Anda di halaman 1dari 9

PENDAHULUAN

Pada saat ini penyakit jantung merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia. Pada
tahun 2005 sedikitnya 17,5 juta atau setara dengan 30% kematian di seluruh dunia
disebabkan oleh penyakit jantung. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), 60% dari
seluruh penyebab kematian penyakit jantung adalah penyakit jantung koroner (PJK), (WHO,
2001).

65 Penyakit kardiovaskular diklaim sebagai penyebab kematian nomor satu bagi perempuan
diatas usia 65 tahun di benua Europa. Hormon estrogen berperan melindungi perempuan dari
PJK, oleh karenanya infark miokard akut terjadi pada usia yang lebih tua dibanding laki-laki.
Mereka juga mempunyai risiko kematian lebih tinggi dan komorbiditas faktor risiko penyakit
jantung koroner (PJK) yang lebih besar. Estrogen berperan dalam pengaturan faktor
metabolisme, seperti lipid, petanda inflamasi, sistim trombotik, vasodilatasi reseptor. Oleh
karena itu, terjadinya menopause berpengaruh terhadap kejadian PJK Meskipun secara
umum risiko PJK antara kedua jenis kelamin tidak berbeda, namun ada beberapa faktor yang
mempunyai kecenderungan lebih besar. Pada usia di bawah 50 tahun, merokok lebih buruk
dampaknya dibanding laki-laki; perempuan yang merokok mengalami menopause 2 tahun
lebih awal. Obesitas lebih sering terjadi pada menopause, dan acap kali disertai sindroma
metabolik. Ketika mulai menopause, dislipidemia meningkat; namun risiko
hiperkolesterolemia pada perempuan usia di bawah 65 tahun lebih rendah dibanding laki-
laki. Perempuan dengan diabetes mellitus juga mempunyai risiko komplikasi kardiovaskular
lebih tinggi dibanding laki-laki. Pada usia diatas 75 tahun, hipertensi sistolik lebih sering
terjadi pada perempuan; mengakibatkan hipertrofi ventrikel kiri dan gangguan fungsi
diastolik. Perempuan dengan riwayat hipertensi pada saat hamil, berisiko mengalami
hipertensidan penyakit kardiovaskular yang premature (Rahajoe, 2007)
Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya PJK yang sebenarnya dapat dicegah, akan
tetapi angka kematian di Indonesia cenderung terus meningkat. Pencegahan harus
multifaktorial dengan cara pengendalian faktor risiko PJK, baik primer maupun sekunder.
Pencegahan primer lebih ditujukan pada mereka yang sehat tetapi mempunyai risiko tinggi,
sedangkan sekunder merupakan upaya memburuknya penyakit yang secara klinis telah
diderita.
Menurut penelitian, pria mengalami serangan jantung rata-rata 10 tahun lebih muda
daripada perempuan, hal ini disebabkan oleh efek proteksi/ perlindungan yang diberikan oleh
hormon estrogen pada kaum perempuan yang masih menstruasi. Pada usia 25–35 tahun
angka kejadian PJK pada pria dibanding perempuan adalah 3:1, namun memasuki masa
menopause, risikonya meningkat menyamai laki- laki, risiko menderita PJK pada perempuan
kulit putih yang telah menopause di Amerika adalah 50%, dengan angka kematian 31%.
Sebenarnya angka kematian akibat PJK pada kaum perempuan jauh lebih tinggi dibanding
akibat kanker, akan tetapi penyakit kanker bagi mereka lebih menakutkan (Rahayoe, 2010).
Penelitian di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita tahun 1995, 118
perempuan yang masuk di gawat darurat dengan serangan jantung, 89 persen di antaranya
sudah menopause. Banyak faktor berperan dalam mempercepat terjadinya penyakit jantung
pada wanita. Pertambahan usia menyebabkan penuaan pada sel-sel tubuh, termasuk sel
jantung dan pembuluh darah. Ini akan meningkatkan kejadian dan proses terjadinya penyakit
jantung koroner (Ganesya, 2007).
Penyakit jantung dan pembuluh darah dipengaruhi banyak faktor meliputi usia, jenis
kelamin, ras, kebiasaan merokok, IMT, konsumsi alkohol, stres dan aktivitas fisik
Penyakit jantung dan pembuluh darah (PJPD) kemungkinan terjadi karena peningkatan
usia, peningkatan IMT, kebiasaan konsumsi (tinggi glikemik, tinggi natrium, rendah serat dan
tinggi lemak jenuh), kebiasaan konsumsi minuman (kopi dan alkohol) dan kurang olahraga.
Penyakit jantung terjadi ketika gumpalan darah menyumbat salah satu arteri jantung.
Aliran darah yang rendah menyebabkan jantung kekurangan oksigen, sehingga merusak atau
membunuh sel-sel jantung. Penyumbatan
tersebut terjadi ketika arteri menyempit, disebabkan oleh munculnya substansi yang
disebut plak sepanjang dinding arteri. Kadang-kadang plak tersebut retak dan memicu
bekuan darah. Penyakit jantung memiliki gejala yang khas, yaitu nyeri dada
. Seseorang yang memiliki IMT kategori risiko ringan berisiko 3,6 kali menderita PJPD
daripada yang tidak berisiko. Penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yaitu,
seseorang dengan status gizi lebih cenderung meningkatkan risiko penyakit jantung, DM, dan
hipertensi. Seseorang dengan IMT lebih (gemuk) memiliki timbunan lemak di tubuh lebih
banyak daripada seseorang dengan IMT normal. Hal ini dapat meningkatkan substansi yang
disebut plak sepanjang dinding arteri (atherosklerosis). Kadang-kadang plak tersebut retak
dan memicu bekuan darah yang dapat menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah
yang nantinya akan memicu kejadian PJPD.

