Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Sebelumnya kita harus mengetahui terlebih dahulu arti dari rapat pra pelaksanaan (PCM)
rapat pra pelaksanaan adalah rapat yang diselenggarakan oleh unsur-unsur yang terkait
dengan pelaksanaan kegiatan proyek pembangunan.

Tujuan PCM (pre construction meeting) ini untuk menyamakan persepsi membahas
Syarat-syarat Umum dan Khusus Dokumen Perikatan dan membuat kesepakatan hal-hal
penting yang belum terdapat dalam Dokumen Kontrak maupun kemungkinan-kemungkinan
kendala yang akan terjadi dalam pelaksanaan pekerjaan.

PCM (pre construction meeting) diselenggarakan paling lambat 7 (tujuh) hari sejak
diterbitkannya SPMK. Rapat PCM dituangkan dalam Berita Acara dan ditandatangani
minimal oleh 3 (tiga) pihak; Wakil Satker (KPA/PPK), Penyedia Jasa Konsultan dan
Kontraktor. Berita Acara Rapat Persiapan Pekerjaan tersebut menjadi bagian yang tak
terpisahkan dari Dokumen Kontrak yang berlaku.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas maka, rumusan masalah
adalah sebagai berikut :
1.2.1 Bagaimana PCM (pre construction meeting) dari sebuah proyek?
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut , maka tujuan yang dapat diambil adalah sebagai
berikut:
1.3.1 Untuk menegtahui bagaimana PCM (pre construction meeting) dari sebuah proyek

1.4 Manfaat
Berdasarkan tujuan penelitian yang diuraikan diatas maka, manfaat yang ingin dicapai
sebagai berikut :
1.4.1 Bagi penulis
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis mengenai PCM
(pre construction meeting) dalam suatu proyek
1.4.2 Bagi lembaga
Untuk mendapatkan teori mengenai PCM (pre construction meeting) dalam suatu proyek
BAB II
DASAR TEORI

Rapat Persiapan Pelaksanaan Kontrak


(Pre Construction Meeting),
Rekayasa lapangan
(Field Engineering),
Kaji Ulang Desain
(Review Design),
Perubahan Kontrak
(Contract Change Orders / CCO),
Rapat Lapangan
(Site Meeting)

1. RUANG LINGKUP
Dalam rangka pengendalian pelaksanaan pekerjaan untuk memastikan bahwapelaksanaan
pekerjaan yang akan dilakukan sesuai dengan yang telahditetapkan dalam dokumen kontrak maka
perlu diadakan rapat persiapan pelaksanaan (pre construction meeting)untuk menghasilkan
kesepakatan-kesepakatan beberapa materi yang dapat menimbulkan masalah dalampelaksanaan
pekerjaan. Adapun yang dimaksud dengan dokumen kontrakmeliputi dan atau harus
diinterpretasikan dalam urutan kekuatan hokum sebagaiberikut: a) surat perjanjian, b) surat
penunjukkan penyedia jasa, c) suratpenawaran, d) addendum dokumen lelang (bila ada), e) syarat-
syarat khususkontrak, f) syarat-syarat umum kontrak, g) spesifikasi teknis, h) gambar-gambar,i)
daftar kuantitas dan harga, j) dokumen lain yang tercantum dalam lampirankontrak.
Rapat persiapan pelaksanaan (PCM) diselenggarakan selambat-lambatnya 7(tujuh) hari
setelah dikeluarkannya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) atau 21hari setelah penandatanganan
kontrak yang diikuti oleh direksi pekerjaan(Pinpro/Pinbagpro), direksi teknis (konsultan
pengawas), penyedia jasa(kontraktor) serta unsur perencanaan.
Salah satu agenda penting yaitu persyaratan-persyaratan dalam kontrak kerjakonstruksi
yang berhubungan dengan mutu konstruksi sesuai dengan KeputusanMenteri Permukiman dan
Prasarana Wilayah Nomor 362/KPTS/M/2004 tentangSistem Manajemen Mutu Konstruksi
Departemen Permukiman dan PrasaranaWilayah, bahwa Program Mutu atau Rencana Mutu
Kontrak (RMK) yang telahdisusun oleh kontraktor disampaikan selambat-lambatnya dalam rapat
persiapan pelaksanaan untuk mendapat persetujuan/pengesahan direksi pekerjaan.
Adapun untuk mengetahui kuantitas awal pekerjaan dari berbagai matapembayaran yang
tercantum dalam daftar kuantitas dan harga maka dilakukanpemeriksaan lapangan bersama yang
terdiri dari direksi teknis, panitia penelitipelaksanaan kontrak dan penyedia jasa/kontraktor setelah
penerbitan SPMK.Hasil pemeriksaan lapangan bersama dituangkan dalam berita acara
hasilpemeriksaan bersama yang akan menjadi pedoman pelaksanaan pekerjaan.
Apabila hasil pemeriksaan lapangan bersama mengakibatkan perubahan isikontrak
(spesifikasi teknis, gambar, jenis pekerjaan, mata pembayaran,kuantitas) maka perubahan tersebut
harus dituangkan dalam perintah perubahankontrak (contract change orders/CCO) yang ditindak
lanjuti dengan pembuatanamandemen kontrak.
Selanjutnya pemeriksaan lapangan bersama terhadap setiap kegiatan pekerjaan/ mata
pembayaran terus dilaksanakan selama periode waktu pelaksanaanpekerjaan untuk menetapkan
kuantitas hasil pekerjaan yang akan dibayar setiapbulan/angsuran.
Rapat lapangan (site meeting) dilakukan dilokasi pekerjaan/lapangan dalamrangka
koordinasi kegiatan pelaksanaan, yang diadakan sekali dalam satuminggu atau mingguan, tengah
bulanan, dan bulanan.

