Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH SISTEM PEMNDAH TENAGA

KOPLING HIDROLIS “TORQUE CONVERTER”

Oleh :

Muhammad Iqbal (16504241008)


Teguh Laksono (16504241011)
Rizal Hakim (16504241041)

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK OTOMOTIF


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2017
KATA PENGANTAR

Pujisyukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang karena
Rahmat-Nya, kami dapat menyelesaikan tugas pembuatan Makalah Sistem
Pemindah Tenaga “Torque Converter” tepat pada waktunya, dan rasa terima
kasih pada semua pihak baik dosen maupun mahasiswa yang telah mendukung
dalam pembuatan makalah ini.
Sistem Pemindah Tenaga merupakan matakuliah program studi pendidikan
teknik otomotif, salah satu materinya yang diberikan ialah Torque Converter,
dirancang untuk digunakan sebagai sarana dalam kegiatan belajar untuk
mahasiswa jurusan pendidikan teknik otomotif untuk menjadi seorang engineer
yang ahli dalam bidangnya. Makalah ini memuat ringkasan teori dari berbagai
sumber yang disusun secara ringkas dan sistematis.
Kami menyadari bahwa proses penyusunan makalah yang ringkas dan
sistematis, merupakan pekerjaan yang tidak ringan. Demikian puladalam teknik
penulisan dan tata bahasa tak luput dari kesalahan dan kekurangan.
Dari kesadaran tersebut, kami sangat mengharapkan saran, kritik maupun
masukan dari pembaca dan pemakai makalah Torque Converter ini, guna
penyempurnaan pada masa mendatang.
Penghargaan yang setinggi-tinginya kami sampaikan kepada semua pihak
yang telah membantu tersusunnya makalah Torque Converter ini. SemogaTuhan
Yang Maha Esa senantiasa memberikan limpahan rahmat, petunjuk dan
bimbingan-Nya terhadap setiap niat baik kita.

Yogyakarta, 10 November 2017


Tim Penyusun

Kelompok VIII
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kopling merupakan bagian powertrain yang diperlukan pada sebuah
kendaraan yang penggerak utamanya diperoleh dari hasil pembakaran di dalam
silinder mesin. Pada tahap pertama mesin dihidupkan tanpa digunakan
tenaganya. Oleh karena itu,pada tahap pertama mesin harus dapat berputar
dahulu dan kemudian memindahkan tenaganya perlahan-lahan pada roda
belakang sehingga kendaraan akan bergerak perlahan-lahan.Selain itu, mesin
juga harus bebas bila mengganti gigi transmisi. Maka diperlukan pemasangan
kopling yang letaknya diantara mesin dan transmisi yang berfungsi untuk
menghubungkan dan membebaskan putaran mesin. Untuk menggerakkan
sebuah kopling tentunya dibutuhkan mekanisme penggerak.
Dari pendahuluan diatas, sesuai dengan yang akan dibahas
yakni tentang system kopling hidrolik (torque converter), maka sebagai
kesimpulan awal bahwa system kopling masuk pada bagian system
pemindah tenaga. Oleh karena itu pada pembahasan kali kita akan membahas
secara terperinci yang erat kaitannya dengan system kopling hidrolis (torque
converter).

B. RUMUSAN MASALAH
Beberapa permasalah yang diangkat dalam penulisan makalah ini adalah
1. Apa Pengertian dan Fungsi kopling hidrolik (Torque Converter)?
2. Apa saja Komponen kopling hidrolik (Torque Converter) ?
3. Bagaimana Prinsip Kerja dan Cara Kerja kopling hidrolik (Torque
Converter) ?
4. Masalah apa yang sering terjadi pada mekanisme kopling hidrolik (Torque
Converter) ?
C. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Mengetahui Pengertian dan Fungsi kopling hidrolik (Torque Converter).
2. Mengetahui Komponen kopling hidrolik (Torque Converter).
3. Mengetahui Prinsip Kerja dan Cara Kerja kopling hidrolik (Torque
Converter).
4. Mengetahui tipe-tipe torque converter.
5. Mengetahui kekurangan dan kelebihan torque converter
6. Mengetahui Masalah yang Sering terjadi pada mekanisme kopling hidrolik
(Torque Converter).
BAB II
DASAR TEORI DAN PEMBAHASAN

