Anda di halaman 1dari 187

Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.

com
Diktat Kebumian

1
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

DAFTAR ISI

GEOLOGI.................................................................................................................................................. 4
METEOROLOGI ...................................................................................................................................... 68
OSEANOGRAFI..................................................................................................................................... 112
ASTRONOMI ........................................................................................................................................ 126
SOAL LATIHAN ..................................................................................................................................... 172
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................................... 186

2
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

3
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

GEOLOGI

4
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

5
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

KONSEP GEOLOGI

Geologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bumi, baik material penyusun dan proses
proses yang berkaitan, dan sejarah bumi dan kehidupannya.

Proses pembentukan tata surya

Struktur dalam bumi


berdasarkan sifat fisiknya

6
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

berdasarkan komposisi kimia

7
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Lempeng tektonik dan batas batasnya

8
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Tipe batas lempeng

9
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

MAGMATISME

F.F. Grouts,1947

Magma adalah larutan silikat pijar yang terbentuk secara alamiah bersifat mobile, bersuhu
antara 900-1200 derajat celcius atau lebih, dan berasal dari kerak bumi bagian bawah atau
selubung mantel bagian atas. Dari penelitian sample sample batuan beku, diketahui
komposisi kimia magma adalah sebagai berikut :

1. Senyawa yang bersifat non-volatile dan merupakan senyawa oksida, jumlahnya sekitar
99% dari isi magma, sehingga merupakan major element, terdiri dari Si0 2 , Al203 , Fe203, Fe0,
Mn0, Ca0, Na20, K20, Ti02, P205.

2. Senyawa volatile yang banyak mempengaruhi sifat fisik magma, terdiri dari fraksi fraksi
gas metana, karbon dioksidam dsb.

3. unsure unsur lain yang disebut unsur jejak dan merupakan minor element seperti Rb, Ba,
Sr, Ni, Li, Cr, S, dan Pb.

Jenis Jenis Magma


Menurut Dally (1933) ada 2 jenis magma, yaitu :

1. Magma Primer
Magma yang terbentuk langsung dari lelehan bahan kerak, atau biasanya disebut
dengan magma basaltis. Dengan ciri utama magma jenis ini yaitu viskositas rendah
(encer), kadar logam tinggi, dan banyak kandungan volatil.
2. Magma Sekunder
Magma yang sudah mengalami perubahan komposisi kimia akibat berbagai proses,
dengan kandungan yang cenderung lebih asam, viskositas tinggi, dan mempunyai
kadar silika yang relatif lebih besar.

Proses Evolusi Magma


magma bisa berubah melalui 3 cara :

1. Proses Anateksis (Peleburan)


sesuai dengan nama prosesnya (anateksis) artinya magma yang dihasilkan berasal dari
peleburan bahan kerak di bawah permukaan bumi, proses ini berasosiasi dengan
subduksi, lempeng samudera mengandung banyak mineral hidrous yang membuat
lempeng ini mengalami peleburan basah ( wet melting) pada zona zona subduksi dan
menghasilkan magma yang lazim disebut sebagai magma primer.

10
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

2. Proses Sintesis
Untuk magma jenis ini dihasilkan ketika magma berasimilasi dengan batuan samping,
sehingga merubah komposisi kimia magma dan membentuk magma baru, tetapi
proses ini hanya akan berpengaruh secara signifikan jika massa batuan yang
terlelehkan cukup besar, dan biasanya akan efektif jika magma berkomposisi lebih
basa dan batuan lebih asam.

3. Proses Hibridasi
Ketika magma bergerak ke atas ( karena gaya buoy) terkadang bisa “bertemu” dengan
magma jenis lain, saat 2 jenis magma yang berbeda komposisi ini bercampur, akan
dihasilkan magma baru dengan komposisi kimia yang berbeda dari magma awal. Dan
proses ini disebut hibridasi (pencampuran).

11
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Proses differensiasi magma

Pada perjalanannya menuju ke permukaan, suhu dan tekanan akan secara konstan berubah,
hal ini menyebabkan berbagai mineral di dalam magma akan mengkristal sesuai dengan
deret reaksi bowen (apa itu deret reaksi bowen ?,akan pelajari di materi berikutnya),
sehingga komposisi kimia magma juga berubah, proses ini dikenal sebagai proses
differensiasi magma.

Berikut adalah gambaran dari proses differensiasi magma

12
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Pada gambar diatas bisa diamati ada beberapa proses yang berlangsung, antara lain :

 Vesikulasi
adalah proses dimana magma yang mengandung komponen seperti CO2, SO2, S2,
Cl2 dan H20 sewaktu naik ke permukaan membentuk gelembung gelembung gas,dan
membawa serta komponen volatile sodium(Na)dan Potasium(K).
 Difusi
bercampurnya batuan dinding dengan magma didalam waduk magma secara lateral
 Crystal Flotation
Kristal kristal yang mayoritas berkomposisi Na dan K akan cenderung “mengambang”
ke atas, disebabkan karena densitasnya yang lebih ringan daripada kristal kristal yang
mengandung Mg atau Fe. Sehingga pada bagian atas akan mempunyai komposisi
yang lebih asam.
 Crystal Settling
Pada proses ini kristal kristal berat yang berkomposisi Mg dan Fe akan “tenggelam”
dan membuat bagian bawah magma menjadi basa, dalam proses ini juga
menghasilkan “Pseudostratification” dan membentuk layered gabro seperti gambar
dibawah .

 Asimilasi Batuan Samping


Batuan samping yang terlepas dalam magma akan meleleh dan merubah komposisi
magma.

13
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Deret Reaksi Bowen

 Seri Diskontinyu
Pada deret ini terdiri dari mineral ferro-magnesian sillicates. Pada deret diskontinyu
pembentukan mineral akan dilakukan secara “Diskrit”. Pada suhu tertentu akan
terbentuk olivin, jika pendinginan diteruskan akan membentuk piroksen, dan terus
berlanjut sampai pembentukan biotit. Deret diskontinyu berhenti di pembentukan
biotit karena saat semua mineral biotit telah mengkristal berarti semua besi dan
magnesium dalam larutan telah habis.

 Seri Kontinyu
Pada deret ini terdiri dari mieral felsdpar plagioklas. Tidak seperti proses diskontinyu
yang diskrit, pada seri kontinyu plagioklas kaya kalsium akan terbentuk lebih awal,
saat pendinginan berlanjut mulai terbentuk plagioklas yang komposisi kalsiumnya
berkurang dan terdapat sedikit sodium, ketika pendinginan berlanjut komposisi
sodium akan berangsur angsur bertambah sampai semua kalsium dan sodium habis
digunakan. Dan jika pendinginan berlangsung secara cepat kesetimbangan fasa tidak
akan terjadi dan muncul efek zoning pada kristal plagioklas.

