Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan diantara manusia tersebut ternyata
tidak selamanya berjalan lancar. Adakalanya muncul kesalah pahaman,
perselisihan, pertengkaran, permusuhan, bahkan peperangan. Lingkup
kejadiannya tidak saja terjadi dalam skala yang kecil ditingkat keluarga dan
lingkungan kelurahan tetapi juga bisa terjadi dalalm skala yang lebih besar
ditingkat nasional dan internasional. Dalam kajian psikologi sosial hal ini
terjadi karena tidak adanya kesamaan pandangan terhadap suatu pola perilaku
pada suatu struktur kelompok sosial. Masing-masing pihak merespon
rangsangan sosial yang diterimanya dari lingkungan sosial, sehingga
memunculkan sikap memilih atau menghindari sesuatu.
Objek pembahasan dari Psikologi Sosial tidaklah berbeda dengan
psikologi secara umumnya. Hal ini bisa dipahami karena Psikologi Sosial
adalah salah satu cabang ilmu dari psikologi. Bila objek pembahasan psikologi
adalah manusia dan kegiatannya, maka Psikologi Sosial adalah kegiatan-
kegiatan sosialnya. Masalah yang dikupas dalam psikologi umum adalah
gejala-gejala jiwa seperti perasaan, kemauan, dan berfikir yang terlepas dari
alam sekitar.
Sebagaimana ilmu-ilmu sosial, objek pembahasan psikologi sosial adalah
terpusat kepada kehidupan manusia. Manusia adalah salah satu ciptaan Tuhan
yang memiliki kecerdasan, kesadaran, dan kemauan yanbg tinggi
dibandingkan dengan makhluk-makhlukNya yang lain. Kelebihan inilah yang
mendorong manusia mampu menguasai alam, menaklukkan makhluk yang
lebih kuat, dan menciptakan segala sesuatu yang dapat menyempurnakan
dirinya. Hal ini bisa tercapai karena dalam diri manusia terdapat potensi yang
selalu mengalami proses perkembangan setelah individu tersebut berinteraksi
dengan lingkungannya.
Masalah-masalah yang terjadi pada kalangan remaja menunjukkan bahwa
betapa besarnya pengaruh lingkungan terhadap perilaku individu dalam

1
kelompok sosial. Psikologi Sosial dalam hal ini membantu memberikan
pemecahan persoalannya dengan upaya pendidikan keagamaan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan psikologi sosial ?
2. Apa yang dimaksud dengan ilmu pemerintahan?
3. Bagaimana hubungan antara psikologi sosial dengan ilmu pemerintaha?

C. Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini yaitu untuk mengetahui bagaimana
hubungan antara psikologi sosial dengan ilmu pemerintah ?

2
BAB II
PENDAHULUAN

A. Psikologi Sosial
1. Pengertian Psikologi Sosial
Psikologi sosial adalah suatu studi tentang hubungan antara
manusia dan kelompok. Para ahli dalam bidang interdisipliner ini pada
umumnya adalah para ahli psikologi atau sosiologi, walaupun semua ahli
psikologi sosial menggunakan baik individu maupun kelompok sebagai
unit analisis mereka.
Psikologi sosial sempat dianggap tidak memiliki peranan penting,
tapi kini hal itu mulai berubah. Dalam psikologi modern, psikologi sosial
mendapat posisi yang penting. psikologi sosial telah memberikan
pencerahan bagaimana pikiran manusia berfungsi dan memperkaya jiwa
dari masyarakat kita. Melalui berbagai penelitian laboratorium dan
lapangan yang dilakukan secara sistematis, para psikolog sosial telah
menunjukkan bahwa untuk dapat memahami perilaku manusia, kita harus
mengenali bagaimana peranan situasi, permasalahan, dan budaya.
Walaupun terdapat banyak kesamaan, para ahli riset dalam bidang
psikologi dan sosiologi cenderung memiliki perbedaan dalam hal tujuan,
pendekatan, metode dan terminologi mereka. Mereka juga lebih menyukai
jurnal akademik dan masyarakat profesional yang berbeda. Periode
kolaborasi yang paling utama antara para ahli sosiologi dan psikologi
berlangsung pada tahun-tahun tak lama setelah Perang Dunia II. Walaupun
ada peningkatan dalam hal isolasi dan spesialisasi dalam beberapa tahun
terakhir, hingga tingkat tertentu masih terdapat tumpang tindih dan
pengaruh di antara kedua disiplin ilmu tersebut.

