Anda di halaman 1dari 33

i

ANALISIS RANTAI NILAI PADA INDUSTRI SUSU SAPI PERAH

CV LEMBAH KEMUNING DAIRY FARM DALAM UPAYA

MENINGKATKAN DAYA SAING

(Studi Kasus Di Desa Cigugur Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan)

PROPOSAL USULAN PENELITIAN

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Metodelogi Penelitian dan

Seminar

Oleh:

Rosa Rosdiana

NPM: 114120039

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVESITAS SWADAYA GUNUNG JATI

CIREBON

2017
KATA PENGANTAR

Segala puji atas kehadirat Allah SWT, Tuhan yang menguasai seluruh ilmu
pengetahuan atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, Shalawat dan salam yang
senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang di utus sebagai rahmat
sekalian alam sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal ususlan penelitian
yang berjudul “ANALISIS RANTAI NILAI PADA INDUSTRI SUSU SAPI
PERAH CV LEMBAH KEMUNING DAIRY FARM DALAM UPAYA
MENINGKATKAN DAYA SAING (Studi Kasus Di Desa Cigugur Kecamatan
Cigugur Kabupaten Kuningan)”
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan laporan ini tidak dapat
selesai tanpa adanya bantuan dari beberapa pihak. Pada kesempatan ini
perkenankanlah penulis menyampaikan terima kasih kepada :

1. Tety Suciaty, Ir., MP. selaku dosen pengampu mata kuliah Metodelogi
Penelitian dan Seminar
2. Kedua orang tua dan keluarga yang telah memberikan kasih sayang, dorongan
serta dukungan baik secara moril maupun materil
3. Semua pihak yang tidak dapat ditulis satu persatu, atas bantuan, dukungan dan
kerja samanya.

Disadari bahwa salah satu hambatan dalam penyusunan proposal ini adalah
keterbatasan informasi dan bahan sehingga hasil yang dirasakan masih belum
sempurna. Oleh karena itu diharapkan adanya kritik dan saran untuk perbaikannya
di masa yang akan datang. Penulis berharap penyusunan proposal usulan
penelitain ini dapat bermanfaat bagi lingkungan belajar penulis.

Cirebon, Desember 2017

Penulis.

i
ii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................ i

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

DAFTAR TABEL ................................................................................................ iv

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. v

I. PENDAHULUAN .......................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1

1.2 Identifikasi Masalah ................................................................................. 7

1.3 Tujuan Dan Manfaat ................................................................................. 7

1.3.1 Tujuan ............................................................................................... 7

1.3.2 Manfaat ............................................................................................. 8

1.4 Kerangka Pemikiran ................................................................................. 8

1.4.1 Penelitian Terdahulu ......................................................................... 8

1.4.2 Kerangka Pemikiran Operasional ................................................... 11

1.4.3 Kerangka Pemikiran Konseptual..................................................... 13

II. TINJAUAN PUSATAKA ........................................................................ 14

2.1. Teori Produksi ........................................................................................ 14

2.2. Pohon Industri Sapi Perah ...................................................................... 15

2.3. Rantai Pasok dan Manajemen Rantai Pasok .......................................... 17

2.4. Analisis Rantai Nilai .............................................................................. 19

2.5. Nilai Tambah .......................................................................................... 20

III. METODOLOGI PENELITIAN ............................................................. 22

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ................................................................ 22

3.2 Desain dan Teknik Penelitian ................................................................. 22

3.3 Operasional Variabel .............................................................................. 22

3.4 Teknik Pengambilan Sampel .................................................................. 23

ii
iii

3.5 Teknik Pengumpulan Data ..................................................................... 23

3.6 Metode Analisis Data ............................................................................. 24

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 26

iii
iv

DAFTAR TABEL

No Judul Hal
1. Proyeksi Produksi Susu di Indonesia Tahun 2014-2020 .............................. 2
2. Proyeksi Permintaan atau Konsumsi Susu Sapi di Indonesia Tahun 2014-
2020 ............................................................................................................... 3
3. Operaional Variabel ...................................................................................... 22

iv
v

DAFTAR GAMBAR

No Judul Hal
1. Sentra Produksi Susu Sapi Perah Di Indonesia 2012-2016 ........................ 5
2. Kerangka Berpikir ...................................................................................... 13
3. Pohon Industri Sapi Perah .......................................................................... 16
4. Rantai Nilai Industri Susu Sapi Perah ........................................................ 20

v
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Membahas Negara Indonesia pertanian dan industri merupakan dua hal ini

tidak akan pernah terlepaskan. Indonesia merupakan salah satu negara yang tidak

asing lagi dengan sektor pertanian, dimana Negara ini dikenal dengan negara

agraris yang mana sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup pada

sektor pertanian. Adapun demikian bukan karena sebagian masyarakatnya

berprofesi sebagai petani saja namun juga indonesia didukung dengan

keanekaragaman hayati yang melimpah sehingga potenis dan prospek

pengembangan dalam sektor pertanian masih cukup tinggi hal ini dibuktikan

dengan kontribusi dari sektor industri pengolahan yang menempati urutan pertama

kemudian disusul oleh sektor pertanian dan peternakan yang memberikan

kontribusi terbesar urutan kedua bagi PDB Indonesia, setelah industri pengolahan

di Indonesia (Statistik Peternakan Dan Kesehatan Hewan 2016).

Dalam kategori sektor pertanian bukan hanya sub sektor pertanian tanaman

pangan atau hortikulura saja tetapi termasuk juga sub sektor peternakan

didalamnya. Peternakan merupakan salah satu subsektor yang berperan dalam

pertumbuhan sektor pertanian secara keseluruhan (Alla dkk, 2015). Khususnya

peternakan sapi perah.

