Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

APENDIKSITIS

A. KONSEP DASAR
1. Definisi Apendisitis
Appendicitis adalah peradangan pada usus buntu (appendiks), atau radang
pada appendiks vermiformis yang terjadi secara akut. Usus buntu merupakan
penonjolan kecil yang berbentuk seperti jari, yang terdapat di usus besar, tepatnya
di daerah perbatasan dengan usus halus. Usus buntu mungkin memiliki beberapa
fungsi pertahanan tubuh, tapi bukan merupakan organ yang penting. Appendiks
atau umbai cacing hingga saat ini fungsinya belum diketahui dengan pasti, namun
sering menimbulkan keluhan yang mengganggu. Appendiks merupakan tabung
panjang, sempit (sekitar 6 – 9 cm), menghasilkan lendir 1-2 ml/hari. Lendir itu
secara normal dicurahkan dalam lumen dan selanjutnya dialirkan ke sekum. Bila
ada hambatan dalam pengaliran lendir tersebut maka dapat mempermudah
timbulnya appendicitis (radang pada appendiks). Di dalam appendiks juga
terdapat imunoglobulin, zat pelindung terhadap infeksi dan yang banyak terdapat
di dalamnya adalah Ig A. Selain itu pada appendiks terdapat arteria apendikularis
yang merupakan endartery. Appendicitis sering terjadi pada usia antara 10-30
tahun.

2. Etiologi Apendisitis
Apendisitis merupakan infeksi bakteri yang disebabkan oleh obstruksi atau
penyumbatan akibat :
a. Hiperplasia dari folikel limfoid
b. Adanya fekalit (masa keras dari feses) dalam lumen appendiks
c. tumor appendiks
d. Adanya benda asing seperti cacing askariasis
e. Erosi mukosa appendiks karena parasit seperti E. Histilitica. Menurut
penelitian, epidemiologi menunjukkan kebiasaan makan makanan rendah
serat akan mengakibatkan konstipasi yang dapat menimbulkan apendisitis.
Hal tersebut akan meningkatkan tekanan intra sekal, sehingga timbul
sumbatan fungsional appendiks dan meningkatkan pertumbuhan kuman flora
pada kolon.

3. Patofisiologi
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen appendiks.
Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa appendiks
mengalami bendungan. Semakin lama mukus tersebut semakin banyak, namun
elasitas dinding appendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan
peningkatan tekanan intra lumen. Tekanan tersebut akan menghambat aliran limfe
yang mengakibatkan edema dan ulserasi mukosa. Pada saat itu terjadi apendisitis
akut fokal yang ditandai dengan nyeri epigastrium. Bila sekresi mukus berlanjut,
tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena,
edema bertambah dan bakteri akan menembus dinding sehingga peradangan yang
timbul meluas dan mengenai peritoneum yang dapat menimbulkan nyeri pada
abdomen kanan bawah yang disebut apendisitis supuratif akut. Apabila aliran
arteri terganggu maka akan terjadi infrak dinding appendiks yang diikuti
ganggren. Stadium ini disebut apendisitis ganggrenosa. Bila dinding appendiks
rapuh maka akan terjadi prefesional disebut appendikssitis perforasi. Bila proses
berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak ke arah
appendiks hingga muncul infiltrat appendikkularis. Pada anak-anak karena
omentum lebih pendek dan appendiks lebih panjang, dinding lebih tipis. Keadaan
tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan
untuk terjadi perforasi, sedangkan pada orang tua mudah terjadi karena ada
gangguan pembuluh darah.

