Anda di halaman 1dari 9

JURNAL PEMBELAJARAN KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN 01

Nama : Norma Yustika / 160342606298

Hari, Tanggal : Kamis, 25 Januari 2018

Topik : Pendahuluan

A. Yang Dipelajari
Pada hari kamis tanggal 25 Januari 2018, Offering I mendapatkan mata kuliah KT
(Keanekaragaman Tumbuhan) yang merupakan mata kuliah lanjutan dari SPT (Struktur
Perkembengan Tumbuhan) 1 dan 2. Mata kuliah SPT merupakan syarat utama dalam
menempuh mata kuliah KT ini. Mata kuliah SPT lebih kepada mencirikan suatu tanaman,
sedangkan mata kuliah Keanekaragaman Tumbuhan lebih ke mencirikan dan
mendeskripsikan dan juga mengelompokkan suatu tumbuhan tertentu. Pada pertemuan
pertama ini, kami juga dijelaskan tentang perbedaan dari mencirikan, mengidentifikasi,
mendeskripsikan, dan mengelompokkan suatu tumbuhan yang akan dijadikan objek
pengamatan. Dalam mengidentifikasi, pemberian nama pada tumbuhan akan dilakukan
setelah beberapa proses, yaitu mendeskripsikan dahulu kemudian mengelompokkan atau
mengklasifikasikan. Mendeskripsikan suatu objek harus menggunakan kata kunci determinasi
sebelum bisa menentukan nama.
Pada pertemuan ini juga mempelajari secara singkat tentang bagian-bagian habitus
pada tumbuhan, seperti absilar, adsilar, apendiks, nodus, dan lain-lain. Habitus merupakan
postur tubuh atau kenampakan morfologi tumbuhan. Perbedaan antara adsilar dan absilar,
adsilar merupakan permukaan yang dekat dengan ketiak (sudut yang dibentuk oleh sumbu
utama atau batang dengan apendiks, sedangkan absilar merupakan permukaan yang paling
jauh dari ketiak. Apendiks merupakan alat tambahan pada sumbu (batang), maka daun juga
disebut sebagai apendiks, begitu juga dengan trikoma, ranting dan percabangan lain pada
batang juga termasuk bagian dari batang. Nodus merupakan premordium (bakal cabang atau
bakal tumbuh) yang kemudian akan ditumbuhi daun, dimana ada buku maka disitu juga ada
daun. Ketika daunnya tanggal maka akan terlihat. Buku pada bagian nodus terlihat jelas,
dimana jika primordium tersebut melingkar pada batang sehingga ketika daun sudah tanggal
maka buku tersebut juga akan terlihat jelas. Selain itu, buku pada bagian nodus bisa tidak
terlihat jelas, dimana primordialnya membentuk suatu titik-titik atau nodus yang akan
ditumbuhi daun, apabila daun tanggal maka buku tersebut juga tidak akan terlihat dengan
jelas.
Mata kuliah Keanekaragaman Tumbuhan ini mempelajari tentang dasar-dasar
penamaan taksonomi tumbuhan pada tingkatan gen dan spesies tertentu dengan menggunakan
aturan dan hukum penamaan yang sudah ditetapkan yaitu ICN yang akan dibahas pada
pertemuan selanjutnya. Dalam pertemuan ini, juga melaksanakan pembagian kelompok
diskusi untuk presentasi dan juga melakukan pembagian tugas untuk dikerjakan pada
pertemuan selanjutnya.
B. Pertanyaan
1. Apa saja yang dipelajari pada mata kuliah Keanekeragaman Tumbuhan ini?
2. Apa perbedaan dari mencirikan dan mengelompokkan dalam bahasa keilmuan?
3. Bagaimana cara mengelompokkan tumbuhan serta mengidentifikasinya dengan
benar dan tepat?

