Anda di halaman 1dari 4

Masalah Pendidikan yang

Tak Pernah Tuntas


Mohammad Atik Fajardin
Jum'at, 2 Januari 2015 − 15:37 WIB

PERSOALAN dunia pendidikan di Indonesia seakan tak pernah bisa diatasi dari semua
presiden yang pernah berkuasa, (Ilustrasi SINDOphoto).
A+ A-

PERSOALAN dunia pendidikan di Indonesia seakan tak pernah bisa


diatasi dari semua presiden yang pernah berkuasa. Selalu saja
permasalahan lama muncul dan tak terselesaikan.

Salah satunya, dunia pendidikan masih menjadi komoditi mahal di


Indonesia. Hanya pihak yang memiliki kemampuan finansial lebih yang
mampu mengenyam pendidikan hingga kursi perguruan tinggi.

Kesenjangan sosial menjadi persoalan penting di negeri ini. Hal tersebut


yang menyebabkan tingkat pendidikan antar satu provinsi dan provinsi lain
begitu tak sebanding. Jika bercermin pada daerah di Pulau Jawa, seperti
DKI Jakarta, Jawa Barat dan Yogyakarta.

Padahal peran generasi muda dalam hal ini amat penting. Maju dan
mundurnya pemikiran generasi muda, tentu sedikit banyaknya dipengaruhi
oleh peranan pendidikan yang dilaluinya.

Belum lagi persoalan nasib guru yang hanya berlabel 'guru tanpa tanda
jasa'. Tak perlu dipungkiri, masih banyak guru di daerah yang belum
mendapatkan gaji tetap.

Mereka bekerja hanya dengan hati nurani dan ikhlas yang terus mengaliri
jiwanya. Persoalan ini seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah.
Bagaimana mungkin bisa mendapatkan generasi terbaik, jika sang
pengajar tak diperhatikan kesejahteraanya.

Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai selain kesejahteraan yang tak


terjamin, jumlah guru di sekolah daerah perkotaan dan kurangnya jumlah
guru di daerah terpencil, menjadi parameter kegagalan kebijakan
pemerintah tentang penataan dan pemerataan guru Pegawai Negeri Sipil
(PNS).

ICW mengemukakan hal tersebut berdasarkan riset yang dilakukan di


Kabupaten Garut (Jawa Barat) dan Kabupaten Buton (Sulawesi Utara).

Penelitian ini dilakukan di 12 sekolah negeri yang terdiri dari empat sekolah
dasar negeri (SDN) dan dua sekolah menengah pertama negeri (SMPN)
dari wilayah terpencil dan empat SDN serta dua SMPN dari wilayah
perkotaan, selama Oktober sampai November 2014.

Kemudian masalah yang selalu muncul saat pelaksanaan Ujian Nasional


(UN). Dosen UIN Sunan Ampel dan Ketua Majelis Dikdasmen PW
Muhammadiyah Jatim, Biyanto mengatakan, semua pihak harus diajak
untuk komitmen terhadap UN.

Komitmen ini penting karena persoalan kejujuran saat UN selalu menjadi


perhatian. Masih sering terjadi ketakjujuran (dishonesty) itulah banyak
pihak mempersoalkan kredibilitas UN.

Menurut Biyanto, capaian nilai anak dari hasil UN jelas bukan tujuan
pendidikan. Ujian harus dipahami sebagai salah satu tahapan yang harus
dilalui siswa untuk menapaki jenjang pendidikan selanjutnya.

Karena itulah, siswa harus diyakinkan bahwa yang jauh lebih penting
dalam UN adalah berperilaku jujur.

Pelaksanaan UN bukan tanpa kendala. Mulai dari bocornya soal hingga


jebloknya nilai kelulusan siswa, menjadi polemik yang belum
terselesaikan.

Sampai memunculkan wacana UN akan dilakukan secara online. Hal itu


dikatakan Wakil Menteri Pendidilan dan Kebudayaan (Wamendikbud) di
era Mendikbud M Nuh, Musliar Kasim.

Diakui mantan Rektor Universitas Andalas ini, saat ini Kemendikbud


sedang membuatsystem trial and error. Kemendikbud akan mencoba
beberapa tes untuk mengetahui kemungkinan kegagalan.

Mengenai infrastruktur komputer, dia menjelaskan, tidak akan ada masalah


karena setiap sekolah negeri sudah mempunyai komputer sendiri.
Kemungkinan di satu provinsi akan ditunjuk 10-30 sekolah sebagai pusat
tempat ujian.

Lalu, tak hanya soal UN, guru dan kesenjangan pendidikan. Persoalan lain
yang tak kalah menyita perhatian publik adalah, soal perubahan Kurikulum
2013.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Rasyid Baswedan


menyatakan, Kemendikbud memutuskan untuk menghentikan Kurikulum
2013 di seluruh Indonesia.

Kemendikbud mengambil keputusan ini berdasarkan fakta bahwa sebagian


besar sekolah belum siap melaksanakan Kurikulum 2013. Pemberhentian
Kurikulum 2013 tidak berarti menghapus kurikulum yang ditetapkan oleh
menteri sebelumnya, M Nuh.

Kurikulum 2013 akan diperbaiki dan dikembangkan melalui sekolah yang


sejak Juli 2013 lalu telah menerapkannya.

Kurikulum ini secara bertahap dan terbatas dilakukan di 6.221 sekolah di


295 kabupaten atau kota. Sekolah tersebut terdiri atas 2.598 sekolah
dasar, 1.437 sekolah menengah pertama, 1.165 sekolah menengah atas,
dan 1.021 sekolah menengah kejuruan.

Pemerintah menyebutkan, kurikulum pendidikan nasional terus dikaji


sesuai dengan waktu dan konteks pendidikan di Indonesia. Tujuannya
untuk mendapat hasil terbaik bagi peserta didik.

Melirik persoalan pendidikan yang tergambar di atas, sudah sepatutnya


Pemerintah Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) untuk memperhatikan
bidang tersebut.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto menilai,


Jokowi-JK memiliki pekerjaan rumah yang cukup berat dalam
pemerintahannya nanti. Khususnya pekerjaan rumah di bidang pendidikan.

Syarat pertama itu, kata Komisioner KPAI, dia harus memiliki konsep yang
bagus tentang pendidikan karakter dan strategi yang besar dalam
menerapkan pendidikan karakter itu sendiri.

Kedua, Jokowi dia harus memiliki jiwa kepemimpinan yang berkarakter


baik agar dapat dicontoh. Ketiga, bebas dari intervensi kepentingan jangka
pendek.

Majulah Pendidikan Indonesia.

(maf)