A. Pengertian Kopling Hidrolis (Torque Converter)

Torque converter adalah suatu komponen power train yang bekerjanya


secara hidrolis. Prinsip kerja dari torque converter adalah merubah tenaga
mekanis dari engine menjadi energi kinetis (oil flow) dan merubahnya lagi
menjadi tenaga mekanis pada shaft output-nya. Dinamakan jenis kopling
hidrolis dikarenakan dalam melakukan pemindahan daya menggunakan tenaga
hidrolis. Tenaga hidrolis ini didapatkan dengan cara menempatkan cairan
dalam sebuah wadah yang diputar sehingga cairan tersebut nantinya akan
terlempar serta bersirkulasi dikarenakan gaya sentrifugal karena fluida
memiliki tenaga hidrolis. Fluida bertenaga inilah yang kemudian dikenal
sebagai pemindah dan penerus tenaga.
Kelebihan dari sistem kopling hidrolik ini adalah lebih efektif serta
responsif, bahkan anda juga tidak perlu mengkhawatirkan mengenai pemuaian
semisal pada bagian kawat. Namun yang perlu anda perhatikan adalah, sistem
hidrolis lebih sensitif terhadap udara yang terdapat di dalam sistem. Sehingga
tentu saja perawatan tidak boleh terlewatkan.

B. Fungsi Kopling Hidrolis (Torque Converter)


Fungsi torque converter adalah sebagai berikut:
 Sebagai kopling otomatis (automatic clutch) untuk meneruskan engine
torque ke input transmisi.
 Meningkatkan (multiflies) torque yang dibangkitkan oleh engine.
 Meredam getaran puntir (torsional vibration) dari engine dan drive train.
 Meratakan (smoothes) putaran engine.
C. Konstruksi dan Komponen Torque Converter

1. Pump Impeller

Pompa impeller berfungsi sebagai kipas pertama yang terhubung


dengan flywheel mesin. Kipas ini berfungsi untuk membangkitkan tekanan
dan aliran fluida didalam sistem torque converter. Bentuk kipas ini, seperti
kipas pada umumnya yang memiliki banyak blade. Biasanya pompa ini
terletak dibagian belakang unit torque yang menempel dengan cover torque.

Pump impeller juga berfungsi untuk melemparkan fluida (ATF) ke


turbine runner agar turbine runner ikut berputar. Pump impeller terdiri dari
vane dan guide ring. Guide ring berfungsi untuk memberikan celah yang
memperlancar aliran minyak.
2. Turbine Runner

Turbine runner dihubungkan dengan overdrive input shaft transmisi,


hal ini berarti turbine runner berfungsi untuk menerima lemparan fluida dari
pump impeller dan menggerakkan input shaft transmisi. Turbine runner
terdiri dari vane dan guide ring. Arah vane pada turbine runner berlawanan
dengan vane pump impeller.

Turbine runner dihubungkan dengan input shaft transmisi dan


berputar bersama saat kendaraan berjalan dan shift selector diposisikan ke
“D”, “2” “L” atau “R”. Namun turbine runner tidak akan berputar pada saat
kendaraan berhenti dengan selector masih berada di salah satu di antara
keempat posisi tersebut. Ia akan berputar bebas bersama pump impeller pada
posisi “N” dan “P”

3. Stator

Stator ditempatkan di tengah-tengah antara pump impeller dan


turbine runner. Dipasang pada poros stator yang diikatkan pada
transmission case melalui one-way clutch. Stator berfungsi untuk
mengarahkan fluida dari turbine runner agar menabrak bagian belakang
vane pump impeller, sehingga memberikan tambahan tenaga pada pump
impeller. Stator bisa bergerak bebas meski porosnya terpaut dengan
impeller, namun ada komponen one way clutch yang akan mencegah stator
berputar melawan putaran impeller. Jika hal itu terjadi maka aliran fluida
akan terhambat.

