Anda di halaman 1dari 78

TUGAS PREKOMPRE

STANDAR KOMPETENSI DOKTER


INDONESIA
3A & 3B

Disusun oleh :
DONY HAMONANGAN
H2A012053

1
I. SISTEM SARAF
A. EPILEPSI
1. Kompetensi
3A
2. Tanda dan Gejala
a. Anamnesis
Ada tiga langkah untuk menuju diagnosis epilepsi, yaitu:
1) Langkah pertama: memastikan apakah kejadian yang
bersifat paroksismal merupakan bangkitan epilepsi.
a) Gejala sebelum, selama dan paska bangkitan
 Keadaan penyandang saat bangkitan: duduk/
berdiri/ bebaring/ tidur/ berkemih.
 Gejala awitan (aura, gerakan/ sensasi awal/
speech arrest).
 Pola/bentuk yang tampak selama bangkitan:
gerakan tonik/klonik, vokalisasi, otomatisme,
inkontinensia, lidah tergigit, pucat berkeringat,
deviasi mata.
 Keadaan setelah kejadian: bingung, terjaga,
nyeri kepala, tidur, gaduh gelisah, Todd’s
paresis.
 Faktor pencetus: alkohol, kurang tidur,
hormonal.
 Jumlah pola bangkitan satu atau lebih, atau
terdapat perubahan pola bangkitan.
 Penyakit lain yang mungkin diderita sekarang
maupun riwayat penyakit neurologik dan
riwayat penyakit psikiatrik maupun penyakit
sistemik yang mungkin menjadi penyebab.
b) Usia awitan, durasi, frekuensi bangkitan, interval
terpanjang antar bangkitan.
c) Riwayat terapi epilepsi sebelumnya dan respon
terhadap terapi (dosis, kadar OAE, kombinasi terapi).
d) Riwayat penyakit epilepsi dalam keluarga.
e) Riwayat keluarga dengan penyakit neurologik lain,
penyakit psikitrik atau sistemik.
f) Riwayat pada saat dalam kandungan, kelahiran dan
perkembangan bayi/anak.
g) Riwayat bangkitan neonatal/kejang demam.
h) Riwayat trauma kepala, infeksi SSP.
2) Langkah kedua: apabila benar terdapat bangkitan epilepsi,
maka tentukan bangkitan tersebut bangkitan yang mana
(klasifikasi ILAE 1981).
3) Langkah ketiga: menentukan etiologi, sindrom epilepsi,
atau penyakit epilepsi apa yang diderita pasien dilakukan

2
dengan memperhatikan klasifikasi ILAE 1989. Langkah ini
penting untuk menentukan prognosis dan respon terhadap
OAE (Obat Anti Epilepsi).
b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik umum: mengamati adanya tanda-tanda
trauma kepala, infeksi telinga atau sinus, gangguan kongenital,
kecanduan alkohol atau obat terlarang, kelainan pada kulit,
kanker, defisit neurologik fokal.
c. Pemeriksaan neurologis:
1) Jika dilakukan pada beberapa menit atau jam setelah
bangkitan maka akan tampak tanda pasca iktal terutama
tanda fokal seperti todds paresis (hemiparesis setelah
kejang yang terjadi sesaat), trans aphasic syndrome (afasia
sesaat) yang tidak jarang dapat menjadi petunjuk lokalisasi.
2) Jika dilakukan pada beberapa waktu setelah bangkitan
terakhir berlalu, sasaran utama adalah menentukan apakah
ada tanda-tanda disfungsi system saraf permanen (epilepsi
simptomatik) dan walaupun jarang apakah ada tanda-tanda
peningkatan tekanan intrakranial.
3. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Kadar glukosa, kalsium, magnesium, natrium, bilirubin, dan
ureum dalam darah. Keadaan seperti Hiponatremia ,
hipoglikemia, hipomagnesia, uremia.
b. EEG
c. CT Scan Kepala
d. MRI Kepala
4. Diagnosis Banding
a. Sinkop
b. Transient Ischemic Attack
c. Benign sleep myoclonus
d. Global amnesia
5. Penatalaksanaan
Sebagai dokter pelayanan primer, bila pasien terdiagnosis sebagai
epilepsi, untuk penanganan awal pasien harus dirujuk ke dokter
spesialis saraf.
a. OAE diberikan bila:
1) Diagnosis epilepsi sudah dipastikan
2) Pastikan faktor pencetus dapat dihindari (alkohol, stress,
kurang tidur, dan lain-lain)
3) Terdapat minimum 2 bangkitan dalam setahun
4) Penyandang dan atau keluarganya sudah menerima
penjelasan terhadap tujuan pengobatan
5) Penyandang dan/atau keluarganya telah diberitahu tentang
kemungkinan efek samping yang timbul dari OAE

3
b. Terapi dimulai dengan monoterapi menggunakan OAE pilihan
sesuai dengan jenis bangkitan
6. Kriteria Rujukan
Setelah diagnosis epilepsi ditegakkan maka pasien segera dirujuk ke
pelayanan sekunder yang memiliki dokter spesialis saraf.
7. Referensi
Persatuan Dokter Spesialis Saraf Indonesia: Panduan Praktik Klinis
Neurologi. 2016. Hlm. 175-177

B. CLUSTER HEADACHE
1. Kompetensi
3A
2. Tanda dan Gejala
b. Anamnesis
1) Nyeri kepala yang hebat, nyeri selalu unilateral di orbita,
supraorbita, temporal atau kombinasi dari tempat-tempat
tersebut, berlangsung 15–180 menit dan terjadi dengan
frekuensi dari sekali tiap dua hari sampai 8 kali sehari.
2) Serangan-serangannya disertai satu atau lebih sebagai
berikut, semuanya ipsilateral: injeksi konjungtival,
lakrimasi, kongesti nasal, rhinorrhoea, berkeringat di
kening dan wajah, miosis, ptosis, edema palpebra. Selama
serangan sebagian besar pasien gelisah atau agitasi.
c. Pemeriksaan Fisik
1) Pemeriksaan Fisik Umum dan Tanda Vital
2) Penilaian skala nyeri
3) Pemeriksaan Neurologi
4) Fokus: kesadaran, saraf kranialis, motorik, sensorik, otot-
otot perikranial
d. Kriteria Diagnosis
1) Sekurang-kurangnya terdapat 5 serangan yang memenuhi
kriteria b-d.
2) Nyeri hebat pada daerah orbita, supraorbita dan/atau
temporal yang berlangsung antara 15-180 menit jika tidak
ditangani.
3) Nyeri kepala disertai setidaknya satu gejala berikut:
a) Injeksi konjungtiva dan/atau lakrimasi pada mata
ipsilateral
b) Kongesti nasal dan/atau rhinorrhea ipsilateral
c) Edema palpebra ipsilateral
d) Berkeringat pada daerah dahi dan wajah ipsilateral
e) Miosis dan/atau ptosis ipsilateral
f) Gelisah atau agitasi
g) Frekuensi serangan 1-8 kali/hari
4) Tidak berhubungan dengan kelainan lain

4
Catatan:
Kriteria Diagnostik Nyeri Kepala Klaster Episodik
1) Serangan-serangan yang memenuhi kriteria untuk nyeri
kepala klaster.
2) Paling sedikit dua periode klaster yang berlangsung 7–365
hari dan dipisahkan oleh periode remisi bebas nyeri > 1
bulan.
Kriteria Diagnostik Nyeri Kepala Klaster Episodik
1) Serangan-serangan yang memenuhi kriteria untuk nyeri
kepala klaster.
2) Serangan berulang lebih dari 1 tahun tanpa periode remisi
atau dengan periode remisi yang berlangsung kurang dari 1
bulan.
3. Pemeriksaan penunjang
CT Scan atau MRI Kepala + kontras atas indikasi bila didapatkan defisit
neurologi, atau bila diterapi belum membaik selama 3 bulan serta
keluhan makin memberat.
4. Diagnosis Banding
a. Migren
b. Nyeri kepala klaster simptomatik : meningioma paraseler,
adenoma kelenjar pituitari, aneurisma arteri karotis.
c. Neuralgia trigeminus
d. Temporal arteritis
5. Penatalaksanaan
a. Terapi Akut :
1) Inhalasi oksigen (masker muka): oksigen 100% 7
liter/menit selama 15 menit (level of evidence A)
2) Dihidroergotamin (DHE ) 0,5–1,5 mg i.v. akan mengurangi
nyeri dalam 10 menit; pemberian i.m. dan nasal lebih lama
3) Sumatriptan injeksi subkutan 6 mg, akan mengurangi nyeri
dalam waktu 5-15 menit; dapat diulang setelah 24 jam.
Kontraindikasi: penyakit jantung iskemik, hipertensi tidak
terkontrol. Sumatriptan nasal spray 20 mg (kurang efektif
dibanding subkutan). Efek samping: pusing, letih,
parestesia, kelemahan di muka. (A)
4) Zolmitriptan 5 mg atau 10 mg per oral. (B)
5) Anestesi lokal: 1 ml Lidokain intranasal 4%. (B)
6) Indometasin (rectal suppositoria).
7) Opioids (rektal, Stadol nasal spray) hindari pemakaian
jangka lama.
8) Ergotamine aerosol 0,36–1,08 mg (1–3 inhalasi) efektif
80%.
9) Gabapentin atau Topiramat.
b. Supresi Periodik Klaster
1) Prednison 40–75 mg/hari untuk 3 hari  reduksi dosis
dengan interval tiap 3 hari  tappering off dalam 11 hari

5
jika nyeri kepala klaster muncul lagi stabilisasi dosis.
2) Ergotamine tartrate tab 1 mg  dosis: 1–2 tab 1⁄2–1 jam
sebelum prediksi serangan (Efektif pada 1–2 periode klaster
pertama)
3) Dihidroergotamin; Injeksi 1 mg i.m.  2 kali/hari 1⁄2–1
jam sebelum prediksi serangan
4) Capsaicin
a) Suspensi capsaicin intranasal; 2 tetes di 2 nostril
sensasi burning &rhinorrhoea diulang tiap hari
untuk 5 hari serangan nyeri kepala klaster: reduksi
67%.
b) Perlu evaluasi lanjut
5) Methysergide
a) Aman bila durasi periode klaster < 3 bulan
b) Efek samping: fibrosis
6) Chlorpromazine: 75–700 mg/hari
c. Farmakologi Profilaksis
1) Verapamil (pilihan pertama) 120–160 mg t.i.d-q.i.d, selain
itu bisa juga dengan Nimodipin 240 mg/hari atau Nifedipin
40-120 mg/hari (A).
2) Steroid (80–90% efektif untuk prevensi serangan), tidak
boleh diberikan dalam waktu lama. 50–75 mg setiap pagi
dikurangi 10% pada hari ketiga (A).
3) Lithium 300–1500 mg/hari (rata-rata 600–900 mg). (Level
B)
4) Methysergide 4–10 mg/hari. ( Level B)
5) Divalproat Sodium. (Level B)
6) Neuroleptik (Chlorpromazine).
7) Clonidin transdermal atau oral.
8) Ergotamin tartrat 2 mg 2–3 kali per hari, 2 mg oral atau 1
mg rektal 2 jam sebelum serangan terutama malam hari.,
dihydroergotamin, sumatriptan atau triptan lainnya. (Level
B)
9) Indometasin 150 mg/hari.
Catatan:
a) Terapi pilihan pertama: prednison 60–80 mg/hari
(selama 7–14 hari) dan verapamil 240 mg/hari. Jika
gagal: Methysergide 2 mg t.i.d (1–2 bulan) jangan
diberikan dengan obat lain, kecuali hydrocodon
bitartrat (Vicodin).
b) Jika tidak efektif:
 Lithium atau asam valproat atau keduanya
dapat dipakai bersama dengan verapamil.
 Untuk pasien yang dirawat inap karena nyeri
kepala klaster intractable: dihidroergotamin
i.v. setiap 8 jam, juga diberikan sedatif.

6
d. Pengobatan bedah untuk nyeri kepala klaster kronis
Jika pengobatan konservatif dan preventif gagal, bisa
dipertimbangkan untuk dilakukan “histamine desensitization”
atau tindakan operasi.
Indikasi operasi:
1) Nyeri kepala tipe kronis tanpa remisi nyeri selama satu
tahun.
2) Terbatas nyeri unilateral.
3) Stabil secara fisiologik, sehat secara mental dan medik.
6. Edukasi
a. Hidup dan istirahat cukup
b. Hindari tidur sore
c. Hindari alcohol
d. Hindari tembakau
e. Hindari ketinggian
f. Hindari sinar terang dan suara gaduh
7. Referensi
Persatuan Dokter Spesialis Saraf Indonesia: Panduan Praktik Klinis
Neurologi. 2016. Hlm. 15-19

C. SPONDILITIS TUBERKULOSIS
1. Kompetensi
3A
2. Tanda dan Gejala
a. Anamnesis
Dapat terjadi secara mendadak atau perlahan berupa kelemahan
yang sifatnya naik dan terjadi dalam waktu bulan atau tahun.
Selain itu pasien dapat mengeluh lemas, berkurangnya nafsu
makan dan berat badan, demam terutama pada sore hari, serta
berkeringat pada malam hari yang terjadi sebelum manifestasi
tulang belakang. Dapat juga ditemui gejala yang berhubungan
dengan extra-skeletal tuberculosis, seperti batuk, benjolan pada
leher (limfadenopati), diare, dan distensi abdomen. Selain itu
pasien dapat merasakan nyeri punggung dan spasme otot.
b. Pemeriksaan Fisik
1) Pemeriksaan neurologis
2) Funduskopi
3) Fungsi luhur
4) Neurooftalmologi
3. Pemeriksaan penunjang
Gold standard: MRI dengan kontras
4. Diagnosis Banding

7
a. Tumor otak primer
b. Tumor otak metastasis
c. Abses otak
d. Tuberkuloma
e. Toksoplasma
5. Referensi
Persatuan Dokter Spesialis Saraf Indonesia: Panduan Praktik Klinis
Neurologi. 2016. Hlm. 172-174

8
II. PSIKIATRI
A. GANGGUAN CAMPURAN ANXIETAS DAN DEPRESI
1. Kompetensi
3A
2. Tanda dan Gejala
a. Nafas pendek/cepat
b. Berkeringat
c. Gelisah
d. Gangguan tidur
e. Mudah lelah
f. Jantung berdebar
g. Gangguan lambung
h. Diare
i. Sakit kepala
Gejala Tambahan:
a. Berkurangnya minat dalam semangat dan aktivitas
b. Merasa sedih/murung
c. Nafsu makan berkurang/meningkat
d. Kurang konsentrasi
e. Kepercayaan diri meurun
f. Pesimis
g. Keluhan biasanya sering terjadi/berlangsung lama, dan terdapat
stresor kehidupan
h. Menyingkirkan riwayat penyakit fisik dan penggunaan zat
(alkohol, tembakau, stimulan, dll)
Pedoman Diagnostik
a. Terdapat gejala-gejala anxietas maupun depresi, dimana masing-
masing tidak menunjukkan rangkaian gejala yang cukup berat
untuk menegakan diagnosis tersendiri. Untuk anxietas, beberapa
gejala otonomik harus ditemukan walaupun tidak terus menerus,
disamping rasa cemas atau kekhawatiran berlebihan
b. Bila ditemukan anxietasberat disertai depresi yang lebih ringan,
maka harus dipertimbangkan kategori gangguan anxietas lainnya
atau gangguan anxietas fobil
c. Bila ditemukan sindrom depresi dan anxietas yang cukup berat
untuk menegakkan masing-masing diagnosis, maka kedua
diagnosis tersebut harus dikemukakan, dan diagnosis gangguan
campuran tidak dapat dikemukakan satu diagnosis gangguan
campuran tidak dapat digunakan. Jika karena sesuatu hal hanya
dapat dikemukakan satu diagnosis maka gangguan depresif harus
diutamakan
d. Bila gejala-gejala tersebut berkaitan erat dengan stres kehidupan
yang jelas, maka harus digunakan kategori F43.2 gangguan
penyesuaian.

9
Faktor Resiko
a. Adanya faktor biologis yang mempengaruhi antara lain
hiperaktivitas sistem noradenegrik, faktor genetik
b. Ciri kepribadian tertentu yang imatur dan tidak fleksibel seperti
ciri kepribadian dependen, skizoid, anankastik, cemas
menghindar
c. Adanya stresor kehidupan
3. Pemeriksaan Fisik
a. RR meningkat
b. Tekanan darah meningkat
4. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang lainnya tidak ditemukan adanya tanda yang
bermakna
5. Diagnosis Banding
a. Gangguan mood
b. Gangguan distimik
c. Gangguan depresif ringan
d. Gangguan somatoform
e. Gangguan kepribadian
6. Penatalaksanaan
Non-farmakologi
a. Konseling dan edukasi pada pasien dan keluarga
Karena gangguan campuran cemas depresi dapat mengganggu
produktivitas pasien, keluarga perlu memahami
b. Intervensi Psikososial
1) Beri penjelasan adanya pengaruh antara faktor fisik dan
psikologis, termasuk bagaimana faktor perilaku.
2) Ajarkan teknik relaksasi (teknik nafas dalam)
Farmakologi
a. Untuk gejala kecemasan maupun depresinya, diberikan
antidepresan dosis rendah 2-3 minggu: Fluoxetin 20mg 1x1
(pagi)
b. Obat-obatan antianxietas jenis benzodiazepin yaitu: diazepam
1x2-5 mg alprazolam 2 x 0,25-0,5mg.
7. Rujukan
Pasien dapat dirujuk setelah didiagnosis mengalami gangguan ini, dan
makin bertambah berat yang menunjukkan gejala depresi ada
ide/tindakan bunuh diri; atau jika tidak ada perbaikan yang signifikan
dalam 2-3 bulan terapi.
8. Referensi
a. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Primer. Edisi 1. 2013. Hal 320-322
b. Muslim, Rusdi. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan
Ringkas PPDGJ-III dan DSM-5. 2013. Hal 75