4. Klasifikasi
Apendik dapat dibagi atas dua bagian yaitu.
a. Apendik Akut : jarang ditemui pada anak dibawah 5 tahun dan orang tua
diatas 50 tahun. Apendicitis akut dapat dibagi atas tiga bagian :
1) Apendicitis acut focalik atau segmentalis Terjadi pada bagian distal yang
meradang seluruh rongga apendiks sepertiga distal berisi nanah.
2) Apendicitis acut purulenta diffusa Pembentukan nanah yang berlebihan
jika radangnya lebih hebat dan dapat terjadi mikrosis dan pembusukan
yang disebut appendicitis gangrenous. Pada appendicitis gangrenous
dapat terjadi perfulasi akibat mikrosis kedalam rongga perut dan
mengakibatkan peritonitis.
3) Apendicitis acut traumatic. Disebabkan oleh karena trauma karena
kecelakaan pada operasi didapatkan tampak lapisan eksudat dalam
rongga maupun permukaan.
b. Appendicitis kronik. Appendicitis kronik dibagi atas dua bagian antara lain :
1) Appendicitis cronik focalis Secara mikroskopis nampak fibrosis setempat
yang melingkar, sehingga dapat menyebabkan stenosis.
2) Appendicitis cronik obliterative Terjadi fibrosis yang luas sepanjang
appendiks pada jaringan sub mukosa dan sub serosa, sehingga terjadi
obliterasi (hilangnya lumen) terutama dibagian distal dengan
menghilangnya selaput lender pada bagian tersebut.

5. Gejala Klinis
Ada beberapa gejala awal yang khas yakni nyeri yang dirasakan secara
samar (nyeri tumpul) di daerah sekitar pusar. Seringkali disertai dengan rasa mual,
bahkan kadang muntah, kemudian nyeri itu akan berpindah ke perut kanan bawah
dengan tanda-tanda yang khas pada appendicitis akut yaitu nyeri pd titik Mc
Burney. Nyeri perut ini akan bertambah sakit apabila terjadi pergerakan seperti
batuk, bernapas dalam, bersin, dan disentuh daerah yang sakit. Nyeri yang
bertambah saat terjadi pergerakan disebabkan karena adanya gesekan antara visera
yang meradang sehingga menimbulkan rangsangan peritonium. Selain nyeri,
gejala appendicitis akut lainnya adalah demam derajat rendah, mules, konstipasi
atau diare, perut membengkak dan ketidakmampuan mengeluarkan gas. Gejala-
gejala ini biasanya memang menyertai appendicitis akut namun kehadiran gejala-
gejala ini tidak terlalu penting dalam menambah kemungkinan appendicitis dan
begitu juga ketidakhadiran gejala-gejala ini tidak akan mengurangi kemungkinan
appendicitis. Pada kasus appendicitis akut yang klasik, gejala-gejala permulaan
antara lain :
a. Rasa nyeri atau perasaan tidak enak disekitar umbilikus ( nyeri tumpul).
Beberapa jam kemudian nyeri itu akan berpindah ke perut kanan bawah dan
mungkin terdapat nyeri tekan disekitar titik Mc Burney. Rasa sakit semakin
meningkat, sehingga pada saat berjalan pun penderita akan merasakan sakit
yang mengakibatkan badan akan mengambil sikap membungkuk pada saat
berjalan. Nyeri yang dirasakan tergantung juga pada letak appendiks, apakah
di rongga panggul atau menempel di kandung kemih sehingga frekuensi
kencing menjadi meningkat. Nyeri perut juga akan dirasakan bertambah oleh
penderita bila bergerak, bernapas dalam, berjalan, batuk, dan mengejan. Nyeri
saat batuk dapat terjadi karena peningkatan tekanan intra-abdomen.
b. Muntah, mual ,dan tidak ada nafas umakan. Secara umum setiap radang yang
terjadi pada sistem saluran cerna akan menyebabkan perasaan mual sampai
muntah. Meskipun pada kasus appendicitis ini, tidak ditemukan mekanisme
pasti mengapa dapat merangsang timbulnya muntah.
c. Demam ringan ( 37,5° C – 38,5° C ) dan penderita umumnya merasa sangat
lelah. Proses peradangan yang terjadi akan menyebabkan timbulnya demam,
terutama jika kausalnya adalah bakteri. Inflamasi yang terjadi mengenai
seluruh lapisan dinding appendiks. Demam ini muncul jika radang tidak
segera mendapat pengobatan yang tepat.
d. Diare atau konstipasi. Peradangan pada appendiks dapat merangsang
peningkatan peristaltik dari usus sehingga dapat menyebabkan diare. Infeksi
dari bakteri akan dianggap sebagai benda asing oleh mukosa usus sehingga
secara otomatis usus akan berusaha mengeluarkan bakteri tersebut melalui
peningkatan peristaltik. Selain itu, appendicitis dapat juga terjadi karena
adanya feses yang keras (fekolit). Pada keadaan ini justru dapat terjadi
konstipasi. Pada beberapa keadaan, appendicitis agak sulit didiagnosis
sehingga dapat menyebabkan terjadinya komplikasi yang lebih parah.

6. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi : pada apendisitis akut sering ditemukan adanya abdominal swelling,
sehingga pada pemeriksaan jenis ini biasa ditemukan distensi perut.
b. Palpasi : pada daerah perut kanan bawah apabila ditekan akan terasa nyeri.
Dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri. Nyeri tekan perut kanan
bawah merupakan kunci diagnosis dari apendisitis. Pada penekanan perut kiri
bawah akan dirasakan nyeri pada perut kanan bawah. Ini disebut tanda
Rovsing (Rovsing Sign). Dan apabila tekanan di perut kiri bawah dilepaskan
juga akan terasa nyeri pada perut kanan bawah.Ini disebut tanda Blumberg
(Blumberg Sign).
c. Pemeriksaan colok dubur : pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis, untuk
menentukan letak apendiks, apabila letaknya sulit diketahui. Jika saat
dilakukan pemeriksaan ini dan terasa nyeri, maka kemungkinan apendiks
yang meradang terletak didaerah pelvis. Pemeriksaan ini merupakan kunci
diagnosis pada apendisitis pelvika.
d. Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator : pemeriksaan ini juga dilakukan
untuk mengetahui letak apendiks yang meradang. Uji psoas dilakukan dengan
rangsangan otot psoas lewat hiperektensi sendi panggul kanan atau fleksi
aktif sendi panggul kanan, kemudian paha kanan ditahan. Bila appendiks
yang meradang menempel di m. psoas mayor, maka tindakan tersebut akan
menimbulkan nyeri. Sedangkan pada uji obturator dilakukan gerakan fleksi
dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang. Bila apendiks yang
meradang kontak dengan m.obturator internus yang merupakan dinding
panggul kecil, maka tindakan ini akan menimbulkan nyeri. Pemeriksaan ini
dilakukan pada apendisitis pelvika.

7. Pemeriksaan Diagnostik/ Penunjang


Pemeriksaan penunjang pada kasus apendisitis berupa uji laboratorium dan
diagnostik, antara lain :
a. Hitung darah lengkap (complete blood count, CBC) Pemeriksaan
laboratorium umumnya menunjukan jumlah eukosit yang meningkat akibat
adanya respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme.
Pada apendisitis akut dan perforasi akan terjadi lekositosis yang lebih tinggi
lagi namun hasil Hb (hemoglobin) biasanya tetap normal. Laju endap darah
(LED) meningkat pada keadaan apendisitis infiltrat. Hasil umum yang
biasanya mengindikasikan adanya apendisitis :
1) Leukosit : 10.000 - 18.000 / mm3
2) Netrofil meningkat 75 %
3) WBC yang meningkat sampai 20.000 mungkin indikasi terjadinya
perforasi.
b. Urinalisis Pemeriksaan ini dibutuhkan untuk menyingkirkan infeksi saluran
kemih, dan adanya keton digunakan sebagai penanda penyakit. Pemerikasaan
urine juga penting dilakukan untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal.
c. Pemeriksaan foto abdomen Saat dilakukan pemeriksaan sinar-X abdomen,
kurang dari 25% kasus akan memperlihatkan fekalit yang berkalsifikasi. Hasil
pemeriksaan sinar-X lain yang didapatkan meskipun tidak spesifik antara lain
penurunan pola gas, batas udara-cairan, pengaburan bayangan psoas,
obliterasi tanda bantalan lemak, dan lengkungan skoliotik kea rah kanan.
(Schwartz, 2004)
d. Ultrasonografi Pada pemeriksaan ini dapat ditemukan fekalit tidak
berkalsifikasi, apendiks tidak berperforasi, serta abses apendiks (Sowden,
2009)

