Anda di halaman 1dari 28

DPPP 12

Nama : Rosani Chaerunnisa Ikhsan


NIM : A31115035

Sistem Perencanaan Sumber Daya Perusahaan dan Sistem E-Commerce

A. Sistem Perencanaan Sumber Daya Perusahaan

 Definisi ERP
ERP adalah paket software yang melibatkan banyak modul software yang berkembang
terutama dari sisitem tradisional Manufacturing Resource Planning (MRP II). Tujuan dari
ERP adalah untuk mengintegrasikan proses-proses kunci organisasi seperti order entry,
manufacturing, pembelian dan utang dagang, penggajian, dan sumber daya manusia. Dalam
model system informasi tradisional tiap departemen atau fungsi mempunyai system komputer
sendiri yang didesain untuk mengoptimalkan kinerjanya tiap departeman dan fungsi. ERP
menggabungkan semua ini menjadi satu system yang terintegrasi yang mengaskses satu
database sehingga memungkinkan sharing informasi dan meningkatkan komunikasi dalam
perusahaan. ERP adalah paket software yang melibatkan banyak modul software yang
berkembang terutama dari sisitem tradisional Manufacturing Resource Planning (MRP II).
Tujuan dari ERP adalah untuk mengintegrasikan proses-proses kunci organisasi seperti order
entry, manufacturing, pembelian dan utang dagang, penggajian, dan sumber daya manusia.
Dalam model system informasi tradisional tiap departemen atau fungsi mempunyai system
komputer sendiri yang didesain untuk mengoptimalkan kinerjanya tiap departeman dan
fungsi. ERP menggabungkan semua ini menjadi satu system yang terintegrasi yang
mengaskses satu database sehingga memungkinkan sharing informasi dan meningkatkan
komunikasi dalam perusahaan.
Sistem Informasi Tradisional

Penjelasan:
Perusahaan ini menggunakan suatu arsitektur databas ter-tutup, yang serupa dalam
konsep Pada model flat file dasar (basic flat file model). Di bawah pendekatan ini suatu
sistem manajemen database digunakan untuk memberi-kan keuntungan teknologi minimal di
alas sistem flat file. DBMS (database manage-ment system) adalah sedikit lebih daripada
suatu sistem file privat tetapi berdaya guna. Sebagaimana dengan pendekatan flat file, data
tetap milik dari aplikasi. Sebagaimana halnya dengan arsitektur flat file, ini adalah suatu
tingkat tinggi dari kelebihan data dalam suatu lingkungan database tertutup.
Ketika seorang pelanggan menempatkan suatu pesanan, mulailah suatu per-jalanan
berdasarkan kertas ke seputar perusahaan di mana ini disesuaikan dan di-sesuaikan ulang ke
dalam sistem dari berbagai departemen berbeda. Tugas ber-lebihan ini menyebabkan
penundaan, kehilangan pesanan, dan meningkatkan ke-salahan pemasukan data. Selama
melintasi berbagai sistem, status dari pesanan mungkin tidak dikenal pada titik manapun saat
itu. Contoh, menanggapi pertanyaan seorang pelanggan, departemen pemasaran mungkin
tidak dapat memeriksa ke dalam database produksi untuk menentukan apakah suatu pesanan
telah dibuat dan dikirimkan. Sebagai gantinya, pelanggan yang frustrasi diberitahu ”Anda
perlu untuk menelepon manufakturing.” Sama halnya dengan usaha pengadaan dari bahan
mentah dari pemasok yang tidak dihubungkan dengan pesanan pelanggan sampai mereka
mencapai tahap manufakturing. Ini menghasilkan penundaan, sebagaimana manufakturing
menunggu kedatangan dari bahan yang dibutuhkan, atau dalam investasi yang berlebihan
dalam persediaan untuk mencegah kehabisan persediaan.
Kekurangan dari komunikasi efektif antara sistem dalam model tradisional sering
merupakan konsekuensi dari suatu proses desain sistem yang terfragmentasi. Setiap sistem
cenderung untuk didesain sebagai suatu solusi pada masalah operasi-onal khusus daripada
sebagai bagian dari strategi keseluruhan.
Sistem ERP mendukung suatu aliran informasi yang lancar dan tanpa keliman
(seamless) sepanjang organisasi dengan menyediakan suatu lingkungan yang distan-dardisasi
untuk proses bisnis suatu perusahaan dan suatu database operasional umum yang mendukung
komunikasi. (DAPP 1).

Aplikasi Utama ERP

Fungsionalitas ERP terdiri atas dua kelompok aplikasi umum: aplikasi inti dan aplikasi
analisis bisnis.

1. Aplikasi inti :
Aplikasi inti adalah aplikasi yang secara operasi mendukung aktivitas sehari-hari dari
bisnis. Aplikasi inti khusus akan meliputi tetapi tidak terbatas pada penjualan dan distribusi,
perencanaan bisnis, perencanaan produksi, kontrol shop floor, dan logistik. Aplikasi inti
disebut juga aplikasi on-line transaction processing (OLTP). Gambar 11-2 mengilustrasikan
fungsi ini yang diterapkan pada suatu perusahaan manufakturing.
Fungsi penjualan dan distribusi menangani pemasukan pesanan dan pen-jadwalan
pengiriman. lni termasuk memeriksa ketersediaan produk untuk me-mastikan pengiriman
tepat waktu dan memverifikasi batas kredit pelanggan. Tidak seperti contoh sebelumnya,
pesanan pelanggan dimasukkan ke dalam ERP hanya sekali. Karena semua pengguna
mengakses suatu database umum, status dari suatu pesanan dapat ditentukan pada setiap titik.
Kenyataannya, pelanggan mungkin dapat membuka Internet dan memeriksa status dari
pesanan secara langsung. Integrasi semacam itu mengurangi aktivitas manual, menghemat
waktu, dan mengurangi kesalahan manusia.
Perencanaan bisnis terdiri atas meramal permintaan, perencanaan produksi produk,
dan pengiriman infqrmasi terinci yang menggambarkan urutan dan tahap dari proses produksi
sebenarnya. Perencanaan kapasitas dan perencanaan pro-duksi dapat sang at rumit, karena itu
beberapa ERP memberikan alat simulasi untuk membantu manajer memutuskan bagaimana
cara menghindarkan keku-rangan dalam bahan baku, tenaga buruh, atau fasilitas pabrik.
Begitu jadwal produksi induk lengkap, data memasuki modul MRP (Materials Requirements
Planning-perencanaan kebutuhan bahan baku), yang memberikan tiga informasi kunci :

a. Suatu laporan pengecualian.


Laporan pengecualian mengidentifikasi situasi potensial seperti pengiriman terlambat
yang akan mengakibatkan penjadwalan kembali produksi.

b. Sebuah daftar kebutuhan bahan baku.


Daftar kebutuhan bahan baku menunjukkan rincian dari pengiriman penjual dan
harapan penerimaan dari produk dan komponen yang dibutuhkan untuk pesanan tersebut.

c. Permintaan persediaan.
Permintaan persediaan digunakan untuk menimbulkan pesanan pembelian bahan baku
kepada penjual untuk item yang tidak ada dalam persediaan.

Kontrol shop floor melibatkan aktivitas penjadwalan produksi terinci, pe-ngiriman,


dan biaya pekerjaan yang berhubungan dengan proses produksi sebe-narnya. Aplikasi logistik
bertanggung jawab untuk memastikan pengiriman tepat waktu kepada pelanggan. Ini terdiri
atas manajemen persediaan dan gudang. Kebanyakan ERP juga meliputi aktivitas
pengadaannya dalam fungsi logistik.