10
B. GANGGUAN PSIKOTIK
1. Kompetensi
3A
2. Tanda dan Gejala
a. Anamnesis
1) Mendengar suara orang yang tidak dapat didengar oleh
orang lain
2) Adanya pikiran aneh yang tidak sesuai realita
3) Marah tanpa sebab yang jelas, kecurigaan yang berat,
perilaku kacau, perilaku kekerasan
4) Sulit berpikir/sulit berkonsentrasi
5) Tidak dapat tidur, tidak mau makan
6) Perasaan gelisah, tidak dapat tenang, ketakutan
7) Bicara kacau yang tidak dapat dimengerti
8) Menarik diri dari lingkungannya dan tidak merawat diri
dengan baik
b. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik diperlukan untuk menyingkirkan
penyebab organik dari psikotiknya (gangguan mental organik).
Selain itu pasien dengan gangguan psikotik juga sering terdapat
gangguan fisik yang menyertai karena perawatan diri yang
kurang
Diagnosis klinis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Kriteria diagnosis berdasarkan ICD 10-PC,
yaitu:
1) Halusinasi (terutama halusinasi dengar); merupakan
gangguan persepsi (persepsi palsu), tanpa adanya stimulus
sensori eksternal. Halusinasi dapat terjadi pada setiap panca
indra, yaitu halusinasi dengar, lihat, cium, raba, dan rasa.
2) Waham (delusi);merupakan gangguan pikiran, yaitu
keyakinan yang salah, tidak sesuai dengan realita dan
logika, namun tetap dipertahankan dan tidak dapat
dikoreksi dengan cara apapun serta tidak sesuai dengan
budaya setempat. Contoh: waham kejar, waham kebesaran,
waham kendali, waham pengaruh.
3) Perilaku kacau atau aneh
4) Gangguan proses pikir (terlihat dari pembicaraan yang
kacau dan tidak dimengerti)
5) Agitatif
6) Isolasi sosial (social withdrawal)
7) Perawatan diri yang buruk
3. Pemeriksaan penunjang
a. darah lengkap
b. elektrolit
c. gula darah
d. fungsi hati

11
e. fungsi ginjal
f. radiologi
g. EKG.
4. Diagnosis banding
a. Gangguan Afektif Bipolar/ Gangguan Manik
b. Gangguan Depresi dengan gejala psikotik
c. Gangguan Mental Organik (Delirium Psikosis Epileptik,
Dementia,)
d. Gangguan Mental dan Perilaku akibat Penggunaan Zat (Napza)
5. Terapi
a. Berikan obat antipsikotik: Haloperidol 2-3 x 2-5 mg/hari atau
Risperidon 2x 1-3 mg/hari atau Klorpromazin 2-3 x 100-200
mg/hari. Untuk haloperidol dan risperidon dapat digabungkan
dengan benzodiazepin (contoh: diazepam 2-3 x 5 mg, lorazepam
1-3 x 1-2 mg) untuk mengurangi agitasi dan memberikan efek
sedasi. Benzodiazepin dapat ditappering-off setelah 2-4 minggu.
Catatan: klorpromazin memiliki efek samping hipotensi
ortostatik.
b. Intervensi sementara untuk gaduh gelisah dapat diberikan injeksi
intra muskular haloperidol kerja cepat (short acting) 5 mg, dapat
diulangi dalam 30 menit - 1 jam jika belum ada perubahan yang
signifikan, dosis maksimal 30 mg/hari. Atau dapat juga dapat
diberikan injeksi intra muskular klorpromazin 2-3 x 50 mg. Untuk
pemberian haloperidol dapat diberikan tambahan injeksi intra
muskular diazepam untuk mengurangi dosis ntipsikotiknya dan
menambah efektivitas terapi. Setelah stabil segera rujuk ke
RS/RSJ.
c. Untuk pasien psikotik kronis yang tidak taat berobat, dapat
dipertimbangkan untuk pemberian injeksi depo (jangka panjang)
antipsikotik seperti haloperidol decanoas 50 mg atau
fluphenazine decanoas 25 mg. Berikan injeksi I.M ½ ampul
terlebih dulu untuk 2 minggu, selanjutnya injeksi 1 ampul untuk
1 bulan. Obat oral jangan diberhentikan dahulu selama 1-2 bulan,
sambil dimonitor efek samping, lalu obat oral turunkan perlahan.
d. Jika timbul efek samping ekstrapiramidal seperti tremor,
kekakuan, akinesia, dapat diberikan triheksifenidil 2-4 x 2 mg;
jika timbul distonia akut berikan injeksi diazepam atau
difenhidramin, jika timbul akatisia (gelisah, mondar mandir tidak
bisa berhenti bukan akibat gejala) turunkan dosis antipsikotik dan
berikan beta-blocker, propranolol 2-3 x 10-20 mg.
6. Referensi
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer edisi revisi tahun 2014 halaman 339 – 343

12
C. SKIZOFRENIA
1. Kompetensi
3A
2. Tanda dan Gejala
PEDOMAN DIAGNOSTIK BERDASARKAN PPDGJ III
a. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan
biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam
atau kurang jelas):
1) Thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang
atau bergema dalam kepalanya (tidak keras) dan isi pikiran
ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya
berbeda, atau
- Thought insertion or withdrawal = isi pikiran yang
asing dari luar masuk kedalam pikirannya (insertion)
atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari
luar dirinya (Withdrawal) dan
- Thought broadcasting = isi pikirannya tersiar keluar
sehingga orang lain atau umumnya mengetahuinya.
2) Delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan
oleh suatu kekuatan tertentu dari luar atau
- Delusion of influence = waham tentang dirinya
dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar
atau
- Delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak
berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar;
(tentang dirinya= secara jelas ,merujuk ke pergerakan
tubuh/anggota gerak atau kepikiran, tindakan atau
penginderaan khusus).
- Delusion perception = pengalaman inderawi yang
tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya
, biasanya bersifat mistik dan mukjizat.
3) Halusional Auditorik ;
- Suara halusinasi yang berkomentar secara terus
menerus terhadap prilaku pasien .
- Mendiskusikan perihal pasien di antara mereka
sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara atau
- Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu
bagian tubuh.
4) Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut
budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang
mustahi,misalnya perihal keyakinan agama atau politik
tertentu atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia
biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca atau
berkomunikasi dengan mahluk asing atau dunia lain)
b. Atau paling sedikitnya dua gejala dibawah ini yang harus selalu
ada secara jelas:

13
1) Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja ,
apabila disertai baik oleh waham yang mengambang
maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif
yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-
valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari
selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus
menerus.
2) Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami
sisipan (interpolation) yang berakibat inkoherensia atau
pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme.
3) Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh gelisah
(excitement), posisi tubuh tertentu (posturing) atay
fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor.
4) Gejala negatif seperti sikap apatis, bicara yang jarang dan
respons emosional yang menumpul tidak wajar, biasanya
yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial
dan menurunya kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa
semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau
medikasi neureptika.
c. Adapun gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung
selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk
setiap fase nonpsikotik prodromal);
d. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam
mutu keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku
pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai
hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap
larut dalam diri sendiri (self absorbed attitute), dan penarikan diri
secara sosial.
3. Pemeriksaan Fisik
Tanda Vital Normal
4. Pemeriksaan Penunjang
5. Penatalaksanaan
a. Risperidone 2mg
Hari ke 1 : 2mg/hari, 1-2 x sehari
Hari ke 2 : 4mg/hari, 1-2 x sehari
Hari ke 3 : 6mg/hari, 1-2 x sehari
b. Rujuk spesialis Kesehatan Jiwa
6. Referensi
Muslim, Rusdi. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan
Ringkas PPDGJ-III dan DSM-5. 2013. Hal 46-47.

14
III. SISTEM INDRA (MATA)
A. HIFEMA
1. Kompetensi
3A
2. Tanda dan gejala
a. Anamnesis
1) Nyeri pada mata
2) Penglihatan terganggu (bila darah menutupi aksis visual)
3) Fotofobia/silau
b. Faktor Risiko
1) Hifema akibat trauma sering ditemui pada laki-laki usia
muda
2) Hifema spontan disebabkan oleh neovaskularisasi iris
(seperti pada pasien diabetes dan oklusi vena retina),
koagulopati, dan pemakaian antikoagulan
c. Pemeriksaan Fisik
1) Visus umumnya turun
2) Tampak darah di bilik mata depan. Darah dapat tertampung
di bagian inferior bilik mata depan atau dapat memenuhi
seluruh bilik mata depan (hifema penuh).
3) Perhatikan apakah ada trauma pada bagian mata yang lain
3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan TIO dengan Tonometer Schiotz
a. Diagnosis Bandingaktivitas fisik
b. Pelindung mata (protective shield)
c. Analgesik yang tidak mengandung NSAID (Non-Steroidal Anti
Inflammatory Drug)
d. Rujuk segera ke dokter spesialis mata di pelayanan kesehatan
tingkat sekunder atau tersier
4. Konseling dan Edukasi
a. Memberitahukan ke pasien bahwa kemungkinan pasien perlu
dirawat dan bed rest
b. Posisi tidur dengan elevasi kepala
5. Kriteria Rujukan
Semua pasien yang didiagnosis dengan hifema perlu dirujuk ke dokter
spesialis mata
6. Referensi
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer Edisi Revisi tahun 2014. Hlm. 201-203

B. CHALAZION
1. Kompetensi
3A
2. Tanda dan gejala
a. Anamnesis

15
1) Mengganjal
2) Benjolan kelopak mata
3) Tidak nyeri
b. Pemeriksaan Fisik
1) Tidak hiperemis
2) Pseudoptosis
3) Perubahan bentuk mata
4) Palpasi: nyeri tekan, mobile/tidak, keras/lunak
5) Visus Tekanan mata menyebabkan kelainan refraksi

3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan histologi
Menunjukkan proliferasi endotel asinus, dan respon radang
granulomatosa yang melibatkan sel- sel kelenjar jenis
Langerhans.
b. Biopsi
Diindikasikan pada kalazion berulang karena tampilan karsinoma
kelenjar meibom dapat mirip tampilan kalazion
4. Diagnosis Banding:
a. Hordeoulum.
b. Blefalitis
c. Dermoid Cyst.
d. Tear Gland Adenoma.
5. Tatalaksana
a. Kompresair hangat
b. Antibiotik local
Gentamycin eye ointment 0,3 % s3 dd 1
c. Rujuk Sp.M
d. Insisi
6. Referensi
Ilyas Sidarta H: Ikhtisar Ilmu Penyakit Mata. Balai Penerbit
FKUI. Jakarta.2009. Hal 28-29.

C. PTERIGIUM
1. Kompetensi
3A
2. Tanda dan Gejala
a. Anamnesis
1) Benjolan/selaput pada bola mata
2) Terasa mengganjal, perih, berair, dan sering merah

16
b. Pemeriksaan Fisik
Tampak jaringan fibrovaskular yang masuk dari konjungtiva ke
kornea, sering dinasal, bentuk segitiga, banyak pembuluh darah
1) Pemeriksaan visus
2) Pemeriksaan segmen anterior:
a) Warna kemerhan pada area sklera
b) perubahan jaringan fibrovaskular pada permukaan
konjungtiva dan kornea.
Derajat pertumbuhan pterigium:
a. I : Pterygium belum mencapai limbus
b. II : Pterygium pertengahan antara limbus dan pupil
c. III : Pterygium sudah mencapai hingga tepi pupil
d. IV : Pterygium sudah melewati pupil sehingga mengganggu
penglihatan

7. Pemeriksaan Penunjang: Tes sonde


8. Diagnosis Banding
a. Penguecule
b. Pseudopterygium,
c. Tumor limbus
d. Ocular Surface Squamous Neoplasma
9. Tatalaksana
a. Medikamentosa:
Derajat I, II dan anak muda: tetes mata astringen, vasokonstriksi
(Vascon A), kalau meradang diberi tetes mata steroid (xitrol).
b. Operasi:
Pada derajat III/IV/kosmetik: eksterpasi lokal anestesi dengan
teknik bare sklera atau limbalconjunctival graft (pterygoplasti)
c. Non Farmakologik
1) Menghindari pajanan matahari, menghindari debu
2) Menggunakan kacamata atau topi jika keluar
3) Rujuk untuk Rencana Pembedahan ( jika pterygium sudah
mencapai pupil dan mengganggu tajam penglihatan)
10. Referensi
Sidarta Ilyas. Ilmu Penyakit Mata Edisi Keempat. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 2013. Hlm. 116

17
SISTEM INDRA (THT)
A. SINUSITIS
1. Kompetensi
3A
2. Tanda dan Gejala
a. Anamnesis
1) Keluhan utama : hidung tersumbat desertai nyeri pada
wajah
2) Ingus purulen  post nasal drip  batuk  sesak
3) Demam
4) Lesu
5) Nyeri atau rasa tertekan pada daera wajah (CIRI KHAS)
a) Nyeri pipi  sinusitis maksila (dapat nyeri alih ke
gigi dan telinga)
b) Nyeri di belakang kedua bola mata  sinusitis etmoid
c) Nyeri di dahi/ seluruh kepalaSinusitis frontal
6) Sakit kepala
7) Hiposmia/anosmia
b. Pemeriksaan Fisik
1) Inspeksi: pembengkakan pada muka berwarna kemerahan
(tergantung lokasi)
2) Palpasi:
a) Nyeri tekan pada pipi dan nyeri ketuk di
gigisinusitis maksila
b) Nyeri tekan di bagian medial atap orbitasinusitis
frontal
c) Nyeri tekan daerah kantus medius sinusitis etmoid
3) Transluminasi: Sinus yang sakit akan menjadi suram atau
gelap (sudah jarang digunakan)
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Naso endoskopi sangat dianjurkan untuk diagnosis yang lebih
tepat dan dini
Tanda khas : adanya pus di meatus medius (pada sinusitis maksila
dan etmoid anterior dan frontal), atau di meatus superior (pada
sinusitis etmoid posterior dan sfenoid)
b. Foto polos posisi waters, PA dan Lateral
Adanya perselubungan, batas udara cairan (air fluid level) atau
penebalan mukosa
c. CT-SCAN (GOLD STANDARD) penyempitan rongga
Namun karna harga mahal hanya dikerjakan sebagai penunjang
sinusitis kronik yang tidak membaik dengan pengobatan atau pra
oprasi

18
d. Pemeriksaan mikrobiologi
Untuk menentukan jenis antibiotik
4. Terapi
a. Amoksisilin 500 mg 3x1 hari selama 10-14 hari
b. Pencucian rongga hidung dengan NaCL
5. RUJUK, jika akan dilakukan tindakan operasi
a. Sinusitis kronik tidak membaik setelah terapi adekuat
b. Sinusitis kronik disertai kista atau kelainan yang ireversibel
(polip ekstensif), adanya komplikasi sinusitis serta sinusitis jamur
6. Diagnosis banding
a. Sinusitis akut : asthma, bronchitis, influenza, rhinitis alergi
b. Sinusitis kronik : gastroesofageal refluk disease, rhinitis alergi,
rhinocerebral mucormycosis
7. Referensi
Prof. dr. Efiaty Arsyad dkk, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala dan Leher, FKUI : Jakarta. 2012. Halaman 122-130

B. OTITIS MEDIA KRONIK


1. Kompetensi
3A
2. Tanda dan Gejala
a. Anamnesis
1) Gangguan pendegaran
2) Berdengung
3) Vertigo
4) Mual, muntah
5) Telinga terasa penuh
6) Keluar cairan berbau
b. Pemeriksaan fisik
1) Inspeksi : Abses / fistel retro aurikular
2) Otoskop
a) Perforasi marginal / sentral yang terletak di pars
flasida pada membran timpani
b) Polip / jaringan granulasi di MAE yang berasal dari
dalam telinga tengah
c) Sekret mukopurulen

3. Pemeriksaan penunjang
a. Tes penala

19
1) Rinne
2) Weber
3) Schwabach
b. Foto mastoid ( bila tersedia )
c. Tes audiometri nada murni
d. Rongten telinga : terlihat bayangan kolesteatome pada rongga
mastoid
e. CT scant : diskntinuitas osikula
f. Darah lengkap : peningkatan leukosit
4. Diagnosis banding
a. Otitis media akut
b. Otitis eksterna difusa
c. Otitis eksterna sirkumsripta
d. Mastoiditis
5. Terapi
a. Non medikamentosa
Membersihkan dan mengeringkan saluran telinga dengan kapas
lidi atau cotton bud. Obat cuci telinga dapat berupa NaCl 0,9%,
asam asetat 2%, atau hydrogen peroksida 3%
b. Medikamentosa
1) Antibiotik topical
Ofloxacin 0,3% 2 x 4 tetes per hari
2) Antibiotik oral
a) Dewasa
Amoxicillin 3 x 500 mg per hari Selama 7 hari atau
Ciprofloxacin 2 x 500 mg selama 7 hari
b) Anak
Amoxicillin 25 – 50 mg/kgBB/hari dibagi menjadi 3
dosis perhari atau
Cefadroxil 25 – 50 mg/kgBB/hari dibagi menjadi 2
dosis perhari
6. Konseling dan edukasi
a. Menjaga kebersihan telinga dan tidak mengorek – ngorek telinga
dengan benda tajam
b. Menjaga agar telinga tidak kemasukkan air
c. Menjelaskan bahwa penyakit ini merupakan penyakit infeksi
sehingga dengan penanganan yang tepat dapat disembuhkan
tetapi bila dibiarkan dapat mengakibatkan hilangnya pendengaran
serta komplikasi lainnya.
d. Rujuk Sp.THT bila tidak ada perbaikan
7. Referensi :
a. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Primer edisi revisi tahun 2014 halaman 213 – 215
b. Verhoeff van der Vaen El Rovers MM et al. Chronic supurative
otitis media a review inf J Pediatric Otorhinolary 2006:70-1

20
C. MASTOIDITIS
1. Kompetensi
3A
2. Tanda dan Gejala
a. Anamnesis
1) Demam
2) Malaise
3) Otore
4) Nyeri tekan
b. Pemeriksaan fisik
1) Inspeksi dan palpasi
a) Limfadenopati lokal
b) Pembengkakan retroaurikuler
c) Nyeri tekan positif
2) Pemeriksaan otoskop
a) Perforasi membran timpani positif /negatif
b) Dinding posterior canalis akustikus eksternus
bengkak
c) Eritematous

3) Tes garpu tala menunjukkan adanya kurangnya


pendengaran.
3. Pemeriksaan penunjang
a) CT Scan terlihat bahwa sel-sel udara dalam prosesus mastoideus
terisi oleh cairan (dalam keadaan normal terisi oleh udara) dan
melebar.
b) Radiologi menujukkan koalesens.
c) Audiometric akan menunjukkan tuli konduktif.
d) Rontgenogram akan memperlihatkan sklerosis
e) Pemeriksaan laboratorium
f) MRI
4. Diagnosis banding
a) Otitis eksterna dengan abses
b) Granuloma eosinofil
c) Sarkoma
d) Limfoma retroaurikuler
5. Terapi
a. Konservatif

21
1) Akut : sefotaksim 50-180mg/kg/bb hingg 1 gr IV
DIBERIKA 4 JAM
2) Kronik : tikarsilin-klavulanat 3 gr iv setiap 6 jam
3) Analgetik : asam mefenamat 3 x 500mg
4) Antipretik : parasetamol 3x500mg
b. Operatif
Mastoidektomi sederhana dan radikal
6. Referensi :
Djafar ZA, Helmi, Restuti RD. Kelainan telinga tengah. Dalam:
Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD, editor. Buku Ajar
Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi 6.
Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;
2011. h.72-73

22
IV. SISTEM RESPIRASI
STATUS ASMATIKUS
 Level Kompetensi : 3B
 Tanda dan Gejala
1. Anamesis :
 Riwayat singkat serangan meliputi gejala, pengobatan yang
telah digunakan, respons pengobatan, waktu mula terjadinya
dan penyebab/ pencetus serangan saat itu, dan ada tidaknya
risiko tinggi untuk mendapatkan keadaan fatal/ kematian yaitu:
 Riwayat serangan asma yang membutuhkan intubasi/ ventilasi
mekanis
 Riwayat perawatan di rumah sakit atau kunjungan ke darurat
gawat dalam satu tahun terakhir
 Saat serangan, masih dalam glukokortikosteroid oral, atau baru
saja menghentikan salbutamol atau ekivalennya
 Dengan gangguan/ penyakit psikiatri atau masalah psikososial
termasuk penggunaan sedasi
 Riwayat tidak patuh dengan pengobatan (jangka panjang)
asma.
2. Pemeriksaan Fisik :
a. Posisi penderita
b. Cara bicara
c. Frekuensi napas
d. Penggunaan otot-otot bantu napas
e. Nadi
f. Tekanan darah (pulsus paradoksus)
g. Ada tidak mengi
 Pemeriksaan Penunjang :
1. Pada serangan asma, APE sebaiknya diperiksa sebelum
pengobatan, tanpa menunda pemberian pengobatan. Pemeriksaan
ini dilakukan jika alat tersedia.
2. Saturasi oksigen dengan pulse oxymetry dapat dilakukan bila alat
tersedia.
3. Pemeriksaan analisis gas darah dilakukan jika fasilitas tersedia.