2. ACUAN
a) Undang Undang No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan;
b) Undang Undang No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi;
c) Undang Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah;
d) Undang Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;
e) Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;
f) Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 1985 tentang Jalan;
g) Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2000 tentang Usaha dan PeranMasyarakat Jasa Konstruksi;
h) Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan JasaKonstruksi;
i) Peraturan Pemerintah No 30 Tahun 2000 tentang PenyelenggaraanPembinaan Jasa Konstruksi;
j) Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman PelaksanaanPengadaan Barang /
Jasa Pemerintah;
k) Keputusan Menteri Kimpraswil No. 369/KPTS/M/2001 Pedoman PemberianIzin Usaha Jasa
Konstruksi Nasional;
l) Keputusan Menteri Kimpraswil No. 339/KPTS/M/2003 tentang PetunjukPelaksanaan
Pengadaan Jasa Konstruksi oleh Instansi Pemerintah
;m) Keputusan Menteri Kimpraswil No.257/KPTS/M/2004 tentang Standar DanPedoman
Pengadaan Jasa Konstruksi;
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Makna sebenarnya dari PCM (Pre Construction Proyek)


PCM (Pre Construction Proyek) adalah rapat yang diselenggarakan oleh unsur-unsur yang
terkait dengan pelaksanaan kegiatan proyek pembangunan. pertemuan yang diselenggarakan
oleh unsur-unsur yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan seperti pihak Direksi Pekerjaan
sebagai unsur pengendalian, Direksi Teknis sebagai pengawas teknis, dan penyedia jasa
sebagai pelaksana pekerjaan, wakil masyarakat setempat dan instansi terkai guna
menyamakan presepsi tersebut seluruh dokumen kontrak dan membuat kesepakatan tersebut
hal-hal penting yang belum terdapat dalam dokumen kontrak maupun kemungkinan-
kemungkinan kendala yang akan terjadi dalam pelaksanaan pekerjaan.

3.2 Tujuan dari PCM dalam pelaksanaan administrasi proyek

Tujuan PCM (pre construction meeting) ini untuk menyamakan persepsi membahas
Syarat-syarat Umum dan Khusus Dokumen Perikatan dan membuat kesepakatan hal-hal
penting yang belum terdapat dalam Dokumen Kontrak maupun kemungkinan-kemungkinan
kendala yang akan terjadi dalam pelaksanaan pekerjaan.

PCM (pre construction meeting) diselenggarakan paling lambat 7 (tujuh) hari sejak
diterbitkannya SPMK. Rapat PCM dituangkan dalam Berita Acara dan ditandatangani
minimal oleh 3 (tiga) pihak; Wakil Satker (KPA/PPK), Penyedia Jasa Konsultan dan
Kontraktor. Berita Acara Rapat Persiapan Pekerjaan tersebut menjadi bagian yang tak
terpisahkan dari Dokumen Kontrak yang berlaku.
3.3 Peranan PCM (Pre Construction Meeting) pada tahapan proyek

