Anda di halaman 1dari 10

Komunikasi Lintas Budaya

Komunikasi Antar Budaya Serta Tantangan di Masa Depan

Kelompok : 7
Amalia Nurfianti 153090022
Aji Permana Putra 153090305

JURUSAN KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
YOGYAKARTA
2011
Komunikasi Antar Budaya Sekarang dan Yang Akan Datang

Awal peradaban ketika manusia membentuk kelompok suku, dan hubungan antarbudaya
terjadi setiap kali orang-orang dari suku yang satu bertemu dengan anggota dari suku lain dan
mendapati bahwa mereka berbeda. Terkadang perbedaan ini tanpa kesadaran dan toleransi akan
keberagaman budaya menimbulkan kecenderungan manusia unuk bereaksi secara dengki.
Pertukaran budaya ini telah terakselerasi di masa lampau ke suatu titik. Dimana
masyarakat diseluruh dunia terjalin dalan struktur ekonomi independen,teknologi,politik, dan
hubungan sosial kompleks.

Sebuah teori, termasuk teori komunikasi hanya dapat diterapkan dalam suatu lingkungan
atau situasi tertentu. Asumsi sebuah teori komunikasi merupakan seperangkat pernyataan yang
menggambarkan sebuah lingkungan yang valid, tempat dimana sebuah teori komunikasi dapat
diterapkan atau diaplikasikan.

Maka dapat dikatakan, asumsi sebuah teori komunikasi antarbudaya merupakan


seperangkat pernyataan yang menggambarkan sebuah lingkungan yang valid tempat dimana teori
komunikasi antarbudaya itu dapat diterapkan. Untuk memahami kajian komunikasi antarbudaya,
maka kita harus mengenal beberapa asumsi, yaitu:

- Komunikasi antarbudaya dimulai dengan anggapan dasar bahwa ada perbedaan persepasi
antara komunikator dengan komunikan.
- Dalam komunikasi antarbudaya terkandung isi dan relasi antarpribadi.
- Gaya personal mempengaruhi komunikasi antarpribadi.
- Komunikasi antarbudaya bertujuan mengurangi tingkat ketidakpastian.
- Komunikasi berpusat pada kebudayaan.
- Efektifitas antarbudaya merupakan tujuan komunikasi antarbudaya.

Komunikasi antarbudaya mengandung isi dan relasi antarpribadi

Proses komunikasi antarbudaya berakar dari relasi sosial antarbudaya yang menghendaki
dan berkeinginan menwujudkan adanya interaksi sosial. Relasi antarmanusia yang berbeda
budaya tersebut sangat mempengaruhi bagaimana isi dan makna dari sebuah pesan yang
disampaikan diinterpretasi.
Watzlawick, Beavin, dan Jackson (1967) menekankan bahwa isi (content of
communication) komunikasi tidak berada dalam sebuah ruang yang terisolasi. Isi (content) dan
makna (meaning) adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, dua hal yang juga esensial dalam
membentuk relasi. (Alo Liliweri, Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya, 2007).

Perbedaan budaya yang dimiliki oleh dua orang atau dua kelompok yang memiliki
hubungan relasi tertentu, akan memberikan pengaruh bagaimana pesan tersebut
diinterprestasikan oleh lawan bicara. Seperti pada contoh berikut, seorang teman sebaya anda
meminta tolong ambilkan sebuah buku di mejanya dengan berkata “apakah anda dapat
mengambilkan buku di atas meja saya?”. Maka yang anda interpretasikan adalah sebuah pesan
permintaan yang tidak begitu mendesak. Anda menganggap seorang teman yang sedang meminta
bantuan anda. Berbeda dengan ketika kalimat tersebut dilontarkan oleh seorang dosen anda,
maka anda akan menginterpretasikan sebuah pesan tersebut adalah sebuah perintah dan harus
dilakukan dengan segera.

Hubungan relasi antara anda dengan teman anda dan anda dengan dosen anda menjadi
sebuah alasan mengapa terdapat perbedaan dalam menginterpretasi pesan. Meskipun terdapat
makna (meaning) atas isi pesan yang sama, yaitu “mengambil buku”, namun karena terdapat
hubungan relasi tertentu yang berbeda, maka kalimat itu bisa diinterpretasikan juga secara
berbeda, yaitu sebagai permintaan batuan atau sebuah perintah.

