Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Zoologi Invertebrata suatu cabang ilmu biologi yang memaparkan secara
khusus seluk beluk kehidupan hewan, khususnya yang tidak memiliki tulang
belakang. Zoologi Invertebrata merupakan bagian dari Biologi. Biologi
merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam, maka untuk pengembangan
Zoologi perlu menggunakan cara pemecahan ilmiah. Langkah-langkah metode
ilmiah mengobservasi, mempersoalkan, membuat hipotesis, melakukan
eksperimen, dan menyusun teori.
Sistematika invertebrata merupakan salah satu cabang mata kuliah di
Pendidikan Biologi Universitas Riau yang kajiannya mencakup hewan tidak
bertulang belakang. Kelompok invertebrata terbagi menjadi beberapa filum, yaitu
Protozoa (hewan bersel satu), Porifera (hewan berpori), Coelenterata (hewan
berongga), Platyhelminthes (cacing pipih), Aschelminthes, Annelida (cacing
gelang), Moluska (hewan lunak), Arthropoda (hewan berbuku-buku) dan
Echinodermata (hewan berkulit duri).
Invertebrata mencakup 95% spesies hewan yang telah diketahui. Hewan
hewan invertebrata menempati hampir setiap habitat di bumi, mulai dari air
mendidih yang berasal dari lubang hidrotermal laut dalam hingga ke tanah
Antartika yang berbatu dan beku.
Allah SWT telah menjelaskan dalam al-qur’an mengenai keanekaragaman
hewan-hewan laut yang di dalamnya termasuk hewan invertebrate dalam surah
An-nur ayat 41 yang berbunyi:
ْ َ‫َّللاُ َخلَقَ ُك هل دَابه ٍة ِم ْن َماءٍ ۖ فَ ِم ْن ُه ْم َم ْن يَ ْمشِي َعلَ ٰى ب‬
‫طنِ ِه َو ِم ْن ُه ْم َم ْن َي ْمشِي َعلَ ٰى ِرجْ لَي ِْن َو ِم ْن ُه ْم َم ْن يَ ْم ِشي‬ ‫َو ه‬
َ ‫َّللاَ َعلَ ٰى ُك ِل‬
‫ش ْيءٍ قَدِير‬ ‫َعلَ ٰى أ َ ْربَعٍ ۚ يَ ْخلُ ُق ه‬
‫َّللاُ َما يَشَا ُء ۚ ِإ هن ه‬
“Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian
dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan
dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah
menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas
segala sesuatu”.

1
Kata-kata dari “hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya” ini
menunjukkan bahwa Allah telah menciptakan hewan invertebrata dari filum
molusca sebagai contoh adalah hewan-hewan kelas Gastropoda. Selain untuk
membantu Mahasiswa dalam memahami hewan-hewan invertebrata dan mengenal
langsung spesies yang diamati baik itu secara morfologi ataupun anatomi serta
lebih mengenal habitat dari spesies yang diamati, yang melatarbelakangi
dilaksanakannya Praktikum Kerja Lapangan (PKL) ini adalah tidak lain dan tidak
bukan untuk mentafakkuri segala makhluk hidup ciptaan Allah SWT agar
menambah kadar keimanan manusia kepada Allah SWT sebagi salah satu ciri
manusia Ulul Albab.
Berdasarkan kondisi geografis, Negara Indonesia merupakan negara
kepulaan terbesar di dunia, hal ini disebabkan karena letak Indonesia berada di
antara samudera dan dua benua, sehingga Indonesia merupakan negara yang kaya
akan biota laut. Pantai Pulau Pasumpahan adalah pantai yang terletak di
Kecamatan Bungus Teluk Kabung Kabupaten Kota Padang Provinsi Sumatera
Barat. Pemilihan Pantai Pulau Pasumpahan, sebagai obyek PKL (Praktikum Kerja
Lapangan) bagi mahasiswa Pendidikan Biologi adalah didasarkan atas
kekayaannya akan berbagai tipe ekosistem, seperti pantai pasang-surut, dan
ekosistem terumbu karang tepi serta masih terdapat berbagi macam spesies
hewan-hewan invertebrata yang merupakan objek utama dalam observasi
Praktikum Kerja Lapangan ini.

1.2 Tujuan Praktikum


Adapun tujuan praktikum kerja lapangan (PKL) ini adalah :
1. Untuk mempelajari dan mengenal spesies-spesies yang tergolong
hewan-hewan invertebrata yang ada di Pantai Pulau Pasumpahan.
2. Untuk mengidentifikasi langsung habitat beberapa filum hewan-hewan
invertebrata.
3. Untuk mengetahui morfologi, klasifikasi dan deskripsi dari spesies-
spesies invertebrata yang ditemukan di Pantai Pulau Pasumpahan.
4. Untuk mengoleksi spesies-spesies tersebut dilaboratorium yang berguna
dalam proses pembelajaran.

2
1.3 Manfaat Praktikum
Adapun manfaat praktikum kerja lapangan (PKL) ini adalah :
1. Dapat menemukan, melihat secara langsung serta mengetahui habitat
asli dari beberapa spesies hewan invertebrata.
2. Dapat menambah koleksi spesimen di laboratorium.
3. Dapat mengetahui morfologi dari masing-masing spesies hewan
invertebrata yang ditemukan di Pantai Pulau Pasumpahan.

3
BAB II
METODE PENGAMATAN

2.1 Waktu dan Tempat


Adapun waktu dan tempat praktikum kerja lapangan (PKL) ini adalah :
Hari : Sabtu
Tanggal : 11 November 2017
Waktu : 08.00-14.00
Tempat : Pantai Pulau Pasumpahan Kecamatan Bungus Teluk Kabung
Kabupaten Kota Padang Provinsi Sumatera Barat

2.2 Alat dan Bahan


Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
 Pinset
 Sarung tangan
 Toples
 Kantong Plastik
Adapun bahan yang digunakan adalah :
 Formalin

2.3 Prosedur Pengamatan


2.3.1 Teknik Sampling
Pengamatan organisme laut di lakukan dengan menggunakan Metode Survey
pada zona intertidal (zona pasang surut) Pantai Pulau Pasumpahan Kecamatan
Bungus Teluk Kabung Kabupaten Kota Padang Provinsi Sumatera Barat.
Penetapan titik sampling dengan Purposif Random Sampling (pertimbangan dan
acak), koleksi hewan di lakukan dengan Hand Sortir (pengambilan dengan
tangan) terhadap hewan yang di temukan di zona tersebut.

