Anda di halaman 1dari 4

Asri Andara Putri (1506676374)

Filsafat Hukum B

Classical Positivism and Pure Theory of Law & Modern Analytical and
Normative Jurisprudence

Keberadaan positivisme hukum tidak dapat dilepaskan dari kehadiran negara


modern. Sebelum abad ke 18 pikiran itu talah hadir, dan menjadi semakin kuat sejak kehadiran
negara modern. Selain itu, pemikiran positivisme hukum adalah bagian yang tidak dapat dilepas
dari pengaruh perkembangan positivisme (ilmu).1 Berbeda dengan pemikiran hukum kodrat yang
sibuk dengan permasalahan validasi hukum buatan manusia, maka pada positivisme hukum,
aktivitasnya justru diturunkan kepada permasalahan konkrit. Jawaban terhadap permasalahan
konkrit tersebut, berdasarkan prinsip-prinsip dasar yang ada dalam positivisme, yakni:2
1. Suatu tata hukum negara berlaku bukan karena mempunyai dasar dalam kehidupan sosial
(Comte dan Spenser), bukan pula bersumber pada jiwa bangsa (Savigny) dan bukan juga
karena dasar-dasar hukum alam, melainkan mendapatkan bentuk postifnya dari instansi yang
berwenang.
2. Hukum harus dipandang semata-mata dalam bentuk formalnya; bentuk hukum formal
dipisahkan dari bentuk hukum material.
3. Isi hukum (material) diakui ada, tetapi bukan bahan ilmu hukum karena dapat merusak
keberadaan ilmiah ilmu hukum.
Secara epistimologi kata “positif” diturunkan dari bahasa Latin ponere-posui-
positus yang berati meletakan. Kata “meletakan” menunjukkan bahwa dalam positivisme adalah
sesuatu yang sudah tersaji (given). Dalam bidang hukum, sesuatu yang tersaji itu adalah sumber
hukum positif, yang sudah diletakkan oleh penguasa politik.3
Argumen-argumen dari mazhab positivism selalu mereferensi pada hal-hal yang empiris
dan berupa analisis akan fakta sosial yang objektif. Bagi aliran ini hukum adalah fenomena-
fenomena sosial yang lainnya yang hanya dapat dibentuk, diadakan dan diterapkan dalam ruang
lingkup tertentu, walaupun hukum tidak dapat dilepaskan dari faktor-daktor lain seperti
moralitas, agama, etika, dan lain sebagainya.4

