Anda di halaman 1dari 8

3.

3 Alur Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahapan, diantaranya:
1. Studi Pustaka
Studi pustaka yaitu melalui beberapa buku, artikel, jurnal ataupun
karya ilmiah serta referensi yang mendukung, meliputi :
 Mempelajari dasar teori metode geolistrik resistivitas, konfigurasi
elektroda Wenner dan Schlumberger
 Mempelajari penggunaan alat Supersting R8/IP beserta perangkat lunak
Res2Dinv yang digunakan untuk mengolah data resistivitasnya.

2. Pengetesan Alat

Dilakukan pengetesan alat 3 hari sebelum pengukuran dimulai.


Pengetesan alat dilakukan di Kampus Universitas Padjadjaran,
Jatinangor. Alat yang diuji yaitu Supersting, Switchbox, Elektroda 27
buah, kabel, dan accu. Dapat diambil kesimpulan dari hasil pengetesan
bahwa semua alat berjalan dengan baik dan siap untuk di pakai untuk
pengukuran di Desa Nagarakembang, Majalengka, Jawa Barat

3. Pengambilan Data
Proses pengambilan data dilakukan di Desa Nagarakembang,
Majalengka, Jawa Barat menggunakan alat geolistrik Super Sting R8
dengan konfigurasi Wenner dan Schlumberger. Jumlah elektroda pada
alat ini ialah 27 elektroda dan spasi antar elektroda ialah 15 meter
sehingga panjang lintasan totalnya yaitu 405 meter. Proses pengambilan
data dilakukan oleh Tim KKN Nagarakembang
Sebelum pengambilan data lapangan, tim menentukan lintasan
pengambilan data terlebih dahulu dengan bantuan data satelit citra satelit.
Pengambilan data dilakukan dari pagi hari hingga sore hari. Proses
pengambilan data dilakukan dengan langkah sebagai berikut:

1. Pemasangan elektroda
Elektroda dipasang berdasarkan lintasan yang sudah di tentukan
sebelumnya, digunakan alat Suntho sebagai alat bantu agar
lintasan tidak berbelok dan tetap lurus karena GPS memiliki
keterbatasan dalam akurasi. GPS digunakan untuk memplot titik
elektroda.
2. Pemasangan kabel
Kabel dipasang setelah elektroda terpasang, pemasangan kabel ini
perlu diperhatikan dengan baik bahwa logam yang ada pada kabel
haruslah berada tidak bersentuhan dengan tanah, karena dapat
mempengaruhi keakuratan pengukuran.
3. Memasang kabel dengan Supersting
Setelah kabel terpasang dengan elektroda, kabel dipasangkan
dengan alat supersting.
4. Menyalakan Supersting
Setelah Supersting menyala, di lakukan pengecekan melalui alat
agar dapat diketahui elektroda mana yang belum berfungsi
5. Mulai Pengukuran
Setelah pengecekan selesai, dimulai pengukuran.

4. Pengolahan Data
Data yang telah diperoleh dari hasil pengukuran didownload dengan
perangkat lunak AGI Supersting Administrator dari alat Supersting
R8/IP, data tersebut dalam format “.stg”. Selanjutnya, dilakukan inversi
data dengan menggunakan perangkat lunak AGISSAdmin sehingga
menghasilkan data dalam format “.DAT”. Data yang di dapat digunakan
untuk membuat penampang 2D. Untuk proses pengolahan data geolistrik
untuk penampang 2D menggunakan perangkat lunak Res2Dinv. Langkah
pertama ialah data hasil penelitian diproses dengan mengatur parameter
awal untuk forward modeling dan resistivity inversi. Selanjutnya,
dilakukan edit data elektroda yang dianggap sebagai noise sehingga
model yang didapatkan akan baik, inversi dilakukan untuk
memperoleh model yang terdiri dari Pseudosection Apperent Resistivity,
Calculate Resistivity dan True Resisitivity. Apabila hasil model yang
didapat masih kurang baik (Misfit) atau dengan kata lain error yang
didapat masih besar maka dilakukan kembali pengeditan data dan
kemudian inversi kembali atau dengan menghapus titik data yang overlap
agar tidak mempengaruhi data lainnya agar akurat. Setelah penampang
resistivitas 2D dianggap baik, simpan model dalam format “.jpg”.

