Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

1. Pengertian
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentuka sesuai jenis
dan luasnya, terjadinya jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang
dapat diabsorbsinya. (Smeltzer, 2011:184).
Fraktur mandibula adalah rusaknya kontinuitas tulang mandibular yang
dapat disebabkan oleh trauma baik secara langsung atau tidak langsung. Instek
platting mandibula adalah suatu tata cara menyiapkan alat instrument untuk
operasi pemasangan mini plat pada pasien fraktur mandibula. yang bertujuan
untuk menyatukan tulang yang fraktur sehingga penyembuhan tulang sesuai
dengan garis fraktur atau bentuk asli tersebut untuk menentukan oklusi.

2. Etiologi
Benturan yang keras pada wajah dapat menimbulkan fraktur mandibula.
Toleransi mandibula terhadap benturan lebih tinggi daripada tulang-tulang
wajah yang lain. Fraktur mandibula lebih sering terjadi daripada fraktur tulang
wajah yang lain karena bentuk mandibula yang menonjol sehingga sensitif
terhadap benturan. Pada umumnya fraktur mandibula disebabkan oleh karena
trauma langsung.

3. Anatomi
Mandibula merupakan tulang yang besar dan paling kuat pa da daerah
muka. Dibentuk oleh dua bagian simetris yang mengadakan fusi dalam tahun
pertama kehidupan. Tulang ini terdiri dari korpus, yaitu suatu lengkungan
tapal kuda dan sepasang ramus yang pipih dan lebar yang mengarah keatas
pada bagian belakang dari korpus. Pada ujung dari masing-masing ramus
didapatkan dua buah penonjolan disebut prosesus kondiloideus dan prosesus
koronoideus. Prosessus kondiloideus terdiri dari kaput dan kolum. Permukaan
luar dari korpus mandibula pada garis median, didapatkan tonjolan tulang
halus yang disebut simfisis mentum yang merupakan tempat pertemuan
embriologis dari dua buah tulang.
Bagian korpus mandibula membentuk tonjolan disebut prosesus alveolaris
yang mempunyai 16 buah lubang untuk tempat gigi. Bagian bawah korpus
mandibula mempunyai tepi yang lengkung dan halus. Pada pertengahan
korpus mandibula kurang lebih 1 nchi dari simfisis didapatkan foramen
mentalis yang dilalui oleh vasa dan nervus mentalis. Permukaan dalam dari
korpus mandibula cekung dan didapatkan linea milohiodea yang merupakan
origo m. Milohioid. Angulus mandibula adalah pertemuan antara tepi
belakang ramus mandibula dan tepi bawah korpus mandibula. Angulus
mandibula terletak subkutan dan mudah diraba pada 2-3 jari dibawah lobulus
aurikularis.
Secara keseluruhan tulang mandibula ini berbentuk tapal kuda melebar di
belakang, memipih dan meninggi pada bagian ramus kanan dan kiri sehingga
membentuk pilar, ramus membentuk sudut 1200 terhadap korpus pada orang
dewasa. Pada yang lebih muda sudutnya lebih besar dan ramusnya nampak
lebih divergens.
Dari aspek fungsinya, merupakan gabungan tulang berbentuk L bekerja
untuk mengunyah dengan dominasi (terkuat) m. Temporalis yang berinsersi
disisi medial pada ujung prosesus koronoideus dan m. Masseter yang
berinsersi pada sisi lateral angulus dan ramus mandibula. M. Pterigodeus
medial berinsersi pada sisi medial bawah dari ramus dan angulus mandibula.
M masseter bersama m temporalis merupakan kekuatan untuk menggerakkan
mandibula dalam proses menutup mulut. M pterigoideus lateral berinsersi
pada bagian depan kapsul sendi temporo-mandibular, diskus artikularis
berperan untuk membuka mandibula. Fungsi m pterigoid sangat penting dalam
proses penyembuhan pada fraktur intrakapsuler.
Pada potongan melintang tulang mandibula dewasa level molar II
berbentuk seperti ”U” dengan komposisi korteks dalam dan korteks luar yang
cukup kuat. Ditengahnya ditancapi oleh akar-akar geligi yang terbungkus oleh
tulang kanselus yang membentuk sistem haversian (osteons) diantara dua
korteks tersebut ditengahnya terdapat kanal mandibularis yang dilewati oleh
syaraf dan pembuluh darah yang masuk dari foramen mandibularis dan keluar
kedepan melalui foramen mentalis.
Lebar kanalis mandibula tersebut sekitar 3 mm ( terbesar) dan ketebalan
korteks sisi bukal yang tertipis sekitar 2.7mm sedang pada potongan level gigi
kaninus kanalnya berdiameter sekitar 1mm dengan ketebalan korteks sekitar
2.5-3mm. Posisis jalur kanalis mandibula ini perlu diingat dan dihindari saat
melakukan instrumentasi waktu reposisi dan memasang fiksasi interna pada
fraktur mandibula