1
Shidarta, Postivisme Hukum, (Jakarta: Univ. Tarumanegara UPT Penerbitan, 2007), hlm. 2-3.
2
Lili Rasydi dan I.B. Wyasa Putera, Hukum Sebagai Suatu Sistem, (Bandung: Mmandar Maju, 2003), hlm. 119.
3
Shidarta, Postivisme Hukum, hlm, 7
4
Antonius Cahyadi dan E. Fernando M. Manullang, Pengantar ke Filsafat Hukum, (Jakarta: Prenada, 2010), hlm. 58.
Satjipto Rahardjo menjelaskan bahwa proses pembentukan negara modern merupakan
bagian dari sejarah “deferensiasi” kelembagaan, yang menunjukan bagaimana fungsi-fungsi
utama dalam masyarakat itu tampak ke depan sepanjang berlangsungnya proses tersebut. Dari
situ akan terlihat terjadinya pengotganisasian masyarakat yang semakin meningkat, melalui
berbagai elaborasi dari fungsi-fungsi tersebut.5
Pemikiran pokok tentang hukum John Austin dituangkan terutama dalam karyanya
berjudul The Province of Jurisprudence Determined. Karya tersebut paling lengkap dan penting
mengenai usaha untuk menerapkan sistem positivisme analitis dalam negara-negara modern,
bahkan Austin sering disebut sebagai pembentuk legal positivism. Dalam memberikan rumusan
tentang hukum, Austin menggantikan “cita-cita tentang keadilan (ideaof justice) dengan
“perintah yang berdaulat” (comend of sovereign) sebagaimana dijelaskan oleh Austin “Positif
law… is the set by sovereign person, or a sovereign body of person, to members of independent
political society wherein that person or bady is sovereign pr supreme”.6
Menurut Austin, filsafat hukum memiliki dua tugas penting. Kegagalan membedakan keduanya,
akan menimbulkan kekaburan baik intelektual maupun moral. Kedua tugas ini berkaitan dengan
dua dimensi dari hukum yakni yurisprudensi analitis dan yurisprudensi normatif.
1. Yurisprudensi analitis (analytical jurisprudence), berkaitan dengan tugas filsafat hukum
adalah melakukan analisis tentang konsep dasar dalam hukum dan struktur hukum
bagaimana adanya. Pertanyaan tentang apa itu hukum, tanggungjawab hukum, hak dan
kewajiban hukum, misalnya adalah contoh pertanyaan-pertanyaan khas yang diajukan filsuf
atau pemikir hukum sebagai titik tolak dalam menganalis dan mencoba memahami konsep
dasar tersebut.
2. Yurisprudensi normatif (normative jurisprudence) berusaha mengevaluasi atau mengkritik
hukum dengan berangkat dari konsep hukum sebagaimana seharusnya. Pertanyaan-
pertanyaan pokok yang diajukan antara lain mengapa hukum disebut hukum, mengapa kita
wajib mentaati hukum, manakah basis validitas hukum, dan sebagainya. Dengan demikian,
dimensi yang kedua ini berurusan dengan dimensi ideal dari hukum.7

5
Rahardjo Satjipto, Lapisan-Lapisan Dalam Studi Hukum, Cet.1 (Malang: Bayumedia, 2009), hlm. 74
6
Anthon F Susanto, Ilmu Hukum Non Sistematik (Pondasi Filsafat Pengembangan Ilmu Hukum Indonesia),
(Yogyakarta: Genta Publishing, 2010), hlm. 85.
7
Andre Ata Ujan, Filsafat Hukum (Membangun Hukum Membela Keadilan), (Yogyakarta: Kanisius, 2009), hlm. 67.
Seorang jurist positivism yaitu Jeremy Bentham menolak mazhab natural law dan nilai
yang berasal dari pandangan yang subjektif, kedua hal tersebut ia ganti dengan suatu standard
norma yang berdasarkan dari keuntungan, kesenangan dan kepuasan manusia (advantages,
pleasure and satisfaction)8 yang sekarang dikenal dengan teori Utilitarianisme. Teori
utilitarianisme mengatakan bahwa prinsip moralitas yang paling tinggi adalah untuk
meningkatkan kebahagiaan, menyeimbangkan secara keseluruhan antara kenikmatan dan
kesengsaraan, hal tersebut terjadi karena rasa kebahagiaan dan kesengsaraan adalah tuan dari
kedaulatan kita (sovereign master), dalam hukum tidak ada masalah kebaikan atau keburukan,
atau hukum yang tertinggi atau yang terendah dalam ukuran nilai. Kebahagiaan dan
kesengsaraan mengendalikan kita disetiap kali kita melakukan sesuatu hal dan menentukan apa
yang seharusnya dilakukan9.
Bentham juga mengatakan bahwa perlindungan dari pembunuhan bukan berasal dari hak
yang berasal dari alam (natural rights) yang abstrak dan juga bagi kemerdekaan dan hak milik
karena hak itu muncul dari penegakan hukum secara legal yang berasal dari kebahagiaan
masyarakat (because the security resulting form legally enforced duties leads to general
happiness10.

