Anda di halaman 1dari 37

BAB VII

PERBANDINGAN PROVINSI JAWA BARAT


DENGAN PROVINSI LAINNYA

Gambaran perbandingan data/informasi kesehatan antara Provinsi Jawa Barat


dengan Provinsi lain di Indonesia, terutama dengan Provinsi di Pulau Jawa dan Bali yang
kondisi alam dan demografinya hampir sama.

A. KEADAAN UMUM DAN PERILAKU PENDUDUK


1. Keadaan Umum Wilayah
Luas wilayah Jawa Barat 1,9% dari luas Indonesia yang termasuk yang
terbesar akan tetapi pembagian wilayah Administrasi diJawa Barat masih
ketinggalan dibandingkan dengan Jawa Tengah yang luas wilayah lebih kecil dan
Jawa Timur yang luas wilayah hampir sama.
Secara Administratif wilayah Indonesia terbagi atas 33 provinsi 399
Kabupaten dan 98 Kota yang meliputi 6.982 Kecamatan, 80.714
Kelurahan/Desa. Provinsi Jawa Barat (26) menduduki urutan ke 3 setelah Jawa
Tengah (35), Jawa Timur (38).
Tabel VII. A. 1
Luas Wilayah, Jumlah Kabupaten/Kota, Kecamatan, Desa/Kelurahan
Menurut Provinsi di Pulau Jawa dan Bali Tahun 2013.
Luas Wilayah Desa/
Provinsi Kab Kota Kec
(Km2) Kelurahan
1. DKI Jaya 664 1 5 44 267
2. Jawa Barat 37.116 17 9 625 5.962
3. Jawa tengah 32.801 29 6 573 8.574
4. DI.Yogyakarta 3.133 4 1 78 438
5. Jawa Timur 47.800 29 9 664 8.506
6. Banten 9.663 4 4 155 1.551
7. Bali 5.780 8 1 57 716
Indonesia 1.910.931 399 98 6.982 80.714
Sumber : Profil kesehatan Indonesia Tahun 2013

2. Kependudukan
Perkiraan jumlah penduduk Indonesia tahun 2013 sebesar 248.422.956
jiwa. Diantara Provinsi-Provinsi di Indonesia, Provinsi Jawa Barat merupakan
Provinsi yang paling besar jumlah penduduknya, yang diikuti dengan Provinsi
Jawa Timur dan Jawa Tengah. Jumlah penduduk Provinsi Jawa Barat mencapai
45.736,365 jiwa, dengan ratio jenis kelamin (sex ratio) penduduk Indonesia
sebesar 101.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 133


Angka ketergantungan penduduk Indonesia sebesar 52,15, yang artinya
setiap penduduk usia produktif (15-64 tahun) menanggung 52 orang penduduk
usia tidak produktif (0-14 tahun). Semakin besar angka ketergantungan, maka
semakin besar pula beban yang ditanggung penduduk usia produktif, semakin
besar pula hambatan atas upaya perkembangan daerah.
Tabel VII. A. 2
Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk menurut Provinsi
di Pulau Jawa dan Bali Tahun 2013
Jumlah Kepadatan
Provinsi LPP Rumah Tangga
Penduduk Penduduk
1. DKI Jaya 10.001.943 15.063 1,41 2.604,6
2. Jawa Barat 45.736.365 1.232 1,90 12.104,3
3. Jawa tengah 32.684.579 996 0,37 8.941,5
4. DI.Yogyakarta 3.560.080 1.136 1,04 1.079,1
5. Jawa Timur 38.268.825 801 0,76 10.626,6
6. Banten 11.523.018 1.192 2,78 2.796,9
7. Bali 4.139.690 716 2,15 1.072,1
Indonesia 248.422.956 130 1,49 64.041,2
Sumber :BPS, 2013
Komposisi penduduk Indonesia menurut kelompok umur, menunjukan
bahwa penduduk yang berumur muda (0-14 tahun) sebesar 28,10%, yang
berumur produktif (15-64 tahun) sebesar 66,80%, dan yang berumur tua (>65
tahun) sebsar 5,10%. Dengan demikian Angka Beban Tanggungan (dependency
Ratio) penduduk Indonesia pada tahun 2012sebesar 46,8%, sedangkan Provinsi
Jawa Barat sebesar 46,3%. Berdasarkantipe daerah, angka beban tanggungan
di pedesaan lebih besar dibandingkan perkotaan yaitu 58,49% berbanding
48,02%.
Demikian pula untuk indikator kependudukan lainnya seperti Angka
Kesuburan (TFR), angka Jawa Barat menunjukan ke -2 yang paling tinggi
diantara Provinsi-Provinsi yang ada di Jawa dan Bali. Berikut ini dapat dilihat
perbandingan TFR antara Provinsi di Jawa dan Bali.
Tabel VII. A. 3
Perbandingan Angka Kesuburan (TFR) Menurut Provinsi
di Pulau Jawa-Bali PeriodeTahun 2004, 2005, 2007-2010 dan 2012
Angka Kesuburan (TFR)
Provinsi
2004 2005 2007-2010 2012
1. DKI. Jakarta 2,2 2,2 1,5 2,3
2. Jawa Barat 2,8 2,8 2,2 2,5
3. Jawa Tengah 2,1 2,1 2,0 2,5
4. DI. Yogya 1,9 1,9 1,4 2,1
5. Jawa Timur 2,1 2,1 1,7 2,3
6. Banten 2,6 2,6 2,3 2,5
7. Bali 2,1 2,1 1,7 2,3
Indonesia 2,6 2,6 2,2 2,6

Sumber :BPS, 2012

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 134


3. Indeks Pembangunan Manusia
Paradigma pembangunan menempatkan manusia (penduduk) sebagai
fokus dan sasaran akhir dari seluruh kegiatan pembangunan, yaitu tercapainya
penguasaan atas sumber daya (pendapatan untuk mencapai hidup layak),
peningkatan derajat kesehatan (usia hidup panjang dan sehat) dan
meningkatkan pendidikan (kemampuan baca tulis dan keterampilan untuk dapat
berpartisipasi dalam masyarakat dan kegiatan ekonomi). Alat ukur yang lazim
digunakan dalam memantau tingkat pembangunan manusia adalah Indeks
Pembangunan Manusia. Untuk mengukur tingkat pemenuhan ketiga unsur
diatas, yaitu: Indeks Kesehatan, Indeks Pendidikan dan Indeks Daya beli.
Secara umum capaian IPM di Indonesia menunjukkan perkembangan
yang semakin membaik. Hal ini ditandai dengan meningkatnya capaian IPM dari
tahun ke tahun selama periode 2008-2013. Perkembangan IPM di Jawa Barat
masih lebih rendah dari rata-rata angka nasional, dapat dilihat dibawah ini.
Gambar. VII. A. 1
Indeks Pembangunan Manusia Menurut Provinsi di Pulau Jawa-Bali
Tahun 2013

4. Ekonomi
Kondisi perekonomian merupakan salah satu aspek yang diukur dalam
menentukan keberhasilan pembangunan suatu negara. Perekonomian Indonesia
pada tahun 2013 mengalami kenaikan sebesar 5,78% dibandingkan pada tahun
2012. Pertumbuhan ini didukung oleh komponen pengeluaran konsumsi rumah
tangga sebesar 5,28%, komponen pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar
4,87%, Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto sebesar 4,71 %, dan
Komponen Perubahan Inventori sebesar 6,74 %, sedangkan Komponen Ekspor
tumbuh sebesar 5,30 % dan Komponen Impor tumbuh sebesar 1,21 %.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 135


57,78 % dari PDB disumbang oleh Pulau Jawa, dengan urutan tiga provinsi
terbesarnya adalah DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Secara
kuantitatif, kegiatan-kegiatan di sektor sekunder dan tersier masih terkonsentrasi
di Pulau Jawa, sedangkan kegiatan sektor primernya lebih diperankan oleh luar
Jawa.
Berdasarkan data jumlah penduduk miskin menurut provinsi dari BPS
terdapat persebaran penduduk miskin antar pulau yang nyata perbedaannya.
Lebih dari separuh penduduk miskin di Indonesia berada di Pulau Jawa. Jumlah
penduduk miskin dan persentase penduduk miskin di Pulau Jawa dan Bali
Tahun 2013 dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel VII. A. 4
Persentase Penduduk Miskin
Menurut Provinsi di Pulau Jawa-Bali Tahun 2008-2013
Persentase Penduduk Miskin
Provinsi
2008 2009 2010 2011 2012 2013

1. DKI Jaya 4,3 3,6 3,5 3,8 3,7 3,7

2. Jawa Barat 13,0 12,0 11,3 10,7 9,9 9,6

3. Jawa tengah 19,2 17,7 16,6 15,8 15,0 14,4

4. DI.Yogyakarta 18,3 17,2 16,8 16,1 15,0 15,0

5. Jawa Timur 18,5 16,7 15,3 14,2 13,1 12,7

6. Banten 8,2 7,6 7,2 6,3 5,9 5,7

7. Bali 6,2 5,1 4,9 4,5 4,2 4,5

Indonesia 15,4 14,2 13,3 12,5 11,7 11,5

Sumber : BPS 2013

Apabila melihat tabel diatas persentase penduduk miskin mengalami


penurunan yang signifikan dari 15,4% penduduk miskin Indonesia tahun 2013
menjadi 11,5% penduduk miskin. Jumlah penduduk miskin di Provinsi Jawa
Barat pada tahun 2013 sebesar 9,6% menduduki urutan ke 3 terbesar dan
dibawah angka Indonesia. Sekitar 15,72% penduduk Miskin di Indonesia berada
di pedesaan dan 9,23% di perkotaan, sedangkan di Jawa Barat 9,09% berada di
perkotaan dan 13,39% di pedesaan.
Pembangunan ekonomi yang diupayakan diharapkan mampu
mendorong kemajuan, baik fisik, sosial, mental dan spiritual di segenap pelosok
negeri terutama wilayah yang tergolong daerah tertinggal. Suatu daerah
dikategorikan menjadi daerah tertinggal karena beberapa faktor penyebab, yaitu
geografis, sumber daya alam, sumber daya manusia, prasarana dan sarana,
daerah rawan bencana dan konflik sosial, dan kebijakan pembangunan.
Keterbatasan prasarana terhadap berbagai bidang termasuk di dalamnya

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 136


kesehatan menyebabkan masyarakat di daerah tertinggal mengalami kesulitan
untuk melakukan aktivitas ekonomi dan sosial.
Menurut data Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, jumlah
kabupaten tertinggal ditetapkan terdapat 199 kabupaten dari 465 kabupaten/kota
di seluruh Indonesia (42,8%). Jumlah kabupaten tertinggal di Provinsi Jawa Barat
terdapat 2 kabupaten tertinggal yaitu Kabupaten Garut dan Kabupaten
Sukabumi.
Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas)
diharapkan dapat meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap
seluruh masyarakat miskin dan hampir miskin agar tercapai derajat kesehatan
masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien. Melalui Jaminan
Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat diharapkan dapat menurunkan angka
kematian ibu, menurunkan angka kematian bayi dan balita serta menurunkan
angka kelahiran di samping dapat terlayaninya kasus-kasus kesehatan bagi
masyarakat miskin umumnya.