2. Aplikasi analisis bisnis


Suatu ERP adalah lebih dari sekadar suatu sistem pemrosesan transaksi terinci. Ini
merupakan suatu alat pendukung keputusan yang menyediakan manajemen dengan informasi
waktu sebenarnya dan memungkinkan keputusan tepat waktu yang dibutuhkan untuk
meningkatkan kinerja dan meneapai ke-unggulan bersaing.
On-line analytical processing (OLAP) meliputi pendukung keputusan, pe-modelan,
penarikan informasi, pelaporan analisis ad hoc, dan analisis bagaimana jika (what if analysis).
Beberapa ERP mendukung keputusan ini dengan modul spesifik industrinya sendiri yang
dapat ditambahkan pada sistem inti.
Namun aplikasi analisis bisnis yang diperoleh atau berasal dari, terpusat pada
kesuksesan fungsinya, merupakan suatu gudang data. Sebuah gudang data (data warehouse)
adalah sebuah database yang dibentuk untuk penearian, per-olehan kembali seeara eepat,
pertanyaan khusus, dan kemudahan penggunaan. Data tersebut biasanya dikutip seeara
periodik dari sebuah database operasional atau dari suatu layanan informasi publik. Sebuah
sistem ERP dapat ada tanpa memiliki suatu gudang data; demikian pula, organisasi yang
tidak mengimplementasikan suatu ERP mungkin menggunakan gudang data. Trendnya,
bagaimanapun, bahwa organisasi yang serius dengan keunggulan akan bersaing
menggunakan keduanya. Arsitektur data yang direkomendaslkan untuk suatu implementasi
ERP meliputi database operasional dan gudang data terpisah.

 Konfigurasi Sistem ERP

Konfigurasi Server
Kebanyakan sistem ERP berdasarkan pada model klien-server. Secara singkat, model
klien-server adalah suatu bentuk dari topologi jaringan di mana kom-puter atau terminal
seorang pengguna (klien) mengakses program ERP dan data me-lalui suatu komputer host
yang dinamakan server. Sementara server mungkin ter-pusat, klien biasanya berlokasi pada
berbagai lokasi di seluruh perusahaan. Dua arsitektur dasar terdiri atas model dua-tingkat dan
model tiga-tingkat seperti di-jelaskan di bawah ini.

Model Dua - Tingkat (Two-Tier Model)


Dalam suatu model dua-tingkat, server menangani baik aplikasi dan kewajiban
database. Komputer klien bertanggung jawab untuk menyajikan data kepada pengguna dan
menyampaikan masukan (input) pengguna kembali kepada server. Beberapa penjual ERP
menggunakan pendekatan ini untuk aplikasi jaringan area lokal (Local Area Network - LAN)
di mana permintaan pada server dibatasi pada suatu populasi pengguna yang relatif kecil.
Konfigurasi ini diilustrasikan dalam Gambar 11-3 berikut ini.

Gambar. Server Klien Dua – Tingkat

Model Tiga - Tingkat (Three-Tier Model)


Fungsi database dan aplikasi dipisahkan dalam model tiga-tingkat. Arsitektur ini
khususnya dari sistem ERP besar yang menggunakan jaringan area luas (wide area networks-
-WANg) untuk konektivitas di antara pengguna. Memenuhi per-mintaan klien memerlukan
dua atau lebih sambungan jaringan. Pada awalnya, klien membentuk komunikasi aengan
server aplikasi. Server aplikasi tersebut ke-mudian memulai suatu hubungan kedua kepada
database server.

Gambar. Server Klien Tiga – Tingkat


OLTP vs OLAP
Ketika mengimplementasikan suatu sistem ERP yang akan meliputi suatu database,
suatu pembedaan yang jelas perlu dibuat antara jenis pemrosesan data yang bersaing, yaitu:
1. Pemrosesan transaksi on-line.
2. Pemrosesan analitikal on-line.
Kejadian Pemrosesan Transaksi On-Line (OLTP - On-Line Transaction Proces-sing)
terdiri atas sejumlah besar transaksi yang relatif sederhana seperti memper-barui catatan
akuntansi yang disimpan dalam beberapa tabel yang berkaitan. Misal-nya, suatu sistem
pemasukan pesanan mengutip semua data yang berkaitan dengan suatu pelanggan tertentu
sampai memproses suatu transaksi penjualan. Data relevan dipilih dari tabel Pelanggan, tabel
Faktur, dan tabel Item Lini. Setiar tabel berisi suatu petunjuk yang dapat disimpan (yakni
nomor pelanggan), yang diguna-kan untuk mengaitkan baris antara tabel berbeda. Aktivitas
pemrosesan transaksi melipuli memperbarui saldo pelanggan sekarang dan menyisipkan
catatan baru ke dalam tabel Faktur dan tabel Item Lini. Hubungan antara catatan dalam
transaksi OLTP semacam itu biasanya cukup sederhana dan hanya sedikit catatan biasanya
dikutip atau diperbarui dalam suatu transaksi tunggal.
Pemrosesan analitikal on-line (OLAP) dapat dikarakteristikkan sebagai transaksi on-
line yang :
1. Mengakses jumlah data yang sangat banyak (misalnya, data penjualan beberapa tahun).
2. Menganalisis hubungan antara banyak jenis elemen bisnis seperti penjualan, produk,
wilayah geografis, dan saluran pemasaran.
3. Meliputi data yang dijumlahkan (aggregated) seperti volume penjualan, dolar yang
dianggarkan, dan dolar yang dibelanjakan.
4. Membandingkan data yang dijumlahkan selama periode waktu hierarkis (misalnya,
bulanan, kuartalan, tahunan).
5. Menyajikan data dalam sudut pandang berbeda seperti penjualan per wilayah, penjualan
oleh saluran distribusi, atau penjualan per produk
6. Meliputi penghitungan rumit antara elemen data seperti keuntungan yang di-harapkan
sebagai suatu fungsi dari pendapatan penjualan untuk masing-masing jenis dari saluran
penjualan dalam suatu wilayah tertentu.
7. Menanggapi dengan cepat permintaan pengguna sehingga mereka dapat menge-jar suatu
proses pemikiran analitikal tanpa dirintangi oleh penundaan sistem.
Contoh dari sebuah transaksi OLAP adalah agregasi dari data penjualan per wilayah,
jenis produk, dan saluran penjualan. Suatu aplikasi OLAP harus dapat mendukung analisis
online ini dengan respons cepat.
Perbedaan antara OLAP dan OLTP dapat diringkas sebagai berikut. Aplikasi OLTP
mendukung tugas misi-kritis melalui pertanyaan sederhana dari database operasional.
Aplikasi OLAF mendukung tugas kritis manajemen melalui penyelidikan analitikal dari
hubungan data rumit yang ditangkap dalam gudang data. OLAF dan OLTP memiliki
persyaratan khusus yang berkonflik langsung. Gambar 11-5 menun-jukkan bagaimana
arsitektur klien-server memungkinkan organisasi untuk meng-gunakan aplikasi terpisah dan
terspesialisasi dan database server untuk menyelesai-kan kebutuhan manajemen dari data
yang berkonflik ini.
Gambar 11-5. Server Klien OLTP dan OLAP
Server OLAP mendukung operasi analitikal umum termasuk konsolidasi, penge-boran
ke bawah (drill down), memotong dan mengiris (slicing dan dicing).
1. Konsolidasi adalah agregasi atau pengumpulan data. Misalnya, data kantor penjualan
dapat dikumpulkan ke distrik dari distrik dikumpulkan ke wilayah.
2. Drill-down memungkinkan disagregasi dari data untuk mengungkapkan rincian yang
mendasari yang menjelaskan fenomena tertentu. Misalnya, pengguna dapat mengebor ke
bawah dari Pengembalian Penjualan total untuk suatu periode untuk mengidentifikasi
produk sebenarnya yang dikembalikan dan alasan pengembali-annya.
3. Slicing dan dicing memungkinkan pengguna untuk memeriksa data dari titik pandang
berbeda, Satu potong data mungkin menunjukkan penjualan dalam masing-masing
wilayah. Potongan data lain menyajikan penjulan per produk di seluruh wilayah. Slicing
dari dicing sering dilakukan selama suatu sumbu waktu untuk menggambarkan trend dan
pola.

