Anda di halaman 1dari 18

GANGGUAN AFEKTIF BIPOLAR

Disusun Oleh:
Abdullah Arifin (150210001)
Ihat Fatihatul Jannah (150210015
M. Wahyu Arifin (150210020)
Renia Octaviani Prasetyo (150210032)
Vanisa Nurmaheri (150210040)

Kelas: 6A Keperawatan

Program Sarjana Keperawatan 2018


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Banten
BSD CITY
A. Definisi
Gangguan Bipolar dikenal juga dengan gangguan manik depresi, yaitu
gangguan pada fungsi otak yang menyebabkan perubahan yang tidak biasa
pada suasana perasaan, dan proses berfikir. Disebut Bipolar karena penyakit
kejiwaan ini didominasi adanya fluktuasi periodik dua kutub, yakni kondisi
manik (bergairah tinggi yang tidak terkendali) dan depresi.
Kebanyakan pasien dengan gangguan afektif bipolar secara potensial
dengan terapi yang optimal dapat kembali fungsi yang normal. Dengan
pengobatan yang kurang optimal hasilnya kurang baik dan dapat kambuh
untuk melakukan bunuh diri lagi. Data menunjukkan bahwa pengobatan
sering kurang optimal. Studi longitudinal bahwa pasien dengan
kecenderungan bunuh diri pada kasus dengan afektif bipolar 50% dapat
dikurangi dengan terapi maintenance/pemeliharaan dan terapi depresi yang
tepat.