3
2. Konsep Dasar Psikologi Sosial
Sebagaimana ilmu-ilmu sosial, objek pembahasan psikologi sosial
adalah terpusat kepada kehidupan manusia. Manusia adalah salah satu
ciptaan Tuhan yang memiliki kecerdasan, kesadaran, dan kemauan yang
tinggi dibandingkan dengan makhluk-makhlukNya yang lain. Kelebihan
inilah yang mendorong manusia mampu menguasai alam, menaklukkan
makhluk yang lebih kuat, dan menciptakan segala sesuatu yang dapat
menyempurnakan dirinya. Hal ini bisa tercapai karena dalam diri manusia
terdapat potensi yang selalu mengalami proses perkembangan setelah
individu tersebut berinteraksi dengan lingkungannya.
Potensi-potensi yang dimiliki manusia sehingga membedakan
dengan makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya adalah sebagai berikut
(Ahmadi,2002) :
a. Kemampuan menggunakan bahasa. Kemampuan berkomunikasi
dengan menggunakan bahasa ini hanyalah semata-mata terdapat pada
manusia dalam pengertian bisa merubah, menambah, dan
mengembangkan bahasa yang dugunakan.
b. Adanya sikap etik. Dalam setiap masyarakat pasti terdapat peraturan
atau norma-norma yang mengatur tingkah laku anggota-anggotanya
baik itu masyarakat modern maupun masyarakat yang masih
terbelakang sekalipun dan norma tersebut merupakan ketentuan
apakah sesuatu perbuatan itu dipandang baik atau buruk.
c. Hidup dalam 3 dimensi waktu. Manusia memiliki kemampuan untuk
hidup dalam 3 dimensi waktu. Manusia mampu mendasarkan tingkah
lakunya pada pengalaman masa lalunya, kebutuhan-kebutuhan
sekarang, dan tujuan yang akan dicapai pada masa yang akan datang.

4
3. Ruang Lingkup Psikologi Sosial
Psikologi Sosial yang menjadi objek studinya adalah segala gerak
gerik atau tingkah laku yang timbul dalam konteks sosial atau lingkungan
sosialnya. Oleh karenanya masalah pokok yang dipelajari adalah pengaruh
sosial. Hal ini terjadi karena pengaruh sosial inilah yang mempengaruhi
tingkah laku individu. Berdasarkan inilah Psikologi Sosial membatasi diri
dengan mempelajari dan menyelidiki tingkah laku individu dalam
hubungannya dengan situasi perangsang sosial (Ahmadi, 2005)
Objek pembahasan dari Psikologi Sosial tidaklah berbeda dengan
psikologi secara umumnya. Hal ini bisa dipahami karena Psikologi Sosial
adalah salah satu cabang ilmu dari psikologi. Bila objek pembahasan
psikologi dalah manusia dan kegiatannya, maka Psikologi Sosial adalah
kegiatan-kegiatan sosialnya. Masalah yang dikupas dalam psikologi umum
adalah gejala-gejala jiwa seperti perasaan, kemauan, dan berpikir yang
terlepas dari alam sekitar.
Sedangkan dalam Psikologi Sosial masalah yang dikupas adalah
manusia sebagai anggota masyarakat, seperti hubungan individu dengan
individu yang lain dalam kelompoknya. Psikologi Sosial dalam
membicarakan objek pembahasannya dapat pula bersamaan dengan
sosiologi. Masalah-masalah sosial yang dibicarakan dalam sosiologi
adalah kelompok-kelompok manusia dalam satu kesatuan seperti macam-
macam kelompok, perubahan-perubahannya, dan macam-macam
kepemimpinannya. Sedangkan dalam Psikologi Sosial adalah meninjau
hubungan individu yang satu dengan yang lainnya seperti bagaimana
pengaruh terhadap pimpinan, pengaruh terhadap anggota, pengaruh
terhadap kelompok lainnya.
Persamaan-persamaan pembahasan sebagaimana penjelasan di atas
dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup pembahasan Psikologi Sosial
berada pada ruang antara psikologi dan sosiologi. Titik persinggungan
inilah yang dalam sejarah pertumbuhan ilmu pengetahuan memunculkan
ilmu baru dalam lapangan psikologi, yakni Psikologi Sosial. Psikologi
Sosial merupakan bagian dari psikologi yang secara khusus mempelajari

5
tingkah laku manusia atau kegiatan-kegiatan manuisa dalam hubungannya
dengan situasi-situasi sosialnya. (Ahmadi, 2002).

