Anda di halaman 1dari 32

TUGAS

GEOLOGI INDONESIA

PULAU SULAWESI

Dikerjakan Oleh :

KELOMPOK 4 :

- MUHAMMAD FAUZI

- RIFALDI CANDRA KUSUMA

- MUQHNY

- MUH IMRAN SYAM

PROGRAM STUDI S1 GEOLOGI

JURUSAN TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS TADULAKO

Palu – Sulawesi Tengah

2017

1
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-nya
penulis dapat meyelesaikan Makalah yang berjudul “Geologi Pulau Sulawesi”
pada Matakuliah Geologi Indonesia.
Makalah ini disusun dengan maksud agar dapat mengetahui proses geologi
terkait pulau Sulawesi.
Dalam penyusunan laporan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu sehingga dapat menyelesaikannya
dengan baik.
Penulis menyadari dalam Penulisan laporan ini, masih banyak terdapat
kekurangan. Maka dengan kerendahan hati dimohon kritik dan saran demi
kesempurnaan Laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat dan
dipergunakan sebagaimana mestinya.

Palu, Maret 2017


Penulis

Kelompok 4

2
DAFTAR ISI
Halaman

KATA PENGANTAR …………………………………….....…….

DAFTAR ISI …...…………………...………...………….

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………..

1.1 Latar Belakang …………………...………………………...

1.2 Rumusan Masalah ……………...…………………..………

1.3 Tujuan …………...…………………………………………

BAB II KONDISI GEOLOGI UMUM ……………………………..

2.1 Mandala Barat (West & North Sulawesi Volcano-Plutonic


Arc) …………………………………………………………

2.2 Mandala Tengah …………. …………………......................

2.3 Mandala Timur ……………………..………………………

2.4 Fragmen Benua Banggai-Sula Dan Tukang Besi …………

BAB III MORFOLOGI WILAYAH SULAWESI ..............................

BAB IV STRUKTUR GEOLOGI DAN TEKTONIK ……………….

4.1 Struktur Geologi ....................................................................

4.1.1 Palung Sulawesi Utara ……………………………………...

4.1.2 Sistem Sesar PAlu-Koro ……………………………………

4.1.3 Sesar Naik Batui …………………………………………....

4.1.4 Sesar NAik Poso ………………………………………….

4.1.5 Sesar Walanae …………………………….……………….

4.1.6 Pemekaran Selat Makassar …………………...……………

4.2 Tektonik Sulawesi …………………………………………

42.1 Subdaksi Tipe Cordileran Kapur …………………………..

4.2.2 Tektonik divergen Mesozoikum…………………………….

3
4.2.3 Tumbukan tipe Tethyan Neogen …………………………...

4.2.4 Tumbukan Kuarter ………………………………………….

BAB V POTENSI GEOLOGI ...........................................................

5.1 Potensi Geologi bernilai Ekonomis …………….………….

5.2 Bencana Geologi ....................................................................

BAB VI PENUTUP ..............................................................................

6.1 Kesimpulan ............................................................................

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................

4
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan Negara kepulauan yang terbentuk oleh tiga lempeng
bumi yaitu di bagian barat lempeng benua Eurasia atau biasa disebut sundaland ,
bagian Tenggara lempeng benua indo-australia dan bagian timur lempeng
samudera pasifik.
Sulawesi atau celebes terletak di bagian tengah wilayah kepulauan
Indonesia dengan luas wilayah 174.600 km² dan merupakan tempat pertemuan
tiga lempeng tersebut diatas. Pengaruh tumbukan lempeng Pasifik, Benua Asia
dan Australia terhadap Pulau Sulawesi menyebabkan bersatunya bagian barat dan
bagian timur Sulawesi sehingga terbentuk menyerupai huruf K. Karena pertemuan
tiga lempeng tersebut, pulau Sulawesi secara geologi dapat dikatakan
kompleksitas tinggi dilihat dari segi morfologi, struktur geologi, ragam jenis
batuan serta stratigrafinya, sehingga banyak menarik perhatian para ahli kebumian
untuk menelitinya.
Secara administrati pulau Sulawesi dibagi menjadi enam provinsi yaitu,
Sulawesi selatan beribukota di Makassar, Sulawesi Barat beribukota di Mamuju,
Sulawesi Tengah beribukota di Palu, Sulawesi Utara beribukota di manado,
Provinsi gorontalo beribukota di gorontalo dan Sulawesi tenggara beribukota di
Kendari.

Gambar 1.1 Zona Batas Lempeng Indonesia (Hall and Smyth, 2008)

5
1.2 Rumusan Masalah
Dari penjabaran latarbelakang diatas ditemukan beberapa permasalahan
dalam penyusunan makalah ini, diantaranya :
1. Bagaimana Kondisi Geologi (stratigrafi & umur) Sulawesi?
2. Bagaimana Morfologi Wilayah Sulawesi?
3. Bagaimana struktur geologi dan tektonik di Sulawesi?
4. Bagaimana Potensi Geologi Sulawesi?

1.3 Tujuan
Dari permasalahan yang diajukan ada beberap atujuan, antara lain :
1. Untuk mengetahui Kondisi Geologi Pulau Sulawesi ;
2. Untuk mengetahui morfologi Pulau Sulawesi ;
3. Untuk mengetahui kondisi struktur dan tektonik Pulau Sulawesi, dan
4. Untuk mengetahui potensi Geologi Pulau Sulawesi.

