Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

TUMOR MAMAE
DI IBS RSUD NGUDI WALUYO WLINGI

Oleh :

FATAH AMRULLAH
NIM . 1301460033

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI D-IV KEPERAWATAN MALANG
2017
KONSEP DASAR TUMOR MAMAE

A. Definisi
Ca mammae merupakan tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan
payudara. Kanker bisa tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan
lemak, maupun jaringan ikat pada payudara (Wijaya, 2005).
Ca mammae adalah suatu penyakit pertumbuhan sel, akibat adanya onkogen
yang menyebabkan sel normal menjadi sel kanker pada jaringan payudara
(Karsono, 2006).
Tumor mamae adalah sel mammae yang mengalami proliferasi dan diferensiasi
abnormal serta tumbuh secara otonom, menyebabkan infiltrasi ke jaringan sekitar
sambil merusak dan menyebar ke bagian tubuh lain (Muttaqin, 2009).
Ca mammae (carcinoma mammae) adalah keganasan yang berasal dari sel
kelenjar, saluran kelenjar dan jaringan penunjang payudara, tidak termasuk kulit
payudara. Ca mammae adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan
payudara. Kanker bisa mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan
lemak maupun jaringan ikat pada payudara. (Medicastore, 2011).

B. Etiologi
Sebab-sebab keganasan belum diketahui secara pasti (Price & Wilson, 1995),
namun ada beberapa teori yang menjelaskan tentang penyebab terjadinya ca
mamae, yaitu:
a. Mekanisme hormonal
Steroid endogen (estradiol & progesterone) apabila mengalami perubahan
dalam lingkungan seluler dapat mempengaruhi faktor pertumbuhan bagi ca
mamae (smeltzer & Bare, 2002;1589)
b. Virus
Invasi virus yang diduga ada pada air susu ibu menyebabkan adanya masa
abnormal pada sel yang sedang mengalami proliferasi.

c. Genetik
- Ca mamae yang bersifat herediter dapat terjadi karena adanya “linkage
genetic” autosomal dominan (Reeder, Martin, 1997)
- Penelitian tentang biomolekuler kanker menyatakan delesi kromosom 17
mempunyai peranan penting untuk terjadinya transformasi malignan
(Reeder, Martin, 1997).
- Mutasi gen BRCA 1 dan BRCA 2 biasanya ditemukan pada klien dengan
riwayat keluarga kanker mamae dan ovarium (Robbin & Kumar, 1995)
serta mutasi gen supresor tumor p53 (Murray, 2002).
d. Defisiensi imun
Defisiensi imun terutama limfosit T menyebabkan penurunan produksi
interferon yang berfungsi untuk menghambat terjadinya proliferasi sel dan
jaringan kanker dan meningkatkan aktivitas antitumor.
Beberapa faktor resiko pada pasien yang diduga berhubungan dengan kejadian
kanker payudara yaitu:
1. Wanita resiko tinggi dari pada pria (99:1)
2. Usia: resiko tertinggi pada usia diatas 30 tahun
3. Riwayat keluarga: ada riwayat keluarga Ca Mammae pada ibu/saudara
perempuan
4. Riwayat meastrual:
 Early menarche (sebelum 12 thun)
 Late menopouse (setelah 50 th)
5. Riwayat kesehatan: Pernah mengalami/ sedang menderita otipical hiperplasia
atau benign proliverative yang lain pada biopsy payudara, Ca. endometrial.
6. Menikah tapi tidak melahirkan anak
7. Riwayat reproduksi: melahirkan anak pertama diatas 35 tahun.
8. Tidak menyusui
9. Menggunakan obat kontrasepsi oral yang lama, penggunaan therapy estrogen
10. Mengalami trauma berulang kali pada payudara
11. Terapi radiasi; terpapar dari lingkungan yang terpapar karsinogen
12. Obesitas

C. Stadium
1. Stadium 0
Kanker insitu dimana sel-sel kanker berada pada tempatnya didalam payudara
yang normal.
2. Stadium I
Tumor dengan garis tengah kurang dari 2 cm dan belum menyebar keluar
payudara.
3. Stadium IIa
Tumor dengan garis tengah 2-5 cm dan belum menyebar ke kelenjar getah
bening ketiak.
4. Stadium IIb
Tumor dengan garis tengah lebih besar dari 5 cm dan belum menyebar ke
kelenjar getah bening ketiak.
5. Stadium IIIa
Tumor dengan garis tengah kurang dari 5 cm dan menyebar ke kelenjar getah
bening ketiak disertai perlekatan satu sama lain.
6. Stadium IIIb
Tumor telah menyusup keluar payudara, yaitu ke dalam kulit payudara atau
dinding dada.
7. Stadium IV
Tumor telah menyebar keluar daerah payudara dan dinding dada.

