Anda di halaman 1dari 11

1.

Kebutuhan Nutrisi Kelinci

Kelinci merupakan ternak yang memiliki kemampuan biologis tinggi, selang beranak
pendek, mampu beranak banyak, dapat hidup dan berkembang biak dari limbah pertanian dan
hijauan. Hijauan dan limbah pertanian yang tersedia spesifik daerah merupakan potensi yang
dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan kelinci. Talaksana pemberian pakan yang berorientasi
pada kebutuhan kelinci dan ketersediaan bahan pakan merupakan upaya yang tepat untuk
meningkatkan produktivitas ternak kelinci. Tatalaksana pemberian pakan meliputi pemilihan
jenis bahan baku pakan, pemenuhan jumlah kebutuhan dan pola pemberian pakan. Kebutuhan
protein pada kelinci berkisar antara 12 s/d 18%. Tertinggi pada fase menyusui (18%) dan
terendah pada dewasa (12 %). Kebutuhan bahan kering pakan berdasarkan periode pemeliharaan
berturut-turut muda bobot 1,8−3,2 kg (112−173 g/ekor/hari), dewasa bobot 2,3−6,8 kg (92−204
g/ekor/hari), induk bunting bobot 2,3−6,8 kg (115-251 g/ekor/hari) dan induk menyusui dengan
7 anak bobot 4,5 kg (520 g/ekor/hari).

Jenis-jenis hijauan yang dapat diberikan sebagai pakan kelinci diantaranya rumput
lapangan, daun ubi jalar, daun singkong, daun wortel, daun kangkung, kobis, daun turi dan
lamtoro. Dedak, bungkil kelapa, ampas tahu, ampas tapioka, ubi jalar, dan ubi kayu merupakan
bahan pakan produk pertanian yang dapat diberikan pada ternak kelinci. Diantara bahan pakan
inkonvensional, jerami dengan tingkat pemberian sampai 30 % dan ampas teh dengan tingkat
pemberian 40%, dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan kelinci. Pelayuan dan pencacahan
pada hijauan merupakan perlakuan terbaik sebelum diberikan pada ternak. Perebusan atau
pencampuran dengan air panas pada konsentrat dapat meningkatkan kualitas pakan dan
mempercepat pertumbuhan kelinci. Waktu pemberian pakan yang paling baik adalah pkl 18:00–
06:00 WIB. Pemberian air minum secara ad libitum dapat memperlancar proses pencernaan.
Melalui penerapan tatalaksana pemberian pakan secara keseluruhan yang meliputi pemilihan
jenis bahan pakan, pemenuhan jumlah kebutuhan dan penerapan pola pemberian pakan,
produktivitas ternak kelinci dapat ditingkatkan guna menunjang agribisnis ternak kelinci yang
efisien dan menguntungkan.

Kelinci memiliki kemampuan biologis yang tinggi, selang beranak pendek, mampu
beranak banyak, dapat hidup dan berkembang biak dari limbah pertanian dan hijauan
(Templeton, 1968). Tersedianya hijauan berupa lumput, leguminosa, berbagai jenis herba, dan
limbah sayuran seperti daun wortel, kobis serta limbah pertanian seperti dedak, onggok, ampas
tahu dan lain-lain di daerah beriklim tropis seperti Indonesia, merupakan potensi yang dapat
dimanfaatkan sebagai bahan pakan kelinci. Pakan merupakan salah satu faktor lingkungan yang
sangat berpengaruh terhadap tinggi rendahnya produktivitas ternak Penerapan tatalaksana
pemberian pakan, yang erorientasi pada kebutuhan kelinci dan ketersediaan bahan pakan,
merupakan upaya yang tepat untuk meningkatkan produktivitas ternak kelinci secara efisien.

2. Kebutuhan Gizi

Menurut Cheeke (1987), kebutuhan protein kelinci berkisar antara 12−18%, tertinggi
pada fase menyusui (18%) dan terendah pada dewasa (12%), kebutuhan serat kasar induk
menyusui, bunting dan muda (10−12%), kebutuhan serat kasar kelinci dewasa (14%) sedangkan
kebutuhan lemak pada setiap periode pemeliharaan tidak berbeda (2%).

