Anda di halaman 1dari 20

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pendidikan Seni Rupa di Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyyah


Pendidikan Seni Rupa sesungguhnya merupakan istilah yang relatif baru
digunakan dalam dunia persekolahan yang pada mulanya seni rupa
menggunakan istilah menggambar. Penggunaan istilah pengajaran menggambar
ini berlangsung cukup lama hingga kemudian diganti dengan istilah Pendidikan
Seni rupa. Materi pelajaran yang diberikan tidak hanya menggambar tetapi juga
beragam bidang seni rupa yang lain seperti mematung, mencetak, menempel dan
juga apresiasi seni.
Disini pendidikan seni rupa bertujuan untuk melatih dan mengasah
kreatifitas siswa yang dituangkan dalam kesenian yang beberbentuk suatu
gambar ataupun barang, sehingga seni rupa dapat sangat membantuk siswa
dalam mengembangkan beberapa ketrampilan yakni : keterampilan
menggambar, menanamkan kesadaran budaya lokal, mengembangkan
kemampuan apreasiasi seni rupa, menyediakan kesempatan mengaktualisasikan
diri, mengembangkan penguasaan disiplin ilmu Seni Rupa, dan mempromosikan
gagasan multikultural. Sedangkan khusus diSD/MI senirupa sendiri adalah
untuk menembah ketrampilan siswa dalam menggambar, menghargai karya
orang lain mengasah mental para peserta didik di SD/MI.

2.1.1 Konsep Seni Rupa di sekolah dasar/Madrasah Ibtidaiyyah

Dalam pendidikan seni rupa di SD/MI, yang notabenya mendidik anak –


anak maka dalam penyampaianya memiliki beberapa konsep khusus, yang telah
dirancang dan disusun secara sistematis oleh pemerintah, hal ini disesuaikan
dengan usia serta kemampuan daya pikir peserta didik tersebut. Berikut ini akan
dijelaskan aspek yang ada dalam konsep pembelajaran seni rupa SD/MI, yakni:
1. Pengetian Seni Rupa
Seni rupa adalah salah satu cabang kesenian,seni rupa merupakan
ungkapan gagasan dan perasaan manusia yang diwujudkan melalui
pengolahan median dan penataan elemen serta prinsip-prinsip desain. Seni
rupa dapat berfungsi sebagai : media ekspresi, media komunikasi, media
pengembangan bakat, media pendidikan. Selain itu seni rupa juga memiliki
beberapa aspek, diantaranya ialah : Aspek grahita, aspek garapan dan aspek
tata.
2. Jenis Karya Seni Rupa
Selain memiliki beberapa aspek, seni rupa juga memiliki beberapa jenis,
yakni :
a. Karya rupa murni dimana karya ini merupakan karya seni rupa yang
sengaja diciptakan sebagai sarana ekspresi komunikasi,rekreasi dan
terapi. Karya seni rupa murni ini juga dapat berupa dwimarta ataupun
trimatra.
b. Yang kedua ialah karya seni rupa terapan yang sengaja dicipta untuk
tujuan fungsional, fungsional dalam artian ini ialah, karya seni dapat
digunakan sebagaimana fungsi dari karya seni tersbut. Karya seni rupa
ini pun mencakup 2 macam yakni dwimarta dan trimarta.
3. Materi dan Media Seni Rupa
Disekolah dasar juga telah dirancang dengan sangat rinci beberapa
materi yang akan disampaikan selama pembelajaran, materi – materi
tersebut antara lain :
a. Menggambar / Melukis
Siswa diajarkan beberapa teknik, jenis, serta media yang dapat
digunakan untuk menggambar atau melukis.
b. Membentuk.
Pada materi ini siswa diajarkan apa saja jenis – jenis serta teknik
dalam pembuatan karya seni rupa membentuk atau membuat sebuah
karya dari bahan – bahan yang berbeda – beda. Berikut ini
merupakan materi dari teknik dari karya senirupa membentuk antara
lain : Membutsir, Memahat, Cor(menuang), Menempel, Mencetak,
Menggunting, melipat, menempel (3M), Dekorasi, Merakit dan
Membangun, Menjiplak, Kolase, Finger Painting (Lukisan Jari),
Lukis Tempel/gambar tekstur, Merangkai/memasang, Menghias,
Mencelup, dan membuat Karya kerajinan.
4. Tahapan tahapan dalam dunia kesenirupaan siswa SD/MI.
Seperti yang telah ditulisakan diatas bahwa pembelajaran seni
digunakan untuk melatik daya imajinasi serta kreativitas peserta didik,
menurut camaril dkk, bahwa karya seni rupa yang dibuat oleh siswa
merupakan hal yang bersifat ekpresif atau dinamis, dimana mereka
cenderung menggambar apa yang mereka pikirkan, mereka lihat dan mereka
ketahui. Akan tetapi dalam dunia pendidikan ada tahapan – tahapan anak
dalam perkembembangan dunia kesenirupaan anak, berikut ini ada beberapa
perembangan kesenirupaan siswa menurut viktor lowenfeld dan lamberrt
brittain:
a. masa mencoreng : usia 2 – 4 tahun.
b. Masa prabagan : usia 4 – 7 tahun.
c. Masa bagan : usia 7 – 9 tahun.
d. Masa realisme awal : usia 9 – 12 tahun.
e. Masa naturalisme semu : usia 12 – 14 tahun.
f. Masa penentuan : usia 14 – 17 tahun.