D. Patofisiologi
Sel-sel kanker dibentuk dari sel-sel normal dalam suatu proses rumit yang
disebut transformasi, yang terdiri dari tahap inisiasi dan promosi:
1. Fase Inisiasi
Pada tahap inisiasi terjadi suatu perubahan dalam bahan genetik sel yang
memancing sel menjadi ganas. Perubahan dalam bahan genetik sel ini
disebabkan oleh suatu agen yang disebut karsinogen, yang bisa berupa bahan
kimia, virus, radiasi (penyinaran) atau sinar matahari. tetapi tidak semua sel
memiliki kepekaan yang sama terhadap suatu karsinogen. kelainan genetik
dalam sel atau bahan lainnya yang disebut promotor, menyebabkan sel lebih
rentan terhadap suatu karsinogen. bahkan gangguan fisik menahunpun bisa
membuat sel menjadi lebih peka untuk mengalami suatu keganasan.
2. Fase Promosi
Pada tahap promosi, suatu sel yang telah mengalami inisiasi akan berubah
menjadi ganas. Sel yang belum melewati tahap inisiasi tidak akan terpengaruh
oleh promosi. karena itu diperlukan beberapa faktor untuk terjadinya
keganasan (gabungan dari sel yang peka dan suatu karsinogen).

E. Manifestasi Klinis
Gejala umum ca mamae adalah:
a. Teraba adanya massa atau benjolan pada payudara.
b. Payudara tidak simetris/ mengalami perubahan bentuk dan ukuran karena
mulai timbul pembengkakan.
c. Adanya perubahan kulit: penebalan, cekungan, pucat disekitar puting susu,
mengerut seperti kulit jeruk purut dan adanya ulkus pada payudara.
d. Ada perubahan suhu pada kulit, hangat, kemerahan, panas.
e. Ada cairan yang keluar dari puting susu
f. Ada perubahan pada puting susu, gatal, ada rasa seperti terbakar, erosi dan
terjadi retraksi.
g. Penyebaran ketulang sehingga tulang menjadi rapuh.
h. Pembengkakan didaerah lengan.
i. Nyeri pada payudara.
j. Benjolan semakin membesar.
k. Timbul luka/ ulkus pada payudara.
l. Benjolan menyerupai kubis dan mudah berdarah.
m. Metastase, menyebar ke kelenjar getah bening sekitar dan organ tubuh lain.

F. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dilakukan pada penderita ca mamae antra lain:
a. Pemeriksaan laboratorium meliputi: Morfologi sel darah, LED, Test fal marker
(CEA) dalam serum/ plasma, pemeriksaan sitologis.
b. Tes diagnostik lain:
 Non invasive: mamaografi, Ro thorak, USG, MRI, PET.
 Invasif: Biopsi, Aspirasi biopsi (FANB), True cut/ care biopsi, insisi
biopsi, eksisi biopsi.

G. Penatalaksanaan
1. Pembedahan
a. Mastectomy radikal yang dimodifikasi
Pengangkatan payudara sepanjang nodu limfe axila sampai otot pectoralis
mayor. Lapisan otot pectoralis mayor tidak diangkat namun otot pectoralis
minor bisa jadi diangkat atau tidak diangkat.
b. Mastectomy total
Semua jaringan payudara termasuk puting dan areola dan lapisan otot
pectoralis mayor diangkat. Nodus axila tidak disayat dan lapisan otot
dinding dada tidak diangkat.
c. Lumpectomy/tumor
Pengangkatan tumor dimana lapisan mayor dri payudara tidak turut
diangkat. Exsisi dilakukan dengan sedikitnya 3 cm jaringan payudara
normal yang berada di sekitar tumor tersebut.
d. Wide excision/mastektomy parsial.
Exisisi tumor dengan 12 tepi dari jaringan payudara normal.
e. Ouadranectomy.
Pengangkatan dan payudara dengan kulit yang ada dan lapisan otot
pectoralis mayor.
2. Radiotherapy
Biasanya merupakan kombinasi dari terapi lainnya tapi tidak jarang pula
merupakan therapi tunggal. Adapun efek samping: kerusakan kulit di
sekitarnya, kelelahan, nyeri karena inflamasi pada nervus atau otot pectoralis,
radang tenggorokan.
3. Chemotherapy
Pemberian obat-obatan anti kanker yang sudah menyebar dalam aliran darah.
Efek samping: lelah, mual, muntah, hilang nafsu makan, kerontokan membuat,
mudah terserang penyakit.
4. Manipulasi hormonal.
Biasanya dengan obat golongan tamoxifen untuk kanker yang sudah
bermetastase. Dapat juga dengan dilakukan bilateral oophorectomy. Dapat juga
digabung dengan therapi endokrin lainnya.
H. Pathway

bahan kimia, virus, radiasi atau sinar


matahari. Kelainan genetik dalam sel atau Perubahan bentuk/ Fungsi
bahan lainya yang disebut promotor. bagian tubuh

sel lebih rentan terhadap suatu karsinogen kurang pengetahuan

Perubahan sifat sel menjadi keganasan Ansietas

Peningkatan tekanan intra lumen apendik


perubahan persepsi

Ca Mamae
Gangguan Konsep Diri

perlukaan & peradangan Harga Diri Rendah

Reaksi sensitifitas histamin & bradikinin

Stimulasi nociseptor
Nyeri

Gangguan rasa nyaman


(nyeri)