2.1. Kebutuhan Bahan Kering

Jumlah pakan yang diberikan harus memenuhi jumlah yang dibutuhkan oleh kelinci
sesuai dengan tingkat umur/bobot badan kelinci. Pemberian pakan ditentukan berdasarkan
kebutuhan bahan kering. Jumlah pemberian pakan bervariasi bergantung pada periode
pemeliharaan dan dan bobot badan kelinci. Kebutuhan bahan kering pakan berdasarkan periode
pemeliharaan berturut-turut muda bobot badan 1,8−3,2 kg (112−173 g/ekor/hari), dewasa bobot
badan 2,3−6,8 kg (92−204 g/ekor/hari), induk bunting bobot badan 2,3−6,8 kg (115−251
g/ekor/hari) dan induk menyusui dengan 7 anak bobot badan 4,5 kg (520 g/ekor/hari). (NRC,
1977 dalam Ensminger, 1991)

2.2. Pemilihan Jenis Bahan Pakan

Sitorus (1982) melaporkan hijauan merupakan bahan pakan utama yang diberikan oleh
peternak kelinci di Jawa dengan jumlah pemberian mencapai 80–90% dari total ransum. Jenis-
jenis hijauan yang dapat diberikan sabagai pakan kelinci diantaranya rumput lapangan, sintrong,
babadotan, daun ubi jalar, daun pisang, daun singkong, daun wortel, daun kangkung, kobis, daun
turi dan lamtoro.

Hasil penelitian Sudaryanto (1984) terhadap beberapa hijauan yang diberikan pada
kelinci, melaporkan bahwa ketela rambat dan rumput lapangan merupakan hijauan yang paling
baik untuk diberikan pada kelinci, dari hasil pengamatannya terdapat petunjuk untuk
menggunakan hijauan ketela rambat dalam bentuk kering, sehingga jumlah konsumsi bahan
kering dapat terjamin. Selanjutnya Sartika (1988) melaporkan daun wortel mempunyai potensi
yang baik untuk dimanfaatkan sebagai pakan kelinci di daerah padat penduduk (lahan sempit)
seperti di perkotaan. Upaya lain yang dapat dilakukan adalah pemanfaatan bahan pakan berasal
limbah pertanian yang tersedia, murah dan memiliki potensi untuk dimanfaatkan oleh kelinci.
Rahardjo et al. (2004) melaporkan bahwa diantara bahan pakan inkonvensional yang tersedia
daun rami (Boehmeria nivea L Goud) yang memiliki kandungan protein cukup tinggi (18,97%)
dan ampas teh dengan kandungan protein 17,57% dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak
kelinci. Selanjutnya dikemukakan Rahardjo et al. (2004) bahwa daun jerami dapat dimanfaatkan
sampai sekitar 30% dari total ransum, sehingga biaya pakan menjadi lebih rendah. Sementara
ampas teh dapat diberikan sampai 40% dari total ransum, namun kinerja tertinggi dicapai pada
tingkat pemberian 10%. Konsentrat untuk bahan pakan kelinci dapat berupa pellet (pakan buatan
pabrik), atau campuran beberapa bahan pakan diantaranya dedak, bungkil kelapa, bungkil kacang
tanah, ampas tahu, ampas tapioka, bulgur, pakan starter ayam, ubi jalar dan ubi kayu. Pemilihan
jenis bahan konsentrat tergantung kepada tujuan, sistem pemeliharaan dan ketersediaan bahan
pakan di masing-masing daerah.

3. Pola Pemberian Pakan


3.1. Imbangan Hijauan Dan Konsentrat

Kecukupan gizi yang seimbang perlu didukung dengan pemberian hijauan perlu
diimbangi dengan konsentrat. Peternakan kelinci intensif hijauan diberikan 60–80%, sisanya
konsentrat. Ada juga yang memberikan 60% kosentrat dan sisanya hijauan (Sarwono, 2002).
Pakan komersial bentuk pellet yang merupakan campuran hijauan dan kosentrat pada peternakan
intensif dibuat dengan imbangan 50–60% hijauan, 50–40% konsentrat (Ensminger, 1991).
Kaitannya dengan pemberian kosentrat, Rahardjo et al. (2004) melaporkan hasil penelitiannya
pada ternak kelinci Rex yang diberi rumput lapang ad libitum (100%) dan rumput lapang ad
libitum ditambah konsentrat, hasil penelitian menunjukkan bahwa performans produksi terbaik
ditunjukkan oleh pemberian rumput lapang ad libitum + 60 g kosentrat dengan pertambahan
bobot badan sebesar 1191 g/ekor, selama 12 minggu sedangkan pada ternak kelinci yang
diberikan rumput lapang ad libitum tanpa konsentrat, pertambahan bobot badannya hanya
sebesar 610 g/ekor dalam waktu yang sama. Bentuk pakan yang diberikan pada kelinci
bergantung pada tujuan dan sistem pemeliharaan. Pada beberapa peternakan intensif
memformulasikan hijauan dan konsentrat dalam bentuk “pellet” sehingga komposisi bahan
keringnya lebih akurat dan peternak tidak perlu lagi memberikan hijuan dalam bentuk segar atau
tambahan pakan lain. Namun kendalanya bagi peternak kecil biaya proses pembuatan pellet ini
cukup mahal. Untuk kondisi peternak kecil di pedesaan pemberian pakan dengan mengutamakan
pemberian beragam jenis hijauan dan limbah sebagai tambahan seperti dedak, ampas tahu,
onggok dan limbah pertanian lainnya adalah alternatif yang paling memungkinkan dalam upaya
meningkatkan produktivitas ternak kelinci secara efisien.