Tabel VII. A. 5
Persentase Penduduk Yang Mendapatkan Jamkesmas
Menurut Provinsi di Pulau Jawa-Bali Tahun 2013

Provinsi Jumlah Penduduk Jamkesmas Persentase

1. DKI Jaya 9.146.181 - -

2. Jawa Barat 42.693.951 10.700.175 25,1

3. Jawa tengah 32.770.455 11.715.881 35,8

4. DI.Yogyakarta 3.434.533 942.129 27,4

5. Jawa Timur 37.432.020 10.710.051 28,6

6. Banten 10.579.005 2.910.506 27,5

7. Bali 3.516.000 537.776 15,3

Indonesia 236.005.225 76.400.000 32,4

5. Lingkungan
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi
kesehatan masyarakat. Untuk mengambarkan keadaan lingkungan, dipengaruhi
beberapa indikator seperti persentase rumah tangga terhadap akses air minum,
persentase rumah tangga menurut sumber air minum dan sumber air minum dan
persentase rumah tangga menurut kepemilikan fasilitasi buang air besar.
Berdasarkan Riskesdas tahun 2013, Proporsi Rumah Tangga (RT)
yang memiliki akses terhadap sumber air minum sesuai MDG’s di Indonesia
adalah sebesar 66,8% (perkotaan: 64,3%; perdesaan: 69,4%). Provinsi dengan
proporsi tertinggi untuk RT yang memiliki akses terhadap air minum adalah Bali

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 137


(82,0%), DI Yogyakarta (81,7%), dan Jawa Barat baru mencapai 65,1% masih
dibawah angka Nasional.
Tabel VII. A. 6
Proporsi Rumah Tangga Yang Memiliki Akses Terhadap Sumber Air Minum
Menurut Provinsi di Pulau Jawa-Bali Tahun 2013

Persentase Rumah Tangga Akses


Terhadap Air Minum
Provinsi
Air Minum Kualitas Fisik Air
(MDG's) Minum yang Baik

1. DKI Jaya 61,6 96,3

2. Jawa Barat 65,1 94,3

3. Jawa tengah 77,8 95,2

4. DI.Yogyakarta 81,7 96,4

5. Jawa Timur 77,9 96,2

6. Banten 65,0 93,8

7. Bali 82,0 96,2

Indonesia 66,8 94,1

Secara kualitas fisik, masih terdapat rumah tangga dengan kualitas air
minum keruh (3,3%), berwarna (1,6%), berasa (2,6%), berbusa (0,5%), dan
berbau (1,4%),
Proporsi RT di Indonesia menggunakan fasilitas BAB milik sendiri
didapati 76,2%, milik bersama sebanyak 6,7 %, dan fasilitas umum 4,2 %. Masih
terdapat RT yang tidak memiliki fasiltas buang air besar sembarangan sebesar
12,9 %. Sebesar 7,2% Rumah Tangga di Jawa Barat yang tidak memiliki fasilitas
tempat buang air besarnya masih sembarangan.
Presentase rumah tangga yang menggunakan jenis kloset Leher
Angsa secara nasional sebesar 84,4% dan tempat pembuangan tinja sebagian
besar rumah tangga di Indonesia 66,0% menggunakan tanki septik. Apabila
dibandingkan antara provinsi di Jawa-Bali, Presentase rumah tangga yang
menggunakan jenis kloset Leher Angsa Provinsi Jawa Barat sebesar 83,7%
menduduki urutan ke 5, dan tempat pembuangan tinja menggunakan tanki septik
di Provinsi Jawa Barat sebesar 62,9% menduduki urutan sembilan terbawah.
Presentase rumah tangga menurut Akses terhadap Pembuangan Tinja Layak
sesuai MDG’s di Indonesia sebesar 59,8%. Lebih jelas dapat dilihat pada tabel
dibawah ini.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 138


Tabel VII. A. 7
Persentase Rumah Tangga Menggunakan Fasilitas Tempat Buang Air Besar
(BAB), Jenis Kloset Leher Angsa , Pembuangan Tinja Tanki Septik,
Pembuangan Tinja Layak sesuai MDG’s Menurut Provinsi di Pulau Jawa-
Bali Tahun 2013

Persentase Rumah Tangga Akses Terhadap

Provinsi Fasilitas Tempat Pembuangan Tinja


Jenis Kloset Leher Pembuangan Tinja
Buang Air Besar Layak Sesuai
Angsa Tanki Septik
Milik Sendiri MDG's
1. DKI Jaya 86,2 95,4 88,8 78,2

2. Jawa Barat 78,2 83,7 62,9 58,1

3. Jawa tengah 78,6 88,2 67,9 62,7

4. DI.Yogyakarta 84,5 91,8 82,7 72,1

5. Jawa Timur 73,4 80,7 63,2 57,5

6. Banten 76,7 92,3 74,7 68,3

7. Bali 77,8 98,8 84,6 72,5

Indonesia 76,2 84,4 66,0 59,8

Sumber :Riskesdas Tahun 2013

Tabel VII. A. 8
Proporsi Rumah Tangga Berdasarkan Jenis Tempat Buang Air Besar
Provinsi di Pulau Jawa-Bali Tahun 2013

Jenis tempat BAB*)


Provinsi
Leher angsa Pleng-sengan Cemplung/ Cemplung/
1. DKI Jaya 95,4 2,4 cubluk/lubang
1,4 cubluk/lubang
0,8
2. Jawa Barat 83,7 6,3 7,9 2,1
3. Jawa tengah 88,2 2,7 6,5 2,5
4. DI.Yogyakarta 91,8 0,9 4,1 3,2
5. Jawa Timur 80,7 5,8 9,4 4,1
6. Banten 92,3 3,0 4,1 0,6
7. Bali 98,8 0,8 0,3 0,1
Indonesia 84,4 4,8 7,2 3,7

Untuk penampungan air limbah RT di Indonesia umumnya dibuang


langsung ke got (46,7%). Ditemui 15,5 % yang menggunakan penampungan
tertutup di pekarangan dengan dilengkapi SPAL, dan 13,2 % menggunakan
penampungan terbuka di pekarangan, dan 7,4% ditampung di luar pekarangan.
Sedangkan di Jawa Barat sebesar 60,3% masih dibuang langsung ke got/sungai.
Secara rinci dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 139


Tabel VII. A. 9
Proporsi Rumah Tangga Berdasarkan Penampungan Air Limbah
Provinsi di Pulau Jawa-Bali Tahun 2013

Pembuangan air limbah kamar mandi/cuci/dapur


Provinsi Tertutup di Penampungan Penampungan Tanpa
Langsung ke
pekarangan/ terbuka di di luar penampungan
got/sungai
SPAL lapangan pekarangan (di tanah)
1. DKI Jaya 9,6 1,9 1,3 0,3 87,0
2. Jawa Barat 17,4 9,8 7,6 4,8 60,3
3. Jawa tengah 15,6 15,3 6,2 13,5 49,4
4. DI.Yogyakarta 49,4 12,1 3,0 15,3 20,2
5. Jawa Timur 12,2 18,0 7,2 18,4 44,2
6. Banten 17,7 11,4 9,0 7,3 54,7
7. Bali 40,4 4,7 6,0 16,8 32,2
Indonesia 15,5 13,2 7,4 17,2 46,7

Dalam hal pengelolaan sampah RT umumnya dilakukan dengan cara


dibakar (50,1%) dan 24.9 % diangkut oleh petugas. Cara lainnya ditimbun dalam
tanah, dibuat kompos,dibuang ke kali/parit/laut dan dibuang sembarangan.
Sedangkan Jawa Barat proporsi RT yang mengelola sampah dengan cara
dibakar tertinggi sebesar 48,0%, menduduki urutan ke 4. Lebih jelas dapat dilihat
pada tabel dibawah ini
Tabel VII. A. 10
Proporsi Rumah Tangga Berdasarkan Cara Pengelolaan Sampah
Provinsi di Pulau Jawa-Bali Tahun 2013

Cara pengelolaan sampah rumah tangga


Provinsi Diangkut Ditimbun dalam Dibuang ke Dibuang
Dibuat kompos Dibakar sembarang
petugas tanah kali/parit/laut
an
1. DKI Jaya 87,0 1,1 0,2 5,3 3,6 2,8
2. Jawa Barat 27,0 3,1 0,4 48,0 12,4 9,1
3. Jawa tengah 14,9 5,7 2,1 57,8 11,7 7,8
4. DI.Yogyakarta 33,0 4,4 2,4 53,4 4,1 2,7
5. Jawa Timur 20,4 5,5 1,2 56,2 8,9 7,8
6. Banten 34,4 2,0 0,4 44,3 6,4 12,4
7. Bali 38,2 7,1 3,5 36,6 6,3 8,4
Indonesia 24,9 3,9 0,9 50,1 10,4 9,7
Sumber :Riskesdas Tahun 2013

Secara Nasional sekitar 76,2% rumah tangga menggunakan fasilitas


tempat buang air besar (BAB) milik sendiri (perkotaan; 84,9%, pedesaan :
67,3%), dan 12,9% rumah tangga yang tidak mempunyai fasilitas tempat BAB.
Apabila dibandingkan provinsi di Jawa-Bali, ternyata Presentase rumah tangga
yang menggunakan fasilitas tempat BAB, milik sendiri di Provinsi Jawa Barat
(78,2%) menduduki urutan ke-3 setelah Provinsi DI Yogyakarta (84,5%) dan DKI
Jakarta (86,2%).

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 140


Menurut tempat tinggal, di perkotaan cara pengelolaan sampah
tertinggi dengan cara diangkut petugas (46%), sedangkan di pedesaan yang
paling umum adalah dengan cara dibakar (62,8%). Penanganan sampahnya
dibuat kompos sangat sedikit baik di perkotaan (0,4%) maupun di pedesaan
(1,4%).
Berdasarkan jumlah, lokasi STBM terbanyak ada di Jawa Timur dengan
jumlah desa/kelurahan mencapai 2.838 desa/kelurahan, Jawa Tengah dengan
jumlah lokasi STBM 1.423 desa/kelurahan. Jumlah terkecil lokasi STBM terkecil
terdapat di DKI Jakarta sejumlah 2 desa/kelurahan dan Bali dengan jumlah 10
desa/kelurahan. Rincian menurut provinsi dapat dilihat.
Gambar. VII. A. 2
Persentase Desa/Kelurahan Yang Melaksanakan Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat Menurut Provinsi Di Pulau Jawa-Bali Tahun 2012

6. Keadaan Perilaku Masyarakat


Untuk menggambarkan keadaan perilaku masyarakat yang
berpengaruh terhadap derajat kesehatan salah satunya adalah persentase
penduduk yang berobat jalan selama sebulan yang lalu menurut tempat/cara
berobat, dan indikator yang berkaitan dengan perilaku antara lain Perilaku Bersih
Hidup Sehat (PHBS).
PHBS di rumah tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota
rumah tangga agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih
dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat. Untuk
mencapai rumah tangga Ber-PHBS, terdapat 10 perilaku hidup bersih dan sehat
yang dipantau, yaitu: (1) persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, (2) memberi
ASI ekslusif, (3) menimbang balita setiap bulan, (4) menggunakan air bersih, (5)
mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, (6) menggunakan jamban sehat,
(7) memberantas jentik di rumah sekali seminggu, (8) makan buah dan sayur
setiap hari, (9) melakukan aktivitas fisik setiap hari, dan (10) tidak merokok di
dalam rumah . Pada tahun 2013 ditargetkan sebanyak 60% rumah tangga

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 141


melaksanakan PHBS. Hasil Riskesdas 2013 menunjukkan sebanyak 32,2%
Rumah Tangga Sehat yang memenuhi kriteria perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) baik.
Proporsi berperilaku benar dalam buang air besar di Indonesia sebesar
82,6%, dan berperilaku benar dalam hal cuci tangan baru sebesar 47,0%.
Sedangkan di Jawa Barat sebesar 87,8% berperilaku benar dalam buang air
besar dan 45,7% berperilaku benar dalam hal cuci tangan. Proporsi penduduk
umur ≥10 tahun yang mempunyai kebiasaan perilaku merokok dalam
gedung/ruangan di Indonesia sebesar 84,6% dan di Jawa Barat sebesar 82,0%.
Perilaku menyikat gigi dan pemeriksaan gigi dan mulut serta kondisi gigi dan
mulut yang bermasalah pada masyarakat di Indonesia sebesar 25,9%,
Berdasarkan hasil SUSENAS tahun 2013, penduduk yang mempunyai
keluhan kesehatan selama sebulan terakhir sebesar 27,70%, dengan tahun 2010
(30,97%) mengalami penurunan sebesar 10,56%. Jika dibandingkan antara
daerah tempat tinggal perkotaan sebesar 28,59% dan di pedesaan 28,55%.Ada
3 jenis keluhan yang paling banyak, yaitu batuk (44,96%), Pilek (43,29%), Panas
(33,41%) dan keluhan lainnya (43,29%), sedangkan menurut jenis kelamin
persentase laki-laki yang mengalami keluhan kesehatan lebih besar
dibandingkan perempuan untuk ketiga jenis penyakit tersebut. Provinsi Jawa
Barat penduduk mempunyai keluhan sebesar 27,55% dibawah angka nasional.
Penduduk Indonesia yang memiliki keluhan kesehatan dan
memutuskan untuk berobat jalan ke tempat berobat sebesar 45,21%, yang
paling banyak dikunjungi adalah Puskesmas/Pustu sebesar 29,97%, diikuti oleh
praktek Dokter sebesar 26,09% dan Petugas Kesehatan sebesar 26,91%,
sementara jika dilihat daerah tempat tinggal, penduduk pedesaan lebih banyak
memanfaatkan praktek petugas kesehatan sebesar 36,89% dan
Puskesmas/Pustu sebasar 31,88%, sedangkan penduduk perkotaan lebih
banyak memanfaatkan fasilitas praktek dokter/poliklinik sebesar 33,71 dan
puskesmas/ sebesar 28,08%.
Penduduk yang mengalami keluhan kesehatan banyak yang mengobati
sendiri dalam upaya pemulihan kesehatannya yaitu sebesar 67,71%, diantaranya
pernah menggunakan obat modern sebesar 71,33%, dan 24,33% obat
tradisional serta 4,34% dengan cara pengobatan lainnya.
Secara nasional persentase pencapaian rumah tangga yang ber-PHBS
mencapai 53,89%. Provinsi Jawa Barat berada dibawah angka Nasional yaitu
sebesar 45,90%. Apabila Provinsi Jawa Barat dibandingkan dengan Provinsi
yang ada di Pulau Jawa Bali, menduduki rangking 3 teratas setelah Provinsi
Jawa Tengah (77,83) dan DKI Jakarta (70,90%).