6
BAB II
KONDISI GEOLOGI UMUM
Berdasarkan struktur litotektonik, Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya
dibagi menjadi empat, yaitu; Mandala barat (West & North Sulawesi Volcano-
Plutonic Arc) sebagai jalur magmatik yang merupakan bagian ujung timur
Paparan Sunda, Mandala tengah (Central Sulawesi Metamorphic Belt) berupa
batuan malihan yang ditumpangi batuan bancuh sebagai bagian dari blok
Australia, Mandala timur (East Sulawesi Ophiolite Belt) berupa ofiolit yang
merupakan segmen dari kerak samudera berimbrikasi dan batuan sedimen
berumur Trias-Miosen dan yang keempat adalah Fragmen Benua Banggai-Sula-
Tukang Besi, kepulauan paling timur dan tenggara Sulawesi yang merupakan
pecahan benua yang berpindah ke arah barat karena strike-slip faults dari New
Guinea

Gambar 2.1 Peta Geologi Sulawesi (Hall and Wilson, 2000)

7
2.1 Mandala Barat (West & North Sulawesi Volcano-Plutonic Arc)

Mandala barat memanjang dari lengan utara sampai dengan lengan selatan
pulau Sulawesi. Secara umum busur ini terdiri dari batuan volkanik-plutonik
berusia Paleogen-Kuarter dengan batuan sedimen berusia mesozoikum-tersier dan
batuan malihan. Van Leeuwen (1994) menyebutkan bahwa mandala barat sebagai
busur magmatik dapat dibedakan menjadi dua, yaitu bagian utara dan barat.
Bagian utara memanjang dari Buol sampai sekitar Manado, dan bagian barat dari
Buol sampai sekitar Makassar. Batuan bagian utara bersifat riodasitik sampai
andesitik, terbentuk pada Miosen - Resen dengan batuan dasar basaltik yang
terbentuk pada Eosen - Oligosen. Busur magmatik bagian barat mempunyai
batuan penyusun lebih bersifat kontinen yang terdiri atas batuan gunung api -
sedimen berumur Mesozoikum - Kuarter dan batuan malihan berumur Kapur.
Batuan tersebut diterobos granitoid bersusunan terutama granodioritik sampai
granitik yang berupa batolit, stok, dan retas.

2.1.1 Mandala Barat Bagin Utara

Geologi daerah Sulawesi Utara didominasi oleh batugamping sebagai


satuan pembentuk cekungan sedimen Ratatotok. Satuan batuan lainnya adalah
kelompok breksi dan batupasir, terdiri dari breksi-konglomerat kasar, berselingan
dengan batupasir halus-kasar, batu lanau dan batu lempung yang didapatkan di
daerah Ratatotok – Basaan, serta breksi andesit piroksen. Kelompok Tuf Tondano
berumur Pliosen terdiri dari fragmen batuan volkanik kasar andesitan
mengandung pecahan batu apung, tuf, dan breksi ignimbrit, serta lava andesit-
trakit. Batuan Kuarter terdiri dari kelompok Batuan Gunung api Muda terdiri atas
lava andesit-basal, bom, lapili dan abu. Kelompok batuan termuda terdiri dari
batugamping terumbu koral, endapan danau dan sungai serta endapan aluvium.
Adapun sirtu atau batu kali banyak terdapat di daerah sungai Buyat yang
diusahakan oleh penduduk setempat sebagai bahan pondasi bangunan.

8
Gambar 2.2. Peta Geologi Manado dan Minahasa, Sulawesi Utara

Daerah Gorontalo merupakan bagian dari lajur volkano-plutonik Sulawesi


Utara yang dikuasai oleh batuan gunung api Eosen - Pliosen dan batuan terobosan.
Pembentukan batuan gunung api dan sedimen di daerah penelitian berlangsung
relatif menerus sejak Eosen – Miosen Awal sampai Kuarter, dengan lingkungan
laut dalam sampai darat, atau merupakan suatu runtunan regresif. Pada batuan
gunung api umumnya dijumpai selingan batuan sedimen, dan sebaliknya pada
satuan batuan sedimen dijumpai selingan batuan gunung api, sehingga kedua
batuan tersebut menunjukkan hubungan superposisi yang jelas. Fasies gunung api
Formasi Tinombo diduga merupakan batuan ofiolit, sedangkan batuan gunung api
yang lebih muda merupakan batuan busur kepulauan.

9
Gambar 2.3. Peta Geologi Gorontalo

Geologi umum daerah Kabupaten Boalemo dan Gorontalo disusun oleh


batuan dengan urutan stratigrafi sebagai berikut :
• Batuan beku berupa : Gabro, Diorit, granodiorit, granit, dasit dan
munzonit kwarsa.
• Batuan piroklastik berupa : lava basalt, lava andesit, tuf, tuf lapili dan
breksi gunungapi.
• Batuan sedimen berupa : batupasir wake, batulanau, batupasir hijau
dengan sisipan batugamping merah, batugamping klastik dan
batugamping terumbu. Endapan Danau, Sungai Tua dan endapan
alluvial.

10
2.1.2 Mandala Barat Bagin Barat

Geologi daerah bagian timur dan barat Sulawesi Selatan pada dasarnya
berbeda, dimana kedua daerah ini dipisahkan oleh sesar Walanae. Di masa
Mesozoikum, basement yang kompleks berada di dua daerah, yaitu di bagian barat
Sulawesi Selatan dekat Bantimala dan di daerah Barru yang terdiri dari batuan
metamorf, ultramafik dan sedimen.