8. Kriteria Diagnosis
Diagnosis apendisitis akut biasanya berdasarkan gejala klinis dan tes
laboratorium. Diagnosis ditegakkan bila memenuhi
a. Gambaran klinis yang mengarah ke appendicitis seperti Nyeri di sekitar
umbilikus dan epigastrium disertai anoreksia (nafsu makan menurun), nausea,
dan sebagian dengan muntah. Beberapa jam kemudian nyeri berpindah ke
kanan bawah ke titik Mc Burney disertai kenaikan suhu tubuh ringan
b. Demam lebih dari 37,50C
c. Laboratorium : lekositosis yaitu lekosit > 10.000 /dl biasanya pada perforasi
terdapat pergeseran ke kiri (netrofil segmen meningkat).
d. USG yang mungkin di temukan pada pemeriksaan ini :
1) Lampiran buncit berisi cairan dengan diameter lebih dari 5 mm
2) Ketebalan dinding 3 mm atau lebih besar
3) Tidak adanya gerak peristaltik dan noncompressibility usus buntu
4) Perubahan pericaecal.
5) Massa pada appendix
e. Laporoskopi biasanya digunakan untuk menyingkirkan kelainan ovarium
sebelum dilakukan apendiktomi pada wanita muda.
f. CT scan : dilakukan jika di duga terdapat perforasi atau pembentukan abses
karena akan memberikan karakteristik yang yang tepat terhadap massa
inflamasi, luas dan lokasinya.

9. Penatalaksanaan
Terdapat dua tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi apendisitis
diantaranya :
a. Konserfatif
1) Pemenuhan cairan dan elektrolit dengan pemasangan infus.
2) Antibiotik
3) Pengisapan cairan melalui pipa nasogastrik
b. Operatif Dilakukan pembedahan pada apendiks (Apendiktomi)
1) Sebelum operasi
 Dalam 8-12 jam setelah timbulnya keluhan, tanda dan gejala
apendisitis seringkali masih belum jelas. Dalam keadaan ini
observasi ketat perlu dilakukan. Pasien diminta melakukan tirah
baring dan dipuasakan. Laksatif tidak boleh diberikan bila dicurigai
adanya apendisitis ataupun peritonitis lainnya. Pemeriksaan
abdomen dan rectal serta pemeriksaan darah (leukosit dan hitung
jenis) diulang secara periodic. Foto abdomen dan toraks tegak
dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya penyulit lain. Pada
kebanyakan kasus, diagnosis ditegakkan dengan lokalisasi nyeri di
daerah kanan bawah dalam 12 jam setelah timbulnya keluhan.
 Intubasi bila perlu
 Antibiotik
2) Operasi apendiktomi/ laparotomy
3) Pascaoperasi Perlu dilakukan observasi tanda-tanda vital untuki
mengetahui terjadinya pendarahan di dalam, syok, hipertermia, atau
gannguan pernafasan. Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar
sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah. Baringkan pasien dalam
posisi fowler. Pasien dikatakan baik dalam 12 jam tidak terjadi gangguan.
Selama itu pasien di puasakan. Bila tindakan operasi lebih besar,
misalnya dalam perforasi atau peritonitis umum, puasa diteruskan sampai
fungsi usus kembali normal. Kemudian berikan minum mulai 15ml/jam
selama 4-5jam lalu naikkan 30ml/ja. Keesokan harinya diberikan
makanan saring, dan hari berikutnya diberikan makanan lunak. Satu hari
pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur
selama 2x30 menit. Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk
diluar kamar. Hari ketujuh jaritan dapat diangkat dan pasien
diperbolehkan pulang.
c. Penatalaksanaan gawat darurat non-operasi Bila tidak ada fasilitas bedah
berikan penatalaksanaan bedah dalam peritonitis akut. Dengan demikian
gejala apendisitis akut akan mereda, dan kemungkinan terjadinya komplikasi
dapat berkurang.