Dari tahapan – tahapan yang telah disebutkan diatas maka dapat kita ketahui
bersama bahwa perkembangan kemampuan kesenirupaan siswa di SD/MI
berada diantara tahapan masa bagan hingga masa realisme awal. Dimana
pada tahapan tersebut memiliki ciri khusus yang akan dijelasakan
sebagaimana berikut:

1. Masa bagan.
Pada tahapan ini konsep kesenirupaan siswa mulai tampak lebih
jelas, anak lebih cenderung untuk mengulang bentuk atau gambar, karya
yang digambar atau dibentuk masih terkesan datar, berputar dan rebah.
Contoh : mereka menggambar pohon dikiri kanan jalan yang dibuat
tegak lurus, dengan badan jalan serta bagian kiri rebah kekiri dan bagian
kanan rebah kekanan. Pada perkembangan selanjutnya, kesadaran ruang
mulai muncul dengan dibuat garis pijak.
2. Masa realisme awal.
Pada tahapan ini kesadaran prespektif mulai muncul sesuai dengan
penglihatan mereka, apa yang digambar lebih terlihat kenyataan, mereka
menyatukan objek dengan lingkungan sekitar. Akan tetapi dalam
penggambaran objek proporsi atau bentuk dan ukuran objek belum
merekan kuasai. Serta ada kesenangan perbedaan umum antara anak laki
– laki dan perempuan.
Tahapan – tahapan diatas sangat berfungsi untuk menentukan
metode dalam menyampaikan materi serta mengurutkan materi yang
disesuaikan dengan tahapan tersebut.
5. Kompetensi Inti dan kompetensi dasar pembelajaran seni rupa SD/MI.
Dari tahapan yang telah disebutkan diatas maka pemerintah berusaha
untuk menentukan kompetensi inti dan kompetensi dasar yang sesuai
dengan porsi usia terta tahapan peserta didik. Beriku ini kompetensi inti dan
dasar pembelajaran seni rupa di sekolah dasar :
Kelas 1
Kompetensi Inti Kompetensi Dasar
3. Memahami pengetahuan 3.1 Mengenal karya ekspresi dua
faktual dengan cara mengamati dan tiga dimensi.
(mendengar, melihat, 3.2 Mengenal bahan alam berkarya.
membaca) dan menanya
berdasarkan rasa ingin tahunya
tentang dirinya dan makhluk
ciptaan tuhan dan kegiatannya,
benda – bendayang
dijumpainya baik dirumah
maupun disekolah.
4. Menyajikan pengetahuan 4.1 Membuat karya ekspresi dua
faktual yang jelas dan logis dan tiga dimensi.
dalam bahasa yang jelas, dalam 4.2 Membuat karya dari bahan
karya yang estetis, dalam alam.
gerakan yang mencerminkan
anak sehat , dan dalam tindakan
yang mencerminkan perilaku
anak yang beriman dan
berakhlaq mulia.