Gambar 2.4. Peta Geologi Sulawesi Selatan (Suyono dan Kusnama, 2010

Batuan vulkanik berumur Paleosen terdapat di bagian timur daerah


Sulawesi Selatan dan tidak selaras dengan formasi Balangbaru. Di daerah
Bantimala batuan vulkanik ini disebut Bua dan di daerah Biru disebut Langi.
Formasi ini terdiri dari lava dan endapan piroklastik andesit dengan komposisi
trachy-andesit dengan sisipan limestone dan shale (van Leeuwen, 1981). Sifat
calc-alkali dan unsur tanah tertentu menunjukkan bahwa batuan vulkanik
merupakan hasil subduksi dari arah barat (van Leeuwen, 1981).

11
Formasi Malawa terdiri dari arkosic, sandstone, siltstone, claystone, napal
dan konglomerat diselingi dengan lapisan batubara dan limestone. Formasi
limestone Tonasa selaras Formasi Malawa atau batuan vulkanik Langi. Formasi
Tonasa berumur Eosen sampai dengan pertengahan Miosen (Van Leeuwen, 1981).
Formasi Malawa dan formasi Tonasa tersebar luas di bagian barat Sulawesi
Selatan.

Formasi Salo Kalupang yang sekarang terletak di sebelah timur Sulawesi


Selatan terdiri dari sandstone, shale dan claystone interbedded dengan batuan
vulkanik konglomerat, breksi, tufa, limestone dan napal. Berdasarkan teknik
foraminifera dating, usia formasi Salo Kalupang diyakini berkisar awal Eosen
sampai dengan akhir Oligosen.
Formasi Kalamiseng tersingkap di sebelah timur sesar Walanae, yang
terdiri dari breksi vulkanik dan lava dalam bentuk pillow lava ataupun massive
flows yang ber-interbedded dengan tufa, batupasir dan napal. Pegunungan Bone
ditafsirkan sebagai bagian dari ophiolit berdasarkan anomali high gravity dan
MORB, dimana formasi Bone diduga terdiri dari wackestone bioklastika dan
butiran packstones foraminifera planktonik.
Bagian teratas formasi Camba yaitu batuan vulkanik Camba yang terletak
di bagian barat, terdiri dari breksi vulkanik dan konglomerat, lava dan tuf
interbedded dengan marine sedimen. Foraminifera dating menduga batuan
vulkanik Camba beumur akhir Miosen. Batuan vulkanik Parepare adalah sisa-sisa
gunung strato-volcano yang terdiri aliran lava dan breksi piroklastik berumur
akhir Miosen.
Formasi Walanae diperkirakan berumur pertengahan Miosen sampai
dengan Pliosen. Di bagian Timur Sengkang Basin, pembentukan Walanae dapat
dibagi menjadi dua interval, yaitu interval yang lebih rendah yang terdiri dari
batuan mudstone yang berumur calcareous dan interval yang bagian atas yang
lebih arenaceous. Batu gamping (Limestone) di ujung selatan daerah Sulawesi
Selatan dan yang berada di Pulau Selayar yang disebut selayar limestone,
merupakan bagian formasi Walanae. Batuan selayar limestone terdiri dari coral

12
limestone, calcarenite dengan sisipan napal dan sandstone. Unit karbonat ini
diperkirakan berumur Miosen sampai dengan Pliosen. Hubungan formasi Walanae
dan Selayar limestone terdapat di Pulau Selayar. Terrace, aluvial, endapan danau
dan endapan pantai terjadi secara lokal di Sulawesi Selatan, dimana pengangkatan
Sulawesi Selatan ditandai dengan terangkatnya deposit terumbu karang (van
Leeuwen 1981).

Gambar 2.5 Peta Geologi Sulawesi Barat

13
2.2 Mandala Tengah

Gambar 2.6 Peta Geologi Sulawesi Tengah

Batuan magmatik potassic calc-alkaline berusia akhir Miosen di Sulawesi


Tengah terdapat di bagian kiri bentangan zona sesar Palu-Koro, dimana batuan
granit di wilayah tersebut berkorelasi dengan subduksi microcontinent Banggai-
Sula dengan Pulau Sulawesi pada pertengahan Miosen. Batuan granit berumur
Neogen tersebut dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok dari yang paling
tua sampai dengan yang termuda, yaitu ;
- Bantalan granit yang kasar (Granitoid-C) yang terdistribusi di bagian
utara dan selatan wilayah Palu-Koro
- batuan granit medium mylonitic-gneissic (Granitoid-B) yang relatif
terdapat di daerah pusat (sekitar Palu-Kulawi) berupa medium grained
granitoids yang kadang-kadang mengandung xenoliths.
- Fine and biotite-poor granitoid (Granitoid-A) kelompok batuan
termuda yang tersebar di daerah Palu-Koro, yang nampak sebagai dyke
kecil hasil potongan dari granit lain. Batuan tersebut berwarna putih
bersih mengandung sejumlah biotit.

