Anda di halaman 1dari 24

Laporan Pendahuluan

Close Fraktur Intertrochanter Femur

A. Definisi
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau
tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh tekanan yang berlebihan
(Arif Muttaqin, 2008).
Fraktur adalah patah tulang yang biasanya disebabkan oleh
trauma atau tenaga fisik dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang,
dan jaringan lunak di sekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang
terjadi itu lengkap atau tidak lengkap (Santosa, 2013).
Fraktur femur atau patah tulang paha adalah rusaknya kontinuitas
tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma langsung,
kelelahan otot, dan kondisi tertentu, seperti degenerasi tulang atau
osteoporosis (Parahita, 2010).
Fraktur tertutup adalah bila tidak ada hubungan patah tulang
dengan dunia luar.Fraktur terbuka adalah fragmen tulang meluas
melewati otot dan kulit, dimana potensial untuk terjadi infeksi (Santosa,
2013).
Definisi fraktur intertrochanter femur adalah terputusnya kontinuitas
tulang pada area di antara trochanter mayor dan trochanter minor yang bersifat
ekstrakapsular (Galuh, A. N. 2008).

B. Etiologi
1. Trauma
Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan otot yang tiba-tiba
dan berlebihan.
a. Trauma langsung: dapat berupa pemukulan, penghancuran,
penekukan, pemuntiran, atau penarikan, benturan pada tulang
dan mengakibatkan fraktur pada tempat tersebut. Bila terkena
kekuatan langsung, tulang dapat patah pada tempat yang
terkena; jaringan lunak juga pasti rusak.
b. Trauma tidak langsung : Bila terkena kekuatan tak langsung,
tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari
tempat yang terkena kekuatan itu, kerusakan jaringan lunak di
tempat fraktur mungkin tidak ada.
c. Proses penyakit: kanker dan riketsia.
d. Compresion force: klien yang melompat dari tempat ketinggian
dapat mengakibatkan fraktur kompresi tulang belakang.
e. Muscle (otot): akibat injuri/sakit terjadi regangan otot yang kuat
sehingga dapat menyebabkan fraktur (misal; elektrik shock dan
tetani).

C. Klasifikasi
Ada 2 tipe fraktur femur, (Handerson, 2007) yaitu :
1. Fraktur intrakapsuler
a. Terjadi didalam tulang sendi, panggul dan kapsula
b. Melalui kepala femur
c. Hanya dibawah kepala femur
d. Melalui leher dari femur
2. Fraktur ekstrakapsuler
a. Terjadi diluar sendi dan kapsul, melalui trochanter femur yang
lebih besar atau yang lebih kecil atau pada daerah intertrochanter.
b. Terjadi dibagian distal menuju leher femur tetapi tidak lebih dari 2
inci dibawah trochanter kecil.

Sedangkan klasifikasi untuk intertrochanter adalah berdasarkan


stabilitas dari pola fraktur, yaitu fraktur stabil (pola fraktur oblik standar)
dan fraktur tidak stabil (pola fraktur oblik reverse).
Gambar 3. Klasifikasi fraktur femur
1. Fraktur intertrochanter
Pada fracture ini, garis fracture melintang dari trochanter mayor ke
trochanter minor. Tidak seperti fracture intracapsular, salah satu tipe
fracture extracapsular ini dapat menyatu dengan lebih baik. Resiko untuk
terjadinya komplikasi non-union dan nekrosis avaskular sangat kecil jika
dibandingkan dengan resiko pada fractureintracapsular (Handerson,
2007).
Fracture dapat terjadi akibat trauma langsung pada trochanter
mayor atau akibat trauma tidak langsung yang menyebabkan twisting
pada daerah tersebut.
Berdasarkan klasifikasi Handerson (2007), fracture
intertrochanteric dapat dibagi menjadi 4 tipe menurut kestabilan fragmen-
fragmen tulangnya. Fracture dikatakan tidak stabil jika:

a. Hubungan antarfragmen tulang kurang baik.


b. Terjadi force yang berlangsung terus menerus yang menyebabkan
displaced tulang menjadi semakin parah.
c. Fracture disertai atau disebabkan oleh adanya osteoporosis.
Gambar Klasifikasi Kyle Untuk Fracture Intertrochanteric.

