari glomerulus (kumparan
kapiler-kapiler darah) dan kapsul Bowman
(semacam mangkuk yang terdiri dari dua
dinding, tempat glomerulus) (gambar 19)

75
Gambar 19. Diagram hubungan struktural tipe
ginjal pada ikan

76
Gambar 20. Diagram badan Malphigi
(http://bill.srnr.arizona.edu/)

B. OSMOREGULASI
Hal yang menarik dan harus dihadapi oleh ikan
dalam menyesuaikan hidupnya terhadap
lingkungan adalah pengaturan keseimbangan
antara air dan garam dalam jaringan tubuhnya.
Oleh karena itu dalam upaya beradaptasi dengan
lingkungan tempat mereka hidup, ia harus
mengatur keseimbangan air dan garam dalam
jaringan tubuhnya agar tidak kekurangan atau
kelebihan air.

77
Pengaturan terhadap tekanan osmotik cairan
tubuh yang relatif konstan adalah hal yang
dibutuhkan ikan agar proses fisiologi di dalam
tubuhnya berjalan normal. Pengaturan tersebut
disebut dengan Omoregulasi. Organ yang
berperan dalam proses osmoregulasi adalah
ginjal, Insang, kulit, membran mulut dan
beberapa organ khusus yang digunakan dengan
berbagai cara.

Ikan Air Tawar


Tekanan osmotik pada cairan tubuh ikan
tergantung pada jumlah mineral dan bahan
organik yang terkandung di dalamnya. Pada
semua ikan yang hidup di air tawar memiliki
cairan tubuh yang tekanan osmotiknya lebih
besar (hipersomatik) dari pada lingkungannya.
Keadaan ini menyebabkan air cenderung masuk
ke dalam tubuhnya secara difusi melalui
permukaan tubuh yang semipermiabel. Bila hal
ini tidak terkendalikan atau terimbangi, difusi
akan mendorong keluarnya garam-garam tubuh
dan terjadi pengenceran cairan tubuh sehingga
fungsi-fungsi fisiologis tubuh tidak berjalan
normal.

Sisik tebal dan sejumlah jaringan pengikat dalam


kulit pada ikan membantu dalam mencegah
difusi. Namun, Insang menyediakan suatu
permukaan yang luas bagi difusi air, dengan
demikian tidak ada cara yang sempurna untuk
dapat menahan air sehingga air haruslah
dikeluarkan dari tubuh dengan berbagai cara.
Untuk ikan bertulang sejati, jelaslah bahwa
sebagian besar air yang terabsorbsi masuk
78
melalui insang. Ginjal akan memompa ke luar
kelebihan air tersebut sebagai air seni.
Glomerulus sebagai penyaring mempunyai
jumlah banyak dengan diameter besar. Ini
dimaksudkan untuk lebih dapat menahan garam-
garam tubuh agar tidak keluar dan sekaligus
memompa air seni sebanyak-banyaknya. Darah
dari aorta dorsalis menuju ginjal melalui arteri
renalis, dimana ia akan melalui pembuluh kapiler
glomerulus dan kemudian melalui kapiler
sekeliling tubuli ginjal sebelum meninggalkan
lewat vena renalis. Darah dari vena renal portal
bergabung dengan jaringan kapiler yang
mengelilingi tubuli ginjal. Glomerulus
merupakan filter yang meloloskan plasma darah
yang mengandung bahan tersebut melewati
ruang yang terletak diantara dinding-dinding
kapsul Bouwman dan kemudian menuju tubuli
ginjal. Sel darah dan molekul besar seperti
protein tidak dapat melewati penyaring.

Ketika cairan dari badan Malphigi memasuki dan


melewati tubuli ginjal, beberapa substansi
diserap pada bagian-bagian tertentu. Glukosa
diserap kembali pada tubuli proksimalis, dan
garam-garam diserap kembali pada tubuli
distalis. Dinding di tubuli ginjal tersebut bersifat
impermiable terhadap air. Air seni yang
dikeluarkan ikan sangat encer dan mengandung
sejumlah kecil senyawa nitrogen seperti asam
urikat, kreatin, kreatinin, dan amonia. Meskipun
air seni mengandung sedikit garam, keluarnya air
yang melimpah menyebabkan jumlah kehilangan
garam cukup berarti. Garam-garam juga hilang
karena difusi dari tubuh. Kehilangan garam ini
79
diimbangi oleh garam-garam yang terdapat
pada makanan, dan perserapan yang aktif
melalui insang (gambar. 21)

Pada golongan ikan Teleostei terdapat kantung


air seni yang dindingnya impermiabel terhadap
air untuk menampung air seni. Di tempat ini
dilakukan penyerapan kembali terhadap ion-ion.