4. Teori Psikologi Sosial


Bermacam-macam teori dapat digolongkan menurut bentuk atau
menurut isinya.
 Menurut bentuknya, ada dua macam teori sebagai berikut :
a. Teori konstruktif atau teori merangkaikan yaitu teori yang
mencoba membangun kaitan-kaitan antara berbagai fenomena
sederhana
b. Teori principle atau teori reduktif atau teori berjenjang adalah teori
yang mencoba menganalisis suatu fenomena kedalam bagian-
bagian yang lebih kecil
 Menurut isinya, ada dua macam teori sebagai berikut :
a. Teori molar, yaitu teori tentang individu sebagai
keseluruhan,misalnya teori tentang tingkah laku individu dalam
proses kelompok
b. Teori molekular, yaitu teori tentang fungsi-fungsi syaraf dalam
tubuh suatu oranisme, misalnya teori konsistensi kognitif
Selain penggolongan teori kedalam beberapa tipe menurut bentuk dan
isisnya, kita perlu pula mengetahui teori mana yang baik dan teori mana
yang tidak baik. Baik tidaknya suatu teori tidak ditentukan oleh bentuk dan
isisnya, melainkan ditentukan oleh beberapa norma di bawah ini :
 Norma korespondensi yaitu seberapa jauh teori itu cocok dengan fakta-
fakta yang ada. Semakin cocok teori dengan fakta, semakin baik.
 Norma koherensi yang meliputi dua ukuran sebagai berikut :
 Seberapa jauh teori itu cocok dengan teori sebelum-sebelumnya.
Ini tidak berarti bahwa suatu teori tidak boleh bertenttangan
dengan satu atau dua teori sebelumnya. Namun, walaupun teori
tersebu bertentangan dengan teori-teori terent, suatu teori yang
baik masih cocok dengan sejumlah teori lainnya.

6
 Kesederhanaan yaitu teori tersebut sederhana dalam arti tidak
rumit, tidak berbelit-belit, mudah dimengerti. Kesederhanaan ini
meliputi 2 hal berikut ini :
 Kesederhanaan deskriptif, yaitu kesederhanaaan dalam uraian
tentang teori itu sendiri
 Kesederhanaan induktif yaitu kesederhanaan dalam produser
penarikan kesimpulan dari data-data yang ada
 Norma Paragmatik yaitu seberapa jauh suatu teori mempunyai
kegunaan praktis. Semakin besar kegunaan praktisnya, semakin
baik teori yang bersangkutan.

B. Ilmu Pemerintahan
Secara etimologis, definisi pemerintahan berasal dari perkataan
pemerintah, sedangkan pemerintah berasal dari perkataan perintah. Menurut
kamus kata-kata tersebut mempunyai arti : perintah adalah perkataan yang
bermaksud menyuruh melakukan sesuatu; pemerintah adalah kekuasaan
memerintah sesuatu negara (daerah-negara) atau badan yang tertinggi yang
memerintah sesuatu negara (seperti kabinet merupakan suatu pemerintah);
pemerintahan adalah perbuatan (cara, hal urusan dan sebagainya) memerintah.
(Pamudji, 1983 : 3).
Taliziduhu (2000:7) mengatakan bahwa Ilmu Pemerintahan dapat
didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana pemerintah (unit
kerja publik) bekerja memenuhi dan melindungi tuntutan (harapan,
kebutuhan) yang diperintah akan jasa publik dan layanan publik, dalam
hubungan pemerintahan.
Dari uraian di atas diperoleh pokok pemahaman tentang Ilmu
Pemerintahan sebagai berikut :
1. Ilmu Pemerintahan adalah ilmu yang mempelajari persoalan-persoalan
organisasi, administrasi, manajemen dan kepemimpinan dalam
penyelenggaraan organisasi publik atau badan-badan publik yang bertugas
melaksanakan kekuasaan negara sebagaimana diatur dalam peraturan
perundang-undangan. Obyek dan subyek organisasi ini meliputi lembaga