Konfigurasi Database
Sistem ERP terdiri atas ribuan tabel database. Setiap tabel dihubungkan dengan proses
bisnis yang dikode ke dalam ERP. Tim implementasi ERP yang me-liputi pengguna kunci
dan profesional IT, memilih tabel database tertentu dan mem-proses dengan memasang
pengalih dalam sistem tersebut. Menentukan bagaimana semua pengalih (switches) perlu
dipasang untuk suatu konfigurasi tertentu yang membutuhkan sllatu pemahaman mendalam
dari proses yang ada yang digunakan dalam menjalankan bisnis. Namun, Bering kali dalam
memilih penetapan tabel ini melibatkan keputusan untuk merekayasa proses perusahaan
sehingga mereka sesuai dengan pniktik bisnis terbaik yang digunakan. Dengan kata lain,
perusahaan khusus-nya mengubah prosesnya untuk mengakomodasi ERP daripada
memodifikasi ERP untuk mengakomodasi perusahaan.

Perangkat Lunak Bolt-On


Banyak perusahaan menemukan bahwa perangkat ERP sendiri tidak dapat
menggerakkan semua proses dari perusahaan. Perusahaan-perusahaan ini meng-gunakan
suatu variasi dari perangkat lunak bolt-on yang disediakan oleh penjual pihak ketiga.
Keputusan untuk menggunakan perangkat lunak bolt-on membutuhkan pertimbangan hati--
hati. Kebanyakan dari penjual ERP ternama telah masuk ke dalam pengaturan kemitraan
dengan penjual pihak ketiga yang menyediakan fungsionalitas khusus. Pendekatan yang
paling tidak berisiko adalah memilih bolt-on yang didukung oleh penjual ERP.

Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain Management)


Perkembangan lain berkenaan pokok persoalan perangkat lunak bolt-on adalah
penyatuan cepat fungsionalitas antara ERP dan perangkat lunak bolt-on. Perangkat lunak
Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain Management - SCM) adalah suatu kasus yang
sedang dibicarakan.
Rantai pasokan adalah serangkaian aktivitas yang berhubungan dengan me-
mindahkan barang dari tahap bahan mentah kepada pelanggan. Ini meliputi peng-adaan,
penjadwalan produksi, pemrosesan pesanan, manajemen persediaan, trans-portasi,
pergudangan, layanan pelanggan, dan peramalan permintaan untuk barang. Sistem SCM
adalah suatu kelas perangkat lunak aplikasi yang mendukung tugas ini.
Manajemen rantai pasokan yang sukses mengkoordinasikan dan menginteg-rasikan
aktivitas ini ke dalam suatu proses tanpa keliman (seamless). Sebagai tambahan pada area
fungsional kunci dalam organisasi, SCM mengaitkan semua mitra dalam rantai, termasuk
penjual, pengangkut, perusahaan logistik pihak ketiga, dan penyedia sistem informasi.
Organisasi dapat mencapai keunggulan bersaing dengan mengaitkan aktivitas dalam rantai
pasokannya secara lebih efisien dan lebih efektif daripada pesaingnya. (DAPP 3).
 Data Warehousing

Fungsionalitas pergudangan data adalah suatu database relasional atau multi-


dimensional yang mungkin menghabiskan ratusan gigabyte atau bahkan terabyte dari
penyimpanan disk. Ketika gudang data diorganisasikan untuk departemen atau fungsi
tunggal, hal ini sering disebut suatu data mart. Daripada memiliki ratusan gigabyte data untuk
seluruh perusahaan, suatu data mart mungkin hanya memiliki puluhan gigabyte data. Selain
ukuran, kita tidak membuat pembedaan antara suatu data mart dan suatu gudang data.
Proses dari pergudangan data meliputi mengutip, mengubah, dan menstan-dardisasi
suatu data operasional organisasi dari ERP dan sistem warisan, dan me-muatnya ke dalam
satu file pusat-gudang data. Begitu dimuat ke dalam gudang, data dapat diakses melalui query
database (database queries) dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk meniru
fenomena dunia dari data yang dikum-pulkan dari gudang tersebut.

Kebanyakan organisasi mengimplementasikan suatu gudang data sebagai bagian dari


suatu inisiatif strategis IT yang melibatkan suatu sistem ERP. Proses pergudangan data
memiliki lahar renting berikut :
1. Membuat model data untuk gudang data.
2. Mengutip data dari database operasional.
3. Membersihkan data yang dikutip.
4. Mengubah data ke dalam model gudang.
5. Memuat data ke dalam database gudang data.

Membuat Model Data Untuk Gudang Data


Pentingnya normalisasi data untuk menghilangkan tiga anomali (penyimpang-an)
serius: anomali pembaruan (update anomaly), anomali penyisipan (insertion anomaly), dan
anomali penghapusan (deletion anomaly). Normalisasi data dalam suatu database operasional
diperlukan untuk mencerminkan interaksi dinamis antara kesatuan secara akurat. Sifat data
secara konstan diperbarui, sifat baru ditambah-kan, dan sifat yang usang dihapus atas basis
reguler.

Gudang Terdiri Atas Data yang Didenormalisasikan


Suatu penggabungan tiga cara antara tabel dalam suatu gudang data besar mungkin
mengambil waktu lama untuk selesai yang tidak dapat diterima dan mung-kin tidak
diperlukan. Dalam model data gudang data, hubungan antara sifat tidak berubah. Karena data
historis adalah statis sifatnya, tidak ada yang diperoleh dengan membentuk tabel yang
dinormalisasi dengan keterkaitan dinamis.
Misalnya, dalam sebuah sistem database operasional, Produk X mungkin merupakan
elemen dari data pengerjaan dalam proses (work-in process) dalam Departemen A bulan ini
dan bagian dari pengerjaan dalam proses Departemen B bulan depan. Dalam sebuah model
data yang dinormalisasi dengan benar, adalah tidak tepat untuk memasukkan data pengerjaan
dalam proses Departemen A sebagai bagian dari suatu tabelPesanan Penjualan yang mencatal
suatu pesanan untuk Produk X. Hanya angka item produk akan dimasukkan dalam label
Pesanan Penjual-an sebagai suatu kunci aging yang mengaitkannya pada tabel Produk. Temi
relasi-onal akan memerlukan suatu gabungan (hubungan) antara tabel Pesanan Penjualan dan
tabel Produk untuk menentukan status produksi (pada departemen mana produl sekarang
berada) dan sifat lain dari produk. Dari suatu perspektif operasional, kese-suaian dengan teori
relasional adalah renting karena hubungan berubah sebagai-mana produl bergerak melalui
departemen berbeda sepanjang waktu. Teori relasi-onal tidak diterapkan pada suatu sistem
pergudangan data karena hubungan Pesanan Penjualan/Produk adalah stabil.
Jika memungkinkan, tabel yang dinormalisasi berhubungan dengan kejadian terpilili
mungkin dikonsolidasikan ke dalam tabel yang didenormalisasikan. Gambar 11-6
mengilustrasikan bagaimana data pesanan penjualan dikurangi menjadi suatu tabel Pesanan
Penjualan yang didenormalisasi tunggal untuk penyimpanan dalam suatu sistem gudang data.
Gambar. Data yang Didenormalisasikan
A. Perwakilan yang dinormalisasikan untuk Sistem Database perasional