4. Patofisiologi
Fraktur disebabkan oleh adanya trauma (langsung dan tidak langsung),
stress fatique (kelelahan akibat tekanan berulang) dan pathologis. Karena
adanya tekanan atau daya yang mengenai tulang maka akan mengakibatkan
terjadinya fraktur dan perdarahan biasanya terjadi disekitar tempat patahan
dan kedalam jaringan lunak disekitar tulang tersebut. Bila terjadi hematoma
maka pembuluh darah vena akan mengalami pelebaran sehingga terjadi
penumpukan cairan dan kehilangan leukosit yang berakibat terjadinya
perpindahan, menimbulkan implamasi atau peradangan yang menyebabkan
bengkak dan akhirnya terjadi nyeri. Selain itu karena kerusakan pembuluh
darah kecil atau besar pada waktu terjadi fraktur menyebabkan tekanan darah
menjadi turun, begitupula dengan suplai darah ke otak sehingga kesadaran
pun menurun yang mengakibatkan syok hipovolemi. Bila mengenai jaringan
lunak maka akan terjadi luka dan kuman akan mudah untuk masuk sehingga
mudah terinfeksi dan lama kelamaan akan berakibat delayed union dan mal
union dan yang tidak terinfeksi mengakibatkan non union. Apabila fraktur
mengenai peristeum atau jaringan tulang dan korteks maka akan
mengkibatkan deformitas, krepitasi dan pemendekan ekstremitas.
Berdasarkan proses diatas tanda dan gejalanya yaitu nyeri/tenderness,
deformitas/perubahan bentuk, bengkak, peningkatan suhu tubuh/demam,
krepitasi, kehilangan fungsi dan apabila hal ini tidak teratasi, maka akan
menimbulkan komplikasi yaitu komplikasi umum misalnya : syok, sindrom
remuk dan emboli lemak. Komplikasi dini misalnya : cedera syaraf, cedara
arteri, cedera organ vital, cedera kulit dan jaringan lunak, sedangkan
komplikasi lanjut misalnya : delayed union, mal union, non union, kontraktur
sendi dan miossitis ossifycans, avaseural necrosis dan osteo arthritis.

5. Tanda dan gejala


• Nyeri hebat di tempat fraktur
• Tak mampu menggerakkan dagu bawah
• Diikuti tanda gejala fraktur secara umum, seperti : fungsi berubah, bengkak,
kripitasi, sepsis pada fraktur terbuka, deformitas.

6. Jenis fraktur
Jenis-jenis fraktur antara lain :
1. Menurut garis fraktur :
a. Fraktur komplit : Apabila garis patah melalui seluruh penampang
tulang atau melalui kedua konteks tulang
b. Fraktur inkomplit : Apabila garis patah tidak melalui penampang
tulang.
2. Menurut bentuk fraktur dan hubungannya dengan mekanisme trauma.
a. fraktur tranfersal : Fraktur yang garis patahannya tegak lurus terhadap
sumbu panjang tulang. Segmen patah tulang direposisi atau direduksi
kembali ketempatnya semula, maka segmen akan stabil dan biasanya
akan mudah dikontrol dengan bidai gips
b. Fraktur patah oblique : Fraktur dimana garis patahannya membentuk
sudut terhadap tulang. Fraktur ini tidak stabil.
c. Fraktur serial : Fraktur ini terjadi akibat torsi pada ekstremitas.
Menimbulkan sedikit kerusakan jaringan lunak dan cenderung cepat
sembuh dengan imobilisasi luar.
d. Fraktur kompresi : Fraktur yang terjadi ketika dua tulang menumpuk
tulang ketiga yang berada diantaranya, seperti satu vertebra dengan
vertebra lain.
e. Fraktur anulasi : Fraktur yang memisahkan fragmen tulang pada tempat
insisi tendon atau ligament. Contohnya fraktur patella
3. Menurut jumlah garis fraktur
a. Fraktur komminute : Terjadi banyak garis fraktur atau banyak fragmen
kecil yang terlepas
b. Fraktur segmental : Apabila garis patah lebih dari satu tetapi tidak
berhubungan sehingga satu ujung yang tidak memiliki pembuluh darah
menjadi sulit untuk sembuh.
c. Fraktur multiple : Garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang
berlainan tempat.
4. Menurut hubungannya antara fragmen dengan dunia luar
a. Fraktur terbuka : Apabila terdapat luka yang menghubungkan tulang
yang fraktur dengan udara luar atau permukaan kulit.
Fragmen terbuka dibagi menjadi tiga tingkat yaitu :
 Pecah tulang menusuk kulit, kerusakan jaringan sedikit
terkontaminasi ringan, luka kurang dari 1 cm.
 Kerusakan jaringan sedang, potensial infeksi lebih besar dari 1 cm
 Luka besar sampai dengan 8 cm, kehancuran otot, kerusakan
neuromaskular, kontaminasi besar.
 Grade/derajat fraktur terbuka :
• Grade I : Sakit jelas dan sedikit kerusakan kulit.
• Grade II : fraktur terbuka merobek kulit dan otot.
• Grade III : banyak sekali jejas kerusakan kulit otot, jaringan
syaraf, pembuluh darah serta luka sebesar 6-8cm.
b. Fraktur tertutup : Terjadi pada tulang yang abnormal atau sakit.
Penyebab terbanyaknya adalah osteoporosis dan osteomalacia.