Kelas 2

Kompetensi Inti Kompetensi Dasar


3. Memahami pengetahuan 3.1 Mengenal karya imajinatif duan
faktual dengan cara dan tiga dimensi.
mengamati (mendengar, 3.2 Mengenal pengolahanbahan
melihat, membaca) dan alam dan buatan dalam
menanya berdasarkan rasa berkarya.
ingin tahunya tentang dirinya
dan makhluk ciptaan tuhan
dan kegiatannya, benda –
bendayang dijumpainya baik
dirumah maupun disekolah.
4. Menyajikan pengetahuan 4.1 Membuat karya imajinatif dua
faktual yang jelas dan logis dan tiga dimensi.
dalam bahasa yang jelas, 4.2 Membuat hiasan dari bahan alam
dalam karya yang estetis, dan buatan.
dalam gerakan yang
mencerminkan anak sehat ,
dan dalam tindakan yang
mencerminkan perilaku anak
yang beriman dan berakhlaq
mulia.

Kelas 3

Kompetensi Inti Kompetensi Dasar


3. Memahami pengetahuan 3.1 Menegtahui unsur – unsur rupa
faktual dengan cara mengamati dalam karya dekoratif.
(mendengar, melihat, 3.2 Mengetahui teknik potong, lipat
membaca) dan menanya dan sambung.
berdasarkan rasa ingin tahunya
tentang dirinya dan makhluk
ciptaan tuhan dan kegiatannya,
benda – bendayang
dijumpainya baik dirumah
maupun disekolah.
4. Menyajikan pengetahuan 4.1 Membuat karya dekoratif.
faktual yang jelas dan logis 4.2 Membuat karya dengan teknik
dalam bahasa yang jelas, dalam potong, lipat dan sambung.
karya yang estetis, dalam
gerakan yang mencerminkan
anak sehat , dan dalam
tindakan yang mencerminkan
perilaku anak yang beriman
dan berakhlaq mulia.
Kelas 4

Kompetensi Inti Kompetensi Dasar


3. Memahami pengetahuan 3.1 Menggambar dan membentuk
faktual dengan cara tiga dimensi
mengamati dan menanya 3.2 Mengetahui karya seni rupa
berdasarkan rasa ingin tahunya teknik tempel.
tentang dirinya dan makhluk
ciptaan tuhan dan kegiatannya,
benda – benda yang
dijumpainya baik dirumah
maupun disekolah dan
ditempat bermain.
4. Memahami pengetahuan 4.1 Mengambar dan membentuk
faktual dengan cara tiga dimensi.
mengamati dan menanya 4.2 Membuat karya kolase,
berdasarkan rasa ingin tahunya montase, aplikasi, dan mozaik.
tentang dirinya dan makhluk
ciptaan tuhan dan kegiatannya,
benda – benda yang
dijumpainya baik dirumah
maupun disekolah dan
ditempat bermain.

Kelas 5

Kompetensi Inti Kompetensi Dasar


3. Memahami pengetahuan 3.1 Memahami gambar cerita
faktual dengan cara mengamati 3.2 Memahami karya seni rupa
dan menanya berdasarkan rasa daerah
ingin tahunya tentang dirinya
dan makhluk ciptaan tuhan dan
kegiatannya, benda – benda
yang dijumpainya baik
dirumah maupun disekolah dan
ditempat bermain.
4. Memahami pengetahuan 4.1 Membuat gambar cerita.
faktual dengan cara mengamati 4.2 Membuat karya senirupa daerah
dan menanya berdasarkan rasa
ingin tahunya tentang dirinya
dan makhluk ciptaan tuhan dan
kegiatannya, benda – benda
yang dijumpainya baik
dirumah maupun disekolah dan
ditempat bermain.

Kelas 6

Kompetensi Inti Kompetensi Dasar


3. Memahami pengetahuan 3.1 Memahami Reklame.
faktual dengan cara mengamati 3.2 Memahami patung.
dan menanya berdasarkan rasa
ingin tahunya tentang dirinya
dan makhluk ciptaan tuhan dan
kegiatannya, benda – benda
yang dijumpainya baik
dirumah maupun disekolah dan
ditempat bermain.
4. Memahami pengetahuan 4.1 Membuat Reklame.
faktual dengan cara mengamati 4.2 Membuat Patung.
dan menanya berdasarkan rasa
ingin tahunya tentang dirinya
dan makhluk ciptaan tuhan dan
kegiatannya, benda – benda
yang dijumpainya baik
dirumah maupun disekolah dan
ditempat bermain.