Mengutip Data Dari Database Operasional


Pengutipan data adalah proses dari mengumpulkan data dari database opera-sional,
arsip file, arsip, dan sumber data eksternal. Database operasional khususnya perlu di luar
layanan ketika pengutipan data terjadi untuk menghindarkan ketidak-konsistenan data.
Karena ukurannya yang besar dan butuh suatu pemindahan cepat untuk meminimalisasi
waktu, sedikit atau tidak, ada konversi data terjadi pada titik ini. Suatu teknik yang disebut
penangkapan data yang diubah (changed data cap-ture) dapat secara dramatis mengurangan
waktu pengutipan dengan hanya me-nangkap data yang dimodifikasi baru. Perangkat lunak
pengutipan membandingkan database operasional dengan suatu gambaran dari data yang
diambil pada pemin-dahan data terakhir ke gudang. Hanya data yang telah diubah untuk
sementara ditangkap.

Mengutip Snapshot Versus Data yang Distabilisasi


Data transaksi disimpan dalam database operasional melalui beberapa tahap
sebagaimana kejadian ekonomis diungkap. Misalnya, suatu transaksi penjualan per-tama-
tama melaltri persetujuan kredit, kemudian produk dikirimkan, kemudian pena-gihan terjadi,
dan akhirnya pembayaran diterima. Masing-masing dari kejadian ini mengubah keadaan dari
transaksi dan rekening yang berhubungan seperti per-sediaan, piutang dagang, dan kas.
Suatu fitur kunci dari sebuah gudang data adalah bahwa data yang ter-kandung ada
dalam keadaan stabil. Khususnya, data transaksi dimuat ke dalam gudang hanya ketika
aktivitas padanya telah selesai. Hubungan renting yang poten-sial antara kesatuan mungkin,
absen dari data yang ditangkap dalam keadaan stabil. Misalnya, informasi mengenai
pembatalan pesanan penjualan mungkin tidak tercer-min di antara pesanan penjualan rani
telah dikirimkan dan dibayar sebelum mereka ditempatkan dalam gudang. Satu cara untuk
mencerminkan dinamika ini adalah untuk mengutip data operasi dalam "potongan waktu",
potongan ini memberikan suatu snapshot dari aktivitas bisnis. Misalnya, pengambil
keputusan mungkin ingin mengamati transaksi penjualan disetujui, dikirimkan, ditagih, dan
dibayar pada ber-bagai titik dalam waktu bersama dengan snapshot dari tingkat persediaan
pada se-tiap keadaan. Data semacam itu mungkin berguna dalam menggambarkan Irena
dalam waktu rata-rata yang diambil untuk menyetujui kredit atau mengirimkan barang yang
mungkin membantu menjelaskan kehilangan penjualan.

Membersihkan Data Yang Dikutip


Pembersihan data menyangkut menyaring ke luar atau memperbaiki data yang tidak
valia sebelum disimpan dalam gudang. Data operasional adalah "kotor" untuk banyak alasan,
Kesalahan penulisan, pemasukan data, dan program komputer dapat menciptakan data tidal
logis seperti kuantitas persediaan negatif, salah pengejaan nama, dan bidang kosong,
pembersihan data juga melibatkan mengubah data ke dalam istilah bisnis standar dengan nilai
data standar. Data sering kali di-gabungkan dari berbagai sistem yang menggunakan
pengejaan yang sedikit berbeda untuk mewakili istilah umum, seperti "cust", "cust_id", atau
"cust_no". Beberapa sistem operasional mungkin sepenuhnya menggunakan istilah berbeda
untuk me-ngacu pada kesatuan yang sama. Misalnya, seorang pelanggan bank dengan suatu
sertifikat deposito dan suatu sisa pinjaman mungkin disebut seorang yang Me-minjamkan
(Lender) oleh satu sistem dan seorang Peminjam (Borrower) oleh sistem lain. Gambar 11-7
mengilustrasikan peranan clari pembersihan data dalam mem-bangun dan mempertahankan
suatu gudang data.

Gambar 11-7. Sistem Gudang Data (Data Warehouse)


Mengubah Data Ke Dalam Model Gudang
Suatu gudang data disusun dari data rincian dan ringkasan. Untuk mening-katkan
efisiensi, data dapat diubah dalam pandangan ringkasan (views summaries) sebelum mereka
dimuat ke dalam gudang. Misalnya, banyak pengambil keputusan mungkin perlu melihat
angka penjualan produk diringkas untuk seminggu, sebulan, sekuartal, atau tahunan.
Mungkin tidak praktis untuk meringkas informasi dari data terinci setiap kali pengguna
membutuhkannya. Sebuah gudang data yang berisi ringkasan data yang paling sering diminta
dapat mengurangi jumlah waktu pemro-sesan selama analisis. Mengacu kembali ke Gambar
11-7 kita melihat penciptaan dari ringkasan sepanjang waktu. Mereka khususnya diciptakan
di seputar kesatuan bisnis seperti pelanggan, produk, dan pemasok. Tidak seperti pandangan
operasional, yang sifatnya virtual (semu) dengan basis tabel yang mendasari, pan-dangan
gudang data adalah tabel fisik. Kebanyakan perangkat lunak OLAP akan mengizinkan
pengguna untuk membentuk pandangan virtual dari data terinci ketika belum ada satupun.

Memuat Data Ke Dalam Database Gudang Data


Banyakan organisasi menemukan bahwa pergudangan data yang sukses mensyaratkan
gudang data diciptakan dan dipelihara secara terpisah dari database operasional (pemrosesan
transaksi). Pokok ini diltembangkan lebih lanjut di bawah.

Efisiensi Internal
Satu alasan untuk suatu gudang data terpisah adalah bahwa persyaratan struk-tural
dan operasional dari pemrosesan transaksi dan sistem penggalian data se-cara fundamental
berbeda, membuatnya tidak praktis untuk menyimpan baik data operasional (sekarang) dan
data arsip dalam database yang sama.

Integrasi dari Sistem Warisan


Pengaruh berlanjut dari sistem warisan adalah alasan lain bahwa gudang data tidak
perlu bergantung pada operasi. Berdasarkan perkiraan, lebih dari 70% data bisnis untuk
perusahaan besar tetap berada dalam lingkungan mainframe, Struktur data yang digunakan
oleh sistem ini sering kali tidak sesuai dengan alat penggalian data arsitektur modern. Oleh
karenanya, data transaksi yang disim-pan dalam database navigasional dan sistem VSAM
sering berakhir dalam per-pustakaan pita besar yang dipisahkan dari proses keputusan. Suatu
gudang data terpisah memberikan suatu tempat kejadian untuk mengintegrasikan data dari
sistem warisan dan kontemporer ke dalam suatu struktur umum yang men-dukung analisis
seluas kesatuan.