4. One-way clutch

One-way clutch memungkinkan stator hanya berputar searah


dengan poros engkol. Oleh karena itu, stator akan berputar atau terkunci
tergantung dari arah dorongan minyak pada vane stator.
5. Lock up clutch
Komponen ini pada dasarnya sama seperti kampas kopling gesek,
bahan yang dipakai juga sama seperti kampas kopling. Fungsinya yakni
untuk menghubungkan turbin dengan cover torque converter di RPM
tertentu sehingga perbandingan putaran flywheel dan input transmisi bisa
sama.

6. Torque Converter Cover


Cover ini akan berfungsi sebagai rangka atau tempat beroperasinya
aliran fluida. Cover ini akan mencegah terjadinya kebocoran saat fluida
beraksi oleh sebab itu bentuk cover ini tertutup. Cover yang berhubungan
dengan impeller ini dihubungkan oleh beberapa baut ke flywheel mesin
sehingga saat mesin hidup cover ini akan berputar.

D. Cara kerja Torque Converter


Pada dasarnya, kopling fluida dan torque converter mempunyai
prinsip kerja yang sama. Jika dua kipas angin ditempatkan saling berhadapan
satu sama lain, dan salah satu kipas angin dinyalakan, angin yang ditimbulkan
akan menggerakkan sirip kipas angin satunya (kipas angin yang tidak
dinyalakan) dan akhirnya keduanya berputar.
Sirip kipas angin yang berputar pertama kali akan berputar secara
bertahap lebih cepat sampai pada akhirnya kedua kipas angin berputar dengan
kecepatan yang sama.
Apa yang terjadi dengan torque converter adalah mirip dengan
kejadian di atas. Kipas angin digantikan dengan dua roda yang bersirip. Dua
roda bersirip tersebut diletakkan saling berdekatan dalam sebuah casing yang
berbentuk lingkaran dan dibautkan pada roda gila (flywheel) mesin. Casing
tersebut diisi dengan ATF yang berfungsi sebagai media menggantikan fungsi
angin dalam gambaran kerja dua kipas angin.

Torque Converter terbuat dari plat baja yang dipasang pada drive
plate poros engkol sehingga torque converter berputar sesuai dengan putaran
mesin.

Cara kerja dari torque Converter adalahsebagai berikut :


1. Saat Putaran Idle
Ketika mesin dihidupkan pada RPM idle, maka putaran dari flywheel
akan dihubungkan ke impeller pump melalui cover converter. Putaran pada
impeller akan menimbulkan aliran fluida didalam cover ini. Fluida ini akan
mengalir dari impeller masuk ke sirip turbin, kemudian masuk ke bagian
tengah turbin, lalu mengalir ke stator dan kembali ke impeller melalui pada
bagian tengah impeller.
Aliran yang mengenai sirip turbin memiliki tekanan, tapi karena RPM
mesin masih rendah tekanan yang dihasilkan belum mampu memutar turbin.
Ini akan membuat sistem kopling yang terbebas.
2. Saat RPM sedang
Saat mesin mulai digas pada RPM sedang, tekanan fluida yang
melewati sirip turbin semakin besar. Hal itu akan membuat turbin mulai
berputar namun RPM putaran turbine sangat kecil karena turbin ini menahan
beban kendaraan.
3. Saat RPM tinggi
Ketika RPM mesin dinaikan lagi, maka tekanan fluida yang mengenai
sirip turbin juga semakin besar. Sehingga putaran turbin semakin cepat,
kecepatan putaran turbin akan mempercepat laju fluida yang kembali ke
impeller, aliran tersebut melewati stator sehingga stator mengalami override
yang akan membantu mengalirkan fluida kembali ke impeller sehingga aliran
fluida semakin lancar.
Pada RPM tertentu, lock up clutch akan bekerja. Fungsi lock up clutch
ini adalah mencegah terjadinya kerugian tenaga akibat perbedaan moment.
Penggunan aliran fluida ini akan menimbulkan kerugian putaran karena posisi
turbin yang menahan beban mobil. Sehingga meski putaran impeller sudah
sangat tinggi, putaran turbin masih belum mampu menyamai putaran impeller.
Tapi dengan adanya lock up clutch ini itu bisa diatasi, cara kerja lock
up clutch yakni ketika RPM tertentu tekanan fluida akan mendorong turbin
yang dibelakangnya sudah terpasang lock up clutch kearah cover converter.
Sehingga putaran cover ini akan langsung diteruskan ke lock up clutch karena
menggunakan bahan kampas seperti tipe kopling manual. Hal tersebut
membuat aliran tenaga dari flywheel, masuk ke cover converter dan langsung
ke turbin dengan perbandingan putaran 1 : 1.
E. Tipe – tipe Torque Converter
Suatu unit torqflow yang sedang beroperasi ke dalam torque converter
yang diberi oli dengan tekanan tertentu, pump/impeller dalam torque converter
berputar karena berhubungan langsung dengan flywheel melalui drive case
sehingga oli yang mengalir dalam sudu-sudu pump mendapat gaya sentrifugal
dari pump itu sendiri dan terlempar keluar yang menimbulkan tenaga aliran
(energi kinetis) pada oli tersebut.