6. Metode, Model dan Pendekatan Pembelajaran Seni Rupa di SD/MI.


Adapun metode-metode pembelajaran seni rupa di SD yaitu:
1. Strategi Penataan
Strategi penataan berkaitan dengan rancangan menata urutan materi
pembelajaran dari yang mudah ke yang sulit, dari konkrit ke abstrak.
2. Strategi penyampaian
Strategi penyampaian berkaitan dengan media pembelajaran atau alat
bantu pembelajaran untuk menyampaikan materi yang telah dikemas.
3. Stategi pengelolaan
4. Strategi pengelolaan berkaitan dengan kegiatan pengelolaan kelas
selama pembelajaran dilaksanakan.
2.1.2 Model pembelajaran seni rupa di SD, antara lain:
1. Model Terkait
Model terkait adalah model pembelajaran terpadu yang paling
sederhana karena menekankan pada hubungan secara eksplisit tentang
konsep atau prinsip,atau pokok bahasan atau ketrampilan atau
tugas,atau sikap dalam suatu bidang studi. Pada pembelajaran SR-KT
terpadu keterkaitan dalam substansial material seni.Model terkait
dalam SR-KT terpadu dapat dimodifikasikan berdasarkan jenis matra
substansial seni.Urutan keterkaitan dan besr bobot materi masing-
masing substansial materi yang terkait.
Keunggulan Model Terkait : Paling sederhana sehingga paling
mudah di rancang dan dilaksanakan, Terjadi interalisasi karena adanya
pengembangan konsep-konsep inti secara terus-menerus,
Memudahkan proses transfer gagasan-gagasan dalam pemecahan
masalah, Siswa lebih mudah dalam mendapatkan gambaran-gambaran
mengenai suatu ketrampilan tertentu.
Kelemahan Model Terkait : Model terkait pada intinya adalah
mengaitkan antara prinsip,konsep ketrampilan dan tugas atau sikap
pada suatu bidang kajian tertentu.Hal ini menyebabkan SR-KT tetap
terpisah dan keterpaduan tidak Nampak walaupun hubungan telah
dirancang secara eksplisit dalam suatu disiplin mata kajian. Fokus
pembelajaran masih bersifat sempit karena usaha-usaha untuk
memadukan gagasan-gagasan dalam suatu bidang studi dapat
membatasi usaha mengembangkan hubungan yang lebih menyeluruh
dengan bidang studi lain.
2. Model Terjala
Merupakan pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan
tematik. Model ini menekankan hubungan antara dua atau lebih mata
pelajaran melalui tema. Pada pembelajaran senirupa terpadu, model
terjala ini dapat memadukan secara intra bidang studi (seni music, tari)
dan inter bidang studi (senirupa, music, tari, matematika, ips, ipa dll).
Keunggulan: Melalui pendekatan tematik, pembelajaran terpadu
model ini memiliki kekuaatn komprehensif yang tinggi. Membangun
motivasi siswa melalui kegiatan pemilihan dan pengembangan tema.
Meningkatkan kemampuan wawasan guru tentang suatu konsep secara
komprehensif
Kelemahan : Membutuhkan waktu yang lama dalam merancang
pembelajaran Ketrampilan seni rupa yang diperoleh siswa kurang
optimal, Guru memerlukan kemampuan mengevaluasi proses dan
produk pembelajaran agar perncan
3. Model Terpadu