Gambar Klasifikasi Evan Untuk Fracture Intertrochanteric.

 Menurut lokasi fraktur


a. Colles’ fraktur : jarak bagian distal fraktur ±1 cm dari permukaan
sendi.
b. Articular fraktur : meliputi permukaan sendi.
c. Extracapsular : fraktur dekat sendi tetapi tidak termasuk ke dalam
kapsul sendi.
d. Intracapsular : fraktur didalam kapsul sendi.
e. Apiphyseal : fraktur terjadi kerusakan pada pusat ossifikasi.
D. TANDA DAN GEJALA
1. Nyeri hebat di tempat fraktur
2. Tak mampu menggerakkan ekstremitas bawah
3. Rotasi luar dari kaki lebih pendek
4. Diikuti tanda gejala fraktur secara umum, seperti : fungsi berubah,
bengkak, kripitasi, sepsis pada fraktur terbuka, deformitas.

E. Komplikasi
1. Komplikasi awal
a. Shock Hipovolemik/traumatic
Fraktur (ekstrimitas, vertebra, pelvis, femur) → perdarahan &
kehilangan cairan ekstrasel ke jaringan yang rusak → shock
hipovolemi, Lepuh dan luka akibat gips
b. Emboli lemak, Cedera saraf, Cedera visceral
c. Tromboemboli vena
Berhubungan dengan penurunan aktivitas/kontraksi otot/bedrest,
Otot dan tendon robek
d. Infeksi
Fraktur terbuka: tulang kontaminasi infeksi sehingga perlu
monitor tanda infeksi dan terapi antibiotik.
Sendi : Hemartrosis dan infeksi, Cedera ligament, Algodistrofi
e. Cedera vaskular (termasuk sindroma kompartemen)
2. Komplikasi lambat
a. Tulang
1) Nekrosis avaskular : Karena suplai darah menurun sehingga
menurunkan fungsi tulang
2) Delayed union : Proses penyembuhan fraktur sangat lambat
dari yang diharapkan biasanya lebih dari 4 bulan. Proses ini
berhubungan dengan proses infeksi. Distraksi/tarikan bagian
fragmen tulang.
3) Non union : Proses penyembuhan gagal meskipun sudah
diberi pengobatan. Hal ini disebabkan oleh fibrous union atau
pseudoarthrosis.
4) Mal-union : Proses penyembuhan terjadi tetapi tidak
memuaskan (ada perubahan bentuk)
b. Jaringan lunak
1) Ulkus dekubitus
2) Miositis osifikans
3) Tendinitis dan rupture tendon
4) Tekanan dan terjepitnya saraf
5) Kontraktur volkmann
c. Sendi
1) Ketidakstabilan
2) Kekakuan
3) Algodistrofi

Pasien dengan fraktur intertrochanter femur mempunyai


resiko menderita penyakit tromboemboli dan mempunyai resiko
kematian, sama halnya pada fraktur colum femur. Selain itu
resiko osteonekrosis dan non-union minimal, karena suplai darah
yang baik pada regiofemur.

F. Pemeriksaan Diagnostik
Untuk mendiagnosis fraktur, diperlukan adanya anamnesis, pemeriksaan
fisik, serta pemeriksaan penunjang, sebagai berikut:
1. Anamnesis
Biasanya terdapat riwayat cedera (bagaimana proses cederanya),
diikuti dengan ketidakmampuan menggunakan tungkai yang
mengalami cedera. Setelah jatuh tidak dapat berdiri, kaki lebih pendek
dan lebih berotasi keluar dibandingkan pada fraktur collum (karena
fraktur bersifat ekstrakapsular) dan pasien tidak dapat mengangkat
kakinya.
2. Pemeriksaan Fisik
Sedangkan tanda-tanda lokal pada fraktur akan didapatkan, antara
lain:
a. Penampilan (look)
Pembengkakan, memar, deformitas mungkin terlihat jelas, tetapi
hal yang penting adalah apakah kulit itu terlihat utuh atau tidak.
b. Rasa (feel)
Terdapat nyeri tekan setempat, tetapi perlu juga memeriksa
bagian distal dari fraktur untuk merasakan nadi dan menguji
sensasi.
c. Gerakan (movement)
Krepitus dan abnormal dapat ditemukan, tetapi lebih oenting untuk
menanyakan apakah pasien dapat menggerakkan sendi-sendi di
bagian distal cedera. Kreatinin: trauma otot meningkatkan beban
kreatinin untuk ginjal.
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan rontgen: menentukan lokasi/luasnya fraktur/trauma.
b. Kreatinin: trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk ginjal.
c. Hitung darah lengkap: Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi)
atau menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ
jauh pada trauma multiple). Peningkatan jumlah SDP adalah
respons stress normal setelah trauma.