Bidang peternakan juga salah satu sektor pertanian Indonesia yang penting

keberadaanya terkait pemenuhan kebutuhan mayarakat akan konsumsi bahan

pangan hewani. Adapun hasil peternakan tersebut bukan hanya sekedar daging

namun juga ada hasil selain itu, yaitu susu sapi perah. Salah satu komponen dari

subsektor peternakan ysng memiliki banyak manfaat dan potensi untuk

1
2

dikembangkan di Indonesia adalah agribisnis perususuan (Pusat Data dan

Informasi Pertanian, 2016). Terkait dengan ketahanan pangan, seperti yang kita

ketahui susu merupakan salah satu sumber kalsium yang dibutuhkan bagi tubuh

manusia khususnya untuk pertumbuhan tulang. Seiring dengan pertumbuhan

jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi, perbaikan tingkat pendidikan,

kesadaran gizi dan perubahan gaya hidup, maka kebutuhan akan susu pun akan

meningkat pula. Kegiatan pertanian dan kegiatan industri sekarang ini menjadi

dua hal yang tidak dapat terlepaskan, dalam hal ini kegiatan sektor pertanian

menghasilkan suatu komoditas/produk mentah yang nantinya akan dilanjutkan

pengolahan baik secara sederhana maupun modern dalam upaya meningkatkan

nilai tambah terhadap suatu produk tersebut, khususnya dalam bahasan ini terkait

industri susu sapi perah.

Namun, menurut Susatyo dkk, industri peternakan susu dalam negeri belum

mampu bersaing dengan negara-negara produsen susu dunia baik dari segi

kuantitas, kualitas maupun harga. Hal ini ditunjukan dari sisi konsumsi, produksi

susu dalam negeri yang masih belum mampu mencukupi untuk menutupi

kebutuhan konsumsi dalam negeri. Saat ini produksi dalam negeri baru bisa

memasok tidak lebih dari 21% dari konsumsi nasional, sisanya 79% berasal dari

impor (Pusat Data dan Informasi Pertanian).

Tabel 1.1 Proyeksi Produksi Susu di Indonesia Tahun 2014-2020


Tahun Produksi (ton) Pertumbuhan (%)
2014 800,751 -
2015 835,125 4,29
2016* 852,951 2,13
2017** 941,836 10,42
2018** 973,643 3,38
3

2019** 1.006,056 3,33


2020** 1.039,068 3,28
Rata-rata 921,347 4,471
Sumber : Pusat Data dan Informasi Pertanian 2016
Keterangan : *) angka sementara
**) angka prediksi pusdatin
Dari tabel 1.1 menunjukan bahwa angka produksi susu segar di Indonesia

mengalami peningkatan dengan produksi susu sapi yang diperkirakan 852,951 ton

untuk tahun 2016. Walaupun angka prediksi pertumbuhan untuk tahun 2018 turun

drastis, namun demikian ditahun selanjutnya pada tahun 2019-2020 terus

mengalami peningkatan. Dengan jumlah produksi susu sapi 835,125 ton pada

tahun 2015 hal ini belum mampu memenuhi kebutuhan Industri Pengolahan Susu

(IPS) di Indonesia yang mengakibatkan sejumlah industri olahan dalam negeri

mengimpor kekurangan tersebut dilihat dari tinggina impor susu pada tabel 1.3.

Tabel 1.2 Proyeksi Permintaan atau Konsumsi Susu Sapi di Indonesia Tahun
2014-2020
Permintaan (ton) Jumlah
Ketersediaan
Pertumbuhan Penduduk
Tahun Bahan Susu
Pakan Tercecer Total (%) (000
Makanan (Kg/Kap/Thn)
orang)
2014 80.000 46.000 675.000 801.000 - 252.165 2,68
2015 81.000 46.000 679.000 806.000 0,62 255.462 2,66
2016*) 97.318 52.520 822.781 972.619 20,64 258.705 3,20
2017**) 101.364 53.730 858.144 1.013.238 4,18 261.891 3,30
2018**) 105.530 54.889 694.564 1.054.983 4,12 265.015 3,40
2019**) 109.816 55.997 932.312 1.098.125 4,09 267.974 3,50
2020**) 114.223 57.054 971.116 1.142.393 4,03 271.066 3,60
Sumber : Pusat Data dan Informasi Pertanian 2016
Keterangan : *) angka sementara
**) angka prediksi pusdatin
Berdasarkan hasil proyeksi tahun 2017-2020, total ketersediaan per kapita

susu sapi mengalami peningkatan sebesar 3% per tahun. Pada tahun 2017,
4

konsumsi domestik susu sapi di Indonesia 1,01 juta ton, tahun berikutnya naik

menjadi 1,05 juta ton. Tahun 2019 diprediksi kembali meningkat 4,09% menjadi

1,1 juta ton dan tahun 2020 diprediksi meningkat kembali menjadi 1,14 juta ton.

Produksi susu sapi dalam negeri hanya sekitaran 3% per tahun sedangkan

pertumbuhan kebutuhan dalam negeri sekitar 4% per tahun hal ini akan

menyebabkan defisit untuk susu dalam negeri dan menyebabkan impor untuk

memenuhi kebutuhan tersebut. Kaitannya dengan pengembangan industri susu

sapi saat ini sudah menjadi tren di masyarakat misalnya makanan, minuman, keju,

mentega, yogurt, sabun dan lain-lain. Dengan berkembangnya industri pengolahan

maka permintaan susu pun cenderung meningkat seiring perkembangan industri.

Namun hal ini belum dibareng dengan jumlah produksi (ketersediaan) susu sapi

dalam negeri.