14
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Berikut adalah beberapa klasifikasi Magma

1. Berdasarkan persen perbandingan alkali :


magma termasuk magma alkali jika (Na2O dan K20) lebih banyak dari Al203

2. Berdasarkan persen berat

3. Berdasarkan harga alkali kimia indeks

4. Berdasarkan derajat keasaman

5. Kandungan Gas

 Hippomagma : jika magma tidak jenuh gas ( kandungan gas sedikit)


 Piromagma : Jika magma jenuh gas
 Epimagma : Lava yang belum dierupsikan

6. Berdasarkan Mineralogi

 Magma Toleit : jika sama sekali tidak mengandung olivin


 Magma Shosonit
 Magma Basal-olivin

7. Berdasarkan genesa

15
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

 Magma sintetik : hasil dari ubahan asimilasi dengan batuan samping


 Magma Hibrid : Penggabungan 2 (atau lebih) magma yang berbeda
komposisi
 Magma Anatektik: Berasal dari peleburan bahan kerak

16
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

VOLKANOLOGI
Berikut adalah tempat tempat munculnya gunung api :

1. Zona Divergen : MOR


2. Zona Konvergen : Continental arc, sland arc
3. Intraplate Plume : Oceanic Intraplate Islands

Definisi gunung api


Gunung api adalah lubang kepundan atau rekahan dalam kerak bumi tempat keluarnya
cairan magma, gas, atau cairan lainya ke permukaan bumi.

Berikut adalah jenis jenis erupsi gunung api :

1. Erupsi Pusat : erupsi keluar melalui kawah utama


2. Erupsi samping : erupsi keluar dari lereng tubuh
3. Erupsi celah : erupsi yang muncul memanjang sampai beberapa kilometer (
sering terjadi di iceland) .
4. Erupsi Eksentrik : erupsi samping, tetapi magma yang keluar bukan dari kepundan
pusat yang menyimpang, tetapi langsung dari dapur magma, mempunyai kepundan
sendiri.

17
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Berdasarkan kekuatan letusan dan derajar fragmentasi, gunung api dibagi menjadi :

1. Tipe Hawaiian
Dengan magma basaltis, maka lava yang dikeluarkan cenderung encer dan
membentuk gunung perisai
2. Tipe Strombolian
Dikenal dengan letusannya yang mengeluarkan lava pijar, sering terdapat di tepi atau
tengah benua
3. Tipe Plinian
Erupsi yang sangat Eksplosif, material yang dikeluarkan berupa batu apung dalam
jumlah besar, berasal dari magma yang bersifat andesitic sampai ryolitic

4. Tipe Sub-Plinian
Erupsi eksplosif dari magma asam dari gunung api strato, tahap efusifnya
menghasilkan kubah riolitik, letusan dari tipe ini kadang menghasilkan ignimbrit

18
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

5. Tipe Ultra-Plinian
Erupsi yang sangat Eksplosif dan menghasilkan batu apung jauh lebih banyak dari
tipe Plinian
6. Tipe Vulkanian
Erupsi magmatis berkomposisi andesitis basaltic, umumnya melontarkan bom bom
volkanik, material yang dilontarkan tidak semuanya berasal dari magma, sebagian
dari fragmen batuan samping
7. Tipe Freatoplinian dan Surtseyan
Erupsi yang terjadi pada pulau gunung api, gunung api bawah laut, atau gunung api
yang mempunyai danau di kawahnya. Erupsi tipe ini terjadi karena Interaksi magma
dengan air permukaan atau air tanah, jika bermagma asam maka tipe Freatoplinian,
jika bermagma basa maka Tipe Surtseyan

VEI ( Volcanic Eksplosivity Indeks)

19
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Pembentukan kaldera

20
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

BATUAN BEKU
Batuan adalah kumpulan satu atau lebih mineral, yang merupakan bagian dari kerak bumi.
Berdasarkan proses terbentuknya batuan diklasifikasikan menjadi 3 jenis yaitu Batuan Beku,
Batuan Sedimen, dan Batuan Metamorf. Karena bumi bersifat dinamis, sepanjang waktu
dan proses yang panjang, masing – masing batuan bisa berubah menjadi jenis yang lain.
Perubahan tersebut membentuk sebuah siklus yang disebut siklus batuan.

Batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari hasil pembekuan magma. Klasifikasi
batuan beku utamanya didasarkan pada perbedaan Komposisi Mineral dan Tekstur.
a. Tekstur
Tekstur merupakan kenampakan bentuk, ukuran dan hubungan kristal yang
terdapat dalam batuan. Tekstur dipengaruhi oleh seberapa cepat magma
membeku dan lokasi pembekuan magma. Pada batuan yang membeku di dalam
permukaan bumi (intrusive) akan memiliki tekstur Kristal yang kasar, sedangkan
yang membeku di luar permukaan bumi (ekstrusive) akan memilki tekstur Kristal
yang halus. Tekstur sangat penting dalam mempelajari genesa mineral
pembentuk batuan beku diantaranya :

 Jika suatu mineral dilingkupi mineral lain, maka yang melingkupi lebih
muda
 Jika ada kristal besar dan kecil, maka kristal besar terbentuk lebih dahulu
 Mineral yang terbentuk lebih awal mendekati euhedral

21
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Beberapa jenis tekstur yang terdapat di batuan beku diantaranya :


1.1 Derajat kristalisasi
 Holokristalin : jika seluruh massa batuan terbentuk oleh kristalin
 Hipokristalin : jika sebagian massa batuan tersusun oleh kristalin dan
gelas
 Holohyalin : jika semua massa batuan tersusun oleh gelas

1.2 Kemas (Bentuk dan susunan butir kristal )


Bentuk Butir :
Euhedral : jika butir kristal dibatasi oleh bidang kristal yang bagus(jelas)
Subhedral : jika sebagian butir kristal dibatasi oleh bidang kristal yang
bagus
Anhedral : jika bidang kristal yang membatasi tidak jelas

 Hubungan antar butir

22
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

1.3 Komposisi Ukuran Kristal


 Faneritik : Mineral – mineral yang terdapat pada batuan memiliki
ukuran Kristal yang cukup besar, sehingga dapat dilihat dengan mata
telanjang.
 Afanitik : Mineral – mineral yang terdapat pada batuan memiliki
ukuran Kristal yang kecil, sehingga hanya bisa diamati melalui mikroskop.
 Amorf : Material penyusun batuan tidak membentuk butiran Kristal
mineral, sering disebut juga tekstur gelas (glassy).

 Porfiritik : Memiliki dua ukuran Kristal mineral yang dominan. Dimana


terdapat mineral yang ukurannya jauh lebih besar dari mineral – mineral
lain pada batuan. Tekstur ini biasanya terbentuk di daerah pipa-pipa
magma, dimana terdapat perubahan kecepatan pembekuan Kristal akibat
perubahan suhu yang relatif cepat.
 Piroklastik : Merupakan tekstur yang terdapat fragmen – fragmen
material volkanik.

b. Komposisi Mineral
Komposisi mineral batuan beku ditentukan dari magma asal batuan tersebut.
Secara umum pembentukan mineral – mineral yang terdapat pada magama
dapat digambarkan dalam bagan reaksi bowen (Bowen’s Reaction Series).