Tujuan Komunikasi Antarbudaya

Salah satu hal yang paling ditekankan adalah tujuan dari komunikasi antarbudaya adalah
mengurangi tingkat ketidakpastian tentang orang lain. Mungkin saja pertemuan antardua orang
menimbulkan permasalahan mengenai relasi dan muncullah beberapa pertanyaan seperti:
bagaimana perasaan dia terhadap saya, bagaimana sikap dia terhadap saya, apa yang akan saya
peroleh jika saya berkomunikasi dengan dia, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Kebingungan
yang dituangkan dalam pertanyaan tadi akan membuat orang merasa harus berkomunikasi,
sehingga permasalahan relasi terjawab dan kita merasa diri berada dalam suasana relasi yang
juga lebih pasti. Selanjutnya setelah berkomunikasi, seseorang akan mengambil sebuah
keputusan untuk meneruskan atau menghentikan komunikasi tersebut. Dalam teori informasi,
yang juga kajian komunikasi, tingkat ketidaktentuan atau ketidakpastian itu akan berkurang
ketika orang mampu melakukan proses komunikasi secara tepat.

Biasanya, semakin besar derajat perbedaan antarbudaya, maka akan semakin besar pula
kemungkinan kehilangan peluang untuk merumuskan suatu tingkat kepastian sebuah komunikasi
yang efektif. Hal ini disebabkan karena ketika berkomunikasi dengan seseorang dari kebudayaan
yang berbeda, maka dipastikan akan memiliki perbedaan pula dalam sejumlah hal.

Gudykunstt dan Kim (1984) menunjukkan bahwa orang-orang yang kita tidak kenal
selalu berusaha mengurangi tingkat ketidakpastian melalui peramalan yang tepat atas relasi
antarpribadi. Usaha untuk mengurangi ketidakpastian itu dapat dilakukan melalui tiga tahap
interaksi, yaitu:

1.) Pra-kontak atau tahap pembentukan kesan melalui simbol verbal maupun non verbal.
Dalam artian sebuah pertanyaan apakah komunikan suka berkomunikasi atau malah sebaliknya
menghindari komunikasi,

2.) Initial contact and impression, yakni sebuah tanggapan lanjutan atas kesan yang
ditimbulkan atau muncul dari kontak pertama tersebut., seperti bertanya pada diri sendiri: apa
saya seperti dia, apa dia mengerti saya, apa merugikan waktu saya jika berkomunikasi dengan
dia, atau pertanyaan lainnya yang serupa,

3.) Closure, mulai membuka diri yang semula tertutup, melalui atribusi dan pengembangan
kepribadian. Teori atribusi sendiri menganjurkan agar kita lebih mengerti dan memahami
perilaku orang lain dengan menyelidiki motivasi atas suatu perilaku atau tindakan dari dia (lawan
bicara). Pertanyaan yang relevan adalah apa yang mendorong dia berkata, berpikir, atau
bertindak demikian. Jika seseorang menampilkan tindakan yang positif, maka kita akan
memberikan atribusi motivasi yang positif kepada orang tersebut, karena alasan dia bernilai bagi
relasi kita. Sebaliknya, jika seorang itu menampilkan tindakan yang negatif, maka kita akan
memberikan atribusi motivasi yang negatif pula. Sementara itu, kita juga dapat mengembangkan
sebuah kesan terhadap orang itu melalui evaluasi atas kehadiran sebuah kepribadian implisit.
Karena di saat awal komunikasi atau pada bagian pra-kontak, telah memberikan kesan bahwa
orang itu baik, maka semua sifat positifnya akan mengikuti dia, misalnya karena dia baik maka
beranggapan bahwa dia pun jujur, ramah, setia kawan, penolong, tidak sombong, dan lainnya.
(Alo Liliweri, Komunikasi Antarbudaya, 2007).

Komunikasi Berpusat Pada Kebudayaan

Gatewood (1999) menjelaskan bahwa kebudayaan yang meliputi seluruh kemanusiaan itu
sangatlah banyak. Hal tersebut meliputi seluruh periode waktu dan tempat. Dalam artian, jika
komunikasi merupakan bentuk, metode, teknik, proses sosial dari kehidupan manusia yang terus
membudaya , maka komunikasi juga merupakan sarana bagi transmisi kebudayaan. Oleh
karenanya, kebudayaan itu sendiri merupakan sebuah komunikasi.