23
 Diagnosis Banding :
1. Obstruksi saluran napas atas
2. Benda asing di saluran napas
3. PPOK eksaserbasi
4. Penyakit paru parenkimal
 Penatalaksanaan :

24
 Kriteria Rujukan
Tidak respons dengan pengobatan, ditandai dengan:
a. Tidak terjadi perbaikan klinis
b. Bila APE sebelum pengobatan awal < 25% nilai terbaik/ prediksi;
atau APE pasca tatalaksana < 40% nilai terbaik/ prediksi.
c. Serangan akut yang mengancam jiwa
d. Tanda dan gejala tidak jelas (atipik), atau masalah dalam diagnosis
banding, atau komplikasi atau penyakit penyerta (komorbid);
seperti sinusitis, polip hidung, aspergilosis (ABPA), rinitis berat,
disfungsi pita suara, refluks gastroesofagus dan PPOK.
e. Dibutuhkan pemeriksaan/ uji lainnya di luar pemeriksaan standar,
seperti uji kulit (uji alergi), pemeriksaan faal paru lengkap, uji
provokasi bronkus, uji latih (kardiopulmonary exercise test),
bronkoskopi dan sebagainya.
 Referensi :
1. Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia. Panduan Praktik
Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Kesehatan Primer. Edisi
Revisi. Jakarta. 2014. Halaman 373-379.
2. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Asma. Pedoman
diagnosis dan penatalaksanaan di Indonesia. PDPI. Jakarta.
2004.

25
3. Global Initiative For Asthma. Global strategy for asthma
management and prevention. GINA. 2012.

a) PNEUMONIA ASPIRASI
 Level Kompetesi : 4A
 Tanda dan Gejala
1. Anamnesis :
Kejadian aspiration pneumonia biasanya tidak dapat diketahui waktu
terjadinya dan paling sering pada orang tua. Keluhannya berupa :
a. Batuk
b. Takipnea
c. Tanda-tanda dari pneumonia
2. Faktor Risiko:
a. Pasien dengan disfagi neurologis.
b. Pasien dengan irupsi dari gastroesophageal junction.
c. Terdapat abnormalitas anatomis dari traktus aerodigestifus atas.
3. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi : dapat terlihat bagian yang sakit tertinggal waktu bernapas
b. Palpasi : fremitus dapat mengeras pada bagian yang sakit
c. Perkusi : redup di bagian yang sakit
d. Auskultasi : terdengar suara napas bronkovesikuler sampai bronkial yang
mungkin disertai ronki basah halus, yang kemudian menjadi ronki basah
kasar pada stadium resolusi.
 Pemeriksaan Penunjang
a. Foto toraks
b. Pemeriksaan laboratorium darah lengkap
 Diagnosis Banding : -
 Penatalaksanaan
a. Pemberian oksigen
b. Pemberian cairan dan kalori yang cukup (bila cairan parenteral).
Jumlah cairan sesuai berat badan, peningkatan suhu dan derajat
dehidrasi.
c. Pemberian antibiotik tergantung pada kondisi :
 Pneumonia komunitas : levofloksasin (500mg/hari) atau
seftriakson (1-2 gr/hari)
 Pasien dalam perawatan di rumah sakit : levofloksasin
(500 mg/hari)atau piperasilin tazobaktam (3, 375 gr/6 jam)
atau seftazidim (2 gr/8 jam)
 Penyakit periodontal berat, dahak yang busuk atau
alkoholisme : piperasilin-tazobaktam (3, 375 gr/6 jam)
atau imipenem (500 mg/8 jam sampai 1 gr/6 jam) atau
kombinasi dua obat : levofloksasin (500 mg/hari) atau
siprofloksasin (400 mg/12 jam) atau seftriakson (1-2
gr/hari) ditambah klindamisin (600 mg/8 jam) atau
metronidazol (500 mg/8jam)
 Kriteria Rujukan

26
a. Kriteria CURB
(Conciousness, kadar Ureum, Respiratory rate>30 x/menit, tekanan darah:
sistolik <90 mmHg dan diastolik <60 mmHg; masing masing bila ada kelainan
bernilai 1). Dirujuk bila total nilai 2.
b. Kriteria PORT (patient outcome research team)
 Referensi :
Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter
Di Fasilitas Kesehatan Primer. Edisi Revisi. Jakarta. 2014. Halaman 379-381.

b) BRONKIEKTASIS
 Level Kompetensi : 3A
 Tanda dan Gejala
1. Anamnesis :
a. Pada umumnya batuk berdahak, beberapa batuk kering lama.
Sputum mukoid, mukopurulen, kental atau campuran ketiganya
yang dikenal dengan sputum tiga lapis
b. Hemoptisis
c. Lemas, penurunan BB, mialgia
d. Dispneu, mengi
e. Demam, nyeri dada pleuritik
f. Kor pulmonal
g. Tidak ada atau riwayat merokok
h. Riwayat keluhan yang kronik
2. Pemeriksaan Fisik
a. Takipneu
b. Ronki basah
c. Mengi
d. Jari tabuh
e. Sianosis
 Pemeriksaan Penunjang
1. Foto toraks dada
2. CT Scan (standar baku)
3. Bronkoskopi fiberoptik
4. Pemeriksaan Sputum
 Diagnosis Banding
1. Bronkitis Kronik
2. Tuberkulosis Paru
3. Abses Paru
4. Penyakit paru penyebab hemoptisis (ca paru, adenoma paru)
5. Fistula Bronkopleural dengan emplema
 Penatalaksanaan
a. Medikamentosa
- Eksaserbasi akut
Indikasi terapi antibiotik pada eksaserbasi akut, antara lain terjadi perburukan
keadaan umum mendadak, biasanya dalam beberapa hari, berupa

27
bertambahnya keluhan batuk, volume sputum, atau terdapat keluhan sesak
atau hemoptisis.
- Jangka panjang
Indikasi terapi antibiotik jangka panjang, antara lain jika keluhan sangat berat
dan sering (eksaserbasi akut >3x/tahun). Regimen antibiotik ditentukan
berdasarkan hasil pemeriksaan mikrobiologis ketika tidak dalam eksaserbasi
akut.
b. Bedah
Indikasi pembedahan :
- Pasien bronkiektasis yang terbatas dan resektabel, yang
tidak berespon terhadap tindakan-tindakan konservatif
yang adekuat
- Pasien bronkiektasis yang terbatas, tetapi sering
mengalami infeksi berulang atau hemoptisis yang berasal
dari daerah tersebut. Pasien dengan hemoptisis masif
seperti ini mutlak perlu tindakan operasi.
 Kriteria rujukan
 Setelah diagnosis ditegakkan dan pasien diberi terapi pendahuluan
maka pasien dirujuk ke pelayanan sekunder yang memiliki dokter
spesialis penyakit dalam atau dokter spesialis paru.
 Referensi :
Rahmatullah, Pasiyan. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Interna Publishing.
Jakarta. 2009. Halaman 2297-2304.
Wardhani, Dyah Paramita dan Anna Uyainah. Kapita Selekta Kedokteran
Essentials of Medicine. Media Aesculapius. Jakarta. 2014. Halaman 810-811.

c. Sistem Saraf
D. EPILEPSI
7. Kompetensi : 3A
8. Tanda dan Gejala
1. Anamnesis
Ada tiga langkah untuk menuju diagnosis epilepsi, yaitu:
1) Langkah pertama: memastikan apakah kejadian yang bersifat
paroksismal merupakan bangkitan epilepsi.
i) Gejala sebelum, selama dan paska bangkitan
 Keadaan penyandang saat bangkitan: duduk/ berdiri/
bebaring/ tidur/ berkemih.
 Gejala awitan (aura, gerakan/ sensasi awal/ speech arrest).
 Pola/bentuk yang tampak selama bangkitan: gerakan
tonik/klonik, vokalisasi, otomatisme, inkontinensia, lidah
tergigit, pucat berkeringat, deviasi mata.
 Keadaan setelah kejadian: bingung, terjaga, nyeri kepala,
tidur, gaduh gelisah, Todd’s paresis.
 Faktor pencetus: alkohol, kurang tidur, hormonal.
 Jumlah pola bangkitan satu atau lebih, atau terdapat
perubahan pola bangkitan.

28
 Penyakit lain yang mungkin diderita sekarang maupun
riwayat penyakit neurologik dan riwayat penyakit psikiatrik
maupun penyakit sistemik yang mungkin menjadi
penyebab.
j) Usia awitan, durasi, frekuensi bangkitan, interval terpanjang
antar bangkitan.
k) Riwayat terapi epilepsi sebelumnya dan respon terhadap terapi
(dosis, kadar OAE, kombinasi terapi).
l) Riwayat penyakit epilepsi dalam keluarga.
m) Riwayat keluarga dengan penyakit neurologik lain, penyakit
psikitrik atau sistemik.
n) Riwayat pada saat dalam kandungan, kelahiran dan
perkembangan bayi/anak.
o) Riwayat bangkitan neonatal/kejang demam.
p) Riwayat trauma kepala, infeksi SSP.
2) Langkah kedua: apabila benar terdapat bangkitan epilepsi, maka
tentukan bangkitan tersebut bangkitan yang mana (klasifikasi
ILAE 1981).
3) Langkah ketiga: menentukan etiologi, sindrom epilepsi, atau
penyakit epilepsi apa yang diderita pasien dilakukan dengan
memperhatikan klasifikasi ILAE 1989. Langkah ini penting
untuk menentukan prognosis dan respon terhadap OAE (Obat
Anti Epilepsi).
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik umum: mengamati adanya tanda-tanda trauma
kepala, infeksi telinga atau sinus, gangguan kongenital, kecanduan
alkohol atau obat terlarang, kelainan pada kulit, kanker, defisit
neurologik fokal.
Pemeriksaan neurologis:
3) Jika dilakukan pada beberapa menit atau jam setelah bangkitan
maka akan tampak tanda pasca iktal terutama tanda fokal seperti
todds paresis (hemiparesis setelah kejang yang terjadi sesaat),
trans aphasic syndrome (afasia sesaat) yang tidak jarang dapat
menjadi petunjuk lokalisasi.
4) Jika dilakukan pada beberapa waktu setelah bangkitan terakhir
berlalu, sasaran utama adalah menentukan apakah ada tanda-
tanda disfungsi system saraf permanen (epilepsi simptomatik)
dan walaupun jarang apakah ada tanda-tanda peningkatan
tekanan intrakranial.
9. Pemeriksaan penunjang
- Pemeriksaan laboratorium
Kadar glukosa, kalsium, magnesium, natrium, bilirubin, dan ureum
dalam darah. Keadaan seperti Hiponatremia , hipoglikemia,
hipomagnesia, uremia.
- EEG
- CT Scan Kepala

29
- MRI Kepala
10. Diagnosis Banding
1. Sinkop
2. Transient Ischemic Attack
3. Benign sleep myoclonus
4. Global amnesia
11. Penatalaksanaan
Sebagai dokter pelayanan primer, bila pasien terdiagnosis sebagai
epilepsi, untuk penanganan awal pasien harus dirujuk ke dokter spesialis
saraf.
a. OAE diberikan bila:
1) Diagnosis epilepsi sudah dipastikan
2) Pastikan faktor pencetus dapat dihindari (alkohol, stress, kurang
tidur, 
dan lain-lain)
3) Terdapat minimum 2 bangkitan dalam setahun
4) Penyandang dan atau keluarganya sudah menerima penjelasan

terhadap tujuan pengobatan
5) Penyandang dan/atau keluarganya telah diberitahu tentang

kemungkinan efek samping yang timbul dari OAE
b. Terapi dimulai dengan monoterapi menggunakan OAE pilihan sesuai
dengan jenis bangkitan
12. Kriteria Rujukan
Setelah diagnosis epilepsi ditegakkan maka pasien segera dirujuk ke
pelayanan sekunder yang memiliki dokter spesialis saraf.
13. Referensi
Persatuan Dokter Spesialis Saraf Indonesia: Panduan Praktik Klinis
Neurologi. 2016. Hlm. 175-177

E. CLUSTER HEADACHE
14. Kompetensi : 3A
15. Tanda dan Gejala
b. Anamnesis
- Nyeri kepala yang hebat, nyeri selalu unilateral di orbita,
supraorbita, temporal atau kombinasi dari tempat-tempat
tersebut, berlangsung 15–180 menit dan terjadi dengan frekuensi
dari sekali tiap dua hari sampai 8 kali sehari.
- Serangan-serangannya disertai satu atau lebih sebagai berikut,
semuanya ipsilateral: injeksi konjungtival, lakrimasi, kongesti
nasal, rhinorrhoea, berkeringat di kening dan wajah, miosis,
ptosis, edema palpebra. Selama serangan sebagian besar pasien
gelisah atau agitasi.
c. Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan Fisik Umum dan Tanda Vital
- Penilaian skala nyeri
- Pemeriksaan Neurologi

30
- Fokus: kesadaran, saraf kranialis, motorik, sensorik, otot-otot
perikranial
d. Kriteria Diagnosis
5) Sekurang-kurangnya terdapat 5 serangan yang memenuhi
kriteria b-d.
6) Nyeri hebat pada daerah orbita, supraorbita dan/atau temporal
yang berlangsung antara 15-180 menit jika tidak ditangani.
7) Nyeri kepala disertai setidaknya satu gejala berikut:
 Injeksi konjungtiva dan/atau lakrimasi pada mata ipsilateral
 Kongesti nasal dan/atau rhinorrhea ipsilateral
 Edema palpebra ipsilateral
 Berkeringat pada daerah dahi dan wajah ipsilateral
 Miosis dan/atau ptosis ipsilateral
 Gelisah atau agitasi
 Frekuensi serangan 1-8 kali/hari
8) Tidak berhubungan dengan kelainan lain

Catatan:
Kriteria Diagnostik Nyeri Kepala Klaster Episodik
1) Serangan-serangan yang memenuhi kriteria A-E untuk nyeri
kepala klaster.
2) Paling sedikit dua periode klaster yang berlangsung 7–365 hari
dan dipisahkan oleh periode remisi bebas nyeri > 1 bulan.

Kriteria Diagnostik Nyeri Kepala Klaster Episodik


1. Serangan-serangan yang memenuhi kriteria A-E untuk nyeri
kepala klaster.
2. Serangan berulang lebih dari 1 tahun tanpa periode remisi atau
dengan periode remisi yang berlangsung kurang dari 1 bulan.
16. Pemeriksaan penunjang
CT Scan atau MRI Kepala + kontras atas indikasi bila didapatkan defisit
neurologi, atau bila diterapi belum membaik selama 3 bulan serta
keluhan makin memberat.
17. Diagnosis Banding
- Migren
- Nyeri kepala klaster simptomatik : meningioma paraseler, adenoma
kelenjar pituitari, aneurisma arteri karotis.
- Neuralgia trigeminus
- Temporal arteritis
18. Penatalaksanaan
Terapi Akut :
- Inhalasi oksigen (masker muka): oksigen 100% 7 liter/menit
selama 15 menit (level of evidence A)
- Dihidroergotamin (DHE ) 0,5–1,5 mg i.v. akan mengurangi nyeri
dalam 10 menit; pemberian i.m. dan nasal lebih lama
- Sumatriptan injeksi subkutan 6 mg, akan mengurangi nyeri dalam

31
waktu 5-15 menit; dapat diulang setelah 24 jam. Kontraindikasi:
penyakit jantung iskemik, hipertensi tidak terkontrol. Sumatriptan
nasal spray 20 mg (kurang efektif dibanding subkutan). Efek
samping: pusing, letih, parestesia, kelemahan di muka. (A)
- Zolmitriptan 5 mg atau 10 mg per oral. (B)
- Anestesi lokal: 1 ml Lidokain intranasal 4%. (B)
- Indometasin (rectal suppositoria).
- Opioids (rektal, Stadol nasal spray) hindari pemakaian jangka
lama.
- Ergotamine aerosol 0,36–1,08 mg (1–3 inhalasi) efektif 80%.
- Gabapentin atau Topiramat.