Konsolidasi dari Data Global


Akhirnya, kemunculan dari ekonomi global telah membawa perubahan funda-mental
dalam struktur organisasional bisnis dan secara mendasar mengubah per-syaratan informasi
dari kesatuan bisnis. Pengambil keputusan dalam perusahaan global ditantang oleh kerumitan
bisnis yang unik. Misalnya, mereka perlu untuk mengakses profitabilitas dari produk yang
dibentuk dan dijual dalam berbagai negara dengan mala uang yang berubah-ubah. Tantangan
semacam itu menam-bah kerumitan terhadap penggalian data. Suatu gudang data pusat yang
terpisah adalah suatu cara efektif dari mengumpulkan, menstandardisasikan, dan meng-
asimilasikan data dari sumber berbeda.
Kesimpulannya, penciptaan suatu gudang data terpisah dari sistem operasi-onal
adalah suatu konsep pergudangan data fundamental. Banyak organisasi sekarang
mempertimbangkan sistem gudang data untuk menjadi komponen kunci dari strategi IS
(Information System)-nya. Seperti telah diketahui, mereka mengalokasikan sumber daya
yang banyak untuk membangun gudang data ber-sama dengan sistem operasional yang
sedang diimplementasikan.

Keputusan Didukung Oleh Gudang Data


Dengan membuat gudang data sefleksibel mungkin, itu menjadi dapat di-akses oleh
banyak pemakai akhir. Beberapa keputusan didukung oleh sebuah gudang data tidak secara
fundamental berbeda dari yang didukung oleh data base tradisional. Informasi lain digunakan
seperti analisis multidimensional dan visualisasi informasi tidak mungkin di sistem
tradisional. Beberapa pengguna dari gudang data memerlukan laporan rutin berdasarkan pada
pertanyaan tradisional. Ketika laporan standar dapat diantisipasi sebelumnya, mereka dapat
disediakan secara otomatis sebagai suatu produk periodik. Penciptaan informasi standar
otomatis mengurangi aktivitas akses terhadap gudang data dan akan meningkatkan
efisiensinya dalam menangani kebutuhan yang lebih esoterik (hanya dipahami beberapa
orang).
Kapabilitas mengebor ke bawah (drill-down) adalah suatu teknik analisis data yang
berguna yang berhubungan dengan penggalian data. Analisis drill-down dimulai dengan
pandangan ringkasan data seperti digambarkan di alas. Ketika anomali atau trend yang
menarik diamati, pengguna "mengebor ke bawah" untuk memandang tingkat lebih rendah
dan akhirnya ke dalam rincian data yang mendasari. Jelaslah, analisis semacam itu tidak
dapat diantisipasi seperti suatu laporan standar. Kapa-bilitas drill-down adalah fitur OLAP
dari alat penggalian data yang tersedia bagi pengguna. Alat untuk penggalian data
berkembang dengan cepat untuk memenuhi kebutuhan pengambil keputusan untuk
memahami perilaku unit bisnis sehubungan dengan entitas kunci meliputi pelanggan,
pemasok, karyawan, dan produk. Laporan dan pertanyaan standar yang dihasilkan dari
pandangan ringkasan dapat menjawab banyak pertanyan "apa", tetapi kapabilitas drill-down
menjawab pertanyaan "mengapa" dan "bagaimana". (DAPP 4).

 Resiko yang Berkaitan dengan Implementasi ERP

Implementasi Big Bang Versus Bertahap


Mengimplementasikan sistem ERP lebih banyak berkaitan dengan mengubah cara
perusahaan menjalankan bisnisnya, dari pada dengan teknologinya. Akibatnya, kebanyakan
kegagalan implementasi ERP disebabkan oleh berbagai masalah budaya dalam perusahaan
yang berlawanan dengan tujuan dari rekayasa ulang proses. Berbagai strategi untuk
mengimplementasikan sistem ERP untuk mencapai tujuan ini mengikuti dua pendekatan
umum: pendekatan big bang dan pengenalan.
Metode big bang adalah metode yang paling ambisius dan beresiko di antara kedua
metode tersebut. Karena sistem ERP yang baru berarti cara baru untuk menjalankan bisnis,
membuat seluruh perusahaan melaksanakannya dan menyesuaikan diri dengannya dapat
menjadi tugas yang sangat berat. Dalam banyak kondisi, sistem ERP tidak memiliki kisaran
fungsionalitis ataupun dikenal seperti sistem warisan yang digantikannya. Selain itu, karena
kini hanya ada sebuah sistem yang melayani seluruh perusahaan, orang-orang di bagian input
data sering kali harus memasukkan lebih banyak data daripada yang sebelumnya mereka
lakukan dengan sistem warisan yang lebih terbatas fokusnya. Akibatnya, kecepatan sistem
baru sering kali akan terganggu, menyebabkan banyak gangguan akibat operasi harian.
Berbagai masalah ini biasanya di alami ketika sitem baru di implementasikan.
Karenea adanya berbagai gangguan yang dihubungkan dengan letode big bang,
pendekatan pengenalan (phased-in) berkembang menjadi alternatif yang populer. Metode ini
terutama sesuai untuk perusahaan terdirivikasi dengan berbagai unitnya tidak berbagi proses
dan data yang sama.
Perusahaan yang tidak terdirivikasi juga dapat menggunakan pendekatan bertahap.
Implementasinya biasanya dimulai dengan satu atau lebih proses pengetikan, seperti entri
pesanan. Tujuannya adalah untuk membuat ERP menyala dan jalan secara bersamaan dengan
sistem warisan.

Penolakan Perubahan Budaya Perusahaan


Kesediaan perusahaan dan kemampuannya untuk melakukan perubahan dalam
implementasi ERP adalah pertimbangan yang penting. Jika budaya perusahaan telah
sedemikian rupa hingga perubahan tidak dapat di toleransi atau diinginkan, maka
implmentasi ERP tidak akan berhasil .
Perusahaan yang kekurangan dukungan dari staf teknologi untuk sistem yang baru
tersebut, atau memiliki basis pengguna yang tidak mengenal dengan baik teknologi
komputer, akan mengalami kurva pembelajaran yang sangat curam dan berpotensi
menimbulkan hambatan penerimaan yang lebih besar atas sistem tersebut dari para
karyawannya.