Gambar 21. Proses pengeluaran dan penyerapan


ion dan air
dalam tubuh ikan air tawar dan air laut.

Air tubuh ikan Teleostei tawar menyusun kira-


kira 70-75 persen bobot tubuh. Sedangkan air
dikeluarkan sebagian besar lewat ginjal. Air seni
yang dikeluarkan bervariasi dengan spesies,
suhu dan lain-lain, tetapi banyak penelitian
menunjukkan antara 50-150 ml/kg/hari.

Ikan Elasmobranchii
80
Tekanan osmotik pada golongan ikan
Elasmobranchii seperti cucut dan pari umumnya
lebih besar daripada lingkungannya. Namun
tekanan osmotik cairan tubuhnya sebagian besar
tidak disebabkan oleh garam-garam melainkan
oleh tingginya kadar urea dan trimetilamin
oksida (TMAO) dalam tubuh. Golongan ikan ini
cenderung menerima air lewat difusi yang
terutama lewat insang karena cairan tubuhnya
yang bersifat hipersomatik terhadap
lingkungannya.
Kelebihan air yang diterima dikeluarkan melalui
urin untuk mempertahankan tekanan osmotik
cairan tubuhnya. Urea sebagai hasil akhir
metabolisme nitrogen yang dihasilkan di hati
disekresikan dalam jumlah yang relatif kecil
melalui urin. Hasil buangan nitrogen lainnya
diserap kembali pada tubuli ginjal. Penyerapan
kembali terhadap urea dan TMAO dapat dilihat
sebagai upaya dalam mempertahankan tekanan
osmotik tubuhnya. Permukaan tubuh yang relatif
impermiabel mencegah masuknya air dari
lingkungan ke dalam tubuhnya.

Banyak jenis ikan yang menetas di perairan


tawar seperti sungai kemudian berpindah menuju
ke laut dan tinggal untuk makan dan tumbuh,
serta kemudian kembali ke perairan tawar
setelah dewasa untuk memijah. Kelompok ikan
ini disebut kelompok ikan anadromus.
Sebaliknya pada ikan kelompok katadromus yang
menetas di laut akan bergerak ke perairan tawar
untuk untuk makan dan tumbuh, serta kemudian
kembali ke perairan laut setelah dewasa untuk
memijah. Selain kedua kelompok tersebut,
81
terdapat banyak spesies ikan lain yang mampu
dan mempunyai toleransi besar terhadap
perubahan salinitas sehingga mampu bergerak
secara leluasa di antara perairan air tawar dan
laut. Kondisi tersebut mengharuskan ikan tiga
kelompok ini memiliki kemampuan mekanisme
osmoregulasi yang kecepatannya bergantung
kepada kecepatan perubahan habitat.

Ikan diadromus umumnya melakukan perubahan


progresif yang dapat mengubah penampilan
fisiologis tergantung pada tahap hidupnya. Di
daerah tropis banyak ikan laut yang bergerak ke
daerah estuaria, harus mampu mengubah secara
mendadak dari menyimpan air menjadi
mengeluarkan sebanyak mungkin air melalui
ginjal dan harus mengubah dari mengekskresi
garam yang lebih menjadi menyimpan.

Volume air seni yang dikeluarkan dan


keseimbangan garam pada ikan oleh sekresi
kelenjar endokrin (hormon). Hormon dapat
mempengaruhi ginjal dengan penaikan atau
penurunan tekanan darah yang mengubah laju
penyaringan ke dalam kapsul Bowman, yang
berarti pula mengubah jumlah cairan sekresi.
Hormon juga bisa mempengaruhi ekskresi ginjal
dengan cara tertentu pada saat tubuli ginjal
untuk mengubah permeabilitas dan laju
penyerapan kembali terhadap substantsi
tertentu.

82