B. Etiologi
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan gangguan afektif bipolar adalah
genetic, biokimia, psikodinamik, farmakologi, dan faktor lingkungan.
1) Factor genetic
Faktor genetic sangat berpengaruh pada gangguan afektif bipolar.
Sabagian besar penderita bipolar mempunyai riwayat gangguan
psikiatri pada silsilah keluarganya. Gangguan bipolar terutama bipolar
tipe 1 mempunyai komponen genetic major dengan ANK3, CACNA1c,
CLOCK gen.
Orang yang mempunyai hubungan kekerabatan derajat 1 (orang tua,
saudara kandung) yang terdapat gangguan afektif bipolar tipe 1,
mempunyai kemungkinan 7 kali lebih besar untuk mendapatkan
gangguan afektif bipolar tipe 1. Anak dengan orang tua bipolar
berpeluang 50% memiliki gangguan psikiatri yang lain selain bipolar
seperti anxietas, ADHD, depresi.
Penelitian bipolar pada anak kembar juga mendapatkan hasil korelasi
yang signifikan. Beberapa penelitian pada kembar identik menunjukkan
bahwa terjadi keselarasan antara 33-90% gangguan bipolar pada
kembar identic yang memiliki DNA hamper 100% sama. Hal ini
menunjukkan bahwa factor lingkungan juga sangat berpengaruh. Tidak
ada jaminan bahwa seseorang akan mengalami gangguan afektif bipolar
meski memiliki gen yang dicurigai berpengaruh besar terhadap fakor
bipolar.
Meski begitu, sebuah peneltian membuktikan bahwa fakto genetic
memiliki peranan yang besar dalam gangguan afektif bipolar. Anak
yang memiliki orang tua biologis mengidap gangguan afektif bipolar
tipe 1 atau gangguan afek depresi mempunyai resiko yang tetap lebih
tinggi meskipun diasuh dirumah lain oleh orang tua lain yang tidak
memiliki gangguan psikiatri.
2) Factor Biokimia
Otak menggunakan sejumlah senyawa neurokimiawi sebagai pembawa
pesan untuk komunikasi berbagai beagian di otak dan sistem syaraf.
Senyawa neurokimiawi ini, dikenal sebagai neurotransmiter, sangat
esensial bagi semua fungsi otak. Sebagai pembawa pesan, mereka
datang dari satu tempat dan pergi ke tempat lain untuk menyampaikan
pesan-pesannya. Bila satu sel syaraf (neuron) berakhir, di dekatnya ada
neuron lainnya. Satu neuron mengirimkan pesan dengan mengeluarkan
neurotrasmiter menuju ke dendrit neuron di dekatnya melalui celah
sinaptik, ditangkap reseptor-reseptor pada celah sinaptik tersebut.
Neurotransmiter yang berpengaruh pada terjadinya gangguan bipolar
adalah dopamin, norepinefrin, serotonin, GABA, glutamat dan
asetilkolin. Selain itu, penelitian-penelitian juga menunjukksan adanya
kelompok neurotransmiter lain yang berperan penting pada timbulnya
mania, yaitu golongan neuropeptida, termasuk endorfin, somatostatin,
vasopresin dan oksitosin. Diketahui bahwa neurotransmiter-
neurotransmiter ini, dalam beberapa cara, tidak seimbang (unbalanced)
pada otak individu mania dibanding otak individu normal. Misalnya,
GABA diketahui menurun kadarnya dalam darah dan cairan spinal
pada pasien mania. Norepinefrin meningkat kadarnya pada celah
sinaptik, tapi dengan serotonin normal. Dopamin juga meningkat
kadarnya pada celah sinaptik, menimbulkan hiperaktivitas dan
agresivitas mania, seperti juga pada skizofrenia. Antidepresan trisiklik
dan MAO inhibitor yang meningkatkan epinefrin bisa merangsang
timbulnya mania, dan antipsikotik yang mem-blok reseptor dopamin
yang menurunkan kadar dopamin bisa memperbaiki mania, seperti juga
pada skizofrenia.
3) Faktor Psikodinamik
Banyak praktisioner berpendapat bahwa perubahan psikologi yang
berisifat dinamis merupakan penyebab gangguan afektif bipolar itu
sendiri. Depresi diartikan sebagai manifestasi dari perasaan merasa
gagal, tidak berguna, dan kurang menghargai diri sendiri sedangkan
mania adalah sebagai bentuk pertahanan dan penolakan terhadap
perasaan itu.Barnett menemukan bahwa kepribadian yang sering
berganti versi, mutisme, dan kepribadian tertutup sering dijumpai pada
gangguan afektif bipolar.
4) Factor Farmakologi
Terdapat resiko pemberian antidepresan jangka panjang yang dapat
menyebabkan tibulnya episode mania. National Health Service meneliti
pada 21.012 orang dewasa di London Selatan yang mengalami episode
depresi unipolar dan mendapatkan terapi antidepresan antara April
2006 sampai Maret 2013, terdapat insidensi 10,9 per 1000 orang
pertahun yang mengalami episode mania /bipolar. Tertinggi terjadi
pada usia 26-35 tahun. Temuan ini menunjukkan adanya resiko
kemunculan episode mania atau bipolar pada pemberian terapi
antidepresan.
5) Factor Lingkungan
Pada beberapa kondisi, gangguan bipolar dihubungkan oleh stress
eksternal yang mencetuskan adanya predisposisi genetic dan biokimia
yang dipunyai. Sebagai contoh, kehamilan dapat menimbulkan stress
pada wanita dengan riwayat mania/depresi sebelumnya atau dari
keluarganya dapat memicu adanya gangguan bipolar atau psikosis yang
terjadi setelah selesai masa kehamilan. Selain itu pekerja yang terbiasa
aktif di suatu waktu kemudian tidak aktif di waktu yang lain dapat
memicu gangguan bipolar dimana dia bersifat mania pada saat dia
bekerja dan depresi saat tidak bekerja.