Memilih ERP Yang Salah


Alasan umum atas kegagalan sistem adalah ERP tidak mendukung salah satu atau
lebih proses bisnis yang penting.
1. Kesesuaian
Pihak manajemen harus memastikan bahwa ERP yang dipilih benar atau perusahaan.
Tidak ada sebuah sistem ERP yang mampu mengatasi semua masalah di semua perusahaan.
Menetukan kesesuaian fungsi yang baik membutuhkan proses pemilihan peranti lunak yang
menyerupai terowongan, yang dimulai dengan luas yang besar dan secara sistematis akan
menjadi makin sempit. Proses ini dimulai dengan sejumlah besar pemasok peranti lunak yang
merupakan kandidat potensial. Jika potensi bisnis benar –benar unik, sistem ERP harus
dimodifikasi agar dapat mengakomodsi peranti lunak yang terkait dangan industri atau dapat
bekerja dengan sistem warisan yang dibuat secara khusus . beberapa perusahaan seperti
penyedia layanan telekomunikasi, memiliki operasi penagihan yang unik dan tidak dapat
dipenuhi oleh sistem ERP siap pakai. Sebelum memakai perjalanan mencari ERP, pihak
menejemen perusahaan perlu menilai apakah perusahaan dapat dan harus merekayasa ulang
berbagai praktik bisnisnya sesuai model terstandardisasi tersebut.
2. Isu skalabilitas sistem
Skalabilitas adalah kemampuan sistem untuk berkembang dengan lancar dan
ekonomis ketika kebutuhan pengguna meningkat. Istilah sistem dalam konteks ini merujuk
pada platfrom teknologi, peranti lunak aplikasi, konfigurasi jaringan, atau basis data.
Kebutuhan pengguna berkaitan dengan aktivitas yang berkaitan dengan volume, seperti
volume pemrosesan transaksi, volume entri data, volume output data, volume penyimpanan
data, atau peningkatan populasi pengguna. Dalam menilai kebutuhan ukuran untuk sebuah
perusahaan, tiap dimensi tersebut dalam hal pengukuran linear yang ideal harus
dipertimbangkan
 Ukuran : jika tidak ada perubahan lain atas sistem, dan ukura basis data meningkat
sebesar X, maka waktu respons untuk query akn meningkat tidak lebih dari sebesar
faktor X dalam sistem yang dapat diukur.
 Kecepatan : peningkatan dalam kapasitas peranti keras sebesar faktor X akan menurunkan
waktu respons query sebesar tidak kurang dari faktor X dalam sistem yang dapat diukur.
 Beban kerja: jika beban kerja dalam sistem yang dapat diukur meningkat sebesar faktor
X, maka waktu respons dapat di pertahakan dengan meningkatkan kapasitas peranti keras
sebesar faktor yang tidak lebih besar dari X.
Beberapa sistem dapat diukur dalam hal sediannya akses yang lebih efesien ke berbagai basis
data besar ketika permintaan dalam bisnis berkembang.

Memilih Konsultan Yang Salah


Keberhasilan dari berbagai proyek ERP tergantung pada kehalian dan pengalaman
yang biasanya tidak dimiliki secara internal. Maka sebabnya ,maka implementasi ERP
melibatkan kantor konsultant luar.
Kantor konsultant yang telah mempraktikan ERP, kadang-kadang juga sangat
kekurangan sumber daya manusia. Hal ini terjadi terutama pada pertengahan hingah akhir
tahun 1990/an, ketika ribuan klien berlomba-lomba untuk mengimplementasikan ERP
sebelum milenium baru untuk menghindari masalah Y2K.
Keluhan yang sering di temui dalah banyak kantor konsultan menjanjikan profesional
yang berpengalaman, tetapi kenyataanya mengirim trainee. Kantor-kantor tersebut
mengunakan pendekatan umpan dan alihkan (bait-and- switch) untuk mendapatkan kontrak.
Beberapa mengatakan bahwa kantor konsultant , yang tidak ingin menolak bisnis,
bersalah karena menawarkan staf konsultannya ke banyak perusahaan dari pada seharusnya.
Oleh karenanya, sebelum melibatkan konsulltan luar, pihak menegemen harus:
a. Melakukan wawancara dengan para staf yang akan dilibatkan dalam prroyek tersebut dan
membuat kontrak draft secara terperinci, yang mengspesifikasikan angota tim konsultan
mana saja yang akan ditugaskan serta untuk pekerjaan apa.
b. Menulisakan bagaimana perubahan staf yang akan di tangani.
c. Menyelaraskan kepentingan konsultan dengna kepentingan perusahaan melalui negosiasi
untuk skema pembayaran berdasarkan kinerja, yang didasarkan pada pencapaian berbagai
tahapan penting dalam proyek tersebut.
d. Menetapkan tanggal penggentian yang pasti bagi konsultan terkait untuk menghindari
perjanjian dengan konsultan menjadi berkepanjangan, hingga mengakibatkan
ketergantungan aliran biaya yang tidak berakhir.

Biaya Tinggi Dan Kelebihan Biaya


Biaya kepemilikan total (total cost ownership), sistem ERP sangat berbeda-beda dari
satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Untuk implementasi sistem berukuran menengah
hingga besar, biaya berkisar dari ratusan ribu hingga ratusan juta dollar. Resiko akan
dianggap sebagai biaya yang tidak diperhitungkan dan belum diperkirakan. Beberapa dari
masalah yang umumnya dialami terjadi dalam berbagai area berikut ini:
a. Pelatihan
Biaya pelatihan selalu lebih tinggi daripada yang diperkirakan karena pihak
manajemen terutama hanya fokus pada biaya mengajari para karyawan mengenai peranti
lunak yang baru tersebut.
b. Pengujian dan integrasi sistem
ERP adalah model holistis (menyuruh) dengan sebuah sistem mengendalikan seluruh
perusahaan, secara teoritis.
c. Konversi basis data
Sistem ERP yang baru berarti basis data yang baru. Konversi basis data adalah proses
mentransfer data dari file datar sistem warisan ke dalam basis data relasional ERP.
1. Mengembangkan ukuran kinerja
Untuk menilai berbagai manfaat ERP, pihak menejemen pertama-tama harus
mengetahui apa yang diinginkan dan yang dibutuhkan dari ERP tersebut. Pihak management
dapat membuat ukuran kinerja utama seperti pengurangan tingkat persediaan, perputaran
persediaan, kehabisan barang persediaan, dan rata-rata pemenuhan pesanan yang
mencerminkan harapan pihak management. Untuk memonitor kinerja di beragai area penting
tersebut, beberapa perusahaan membentuk kelompok nilai Independent yang
bertanggungjawab langsung kepihak management puncak.

Gangguan Terhadap Operasi


Sistem ERP dapat menimbulkan kehancuran bagi perisahaan yang
menginstalisasinya. Dalam survey Deloitte Consulting atas 64 perusahaan Fortune 500, 25
persen perusahaan yang disurvey mengakui bahwa perusahaa-perusahaan tesebut mengalami
penurunan kinerja dalam periode tepat dalam implementasi.
Sebagai masalah Harshey berkaitan dengan dua kesalahan strategus yang
berhubungan dengan Implementasi sistem. Pertama, karena melewati jadwal, perusahaan
tersebut memutuskan untuk berganti kesistem yang baru dalam ramai perusahaan. Kesuliatan
yang tidak dapat dihindari akibat Implementasi sistem yang rumit seperti SAP R/3 akan lebih
mudah untuk ditangani dalam periode bisnis yanh tidak terlalu sibuk. Kedua, banyak ahli
merasa Harshey mencoba untuk melakukan terlalu banyak hal dalam 1 kali Implementasi.
(DAPP 5)

 Implikasi atas Pengendalian Internal dan Audit

Otorisasi Transaksi
Manfaat utama dari sistem ERP adalah berbagai arsitektur modulnya yang sangat
terintregasi. Jika prosedur mengenai pembuatan daftar perincian bahan baku tidak
dikonfigurasikan dengan benar, setiap komponen yang menggunakan daftar perincian bahan
baku tersebut dapat terpengaruh. Perlu dibuat pengendalian dalam sistem tersebut untuk
memvalidasi berbagai transaksi sebelum diterima dan ditidaklanjuti oleh modulnya.
Pemisahan Pekerjaan
Berbagai proses manual yang biasanya membutuhjan pemisahan pekerjaan sering kali
ditiadakan pada lingkungan ERP. Untuk membantu mengatasi masalah pemisahan
pekerjaan,SAP,sebuah sistem ERP terkemuka, menggunakan teknik konfigurasi yang disebut
peran pengguna. Tiap peran dihubungkan dengan rangkaian aktivitas tertentu yang
ditugaskan keseorang pengguna sah ERP. Administrasi sistem menugaskan peran para
pengguna sisitem ketika sistem dikonfigurasikan.