Supresi Periodik Klaster


- Prednison 40–75 mg/hari untuk 3 hari  reduksi dosis dengan
interval tiap 3 hari  tappering off dalam 11 hari jika nyeri
kepala klaster muncul lagistabilisasi dosis.
- Ergotamine tartrate tab 1 mgdosis: 1–2 tab 1⁄2–1 jam sebelum
prediksi serangan (Efektif pada 1–2 periode klaster pertama)
- Dihidroergotamin; Injeksi 1 mg i.m.  2 kali/hari 1⁄2–1 jam
sebelum prediksi serangan
- Capsaicin
o Suspensi capsaicin intranasal; 2 tetes di 2 nostrilsensasi
burning &rhinorrhoeadiulang tiap hari untuk 5
hariserangan nyeri kepala klaster: reduksi 67%.
o Perlu evaluasi lanjut
- Methysergide
o Aman bila durasi periode klaster < 3 bulan
o Efek samping: fibrosis
- Chlorpromazine: 75–700 mg/hari
Farmakologi Profilaksis
- Verapamil (pilihan pertama) 120–160 mg t.i.d-q.i.d, selain itu bisa
juga dengan Nimodipin 240 mg/hari atau Nifedipin 40-120 mg/hari
(A).
- Steroid (80–90% efektif untuk prevensi serangan), tidak boleh
diberikan dalam waktu lama. 50–75 mg setiap pagi dikurangi 10%
pada hari ketiga (A).
- Lithium 300–1500 mg/hari (rata-rata 600–900 mg). (Level B)
- Methysergide 4–10 mg/hari. ( Level B)
- Divalproat Sodium. (Level B)
- Neuroleptik (Chlorpromazine).
- Clonidin transdermal atau oral.
- Ergotamin tartrat 2 mg 2–3 kali per hari, 2 mg oral atau 1 mg rektal
2 jam sebelum serangan terutama malam hari., dihydroergotamin,
sumatriptan atau triptan lainnya. (Level B)
- Indometasin 150 mg/hari.
Catatan:

32
- Terapi pilihan pertama: prednison 60–80 mg/hari (selama 7–14
hari) dan verapamil 240 mg/hari. Jika gagal: Methysergide 2 mg
t.i.d (1–2 bulan) jangan diberikan dengan obat lain, kecuali
hydrocodon bitartrat (Vicodin).
- Jika tidak efektif:
 Lithium atau asam valproat atau keduanya dapat dipakai
bersama dengan verapamil.
 Untuk pasien yang dirawat inap karena nyeri kepala klaster
intractable: dihidroergotamin i.v. setiap 8 jam, juga
diberikan sedatif.
Pengobatan bedah untuk nyeri kepala klaster kronis
Jika pengobatan konservatif dan preventif gagal, bisa dipertimbangkan
untuk dilakukan “histamine desensitization” atau tindakan operasi.
Indikasi operasi:
1. Nyeri kepala tipe kronis tanpa remisi nyeri selama satu tahun.
2. Terbatas nyeri unilateral.
3. Stabil secara fisiologik, sehat secara mental dan medik.
19. Edukasi
- Hidup dan istirahat cukup
- Hindari tidur sore
- Hindari alcohol
- Hindari tembakau
- Hindari ketinggian
- Hindari sinar terang dan suara gaduh
20. Referensi
Persatuan Dokter Spesialis Saraf Indonesia: Panduan Praktik Klinis
Neurologi. 2016. Hlm. 15-19

F. SPONDILITIS TUBERKULOSIS
21. Kompetensi : 3A
22. Tanda dan Gejala
c. Anamnesis
Dapat terjadi secara mendadak atau perlahan berupa kelemahan
yang sifatnya naik dan terjadi dalam waktu bulan atau tahun. Selain
itu pasien dapat mengeluh lemas, berkurangnya nafsu makan dan
berat badan, demam terutama pada sore hari, serta berkeringat pada
malam hari yang terjadi sebelum manifestasi tulang belakang. Dapat
juga ditemui gejala yang berhubungan dengan extra-skeletal
tuberculosis, seperti batuk, benjolan pada leher (limfadenopati), diare,
dan distensi abdomen. Selain itu pasien dapat merasakan nyeri
punggung dan spasme otot.
d. Pemeriksaan Fisik
3) Pemeriksaan neurologis
4) Funduskopi
5) Fungsi luhur
6) Neurooftalmologi

33
23. Pemeriksaan penunjang
Gold standard: MRI dengan kontras
24. Diagnosis Banding
1. Tumor otak primer
2. Tumor otak metastasis
3. Abses otak
4. Tuberkuloma
5. Toksoplasma
25. Referensi
Persatuan Dokter Spesialis Saraf Indonesia: Panduan Praktik Klinis
Neurologi. 2016. Hlm. 172-174

d. Bedah
a) FRAKTUR TERBUKA
26. Kompetensi : 3B
27. Tanda dan Gejala
1. Anamnesis :
a. Riwayat cedera
b. Manifestasiklinik yang dirasakan (memar, deformitas, edema,
nyeri terus–menerus, krepitasi, tidak dapat digerakkan)
c. Menyingkirkan kemungkinan adanya cidera pada lokasi tertentu
d. Ada tidaknya penurunan kesadaran
2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya:
a. Syok, anemia atau perdarahan.
b. Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum
tulang belakang atau organ-organ dalam rongga toraks, panggul
dan abdomen.
c. Fraktur predisposisi, misalnya pada fraktur patologis.
d. Pemeriksaan lokal
- Inspeksi (Look)
 Bandingkan dengan bagian yang sehat.
 Perhatikan posisi anggota gerak.
 Keadaan umum penderita secara keseluruhan.
 Ekspresi wajah karena nyeri.
 Lidah kering atau basah.
 Adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan.
 Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk
membedakan fraktur tertutup atau fraktur terbuka.
 Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai
beberapa hari.
 Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi, rotasi dan
kependekan.
 Lakukan survei pada seluruh tubuh apakah ada trauma
pada organ-organ lain.

34
 Perhatikan kondisi mental penderita.
 Keadaan vaskularisasi.
- Palpasi (Feel)
 Temperatur setempat yang meningkat.
 Nyeri tekan; nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya
disebabkan oleh kerusakan jaringan lunak yang dalam
akibat fraktur pada tulang.
 Krepitasi; dapat diketahui dengan perabaan dan harus
dilakukan secara hati-hati.
 Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa
palpasi arteri radialis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis
posterior sesuai dengan anggota gerak yang terkena.
 Refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada
bagian distal daerah trauma , temperatur kulit.
 Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk
mengetahui adanya perbedaan panjang tungkai.
- Pergerakan (Move)
 Pergerakan dengan mengajak penderita untuk
menggerakkan secara aktif dan pasif sendi proksimal dan
distal dari daerah yang mengalami trauma. Pada pederita
dengan fraktur, setiap gerakan akan menyebabkan nyeri
hebat sehingga uji pergerakan tidak boleh dilakukan
secara kasar, disamping itu juga dapat menyebabkan
kerusakan pada jaringan lunak seperti pembuluh darah
dan saraf.

Pemeriksaan Neurologis
Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara
sensoris dan motoris serta gradasi kelelahan neurologis, yaitu
neuropraksia, aksonotmesis atau neurotmesis. Kelaianan saraf yang
didapatkan harus dicatat dengan baik karena dapat menimbulkan
masalah asuransi dan tuntutan (klaim) penderita serta merupakan
patokan untuk pengobatan selanjutnya.
28. Pemeriksaan Penunjang :
a. Foto Rontgen menggunakanprinsip rule of two, yaitu :
- dua posisi proyeksi (minimal AP dan lateral)
- 2 sendi pada anggota gerak dan tungkai harus difoto, dibawah
dan diatas sendi yang mengalami fraktur
- 2 anggota gerak
- 2 trauma, pada trauma hebat sering menyebabkan fraktur pada
2 daerah tulang
- 2 kali dilakukan foto
b. CT Scan
c. Lab darah lengkap
d. MRI
29. Diagnosis Banding :

35
a. Fraktur terbuka grade 1
b. Fraktur terbuka grade 2
c. Fraktur terbuka grade 3a
d. Fraktur terbuka grade 3b
e. Fraktur terbuka grade 4
f. Fraktur terbuka grade 5
30. Terapi :
a. Farmakologi :
Prinsip penanganan fraktur terbuka :
- Semua fraktur terbuka dikelola secara emergensi.
- Lakukan penilaian awal akan adanya cedera lain yang dapat
mengancam jiwa.
- Pemberian antibiotik.
- Lakukan debridement dan irigasi luka.
- Lakukan stabilisasi fraktur.
- Pencegahan tetanus.
- Lakukan rehabilitasi ektremitas yang mengalami fraktur
- Pemberian antibiotik :
 Open fracture grade 1 dan 2 : cefazolin 2 gram selanjutnya
1 gram tiap 6 jam
 2 gram cefazolin + 3-5 mg/kg aminoglycoside
- Pencegahan tetanus :
 ATS ( anti tetanus serum) atau TIGh ( Tetanus
immunoglobulin Human )
 TT ( Tetanus toksoid ) atau DT
 Profilaksis tetanus tidak diperlukan bila status imunisasi
lengkap 10 tahun terakhir
b. Non farmakologi :
c. Fiksasi Internal
Selama operasi, fragmen tulang yang pertama direposisi
(dikurangi) ke posisi normal kemudian diikat dengan sekrup
khusus atau dengan melampirkan pelat logam ke permukaan
luar tulang. Fragmen juga dapat diselenggarakan bersama-sama
dengan memasukkan batang bawah melalui ruang sumsum di
tengah tulang. Karena fraktur terbuka mungkin termasuk
kerusakan jaringan dan disertai dengan cedera tambahan,
mungkin diperlukan waktu sebelum operasi fiksasi internal
dapat dilakukan dengan aman.
d. Fiksasi Eksternal
Fiksasi eksternal tergantung pada cedera yang terjadi.
Fiksasi ini digunakan untuk menahan tulang tetap dalam garis
lurus. Dalam fiksasi eksternal, pin atau sekrup ditempatkan ke
dalam tulang yang patah di atas dan di bawah tempat fraktur.
Kemudian fragmen tulang direposisi. Pin atau sekrup
dihubungkan ke sebuah lempengan logam di luar kulit.

36
Perangkat ini merupakan suatu kerangka stabilisasi yang
menyangga tulang dalam posisi yang tepat.
31. Indikasi rujuk : deteksi gejala dan pemeriksaan fisik , lakukan penanganan
awal , edukasi rujuk ke ppk 2/3 , lakukan perujukan (spesialis bedah )

32. Referensi :
1. Chairuddin, R. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Fraktur
Terbuka. Edisi 3. Jakarta: PT Yarsif Watampone. 2007. Hal: 332 -
334.
2. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Primer. 2013.

b) APPENDICITIS AKUT
33. Kompetensi : 3B
34. Tanda dan Gejala
1. Anamnesis
Didapatkan gejala :
Gejala appendisitis Akut Frekuensi (%)
Nyeri perut 100
Anoreksia 100
Mual 90
Muntah 75
Nyeri berpindah 50
Gejala sisa klasik (nyeri periumbilikal
kemudian anorexia/ mual/ muntah 50
kemudian nyeri berpindah ke RLQ
kemudian demam yang tidak terlalu
tinggi)
*_ _ onset gejala khas terdapat dalam 24-
36 jam

Pemeriksaan Lain :
- Skor Alvarado
Tabel Alvarado scale untuk membantu menegakkan diagnosis
Manifestasi Skor
Gejala Adanya migrasi nyeri 1
Anoreksia 1
Mual/muntah 1
Tanda Nyeri RLQ 2
Nyeri lepas 1
Febris 1
Laboratorium Leukositosis 2
Shift to the left 1

37
Total poin 10
Keterangan :
 0-4 : kemungkinan appendisitis kecil
 5-6 : bukan diagnosis appendisitis
 7-8 : kemungkinan besar appendisitis
 9-10 :hampir pasti menderita appendisitis
 Bila skor 5-6 dianjurkan untuk diobservasi di rumah sakit,
bila skor >6 maka tindakan bedah sebaiknya di lakukan.
2. Pemeriksaan Fisik :
- Inspeksi : Pada appendisitis akut biasanya ditemukan distensi
perut.
- Palpasi : pada regio iliaka kanan (pada titik Mc Burney) apabila
ditekan akan terasa nyeri (nyeri tekan Mc Burney) dan bila
tekanan dilepas juga akan terasa nyeri (nyeri lepas Mc Burney).
Defans muscular menunjukkan adanya rangsangan peritoneum
parietale. Nyeri tekan perut kanan bawah (Nyeri tekan
merupakan kunci diagnosis dari appendisitis). Pada penekanan
perut kiri bawah akan dirasakan nyeri pada perut kanan bawah
yang disebut tanda Rovsing (Rovsing Sign). Dan apabila
tekanan di perut kiri bawah dilepaskan juga akan terasa nyeri
pada perut kanan bawah yang disebut tanda Blumberg
(Blumberg Sign). Khusus untuk appendisitis kronis tipe
Reccurent/Interval Appendisitisterdapat nyeri di titik Mc
Burney tetapi tidak ada defans muscular sedangkan untuk yang
tipe Reccurent Appendicular Colic ditemukannyeri tekan di
appendiks.
- Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator : pemeriksaan ini
dilakukan untuk mengetahui letak appendiks yang meradang.
Uji psoas dilakukan dengan rangsangan otot psoas lewat
hiperektensi sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul
kanan, kemudian paha kanan ditahan. Bila appendiks yang
meradang menempel di m. psoas mayor, maka tindakan tersebut
akan menimbulkan nyeri.
- Uji obturator digunakan untuk melihat apakah appendiks yang
meradang, kontak dengan m.obturator internus yang merupakan
dinding panggul kecil. Gerakan fleksi dan endorotasi sendi
panggul pada posisi terlentang akan menimbulkan nyeri pada
appendisitis pelvika.
- Pemeriksaan colok dubur : Jika daerah infeksi dapat dicapai saat
dilakukan pemeriksaan ini, akan memberikan rasa nyeri pada
arah jam 9 sampai jam 12.Maka kemungkinan appendiks yang
meradang terletak didaerah pelvis. Pada appendisitis pelvika
kunci diagnosis adalah nyeri terbatas pada saat dilakukan colok
dubur.
35. Pemeriksaan Penunjang :
1. Laboratorium

38
- Px.darah lengkap ( lekositosis, hitung jenis netrofil -> shift to
the left
- C-reactive protein > 1 mg/dl
- Px. Urinalisa ( menyingkrkan DD)
2. Foto polos abdomen
3. USG
4. CT Scan
5. Laparoskopi
6. Histopatologi ( gold standar )
36. Diagnosa Banding :
1. Gastroenteritis
2. Demam dengue
3. Limfadenitis mesenterika
4. Ganggun genitalia wanita
5. Infeksi panggul
6. Kehamilan ektopik
7. Gangguan traktus urinarius
8. Endometriosis eksterna
9. Perforasi tukak duodenum/gaster
10. Pankreatitis
11. Divertikulitis Meckel
12. Perforasi kolon
13. Demam tifoid abdominalis
37. Terapi :
Bila diagnosis klinis sudah jelas maka tindakan paling tepat adalah
apendektomi dan merupakan satu-satunya pilihan yang terbaik.
Penundaan apendektomi sambil memberikan antibiotik dapat
mengakibatkan abses atau perforasi. Insidensi apendiks normal yang
dilakukan pembedahan sekitar 20%. Pada appendisitis akut tanpa
komplikasi tidak banyak masalah.
1. Appendiktomi (Laparoskopi appendektomi dan open appendektomi)
a. Cito akut, abses & perforasi
b. Elektif  kronik
2. Konservatif kemudian operasi elektif (Infiltrat) biasanya setelah 3
bulan konservatif baru dilakukan operasi
3. Bed rest total posisi Fowler (anti Trandelenburg)
4. Diet rendah serat
5. Antibiotika spektrum luas
Antibiotik spektrum luas diberikan sebelum dan sesudah
pembedahan. Kombinasi ampisilin (100mg/kg), gentamisin
(7,5mg/kg) dan klindamisin (40mg/kg) dalam dosis terbagi selama
24 jam cukup efektif untuk mengontrol sepsis dan menghilangkan
komplikasi appendisitis perforasi. Metronidazol aktif terhadap
bakteri gram negatif dan didistribusikan dengan baik ke cairan tubuh
dan jaringan. Obat ini lebih murah dan dapat dijadikan pengganti
klindamisin

39
6. Monitor Infiltrat, tanda2 peritonitis(perforasi), suhu tiap 6 jam,
LED,bila baik mobilisasi pulang
38. Indikasi Rujuk : skrining tanda serta gejala klinik , edukasi rujuk ke ppk 2
/3 (spesialis bedah) , berikan penanganan awal (antibiotik dan analgetik ),
lakukan perujukan.
39. Referensi
Sjamsuhidajat, R dan de Jong, Wim. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah.
Jakarta: EGC

c) Prolaps Rectum
40. Kompetensi : 3A
41. Tanda dan Gejala
1. Anamnesis
- Massa yang menonjol melalui anus. Awalnya, massa menonjol
dari anus setelah buang air besar dan biasanya tertarik kembali
ketika pasien berdiri
- Seiringberjalannyawaktumenjadiprolaps kontinu
- Nyeri
- Inkontinensia alvi
2. Pemeriksaan Fisik :
- Penonjolan mukosa rektum
- Penebalan konsentris cincin mukosa
- Terlihat adanya linea dentata
- Ulkus rektum soliter (10-25%)
- Penurunan tonus sfingter anal

42. Pemeriksaan Penunjang :


1. Pemeriksaan Feses
2. Barium enema dankolonoskopi
3. Video defekografi
4. Rigid proctosigmoidoscopi
5. Manometri
6. Tes sitz marker
43. Diagnosis Banding
1. Hemoroid interna
2. Hemoroid eksterna
44. Terapi :
- Medikamentosa
 Agen bulking

40
 Pelunaktinja
 Supositoria
- Non-medikamentosa
 Diet seratuntukmemperlancardefekasi
 Reposisi manual
 Bokongdirapatkan
 Defekasiterlentang
- Pembedahan
 Abdominal prosedure
 Rektopeksi
 Dilakukan lewat laparotomy
 Rektum di mobilisasi dari panggul, dibebaskan dari
jaringan sekitarnya
 Ditarik keatas lalu difiksasi di sacrum
 Fiksasi dengan menggunakan :
teflon/mersilen/marlex (ripstein procedure)
Ivalon sponge
Jahit langsung
 Reseksi anterior
 Dilakukan sigmoidektomi, lalu kolon desendens di
anastomosis dengansisarektum.
 Reseksi retopeksi
 Merupakan kombinasi dari reseksi anterior
danretopeksi Prosedur Frykman-Goldberg
 Perineum Prosedure
 Perinealrectosigmoidectomy
 Altmeir procedure : seluruh ketebalan sigmoid, rectum
dieksisi 1-2 cm dari garis dentate
 Delorme procedure : hanya mukosa
 Transsacralrectosigmooidectomy
 Operasi dilakukanlewatbagiandepan sacral
 Thiers methode
Digunakan pita teflonsubkutanmengelilingi
anus, sehinggamenyebabkankontriksi.
Penyulit :impaksifeses, infeksi, erosi pita
kedalamrektum.
Perbandingan Abdominal Prosedure dan Perineum
Prosedure

41
45. Indikasi Rujuk : deteksi gejala dan pemeriksaan fisik , beri edukasi
untuk ke faskes ppk 2/ppk 3 , lakukan perujukan ( spesialis bedah)
46. Referensi :
1. Sjamsuhidajat R. dan Wim de Jong. 2010. Usus Halus, Apendiks,
kolon, dan Anorektum.Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC. Hlm
795-796
2. Madhulika V., Janice R., Donald B., Practice Parameters for the
Management of Rectal Prolapse. Disease of Colon Rectum 2011; 54:
1339–1346.

e. Sistem Endokrin, Metabolik, dan Nutrisi


a) SINDROM CUSHING
47. Kompetensi : 3B
48. Gejala dan tanda
- obesitas dengan distribusi lemak sentripetal.
- wajah yang bulat dan dagu ganda
- Kulit tipis disertai adanya stria ungu pada abdomen, paha, bokong,
dan lengan atas.
49. Pemeriksaan fisik
- buffalo hump.
- perawakan pendek
- retardasi pertumbuhan
- Tekanan darah cenderug meningkat
- Gangguan emosi, insomnia, dan euforia.
- Hirsutisme
- Jerawatan
- virilisme pada anak perempuan
- pseudopubertas pada anak laki-laki.