Selanjutnya terkait Theory of Law, Ide mengenai Teori Hukum Murni (the Pure Theory
of Law) diperkenalkan oleh seorang filsuf dan ahli hukum terkemuka dari Austria yaitu Hans
Kelsen (1881-1973). The pure theory of law yang mempresentasikan hukum sebagaimana
adanya tanpa mempertahankan dengan menyebutnya adil, atau menolaknya dengan menyebut
tidak adil. Teori ini mencari hukum yang riil dan mungkin, bukan hukum yang benar. Berikut ini
merupakan pokok-pokok dari pemikiran Pure Theory of Law yang dikemukakan Kelsen
sebagaimana telah dituangkan dan dianalisis lebih lanjut dalam buku karya Prof. Dr. Jimly
Asshiddiqie dalam bukunya Teori Hans Kelsen Tentang Hukum yang diterbitkan pada tahun
2006.11

8
Agus Brotosusilo, Purnawidhi Wardhana Purbacaraka, dan M. Sofyan Pulungan, Op.cit, hlm. 207.
9
Michael J. Sandel, Justice: what’s the right things to do?, (New York: Farar, Straus and Giroux, 2010), hlm. 34.
10
Ibid, hlm. 213.
11
Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H., M. Ali Safa’at, S.H., M.H., Teori Hans Kelsen Tentang Hukum, (Jakarta :
Sekertariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, 2006), hlm. 11.
The pure theory of law ini sendiri menekankan pada pembedaan yang jelas antara hukum
empiris dan keadilan transedental dengan mengeluarkannya dari lingkup kajian hukum. Hukum
bukan merupakan manifestasi dari otoritas super-human, tetapi merupakan suatu teknik social
yang spesifik berdasarkan pengalaman manusia.12

Menurut the pure theory of law, hukum harus dibersihkan dari unsur-unsur yang non-
yuridis, seperti unsur sosiologis, politis, histories, bahkan etis.13 Hans Kelsen memahami
teorinya ini sebagai teori kognisi hukum, teori pengetahuan hukum. Dan satu-satunya tujuan dari
adanya teori the pure theory of law ini adalah kognisis atau pengetahuan tentang objeknya,
tepatnya ditetapkan sebagai hukum itu sendiri.14

Adapun yang menjadi dasar-dasar esensial dari pemikiran Kelsen menurut Friedmann
adalah sebagai berikut :

1. Tujuan teori hukum, setiap tiap ilmu pengetahuan, adalah untuk mengurangi
kekacauan dan kemajemukan menjadi kesatuan.
2. Teori hukum adalah ilmu pengetahuan mengenai hukum yang berlaku (das sollen)
bukan mengenai hukum yang seharusnya (das sein).
3. Hukum adalah ilmu pengetahuan normative, bukan ilmu alam.
4. Teori hukum sebagai teori tentang norma-norma, tidak ada hubungannya dengan
daya kerja norma-norma hukum.
5. Teori hukum adalah formal, suatu teori tentang cara menata, mengubah isi dengan
cara yang khusus, hubungan antara teori hukum dan sistem yang khas dari hukum
positif ialah hubungan apa yang menjadi mungkin dengan hukum yang nyata.15

12
Hans Kelsen, Pure Theory of Law, Translation from the Second (Revised and Enlarged) German Edition,
Translated by : Max Knight, (Berkeley, Los Angeles, London : University of California Press, 1967).
13 Prof. Darji Darmodiharjo, S.H., dan DR. Shidarta, S.H., M.Hum., Pokok-pokok Filsafat Hukum,

(Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2008), hal. 115.


14 Hans Kelsen, Pengantar Teori Hukum, diterjemahkan oleh Siwi Purwadi, (Bandung : Nusa

Media, 2009), hal. 3.


15
W. Friedmann, Teori & Filsafat Hukum: Telaah kritis Atas Teori-Teori Hukum(Susunan I), Judul Asli :
Legal Theory, Penerjemah L Mohamad Arifin, Cet. 2, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1993), hal. 170.

Anda mungkin juga menyukai