7. Tahap Penyembuhan Tulang


Setelah tulang mengalami fraktur
1. Stadium Hematum
Pada stadium ini karena pembuluh darah pecah, maka terjadi perdarahan
pada daerah fraktur. Hematum terbentuk mengelilingi daerah tulang yang
mengalami fraktur, kemudian setelah 24 jam aliran darah pada daerah
fraktur berkurang sehingga terjadi penggabungan haematum dengan
fibroblast dan membentuk fibrin.
2. Stadium proliferasi
Dalam 48-72 jam setelah terjadi fraktur, sel sel jaringan baru mulai
terbentuk pada daerah fraktur.
3. Stadium Pembentukan Kallus
Dalam waktu 6-10 hari fraktur, terjadi perubahan granulasi jaringan dan
pembentukan kallus, pertumbuhan jaringan berlangsung secara terus
menerus sampai fragmen menyatu kembali memerlukan waktu 3-4
minggu.
4. Stadium Ossifikasi
Ossifikasi terjadi 3 -10 minggu, kallus yang menetap berubah menjadi
tulang yang kaku, akibat dari penumpukan garam-garam mineral menutup
dan meliputi ujung-ujung fragmen tulang yang kemudian akan menjadi
tulang.
5. Stadium konsolidasi
Setelah pembentukan tulang, kallus diremodeling oleh aktivitas osteoblast
dan osteoklast

8. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Fraktur secara umum. Sebelum mengambil keputusan untuk
melakukan penatalaksanaan definitif, prinsip penatalaksanaan fraktur ada 4R
yaitu:
1. Recognition :
Diagnosa dan penilaian fraktur. Prinsip pertama adalah mengetahui dan
menilai keadaan fraktur dengan anamnesis, pemeriksaan klinis dan
radiologiy. Pada awal pengobatan perlu diperhatikan : lokasi fraktur,
bentuk fraktur, menentukan teknik yang sesuai untuk pengobatanm
komplikasi yang mungkin terjadi selama pengobatan.
2. Reduction
tujuannya untuk mengembalikan panjang dan kesegarisan tulang
Dapat dicapai dengan manipulasi tertutup atau reduksi terbuka progresi.
Reduksi tertutup terdiri dari penggunaan traksi manual untuk menarik
fraktur kemudian memanipulasi untuk mengembalikan kesegarisan normal
atau dengan traksi mekanis. Reduksi terbuka diindikasikan jika reduksi
tertutup gagal atau tidak memuaskan. Reduksi terbuka merupakan alat fiksasi
internal yang digunakan untuk mempertahankan dalam posisinya sampai
penyembuhan tulang yang solid seperti pen, kawat, skrup dan plat. Open
Reduction Internal Ficsation (ORIF) yaitu dengan pembedahan terbuka akan
mengimobilisasikan fraktur dengan melakukan pembedahan untuk
memasukkan skrup atau pen ke dalam fraktur yang berfungsi untuk
memfiksasi bagian bagian tulang yang fraktur secara bersama sama.
3. Retention
Imobilisasi fraktur tujuannya untuk mencegah pergeseran fragmen dan
Mencegah pergerakan yang dapat mengancam union. Untuk mempertahankan
reduksi (ekstremitas yang mengalami fraktur) adalah dengan pemasangan
wire, plate, traksi.
4. Rehabilitation
mengembalikan aktifitas fungsional seoptimal mungkin

