Anda di halaman 1dari 16

Perekonomian Indonesia pada 2018 tetap berdaya tahan di

tengah kondisi perekonomian global yang mengalami pasang


surut dan penuh ketidakpastian. Perkembangan tersebut
dipengaruhi struktur permintaan domestic yang dominan
serta ditopang respon kebijakan yang memadai. Kombinasi
kedua hal tersebut pada gilirannya mampu memitigasi risiko
dampak pertumbuhan ekonomi dunia yang belum kuat, harga
komoditas lokal yang masih rendah di kancah dunia, dan
ketidakpastian pasar keuangan dunia yang tetap tinggi.
Pertumbuhan Indonesia 2018 ini diperkirakan meningkat
dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yaitu 5,3%.
Sedangkan pada tahun 2016 sebesar 5% dan 2017 berkisar
5,1%, hal ini disebabkan karena pertumbuhan sektor jasa
semakin meningkat, sehingga geliat investasi ke Indonesia
semakin berkembang, serta didukung dengan adanya
kebijakan Presiden Jokowi dalam menggenjot pembangunan
infrastruktur diberbagai daerah. Pertumbuhan tersebut juga
didukung oleh stabilitas ekonomi yang tetap terjaga ditandai
dengan inflasi yang rendah pada tahun 2018 ini
diproyeksikan tingkat inflasi berkisar di angka 4,12, defisit
transaksi berjalan yang menurun, dan stabilitas system
keuangan masih terjaga dengan resiko sistemik yang rendah.
Secara keseluruhan, dinamika ekonomi 2018
mengindikasikan berbagai kemajuan positif dalam
perekonomian Indonesia. Stabilitas ekonomi yang terpelihara
sebagai buah konsistensi kebijakan yang sebelumnya
ditempuh telah menjadi pijakan kuat bagi berlangsungnya
proses penyesuaian ekonomi domestic dan mendorong
pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat kembali dalam
lintasan global.
TANTANGAN

OJK menyatakan sedikitnya ada tiga tantangan ekonomi domestik yang


perlu diantisipasi. Tantangan pertama yaitu soal infrastruktur. Kita
harus mengejar ketertinggalan infrastruktur untuk mendorong aktivitas
ekonomi. Selain infrastruktur, dua tantangan lain adalah terkait
kesejahteraan masyarakat dan juga inovasi digital. Para pelaku sektor
jasa keuangan diharapkan dapat berpartisipasi untuk menyalurkan
pembiayaan kreditnya pada sektor infrastruktur nasional. Dengan
demikian maka pertumbuhan ekonomi pada tahun 2018 diyakini bakal
dapat lebih optimal.

Selain itu, permasalahan peningkatan kesejahteraan masyarakat juga


masih menjadi beban pemerintah untuk dapat diantisipasi untuk tahun
2018. Tercatat menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat
angka kemiskinan pada Agustus 2017 meningkat menjadi 27,77 juta
orang dari Agustus tahun 2016 yang mencapai 27,76 juta. Sedangkan
tantangan terakhir ialah perkembangan inovasi digital yang pesat juga
diharap dapat diantisipasi oleh para pelaku sektor jasa keuangan.
Dengan adanya perkembangan digital, tak dipungkiri dapat memberikan
dampak positif maupun dampak persaingan antarpelaku sektor jasa
keuangan.

Selain beberapa tantangan sebelumnya, usaha pemerintah Jokowi


mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan menempatkan
infrastruktur sebagai agenda utama dan mengalokasikan anggaran besar
untuk menggenjot pembangunan infrastruktur. Meskipun secara teori
infrastruktur dapat mempercepat aktivitas ekonomi dan meningkatkan
pertumbuhan, kenyataan belum menunjukkan demikian. Di saat alokasi
anggaran infrastruktur 2017 meningkat 177% dari anggaran 2014,
pertumbuhan ekonomi pada tahun 2017 hanya meningkat sedikit.
Pertumbuhan ekonomi 2016 hingga kuartal III sebesar 5,01 dan 2017
kuartal III sebesar 5,06.
PELUANG