3.2. Pemberian hijauan

Sebelum diberikan pada ternak hijauan sebaiknya dilayukan terlebih dahulu dengan cara
membiarkan/diangin-anginkan pada ruangan sekitar kandang. Zat toksik pada beberapa hijauan
seperti adanya HCN pada daun singkong dapat membahayakan kesehatan ternak. Melalui proses
pelayuan zat toksik yang terkandung pada hijauan dapat dikurangi. Selain itu pelayuan dapat
menurunkan kadar air hijauan yang sangat basah, dimana hijauan yang basah dapat
mengakibatkan kembung (bloat) dan mencret (enteritis) pada kelinci (Belanger, 1977). Diantara
jenis hijauan ada yang sangat bergetah bahkan ada struktur hijauan yang dapat menyebabkan
gatal-gatal dan merusak mulut kelinci (Sitorus et al., 1982). Untuk mengatasi hal tersebut dapat
dilakukan pencacahan. Pencacahan dilakukan dengan memotong-motong hijauan sepanjang 2−3
cm dengan cara manual atau mekanis. Melalui proses pencacahan tekstur hijauan yang kasar dan
getah hijauan dapat dikurangi.
3.3. Pemberian konsentrat

Konsentrat yang akan diberikan dipilih dari bahan yang disukai, mudah didapat dan
tersedia secara kontinu. Konsentrat harus bersih, tidak rusak, tidak berjamur. Konsentrat
diberikan pada tempat pakan yang mudah dijangkau oleh kelinci. Tempat pakan harus selalu
dijaga kebersihannya, sisa pakan yang sudah berjamur segera dibuang. Kecuali bentuk pellet atau
crumble, konsentrat bentuk all mash (tepung) sebaiknya dicampur dengan air panas atau diseduh
kemudian dikepal-kepal, selain bermanfaat untuk membunuh organisme penyebab penyakit yang
mungkin ada, juga dapat mengaktifkan enzym inhibitor yang dapat mengurangi kualitas dari
konsentrat tersebut (Kratzer dan Payne, 1977 dalam Sitorus et al., 1982). Sebaliknya pemberian
konsentrat kering menyebabkan kelinci sering berbangkis dan menyebabkan intake makanan
rendah. Kelinci yang mendapat pakan dari gandum yang telah dikukus menunjukkan
pertumbuhan lebih cepat (Lebas, 1976 dalam Lang, 1981).

3.4. Pemberian air minum

Air sangat diperlukan untuk melancarkan makanan dalam saluran pencernaan, terlebih
lagi terkait dengan produksi susu bagi induk yang sedang menyusui (SANFORD, 1979). Air
minum diberikan secara adlibitum. Pemberian dapat dilakukan dengan menyediakan tempat
minum pada masing-masing kandang. Pada beberapa peternakan intesif air minum diberikan
dengan sistem nipple yang diinstalasikan pada masing-masing kandang, untuk kondisi pedesaan
tempat minum dapat dibuat dari bahan yang murah dan mudah didapat misalnya dari bahan
plastik yang dilapisi semen sebagai pemberat agar tidak mudah tumpah.