Hal-hal yang perlu dibahas dan disepakati dalam rapat persiapan pelaksanaan konstruksi
antara lain:
1. Stuktur organisasi proyek
2. Penyamaan presepsi tentang pasal-pasal yang tertuang dalam dokumen kontrak
3. Usulan-usulan perubahan mengenai isi dalam pasal-pasal dokumen kontrak
4. Pendekatan kepada masyarakat dan pemerintah daerah setempat mengenai rencana kerja.
5. Pembahasan prosedur administrasi penyelenggaraan pekerjaan.
6. Presentasi penyedia jasa dalam rencana penanganan pekerjaan melalui program untuk
penyedia jasa (Rencana Mutu Kontrak).
7. Presentasi Konsultan Pengawas tentang prosedur pengawasan pekerjaan berdasarkan uraian
kegiatan pekerjaan penyedia jasa.
8. Pembahasan kendala yang diperkirakan akan timbul, dan rencana penangananya
9. Penetapan masa berlaku ijin kerja (request) dan pemaparan metode kerja yang akan digunakan
10. Masalah-masalah lapangan terkait metode pekerjaan, ruang milik jalan lokasi Quary,
lokasi Base Camp
11. Rencana pemeliharaan dan pengaturan lalu lintas
12. Pembahasan tentang tanggungjawab masing-masing unsur yang terkait dalam pelaksanaan
pekerjaan,
13. Pembahasan tentang pembayaran prestasi pekerjaan dan syarat-syarat yang diusulkan untuk
pelaksanaan pembayaran
14. Fasilitas pendukung yang akan diberikan oleh pemberi pekerjaan (SATKER)
15. Hal-hal yang belum jelas tertuang dalam kontrak

Apabila saat pelaksanaan PCM, keberadaan konsultan supervisi belum tersedia di lapangan,
maka Rapat Persiapan Pekerjaan tetap dilaksanakan, Berita Acara Rapat Persiapan Pekerjaan
harus disampaikan oleh konsultan supervisi untuk dipedomani.

Dalam hal konsultan supervisi memiliki pandangan yang berbeda dengan hasil Rapat Persiapan
Pekerjaan yang telah ditetapkan, maka persamaan presepsi dapat dilakukan pada rapat-rapat
koordinasi yang dilaksanakan pada tahap selanjutnya.
3.4 Pengertian PPK

PPK merupakan salah satu pejabat pengelola keuangan di satuan kerja yang peranannya
sangat krusial. Dalam siklus anggaran (budget cycle) akan selalu dijumpai peran serta dari PPK
ini di setiap tahapannya, baik dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, pengawasan maupun
pertanggungjawaban anggaran. Karena peranannya yang sangat penting tersebut maka PPK
diharapkan menjalankan tugas dan kewenangannya dengan baik.

Berdasarkan Perpres RI Nomor 70 tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas Perpres
Nomor 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, yang disebut PPK adalah
pejabat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa.

Sedangkan berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 45 tahun 2013 tentang Tata Cara
Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, PPK adalah pejabat yang diberi
kewenangan oleh PA/KPA untuk mengambil keputusan dan/atau melakukan tindakan yang dapat
mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja negara.

Berdasarkan pengertian tersebut, maka PPK adalah pejabat yang berwenang untuk
mengambil keputusan dan tindakan yang berakibat pada pengeluaran anggaran dan bertanggung
jawab atas pelaksanaan pengadaan barang /jasa. Jika kita melihat mekanisme pencairan anggaran
belanja negara, maka peran PPK ada pada mekanisme uang persediaan dan mekanisme langsung
(LS). Pada mekanisme UP, PPK berwenang untuk mengambil tindakan yang berakibat pada
pengeluaran, sedangkan pada mekanisme LS , PPK bertanggung jawab atas pelaksanaan
pengadaan.
 Tugas Pokok dan Kewenangan PPK
1. menetapkan rencana pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa yang meliputi
spesifikasi teknis Barang/Jasa,Harga Perkiraan Sendiri (HPS dan rancangan
Kontrak.
2. menerbitkan Surat Penunjukan Penyedia Barang/ Jasa
3. menyetujui bukti pembelian atau menandatangani Kuitansi/Surat Perintah Kerja
(SPK)/surat perjanjian
4. melaksanakan Kontrak dengan Penyedia Barang/ Jasa
5. mengendalikan pelaksanaan Kontrak
6. melaporkan pelaksanaan/ penyelesaian Pengadaan Barang/Jasa kepada PA/KPA
7. menyerahkan hasil pekerjaan Pengadaan Barang/ Jasa kepada PA/KPA dengan
Berita Acara Penyerahan
8. melaporkan kemajuan pekerjaan termasuk penyerapan anggaran dan hambatan
pelaksanaan pekerjaan kepada PA/KPA setiap triwulan
9. menyimpan dan menjaga keutuhan seluruh dokumen pelaksanaan Pengadaan
Barang/Jasa

3.5 Pengertian SCM (Show Cause Meeting)

Show Cause Meeting ( SCM ) atau Rapat Pembuktian Keterlambatan pada proyek
konstruksi. Show Cause Meeting ( SCM ) diadakan oleh Pejabat Dinas terkait dalam hal ini
PPK. Rapat diadakan dikarenakan adanya kondisi kontrak kerja yang dinilai kritis dan
berpotensi waktu pelaksanaan tidak sesuai dengan shedule yang telah dibuat.