G. Penatalaksanaan Medis
1. Rekognisi: menyangkut diagnosa fraktur pada tempat kejadian
kecelakaan dan kemudian dirumah sakit.
a. Riwayat kecelakaan
b. Parah tidaknya luka
c. Diskripsi kejadian oleh pasien
d. Menentukan kemungkinan tulang yang patah
e. Krepitus
2. Reduksi: reposisi fragmen fraktur sedekat mungkin dengan letak
normalnya. Reduksi terbagi menjadi dua yaitu:
a. Reduksi tertutup: untuk mensejajarkan tulang secara manual
dengan traksi atau gips.
b. Reduksi terbuka: dengan metode insisi dibuat dan diluruskan
melalui pembedahan, biasanyamelalui internal fiksasi dengan alat
misalnya; pin, plat yang langsung kedalam medula tulang.
c. Retensi: menyatakan metode-metode yang dilaksanakan untuk
mempertahankan fragmen-fragmen tersebut selama
penyembuhan (gips/traksi).
d. Rehabilitasi: langsung dimulai segera dan sudah dilaksanakan
bersamaan dengan pengobatanfraktur karena sering kali
pengaruh cedera dan program pengobatan hasilnya kurang
sempurna(latihan gerak dengan kruck).

H. TINDAKAN PEMBEDAHAN
1. Orif (open reduction and internal fixation)
a. Insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cedera dan
diteruskan sepanjang bidanganatomik menuju tempat yang
mengalami fraktur
b. Fraktur diperiksa dan diteliti
c. Fragmen yang telah mati dilakukan irigasi dari luka
d. Fraktur direposisi agar mendapatkan posisi yang normal kembali
e. Sasudah reduksi fragmen-fragmen tulang dipertahankan dengan
alat ortopedik berupa; pin,sekrup, plate, dan paku
Keuntungan:
a. Reduksi akurat
b. Stabilitas reduksi tinggi
c. Pemeriksaan struktur neurovaskuler
d. Berkurangnya kebutuhan alat imobilisasi eksternal
e. Penyatuan sendi yang berdekatan dengan tulang yang patah
menjadi lebih cepat
f. Rawat inap lebih singkat
g. Dapat lebih cepat kembali ke pola kehidupan normal
Kerugian :
a. Kemungkinan terjadi infeksi
b. Osteomielitis
2. Eksternal fiksasi
Metode alternatif manajemen fraktur dengan fiksasi eksternal,
biasanya pada ekstrimitas dan tidak untuk fraktur lama Post eksternal
fiksasi, dianjurkan penggunaan gips. Setelah reduksi, dilakukan insisi
perkutan untuk implantasi pen ke tulang Lubang kecil dibuat dari pen
metal melewati tulang dan dikuatkan pennya. Perawatan 1-2 kali
sehari secara khusus, antara lain:
a. Observasi letak pen dan area
b. Observasi kemerahan, basah dan rembes
c. Observasi status neurovaskuler distal fraktur
d. Fiksasi eksternal Fiksasi Internal Pembidaian

I. ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a. Identitas
Meliputi usia (kebanyakan terjadi pada usia muda), jenis kelamin
(kebanyakan terjadi pada laki-laki biasanya sering mengebut
saat mengendarai motor tanpa menggunakan helm).
b. Keluhan utama
Nyeri akibat dari post operasi fraktur femur dan fraktur
antebrachii.
c. Riwayat penyakit sekarang
Biasanya klien datang dengan keluhan jatuh atau trauma lain.
d. Riwayat penyakit dahulu
Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit
Paget menyebabkan fraktur patologis sehingga tulang sulit
menyambung. Selain itu, klien diabetes dengan luka dikaki sangat
beresiko mengalami osteomilitis akut dan kronis dan penyakit
diabetes menghambat proses penyembuhan tulang.
e. Riwayat penyakit keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan patah tulang adalah
faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti osteoporosis yang
sering terjadi pada beberapa keturunan dan kanker tulang yang
diturunkan secara genetic
f. Riwayat psikososial spiritual
Takut, cemas, terbatasnya aktivitas.
g. Pemeriksaan Fisik
1) Pre Operasi
a) B1 (breathing), pada pemeriksaan sistem pernapasan
tidak mengalami gangguan.
b) B2 (blood), pada pemeriksaan sistem kardiovaskuler,
dapat terjadi peningkatan tekanan darah, peningkatan
nadi dan respirasi oleh karena nyeri , peningkatan suhu
tubuh karena terjadi infeksi terutama pada fraktur terbuka.
c) B3 (brain), tingkat kesadaran biasanya komposmentis.
d) B4 (bladder), biasanya klien fraktur tidak mengalami
kelainan pada sistem ini.
e) B5 (bowel), pemenuhan nutrisi dan bising usus biasanya
normal, pola defekasi tidak ada kelainan.
f) B6 (bone), adanya deformitas, adanya nyeri tekan pada
daerah trauma.
2) Intra Operasi
a) B1 (breathing), risiko pola nafas yang fluktuatif dan apneu
akibat anastesia.
b) B2 (blood), fluktuasi tekanan darah dapat sangat rendah
akibat anastesia dan kehilangan darah, rekaman EKG
dapat fluktuatif.
c) B3 (brain), tingkat kesadaran menurun akibat tindakan
anastesi.
d) B4 (bladder), produksi urine.
e) B5 (bowel), akibat dari general anastesi terjadi penurunan
peristaltic.
f) B6 (bone), integritas kulit tidak utuh akibat insisi.
3) Post Operasi
a) B1 (breathing), biasanya terjadi reflek batuk tidak efektif
sehingga terjadi penurunan akumulasi secret, bisa terjadi
apneu, lidah kebelakang akibat general anastesi, RR
meningkat karena nyeri.
b) B2 (blood), pada pemeriksaan sistem kardiovaskuler,
dapat terjadi peningkatan tekanan darah, peningkatan
nadi dan respirasi oleh karena nyeri , peningkatan suhu
tubuh karena terjadi infeksi terutama pada proses
pembedahan.
c) B3 (brain), dapat terjadi penurunan kesadaran akibat
tindakan anastesi, nyeri akibat pembedahan.
d) B4 (bladder), biasanya karena general anastesi terjadi
retensi urin.
e) B5 (bowel), akibat dari general anastesi terjadi penurunan
peristaltic.
f) B6 (bone), akibat pembedahan klien mengalami gangguan
mobilitas fisik.
J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre operatif
a. Risiko kekurangan volume cairan d.d adanya faktor risiko puasa
sebelum pembedahan.
b. Ansietas b.d ketakutan keberhasilan dan keselamatan pembedahan.
c. Risiko ciddera b.d kelemahan tubuh.

Intra operatif
a. Risiko cidera d.d adanya faktor risiko penurunan kesadaran, terpapar
dengan instrument bedah.
b. Penurunan curah jantung b.d efek anastesi terhadap jantung.
c. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d efek anastesi terhadap
paru-paru.
d. Hipotermi b.d terpapar suhu lingkungan.
e. Risiko perdarahan d.d adanya faktor risiko insisi.
f. Risiko infeksi d.d adanya faktor risiko port de entri saat insisi.

Post operatif
a. Nyeri akut b.d penurun efek anastesi
b. Risiko perdarahan d.d adanya faktor risiko pemasangan drainage