4
2.3.2 Pengambilan Sampel
Adapun cara pengambilan sampel yang digunakan dalam praktikum ini
adalah :
 Alat dan bahan di siapkan terlebih dahulu
 Pengambilan sampel dilakukan dengan cara berjalan ke lokasi zona
intertidal yang telah di tentukan, dengan hati-hati secara berkelompok
dan didampingi oleh dosen dan asisten pendamping.
 Sampel di ambil menggunakan sarung tangan dan pinset.
 Kantong plastic disediakan untuk meletakkan specimen sementara
sebelum dimasukkan kedalam botol dan di beri formalin.
 Sampel yang di ambil berupa spesies-spesies yang telah di pelajari,
terkhusus pada Filum Porifera, Coelenterata, Mollusca, dan
Echinodermata
2.3.3 Parameter Pengamatan
Variabel yang di amati pada Praktikum Kerja Lapangan ini adalah jumlah
spesies. Identifikasi dan klasifikasi specimen-spesimen yang telah diperoleh di
zona intertidal (zona pasang surut) Pantai Pulau Pasumpahan adalah pantai yang
terletak di Kecamatan Bungus Teluk Kabung Kabupaten Kota Padang Provinsi
Sumatera Barat.

2.4 Analisis Data


Hasil praktikum kuliah lapangan di zona intertidal (zona pasang surut)
Pantai Pulau Pasumpahan adalah pantai yang terletak di Kecamatan Bungus Teluk
Kabung Kabupaten Kota Padang Provinsi Sumatera Barat. Diperoleh dengan
teknik hand sortir. Selanjutnya hasil dari praktikum tersebut disajikan dalam
bentuk tabel. Jumlah spesies yang telah diperoleh di Pulau Pasumpahan sebanyak
20 spesies, kemudian masing-masing spesies tersebut dianalisis secara deskriptif.

5
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Spesies yang di Temukan


Spesies-spesies yang ditemukan sebagai berikut:
No. Filum Kelas Spesies
1 Porifera Demospongia Spongia sp.
Microciona sp.
Calcarea Schypa sp.
2 Coelenterata Anthozoa Madrepora sp.
Acropora digitifera
Astaraea sp.
Heliophora sp.
Meandrina sp.
3 Echinodermata Echinoidae Clypeaster subdepressus
Holoturoidae Theyone bnaerus
Holothuria artha
Ophiuroidea Ophiothrix sp.
4 Molusca Bivalvia Unio sp.
Chione cancellata
Leukoma stamine
Gastropoda Lambis sp.
Cypraea sp.
Turbo intercostalis
Aphineura Chiton sp.
5 Arthropoda Crustacea Pagurus sp.

6
3.2 Pembahasan Hasil Pengamatan
3.2.1 Filum Porifera
A. Spongia sp.
Gambar Pengamatan Gambar Literatur

Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phyllum : Porifera
Classis : Demospongia
Ordo : Keratosa
Familia : –
Genus : Spongia
Species : Spongia sp (Jasin, 1992).

Morfologi
Spongia sp. memiliki banyak pori pada permukaan tubuhnya yang
merupakan awal dari sistem kanal (saluran air) yang menghubungkan daerah
eksternal dan daerah internal. Tubuhnya dilengkapi dengan apendiks dan bagian
yang dapat digerakkan . Bentuk tubuh menyerupai batang dengan ada beberapa
cabang yang bentuknya lebih kecil dari batang utamanya. Warna tubuhnya putih
keruh coklat . Hewan ini memiliki spikula yang bersifat monoaxon dan dengan
serabut spongia. Pada ujung cabangnya terdapat oskulum dan di daerah badannya
terdapat ostium.

7
Anatomi
Dinding tubuh hewan ini tersusun atas 2 lapis yaitu lapis luar yang disebut
lapisan epidermis atau ephitelium dermal. Lapisan dalam yang terdiri dari jajaran
sel-sel leher yang disebut soanosit yang berbentuk botol tidak memiliki flagellum.
Ditemukan sistem saluran air yang di mulai dari pori-pori atau porosofil dan
diakhiri pada lubang keluar utama. Hewan ini mempunyai ruang gastral atau
ruang sentral yang berfungsi sebagai kloaka. Ruang itu dikelilingi oleh dinding
yang ditembus oleh sejumlah saluran yang tersusun majemuk.

Pencernaan
Spongia sp adalah pemakan suspensi yang juga dikenal makan dengan cara
menyaring ( filter feeder ). Ia memperoleh makanan dalam bentuk partikel organik
renik, hidup atau tidak, seperti bakteri, mikroalga dan detritus, yang masuk
melalui pori-pori arus masuk yang terbuka dalam air, dan dibawa kedalam rongga
lambung atau ruang-ruang bercambuk ( Flagella ) di choanocyt. Oleh karena
gerakan flagella dari choanocyt-choanocyt, air mengalir melalui ostia kedalam
paragaster. Dapatlah dikatakan bahwa air disaring melalui ostia tersebut
( Stanford, 1951 ). Menurut Radiopoetra (1988), paragester adalah suatu rongga
didalam tubuh porifera dimana air dapat masuk kedalamnya, yang kemudian
mengalir keluar melalui osculum.
Air ini melalui lubang di dalam porocyt. Lubang ini menutup, bila myocyt
yang mengelilingi porocyt mengkerut. Myocyt ini ialah cel-cel otot. Ikut dengan
air itu, ialah benda-benda organik dan jasad-jasad yang kecil. Pada ketika benda-
benda organik dan jasad-jasad kecil ini dialirkan lewat collare dari choanocyt,
mereka terlekat pada collare tersebut. Koanosit juga memakan partikel makanan,
baik disebelah maupun didalam sel leher . Oleh karena gerakan proto plasma dari
collare, mereka diangkut ke pangkal collare pada dataran cel. Disini mereka
dimasukkan kedalam suatu vacuola. Didalam vacuola itu mereka dicerna. Dengan
demikian pada porifera ada pencernaan intra celluler. Kemudian makanan
diberikan kepada amebocyt-amebocyt. Juga di dalam ameobocyt dilakukan
pencernaan. Makanan yang telah dicerna disimpan didalam ameobocyt sebagai
lemak, karbohidrat dan protein. Ameobocyt-ameobocyt mengangkut makanan ke
sel - sel lain. Mereka bergerak di dalam subtansi gelatin. ( Radiopoetra, 1988 ).