Aliran oli yang terlempar segera masuk ke dalam sudu-sudu turbin dan
mendorongnya sehingga turbin berputar karena menerima tenaga kinetis dari
oli tersebut. Selanjutnya oil flow segera meninggalkan turbin dan masuk ke
dalam sudu-sudu stator. Dalam sudu-sudu stator, arah oil flow dirubah
diarahkan kembali masuk ke dalam inlet sudu-sudu pump, karena oil flow ini
masih menyimpan energi kinetis, sehingga dapat membantu kerja pump dan
menghasilkan tenaga kinetis baru pada outlet yang mana selanjutnya akan
diterima turbin, demikian dan seterusnya. Sedangkan tipe-tipe torque converter
dibagi menjadi beberapa macam seperti single phase, double phase, triple
phase dan torque converter with lock up clutch.

1. Single Phase
Pada torque converter tipe single phase, apabila speed ratio naik
mendekati 1 (satu) torque turbin akan turun mendadak, semakin tinggi speed
ratio semakin tinggi pula effisiensi torque converter dan akan mencapai
maksimum pada speed ratio= 0,7 (sebagai contoh). Beberapa tenaga engine
yang tidak dapat dipindahkan oleh torque converter adalah sebagai tenaga yang
hilang (slip) yang kemudian akan berubah menjadi panas pada oli dalam torque
converter itu sendiri. Oleh sebab itu adalah sebagai alasan yang tepat kenapa
torque converter harus di lengkapi dengan oil cooler yang cukup besar untuk
mencegah panas oli yang berlebihan pada saat operasi.
2. Double Phase
Pada torque converter tipe double phase, antara stator dan shaft-nya
dipasang free wheel sehingga bisa berputar satu arah. Pada permulaan
effisiensi akan menurun, stator mulai berputar, sehingga oil flow akan
mengarah kembali menuju pump, sehingga effisiensi torque converter
akan naik kembali mendekati 100 %. Oil flow dan speed ratio dalam
torque converter tipe double phase seperti yang dicontoh pada gambar di
bawah.

3. Triple Phase
Pada torque converter tipe triple phase, terdapat dua stator yang masing-
masing dilengkapi dengan free wheel. Pada permulaan effisiensi mulai
menurun, stator satu (S1) akan berputar menghindari turunnya effisiensi,
kemudian speed ratio dapat lebih tinggi yang selanjutnya effisiensi akan
menurun lagi, tetapi stator dua (S2) mulai berputar menyebabkan torque
turbin tidak turun dan naiklah effisiensi yang kedua kalinya.