Perekonomian Indonesia pada 2018 diperkirakan terus membaik


dipengaruhi prospek perbaikan ekonomi global dan domestic. Dari
global, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan lebih baik
dibandingkan dengan capaian pada 2017. Perkembangan ini dapat
mendorong harga komoditas, baik energI maupun non-energi, tetap
tinggi. Dari domestic, adanya tax amnesty yang dilakukan sejak tahun
2016 lalu menjadi stimulus perbaikan ekonomi Negara. Berdasarkan
penerimaan amnesty dari wajib pajak terhitung sebesar 21,1 persen
dari jumlah PDB Indonesia. Tercatat uang tebusan dari Program
Amnesty Pajak 2016 mencapai Rp91,9 triliun yang berasal dari
repatriasi Rp124 triliun, deklarasi luar negeri Rp844 triliun, dan
deklarasi dalam negri Rp2.061 triliun, dengan total penyampaian harta
mencapai RP3.032 triliun.

Adanya keputusan Bank Sentral AS The Fed menunda kenaikan Fed


Funds Rate (FFR), hal ini akan membuat emerging market termasuk
Indonesia tetap menjadi tempat yang atraktif untuk berinvestasi. Hal
ini menyebabkan sektor konsumer Indonesia masih akan berkembang di
tahun 2018. Karena sektor ini merupakan salah satu penopang paling
penting pertumbuhan produk domestim bruto (PDB) Indonesia tahun
depan lebih baik, sektor consumer akan terimbas positif. Subsector
consumer yang diproyeksikan memiliki prospek bagus di antaranya ritel,
kesehatan, dan utilitas. Investor masih tertarik pada saham-saham
perusahaan tersebut.

Nilai ekspor Indonesia November 2017 mencapai USD 15,28 miliar (naik
13,18% dibandingkan November 2016). Secara kumulatif, nilai ekspor
Indonesia Januari-November 2017 mencapai USD 153,90 miliar atau
meningkat 17,16% disbanding periode yang sama tahun 2016, sedangkan
ekspor nonmigas USD 139,68 miliar atau meningkat 16,89%. Kemudian,
mulai naiknya harga beberapa komoditas global. Tingginya permintaan
dunia akan barang komoditas primer sehingga akan menggerakkan
pertumbuhan ekonomi.
KONDISI EKONOMI JAWA TENGAH

Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah menurut lapangan usaha tumbuh


sebesar 5,27 persen. Informasi dan komunikasi merupakan lapangan
usaha yang mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 13,27 persen,
diikuti oleh jasa lainnya sebesar 8,99 persen, Jasa Perusahaan sebesar
8,72 persen dan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 8,60
persen. Yang mana struktur perekonomian Jawa Tengah menurut
lapangan usaha tahun 2017 didominasi oleh empat lapangan usaha
utama yaitu: industry Pengolahan (34,96 persen), Pertanian, Kehutanan
dan Perikanan (14,09 persen), Perdagangan Besar-Eceran dan Reparasi
Mobil-Sepeda Motor (13,60 persen), serta Konstruksi (10,36 persen).
Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah
tahun 2017, Industri Pengolahan menyumbang sumber pertumbuhan
tertinggi sebesar 1,51 persen, diikuti Perdagangan Besar-Eceran dan
Reparasi Mobil-Sepeda Motor sebesar 0,88 persen serta Kontruksi
sebesar 0,73 persen.

Struktur PDRB Jawa Tengah menurut pengeluaran atas dasar harga


berlaku pada tahun 2017 tidak menunjukkan perubahan yang berarti.
Aktivitas permintaan akhir masih didominasi oleh Komponen
Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PKRT) yang mencakup lebih dari
separuh PDRB Jawa Tengah. Komponen lainnya yang memiliki peranan
besar terhadap PDRB Jawa Tengah secara berturut-turut adlah Impor
Barang dan Jasa, Ekspor Barang dan Jasa, PMTB, dan PKP, sedangkan
peranan komponen PKLPRT dan Perubahan Inventori relative kecil.

Pertumbuhan Ekonomi Jawa, Jawa Tengah, Nasional

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Tengah pada triwulan III 2017


tercatat sebesar 5,13% (yoy). Kinerja perekonomian Jawa Tengah
relative stabil dibandingkan triwulan II 2017 yang tumbuh 5,15% (yoy),
meskipun lebih tinggi jika dibandingkan triwulan yang sama tahun
sebelumnya sebesar 5,01% (yoy). Capaian tersebut berada di atas
pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat meningkat pada level
5,06% (yoy), namun masih lebih rendah dibandingkan pertumbuhan
Kawasan Jawa sebesar 5,51 (yoy). Lebih lanjut, secara triwulanan,
Produk Domestim Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah tumbuh 2,63
(qtq), juga relative stabil dibandingkan pertumbuhan periode yang
sama tahun sebelumnya yaitu 2,65% (qtq).