23
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Discontinous Series pada reaksi bowen merupakan mineral – mineral yang


terbentuk pada kondisi temperature tertentu saja. Sedangakan Continous Series
yang dalam reaksi bowen merupakan mineral Plagioklas adalah mineral yang
selama proses pembekuan akan melepaskan Ca (Calsium) dan mendapatkan Na
(Sodium) sampai terbentuk sebuah Kristal. Berikut adalah batuan beku yang
umum di jumpai berdasarkan tekstur dan komposisi mineral. Mineral basa
terbentuk di suhu tinggi sedangkan mineral asam terbentuk di suhu yang lebih
rendah.

Ultrabasa Basa Intermediet Asam


Fanerik Peridotite Gabbro Diorite Granite
Afanitik Komatite Basalt Andesite Rhyolite

24
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

c. Struktur Batuan Beku


Selain teksur dan komposisi mineral, batuan beku membentuk beberapa struktur
di alam. Namun struktur tidak mempengaruhi klasifikasi dan nama batuan itu
sendiri. Beberpa struktur yang terdapat di batuan beku diantaranya :
 Massive : Pejal, keras dan kompak.
 Vesicular : Adanya lubang – lubang gas yang diakibatkan adanya
kandungan gas saat pembekuan magma.
o Pumiceous : Apabila lubang gas tersebut saling berhubungan
o Scoria : Apabila lubang gas terseut saling terpisah
 Amygdaloidal : Adalah struktur batuan beku dimana terdapat mineral-
mineral sekunder mengisi lubang – lubang yang diakibatkan pelepasan
gas.
 Columnar Joint : Merupakan struktur batuan beku yang teretakkan
sehingga membentuk tiang segi-enam
 Struktur Weldeel : Lubang lubang dibatuan akibat pencucian (leaching)
mineral, ciri utamanya lubang berbentuk salah satu sistem Kristal.
 Lava
o AA Lava : lava yang permukaanya kasar dan terdiri dari bongkah –
bongkah.

25
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

o Pillow Lava : lava yang membulat dan Nampak seperti bantal


akibat terbentuk di lingkungan air.
o Pahoehoe Lava : lava yang berbentuk seperti pilinan tali, dibagian
ujung membulat dan memiliki garis tengah beberapa meter.

d. Bentuk Tubuh Batuan Beku

 Diskordan ( memotong perlapisan batuan)


o Dike
o Ring dike
o Vein
 Konkordan (sejajar perlapisan batuan)
o Sill
o Lacolith
o Pacolith
o lopolith
 Tidak Beraturan
o stock dan Batholith

26
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

BATUAN SEDIMEN

Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari hasil proses sedimentasi yang
mengalami litifikasi. Urutan proses pembentukan batuan sedimen secara umum
adalah :

Pelapukan  Erosi  Transportasi  Sedimentasi/Deposisi  Kompaksi  Litifikasi

Batuan sedimen berbeda dengan sedimen, sedimen adalah material hasil pelapukan
yang mengalami transportasi dan diendapkan dalam bentuk butiran – butiran
sedimen. Sedangkan batuan sedimen adalah butiran sedimen yang telah mengalami
proses Diagenesa, proses diagenesa terdiri dari :
 Kompaksi : Adalah proses pembebanan yang mengakibatkan jarak butiran
sedimen semakin dekat, dan pori – pori antar butiran mengecil.
 Sementasi : Adalah proses pelekatan material – material sedimen oleh
material lain yang terbentuk kemudian. Material sementasi biasanya
terbentuk akibat pelarutan mineral dalam sedimen, atau terlarut dalam air
tanah. Material cang umum ditemukan sebagai semen di batuan sedimen
diantaranya besi, silica, dan karbonat.
 Rekristalisasi : Adalah pembentukan mineral – mineral sedimen.
 Keluarnya air : Proses keluarnya air akibat pori – pori antar butir sedimen
mengecil.

a. Klasifikasi Batuan Sedimen


Secara umum penamaan dan klasifikasi batuan sedimen didasarkan atas tekstur dan
struktur. Klasifikasi berdasarkan tekstur dapat dilihat sebagai berikut.

27
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Batuan
Sedimen

Klastik Non-Klastik

Skala
Batubara Karbonat Silika Evaporit
Wentworth

Batuan Sedimen Klastik


Batuan sedimen klatik atau disebut juga dedritus adalah batuan yang terbentuk dari
fragmen batuan lain. Penamaan batuan sedimen klastik didaasarkan pada ukuran
butir materalnya. Untuk itu diperlukan suatu acuan untuk menyatakan nama
berdasarkan ukuran butir yang dikenal dengasn Skala Wentworth.

28
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Batuan Sedimen Non-Klastik


Batuan sedimen non klastik adalah batuan yang utamanya terjadi bukan karena
proses fisika, melainkan melalui proses kimia atau biologi.
 Batubara
Adalah golongan yang berasal endapan tumbuhan rawa purba yang terkubur
selama jutaan tahun. Berdasarkan tingkat kadar airnya, batu bara dapat
dibagi menjadi beberapa golongan yang sekaligus menjadi urutan
terbentuknya batubara yaitu
Gambut  Lignit  Bituminus  Antrasit
Gambut adalah endapan vegetasi rawa yang memiliki kandungan air paling
banyak, gambut yang mengalami kompaksi akan mengeluarkan air dan
mengubah jenis batu bara menuju jenis yang kadar airnya lebih sedikit yaitu
antrasit.
 Silika
Adalah golongan yang mengandung banyak unsur silika yang berasal dari
cangkang atau bagian tubuh makhluk hidup. Umumnya batuan sedimen
golongan silika merepresentasikan laut dalam karena makhluk hidup yang
hidup di laut dalam umumnya memiliki cangkang/tubuh silika seperti
radiolarian dan diatomea. Contoh batu sedimen silika adalah Chert, dan
Rijang.
 Evaporit
Adalah golongan yang berasal dari penguapan air yang mengandung garam
dan mineral terlarut. Contoh batuan sedimen evaporit adalah batu garam
(Halit) dan Gypsum.
 Karbonat
Batuan karbonat adalah batuan yang tersusun dari mineral karbonat,
terutama Kalsit (CaCO3). Kalsit tersebut berasal dari organisme laut dangkal
yang menyusun tubuh/cangkang mereka seperti terumbu, dan cangkang.
Contoh batuan sedimen karbonat adalah gamping (limestone). Batu gamping
sering ditemukan dengan ketebalan sampai ratusan meter dan membentang
luas. Interpretasi dari batu gamping itu sendiri mencirikan lingkungan
pengendapan yang tenang, sedikit sedimentasi, dan sinar matahari yang
cukup sebagaimana tempat ideal untuk terumbu tumbuh. Pengkajian batuan
sedimen karbonat lebih menarik, karena sering dijumpai dan pemanfaatan
yang begitu banyak dalam kehidupan maupun ilmu geologi itu sendiri.
Diharapkan agar mencari literatur lain untuk mempelajari batuan karbonat
ini.

b. Tekstur Sedimen

29
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Pemilahan (Sorting) adalah tingkat keseragaman ukuran butir. Tingkat pemilahan


ditentukan seperti pada gambar.