Namun, pada dasarnya industri susu sapi perah di indonesia memiliki

struktur yang relatif lengkap yaitu terdiri dari peternak, pabrik pakan, pabrik

pengolahan susu, dan adanya lembaga-lembaga pendukungnya salahsatunya yaitu

adanya koperasi. Selain itu juga kondisi geografis menjadi salah satu faktor

pendukung strukturnya lengkap. Walapun demikian, industri susu sapi perah tidak

lepas dari permasalahan ataupun hambatan yang dihadapi. Adapun hal yang

menjadi permasalahan dalam industri susu sapi perah pada umunya terjadi pada

hulu sampai hilirnya. Yaitu 1) skala usaha yang masih kecil rata-rata peternak

hanya memiliki 1-9 ekor sapi sehingga dikatakan usaha rakyat, 2) kemampuan

produksi yang rendah, 3) rendahnya kualitas pakan, 4) harga jual yang masih

rendah , sedangkan 5) biaya produksi yang tinggi, 6) risiko kegagalan yang

cuckup tinggi, 7) faktor permintaan yang cukup tinggi sedangkan produksi yang
5

masih rendah, 8) masih rendah pula teknologi yang digunakan dalam proses

pengiriman, 9) tingkat saluran pemasaran pada industri susu sapi perah yang akan

berperngaruh terhadap efesiensi, 10) sistem transpotasi.

Adapun yang menjadi sentra utama penghasil susu sapi perah adalah pulau

jawa. Dengan Jawa Timur menempati urutan pertama penghasil susu sapi perah

kemudian Jawa Barat selanjutnya Jawa Tengah diposisi ketiga sebagai sentra

produksi susu sapi perah, seperti pada gambar berikut:

DI Yogyakarta, DKI Jakarta , Provinsi Lain,


0.69% 0.61% 0.79%
Jawa Tengah ,
11.67%

Jawa Barat, Jawa Timur,


30.74% 55.50%

Jawa Timur Jawa Barat Jawa Tengah


DI Yogyakarta DKI Jakarta Provinsi Lain

Gambar 1.1 Sentra Produksi Susu Sapi Perah Di Indonesia 2012-2016


Sumber: Statistik Peternakan Dan Kesehatan Hewan 2016
Kabupaten Kuningan merupakan salah satu kabupaten yang berada di jawa

barat dimana lokasinya yang strategis dengan iklim dan potensi alam yang

melimpah menyebabkan kabupten ini menjadi salah satu kabupaten berpotensi

tinggi sektor pertanian secara keseluruhan. Salah satu potensi yang mampu untuk

dikembangkan adalah subsektor peternakan sapi perah. Produksi susu sapi dari

Kabupaten Kuningan Jawa Barat turut berkontribusi untuk pemenuhan kebutuhan

industri susu nasional dengan adanay sejumlah koperasi peternak diwilayah


6

tersebut yang melakukan kerjasama dengan perusahaan susu

(bandung.bisnis.com). salah satunya yang tepatnya berada di desa cigugur

kecamatan cigugur kabupaten kuningan. Disana terdapat Koperasi yang menaungi

para peternak sapi perah. Salah satunya adalah C.V Lembah Kemuning Dairy

Farm dimana C.V ini merupakan suatu koperasi serta sekaligus juga sebagai C.V

atau perusahaan.

Pada dasarnya suatu perusahaan ada adalah untuk mendapatkan

keuntungan/nilai (value), nilai tersebut berupa laba yang diinginkan suatu

perusahaan baik usaha skala besar maupun skala kecil adalah untuk menghasilkan

laba diatas rata-rata hanya saja untuk menciptakan suatu nilai di era persaingan

sekarang ini, nilai yang ada ini seharusnya diciptakan lebih besar daripada biaya

yang dikeluarkan. Sehingga dapat tercipta suati nila, maka dari itu setelah

terciptanya nilai akan diketahui apa yang menjadi bernilai bagi

pelanggan/konsumen. Penciptaan suatu nilai ini melalui berbagai tahapan/proses

dalam setiap alirannya. Persaingan yang ada dengan produk-produk impor

menyebabkan perlu adanya suatu pembenahan pada industri susu sapi perah agar

indonesia tidak tergantung pada impor susu dalam upaya pemenuhan kebutuhan

masyarakatnya, dan untuk meningkatkan daya saing serta kualitasnya.

Dengan demikian penggunaan rantai nilai ini diharapkan mampu

meningkatkan daya saing, produksi serta kualitas dari susu sapi perah lokal.

Penelitian ini dilaksanakan untuk menganalisis kondisi dari rantai nilai CV

Lembah Kemuning Dairy Farm sehingga mampu diketahui dengan pasti titik

terlemah dari industri susu sapi perah di kecamatan cigugur kabupaten kuningan.
7

Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang

mempengaruhi daya saing pada industri susu sapi perah secara mendalam

sehingga mampu mengetahui keuntungan dan kerugian sepanjang rantai nilai

industri susu sapi perah sehingga nantinya mampu meningkatkan daya saing susu

sapi perah lokal.

1.2 Identifikasi Masalah

1. Bagaimana struktur/rantai nilai untuk industri susu sapi perah C.V Lembah

Kemuning Dairy Farm di Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan?

2. Faktor apa saja yang mempengaruhi daya saing produk susu sapi perah C.V

Lembah Kemuning Dairy Farm di Kecamatan Cigugur Kabupaten

Kuningan?

3. Faktor yang paling berpengaruh terhadap daya saing produk susu sapi perah

C.V Lembah Kemuning Dairy Farm di Kecamatan Cigugur Kabupaten

Kuningan?

1.3 Tujuan Dan Manfaat

1.3.1 Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Menganalisis rantai nilai industri susu sapi perah CV Lembah

Kemuning Dairy Farm di Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi ualitas dan daya saing produk susu

sapi perah Lembah di Kemuning CV Lembah Kemuning Dairy Farm

di Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan.