MASTEKTOMI Insisi/ perlukaan

proses pembedahan Terputusnya kontinuitas/ kerusakan jaringan


saraf dan pembuluh darah

kurang pengetahuan
Port dientere kuman

cemas
Pajanan Lingkungan, alat,
tehnik aseptik
Pajanan alat/instrumen, yang tidak tepat
alat-alat elektro
surgical
Resti infeksi

resti cidera Risiko Perdarahan


ANASTESI

GA spinal

Depresi SSP penurunn fungsi


Otot/rangka

Penurunan fungsi
sal. Pernapasan Imobilitas ekstremitas
bawah

resti aspirasi
Hambatan Mobilitas fisik

bersihan jalan napas


inefektif

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pre Operasi
A. Pengkajian Keperawatan Pre Operasi
Pengkajian ini meliputi :
a. Data Subyektif
• Pengetahuan dan Pengalaman Terdahulu.
 Nama
 Tempat / Alamat
 Bentuk operasi yang harus dilakukan.
 Informasi dari ahli bedah lamanya dirawat dirumah sakit,
keterbatasan setelah di bedah.
 Kegiatan rutin sebelum operasi.
 Kegiatan rutin sesudah operasi.
 Pemeriksaan-pemeriksaan sebelum operasi.
• Bentuk, sifat, rontgen.
• Status Fisiologi.
• Berbagai alergi medikasi, sabun, plester.
• Nutrisi : intake gizi yang sempurna (makanan, cairan) mual,
anoreksia.
• Alat prothesa : gigi, mata palsu, dan ekstremitas.
• Kesantaian : bisa tidur, terdapat nyeri atau tidak nyaman.
b. Data Obyektif
• Pola berbicara : mengulang-ulang tema, perubahan topik tentang
perasaan (cemas).
• Tingkat interaksi dengan orang lain.
• Perilaku : gerakan tangan yang hebat, gelisah, mundur dari aktifitas
yang sibuk (cemas).
• Tinggi dan berat badan.
• Tanda vital: Tekanan darah, Nadi, Respiratory, Suhu.
• Sistem integumentum
 Pucat, sianosis
 Adakah penyakit kulit di area badan.
• Sistem Kardiovaskuler
 Apakah ada gangguan pada sisitem cardio?
 Validasi apakah pasien menderita penyakit jantung?
 Kebiasaan minum obat jantung sebelum operasi.
 Kebiasaan merokok, minum alcohol
 Oedema
 Irama dan frekuensi jantung.
 Pucat
• Sistem pernafasan
 Apakah pasien bernafas teratur ?
 Batuk secara tiba-tiba di kamar operasi.
• Sistem gastrointestinal
 Apakah pasien diare ?
• Sistem reproduksi
 Apakah pasien wanita mengalami menstruasi ?
• Sistem saraf
 Kesadaran?
• Penginderaan : kemampuan penglihatan dan pendengaran.
• Kulit: turgor, terdapat lesi, merah atau bintik-bintik.
• Mulut: gigi palsu, kondisi gigi dan selaput lendir.
• Thorak : bunyi nafas (terdapat, sisanya) pemekaran dada, kemampuan
bernafas dengan diafragma, bunyi jantung (garis dasar untuk
perbandingan pada pasca bedah).
• Ekstremitas : kekuatan otot (terutama) kaki, karakteristik nadi perifer
sebelum bedah vaskuler atau tubuh.
• Kemampuan motor: adalah keterbatasan berjalan, duduk, atau
bergerak di tempat duduk, koordinasi waktu berjalan.

1) Diagnosa keperawatan pre operasi


1. Nyeri berhubungan dengan agen injuri (biologi)
2. Ansietas berhubungan dengan tindakan pembedahan
3. Harga diri rendah berhubungan dengan status kesehatan

TUJUAN DAN
DIAGNOSA INTERVENSI
KRITERIA HASIL
Nyeri b/d agen NOC: NIC:
injuri (biologi)  Pain level Pain Management
 Pain control 1. Lakukan pengkajian nyeri secara
 Comfort level komprehensif termasuk lokasi,
KH: karakteristik, durasi, frekuensi,
 Mampu mengontrol kualitas dan faktor presipitasi
nyeri (tahu penyebab 2. Observasi reaksi nonverbal dari
nyeri, mampu ketidaknyamanan
menggunakan tehnik 3. Gunakan teknik komunikasi
nonfarmakologi untuk terapeutik untuk mengetahui
mengurangi nyeri, pengalaman nyeri pasien
mencari bantuan) 4. Kontrol lingkungan yang dapat
 Melaporkan bahwa mempengaruhi nyeri seperti suhu
nyeri berkurang ruangan, pencahayaan dan
dengan menggunakan kebisingan
manajemen nyeri 5. Kurangi faktor presipitasi nyeri
 Mampu mengenali 6. Pilih dan lakukan penanganan nyeri
nyeri (skala, intensitas, (farmakologi, non farmakologi dan
frekuensi dan tanda inter personal)
nyeri) 7. Ajarkan tentang teknik non
 Menyatakan rasa farmakologi
nyaman setelah nyeri 8. Berikan analgetik untuk mengurangi
berkurang nyeri
 Tanda vital dalam 9. Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
rentang normal 10. Tingkatkan istirahat
11. Kolaborasikan dengan dokter jika
ada keluhan dan tindakan nyeri tidak
berhasil
12. Monitor penerimaan pasien tentang
manajemen nyeri