5. Analisa Hasil Pengolahan Data


Interprestasi yang akan digunakan pada penelitian ini ialah terbatas pada
interprestasi analitik yaitu pendugaan geologi bawah permukaan berdasarkan
analisa nilai penampang resistivitas 2D. Nilai resisitivitas yang diperoleh
dapat digunakan untuk mengetahui jenis batuan, sehingga struktur batuan
yang terdapat dibawah permukaan akan terlihat jelas melalui skala warna.
Sehingga memudahkan untuk mengidentifikasi keberadaan lapisan aquifer.

Mulai

Studi Pustaka

Pengetesan Alat

Akuisisi Data

Data
Resistivitas

Edit Data

Inversi

A B
A B

Penampang
Resistivitas 2-D

Tidak
Baik?

Ya

Penampang
Peta Geologi Resistivitas 2-D

Analisa

Kesimpulan

Selesai

Gambar 3.7 Diagram alur pengolahan dan analisa data


3.4 Peralatan Lapangan
Peralatan lapangan yang digunakan untuk survei geolistrik didaerah
Nagarakembang, Majalengka terdiri dari :
 Alat geolistrik SuperSting R8
 Switch box
 Kabel @ 350 meter sebanyak 4 box
 Elektroda 27 buah
 Palu 2 buah
 Accu 12 volt
 Laptop
 GPS
 Suntho
 Bentonit
 Kamera
 Alat tulis
BAB IV
HASIL DAN ANALISA
HARI 1
4.1 KONFIGURASI WENNER

ANALISA

Dengan konfigurasi Wenner, didapatkan model bawah permukaan hasil


inversi pada program RES2DINV seperti pada gambar di atas. Didapat rentang
resistivitas dari mulai 1.25 ohm hingga 118 ohm. Berdasar peta geologi tersebut,
wilayah Nagarakembang berada pada formasi Halang yang terdiri atas perselingan
batupasir, batulempung, dan batu lanau dengan sisipan breksi dan batupasir
gampingan.Resistivitas yang tinggi atau warna ungu pada model diperkirakan
merupakan batu pasir. Tujuan survei ini adalah untuk mengidentifikasi lapisan akuifer
di bawah lapisan permukaan yang dapat ditunjukan dari nilai resistivitas yang paling
rendah sehingga dapat diperkirakan akuifer terletak pada tengah-tengah pengukuran
(sekitar 155 meter hingga 215 meter) di sekitar kedalaman 64.5 meter. Nilai
resistivitas rendah yang berada pada permukaan merupakan hasil pengukuran yang
berada di sekitar mata air yang muncul di permukaan.
4.2 KONFIGURASI SCHLUMBERGER

ANALISA

Dengan menggunakan konfigurasi Schlumberger didapatkan penampang


dengan menggunakan program RES2DINV. Tidak jauh berbeda dengan konfigurasi
wenner, rentang nilai resistivitasnya 0.170 ohm hingga 219 ohm. Nilai resistivitas
paling tinggi terletak di sekitar daerah 55m – 80m, seperti yang di sebutkan di atas,
daerah pengukuran merupakan daerah dengan formasi halang yang terdiri atas
perselingan batupasir, batulempung, dan batu lanau dengan sisipan breksi dan
batupasir gampingan. Sehingga dapat diperkirakan juga daerah yang berwarna ungu
(resistivitas paling tinggi) merupakan daerah batu pasir. Lapisan akuifer juga letaknya
menyerupai dengan saat pengukuran dengan menggunakan konfigurasi wenner yaitu
sekitar 120m-260m ditandai dengan warna biru tua. Kedalaman akuifer tersebut
terlihat pada kedalaman 64,5m