C. Manifestasi Klinis
 Mood
Peningkatan dan atau iritabilitas
 Bicara
Peningkatan kecepatan dan jumlah, memiliki rima, memainkan kata-
kata, tidak bisa dihentikan
 Perilaku
Disinhibisi seksual atau disinhibisi agresif, mudah diganggu, aktivitas
berlebih, belanja berlebihan, tidur berkurang
 Pikiran
Melebih-lebihkan, loncata pikiran (flight of ideas), waham kebesaran
atau waham penganiayaan
 Tilikan
Sering terbatas atau tidak ada
 Persepsi
Kesadaran sensorik meningkat, halusinasi auditorium serasi dengan
mood
D. Diagnosis dan Klasifikasi
Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual (DSM) IV, gangguan
bipolar dibedakan menjadi 2 yaitu gangguan bipolar I dan II. Gangguan
bipolar I atau tipe klasik ditandai dengan adanya 2 episode yaitu manik dan
depresi, sedangkan gangguan bipolar II ditandai dengan hipomanik dan
depresi. PPDGJ III membaginya dalam klasifikasi yang berbeda yaitu
menurut episode kini yang dialami penderita.
 F31.0 Gangguan afektif bipolar, episode kini hipomanik
 F31.1 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik tanpa gejala
psikotik
 F31.2 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala
psikotik
 F31.3 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif ringan atau
sedang
 F31.4 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat tanpa gejala
psikotik
 F31.5 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat dengan
gejala psikotik
 F31.6 Gangguan afektif bipolar, episode kini campuran
 F31.7 Gangguan afektif bipolar, kini dalam remisi
 F31.8 Gangguan afektif bipolar lainnya
 F31.9 Gangguan afektif bipolar yang tidak tergolongkan
a) F31 Gangguan Afektif Bipolar
Gangguan ini tersifat oleh episode berulang (yaitu sekurang-kurangnya
dua) yang menunjukkan suasana perasaan (mood) pasien dan tingkat
aktivitasnya jelas terganggu, dan gangguan ini pada waktu tertentu terdiri
dari peninggian suasana perasaan (mood) serta peningkatan enersi dan
aktivitas (mania atau hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan
suasana perasaan (mood) serta pengurangan enersi dan aktivitas depresi).
Yang khas adalah bahwa biasanya ada penyembuhan sempurna antar
episode, dan insidensi pada kedua jenis kelamin kurang lebih sama
dibanding dengan gangguan suasana perasaan (mood) lainnya. Dalam
perbandingan, jarang ditemukan pasien yang menderita hanya episode
mania yang berulang-ulang, dan karena pasien-pasien tersebut menyerupai
(dalam riwayat keluarga, kepribadian pramorbid, usia onset, dan prognosis
jangka panjang) pasien yang mempunyai juga episode depresi sekali-
sekali, maka pasien itu digolongkan sebagai bipolar.
b) F31.0 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini hipomanik
Pedoman diagnostic
 Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk hipomania
(F30.0)
 Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik,
manik atau campuran di masa lampau.
c) F31.1 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik tanpa Gejala
Psikotik
Pedoman diagnostic
 Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania tanpa
gejala psikotik (F30.1)
 Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik,
manik atau campuran di masa lampau.
d) F31.2 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik dengan Gejala
Psikotik
Pedoman diagnostic
 Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania dengan
gejala psikotik (F30.2)
 Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik,
manik atau campuran di masa lampau.
e) F31.3 Gangguan Afektif Bipolar, episode kini Depresif Ringan atau
Sedang
Pedoman diagnostic
 Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode
depresif ringan (F32.0) ataupun sedang (F32.1)
 Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik,
manik atau campuran di masa lampau.
Karakter kelima dapat digunakan untuk menentukan ada atau tidaknya
gejala somatic dalam episode depresif yang sedang berlangsung.
F31.30 Tanpa gejala somatik
F31.31 Dengan gejala somatic
f) F31.4 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat tanpa
Gejala Psikotik
Pedoman diagnostic
 Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode
depresif berat tanpa gejala psikotik (F32.2)
 Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik,
manik atau campuran di masa lampau.
g) F31.5 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat dengan
Gejala Psikotik
Pedoman diagnostic
 Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode
depresif berat dengan gejala psikotik (F32.3)
 Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik,
manik atau campuran di masa lampau.
Jika dikehendaki, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi
atau tidak serasi dengan afeknya.
h) F31.6 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Campuran
Pedoman diagnostic
 Episode yang sekarang menunjukkan gejala-gejala manik,
hipomanikdan depresif yang tercampur atau bergantian dengan cepat
(gejala mania/hipomania dan depresi sama-sama mencolok selama
masa terbesar dari episode penyakit yang sekarang, dan telah
berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu)
 Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik,
manik atau campuran di masa lampau
i) F31.7 Gangguan Afektif Bipolar, Kini dalam Remisi
Sekarang tidak menderita gangguan afektif yang nyata selama beberapa
bulan terakhir ini, tetapi pernah mengalami sekurang-kurangnya satu
episode afektif hipomanik, manik atau campuran di masa lampau dan
ditambah sekurang- kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik,
manik, depresif atau campuran).
j) F31.8 Gangguan Afektif Bipolar Lainnya
k) F31.9 Gangguan Afektif Bipolar YTT