Model terpadu merupakan pembelahjaran terpadu yang
menggunakan tema yang diangkat dari adanya tumpang tindih tentang
konsep ketrampilan dan sikap dalam kurikulum yang berlaku dari
berbagai mata pelajaran atau mata kajian.
Keunggulan : Mampu membangun motivasi siswa, Mampu
mengembangkan aspek sikap pada dampak pengiring dalam
pembelajaran, Menghemat waktu, Memiliki kekuatan komprehensif
yang tinggi.
Kelemahan : Membutuhkan kurikulum yang mengacu pada
keterpaduan serta kebijakan-kebijakan pendukung dalam system
evaluasi pembelajaran, Membutuhkan waktu, tenaga dan pikiran
dalam merancang model pembelajaran terpadu, Model terpadu
merupakan pembelajaran terpadu yang paling rumit.
2.1.3 Pendekatan Pembelajaran Seni Rupa di SD
Pembelajaran Pendidikan Seni dilaksanakan baik dengan
pendekatan terpisah dan terpadu. Pendekatan terpisah ialah melaksanakan
pembelajaran setiap bidang seni, sesuai dengan ciri-ciri khusus dan kesatuan
substansi masing-masing. Pendekatan terpadu ialah melaksanakan
pembelajaran yang memadukan bidang-bidang seni dalam bentuk seni
pertunjukan, seni multimedia, atau kolaborasi seni. Pembelajaran
Pendidikan Seni secara terpadu meliputi pembelajaran apresiatif dan
produktif.
Pembelajaran apresiatif secara terpadu dilaksanakan dengan
kegiatan apresiasi terhadap karya seni yang merupakan perpaduan antara
dua atau lebih bidang seni, baik secara langsung maupun melalui media
audio-visual, misalnya pertunjukan musik, tari, teater, atau film.
Pembelajaran produktif secara terpadu dilaksanakan dengan kegiatan
berkarya dan penyajian seni yang melibatkan dua atau lebih bidang seni,
misalnya dalam bentuk seni pertunjukan atau kolaborasi antar bidang seni.
Dalam pembelajaran Pendidikan Seni, pengembangan sikap
memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan keterampilan,
dan pengetahuan. Untuk menunjang pembelajaran materi yang mengarah
pada penguasaan keahlian profesional, termasuk menggambar dengan
mistar (menggambar konstruksi), perlu ditunjang dengan program
ekstrakurikuler, sesuai dengan bakat dan minat siswa.
2.2 Seni Rupa Dua Dimensi dan Tiga Dimensi
Seni rupa merupakan salah satu cabang yang menghasilkan sebuah karya
yang bisa kita nikmati dengan panca indra. Seni rupa terbagi dikelompokkan
menurut wujud, massa dan fungsinya. Pada makalah ini, kami akan
memaparkan tentang seni rupa dua dimensi dan tiga dimensi. Melihat dari
beberapa buku yang ada di SD, kompetensi dasar mengenai seni rupa yaitu
membahas tentang mengidentifikasi unsur-unsur seni rupa, menjelaskan
simbol yang ada pada seni rupa dua dimensi dan tiga dimensi. terhadap seni
rupa, mengenal unsur seni rupa mengekspresikan diri melalui gambar.Seni
rupa dua dimensi dan tiga dimensi termasuk pada kelompok seni rupa
berdasarkan wujud. Berikut ini penjelasan mengenasi seni rupa dua dimensi
dan tiga dimensi.
2.2.1 Seni Rupa Dua Dimensi