14
2.3 Mandala Timur

Batuan kompleks ofiolit dan sedimen pelagis di Lengan Timur dan


Tenggara Sulawesi dinamakan Sabuk Ofiolit Sulawesi Timur. Sabuk ini terdiri
atas batuan-batuan mafik dan ultramafik disertai batuan sedimen pelagis dan
melange di beberapa tempat. Batuan ultramafik dominan di Lengan Tenggara,
tetapi batuan mafiknya dominan lebih jauh ke utara, terutama di sepanjang pantai
utara Lengan Tenggara Sulawesi. Sekuens ofiolit yang lengkap terdapat di Lengan
Timur, meliputi batuan mafik dan ultramafik, pillow lava dan batuan sedimen
pelagis yang didominasi limestone laut dalam serta interkalasi rijang berlapis.
Berdasarkan data geokimia sabuk Ofiolit Sulawesi Timur ini diperkirakan berasal
dari mid-oceanic ridge (Surono, 1995).
Batuan dasar metamorf tingkat rendah membentuk komponen utama
lengan Tenggara Sulawesi. Batuan metamorf tua terkait dengan proses
penguburan, sedangkan batuan metamorf muda disebabkan oleh patahan dalam
skala besar ketika continental terrain Sulawesi Tenggara bertabrakan dengan
sabuk ofiolit, Batuan metamorf ini diterobos oleh aplite dan ditindih oleh lava
kuarsa-latite terutama di sepanjang pantai barat Teluk Bone.
Di daerah Kendari, batuan dasar secara tidak selaras ditindih oleh formasi
Meluhu berumur Triassic, yang terdiri dari sandstone, shale dan mudstone.
Formasi Meluhu disusun oleh 3 kelompok wilayah, yaitu; wilayah Toronipa
merupakan kelompok yang paling tua, kemudian Watutaluboto dan Tuetue yang
merupakan kelompok termuda. Wilayah Toronipa terdiri dari endapan sungai
meandering dan didominasi oleh sandstone diselingi batuan sandstone
konglomerat, mudstone dan shale. Wilayah Watutaluboto adalah pengendapan
tidal-delta yang didominasi oleh mudstone dengan sisipan lapisan tipis sandstone
dan batuan konglomerat. Wilayah Tuetue terdiri dari mudstone dan sandstone
yang naik ke atas laut dangkal marjinal, napal dan limestone. Sandstone di
wilayah Toronipa terdiri dari litharenite, sublitharenite dan quartzarenite berasal
dari daur ulang sumber orogen.
Deretan sedimen klastik formasi Tinala di dataran Matarombeo ditindih
oleh butiran halus sedimen klastik formasi Masiku dan sedimen yang kaya

15
karbonat formasi Tetambah. Bagian atas formasi Tetambahu mengandung cherty
limestone dan chert nodul yang kaya radiolarians. Radiolames mengindikasikan
usia Jurassic sampai dengan awal Cretaceous. Formasi Tokala di daratan Siombok
dan Banggai-Sula yang berada di lengan timur Sulawesi, terdiri dari limestone dan
napal dengan sisipan shale dan chert (rijang) beumur akhir Triassic.
Deretan limestone berumur Paleogen dari formasi Tampakura (400m
tebal) menimpa formasi Meluhu (akhir Eosen Akhir sampai dengan awal
Oligosen) di SSCT (Sulawesi Tenggara Continental Terrane). Formasi ini terdiri
atas ophiolite, lime mudstone, wackestone dan locally packstone, grainstone dan
framestone. Pada bagian terendah dari formasi, ada strata klastik terdiri dari
mudstone, sandstone dan batuan konglomerat.
Formasi Tampakura dan Tamborasi ataupun juga formasi Lerea di
Matarombeo diendapkan pada satu laut dangkal yang mengelilingi sebuah pulau
dengan komposisi basement metamorf dan granit dan sisipan sedimen klastik
berumur Mesozoikum mencakup formasi Meluhu , Tinala dan Tetambahu. Unit
ekuivalen di daratan Banggai-Sula termasuk limestone berumur Eosen-Oligosen
formasi Salodik yang berhubungan dengan napal dalam Formasi Poh.
Formasi batuan tertua pada masa Triassic disebut formasi Tokala. Formasi
ini terdiri dari batuan limestone dan napal dengan sisipan shale dan cherts (rijang),
yang diendapkan di laut dalam. Fasies batuan lain pada usia yang sama yang
diendapkan di laut dangkal dibentuk oleh formasi Bunta yang terdiri dari butiran
halus sedimen klastik seperti batu tulis, metasandstone, silt, phyllite dan schist.
Formasi Tokala dan Bunta yang tidak selaras ditindih oleh formasi Nanaka yang
terdiri dari butiran kasar sedimen klastik seperti batuan konglomerat, batupasir
dengan sisipan silts dan batubara. Di antara fragmen dalam batuan konglomerat
ditemukan granit merah, batu metamorfik dan chert (rijang) yang diperkirakan
berasal dari mikrokontinen Banggai-sula (Simandjuntak, 1986). Umur formasi ini
dianggap kurang dari pertengahan masa Jurassic dan terbentuk di lingkungan
paralik. Selaras dengan hal itu formasi Nanaka bertemu formasi Nambo di
pertengahan massa Jurassic. Unit laut dalam ini terdiri dari sedimen klastik napal
berpasir dan napal yang mengandung belemnite dan Inoceramus.
Formasi Matano di akhir masa Jurassic sampai dengan akhir masa

