Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Secara global, siklus CO2 dan siklus hidrologi keduanya merupakan siklus
biogeokimia yang paling penting sepanjang yang menyangkut kepentingan
manusia. Kedua siklus tersebut dicirikan dengan jumlah cadangan di atmosfir
yang relatif kecil, tetapi sangat aktif dan sangat peka terhadap gangguan-
gangguan yang ditimbulkan oleh aktifitas manusia, dimana pada gilirannya dapat
mengubah cuaca dan iklim. Pengukuran-pengukuran yang telah dilakukan di
berbagai bagian dunia telah menetapkan untuk siklus C0 2 dan H2O yang dapat
mempengaruhi kondisi bumi kita ini dimasa mendatang (Kimball, 1983).
Suatu ekosistem terdiri dari semua organisme yang hidup dalam suatu
komunitas dan juga semua faktor-faktor abiotik yang berinteraksi dengan
organisme tersebut. Sebagai tingkatan yang paling inklusif dalam hikarki
organisme biologis, suatu sistem ekosistem melibatkan dua prose yang tidak dapat
dijelaskan sepenuhnya pada tingkat yang lebih rendah, yaitu aliran energi dan
siklus kimia. Energi memasuki sebagian besar ekosistem dalam bentuk cahaya
matahari. Energi dalam bentuk cahaya matahari ini kemudian diubah menjadi
energi kimia oleh organisme autotrof sebagai produsen, yang kemudian diteruskan
oleh organisme heterotrof sebagai konsumen dalam bentuk senyawa-senyawa
organik dalam makanannya, dan dibuang dalam bentuk panas. Unsur-unsur kimia
seperti karbon dan nitrogen, bersiklus diantara komponen-komponen abiotik dan
biotik ekosistem. Organisme fotosintetik mendapatkan unsur-unsur ini dalam
bentuk anorganik dari udara, tanah, dan air dan mengasimilasikan unsur-unsur
tersebut menjadi molekul organik, yang sebagian dikonsumsi oleh hewan. Unsur
itu dikembalikan dalam bentuk anorganik ke udara, tanah, dan air melalui
metabolisme tumbuhan dan hewan, serta melalui organisme lain, seperti bakteri
dan fungi, yang menguraikan buangan organik dan organisme mati. Pergerakan
energi dan materi melalui ekosistem saling berhubungan karena keduanya
berlangsung melalui transfer zat-zat melewati hubungan makan-makanan. Akan
tetapi, karena energi berbeda dengan materi, tidak dapat di siklus ulang, suatu
ekosistem harus diberi tenaga terus-menerus mengalirkan energi baru dari suatu
sumber eksternal (matahari) (Campbell, 2004).
Sehingga dapat diketahui bahwa hubungan produsen dan konsumen sangat
erat kaitannya dengan siklus karbon dalam suatu ekosisitem. Adanya produsen
dan konsumen ini sangat diperlukan untuk menjaga kestabilan pada suatu
ekosistem. Di dalam ekosistem ini terjadi hubungan timbal balik yang
menguntungkan antara produsen dan konsumen.

1.2 Tujuan

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk memahami peran produsen dan
konsumen dalam siklus karbon.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Siklus karbon adalah siklus biogeokimia dimana karbon dipertukarkan