Seni rupa dua dimensi adalah karya seni yang memiliki dua ukuran, yaitu
panjang dan lebar. Seni rupa dua dimensi hanya mampu dinikmati dari arah
depan. Berikut ini ciri – ciri seni rupa dua dimensi :

1. Dapat dilihat dari satu arah


2. Dibuat pada bidang datar
3. Mempunyai ukuran panjang dan lebar
4. Memiliki dimensi luas
Seni rupa dua dimensi termasuk ke dalam seni rupa murni. Seni rupa
dua dimensi menitikberatkan pada ekspresi jiwa. Contoh karya seni dua
dimensi adalah gambar, lukisan, poster, kaligrafi, kartun, sketsa, karikatur,
grafity, dan fotografi. Dari pelbagai contoh yang ada, seni rupa dua dimensi
mempunyai unsur-unsur. Berikut ini unsur-unsur seni rupa :
1. Titik
Titik adalah salah satu unsur seni rupa yang paling dasar. Awal dari
gambaran juga adanya titik. Kita membuat sebuah garis terlebih dahulu
membuat titik.
2. Garis
Suatu batas dari suatu benda, bidang, ruang, tekstur, warna, dan lain
sebagainnya. Garis memiliki dimensi yang memanjang dan cenderung
terarah.
3. Bidang
Bidang adalah salah satu unsur seni rupa yang terbentuk dari garis. Jadi,
sekumpulan garis yang menjadi suatu bidang. Unsur bidang dasar pada seni
rupa yaitu bidang segiempat, lingkaran, segitia, dan oval.
4. Bentuk
Bentuk adalah bentuk benda polos yang halna bisa kita lihat dengan mata
kita. Contohnya yaitu bentuk dari meja yaitu segiempat.
5. Tekstur
Sifat Permukaan suatu benda seperti kasar, halus, mengkilap, licin, disebut
dengan tekstur.
6. Warna
Teori warna berasal dari cahaya. Kita juga perlu tahu tentang warna.
Menariknya sebuah lukisan biasanya juga berasal dari permainan warna dari
pelukis.
7. Gelap terang
Unsur gelap terang berfungsi untuk benda agar terlihat seolah – olah
memiliki volume.
8. Ruang (kedalaman)
Dalam seni rupa dua dimensi, ruang disebut juga dengan kedalaman
diperoleh dengan beberapa cara, yaitu pergantian ukuran, pergantian
tampak bidang, pemilihan warna, penambahan bayang-bayang dll.
2.2.2 Seni Rupa Tiga Dimensi
Seni rupa tiga dimensi adalah seni rupa yang dibatasi dengan tiga
sisi, yaitu panjang,lebar, dan tinggi. Dalam pengertiannya, seni rupa tiga
dimensi memiliki volume. Dari pengertian yang sudah dijelaskan,
perbedaan dari seni rupa dua dimensi dengan tiga dimensi yaitu dua dimensi
hanya bisa dilihat dari satu arah saja sedangkan tiga dimensi kita bisa
melihat dari segala arah. Contoh dari karya tiga dimensi adalah kriya,
patung, keramik, dan arsitektur.
Pembuatan karya seni rupa tiga dimensi dibagi menjadi dua, yaitu
seni rupa murni dan seni rupa terapan. Perbedaan seni rupa murni dengan
seni rupa terapan yaitu seni rupa murni menitikberatkan pada keindahannya
saja. Jadi fungsinya untuk kepuasan atau kenikmatan pandang mata kita.
Biasanya seni rupa murni termasuk seperti lukisan,yang artinya lebih
kepada seni rupa dua dimensi.
Berdasarkan fungsi dan tujuan seni rupa terapan yaitu sebuah karya
yang tidak hanya menitikberatkan keindahannya saja. Namun, juga
memperhatikan kegunaannya. Contohnya yaitu guci. Kita memandang
sebuah guci tidak hanya indahnya saja yang kita dapatkan, tetapi juga
kegunaan dari guci tersebut. Seperti yang kita ketahui salah satu fungsi guci
yaitu sebagai tempat bunga.
Unsur – unsur seni rupa tiga demensi sama dengan unsur – unsur
yang ada pada seni rupa dua demensi. Yaitu ada titik, garis, bidang, bentuk,
tekstur, warna, gelap terang, dan ruang. Meskipun sama tetapi konteksnya
ada yang berbeda. Seperti pada point unsur bidang. Unsur bidang pada seni