Etiologi Penyakit Jantung Koroner


Salah satu penyakit jantung koroner adalah kebiasaan makan makan makanan berlemak
tinggi terutama lemak jenuh. Agar lemak mudah masuk dalam peredarah darah dan di serap
tubuh maka lemak harus diubah oleh enzim lipase menjadi gliserol (Yenrina, Krisnatuti,
1999).
Aterosklerosis adalah suatu keadaan arteri besar dan kecil yang ditandai oleh endapan
lemak, trombosit, makrofag dan leukosit di seluruh lapisan tunika intima dan akhirnya ke
tunika media (Elizabeth J. Corwin, 2009, 477).

Penyakit jantung koroner dapat disebabkan oleh beberapa hal :


a. Penyempitan (stenosis) dan penciutan (spasme) arteri koronaria, tetapi penyempitan terhadap
akan memungkinkan berkembangnya koleteral yang cukup sebagai pengganti.
b. Aterosklerosis, menyebabkan sekitar 98% kasus PJK
c. Penyempitan arteri koronaria pada sifilis, aortitis takayasu, berbagai jenis arteritis yang
mengenai arteri coronaria, dll.
Salah satu penyakit jantung akibat insufiensi aliran darah koroner yaitu, Angina pectoris dan
infark miokardium.
1. Angina pectoris
Angina pectoris adalah nyeri hebat yang berasal dari jantung dan terjadi sebagai respon,
terhadap suplai oksigen yang tidak adekuat ke sel-sel miokardium. Nyeri angina dapat
menyebar ke lengan kiri, ke punggung, ke rahang, atau ke daerah abdomen (Elizabeth J
.corwin, 2009, 492).
a. Ateriosklirosis
b. Spasmearterikoroner
c. Anemia berat
d. Artritis
e. Aorta insufisiensa

Adapun jenis-jenis angina :


a. Angina stabil
Disebut juga angina klasik, terjadi jika arteri koroner yang arterosklerotik tidak dapat
berdilatasi untuk meningkatkan alirannya sewaktu kebutuhan oksigen meningkat.
Peningkatan jantung dapat menyertai aktivitas misalnya berolahraga atau naik tangga.
b. Angina prinzmental
Terjadi tampa peningkatan jelas beban kerja jantung pada kenyataannya sering timbul pada
waktu beristirahat atau tidur. Pada angina prinzmental terjadi spasme arteri koroner yang
menimbulkan iskemi jantung di bagian hilir. Kadang-kadang tempat spasme berkaitan
dengan arterosklerosis.
c. Angina tak stabil
Adalah kombinasi angina stabil dengan angina prinzmental ; dijumpai pada individu dengan
perburukan penyakit arteri koroer. Angina ini biasanya menyertai peningkatan beban kerja
jantung; hal ini tampaknya terjadi akibat arterosklerosis koroner, yang ditandi oleh trombus
yang tumbuh dan mudah mengalami spasme.