antara biosfer, geosfer, hidrosfer, dan atmosfer Bumi (objek astronomis lainnya
bisa jadi memiliki siklus karbon yang hampir sama meskipun hingga kini belum
diketahui). Dalam siklus ini terdapat empat reservoir karbon utama yang
dihubungkan oleh jalur pertukaran. Reservoir-reservoir tersebut adalah atmosfer,
biosfer teresterial (biasanya termasuk pula freshwater system dan material non-
hayati organik seperti karbon tanah (soil carbon)), lautan (termasuk karbon
anorganik terlarut dan biota laut hayati dan non-hayati), dan sedimen (termasuk
bahan bakar fosil). Pergerakan tahuan karbon, pertukaran karbon antar reservoir,
terjadi karena proses-proses kimia, fisika, geologi, dan biologi yang bermaca-
macam. Lautan mengadung kolam aktif karbon terbesar dekat permukaan Bumi,
namun demikian laut dalam bagian dari kolam ini mengalami pertukaran yang
lambat dengan atmosfer (Anonim, 2007).
Karbon adalah bahan penyusun dasar semua senyawa organik.
Pergerakkannya melalui suatu ekosistem berbarengan dengan pergerakkan energi
melebihi zat kimia lain, karbohidrat dihasilkan selama fotosintesis dan CO 2
dibebaskan bersama energi selama respirasi. Dalam siklus karbon, proses timbal
balik fotosintesis dan respirasi seluler menyediakan suatu hubungan antara
produsen dan konsumen. Tumbuhan mendapatkan karbon dalam bentuk CO2 dari
atmosfer melalui stomata daunnya dan menggabungkannya ke dalam bahan
organik biomassanya sendiri melalui proses fotosintesis. Sejumlah bahan organik
tersebut kemudian menjadi sumber karbon bagi konsumen. Respirasi oleh semua
organisme mengembalikan CO2 ke atmosfer (Campbell, 2004).
Meskipun CO2 terdapat di atmosfer dengan konsentrasi yang relatif rendah,
karbon bersiklus ulang dengan laju yang relatif cepat, karena tumbuhan
mempunyai kebutuhan yang tinggi akan gas ini. Setiap tahun, tumbuhan
mengeluarkan sekitar sepertujuh dari keseluruhan CO2 yang terdapat di atmosfer.
Jumlah ini kira-kira diseimbangkan melalui respirasi. Sejumlah karbon bisa
dipindahkan dari siklus tersebut dalam waktu yang lama (Campbell, 2004).
Kehidupan memiliki peranan yang penting dalam siklus karbon:
 Autotroph adalah organisme yang menghasilkan senyawa organiknya sendiri
dengan menggunakan karbon dioksida yang berasal dari udara dan air di
sekitar tempat mereka hidup. Untuk menghasilkan senyawa organik tersebut
mereka membutuhkan sumber energi dari luar. Hampir sebagian besar
autotroph menggunakan radiasi matahari untuk memenuhi kebutuhan energi
tersebut, dan proses produksi ini disebut sebagai fotosintesis. Sebagian kecil
autotroph memanfaatkan sumber energi kimia, dan disebut kemosintesis.
Autotroph yang terpenting dalam siklus karbon adalah pohon-pohonan di
hutan dan daratan dan fitoplankton di laut. Fotosintesis memiliki reaksi

6CO2 + 6H2O → C6H12O6 + 6O2


 Karbon dipindahkan di dalam biosfer sebagai makanan heterotrof pada
organisme lain atau bagiannya (seperti buah-buahan). Termasuk di dalamnya
pemanfaatan material organik yang mati (detritus) oleh jamur dan bakteri
untuk fermentasi atau penguraian.
 Sebagian besar karbon meninggalkan biosfer melalui pernafasan atau
respirasi. Ketika tersedia oksigen, respirasi aerobik terjadi, yang melepaskan
karbon dioksida ke udara atau air di sekitarnya dengan reaksi C6H12O6 + 6O2
→ 6CO2 + 6H2O. Pada keadaan tanpa oksigen, respirasi anaerobiklah yang
terjadi, yang melepaskan metan ke lingkungan sekitarnya yang akhirnya
berpindah ke atmosfer atau hidrosfer.
 Karbon juga dapat berpindah dari bisofer ketika bahan organik yang mati
menyatu dengan geosfer (seperti gambut). Cangkang binatang dari kalsium
karbonat yang menjadi batu gamping melalui proses sedimentasi (Anonim,
2007).