8
Spongia sp hanya melakukan pergerakan atau perputaran air dalam tubuhnya
untuk melakukan pencernaan dan ekskresi, dia tidak mempunyai mulut, rongga
pencernaan dan sistem ekskresi seperti yang terdapat pada hewan tingkat tinggi.
Sisa makanan yang tidak dicerna dibuang keluar dari dalam sel leher.
Makanan itu dipindahkan dari satu sel ke sel lain dan barang kali diedarkan dalam
batas tertentu oleh sel-sel amoeba yang berkeliaran di lapisan tengah. Penting bagi
sepon untuk hidup dalam air bersikulasi, karennya kita temukan hewan ini
didalam air jernih, bukannya air keruh. Karena arus air yang lewat melalui sepon
membawa serta zat buangan dari tubuh sepon, maka penting agar air yang keluar
melalui oskulum dibuang jauh dari badannya, karena air ini tidak berisi makanan
lagi, tetapi mengandung asam karbon dan sampah nitrogen yang beracun bagi
hewan tersebut. ( Kasijan, R dan Sri, J,. 2009 )
Pada type leuconoid, saluran – saluran masuk, langsung bermuara ke
paragaster. Tetapi kira – kira ditengah saluran-saluran tersebut melebar, lipatan
sebelah dalam menghasilkan sejumlah besar kantung yang dilapisi choanocyte
yang disebut flagellated canal yang kemudian melipat lagi membentuk rongga
kecil berflagella yang disebut flagellated chamber atau choanosyte chamber.
Spongocoel menghilang dan digantikan oleh saluran – saluran kecil menuju
oskulum. Sehingga arus aliran air pada Spongia sp yang memiliki sistem cana
leuconoid adalah : Ostia Subdermal pores incurrent canals prosopyle flagellated
chambers apopyle excurrent canals larger channels osculum

Habitat
Hewan ini hidup di air laut dan air tawar.

9
B. Microciona sp.
Gambar Pengamatan Gambar Literatur

Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Porifera
Class :Demospongia
Ordo : Monoxonida
Family :Desnacidonidae
Genus : Microciona
Spesies : Microciona sp.

Morfologi
Microciona sp. mempunyai bentuk tubuh silinder yang pendek, Tubuhnya
terbuat dari bahan kristal zat kapur, memiliki pori yang berukuran sangat kecil
kecil. Hidupnya secara berkoloni.Microciona termasuk koloni laut yang banyak
ditemukan dilaut. Berbentuk seperti batu kerang dan mengeras dalam tempat
yang dangkal atau bagian air laut yang dalam. Hewan ini memiliki tubuh lunak
dan lembek, bercabang seperti ranting, didalam air berkembang dan bertambah
panjang hingga 15 cm, tidak mempunyai rangka, walaupun ada yang mempunyai
rangka, rangka itu hanya terdiri dari serabut-serabut spongin dengan spikula dari
kersik, serta memiliki sistem saluran yang rumit. Ciri-ciri yang dapat dikenali
dari hewan ini adalah Mempunyai kerangka tubuh yang tersusun atas berbagai
bentuk spikula dan kadang-kadang juga spongin. Dan bentuk bersemak-semak
dengan cabang yang panjang. Hidupnya berkoloni di air yang dalam warnanya
merah cerah.Spesies ini merupakan jenis spesies yang ketiga dari phylum Porifera

10
termasuk koloni laut yang berbentuk seperti batu karang dan mengeras pada
tempat yang dangkal atau bagian air laut yang dalam.

Anatomi
Kelompok Porifera ini belum mempunyai sistem saraf, tetapi apabila
mendapatkan rangsang yang berupa sentuhan, terutama pada daerah oskulum,
maka rangsang tersebut akan diteruskan dari sel ke sel secara lambat. Tetapi untuk
sistem pencernaannya masih sangat sederhana dan berlangsung secara intrasel,
gerakannya seperti pada aliran air, air yang membawa makanan biasanya berupa
plankton dan oksigen yang terlarut. Makanan tersebut ditangkap oleh sel leher
kemudian dicerna dalam vakuola dan sari-sarinya akan diangkut oleh sel-sel
amoebosit dan diedarkan ke seluruh tubuh, sedangkan sisa makanannya
dikeluarkan melalui sel leher ke dalam air melalui spongosol.

Reproduksi
Yaitu secara seksual dan aseksual. Sistem reproduksi secara seksual terjadi
ketika spermatosit berkembang dari perkembangan yang terjadi pada koanosit,
dan kemudian oasit mulai muncul dari archeocytes. Pembelahan sel telurnya
terletak pada mesohil dan kemudian membentuk larva. Larva tersebut berukuran
besar dan memiliki flagellata yang kecil. Kemudian larva yang dihasilkan dari
pembuahan tersebut berenang dan masuk ke dalam kanal pada rongga pusat.
Kemudian dikeluarkan oleh arus yang disebut exhalat.
Sementara itu pada sistem reproduksi aseksual terjadi dengan adanya tunas-
tunas baru. Tunas tersebut melakukan diferensiasi dan berubah menjadi sponge
kecil kemudian sponge keluar melalui lobang socula.

Habitat
Bertempat tinggal di laut. Tepatnya adalah di daerah intertidal pada zona
abyssal.

11
C. Scypha sp

Gambar Pengamatan Gambar Literatur

Klasifikasi
Filum : Porifera
Kelas : Calcarea
Ordo : Heterocoela
Famili : Sycetidae
Genus : Schypa
Spesies : Scyhpa sp
(Hegner,1968)

Deskripsi
Spikula terbuat dari bahan calsium carbonat (CaCO3), Bentuk tubuh
sederhana.Memiliki tipe saluran air yang agak kompleks. Terdapat 2 macam
saluran horizontal,yaitu saluran incurrent dan saluran radial. Tetapi hanya saluran
radial yang dibatasi oleh sel-sel choanocyt. Hidup di pantai yang dangkal dan
melekat pada substrat

12
3.2.2 Filum Coelentarata
A. Madrepora sp.
Gambar pengamatan Gambar Literatur

Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Coelenterata
Classis : Anthozoa
Ordo : Madreporaria
Family : Madreporidae
Genus : Madrepora
Species : Madrepora sp.
(Sumber: P.S. Verma. 2002)

Morfologi
Madrepora sp. biasanya dikenal dengan nama karang tanduk,
koloninyamempunyai cabang dengan polip kecil. Bentuk tubuhnya ada yang
seperti duri ada pula yang tidak. Tubuhnya adalah polip yang melekat pada suatu
substrat melalui cakram oral dan memiliki rongga-rongga karena merupakan salah
satu kelas anthozoa.