Pada triwulan III 2017, perekonomian Provinsi Jawa Tengah


menyumbang 8,74% terhadap perekonomian Nasional, atau 14,72%
terhadap perekonomian Kawasan Jawa. Nilai ini tidak banyak berubah
dibandingkan periode sebelumnya. Dengan besar subangan tersebut,
Jawa Tengah menjadi provinsi penyumbang keempat terbesar dalam
perekonomian nasional maupun Kawasan Jawa, setelah DKI Jakarta,
Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Meskipun aktivitas ekonomi Jawa Tengah relative stabil pada triwulan


III 2017, aktivitas perbankan yang dicerminkan oleh kebutuhan
pembiayaan cenderung melambat pada triwulan laporan. Hal ini
tercermin dari penyaluran kredit perbankan yang tumbuh melambat
pada periode tersebut. pada triwulan laporan, pertumbuhan kredit
perbankan yang disalurkan di Jawa Tengah tercatat sebesar 4,98%
(yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar
9,66% (yoy). Lebih lanjut, perkembangan tersebut juga tercermin pada
aktivitas system pembayaran, khusus aktivitas tunai. Pada aktivitas
tunai, penurunan tampak pada aliran uang keluar (outflow) yang
mengalami kontraksi 8,82% (yoy), setelah pada triwulan sebelumnya
mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,44% (yoy). Sementara itu aktivitas
nontunai cenderung menunjukkan perbaikan meskipun masih
mengalami kontraksi. Ditinjau dari sisi pengeluaran, onsumsi rumah
tangga dan lembaga nonprofit yang melayani rumah tang tetap tumbuh
meskipun mengalami perlambatan. Namun demikian, pertumbuhan
ekspor luar negeri, investasi, dan konsumsi pemerintah yang
terakselerasi mampu menjadi penahan perlambatan lebih dalam.
PELUANG

Perekonomian Jawa Tengah tumbuh secara signifikan sejak tahun 2012


hingga kini. Pertumbuhan tersebut dinilai tumbuh lebih cepat
dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang tumbuh stabil di
kisaran 5 persen. Pada triwulan III 2017 perekonomian Jawa Tengah
mengalami pertumbuhan 5,13 persen. Kepala Bank Indonesia Jateng
DIY, Hamid onco WIyono mengatakan melihat dari sisi pengeluaran,
pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah di triwulan III 2017 didorong oleh
percepatan pertumbuhan ekspor, investasi, dan konsumsi pemerintah.

Menurutnya dari sisi investasi, ekonomi Jawa Tengah terdorong oleh


peningkatan investasi pembangunan infrastruktur. Yang mana pada
hingga triwulan III investasi pembangunan infrastruktur Jawa Tengah
sebesar 7,35 persen lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya sebesar
5,54 persen. Selain itu, untuk tingkat inflasi Jawa Tengah pada tahun
2017 berada dalam level yang rendah dan stabil. Inflasi Jawa Tengah
pada Desember 2017 tercatat sebesar 0,71 “mtm” persen atau sebesar
3,71 persen “yoy” dimana pencapaian ini masih rendah dibandingkan
rata-rata inflasi Jawa Tengah 5 tahun terakhir sebesar 5,32 persen
“yoy” sehingga pada tahun 2017 lalu masih sesuai target inflasi sebesar
4,1 persen.

Jawa Tengah dihuni oleh 32,4 juta orang, yang menjadikannya sebagai
provinsi ketiga dengan jumlah penduduk terpadat di Indonesia. Potensi
ini saja dapat memberikan pasar konsumen yang sangat besar.