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 142


Akses pelayanan kesehatan yang didapatkan dari Riskesdas 2013
merupakan tingkat pengetahuan rumah tangga (RT) terhadap jenis pelayanan
kesehatan terdekat yang berada di sekitar tempat tinggalnya, secara nasional
proporsi RT mengetahui keberadaan RS pemerintah sebanyak 69,6 %,
sedangkan RS swasta 53,9 %. Rumah tangga yang mengetahui keberadaan RS
pemerintah tertinggi Bali (88,6%) sedangkan Jawa Barat sebesar 70,5%.
Pengetahuan RT tentang keberadaan Puskesmas/Pustu tertinggi di Bali (95,5%)
sedangkan Jawa Barat hanya 91,7%.
Tabel. VII. A. 11
Persentase Pengetahuan Rumah Tangga Tentang Keberadaan Jenis
Fasilitas Kesehatan Menurut Provinsi Di Pulau Jawa-Bali Tahun 2013

Keberadaan Fasilitas Kesehatan


Provinsi RS Puskesmas Praktek Praktek Poskesdes/
RS Swasta Posyandu Polindes
Pemerintah / Pustu Dokter/Klinik Bidan /RB Poskestren
1. DKI Jakarta 77,5 78,7 94,1 78,5 68,4 74,6 0,3 0,1
2. Jawa Barat 70,5 54,8 91,7 62,1 76,7 78,2 7,8 4,4
3. Jawa tengah 80,9 74,0 93,1 65,8 81,6 74,3 12,5 20,8
4. DI.Yogyakarta 77,9 82,4 89,5 68,5 65,1 71,5 3,9 3,1
5. Jawa Timur 72,6 59,5 89,6 55,0 74,0 69,8 13,4 26,3
6. Banten 67,0 60,5 91,1 61,1 72,0 67,5 3,9 0,6
7. Bali 88,6 76,8 95,5 82,7 85,2 77,1 25,0 5,7
Indonesia 69,6 53,9 89,8 56,0 66,3 65,2 10,9 13,1

Berbeda dengan waktu tempuh ke fasilitas kesehatan/puskesmas atau


pustu, praktek dokter atau klinik, praktek bidan atau rumah bersalin, poskesdes
atau poskestren, polindes dan posyandu hanya membutuhkan waktu paling lama
15 menit. Sedangkan ke Rumah Sakit paling lama rata-rata 16-30 menit.
Tabel. VII. A. 12
Persentase Waktu Tempuh Rumah Tangga Menuju Rumah Sakit
Pemerintah Menurut Provinsi Di Pulau Jawa-Bali Tahun 2013

Waktu tempuh (menit)


Provinsi
≤ 15’ 16-30’ 31-60’ >60’
1. DKI Jaya 23,1 46,5 25,7 4,7
2. Jawa Barat 13,5 32,4 32,3 21,8
3. Jawa tengah 16,9 36,3 32,5 14,4
4. DI.Yogyakarta 28,1 49,8 20,5 1,6
5. Jawa Timur 19,6 38,1 30,1 12,2
6. Banten 12,4 31,5 34,4 21,8
7. Bali 23,8 39,4 24,7 12,1
Indonesia 18,2 34,4 29,0 18,5

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 143


B. DERAJAT KESEHATAN
1. Mortalitas
a. Angka Kematian Bayi (AKB)
Berdasarkan perhitungan BPS , Angka Kematian Bayi (AKB) di
Provinsi Jawa Barat tahun 2007 sebesar 39 per seribu kelahiran hidup dan
jika dibandingkan dengan Provinsi lain Jawa Barat menduduki urutan ke 12.
Sedangkan Angka Kematian yang paling kecil adalah Provinsi DKI Jakarta
(28 per seribu kelahiran hidup) .
Gambar VII. B. 1
Angka Kematian Bayi (AKB) Provinsi di Pulau Jawa dan Bali
Pada Tahun 2002-2003, 2007, 2005-2010, 2012

Sumber : BPS

35 34 32
30 30 30 29
30
25
25 22
20
15
10
5
0
Indonesia Banten Jawa BaratJawa TengahJawa Timur Bali DI.Yogyakarta DKI Jaya

Angka kematian neonatal periode 5 tahun terakhir mengalami


stagnasi. Berdasarkan laporan SDKI 2007 dan 2012 diestimasikan sebesar
19 per 1.000 kelahiran hidup. Kematian neonatal menyumbang lebih dari
setengahnya kematian bayi (59,4%), sedangkan jika dibandingkan dengan
angka kematian balita, kematian neonatal menyumbangkan 47,5%. Hasil
estimasi angka kematian neonatal di atas merupakan AKN dalam periode 5
tahun terakhir sebelum survei, misalnya pada SDKI tahun 2012
menggambarkan AKN untuk periode 5 tahun sebelumya yaitu tahun 2008-
2012 yang sebesar 19 per 1.000 kelahiran hidup. Keadaan kematian
neonatal sejak tahun 1991 diperlihatkan pada gambar dibawah ini.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 144


Gambar VII. B. 2
Angka Kematian Neonatal (AKN) di Indonesia
Pada Tahun 2002-2003, 2007, 2005-2010, 2012

Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2007, Penyebab kematian


untuk semua umur telah terjadi pergeseran, dari penyakit menular ke
penyakit tidak menular. Penyebab kematian perinatal (0-7hari) yang
terbanyak adalah respiratory disorders (35,9%) dan premature (32,3%),
sedangkan untuk usia (7-28hari) penyebab kematian yang terbanyak adalah
sepsis neonatorum (20,5%) dan congenital malformations (18,1%).
Penyebab kematian bayi yang terbanyak adalah diare (31,4%) dan
pnemonia (23,8%). Sedangkan untuk penyebab kematian anak balita sama
dengan bayi, yaitu terbanyak adalah diare (25,2%) dan pnemonia (15,5%).
Sedangkan untuk usia > 5 tahun, penyebabkematian yang terbanyak
adalah stroke, baik di perkotaan maupun diperdesaan. Penanganan bayi
baru lahir harus terfokus pada peningkatan kemampuan bidan desa untuk
menangani asfiksia pada bayi baru lahir atau menunjukan penanganan bayi
prematur belum memuaskan, atau karena alasan lain seperti terlambat
membawa atau terlambat menerima pelayanan kesehatan.
Untuk kematian perinatal, faktor kesehatan ibu ketika ia hamil dan
bersalin kemungkinan berkontribusi terhadap kondisi kesehatan bayi
yang dikandungnya. Dengan mengetahui penyakit/gangguan kesehatan
ibu ketika hamil, maka tindakan pencegahan maupun pengobatan
harus ditujukan terhadap ibu ketika hamil. Bayi yang dilahirkan dengan
lahir mati/still birth atau yang mengalami kematian neonatal dini (umur 0-6
hari), pewawancara menanyakan apakah ibu bayi tersebut mengalami
gangguan kesehatan ketika mengandung bayi tersebut.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 145


Tabel VII. B. 1
Proporsi Penyebab Kematian Kelompok Umur 0-6 Hari dan 7-28 Hari
Di Indonesia Tahun 2007
Umur 0 – 6 Hari Umur 7 – 28 Hari
No.
Jenis Penyakit % Jenis Penyakit %
1.    Gangguan/Kelainan Pernafasan 35,90 Sepsis 20,50
 2.   
Prematuritas 32,40 Malformasikongenital 18,10
 3.   
Sepsis 12,00 Pneumonia 15,40
 4.   
Hipotermi 6,30 Sindromgawatpernafasan(RDS) 12,80
 5.   
Kelainan Perdarahan dan Kuning 5,60 Prematuritas 12,80
 6.   
Postmatur 2,80 Kuning 2,60
 7.   
Malformasi Kongenitas 1,40 Cederalahir 2,60
 8.   
Tetanus 2,60
 9.   
Defisiensinitrisi 2,60
 
10.   Sindrom kematian bayi mendadak 2,50

Sumber : Riskesdas tahun 2007.

Dari sejumlah 217 kasus kematian perinatal, 96,8% ibu dari


perinatal terganggu kesehatannya ketika hamil. Penyakit yang banyak
dialami ibu hamil pada bayi yang lahir mati adalah hipertensi maternal
(23,6%), komplikasi ketika bersalin (partus macet) sebesar 17,5%,
sedangkan gangguan kesehatan ibu hamil dari bayi meninggal adalah
ketuban pecah dini (23%) dan hipertensi maternal (22%).
Tabel VII. B. 2
Proporsi Faktor Utama Ibu terhadap Lahir Mati dan
Kematian Bayi 0 – 6 Hari di Indonesia Tahun 2007

Lahir Mati Kematian Bayi 0 – 6 Hari


No.
Jenis Penyakit % Jenis Penyakit %
1 Hipertensi maternal 23,60 Ketuban pecah dini 23,00
2 Komplikasi kehamilan dan kelahiran 17,50 Hipertensi maternal 21,80

3 Ketuban pecah dini 12,70 Komplikasi kehamilan dan kelahiran 16,00


4 Perdarahan ante partum 12,70 Kelainan nutrisi maternal 10,30
5 Cedera maternal 10,90 Multi ple pregnancy 6,90
6 Persalinan sungsang 5,50 Perdarahan ante partum 6,90
7 Kehamilan ganda 3,60 Persalinan sungsang 5,70
8 Kelainan letak lain selama kehamilan 3,60 Infeksi intra partum 3,40
dan kelahiran
9 Infeksi intra partum 3,60 Lilitan tali pusat 2,30
10 Lilitan tali pusat 1,80 Kelainan letak lain selama kehamilan 1,10
dan kelahiran
Sumber : Riskesdas tahun 2007.

b. Angka Kematian Balita (AKABA)


Angka Kematian Balita di Jawa Barat pada Tahun 2007 adalah
sebesar 49 per seribu kelahiran hidup. Apabila dibandingkan dengan

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 146


Provinsi yang berada di Jawa dan Bali, ternyata Angka Kematian Balita di
Provinsi Jawa Barat merupakan angka ke-dua tertinggi, dan yang terendah
adalah di Provinsi DI. Yogyakarta sebesar 22 perseribu kelahiran hidup, hal
ini dapat dilihat pada table dibawah ini.