Anatomi
Bagian pusat polip mempunyai tentakel sebanyak enam buah. Bagian
sampingnya mempunyai tentakel sebanyak 12 buah. Mempunyai nilai ekonomi
yang sangat penting karena merupakanbagian dari karang laut yang sangat
dilindungi.

13
Reproduksi
Reproduksi secara aseksual dan seksual.

Habitat
Di laut, umumya hidup di tempat yang dangkal dengan berkoloni

B. Acropora digitifera
Gambar pengamatan Gambar Literatur

Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Cnidaria
Classis : Anthozoa
Ordo : Scleractinia
Family : Acroporidae
Genus : Acropora
Species qq: Acropora digitifera
(Sumber : Dana, 1846)

Morfologi
Memiliki cabang sudut atau tegak lurus. Memiliki diameter hingga 1 meter
(39 in). Cabangnya yang tipis mengandung corallites aksial panjang yang
berbentuk tabung, dan corallites radial berbentuk tabung atau berbentuk saku dan
kecil.

14
Anatomi
Karang Acropora adalah koloni polip individu, yang sekitar 2 mm dan
jaringan berbagi dan jaringan saraf. Polip biasanya meluas di malam hari untuk
membantu menangkap plankton dan bahan organik dari air.

Habitat
Di laut, umumya hidup di tempat yang dangkal dengan berkoloni

Reproduksi
Reproduksi secara seksual dan aseksual

C. Astraea sp.
Gambar pengamatan Gambar Literatur

Klasifikasi
Kingdom: Animalia
Filum: Coelenterata
Kelas: Anthozoa
Ordo: Madreporia
Famili: Astridae
Genu: Astraea
Spesies: Astraea sp. (P.S.Verma, 2002)

15
Morfologi
Memiliki sekat. Simetris radial. Mempunyai ekskleton kompak berbadan batu
kapur dan polip kecil. Mempunyai bagian yang berbentuk piala skeleton.
Berongga besar.

Anatomi
Belum memiliki alat pernafasan, sirkulasi maupun ekskresi yang khusus.
Memiliki gastrovaseculer yang dimulai dengan mulut, mulut dihubungkan dengan
colenteron oleh suatu saluran yang berbentuk seperti tabung yang disebut
stomodeum. Dinding rongga anteron mengadakan pelipatan secara konsentris
yang biasa (septa).

Fisiologi
Terdiri dari sistem reproduksi dimana Spermatozoa pada jantan dipancarkan
masuk kedalam air lalu berenang – renang mencari tubuh betina. Dalam hal
pernapasan baik pemasukan O2 maupun keluar Co2 berlangsumg secara difusi
osmosis secara langsung melalui semua permukaan tubunya. Dalam proses
pencernaan yaitu dilakukan secara ekstraseluler dan intraseluler.

Reproduksi
Reproduksi secara aseksual dilakukan dengan cara bertunas.

Habitat
Habitatnya di air laut dan melekat pada Substrat.

Manfaat dan Kerugian


Dapat membentuk karang pantai, sebagai hiasan. Komponen utama
pembentuk ekosistem terumbu karang. Kerugiannya akan menyebabkan luka jika
terinjak.

16
D. Heliopora sp.
Gambar Asli Gambar Literatur

Klasifikasi :
Filum : Cnidaria
Kelas : Anthozoa
Ordo : Helioporacea
Famili : Helioporidae
Genus : Heliopora
Spesies : Heliopora sp
(Hegner,1968)

Deskripsi
Hidup berkoloni, Koloninya memperlihatkan kemiripan dengan koloni yang
berada di perairan dalam , bagian cabang memiliki polip transparan Umumnya
berwarna kebiruan. Tersebar di perairan indonesia dan australia.
Karang biru adalah satu-satunya Octocoral yang masih ada dengan kerangka
besar, yang tersusun dari aragonit fibrokristalin (kalsium karbonat). Ini adalah
spesies zooxanthellaete hermatypic dengan polip abu-abu biru atau abu-abu yang
berada di dalam kerangkanya, yang masing-masing berisi delapan tentakel.
Koloninya adalah kolumnar, piring atau bercabang. Ini adalah spesies toleran dan
digunakan dalam akuarium laut.

17
E. Scypha sp.

Gambar Asli Gambar Literatur

Klasifikasi
Filum : Porifera
Kelas : Calcarea
Ordo : Heterocoela
Famili : Sycetidae
Genus : Schypa
Spesies : Scyhpa sp
(Hegner,1968)

Deskripsi
Spikula terbuat dari bahan calsium carbonat (CaCO3), Bentuk tubuh
sederhana.Memiliki tipe saluran air yang agak kompleks. Terdapat 2 macam
saluran horizontal,yaitu saluran incurrent dan saluran radial. Tetapi hanya saluran
radial yang dibatasi oleh sel-sel choanocyt. Hidup di pantai yang dangkal dan
melekat pada substrat.

18
F. Meandrina sp.

Gambar Asli Gambar Literatur

Klasifikasi
Filum : Coloentrata
Kelas : Anthozoa
Ordo : Madreporaria
Famili : Meandrinidae
Genus : Meandrina
Spesies : Meandrina sp
Sumber : (Hegner,1968)

Deskripsi
Hidup berkoloni, bentuknya beralur-alur seperti otak, sehingga disebut koral
otak. Warnanya cream, kehijauan atau coklat, tentakel dapat dilihat siang hari.
Koloni terdiri dari beberapa kumpulan beberapa generasi polip yang membentuk
kerangka dari bahan kapur.