C. Solusi
1. Mendengarkan dan mencermati apa yang dibicarakan oleh bapak atau ibu dosen
dengan baik
2. Menanyakan kepada bapak atau ibu dosen ataupun asisten dosen apabila ada yang
belum dimengerti
3. Membaca dan mempelajari RPS yang telah diberikan oleh bapak atau ibu dosen
JURNAL PEMBELAJARAN KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN 02

Nama : Norma Yustika / 160342606298

Hari, Tanggal : Jumat, 26 Januari 2018

Topik : Bahas RPS dan Pembagian Tugas Per Kelompok

A. Yang Dipelajari
Pada pertemuan kedua hari Jumat tanggal 26 Januari 2018, mata kuliah
Keanekaragaman Tumbuhan mempelajari tentang pemakaian tatanama tumbuhan dengan
berdasarkan ICN (International Code of Nomenclature); memahami aturan tatanama
tumbuhan; proses deskripsi, klasifikasi, dan identifikasi; memahami prinsip taksonomi. ICN
(International Code of Nomenclature) merupakan hukum atau aturan tatanama suatu
tumbuhan yang belum memiliki nama dan akan ditentukan namanya berdasarkan tingkatan
taksonomi tumbuhan tersebut. Apabila akan mencirikan suatu tumbuhan harus melalui proses
deskripsi, klasifikasi, dan identifikasi yang akhirnya akan menimbulkan suatu ciri tersebut.
Selain itu, mempelajari juga tentang fenetik, herebium, dan filogenik. Fenetik
merupakan cabang studi biologi untuk mengklasifikasi berdasarkan kemiripan morfologi dan
hasil observasi, namun tidak berdarkan kepada asal evolusi yang bersangkutan. Herebium
merupakan material tumbuhan yang telah diawetkan atau merupakan tempat penyimpanan
tumbuhan awetan yang disimpan. Sedangkan filogenik merupakan kajian biologi tentang
hubungan kelompok-kelompok yang berdasarkan kepada proses evolusi tumbuhan tersebut.
Pada pertemuan ini juga mempelajari atau mengulang materi SPT (Struktur
Perkembangan Tumbuhan) 2 secara singkat tentang proses sporogenesis yang merupakan
proses pembentukan sporangium. Pembentukan spora dimulai dari proses pembentukan
sporangium terlebih dahulu (2n), sporangium merupakan wadah atau tempat dari spora yang
kemudian sel-sel sporangium akan terbentuk menjadi dinding (bagian luar) dan inti sel spora
(bagian dalam). Sel induk berasal dari sporogen, terbentuknya sporogen berawal dari
terbentuknya sporangium (wadah atau tempat spora) (2n) melalui pembelahan mitosis dan
meiosis kerena terjadinya pengurangan jumlah kromosom) yang kemudian akan berkembang
menjadi spora (n) dan akhirnya akan berkembang menjadi tumbuhan muda. Selain itu, pada
pertemuan ini juga melakukan pembagian tugas per kelompok tentang presentasi pertemuan
selanjutnya sesuai dengan RPS yang telah diberikan dan juga membahas tentang pembagian
tugas untuk individu dan proyek tentang pemberian nama pada tumbuhan tetap yang belum
diberi nama yang ada di Fakultas MIPA Universitas Negeri Malang, khususnya pada daerah
gedung O8 FMIPA.

B. Pertanyaan
1. Apakah tingkatan taksonomi suatu tumbuhan dapat mempengaruhi pemakaian
tatanama tumbuhan? Jika iya, apa sajakah pengaruh tingkatan taksonomi tersebut?
2. Apakah pada proses sporogenesis itu harus melalui kedua fase mitosis dan
meiosis?
3. Apakah ada batasan-batasan dalam pemakaian tatanama tumbuhan dengan
menggunakan dasar ICN yang merupaka aturan penamaan tumbuhan? Jika ada,
apa sajakah batasan-batasan tersebut?

C. Solusi
1. Mendengarkan dan mencermati apa yang dibicarakan oleh bapak atau ibu dosen
dengan baik
2. Menanyakan kepada bapak atau ibu dosen ataupun asisten dosen apabila ada yang
belum dimengerti
3. Membaca dan mempelajari RPS yang telah diberikan oleh bapak atau ibu dosen
JURNAL PEMBELAJARAN KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN 03

Nama : Norma Yustika / 160342606298

Hari, Tanggal : Kamis, 1 Februari 2018

Topik : Pendahuluan (Preamble)