Gambar VII. B. 3
Angka Kematian (AKABA) Provinsi di Pulau Jawa dan Bali
Tahun 2000, 2002, 2007 dan 2012

Sumber : Riskesdas

Proporsi penyakit penyebab kematian pada balita yang terbesar


dikarenakan penyakit Diare dan Pneumonia. Untuk bayi post neonatal
penyebab kematian yang juga perludi perhatikan adalah kelainan kongenital
jantung dan hidrocefallus (6%), sedangkan untuk anak balita penyebab
kematian yang perlu diperhatikan adalah karena campak 6%, tenggelam
5%, TB 4%.
Tabel VII. B. 3
Proporsi Penyebab Kematian pada Anak Berumur 29 Hari - 4 Tahun
Di Indonesia Tahun 2007
29 Hari – 11 Bulan 1 – 4 Tahun
No.
Jenis Penyakit % Jenis Penyakit %
1. Diare 31,4 Diare 25,2
2. Pneumonia 23,8 Pneumonia 15,5
3. Meningitis/ensefalitis 9,3 NecroticansEnteroCollitis(NEC) 10,7
4. Kelainansaluranpencernaan 6,4 Meningitis/ensefalitis 8,8
Kelainan Jantungcongenital
5. 5,8 Demamberdarahdengue 6,8
dan hidrosefalus
6. Sepsis 4,1 Campak 5,8
7. Tetanus 2,9 Tenggelam 4,9
8. Malnutrisi 2,3 TB 3,9
9. TB 1,2 Malaria 2,9
10. Campak 1,2 Leukemia 2,9
Sumber : Riskesdas tahun 2007.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 147


c. Angka Kematian Ibu (AKI)
Angka Kematian Ibu Maternal berguna untuk mengetahui tingkat
kesadaran perilaku hidup sehat,status gizi dan kesehatan ibu, kondisi
kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk Ibu
hamil, Ibu waktu melahirkan dan masa nifas. Hasil Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia tahun 2012 menunjukan adanya kenaikan dari 228 per
100.000 kelahiran hid 359 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup di tahun
2012. Secara rinci dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Gambar VII. B. 4
Angka Kematian Ibu Maternal (AKI) per 100.000 kelahiran hidup
Tahun 1994 – 2012

d. Umur Harapan Hidup (Eo)


Umur Harapan Hidup tahun 2012 di Jawa Barat adalah 68,6 tahun,
jika dibandingkan dengan umur harapan hidup di Provinsi yang berada di
Pulau Jawa dan Bali ternyata ranking ke dua dari bawah dapat dilihat pada
Gambar VII.B.4. Berdasarkan BPS Estimasi Umur Harapan Hidup pada
periode tahun 2000 di Indonesia mencapai 68,23 tahun, sedangkan Jawa
Barat diperkirakan mencapai 68,16 Tahun.
Gambar VII. B. 5
Angka Umur Harapan Hidup Waktu Lahir (Eo) Menurut
Provinsi di Pulau Jawa Bali Tahun 2010-2012

Sumber : BPS 2010-2012

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 148


Dari diatas terlihat bahwa umur harapan hidup dari tahun 2012
mengalami peningkatan, dan umur harapan hidup yang tertinggi di Provinsi Jawa
- Bali adalah Provinsi DKI Jakarta (73,5 tahun), sedangkan terendah di Provinsi
Banten (65,2 tahun).

2. Morbiditas
Angka kesakitan penduduk yang berasal dari masyarakat (community
based data) yang diperoleh melalui studi morbiditas, dan hasil pengumpulan data
dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota serta dari sarana pelayanan kesehatan
(facility based data) yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan
pelaporan.Hasil Susenas 2012, persentase penduduk yang menderita sakit
selama bulan terakhir sebanyak 14,49%, lebih rendah dari tahun 2011 sebanyak
15,02%, dengan rata-rata lama sakit yang terbanyak sekitar 1-3 hari sebanyak
58,69% dan lama sakit 4-7 hari sebanyak 30,36%.

a. Penyakit Menular
Penyakit Diare masih merupakan penyebab utama kematian pada
balita. Angka kesakitan yang dilaporkan dari sarana kesehatan dan kader
per-1000 penduduk terlihat bahwa Provinsi Jawa Barat menempati urutan
keempat terbesar bila dibandingkan dengan Provinsi di Pulau Jawa-Bali.
Angka kesakitan Diare masih mengalami Fluktuasi, mengingat banyaknya
faktor-faktor yang mempengaruhi dan masih memerlukan waktu untuk
peningkatan seperti sanitasi lingkungan, sosial ekonomi & sosial budaya
serta faktor gizi.
Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013, Prevalensi Diare di
Indonesia sebesar 4,5% (perkotaan ; 4,3%, dan pedesaan ; 4,8%), tertinggi
di Provinsi DKI Jakarta (5,0%) dan terendah di Bali (3,6%).. Kasus Diare di
sebagian besar provinsi (75%) terdeteksi berdasarkan diagnosa tenaga
kesehatan. Sedangkan Provinsi Jawa Barat mempunyai prevalensi diare
klinis 4,9%. Dan penyakit Diare merupakan penyebab kematian nomor satu
pada bayi (31,4%) dan pada balita (25,2%), sedangkan pada golongan
semua umur merupakan penyebab kematian yang ke empat (13,2%).
Dehidrasi merupakan salah satu komplikasi penyakit diare yang
dapat menyebabkan kematian. Secara nasional proporsi responden diare
klinis yang mendapatkan oralit adalah 33,3%, dan Provinsi Jawa Barat
sebanyak 33,6%. Penyakit Diare tersebar di semua kelompok umur dengan
prevalensi tertinggi pada Balita (16,7%). Pemakaian oralit 29,5% di
perkotaan lebih banyak dibandingkan di perdesaan (36,8%)..
Angka Prevalensi Nasional TB cenderung meningkat bila

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 149


dibandingkan antara hasil Riskesdas 2013 Angka Prevalensi TB sebesar
0,4% dan hasil Riskesdas 2010 sebesar 0,7%. Berdasarkan jenis kelamin
prevalensi pada laki-laki sebesar 0,4 % dan pada perempuan 0,3 %.
Berdasarkan pendidikan prevalensi tertinggi pada kelompok yang tidak
pernah sekolah sebesar 0,5 % dan terendah pada kelompok tamat SMA
sebesar 0,2 %. Berdasarkan pekerjaan prevalensi tertinggi dapat
ditemukan pada kelompok dengan tidak pekerjaan pertani, dan pegawai
dan di pedesaan sebesar 0,3% lebih rendah dari pada di perkotaan (0,4%).
Gambar VII. B. 6
Angka Prevalensi Tuberkulosis Paru
Provinsi di Pulau Jawa Bali Tahun 2007, 2010 dan 2013

Sumber : Riskesdas 2007, 2010, 2013


Tabel VII. B. 4
Cakupan Penemuan BTA Positif dan Case Detection Rate (CDR)
Menurut Provinsi di Pulau Jawa-Bali Tahun 2013
Cakupan Penemuan Kasus Penyakit Tuberkulosis
Provinsi Case Notification Rate
Kasus TB Kasus BTA +
(CNR)
1. DKI Jaya 24.091 8.627 91,0
2. Jawa Barat 61.721 33.460 76,4
3. Jawa tengah 39.704 20.446 60,6
4. DI.Yogyakarta 2.679 1.278 35,2
5. Jawa Timur 42.381 24.703 62,4
6. Banten 13.833 7.903 75,9
7. Bali 3.027 1.475 40,1
Indonesia 327.094 196.310 81,0
Sumber : Profil Kesehatan Indonesia, Ditjen PPPL Tahun 2013
Untuk Angka Insidens Demam Berdarah Dengue (DBD)
mengalami peningkatan hal ini disebabkan antara lain dengan tingginya
mobilitas dan kepadatan penduduk, nyamuk penular penyakit DBD tersebar
di seluruh pelosok dan masih banyak menggunakan tempat-tempat
penampungan air tradisional (tempayan,bal,drum dll).
Pada tahun 2013, jumlah penderita DBD di Indonesia yang
dilaporkan sebanyak 101.218 kasus dengan jumlah kematian 736 orang
(Incidence Rate/ Angka kesakitan= 0,7 per100.000 penduduk dan CFR=

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 150


41,25%). Terjadi peningkatan jumlah kasus pada tahun 2013 dibandingkan
tahun 2012 yang sebesar 90.245 kasus dengan IR 37,11

Tabel VII. B. 5
Jumlah Penderita, Case Fatality Rate (%), Dan Incidence Rate Penyakit
Demam Berdarah Dengue (DBD/DHF) Menurut Provinsi
di Pulau Jawa-Bali Tahun 2011 – 2013

Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013


Provinsi
P CFR IR P CFR IR P CFR IR
1. DKI Jaya 6.653 0,05 68,32 6.669 0,06 68,48 9.389 0,2 96,18
2. Jawa Barat 13.836 0,41 31,55 19.683 0,85 44,85 21.628 0,6 47,29
3. Jawa tengah 4.474 0,98 13,77 7.088 1,52 19,29 11.333 1,2 30,84
4. DI.Yogyakarta 982 0,31 28,12 971 0,21 28,16 2.256 0,3 65,25
5. Jawa Timur 5.372 1,15 14,23 8.177 1,42 21,49 13.731 0,9 36,08
6. Banten 1.736 1,84 15,89 3.362 0,86 32,69 2.637 0,8 24,67
7. Bali 2.996 0,23 75,42 2.650 0,11 65,90 6.813 0,1 168,48
Indonesia 65.432 0,91 27,56 90.245,0 0,90 37,11 101.218 0,7 41,25

Sumber : Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013

Apabila dilihat menurut Provinsi yang berada di Pulau Jawa-Bali,


maka terlihat bahwa Provinsi DKI Jakarta menempati urutan pertama
tertinggi dengan Angka IR 96,18 per 100.000 penduduk pada tahun 2013.
Angka Kesakitan Malaria sejak empat tahun terakhir menunjukan
kecenderungan yang cukup mengkhawatirkan, hal ini diakibatkan antara lain
adanya perubahan lingkungan seperti penebangan hutan bakau, mobilitas
penduduk dari Pulau Jawa ke Luar Jawa yang sebagian besar masih
merupakan daerah endemis malaria dan obat malaria yang resisten yang
semakin meluas.
Secara nasional angka kesakitan malaria selama tahun 2008 –
2012 cenderung menurun yaitu dari 4,1 per 1.000 penduduk berisiko pada
tahun 2005 menjadi 1,69 per 1.000 penduduk pada tahun 2012.
Untuk wilayah Jawa dan Bali, Annual Parasite Incidence (API)
tertinggi adalah Provinsi Jawa Tengah sebesar 0,04 per 1.000 penduduk
diikuti DI. Yogya sebesar 0,02 per 1.000 penduduk. Sedangkan yang
terendah terdapat di Provinsi Bali dan DKI Jakarta. Rincian API dan AMI
menurut provinsi Jawa Bali tahun 2013 dapat dilihat pada tabel berikut ini.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 151


Tabel VII. B. 6
Annual Parasite Incidence (API) Malaria Provinsi
Di Jawa-Bali Tahun 2008-2013
Annual Parasite Incidence (API) Per 1.000
Provinsi
2008 2009 2010 2011 2012 2013
1. DKI. Jakarta - - - 0,05 0,00 0,00
2. Jawa Barat 0,58 0,36 0.43 0,47 0,01 0,00
3. Jawa Tengah 0,07 0,08 0.10 0,01 0,03 0,04
4. DI. Yogya 0,03 0,03 0.01 0,00 0,06 0,02
5. Jawa Timur 0,71 0,71 0.10 0,01 0,02 0,00
6. Banten 0,17 0,14 0.03 0,03 0,02 0,01
7. Bali 0,03 0,02 0.03 0,00 0,00 0,00
Indonesia 0,16 1,85 1.96 1,75 1,69 1,38
Sumber : Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013
Perkembangan penyakit AIDS terus menunjukan
peningkatan.Meskipun berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan
terus dilakukan. Semakin tingginya mobilitas penduduk antar wilayah,
menyebarnya sentra-sentra pembangunan ekonomi di Indonesia,
meningkatnya perilaku seksual yang tidak aman, dan meningkatnya
penyalahgunaan NAPZA melalui suntikan, secara simultan telah
memperbesar tingkat risiko penyebaran AIDS. Saat ini di Indonesia telah
digolongkan sebagai negara tingkat epidemi dengan prevalensi lebih dari
5%. Jumlah penderita AIDS di Indonesia sebenarnya belum diketahui
dengan pasti. Jumlah kumulatif kasus AIDS yang dilaporkan sampai tahun
2013 sebanyak 52.348 kasus dan 29.166 kasus HIV diantaranya 4,4 %
Posistif HIV.
HIV/AIDS memiliki beberapa faktor risiko, yaitu hubungan seksual lawan
jenis (heteroseksual), hubungan sejenis melalui Lelaki Seks Lelaki (LSL),
penggunaan Narkoba suntik secara bergantian, transfusi darah dan
perinatal. Berikut ini disajikan persentase kasus kumulatif menurut faktor
risiko.
Gambar VII. B. 7
Jumlah Kasus Baru Penderita AIDS Pada Pengguna Nafza Suntikan (IDU)
Di Jawa-Bali Tahun 2013