Karena kontrak dinyatakan kritis dalam hal penanganan pekerjaan maka kontrak kritis
harus dilakukan dengan rapat pembuktian Show Cause Meeting ( SCM ). Pejabat Dinas dalam
hal ini PPK harus memberikan peringatan tertulis kepada kontraktor mengenai keterlambatan
dalam melaksanakan pekerjaan.

 Ketentuan Kontrak Kritis


1. Periode I ( rencana fisik pelaksanaan 0 % - 70 % dari kontrak ), realisasi fisik
pelaksanaan terlambat lebih besar 10 dari rencana.
2. Periode II ( rencana fisik pelaksanaan 70 % - 100 % dari kontrak), realisasi fisik
pelaksanaan terlambat lebih besar 5 % dari rencana.
3. Rencana fisik pelaksanaan 70 % - 100 % dari kontrak, realisasi fisik pelaksanaan
terlambat kurang dari 5 % dari rencana dan akan melampui tahun anggaran
berjalan.
 Penanganan Kontrak Kritis
. Pada saat kontrak dinyatakan kritis, Direksi pekerjaan menerbitkan surat
peringatan kepada kontraktor/penyediah dan selanjutnya menyelenggarakan Show
Cause Meeting ( SCM).
2. Dalam SCM PPK, Direksi pekerjaan, direksi teknis dan penyediah membahas
dan menyempakati besaran kemajuan fisik yang harus dicapai oleh Penyediah
dalam periode waktu tertentu (uji coba pertama) yang dituangkan dalam Berita
Acara SCM Tingkat Pertama.
3. Apabila penyediah gagal pada uji coba pertama, maka dilaksanakan SCM II
yang membahas dan menyempakati besaran kemajuan fisik yang harus dicapai oleh
Penyedia dalam periode waktu tertentu (Uji coba kedua) yang dituangkan
dalam Berita Acara SCM II.
4. Apabila Penyedia gagal pada uji coba tahap kedua, maka diselenggarakan SCM
III yang membahas dan menyempakati besaran kemajuan fisik yang harus dicapai
oleh Penyedia dalam periode waktu tertentu (uji coba ketiga) yang dituangkan
dalam Berita Acara SCM III.
5. Pada setiap uji coba yang gagal, PPK harus menerbitkan surat peringatan
kepada Penyedia atas keterlambatan realisasi fisik pelaksanaan pekerjaan

Dalam hal setelah diberikan SCM III yaitu Rencana fisik pelaksanaan 70 % - 100 %
dari kontrak, realisasi fisik pelaksanaan terlambat kurang dari 5 % dari rencana dan
akan melampui tahun anggaran berjalan dan Penyediah tidak mampu memenuhi
kemajuan fisik yang sudah ditetapkan, PPK melakukan rapat bersama atasan PPK
sebelum tahun anggaran berakhir, dengan ketentuan:
1. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dapat memberikan kesempatan untuk
menyelesaikan sisa pekerjaan paling lama 50 (lima puluh) hari kalender dengan
ketentuan :
a. Penyedia secara teknis mampu menyelesaikan sisa pekerjaan paliung lama 50 (lima
puluh) hari kalender, dan
b. Penyedia dikenakan denda keterlambatan sesuai SSSK apabila pemberian
kesempatan melampui masa pelaksanaan pekerjaan dalam kontrak.
2. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dapat langsung memutuskan Kontrak secara
sepihak dengan mengesampingkan pasal 1266 kitab Undang-Undang Hukum Perdata;
atau
3. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dapat menunjuk pihak lain untuk melaksanakan
pekerjaan. Pihak lain tersebut selanjutnya dapat menggunakan bahan/peralatan,
Dokumen kontraktor dokumen desain lainnya yang dibuat oleh atau atas nama
penyedia. Seluruh biaya yang timbul dalam pelaksanaan pekerjaan pihak lain
sepenuhnya menjadi tanggung jawab penyedia bedasarkan kontrak awal.