Selain itu, tercatat ada 16,91 juta tenaga kerja di Jateng pada Februari
2013. Tenaga kerja di sana juga lebih murah, meskipun Semarang,
sebagai ibukota memiliki upah minimum paling tinggi di provinsi itu,
yaitu sebesar Rp 1,42 juta per bulan sejak 2014 dan pada akhir 2017
lalu UMR semua kabupaten/kota di Jateng mengalami kenaikan, dan
untuk Kota semarang UMR yang ditetapkan sebesar Rp2.310.087.
Soal upah menjadi penting karena investasi akan terhambat apabila
tingkat upah terlalu tinggi. Di saat perusahaan asing keluar dari
Indonesia karena biaya tenaga kerja tinggi, beberapa di antaranya,
terutama perusahaan tekstil, malah relokasi pabriknya ke Jawa Tengah.

Perkembangan ekspor Jawa Tengah pada Januari 2018 ini mengalami


peningkatan sebesar 3,83 persen dibandingkan Desember 2017 lalu.
Angka tersebut diperoleh dari pencapaian bulan Januari ini yang
mencapai 539,86 juta dollar dibandingkan ekspor Desember 2017
sebesar 519,93 juta dollar atau meningkat sebesar 13,62 persen dari
Januari 2017 lalu. Amerika Serikat, Jepang, dan Tiongkok menjadi pasar
Utama Jawa Tengah dalam hal ekspor.

Menurut data BPS, Ekspor pada bulan Januari 218 ke Amerika Serikat
mencapai angka 156,10 juta dollar, ekspor ke Jepang sebesar 67,8 juta
dollar, dan ekspor ke Tiongkok mencapai 38,74 juta dollar atau
mencapai 48,66 persen dari total ekspor Jawa Tengah. Sementara itu,
textile dan barang textile, kayu dan barang dari kayu, serta
bermacamm-macam barang hasil pabrik menjadi 3 kelompok komoditas
ekspor utama Jawa Tengah pada Januari 2018 ini. Textile dan barang
textile memberi sumbangan sebesar 45,4 persen, kayu dan barang dari
kayu menyumbang 15,63 persen, dan bermacam-macam barang hasil
pabrik memberi andil 12,05 persen.

Selain itu, lahan industri juga masih murah. Hal ini membuat Jawa
Tengah sangat kompetitif, dan ini menjadi semakin terlihat jelas dari
waktu ke waktu. Saat ini, Jawa Tengah merupakan jantung dari industri
tekstil dan garmen di Indonesia yang diproyeksikan menghasilkan US$ 14
miliar untuk ekspor tahun ini. Industri ini menyumbang sekitar US$ 169
juta di sektor ekspor produk pada bulan Juni 2013. Di saat yang sama,
provinsi ini juga telah dilengkapi dengan infrastruktur yang terpelihara
dengan baik. Akses ke Jawa Tengah telah ditingkatkan dengan adanya
bandara internasional Adi Sumarmo di Solo dan Achmad Yani di
Semarang.
Selain itu, konektivitas Jawa Tengah akan lebih meningkat setelah
pembangunan jalan tol Trans-Jawa selesai. Jalan tol itu akan banyak
membantu untuk mengurangi kemacetan lalu lintas di sepanjang Pantai
Utara (Pantura) dan menyedot lebih banyak investasi ke Jawa Tengah,
karena letak provinsi ini strategis, di antara Surabaya dan Jakarta. Di
saat yang sama, pelabuhan Tanjung Mas Semarang sedang dalam proses
pembangunan kembali selama beberapa bulan terakhir, dan ini juga
akan meningkatkan aktivitas perdagangan.

Di sektor energi, lapangan gas Kepodang yang terletak sekitar 180


kilometer arah timur laut dari Semarang menjadi penyokong energy
khususnya Jawa Tengah. Konstruksi pembangkit listrik terbesar di Asia
Tenggara senilai US$ 4 miliar yang terletak di Batang itu diharapkan
bisa dimulai setelah pembebasan lahan beres.
Tidak menjadi rahasia umum lagi bahwa suatu kepala daerah akan
selalu berupaya untuk mengentaskan kemiskinan di daerah
pemerintahannya. Hal ini juga terjadi di Jawa Tengah, menurut
Gubernur Jateng ada empat cara menanggulangi masalah kemiskinan
yaitu mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin melalui
pemenuhan jaminan perlindungan social, peningkatan kemampuan dan
pendapatan masyarakat miskin dengan pemberdayaan ekonomi,
mengembangkan dan menjamin keberlanjutan usaha mikro dan kecil
melalui pengembangan ekonomi berbasis UMKM, serta membangun
sinergi kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan dengan
optimalisasi program atau anggaran, baik APBN, APBD provinsi, APBD
kabupaten/kota, CSR, maupun swadaya masyarakat. Yang mana pada
awal tahun pemerintah menetapkan target kemiskinan berada diangka
12,20-11,73 persen namun hingga akhir tahun 2017 tingkat kemiskinan
berada diangka 13,19 persen.