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 152


Menurut provinsi, Jawa Timur merupakan provinsi dengan
penemuan kasus baru AIDS tertinggi pada tahun 2013, yaitu sebesar 1.038
kasus, diikuti oleh Bali dan DKI Jakarta yang masing-masing sebesar 641
dan 640 kasus. Menurut jenis kelamin, persentase kasus baru AIDS tahun
2013 pada kelompok laki-laki lebih besar dibandingkan dengan kelompok
perempuan.
Hasil SDKI 2012 menunjukan bahwa persentase wanita umur 15-
49 tahun yang pernah mendengar tentang HIV AIDS sebesar 76,7%.
Sedangkan pria kawin umur 15-54 tahun yang pernah mendengar tentang
HIV AIDS sebesar 82,3%.

b. Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Immunisasi


Bedasarkan data laporan Sistem Surveilans Terpadu (SST),
keadaan kasus penyakit yang dapat dicegah dengan immunisasi, apabila
dibandingkan dengan Provinsi di Pulau Jawa dan Bali, maka Penyakit
Difteri, Tetanus Neonatorum dan Campak di Jawa Barat menempati urutan
ke 2, 3, 1 terbesar di Pulau Jawa-Bali, jika dibandingkan secara Nasional
Penyakit Tetanus Neonatorum di Jawa Barat menempati urutan ke-7
terbesar, Penyakit Campak menduduki urutan ke-2 setelah Provinsi Jawa
Tengah. Kasus AFP di Indonesia sebanyak 1951 kasus diantaranya 337
Kasus ada di Jawa Barat.
Tabel VII. B. 7
Jumlah Kasus Penyakit Menular yang Dapat Dicegah dengan
Immunisasi (PD3I) Di Provinsi Jawa –Bali Tahun 2013
Tetanus
Provinsi Campak Difteri AFP
Neonatorum
1. DKI Jaya 0 1.362 4 71
2. Jawa Barat 3 671 9 345
3. Jawa tengah 2 603 9 233
4. DI.Yogyakarta 0 641 2 34
5. Jawa Timur 19 1.134 610 231
6. Banten 24 1.910 20 106
7. Bali 0 67 4 39
Indonesia 78 11.521 778 1.963
Sumber : Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013

c. Penyakit Tidak Menular


Semakin meningkatnya arus globalisasi di segala bidang,
perkembangan teknologi dan industri telah banyak membawa perubahan
pada perilaku dan gaya hidup masyarakat, serta situasi lingkungan misalnya
perubahan pola konsumsi makanan, berkurangnya aktivitas fisik dan
meningkatnya polusi lingkungan. Perubahan tersebut tanpa disadari telah

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 153


berpengaruh terhadap transisi epidemiologi sehingga semakin meningkatnya
kasus-kasus penyakit tidak menular diantaranya seperti Penyakit Jantung,
Tumor, Diabetes, Hipertensi, Gagal Ginjal dan sebagainya.
Berdasarkan Riskesdas tahun 2013, Prevalensi gagal jantung
berdasar wawancara terdiagnosis dokter di Indonesia sebesar 0,13 persen,
dan yang terdiagnosis dokter atau gejala sebesar 0,3 persen. Prevalensi
gagal jantung berdasarkan terdiagnosis dokter tertinggi DI Yogyakarta
(0,25%), disusul Jawa Timur (0,19%), dan Jawa Tengah (0,18%),
sedangkan Jawa Barat sebesar 0,5%. Prevalensi penyakit gagal jantung
meningkat seiring dengan bertambahnya umur, tertinggi pada umur 65 – 74
tahun (0,5%) untuk yang terdiagnosis dokter, menurun sedikit pada umur
≥75 tahun (0,4%), tetapi untuk yang terdiagnosis dokter atau gejala tertinggi
pada umur ≥75 tahun (1,1%). Untuk yang didiagnosis dokter prevalensi lebih
tinggi pada perempuan (0,2%) dibanding laki-laki (0,1%).
Prevalensi penyakit gagal ginjal kronis berdasarkan wawancara
yang didiagnosis dokter meningkat seiring dengan bertambahnya umur,
meningkat tajam pada kelompok umur 35-44 tahun (0,3%), diikuti umur 45-
54 tahun (0,4%), dan umur 55-74 tahun (0,5%), tertinggi pada kelompok
umur ≥75 tahun (0,6%). Prevalensi pada laki-laki (0,3%) lebih tinggi dari
perempuan (0,2%), prevalensi lebih tinggi pada masyarakat perdesaan
(0,3%).
Prevalensi diabetes dan hipertiroid di Indonesia berdasarkan
wawancara yang terdiagnosis dokter sebesar 1,5 persen dan 0,4 persen. DM
terdiagnosis dokter atau gejala sebesar 2,1 persen. Prevalensi diabetes yang
terdiagnosis dokter tertinggi terdapat di DI Yogyakarta (2,6%), DKI Jakarta
(2,5%), sedangkan prevalenasi di Jawa Barat sebesar 2% dan prevalensi
hipertiroid sebesar 0,5%, serta prevalensi hipertensi sebesar 10,6% lebih
rendah dari angka nasional.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 154


Tabel VII. B. 8
Prevalensi Diabetes, Hipertiroid, Hipertensi, Jantung Koroner, Gagal
Jantung dan Stroke Pada Umur ≥ 15 Tahun Di Provinsi Jawa –Bali
Tahun 2013
Jantung Gagal
Provinsi Diabetes Hipertiroid Hipertensi Stroke
Koroner Jantung

1. DKI Jaya 3,0 0,7 10,1 0,7 0,15 9,7


2. Jawa Barat 2,0 0,5 10,6 0,5 0,14 6,6
3. Jawa tengah 1,9 0,5 9,5 0,5 0,18 7,7
4. DI.Yogyakarta 3,0 0,7 12,9 0,6 0,25 10,3
5. Jawa Timur 2,5 0,6 10,8 0,5 0,19 9,1
6. Banten 1,6 0,4 8,6 0,5 0,09 5,1
7. Bali 1,5 0,4 8,8 0,4 1,13 5,3
Indonesia 2,1 0,4 9,5 0,5 0,13 7,0

Prevalensi gangguan jiwa berat di Indonesia adalah sebesar 1,7‰.


Jika dibandingkan antar provinsi pulau Jawa-Bali, prevalensi tertinggi
terdapat di Provinsi DI Yogyakarta (2,7‰) yang kemudian secara berturut
turut diikuti oleh Provinsi Jawa Timur (2,3‰), Jawa Timur (2,2‰), dan
Provinsi Jawa Barat 1,6‰ dibawah angka Nasional.
Prevalensi cedera secara nasional adalah 8,2 %, perbandingan
hasil Riskesdas 2007 dengan Riskesdas 2013 menunjukkan
kecenderungan peningkatan prevalensi cedera dari 7,5% menjadi 8,2 %.
Prevalensi nasional masalah gigi dan mulut dijumpai sebesar 25,9
persen. Untuk perilaku benar dalam menyikat gigi berkaitan dengan faktor
gender, ekonomi, dan daerah tempat tinggal. Ditemukan sebagian besar
penduduk Indonesia menyikat gigi pada saat mandi pagi maupun mandi
sore, (76,6%). Perilaku menyikat gigi dengan benar setelah makan
pagi dan sebelum tidur malam, untuk Indonesia ditemukan 2,3 %.
Tabel VII. B. 9
Persentase Penduduk Umur ≥10 Tahun Menyikat Gigi Setiap Hari Dan
Berperilaku Benar Menyikat Gigi Di Provinsi Jawa –Bali Tahun 2013.
Sesudah Sesudah Mandi Menyikat
Sikat Gigi Mandi Sesudah Sebelum
Provinsi Mandi Pagi Makan makan Pagi dan gigi dengan
Setiap Hari Sore Bangun Pagi Tidur Malam
Pagi siang sore benar
1. DKI Jaya 98,1 94,7 73,5 4,9 5,2 43,4 5,5 71,4 3,5
2. Jawa Barat 97,0 95,9 81,4 3,2 6,1 29,5 7,5 79,6 1,8
3. Jawa tengah 94,6 93,0 86,0 2,9 7,2 21,2 4,5 82,3 1,7
4. DI.Yogyakarta 93,6 88,6 77,4 5,2 10,6 34,8 6,6 72,7 3,4
5. Jawa Timur 93,5 95,2 84,0 2,8 5,1 22,6 9,2 81,4 1,5
6. Banten 97,1 96,9 84,2 2,4 4,1 29,1 5,0 82,8 1,5
7. Bali 91,8 86,8 69,5 5,7 6,9 33,7 4,0 64,0 4,1
Indonesia 93,8 94,2 79,7 3,8 6,5 27,3 6,2 77,1 2,3

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 155


Prevalensi cedera secara keseluruhan antara 3.8%-12.9% dengan
rerata 8,2% (perkotaan;8,7% dan pedesaan;7,8%) dan prevalensi tertinggi
terdapat di DI Yogyakarta (12,4%), sedangkan prevalensi cedera di Jawa
Barat sebesar 8,5 diatas angka nasional. Urutan penyebab cedera terbanyak
adalah jatuh, kecelakaan transportasi darat dan terluka benda tajam/ tumpul.
Sedangkan untuk penyebab cedera yang lain bervariasi tetapi prevalensi
nyarata – rata kecil atau sedikit .

C. STATUS GIZI
Secara nasional, prevalensi berat-kurang pada tahun 2013 adalah 19,6
%, terdiri dari 5,7% gizi buruk dan 13,9 % gizi kurang. Jika dibandingkan dengan
angka prevalensi nasional tahun 2007 (18,4 %) dan tahun 2010 (17,9 %) terlihat
meningkat. Perubahan terutamapada prevalensi gizi buruk yaitu dari 5,4 % tahun
2007, 4,9 % pada tahun 2010, dan 5,7 % tahun 2013. Sedangkan prevalensi gizi
kurang naik sebesar 0,9 % dari 2007 dan 2013. Untuk mencapai sasaran MDG
tahun 2015 yaitu 15,5 % maka prevalensi gizi buruk-kurang secara nasional harus
diturunkan sebesar 4.1 % dalam periode2013 sampai 2015. (Bappenas, 2012).
Diantara 33 provinsi di Indonesia,18 provinsi memiliki prevalensi gizi buruk-kurang di
atas angka provinsi di Indonesia,18 provinsi memiliki prevalensi gizi buruk-kurang di
atas angka prevalensi nasional yaitu berkisar antara 21,2% sampai dengan 33,1%.
Prevalensi pendek (stunting) menurut provinsi dan nasional. Prevalensi pendek
secara nasional tahun 2013 adalah 37,2 %, yang berarti terjadi peningkatan
dibandingkan tahun 2010 (35,6%) dan 2007 (36,8%). Prevalensi pendek sebesar
37,2 %terdiri dari 18,0 % sangat pendek dan 19,2 % pendek. Pada tahun 2013
prevalensi sangat pendek menunjukkan penurunan, dari 18,8 % tahun 2007 dan 18,5
% tahun 2010. Prevalensi pendek meningkat dari 18,0 % pada tahun 2007 menjadi
19,2 % pada tahun 2013.
Prevalensi kurus menurut provinsi dan nasional. Salah satu indikator untuk
menentukan anak yang harus dirawat dalam manajemen gizi buruk adalah keadaan
sangat kurus yaitu anak dengan nilai Zscore<-3,0 SD. Prevalensi sangat kurus
secara nasional tahun 2013 masih cukup tinggi yaitu 5,3 %, terdapat penurunan
dibandingkan tahun 2010 (6,0 %) dan tahun 2007 (6,2 %). Demikian pula halnya
dengan prevalensi kurus sebesar 6,8% juga menunjukkan adanya penurunan dari
7,3 % (tahun 2010) dan 7,4 % (tahun 2007). Secara keseluruhan prevalensi anak
balita kurus dan sangat kurus menurun dari 13,6 % pada tahun 2007 menjadi 12,1 %
pada tahun 2013.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 156


Gambar VII. C. 1
Prevalensi status gizi balita menurut gabungan indikator TB/U dan BB/TB,
DI Indonesia 2007, 2010, dan 2013