19
3.2.3 Filum Echinodermata
A. Clypaster subdepressus
Gambar pengamatan Gambar Literatur

Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Echinodermata
Class : Echinoidea
Orde : Clypeasterina
Suborder : Clypeasterina
Family : Clypasteridae
Gennus : Clypeaster
Spesie : Clypaster subdepressus
(Lamarck, 1801)

Morfologi
Tubuh dolar pasir berdiameter sekitar 5-10 cm. Tubuhnya memiliki lapisan
berduri. Lapisan duri itu berfungsi menggali lubang di pasir dan merayap di
dalamnya. Lapisan itu mirip kain beludru. Biasanya, berwarna ungu, ada juga
yang berwarna hijau, biru, dan cokelat. Warnanya tergantung spesies atau
jenisnya. Begitu sudah mati, ia terbawa arus hingga ke pantai, lalu memutih akibat
sinar matahari. Lapisan berdurinya memiliki silia, yaitu rambut-rambut kecil. Silia

20
berfungsi untuk mengarahkan makanan ke mulutnya. Mulutnya terletak di bagian
tengah bawah tubuhnya.
Anatomi
Badan berbentuk sebagai bintang dan terdiri atas : Satu discus sentralis dan
Lima radii. Dataran yang biasanya disebelah bawah, dimana ditengah-tengah
discus, terdapat mulut atau actinostoma, ialah dataran oral. Dataran yang
disebelah atas disebut aboral. Skeleton terdiri atas laminae yang tersusun rapat.
Laminae ini disebut juga ossicula. Mereka terletak diantara dua lapisan jaringan
pengikat daidalam dinding badan. Diantara isscula terdapat serabut-serabut otot.
Diantara mereka juga terdapat pori kecil yaitu pori dermal. Pada dataran aboral,
pada ossicula berpangkal spinae. Diantara spinae tersebut ada yang dapat
digerakkan.Pada dataran oral satu radius ada sulcus ambulacralis. Sulcus
ambulacralis ini dibentuk oleh dua baris ossicula amburaclis. Satu ossiculum dari
satu baris bersendi dengan satu ossulum dari baris yang lain sehingga besarnya
sudut yang dibentuk oleh kedua ossicula itu dapat berubah.

Fisiologi
Hidup berkelompok di dasar laut. Menyembunyikan diri untuk makan dan
dari predator serta arus yang kuat.

Reproduksi
Bereproduksi dengan cara fertilisasi eksternal dan bersifat hermafrodit.

Habitat
Daerah intertidal yang bersubstrat pasir dengan arus dan gelombang yang
relatif tenang.

Makanan
Makanannya adalah rumput laut, hewan yang telah mati, biasanya
nocturnal.

21
B. Thyone briareus
Gambar Pengamatan Gambar Literatur

Klasifikasi
Kingdom: Animalia
Filum: Echinodermata
Kelas: Holoturoidea
Ordo: Dendrochirota
Family: Thyonedae
Genus: Thyone
Spesies: Thyone briareus (Jasin, 1984)

Morfologi
Bentuk tubuh bulat panjang (Elongated cylindrical) sepanjang sumbu oral–
aboral. Mempunyai panjang maksimal 40 cm dan bobot saat kondisi hidup adalah
500 g, serta matang gonad saat usia 18 bulan. Ukuran saat matang gonad pertama
diperkirakan 20 cm, dan usia teripang bisa mencapai 10 tahun. Mulut dan anus
terletak di ujung poros berlawanan, yaitu mulut di anterior dan anus di posterior.
Di sekitar mulut teripang terdapat tentakel yang dapat dijulurkan dan ditarik
dengan cepat. Tentakel merupakan modifikasi kaki tabung yang berfungsi untuk
menangkap pakan. Tentakel berfungsi sebagai alat gerak, merasa, memeriksa dan
alat penagkap mangsa. Warna teripang berbeda–beda, yaitu putih, hitam, coklat
kehijauan, kuning, abu–abu, jingga, ungu, bahkan ada yang berpola garis.

22
(Purwati, 2005). Permukaan tubuh teripang tidak bersilia dan diselimuti lapisan
kapur, yang ketebalannya dipengaruhi umur. Dari mulut membujur ke anus
terdapat lima deret kaki tabung (ambulaceral), tiga deret kaki tabung berpenghisap
(trivium) terdapat 8 di perut berperan dalam pergerakan dan perlekatan. Dua deret
kaki tabung terdapat di punggung (bivium) sebagai alat respirasi. Di bawah
lapisan kulit terdapat satu lapis otot melingkar dan lima lapis otot memanjang. Di
bawah lapisan otot terdapat rongga tubuh yang berisi organ tubuh seperti gonad
dan usus. (Darsono, 2003). Pergerakan teripang hanya mengandalkan bantuan
kaki tabung yang tergabung dalam sistem kaki ambulakral sehingga hampir
seluruh hidupnya selalu bergerak di dasar laut. Secara alami teripang hidup
berkelompok. (Darsono, 2003).

Anatomi
Stomach/perut berfungsi sebagai alat pencernaan. Gonad kelenjar kelamin
yang berfungsi sebagai penghasil hormon kelamin. Saluran kelamin Berfungsi
sebagai saluran menuju gonad. Madreporit Lempeng tali lapisan pada ujung
saluran air. Esofagus saluran di belakang rongga mulut berfungsi menghubungkan
rongga mulut dan lambung. Dorsal mesentery berfungsi sebagai pembungkus
usus dan menggantungnya ke dinding tubuh pinggang. Anus mengeluarkan sisa
metabolisme pada teripang. Cloaca sebagai alat pencernaan. Intestin sebagai alat
pencernaan yang letaknya di antara pilorus hingga usus. (Apriyani, 2009).

Fisiologi
Teripang bersifat nocturnal, dimana mereka aktif mencari makan pada
malam hari dan menyembunyikan diri pada siang hari.

Reproduksi
Teripang termasuk hewan Dioecious atau dengan alat kelamin berumah dua,
sehingga alat kelamin jantan dan betina terletak pada individu yang berlainan.

Habitat
Teripang biasanya hidup membenamkan diri dalam pasir dan hanya
menampakkan tentakelnya (Darsono, 2002). Teripang komersil biasanya hidup
pada substrat pasir, substrst keras, substrat karang dan substrat lumpur.

23
C. Holothuria scabra
Gambar pengamatan Gambar Literatur

Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Echinodermata
Kelas : Holothuridea
Ordo : Aspidochirotida
Famili : Aspidochirota
Genus : Holothuria
Spesies : Holothuria scabra

Morfologi
Tubuh teripang umumnya berbentuk bulat panjang atau silindris sekitar 10-
30 cm, dengan mulut pada salah satu ujungnya dan anus pada ujung lainnya.
Mulut teripang dikelilingi oleh tentakel atau lengan peraba yang
kadangbercabang-cabang. Tubuhnya berotot, sedangkan kulitnya dapat halus atau
berbintil.