Kebundaran (Roundness) adalah tingkatkelengkungan setiap fragmen butir.

Kebulatan (Sphericity) adalah tingkat eksentrisitasn batuan menyrupai bola.

Kemas (Fabric) adalah sifat hubungan antar butir di dalam suatu masa dasar atau di

30
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

antara semennya. Istilah-istilah yang dipakai adalah “kemas terbuka” digunakan


untuk butiran yang tidak saling bersentuhan, dan kemas tertutup” untuk butiran
yang saling bersentuhan.

Porositas adalah perbandingan antara jumlah volume rongga dan volume


keseluruhan dari satu batuan. Dalam hal ini dapat dipakai istilah-istilah kualitatif
yang merupakan fungsi daya serap batuan terhadap cairan. Porositas ini dapat diuji
dengan meneteskan cairan. Istilah-istilah yang dipakai adalah Porositas dangat baik”
(very good), “baik” (good) “sedang” (fair) “buruk” (poor).

Permeabilitas adalah kemampuan batuan untuk mengalirkan fluida

c. Struktur Sedimen
Struktur pada batuan sedimen merupakan interpretasi dari bagaimana sedimentasi
tersebut dibawa dan diendapkan. Pembagian struktur sedimen dapat dibagi menjadi
beberapa bagian, yaitu
 Struktur Primer yaitu struktur yang terbentuk bersamaan dengan
terbentuknya batuan sedimen.
 Struktur Sekunder yaitu struktur yang terbentuk setelah terbentuk batuan
sedimen.

Macam Struktur Sedimen

 Perlapisan dan Laminasi


Suatu batuan sedimen yang saling sejajar jika memiliki tebal lebih dari 1 cm
disebut Perlapisan dan disebut Laminasi jika kurang dari 1 cm. macam
bentuk perlapisan dan laminasi diantaranya :
 Perlapisan Sejajar jika batuan tersusun secara horizontal dan sejajar satu
sama lainnya.
 Perlapisan Silang Siur jika perlapisan/laminasi batuan saling memotong
satu dengan lainnya
 Perlapisan Gradasi (Graded Bedding) Jika perlapisan terjadi perubahan
butir secara bergradasi dari bawah ke atas (normal) atau sebaliknya
(reverse).
 Flaser lamination didominasi oleh pasir ( dalam gambar berwarna putih)
 Wavy lamination mempunyai proporsi yang seimbang antara mud dan
pasir
 Lenticular lamination didominasi oleh mud ( dalam gambar berwarna
lebih gelap)

31
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

 Struktur Permukaan Lapisan


 Ripple Mark adalah penampakan permukaan yang bergelombang karena
adanya arus.
 Flute Cast bentuk gerusan pada permukaan lapisan akibat pengaruh arus
 Mud Crack bentuk retakan pada lapisan lumpur yang membentuk bidang
poligonal.
 Rain Mark Kenampakan pada permukaan lapisan sedimen akibat tetesan
air hujan.
 Struktur Deformasi
 Load Cast lekukan pada permukaan lapisan batuan akibat gaya tekan dari
beban batuan diatasnya.
 Convolute Structure liukan pada batuan sedimen akibat proses
deformasi.
 Sandstone Sill and Dike batuan yang terinjeksi pada lapisan sedimen
diatasnya karena proses deformasi.
 Struktur Biologi
 Jejak (Track and Trail) kenampakan batuan sedimen berupa tapak
organisme disebut Track. Sedangkan kenampakan batuan sedimen akibat
seretan bagian tubuh organisme desebut Trail.
 Galian (Burrow) adalah lubang galian hasil dari aktivitas organisme.
 Cetakan (Mold and Cast) cetakan dari bagian tubuh makhluk organisme
disebut Mold. Sedangkan hasil cetakan dari mold disebut Cast.

32
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

BATUAN METAMORF

Batuan metamorf adalah batuan yang telah terubahkan akibat pengaruh suhu dan
tekanan. Perubahan tersebut ditandai dengan perubahan komposisi mineral
dan/atau struktur dan/atau komposisi kimia batuan, tanpa mengalami fase cair
(dalam keadaan padat).

Tahap metamorfisme
Rekristalisasi : Penyusunan kembali kristal kristal secara isokimia, komposisi
kimia tetap, tetapi mineral berubah
Reorientasi : Pengorientasian kembali, merubah struktur dan
tekstur
Pembentukan mineral baru
Stress mineral : Mineral mineral yang terbentuk pad tekanan tinggi,contoh :
staurolit
Antistress mineral : Mineral yang tumbuh pada suhu tinggi, contoh : olivin,
andalusit

Berdasarkan tatanan geologinya, metamorfosa dapat dibedakan menjadi :

 Metamorfosa Regional (P&T)


Metamorfosa yang terjadi pada daerah yang sangat luas. Terjadi perubahan
temperature (T) dan tekanan (P) secara bersama – sama. Biasanya di jumpai di
lingkungan tektonik seperti pembentukan pegunungan dan zona penunjaman.
 Metamorfosa Kontak (T)
Terjadi karena perubahan temperature (T naik) yaitu akibat panas pada aktivitas
intrusi magma, dan panas larutan aktif.
 Metamorfosa Dinamis (P)
Terjadi karena perubahan tekanan (P besar), biasa dijumpai didaerah pergeseran
/pergerakan (dislokasi) seperti zona sesar/ patahan.

a. Klasifikasi Batuan Metamorf


Batuan metamorf utamanya dikalsifikasikan berdasarkan Struktur dan Tekstur.
Dalam struktur batuan metamorf dikenal dengan istilah Foliasi. Foliasi adalah
kenampakan hubungan tekstur yang memperlihatkan orientasi kesejajaran
mineral. Kadang foliasi juga menunjukkan kesejajaran hampir sama dengan

33
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

perlapisan batuan asal (bila batuan sedimen). Namun secara umum tidak
memiliki hubungan sama sekali dengan perlapisan batuan sedimen.
o Struktur Foliasi
Slaty : Menampakkan belahan – belahan sangat halus, umumnya terdiri
dari mineral – mineral pipih dan sangat halus (mika).
Phylltic : Terdapat foliasi oleh keping – keping mika halus. Terdiri atas
bentuk kristal lepidoblastik.
Schitose : Terdapat foliasi yang Nampak jelas oleh kepingan mika. Dengan
belahan merata/menerus. Terdiri selang – seling Kristal berbentuk
lepidoblastik dan granoblastik.
Gneissic : Foliasi diperlihatkan dengan penyusunan mineral – mineral
granular dan pipih/mika, belahan tidak rata atau terputus – putus.