2. Infark miokardium
Terlepasnya plak arteriosklerosis dari salah satu arteri koroner dan kemudian tersangkut di
bagian hilir sehingga menyumbat aliran darah ke seluruh miokardium yang di perdarahi oleh
pembuluh tersebut. Infark miokardium juga dapat terjadi jika lesi trombosit yang melekat di
arteri menjadi cukup besar untuk menyumbat total aliran ke bagian hilir, atau jika suatu ruang
jantung mengalami hipertrofi berat sehingga kebutuhan oksigen tidak dapat terpenuhi.
(Elizabet J. Corwin, 2009,

C. Penyebab Penyakit Jantung Koroner


Penyakit jantung yang diakibatkan oleh penyempitan pembuluh nadi koroner ini
disebut penyakit jantung koroner. Penyempitan dan penyumbatan ini dapat menghentikan
aliran darah ke otot jantung yang sering ditandai dengan rasa nyeri. Dalam kondisi lebih
parah kemampuan jantung memompanya darah dapat hilang. Hal ini akan merusak system
golongan irama jantung dan berakibat dengan kematian (Krisatuti dan Yenrina, 1999).
Salah satu penyakit jantung koroner adalah kebiasaan makanmakanan berlemak tinggi
terutama lemak jenuh. Agar lemak mudah masuk dalam peredarah darah dan diserap tubuh
maka lemak harus diubah oleh enzim lipase menjadi gliserol. Sebagian sisa lemak akan
disimpan di hati dan metabolisme menjadi kolesterol pembentuk asam empedu yang
berfungsi sebagai pencerna lemak, berarti semakin meningkat pula kadar kolesterol dalam
darah. Penumpukan tersebut dapat menyebabkan (artherosklerosis) atau penebalan pada
pembuluh nadi koroner (arteri koronoria).
Kondisi ini menyebabkan kelenturan pembuluh nadi menjadi berkurang, serangan
jantung koroner akan lebih mudah terjadi ketika pembuluh nadi mengalami penyumbatan
ketika itu pula darah yang membawa oksigen ke jaringan dinding jantung pun terhenti
(Sulistiani, W, 2005).
Penyakit jantung coroner (PJK) ternyata bukan ditimbulkan oleh satu penyebab saja.
Hasil penyelidikan medis mengungkapkan bahwa ada serangkaian keadaan yang
memungkinkan Anda terkena PJK, dan inilah yang dinamakan factor risiko.