Anatomi
Berdasarkan kedudukan mulut dan anus, tubuh teripang dibagi menjadi dua
yaitu anterior dan posterior. Sekeliling mulut terdapat 10-30 tantakel yang dapat
dijulurkan dan ditarik kembali karena adanya kontraksi otot refraktor tantakel dan
refraktor mulut (Fechter, 1974). Tantakel ini berguna untuk mengambil makanan,
yaitu detritus dan plankton yang berada di sekitarnya (Barnes, 1963).

24
Tubuh teripang yang bulat memanjang dengan garis oral sebagai sumbu
yang menghubungkan anterior dan posterior, sepintas tidak diduga bahwa
kelompok ini termasuk filum binatang berkulit duri karena penampakannya tidak
demikian, duri-duri terisebut merupakan butir-butir kapur mikroskopik yang
terletak tersebar di dalam lapisan dermis (Hyman, 1995).
Teripang termasuk jenis hewan diocius. Artinya hewan yang berkelamin
jantan terpisah dengan yang berkelamin betina. Untuk membedakan jenis kelamin
tersebut secara morfologis sangat sulit sekali dan harus dilakukan pembedaan
gonad untuk diambil organ kelamin (Martoyo dkk., 2007). Alat kelamin atau
reproduksi teletak pada bagian mulut atau sebelah dorsal anterior yang berbentuk
tubulus memanjang sifatnya diocious (Notowinarto, 1994).
Menurut Johnson et al., (1977), teripang memiliki dua macam sistem
pernafasan, yaitu pernafasan berbentuk saluran yang bercabang-cabang seperti
pohon sehingga dikenal dengan nama pohon pernapasan (respiratory tree) yang
berfungsi menghisap oksigen dan menyalurkan ke darah, dan pernapasan
berbentuk kaki tabung (teube feet) yang terletak di dinding tubuh berfungsi
mengisap oksigen yang terlarut dalam air

Pencernaan
Kebanyakan teripang bersifat nokturnal yaitu aktif mencari makan pada
malam hari dan menyembunyikan diri pada siang hari. Proses makan
meliputipergerakan secara random untuk mencari makan dan memakannya secara
simultan sesuai dengan kelimpahan dan keberadaan detritus. Sebagai oprganisme
yang bisa bergerak dengan lambat, teripang ini sangat tergantung dengan
ketersediaan pakan di substrat. Kebanyakan suplai makanan adalah bentik dan
berada di bawah tubuh teripang dari pada di kolom air. Hal ini tampak pada
bentuk tubuhnya di mana mulut terletak di bagian ventral.

Reproduksi
Teripang hidup di alam terdiri atas dua periode yaitu sebagai planktonik dan bentik,
planktonik hidup melayang-layang di air, pada masa larva yaitu stadia aurikularia hingga diolaria,
sedangkan sebagai bentik hidup melekat pada substrat atau benda lain yakni pada stadia
penctactula hingga menjadi teripang dewasa.

25
Teripang umumnya memijah pada perairan di sekitar lingkungan tempat hidupnyapada
daerah sub tropis, hampir setiap spesies mempunyai waktu memijah tertentu,biasanya terjadi 1
atau 2 bulan setiap tahunnya, sedangkan di daerah tropis tidak mempunyai waktu atau musim
pemijahan tertentu, jadi spesies-spesies di daerah tropis memijah sepanjang tahun (Bakus 1973).
Walaupun teripang yang ada di daerah tropis memijah sepanjang tahun, akan tetapi ada
puncak pemijahan yang hanya terjadi beberapa bulan dalam setahun.
Contohnya, Holthuria scabra yang di daratkan pada di Pulau Saugi, Kepulauan Spermonde,
Sulawesi Selatan, memiliki puncak pemijahan dua kali dalam setahun yaknipada bulan
Desember - Januari dan Mei sampai Juni (Jayadi dan Tuwo 1996), Maret dan Nopember
untuk Holthuria scabra yang hidup di perairan lampung. (Darsonoet al.1995).

D. Ophiothrix sp

Gambar Asli Gambar Literatur

Klasifikasi
Filum : Enchinodermata
Kelas : Ophiuroidea
Ordo : Ophiurae
Famili : Ophiothricidae
Genus : Ophiothrix
Spesies : Ophiothrix sp
(Hegner,1968)

26
Deskripsi
Ciri - ciri dari Ophiothrix sp. yaitu berawarna hitam, memiliki 5 lengan
yang panjang dan beruas-ruas yang berpusat ditengah. Semua organ penting ada
dibagian tengah. Mulut berada ditengah sekaligus berfungsi sebagai organ
eksresi. Ukuran rata-rata hingga 150 mm.
Bintang getar yang umum sangat bervariasi dalam warna, mulai dari ungu,
ungu atau merah sampai abu-abu kekuningan atau abu-abu pucat, sering terlihat
berwarna merah. Lengannya biasanya putih atau abu-abu dengan pita merah
muda. Cakram sentral berdiameter sekitar satu sentimeter dengan lima lengan
berukuran sekitar lima kali lebih panjang. Cakram itu berpakaian dalam lima sinar
dari duri yang memancar dari pusat yang berduri. Antara ini ada lima pasang pelat
segitiga, masing-masing pasangan membentuk pola berbentuk hati. Lengan
meruncing yang ramping cukup berbeda dari cakram dan ditutupi dengan sisik
yang tumpang tindih. Pelat lengan dorsal telanjang dan memiliki lunas
memanjang. Setiap segmen lengan beruang tujuh duri berotot. Lengannya sangat
rapuh dan mudah ditumpahkan, terlepas baik utuh maupun utuh.

3.2.4 Filum Molluska


A. Cypraea sp.
Gambar Pengamatan Gambar Literatur

Klasifikasi
Kingdom: Animalia.
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Ordo : Mesogastropoda

27
Familia : Cypraeidae
Genus : Cyprea
Spesies : Cypraea sp.

Morfologi
Memiliki 4 bagian tubuh utama yaitu kepala, kaki, isi perut, mantel. Kepala
terdapat 2 mata, dua mata tentakel, sebuah mulut, dan sebuah sipon. Mantel
merupakan bentuk struktur cangkang termasuk corak dan warna. Cangkang nya
dari kelas gastropoda secara umum berbentuk spiral dan bulat. Sturuktur
cangkang berbentuk agar kasar dibagian luar, dinamakan prismatic. Panjang
cangkang kira-kira 5-15 mm. Bentuk cangkang seperti telur dengan aparature
memanjang dan sempit. Memiliki gigi radula.