10. Komplikasi
a. Komplikasi utama apendiksitis adalah perforasi apendiks, yang dapat
berkembang menjadi peritonitis atau abses. Insiden perforasi adalah 10%
sampai 32%. Insiden lebih tinggi pada anak kecil dan lansia. Perforasi secara
umum terjadi 24 jam setelah awitan nyeri. Gejala menyangkut demam sampai
37,7 derajat celcius atau lebih tinggi, penampilan toksik, dan nyeri abdomen
secara kontinyu.
b. Tromboflebitis supuratif adalah invasi/perluasan mikroorganisme patogen
yang mengikuti aliran darah disepanjang vena dan cabang-cabangnya yang
bersifat akut.
c. Abses subfrenikus merupakan pengumpulan cairan antara diafragma dan hati
atau limfa.
d. Obstruksi intestinal dalah kerusakan atau hilangnya pasase isi usus yang
disebabkan oleh sumbatan mekanik Potensial komplikasi post op. Apendesitis
dan pencegahan
e. Peritonitis Observasi terhadap adanya nyeri tekan abdomen, demam, muntah,
kekakuan abdomen, takikardia, lakukan penghisapan nasogastrik konstan,
perbaiki dehidrasi sesuai program, berikan preparat antibiotik sesuai program.
f. Abses pelvis dan lumbal Evaluasi adanya anoreksia, demam menggigil dan
diaforesis. Observasi adanya diare, yang dapat menunjukan abses pelvis,
siapkan pasien untuk pemeriksaan rektal, siapkan pasien untuk prosedur
drainase operatif.
g. Abses subfrenik (abses bawah diafragma) Kaki pasien terhadap adanya
menggigil, demam dan diaforesis, siapkan untuk pemeriksaan sinar-x, siapkan
drainasi bedah terhadap abses.
h. Illeus (paralirik dan mekanis) Kaji bising usus, lakukan intubasi dan
pengisapan nasogastrik, ganti cairan dan elektrolit dengan rute intravena
sesuai program, siapkan pembedahan bila ileus mekanis ditegakan

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
a. Identitas klien
1) Nama
2) Umur
3) Jenis kelamin
4) Status perkawinan
5) Agama
6) Suku/bangsa
7) Pendidikan
8) Pekerjaan
9) Pendapatan
10) Alamat
11) Dan nomor register.
b. Identitas penanggung jawab
c. Riwayat kesehatan sekarang
d. Riwayat Keperawatan
1) Riwayat kesehatan saat ini. Klien akan mendapatkan nyeri di sekitar
epigastrium menjalar ke perut kanan bawah. Timbul keluhan nyeri perut
kanan bawah mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau
di epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu lalu. Sifat keluhan nyeri
dirasakan terus-menerus, dapat hilang atau timbul nyeri dalam waktu yang
lama. Keluhan yang menyertai biasanya klien mengeluh rasa mual dan
muntah, panas.
2) Riwayat kesehatan masa lalu. Biasanya berhubungan dengan masalah
kesehatan klien sekarang.
e. Pemeriksaan fisik : Keadaan umum klien tampak sakit ringan/sedang/berat.
f. Sistem kardiovaskuler : Untuk mengetahui tanda-tanda vital, ada tidaknya
distensi vena jugularis, pucat, edema, dan kelainan bunyi jantung.
g. Sistem hematologi : Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan leukosit yang
merupakan tanda adanya infeksi dan pendarahan, mimisan splenomegali.
h. Sistem urogenital : Ada tidaknya ketegangan kandung kemih dan keluhan sakit
pinggang.
i. Sistem muskuloskeletal : Untuk mengetahui ada tidaknya kesulitan dalam
pergerakkan, sakit pada tulang, dan sendi.
j. Sistem kekebalan tubuh : Untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran kelenjar
getah bening.
k. Data psikologis: klien nampak gelisah.
 Klien mengeluh nyeri daerah pusar menjalar ke daerah perut kanan
bawah
 Klien mengeluh mual
 Klien mengatakan tungkai kanan tidak dapat diluruskan
 Klien mengatakan diare atau konstipasi Sesudah operasi
 Kien mengeluh nyeri daerah operasi
 Klien mengatakan lemas
 Klien mengeluh haus
 Klien mengeluh pusing Data Obyektif Sebelum operasi
 Nyeri tekan di titik Mc. Berney
 Tidak nafsu makan
 Muntah dan perut kembung
 Spasme otot
 Takhikardi, takipnea
 Pucat, gelisah
 Bising usus berkurang atau tidak ada
 Demam 38 - 38,5 C Sesudah operasi
 Terdapat luka operasi di kuadran kanan bawah abdomen
 Terpasang infuse
 Bising usus berkurang
 Selaput mukosa mulut kering
 Mual, kembung
l. Pola-Pola Fungsi Kesehatan (Riwayat bio-psiko-sosial-spiritual)
1) Pola persepsi dan pengetahuan Perubahan kondisi kesehatan dan gaya
hidup akan mempengaruhi pengetahuan dan kemampuan dalam merawat
diri.
2) Pola nutrisi dan metabolisme Adanya mual dan muntah, penurunan nafsu
makan selama sakit, Keluarga mengatakan saat masuk RS px hanya
mampu menghabiskan ⅓ porsi makanan, Saat pengkajian keluarga
mengatakan px sedikit minum, sehingga diperlukan terapi cairan intravena.
3) Pola eliminasi Mengkaji pola BAK dan BAB px
4) Pola aktifitas dan latihan Pasien terganggu aktifitasnya akibat adanya
kelemahan fisik, tetapi px mampu untuk duduk, berpindah, berdiri dan
berjalan.
5) Pola istirahat Px mengatakan tidak dapat tidur dengan nyenyak, pikiran
kacau, terus gelisah.
6) Pola kognitf dan perseptual (sensoris) Adanya kondisi kesehatan
mempengaruhi terhadap hubungan interpersonal dan peran serta
mengalami tambahan dalam menjalankan perannya selama sakit, px
mampu memberikan penjelasan tentang keadaan yang dialaminya.
7) Pola persepsi dan konsep diri Pola emosional px sedikit terganggu karena
pikiran kacau dan sulit tidur.
8) Peran dan tanggung jawab Keluarga ikut berperan aktif dalam menjaga
kesehatan fisik pasien.
9) Pola reproduksi dan sexual Mengkaji perilaku dan pola seksual pada px
10) Pola penanggulangan stress Stres timbul akibat pasien tidak efektif dalam
mengatasi masalah penyakitnya, px merasakan pikirannya kacau. Keluarga
px cukup perhatian selama pasien dirawat di rumah sakit.
11) Pola tata nilai dan kepercayaan Timbulnya distres dalam spiritual pada
pasien, maka pasien akan menjadi cemas dan takut.