Tentu saja, Jawa Tengah rentan terhadap bencana alam, khususnya


ancaman gunung berapi. Namun, hal ini telah membawa berkah bagi
Jawa Tengah berupa lahan pertanian yang subur dan mampu
menyumbang 20% PDB provinsi di 2014. Tantangan bagi Jawa Tengah
adalah menemukan pemimpin dengan visi untuk memenuhi
janjinya. Selain itu ketidakpastian harga komoditi pertanian menjadi
tantangan tersendiri bagi masyarakat yang sebagian besar penduduk
Jawa Tengah berprofesi sebagai petani.
Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Tengah januari 2018 sebesar 103,00 atau
turun 0,47 persen disbanding bulan sebelumnya. Penurunan NTP ini
dikarenakan Indeks Harga yang dibayar petani (ib) naik sebesar 1,12
persen lebih tinggi dibandingkan Indeks Harga yang diterima petani (it)
yang hanya naik sebesar 0,65 persen. Selain itu lima sub sektor
pertanian komponen penyusun NTP, lima subsector mengalami
penurunan indeks yaitu: subsector Hortikultura turun 1,68 persen,
Tanaman Perkebunan Rakyat turun 2,0 persen, Peternakan turun 1,16
persen, dan Perikanan turun 0,33 persen. Sedangkan subsector
Tanaman Pangan mengalami kenaikan sebesar 1,77 persen.

Selain tantangan tersebut ada beberapa tantangan lainnya seperti


rendahnya kesempatan kerja di sektor formal dan kompetisi tenaga
kerja Angkatan kerja di Jawa Tengah Agustus 2017 sebanyak 18,01 juta
orang, Penduduk bekerja Agustus 2017 sebanyak 17,19 juta
orang.Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Tengah Agustus 2017
sebesar 4,57 persen.Pada Agustus 2017, sebesar 60,29 persen penduduk
bekerja pada kegiatan informal, dan persentase pekerja informal turun
1,88 persen poin dibanding Agustus 2016. Jaringan gas Cirebon-
Semarang belum terbangun, hal ini menyebabkan terhambatnya
pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) Jawa Tengah.
Dikutip dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Daerah Jawa Tengah 2005-2025
Pembangunan ekonomi Jawa Tengah sampai saat ini telah menunjukkan
adanya peningkatan yang cukup signifikan, namun masih belum dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menciptakan lapangan
pekerjaan secara memadai. Oleh karena itu, tantangan pembangunan
ekonomi pada dua puluh tahun ke depan adalah meningkatkan
pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkualitas yang mampu
meningkatkan pendapatan perkapita serta pemerataan sehingga secara
bertahap kesejahteraan masyarakat pada akhir periode pembangunan
dapat mencapai tingkat kesejahteraan minimal setara dengan provinsi-
provinsi maju Pulau Jawa.

Pembangunan berbasis kewilayahan yang telah dilaksanakan selama ini


telah dapat mendorong kerja sama pembangunan antardaerah secara
sinergis, sehingga dapat mendorong daya saing wilayah. Tantangan
pembangunan kewilayahan ke depan adalah meningkatnya kesenjangan
pembangunan antardaerah akibat bervariasinya dan terbatasnya potensi
sumber daya alam daerah, sehingga perlu diupayakan pengembangan
berbagai potensi daerah termasuk pengembangan sumber energi
alternatif. Selain itu, tantangan dalam bidang ekonomi adalah
mengantisipasi terjadinya transformasi ekonomi dari sektor primer ke
sektor sekunder (sektor industri/pengolahan), atau bahkan ke sektor
tersier (sektor jasa).
Pada sisi lain, makin intensifnya pasar bebas/globalisasi menuntut
peningkatan kualitas produk barang dan jasa secara lebih kompetitif.
Untuk itu, dalam rangka mendorong kemandirian ekonomi dan daya
saing produk-produk lokal di pasar regional ataupun global, tantangan
ke depan adalah meningkatkan kualitas dan produktivitas barang dan
jasa secara bertahap dengan tetap mengacu pada Standar Mutu
Nasional maupun Standar Mutu Internasional.