16
Cretaceous terdiri dari sandstone dengan sisipan chert (rijang), napal dan silt.
Tidak selaras dengan hal itu, formasi Nambo ketemu formasi Salodik dan Poh
pada masa Eocene sampai dengan Upper Miocene. Formasi Salodik terdiri dari
batuan limestone dengan sisipan napal dan sandstone yang mengandung fragmen
kuarsa. Kelimpahan karang, alga dan foraminifera besar yang ditemukan dalam
formasi ini mengindikasikan bahwa formasi ini terbentuk di lingkungan laut
dangkal.
Formasi poh terdiri dari napal dan batugampir dengan sisipan batupasir
(oligosen sampai pertengahan miosen). Dataran Sulawesi Molasse yang dulunya
terdiri dari wilayah Tomata, bongka, Bia, Poso, Puna dan formasi Lonsio (Surono,
1998) adalah dataran yang berumur pertengahan Miosen sampai dengan Pliosen.
Dataran ini mengandung batuan konglomerat, sandstone, silt, napal dan limestone
yang diendapkan dalam paralik untuk fasies laut dangkal. Area ini terbentang
tidak selaras dengan formasi Salodik dan Poh serta kompleks ofiolit.
Pada masa pertengahan Miosen sampai dengan akhir Pliosen, area vulkanik
Bualemo bersatu dengan formasi Lonsio yang berada pada dataran Sulawesi
Molasse, terdiri dari pillow lava dan batuan vulkanik. Adapun daerah Sulawesi
Molasse itu adalah formasi Luwuk di masa Pleistosen, yang terdiri dari terumbu
karang limestone dengan sisipan napal di bagian bawahnya.

17
Gambar 2.7 Peta Geologi Mandala Timur Sulawesi

2.4 Fragmen Benua Banggai-Sula dan Tukang Besi

Batuan metamorfik didistribusikan secara luas di bagian timur Sulawesi


Tengah, lengan tenggara Sulawesi dan Pulau Kabaena. Di daerah Buton, batuan
metamorf diterobos batuan granit di masa Permo-Triassic. Di Sulawesi Tenggara,
Banggai-Sula dan Buton, Microcontinents batuan metamorf membentuk basement
cekungan Mesozoikum. Batuan ini ditindih secara tidak selaras oleh satuan dan
batuan silisiklastik di wilayah Sulawesi Tenggara dan Microcontinents Banggai-
Sula. Batuan limestone berumur Paleogen ditemukan pada semua
microcontinents. Pada akhir Oligosen sampai dengan pertengahan Miosen, satu
atau lebih microcontinent Indo-Australia bergerak ke arah barat bertabrakan
dengan kompleks ofiolit Sulawesi timur dan tenggara. Tabrakan ini menghasilkan
melange dan imbrikasi zona busur kepulauan Mesozoikum dan strata sedimen

18
Paleogen dari microcontinents, dengan irisan patahan ofiolit. Selama tumbukan,
cekungan sedimen lokal terbentuk di Sulawesi, dimana setelah tumbukan,
cekungan menjadi lebih lebar di sepanjang Sulawesi. Sedimentasi di lengan
Tenggara Sulawesi dimulai lebih awal pada awal Miosen dibandingkan dengan
lengan Timur yang nanti di akhir Miosen. Kedua deretan ini biasanya disebut
sebagai Sulawesi Molasse yang terdiri deretan major sediment klastik dan deretan
minor batu karang limestone. Sebagian besar area Sulawesi Molasse diendapkan
di laut dangkal tetapi di beberapa tempat diendapkan di dalam sungai ke
lingkungan transisi (Sukamto dan Simandjuntak, 1981).

Gambar 2.8 Peta Geologi Banggai-Sula

19
BAB III
MORFOLOGI WILAYAH SULAWESI

Profesor John A. Katili, ahli geologi Indonesia yang merumuskan


geomorfologi Pulau Sulawesi bahwa terjadinya Sulawesi akibat tabrakan dua
pulau (Sulawesi bagian Timur dan Sulawesi bagian Barat) antara 19 sampai 13
juta tahun yang lalu, terdorong oleh tabrakan antara lempeng benua yang
merupakan fundasi Sulawesi Timur bersama Pulau-Pulau Banggai dan Sula, yang
pada gilirannya merupakan bagian dari lempeng Australia, dengan Sulawesi Barat
yang selempeng dengan pulau-pulau Kalimantan, Jawa dan Sumatra, Sulawesi
menjadi salah satu wilayah geologis paling rumit di dunia.

Perbedaan geomorfologi kedua pulau yang bertabrakan secara dahsyat itu


menciptakan topografi yang bergulung gulung, di mana satu barisan gunung
segera diikuti barisan gunung lain, yang tiba-tiba dipotong secara hampir tegak
lurus oleh barisan gunung lain. Kurang lebih seperti kalau taplak meja disorong
dari beberapa sudut dan arah sekaligus.Makanya jarang kita bisa mendapatkan
pemandangan seperti di Jawa, Sumatera, atau Kalimantan, di mana gununggunung
seperti kerucut dikelilingi areal persawahan atau hutan sejauh mata memandang.
Kecuali di Sulawesi Selatan (itupun di selatan Kabupaten Enrekang), kita sulit
menemukan hamparan tanah pertanian yang rata.

Sederhananya, Sulawesi adalah pulau gunung, lembah, dan danau,


sementara dataran yang subur, umumnya terdapat di sekeliling danau-danau yang
bertaburan di keempat lengan pulau Sulawesi. Ekologi yang demikian ikut
menimbulkan begitu banyak kelompok etno-linguistik. Setiap kali satu kelompok
menyempal dari kelompok induknya dan berpindah menempati sebuah lembah
atau dataran tinggi di seputar danau, kelompok itu terpisah oleh suatu benteng
alam dari kelompok induknya, dan lewat waktu puluhan atau ratusan tahun,
mengembangkan bahasa sendiri. Geomorfologi yang khas ini menyebabkan
pinggang Sulawesi Tana Luwu dan Tana Toraja di provinsi Sulawesi Selatan,
bagian selatan Kabupaten Morowali, Poso, dan Donggala di provinsi Sulawesi

20
Tengah, dan bagian pegunungan provinsi Sulawesi Barat sangat kaya dengan
berbagai jenis bahan galian. Batubara terdapat di sekitar Enrekang, Makale, dan
Sungai Karama.Sulawesi Barat sebelah utara, terdapat tambang batubara dan
banyak jenis logam tersebar di berbagai pelosok Sulawesi.Tembaga dan nikel
terdapat di sekitar Danau-Danau Matano, Mahalona dan Towuti.Bijih besi
bercampur nikel, yang diduga berasal dari meteor, memungkinkan lahirnya pandai
besi di lembah-lembah Rampi, Seko dan Rompong di hulu Sungai Kalaena (Luwu
Utara) dan di Ussu, dekat Malili (Luwu Timur).