K. INTERVENSI KEPERAWATAN
Pre Operatif

No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Intervensi


Kriteria Hasil
1. Risiko kekurangan NOC NIC
volume cairan ditandai Electrolit and acid Fluid Management
dengan adanya faktor base balance 1. Monitor hasil Hb
risiko puasa sebelum Fluid balance yang sesuai dengan
pembedahan Hydration retensi cairan (BUN,
Setelah dilakukan Hmt, Osmolalitas,
tindakan urin)
keperawatan selama 2. Monitor indikasi
(….) Pasien tidak retensi/kelebihan
mengalami nyeri, cairan (cracles, CVP,
dengan kriteria hasil: edema, distensu vena,
1. Terbebas dari asites)
edema, efusi, dan 3. Kolaborasi
anaskara pemberian diuretic
2. Bunyi nafas 4. Batasi masukan
bersih, tidak ada cairan pada keadaan
dyspnea/ortopneu hiponatremi
3. Terbebas dari Fluid Monitoring
distensi vena 1. Tentukan riwayat
jugularis, reflek jumlah dan tipe
hepatojugular (+) intake cairan dan
4. Memelihara eliminasi
tekanan vena 2. Tentukan
sentral, tekanan kemungkinan faktor
kapiler paru, risiko dari
output jantung ketidakseimbangan
dan vitalsign cairan (hipertermia,
dalam batas terapi diuretic,
normal kelainan renal, gagal
5. Terbebas dari jantung, diaphoresis,
kelelahan, disfungsi hati, dll)
kecemasan, dan 3. Monitor berat badan
kebingungan 4. Monitor serum,
osmolalitas, dan
elektrolit urine
5. Monitor tekanan
darah orthostatic dan
perubahan irama
jantung
6. Monitor tanda dan
gejala edema
2. Ansietas b.d ketakutan NOC : Anxiety Reduction
keberhasilan dan 1. Kontrol (penurunan kecemasan)
keselamatan pembedahan kecemasan 1. Gunakan
2. Koping pendekatan yang
menenangkan
Setelah dilakukan
2. Nyatakan dengan
asuhan selama (…)
jelas harapan
jam klien kecemasan
terhadap pelaku
teratasi dengan
pasien
kriteria hasil:
3. Jelaskan semua
prosedur dan apa
1. Klien mampu
yang dirasakan
mengidentifikasi
selama prosedur
dan
4. Temani pasien untuk
mengungkapkan
memberikan
gejala cemas
keamanan dan
2. Vital sign dalam
mengurangi takut
batas normal
5. Berikan informasi
3. Postur tubuh,
faktual mengenai
ekspresi wajah,
diagnosis, tindakan
bahasa tubuh dan
prognosis
tingkat aktivitas
6. Libatkan keluarga
menunjukkan
untuk mendampingi
berkurangnya
klien
kecemasan
7. Instruksikan pada
pasien untuk
menggunakan tehnik
relaksasi
8. Dengarkan dengan
penuh perhatian
9. Identifikasi tingkat
kecemasan
10. Bantu pasien
mengenal situasi
yang menimbulkan
kecemasan
11. Dorong pasien untuk
mengungkapkan
perasaan, ketakutan,
persepsi
12. Kelola pemberian
obat anti cemas

3. Risiko cidera ditandai NOC NIC


dengan adanya faktor Risk Kontrol Environment
risiko penurunan Setelah dilakukan management
kesadaran, terpapar asuhan keperawatan 1. Sediakan lingkungan
dengan instrument bedah selama (….) jam yang aman untuk
diharapkan pasien pasien
terbebas dari cedera 2. Identifikasi
dengan kriteria hasil: kebutuhan keamanan
1. Klien terbebas pasien
dari cedera 3. Menghindarkan
2. Klien mampu lingkungan yang
menjelaskan cara berbahaya
mencegah cedera 4. Memasang side rail
3. Klien mampu tempat tidur
menjelaskan 5. Menyediakan tempat
faktor resiko dari tiur yang nyaman
lingkungan 6. Menempatkan saklar
/perilaku personal lampu diitempat yang
4. Mampu mudah dijangkau
memodifikasi 7. Membatasi
gaya hidup pengunjung
mncegah injury 8. Menganjurkankeluar
5. Menggunakan ga menemani pasien
fasilitas yang ada 9. Mengontrol
lingkungan dari
kebisingan
10. Memindahkan barang
barang yang
membahayakan