Anatomi
Memiliki 2 tentakel. Insang dalam rongga mantel anterior jantung. Memiliki
satu lubang.

Reproduksi
Alat reproduksi jantan dan betina yang bergabung merupakan hewan
hemaprodit.

Habitat
Hidup di laut. Pergerakannya lambat dan kebanyakan berpindah-pindah. Di
temukan di balik koral atau karang yang telah mati.

B. Unio sp.

Gambar Pengamatan Gambar Literatur

28
Klasifikasi
Kingdom: Animalia
Phylum: Mollusca
Class: Bivalvia
Order: Unionoida
Family: Unionidae
Genus: Unio
Spesies: Unio sp.
(Philipsson,1788)

Morfologi
Memiliki dua cangkang yang sama besar yang tersusun atas zat kapur.
Tubuhnya berbentuk simetris bilateral dan tidak memiliki kepala. Kaki berbentuk
kapak. Terdapat satu atau dua otot adductor. Disisi mulut terdapat palpus labial.
Mantel berbentuk sifon. sistem reproduksinya sudah terpisah.

Anatomi
Bernafas dengan insang yang berlapis-lapis. Jantung terdiri atas sepasang
bilik dengan peredaran terbuka. Terdapat alat keseimbangan (statokis) didekat
ganglion pedal. Sistem pencernaan dimulai dari mulut melalui sifon ventral,
kerongkongan, lambung, usus dan bermuara di anus. Sistem saraf terdiri dari
ganglion anterior (dekat lambung), ganglion pedal di kaki dan ganglion posterior
disebelah bawah otot adductor. Anus terdapat di saluran yang sama disaluran
keluarnya air.

Fisiologi
Saat berpindah tempat, terjadi pergerakan membuka dan menutup cangkang
secara cepat. Kerang mencari makan dengan menyaring plankton atau organisme
mikroskopis lainnya ( Filter Feeder).

Reproduksi
Reproduksi secara seksual. Memiliki kelamin pisah atau berumah dua.

29
Habitat
Ditemukan hampir di semua perairan, pada kedalaman yang bervariasi.

Manfaat
Sebagai sumber protein hewani.

C. Lambis sp.
Gambar Pengamatan Gambar Literatur

Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Family : Strombidae
Genus : Lambis
Spesies : Lambis sp.
(Jasin, 1992)

Morfologi
Hewan ini bertubuh lunak pada dasarnya bersifat bilateral simetris, dan
terbungkus dalam rumah berkapur yang berasal dari sekretnya sendiri. Memiliki
kaki untuk merayap. Bentuk kepala jelas, dengan tentakel dan mata. Memiliki
rumah cangkang berbentuk kumparan. Pada bibir mulut cangkangnya terdapat
tonjolan-tonjolan panjang meruncing, sebanyak 6-10 buah. Pada usia muda,
tonjolan-tonjolannya belum ada. Warna cangkangnya biasanya kuning
kecokelatan dengan dihiasi lurik-lurik cokelat. Sekitar mulut cangkang dilapisi

30
warna merah, jingga, cokelat muda, mengkilat seperti porselin. Panjang cangkang
berukuran antara 150-250 mm.

Anatomi
Dalam ruang bukal(pipi) terdapat radula(pipi bergigi). Pernapasannya
dengan insang, paru-paru atau keduanya. Sistem pencernaaan dimulai dari mulut
terus ke faring yang berotot. Pada bagian dorsal faring terdapat sebuah rahang
dibagian ventral terdapat radula. Dari faring lalu ke esofagus, kemudian ke
tembolok tipis(crop), lambung, usus halus yang berkelok-kelok dan berakhir pada
anus. Disebelah kanan dan kiri tembolok tipis terdapat kelenjar lidah yang
menuangkan ludah dalam faring. Terdapat sebuah hati dibagian atas dan
berhubungan dengan lambung.

Fisiologi
Lambis dikelompokkan berdasarkan bentuk atau jumlah tonjolan yang
dimiliki. Tonjolan yang sering disebut proyeksi circumapertural (CAPS), bentuk
seperti jari itu berasal dari tepi aperture. Jumlah CAPS ditunjukkan oleh sembilan
spesies yang saat ini diklasifikasikan sebagai Lambis berkisar antara 5 sampai 11.
Fungsi dari CAPS itu antara lain, untuk bertahan atau melindungi diri
dari predator atau pemangsa. Selain itu, CAPS yang berbeda-beda yang tumbuh
karena cara hidup itu juga berfungsi sebagai penyaluran stress pada tedong-
tedong. Stress tersebut merupakan reaksi tedong-tedong ketika menghadapi
predator. Studi tentang evolusi dari tedong-tedong mengungkapkan bahwa
klasifikasi saat ini tidak dapat dipertahankan. Jumlah CAPS di antara 12 spesies
dalam kelompok monofiletik disimpulkan telah bervariasi selama evolusi,
umumnya (dan yang terbaru) menurun. Jika CAPS telah berevolusi dalam
perlombaan senjata meningkat, perubahan jumlah CAPS (dan resistensi terhadap
predasi yang mereka memberi) dan perubahan kemampuan menghancurkan
predator pada cladograms independen yang berasal harus berkorelasi.

Reproduksi
Alat reproduksinya terpisah atau hermafrodit.

31
Habitat
Hewan ini banyak ditemukan di perairan laut yang kedalamannya mencapai
50 meter dari dasar laut.

D. Turbo intercostalis
Gambar Asli Gambar Literatur

Klasifikasi
Filum : Mollusca
Kelas : Gastropoda
Ordo : Vetigastropoda
Famili : Turbinidae
Genus : Turbo
Spesies : Turbo intercostalis
(Hegner,1968)

Deskripsi
Panjang shell bervariasi antara 25 mm dan 80 mm. Shell memiliki bentuk
bulat telur-kerucut. Pola warnanya hijau atau abu-abu, radiately flammulated
dengan hitam, hijau atau coklat, kadang-kadang unicolored. Keenam uliran yang
cembung dan kadang-kadang subangulate atas. Dasar dari shell bulat. kolumela
yang digali di umbilikus. Operkulum melingkar berisi lima uliran. Permukaan
luarnya adalah granulosa, hijau atau berwarna kuning langsat di pusatnya,
kekuningan pada margin.