E. Kriteria Episode Depresif


Pada semua tiga variasi dari episode depresif khas yang tercantum di
bawah ini, ringan (F32.0), sedang (F32.1), dan berat (F32.2 dan F32.3),
individu biasanya menderita suasana perasaan (mood) yang depresif,
kehilangan minat dan kegembiraan, dan berkurangnya enersi yang menuju
meningkatnya keadaan mudah lelah dan berkurangnya aktivitas. Biasanya ada
rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja. Gejala lazim lainnya adalah:
 Konsentrasi dan perhatian berkurang
 Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
 Gagasan tentang perasaan bersalah dan tidak berguna (bahkan pada
episode tipe ringan sekali pun)
 Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
 Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
 Tidur terganggu
 Nafsu makan berkurang
a) F32.0 Episode Depresif Ringan
Pedoman diagnosis
Suasana perasaan (mood) yang depresif, kehilangan minat dan
kesenangan, dan mudah menjadi lelah biasanya dipandang sebagai
gejala dari depresi yang paling khas, dan sekurang-kurangnya dua
gejala dari ini, ditambah sekurang-kurangnya dua gejala lain (untuk
F32.-) harus ada untuk menegakkan diagnosis pasti. Tidak boleh ada
gejala yang berat diantaranya. Lamanya episode berlangsung ialah
sekurang- kurangnya sekitar 2 minggu.
Individu yang mengalami episode depresif ringan biasanya resah
tentang gejalanya dan agak sukar baginya untuk meneruskan
pekerjaan biasa dan kegiatan sosial, namun mungkin ia tidak akan
berhenti berfungsi sama sekali.
Karakter kelima dapat digunakan untuk menentukan adanya sindrom
somatik:
F32.00 Tanpa gejala somatik
Kriteria untuk episode depresif ringan telah dipenuhi, dan tidak ada
atau hanya sedikit sekali gejala somatic
F32.01 Dengan gejala somatik
Kriteria untuk episode depresif ringan telah dipenuhi, dan empat atau
lebih gejala somatik juga ditemukan. (jika hanya dua atau tiga gejala
somatik ditemukan tetapi luar biasa beratnya, maka penggunaan
kategori ini mungkin dapat dibenarkan)
b) F32.1 Episode Depresif Sedang
Pedoman diagnosis
Sekurang-kurangnya harus ada dua dari tiga gejala paling khas yang
ditentukan untuk episode depresif ringan (F32.0), ditambah sekurang-
kurangnya tiga (dan sebaiknya empat) gejala lainnya. Beberapa gejala
mungkin amat menyolok, namun tidak esensial apabila secara
keseluruhan ada cukup banyak variasi gejalanya. Lamanya
keseluruhan episode berlangsung ialah sekurang-kurangnya sekitar 2
minggu.
Individu yang mengalami episode depresif taraf sedang biasanya
menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial,
pekerjaan, dan urusan rumah tangga.
Karakter kelima dapat digunakan untuk menentukan adanya sindrom
somatik:
F32.10 Tanpa gejala somatic
Kriteria untuk episode depresif sedang telah dipenuhi, dan tidak ada
atau hanya sedikit sekali gejala somatic
F32.11 Dengan gejala somatik
Kriteria untuk episode depresif sedang telah dipenuhi, dan ada empat
atau lebih gejala somatik juga ditemukan. (jika hanya dua atau tiga
gejala somatik ditemukan tetapi luar biasa beratnya, maka
penggunaan kategori ini mungkin dapat dibenarkan)
c) F32.2 Episode Depresif Berat tanpa Gejala Psikotik
Pada episode depresif berat, penderita biasanya menunjukkan
ketegangan atau kegelisahan yang amat nyata, kecuali apabila
retardasi mental merupakan ciri terkemuka. Kehilangan harga diri dan
perasaan dirinya tak berguna mungkin mencolok, dan bunuh diri
merupakan bahaya nyata terutama pada beberapa kasus berat.
Anggapan disini ialah bahwa sindrom somatik hampir selalu ada pada
episode depresif berat.
Pedoman diagnosis
Semua ketiga gejala khas yang ditentukan untuk episode depresof
ringan dan sedang harus ada, ditambah sekurang-kurangnya empat
gejala lainnya, dan beberapa di antaranya harus berintensitas berat.
Namun, apabila gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi)
menyolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk
melaporkan banyak gejalanya secara terinci. Dalam hal demikian,
penentuan menyeluruh dalam subkategori episode berat masih dapat
dibenarkan. Episode depresif biasanya seharusnya berlangsung
sekurang-kurangnya 2 minggu, akan tetapi jika gejala amat berat dan
beronset sangat cepat, maka mungkin dibenarkan untuk menegakkan
diagnosis dalam waktu kurang dari 2 minggu.
Selama episode depresif berat, sangat tidak mungkinpenderita akan
mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah
tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.
Kategori ini hendaknya digunakan untuk episode depresif berat
tunggal tanpa gejala psikotik, untuk episode selanjutnya harus
digunakan subkategori dari gangguan depresif berulang.
d) F32.3 Episode Depresif Berat dengan Gejala Psikotik
Pedoman diagnosis
Episode depresif berat yang memenuhi kriteria menurut F32.2
tersebut diatas, disertai waham, halusinasi atau stupor depresif.
Wahamnya biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau
malapetaka yang mengancam, dan pasien dapat merasa bertanggung
jawab atas hal itu. Halusinasi auditorik atau olfaktorik biasanya
berupa suara yang menghina atau bau kotoran atau daging membusuk.
Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor. Jika
diperlukan, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi
atau tidak serasi dengan suasana perasaan (mood)