4. Torque Converter with Lock Up Clutch


Cara lain untuk menaikkan effisiensi torque converter adalah dengan
menggunakan susunan clutch yang terletak antara pump dan turbin seperti
gambar berikut:
Torque converter berfungsi sebagaimana mestinya, hanya pada speed
tertentu dan apabila dikehendaki operator clutch dapat engaged yang berarti
menghubungkan langsung antara turbin dengan pump sehingga merupakan unit
direct drive dengan effisiensi 100%. Torque converter seperti ini biasanya
stator dilengkapi dengan free wheel. Namun ada juga torque converter yang
dilengkapi dengan lock up clutch tetapi stator tidak memakai free wheel.
Sehingga ketika lock up clutch difungsikan (engaged), stator clutch akan
disengaged untuk membebaskan stator dari housingnya dan dapat berputar
bebas. Jadi ketika lock up clutch difungsikan, oli dalam torque converter dapat
bergerak bebas bersama dengan putaran pump dan turbin, tanpa adanya
hambatan dari sudu-sudu bila stator dalam keadaan diam. Lock up clutch
dijalankan oleh tekanan oli, dimana oli yang menuju lock up clutch maupun
stator clutch diatur oleh lock up valve. Lock up valve ini digerakkan solenoid
berdasarkan sensor kecepatan (yaitu kecepatan out put shaft) dan sensor
tekanan modulating oli transmisi.
F. Keuntungan dan kerugian pemakaian Torque Converter

Transmisi matik dengan torque converter punya komponen utama


berupa planetary gear unit (gir planet), hydraulic control unit dan tentu
saja torque converter untuk memperbesar momen mesin. Ketika sudah
mencapai kecepatan tertentu dan waktunya untuk berpindah gigi, komputer
akan menyuruh torque converter untuk berkerja melakukan perpindahan gigi.

Komputer transmisi otomatis bisa membaca situasi berkendara dari


cara kita menginjak gas. Contoh, saat berkendeara rileks kita akan sadar kalau
di rpm 3.000-an gigi sudah berpindah, namun saat berkendara agresif atau
melakukan kickdown, komputer akan memilih gigi yang lebih rendah agar
tenaga yang besar dan putaran mesin yang tinggi bisa kita dapatkan. Dengan
hadirnya mode manual di transmisi otamatis modern, masalah engine braking
pun bisa dieliminasi.

Kelebihan transmisi Torque Converter:

 Relatif lebih mudah perawatan dan biaya maintenance-nya dibanding CVT


dan Dual Clutch
 Memiliki efek hentakan saat kita kickdown sehingga memberi efek
akselerasi lebih spontan dibanding CVT.
Kekurangan transmisi Torque Converter:

 Tidak memiliki efek engine brake, sehingga driver yang terbiasa


menggunakan transmisi manual harus beradaptasi terlebih dahulu untuk
membiasakan berkendara dengan transmisi ini, tetapi dengan
perkembangan teknologi yaitu penambahan mode manual, maka efek
engine brake bisa dimunculkan.
 Perpindahan gigi tidak bisa sehalus CVT
 Konstruksi transmisi relatif lebih berat dari CVT
 Efisiensi bahan bakar masih di bawah jenis CVT maupun Dual Clutch,
terutama jika dihadapkan pada kondisi jalan macet atau stop and go.

Contoh mobil dengan type transmisi otomatis Torque Converter adalah;


Toyota Yaris, Honda Brio, Suzuki Ertiga, Toyota Avanza, Mazda 2, dll.

G. Permasalahan pada sistem Torque Converter

Mobil matic biasanya akan mengalami overheating jika mengalami


kerusakan pada torque converter. Dimana Torque converter merupakan
komponen yang membatasi antara mesin dengan transmisi. Torque converter
sendiri berfungsi agar mobil matic dapat berhenti tanpa menyebabkan transmisi
menerima dorongan terus menerus dari mesin.