Gambar 2.1 Peta Geomorfologi Sulawesi

21
BAB IV
STRUKTUR GEOLOGI & TEKTONIK SULAWESI

Pulau Sulawesi merupakan kawasan pertemuan tiga lempeng yang saling


betumbukan. Akibatnya pulau ini mempunyai struktur geologi yang rumit dan ada
beberapa masih dalam keadaan aktif. Struktur yang terbentuk di Sulawesi meliputi
sesar, lipatan, penunjaman dan pemekaran lantai samudera.

Gambar 4.1 struktur Gologi Sulawesi

4.1 Struktur Geologi


Struktur geologi yang berkembang di Sulawesi antara lain palung
Sulawesi utara, sesar Palu-Koro, sesar naik poso, sesar naik batui, sesar walanae
dan pemekaran lantai selat Makassar.

22
4.1.1 Palung Sulawesi Utara
Memanjang dari arah barat hingga timur dan merupakan zona penunjaman
tempat kerak laut Sulawesi menunjam dibawah lengan utara Sulawesi mulai dari
paleogen sampai neogen, dan hasil analisa seismologi menunjukkan bahwa
aktivitas palung Sulawesi utara ini sudah menyusut. Namun pada bagian timur
dan lengan utara menunjukkan gejala yang aktif ditandai dengan aktivitas
vulkanisme.

4.1.2 Sistem Sesar Palu-Koro


Terbentang mulai dari ujung utara selat Makassar, melalui kota Palu
sampai pada Teluk Bone. Hasil Penelitian Survey Geologi menunjukkan bahwa
sistem sesar ini berhubungan dengan sesar Matano dan sesar Walanopo.
Menurut Van Bemmelen (1970) dan Katili (1978) bahwa bagian utara
sesar ini didominasi oleh gerakan vertikal, sedangankan bagian selatannya oleh
gerakan horizontal mengiri. Walaupun sistem sesar ini didominasi oleh gerakan
horizontal mengiri, namun terbentuk juga tinggian dan rendahan secara setempat.
Bentuk rendahan berupa cekungan dan dapat dikenali sebagai lembah palu salah
satunya.
4.1.3 Sesar Naik Batui
Merupakan hasil tumbukan antara kepingan Benua Bangai-Sula dengan
Lajur Ofiolit Sulawesi Timur dan menyebabkan kepingan benua tersebut naik
terhadap jalur ofiolit. Sesar ini terbentang mulai dari ujung lengan Timur Sulawesi
sampai Teluk Tolo dan bertemu dengan sesar menui atau perpanjangan sesar
matano.
Sesar ini telah aktif kembali berdasarkan rekaman seismik (McCaffrey
dkk., 1983; Kertapi dkk, 1992). Ditandai dengan terjadinya pengankatan paling
tidak tiga kali pada endapan teras terumbu koral kuarter yang tersebar mulai dari
batui sampai ujung lengan Sulawesi.

23
4.1.4 Sesar Naik Poso
Memanjang utara-selatah dari Tanjung Peindilisadi Teluk tomini sampai
Masamba di Pantai utara Teluk Bone (Sukamto, 1975; Simandjuntak dkk., 1993)
memisahkan lajur malihan Sulawesi tengah di bagian timur dengan Lajur
Vulkanik Sulawesi Barat di Barat.
Berdasarkan hasil rekaman seismik, Kertapati dkk (1992) menduga saat ini
sesar naik poso dalam keadaan tidak aktif. Namun, gempa yang terjadi di bagian
barat Teluk Tomini beberapa waktu lalu memungkinkan bahwa ujung utara sesar
tersebut telah aktif kembali (Darman Sidi, 2000)

4.1.5 Sesar Walanae


Berarah hampir utara-selatan, termula dari Lengan selatan Sulawesi dan
memotong Pulau Selayar (Sukamto 1975). Bahkan sesar ini menerus kea rah
selatan sampai ke Sesar Naik Flores di utara Pulau Flores, menurut Darman &
Sidi (2000).

4.1.6 Pemekaran Selat Makassar


Diduga terbentuk karena adanya pemekaran bearah hampir utara-selatan di
selat Makassar (Katili, 1978). Beberapa penulis mmenduga pemekaran ini terjadi
mulai neogen yang ditandai dengan kemiripan batuan dasar berumur kapur dan
runtuhan sedimen penutupnya berumur eosin-oligosen (Hamilton 1974) di
Kalimanta bagia selatan, timur dan lengan Selatan Sulawesi bagian Barat.