F. Penatalaksanaan
1) Farmakoterapi
Obat Dosis Monitoring Efek Samping
Dosis tunggal Kadar lithium Tremor, poliuria,
800 mg, malam dalam serum polidipsi,
hari. harus dipantau peningkatan berat
Dosis setiap 3-6 badan, gangguan
Lithium direndahkan bulan, kognitif,
pada pasien sedangkan tes gangguan saluran
diatas 65 tahun fungsi ginjal cerna, rambut
dan yang dan tiroid rontok,
mempunyai diperiksa setiap leukositosis,
gangguan 12 bulan. jerawat, dan
ginjal. edema
Rawat inap:
dosis inisial 20-
30 mg/kg/hari
Rawat jalan: Nyeri pada
Valproate dosis inisial Tes fungsi hati saluran cerna,
(divalproate 500 mg, titrasi pada 6 bulan peningkatan
semi sodium) 250-500 pertama ringan enzim hati,
mg/hari. tremor, dan sedasi
Dosis
maksimum 60
mg/kg/hari.
Dosis inisial
Darah rutin,
400 mg. Lelah, mual,
dan tes fungsi
Dosis diplopia,
Karbamazepin hati dilakukan
maintenance pandangan kabur,
pada 2 bulan
200- dan ataxia
pertama.
1600 mg/hari.
Dosis inisial 25
mg/hari
pada 2 minggu
pertama, lalu 50
Rash kulit,
mg pada
hipersensitifitas,
minggu kedua
sindrom Steven
Lamotrigine dan ketiga.
Johnson, toksik
Dosis
epidermal
diturunkan
nekrolisis
setengahnya
bila pasien juga
mendapat
valproate.
(Journal of Psychopharmacology 2003)
Gangguan bipolar harus diobati secara kontinu, tidak boleh putus. Bila
putus, fase normal akan memendek sehingga kekambuhan semakin sering.
Adanya fase normal pada gangguan bipolar sering mengakibatkan
buruknya compliance untuk berobat karena dikira sudah sembuh. Oleh
karena itu, edukasi sangat penting agar penderita dapat ditangani lebih
dini.
2) Psikoterapi
 Cognitive Behaviour Therapy
Pasien bipolar lebih banyak mengalami distorsi/perubahan kognitif
dan kesopanan dibandingkan dengan pasien unipolar. Cognitive
Behaviour Therapy (CBT) merupakan salah satu pendekatan
psikoterapi yang paling banyak diterapkan dan paling efektif dalam
mengatasi gangguan bipolar. Asumsi yang mendasari CBT adalah
gangguan emosional berasal dari distorsi/penyimpangan kognitif
(proses berfikir). Perbaikan emosi hanya dapat berlangsung lama jika
terapi dapat mencapai pola-pola berfikir yang baik. Dengan melakukan
perubahan pada pola pikirnya, diharapka pasien mampu
mengendalikan gejala-gejala atau dorongan yang muncul.
CBT berorientasi terhadap pemecahan masalah dengan terapi yang
dipusatkan pada keadaan “disin” dan “sekarang”, yang memandang
suatu individu sebagai pengambil keputusan penting tentang tujuan
danatau masalah yang akan dipecahkan dalam proses terapi. Dengan
cara tersebut pasien memiliki mitra kerja terapis dalam mengatasi
masalahnya dan dengan pemahaman yang memadai tentang teknik
yang digunakan untuk mengatasi masalah.
Tujuan utama dari CBT:
a) Membangkitkan pikiran-pikiran negative/berbahaya, dialog
internal atau bicara sendiri, dan intepretasi terhadap kejadian
yang dialami. Pikiran-pikiran negative yang muncul secara
otomatis, tanpa disadari, sering muncul saat dipicu stress atau
teringat akan masa lalu. Adanya distorsi kognitif tersebut akan
menambah beban permasalahan yang dihadapi
b) Terapis bersama pasien mengumpulkan bukti-bukti yang
menyanggah atau mendukung intepretasi terhadap pikiran-
pikiran negative yang sering muncul tersebut. Karena pikiran
otomatis tersebut berdasarkan kesalahan logika maka dengan
program CBT pasien diarahkan untuk menyusun logika dan
diarahkan sehingga menjauh dari distorsi kognitif tersebut.
Pasien dilatih untuk mengenali pikirannya, mana pikiran yang
timbul karena distorsi kognitif dan logika berfikirnya yang
dilatih rasional.
c) Menyusun serangkaian desain eksperimen untuk menguji