Intra Operatif
No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Intervensi
Kriteria Hasil
1. Risiko cidera ditandai NOC : NIC :
dengan adanya faktor Risk Kontrol Environment
risiko penurunan Setelah dilakukan management
kesadaran, terpapar asuhan keperawatan 1. Sediakan
dengan instrument bedah selama (….) jam lingkungan yang
diharapkan pasien aman untuk pasien
terbebas dari cedera 2. Identifikasi
dengan kriteria hasil: kebutuhan
1. Klien terbebas keamanan pasien
dari cedera 3. Menghindarkan
2. Klien mampu lingkungan yang
menjelaskan berbahaya
cara mencegah 4. Memasang side rail
cedera tempat tidur
3. Klien mampu 5. Menyediakan
menjelaskan tempat tiur yang
faktor resiko nyaman
dari lingkungan 6. Menempatkan saklar
/perilaku lampu diitempat
personal yang mudah
4. Mampu dijangkau
memodifikasi 7. Membatasi
gaya hidup pengunjung
mncegah injuri 8. Menganjurkan
5. Menggunakan keluarga menemani
fasilitas yang pasien
ada 9. Mengontrol
lingkungan dari
kebisingan
10. Memindahkan
barang barang yang
membahayakan

2. Penurunan curah jantung NOC : NIC :


b.d efek anastesi Vital Signs Vital Signs Monitoring
terhadap jantung Status 1. Monitor tekanan
Setelah dilakukan darah, nadi, suhu,
asuhan keperawatan dan RR.
selama (….) jam 2. Catat adanya
diharapkan vital sign fluktuasi tekanan
normal dengan darah.
kriteria hasil: 3. Monitor tekanan
1. Temperatur tubuh darah saat pasien
dalam batas berbaring, duduk,
normal (36,5- atau berdiri,
37,5oC) sebelum dan
2. Frekuensi jantung sesudah perubahan
apikal dalam posisi.
batas normal (60- 4. Auskultasi tekanan
100 x/menit) darah pada kedua
3. RR dalam batas lengan dan
normal (12-20 bandingkan.
x/menit) 5. Monitor tekanan
4. Tekanan darah darah, nadi, RR,
sistolik (TDS) sebelum, selama,
dalam batas dan setelah aktivitas.
normal (<120 6. Monitor kualitas
mmHg) dari nadi.
5. Tekanan darah 7. Monitor adanya
diastolik (TDD) pulsus paradoksus.
dalam batas 8. Monitor adanya
normal (<80 pulsus alterans.
mmHg) 9. Monitor jumlah dan
irama jantung.
10. Monitor bunyi
jantung.
11. Monitor frekuensi
dan irama
pernapasan.
12. Monitor suara paru-
paru.
13. Monitor pola
pernapasan
abnormal.
14. Monitor suhu,
warna, dan
kelembaban kulit.
15. Monitor sianosis
perifer.
16. Monitor adanya
cushing triad
(tekanan nadi yang
melebar, bradikardi,
peningkatan sistolik)
17. Identifikasi
penyebab dari
perubahan vital sign.
3. Ketidakefektifan NOC : NIC :
bersihan jalan nafas b.d Respiratory status : Airway Management
efek anastesi terhadap Airway Patency 1. Buka jalan nafas
paru-paru Setelah dilakukan menggunakan head
tindakan tilt chin lift atau jaw
keperawatan selama thrust bila perlu
(…). jam diharapkan 2. Posisikan pasien
mampu untuk
mempertahankan memaksimalkan
kebersihan jalan ventilasi
nafas dengan 3. Identifikasi pasien
kriteria: perlunya
1. Pernafasan dalam pemasangan alat
batas normal jalan nafas buatan
2. Irama pernafasan (NPA, OPA, ETT,
teratur Ventilator)
3. Kedalaman 4. Bersihkan secret
pernafasan dengan suction bila
normal diperlukan
4. Tidak ada 5. Auskultasi suara
akumulasi nafas, catat adanya
sputum suara tambahan
6. Kolaborasi
pemberian oksigen
7. Monitor RR dan
status oksigenasi
4. Hipotermi b.d b.d NOC : NIC :
terpapar suhu lingkungan Thermoregulation Temperatur regulation
Setelah dilakukan
1. Monitor TD,Nadi,
asuhan keperawatan
selama (….), dan RR
didapatkan kriteria 2. Monitor warna dan
hasil : suhu kulit
1. Suhu tubuh 3. Monitor tanda dan
meningkat gejala hipotermi
2. Suhu tubuh 4. Tingkatkan intake
dalam rentang cairan dan nutrisi
normal 5. Sesuaikan suhu
3. Nadi dan RR lingkungan dengan
dalam rentang kebutuhan pasien
normal 6. Gunakan matras
penghangat, handuk
hangat, dan suhu
lingkungan yang
hangat untuk
meningkatkan suhu
tubuh
7. Berikan antipiretik
jika perlu
5. Risiko perdarahan NOC NIC
ditandai dengan adanya Blood lose severity Bleeding precaution
faktor risiko insisi, Setelah diberikan 1. Monitor TD dan
pemasangan redon drain asuhan keperawatan parameter
selama (...) jam hemodinamik
diharapkan 2. Pantau keadaan
kekurangan volume balutan luka operasi
cairan dapat teratasi 3. Pantau keluaran
dengan kriteria hasil: darah pada drain
1. Tidak terjadi yang dipasang
perdarahan pada
luka yang
dioperasi
2. Balutan luka
tampak bersih
6. Risiko infeksi ditandai NIC
NOC
dengan adanya faktor Infection Control
Immune status
risiko port de entri saat 1. Pertahankan tindakan
Knowledge :
insisi steril selama
infection control
pemasangan alat
Risk control
dan/atau tindakan
Kriteria hasil
pembedahan
1. Klien bebas dari
Infection protection
tanda dan gejala
a. Monitor kerentanan
infeksi
terhadap infeksi
b. Pertahankan teknik
aspesis pada pasien
yang beresiko