m. Patway

Hiperplasia folikel limfoid


Fekalit, Tumor, Cacing, Erosi Parasit Perangsangan N. Vagal

Obstruksi/ bendungan lumen apendiks Mual – Muntah

Peningkatan produksi mukus apendik Intake inadekuat

Peningkatan tekanan intra lumen apendik Gangguan pemenuhan nutrisi

Menghambat aliran limfe dan obstruksi


aliran vena perubahan status kesehatan

Erosi dan peradangan apendik kurang pengetahuan

cemas
Reaksi sensitifitas histamin & bradikinin

perangsangan baroreseptor
Stimulasi nociseptor

Peningkatan suhu tubuh


Nyeri
Tindakan pembedahan
Gangguan rasa nyaman
nyeri
Terputusnya kontinuitas jaringan (luka)

Port dientree kuman

Resti infeksi

APENDIKTOMI Insisi/ perlukaan

proses pembedahan Terputusnya kontinuitas/ kerusakan jaringan


saraf dan pembuluh darah

kurang pengetahuan
Port dientere kuman

cemas
Penggunaan alat
yang tidak steril/
Penggunaan tehnik aseptik
alat-alat elektro yang tidak tepat
surgical

Resti infeksi
Resti cidera
2. Diagnosa Keperawatan
a. Pre operasi :
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses inflamasi.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dan atau devicit
volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan (mual,
muntah).
2. Ansietas berhubungan dengan perubahan dalam status kesehatan.
b. Intra operasi
1. Resti Infeksi berhubungan dengan tindakan aseptik yang tidak tepat/
kesterilan alat yang tidak dijaga.
2. Resti cidera berhubungan dengan penggunaan alat electro surgical.
c. Post operasi :
1. Nyeri akut berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan.
2. Risiko infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh primer yang tidak
adekuat (integritas kulit yang tidak utuh)