validitas intepretasi dan menjaring data tambahan untuk
menguatkan logika berfikir yang diarahkan rasional tersebut.
 Interpersonal and Social Rhythm Theraphy
Manusia memiliki irama/siklus sirkadian dalam berbagai proses
fisiologi. Irama sirkadian tersebut memicu adanya kejadian fisiologi
seperti sekresi hormone, peningkatan tekanan darah, dan berpengaruh
terhadap aktifitas sehari-hari seperti siklus tidur bangun dan
melakukan aktifitas pekerjaan. Interpersonal and Social Rhythm
Theraphy (IPSRT) adalah terapi yang digunakan untuk meningkatkan
mood dengan mengembalikan pasien untuk bekerja, beraktivitas, dan
melakukan suatu proses bersama dengan lingkungan dan orang-orang
yang secara sosial dan interpersonal cocok dengan kehidupan normal
sehari-harinya. Dengan melibatkan pasien bersama-sama dengan
orang-orang yang secara sosial dan interpersonal sesuai dengan pasien
diharapkan irama sirkadian pada pasien menjadi normal. Pasien juga
diharapkan dapat memahami proses-proses dan penyesuaian sesuai
dengan lingkungan social dan interpersonalnya.
Tujuan utama dari IPSRT:
a) Menstabilkan rutinitas sehari-hari dan siklus tidur bangun
b) Mendapatkan wawasan tentang korelasi dua arah antara mood
dan kejadian intarpersonal
c) Menggunakan teknik interpersonal untuk memperbaiki situasi
kesepian, perselisihan, dan perubahan social
d) Mengurangi episode kekambuhan
 Family Focused Theraphy
Family Focused Theraphy (FFT) adalah suatu psikoterapi yang
bekerja dengan mengedepankan hubungan dalam keluarga untuk
membantu mereka memperbaiki urusan pasien dengan berbagai
masalah dalam lingkup yang luas. FFT membantu anggota keluarga
untuk menemukan cara untuk menyelesaikan masalah dalam masing-
masing anggota keluarga. FFT efektif dalam membantu pasien dalam
jangka waktu yang panjang. FFT dilakukan dalam waktu 9 bulan
dengan melewati 21 sesi rawat jalan kepada pasien dan keluarga
terdekatnya. FFT terdiri dari psikoedukasi tentang penyakit bipolar,
latihan komunikasi efektif, dan pelatihan skill menyelesaikan masalah.
Farmakoterapi diberikan pada post serangan akut, FFT bertujuan
untuk meningkatkan stabilisasi dan mengurangi kekambuhan episode
serangan.
FFT menggunakan teknik konseling dengan berbagai teknik terapi
seperti terapi struktural (mengidentifikasi struktur anggota keluarga),
terapi strategi (melihat tipe interaksi anggota keluarga), terapi sistemik
(focus pada kepercayaan pasien), dan terapi naratif (memulihkan
masalah utama, focus pada konteks, memisahkan masalah dari
dirinya). Jumlah tiap sesi yang dijalankan tergantung pada situasi, tapi
rata-rata terdiri dari 5-20 sesi. Terapis biasanya bertemu dengan
keluarga dan pasien pada saat yang bersamaan. Hal ini punya
keuntungan untuk membuat perbedaan antara cara berfikir anggota
keluarga dan pasien serta interaksi keluarga dan pasien terhadap
terapis. Intervensi terapi lebih focus terhadap pola hubungan antar
anggota keluarga daripada mengingatkan tentang pikiran pasien yang
sering berubah-ubah atau trauma dan kejadian tidak menyenangkan
yang dialami pasien. Terapis juga harus mengutamakan untuk mencari
penyelesaian terhadap suatu masalah daripada mencari pentebab
tunggal terjadinya suatu masalah tersebut. Keluarga mungkin
mempunyai cara pandang sebab-akibat dalam menilai suatu masalah
yang muncul, menyalahkan satu atau bebrapa orang dengan
memunculkan keterlibatan sedikit atau banyak antar anggota keluarga.
Interaksi antara keluarga, pasien, dan terapis akan membantu pasien
memahami kebiasaan, apa yang menyebabkan terjadinya suatu
masalah, dan apa yang seharusnya dilakukan untuk memahami situasi
tersebut.