Faktor risiko
Sebagaimana orang berbadan tinggi lebih mudah terantuk
ambang pintu daripada orang pendek, begitupun orang dengan satu atau
lebih faktor risiko lebih mudah terkena serangan jantung , meski
kemungkinannya lebih besar.
Faktor risiko untuk penyakit jantung dapat dibagi dalam dua bagian, yang kami
sebut “dapat diubah” dan “yang tak dapat diubah” (lihat tabel hlm.29).
Kemungkinan terkena PJK akan semakin besar jika faktor risikonya lebih banyak.
Tidak semua faktor risiko sama beratnya. Beberapa faktor, seperti
merokok, bisa memiliki efek yang lebih besar untuk menimbulkan PJK.
Jadi, misalnya, seorang perokok dengan tingkat kolesterol tinggi
dan tekanan darah tinggi mempunyai risiko lebih tinggi daripada orang yang tidak me
mpunyai faktor – faktor tersebut.
Jadi , tingkat kolestrol yang
tinggi pada seseorang tanpa faktor risiko lain berarti bahwa risiko itu
akan meningkat hanya sedikit di atas rata-rata.
Hal ini mungkin tak perlu terlalu dikhawatirkan, dokter Anda bisa memberi nasehat y
ang diperlukan.
1. Usia dan Gender
Penyakit jantung, sebagaimana
penyakit lain, semakin meningkat seiring pertambahan usia. Di Inggris, misalnya,
separuh dari jumlah serangan jantung terjadi pada mereka yang berusia di
atas 65 tahun, dan jumlahnya bertambah sesuai rata – rata pertambahan usia.
Hal yang mencolok pada PJK adalah dibawah usia 55 tahun, jumlah pria yang
terkena PJK lebih banyak daripada wanita.
Penyebabnya, sebelum menopause (berhenti haid pada
wanita), sangat jarang wanita yang terkena serangan jantung. Setelah menopause, juml
ah wanita yang terkena PJK meningkat, dan diatas 75 tahun , jumlah wanita dan
pria yang terkena penyakit ini kira – kira sebanding.
Penyebab yang tepat wanita jarang terkena PJK sebelum menopause belum
diketahui secara pasti, namun tampaknya berhubungan dengan hormon yang tidak pro
duksi lagi setelah haid berhenti. Terapi pengganti hormon (TPH) yang
banyak dilakukan kaum wanita ternyata dapat mencegah terjadinya serangan jantung.
Karena itu, beberapa dokter merekomendasikan TPH ini.
Faktor – Faktor yang menambah risiko terkena PJK
Dapat Diubah Tidak Dapat Diubah
a. Merokok a. Faktor genetika, misalnya
b. Kolesterol tinggi tingkat kolesterol tinggi
c. Tekanan darah tinggi karena keturunan.
d. Diabetes b. Masalah gender: lebih
e. Kegemukan banyak pria terkena PJK daripada
f. Stress wanita
g. Kurang berolahraga c. Usia