32
E. Chiton sp
Gambar Asli Gambar Literatur

Klasifikasi
Filum : Mollusca
Kelas : Amphineura
Ordo : Polyplacophora
Famili : Chitondae
Genus : Chiton
Spesies : Chiton sp
Sumber : (Hegner,1968)

Deskripsi
Bentuk tubuh elips, bagian dorsal dilindungi 8 lembar kapur yang pipih dan
tersusun seperti genting, di kelilingi oleh girdle (gelang) yang tebal Kaki berotot,
diantara kaki dan mantel di permukaan ventral ada alur yang dangkal di sebut alur
pallial dan pada alur itu terdapat 6-80 pasang insang yang panjang. Bagian
mereduksi tidak punya mata dan tentakel. Dalam mulut punya alat untuk memarut
disebut radula dengan deretan gigi yang banyak. Jantung terletak disporior, terdiri
dua atrium dan satu ventrikel. Ekskresi: nephridia Beberapa chiton punya titik
yang kecil/mata di dalam epidermis pada lembaran. Jenis kelamin terpisah,
telurnya banyak, fertilisasi eksternal.

33
F. Chione cancellata

Gambar Asli Gambar Literatur

Klasifikasi
Filum : Mollusca
Kelas : Bivalvia
Ordo : Veneroida
Famili : Veneridae
Genus : Chione
Spesies : Chione cancellata
Sumber : (Linnaeus,1767)

Deskripsi
Memiliki cangkang segitiga bulat dengan kedua punggungan konsentris
kuat dan rangsangan radial yang kuat, yang bersama-sama membentuk pola silang
pegunungan silang yang terangkat
Bagian dalam cangkang memiliki crenulations pada tepi bawahnya, dan
seperti kebanyakan Veneridae, gigi sulingan dan kardinal yang berkembang
dengan baik pada garis engsel.
Spesies ini biasanya hidup di dasar suara berpasir dan perairan lepas pantai
dangkal, dan kerang biasanya ditemukan hanyut di darat di pantai suara dan laut.

34
G. Leukoma stamine
Gambar Asli Gambar Literatur

Klasifikasi
Filum : Molusca
Kelas : Bivalvia / Pelecypoda
Subkelas : Orthogastropoda
Ordo : Lamellibranchia
Famili :-
Genus : Leukoma
Spesies : Leukoma staminea
Sumber : (Hegner,1968)

Deskripisi
Memiliki shell dari porselen (kapur). Umbo berada lebih dekat ke pusat
shell dari pada ujung anterior. Cangkang berbentuk oval, berwarna keputihan
dalam dan memiliki deretan gigi yang sangat kecil. Memiliki otot adduktor ukuran
yang sama

35
3.2.5 Filum Arthropoda
A. Pagurus sp.
Gambar Asli Gambar Literatur

Klasifikasi :
Filum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Sub Kelas : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Famili : Paguridae
Genus : Pagurus
Spesies : Pagurus sp
(Hegner,1968)

Deskripsi
Kebanyakan spesies umang-umang memiliki abdomen (perut) yang panjang
dan bergelung bagai spiral serta lunak lembut. Beberapa spesies umang-umang
tidak menggunakan rumah yang dapat digendong kemana-mana tetapi menghuni
struktur tidak bergerak yang ditinggalkan oleh cacing Polychaeta, gastropoda
vermetid (siput cacaing). Hewan ini bereproduksi dengan cara bertelur Darah dari
jantung dipompakan ke seluruh tubuh lewat arteri yang terdiri dari 3 cabang
utama: ke anerior, ke posterior, dan ke abdomen atau ventral. Arteri tidak
memiliki vena yang menampung darah itu kembali ke jantung. Sesudah melalui
arteri darah sekarang tumpah ke jaringan, melalui celah-celah yang disebut lacuna
(jamak=lacunae) atau haemocoel. Hewan ini di temukan di daerah berbatu dan

36
berpasir dan juga dapat di temukan di kolam dan di pantai yang mana tingkat
pasang rata – rata dengan kedalaman 140 meter.

37
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Spesies yang kami ditemukan di Pantai Pulau Pasumpahan Kecamatan
Bungus Teluk Kabung Kabupaten Kota Padang Provinsi Sumatera Barat berasal
dari 5 filum (20 Spesies) yaitu Filum Porifera, Echinodrmata, Moluska,
Coelenterata dan Arthropoda. Spesiesnya yaitu Spongia sp., Microciona sp.,
Madrepora sp., Acropora digitifera, Astraea sp., Cliypeaster subdepressus,
Theyone bnaeurus, Holothuria artha, Unio sp., Lambis sp., Cypraea sp.,
Helioptophora, Pagurus sp., Ophiotrhix sp., Turbo intercostalis, Schiypa sp.,
Chiton sp., Chiona cancellata, Leukoma stamine, Meandrina sp., Spesies-
spesies yang termasuk ke dalam filum invertebrata banyak kami temukan
habitatnya intertidal (di daerah pasang surut).
Setelah melakukan praktikum kerja lapangan (PKL) ini dapat diambil
kesimpulan bahwa keanekaragaman makhluk hidup di Pulau Pasumpahan masih
sangat terjaga. Kami dapat melihat langsung bentuk dan ciri-ciri spesies-spesies
Invertebrata yang telah dipelajari, lalu dapat mengklasifikasi dan mendeskripsikan
berdasarkan ciri-ciri spesies tersebut.

38
DAFTAR PUSTAKA

Glomeri krista.2013.Moluska
http://glorimerkristivita.blogspot.co.id/2013/04/laporan-praktikum-
mullosca_1077.html
Jasin, M.1992. Zoologi Vertebrata. Surabaya: Sinar Jaya
Mulia Yanti.2009.Zoologi Invertebrata
https://muliayanti.wordpress.com/2009/10/29/laporan-zoologi-invertebrata/
Rofi Zulfa.2013.Avertebrata Perairan
http://rofizulfa.blogspot.co.id/2013/07/jurnal-avertebrata-perairan.html
Yunita Sari. 2016. Laporan Praktikum Kerja Lapangan Sistematika Invertebrata
http://yunita95.blogspot.co.id/2016/01/laporanpraktikum-kerja-lapangan.html
Wikipedia.2014.Spongia
https://en.wikipedia.org/wiki/Spongia

39
LAMPIRAN
Gambar Keterangan

Lokasi Praktikum
Kerja Lapangan
Pantai Pulau
Pasumpahan
Kecamatan Bungus
Teluk Kabung
Kabupaten Kota
Padang Provinsi
Sumatera Barat

40