Ansietas b/d NOC: NIC:


tindakan  Anxiety control 1. Gunakan pendekatan yang
pembedahan  Coping menenangkan
KH: 2. Nyatakan dengan jelas harapan
 Klien mampu terhadap pelaku pasien
mengidentifikasi dan 3. Jelaskan semua prosedur dan apa
mengungkapkan gejala yang dirasakan selama prosedur
cemas 4. Temani pasien untuk memberikan
 Mengidentifikasi, keamanan dan mengurangi takut
mengungkapkan dan 5. Berikan informasi faktual mengenai
menunjukkan tehnik diagnosis, tindakan prognosis
untuk mengontol 6. Lakukan back / neck rub
cemas 7. Dengarkan dengan penuh perhatian
 Vital sign dalam batas 8. Identifikasi tingkat kecemasan
normal 9. Bantu pasien mengenal situasi yang
 Postur tubuh, ekspresi menimbulkan kecemasan
wajah, bahasa tubuh 10. Dorong pasien untuk
dan tingkat aktivitas mengungkapkan perasaan,
menunjukkan ketakutan, persepsi
berkurangnya 11. Instruksikan pasien menggunakan
kecemasan teknik relaksasi
12. Barikan obat untuk mengurangi
kecemasan
Harga diri rendah NOC: NIC:
b/d status kesehatan  Low self level 1. Beri penguatan atas kekuatan diri
KH: yang diidentifikasi oleh pasien
 Mengenali kekuatan 2. Bantu pasien mengidentifikasi
diri respon positif dari orang lain
 Mengungkapkan 3. Hindari tindakan yang dapat
keinginan untuk mengusik pasien
mendapatkan 4. Bantu penyusunan tujuan yang
konseling realistis untuk mencapai harga diri
 Berpartisipasi dalam yang lebih tinggi
pembuatan keputusan 5. Bantu pasien mengkaji kembali
tentang rencana asuhan persepsi negative tentang dirinya
 Melatih perilaku yang 6. Bantu pasien mengidentifikasi
dapat meningkatkan dampak teman sebaya pada perasaan
rasa percaya diri harga diri
7. Gali pencapaian sebelumnya
8. Beri penghargaan atau pujian atas
kemajuan pasien dalam mencapai
tujuan
9. Fasilitasi lingkungan dan aktivitas
yang dapat meningkatkan harga diri

B. Intra Operasi
1) Anggota tim asuhan pasien intra operatif biasanya di bagi dalam dua bagian.
Berdasarkan kategori kecil terdiri dari anggota steril dan tidak steril:
1. Anggota steril
a. Ahli bedah utama / operator
b. Asisten ahli bedah.
c. Perawat Instrumen
2. Anggota tim yang tidak steril, terdiri dari:
a. Ahli atau pelaksana anaesthesi.
b. Perawat sirkuler
c. Anggota lain (teknisi yang mengoperasikan alat-alat pemantau yang
rumit).
Dalam pelaksanaan operasi ada beberapa prinsip tindakan keperawatan
yang harus dilakukan yaitu :
1. Perlindungan terhadap injury
2. Monitoring Pasien
Aktivitas keperawatan yang di lakukan selama tahap intra operasi meliputi 4
hal, yaitu :
a) Safety Management
Tindakan ini merupakan suatu bentuk jaminan keamanan bagi pasien
selama prosedur pembedahan.
b) Pengaturan posisi pasien
Pengaturan posisi pasien bertujuan untuk memberikan kenyamanan pada
klien dan memudahkan pembedahan. Perawat perioperatif mengerti
bahwa berbagai posisi operasi berkaitan dengan perubahan-perubahan
fisiologis yang timbul bila pasien di tempatkan pada posisi tertentu.
c) Monitoring Fisiologis
Pemantauan fisiologis yang dilakukan oleh perawat meliputi hal-hal
sebagai berikut :
1) Melakukan balance cairan
Penghitungan balance cairan di lakukan untuk memenuhi kebutuhan
pasien. Pemenuhan balance cairan di lakukan dengan cara
menghitung jumlah cairan yang masuk dan yang keluar (cek pada
kantong kateter urine) kemudian melakukan koreksi. Terhadap
imbalance cairan yang terjadi. Misalnya dengan pemberian cairan
infuse.
2) Pemantauan Kondisi Cardiopulmonal
Pemantauan kondisi cardiopulmonal harus di lakukan secara kontinue
untuk melihat apakah kondisi pasien normal atau tidak. Pemantauan
yang di lakukan meliputi fungsi pernafasan, nadi dan tekanan darah,
saturasi oksigen, perdarahan dan lain-lain.
3) Pemantauan terhadap perubahan vital sign
Pemantauan terhadap perubahan vital sign penting di lakukan untuk
memastikan kondisi pasien masih dalam batas normal. Jika terjadi
gangguan harus di lakukan intervensi secepatnya.
d. Monitoring Psikologis
Dukungan psikologis (sebelum induksi dan bila pasien sadar) dukungan
psikologis yang di lakukan oleh perawat pada pasien antara lain :
1. Memberikan dukungan emosional pada pasien.
2. Perawat berdiri di dekat pasien dan memberikan sentuhan selama
prosedur pemberian induksi.
3. Mengkaji kasus emosional klien.
4. Mengkomunikasikan status emosional pasien, kepada tim kesehatan
(jika ada perubahan).
5. Pengaturan dan koordinasi Nursing Care tindakan yang dilakuan
antara lain, memanage, keamanan fisik pasien dan mempertahankan
prinsip dan teknik asepsis.