3. Intervensi Keperawatan
a. Pre operasi :

1) Nyeri akut berhubungan dengan proses inflamasi


Tujuan: Klien akan menunjukan toleransi terhadap nyeri setelahdilakukan
perawatan selama 2X24 jam dengan kriteria:
a. Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol.
b. Ekspresi wajah rileks.
c. Tidak menunjujan perilaku berhati-hati pada area yang sakit.
d. VS normal.
e. Skala nyeri 0-5

1. Kaji dan catat kualitas, lokasi, dan Sebagai data dasar dalam menentukan
durasi nyeri. intervensi penangan nyeri yang sesuai
2. Kaji dan pantau vital sign Data dasar pembanding terhadap repon
nyeri.
3. Ajarkan terhnik distraksi dan Tehnik distraksi diharapkan dapat
relaksasi mengalihkan perhatian dari
konsentrasiterhadap nyeri dan relaksasi
diharapkan dapat mengontrol nyeri.
4. Ajarkan tehnik mobilisasi efektif. Mengurangi nyeri akibat kompresi.
5. Kolaborasi pemberian analgetik Analgetik igunakan sebagai anti nyeri
maupun sedatif yang sesuai. dan sedasi digunakan untuk
merelaksasi dan meningkatkan
kenyamanan klien.

2) Ansietas berhubungan dengan perubahan dalam status kesehatan.


Tujuan: dalam waktu 1 x 24 jam tingkat kecemasan klien berkurang atau hilang
dengan kriteria:
a. Pasien menyatakan kecemasannya berkurang.
b. Pasien mampu mengenali perasaan ansietasnya
c. Pasien dapat mengidentifikasi penyebab atau factor yang mempengaruhi
ansietasnya.
d. Pasien kooperatif terhadap tindakan.
e. Ekspresi wajah Nampak rileks.
1. Bantu pasien mengekspresikan Ansietas berkelanjutan dapat
perasaan marah, kehilangan dan takut memberikan dampak serangan jantung
2. Kaji tanda ansietas verbal dan Reaksi verbal/nonverbal dapat
nonverbal. Damping pasien dan menunjukan rasa agitasi, marah dan
berikan tindakan bila pasien gelisah.
menunjukan tindakan merusak.
3. Jelaskan tentang prosedur Pasien yang teradaptasi dengan
pembedahan sesuai jenis operasi. tindakan pembedahan yang akan
dilalui akan merasa lebih nyaman.
4. Beri dukungan prabedah Hubungan yang baik antara perawat
dengan pasien akan mempengaruhi
penerimaan pasien akan pembedahan.
5. Hindari konfrontasi Konfrontasi dapat meningkatkan rasa
marah, menurunkan kerja sama dan
mungkin memperlambat
penyembuhan.
6. Ciptakan lingkungan yang tenang dan Mengurangi rangsangan eksternal yang
nyaman agar pasien bisa beristirahat. tidak diperlukan.
7. Tingkatkan control sensasi pasien Control sensasi pasien dalam
menurunkan ketakutan dengan cara
memberikan informasi tentang keadaan
pasien, menekankan pada penghargaan
sumber-sumber koping (pertahanan
diri) yang positif, membantu relaksasi
dan tehnik-tehnik pengalihan dan
memberikan dan memberikan respon
balik yang positif.
8. Orientasikan pasien terhadap Orientasi dapat menurunkan
prosedur rutin dan aktivitas yang kecemasan
diharapkan
9. Beri kesempatan kepada pasien untuk Dapat menghilangkan ketegangan
mengungkapkan ansietasnya terhadap kehaatiran yang tidak
diekspresikan.
10. Beri privasi untuk pasien dan orang Member waktu untuk mengekpresikan
terdekat perasaan, menghilangkan rasa cemas
dan perilaku adaptasi. Kehadiran
keluarga dan teman-teman yang dipilih
pasien untuk memenuhi aktivitas
pengalih.
11. Kolaborasi: Berikan anticemas sesuai indikasi,
contohnya Diazepam