7
eksekutif, lembaga legislatif, lembaga yudikatif, dan lembaga-lembaga
lain diatur dalam peraturan perundang-undangan.
2. Ilmu Pemerintahan adalah ilmu yang mempelajari struktur, prosedur dan
rangkaian kegiatan badan-badan publik dalam melaksanakan tugas dan
fungsi kelembagaan dalam rangka mencapai tujuan penyelenggaraan
negara.
3. Ilmu Pemerintahan adalah ilmu yang mempelajari proses pencapaian
tujuan penyelenggaraan negara yang didasarkan atau merujuk pada
kepentingan dan harapan warga negara yaitu masyarakat, dan oleh sebab
itu Ilmu Pemerintahan juga mempelajari kegiatan pemerintahan sebagai
kegiatan pengaturan masyarakat dan kegiatan pelayanan kepada
masyarakat.
4. Dalam konteks ini, Ilmu Pemerintahan dapat dijadikan instrumen untuk
mendeskripsikan fenomena pengaturan masyarakat yang dilakukan dalam
rangka mewujudkan masyarakat yang tertib, terarah dan teratur dalam
mewujudkan kesejahteraan dan kepentingan bersama; fenomena pelayanan
publik dalam mengaktualisasikan atau memenuhi hak masyarakat yang
menjadi tugas dan tanggungjawab masing-masing badan publik; dan
fenomena pelayanan publik dalam mengaktualisasikan atau memenuhi
kewajiban masyarakat yang menjadi hak negara yang dikelola oleh badan-
badan publik.

C. Hubungan antara Psikologi dan Ilmu Pemerintahan


Psikologi adalah ilmu sifat, dimana fungsi- fungsi dan phenomena
pikiran manusia dipelajari. Setiap tindak- tanduk dan aktifitas masyarakat
dipengaruhi oleh akal individu. Sedangkan ilmu pemerintahan mempelajari
aspek tingkah laku masyarakat umum. Ilmu perkembangan lain yang erat
hubungan dengan psikologi ialah ilmu pemerintahan. Kegunaan psikologi,
khususnya psikologi sosial dalam analisis pemerintahan, jelas dapat kita
ketahui apabila kita sadar bahwa analisis sosial, politik secara makri diisi dan
diperkuat analisis yang bersifat mikro. Psikologi sosial mengamati kegiatan
manusia dari segi ekstern (lingkungan sosial, fisik, peristiwa – peristiwa,

8
gerakan – gerakan massa) maupun dari segi interaksi (kesehatan fisik
perorangan senagant, emosi).
Psikologi merupakan ilmu yang mempunyai peran penting dalam bidang
politik, terutama yang dinamakan “massa psikologi. Justru karena prinsip –
prinsip politik lebih luas daripada prinsip – prinsp hukum dan meliputi banyak
hal yang berbeda di luar hukum dan masuk dalam yang lazim dinamakan
“kebijaksanaan”, bagi para politik, sangat penting apabila mereka dapat
menyelamu gerakan jiwa dari rakyat pada umumnya, dan golongan tertentu
pada khususnya, bahkan juga dari oknum tertentu. Kerap terdengar suata
dalam masyarakat bahwa tindakan tertentu pemerintah dinyatakan
“psikologis” kurang baik. Biasanya, suara seperti ini tidak dijelaskan lebih
lanjut, dan orang-orang dianggap dapat menangkap apa yang dimaksudkan.
Selain memberi berbagai pandangan baru dalam penelitian mengenai
kepemimpinan, psikologi sosial dapat pula menerangkan sikap dan reaksi
kelompok terhadap keadaan yang dianggapnya baru, asing, ataupun
berlawanan dengan konsentrasi masyarakat mengenai gejala sosial
tertentu.Psikologi sosial juga bisa menjelaskan bagaimana sikap (attitude) dan
harapan (expectation) masyarakat dapat melahirkan tindakan serta tingkah
laku yang berpegangan teguh pada tuntutan sosial (conformity). Salah satu
konsep psikologi sosial yang digunakan untuk menjelaskan perilaku untuk
memilih pada pemilihan umum adalah berupa identifikasi partai. Konsep ini
merujuk pada persepsi pemilih atau partai – partai yang ada atau keterikatan
emosional pemilih terhadap partai tertentu.
Untuk memahami perilaku, bisa digunakan beberapa pendekatan. Namun
selama ini, penjelasan teoritis tentang voting behavior didasarkan pada du
model atau pendekatan, yaitu pendekatan sosiologi dan pendekatan psikologi
(Asfar, 1996). Dalam hal pendekatan psikologis, seperti namanya, pendekatan
ini menggunakan dan mengembangkan konsep psikologi – terutama konsep
sikap dan sosialisasi – untuk menjelaskan pilihan karena pengaruh kekuatan
psikologis yang berkembang dalam dirinya sebagai produk dari proses
sosialisasi. Mereka menjelaskan bahwa sikap seseorang – sebagai dalam