8

3. Mengetahui faktor yang paling berpengaruh terhadap daya saing

produk susu sapi perah C.V Lembah Kemuning Dairy Farm di

Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan?

1.3.2 Manfaat

Hasil penelitian ini diharapkan mempunyai kegunaan-kegunaan, diantaranya

yaitu :

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan akan memperkaya penelitian, khususnya

tentang Analisis Rantai Nilai (Value Chain Analysis) dalam Meningkatkan Daya

Saing pada industri Komoditas Susu Sapi Perah, serta dapat digunakan sebagai

referensi bagi penelitian selanjutnya.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis, dapat memberikan masukan bagaimana mengembangkan

usaha ternak sapi perah serta hasil ternak berupa susu dan olahannya. Bagi

pemerintah terkait, diharapkan dapat menjadi tambahan masukan dalam

melengkapi bahan pertimbangan atau acuan dalam merumuskan kebijakan-

kebijakan penguatan rantai nilai agar menjadi lebih efisien dan memberikan saran

yang bermanfaat, serta memberikan informasi dan gambaran kepada masyarakat

maupun peneliti lain sebagai penelitian lebih lanjut

1.4 Kerangka Pemikiran

1.4.1 Penelitian terdahulu

Adapun untuk menunjang penelitian ini, peneliti membaca dan mempelajari

beberapa penelitian terdahuhulu. Penelitian terdahulu ini penulis jadikan sebagai


9

acuan dalam melakukan penelitian sehingga penulis dapat memperkarya teori

dalam mengkaji penelitian yang dilakukan. Dari penelitian terdahulu penulis tidak

menemukan judul penelitian yang sama persis seperti judul penelitian penulis.

Namun penulis mengangkat beberapa penelitian yang terkait sebagai referensi

dalam memperkarya bahan kajian. Berikut beberapa penelitian terdahulu berupa

jurnal terkait.

Pertama, Damayanti, Alia dkk. 2014 dengan judul Peningkatan Nilai Bisnis

Susu Sapi Dalam Kerangka Penguatan Sistem Inovasi Daerah Kabupaten Malang.

Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa dalam pengembangan peternakan

sapi perah rakyat di Kabupaten Malang menjadi suatu industri yang berkembang

dan memiliki daya sain perlu adanya suatu klaster industri dan pembangunan

suatu industri pengolahan susu sapi guna meningkatkan nilai tambah dari susu

tersebut. Berdasarkan identifikasi peta jaringan value chain, margin value dari

kegiatan manufakturing memiliki nilai yang rendah apabila dibandingkan dengan

pada pelaku distributornya. Oleh sebab itu perl dilakukan peningkatan margin

value pada kegiatan manupakturing sebagai langkah penciptaan suatu daya saing.

Berdasarkan peta jaringan supply chain, penciptaan daya saing dapat dilakukan

dengan adanya kolaborasi dan koordinasi dari tiap pelaku dan adanya rancangan

jaringan supply chain yang efektif dan efisien seperti pemilihan supplier dan

distributor yang tepat serta penempatan lokais usaha yang dekat dengan para

peternak dan sumber pakan. Peta jaringan integrasi produksi menggambarkan

kegiatan-kegiatan yang dapat diaplikasikan guna mendukung kelncaran

pengembangan usaha pengolahan susu pasteurisasi oleh koperasi susu.


10

Kedua, Rofi Rofaida dengan Judul Analisis Dan Strategi Upgrading Rantai

Nilai (Value Chain Management) Pada Industri Susu Di Kabupaten Bandung

Barat. Disimpulkan bahwa 1) terdapat tiga tipe rantai nilai (value chain) pada

industri susu di Kabupaten Bandung Barat. Rantai nilai yang efiesien adalah

dimana peternak menggunakan koperasi sebagai operator yang menjalankan

fungsi pemasaran. 2) faktor yang menjadi pendorong dalam rantai nilai industri

susu di Kabupaten Bandung Barat adalah: kapasitas produksi meningkat, motivasi

tinggi, dan loyalitas anggota. Faktor yang menjadi penghambat/bottleneck adalah

pada skala usaha yang tidak ekonomis, keuntungan peternak rendah, diversifikasi

rendah, ikonsistensi kualitas dan bergaining position dalam penentuanharga

rendah. 3) peningkatan kinerja usaha peternak seperti dalam kapasitas produksi,

kualitas produksi dan inovasi serta penerapan teknologi pengolahan. Hal ini dapat

dilakukan dengan meningkatkan peran koperasi dalam pembinaan dan

pendampingan kepada peternak, meningkatkan akses terhadap sumber

permodalan, meningkatkan kualitas kemitraan dengan pemerintah dan swasta

untuk penjaminan kualitas usus. 4) strategi upgrading yang diajukan adalah:

Hambatan Area pengembangan/up grading


Akses pasar Meningkatkankemitraan dengan IPS, retail dan
keikutsertaan dalam promosi
Penetapan harga secara bersama
Teknologi Inovasi teknologi pengolahan
Penerpan teknologi tepat guna
Pelatihan pengembangan produk olahan
Permodalan Peningkatan akses terhadap sumber permodalan
dalam bentuk skim kredit lunak
Manajemen kualitas Introduksi standar-standar kualitas
Pelatihan dan penjaminan kualitas susu dan
11

produk olahannya

Ketiga, oleh Hedron Asfira M, dkk. 2014, dengan Judul Analisis Rantai

Nilai Agroindustri Susu Bubuk Kedelai (Studi Kasus Industri Sumber Gizi Nabati

Dan Melilea Di Kota Pekanbaru). Disimpulkan analisis rantai nilai menunjukan

bahwa dari aktivitas yang ada memberikan laba yang cukup tinggi bagi SGN dan

Melilea, sementara itu dari jumlah permintaan terhadap SFN dipengaruhi oleh

harga produk SGN (X1), pendapatan (X2). Analisis marjin menunjukan bahwa

marjin yan diterima produsen SGN lebih besar dibandingkan dengan marjin

produsen yang diterima produsen Melilea yaitu Rp 12.000 > Rp 8.000. produsen

harus bias memastikan bahwa perusahaan berada dijalur yang kompetitif

dibandingkan pesaing. Produsen juga harus memperhatikan biaya dan marjin yang

merugikan perusahaan, sehingga perusahaan tidak kehilangan daya saing dalam

jangka panjang.