Supervisi
Para supervisor perlu mendapatkan pemahaman teknis dan operasional yang ekstensif
atas sistem baru tersebut, karena para tradisional mereka akan berubah. Biasanya, ketika
perusahaan mengimplementasikan ERP, banyak tanggung jawab pengedalian keputusan
diberikan ke bawah hingga ke tingkat pabrik. Filosofi pemberdayaan karyawan ERP
seharusnya jangan meniadakan supervisi sebagai pengadilan internal.

Catatan Akuntansi
Sistem ERP memiliki kemampuan untuk menggabungkan proses pelaporan keuangan
secara keseluruhan. Meskipun ada teknologi ERP, resiko akurasi catatan akuntansi masih bisa
terjadi. Karena antarmuka yang dekat dengan para pelanggan dan pemasok data yang rusak
atau tidak akurat bisa lolos dari berbagai sumber eksternal tersebut sehingga merusak basis
data akuntansi perusahaan.

Pengendalian Akses
Tujuan dari keamanan sistem ini adalah memberikan kerahasiaan, intergritas, dan
ketersediaan informasi yang dibutuhkan. Kelemahan dalam keamanan dapat mengakibatkan
pengungkapan rahasia usaha ke para pesaing, dan akses lain yang tidak sah. Resolusi yang
masuk akal bagi berbagai pandangan yang berlawanan ini adalah memberikan batas
keamanan untuk data dengan berdasarkan penilaian resiko.
1. Akses ke gudang data
Pengendalian akses adalah fitur yang sangat penting dari gudang data yang digunakan
bersama para pelanggan dan pemasok. Perusahaan harus membuat berbagai prosedur
untuk mengawasi otorisasi berbagai orang di lokasi pelanggan dan pemasok yang akan
diberikan akses ke gudang datanya. Alat audit untuk diteksi pelanggaran tersedia untuk
membantu mengurang resiko keamanan. Audit secara berkala harus meliputi penilaian
resiko dan tinjauan ulang atas tingkat akses yang diberikan untuk pengguna internal dan
eksternal berdasarkan deskripsi pekerjaanya.
2. Perencanaan kontinjensi
Selain keamanan akses, rencana kontinjensi yang terperinci harus dikembangkan
untuk operasi komputer dan bisnis, dan dapat dilaksankan dengan cepat ketika terjadi
bencana. Rencana ini perlu dikembangkan sebelum pergantian ke sistem ERP yang baru.
Hal lain yang berkaitan dengan rencana ini adalah perlunya prosedur pembuatan
cadangan jika terjadi kegagalan server. Kegagalan server dalam model perusahaan ini
dapat menyebabkan seluruh perusahaan tidak dapat memproses berbagai transaksi. Untuk
mengedalikan kejadian ini, dua server yang saling terhubung dapat dikoneksikan dalam
modem pembuatan cadangan yang redundan.
3. Verivikasi independen
ERP menggunakan OLTP , pengendalian vervikasi tradisional yang independen,
seperti rekonsiliasi angka pengendali batch menjadi tidak berarti. Begitu pula rekayasa
ulang ptoses untuk meningkatkan efisiensi juga mengubah sifat dari vervikasi
independen. Fokus verivikasi independen perlu diarahkan ulang dari tingkat transaksi ke
tingkat yang melihat kinerja secara keseluruhan. Usaha verivikasi independen yang terus
menerus berjalan hanya dapat dilakukan oleh sebuah tim yang berkeahlian tinggi dalam
teknolofi ERP.

Audit Gudang Data


Sebagai bagian dari audit sistem informasi, auditor mendesain sebuah prosedur untuk
mengumpulkan bukti yang berkaitan dengan berbagai pernyataan pihak manajemen, yang
berkaitan dengan laporan keuangan perusahaan. Sebagai bagian dari prosedur ini, auditor
sering kali melakukan tinjauan analitis (analytical review) atas berbagai saldo akun untuk
mengidentifikasi hubungan antara berbagai akun dan risiko yang jika tidak di anallisis tidak
akan terlihat.
Banyaknya jumlah data yang berada dalam gudang data adalah sumber yang
sempurna untuk melakukan analisis rangkaian waktu (time-series) dan rasio. Dalam hal siklus
pendapatan, tinjauan analisis akan memberikan auditor perspektif umum atas berbagai trend
dalam penjualan, penerimaan kas, pengembalian penjualan, dan piutang usaha. Contohnya,
auditor dapat membandingkan penjualan yang dilaporkan untuk triwulan tertentu dengan
periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya. Prosedur audit lainnya yang berguna untuk
mengidentifikasi berbagai potensi resiko audit melibatkan pemindaian ribuan atau bahkan
jutaan record untuk mencari transaksi yang tidak biasa dan saldo akun yang abnormal. Dalam
hal siklus pengeluaran, tinjauan analitis dapat memberikan auditor perspektif umum atas
berbagai tren dalam utang usaha dan berbagai biaya lain yang terkait.
Auditor dapat menggunakan berbagai teknik penggalian untuk mengidentifikasi
aktivitas berbisnis tingkat yang sangat tinggi dengan pemasok tertentu. Pembelian berlebihan
dari salah satu pemasok dapat mewujudkan ketergantungan bisnis yang tidak normal, dan
dapat membahayakan perusahaan jika pemasok tersebut menaikkan harga atau tidak dapat
mengirim secara tepat waktu. Pembelian tersebut juga dapat menandai adanya hubungan
penipuan melibatkan penyuapan ke para personel pembelian atau pihak manajemen lainnya.
Pembersihan data adalah tahap yang penting dalam pemeliharaan gudang data agar
gudang data dapat berguna sebagai alat OLAP, maka gudang data bebas dari kontaminasi.
Auditor harus hati-hati dengan keyakinan atas sumber ini. Karena gudang dat aberada dalam
kondisi yang asli secara buatan, maka gudang data mungkin bukan merupakan pengganti
yang sesuai untuk basis data operasional ketika menilai pengujian pengendalian proses dan
melakukan pengujian subtantif. (DAPP 6)

B. Sistem E-Commerce

 Pengertian E-Commerce
Definisi E-Commerce menurut Laudon & Laudon (1998), E-Commerce adalah suatu
proses membeli dan menjual produk-produk secara elektronik oleh konsumen dan dari
perusahaan ke perusahaan dengan computer sebagai perantara transaksi bisnis. E-Commerce
atau yang biasa disebut juga dengan istilah Ecom atau Emmerce atau EC merupakan
pertukaran bisnis yang rutin dengan menggunakan transmisi Electronic Data Interchange
(EDI), email, electronic bulletin boards, mesin faksimili, dan Electronic Funds Transfer yang
berkenaan dengan transaksi-transaksi belanja di Internet shopping.
Stock online dan surat obligasi, download dan penjualan software, dokumen, grafik,
musik, dan lain-lainnya, serta transaksi Business to Business (B2B). (Wahana Komputer
Semarang 2002).
Sedangkan definisi E-Commerce menurut David Baum (1999, pp. 36-34) yaitu: E-
Commerce is a dynamic set of technologies, applications, and bussines process that link
enterprises, consumers, and communities through electronics transactions and the electronic
exchange of goods, services, and informations.
Diterjemahkan oleh Onno. W. Purbo: E-Commerce merupakan satu set dinamis
teknologi, aplikasi, dan proses bisnis yang menghubungkan perusahaan, konsumen, dan
komunitas tertentu melalui transaksi elektronik dan perdagangan barang, pelavanan, dan
informasi yang dilakukan secara elektronik.