o Struktur Non-Foliasi
Granulose : Penyusunan terdiri dari mineral – mineral yang memiliki
bentuk butir relative sama (equidimensional)
Hornfels : Sebagian besar terdiri dari mineral – mineral equidimensional
dan equigranular yang umumnya berbentuk polygonal. Terdapat tekstur
‘menanduk’ pada butir mineral penyusunnya.
Mylonitic : Memiliki sifat tergerus akibat metamorfosa kataklastik.
Mineralnya berbutir halus dan menunjukkan sifat gerusan berupa
lembaran /bidang penyerpihan. Mineral dalam milonit belum
menunjukkan perubahan dari mineral primernya.
Breksi Kataklastik : Fragmen – fragmen pembentuk terdiri atas mineral
yang sama dengan semen dan matriksnya, menunjukkan orientasi searah.

o Tekstur Metamorf
Lepidoblastik butiran penyusun metamorf berupa mineral pipih dan
sejajar.
Nematoblastik Mineral penyusun metamorf berupa mineral prismatic
yang sejajar
Granoblastik Mineral penyusun metamorf berupa mineral berbentuk
butir.
Tekstur diatas adalah tekstur untuk batuan metamorf yang memiliki jenis
butiran yang seragam disebut Homeoblastik. Namun tidak jarang ditemui
tekstur yang merupakan kombinasi dari tekstur homeoblastik yang
disebut Heteroblastik.

34
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

b. M
i
n
e
ral Pembentuk Batuan Metamorf
Jika batuan asal diberikan suatu perubahan yang lebih tinggi (P dan/atau T) akan
terjadi penyesuaian pada kondisi tersebut setelah batas kestabilannya dilampaui.
Bentuk penyesuaian yang terjadi yaitu proses mekanik dan kimia untuk
membentuk mineral baru yang stabil pada kondisi (P dan/atau T) yang
terubahkan. Dengan terbentuknya mineral khas metamorfosis maka kehadiran
mineral tertentu bisa menjadi tolak ukur derajat metamorfosa berdasarkan
kondisi (P dan/atau T) pembentukan mineral tersebut. Berikut adalah mineral
yang sering di jumpai dalam batuan metamorf.

 Mineral dari batuan asal


 Kuarsa  Ortoklas
 Hornblende  Plagioklas
 Biotit  Kalsit
 Muskovit  Dolomit

 Mineral khas metamorf

Metamorfosa Regional

 Silimanit  Kyanit
 Andalusit  Talk
 Staurolit

Metamorfosa Thermal

35
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

 Garnet
 Wolastonit
 Korondum

Larutan Kimia

 Epidot
 Wolastonit
 Klorit

Derajat Mineral Metamorfosa

Derajat Batuan Metamorf Foliasi

36
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Fasies Metamorfosa

37
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

BATUAN PIROKLASTIK

Batuan Piroklastik adalah batuan yang dihasilkan dari bahan lepas yang dilepaskan
dari pusat volkanik selama erupsi

a. Tekstur dan Struktur batuan piroklastik


tekstur pada batuan piroklastik dipengarui oleh Tenaga letusan, Penguapan,
Tegangan permukaan, Pengaruh Seretan. Yang khas ditemui pada batuan piroklastik
adalah glasshard dan pumice

Struktur Batuan Piroklastik mirip dengan batuan beku, sering dijumpai skoriaan,
vesikular, amigdaloidal, dan kekar tiang

Endapan Piroklastik tak terkonsolidasi

 Bom gunung api : Gumpalan lava beku berukuran lebih dari 64mm
berdasarkan bentuk luarnya dibagi lagi menjadi
o Bom terpuntir : Berbentuk seperti air mata, menunjukan gejala memutar
selama di udara
o Bom Tahisapi : Pipih akibat benturan saat setengah membeku, permukaan
agak skoriaan, muncul hamburan pipih disekitarnya yang disebut “driblet”.
o Bom Kerakroti : Ada retakan terbuka, meluas kedalam saat pembekuan
o Bom Pita : Memanjang seperti suling, sebagian besar gelembung
melengkung ke arah yang sama
o Bom teras : Bom dengan inti dari material yang sudah terkonsolidasi
terlebih dahulu, mungkin fragmen sisa erupsi terdahulu
 Block Gunung Api : Batuan piroklastik berukuran 16 -64 mm yang terlontar saat
erupsi ( bukan langsung berasal dari magma).
 Lapili : Batuan piroklastik berukuran 2- 16 mm , terkadang bisa
berupa mineral augit, olivin, atau plagioklas.
 Debu gunung api : Material piroklastik yang berukuran kurang dari 2 mm.

Endapan yang sudah terkonsolidasi


 Breksi piroklastik : Tersusun lebih dari 50% blok, 25 % lapili dan abu
 Aglomerat : Dominan disusun oleh bomb, sedangkan abu dan lapili
kurang dari 25%.
 Lapili stone : Dominan lapilli
 Tuff : dominan abu, lebih dari 75%.
o tuff lapilli : jika banyak mengandung lapilli
o tuff aglomerat : jika banyak mengandung aglomerat

38
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

o tuff breksia : jika banyak mengandung breksia

Mekanisme Pembentukan Endapan Piroklastik

Piroklastik Jatuhan : diendapkan melalui udara, wilayah jatuhannya disebut tephra


field, hasil endapanya : aglomerat, breksi volkanik, tuff, lapilli

Piroklastik Aliran

 Bentuk endapan sangat dipengaruhi morfologi


 Mengisi cekungan
 Penurunan suhu terutama disebabkan perluasan adiabatis dan pencampuran
dengan udara dingin
 Endapan sering kali berwarna merah jambu
 Batu apung sering menunjukkan gradasi terbalik
 Batuan pipih akan sejajar dengan permukaan, membentuk struktur imbricated

Diberbagai tempat sering disebut sebagai : awan panas, nuee ardente, ladu

39
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Berikut adalah batuan akibat aliran piroklastik

 Ignimbrit
 Breksi aliran piroklastik
 Vitrik tuff
 Welded tuff

welded tuff

Piroklastik Surge

Awan campuran padat dan gas, mempunyai kecepatan sangat tinggi, dengan ciri ciri
endapan :

 Sortasi baik
 Butir halus
 Perlapisan baik
 Tidak tergantung topografi

Perbedaan endapan piroklastik fall, flow, dan surge.

40
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

HUKUM DASAR STRATIGRAFI

1. Hukum initial horisontality: pada waktu pengendapan, material akan teronggok


mengikuti pengaruh grafitasi, mempunyai permukaan yang horisontal dan tepian yang
membaji.

2. Hukum Superposisi : Dalam keadaan tidak terganggu, lapisan yang paling tua akan berada
paling bawah

3. Hukum lateral accretion : Dalam keadaan norma, perlapisan akan mengalami akresi
kearah lateal, pembajian terjadi pada tepian, maupun dasar cekungan, lapisan muda bisa
berada disamping lapisan tua

4. Hukum uniformitarianism : “The present is the key to the past”, peristiwa geologi dimasa
lalu dikontrol oleh hukum alam yang sama dengan proses geologi yang terjadi saat ini, walau
tidak selalu dalam intensitas yang sama( yang bersifat uniform adalah hukum yang
mengontrolnya.