Kebudayaan sendiri adalah sesuatu yang dapat dipelajari, dapat ditukar, dan dapat
berubah. Itu pun terjadi hanya jika ada interaksi antarmanusia dalam bentuk komunikasi
antarpribadi maupun antarkelompok budaya (berbeda latar belakang budaya) secara terus-
menerus. Kebudayaan diartikan sebagai sebuah kompleksitas total dari seluruh pikiran, perasaan,
dan perbuatan manusia , maka untuk mendapatkannya dibutuhkan sebuah usaha yang selalu
berurusan dengan orang lain.

Pada akhirnya muncul pertanyaan mengenai hubungan antara komunikasi dengan


kebudayaan; apakah komunikasi ada dalam kebudayaan atau kebudayaan merupakan bagian
komunikasi?. Smith (1976) menjawabnya dengan kalimat “komunikasi dan budaya tidak dapat
dipisahkan”. Dan tokoh lainnya, Edward T. Hall mengatakan bahwa komunikasi adalah
kebudayaan dan kebudayaan adalah komunikasi.

Dua hal yang setidaknya memberi jawaban; pertama, dalam kebudayaan ada sistem dan
dinamika yang mengatur tata cara pertukaran simbol-simbol komunikasi, dan kedua, hanya
dengan komunikasi maka pertukaran simbol-simbol dapat dilakukan dan kebudayaan akan tetap
eksis jika ada komunikasi.

Pada hakikatnya, proses komunikasi antarbudaya berproses sama seperti komunikasi


lainnya, yaitu secara interaktif dan transaksional serta dinamis.

Komunikasi antarbudaya yang interaktif adalah komunikasi yang dilakukan olh


komunikator dengan komunikan dalam dua arah atau two way communication, namun masih
berada pada tahap rendah ( Wahlstrom, 1992). Jika proses komunikasi atau pertukaran pesan
tersebut telah sampai pada bentuk saling mengerti, memahami perasaan dan tindakan bersama
maka komunikasi itu telah memasuki tahap lebih tinggi dengan kata lain telah ada pada tahap
transaksional (Hybels dan Sandra, 1992).

Tiga unsur penting yang meliputi komunikasi transaksional adalah; pertama, keterlibatan
emosional yang tinggi, berlangsung secara terus menerus dan berkesinambungan atas pertukaran
pesan, kedua, peristiwa komunikasi tersebut meliputi seri waktu, yaitu berkaitan dengan masa
lalu, kini, dan yang akan datang, dan yang terakhir adalah partisipan dalam komunikasi
antarbudaya yang sedang berlangsung menjalankan peran tertentu.

Komunikasi interaktif maupun transaksional keduanya berproses yang bersifat dinamis.


Alasannya, karena proses tersebut berlangsung dalam konteks sosial yang hidup, berkembang
dan bahkan berubah berdasarkan waktu, situasi, dan kondisi tertentu. Karena proses komunikasi
yang dilakukan merupakan merupakan komunikasi antarbudaya maka kebudayaan merupakan
dinamisator atau dengan kata lain sebagai penghidup bagi proses komunikasi yang sedang
berlangsung.

Efektifitas Komunikasi Antarbudaya

Kenyataan dan kehidupan sosial telah membuktikan bahwa manusia di muka bumi tidak
dapat hidup sendiri. Mereka pasti melakukan interaksi sosial dan selalu berhubungan satu sama
lain. Dan interaksi itu tidak akan terjadi tanpa adanya proses komunikasi. Itu artinya, dalam
komunikasi antarbudaya, interaksi antarbudaya pun tidak akan pernah ada jika tidak ada
komunikasi antarbudaya. Segala kefektivan dalam interaksi antarbudaya tergantung pada
komunikasi antarbudaya. Gudykunst menyakini bahwa kecemasan dan ketidakpastian adalah
dasar penyebab dari kegagalan komunikasi pada situasi antarbudaya.

Konsep diatas sekaligus menekankan bahwa segala tujuan komunikasi antarbudaya akan
tercapai dan dikatakan berhasil jika bentuk-bentuk hubungan antarbudaya menggambarkan
upaya dari peserta komunikasi untuk memperbaharui relasi antar komunikator dan komunikan,
menciptakan dan memperbaharui sebuah manajemen komunikasi yang efektif, lahirnya sikap
dan semangat kesetiakawanan, persahabatan, pertemanan, kekerabata, hingga kepada
pengurangan konflik antar keduanya.