Ekosistem dapat diartikan sebagai hubungan timbal balik atau interaksi


antara organisme dengan lingkungan abiotiknya. Definisi yang lebih tepat
mengenai Ekosistem adalah tingkatan organisasi kehidupan yang mencakup
organisme dan lingkungan tak hidup, dimana kedua komponen tersebut saling
mempengaruhi dan berinteraksi. Pada ekosistem, setiap organisme mempunyai
suatu peranan, ada yang berperan sebagai produsen, konsumen ataupun
dekomposer. Produsen terdiri dari organisme-organisme berklorofil (autotrof)
yang mampu memproduksi zat-zat organik dari zat-zat anorganik (melalui
fotosintesis). Zat-zat organik ini kemudian dimanfaatkan oleh organisme-
organisme heterotrof (manusia dan hewan) yang berperan sebagai konsumen
(Anonim. 2007)
Sebagai konsumen, hewan ada yang memakan produsen secara langsung,
tetapi ada pula yang mendapat makanan secara tidak langsung dari produsen
dengan memakan konsumen lainnya. Karenanya konsumen dibedakan menjadi
beberapa macam yaitu konsumen I, konsumen II, dan seterusnya hingga
konsumen puncak. Konsumen II, III, dan seterusnya tidak memakan produsen
secara langsung tetapi tetap tergantung pada produsen, karena sumber makanan
konsumen I adalah produsen. Peranan makan dan dimakan di dalam ekosistem
akan membentuk rantai makanan bahkan jaring-jaring makanan. Perhatikan
contoh sebuah rantai makanan ini: daun berwarna hijau (Produsen) --> ulat
(Konsumen I) --> ayam (Konsumen II) --> musang (Konsumen III) --> macan
(Konsumen IV/Puncak) (Anonim, 2007).
Pada hakikatnya dalam organisasi kehidupan tingkat ekosistem terjadi
proses-proses sirkulasi materi, transformasi, akumulasi energi, dan akumulasi
materi melalui organisme. Ekosistem juga merupakan suatu sistem yang terbuka
dan dinamis. Keluar masuknya energi dan materi bertujuan mempertahankan
organisasinya serta mempertahankan fungsinya. Zat-zat anorganik dalam suatu
ekosistem tetap konstan atau seimbang. Karena unsur-unsur kimia esensial
pembentuk protoplasma beredar dalam biosfer melalui siklus biogeokimiawi.
Contoh siklus biogeokimiawi adalah siklus carbon, siklus oksigen, siklus nitrogen,
siklus fosfor, dan siklus sulfur. Maka dari itulah keseimbangan dalam ekosistem
sangat penting untuk selalu terjaga (Anonim,2007).
Namun keseimbangan ekosistem dapat terganggu jika komponen-komponen
penyusunnya rusak atau bahkan hilang. Penyebab rusaknya keseimbangan
ekosistem karena bencana alam, ekosistem dapat rusak akibat perbuatan manusia.
Contoh kerusakan ekosistem akibat bencana alam adalah letusan gunung berapi,
dimana lahar panasnya dapat mematikan organisme (hewan dan tumbuhan) dan
mikroorganisme yang dilaluinya. Contoh kerusakan ekosistem akibat perbuatan
manusia adalah penggundulan hutan, serta pencemaran air, tanah dan udara
(Anonim, 2007).
Apabila terjadi kerusakan ekosistem, pada dasarnya ekosistem masih dapat
memperbaiki dirinya (self purification) hingga tercapai keseimbangan kembali
dalam jangka waktu tertentu; Sebentar atau lama, tergantung dari tingkat
kerusakannya. Perkembangan ekosistem menuju kedewasaan dan keseimbangan
ini dikenal dengan istilah suksesi ekologis (Anonim, 2007).
Di ekosistem air, pertukaran CO2 dengan atmosfer berjalan secara tidak
langsung. Karbon dioksida berikatan dengan air membentuk asam karbonat yang
akan terurai menjadi ion bikarbonat. Bikarbonat adalah sumber karbon bagi alga
yang memproduksi makanan untuk diri mereka sendiri dan organisme heterotrof
lain. Sebaliknya, saat organisme air berespirasi, CO 2 yang mereka keluarkan
menjadi bikarbonat. Jumlah bikarbonat dalam air adalah seimbang dengan jumlah
CO2 di air (Anonim, 2007).
BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Waktu Dan Tempat

Praktikum kali ini dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 5 Desember 2007,
pada pukul 08.00 WITA sampai 11.00 WITA. Bertempat di Laboratorium Dasar
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Banjarbaru.

3.2 Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunkan dalam praktikum kali ini adalah tabung reaksi
bertutup, siput kecil, Hydrilla verticillata, ruang gelap, larutan bromtimol biru,
rak tabung reaksi, dan air kolam.

3.3 Prosedur Percobaan

1. Membagi tabung-tabung biakan menjadi dua kelompok A dan B. Masing-


masing kelompok dibagi menjadi A1, A2, A3,A4 dan B1, B2, B3, B4.
2. Mengisi seluruh tabung dengan air kolam sampai mencapai ketinggian kira-
kira 20 cm dari mulut tabung.
3. Meneteskan bromtimol biru sebanyak 3 tetes ke dalam masing-masing tabung.
4. Merangkai tabung dan menempatkannya sesuai dengan rancangan percobaan
seperti tabel di bawah ini.

Hydrill Kondisi
Tabung Siput Siput + Hydrilla Tidak Diisi
a Inkubasi
A1 X Terang
A2 X Terang
A3 X Terang
A4 X Terang
B1 X Gelap
B2 X Gelap
B3 X Gelap
B4 X Gelap
X = diisi dengan

5. Merangkaian tabung A memindahkannya ke kamar terang dan rangkaian


tabung B di kamar gelap.
6. Setelah 24 jam, mengamati perubahan yang meliputi perubahan warna
indikator, siput dan Hydrilla dan mencatatnya pada tabel pengamatan.
Gambar Rangkaian Percobaan.