5. Hukum crosscutting relationship : Batuan yang menerobos usianya lebih muda daripada
batuan yang diterobos

6. Hukum Inklusi : Batuan yang menginklusi usianya lebih tua

7. Hukum biotic succesion : Dalam suatu wilayah urutan batuan secara vertikal, kandungan
fosil mengalami pergantian secara sistematis

8. Hukum Strata Indentified by fossil : Semakin muda batuannya fosil yang terkandung
mempunyai bentuk yang lebih kompleks.

 Organisme berkembang sepanjang waktu geologi


 Evolusi dari bentuk sederhana ke arah yang lebih kompleks
 Jaman geologi diberdirikan untuk waktu dimana terjadi kumpulan fosil yang
khas dan berbeda dengan waktu sebelum dan sesudahnya

41
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

GEOLOGI STRUKTUR
Geologi struktur merupakan ilmu yang mempelajari bentuk arsitektorat kulit bumi serta
gejala-gejala yang menyebabkan pembentukannya. Berdasarkan struktur geometri, struktur
geologi dibagi menjadi dua yaitu struktur garis dan struktur bidang. Yang termasuk struktur
garis antara lain lineasi mineral pada foliasi, gores garis pada bidang sesar, sumbu perlipatan
pada bidang perlapisan, dan perpotongan antara dua bidang. Sedangkan yang termasuk
struktur bidang antara lain perlapisan batuan, kekar, sesar, lipatan, ketidakselarasan dan
lainnya.

Jurus dan Kemiringan struktur bidang


Istilah yang digunakan dalam deskripsi struktur bidang, antara lain:
 Arah (bearing) : sudut horizontal antara garis dengan arah koordinat tertentu, biasanya
utara atau selatan
 Azimuth : Bearing yang diukur dari utara searah jarum jam
 Kemiringan sebenarnya (True dip): sudut kemiringan terbesar yang terbentuk antara
bidang lapisan dengan bidang horizontal, diukur tegak lurus perpotongan bidang
 Kemiringan semu (Apparent dip) : sudut yang dibentuk antara suatu bidang lapisan
dengan bidang horizontal, diukur tidak tegak lurus perpotongan bidang
 Jurus (strike) : arah garis horizontal yang terbentuk antara bidang miring (bidang
perlapisan) dengan bidang horizontal

Garis dan perpotongan bidang


Istilah yang digunakan dalam deskripsi struktur garis, antara lain:
 Plunge : sudut yang dibentuk oleh struktur garis dengan bidang horizontal, diukur
pada bidang vertikal
 Trend : arah dari proyeksi struktur garis tersebut ke bidang horizontal
 Pitch : sudut antara garis dengan jurus dari bidang yang memuat garis tersebut

Ketebalan dan Kedalaman


 Ketebalan : jarak tegak lurus antara dua buah bidang sejajar yang merupakan batas
antara dua lapisan
 Kedalaman : jarak vertikal dari suatu ketinggian tertentu ke arah bawah terhadap suatu
titik, garis, atau bidang.

Blok diagram yang memprlihatkanketebalan dan kedalaman

Kekar

42
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Kekar (joint) adalah rekahan pada batuan yang belum mengalami pergeseran.
Macam-macam kekar antara lain:
- Kekar pengkerutan, disebabkan oleh gaya pengkerutan yang timbul karena proses
pendinginan pada batuan beku yang akan menghasilkan kekar tiang, atau proses
pengeringan yang biasa terjadi pada batuan sedimen dan menghasilkan bentuk retakan
poligonal.
- Kekar lembaran merupakan bidang kekar yang kira-kira sejajar dengan permukaan
tanah dan terbentuk akibat penghilangan beban batuan karena erosi.
- Kekar tektonik merupakan kekar yang terbentuk karena gaya tektonik umumnya berupa
bidang yang relatif lurus.

Sesar
Sesar adalah suatu struktur geologi yang berupa zona rekahan atau bidang rekahan pada
batuan yang memperlihatkan pergeseran.

Bagian – bagian dari sesar terdiri dari :


 Bidang sesar adalah bidang rekahan dimana terjadi pergeseran antara blok-blok
yang saling berhadapan. Seringkali bidang sesar tercerminkan secara morfologis
sebagai “gawir sesar”.

 Hanging wall adalah blok patahan yang berada dibagian atas bidang sesar.

 Foot wall adalah blok yang ada dibagian bawah bidang sesar

 Throw (loncatan vertikal) adalah jarak slip / separation yang diukur pada bidang
vertical.
 Heave (loncatan horizontal) adalah jarak slip / separation yang diukur pada bidang
horizontal.

Gambar bagian – bagian sesar

43
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Gambar jenis-jenis sesar

Lipatan
Lipatan adalah hasil perubahan bentuk atau volume dari suatu bahan yang ditunjukkan
sebagai lengkungan atau kumpulan lengkungan pada unsur garis atau bidang dalam bahan
tersebut. Terdapat dua mekanisme gaya yang menyebabkan perlipatan, yaitu :
 Buckling (melipat), disebabkan oleh gaya tekan yang arahnya sejajar dengan permukaan
lapisan
 Bending (melengkung), disebabkan oleh gaya tekan yang arahnya tegak lurus pemukaan
lapisan.

Secara deskriptif, (berdasarkan posisi bidang sumbu dan sayap, lipatan diklasifikasikan
menjadi :
lipatan simetri yaitu lipatan yang kedua sayapnya mempunyai sudut kemiringan
lipatan asimetri yaitu lipatan yang kedua sayapnya mempunyai sudut kemiringan tidak
sama besar.

44
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

FOSIL
Fosil : sisa atau jejak organisme yang hidup pada masa lampau yang terawetkan secara
alamiah dan berumur lebih dari 11.000 tahun.

Biasanya organisme akan awet menjadi fosil jika

a. Punya cangkang atau anggota tubuh yang keras


b. Segera terkubur sedimen di lingkungan pengendapan
c. Terhindarkan dari proses oksidasi, pelarutan, dan lain lain yang bisa merusak fosil
d. Batuan tempat fosil berada tidak terdeformasi

Jenis Fosil

a. Fosil tidak mengalami perubahan


Semua bagian tubuh terawetkan secara sempurna, seperti mammoth yang terkubur
dalam tanah es, harimau sabertooth pada kolam tar, dan serangga pada amber

b. Fosil Mengalami perubahan


Permineralisasi : sebagian anggota tubuh tergantikan oleh mineral tertentu
Replacement : Berbagai mineral menggantikan semua tubuh organisme
Rekristalisasi : biasanya butir butir CaC03 pada cangkang mengkristal
kembali, tidak ada perubahan bentuk luar, tetapi bagian dalamnya sudah rusak.
c. Fosil berupa Fragmen
jika fosil berupa pecahan pecahan dari tubuh organisme

d. Fosil berupa jejak atau bekas


Mold : Cetakan dari cangkang yang sudah terlarutkan dan diganti material lain
Cast : Cetakan dari Cetakan Fosil, kadang bisa terlepas
Imprint : Jika Organisme tercetak dalam sedimen halus dan akhirnya terlepas
Track : Bekas perpindahan organisme berupa tapak
Trail : Bekas perpindaha organisme berupa seretan
burrow : lubang bekas galian organisme yang diisi oleh sedimen yang berbeda
Coprolite : Fosil kotoran, dari fosil ini bisa didapat informasi ukuran, tempat hidup,
dan apa makannya
jejak kimia : jejak jejak asam organisme yang terawetkan