100%

50%

0%
2007 2010 2013
PENDEK-KURUS PENDEK-NORMAL PENDEK GEMUK
NORMAL-KURUS NORMAL-NORMAL NORMAL- GEMUK

Tabel VII. C. 1
Prevalensi Status Gizi Balita Menurut BB/TB,
Di Provinsi Jawa –Bali Tahun 2013
Status Gizi Menurut BB/TB
Provinsi Sangat
Kurus Normal Gemuk
Kurus
1. DKI Jaya 4,4 5,8 78,1 11,7
2. Jawa Barat 5,0 5,9 77,3 11,8
3. Jawa tengah 4,5 6,6 76,9 12,0
4. DI.Yogyakarta 4,7 4,7 80,2 10,3
5. Jawa Timur 4,4 7,0 76,9 11,8
6. Banten 6,5 7,3 74,4 11,8
7. Bali 3,4 5,4 78,6 12,6
Indonesia 5,3 6,8 76,1 11,8

Status Gizi berdasarkan inikator BB/TB, prevalensi Sangat Kurus di


kalangan balita di Provinsi Jawa Barat adalah 5,0% sedangkan nasional prevalensi
sangat kurus sebesar 5,3%. Apabila dibandingkan dengan Provinsi di Jawa – Bali,
prevalensi Sangat Kurus di Jawa Barat urutan ke 2 tertinggi setelah provinsi Banten
(6,5%). Sedangkan berdasarkan jenis kelamin, gizi buruk pada laki-laki sedikit lebih
tinggi dibandingkan perempuan.
Indeks Massa Tubuh (IMT) sangat kurus pada anak umur 5-12 tahun
sebesar 4,0%, gizi kurus 7,2%. untuk di kawasan Jawa – Bali paling tinggi Jawa
Tengah (4,6%) dan Jawa Timur (3,5%), sedangkan Jawa Barat sebesar 3,1%
dibawah angka nasional dengan di perkotaan sebesar 3,6% dan pedesaan 4,3%.
Sedangkan anak umur 5-12 tahun yang berat badan lebih (obesitas) di Jawa Barat
sebesar 10,7%. Demikian juga secara nasional prevalensi kekurusan pada anak
umur 13-15 tahun adalah 11,1% terdiri dari 3,3% sangat kurus dan 7,8% kurus,
sedangkan prevalensi kekurusan pada anak umur 13-15 tahun di Jawa Barat
sebesar 9,1% yang terdiri dari 2,6 % sangat kurus dan 6,5% kurus. Prevalensi
kekurusan pada remaja umur 16-18 tahun secara nasional sebesar 8,9% terdiri dari
1,8% sangat kurus dan 7,1% kurus, sedangkan prevalensi kekurusan pada remaja

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 157


umur 16-18 tahun di Jawa Barat sebesar 10% yang terdiri dari 2,8% sangat kurus dan
6% kurus, sedangkan yang berat badan lebih sebesar 6,2% diatas angka Nasional
(5,7%).
Rata-rata kecukupan konsumsi energi perempuan umur 15-49 tahun (usia
reproduksi) secara nasional yang mempunyai risiko sebesar 40,7%. Prevalensi
tersebut lebih tinggi di daerah pedesaan (41,4%), dari pada perkotaan (40,1%) dan
Rata-rata kecukupan konsumsi energi perempuan umur 15-49 tahun (usia reproduksi)
di Jawa Barat sebesar 43,3%. Berdasarkan tingkat pendidikan secara nasional
menunjukan pada tingkat pendidikan terendah (tidak sekolah dan tidak tamat SD),
cenderung lebih tinggi dibandingkan tingkat pendidikan tertinggi (tamat PT), demikian
juga cenderung tinggi pada kelompok pengeluaran rumah tangga yang terendah.
Proposi Rumah tangga yang mengonsumsi garam dengan
kandunganiodium cukup berdasarkan hasil tes cepat pada tahun 2013 (77,1%)
mengalami peningkatandibanding tahun 2007 (62,3%). Target WHO untuk universal
salt iodization (USI) atau garamberiodium untuk semua, minimal 90 % RT
mengonsumsi garam dengan kandungan iodiumcukup, masih belum tercapai. Jawa
Barat baru mencapai 68,6% masih dibawah angka nasional. Secara rinci dapat dilihat
pada tabel di bawah ini.
Tabel VII. C. 2
Proporsi Rumah Tangga Yang Mengkonsumsi Garam Berdasarkan Kandungan
Iodium Menurut Provinsi Di Pulau Jawa - Bali, Tahun 2013

Provinsi Cukup Kurang Tidak ada

1. DKI Jaya 83,9 12,6 3,5

2. Jawa Barat 68,6 20,5 10,9

3. Jawa tengah 80,1 13,2 6,7

4. DI.Yogyakarta 90,0 7,3 2,7

5. Jawa Timur 75,4 13,7 10,9

6. Banten 80,1 15,1 4,8

7. Bali 50,8 19,1 30,1

Indonesia 77,1 14,8 8,1

Proporsi penduduk umur =15 tahun dengan glukosa darah puasa (GDP)
terganggu, secara keseluruhan, lebih dari sepertiga penduduk (36,6%) mengalami
keadaan GDP terganggu, dan laki-laki lebih banyak mengalami keadaan tersebut
dibandingkan perempuan denganperbedaan sekitar 6 %. Berdasarkan hasil
pemeriksaan glukosa darah, parameter yang dianalisis adalah proporsi DM,GDP
terganggu, dan TGT. Tabel 18.5 menunjukkan proporsi DM pada penduduk umur =15
tahun. Proporsi DM di Indonesia pada perempuan cenderung lebihtinggi, tetapi
hampir sama antara proporsi di perkotaan (6,8%) dan perdesaan (7,0%)

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 158


Anemia adalah suatu keadaan kadar hemoglobin di dalam darah kurang
dari nilai normal. Dalam Riskesdas diperiksa anemia kekurangan zat besi yang
dikenal anemia gizi besi. Hal ini terjadi karena zat besi berperan pada sintesa sel
darah merah untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Kekurangan zat besi
dalam keadaan lanjut menyebabkan pembentukan sel darah merahtidak mencukupi
untuk kebutuhan fisiologis tubuh yang diasosiasikan sebagai keadaan anemia.
Proporsi penduduk umur =1 tahun dengan keadaan anemia mencapai 21,7 % secara
nasional. Berdasarkan pengelompokan umur, didapatkan bahwa anemia pada balita
cukup tinggi, yaitu 28,1 % dan cenderung menurun pada kelompok umur anak
sekolah, remaja sampai dewasa muda (34 tahun), tetapi cenderung meningkat
kembali pada kelompok umur yang lebih tinggi. Berdasarkan jenis kelamin didapatkan
bahwa proporsi anemia pada perempuan lebih tinggi dibandingkan pada laki-laki. Jika
dibandingkan berdasarkan tempat tinggal didapatkan bahwa anemia di perdesaan
lebih tinggi dibandingkan dengan perkotaan. Anemia pada populasi ibu hamil
sebesar 37,1 % dan prevalensinya hampir sama antara bumil di perkotaan (36,4%)
dan perdesaan(37,8%). Hal ini menunjukkan angka tersebut mendekati masalah
kesehatan masyarakat berat (severe public health problem) dengan batas prevalensi
anemia sebesar 40%.

D. UPAYA KESEHATAN
Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat. Diantaranya adalah memberikan penyuluhan kesehatan, menyediakan
berbagai fasilitas kesehatan, juga program dana kesehatan untuk masyarakat miskin.
Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah awal yang
sangat penting dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dengan
pemberian pelayanan kesehatan dasar secara tepat dan cepat, diharapkan sebagaian
besar masalah kesehatan masyarakat sudah dapat diatasi.
Persentase penduduk yang berobat jalan selama 1 tahun secara
nasional sebanyak 29,26%. Dengan penilaian terhadap pelayanan kesehatan oleh
tenaga kesehatan yang tidak puas sebanyak 0,19%. Dan Provinsi Jawa Barat
peringkat ke-dua tertinggi di antara kawasan Jawa-Bali.Secara rinci dapat dilihat pada
tabel dibawah ini.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 159


Tabel VII. D. 1
Persentase Penduduk Yang Berobat Jalan Terakhir Terhadap Pelayanan
Kesehatan Selama 1 Tahun Menurut Provinsi Jawa-Bali,
Penilaian terhadap Pelayanan Kesehatan
No Provinsi Sangat Cukup Kurang Tidak
Puas Jumlah
Puas Puas Puas Puas
1 DKI Jakarta 16,39 58,92 21,68 2,70 0,31 100
2 Jawa Barat 5,79 49,87 40,33 3,76 0,25 100
3 Jawa Tengah 6,29 56,30 35,37 1,97 0,07 100
4 DI Yogyakarta 9,33 67,90 20,24 2,33 0,21 100
5 Jawa Timur 9,79 56,44 32,36 1,31 0,11 100
6 Banten 6,46 37,99 47,74 7,59 0,22 100
7 Bali 10,40 64,85 23,11 1,64 - 100
Indonesia 8,34 55,34 32,98 3,15 0,19 100
Sumber : BPS, Statistik Kesehatan 2004

Sedangkan penilaian terhadap pelayanan kesehatan di Rawat Inap


selama 5 tahun terakhir secara nasional yang tidak puas 0.91% dan Provinsi Jawa
Barat dibawah angka nasional. Secara rinci dapat dilihat perbandingan antara
Provinsi di Jawa-Bali berikut ini.
Tabel VII. D. 2
Persentase Penduduk Yang Menjalani Rawat Inap Terhadap Pelayanan
Kesehatan Selama 5 Tahun Terakhir Menurut Provinsi di Pulau Jawa-Bali

Penilaian Pelayanan Kesehatan


No Provinsi Sangat Cukup Kurang Tidak
Puas
Puas Puas Puas Puas
1 DKI Jakarta 13,42 53,02 26,85 4,70 2,01
2 Jawa Barat 4,22 39,71 43,90 11,64 0,53
3 Jawa Tengah 7,77 52,09 35,61 4,12 0,41
4 DI Yogyakarta 5,89 64,63 26,51 1,90 1,07
5 Jawa Timur 9,66 52,71 28,68 7,88 1,06
6 Banten 6,03 46,59 45,37 2,01 -
7 Bali 7,59 57,98 29,14 4,38 0,91
Indonesia 8,22 50,46 33,21 7,29 0,82

Berdasarkan Riskesdas 2013, Kemudahan akses ke sarana pelayanan


kesehatan berhubungan dengan beberapa faktor, antara lain jarak tempat tinggal
dan waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan, serta status social ekoomi dan
budaya.
Sebanyak 65,6% rumah tangga di Indonesia berada kurang atau sama
dengan 15 menit ke sarana pelayanan kesehatan primer, untuk Provinsi Jawa Barat
62,5% rumah tangga berada waktu tempuh kurang atau sama dengan 15 menit ke
sarana pelayanan kesehatan primer. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga
perkapita, terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 160


semakin dekat jarak dan semakin singkat waktu tempuh ke sarana pelayanan
kesehatan.