42
50. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan kadar kortisol plasma
kortisol plasma mencapai 5 – 25 Ug/dl (140 – 160 mmol/l) dan
pada malam hari akan menurun menjadi kurang dari 50%. Bila
pada malam hari kadarnya tidak menurun atau tetap
2. Pemeriksaan kadar kortisol bebas atau 17-hidroksikortikosteroid
dalam urin 24 jam Pada sindrom Cushing kadar kortisol bebas dan
17-hidroksikortikosteroid dalam urin 24 jam meningkat
3. Tes supresi adrenal (tes supresi deksametason dosis tunggal)
51. Diagnosis banding
1. Tumor primer di adrenal (Endokrinologi edisi 4 hal 437)
2. Hiperaldosteronisme primer (s. conn).
3. Insufisiensi adrenogenital
4. Penyakit addison.
52. Terapi
1. Bedah mikro transfenoid (transphenoidal microsurgery).
2. Radiasi
radiasi konvensional, gamma knife radiosurgery, dan implantasi
radioaktif dalam sela tursika. Kerugian pemakaian radiasi ini
adalah kerusakan sel-sel yang mensekresi hormon pertumbuhan.
3. Obat-obatan
Obat yang digunakan untuk mengendalikan sekresi ACTH
misalnya siproheptadin.
53. Referensi
Rogol AD, Hochberg Z. Cushing syndrome. Dalam: Hochberg Z,
penyunting. Practical algorithm in pediatrics endocrinology. Basel:
Reinhardt Druck 1999; 46-7

b) HIPERTIROID
54. Kompetensi : 3A
55. Gejala dan tanda
- Sesak saat kerja
- Berdebar-debar
- Lelah
- Suka udara dingin

43
- Berkeringat banyak
- Gugup
- Nafsu makan bertambah
- Berat badan turun
56. Pemeriksaan fisik
- Tekanan nadi meningkat > 90x/ menit
- Pemeriksaan mata : eksoftalmus , retraksi palpebra
- Leher : terdapat bejolan leher , tiroid teraba, bising tiroid
- Aukultasi jantung: terdapat bising jantung
- Ekstremitas : tremor jari, hiperkinesis , tangan lembab dan panas
57. Pemeriksaan penunjang
1. TSHs tak terukur atau subnormal dan FT4 meningkat
2. EKG
58. Diagnosis banding
1. Thyroid Papillary Carcinoma
2. Macro and Micro Pituitary Adenom
3. TNG (Toxic Nodular Goiter)
4. Feokromositoma
59. Terapi
7) PTU tab 3 x 100mg
8) Obat – obat ini diberikan selama 18 – 24 bulan
9) Pengobatan dengan yodium radioaktif
10) Tidak ada perbaikan, rujuk Sp.PD
60. Referensi
1. Chris Tanto, Kapita Selekta Kedokteran Jilid II, FKUI : Jakarta.
2014 halaman 787-790
2. Sudoyo Aru. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Jakarta :
Interna Publishing. 2009 halaman 1795

c) TIROKTOSIKOSIS
61. Kompetensi : 3B
62. Gejala dan tanda
- Berdebar-debar
- Tremor
- Gangguan reproduksi (oligomenore/amenore dan libido turun)
- Mudah lelah
- Pembesaran kelenjar tiroid
- Sukar tidur
- Iritabilitas
- Intoleran terhadap panas
- Keringat berlebihan
- Penurunan berat badan
- Peningkatan rasa lapar (nafsu makan bertambah)
- Diare
- Rambut rontok

44
- Faktor Risiko Memiliki penyakit Graves (autoimun
hipertiroidisme) atau struma multinodular toksik
63. Pemeriksaan Fisik
- Exopthalmus
- Benjolan di leher depan, bruit tiroid
- Takikardia sampai 130-200x/menit
- Demam
- Tremor, kulit hangat dan basah
- Spesifik untuk penyakit Grave :
i. Oftalmopati (spasme kelopak mata atas dengan retraksi dan
gerakan kelopak mata yang lamban, eksoftalmus dengan
proptosis, pembengkakan supraorbital dan infraorbital)
ii. Edema pretibial
iii. Kemosis
iv. Ulkus kornea
v. Dermopati
vi. Akropaki
vii. Bruit
64. Pemeriksaan Penunjang
1. Darah rutin, SGOT, SGPT, gula darah sewaktu
2. EKG
3. Serum free T4 & T3 meningkat dan TSH sedikit hingga tidak ada
65. Diagnosis Banding
1. Penyakir Graves
2. Destruksi tiroid
3. Sindrom resistensi hormone
4. Anxietas
66. Penatalaksanaan
- Pemberian obat simptomatis
- Propanolol dosis 40-80 mg dalam 2-4 dosis.
- PTU 300-600 mg dalam 3 dosis bila klinis Graves jelas
67. Referensi
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer edisi 1 tahun 2013 halaman 460-463

f. Sistem Integumen
a) LIKEN SIMPLEK KRONIK
68. Kompetensi : 3A
69. Tanda dan Gejala
1. Anamnesis
Didapatkan keluhan sangat gatal, hingga dapat mengganggu tidur.
Gatal dapat timbul paroksismal/terus-menerus/sporadik dan
menghebat bila ada stres psikis.
2. Pemeriksaan fisik
- Lesi likenifikasi umumnya tunggal tetapi dapat lebih dari
satu.dengan ukuran lentikular hingga plakat. Stadium awal

45
berupa eritema dan edema atau papul berkelompok. Akibat
garukan terus meneur timpul plak likenifikasi dengan skuama
dan eskoriasi, serta hiperpigmentasi atau hipopigmentasi.
Bagian tengah lesi menebal, kering dan berskuama, sedangkan
bagian tepi hiperpigmentasi.
- Predileksi utama yaitu daerah yang mudah dijangkau oleh
tangan seperti kulit kepala, tengkuk, ekstremitas ekstensor,
pergelangan tangan dan area anogenital, meskipun dapat timbul
di area tubuh manapun.
70. Pemeriksaan Penunjang
1. Untuk penegakan diagnosis tidak perlu pemeriksaan penunjang
khusus.
2. Apabila diperlukan, dapat dilakukan pemeriksaan penunjang sesuai
diagnosis banding.
3. Pemeriksaan histopatologi dapat dilakukan bila gambaran klinis
meragukan.
71. Diagnosis Banding
1. Dermatitis atopik dengan lesi likenifikasi
2. Psoriasis dengan lesi likenifikasi
3. Liken planus hipertrofik
Untuk lesi pada area inguinal/genital/perianal:
1. Liken sklerosus
2. infeksi human papiloma virus (HPV)
3. Tinea kruris
72. Penatalaksanaan
Non Medikamentosa
1. Menghindari stres psikis
Medikamentosa
Prinsip: memutuskan siklus gatal-garuk. Terdapat beberapa
obat/tindakan yang dapat dipilih sesuai dengan indikasi sebagai berikut:
1. Topikal
- Emolien dapat diberikan sebagai kombinasi dengan
kortikosteroid topikal atau pada lesi di vulva dapat diberikan
terapi tunggal krim emolien.
- Kortikosteroid topikal: dapat diberikan kortikosteroid potensi
kuat seperti salep klobetasol propionat 0,05%, satu sampai dua
kali sehari.
- Calcineurin inhibitor topikal seperti salep takrolimus 0,1%, atau
krim pimekrolimus 0,1% dua kali sehari selama 12 minggu.
- Preparat antipruritus nonsteroid yaitu: mentol, pramoxine, dan
doxepin.
2. Sistemik
- Antihistamin sedatif
- Antidepresan trisiklik
3. Tindakan
Kortikosteroid intralesi (triamsinolon asetonid)

46
 Kriteria rujukan
Setelah diagnosis ditegakkan dan pasien diberi terapi pendahuluan
maka pasien dirujuk ke pelayanan sekunder yang memiliki dokter
spesialis kulit dan kelamin.
 Referensi
Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin. Panduan Praktik
Klinis Bagi Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin di Indonesia. Jakarta :
2017. Halaman 282-288.

b) SSJ
 Kompetensi : 3B
 Tanda dan Gejala
1. Keadaan umum bervariasi dari ringan sampai berat. Pada fase akut
dapat disertai gejala prodromal berupa:demam tinggi, malaise,
nyeri kepala, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, arthralgia. Gejala
prodromal selanjutnya akan berkembang ke arah manifestasi
mukokutaneus.
2. Faktor Risiko
- Mengkonsumsi obat-obatan yang dicurigai dapat
mengakibatkan SSJ. Beberapa obat yang yang berisiko tinggi
dapat menyebabkan terjadinya SSJ antara lain allopurinol,
trimethoprim-sulfamethoxazol, antibiotik golongan sulfonamid,
aminopenisillin, sefalosporin, kuinolon, karbamazepin, fenitoin,
phenobarbital, antipiretik/analgetik (salisil/pirazolon,
metamizol, metampiron dan parasetamol) dan NSAID. Selain
itu berbagai penyebab dikemukakan di pustaka, misalnya:
infeksi (bakteri, virus, jamur, parasit), neoplasma, paska-
vaksinasi, radiasi dan makanan.
- Sistem imun yang lemah, misalnya pada HIV/AIDS.
- Riwayat keluarga menderita SSJ.
3. Pemeriksaan Fisik
SSJ memiliki trias kelainan berupa:
a. Kelainan kulit
Dapat berupa eritema, papul, purpura, vesikel dan bula yang
memecah kemudian terjadi erosi luas. Lesi yang spesifik berupa
lesi target. Pada SSJ berat maka kelainannya generalisata.
Ciri khas lesi di kulit adalah:
- ruam diawali dengan bentuk makula yang berubah menjadi
papul, vesikel, bula, plakurtikaria atau eritema konfluens
- tanda patognomoniknya adalah lesi target
- berbeda dengan lesi eritema multiform, lesi SSJ hanya
memiliki 2 zona warna, yaitubagian tengah dapat berupa
vesikel, purpura atau nekrotik yang dikelilingi oleh
tepiberbentuk makular eritema.
- lesi yang menjadi bula akan pecah menimbulkan kulit yang
terbuka yang akan rentanterinfeksi

47
- lesi urtikaria tidak gatal
b. Kelainan selaput lendir di orifisium : tersering adalah pada
mulut (90-100%), genitalia (50%), lubang hidung (8%) dan anus
(4%). Kelainan berupa vesikel dan bula yang pecah dan
mengakibatkan erosi, ekskoriasi, dan krusta kehitaman.
c. Kelainan mata, terjadi pada 80% di antara semua kasus,
tersering adalah konjugtivitis kataralis, konjungtivitis purulen,
perdarahan, simblefaron, ulkus kornea, iritis, dan iridosiklitis.
 Pemeriksaan Penunjang
Hasil pemeriksaan laboratorium tidak khas, dapat dilakukan
pemeriksaan darah perifer lengkap, yang menunjukkan hasil
leukositosis yang menunjukkan adanya infeksi atau eosinofilia
kemungkinan adanya faktor alergi.
 Diagnosis Banding
1. Nekrolisis Epidermal Toksik (NET)
2. Pemphigus Vulgaris
3. Pemphigus Bulosa
4. Staphylococcal Scalded Skin Syndrome (SSSS)
 Penatalaksanaan
1. Bila keadaan umum penderita cukup baik dan lesi tidak
menyeluruh dapat diberikan metilprednisolon 30-40 mg/hari.
2. Mengatur keseimbangan cairan/elektrolit dan nutrisi.
3. Keterlibatan mata harus ditangani oleh dokter spesialis mata.
 Kriteria Rujukan
Berdasarkan skoring SCORTEN pasien dengan skor 3 atau lebih harus
dirujuk ke fasiltas pelayanan kesehatan sekunder untuk mendapatkan
perawatan intensif
Tabel SCORTEN (Skor keparahan penyakit) pada Sindrom Steven
Johnson (SSJ)
Parameter SCORTEN Skor Individu SCORTEN Prediksi
(jumlah skor Mortalitas
individu) (%)
Usia >40 tahun Ya: 1 Tidak: 0 0-1 3,2
Keganasan Ya: 1 Tidak: 0 2 12,1
Takikardi >120x/menit Ya: 1 Tidak: 0 3 35,8
Luas awal pelepasan Ya: 1 Tidak: 0 4 58,3
epidermis >10%
Serum urea >10 mmol/L Ya: 1 Tidak: 0 5 90
Serum glukosa >14 mmol/L Ya: 1 Tidak: 0
Bicarbonat >20 mmol/L Ya: 1 Tidak: 0
 Referensi
1. Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin. Panduan Praktik
Klinis Bagi Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin di Indonesia. Jakarta
: 2017. Halaman 398-402.

48
2. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Primer edisi revisi tahun 2014 halaman 520 – 523

c) VITILIGO
 Kompetensi : 3A
 Tanda dan Gejala
1. Anamnesis
 Timbul bercak putih seperti susu/kapur onset tidak sejak lahir.
 Tidak ada gejala subjektif, kadang sedikit terasa gatal.
 Progresivitas lesi: dapat bertambah luas/menyebar, atau
lambat/menetap, kadang timbul bercak sewarna putih pada lesi
tanpa diberikan pengobatan (repigmentasi spontan).
 Bisa didapatkan riwayat vitiligo pada keluarga (10-20%).
 Bisa didapatkan riwayat penyakit autoimun lain pada pasien
atau keluarga (10-25%).
2. Pemeriksaan Fisik
Terdapat makula depigmentasi berbatas tegas dengan distribusi
sesuai klasifikasi sebagai berikut:
 Vitiligo nonsegmental (VNS)/generalisata/vulgaris
a. Merupakan bentuk vitiligo paling umum. Lesi
karakteristik berupa makula berwarna putih susu yang
berbatas jelas, asimtomatik, melibatkan beberapa regio
tubuh, biasanya simetris.
b. VNS terdiri dari vitiligo akrofasial, vitiligo mukosal,
vitiligo universalis, dan vitiligo tipe campuran yang
berhubungan dengan vitiligo segmental.
 Vitiligo segmental (VS)
Pada tipe ini lesi biasanya muncul pada anak-anak,
berkembang dengan cepat (dalam waktu beberapa minggu
atau bulan), kemudian menjadi stabil dan biasanya lebih
resisten terhadap terapi. Vitiligo tipe ini sering dihubungkan
dengan hipotesis neurokimia.
 Undetermined/unclassified
a. Vitiligo fokal
Merupakan lesi patch yang tidak memenuhi kriteria
ditribusi segmental, dan tidak meluas/berkembang dalam
waktu 2 tahun. Vitiligo tipe ini dapat berkembang menjadi
tipe VS maupun VNS.
b. Mukosal: hanya lesi di mukosa tanpa lesi di kulit.
 Vitiligo stabil, yaitu bila memenuhi kriteria:
a. Lesi lama tidak berkembang atau bertambah luas selama
2 tahun terakhir.
b. Tidak ada lesi baru yang timbul pada periode yang sama.
c. Tidak ada riwayat fenomena Koebner baik berdasarkan
anamnesis maupun tampak secara klinis.

49
d. Tidak ada repigmentasi spontan atau repigmentasi setelah
terapi.
e. Tes minigrafting positif dan tidak tampak fenomena
Koebnerisasi pada lokasi donor.
Vitiligo stabil ini tidak efektif diterapi dengan berbagai modalitas
terapi, sehingga merupakan indikasi utama pembedahan
(melanocyte grafting).
 Pemeriksaan Penunjang
1. Perhitungan Vitiligo Area Scoring Index (VASI) atau Vitiligo
European Task Force (VETF) untuk menentukan derajat
keparahan, serta pemilihan dan follow up terapi, yang dievaluasi
ulang secara berkala setiap 3 bulan.
2. Pemeriksaan menggunakan lampu Wood untuk mendapatkan
gambaran depigmentasi yang jelas.
3. Pemeriksaan laboratorium untuk penapisan penyakit autoimun lain
sesuai anamnesis dan pemeriksaan fisik, seperti anti-nuclear
antibody (ANA), thyroidstimulating hormone (TSH), free T4
(FT4), glukosa darah, dan hemoglobin.
 Diagnosis Banding
1. Tinea Versikolor
2. Nevus Anemikus
3. Nevus Depigmentosus
4. Piebaldisme
5. Hipomelanosis Gutata Idiopatik
6. Hipomelanosis Makular Progresif
 Terapi
a. Di tingkat pelayanan dasar (Pemberi Pelayanan Kesehatan/PPK 1):
Jenis Terapi: topikal
b. Di tingkat pelayanan lanjut (Pemberi Pelayanan Kesehatan/PPK 2
atau 3):
Jenis Terapi: topikal, fototerapi, fotokemoterapi, pembedahan

Non-medikamentosa
- Menghindari trauma fisik baik luka tajam, tumpul, ataupun tekanan
repetitif yang menyebabkan fenomena Koebner, yaitu lesi
depigmentasi baru pada lokasi trauma. Trauma ini terjadi
umumnya pada aktivitas sehari-hari, misalnya pemakaian jam
tangan, celana yang terlalu ketat, menyisir rambut terlalu keras,
atau menggosok handuk di punggung.
- Menghindari stres.
- Menghindari pajanan sinar matahari berlebihan.