A. Yang Dipelajari
Pada pertemuan ketiga mata kuliah Keanekaragaman Tumbuhan pada hari
kamis tanggal 1 Februari mempelajari tentang Preamble (Pendahuluan) yang terdapat
pada ICN (International Code of Nomenclature) yang telah dipresentasikan oleh
Kelompok 1, beranggotakan Ade Ayu Chusnul Maghfiroh dan Yogi Rifaldo. Pada
saat kelompok 1 melakukan tugasnya sebagai presenter atau pemateri, kelompok 2
bertugas sebagai kelompok pembanding untuk membandingkan dan melengkapi dari
apa yang sudah disampaikan oleh kelompok pemateri. Presentasi atau penyampaian
tentang preamble (pendahuluan) dilakukan secara baik dan benar, begitu juga dari
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh teman-teman audiens juga sudah baik.
Pada ICN tersebut dijelaskan bahwa ICN digunakan khusus untuk penamaan algae,
fungi atau jamur, dan tumbuhan. Kode ini berisi aturan untuk organisme algae, fungi,
dan tumbuhan yang secara tradisional dipelajari oleh ahli botani, mikologi, dan
fikologi. Tujuan penggunaan ICN (International Code of Nomenclature) dalam
penamaan suatu organisme adalah untuk menghindari dan menolak penggunaan nama
yang dianggap membingungkan (ambigu) bagi pengetahuan dan juga menghindari
penciptaan nama yang tidak berguna (untuk menstabilkan nama), dramatikal harus
benar dan harus memperhatikan keteraturan.
Pemberian nama pada masing-masing organisme yaitu untuk objek masa
sekarang, masa lampau (pernah ada; organisme yang meninggal dan tersisa pada
lapisan bumi yang paling dalam), dan masa yang akan datang yang bertentangan
dengan aturan tidak disahkan atau dipertahankan. Hukum atau aturan berupa ICN
bukan merupakan alat untuk identifikasi, tetapi untuk mengatur pemberian nama
organisme fossil ataupun non-fossil. Organisme fossil yaitu organisme yang sudah
punah atau sudah tidak ada lagi pada masa sekarang dan hanya tersisa di lapisan bumi
paling bawah, sedangkan non-fossil yaitu organisme yang sampai masa sekarang
masih tetap ada dan tidak punah. Pada pertemuan tersebut dilanjutkan dengan
memahami dan mencermati ICN (International Code of Nomenclature) secara
bersama-sama, tidak hanya dilakukan oleh kelompok presenter pemateri saja sehingga
kita lebih mengerti bagaimana isi atau apa yang dibahas dari ICN (International Code
of Nomenclature) tersebut.
B. Pertanyaan
1. Apakah ICN (International Code of Nomenclature) hanya untuk mengatur
penamaan tumbuhan saja?
2. Apa tujuan dibentuknya ICN (International Code of Nomenclature) tersebut ?
3. Apakah ICN (International Code of Nomenclature) hanya digunakan untuk
penamaan tumbuhan pada masa sekarang saja?

C. Solusi
1. Mendengarkan dan mencermati apa yang dibicarakan oleh bapak atau ibu dosen
dengan baik
2. Menanyakan kepada bapak atau ibu dosen ataupun asisten dosen apabila ada yang
belum dimengerti
3. Membaca dan mempelajari RPS yang telah diberikan oleh bapak atau ibu dosen
JURNAL PEMBELAJARAN KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN 04