Tabel VII. D. 3
Persentase Rumah Tangga Menurut Waktu Tempuh
Ke Sarana Pelayanan Kesehatan dan Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat
Di Provinsi Pulau Jawa-Bali Tahun 2013
Waktu Tempuh ≤ 15 Menit

Provinsi Rumah Poskesdes Praktek Bidan


Puskesmas Praktek Dokter
Sakit atau Posyandu atau Rumah
atau Pustu atau Klinik
Pemerintah Poskestren Bersalin
1. DKI Jaya 23,1 94,6 80,1 97,6 89,4 84,2
2. Jawa Barat 13,5 89,6 62,5 94,8 82,4 67,4
3. Jawa tengah 16,9 96,2 67,7 96,8 88,1 71,9
4. DI.Yogyakarta 28,1 89 81,7 97,8 87,6 84,4
5. Jawa Timur 19,6 92,9 69,8 95,9 86,9 73,8
6. Banten 12,4 87,5 61,6 97,8 84,5 74,1
7. Bali 23,8 89,2 75,2 95,5 82,4 75,8
Indonesia 18,2 89,3 65,6 94,4 83,8 69,5
Sumber : Riskesdas tahun 2013

Berdasarkan Riskesdas Tahun 2013, presentase rumah tangga yang


memanfaatkan Unit Pelayanan Kesehatan di Indonesia terbanyak ke
Puskesmas/Pustu (36,2%), Praktek Dokter (24,5%), Praktek Bidan (18,5%). Lebih
jelas dapat dilihat di tabel dibawah ini.
Tabel VII. D. 4
Persentase Penduduk Yang Memanfaatkan Fasilitas Kesehatan
Untuk Tempat Berobat Jalan Di Provinsi Pulau Jawa-Bali Tahun 2013
Tempat berobat jalan
Provinsi RS RS Swasta/ Puskesmas Praktek Praktek Polindes/ Nakes Faskes
Pemerintah RSB / Pustu Dokter Bidan Poskesdes Lainnya LN*)
1. DKI Jaya 13,5 17,0 39,2 27,0 4,9 0,0 3,2 0,2
2. Jawa Barat 5,9 7,4 35,8 31,4 14,1 0,6 11,6 0,5
3. Jawa tengah 4,9 5,1 32,5 26,6 23,8 3,1 11,2 0,3
4. DI.Yogyakarta 6,9 16,0 32,4 33,7 12,2 0,3 4,5 0,5
5. Jawa Timur 4,8 5,4 28,4 24,8 26,3 6,7 12,0 0,4
6. Banten 3,9 8,3 36,0 27,8 16,2 0,5 11,7 0,9
7. Bali 8,1 5,0 25,9 35,3 22,8 1,5 9,8 0,0
Indonesia 6,4 6,1 36,2 24,5 18,5 4,1 10,7 0,4
Sumber : Riskesdas tahun 2013

Apabila menurut jenis pelayanan, banyak dimanfaatkan untuk


pengobatan (82,9%), adapun pelayanan KIA yang terbanyak adalah pemeriksaan
bayi/balita (29,2%), pemeriksaan kehamilan (22,5%). Menurut tipe daerah jenis
pelayanan di perkotaan lebih banyak memanfaatkan polindes/ bidan di desa untuk
pelayanan KIA, sedangkan di pedesaan lebih banyak memanfaatkan untuk
pengobatan.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 161


Tabel VII. D. 5.
Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa
Menurut Jenis Pelayanan Di Provinsi Pulau Jawa-Bali Tahun 2007
Pemeriksaan
Pengo
Provinsi Bayi/
Kehamilan Persalinan Ibu Nifas Neonatus batan
Balita
1. DKI Jakarta 38,2 14,2 14,0 12,6 34,7 56,6
2. Jawa Barat 23,2 10,2 10,3 9,7 29,4 78,8
3. Jawa tengah 15,6 6,4 6,0 5,6 20,5 84,7
4. DI.Yogyakarta 33,5 21,3 20,9 17,5 36,2 78,6
5. Jawa Timur 38,2 24,2 24,8 6,2 34,4 85,8
6. Banten 24,6 10,7 11,0 11,7 30,8 82,5
7. Bali 72,0 26,3 16,7 15,8 47,2 85,2
Indonesia 22,5 9,8 9,2 8,2 29,2 82,9
Sumber : Riskesdas tahun 2007
Pencapaian Universal Child Immunization (UCI) pada dasarnya
merupakan proksi terhadap cakupan atas imunisasi dasar secara lengkap pada bayi
(0 -11 bulan). Desa UCI merupakan gambaran desa/kelurahan dengan ≥ 80% jumlah
bayi yang ada di desa tersebut sudah mendapatkan imunisasi dasar lengkap dalam
waktu satu tahun.
Pencapaian UCI Indonesia sebesar 80,23%, dan Provinsi DI.Yogya dan
DKI Jakarta memiliki capaian tertinggi sebesar 100%, diikuti oleh Jawa Tengah
sebesar 99,14%, sedangkan Provinsi Jawa Barat menduduki urutan ke 5
dibandingkan antara provinsi di Jawa-Bali, dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Gambar VII. D. 1
Persentase Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI)
Menurut Provinsi di Pulau Jawa-Bali Tahun 2013

Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013, Cakupan immunisasi lengkap


di Indonesia sebesar 59,2% , dengan cakupan immunisasi lengkap di perkotaan lebih
tinggi (64,7%) dibandingkan di pedesaan (53,7%) dan masih terdapat 8,7% anak
12-23 bulan yang belum diimunisasi sama sekali. Makin tinggi tingkat pendidikan
kepala keluarga makin tinggi cakupan imunisasi lengkap, demikian juga makin tinggi
pengeluaran per kapita makin tinggi cakupan imunisasi lengkapnya. Menurut
pekerjaan kepala keluarga, tertinggi cakupan imunisasi lengkap pada kepala keluarga

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 162


sebagai pegawai negeri/TNI/Polri (69,5%) dan terendah pada kelompok
petani/nelayan/buruh (52,9%). Untuk persentase anak umur 12-23 bulan yang
mendapatkan immunisasi lengkap di Provinsi Jawa Barat sebesar 56,6%. Tidak
semua balita dapat diketahui status imunisasi, hal ini disebabkan karena beberapa
alasan, yaitu ibu lupa anaknya sudah diimunisasi atau belum, ibu lupa berapa kali
sudah diimunisasi, ibu tidak mengetahui secara pasti jenis imunisasi, catatan dalam
KMS tidak lengkap/tidak terisi, catatan dalam Buku KIA karena hilang atau tidak
disimpan oleh ibu.
Tabel VII. D. 6
Persentase Anak Umur 12-23 tahun yang Mendapatkan Immunisasi Dasar
Menurut Provinsi di Pulau Jawa-Bali Tahun 2013
Kelengkapan Imunisasi Dasar
Provinsi Tidak Tidak
Lengkap
Lengkap Imunisasi
1. DKI Jakarta 64,4 30,7 4,9
2. Jawa Barat 56,6 35,1 8,3
3. Jawa tengah 77,0 19,5 3,5
4. DI.Yogyakarta 83,2 15,9 1,0
5. Jawa Timur 74,5 21,8 3,7
6. Banten 45,8 43,9 10,4
7. Bali 80,8 17,9 1,3
Indonesia 59,2 32,1 8,7

Sumber : Riskesdas tahun 2013


Pemantauan kesehatan ibu hamil dilakukan pelayanan K1 sebagai
aksesibiltas ibu hamil terhadap pelayanan kesehatan dan K4 yang dianggap sebagai
mutu pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil. Persentase cakupan K4 ibu hamil di
Indonesia tahun 2013 sebesar 86,9%, sedangkan Provinsi Jawa Barat 88,0% sudah
melewati target SPM (85%). Dinyatakan pelayanan K4 (berkualitas) berarti secara
paripurna ibu telah mendapatkan pelayanan immunisasi TT-2 dan mendapatkan Fe-3.
Akan tetapi selama beberapa tahun terakhir ini tidak terlihat keterkaitan atau
sinkronisasi antar varibel tersebut.
Tabel VII. D. 7
Persentase Cakupan Pelayanan Ibu Hamil Meliputi K-1, K-4, TT-2, Fe-3
Menurut Provinsi di Pulau Jawa-Bali Tahun 2013
Provinsi K1 K4 PN TT2 FE 3

1. DKI Jakarta 99,9 95,8 96,6 41,5 79,6


2. Jawa Barat 97,2 88,0 87,5 100,0 87,3
3. Jawa tengah 98,7 92,1 99,9 106,8 83,6
4. DI.Yogyakarta 100,0 87,4 92,0 66,8 81,0
5. Jawa Timur 95,1 86,2 97,5 21,5 85,8
6. Banten 97,2 86,2 94,4 84,2 79,8
7. Bali 97,1 93,1 99,1 82,3 88,4
Indonesia 94,7 86,9 90,9 64,8 82,0

Sumber :Profil Kesehatan Indonesia 2013


Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan antar 43,54% -
97,95%. Persentase persalinan yang ditolong tenaga kesehatan terlatih di Indonesia

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 163


pada tahun 2013 mencapai 87,4%. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatan menurut provinsi di Pulau Jawa-Bali tahun 2013, dengan cakupan tertinggi
terdapat di Provinsi DI Yogyakarta (99,9%) dan terendah di Provinsi Jawa Barat
(81,9%).
Tabel VII. D. 8
Proporsi Penolong Persalinan
Menurut Provinsi di Pulau Jawa-Bali Tahun 2013
Penolong Persalinan
Provinsi Dokter Kebidanan Dokter Keluarga/ Tidak ada
Bidan Perawat Dukun
& Kandungan umum lainnya penolong
1. DKI Jakarta 35,7 0,1 61,8 0,4 1,8 0,0 0,2
2. Jawa Barat 14,3 0,4 67,0 0,2 17,5 0,1 0,6
3. Jawa tengah 22,2 0,5 73,3 0,1 3,3 0,2 0,4
4. DI.Yogyakarta 41,7 2,0 56,2 0,0 0,0 0,0 0,1
5. Jawa Timur 19,9 0,4 73,7 0,2 4,9 0,2 0,7
6. Banten 18,0 0,7 65,4 0,1 14,9 0,2 0,6
7. Bali 39,7 0,4 58,8 0,0 0,6 0,4 0,2
Indonesia 18,0 0,5 68,6 0,3 10,9 0,9 0,8

Perkotaan 25,1 0,5 67,8 0,2 5,6 0,2 0,6


Perdesaan 10,5 0,5 69,6 0,4 16,5 1,6 0,9

Sumber : Riskesdas 2013

Tabel VII. D. 9
Proporsi Kelahiran Berdasarkan Metode Persalinan
Menurut Provinsi di Pulau Jawa-Bali Tahun 2013

Proporsi Kelahiran Berdasarkan Metode Persalinan


Provinsi Operasi
Normal Vakum Forcep Lainnya
Perut/ Sesar
1. DKI Jaya 79,2 0,8 0,1 19,9 0,0
2. Jawa Barat 91,2 1,0 0,0 7,8 0,0
3. Jawa tengah 88,2 1,4 0,3 10,1 0,0
4. DI.Yogyakarta 81,0 2,8 0,5 15,7 0,0
5. Jawa Timur 86,2 1,1 0,2 12,2 0,2
6. Banten 87,4 0,5 0,0 12,1 0,0
7. Bali 81,4 1,1 0,0 17,3 0,2
Indonesia 89,20 0,9 0,1 9,8 0,0

Persentase Tempat Ibu melahirkan menurut tempat persalinanTahun


2013 di Indonesia, ternyata 66,7% ibu melahirkan di fasiltas sarana kesehatan, 29,6%
di rumah dan 3,7% di Polindes/Poskesdes. Sedangkan di Provinsi Jawa Barat, Ibu
yang melahirkan terbanyak di Fasilitas Kesehatan sebesar 66,5% dan 33,6%
terbanyak melahirkan di Rumah/Lainnya. Apabila dibandingkan antara Provinsi di
Jawa-Bali, tertinggi ibu melahirkan di falisitas kesehatan adalag di Provinsi DI
Yogjakarta (98,8%), dan terendah di Provinsi Jawa Barat, secara rinci dapat dilihat
pada tabel dibawah ini.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 164


Tabel VII. D. 10
Persentase Ibu Melahirkan Anak Terakhir Menurut Tempat Persalinan
Lima Tahun Terakhir Dan Provinsi di Pulau Jawa-Bali Tahun 2013
Tempat Bersalin
Provinsi RB/ Klinik/ Puskesmas/ Polindes/ Rumah/
RS
Praktek Nakes pustu Poskesdes Lainnya
1. DKI Jaya 33,6 47,2 15,1 0,0 4,1
2. Jawa Barat 16,5 43,9 5,0 1,1 33,6
3. Jawa tengah 25,8 51,9 3,4 2,8 16,1
4. DI.Yogyakarta 41,0 50,0 7,8 0,2 1,1
5. Jawa Timur 23,5 51,0 6,7 9,2 9,6
6. Banten 21,4 39,3 5,3 0,7 33,3
7. Bali 41,6 49,3 6,3 1,3 1,4
Indonesia 21,40 38,0 7,3 3,7 29,6

Perkotaan 29,0 47,4 6,4 1,8 15,4


Perdesaan 13,4 28,0 8,1 5,7 44,8
Sumber :Riskesdas Tahun 2013
Tabel VII. D. 11
Proporsi Pelayanan Kesehatan Masa Nifas
Menurut Provinsi Di Pulau Jawa-Bali Tahun 2013
Proporsi Pelayanan Kesehatan Masa Nifas (KF)
Provinsi
6 jam-3 hr 7-28 hr 29-42 hr KF lengkap
1. DKI Jakarta 90,3 76,7 68,3 55,5
2. Jawa Barat 76,6 59,0 53,6 37,8
3. Jawa tengah 89,2 60,4 42,3 34,9
4. DI.Yogyakarta 93,5 74,2 50,0 43,7
5. Jawa Timur 87,1 66,0 52,7 42,9
6. Banten 78,5 56,4 52,1 38,5
7. Bali 91,4 67,1 64,4 50,2
Indonesia 81,9 51,8 43,4 32,1
Sumber :Riskesdas Tahun 2013