2) Diagnosa keperawatan intra operasi


1. Risiko perdarahan berhubungan dengan tindakan pembedahan
2. Risiko cidera berhubungan dengan pemasangan plat diatermi (arde)
TUJUAN DAN
DIAGNOSA INTERVENSI
KRITERIA HASIL
Risiko perdarahan NOC: NIC:
b/d tindakan  Blood lose severity 1. Monitor ketat tanda-tanda
pembedahan  Blood koagulation perdarahan
KH: 2. Identifikasi penyebab perdarahan
 Tidak ada hematuria 3. Catat nilai Hb dan Ht sebelum dan
dan hematemesis sesudah terjadinya perdarahan
 Kehilangan darah yang 4. Monitor trend tekanan darah dan
terlihat parameter hemodinamik (CVP,
 Tekanan darah dalam pulmonary capillary/artery wedge
batas normal sistole pressure)
dan diastole 5. Monitor status cairan yang meliputi
 Tidak ada distensi intake dan output
abdominal 6. Pertahankan patensi IV line
 Hemoglobin dan 7. Kolaborasi dalam pemberian produk
hematokrit dalam batas darah
normal
Risiko cidera b/d NOC: NIC:
pemasangan plat  Risk control 1. Sediakan lingkungan yang aman
diatermi (arde) KH: untuk pasien
 Klien terbebas dari 2. Identifikasi kebutuhan keamanan
cidera pasien
3. Menghindarkan lingkungan yang
berbahaya

C. Post Operasi
1. Faktor yang berpengaruh pada masa post operasi.
a. Mempertahankan jalan nafas.
Dengan mengatur posisi, memasang suction dan pemasangan mayo /
gudel.
b. Memperthankan ventilasi / oksigenasi.
Ventilasi dan oksigenasi dapat di pertahankan dengan pemberian bantuan
nafas melalui ventiloit mekanik atau nasal kanul.
c. Mempertahankan sirkulasi darah.
Mempertahankan sirkulasi darah dapat dilakukan dengan pemberian
cairan plasma ekspander.
d. Obsevasi keadaan umum, observasi vomitus dan drainase. Keadaan umum
dari pasien harus di obsevasi untuk mengetahui keadaan pasien, seperti
kesadaran dan lain sebagainya. Vomitus atau muntahan mungkin saja
terjadi akibat pengaruh anastesi sehingga perlu di pantau kondisi
vomitusnya. Selain itu drainase sangat penting untuk dilakukan observasi
terkait dengan kondisi perdarahan yang di alami pasien.
e. Balance cairan.
Harus di perhatikan untuk mengetahui input dan output cairan klien.
Cairan harus balance untuk mencegah komplikasi lanjutan, seperti
dehidrasi akibat perdarahan atau justru kelebihan cairan yang justru
menjadi beban bagi jantung dan juga mungkin terkait dengan fungsi
eleminasi pasien.
f. Mempertahankan kenyamanan dan mencegah resiko injury. Pasien post
anastesi biasanya akan mengalami kecemasan, disorientasi dan beresiko
besar jatuh. Tempatkan pasien pada tempat tidur yang nyaman dan pasang
side railnya. Nyeri biasanya sangat di rasakan pasien, diperlukan
intervensi keperawatan yang tepat juga kolaborasi dengan medis terkait
dengan egen pemblok nyerinya.
2. Tindakan Post Operasi.
Ketika pasien sudah selesai dalam tahap intra opertif, setelah itu pasien di
pindahkan ke ruang perawatan, maka hal-hal yang harus perawat lakukan,yaitu
:
a. Monitor tanda-tanda vital dan keadaan umum pasien, drainage, tube /
selang, dan komplikasi. Begitu pasien tiba di bangsal langsung monitor
kondisinya.Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan pertama yang
dilakukan dibangsal setelah postoperatif.
b. Manajemen luka
Amati kondisi luka operasi dan jahitannya, pastikan luka tidak mengalami
perdarahan abnormal. Observasi discharge untuk mencegah komplikasi
lebih lanjut. Dalam hal ini pemasangan plester pada operasi mastektomi
hendaknya diperhatikan arah tarikan-tarikan kulit (langer line) agar tidak
melawan gerakkan-gerakkan alamiah, sehingga pasien dengan rileks
menggerakkan sendi bahu tanpa hambatan dan tidak nyeri untuk itu perlu
diperhatikan cara meletakkan kasa pada luka operasi dan cara melakukan
fiksasi plester pada dinding dada.Plester medial melewati garis midsternal
Plester posterior melewati garis axillaris line/garis ketiak Plester
posterior(belakang) melewati garis axillaris posterior. Plester superior
tidak melewati clavicula Plester inferior harus melewati lubang drain,
Untuk dibawah klavicula ujug hifavik dipotong miring seperti memotong
baju dan dipasang miring dibawah ketiak sehingga tidak mengangu
grakkan tangan.Manajemen luka meliputi perawatan luka sampai dengan
pengangkatan jahitan.
c. Mobilisasi dini
Mobilisasi dini yang dapat dilakukan meliputi ROM, nafas dalam dan
juga batuk efektif yang penting untuk mengaktifkan kembali fungsi
neuromuskuler dan mengeluarkan secret dan lendir.
d. Rehabilitasi
Rehabilitasi diperlukan oleh pasien untuk memulihkan kondisi pasien
kembali. Rehabilitasi dapat berupa berbagai macam latihan spesifik yang
diperlukan untuk memaksimalkan kondisi pasien seperti sediakala.
e. Discharge Planning
Merencanakan kepulangan pasien dan mem berikan informasi kepada
klien dan keluarganya tentang hal-hal yang perlu dihindari dan dilakukan
sehubungan dengan kondisi / penyakit post operasi.