3.5. Waktu pemberian pakan

Walaupun pakan kelinci diberikan secara tak terbatas (ad libitum), namun pemberian
secara berangsur angsur dengan pengaturan waktu yang tepat akan lebih mengefisienkan dan
mengefektifkan jumlah pakan yang diberikan. Pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari.
Konsentrat diberikan pada pagi hari sekitar pkl 10:00 setelah pembersihan kandang dan 1/3
bagian hijauan diberikan pada siang hari sekitar pkl 13:00 dan 2/3 bagian hijauan diberikan pada
sore hari sekitar pkl 18:00. Mengingat kelinci termasuk binatang malam (noctural), dimana
aktivitasnya lebih banyak dilakukan pada malam hari, maka pemberian volume pakan terbanyak
pada sore hari sampai malam hari. Harsojo (1988) melaporkan kelinci yang diberi pakan dari
pukul 18:00–06:00 bobot badannya lebih tinggi dibanding kelinci yang diberi pakan dari pkl.
06:00–18:00.

4. Macam-macam Kebutuhan Nutrisi Kelinci

Ternak membutuhkan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, yaitu kebutuhan


hidup pokok dan produksi (Siregar, 1994). Kebutuhan nutrisi dipenuhi dari ransum yang
dimakan dan mampu dicerna oleh ternak (Blakely dan Bade, 1992). Siregar (1994) menyatakan
bahwa kebutuhan hidup pokok adalah kebutuhan nutrisi untuk memenuhi proses-proses hidup
tanpa adanya produksi, sedangkan kebutuhan produksi adalah kebutuhan nutrisi untuk
pertumbuhan, kebuntingan, produksi susu dan kerja. Kebutuhan hidup pokok adalah kebutuhan
minimal yang harus dipenuhi, jika nutrisi yang dibutuhkan tidak tersedia dalam ransum, tubuh
ternak akan membongkar cadangan energi (glikogen, lemak dan protein) tubuh untuk
mempertahankan kelangsungan hidup (Tillman et al., 1998).

Kebutuhan energi digunakan untuk pemeliharaan tubuh (hidup pokok), memelihara


jaringan tubuh, menjaga agar perombakan cadangan energi dalam tubuh tidak terjadi serta untuk
mempertahankan suhu tubuh dengan suhu lingkungan dengan cara mengubah energi menjadi
panas (Tillman et al., 1998). Cheeke (1987) menyatakan bahwa kebutuhan energi dipengaruhi
oleh fungsi produksi, umur, jenis kelamin, ukuran tubuh dan lingkungan. Kebutuhan energi pada
kelinci untuk pertumbuhan atau laktasi dan hidup pokok adalah 2500 dan 2100 Kcal/kg DE
(NRC, 1977).

Karbohidrat adalah sumber energi yang potensial pada kelinci (Ensminger et al., 1990).
Karbohidrat ransum terbagi menjadi dua yaitu karbohidrat yang siap dicerna, seperti pati dan
sukrosa, dan karbohidrat yang sulit dicerna yaitu selulosa dan hemiselulosa. Selulosa dan
hemiselulosa terkandung dalam serat kasar. Sarwono (2002) menyatakan bahwa kelinci tidak
mampu mencerna serat kasar dengan baik dibanding ternak ruminansia, kemampuan mencerna
serat kasar hanya 10%. Serat kasar yang direkomendasikan NRC (1977), untuk pertumbuhan dan
laktasi 10 – 12% serta untuk hidup pokok 14%. Ransum kelinci yang rendah serat kasar dapat
menyebabkan enteritis, sedangkan serat yang berlebihan akan mengurangi karbohidrat yang
terlarut (Cheeke et al., 1982) dan menurunkan kecernaan ransum (De Blas dan Wiseman, 1998).
Fungsi utama lemak adalah sebagai sumber energi (Anggorodi Protein dalam ransum penting
untuk pertumbuhan kelinci muda, hidup pokok dan produksi bulu. Kualitas protein dalam
ransum tergantung pada keseimbangan asam amino essensial (Anggorodi, 1982), kecernaan
protein dan asam amino bebas yang dapat diserap (De Blas dan Wiseman, 1998). Blakely dan
Bade (1992) menyatakan bahwa kebutuhan protein pada fase pertumbuhan lebih tinggi daripada
fase dewasa, karena protein tersebut selain digunakan untuk hidup pokok juga untuk
pertumbuhan jaringan. Kebutuhan mineral kelinci terutama Ca dan P adalah untuk pertumbuhan
0,4 dan 0,22% serta untuk laktasi 0,75 dan 0,5% (NRC, 1977). Menurut Cheeke (1987)
kebutuhan mineral kelinci lebih tinggi daripada ternak lain, hal ini dilihat dari kandungan
mineral daging dan susu kelinci lebih tinggi daripada ternak lain, terutama Ca dan P. Kandungan
Ca susu pada kelinci laktasi adalah 4,5 – 6,5 g Ca/kg dan 3,5 – 4,4 g P/kg, dimana kisaran
tersebut 3 kali lebih tinggi dari susu kerbau, sedangkan daging kelinci mengandung 129 ppm Ca
(De Blas dan Wiseman, 1998).