Pemeriksaan neonatus dalam Riskesdas 2013 sebanyak 71,3%


neonatus umur 6-48 jam (KN1) dan 47,5 % neonatus umur 8-28 hari (KN3)
mendapatkan pemeriksaan dari tenaga kesehatan. Hasil tersebut lebih baik bila
dibandingkan dengan hasil Riskesdas tahun 2010 sebesar 60,6 % dan 37,7%.
Menurut tipe daerah, pemeriksaan neonatos pada tahun 2013 di perkotaan lebih
tinggi dibanding di perdesaan. Terdapat hubungan positif antara pemeriksaan
neonatus dengan tingkat pendidikan kepala keluarga maupun tingkat pengeluaran
per-kapita. Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala rumah tangga maupun
pengeluaran per-kapita, semakin tinggi persentase cakupan pemeriksaan kesehatan
pada neonatus.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 165


Tabel VII. D. 12
Persentase Kunjungan Neonatus Menurut Provinsi
Di Pulau Jawa-Bali Tahun 2013
Kunjungan Neonatal
Provinsi KN1 KN2 KN3
(6 – 48 jam) (3 – 7 hari) (8 – 28 hari)
1. DKI Jakarta 82,8 74,9 70,1
2. Jawa Barat 67,5 62,9 53,8
3. Jawa tengah 76,8 70,0 54,6
4. DI.Yogyakarta 80,5 72,6 70,0
5. Jawa Timur 78,8 76,6 65,5
6. Banten 67,0 60,8 51,0
7. Bali 82,2 66,2 62,4
Indonesia 71,3 61,3 47,5
Sumber :Riskesdas Tahun 2013

Proporsi wanita umur 10-49 berstatus kawin yang sedang


menggunakan/memakai alat KB di Indonesia, menurut Riskesdas tahun 2013
sebesar 59,7%, Proporsi wanita berumur 15-49 tahun yang berstatus kawin yang
pernah menggunakan/memakai alat KB 24,7%. Apabila dibandingkan antara Provinsi
di Pulau Jawa-Bali, cakupan wanita yang sedang menggunakan alat KB, tertinggi
pada Provinsi Jawa Barat (64,4%). Untuk pelayanan pasca salin di Indonesia baru
mencapai 59,6% dan tertinggi di Provinsi Jawa Barat sebesar 72,5%. Secara rinci
dapat dilihat dibawah ini.
Tabel VII. D. 13
Proporsi Pelayanan KB Pasca persalinan dan Proporsi Wanita Umur 10-49
tahun Menurut Status Penggunaan/Memakai Alat KB
Provinsi di Pulau Jawa-Bali Tahun 2013
Wanita Umur 10-49 Berstatus Kawin
Proporsi
Provinsi Pelayanan KB Sedang Yang Pernah
Tidak Pernah
Pasca Salin Menggunakan/ Menggunakan/
Sama Sekali
Memakai Alat KB Memakai Alat KB
1. DKI Jakarta 63,5 54,0 28,0 18,0
2. Jawa Barat 72,5 64,4 26,3 9,3
3. Jawa tengah 62,6 62,4 24,1 13,6
4. DI.Yogyakarta 45,2 55,5 26,5 18,0
5. Jawa Timur 55,1 62,2 23,7 14,1
6. Banten 69,4 61,4 27,3 11,2
7. Bali 63,0 63,0 22,2 14,7
Indonesia 59,6 59,7 24,7 15,5

Sumber :Riskesdas Tahun 2013

E. SUMBER DAYA KESEHATAN


Secara Nasional, pada periode tahun 2010-2013, jumlah Puskesmas
(termasuk Puskesmas Perawatan) terus meningkat dari 9.005 unit pada tahun 2010
menjadi 9.655 unit pada tahun 2013. Dalam periode tahun itu, rasio Puskesmas
terhadap 100.000 penduduk berada dalam kisaran 2,00 – 15,99 per 100.000

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 166


penduduk, ini berarti bahwa pada periode tahun itu setiap 100.000 penduduk rata-rata
dilayani oleh 2-15 unit. Terdapat 5 lima provinsi dengan rasio Puskesmas per 100.000
penduduk berada di bawah 3,0 yaitu Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa
Tengah dan Bali. Angka tersebut menunjukkan bahwa satu Puskesmas di 5 provinsi
tersebut rata-rata melayani lebih dari 30.000 penduduk.
Jika dilihat Tabel dibawah ini terlihat bahwa Provinsi Jawa Barat
mempunyai angka Puskesmas per-100.000 penduduk yang terendah ke-kedua (2,31)
baik secara Nasional maupun dibandingkan antar Provinsi di Pulau Jawa-Bali. Apabila
dibandingkan dengan Provinsi yang berada di Jawa dan Bali, Jawa Barat menempati
urutan ke-lima.
Tabel VII. E. 1.
Jumlah Puskesmas dan Rasio Puskesmas per-100.000 Penduduk
Menurut Provinsi di Pulau Jawa-Bali Tahun 2010-2013
Jumlah Puskesmas Rasio Puskesmas per- 100.000
Provinsi
2010 2011 2012 2013 2010 2011 2012 2013
1. DKI Jakarta 341 341 340 340 3,55 3,50 3,44 3,40
2. Jawa Barat 1.039 1.039 1.050 1.050 2,43 2,38 2,34 2,31
3. Jawa tengah 867 867 873 873 2,68 2,67 2,68 2,67
4. DI.Yogyakarta 121 121 121 121 3,50 3,47 3,43 3,40
5. Jawa Timur 946 955 960 960 2,52 2,52 2,53 2,51
6. Banten 217 217 228 230 2,04 2,04 2,03 2,00
7. Bali 114 114 118 120 2,93 2,93 2,91 2,90
Indonesia 9.005 9.005 9.510 9.655 3,79 3,86 3,89 3,89

Sumber : Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013


Jumlah Puskesmas perawatan pada tahun 2011 sebanyak 3.019 unit
meningkat menjadi 3.317 unit pada tahun 2013. Puskesmas yang melaksanakan
Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED) sampai tahun 2013
tercatat berjumlah 2.782 unit. Upaya pengembangan Kesehatan antara lain Upaya
Kesehatan Kerja sebanyak 1.034 unit dan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja
sebanyak 2.745 unit, secara rinci dapat dilihat dibawah ini.
Tabel VII. E. 2
Jumlah Puskesmas Dengan Perawatan, PONED Dan Pelayanan Pengembangan
Kesehatan Menurut Provinsi di Pulau Jawa-Bali Tahun 2013
Puskesmas Pelayanan Obstetrik dan Upaya Pelayanan
Provinsi Perawatan Neonatal Emergensi Dasar Kesehatan Kesehatan Peduli
(DTP) (PONED) Kerja Remaja (PKPR)
1. DKI Jakarta 30 17 37 22
2. Jawa Barat 176 232 209 459
3. Jawa tengah 309 293 47 34
4. DI.Yogyakarta 42 68 27 76
5. Jawa Timur 504 283 218 273
6. Banten 56 72 153 189
7. Bali 34 46 43 50
Indonesia 3.317 2.782 1.034 2.745

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 167


Demikian juga dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat berbagai upaya dilakukan memanfaatkan potensi dan
sumber daya yang ada di masyarakat.Upaya kesehatan bersumber daya masyarakat
(UKBM) diantaranya Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu), Polindes (Poliklinik Desa),
Toga (Tanaman Obat Keluarga, POD (Pos Obat Desa dan sebagainya. Secara
nasional Rasio Posyandu terhadap Desa/Kelurahan adalah 3,45 atau rata-rata pada
tiap desa/kelurahan terdapat 3-4 Posyandu. Dan Provinsi Jawa Barat Rasio Posyandu
terhadap Desa/Kelurahan sebesar 8,29. Rasio Desa Siaga di Indonesia terhadap
desa/kelurahan adalah 0,67. Apabila dibandingkan antara Provinsi di Pulau Jawa –
Bali, ternyata Rasio Desa Siaga terhadap desa/kelurahan terbesar adalah di Provinsi
DKI Jakarta (4,4) dan terendah terdapat di Provinsi Banten (0,34).
Tabel VII. E. 3
Rasio Sarana Usaha Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM)
Terhadap Desa/Kelurahan Menurut Provinsi di Pulau Jawa-Bali Tahun 2013
Rasio Sarana UKBM terhadap
Provinsi Desa/Kelurahan
Posyandu Desa Siaga Poskesdes
1. DKI Jakarta 16,09 7,51 4,40
2. Jawa Barat 8,29 0,83 0,93
3. Jawa tengah 5,63 1,00 0,89
4. DI.Yogyakarta 6,18 0,94 0,96
5. Jawa Timur 5,39 0,94 1,01
6. Banten 6,86 0,86 0,34
7. Bali 6,67 0,98 0,69
Indonesia 3,45 0,67 0,67
Sumber : Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013

Pada tahun 2013, jumlah rumah sakit di seluruh Indonesia sebanyak


2.228 buah, yang terdiri dari 30,34% Rumah Sakit yang dikelola atas milik Kemenkes/
Pemerintah, 7,14% milik TNI/Polri, 3,1% milik Departemen lain/BUMN dan 59,38%
milik Swasta.
Tabel VII. E. 4
Jumlah Rumah Sakit Menurut Kepemilikan
Di Provinsi Pulau Jawa-Bali Tahun 2013
Depkes/ TNI/ Departemen
Provinsi Swasta Total RS
Pemda POLRI Lain/BUMN

1. DKI Jakarta 19 11 7 113 150


2. Jawa Barat 51 13 5 205 274
3. Jawa tengah 60 12 3 200 275
4. DI.Yogyakarta 9 4 1 55 69
5. Jawa Timur 63 30 14 212 319
6. Banten 10 2 1 64 77
7. Bali 12 3 0 42 57
Indonesia 676 159 70 1.323 2.228

Sumber : Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 168


Pada tahun 2013, rasio tempat tidur rumah sakit per 100.000 penduduk
relatif berkisar antara 98 - 99 per 100.000 penduduk dan rasio Tempat Tidur di Rumah
Sakit terhadap penduduk Jawa Barat adalah 1 : 1.363 artinya 1 tempat tidur
diperuntukkan bagi 1.363 penduduk. Angka ini jauh lebih rendah dari Provinsi-Provinsi
lain di Jawa dan Bali. Apabila dibandingkan secara Nasional, Provinsi Jawa Barat
menduduki urutan ke-enam. Apabila dibandingkan dengan Provinsi di Jawa-Bali,
Provinsi Jawa Barat ke-dua terakhir dan dibawah nasional (892).
Rasio Tenaga kesehatan terhadap 100.000 penduduk secara nasional
adalah 353,06 dan apabila dibandingkan antara Provinsi di Jawa-Bali, ternyata
Provinsi Jawa Barat menduduki urutan ke-empat dari bawah yaitu sebesar 205,12.
Tabel VII. E. 5
Jumlah Sumber Daya Manusia Menurut Provinsi di Pulau Jawa-Bali Tahun 2013
Jumlah Tenaga Kesehatan Tenaga
Total SDM
Provinsi Dokter Dokter Dokter Non
Perawat Bidan Farmasi Lainnya Jumlah Kesehatan Kesehatan
Spesialis Umum Gigi
1. DKI Jakarta 5.931 2.728 1.086 19.418 2.877 2.458 4.881 39.379 16.469 55.848
2. Jawa Barat 5.562 4.757 1.565 31.030 13.263 3.420 9.407 69.004 24.809 93.813
3. Jawa tengah 4.397 4.821 1.258 31.802 16.833 5.525 13.412 78.048 31.134 109.182
4. DI.Yogyakarta 1.237 1.408 394 6.746 1.699 2.155 3.033 16.672 6.951 23.623
5. Jawa Timur 4.786 4.574 1.512 32.833 15.555 4.229 11.218 74.707 30.543 105.250
6. Banten 1.603 1.382 509 7.882 3.516 1.035 2.666 18.593 4.986 23.579
7. Bali 1.146 1.069 292 6.515 2.252 588 2.721 14.583 5.823 20.406
Indonesia 36.746 41.841 11.857 288.405 137.110 40.181 125.494 681.634 195.454 877.088

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013 169