rupa tiga dimensi memiliki panjang, lebar, dan tinggi.
Pembuatan suatu karya membutuhkan suatu teknik. Begitu juga
dengan pembuatan karya seni rupa tiga dimensi. Seni rupa tiga dimensi
memiliki beberapa teknik, yaitu teknik aplikasi,mozaik,merakit,pahat, dan
cor/menuang. Berikut ini penjelasan teknik – tekniknya :
1. Teknik Aplikasi
Sebuah karya hias yang digunakan dalam seni menjahit dengan cara
menempelkan bermacam-macam kain yang sudah di gunting. Contoh yang
biasa kita ketemui adalah membuat sebuah boneka dari sebuah kain.
2. Teknik Mozaik
Sebuah teknik menggambar dengan menggunakan suatu bentuk geometris
tertentu. Bentuk geometris digunakan untuk mengganti bahan pewarna.
Contohnya seperti mewarnai sebuah gambar burung dengan biji-bijian.
Mengganti bahan pewarna dengan biji-bijian.
3. Teknik Merakit
Sebuah karya seni dengan cara menyambungkan beberapa potongan bahan-
bahan. Cara ini bisa disebut dengan merakit, rakitan adalah hasil karyanya.
Contohnya yaitu membuat miniatur rumah yang bahannya dari stik atau
batang korek api.
4. Teknik Pahat
Teknik yang membuat karya seni dengan membuang bahan-bahan yang
tidak digunakan. Biasa dibuat menggunakan alat martil, pahat, kikir dan
sebagainya. Contohnya yaitu membuat sebuah patung yang bahannya
berasal dari kayu atau batu.
5. Teknik Cor/ Menuang
Karya seni yang dilakukan dengan cara menuang bahan cair ke sebuah alat
cetakkan. Bahan cair yang biasa digunakan terbuat dari semen, karet, logam
dan sebagainya. Contoh yang sederhana yaitu pembuatan keramik.
2.3 Teknik Mencampur Warna
Mengetahui cara mencampur warna yang baik dan benar sangat penting
bagi kita yang ingin menggunakan berbagai macam warna
untuk mewarnai atau melukis, namun terdapat keterbatasan jenis warna yang
kita miliki. Warna adalah salah satu unsur seni rupa yang terbuat dari pigmen
(zat warna). Zat warna merupakan jenis bahan kimia yang mempunyai efek/
kesan warna yang dapat dinikmati dengan indera penglihatan. Untuk membuat
berbagai macam warna yang berbeda-beda dapat kita lakukan dengan
mencampurkan satu atau dua warna dengan warna lainnya. Untuk
mempermudah dalam mencampurkan warna, sebaiknya ketahui dulu
pembagian warna sesuai dengan kelompok warnanya.
Dalam mencampur warna, kita juga harus mempertimbangkan
perbandingannya. seperti mencampur 1 sendok warna Biru dan 1
sendok warna Merah menghasilkan warna Ungu. namun jika takarannya
diubah, 2 sendok warna biru dan 1 sendok warna merah Ungu namun lebih
kental birunya.
Dalam Roda Warna Brewster kita mengenal warna Primer Kuning Merah
Biru sebagai warna dasar untuk membentuk warna lainnya kita dicampur. Jadi
kita bisa menghasilkan banyak warna hanya dengan mencampurkan 3 warna
primer. Warna primer merupakan warna dasar dan bukan campuran dari warna
apapun. Warna primer tersebut apabila dicampurkan satu dengan yang lain
akan membentuk kelompok warna turunan kedua yaitu Warna
Sekunder (hijau, ungu muda, jingga). Selanjutnya adalah Warna
Tersier (cokelat tua, hijau pudar, dan cokelat muda). Warna tersier merupakan
warna turunan ketiga yang dihasilkan dari campuran tiga warna primer atau
warna primer dengan sekunder atau warna sekunder dengan sekunder. Lebih
jelasnya lihat skema pencampuran warna berikut ini.
Ketika mencampur warna primer, kita akan menghasilkan warna-warna
sekunder. yaitu:
Warna merah + kuning menjadi warna orange
Warna kuning + biru menjadi warna hijau
Warna biru + merah menjadi warna ungu