Dengan pemahaman mengenai komunikasi antar budaya dan bagaimana komunikasi


dapat dilakukan, maka kita dapat melihat bagaimana komunikasi dapat mewujudkan perdamaian
dan meredam konflik di tengah-tengah masyarakat. Dengan komunikasi yang intens kita dapat
memahami akar permasalahan sebuah konflik, membatasi dan mengurangi kesalahpahaman,
komunikasi dapat mengurangi konflik sosial. Menurut Charles E Snare bahwa usaha meredam
konflik dan mendorong terciptanya perdamaian tergantung bagaimana cara kita mendefinisikan
situasi orang lain agar kita dapat mencapai perdamaian dan kerjasama.

Untuk mencapai komunikasi antar budaya yang efektif, individu seharusnya


mengembangkan kompetensi antar budaya; merujuk pada keterampilan yang dibutuhkan untuk
mencapai komunikasi antar budaya yang efektif Jandt (1998, 2004) mengidentifikasikan empat
keterampilan sebagai bagian dari kompetensi antar budaya, yaitu personality strength,
communication skills, psychological adjustment and cultural awareness. Tidak dapat diragukan
bahwa kompetensi antar budaya adalah sebuah hal yang sangat penting saat ini. Seperti halnya
pendatang sementara yang disebut sojourners, yaitu sekelompok orang asing (stranger) yang
tinggal dalam sebuah negara yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda dengan negara
tempat mereka berasal

Komunikasi antarbudaya merupakan pertukaran pesan antara komunikator dengan


komunikan yang berasal dari latar belakang budaya berbeda.

Komunikator dalam komunikasi antarbudaya adalah pihak yang mengawali komunikasi,


dalam artian ia memulai pengiriman pesan tertentu kapada orang lain yang disebut
komunikan.Komunikan sendiri berarti pihak yang menerima pesan tertentu sekaligus menjadi
sasaran komunikasi dari komunikator.

Perbedaan karakteristik antarbudaya antara lain ditentukan oleh latar belakang ras dan
etnis, usia dan jenis kelamin, latar belakang sistem politik, kepercayaan, minat dan kebiasaan,
status, kemampuan berbicara dan menulis, bentuk-bentuk dialek, dan sebagainya.
Dalam komunikasi antarbudaya, setiap proses komunikasinya mengandung isi dan relasi
antar pribadi. Relasi antar pribadi atau kelompok sangat mempengaruhi bagaimana nantinya
pesan itu diinterpretasi. Meski terdapat isi dan makna yang sama, namun relasi menjadi pengaruh
terhadap penginterpretasian pesan yang disampaikan kepada lawan bicara.

Watzlawick, Beavin, dan Jackson (1967) menekankan bahwa isi (content of


communication) komunikasi tidak berada dalam sebuah ruang yang terisolasi. Isi (content) dan
makna (meaning) adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, dua hal yang juga esensial dalam
membentuk relasi.

Perbedaan budaya yang dimiliki oleh dua orang atau dua kelompok yang memiliki
hubungan relasi tertentu, akan memberikan pengaruh bagaimana pesan tersebut
diinterprestasikan oleh lawan bicara.

Ternyata, dalam komunikasi yang berlangsung antarbudaya juga mengenal gaya personal
dalam berkomunikasi. Gaya personal yang dimiliki masing-masing orang memberikan pengaruh
terhadap proses komunikasi tersebut. Komunikasi antarpribadi akan terlihat efektif atau tidak
melalui pengaruh gaya personal komunikator atau komunikan dalam menyampaikan atau
menerima pesan. Bagaimana nantinya komunikasi tersebut berlangsung harmonis atau malah
sebaliknya.

Secara normatif, komunikasi antarpribadi itu mengandalkan gaya berkomunikasi yang


dihubungkan dengan nilai-nilai yang dianut orang. Nilai-nilai itu berbeda diantara kelompok
etnik yang dapat menunjang atau mungkin merusak perhatian tatkala orang berkomunikasi. Di
sini, gaya itu bisa berkaitan dengan individu maupun gaya dari sekelompok etnik.

Salah satu tujuan komunikasi antarbudaya yang kami bahas adalah mengurangi tingkat
ketidakpastian, ketidaktentuan, ataupun kebingungan. Permasalahan relasi biasanya akan lebih
pasti ketika seseorang telah melakukan proses komunikasi.