Meningkatnya jumlah penduduk, alih fungsi lahan, ekplorasi lahan


secara berlebihan, dan terjadinya berbagai bencana alam dapat
menganggu ketahanan pangan wilayah dan masyarakat. Tantangan ke
depan adalah mengantisipasi, mengendalikan, dan mengurangi secara
bertahap permasalahan-permasalahan di atas, serta terus berupaya
meningkatkan produktivitas hasil-hasil pertanian secara berkelanjutan.
Eksplorasi asing terhadap kehidupan ekonomi domestik perlu
diperhatikan lebih jauh, seperti rencana eksplorasi minyak oleh Exxon
Oil di daerah Cepu-Jawa Tengah. Di satu sisi kemampuan SDM, finansial
dan peralatan lokal belum mampu untuk melakukan eksplorasi secara
besar-besaran, maka peluang tersebut dimanfaatkan oleh pihak asing
untuk melakukan eksplorasi tersebut. Disamping itu membanjirnya
produk China yang murah juga memberikan pukulan terhadap
pengusaha kecil/ menengah domestik karena kalah bersaing terhadap
murahnya harga produk barang/jasa yang dihasilkan.

1. Pengembangan perekonomian daerah yang berorientasi dan


berdaya saing global dengan memanfaatkan sebesar-besarnya
potensi lokal yang memerhatikan sumber daya alam secara
berkelanjutan dan membangun keterkaitan sistem produksi dan
distribusi yang kokoh. Salah satunya melalui sektor pariwisata.
Kita tahu bahwa sebagian besar wilayah Jawa Tengah ini berupa
daerah perbukitan yang mana sangat cocok untuk dikelola
menjadi tempat wisata alam yang asri dan sejuk.

Pemprov Jateng pada 2018 ini serius dalam menggarap sektor


pariwisata., Bappeda Jateng menargetkan pertumbuhan
ekonomi Jawa Tengah pada 2018 ini sebesar 6,8%, hal ini tentu
bukan sebuah hal yang mustahil untuk dicapai. Karena Jawa
Tengah sendiri memiliki banyak sektor yang potensial. Tahun
2018 ini sektor Pertanian khususnya komoditas padi dan jagung
serta sektor pariwisata menjadi focus utama kebijakan
pemerintah. Untuk sektor pariwisata, Pemprov Jateng 2018
menargetkan empat destinasi utama yang akan menopang
perekonomian yakni Sangiran, Dieng, Karimun Jawa, dan
Borobudur.

2. Pengembangan jasa infrastruktur dan keuangan di tingkat


perdesaan dengan pengembangan keprofesian, penguasaan dan
pemanfaatan teknologi informasi, yang mampu menyediakan
sumber pendanaan di pedesaan dalam pengembangan kegiatan
perekonomian dan pengentasan kemiskinan di perdesaan.

3. Peningkatan dan pengembangan keterampilan tenaga kerja


untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing, dilakukan
melalui pendidikan dan pelatihan teknis sesuai dengan tuntutan
pasar kerja, serta pengembangan dan pemerataan balai-balai
latihan kerja daerah.

4. Peningkatan investasi di daerah diarahkan untuk mendorong


pertumbuhan ekonomi daerah yang dipergunakan sebesar-
besarnya untuk pencapaian kemakmuran bagi rakyat dan
meningkatkan sumber- sumber pembiayaan pembangunan
daerah karena meningkatnya kapasitas dan aktivitas
perekonomian daerah. Pengembangan investasi dilakukan
dengan mengembangkan iklim usaha yang kondusif, menjamin
kepastian berusaha, dan peningkatan kualitas sistem pelayanan
investasi, serta pemenuhan sarana prasarana pendukung
investasi.

5. Peningkatan ketahanan dan kedaulatan pangan daerah dengan


mengembangkan produktivitas pertanian dalam negeri, yang
mampu menjamin pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat
terutama pangan yang cukup di tingkat rumah tangga, baik
dalam jumlah, mutu, maupun harga yang terjangkau.