Setelah kita menemukan Warna sekunder, maka kita campur lagi warna
tersebut. maka hasilnya akan menjadi Warna Tersier.

Warna kuning + orange = orange kekuningan

Warna orange + merah = warna orange kemerah-merahan

Warna merah + ungu = warna ungun kemerahan

Warna ungu + biru = warna ungun kebiruan

Warna biru + hijau = warna biru muda

Warna hijau + kuning = warna hijau kekuning-kuningan, namun ada beberapa


nama warna sesuaikan dengan campuran tersebut. yakni : warna chartreuse, warna
lime, warna spring bud, warna law green dan sejenisnya.
Setelah mengatahui dasar untuk mencampur warna diatas, maka tinggal
dikembangkan lagi. misalnya mencampur warna terseier satu persatu dan lihat
hasilnya dan temukan warna favorit kita.

Ketika menambahkan warna putih pada campuran warna, maka hasilnya


akan membuat warna semakin cerah. sebaliknya, kalau memberikan warna hitam,
maka hasilnya akan semakin tua. tergantung seberapa banyak sobat menambahkan
hitam dan putih.

Sebagai tambahan, saya akan memberikan contoh campuran warna yang


populer digunakan kalangan desainer. supaya sobat tahu dan bisa membuatnya
sendiri sesuai komposisi warna dan takaran warnaya.

2.3.1 Cara Membuat Warna Hitam

Warna hitam merupakan kelompok Warna Netral (putih, hitam). Warna


hitam dapat dibuat dengan mencampurkan tiga warna primer (merah, kuning,
biru), dengan campuran yang pas dapat menghasilkan warna hitam
pekat. Untuk penggunaan warna hitam pada saat melukis dengan cat minyak
atau cat air disarankan tidak menggunakan cat warna hitam (bukan hasil
campuran). Warna hitam bukan hasil campuran sering membuat pudar dan
mematikan warna, akhirnya menghilangkan kejelasan warna. Untuk
itu, disarankan menggunakan warna hitam hasil campuran warna.

MERAH + BIRU + KUNING = HITAM

2.3.2 Warna Komplementer

Komplementer artinya sama dengan kebalikan. Seperti warna


HITAM adalah komplementer/ kebalikan dari warna PUTIH. Setiap warna
pasti memiliki warna kebalikannya. Warna komplementer/ kebalikan juga
dapat digunakan untuk penilaian kontras warna, karena memiliki perbedaan
warna yang mencolok. Warna komplementer/ kebalikan diantaranya adalah
HITAM/ PUTIH, KUNING/ UNGU MUDA, JINGGA/ BIRU, MERAH/
HIJAU.

Mencampurkan dua warna kebalikan atau komplementer apapun dengan


jumlah yang sama, maka akan menghasilkan warna abu-abu. Lihat bagan
pencampuran warna berikut ini.

2.3.3 Membuat Warna Abu-Abu

HITAM + PUTIH =ABU-ABU

MERAH + HIJAU + PUTIH =ABU-ABU

KUNING + UNGU MUDA + PUTIH =ABU-ABU

JINGGA + BIRU + PUTIH =ABU-ABU

2.3.4 Membuat Warna Muda

Untuk membuat warna muda dari jenis warna apapun dapat dilakukan
dengan mencampurkan warna putih. Dengan mencampurkan warna putih
secara bertahap, misalnya MERAH + PUTIH, MERAH ++ PUTIH, MERAH
+++ PUTIH, maka akan menghasilkan warna merah muda dan semakin muda
sesuai yang diinginkan.

2.3.5 Warna Monokromatis dan Polikromatis

Warna monokromatis adalah warna dari hasil pencampuran warna primer


dengan warna hitam atau putih. Pencampuran warna primer (merah, biru,
kuning) dengan warna putih akan menghasilkan warna muda. Sedangkan
pencampuran warna primer (merah, biru, kuning) dengan warna hitam akan
menghasilkan warna tua. Untuk menciptakan warna monokromatis silahkan
mencampurkan warna hitam atau putih dengan warna primer secara bertahap.

Warna polikromatis adalah warna hasil pencampuran warna sekunder


dengan warna hitam atau putih. Pencampuran warna sekunder (hijau, ungu
muda, jingga) dengan warna putih akan menghasilkan warna muda.
Sedangkan pencampuran warna sekunder dengan warna hitam akan
menghasilkan warna tua. Lebih jelasnya lihat bagan warna monokromatis dan
polikromatis berikut ini.

2.3.6 Membuat Warna Hijau

Warna hijau yang berbeda-beda dapat dibuat dengan menyiapkan tiga


warna biru (ultramarine, cerulean blue, prussian blue), tiga warna kuning
(lemon yellow, cadmium yellow, yellow ochre), dan putih. Dengan
mencampurkan warna tersebut satu dengan yang lain (seperti contohnya
ULTRAMARINE + LEMON YELLOW + PUTIH = HIJAU) kamu dapat
membuat bagan warna dengan 25 warna hijau yang berbeda-beda.