1.4.2 Kerangka Pemikiran Operasional

Penciptaan nilai tambah untuk suatu produk diperlukan aktivitas atau tahap

tertentu di era persaingan sekarang ini, nilai yang ada ini seharusnya diciptakan

lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan. Sehingga dapat tercipta suatu nilai,

maka dari itu setelah terciptanya nilai akan diketahui apa yang menjadi bernilai

bagi pelanggan/konsumen. Penciptaan suatu nilai ini melalui berbagai

tahapan/proses dalam setiap alirannya.

Persaingan yang ada dengan produk-produk impor menyebabkan perlu

adanya suatu pembenahan pada industri susu sapi perah agar indonesia tidak
12

tergantung pada impor susu dalam upaya pemenuhan kebutuhan masyarakatnya,

dan untuk meningkatkan daya saing.

Dalam upaya penciptaan nilai ini dapat dipengaruhi berbagai faktor baik itu

faktor internal dan faktor eksternal yang mampu mendukung atau bahkan

menghambat terciptanya suatu nilai untuk menciptakan daya saing.

Lembah Kemuning Dairy Farm merupakan sebuah perusahaan yang

berbentuk C.V serta merupakan sebuah koperasi yang bergerak dibidang

peternakan sapi perah. Perusahaan ini bekerjasama dengan Industri Pengolahan

Susu, selain memliki ternak sendiri Lembah Kemuning Dairy Farm juga

bekerjasama dengan para peternak rakyat dalam upaya pemenuhan kebutuhan

untuk pengiriman pada Industri Pengolahan Susu.

Penelitian ini dilakukan secara kualitatif deskriptif. Alur kerangka

pemikiran dalam penelitian ini dimulai dari mengidentifikasi rantai pasok pada

industri susu sapi perah Lembah Kemuning Dairy Fram kemudian melakukan

analisis deskriptif meliputi rantai pasok, rantai nilai sedangkan untuk menilai

tingkat efisiensi dilakukan dengan analisis fungsi produksi.


13

1.4.3 Kerangka Pemikiran Konseptual

Pengumpulan Data Penelitian Terdahulu


dan Sumber-Sumber Pendukung

Lembah Kemuning
Dairy Farm

Identifikasi Rantai Pasok Identifikasi Rantai Nilai

Analisis Deskriptif Analisis efisiensi pemasaran


dengan menggunakan metode
 Rantai Pasok
fungsi produksi
 Rantai Nilai

Nilai Tambah Nilai Tambah Nilai Tambah


Di Peternak Pengolahan Pemasaran

Hasil Analisis

 Pelaku Rantai Nilai Yang Mendapat


Keuntungan Terbesar
 Tingkat Efisiensi
 Faktor yang paling berpengaruh terhadap
penciptaan daya saing

Strategi dan
Rekomendasi

Gambar 1.2 Kerangka Berpikir


II. TINJAUAN PUSATAKA

2.1. Teori Produksi

Pengertian produksi adalah proses koordinasi berbagai faktor atau sumber

daya untuk mentransformasi bahan menjadi produk atau barang atau jasa untuk

memenuhi kebutuhan konsumen. Proses produksi yang menghasilkan barang atau

jasa hanya akan memberi keuntungan kepada perusahaan bilamana barang atau

jasa tersebut memenuhi tepat jumlah, tepat mutu, tepat waktu, dan tepat harga. .

Jadi barang atau jasa sebagai hasil proses produksi suatu perusahaan harus

memenuhi 4 syarat:

1. Jumlah tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit namun selalu tersedia

disaat dibutuhkan oleh konsumen

2. Mutu harus bagus, tahan lama, dan memenuhi keinginan konsumen

3. Barang dapat diperoleh tepat waktu sehingga tidak mengecewakan konsumen

4. Harga barang diusahakan serendah mungkin sehingga konsumen bersedia

membelinya.

Proses Produksi, proses diartikan sebagai suatu cara, metode dan teknik

bagaimana sesungguhnya sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan dan dana)

yang ada diubah untuk memperoleh suatu hasil. Produksi adalah kegiatan untuk

menciptakan atau menambah kegunaan barang atau jasa. Proses juga diartikan

sebagai cara, metode ataupun teknik bagaimana produksi itu dilaksanakan.

Produksi adalah kegiatan untuk menciptakan dan menambah kegunaan (Utility)

suatu barang dan jasa. Menurut Ahyari (2002) proses produksi adalah suatu cara,

metode ataupun teknik menambah keguanaan suatu barang dan jasa dengan

menggunakan faktor produksi yang ada. Melihat kedua definisi di atas, dapat

14
15

diambil kesimpulan bahwa proses produksi merupakan kegiatan untuk

menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan

menggunakan faktor-faktor yang ada seperti

2.2. Pohon Industri Sapi Perah

Pohon industri merupakan suatu gambaran dari diversifikasi suatu produk

dan turunannya secara skematis. Semakin banyak produk hilir yang bisa

dikembangkan maka komoditas tersebut bisa dikatakan memiliki nilai tambah

yang tinggi.