Post Operatif
No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Intervensi
Kriteria Hasil
1. Nyeri akut b.d penurunan NOC NIC
efek anastesi Pain Level Analgesic
1. Melaporkan Administration
gejala nyeri 1. Tentukan lokasi,
terkontrol. karakteristik,
2. Melaporkan kualitas, dan derajat
kenyamanan fisik nyeri sebelum
dan psikologis. pemberian obat
3. Mengenali faktor 2. Cek instruksi dokter
yang tentang jenis obat,
menyebabkan dosis, dan frekuensi
nyeri. 3. Cek riwayat alergi
4. Melaporkan nyeri 4. Pilih analgesik yang
terkontrol (skala diperlukan atau
nyeri <4 dari kombinasi dari
rentang 0-10). analgesik ketika
5. Tidak pemberian lebih dari
menunjukkan satu
respon non verbal 5. Tentukan pilihan
adanya nyeri. analgesik tergantung
6. Menggunakan tipe dan beratnya
terapi analgetik nyeri
dan non analgetik 6. Tentukan analgesik
7. Tanda-tanda vital pilihan, rute
dalam batas pemberian, dan dosis
normal. optimal
7. Pilih rute pemberian
secara IV, IM untuk
pengobatan nyeri
secara teratur
8. Monitor vital sign
sebelum dan sesudah
pemberian analgesik
pertama kali
9. Berikan analgesik
tepat waktu terutama
saat nyeri hebat
10. Evaluasi efektivitas
analgesik, tanda dan
gejala (efek samping)
2. Risiko perdarahan NOC NIC
ditandai dengan adanya Blood lose severity Bleeding precaution
faktor risiko insisi, Setelah diberikan 4. Monitor TD dan
pemasangan redon drain asuhan keperawatan parameter
selama (...) jam hemodinamik
diharapkan 5. Pantau keadaan
kekurangan volume balutan luka operasi
cairan dapat teratasi 6. Pantau keluaran
dengan kriteria hasil: darah pada drain
3. Tidak terjadi yang dipasang
perdarahan pada
luka yang
dioperasi
4. Balutan luka
tampak bersih
DAFTAR PUSTAKA

Arif, Muttaqin. 2008. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem


Muskuloskeletal. Jakarta : Penerbit Buku kedokteran EGC

Galuh, A. N. 2009. Pengaruh teknik relaksasi nafas dalam terhadap


penurunan tingkat nyeri pada pasien pasca operasi fraktur
femur.

Handerson. 2007, Ilmu Bedah Untuk Perawata, Yogyakarta : Yayasan


Essentia Medica.

Parahita, Putu Sukma. 2010. Penatalaksanaan Kegawatdaruratan Pada


Cedera Fraktur Ekstremitas. Udayana Medicine Journal vol. 1(1) : pp
1-18.

Santosa, Budi. 2013. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2013-2017.


Jakarta: Prima Medika

Soeparman dkk. 2007 Ilmu Penyakit Dalam , Ed 2, Penerbit FKUI, Jakarta