Syarat-syarat pakan pada ternak kelinci :

Pakan / ransum disenangi ternak. Bahan pakan mudah didapat dan tersedia terus menerus di
daerah yang bersangkutan Harganya murah. Mengandung zat makanan yang sesuai dengan
kebutuhan kelinci untuk setiap periode pemeliharaan ( anak tumbuh / induk bunting / induk
menyusui, harus lebih banyak mengandung protein, mineral, dan vitamin dibandingkan lainnya) .
Bersih dan jangan sampai ada yang busuk. Makanan bebas benda-benda berbahaya, hindarkan
rumput basah / embun pagi, karena dapat menyebabkan kejang perut. Rumput yang lunak
(jangan alang-alang / semak tajam), karena dapat melukai mulut / hidung.

Bahan Makanan yang Sering Diberikan Pada Ternak Kelinci :

1. Pakan utama kelinci adalah hijauan ( Rumput lapangan.Sayuran (kol, sawi, kangkung), daun
kacang, turi, kacang panjang, daun ketela rambat). Dapat diberikan sebanyak 1 – 2 kg per hari.

2. Umbi-umbian sebagai pakan pelengkap : Umbi segar (air : 60 - 95 %); mudah dicerna, tapi
miskin protein, vitamin dan mineral.

3. Biji-bijian sebagai pakan penguat (induk bunting / menyusui):Jagung Kedelai, Kacang hijau,
Bulgur, Padi, Kacang tanah, Sorghum diberikan 200 - 300 gram per hari.
4. Pada usaha komersial makanan disediakan dalam bentuk pellet.

5. Sebagai temak type daging kelinci mempunyai feed konversi yang baik dibandingkan dengan
temak yang lain dengan ransum seimbang, feed konversinya pada kelinci 3:1, pada broiler 2:1
dan pada steer 9:1.

6. Effisiensi protein pada kelinci 6:1, pada broiler 1,9:1, dan pada steer 10,6:1.

Pakan hijauan yang seimbang terdiri dari hijauan, hay (rumput kering), biji-bijian, umbi-umbian,
dan konsentrat.

• Hijauan, sebagai makanan pokok kelinci lazim di berikan oleh peternak kelinci tradisional.
Pakan hijauan yang diberikan antara lain rumput lapangan, limbah sayuran
(kangkung,sawi,wortel,lobak,caisim,kol, daun singkong),daun kacang tanah, daun dan batang
jagung, daun pepaya, talas, dll). Hijauan untuk pakankelinci jangan diberikan dalam bentuk
‘segar’, tapi telah dilayukan terlebih dulu untuk mengurangi kadar airnya. Proses pelayuan selain
untuk mempertinggi kadar serat kasar, juga menghilangkan getah atau racun yang dapat
menimbulkan kejang-kejang atau mencret. Pemberian pakan berupa kubis atau limbah sayuran
lain akan membuat kencing kelinci keluar berlebihan. Soalnya limbah itu memiliki kandungan
air tinggi.

• Hay adalah rumput awetan yang dipotong menjelang berbunga. Rumput itu di keringkan secara
bertahap sehingga kandungan gizinya tidak rusak, sekaligus mempertinggi kadar kandungan
serat kasarnya. Bahan untuk hay antara lain rumput gajah, pucuk tebu, atau rumput lapangan
menjelang berbunga. Daun kacang-kacangan yang dilayukan lalu di keringkan seperti hay, juga
disukai kelinci.Ketika kelinci sakit terserang mencret, pemberian hijauan dihentikan. Sebagai
gantinya diberikan 100% hay.

• Biji-bijian Biji-bijian berfungsi sebagai makanan penguat. Pakan ini diberikan terutama untuk
kelinci bunting dan yang sedang menyusui. Jenis pakannya bisa jagung, padi,
gandum,kedelai,kacang tanang, dan kacang hijau. Biji-bijian itu sebaiknya digiling atau
ditumbuk lebih dulu. Kalau pemberian biji-bijian terasa mahal, dapat dimanfaatkan bekatul,
bungkil tahu, bungkil kelapa, atau bungkil kacang tanah. Kelinci muda yang dibesarkan melulu
dengan pakan hijauan, sampai umur empat bulan bobot hidupnya hanya sekitar 1.5 kg. Kalau
pakannya di tambah bekatul atau biji-bijian,kelinci muda umur empat bulan bisa mencapai bobot
rata-rata 4 kg untuk New Zealand White, Californian, dan kelinci potong lainnya.