Susu sapi merupakan hasil produk utama dari sapi perah yang dapat

menjadi sumber pangan dan pendapatanbagi masyarakat melalui usaha susu sapi

perah maupun olahannya mengingat susu merupakan bahan pangan tang

dibutuhkan masyarakat. Selain dikonsusmsi dalam bentuk sega, susu sapi juga

bisa diolah menjadi berbagai macam produk hal ini selain untuk diversifikasi juga

sebagai upaya memperpanjang masa simpan susu dan meningkatkan nilai tambah.

Adapun diversifikasi susu sapi ini diataranya, susu segar, keju, mentega, yogurt,

susu bubuk/tepung, susu UHT dll seperti pada gambar 2.1.


16

Pakan Hijauan
On Farm Susu Segar Produk Lokal

Konsentrat

Ternak Bibit

Alat/Mesin Home
Koperasi Primer
Industri Yogurt
Obat/IB Skim Milk
Powder
(Impor)
Susu
IPS Pateurisasi
Whole
Milk
Powder
(impor)

SKM/Formula Susu UHT Susu Tepung Mentega Keju

Gambar 2.1 Pohon Industri

Sapi Perah Industri Pengolahan


Makanan/Minuman

Konsumen
17

2.3. Rantai Pasok dan Manajemen Rantai Pasok

Menurut I Nyoman Pujawan dan Mshendrawathi ER, supply chain adalah

jaringan perusahaan-perusahaan yang secara bersama-sama bekerja untuk

menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir.

Perusahaan-perusahaan tersebut biasanya termasuk supplier, pabrik, distributor,

toko dan retail serta perusahaan pendukung seperti jasa logistik.

Jika supply chain (rantai pasok) adalah jaringan fisiknya yakni

perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam memasok bahan baku, memproduksi

barang maupun mengirimkannya ke pemakai akhir, maka Supply Chain

Management (SCM) adalah metode, alat, atau pendekatan atau metode yang

terintegrasi bahwa SCM menghendaki pendekatan atau metode yang terintegrasi

dengan dasar semangat kolaborasi

Menurut Chopra dan Meindl (2007) sebuah rantai pasok (supply chain)

terdiri dari pihak-pihak yang terlibat, baik secara langsung dan tidak langsung,

dalam memenuhi permintaan pelanggan. Pihak-pihak tersebut termasuk

manufaktur, pemasok, transportasi, gudang, pengecer, dan pelanggan. Didalam

setiap organisasi, contoh manufaktur, rantai pasok termasuk semua fungsi terkait

yang menerima dan mengisi permintaan pelanggan. Fungsi-fungsi ini termasuk

pada pengembangan produk baru, pemasaran, operasi, distribusi, keuangan, dan

pelayanan pelanggan. Obyektif setiap rantai pasok adalah mengoptimalkan nilai

yang dihasilkan secara keseluruhan. Nilai tersebut adalah perbedaan antara biaya

produk akhir dengan biaya-biaya terkait proses pemenuhan keinginan pelanggan.

Rantai pasok untuk produk pertanian cukup kompleks. Sistem logistik

produk pertanian memiliki karakteristik tertentu dan memerlukan penanganan


18

khusus dan berbeda, karena dipengaruhi oleh sistem produksi, sifat produk, dan

konsumen itu sendiri.

Menurut Tomy Perdana Rantai pasok pertanian di Indonesia melibatkan

banyak aktor, mulai dari petani sampai ke konsumen. Namun karena kurangnya

sistem kolektif langsung dari para petani kecil, sehingga banyak pelaku dan

transaksi yang harus dilalui terlebih dahulu, hal ini akhirnya berdampak pada

harga hasil pertanian yang tinggi. Permasalahan di atas muncul karena beberapa

hal berikut ini:

 Masih kurangnya koordinasi dalam hal pengambilan produk antara produsen

dan pelaku pasar

 Jarak yang jauh dan rute dari tempat hasil pertanian (umumnya daerah)

menuju ke kota

 Kendala dalam hal handling, staging, dan storage

 Masalah proses pendinginan pada saat pascapanen

 Masalah packaging, tracking, dan inventory control.

Produk pangan dari pertanian tidak bisa terlepas dari masalah keamanan

pangan. Tingginya kesadaran keamanan dalam mengkonsumsi hasil pertanian dari

konsumen (pelanggan) menjadi tantangan bagi para produsen untuk dapat terus

menghasilkan komoditas pertanian terutama untuk pangan yang sehat dan

berkualitas. Oleh sebab itu perlu ditetapkan standar nasional dalam prosesnya

sebagai upaya untuk menjaga mutu produk hasil pertanian dan pangan di

Indonesia, mulai dari sistem produksi pangan di lahan pertanian, penanganan,

penyimpanan, pengangkutan, pelabelan, pemasaran, sarana produksi, bahan

tambahan, dan bahan tambahan pangan yang diperbolehkan. Tidak hanya itu
19

keahlian dan keterampilan yang baik dari seorang petani juga diperlukan sebagai

upaya dalam pengelolaan komoditas pertanian agar dapat menghasilkan produk

yang dapat bersaing di pasar global dan memenuhi standar mutu keamanan

pangan.

2.4. Analisis Rantai Nilai

Menurut Dr Richard E.I Perusahaan didirikan karena adanya suatu

permintaan pelanggan dan pasar terhadap produk atau jasa tertentu. Dengan

sumber daya yang ada, perusahaan akan berusaha untuk mengubah berbagai

bahan mentah yang ada sebagai input untuk menjadi output berupa produk yang

diinginkan pelanggan. Rangkaian proses atau aktivitas perubahan bahan mentah

menjadi produk jadi ini oleh michael porter diistilahkan sebagai value chain

(rantai nilai).