3. Diagnosa keperawatan post operasi


1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jariangan pasca bedah
2. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan efek anestesi
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan faktor pembedahan (insisi)
4. Risiko infeksi berhubungan dengan luka post operasi
5. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan efek anestesi
6. Harga diri rendah berhubungan dengan status kesehatan

TUJUAN DAN
DIAGNOSA INTERVENSI
KRITERIA HASIL
Nyeri b/d NOC: NIC:
terputusnya  Pain level Pain Management
kontinuitas jaringan  Pain control 1. Lakukan pengkajian nyeri secara
pasca bedah  Comfort level komprehensif termasuk lokasi,
KH: karakteristik, durasi, frekuensi,
 Mampu mengontrol kualitas dan faktor presipitasi
nyeri (tahu penyebab 2. Observasi reaksi nonverbal dari
nyeri, mampu ketidaknyamanan
menggunakan tehnik 3. Gunakan teknik komunikasi
nonfarmakologi untuk terapeutik untuk mengetahui
mengurangi nyeri, pengalaman nyeri pasien
mencari bantuan) 4. Kontrol lingkungan yang dapat
 Melaporkan bahwa mempengaruhi nyeri seperti suhu
nyeri berkurang dengan ruangan, pencahayaan dan
menggunakan kebisingan
manajemen nyeri 5. Kurangi faktor presipitasi nyeri
 Mampu mengenali 6. Pilih dan lakukan penanganan nyeri
nyeri (skala, intensitas, (farmakologi, non farmakologi dan
frekuensi dan tanda inter personal)
nyeri) 7. Ajarkan tentang teknik non
 Menyatakan rasa farmakologi
nyaman setelah nyeri 8. Berikan analgetik untuk mengurangi
berkurang nyeri
 Tanda vital dalam 9. Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
rentang normal 10. Tingkatkan istirahat
11. Kolaborasikan dengan dokter jika
ada keluhan dan tindakan nyeri tidak
berhasil
12. Monitor penerimaan pasien tentang
manajemen nyeri

Ketidakefektifan NOC: NIC:


jalan napas b/d efek  Respiratory status 1. Kaji pola nafas klien.
anestesi KH: 2. Kaji perubahan tanda vital secara
 mendemostrasikan drastis.
batuk efektif dan suara 3. Kaji adanya cyanosis.
napas yang bersih, tidak 4. Bantu bersihkan sekret di jalan
ada sianosis dan nafas.
dispneau (mampu 5. Ciptakan lingkungan yang nyaman.
mengeluarkan sputum,
mampu bernapas
dengan mudah, tidak
ada pursed lips)
 Jalan napas paten, tidak
ada suara napas
abnormal
Kerusakan NOC: NIC:
integritas kulit b/d  Tissue integrity 1. Anjurkan pasien untuk
faktor pembedahan KH: menggunakan pakaian yang longgar
(insisi)  Tidak ada luka/lesi 2. Membersihkan, memantau dan
pada kulit meningkatkan proses penyembuhan
 Perfusi jaringan baik pada luka yang ditutup dengan
 Mampu melindungi jahitan, klip atau straples
kulit dan 3. Monitor proses kesembuhan area
mempertahankan insisi
kelembapan kulit dan 4. Monitor tanda dan gejala infeksi
perawatan pada area insisi
5. Bersihkan area sekitar jahitan atau
area sekitar staples menggunakan
lidi kapas steril
6. Ganti balutan pada interval waktu
yang sesuai atau biarkan luka tetap
terbuka (tidak dibalut) sesuai
program
Risiko infeksi b/d NOC: NIC:
luka post operasi  Immune status 1. Monitor tanda dan gejala infeksi
 Risk control sistemik dan lokal
KH: 2. Pertahankan teknik asepsis pada
 Bebas dari tanda dan pasien
gejala infeksi 3. Pertahankan teknik isolasi
 Menunjukkan 4. Berikan perawatan kulit pada area
kemampuan untuk epidema
mencegah timbulnya 5. Inspeksi kulit dan membran mukosa
infeksi terhadap kemerahan, panas, drainase
 Menunjukkan perilaku 6. Dorong masukan nutrisi yang cukup
hidup sehat 7. Dorong masukan cairan
8. Dorong istirahat
9. Instruksikan pasien untuk minum
antibiotik sesuai resep
10. Cuci tangan setiap sebelum dan
sesudah tindakan keperawatan
11. ajarkan pasien dan keluarga tanda
dan gejala infeksi
12. Ajarkan cara menghindari infeksi