b. Intra operasi

1) Resti infeksi b.d. tindakan aseptik yang tidak tepat/ kesterilan alat yang tidak dijaga.
Tujuan: klien akan menunjukan bebas dari resiko infeksi setelah dilakukan tindakan selama
30 menit dengan kriteria:
a. Memastikan indikator steril sudah sesuai.
b. Malakukan tehnik aseptik.
c. Penutupan luka secara steril.
1. Perhatikan indikator yang ditempel pada Indikator akan berubah warna pada proses
packing instrumen sebelum membuka atau pensterilan alat. Memastikan kesterilan
menggunakan. alat.
2. Pastikan urutan dan tata cara scrubing, Menjaga keadaan aseptik dan mencegah
gawning dan glowing secara tepat. terjadinya infeksi silang pada pasien.
3. Buka packing dengan posisi steril setelah Menjaga kesterilan alat tetap terjaga.
mengenakan gaun dan sarung tangan steril.
4. Pastikan meja instrumen telah dialas Menjaga kesterilan alat.
dengan linen steril sekurang2nya dua lapis
5. Perhatikan agar alat tidak terkontaminasi Menjaga kesterilan alat.
atau tersentuh benda lain yang tidak steril,
tutup instrumen yang telah ditata dengan
linen steril.
6. Kolaborasi pemberian antibiotika yang Antibiotika sebagai anti kuman yang
sesuai. mencegah infeksi.

c. Post operasi

1) Nyeri akut berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan.


Tujuan: Klien akan menunjukan toleransi terhadap nyeri setelahdilakukan
perawatan selama 2X24 jam dengan kriteria:
a. Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol.
b. Ekspresi wajah rileks.
c. Tidak menunjujan perilaku berhati-hati pada area yang sakit.
d. VS normal.
e. Skala nyeri 0-5

1. Kaji dan catat kualitas, lokasi, dan Sebagai data dasar dalam menentukan
durasi nyeri. intervensi penangan nyeri yang sesuai
2. Kaji dan pantau vital sign Data dasar pembanding terhadap repon
nyeri.
3. Ajarkan terhnik distraksi dan Tehnik distraksi diharapkan dapat
relaksasi mengalihkan perhatian dari
konsentrasiterhadap nyeri dan relaksasi
diharapkan dapat mengontrol nyeri.
4. Ajarkan tehnik mobilisasi efektif. Mengurangi nyeri akibat kompresi.
5. Kolaborasi pemberian analgetik Analgetik igunakan sebagai anti nyeri
maupun sedatif yang sesuai. dan sedasi digunakan untuk
merelaksasi dan meningkatkan
kenyamanan klien.
2) Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh primer yang tidak
adekuat (integritas kulit yang tidak utuh)
Tujuan: klien akan menunjukan pertahanan tubuh adekuat dengan kriteria:
a. Suhu tubuh normal
b. Tidak ada pus atau nanah pada luka
c. Luka kering
d. Leukosit normal

1. Kaji dan pantau bentuk dan Membantudalam menentukan tehnik


karakteristik luka dan proses penanganan luka yang
sesuai.
2. Lakukan perawatan luka secara Meminimalisir dan mencegah
aseptik masuknya mikroorganisme yang dapat
menyebabkan infeksi.
3. Ganti pembalut/perban sesuai Menjaga kebersihan dan kesterilan luka
indikasi
4. Anjurkan klien untuk makan Protein dan albumin dianjurkan dalam
makanan bergizi. proses penyembuhan luka.
5. Pantau vital sign Memntau perubahan dan tanda infeksi
sedini mungkin.
6. Kolaborasi pemberia antibiotika Antbiotika sebagai anti kuman yang
dapat mencegah perkembangan kuman
endogen dan eksogen yang dapat
menyebabkan infeksi pada luka.
DAFTAR PUSTAKA

Joanne McCloskey,dkk. 2004. Nursing Intervention Classification (NIC).


United States of America : Mosby

Mutaqin,Arif & Sari,Kumala.2013.Asuhan Keperawatan Perioperatif : Konsep,


Proses
dan Aplikasi. Jakarta : Salemba Medika

Nanda Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2015. Jakarta : EGC

Smeltzer, S.C., & Bare, B.G. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah.
Brunner & Suddarth, vol:3. Jakarta: EGC