Proses Pemfosilan

a. Bagian Lunak : hanya terjadi pada kondisi yang sangat khusus, sampai saat ini hanya
ada lingkungan :
Tanah beku ( permafrost) : Fossil mamoth beku berusia 25.000 th

45
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Telaga tar : Harimau taring, bison, dll


Getah Amber : Serangga kecil yang terperangkap dalam amber
b. Bagian Keras asli : dibagi menjadi 4 berdasarkan jenis materialnya
Karbonatan : sangat umum pada hewan invertebrata
Fosfatan : tulang dan gigi vertebrata mengandung banyak kalsium fosfat yang
tahan pelapukan seperti fosil gading, gigi harimau , dll
Silikatan : bagian tubuh hewan hewan bersilika seperti radiolaria, spons, dll yang
tahan pelapukan
Khitinan : Senyawa penyusun kuku, rangka luar dari golongan arthropoda sering
terawetkan menjadi lapisan tipis zat arang

Berbagai istilah penting dalam paleontologi


• Biocoenoese/ Insitu : fosil yang pernah hidup di tempat A, mati di tempat A dan
terfosilkan di tempat A

• Thanatocoenoese/ Transported : Fosil yang pernah hidup di tempat A, mati di


tempat A, tetapi terfosilkan di tempat B karena mengalami proses transportasi

• Reworked Fossil/ Fosil Rombakan (Fosil yang tua bercampur dengan yang muda)
bisa terjadi karena proses tektonik atau perubahan muka air laut

• Infiltrasi (yang muda bercampur dengan yang tua)


sering terjadi pada nano fossil, fossil fossil berukuran nano yang ikut terbawa air
tanah dan terendapkan di lapisan bawahnya, sehingga terjadi percampuran antara
fosil yang muda dan tua

Fosil indeks
Fosil yang bisa dipakai sebagai penanda umur atau penanda lingkungan pengendapan,
dengan ciri ciri

Untuk fosil indeks penciri umur , fosil tersebut dulunya hidup dengan range wilayah yang
luas tetapi mempunyai masa hidup yang relatif singkat ( misalnya hanya hidup pada zaman
kapur)

Untuk fosil indeks penciri lingkungan pengendapan, fosil tersebut dulunya hidup di range
wilayah yang sempit, (misalnya pada rawa) tetapi mempunyai masa hidup yang relatif lama
( misalkan dari ordovician-recent)

46
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Fosil indeks tiap zaman

1. zaman kambrium : Trilobit

2. zaman silur : graptolit

3. zaman Devon : spirifer ( Brachiopoda)

47
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

4. Zaman Karbon : Archimedes (Bryozoa)

5. Zaman perm : Fusulinids (foraminifera besar)

6. Zaman tersier : Turitella

48
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Fungsi paleontologi dalam korelasi batuan

49
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

50
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

KRISTALOGRAFI DAN MINERALOGI


Definisi kristal : Benda padat homogen, yang memiliki unsur kimia tertentu, mempunyai
susunan atomyang teratur (kristalin) yang dicerminkan oleh bidang kristal

Ada beberapa cara pembentukan kristal

 Larutan : gipsum, halit, kalsit, barit, dll ( evaporit)


 Lelehan : ortoklas, hornblende, olivin , dll ( pembekuan magma)
 Uap : anhidrit, gipsum, belerang, dll

7 sistem kristal

Dasar penggolongannya adalah jumlah sumbu kristal, letak sumb kristal antara satu dengan
yang lain, parameter yang digunakan untuk masing masing sumbu

51
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

MIneralogi

definisi mineral : padatan homogen yang terbentuk secara alamiah, mempunyai sifat kimia
dan fisika tertentu, dan bersifat kristalin

Sifat mineral adalah fungsi dari struktur kristal dan kimia unsur, dengan struktur adalah
fungsi dari komposisi, suhu, dan tekanan

Sifat sifat mineral

1. warna mineral
ada dua macam, idiokromatik jika warna selalu tetap, umumnya pada mineral
opaque dan kilap logam, allokromatik jika warna mineral tergantung pengotor
2. Kilap
kesan mineral yang ditunjukkan oleh pantulan cahaya
 Kilap logam : memberi kesan seperti logam
contoh mineral : pirit, galena, emas, dll
 Kilap nonlogam
a. Kilap Kaca (vitreous)
contoh mineral : kuarsa, fluorit, garnet, kalsit
b. Kilap Intan (adamantine)
contoh mineral : intan, kassiterit, zircon, rutile
c. Kilap Sutera
contoh mineral : gipsum, asbes, actinolite, dll
d. Kilap Damar
contoh mineral : sphalerite
e. Kilap Mutiara
contoh mineral : muskovit, talc, dolomit, dll
f. Kilap Lemak
contoh mineral : serpentin
g. Kilap tanah
contoh mineral : mineral lempung ( kaolin, limonit,dll) , bauksit

52
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

3. Kekerasan Mineral

Uji kekerasan versi praktis

 kuku jari : kekerasan 2,5


 jarum : kekerasan 3
 koin tembaga : kekerasan 3,5
 paku besi : kekerasan 4,5
 Pisau baja : kekerasan 5,5
 kaca : kekerasan 5,5 -6
 kikir baja : kekerasan 6-7
 Amplas : kekerasan 8-9

4. Streak ( warna mineral dalam bentuk serbuk )


sebagian mineral mepunyai warna cerat sama dengan warna mineralnya seperti :
cinnabar dengan warna mineral dan cerat merah, magnetit dengan warna mineral
dan cerat hitam, lazurit dengan warna mineral dan cerat biru.

tetapi sebagian besar mineral mempunyai warna cerat yang berbeda dengan warna
mineralnya, seperti

53
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

untuk mineral berwarna terang biasanya cerat berwarna putih, kuarsa,gipsum, dan
kalsit dengan warna mineral bening, dan cerat putih

untuk mineral logam biasanya ceratnya berwarna lebih gelap, seperti :


pirit dengan warna emas dan cerat hitam, copper dengan warna merah tembaga dan
cerat hitam, hematit dengan warna merah sampai abu gelap dan cerat berwarna
merah.