Hambatan mobilitas NOC: NIC:


fisik b/d efek  Mobility level 1. Kaji kemampuan pasien dalam
anestesi  Joint movement mobilisasi
KH: 2. Ajarkan pasien bagaimana merubah
 Mengerti tujuan dari posisi dan berikan bantuan jika
peningkatan mobilitas diperlukan
 Memverbalisasikan 3. Ajarkan pasien tentang teknik
perasaan dalam ambulasi
meningkatkan kekuatan 4. Monitoring vital sign sebelum dan
dan kemampuan sesudah latihan mobilisasi
berpindah 5. Dampingi dan bantu pasien dalam
 Bantu untuk mobilisasi mobilisasi
Harga diri rendah NOC: NIC:
b/d status kesehatan  Low self level 10. Beri penguatan atas kekuatan diri
KH: yang diidentifikasi oleh pasien
 Mengenali kekuatan 11. Bantu pasien mengidentifikasi
diri respon positif dari orang lain
 Mengungkapkan 12. Hindari tindakan yang dapat
keinginan untuk mengusik pasien
mendapatkan konseling 13. Bantu penyusunan tujuan yang
 Berpartisipasi dalam realistis untuk mencapai harga diri
pembuatan keputusan yang lebih tinggi
tentang rencana asuhan 14. Bantu pasien mengkaji kembali
 Melatih perilaku yang persepsi negative tentang dirinya
dapat meningkatkan 15. Bantu pasien mengidentifikasi
rasa percaya diri dampak teman sebaya pada perasaan
harga diri
16. Gali pencapaian sebelumnya
17. Beri penghargaan atau pujian atas
kemajuan pasien dalam mencapai
tujuan
18. Fasilitasi lingkungan dan aktivitas
yang dapat meningkatkan harga diri

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah vol 2. Jakarta : EGC
Carpenito Lynda Juall.2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC
Marilyan, Doenges E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan (Pedoman untuk
perencanaan dan pendokumentasian perawatyan px). Jakarta : EGC

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius
LAPORAN PENDAHULUAN TEKNIK INSTRUMENTASI
INSISI BIOPSI CA MAMAE
DI IBS RSUD NGUDI WALUYO WLINGI
Oleh :

FATAH AMRULLAH
NIM . 1301460033

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN PRODI D-IV PERIOPERATIF
2017

A. Pengertian
Tumor mamae adalah sel mammae yang mengalami proliferasi dan diferensiasi
abnormal serta tumbuh secara otonom, menyebabkan infiltrasi ke jaringan sekitar
sambil merusak dan menyebar ke bagian tubuh lain (Muttaqin, 2009).
Instek insisional biopsi adalah suatu tata cara menyiapkan alat instrument
untuk operasi insisional biopsi (Muttaqin, 2009).

B. Tujuan
1. Untuk mengatur alat secara sistematis di meja instrument / mayo
2. Memperlancar handling instrument
3. Mempertahankan kesterilan alat-alat instrument selama operasi berlangsung

C. Indikasi
1. Tumor Mamae

D. Persiapan Pasien
1. Persetujuan tindakan operasi
2. Mengatur posisi pasien supine
3. Memasang plat diathermi pada tungkai kaki kanan
4. Mencuci area yang akan dilakukan excisi dengan povidone iodine

E. Persiapan lingkungan
1. Meja operasi :1
2. Lampu operasi :1
3. Mesin suction :1
4. Tempat sampah :2
5. Mesin couter dan plat diatermi :1