Definisi dari E-Commerce menurut Kalakota dan Whinston (1997) dapat ditinjau dalam
3 perspektif berikut:
1) Dari perspektif komunikasi, E-Commerce adalah pengiriman barang, layanan, informasi,
atau pembayaran melalui jaringan komputer atau melalui peralatan elektronik lainnya.
2) Dari perspektif proses bisnis, E-Commerce adalah aplikasi dari teknologi yang menuju
otomatisasi dari transaksi bisnis dan aliran kerja.
3) Dari perspektif layanan, E-Commerce merupakan suatu alat yang memenuhi keinginan
perusahaan, konsumen, dan manajemen untuk memangkas biaya layanan (service cost)
ketika meningkatkan kualitas barang dan meningkatkan kecepatan layanan pengiriman.
4) Dari perspektif online, E-Commerce menyediakan kemampuan untuk membeli dan
menjual barang ataupun informasi melalui internet dan sarana online lainnya.

 Jenis-jenis E-Commerce
Kegiatan E-Commerce mencakup banyak hal, untuk membedakannya E-Commerce
dibedakan menjadi 2 berdasarkan karakteristiknya:
1. Business to Business, karakteristiknya:
 Trading partners yang sudah saling mengetahui dan antara mereka sudah terjalin
hubungan yang berlangsung cukup lama.
 Pertukaran data dilakukan secara berulang-ulang dan berkala dengan format data yang
telah disepakati bersama.
 Salah satu pelaku tidak harus menunggu rekan mereka lainnya untuk mengirimkan
data.
 Model yang umum digunakan adalah peer to peer, di mana processing intelligence
dapat didistribusikan di kedua pelaku bisnis.

2. Business to Consumer, karakteristiknya:


 Terbuka untuk umum, di mana informasi disebarkan secara umum pula.
 Servis yang digunakan juga bersifat umum, sehingga dapat digunakan oleh orang
banyak.
 Servis yang digunakan berdasarkan permintaan.
 Sering dilakukan sistim pendekatan client-server. (Onno W. Purbo & Aang Arif. W;
Mengenal E-Commerce, hal 4-5)

 Tujuan Menggunakan E-Commerce dalam Dunia Bisnis


Tujuan suatu perusahaan menggunakan sistim E-Commerce adalah dengan
menggunakan E-Commerce maka perusahaan dapat lebih efisien dan efektif dalam
meningkatkan keuntungannya.

 Mantaat Menggunakan E-Commerce dalam Dunia Bisnis


Manfaat dalam menggunakan E-Commerce dalam suatu perusahaan sebagai sistem
transaksi adalah:
a. Dapat meningkatkan market exposure (pangsa pasar).
Transaksi on-line yang membuat semua orang di seluruh dunia dapat memesan dan
membeli produk yang dijual hanya dengan melalui media computer dan tidak terbatas jarak
dan waktu.
b. Menurunkan biaya operasional (operating cost).
Transaksi E-Commerce adalah transaksi yang sebagian besar operasionalnya
diprogram di dalam komputer sehingga biaya-biaya seperti showroom, beban gaji yang
berlebihan, dan lain-lain tidak perlu terjadi
c. Melebarkan jangkauan (global reach).
Transaksi on-line yang dapat diakses oleh semua orang di dunia tidak terbatas tempat
dan waktu karena semua orang dapat mengaksesnya hanya dengan menggunakan media
perantara komputer.
d. Meningkatkan customer loyalty.
Ini disebabkan karena sistem transaksi E-Commerce menyediakan informasi secara
lengkap dan informasi tersebut dapat diakses setiap waktu selain itu dalam hal pembelian
juga dapat dilakukan setiap waktu bahkan konsumen dapat memilih sendiri produk yang dia
inginkan.
e. Meningkatkan supply management.
Transaksi E-Commerce menyebabkan pengefisienan biaya operasional pada
perusahaan terutama pada jumlah karyawan dan jumlah stok barang yang tersedia sehingga
untuk lebih menyempurnakan pengefisienan biaya tersebut maka sistem supply management
yang baik harus ditingkatkan.
f. Memperpendek waktu produksi.
Pada suatu perusahaan yang terdiri dari berbagai divisi atau sebuah distributor di
mana dalam pemesanan bahan baku atau produk yang akan dijual apabila kehabisan barang
dapat memesannya setiap waktu karena on-line serta akan lebih cepat dan teratur karena
semuanya secara langsung terprogram dalam komputer.
Pernyataan-pernyataan Onno W. Purbo di atas juga didukung oleh permyataan Laura
Mannisto (International Telecommunication Union, Asia and the Future of the World
Economic System, 18 March 1999, London), yaitu:
a. Ketersediaan informasi yang lebih banyak dan mudah diakses Ketersediaan informasi
produksi dan harga dapat diakses oleh pembeli, penjual, produsen dan distributor.
b. Globalisasi Produksi, distribusi dan layanan konsumen : jarak dan waktu relatif lebih
pendek, sehingga perusahaan dapat berhubungan dengan rekan bisnis di lain negara dan
melayani konsumen lebih cepat. Produsen dapat memilih tempat untuk memproduksi dan
melayani konsumen tidak tergantung dimana konsumen itu berada. Perusahaan yang
berada di negara berpendapatan rendah dapat mengakses informasi dan membuat kontak
bisnis tanpa harus mengeluarkan biaya tinggi.
c. Mengurangi biaya transaksi dengan adanya system order, pembayaran dan logistik secara
online dan otomatis.

 Ancaman Menggunakan E-Commerce (Threats)


Threats merupakan kemungkinan-kemungkinan munculnya kejadian yang dapat
membahayakan asset-aset yang berharga.
Ada beberapa bentuk ancaman yang mungkin terjadi:
 System Penetration
Orang-orang yang tidak berhak melakukan akses ke system computer dapat dan
diperbolehkan melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginannya.
 Authorization Violation
Pelanggaran atau penyalahgunaan wewenang legal yang dimiliki seseorang yang
berhak mengakses sebuah sistim.
 Planting
Memasukan sesuatu ke dalam sebuah system yang dianggap legal tetapi belum tentu
legal di masa yang akan datang.
 Communications Monitoring
Seseorang dapat mernantau semua infonnasi rahasia dengan melakukan monitoring
komunikasi sederhana di sebuah tempat pada jaringan komunikasi.
 Communications Tampering
Segala hal yang membahayakan kerahasiaan informasi seseorang tanpa melakukan
penetrasi, seperti mengubah infonnasi transaksi di tengah jalan atau membuat sistim server
palsu yang dapat menipu banyak orang untuk memberikan infonnasi rahasia mereka secara
sukarela.
 Denial of service
Menghalangi seseorang dalam mengakses informasi, sumber, dan fasilitas-fasilitas
lainnya.
 Repudiation
Penolakan terhadap sebuah aktivitas transaksi atau sebuah komunikasi baik secara
sengaja maupun tidak disengaja.