9. Pengkajian
Pemeriksaan Fisik
a. Nyeri pada lokasi frkatur terutama pada saat digerakan
b. Adanya pembengkakan
c. Pemendekan ekstrmitas yang sakit
d. Paralisis (kehilangan daya gerak)
e. Krepitasi (sensasi keripik yang ditimbulkan bila mempalpasi patahan-
patahan tulang
f. Spasme otot
g. Peretesia (penurunan sensasi)

10. Diagnosa Keperawatan


Diagnosa keperawatan yang muncul pada keperawatan pre operatif, intra
operatif, post operatif :

 Diagnosa keperawatan Pre operatif


1) Resiko tinggi injury berhubungan dengan transfer + transport pasien ke
branchart / meja operasi
Hasil yang diharapkan : tidak terjadi injury pada pasien
No Intervensi Rasional
1. Bantu pasien untuk berpindah Menjaga pasien supaya tidak jatuh
dari branchart / kursi roda ke
meja operasi
2. Angkat pasien dari branchart Memberikan keamanan kepada
ke meja operasi dengan 3 pasien
orang
3. Dorong pasien ke ruang Memberikan keamanan kepada
tindakan (ruang OK) dengan pasien
hati-hati

2) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang


kondisi dan kebutuhan pengobatan
Hasil yang diharapkan : adanya saling pengertian tentang prosedur
pembedahan dan penanganannya, berpartisipasi dalam program
pengobatan,melakukan gaya hidup yang perlu
No Intervensi Rasional
1. Dorong pasien untuk Pasien mampu berkomunikasi
mengekspresikan perasaan, dengan orang lain
khususnya mengenai pikiran,
perasaan, pandangan dirinya
2. Dorong pasien untuk bertanya Memberikan keyakinan kepada
mengenai masalah, pasien tentang penyakitmya
penanganan, perkembangan
dan prognosa kesehatan
3. Berikan informasi yang dapat Membina hubungan saling
dipercaya dan diperkuat percaya
dengan informasi yang telah
diberikan
4. Jelaskan tujuan dan persiapan Memberikan informasi untuk
untuk diagnostic penatalaksanaan diagnostik
selanjutnya

3) Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang tindakan


operasi
Hasil yang diharapkan : pasien melaporkan takut dan ansietas menurun
sampai tingkat dapat ditangani
No Intervensi Rasional
1. Tinjau ulang keadaan Memberikan pengetahuan pada
penyakit dan harapan masa pasien yang dapat memilih
depan berdasarkan informasi
2. Observasi tingkah laku yang Ansietas ringan dapat ditunjukkan
menunjukkan tingkat dengan peka rangsang dan insomnia.
ansietas Ansietas berat yang berkembang ke
dalam keadaan panik dapat
menimbulkan perasaan ternacam
dan teror
3. Berikan lingkungan Penerimaan dan motivasi dari orang
perhatian, keterbukaan dan terdekat memberikan poin penuh
penerimaan privasi untuk untuk menjalani kehidupan
pasien atau orang terdekat, selanjutnya yang lebih baik
anjurkan bahwa orang
terdekat ada kapanpun saat
diinginkan

 Diagnosa Keperawatan Intra Operatif


1) Resiko tinggi terjadi ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan
dengan obstruksi trakea, pembengkakan, perdarahan dan spasme laryngeal
Hasil yang diharapkan : mempertahankan jalan nafas pasien dengan
mencegah aspirasi
No Intervensi (kolaborasi Rasional
dengan tim
anesthesi)
1. Pantau frekuensi Pernafasan secara normal,
pernafasan, kedalaman dan kadang-kadang cepat, tetapi
kerja nafas berkembangnya distress pada
pernafasan merupakan indikasi
kompresi trakea karena edema
atau perdarahan
2. Auskultasi suara nafas, Auskultasi suara nafas, catat
catat adanya suara ronchi adanya suara ronchi. Ronchi
merupakan indikasi adanya
obstruksi spasme laringeal yang
membutuhkan evaluasi dan
intervensi segera
3. Kaji adanya dispneu, Indikator obstruksi trakhea atau
stridor dan sianosis, spasme laring yang membutuhkan
perhatikan kualitas suara evaluasi dan intervensi segera
4. Pertahankan alat intubasi Terkenanya jalan nafas dapat
di dekat pasien menciptakan suasana yang
mengancam kehidupan yang
memerlukan tindakan darurat
5. Pantau perubahan tanda- Bermanfaat dalam mengevaluasi
tanda vital, terutama nyeri, menentukan pilihan
peningkatan nadi dan intervensi, menentukan
penurunan tekanan dara, efektivitas terapi
atau pernafasan cepat dan
dalam