4.2 Tektonik Sulawesi


Pulau Sulawesi yang khas dengan bentuknya yang menyerupai “K”
mencermikan bahwa telah terjadi kompleksitas tektonik. Berdasarkan data geologi
dan geofisika (Simandjuntak 1993 dalam Darman & Sidi 2000) menyatakan
bahwa pulau Sulawesi dan sekitarnya telah mengalami empat kali kegiatan
tektonik, yaitu :

24
4.2.1 Subdaksi Tipe Cordileran Kapur
Dicirakan oleh zona Beniof yang miring kearah barat di bagian barat
Sulawesi. Subdaksi ini mengakibatkan proto-laut banda menunjam di bawah tepi
timur Paparan Sunda. Subdaksi ini juga ditandai oleh batuan malihan berderajat
rendah berumur Kapur Akhir. Di Sulawesi tengah terbentuk batuan campur aduk
(mélange) berumur Kapur-Pleogen, dan lajur Gunung Api Sulawesi Barat. Batuan
endapan turbidit laut dalam di Sulawesi Barat berumur kapur, diperkirakan
merupakan endapan sepanjang palung.

4.2.2 Tektonik divergen Mesozoikum


Tektonik divergen pada Mesozoikum terjadi akibat pemekaran tepi utara
benua Australia. Pemekaran ini mengakibatkan beberapa kepingan benua terpisah
dari asalnya dan kemudian bergerak kearah utara-utara barat yang sekarang
tersebar di kawasan laut banda. Garrad dkk (1988) menduga proses pemisahan
inni terjadi sejak jura. Beberapa penulis (Siamndjuntak, 1986: 1993: Garrad dkk.,
1988: Darman & Sidi, 2000) menduga pergerakan kepingan benua tersebut
melalui sesar sorong.

4.2.3 Tumbukan tipe Tethyan Neogen


Sebagian kepingan benua tersebut berumbukan dengan kompleks subdaksi
kapur dan ofolit di Sulawesi dan daerah sekitarnya pada neogen. Pada kawasan ini
di jumpai di antaranya kepingan Banggai-Sula, Kepingan Sulawesi tenggara,
Paparan Buton dan Tukangbesi. Pada tumbukan tipe tethyan ini kepingan benua
menyusup di bawah ofiolit dan kompleks subduksi (Darman & Sidi 2000).
Simandjuntak (1986) menenmukan batuan campur aduk (mélange) sepanjang
Sesar naik Batui, di lengan Timur Sulawesi. Akhir dari tumbukan Neogen ini
mengakibatkan Lajur Ofiolit Sulawesi Timur naik ke atas tepi beberapa kepingan
benua.

25
4.2.4 Tumbukan Kuarter
Pada waktu ini kawasan Sulawesi dan daerah sekitarnya menunjukkan
adanya tektonik aktif, yaitu :
- Lajur subduksi di utara Lengan Utara Sulawesi, tempat lempeng laut
Sulawesi menunjam masuk di bawah lengan utara Sulawesi. Lejur
subduksi inii berhubungan dengan sesar geser mengiri aktif Palu-Koro,
Matano dan Lawanopo
- Jalur gunungapi aktif mulai ujung utara Lengan Utara sampai Sangie yang
diakibatkan oleh subduksi ganda di utara Sulawesi pada Neogen,
kemudian diaktifkan kembali pada kuarter.
- Pergerakan ke barat Kepingan Benua Bangga-Sula menyebabkan Lajur
Ofiolit Sulawesi Utara tersesa-naikkan di atas kepingan itu.
- Teras batugamping terumbu yang memanjang di Batui sampai ujung utara
Lengan Utara.

Gambar 4.2 Tatanan tektonik Sulawesi

26
BAB V
POTENSI GEOLOGI

Adanya potensi geologi di suatu wilayah, sangat berkaitan erat dengan


aktifitas geologi yang telah terjadi di wilayah tersebut. Khusunya Sulawesi,
pembentukannya tidak terlepas dari aktifitas tektonik dan vulkanik yang
mengontrol potensi geologi yang terbentuk. Baik berupa potensi geologi yang
berinilai ekonomis maupun bencana geologi.

5.1 Potensi Geologi yang bernilai Ekonomis

Adanya empat mandala di Sulawesi, dicirikan dengan karakteristik bahan


galian yang terbentuk di setiap mandala.

27
- Punggungan madala barat Sulawesi merupakan rangkaian dari busur
volkanik (Arc Volcanic rock), yang merupakan daerah mineralisasi yang
berkaitan dengan unsur logam seperti emas, tembaga, besi, dll
- Mandala Tengah Sulawesi terdiri dari kompleks metamorf. Batuan
metamorf mengidentifikasi potensi batu permata (Gamestone).
- Mandala Timur Sulawesi berupa ofiolit merupakan segmen dari kerak
samudera yang membawa batuan ultrabasa. Menghasilkan biji besi dan
nikel laterit serta krom.
- Wilayah Banggai-Sula adalah fragmen dari kerak benua dan secara litologi
merupakan wilayah dengan sebaran granit yang relatif luas. Dari aspek
tampilan, batuan ini berpotensi sebagai bahan ornament dan bahan untuk
lantai.