Nama : Norma Yustika / 160342606298

Hari, Tanggal : Jumat, 2 Februari 2018

Topik : Undang-undang atau Hukum ICN

A. Yang Dipelajari
Pada pertemuan keempat mata kuliah Keanekaragaman Tumbuhan pada hari
Jumat tanggal 2 Februari mempelajari tentang Undang-undang atau Hukum ICN yang
telah terdapat pada ICN (International Code of Nomenclature) yang telah
dipresentasikan oleh Kelompok 3, sedangkan kelompok 4 bertugas sebagai kelompok
pembanding untuk membandingkan dan melengkapi dari apa yang sudah disampaikan
oleh kelompok pemateri. Presentasi atau penyampaian tentang Undang-undang atau
Hukum ICN) dilakukan secara baik dan benar, begitu juga dari pertanyaan-pertanyaan
yang diajukan oleh teman-teman audiens juga sudah baik.
Pada pertemuan kali ini membahas tentang Prinsip I, II, III, IV, V, VI yang
terdapat pada ICN (International Code of Nomenclature). Pada Prinsip I, nomenklatur
alga, jamur, dan tanaman tidak bergantung pada nomenklatur zoologi dan
bakteriologi. Nomenklatur alga, jamur, dan tanaman berdiri sendiri dan tidak saling
mempengaruhi antara ICN (International Code of Nomenclature) dan nomenklatur
pada bidang zoologi, dan begitu juga pada nomenklatur bidang bakteriologi. Pada
Prinsip II dijelaskan tentang penerapan nama taksonomi yang ditentukan oleh
beberapa jenis atau tipe tatanama antara lain Holotipe, Isotipe, Nektotipe, dan Neotipe
yang akan dibahas lebih lanjut pada bagian (chapter) selanjutnya pada ICN
(International Code of Nomenclature) tersebut. Pada prinsip ini juga dijelaskan
tentang Tipifikasi (pentipean, menentukan nama), tipe tata nama yaitu elemen atau
unsur yang berada padanya diletakkan nama secara permanen oleh pemberi nama di
belakang nama pemberi nama (disitasi). Disitasi harus mengetahui bahwa tipe
tatanama didasarkan pada suatu umur yang sengaja ditunjuk oleh author yang
merupakan nama dari taksonomi, yang peletakannya berada di belakang nama author.
Selanjutnya pada Prinsip III, nomenklatur kelompok taksonomi didasarkan pada
prioritas publikasinya. Maksud dari publikasi adalah, apabila nama tersebut sesuai dan
memenuhi persyaratan yang ada pada ICN (International Code of Nomenclature)
tentang penamaan, maka nama tersebut diijinkan untuk dipublikasikan, begitu juga
sebaliknya apabila nama tersebut tidak sesuai dan memenuhi persyaratan ICN.
Sedangkan pada Prinsip IV, setiap kelompok taksonomi mempunyai batasan tertentu
yang hanya bisa memiliki satu nama yang tepat, kecuali dalam kasus-kasus tertentu.
Cerkumskripsi merupakan batasan suatu taksonomi yang mempunyai rentangan
tertentu, tidak dapat lebih maupun kurang dari rentangan tersebut. Disitu juga
dijelaskan bahwa apabila aturan dari ICN (International Code of Nomenclature) untuk
penamaan sudah tidak sesuai atau menyimpang, maka aturan tersebut tidak bisa
dirubah karena sudah merupakan ketetapan seperti halnya Undang-undang, apabila
sudah menyimpang maka dikembalikan pada kebiasaan lama yang sudah pernah
terjadi tanpa harus mengubah dari aturan-aturan ICN (International Code of
Nomenclature) tersebut. Selain itu, dijelaskan juga tentang isi dari Prinsip V dan
Prinsip VI.

B. Pertanyaan
1. Apakah nomenklatur tentang alga, jamur, dan tanaman hanya didasarkan pada
ICN (International Code of Nomenclature) saja ataukah masih bergantung dengan
bidang biologi lainnya? Jika iya, apa sajakah bidang-bidang tersebut?
2. Apakah seluruh penamaan yang sudah dilakukan boleh untuk dipublikasikan
secara langsung tanpa adanya kesesuaian aturan ICN?
3. Apa yang harus dilakukan apabila aturan-aturan dari ICN (International Code of
Nomenclature) sudah menyimpang atau sudah tidak sesuai pada masa sekarang?

C. Solusi
1. Mendengarkan dan mencermati apa yang dibicarakan oleh bapak atau ibu dosen
dengan baik
2. Menanyakan kepada bapak atau ibu dosen ataupun asisten dosen apabila ada yang
belum dimengerti
3. Membaca dan mempelajari RPS yang telah diberikan oleh bapak atau ibu dosen
REFLEKSI DIRI

Norma Yustika / 160342606298 / Off I Biologi Murni 2016

Setelah saya mempelajari tentang topik sesuai dengan RPS yang telah dibahas tentang
preamble (pendahuluan) dan juga bagian lain dari artikel ICN (International Code of
Nomenclature) yang sudah dipelajari secara bersama, saya menjadi semakin mengerti tentang
tatanama penamaan alga, jamur, dan tanaman dan juga mengerti tentang Undang-undang
tatanama tersebut. Kesulitan saya saat mempelajari ini adalah kesulitan saat memahami dan
mencermati kata-kata yang sulit dalam artikel tersebut dan juga kesulitan dalam
menerjemahkan. Tetapi pada saat dibahas dan dipelajari secara bersama oleh kelompok
presenter atau pemateri, dosen, dan audiens saya menjadi mengerti apa yang dimaksudkan di
dalamnya. Meskipun masih ada beberapa bagian yang belum saya mengerti, saya harus
mempelajarinya sendiri lebih lanjut supaya saya bisa lebih memahami materi tersebut dan
juga bisa dilaksanakan dengan membuat mind map sebelum materi dilaksanakan untuk
mempermudah kita dalam mempelajari materi tersebut.