2) Resiko tinggi kekurangan cairan berhubungan dengan perdarahan


Hasil yang diharapkan : mempertahankan keseimbangan cairan, adekuat
yang dibuktikan dengan tanda vital stabil, nadi perifer normal, turgor kulit
baik dan membran mukosa lembab
No Intervensi Rasional
1. Awasi pemasukan dan Membandingkan keluaran aktual dan
pengeluaran yang diantisipasi membantu dalam
evaluasi stasis atau kerusakan ginjal
2. Awasi tanda vital, evaluasi Sebagai indikator hidrasi atau
nadi, pengisian kapiler, volume sirkulasi dan kebutuhan
turgor kulit,dan membran intervensi
mukosa
3. Berikan cairan IV Untuk mempertahankan volume
sirkulasi
4. Ukur dan timbang berat Memberikan perkiraan kebutuhan
badan akan penggantian volume cairan dan
keefektifan pengobatan
5. Periksa adanya perubahan Dehidrasi berat menurunkan cairan
dalam status mental dan jantung dan perfusi jaringan terutama
sensori jaringan otak

 Diagnosa Keperawatan Post Operatif


3) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan tindakan bedah
terhadap jaringan atau otot dan pasca operasi
Hasil yang diharapkan : melaporkan nyeri hilang atau terkontrol,
menunjukkan kemampuan mengadakan relaksasi dan mengalihkan
perhatian dengan aktif sesuai situasi
No Intervensi Rasional
1. Kaji tanda-tanda adanya Mencegah hiper ekstensi leher
nyeri baik verbal maupun dan melindungi integritas garis
non verbal, catat lokasi, jahitan
intensitas (skala 0-10) dan
lamanya
2. Letakkan pasien dalam Membantu untuk memfokuskan
posisisemi fowler dan kembali perhatian dan
sokong kepala atau leher membantu pasien untuk
dengan bantal pasir atau mengatasi nyeri atau rasa tidak
bantal kecil nyaman secara lebih efektif
3. Anjurkan pasien untuk Menurunkan nyeri dan rasa
menggunakan tehnik tidak nyama, meningkatkan
relaksasi, seperti imajinasi, istirahat
musik yang lembut,
relaksasi progresif
4. Kolaborasi dengan tim Analgesik menurunkan rasa
medis dalam pemberian nyeri pasien
obat analgesic

4) Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif, kateter dan trauma


jaringan
Hasil yang diharapkan : pasien mencapai waktu penyembuhan dan tidak
mengalami infeksi

No Intervensi Rasional
1. Awasi tanda vital Pasien yang mengalami
perubahan tanda vital beresiko
untuk syok bedah atau septik
sehubungan dengan manipulasi
atau instrumentasi
2. Observasi dan drainage luka Adanya drain dapat
meningkatkan resiko infeksi yang
diindikasikan dengan eritema dan
drainage purulent
3. Pantau suhu tubuh dan Mencegah terjadinya infeksi
frekuensi nadi, perubahan
jenis drainage luka, atau
peningkatan area kemerahan
dan nyeri tekan di sekitar
tempat operasi
4. Kolaborasi dengan tim medis Antibiotik mencegah terjadinya
dalam pemberian antibiotik infeksi luka pada pasien

DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth, ( 2002 ), Buku Ajar Perawatan Medikal Bedah, Volume 2,
Edisi 8, Alih Bahasa : dr. Andry Hartono, dr. H.Y.Kuncara, Elyna S. Laura
Siahan, S.kp dan Agung waluyo, S.Kp. Jakarta : EGC

Carpenito-moyet, Lynda juall, (2006), buku saku diagnosis keperawata, edisi 8,


alih bahasa : yasmin asih. Jakarta : EGC

Corwin, Elizabeth. J, ( 2001 ), Buku Saku Patofisiologi, Jakarta : EGC

Doenges, Marilynn. E. at al, ( 2000 ), Rencana Asuhan Keperawatan :


PedomanPerencanaan Pendokumentasaian Perawatan Pasien, edisi 3, Alih
Bahasa : I Made Kariasa, S. Kp, Ni Made Sumarwati,S. Kp, Monica Ester,
S. Kp, Yasmin Asih, S. Kp. EGC, Jakarta

Muttaqin,Arif. (2011).Buku Saku Gangguan Muskuloskeletal: Aplikasi Pada


Praktik Klinik Keperawatan. Jakarta : EGC