• Umbi-umbian Ubi jalar, songkong, uwi, talas dan umbi-umbi lainnya dapat diberikan untuk
kelinci sebagia pakan tambahan. Sebaiknya umbi yang beracun seperti singkong jangan
diberikan mentah, tapi sudah direbus dulu atau dikeringkan menjadi gaplek.

• Konsentrat dalam peternakan kelinci berfungsi untuk meningkatkan nilai gizi pakan dan
mempermudah penyediaan pakan. Konsentrat sebagai ransum diberikan sebagai pakan tambahan
atau pakan penguat, kalau pakan pokoknya hijauan. Konsentran untuk kelinci dapat berupa pelet
(buatan pabrik),bekatul, bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, ampas tahu, ampas tapioka, atau
gaplek.

Kebutuhan Zat-zat makanan pada Kelinci:

Zat makanan Grower Pejantan Induk menyusui

Protein kasar 16 % 15-16%

Lemak 6,21%, 2 - 3,5 %, 3 - 5,5 %.

Serat Kasar 15,86% 10-27% 15-20%.

Mineral (Kkal) 5 - 6,5 % 5 - 6.5 %.

Kalori (DE) 2500- 2600 2100 – 2500 2100-2500

Jumlah Konsumsi Hijauan dan Konsentrat/ hari

Untuk kelinci sedang tumbuh 1-1,5 kg dan konsentrat 1 ons

Untuk Kelinci dewasa 2-3kg dn 2 ons

Untuk kelinci bunting 2-3 kg dan konsentrat 2-3 ons

Metoda Pemberian Ransum


1. Hand Feeding

Ransum diberikan pada kelinci 2-3 kali / hari, jumlah

makanan yang diberikan terkontrol, terbatas, tidak banyak terbuang.

Kerugiannya adalah banyak tenaga dan waktu tetapi harus diingat bahwa kelinci termasuk
binatang malam yang aktifitasnya pada malam hari oleh karena itu ransum banyak diberikan
pada sore hari,

2. Self Feeding

Makanan diberikan sekaligus sehingga kelinci dapat makan secara bebas, biasa dilakukan pada
kelinci yang digemukan.

Keuntungannya adalah tidak butuh tenaga dan waktu yang banyak tetapi kemgiannya ransum
yang dikonsumsi dan dikencingi tidak dapat dikonsumsi lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2006.Budidaya Ternak Kelinci.http://www.aagos.ristek.go.id/ peternakan /budidaya


kelinci .pdf. Diakses tanggal 13 November 2010.

Anonymous, 2008.Budidaya Ternak Kelinci. http://kelincisemarang.blogspot.com/2008 /11/


budidaya-peternakan-budidaya-ternak.html . Diakses tanggal 13 November 2010.

Anonymous, 2009a.Kandang Kelinci. http://bikin.web.id/tag/kandang-kelinci/ . Diakses tanggal


13 November 2010.

Anonymous, 2009b.Lokasi Dan Kandang Kelinci. http://adenopet-kelinci.blogspot.com /2009


/07 /lokasi -dan-kandang-kelinci.html. Diakses tanggal 13 November 2010.
Bram. 2009. Tatalaksana Pemberian Pakan Untuk Menunjang Agribisnis Ternak Kelinci.
http://azwaranasrabbit.files.wordpress.com/2010/04/lklc05-9.pdf. Diakses tanggal 13 November
2010.

Budiman, 2008. Kelinci Penggemar Wortel.


http://tentangkelinci.wordpress.com/2008/04/29/kelinci-penggemar-wortel/. Diakses tanggal 13
November 2010.

Sarwono. 2009. Karakteristik Daging Kelinci.


http://jalafarm.blogspot.com/2009/09/karakteristik-daging-kelinci.html. Diakses tanggal 13
November 2010.

Yogya, 2009. Perkawinan dan Kehamilan Kelinci.


http://jogjakelinci.wordpress.com/2009/11/03/perkawinan-dan-kehamilan/. Diakses tanggal 13
November 2010.