Selain mengakibatkan overheating, kerusakan pada Torque converter


juga dapat mengakibatkan selip atau bahkan kerusakan transmisi. Beriku ini
beberapa kerusakan yang biasa terjadi pada Torque converter

1. Bearing rusak

Komponen umum yang paling sering bermasalah yaitu stator,


impeller, turbin dan rumah konversi yang seharusnya bekerja terpisah,
berisiko saling bergesekan secara langsung karena bearing yang rusak. Tak
hanya akan merusak torque converter, pecahan metal yang terbawa ke
dalam pelumas bisa merambat ke komponen lainnya.

2. Gasket yang rusak atau bocor

Adanya kebocoran pada Gasket dapat menyebabkan kerja perangkat ini


tak maksimal. Masalah tersebut tak hanya menyebabkan mesin menjadi
panas, tetapi juga transmisi selip atau terlambat.

3. Kopling torque converter rusak

Kerusakan Kopling pada torque converter meruapakn masalah yang sulit


dideteksi dan biasanya hal ini menyebabkan mobil terus berjalan meski
diposisikan dalam keadaan berhenti total. Biasanya penyebab kegagalan
tersebut diakibatkan distorsi atau getaran yang membuat komponen di
dalamnya saling mengunci.

4. Solenoid kopling torque converter bermasalah

Perangkat ini merupakan komponen elektronik yang mengontrol jumlah


pelumas yang masuk ke dalam torque converter. Kerusakan pada
komponen ini menyebabkan pelumas masuk terlalu banyak atau sedikit,
sehingga risiko mesin mati dapat terjadi atau bahkan mempengaruhi
konsumsi bahan bakar.
PENUTUP

KESIMPULAN
 Prinsip kerja dari torque converter adalah merubah tenaga mekanis dari
engine menjadi energi kinetis (oil flow) dan merubahnya lagi menjadi
tenaga mekanis pada shaft output-nya.
 Fungsi torque converter adalah sebagai berikut:
1. Sebagai kopling otomatis (automatic clutch) untuk meneruskan
engine torque ke input transmisi.
2. Meningkatkan (multiflies) torque yang dibangkitkan oleh engine.
3. Meredam getaran puntir (torsional vibration) dari engine dan drive
train.
4. Meratakan (smoothes) putaran engine.
 Kelebihan transmisi Torque Converter:
1. Relatif lebih mudah perawatan dan biaya maintenance-nya dibanding CVT
dan Dual Clutch
2. Memiliki efek hentakan saat kita kickdown sehingga memberi efek
akselerasi lebih spontan dibanding CVT.
 Kekurangan transmisi Torque Converter:
1. Tidak memiliki efek engine brake, sehingga driver yang terbiasa
menggunakan transmisi manual harus beradaptasi terlebih dahulu untuk
membiasakan berkendara dengan transmisi ini, tetapi dengan
perkembangan teknologi yaitu penambahan mode manual, maka efek
engine brake bisa dimunculkan.
2. Perpindahan gigi tidak bisa sehalus CVT
3. Konstruksi transmisi relatif lebih berat dari CVT
4. Efisiensi bahan bakar masih di bawah jenis CVT maupun Dual Clutch,
terutama jika dihadapkan pada kondisi jalan macet atau stop and go
SARAN
 Lebih banyak membaca referensi seputar materi koling hidrolis (torque
converter) serta praktik secara langsung agar penyajian makalah lebih
sempurna.
 Makalah ini bisa dijadikan referensi bagi penulisan berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA

 https://showroommobil.co.id/info-mobil/cara-kerja-kopling-hidrolik/
 https://garrsett.wordpress.com/2014/04/15/torque-converter/
 http://www.otopos.net/2015/01/konstruksi-dan-prinsip-kerja-torque.html
 http://www.autoexpose.org/2017/09/cara-kerja-torque-converter.html
 http://www.otopos.net/2015/01/klasifikasi-dan-performance-tipe-
torque.html
 https://artikel-teknologi.com/perbedaan-teknologi-transmisi-otomatis-
mobil-torque-converter-cvt-dan-dual-clutch/
 http://blog.dapurmobil.com/beberapa-kerusakan-torque-converter-pada-
mobil-matic/