F. Persiapan Instrumen
1. Di Meja Mayo
 Doek klem (towel klem) :2
 Disinfeksi klem (washing & dressing forcep) :1
 Pinset cirurgis (dissecting forcep) :2
 Pinset anatomis (tissue forcep) :2
 Gunting kasar (surgical scissor) :1
 Gunting metzenbaum (metzenboum scissor) :1
 Handvast (sclap blade and handle) no.3 :1
 Baby mosquito (baby mosquito pean klem) :2
 Arteri klem/pean (delicate haemostatic forcep ) :2
 Pean manis (chorm klem) :1
 Nald foeder (needle holder) besar / kecil :1/1
 Gunting benang (yarn scissor) :1
 Hack kombinasi/ sainmeler :2
 Allis klem (Tissue gasping) :1
 Couter + kabel :1
2. Set Tambahan
 Cucing disinfekta :1
 Bengkok sedang :1
 Doek besar :1
 Doek sedang berlubang :1
 Doek kecil :2
 Sarung meja mayo :1
 Gown steril :3
 Perlak besar & kecil :1/1
3. Bahan Habis Pakai
 Handscoen steril : secukupnya
 Disinfektan bethadine 10% : secukupnya
 Alkohol 70 % : secukupnya
 Cairan NS 0,9 % :1
 Mess no. 10 :1
 Spuit 3 cc :1
 Sufratule :1
 Vycril 2-0/premiline 3-0 :1
 Pehacain : 2 ampul
 Hypavix : secukupnya
 Kassa/deppers : secukupnya
 U-ped :1
 Spongostan : secukupnya
G. Teknik Instrumentasi
1. Sign in.
2. Mengatur posisi pasien ( supine ) sebelum dilakukan pembiusan.
3. Perawat sirkuler membantu memasang plat diatermi pada tungkai kaki
kanan.
4. Perawat instrumen melakukan scrubing, gowning dan gloving.
5. Perawat instrumen memakaikan baju operasi kepada operator dan
assisten.
6. Berikan disinfeksi klem, deepers dan bethadine 10% dalam cucing pada
operator untuk melakukan disinfeksi pada lapangan operasi.
7. Lakukan drapping dengan duk berlubang 1 dan duk kecil 1 untuk
menutupi bagian bawah yang masih terbuka.
8. Dekatkan meja mayo dan linen lalu pasang kabel coutter dan fiksasi
dengan duk klem (1).
9. Berikan spuit 3 cc yang berisi pehacain pada operator untuk melakukan
anastesi lokal
10. Berikan pada operator pinset cirurgis untuk mengecek kerja pehacain dan
menandai area insisi.
11. Time out
12. Berikan handvat no. 3 + mess no. 10 pada operator untuk dilakukan
insisi pada kulit dan berikan double pinset cirurgis pada assisten dan berikan
kassa kering + mosquito dan rawat perdarahan dengan kassa kering dan couter.
13. Berikan haak pada assisten dan gunting metzenboum pada operator
untuk memperdalam insisi hingga tumor terlihat.
14. Berikan ellis klem pada operator untuk menjepit jaringan tumor dengan
elis klem potong dengan mess no.10 rawat perdarahan dengan masquito dan
couter.
15. kemudian jaringan tumor diberikan kepada perawat sirkuler dalam botol
kecil yang telah diberi cairan formalin dan identitas pasien untuk di PA.
16. Sign out
17. Cek kelengkapan instrument dan kassa, pastikan semua dalam keadaan
lengkap.
18. Berikan nald foeder dengan benang vycril 3-0 dan pinset cirurgis pada
operator dan gunting benang + pean untuk menjepit benang pada asisten
operator.
19. Berikan nald foeder + pinset cirurgi pada operator premile 3-0 untuk
menjahit kulit dan gunting benang + pean manis untuk menjepit benang pada
asisten operator.
20. Bersihkan luka operasi dengan kasa basah dan keringkan dengan kasa
kering.
21. Tutup luka dengan suffratule sesuai kebutuhan.
22. Tutup luka dengan kassa kering sesuai kebutuhan.
23. Tutup luka dengan hipafik sesuai kebutuhan.
24. Operasi selesai, pasien dibersihkan dan dirapikan.
25. Inventarisasi alat-alat yang telah dipakai dan hitung bahan habis pakai.
26. Catat pemakaian alat dan bahan habis pakai pada lembar depo.
27. Rapikan dan cuci alat instrument yang telah dipakai, set alat dan
bersihkan ruangan.

H. Evaluasi
a. Luka tidak boleh kena air dalam 3 hari pertama
b. Makan-minum bebas
c. Obat diminum teratur
d. Kontrol ulang sesuai advise dokter
e. Jaga kebersihan tubuh

DAFTAR PUSTAKA

Andy Santosa Augustinus, (1994). Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia. Jakarta :
Akademi Perawatan Sint Carolus. Brunner and Suddarth (2000). Buku Ajar
Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
Donna. D. Ignatavicius, Marylinn V.B. (1991). Medical Surgical Nursing. A Nursing
Proses Approach. Philadelphia: W.B. Saunders Company.

John Luckman, RN. M.A. Karen C. Sorensen, R.N. M.N (1997). Medical Surgical
Nursing: A Psychophysiological Approach. Philadelphia, N.B.: Saunders Company.

Marilynn E. Doengoes, Mary F. Moorhouse (1994). Rencana Asuhan Keperawatan,


Edisi 3: Penerbit Buku Kedokteran: EGC.

Muttaqin, Arif. 2009. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Ganguan Sistem
Kardiovaskuler dan Hematologi. Jakarta:Salemba Medika.