Jenis strategi yang dipilih oleh perusahaan berawal dari mengerti apa yang

diinginkan oleh pelanggannya (Chopra dan Meindl). Oleh karena itu dikatakan

bahwa suatu strategi yang sukses harus mulai dari pengertian atas apa yang

dibutuhkan oleh pembeli. Alasannya adalah karena kebutuhan pembeli selalu

berubah seiring dengan perubahan waktu. Maka perusahaan yang sukses selalu

dapat mengerti apa yang dibutuhkan oleh pembeli dan selalu siap untuk

mengantisipasi perubahan kebutuhan pembeli.

Salah satu cara yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk

mengidentifikasi dan mengevaluasi sumber daya dan kemampuannya adalah

dengan melakukan analisa rantai nilai (value chain). Dimana dengan melakukan

analisa ini memungkinkan perusahaan untuk mengerti bagian-bagian operasi


20

perusahaan yang menciptakan nilai dan yang tidak. Mengerti seluruh hal ini

penting, karena perusahaan menghasilkan laba diatas rata-rata hanya saat nilai

yang diciptakan lebih besar daripada biaya yang terjadi untuk menciptakan nilai

tersebut sehingga dapat ditarik penilaian yang lebih baik mengenai apa yang

sesungguhnya dianggap berniali oleh pelanggan.

Analisis rantai nilai adalah suatu pendekatan sistem untuk menghasilkan

pengembangan dari keuntungan persaingan. Konsep rantai nilai yang

dikemukankan olhe Michael Porter (1985), melihat perusahaan sebagai sebuah

alur/rantai aktivitas dasar yang menambah nilai dari produk/jasa yang dihasilkan

dan pada gilirannya akan memberikan laba bagi perusahaan-perusahaan. Ada dua

aktivitas dalam rantai nilai industri yaitu aktiviats primer dan aktivitas pendukung.

Hasil studi literatur menunjukkan bahwa secara umum peta rantai nilai

pada industri susu adalah seperti dapat dilihat pada gambar berikut.

Input produk transp Pengol perdag konsu


produk si ortasu ahan angan msi
si

Penye Peter Kope Industri pedag Kons


dia nak rasi pengola ang umen
input sapi han

Gambar 2.2 Rantai Nilai Industri Susu Sapi Perah

2.5. Nilai Tambah

Menurut Dr Richard E.I, filosopi utama yang mendasari jenis perdagangan

ini adalah suatu perdagangan yang mengatakan bahwa setiap konsumen (atau
21

calon pembeli) adalah unik, sehingga mereka sebenarnya mengharapkan untuk

memperoleh atau dapat membeli produk atau jasa yang khusus sesuai kebutuhan

atau kesukaan masing-masing individu. Dengan kata lain, perusahaan harus

mampu menghasilkan dan menawarkan prosuk atau jasa yang dapat

ditambahsulamkan (tailor made) sesuai dengan keiinginan pelanggan. Selain

variasi produk yang dapat disesuaikan, harga, cara pengiriman, lama garansi, jenis

asuransi, dan hal-hal laim pun dapat dipilih sesuka hati konsumen.
III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Desa Cigugur Kecamatan Cigugur

Kabupaten Kuningan. Objek penelitian ini adalah para peternak yang telah

bermitra dengan koperasi/C.V Lembah Kemuning Dairy Farm. Penelitian ini akan

dilaksanakan pada bulan Januari 2018

3.2 Desain dan Teknik Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif deskriptif, berdasarkan studi

kasus terhadap aplikasi pengelolaan rantai nilai di koperasi/C.V Lembah

Kemuning Dairy Farm. Adapun kegiatan observasi dan survei dilakukan untuk

mengumpulkan dan meninjau informasi dari aktivitas rantai nilai, mulai dari

pemasok, proses, sampai pada pengolahan serta pendistribusiannya. Serta

menentukan pelaku-pelaku yang terlibat.

3.3 Operasional Variabel

Pengukuran variabel penelitian dapat dijelaskan pada matriks operasional

variabel dibawah ini:

Tabel 3.1 Operaional Variabel

No Variabel Indikator
a. Kepemilikan faktor produksi
1. X1 Produsen b. Skala usaha
c. Permodalan/pendanaan
a. SOP
2. X2 Pengolahan b. Manajemen
c. Teknologi

22
23

a. Diversifikasi produk
X3 Pemasaran b. Diversifikasi harga
c. Kesesuaian pasar
Peningkatan daya saing dan nilai
3. Y Daya saing melalui ranntai nilai
tambah

3.4 Teknik Pengambilan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah para peternak dan anggota koperasi

yang ada di desa Cigugur Kec Cigugur Kabupaten Kuningan.

Adapun teknik pengambilan sampel ini dengan cara non probability

sampling yaitu dengan teknik purposive sampling yaitu dengan memilih salah satu

sitem pengolahan rantai nilai pada Lembah Kamunin. Dalam penelitian ini

responden terbagi menjadi dua yaitu responden ahki dan responden peternak.

Responden ahli yaitu responden yang mengerti seluk beluk rantai nilai pada

perusahaan sedangkan responden peternak adalah pemasok bahan baku ke

perusahaan. Sedangkan untuk penentuan responden dilakukan dengan teknik

purposive sampling, untuk peternak dilakukan saat peternak melakukan

pembayaran susu segar. Pemilihan peternak ini dilakukan ditujukan untuk menilai

tingkat efisiensi

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data untuk penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu data

primer dan data sekunder. Data primer didapatkan dari hasil wawancara dengan

pihak-pihak yang terkait dan yang mendukung penelitian dengan mengajukan

kuisioner sedangkan data sekunder didapatkan dari pihak Lembah Kemuning

Dairy Farm dan mitra kerjanya (peternak), jurnal, internet dan media pulikasi
24

lainnya seperti data yang dikeluarjan oleh Direktorat Jendral Pertanian,

Kementerian Pertanian dan BPS serta berbagai studi pustaka yang tujuannya untuk

medukung penelitian.