Gambar 4.1 Rangkaian percobaan ini diletakkan di luar ruangan.


Keterangan gambar tabung :
A1 = larutan bromtimol biru + siput
A2 = larutan bromtimol biru + siput + Hydrilla verticillata
A3 = larutan bromtimol biru + Hydrilla verticillata
A4 = larutan bromtimol biru

Gambar 4.2 Rangkaian percobaan ini diletakkan di dalam ruangan


gelap
Keterangan gambar tabung :
B1 = larutan bromtimol biru + siput
B2 = larutan bromtimol biru + siput + Hydrilla verticillata
B3 = larutan bromtimol biru + Hydrilla verticillata
B4 = larutan bromtimol biru
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Setelah 24 jam didiamkan dalam kondisi masing-masing diperoleh hasil


sebagai berikut :

Perubahan Pada
Kondisi Tabung Warna Keterangan
inkubasi indikator Siput Hydrilla
Kamar A1 Bening Hidup - Banyak CO2
Terang agak
kekuningan
A2 Lebih biru Hidup Hidup Terjadi
bening siklus
karbon, CO2,
O2 seimbang
A3 Agak - Hidup CO2 sedikit,
kebiru- banyak O2
biruan

A4 Biru - - Sebagai
kontrol
Kamar B1 Bening Hidup - Banyak CO2
Gelap agak
kekuningan
B2 Bening Hidup layu Terjadi
kekuningan siklus
karbon, CO2,
O2 seimbang
B3 Agak keruh - layu CO2 sedikit,
banyak O2
B4 Biru - - Sebagai
kontrol

Gambar Hasil Rangkaian Percobaan.

Gambar 4.1 Rangkaian percobaan ini diletakkan di luar ruangan.


Keterangan gambar tabung :
A1 = larutan bromtimol biru + siput , warna indikator kuning
Siput tetap hidup
A2 = larutan bromtimol biru + siput + Hydrilla verticillata,
warna indikator biru pekat, keadaan siput hidup dan hydrilla
dalam keadaan segar
A3 = larutan bromtimol biru + Hydrilla verticillata
Warna indikator biru, keadaan hydrilla tetap segar
A4 = larutan bromtimol biru

Gambar 4.2 Rangkaian percobaan ini diletakkan di dalam ruangan gelap.


Keterangan gambar tabung :
B1 = larutan bromtimol biru + siput, warna indikator jadi kuning, siput tetap hidup
B2 = larutan bromtimol biru + siput + Hydrilla verticillata, warna indikator jadi kuning, siput
mati dan hydrilla masih segar
B3 = larutan bromtimol biru + Hydrilla verticillata, warna indikator jadi kuning, hydrilla terlihat
agak pucat
B4 = larutan bromtimol biru