Medikamentosa
Lini pertama
1. Topikal
 Kortikosteroid topikal

50
 Calcineurin inhibitor (takrolimus, pimekrolimus) (anak: B,1;
Dewasa: C,3)
2. Fototerapi
 Narrowband ultraviolet B (NBUVB, 311 nm)15,16 (A,1)
 Excimer lamp atau laser 308 nm17 (anak: A,1)
3. Fotokemoterapi
Kombinasi psoralen dengan phototherapy ultraviolet A
(PUVA)18,21 (B,1)

Lini kedua
1. Topikal
Kombinasi kortikosteroid topikal dengan analog vitamin D3
topikal19 (B,1)
2. Sistemik (untuk menahan penyebaran lesi aktif dan progresif pada
VNS yang akut/aktif) berupa pemberian betametason 5 mg dosis
tunggal, dua hari berturut-turut per minggu selama 16 minggu20
(B,1)
3. Excimer lamp atau laser 308 nm17 (dewasa: A,1)
4. Fotokemoterapi
 Kombinasi psoralen dengan phototherapy ultraviolet A
(PUVA)21 (B,1)
 Kombinasi NBUVB dengan calcineurin inhibitor topikal22
(B,1)
 Kombinasi NBUVB dengan kortikosteroid sistemik20,23 (B,2)

Lini Ketiga
Terapi intervensi/pembedahan: untuk vitiligo stabil, segmental,
rekalsitran, dan yang memberikan respons parsial terhadap terapi non-
bedah. Terapi pembedahan dapat berupa:
 Minipunch grafting24 (A,1)
 Split-skin graft.24,25 (C,4)
 Suction blister epidermal grafts (SBEG)26 (C,4)
Teknik graft melanosit atau epidermis baik dalam suspensi epidermis
atau spesifik kultur sel primer dari melanosit.27 (B,1)
 Kriteria rujukan
Setelah diagnosis ditegakkan dan pasien diberi terapi pendahuluan
maka pasien dirujuk ke pelayanan sekunder yang memiliki dokter
spesialis kulit dan kelamin.
 Referensi
Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin. Panduan Praktik
Klinis Bagi Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin di Indonesia. Jakarta :
2017. Halaman 282-288.

g. Sistem Urogenital
a) RUPTUR URETHRA

51
 Kompetensi : 3B
 Tanda dan Gejala
1. Anamnesis
- Riwayat jatuh dari tempat yang tinggi dan terkena daerah
perineum atau riwayat instrumentasi disertai adanya darah
menetes dari uretra yang merupakan gejala penting.
- Hematuria, yaitu keluarnya urine bercampur darah.
- Retensio urine, hal ini sering terjadi akibat terjadinya trauma
yang berat. Pada keadaan retensi urin, tidak boleh dilakukan
pemasangan kateter karena dapat menyebabkan kerusakan
uretra yang lebih parah.
- Jika terjadi rupture uretra beserta korpus spongiosum darah dan
urin keluar dari uretra tetapi masih terbatas pada fasia Buck, dan
secara klinis terlihat hematoma yang terbatas pada penis.
Namun jika fasia Buck ikut robek, ekstravasasi urin dan darah
hanya dibatasi oleh fasia Colles sehingga darah dapat menjalar
hingga skrotum atau ke dinding abdomen. Oleh karena itu
robekan ini memberikan gambaran seperti kupu-kupu sehingga
disebut butterfly hematoma atau hematoma kupu-kupu.
- Pada Posterior
 Perdarahan per uretra
 Retensi urine.
 Pemeriksaan Rektal Tuse : Floating Prostat.
 Ureterografi: ekstravasasi kontras dan adanya fraktur
pelvis.
- Pada Anterior:
 Perdarahan per-uretra/ hematuri.
 Sleeve Hematom/butterfly hematom.
 Kadang terjadi retensi urine.
2. Pemeriksaan Fisik
- Inspeksi: meatus eksternus sempit, pembengkakan serta fistula
didaerah penis, skrotum, perineum, suprapubik.
- Palpasi: teraba jaringan parut sepanjang perjalanan uretra
anterior; pada bagian ventral penis, muara fistula bila dipijit
mengeluarkan nanah
- Pada pemeriksaan colok dubur, bisa didapatkan prostat
mengapung (floating prostat) pada ruptura total dari urethra
pars membranacea oleh karena terputusnya ligamen
puboprostatika
3. Klasifikasi
Ruptur uretra dibagi menjadi 2 macam:
- Ruptur uretra anterior :Paling sering pada bulbosa disebut
Straddle Injury, dimana robekan uretraterjadi antara ramus
inferior os pubis dan benda yang menyebabkannya.Terdapat
daerah memar atau hematoma pada penis dan

52
scrotum(kemungkinan ekstravasasi urine Penyebab tersering :
straddle injury (cedera selangkangan )Jenis kerusakan :
 Kontusio dinding uretra.
 Ruptur parsial.
 Ruptur total.
- Ruptur uretra posterior :
 Paling sering pada membranacea.
 Ruptur utertra pars prostato-membranasea
 Terdapat tanda patah tulang pelvis.
 Terbanyak disebabkan oleh fraktur tulang pelvis.
 Robeknya ligamen pubo-prostatikum
 Pada daerah suprapubik dan abdomen bagian bawah
dijumpai jejas,hematom dan nyeri tekan.
 Bila disertai ruptur kandung kemih bisa ditemukan tanda
rangsangan peritoneum.
 Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium : urinalisis eritrosit positip
2. Radiologis : uretrografi, AP pelvic foto
 Diagnosis Banding
1. BPH
2. Urolithiasis
3. Ruptur buli-buli
4. Karsinoma urethra
 Penatakaksanaan
- Pada ruptur anterior
a) Pada ruptur anterior yang partial cukup dengan memasang
kateter danmelakukan drainase bila ada.
b) ruptur yang total hendaknya sedapat mungkin dilakukan
penyambungandengan membuat end-to-end, anastomosis dan
suprapubic cystostomy.
c) Kontusio : observasi, 4-6 bulan kemudian dilakukan
uretrografi ulang.
d) istosomi, 2 minggu kemudian dilakukan uretrogram dan
striktura sache jika timbul stiktura uretra.
- Pada ruptur uretra posterior
a) Pada rupture yang total suprapubic cystostomy 6-8 minggu.
b) Pada ruptur uretra posterior yang partial cukup dengan
memasang douwer kateter.
c) Operasi uretroplasti 3 bulan pasca ruptur
 Indikasi rujuk
Deteksi gejala dan pemeriksaan fisik, lakukan penanganan awal,
edukasi rujuk ke ppk 2/3, lakukan perujukan (spesialis bedah urologi)
 Referensi
1. Purnomo, BB. Dasar-dasar Urologi. Edisi kedua. Jakarta: Sagung
Seto; 2008. hal. 93-9

53
2. Jung, J et al. 2012. Clinical and Functional Anatomy of the Uretral
Sphincter. International Neurourology Journal. Int Neurourol J. 16
(3) : 102-106
3. Palinrungi AM. Lecture notes on urological emergencies & trauma.
Makassar: Division of Urology, Departement of Surgery, Faculty
of Medicine, Hasanuddin University; 2009. p. 131-6
4. Ramchandani P and Buckler P. 2009. Imaging of Genitourinary
Trauma. American Journal of Roentgenology. AJR Vol. 192, Issue
6: 12-17
5. Rosesntein, D et al. 2006. Diagnosis and Classification of Uretral
Injuries. America Journal of Urology Clinic. Urol Clin N Am 33:
73-85.

b) TORSIO TESTIS
 Kompetensi : 3B
 Tanda dan Gejala
1. Anamnesis
- Nyeri hebat daerah skrotum yang sifatnyamendadak
- Pembengkakan testis
- Nyeri dapat menjalar ke daerah inguinal atauperut sebelah
bawah
- Pada bayi gejala tidak khas yakni gelisah,rewel, atau tidak mau
menyusui
2. Pemeriksaan Fisik
- Testis pada sisi yang terkena sering lebih tinggi jika
dibandingkan dengan sisi testis yang lain.
- Testis umumnya sangat nyeri tekan dan elevasitidak
menghilangkan nyeri seperti sering terjadipada epididimis
akut. (prehn test (+))
- Funikulus menebal, kadang-kadang dapat dirabasuatu simpul.
- Bila telah lama berlangsung maka testis menyatudengan
epididimis dan sukar dipisahkan, keduanyamembengkak,
timbul effusian, hiperemia, udemakulit dan subkutan
- Refleks Kremaster (-)
 Pemeriksaan Penunjang
1. Sedimen urin tidak menunjukan adanya leukosit dalam urin
2. Pemeriksaan darah tidak menunjukan tanda inflamasikecuali pada
torsio testis yang sudah lama dapatmengalami keradangan steril
3. Stetoskop Doppler, ultrasonografi Doppler (Gold Standart), dan
sintigrafitestis melihat adanya aliran darah ke testis.
 Diagnosis Banding
1. Epididimitis akut
2. Hernia scrotalis
3. Hidrokel terinfeksi
4. Tumor testis
5. Edema scrotum

54
 Penatalaksanaan
Medikamentosa
- Analgesik : asam mefenamat 3x500mg
- Operative: rencana orchidopeksi/orchidoktomi
Non medikamentosa
- Destorsi manual
 Indikasi rujuk
- Deteksi gejala dan pemeriksaan fisik, lakukan penanganan awal,
edukasi rujuk ke ppk 2/3, lakukan perujukan (spesialis bedah
urologi)
 Referensi
1. Purnomo, Basuki P. Dasar-dasar Urologi. Jakarta: Sagung Seto.
2003.145-148.
2. Sjamsuhidayat R, Wim De Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-
2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran- EGC. 2004. 799.
3. Siroky.M.B : Torsion of the testis. In : Siroky.M.B,
Oates.R.D,Babayan.R.K (eds), Handbook of urology: diagnosis
and Therapy, 3rd ed, Lippincot William&Wilkins; Philadelpihia
2004: 369-72.
4. Reynard.J : Torsion of the testis and testicular appendages.
In:Reynard.J, Brewster.S, Biers.S (eds), Oxford Handbook of
Urology,Oxford University Press, New York 2006: 452.

c) GLUMERONEFRITIS
 Kompetensi : 3A
 Tanda dan Gejala
1. Anamnesis
a. Urin berbuih
b. Kaki bengkak
c. Lemah
d. Lelah
e. Perubahan warna urin mendadak darah
2. Pemeriksaan fisik
a. Tekanan darah 5 mm di atas persentil ke-99 untuk usia anak,
jenis kelamin, dan tinggi
b. Takikardia dan tachypnea
c. Pemeriksaan hidung dan tenggorokan dengan cermat dapat
memberikan bukti perdarahan
d. Limfadenopati
e. Pemeriksaan perut sangat penting. Ascites mungkin hadir jika
ada komponen nefrotik pada GNA.
f. Hepato-splenomegali mungkin menunjuk ke gangguan
sistemik.
g. Nyeri perut yang signifikan dapat menyertai HSP.
h. Edema skrotum dapat terjadi pada sindrom nefrotik juga, dan
orchitis merupakan temuan sesekali di HSP.

55
 Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium
- antistreptozim, ASTO, antihialuronidase dan anti Dnase B..
- pemeriksaan serologi didapatkan penurunan komponen serum
CH50 dan konsentrasi serum C3. Penurunan C3 terjadi ada
>90%
- Peningkatan BUN dan kreatinin
- Pada urinalisis hematuria dan proteinuria , eritrosit, leukosit,
granular. Glukosuria , Eritrosit.
b. Foto toraks dapat menunjukkan Congestif Heart Failure.
c. USG ginjal biasanya menunjukkan ukuran ginjal yang normal.
d. Biopsi Ginjal
e. Menghitung nilai GFR
 Diagnosis banding
1. Sindroma nefrotik
2. GNAPS
3. Cronic kidney injury
4. Gagal ginjal akut
 Terapi
Pengelolaan tekanan darah
- Bila hipertensi ringan (sistolik 130 mmHg dan diastole 90 mmHg),
umumnya diobservasi tanpa diberi terapi
- Hipertensi sedang (sistolik > 140-150 mmhg dan diastole > 100
mmHg) diobati dengan pemberian hidralazin oral atau IM, nifedipin
oral atau sublingual. Dalam prakteknya lebih baik merawat inap
pasien hipertensi 1-2 hari daripada memberi antihipertensi yang
lama.
- Hipertensi berat diberikan hidralazin 0,15-0,3 mg/kgbb IV, dapat
diulang setiap 2-4 jam
 Referensi
Silva FG. Acute postinfectious glomerulonephritis and
glomerulonephritis complicating persistent bacterial infection. In:
Jennette JC, Olson JL, Schwartz MM, eds. Heptinstall's Pathology of
the Kidney. Vol 1. 5thed. Philadelphia, Pa: Lippincott-Raven;
1998:389-455.

h. Sistem Respirasi
c) TUBERKULOSIS PARU
 Level Kompetensi : 4A
 Tanda dan Gejala
3. Anamesis :
Gejala umum TB Paru adalah batuk produktif lebih dari 2 minggu,
yang disertai :
a. Gejala pernapasan (nyeri dada, sesak napas, hemoptisis)
dan/atau

56
b. Gejala sistemik (demam, tidak nafsu makan, penurunan berat
badan, keringat malam dan mudah lelah)
4. Pemeriksaan Fisik :
a. Mata : konjuntiva anemis
b. BB turun
c. Bagian apeks paru, bila dicurigai adanya infiltrate yang luas,
maka pada perkusi akan didapatkan suara redup. Bila terdapat
kavitas yang luas akan ditemukan perkusi hipersonor.
d. Pada auskultasi terdengar suara napas
bronkhial/amforik/ronkhi basah/suara napas melemah di apex
paru, tanda-tanda penarikan paru, diafragma dan mediastinum.
 Pemeriksaan Penunjang :
1. Darah : limfositosis/monositosis, LED meningkat, Hb turun.
2. Pemeriksaan mikroskopis kuman TB (Bakteri Tahan Asam/BTA)
atau kultur kuman dari spesimen sputum/dahak sewaktu-pagi-
sewaktu.
3. Untuk TB non paru, spesimen dapat diambil dari bilas lambung,
cairan serebrospinal, cairan pleura ataupun biopsi jaringan.
4. Radiologi dengan foto thorax PA-Lateral
Pada TB, umumnya di apeks paru terdapat gambaran bercak-
bercak awan dengan batas yang tidak jelas atau bila dengan batas
jelas membentuk tuberkuloma. Gambaran lain yang dapat
menyertai yaitu, kavitas (bayangan berupa cincin berdinding tipis),
pleuritis (penebalan pleura), efusi pleura (sudut kostroftrnikus
tumpul).
 Diagnosis Banding :
5. Pneumonia
6. PPOK
7. Bronkitis
8. Bronkopneumonia
 Penatalaksanaan :
Tabel 1.1 Dosis obat antituberkulosis KDT (Kombinasi Dosis
Tepat)/FDC (Fixed Dose Combination) :
Berat
Fase Intensif Fase Lanjutan
Badan
Harian Harian 3x/minggu Harian 3x/minggu
(R/H/Z/E) (R/H/Z) (R/H/Z) (R/H) (R/H)
150/75/400/275 150/75/40 150/150/500 150/75 150/150
30-37 2 2 2 2 2
38-54 3 3 3 3 3
55-70 4 4 4 4 4

Tabel 1.2 Dosis obat TB berdasarkan berat badan (BB)


Rekomendasi dosis dalam mg/kgBB
Obat Harian 3x/minggu

57
INH 5 (4-6) max 300 mg/hari 10 (8-12) max 900 mg/hari
RIF 10 (8-12) max 600 mg/hari 10 (8-12) max 600 mg/hari
PZA 25 (20-30) max 1600 mg/hari 35 (30-40) max 2400 mg/dosis
EMB 15 (15-20) max 1600 mg/hari 35 (25-35) max 2400 mg/dosis

Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap awal dan lanjutan


a. Tahap awal menggunakan paduan obat rifampisin, isoniazid,
pirazinamid dan etambutol
1) Pada tahap awal pasien mendapat pasien yang terdiri dari 4
jenis obat (rifampisin, isoniazid, pirazinamid dan etambutol),
diminum setiap hari dan diawasi secara langsung untuk
menjamin kepatuhan minum obat dan mencegah terjadinya
kekebalan obat.
2) Bila pengobatan tahap awal diberikan secara adekuat, daya
penularan menurun dalam kurun waktu 2 minggu.
3) Pasien TB paru BTA positif sebagian besar menjadi BTA
negatif (konversi) setelah menyelesaikan pengobatan tahap
awal. Setelah terjadi konversi pengobatan dilanjutkan dengan
tahap lanjut.
b. Tahap lanjutan menggunakan paduan obat rifampisin dan isoniazid
1) Pada tahap lanjutan pasien mendapat 2 jenis obat (rifampisin
dan isoniazid), namun dalam jangka waktu yang lebih lama
(minimal 2 bulan).
2) Obat dapat diminum secara intermitten yaitu 3x/minggu (obat
program) atau tiap hari (obat non program).
3) Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten
sehinga mencegah terjadinya kekambuhan.

Panduan OAT lini pertama yang digunakan oleh Program Nasional


Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia adalah sebagai berikut :
a. Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3
Artinya pengobatan tahap awal selama 2 bulan diberikan tiap
hari dan tahap lanjutan selama 4 bulan diberikan 3 kali dalam
seminggu. Jadi lama pengobatan seluruhnya 6 bulan
b. Kategori : 2HRZES/HRZE/5H3R3E3
Diberikan pada TB paru pengobatan ulang (TB kambuh,
gagal pengobatan, putus berobat/default). Pada kategori 2, tahap
awal pengobatan selama 3 bulan terdiri dari 2 bulan RHZE
ditambah suntikan streptomisin, dan 1 bulan HRZE. Pengobatan
tahap awal diberikan setiap hari. Tahap lanjutan diberikan HRE
selama 5 bulan, 3 kali seminggu. Jadi lama pengobatan 8 bulan.
c. OAT sisipan : HRZE
Apabila pemeriksaan dahak masih positif (belum konvensi)
pada akhir pengobatan tahap awal kategori 1 maupun kategori 2,
maka diberikan pengobatan sisipan seama 1 bulan dengan HRZE.