3.6 Metode Analisis Data

3.6.1 Analisis Deskriptif

Dalam penelitian ini menggunakan analisis dekriptif dimana hal ini

berguna untuk menggambarkan keadaan perusahaan dengan analisis rantai pasok

dan rantai nilai. Rantai pasok digunakan untuk menggambarkan pelaku-pelaku

yang terlibat. Sedangkan rantai nilai dalam industri susu sapi perah digunakan

untuk menganalisis aktivitas-aktivitas yang menghasilkan tambahan nilai.

3.6.2 Analisis Kuantitatif

Untuk menggambarkan aktivitas pada rantai nilai menggunaakan analisis

one sample t-test dan regresi berganda, dengan rumus sebagai berikut:

Y= β0 + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4

Keterangan:

Y = Meningkatkan Daya Saing Rantai Nilai

β0 = Konstanta

X1 = Produsen Industri Susu Sapi Perah

X2 = Pengolahan Industri Susu Sapi Perah

X3 = Pemasaran Industri Susu Sapi Perah


25

Untuk menilai tingkat efisiensi penelitian ini menggunakan pendekatan

Farmer Share (FS), harga di tingkat petani sangat dipengaruhi oleh efisiensi

saluran pemasaran. Rendahnya harga di tingkat petani seringkali disebabkan oleh

buruknya sistem transportasi, sehingga bagian harga yang seharusnya diterima

petani digunakan untuk biaya transportasi. Farmer’s share (FS) merupakan salah

satu pendekatan untuk mengukur seberapa besar pelaku usaha memperoleh bagian

dari harga di tingkat konsumen. Dalam penelitian ini FS mengukur seberapa besar

peternak memperoleh bagian dari harga di tingkat konsumen Formulasi dari FS

adalah dengan membandingkan harga di tingkat peternak dengan harga di tingkat

konsumen :

ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡 𝑝𝑒𝑡𝑒𝑟𝑛𝑎𝑘


𝐹𝑆 = × 100%
ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑒𝑛

Dengan asumsi bahwa produsen merupakan pihak yang memiliki resiko

usaha tertinggi, maka semakin besar proporsi harga yang diterima petani maka

semakin adil sistem pemasaran. Pemasaran yang efisien merupakan tujuan akhir

yang ingin dicapai dalam suatu sistem pemasaran. Efisiensi pemasaran terjadi jika

sistem tersebut dapat memberikan kepuasan kepada pihak yang terlibat dalam

pemasaran. Suatu pemasaran dikatakan efisien jika farmer’s share lebih besar dari

marjin pemasaran (FS>MP).


DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman, Maman. 2016. Produksi Susu Sapi Kuningan Berkontribusi Untuk


Kebutuhan Industri. Bisnis.com. Diakses 26 Desember 2017
http://bandung.bisnis.com/read/20161116/82443/563621/produksi-susu-
sapi-kuningan-berkontribusi-untuk-kebutuhan-industri

Asfira Monzery, Hedron , dkk. 2014. Analisis Rantai Nilai Agroindustri Susu
Bubuk Kedelai (Studi Kasus Industri Sumber Gizi Nabati Dan Melilea Di
Kota Pekanbaru). SAGU, Vol. 13 No. 1. hal 29-32.

Asmara, Alla, dkk. 2016. Keragaan Produksi Susu Dan Efisiensi Usaha
Peternakan Sapi Perah Rakyat Di Indonesia. Jurnal Manajemen Dan Bisnis,
Vol 13 No 1. Hal 14-25. Bogor

Damayanti, Alia, dkk. 2014. Peningkatan Nilai Bisnis Susu Sapi Dalam Kerangka
Penguatan Sistem Inovasi Daerah Di Kabupaten Malang. Simposium
Nasional RAPI XIII - 2014 FT UMS. Hal 141-148

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2016. Buku Statistik


Peternakan Dan Kesehatan Hewan. Jakarta

Farid Miftah, dan Heny Sukesi. 2011. Pengembangan Susu Segar Dalam Negeri
Untuk Pemenuhan Kebutuhan Susu Nasional. Buletin Ilmiah Litbang
Perdagangan Vol 5 No 2 Hal 196-221.

Nugroho W.P, Susatyo, dkk. 2011. Analisa Penyebab Penurunan Daya Saing
Produk Sususapi Perah Dalam Negeri Terhadap Susu Impor Pada Industri
Pengolahan Susu Dengan Metode Fault Tree Analysis (FTA) dan Barrier
Analysis. J@TI Undip. Vol VI. No 2. Hal 71-80. Semarang

Pusat Data Dan Informasi Pertanian. 2016. Out Look Susu Komoditas Pertanian
Subsektor Peternakan. Pusat Data dan Sistem Informasi PertanianSekretariat
Jenderal Kementerian Pertanian. Jakarta

Rofaida, Rofi. Analisis Dan Strategi Upgrading Rantai Nilai (Value Chain
Management) Pada Industri Susu Di Kabupaten Bandung Barat. Jurnal Riset
Manajemen. Hal 59-71. Bandung

Sampit, Maria M.I, dkk. 2016. Analisis Rantai Nilai Gula Aren (Studi Kasus Pada
Petani Nira Di Tomohon). Jurnal EMBA Vol 4 No 5 September 2016. Hal
303-408. Manado

Samuel P.T, Alexander, dkk. 2017. Analisis Rantai Nilai Pada UMKM Susu
Kedelai Di Kota Denpasar. Jurnal Rekayasa Dan Manajemen Agroindustri,
Vol 5 No 1. Hal 105-119. Bali

26
27

Satrya Arjakusuma, Reza, dkk. 2013. Rantai Nilai Pada Industri Susu Studi Kasus
PT Cisarua Mountain Dairy (Cimory). Jurnal Manajemen Agribisnis Vol 10
No 1. Bogor