9
mempengaruhi pemilih. Maka sampai saat itu pula, ilmu pemerintahan
berhubungan sangat dekat dengan Psikologi.
Jika tindak- tinduk pemerintahan bisa diketahui dengan sepantasnya,
maka akarnya terdapat dalam psikologi dalam pelaksanaan untuk menemukan
hasil yang jelas. Para pakar politik sampai saat itu juga mencoba untuk
mempelajari tindak- tanduk pemerintahan dalam istilah ilmu psikologi. Para
tokoh terkemuka yang melaksanakan hal diatas adalah: Bagehot, Graham
Wallas, MacDougall, Durkheim, Leo Bon, Harold Lassevell, dan George
Catlin. Menurut pengamatan Barker: penggunaan psikologis menunjukkan
teka- teki dari aktifitas manusia dimana telah menjadi kebiasaan sekarang.
Jika gagasan nenek moyang kita bersifat ilmu hayat atau biologis, maka kita
berpikir secara ilmu jiwa.
Para sarjana yang berpikir secara ilmu jiwa menyatakan bahwa negara
dan lembaga politik lainnya merupakan produksi dari pada pemikiran
manusia. Jadi lembaga politik dan system diberbagai negara akan sukses
dengan iringan keselarasan mental masyarakat didalam negara.
‘’Pemerintahan yang stabil akan menjadi sangat terkenal.’’ Menurut Garner:
musti tergambar dan ditekan dari ideal mental serta moral sentiment dari
mereka, dimana merupakan tombak dalam kekuasaan, singkatnya, semua itu
musti terdapat dalam keselarasan dengan mental konstitusi dari bangsa.
Psikologi mengajarkan kita tentang sifat dasar manusia dan ini tidaklah
sama disegala penjuru dunia, setiap komunitas memiliki mental dandanan
sendiri. Setiap komunitas memiliki kegeniusan dan keistimewaan pandangan
terhadap kehidupan. Beberapa komunitas mempunyai kesadaran yang tinggi
untuk membangun politik yang baik, dimana sebagian masyarakat sebaliknya.
Alasan inilah yang menjawab kenapa tipe keistimewaan dari lembaga
politik pemerintahan bisa berjalan sukses dibeberapa negara dan gagal pula
terjadi disebagian negara.

10
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Hakikat ilmu sebenarnya dari satu sumber, kemudian untuk
memperdalam bahasanya dibagilah ilmuilmu tersebut. Namun, pembagian itu
tidak boleh dikatakan sebagai dikotomi antar ilmu pengetahuan. bahkan, untuk
menguatkan dan mendukung serta menopang ilmu-ilmu untuk digunakan
kepada kebaikan manusia.
Psikologi dengan ilmu lain sangat berkaitan dan bersifat timbal-balik.
Perilaku manusia tidak hanya dipelajari oleh psikologi, tetapi juga oleh
Antropologi, Kedokteran, Sosiologi, manajemen dan beberapa cabang
Linguistik. Semua ini. Yang membedakan Psikologi dari ilmu-ilmu prilaku
lain adalah bahwa psikologi lebih menaruh perhatian pada perilaku manusia
sebagai individu, sedang antropologi, sosiologi dan manajemen lebih pada
perilaku manusia sebagai kelompok.

B. Saran
Demikian makalah yang dapat penulis uraikan, semoga apa yang penulis
uraikan dapat bermanfaat dan dapat menambah wawasan bagi para pembaca.
Terima kasih.

11
DAFTAR PUSTAKA

1. http://kulpulan-materi.blogspot.co.id/2012/07/hubungan-psikologi-dengan-
ilmu-politik.html
2. http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/02/apa-itu-psikologi/
3. http://aryjanoe10.blogspot.com/2010/04/hubungan-psikologi-dengan-ilmu-
yang.html
4. http://imtaq.com/hubungan-psikologi-dengan-ilmu-lain/

12