58
 Referensi :
1. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Tuberkulosis. PDPI. Jakarta.
2011. (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2011).

d) PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis)


 Level Kompetesi : 4A
 Tanda dan Gejala
4. Keluhan :
- Sesak napas
- Kadang-kadang disertai mengi
- Batuk kering atau dahak yang produktif
- Rasa berat di dada
5. Faktor risiko
- Genetik
- Pajanan partikel
a) Asap rokok
b) Debu kerja, organik dan inorganik
c) Polusi udara dalam rumah dari pemanas atau biomassa
rumah tangga dengan ventilasi yang buruk
d) Polusi udara bebas
- Pertumbuhan dan perkembangan paru
- Stres oksidatif
- Jenis kelamin
- Umur
- Infeksi paru
- Status sosial-ekonomi
- Nutrisi
- Komorbiditas
6. Penilaian severitas gejala
Penilaian dapat dilakukan dengan kuesioner COPD Assesment
Test (CAT) yang terdiri atas 8 pertanyaan untuk mengukur
pengaruh PPOK terhadap status kesehatan pasien.
7. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
1) Sianosis sentral pada membran mukosa mungkin
ditemukan
2) Abnormalitas dinding dada yang menunjukkan
hiperinflasi paru termasuk iga yang tampak horizontal,
barrel chest (diameter antero-posterior dan transversal
sebanding) dan abdomen yang menonjol keluar
3) Hemidiafragma mendatar
4) Laju respirasi istirahat meningkat lebih dari 20 kali/menit
dan pola napas lebih dangkal
5) Pursed-lips breathing (mulut setengah terkatup
mencucu), laju ekspirasi lebih lambat memungkinkan
pengosongan paru yang lebih efisien

59
6) Penggunaan otot bantu napas adalah indikasi gangguan
pernapasan
7) Bila telah terjadi gagal jantung kanan terlihat denyut vena
jugularis di leher dan edema tungkai
b. Palpasi dan Perkusi
1) Sering tidak ditemukan kelainan pada PPOK
2) Irama jantung di apeks mungkin sulit ditemukan karena
hiperinflasi paru
3) Hiperinflasi menyebabkan hati letak rendah dan mudah di
palpasi
c. Auskultasi
1) Pasien dengan PPOK sering mengalami penurunan suara
napas tapi tidak spesifik untuk PPOK
2) Mengi selama pernapasan biasa menunjukkan
keterbatasan aliran udara. Tetapi mengi yang hanya
terdengar setelah ekspirasi paksa tidak spesifik untuk
PPOK.
3) Ronki basah kasar saat inspirasi dapat ditemukan
4) Bunyi jantung terdengar lebih keras di area xiphoideus
 Pemeriksaan Penunjang
Uji jalan 6 menit yang dimodifikasi. Untuk di Puskesmas dengan
sarana terbatas, evaluasi yang dapat digunakan adalah keluhan lelah
yang timbul atau bertambah sesak.
Pemeriksaan-pemeriksaan ini dapat dilakukan bila fasilitas tersedia :
c. Spirometri
d. Peak flow meter (arus puncak respirasi)
e. Pulse oxymetry
f. Analisis gas darah
g. Foto thorax
h. Pemeriksaan darah rutin (Hb, Ht, leukosit, trombosit)
 Diagnosis Banding
1. Bronkopneumonia
2. Pneumonia
3. TB
4. Asma
 Penatalaksanaan
a. Obat-obatan dengan tujuan mengurangi laju beratnya penyakit dan
mempertahankan keadaan stabil
b. Bronkodilator dalam bentuk oral, kombinasi golongan β2 agonis
(salbutamol) dengan golongan xantin (aminofilin dan teofilin).
Masing-masing dalam dosis suboptimal, sesuai dengan berat badan
dan beratnya penyakit. Unruk dosis pemeliharaan,
aminofilin/teofilin 100-150 mg kombinasi dengan salbutamol 1
mg.
c. Kortikosteroid digunakan dalam bentuk inhalasi, bila tersedia
d. Ekspektoran dengan obat batuk hitam (OBH)

60
e. Mukolitik (ambroxol) dapat diberikan bila sputum mukoid

Penatalaksanaan PPOK eksaserbasi


a. Oksigen
b. Bronkodilator
Pada kondisi eksaserbasi, dosis dan atau frekuensi
bronkodilator kerja pendek ditingkatkan dan dikombinasikan
dengan antikolinergik. Bronkodilator yang disarankan adalah
dalam sediaan inhalasi. Jika tidak tersedia, obat dapat diberikan
secara injeksi, subkutan, intravena, atau perdrip, misalnya:
Adrenalin 0,3 mg subkutan, digunakan dengan hati-hati.
Aminofilin bolus 5 mg/kgBB (dengan pengenceran) harus perlahan
(10 menit) untuk menghindari efek samping. Dilanjutkan dengan
perdrip 0,5-0,8 mg/kgBB/jam
c. Kortikosteroid
Diberikan dalam dosis 30 mg/hari diberikan maksimal selama
2 minggu. Pemberian selama 2 minggu tidak perlu tappering off.
d. Antibiotik
e. Pada kondisi telah terjadi ko pulmonale, dapat diberikan diuretik
dan perlu berhati-hati dalam pemberian cairan.
 Referensi :
1. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Penyakit Paru Obstruktif
Kronik. Diagnosis dan Penatalaksanaan. Jakarta. 2011.
(Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2011).

e) INFLUENZA
 Level Kompetensi : 4A
 Tanda dan Gejala
3. Anamnesis :
Keluhan yang sering muncul adalah demam, bersin, batuk, sakit
tenggorokan, hidung meler, nyeri sendi, dan badan, sakit kepala,
lemah badan.
Faktor risiko :
i. Daya tahan tubuh menurun
j. Kepadatan hunian dari kepadatan penduduk yang tinggi
k. Perubahan musim/cuaca
l. PPOK
m. Usia lanjut
4. Pemeriksaan Fisik
Tanda patognomosis
f. Febris
g. Rinore
h. Mukosa hidung edema
 Diagnosis Banding
6. Faringitis akut
7. Rhinitis vasomotor

61
8. Rhinitis alergi
9. Tonsilofaringitis
 Penatalaksanaan
c. Tatalaksana influenza umumnya tanpa obat (self limited disease).
Hal yang perlu ditingkatkan adalah adanya daya tahan tubuh.
Tindakan untuk meringankan gejala flu adalah beristirahat 2-3 hari,
mengurangi kegiatan berlebih, meningkatkan gizi makanan dengan
makanan berkalori dan protein tinggi, serta buah-buahan yang
tinggi vitamin.
d. Terapi simptomatik per oral
1) Antipiretik. Pada dewasa yaitu paracetamol 3-4x 500 mg/hari
(10-15 mg/kgBB), atau ibuprofen 3-4x 200-400 mg/hari (5-10
mg/kgBB)
2) Dekongestan, seperti pseudoefedrin 60 mg setiap 4-6 jam)
3) Antihistamin, seperti klorfeniramin 4-6 mg sebanyak 3-4
kali/hari, atau difenhidramin, 25-50 mg setiap 4-6 jam, atau
loratadin atau cetirizine 10 mg dosis tunggal (pada anak
loratadin 0,5 mg/kgBB dan cetirizine 0,3 mg/kgBB)
4) Dapat pula diberikan antitusif atau ekspektoran bila disertai
batuk
 Referensi :
1. WHO. Pedoman Interim WHO. Pencegahan dan Pengendalian
Infeksi Saluran Pernapasan Atas yang Cenderung Menjadi
Epidemi dan Pandemi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. 2007.

i. Sistem Gastrointestinal, hepatobilier, dan Pankreas


a) HEPATITIS B
 Kompetensi : 3A
 Tanda dan Gejala
1. Anamnesis
Keluhan
a) Umumnya tidak menimbulkan gejala terutama pada anak-
anak.
b) Gejala timbul apabila seseorang telah terinfeksi selama 6
minggu, antara lain:
- gangguan gastrointestinal, seperti: malaise, anoreksia,
mual dan muntah;
- gejala flu: batuk, fotofobia, sakit kepala, mialgia.
c) Gejala prodromal seperti diatas akan menghilang pada saat
timbul kuning, tetapi keluhan anoreksia, malaise, dan
kelemahan dapat menetap.
d) Ikterus didahului dengan kemunculan urin berwarna gelap.
Pruritus (biasanya ringan dan sementara) dapat timbul ketika
ikterus meningkat. Pada saat badan kuning, biasanya diikuti
oleh pembesaran hati yang diikuti oleh rasa sakit bila ditekan

62
di bagian perut kanan atas. Setelah gejala tersebut akan timbul
fase resolusi.

2. Faktor Risiko
a) Mempunyai hubungan kelamin yang tidak aman dengan orang
yang sudah terinfeksi hepatitis B.
b) Memakai jarum suntik secara bergantian terutama kepada
penyalahgunaan obat suntik.
c) Menggunakan alat-alat yang biasa melukai bersama-sama
dengan penderita hepatitis B.
d) Orang yang bekerja pada tempat-tempat yang terpapar dengan
darah manusia.
e) Orang yang pernah mendapat transfusi darah sebelum
dilakukan pemilahan terhadap donor.
f) Penderita gagal ginjal yang menjalani hemodialisis.
g) Anak yang dilahirkan oleh ibu yang menderita hepatitis B.

3. Pemeriksaan Fisik
a) Konjungtiva ikterik
b) Pembesaran dan sedikit nyeri tekan pada hati
c) Splenomegali dan limfadenopati pada 15-20% pasien

 Pemeriksaan Penunjang
1. Tes laboratorium urin (bilirubin di dalam urin)
2. Pemeriksaan darah : peningkatan kadar bilirubin dalam darah,
kadar SGOT dan SGPT ≥ 2x nilai normal tertinggi, dilakukan pada
fasilitas primer yang lebih lengkap.
3. HBsAg (di pelayanan kesehatan sekunder)

 Diagnosis Banding
1. Perlemakan hati, penyakit hati oleh karena obat atau toksin
2. Hepatitis autoimun
3. Hepatitis alkoholik
4. Obstruksi akut traktus biliaris
 Komplikasi
1. Sirosis hepar
2. Hepatoma

 Penatalaksanaan
1. Asupan kalori dan cairan yang adekuat
2. Tirah baring
3. Pengobatan simptomatik
a. Demam: Ibuprofen 2x400mg/hari.
b. Mual: antiemetik seperti Metoklopramid 3x10 mg/hari atau
Domperidon 3x10mg/hari.

63
c. Perut perih dan kembung: H2 Bloker (Simetidin 3x200
mg/hari atau Ranitidin 2x 150mg/hari) atau Proton Pump
Inhibitor (Omeprazol 1 x 20 mg/hari).
 Rencana Tindak Lanjut
Kontrol secara berkala untuk menilai hasil pengobatan.
 Kriteria Rujukan
1. Penegakan diagnosis dengan pemeriksaan penunjang laboratorium
di pelayanan kesehatan sekunder
2. Penderita hepatitis B dengan keluhan ikterik yang menetap disertai
keluhan yang lain.
 Konseling dan Edukasi
1. Memberi edukasi pada keluarga untuk ikut mendukung pasien agar
teratur minum obat karena pengobatan jangka panjang.
2. Pada fase akut, keluarga ikut menjaga asupan kalori dan cairan
yang adekuat, dan membatasi aktivitas fisik pasien.
3. Pencegahan penularan pada anggota keluarga dengan modifikasi
pola hidup untuk pencegahan transmisi dan imunisasi.
 Referensi
Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia.Panduan Praktik Klinis Bagi
Dokter Di Fasilitas Kesehatan Primer. Edisi Revisi. Jakarta. 2014.
Halaman 133-136

b) KOLESISTITIS
 Kompetensi 3B
 Tanda dan Gejala
1. Anamnesis
Kolesistitis akut:
- Demam
- Kolik perut di sebelah kanan atas atau epigastrium dan
teralihkan ke bawah angulus scapula dexter, bahu kanan atau
yang ke sisi kiri, kadang meniru nyeri angina pektoris,
berlangsung 30-60 menit tanpa peredaan, berbeda dengan
spasme yang cuma berlangsung singkat pada kolik bilier
- Serangan muncul setelah konsumsi makanan besar atau
makanan berlemak di malam hari.
- Flatulens dan mual

Kolesistitis kronik
- Gangguan pencernaan menahun
- Serangan berulang namun tidak mencolok.
- Mual, muntah dan tidak tahan makanan berlemak
- Nyeri perut yang tidak jelas disertai dengan sendawa.
2. Faktor Risiko
- Wanita
- Usia >40 tahun
- Sering mengkonsumsi makanan berlemak

64
- Adanya riwayat kolesistitis akut sebelumnya.
3. Pemeriksaan Fisik
- Ikterik bila penyebab adanya batu di saluran empedu
ekstrahepatik
- Teraba massa kandung empedu
- Nyeri tekan disertai tanda-tanda peritonitis lokal, tanda
Murphy positif
 Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium darah menunjukkan adanya leukositosis
 Diagnosis Banding
1. Angina pectoris
2. Apendisitis akut
3. Ulkus peptikum perforasi
4. Pankreatitis akut
 Komplikasi
1. Gangren atau empiema kandung empedu
2. Perforasi kandung empedu
3. Peritonitis umum
4. Abses hepar
 Penatalaksanaan
1. Tirah baring
2. Puasa
3. Pemasangan infus
4. Pemberian anti nyeri dan anti mual
5. Pemberian antibiotik:
a. Golongan penisilin: Ampisilin injeksi 500mg/6jam dan
Amoksilin 500mg/8jam IV, atau
b. Sefalosporin: Seftriakson 1 gram/ 12 jam, Sefotaksim 1
gram/8jam, atau
c. Metronidazol 500mg/8jam
 Konseling dan Edukasi
Keluarga diminta untuk mendukung pasien untuk menjalani diet rendah
lemak dan menurunkan berat badan.
 Rencana Tindak Lanjut
1. Pada pasien yang pernah mengalami serangan kolesistitis akut dan
kandung empedunya belum diangkat kemudian mengurangi
asupan lemak dan menurunkan berat badannya harus dilihat apakah
terjadi kolesistitis akut berulang.
2. Perlu dilihat ada tidak indikasi untuk dilakukan pembedahan.

 Kriteria rujukan
Pasien yang telah terdiagnosis kolesistitis dirujuk ke layanan sekunder
(spesialis penyakit dalam) sedangkan bila terdapat indikasi untuk
pembedahan pasien dirujuk pula ke spesialis bedah.
 Referensi

65
Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia.Panduan Praktik Klinis Bagi
Dokter Di Fasilitas Kesehatan Primer. Edisi Revisi. Jakarta. 2014.
Halaman 136-138

c) APENDISITIS AKUT
 Kompetensi 3 B
 Tanda dan Gejala
1. Anamnesis
Nyeri perut kanan bawah, mula-mula daerah epigastrium
kemudian menjalar ke Mc Burney. Apa bila telah terjadi inflamasi
(>6 jam) penderita dapat menunjukkan letak nyeri karena bersifat
somatik.
Gejala Klinis
- Muntah (rangsangan viseral) akibat aktivasi nervus vagus.
- Anoreksia, nausea dan vomitus yang timbul beberapa jam
sesudahnya, merupakan kelanjutan dari rasa nyeri yang timbul
saat permulaan.
- Disuria juga timbul apabila peradangan apendiks dekat
dengan vesika urinaria.
- Obstipasi sebelum datangnya rasa nyeri dan beberapa
penderita mengalami diare, timbul biasanya pada letak
apendiks pelvikal yang merangsang daerah rektum.
- Gejala lain adalah demam yang tidak terlalu tinggi, yaitu suhu
antara 37,50C - 38,50C tetapi bila suhu lebih tinggi, diduga
telah terjadi perforasi.
- Variasi lokasi anatomi apendiks akan menjelaskan keluhan
nyeri somatik yang beragam. Sebagai contoh apendiks yang
panjang dengan ujung yang mengalami inflamasi di kuadran
kiri bawah akan menyebabkan nyeri di daerah tersebut,
apendiks retrosekal akan menyebabkan nyeri flank atau
punggung, apendiks pelvikal akan menyebabkan nyeri pada
supra pubik dan apendiks retroileal bisa menyebabkan nyeri
testikuler, mungkin karena iritasi pada arteri spermatika dan
ureter.
2. Pemeriksaan Fisik
- Inspeksi
 Penderita berjalan membungkuk sambil memegangi
perutnya yang sakit
 Kembung bila terjadi perforasi
 Penonjolan perut kanan bawah terlihat pada appendikuler
abses.
- Palpasi
 Terdapat nyeri tekan Mc Burney
 Adanya rebound tenderness (nyeri lepas tekan)
 Adanya defans muscular
 Rovsing sign positif

66
 Psoas sign positif
 Obturator Sign positif
- Perkusi: Nyeri ketok (+)
- Auskultasi: Peristaltik normal, peristaltik tidak ada pada illeus
paralitik karena peritonitis generalisata akibat appendisitis
perforata.
- Colok dubur: Nyeri tekan pada jam 9-12
- Tanda Peritonitis umum (perforasi) :
1) Nyeri seluruh abdomen
2) Pekak hati hilang
3) Bising usus hilang
- Apendiks yang mengalami gangren atau perforasi lebih sering
terjadi dengan gejala-gejala sebagai berikut:
1) Gejala progresif dengan durasi lebih dari 36 jam
2) Demam tinggi lebih dari 38,5oC
3) Lekositosis (AL lebih dari 14.000)
4) Dehidrasi dan asidosis Distensi
5) Menghilangnya bising usus
6) Nyeri tekan kuadran kanan bawah
7) Rebound tenderness sign
8) Rovsing sign
9) Nyeri tekan seluruh lapangan abdominal
 Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium darah perifer lengkap
a. Pada apendisitis akut, 70-90% hasil laboratorium nilai leukosit
dan neutrofil akan meningkat.
b. Pada anak ditemuka lekositosis 11.000-14.000/mm3, dengan
pemeriksaan hitung jenis menunjukkan pergeseran ke kiri
hampir 75%.
c. Jika jumlah lekosit lebih dari 18.000/mm3 maka umumnya
sudah terjadi perforasi dan peritonitis.
d. Pemeriksaan urinalisa dapat digunakan sebagai konfirmasi dan
menyingkirkan kelainan urologi yang menyebabkan nyeri
abdomen.
e. Pengukuran kadar HCG bila dicurigai kehamilan ektopik pada
wanita usia subur.
2. Foto polos abdomen
a. Pada apendisitis akut, pemeriksaan foto polos abdomen tidak
banyak membantu..
b. Padaperadangan lebih luas dan membentuk infiltrat maka usus
pada bagian kanan bawah akan kolaps.
c. Dinding usus edematosa, keadaan seperti ini akan tampak pada
daerah kanan bawah abdomen kosong dari udara.
d. Gambaran udara seakan-akan terdorong ke pihak lain.
e. Proses peradangan pada fossa iliaka kanan akan menyebabkan
kontraksi otot sehingga timbul skoliosis ke kanan.

67
f. Bila sudah terjadi perforasi, maka pada foto abdomen tegak
akan tampak udara bebas di bawah diafragma.
g. Foto polos abdomen supine pada abses appendik kadang-
kadang memberi pola bercak udara dan air fluid level pada
posisi berdiri/LLD (dekubitus), kalsifikasi bercak rim-like
(melingkar) sekitar perifer mukokel yang asalnya dari
appendik.
 Diagnosis Banding
1. Kolesistitis akut
2. Divertikel Mackelli
3. Enteritis regional
4. Pankreatitis
5. Batu ureter
6. Cystitis
7. Kehamilan Ektopik Terganggu (KET)
8. Salpingitis akut
 Penatalaksanaan
Pasien yang telah terdiagnosis apendisitis akut harus segera dirujuk
ke layanan sekunder untuk dilakukan operasi cito.

Penatalaksanaan di pelayanan kesehatan primer sebelum dirujuk:


1. Bed rest total posisi fowler (anti Trandelenburg)
2. Pasien dengan dugaan apendisitis sebaiknya tidak diberikan
apapun melalui mulut.
3. Penderita perlu cairan intravena untuk mengoreksi jika ada
dehidrasi.
4. Pipa nasogastrik dipasang untuk mengosongkan lambung agar
mengurangi distensi abdomen dan mencegah muntah.