2. Riwayat Keluarga
Dokter biasanya akan menanyakan tentang riwayat keluarga Anda jika ada
anggota keluarga dekat(orang tua, kakak, adik, atau anak) terkena
PJK. Jika ayah Anda kena serangan jantung sebelum usia 60
tahun atau ibu terkena sebelum 65 tahun, Anda berisiko tinggi terkena PJK.
Namun, jika orang tua
Anda hidup sampai usia ketika serangan jantung biasanya terjadi, hal ini
tidak mengkhawtirkan. Hal sama juga berlaku untuk kakak dan adik.
Walaupun dalam suatu keluarga besar, ternyata ada
salah seorang terkena serangan jantung, mungkin hanya suatu kebetulan saja.
Bagaimana PJk bisa menurun dalam keluarga
? Sebagian jawabnya bergantung pada gen yang diwarisi dari orang
tua yang membuat kita mudah terkena kolestrol tinggi, tekanan darah
tinggi atau diabetes.
Selain itu kesamaan gaya hidup keluarga juga menentukan, misalnya makan makanan
yang sama dank jika orang tua merokok, anak biasanya juga merokok.
Jika keluarga Anda cenderung terkena penyakit jantung, sebaiknya lakukan peme
riksaan ke
dokter untuk memastikan bahwa Anda tidak mengidap kolestrol tinggi, tekanan darah
tinggi, atau gangguan kesehatan lain yang harus segera
diobati untuk menghindari risiko tinggi.
3. Makanan dan Kolesterol
Seperti dikatakan sebelumnya, atheroma adalah penyebab
utama penyakit jantung koroner. Timbunan lemak, khususnya akibat kolesterol yang
disebut plak, terbentuk pada dinding pembuluh nadi.
Inilah yang membuatnya makin sempit sehingga menghambat aliran darah. Jika plak
itu pecah , terbentuklah gumpalan darah pada daerah yang terkena dan
menghambat darah ke bagian otot jantung. Inilah yang menyebabkan serangan jantung.
Proses ini umumnya terjadi (dan menimbulkan kerusakan lebih parah) pada
seseorang dengan tingkat kolesterol tinggi dalam darahnya.
Faktor genetik juga berpengaruh pada tingkat kolesterol Anda.
Beberapa keluarga mempunyai gen dengan tingkat lemak tinggi dalam darah.
Keadaan ini disebut hyperlipidemia keluarga, atau disingkat HK. Namun, makanan
juga berperan besar dalam menentukan tingkat kolesterol.
Semakin banyak lemak terutama lemak hewan dan hasil susu yang anda makan,
semakin tinggi kolesterol Anda, dan semakin tinggi pula risiko terkena PJK
(lihat diagram dihalman sebelah ).
Karena itu, kurangilah konsumsi lemak hewan dalam makanan Anda (lebih jauh , lht
hlm. 84-86).
Studi Framingham
Salah satu riset yang mengaitkan tingginya kolesterol dengan PJK
dilakukan setelah Perang Dunia II di Framingham, sebuah kota kecil dekat Boston, AS.
Semua penduduk diperiksa setiap tahun sekali untuk melihat apakah mereka terkena P
JK. Ternyata ada kaitan yang erat dengan kolesterol tinggi: semakin tinggi kolesterol
darah, semakin tinggi risiko terkena serangan jantung.
Studi Framingham ini juga memperlihatkan kepentingan faktor-
faktor risiko lain, seperti merokok, tekanan darah tinggi , dan diabetes.
Berbagai faktor risiko itu telah dapat dipastikan setelah pengamatan selama hampir 4
0 tahun, sejak studi itu dimulai. Hingga kini studi itu masih berlangsung.
4. Merokok
Merokok sigaret berkaitan erat dengan risiko PJK. Zat-
zat kimia dalam asap sigaret terserap ke dalam aliran darah dari paru-
paru lalu beredar ke seluruh tubuh , dan memengaruhi setiap sel tubuh. Zat-
zat kimia ini sering membuat pembuluh darah menyempit dan membuat sel-
sel darah yang di
sebut platelet menjadi lebih lengket, sehingga mudah membentuk gumpalan.
Risiko para perokok pipa dan cerutu tidak setinggi perokok sigaret,
namun masih berisiko terkena PJK disbanding yang tidak merokok. Jumlah rokok yang
diisap juga berpengaruh ; risikonya meningkat sesuai tingkat konsumsi, yaitu ringan
(kurang dari 10 batang sehari) sedang (10-20 batang sehari), dan perokok berat (lebih dari
20 batang sehari).
Alasan dokter sangat menyarankan untuk berhenti merokok karena inilah
faktor risiko yang dapat anda control sendiri. Lagipula , Anda akan
mulai merasakan manfaatnya saat berhenti. Meskipun risiko terkena PJK tidak
serendah orang bukan perokok, hasilnya akan mendekati sekitar setahun kemudian.
5. Stres
Banyak orang yang pernah mendapat serangan jantung menyatakan bahwa stress
adalah penyebabnya, namun secara ilmiah hal ini sebnenarnya sulit
dibuktikan. Ada beberapa faktor pemicu lain, seperti olahraga secara tiba-tiba dan
emosi yang meluap – luap , dapat mengakibatkan serangan jantung meskipun hal ini
jarang terjadi. Percaya atau tidak, selama masa Perang Dunia II yang
banyak menimbulkan stress pada warga sipil dan militer, jumlah warfa sipil, yang
terkena serangan jantung malah menurun.
Jenis kepribadian tertentu diduga berisiko lebih tinggi terhadap serangan jantung.
Teknologi modern memungkinkan orang melakukan
sesuatu dalam beberapa jam dibandingkan masa
primitive yang mungkin memerlukan waktu berhari – hari. Stres karena ingin
sesuatu diluar kemampuan, ingin mencapai sesuatu yang
tidak realistis, digolongkan dalam kepribadian tipe A. Orang yang
gelisah (biasanya pria), yang sulit untuk rileks, akan semakin terikat
pada pekerjaan yang mengandalkan hubungan pribadi, dan
akhirnya cenderung menghabiskan tenaga. Mereka ini mempunyai risiko dua kali lipat
terkena PJK dibanding dengan orang yang berkepribadian tipe B yang dapat menahan
diri.