G. Pencegahan
Pencegahan primer merupakan usaha untuk mencegah atau menunda
terjadinya gangguan mood pertama kali. Mengidentifikasi faktor risiko dan
pembedaan antara faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan yang tidak, juga
faktor yang sudah ada sebelumnya (predisposing factor), faktor yang
mempermudah (facilitating factor) dan faktor pencetus (precipitating factor)
serta faktor yang terus menerus ada (perpetuating factor).
Pencegahan sekunder berkaitan dengan deteksi dini dan usaha mencegah
terjadinya gangguan penyakit sekunder lain (komorbiditas penyakit lain).
Pencegahan tersier untuk mencegah terjadinya disabilitas lanjut bila
gangguan mood sudah terjadi.

H. Diagnosis Banding
 Penyalahgunaan zat (terutama amfetamin atau kokain)
 Gangguan kondisi medis
 Skizofrenia akut
 Gangguan skizoafektif
 Gangguan kepribadian (histrionik atau ketidakstabilan emosi)
 Gangguan defisit perhatian dengan hiperaktivitas (attention deficit
hyperactivity disorder, ADHD)
 Psikosis sementara yang diinduksi oleh stress berat
 Gangguan kepribadian
 Obssessive compulsive disorder (OCD)
 Anxietas

Anda mungkin juga menyukai