5.2 Bencana Geologi

Letak Pulau Sulawesi dalam tatanan tektonik global berada pada daerah
pertemuan tiga lempeng bumi yang saling berinteraksi satu sama lain dan
merupakan zona gesekan/suture antara lempeng makro Indonesia barat dengan
lempeng mikro Indonesia timur. Kondisi inilah yang menyebabkan Sulawesi
sangat potensial terhadap bencana alam geologi terutama gempa dan tsunami.
Pulau Sulawesi, walaupun merupakan lempeng mikro yang sifat
gempanya lebih kecil dibanding Indonesia barat (lempeng makro), namun
sebenarnya Pulau Sulawesi tersebut diapit oleh lempeng – lempeng besar seperti
lempeng Australia, Pasifik, Asia dan Laut Sulawesi, sehingga ancaman akan
bencana gempa dan tsunami tetap berpotensi besar.

a. Gempabumi
Jenis gempa yang terjadi di kawasan Sulawesi berupa gempa tektonik dan
hanya pada daerah utara (Manado dan sekitarnya ) sebagai busur gunungapi
aktif dapat terjadi gempa gunungapi. Lokasi – lokasi atau titik gempa pada
umumnya bergenerasi pada daerah persinggungan dan perpotongan patahan
atau daerah tumbukan lempeng, dimana pada daerah ini lempeng – lempeng

28
bumi saling berinteraksi dan saling menghalang – halangi laju pergerakannya
sehingga dapat menampung dan melepaskan energi dalam bentuk gempa
bumi.
Berdasarkan hal tersebut diatas maka daerah yang berpotensi terjadi
gempa adalah sepanjang jalur patahan Walanae. Patahan Palu-Koro, Matano-
Lawanoppo, Kolaka-Teluk Bone, Paternoster Selat Makassar dan sekitarnya,
Gorontalo dan Manado serta jalur patahan Batui-Balantak-Sorong.

b. Tsunami
Pulau Sulawesi yang terletak pada gugusan lempeng – lempeng mikro
akan mengalami tsunami tidak sebesar wilayah Indonesia barat yang sifatnya
lempeng makro, namun yang perlu diwaspadai adalah dampak pergerakan
lempeng makro Australia dari selatan dan Pasifik dari timur dapat
menghasilkan tsunami lebih besar
Beberapa lokasi gempa di kawasan Laut Sulawesi yang berpotensi
terjadinya tsunami dengan topografi dasar laut – pantai yang curam seperti
daerah Majene – Mamuju akibat pengaruh gempa yang terjadi di daerah
perpotongan patahan Paternoster dengan patahan naik Selat Makassar, daerah
Palu hingga Toli-toli oleh perpotongan patahan Palu-Koro dengan patahan
naik Selat Makassar, Gorontalo oleh perpotongan patahan Gorontalo dengan
subduksi lempeng Laut Sulawesi, Luwuk-Banggai oleh perpotongan patahan
Gorontalo dengan patahan Sorong atau subduksi lempeng Laut Maluku,
Kendari-Wawoni-Buton oleh perpotongan patahan Lawanoppo dengan thrust
Wawoni, ujung selatan Sulawesi Selatan sebagai imbas dari tsunami Laut
Flores dari hasil perpotongan patahan Walanae-Palu-Koro dengan patahan
Flores, dan Siwa-Palopo oleh perpotongan patahan Kolaka dengan Palu-Koro.
Daerah – daerah yang pernah dilanda tsunami sejak tahun tahun 1967 yaitu
Majene-Pinrang tahun 1967, Mamuju tahun 1969, Palu tahun 1968, Donggala
tahun 1996, Toli-toli tahun 2000 dan Luwuk-Banggai tahun 1999 dan 2000.

29
Gambar 5.1 Peta Tektonik gempabumi dan Tsunami sulawesi

30
BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan

1. Berdasarkan sejarah pembentukannya, Pulau Sulawesi merupakan gabungan


akumulasi lempeng – lempeng mikro sejak zaman Tersier, yang terdiri dari
busur gunungapi Sulawesi Barat, kerak oseanik Sulawesi Timur, mikro kontinen
Banggai-Sula dan kompleks metamorf Sulawesi tengah.

2. Secara regional, tektonik global Pulau Sulawesi mendapat tekanan dari


selatan yaitu lempeng Australia, lempeng Pasifik barat dari timur dan dari barat
Kraton Asia yang menyebabkan terbentuknya deformasi dan pola struktur geser
dan naik, patahan Walanae, Palu-Koro, Matano-Lawanoppo, Gorontalo, Kolaka,
Paternoster, Batui-Balantak, subduksi lempeng Laut Sulawesi dan lempeng Laut
Maluku.

3. Lokasi- lokasi yang berpotensi menimbulkan gempa adalah pada


daerahperpotongan atau persinggungan patahan/subduksi lempeng seperti yang
terdapat pada jalur patahan Walanae, Palu-Koro, Paternoster, Gorontalo dan lain –
lain.

4. Daerah yang berpotensi terjadinya tsunami adalah pusat gempa di laut yang
mempunyai tebing laut curam terhadap pantai/daratan, seperti Majene, Mamuju,
Palu-Tolitoli, Banggai-Sula, Kendari-Buton dan Siwa-Palopo.

31
DAFTAR PUSTAKA

Kaharuddin, M.S. dkk. 2011. Perkembangan Tektonik Dan Implikasinya


Terhadap Potensi Gempa Dan Tsunami. Proceedings Jcm Makassar 2011
The 36th HAGI and 40th IAGI Annual Convention and Exhibition
.Makassar.
Sompotan, Armstrong, F. 2010. Formasi Geologi Sulawesi. Institute Teknologi
Bandung : Bandung.
Sompotan, Armstrong, F. 2010. Struktur Geologi Sulawesi. Institute Teknologi
Bandung : Bandung.
Surono. 2010. Geologi Lengan Tengara Sulawesi. Badan Geologi Kementrian
Energi dan Sumberdaya Mineral. Bandung
Uno, Irianto. 2015. Geologi dan Potensi Sumberdaya Mineral Sulawesi Tengah.
Universitas Tadulako : Palu.

32