Setelah berkomunikasi, seseorang akan mengambil sebuah keputusan untuk meneruskan


atau menghentikan komunikasi tersebut. Dalam teori informasi, yang juga kajian komunikasi,
tingkat ketidaktentuan atau ketidakpastian itu akan berkurang ketika orang mampu melakukan
proses komunikasi secara tepat.

Pada dasarnya, setiap proses komunikasi berpusat pada kebudayaan. Bahkan ada jawaban
yang menyatakan bahwa komunikasi adalah kebudayaan dan kebudayaan adalah komunikasi.
Jelas, keduanya tidak dapat dipisahkan.

Gatewood (1999) menjelaskan jika komunikasi merupakan bentuk, metode, teknik,


proses sosial dari kehidupan manusia yang terus membudaya , maka komunikasi juga merupakan
sarana bagi transmisi kebudayaan. Oleh karenanya, kebudayaan itu sendiri merupakan sebuah
komunikasi.

Terakhir yang akan kami simpulkan, bahwa komunikasi antarbudaya pun memiliki
berbagai tujuan yang menjadikan komunikasi tersebut efektif dan dikatakan berhasil.

Kenyataan dan kehidupan sosial telah membuktikan bahwa manusia di muka bumi tidak
dapat hidup sendiri. Mereka pasti melakukan interaksi sosial dan selalu berhubungan satu sama
lain. Dan interaksi itu tidak akan terjadi tanpa adanya proses komunikasi. Itu artinya, dalam
komunikasi antarbudaya, interaksi antarbudaya pun tidak akan pernah ada jika tidak ada
komunikasi antarbudaya. Segala kefektivan dalam interaksi antarbudaya tergantung pada
komunikasi antarbudaya.

Konsep diatas sekaligus menekankan bahwa segala tujuan komunikasi antarbudaya akan
tercapai dan dikatakan berhasil jika bentuk-bentuk hubungan antarbudaya menggambarkan
upaya dari peserta komunikasi untuk memperbaharui relasi antar komunikator dan komunikan,
menciptakan dan memperbaharui sebuah manajemen komunikasi yang efektif, lahirnya sikap
dan semangat kesetiakawanan, persahabatan, pertemanan, kekerabata, hingga kepada
pengurangan konflik antar keduanya.

Adapun komunikasi lintas budaya sendiri didefinisikan sebagai :

1. Komunikasi yang dilakukan oleh dua kebudayaan atau lebih,


2. Komunikasi yang dilakukan sebagai akibat dari terjalinnya komunikasi antar unsur
kebudayaan itu sendiri, seperti komunikasi antar masyarakatnya.
Jika kita gabungkan dari kedua pengertian tentang komunikasi dan kebudayaan (budaya) maka
akan mendapatkan pengertian sebagai berikut :

“Komunikasi Lintas budaya adalah proses dimana dialihkan ide atau gagasan suatu budaya yang
satu kepada budaya yang lainnya dan sebaliknya, dan hal ini bisa antar dua kebudayaan yang
terkait ataupun lebih, tujuannya untuk saling mempengaruhi satu sama lainnya, baik itu untuk
kebaikan sebuah kebudayaan maupun untuk menghancurkan suatu kebudayaan, atau bisa jadi
sebagai tahap awal dari proses akulturasi (penggabungan dua kebudayaan atau lebih yang
menghasilkan kebudayaan yang baru).”

Karakteristik Komunikasi Lintas Budaya

1. Ada dua atau lebih kebudayaan yang terlibat dalam komunikasi


2. Ada jalan atau tujuan yang sama yang akhirnya menciptakan komunikasi itu
3. Komunikasi Lintas budaya menghasilkan kuntungan dan kerugian diantara dua budaya
atau lebih yang terlibat,
4. Komunikasi lintas budaya dijalin baik secara individu anggota masyarakat maupun
dijalin secara berkelompok atau dewasa ini dapat dilakukan melalui media,
5. Tidak semua komunikasi lintas budaya menghasilkan feedback yang dimaksud, hal ini
tergantung kepada penafsiran dan penerimaan dari sebuah kebudayaan yang terlibat,
mau atau tidaknya dipengaruhi,Bila dua kebudayaan melebur karena pengaruh
komunikasi yang dijalin maka akan menghasilkan kebudayaan baru, dan inilah yang
disebut akulturasi.