4.2 Pembahasan
Sebelum membahas langsung percobaan kali ini, lebih baik mengenal
dahulu bagaimana daur siklus karbon pada tumbuhan. Suatu ciri makhluk hidup
yang hanya dimiliki khusus oleh tumbuhan hijau adalah kemampuan dalam
menggunakan zat karbon dari udara untuk diubah menjadi bahan organik serta
diasimilasi dalam tubuh tumbuhan. Tumbuhan tingkat tinggi pada umumnya
tergolong pada organisme autotrof, yaitu makhluk hidup yang dapat mensintesis
sendiri senyawa organik yang dibutuhkannya. Senyawa organik yang baku adalah
rantai karbon yang dibentuk oleh tumbuhan hijau dari proses fotosintesis.
Fotosintesis atau asimilasi karbon adalah proses pengubahan zat-zat anorganik
H2O dan CO2 oleh klorofil menjadi zat organik karbohidrat dengan bantuan
cahaya. Proses fotosintesis hanya bisa dilakukan oleh tumbuhan yang mempunyai
klorofil. Proses ini hanya akan terjadi jika ada cahaya dan melalui perantara
pigmen hijau daun yaitu klorofil yang terdapat dalam kloroplas.
Alat dan bahan yang digunakan kali ini yaitu indikator bromtimol biru
sebagai petunjuk terjadinya daur siklus karbon dalam tabung karena indikator
bromtimol ini peka terhadap CO2 sehingga bila ada terdapat CO2 didalam tabung,
bromtimol biru akan berubah menjadi kuning serta vaselin untuk mencegah
terjadinya keluar masuknya udara dalam tabung.
Percobaan kali ini dilakukan untuk memahami peran produsen dan
konsumen dalam siklus karbon. Percobaan ditempat yang terang menghasilkan
pada tabung A1 warna indikator berubah menjadi berwarna kuning dan siput
masih dalam keadaan hidup hal ini disebabkan karena pada tabung A1 siput
melakukan respirasi sehingga dihasilkan CO2 dan bereaksi dengan larutan
bromtimol biru sehingga warna biru pada bromtimol berubah menjadi kuning,
dalam tabung ini hanya terdapat siput sebagai konsumen saja, sehingga hanya
dihasilkan CO2 saja tanpa O2. Tabung A2 yang berisi siput dan Hydrilla warna
bromtimol biru berubah menjadi bening, siput dalam keadaan hidup dan Hydrilla
dalam keadaan segar, hal ini disebabkan karena terjadi siklus karbon dan jumlah
CO2 dan O2 seimbang. Dalam tabung A2 ini, terdapat produsen dan konsumen
sehingga didapatkan CO2 dan O2 seimbang. Tabung A3 yang berisi Hydrilla masih
segar dan warna indikator menjadi lebih biru, hal ini disebabkan karena pada
tabung ini hanya terdapat Hydrilla saja sehingga dalam tabung ini hanya ada
produsen saja dan didapatkan hanya didapatkan O2 saja. Tabung A4 hanya sebagai
kontrol sehingga warna indikatornya tetap sama seperti warna awalnya.
Percobaan kamar gelap menghasilkan pada tabung B1 yang berisi siput
warna indikator berubah menjadi kuning dan siput dalam keadaan hidup, hal ini
disebabkan karena siput berespirasi mengambil O2 dari air dan mengeluarkan CO2,
sehingga warna indikator berubah menjadi warna kuning, siput yang ada pada
tabung ini tidak menutup kemungkinan siput akan mati karena siput kehabisan O2
yang ada di air. Tabung B2 yang berisi siput dan Hydrilla warna indikatornya
berubah menjadi bening kekuning, siput masih hidup dan Hydrilla dalam keadaan
layu karena Hydrilla kurang mendapat cahaya untuk melakukan fotosintesis
sedangkan siput memerlukan hasil fotosintesis untuk melakukan respirasi. Tabung
B3 yang berisi Hydrilla warna indikatornya berwarna lebih biru kuning, hal ini
disebabkan karena karena fotosintesis yang dilakukan Hydrilla terhambat karena
Hydrilla tidak mendapatkan cahaya matahari. Tabung B4 sebagai kontrol, warna
indikatornya sama dengan warna awalnya yaitu biru.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

1. Dalam siklus karbon produsen dalam hal ini adalah Hydrilla berperan sebagai
penghasil O2 yang akan digunakan oleh konsumen (siput). Sebaliknya,
konsumen dalam siklus karbon berperan sebagai penghasil CO2 yang akan
digunakan produsen untuk melakukan proses fotosintesis untuk menghasilkan
O2 yang akan digunakan oleh konsumen.

5.2 Saran

Praktikan harus teliti lagi dalam melakukan percobaan, salah satunya


dalam pengolesan vaselin pada sisi tutup tabung dan juga jangan sembarangan
memilih siput dan Hydrilla, pilihlah siput dan Hydrilla yang masih sehat dan
segar.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim1. 2007. Siklus Karbon.
http://www.e-dukasi.net/mol/mo_full.php?
moid=75&fname=ekosistem.htm.
Diakses tanggal 11 Desember 2007.

Anonim2. 2007. Siklus Karbon dan Oksigen.


http://free.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-
Pendamping/Praweda/Biologi/0032%20Bio%201-7c.htm.
Diakses tanggal 11 Desember 2007.

Anonim3. 2007. Produsen dan Konsumen dalam Siklus Karbon.


http://www.dikmenum.go.id/e-learning/bahan/kelas1/images/RUANG
%20LINGKUP%20BIOLOGI.pdf. Diakses tanggal 11 Desember 2007.

Campbell, dkk. 2004. Biologi Jilid 3. Erlangga: Jakarta.

Kimball, J.W. 1983. Biologi jilid 3. Erlangga: Jakarta.

PERCOBAAN VII
HUBUNGAN ANTARA PRODUSEN DAN KONSUMEN
LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM

Nama : Winda Ayu Fazraningtyas


NIM : J1A107208
Kelompok :2
Asisten : Pahriati

PROGRAM S-1 MATEMATIKA


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
BANJARBARU
DESEMBER
2007