 Komplikasi
1. Perforasi apendiks
2. Peritonitis umum
3. Sepsis
 Kriteria Rujukan
Pasien yang telah terdiagnosis harus dirujuk ke layanan sekunder untuk
dilakukan operasi cito.
 Referensi
Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia.Panduan Praktik Klinis Bagi
Dokter Di Fasilitas Kesehatan Primer. Edisi Revisi. Jakarta. 2014.
Halaman 138-142

j. Sistem Reproduksi
a) KONDILOMA AKUMINATUM
 Kompetensi : 3A
 Tanda dan Gejala
1. Anamnesis

68
- Benjolan kecil berbentuk gerombol di kemaluan
- Pruritus anogenital
- Rasa terbakar
- Nyeri
- Tenesmus

2. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi
Diskrit , papier eritema, tampak lesi cauliflowerlike dengan
permukaan basah
b. Palpasi
Tampak benjolan berkelok-kelok , perban nyeri positif
 Pemeriksaan penunjang
a. Tes asam asetat
Bubuhkan asam asetat 5% dengan lidi kapas pada lesi yang
dicurigai. Dalam 1-5 menit lesi akan berubah warna menjadi
putih (acetowhite)
b. Kolposkopi : pencahayaan kuat
c. Tes sitologi : tes pap sme skrining ca servik dan cervical
intraepithelial neoplasia
d. Histologi
e. Serologi : IgM / IgG HPV
 Diagnosis banding
1. Veruka vulgaris
2. Karsinoma sel squamosa
3. Flat papule
4. Pigmented lesions
 Terapi
1. Krim 5-fluorourasil 1-5 %
2. Interferon alfa 5-6 IM 3x seminggu selama 6 minggu
3. Bedah listrik elektrokauterisasi
 Referensi
Djuanda A. Penyakit virus. In: Djuanda A. Hamzah M Aisah S, editors.
Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin 6TH ED. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia 2010. P 112-4

b) KETUBAN PECAH DINI (KPD)


 Kompetensi: 3A
 Tanda dan Gejala

69
1. Anamnesis
- Pasien mengeluh pengeluaran cairan dari pervaginam tanpa
bisa ditahan
- Cairan berbau yang aneh
- Cairan berwarna putih bening
2. Pemeriksaan fisik
- Inspeksi : tampak vagina terlihat lendir di rambut pubis
- Palpasi: janin mudah teraba, selaput ketuban tidak ada, dan air
ketuban kering.
 Pemeriksaan penunjang
a. Test Nitrazine: Jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru
menunjukan adanya cairan ketuban (alkalis)
b. Test Ferning / Test Pakis: Dengan meneteskan cairan ketuban pada
kertas objek dan dibiarkan kering. Pemeriksaan menunjukkan
kristal cairan amnion dan gambaran daun pakis.
c. USG : volume dari cairan ketuban tersebut apakah berkurang atau
tidak dan
d. Test penguapan: Dengan mengambil sample cairan endoservikal
yang kemudian dipanaskan sampai airnya menguap
 Diagnosis banding
1. Oligohidramnion
2. Amnioitis
3. Infeksi Vaginitisf Servicitis
4. Tanda persalinan Kala 1
 Terapi
a. Apabila belum inpartu berikan Eritromisin 4x250 mg selama 10
hari.
b. Segera rujuk pasien ke fasilitas pelayanan sekunder
c. Di RS rujukan :
11) ≥ 34 minggu : lakukan induksi persalinan dengan oksitosin bila
tidak ada kontraindikasi
12) 24-33 minggu:
 Bila terdapat amnionitis, abruptio plasenta, dan kematian
janin, lakukan persalinan segera.
 Berikan Deksametason 6 mg IM tiap 12 jam selama 48
jam atau betametason 12 mg IM tiap 24 jam selama 48
jam.
 Lakukan pemeriksaan serial untuk menilai kondisi ibu dan
janin.
 Bayi dilahirkan di usia 34 minggu, bila dapat dilakukan
pemeriksaan kematangan paru dan hasil menunjukan
bahwa paru sudah matang.
13) < 24 minggu:
 Pertimbangan dilakukan dengan melihat risiko ibu dan
janin.

70
 Lakukan konseling pada pasien. Terminasi kehamilan
mungkin menjadi pilihan.
 Jika terjadi infeksi (koroiamnionitis), lakukan tatalaksana
koriamnionitis.
 Referensi
Moelek, Farid Anfasa Prof. Dr. dr, SpOG, KFER. 2006. Standar
Pelayanan Medic Obstetric dan Ginekologi. Jakarta: Perkumpulan
Obstetric dan Ginekologi Indonesia.

c) PROLAPS UTERUS
 Kompetensi: 3A
 Tanda dan Gejala
1. Anamnesis
- Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal di vagina atau
menonjol di genitalia eksterna
- Rasa sakit di panggul atau pinggang (backache)
- Luka dan dekubitus pada porsio uteri
- Gangguan berkemih, seperti inkontinensia urin atau retensi
urin
- Kesulitan buang air besar
- Infeksi saluran kemih berulang
- Perdarahan vagina
- Rasa sakit atau nyeri ketika berhubungan seksual (dispareunia)
- Keputihan atau cairan abnormal yang keluar melalui vagina
2. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi vulva dan vagina, untuk menilai:
- Erosi atau ulserasi pada epitel vagina.
- Melihat penonjolan uterus untuk mengetahui derajat
prolapsus uteri dengan inspeksi terlebih dahulu sebelum
dimasukkan inspekulum

b. Manuver Valsava
- Derajat maksimum penurunan organ panggul dapat dilihat
dengan melakukan pemeriksaan fisik sambil meminta
pasien melakukan manuver Valsava
- Apabila tidak terlihat, pasien dapat diminta untuk
mengejan pada posisi berdiri di atas meja periksa

71
- Tes valsava dan cough stress testing (uji stres) dapat
dilakukan untuk menentukan risiko inkontinensia tipe
stres pasca operasi prolapsus.
c. Pemeriksaan vagina dengan jari untuk mengetahui kontraksi
dan kekuatan otot levator ani
d. Pemeriksaan rektovaginal Untuk memastikan adanya rektokel
yang menyertai prolapsus uteri.
 Pemeriksaan penunjang
1. Urin residu pasca berkemih
2. Skrining infeksi saluran kemih
3. Pemeriksaan urodinamik
4. Pemeriksaan Ultrasonografi
 Diagnosis banding
1. Keratinisasi mukosa vagina
2. Portio uteri Dekubitus Hipertrofi serviks
3. Elongatio kolli Ggn miksi
4. ISK
 Terapi
a. Konservatif
- Latihan dasar panggul
- Pemasangan pearium
b. Operatif
- Ventrofikasi
- Operasi manchester
- Histerektomi
- Kolpokleisis
- Rujuk spesialis kandungan
 Referensi :
Huyck KL, Panhuysen CL,Cuenco KT, et al. The impact of rase as
risk factor syntomr severity and age at diagnosis of prolaps uterine
Gynecol 2008: 168 1-9

k. Sistem Kardiovaskuler
a) FIBRILASI ATRIUM
 Kompetensi: 3A
 Tanda dan Gejala
1. Anamnesis
Spektrum presentasi klinis sangat bervariasi, mulai dari
asimtomatik hingga syok kardiogenik atau kejadian
serebrovaskular berat. Hampir >50% episode FA tidak
menyebabkan gejala (silent atrial fibrillation).
Beberapa gejala ringan yang mungkin dikeluhkan pasien antara
lain:
- Palpitasi. Umumnya diekspresikan oleh pasien sebagai:
pukulan genderang, gemuruh guntur, atau kecipak ikan di
dalam dada.

72
- Mudah lelah atau toleransi rendah terhadap aktivitas fisik
- Presinkop atau sinkop
- Kelemahan umum, pusing
Selain itu, FA juga dapat menyebabkan gangguan
hemodinamik, kardiomiopati yang diinduksi oleh takikardia, dan
tromboembolisme sistemik. Penilaian awal dari pasien dengan FA
yang baru pertama kali terdiagnosis harus berfokus pada stabilitas
hemodinamik dari pasien.
2. Pemeriksaan Fisik
- Hemodinamik dapat stabil atau tidak stabil
- Denyut nadi tidak teratur
- Denyut nadi dapat lambat, jika disertai dengan 
kelainan
irama block
- Jika hemodinamik tidak stabil dengan denyut 
yang cepat
sebagai kompensasi, maka terdapat tanda2 hipoperfusi (akral
dingin, pucat)
 Kriteria Diagnosis
1. Anamnesis
2. EKG:
- Laju ventrikel bersifat ireguler
- Tidak terdapat gelombang P yang jelas
- Digantikan oleh gelombang F yang ireguler dan acak, diikuti
oleh kompleks QRS yang ireguler pula.
- Secara umum: Laju jantung umumnya berkisar 110-
140x/menit, tetapi jarang 
melebihi 160-170x/menit.
- Dapat ditemukan denyut dengan konduksi aberan (QRS lebar)
setelah siklus interval R- R panjang-pendek (fenomena
Ashman) • Preeksitasi • Hipertrofi ventrikel kiri • Blok berkas
cabang • Tanda infark akut/lama
3. Foto toraks: Pemeriksaan foto toraks biasanya normal, tetapi
kadang-kadang dapat ditemukan bukti gagal jantung atau tanda-
tanda patologi parenkim atau vaskular paru (misalnya emboli paru,
pneumonia)
 Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium darah: Hematologi rutin, faktor koagulasi, fungsi
tiroid, HbsAg, HCV , fungsi ginjal dan elektrolit.
2. Ekokardiografi TTE untuk :
- Evaluasi penyakit jantung katup
- Evaluasi ukuran atrium, ventrikel dan 
dimensi dinding
- Estimasi fungsi ventrikel dan evaluasi 
trombus ventrikel
- Estimasi tekanan sistolik paru (hipertensi 
pulmonal)
- Evaluasi penyakit perikardial
3. Ekokardiografi transesofageal (TEE) untuk:
- Trombus atrium kiri (terutama di AAK)
- Memandu kardioversi (bila terlihat trombus, kardioversi harus
ditunda)

73
- Memandu tindakan penutupan AAK pada LAA Occluder
4. Holter:
- Diagnosis FA paroksismal, dimana pada saat presentasi, FA
tidak terekam pada EKG.
- Evaluasi dosis obat dalam kendali laju atau kendali irama.

5. Studi Elektrofisiologi:
Identifikasi mekanisme takikardia QRS lebar, aritmia
predisposisi, atau penentuan situs ablasi kuratif.
 Diagnosis Banding
1. Multifocal atrial tachycardia (MAT)

2. Frequent premature atrial contractions (PAC)
3. Atrial Flutter
 Tatalaksana
Kondisi Akut:
- Untuk Hemodinamik tidak stabil:
Kardioversi elektrik : Ekokardiografi transtorakal harus dilakukan
untuk identifikasi adanya trombus di ruang- ruang jantung. Bila
trombus tidak terlihat dengan pemeriksaan ekokardiografi trans-
torakal, maka ekokardiografi transesofagus harus dikerjakan
apabila FA diperkirakan berlangsung >48 jam sebelum dilakukan
tindakan kardioversi. Apabila tidak memungkinkan dilakukan
ekokardiografi transesofagus, dapat diberikan terapi antikoagulan
(AVK atau dabigatran) selama 3 minggu sebelumnya.
Antikoagulan dilanjutkan sampai dengan 4 minggu
pascakardioversi (target INR 2-3 apabila menggunakan AVK).
- Untuk laju denyut ventrikel dalam keadaan stabil
1. Diltiazem 0,25 mg/kgBB bolus iv dalam 10 menit, dilanjutkan
0,35 mg/kgBB iv
2. Metoprolol 2,5-5 mg iv bolus dalam 2 menit sampai 3 kali
dosis.
3. Amiodaron 5 mg/kgBB dalam satu jam pertama, dilanjutkan 1
mg/ menit dalam 6 jam, kemudian 0,5 mg/ menit dalam 18 jam
via vena besar
4. Verapamil 0,075- 0,15 mg/kgBB dalam 2 menit
5. Digoksin 0,25 mg iv setiap 2 jam sampai 1,5 mg

Kondisi stabil jangka panjang untuk kendali laju:


- Metoprolol 2x50-100 mg po
- Bisoprolol 1x5-10 mg po
- Atenolol 1x25-100 mg po
- Propanolol 3x10-40 mg po
- Carvedilol 2x3,125-25 mg po
- CCB: Verapamil 2x40 sampai 1x240 mg po (lepas lambat)
- Digoksin 1x0,125-0,5 mg po
- Amiodaron 1x100-200 mg po
- Diltiazem 3x30 sampai 1x200 mg po (lepas 
lambat)

74
 Edukasi
1. Mengenali tanda dan gejala secara mandiri
Ajarkan cara menghitung nadi, nadi ireguler, mengukur TD,
mengeluh berdebar, rasa melayang seperti mau pingsan
2. Tindakan yang harus dilakukan
Tahapan awal yang harus dilakukan ketika timbul tanda dan gejala,
seperti istirahat, mnum obat yang dianjurkan, ketika keluhan tidak
hilang harus segera ke pelayanan kesehatan terdekat
3. Tindakan lanjut/terapi definitif
Untuk menghilangkan penyakit
 Referensi
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)DAN CLINICAL PATHWAY
(CP)PENYAKIT JANTUNG DANPEMBULUH DARAH EDISI
PERTAMA. Jakarta : 2016 halaman 106-112

b) EKSTRASISTOL VENTRIKEL
 Kompetensi: 3A
 Tanda dan Gejala
1. Anamnesis
- Berdebar
- Kehilangan denyut (skip pedbeat)
- Nyeri dada
- Denyut yang tiba-tiba terasa keras
- Sesak nafas
- Dizziness
2. Pemeriksaan Fisik
Laju nadi teraba ireguler dengan adanya pause kompensatoar
 Kriteria Diagnosis
1. EKG 12 sadapan:
a. QRS lebar yang datang lebih awal, kadang 
disertai pause
kompensatoar
b. Dengan melihat morfologi kompleks QRS, 
dapat diketahui
dimana sumber ekstra sistol, misalnya :
- Morfologi sebagai LBBB, aksis inferior, 
lokasi di right
ventrikular outflow tract.
- Morfologi sebagai RBBB berasal di 
ventrikel kiri
2. EKG Holter
a. Menilai seberapa sering timbulnya ekstra sistol (arrhythmic
burden)
b. Menilai adanya takikardia
c. Kriteria VES benigna vs maligna:
- > 6 dalam 1 menit (10% dalam 24 jam)
- R on T
- Infarkmiokard
- Polimorfik

75
- Repetitif dan konsekutif (bigeminy, couplet, triplet)
3. Uji latih jantung dengan beban
a. Iskemia sebagai pencetus
b. Mencetuskan takikardia ventrikel
 Pemeriksaan Penunjang
1. EKG
2. Lab.: Elektrolit, hematologirutin, factor koagulasi, 
fungsi tiroid,
fungsi ginjal, Hbs Ag, anti HCV dan 
HIV
3. Foto rontgen toraks
4. Pemantauan Holter
5. Uji latih jantung dengan beban (TMT)
6. Ekokardiografi
7. Studi elektrofisiologi
 Diagnosis Banding
1. Ekstrasistol atrial dengan aberans
2. Artefak
 Tatalaksana
1. Asimtomatik
- Observasi
- Pada penderita dengan jantung yang normal, hanya perlu
reassurance dan tidak perlu obat- obatan.
- Pada penderita dengan penyakit jantung koroner, perlu
dilakukan disingkirkan kemungkinan iskemia, dan dinilai risiko
terjadinya VT.
2. Simtomatik:
- Farmakologis dengan beta bloker, 
nondihydropiridin calcium
channel blocker, amiodaron; atau kombinasi
- Koreksi elektrolit, terutama magnesium dan 
kalium
- Terapi definitif: ablasi radio frekuensi 
(konvensional atau 3-
dimensi)
 Edukasi
1. Edukasi mengenali tanda dan gejala secara mandiri. 
Ajarkan
cara menghitung nadi, mengukur tekanan darah, mengelah
berdebar, rasa melayang seperti akan pingsan, keringat
dingin,lemas
2. Edukasi tindakan awal yang harus dilakukan ketika timbul tanda
dan gejala, seperti: istirahat, bila keluhan tidak hilang harus segera
ke pelayanan kesehatan terdekat
3. Edukasi tindakan lanjut / terapi definitif: Radio Frekuensi Ablasi
4. Edukasi reassurance: meyakinkan pasien kondisinya tidak
berbahaya.
 Referensi
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)DAN CLINICAL PATHWAY
(CP)PENYAKIT JANTUNG DANPEMBULUH DARAH EDISI
PERTAMA. Jakarta : 2016 halaman 76-78

76
c) INSUFISIENSI VENA KRONIK TUNGKAI (IVK)
 Kompetensi: 3A
 Tanda dan Gejala
1. Anamnesis
Rasa nyeri atau pegal pada tungkai saat aktivitas atau istirahat
2. Pemeriksaan Fisik
a. Klinis
- Tidak terlihat dan teraba tanda-tanda 
penyakit vena
- Vena retikuler atau telangi ektasi
- Varises
- Edema
- Hiper pigmentasi dengan ulkus yang 
menyembuh
- Hiper pigmentasi disertai dengan ulkus yang 
aktif
b. Anatomi
- Supervisial (S) lokasi pada vena saphena
- Deep (D) lokasi pada vena femoralis, poplitea, 
tibialis
- Perforator (P) lokasi pada vena perforator
 Kriteria Diagnosis
1. Klinis
- Tidak terlihat dan teraba tanda-tanda 
penyakit vena
- Vena retikuler atau telangi ektasi
- Varises
- Edema
- Hiper pigmentasi dengan ulkus yang menyembuh
- Hiper pigmentasi disertai dengan ulkus yang aktif
2. Simptom
Nyeri saat istirahat atau aktivitas (vena claudication)
3. Etiologi
- Primer (P) tidak diketahui
- Sekunder (S) karena trombosis
4. Anatomi
- Supervisial (S) lokasi pada vena saphena
- Deep (D) lokasi pada vena femoralis, poplitea, 
tibialis
- Perforator (P) lokasi pada vena perforator
5. Patofisiologi
- Refluks (R)
- Obstruksi (O)
- Kombinasi (R-O)
 Pemeriksaan Penunjang
1. EKG
2. Lab.: Hb, Ht, Leucocyte, GDs, electrolit, ureum, 
creatinine,
HbSAg
3. Dopler arteri-vena
4. Duplex arteri
5. Phlebography

77
 Diagnosis Banding
1. Edema pada gagal jantung
2. Sindrom premenstruasi
3. Hipoalbumin
 Tatalaksana
1. Umum: stocking gradien atau bebatelastic
2. Khusus:
a. Derajat klinis (C) 0-4 simptomatis: MPPF oral 2x1 perhari
selama 6 bulan (vena retikularis atau varises dapat dilakukan
terapi sklerosing)
b. Derajat klinis (C) 5-6: MPPF 2x1 perhari, bila ulkus tak
membaik maka perlu kombinasi tindakan sklerosing / stripping/
valvuloplasti / EVLT
 Edukasi
1. Pengendalian faktor risiko

2. Pengawasan komplikasi akibat trombosis venayang dapat
mengakibatkan emboli paru
3. Pengawasan komplikasi akibat infeksi ulkus vena
 Referensi
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)DAN CLINICAL PATHWAY
(CP)PENYAKIT JANTUNG DANPEMBULUH DARAH EDISI
PERTAMA. Jakarta : 2016 halaman 282-284

78