Mineral nonlogam yang gelap biasanya punya cerat terang


leucit dengan warna abu abu tapi cerat putih
dolomit dengan warna kuning dan cerat putih

5. Belahan
Dari belahan kita bisa mendapat informasi tentang struktur dalam kristal.
Berdasarkan bagus tidaknya suatu belahan ( bidang belahan)

Belahan Sempurna : ada bidang belahan dan mudah dibelah


contoh mineral : mineral mineral mika ( biotit, muskovit, dll)
Belahan Baik : ada bidang belahan, tetapi tidak mudah dibelah
contoh mineral : kalsit, ortoklas, dll
Belahan tidakjelas : bidang belahan seperti garis, kenampakan striasi
contoh mineral : beril, korumndum, dll
Tidak ada belahan : kuarsa, opal, kalsedon, dll

Berdasarkan arah belahan


satu arah, contoh mineral : muskovit, asbes, biotit
dua arah, contoh mineral : felspar, gypsum, piroksen
tiga arah, contoh mineral : halit, kalsit
empat arah, contoh mineral Flourite
lima arah, contoh mineral :sphalerite

54
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

6. Pecahan
Bila mendapat tekanan yang melampaui batas plastisitasnya maka mineral akan
pecah, dibagi menjadi lima macam :
Pecahan Konkoidal : gelombang melengkung di permukaan
contoh mineral : kuarsa, opal, rutile, dll
Pecahan Berserat : gejala seperti berserat, atau seperti daging
contoh mineral : asbes, augit, dll
Pecahan tidak rata : tidak teratur dan kasar
contoh mineral : garnet, markasit, dll
Pecahan rata : rata dan cukup halus
contoh mineral : mineral lempung
Pecahan runcing : permukaan tidak teratur, kasar, ujungnya runcing runcing

7. Bentuk dan Struktur Mineral


Ada 2 macam, kristalin jika mempunyai bidang kristal, dan amorf jika tidak
mempunyai batas batas yang jelas, pada saat proses pengkristalan sering kali
mendapat gangguan, sehingga akan menyesuaikan kondisi sekelilingnya

55
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

a. Granular atau Butiran


Butiran mineral yang berdimensi sama, berdasarkan ukuran dibagi menjadi 3 :
Fanerokristalin : jika butiran kristal bisa dilihat dengan mata telanjang
Kriptokristalin : jika butir kristal hanya bisa dilihat menggunakan mikroskop
Saccaroidal : jika membentuk kesan seperti gula pasir

b. Struktur Kolom
Terdiri dari prisma prisma panjang dan ramping, dibagi menjadi :
Struktur Jaring : kristal kecil panjang,tersusun menyerupai jaring
contoh mineral : rutile, cerrusite
Struktur Bintang : Menyerupai Bintang
contoh mieral : pirofilit
Struktur radier : menyebar,dari pusat ke luar
contoh mineral : markasit, netrolit

c. Struktur Lembaran
Struktur tabuler : pipih menyerupai bentuk papan, dimana lebar dan tebal tidak
terlalu jauh berbeda
contoh mineral : barite, hematite
Struktur konsentris : bulat dan konsentris
contoh mineral : mangaan
Struktur foliasi : pipih dan berlapis lapis
contoh mineral : mineral mika

d. Struktur imitasi ( menyerupai bentuk benda lain )


Bila mineral berdiri sendiri :
Menjarum (acicular) : menyerupai jarum jarum kecil
contoh mineral : cuprite, bysolite
Membenang (filiformis) : menyerupai benang
contoh mineral : perak
Membilah (bladded) : Seperti bilahan kayu
contoh mineral : barit, kyanite, glaukophane

e. Bila mineral bersatu dalam kelompok tertentu


Dendritik : kristal kristal kecil yang menyerupai daun
contoh mineral : cuprite, bysolite
Botroidal : bila membentuk seperti ginjal
contoh mineral : hematit
Mammilary : bentuk kristal bulat bulat
contoh mineral : malachite, opal, hemmimorphite

56
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

f. Bila kelompok mineral pararel atau radier


Columnar : prismatik yang seperti tiang
contoh mineral : tourmaline
Menyerat : menyerupai serat serat kecil
contoh mineral : asbes, silimanite, tremolite
Globular : membulat dengan struktur dalam memancar
contoh mineral : pyrolorphite

8. Sifat Dalam
a. Brittle : mudah pecah, contoh : kalsit, kuarsa, halit, dll
b. Sectile : bisa diiris
c. Ductile : bisa dipintal
d. Maleable : bisa ditempa
e. Elastis : lentur ( bisa kembali ke bentuk semula)
f. Plastis : jika deformasi tidak kembali ke bentuk awal

9. Kemagnetan
Ferromagnetik : menarik dan ditarik oleh magnet,
contoh : magnetit, pyrhotit
Paramagnetit : ditarik oleh magnet, tetapi tidak menarik magnet,
contoh mineral : pirit, hematit, olivin, mika, dll
Diamagnetit :bila sedikit menolak magnet
Contoh : kuarsa, gypsum, intan, dll

Klasifikasi Mineral

1. Native element ( hanya terdiri dari 1 unsur )


logam : Au, As, Ag, Pt
semilogam : Bi
Nonlogam : S, C (intan), C ( grafit)

2. Sulfida ( mengandung ion S2-)


kalkosit (Cu2S), Galena ( PbS), Kalkopirit(CuFeS2), Pirit(FeS2), Markasit ( FeS2),
Arsenopirit( FeAsS2).

3. Oksida dan Hidroksida ( mengandung ion O2-)


dibagi menjadi 4 tipe(Oksida) :
X20 dan X0 : kuprit(Cu2O)
X2O3 (hematite group) : korundum(Al2O3), Hematit(Fe2O3)
X02(rutile group) : pirolusit(MnO2)
XY2O4 ( spinel group) : Magnetit (Fe3O4)

57
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Hidroksida

Opal(SiO2.nH20), Goethit, Limonit ( Fe2O3.nH2O), Es (H2O), Diasphore (AlO(OH)), Manganit


MnO(OH), Bauksit Al(OH).nH2O

4. Halida ( mengandung ion ion golongan 7)


Halit (NaCl)
Fluorit( CaF2)

5. Karbonatan(Mengandung Ion CO3-)


kalsit (CaCO3)
Aragonit (CaCO3)
Dolomit ((Ca,Mg)CO3)

6. Sulfat ( mengandung ion SO42-)


Gypsum ( CaSO4.nH2O)
Anhidrit ( CaSO4)
Barite (BaSO4)
Celestit(SrSO4)
Anglesite(PbSO4)

7. Phospat( mengandung ion PO4)


Apatit (CaF(PO4)3)
Vanadin (Pb5Cl(PO4)3)
Monazite ( Ca,La,Ni)PO4

8. Kelompok Silikat
Silika : tergantung pengotor menjadi beberapa varietas: ametis, tiger eye, onyx,
cytrus, flint, agate, bloodstone,dll
Mika : Muskovit, Biotit
Plagioklas, Ortoklas, olivin, garnet, piroksen

58
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

GEOMORFOLOGI
Geomorfologi mengacu pada kata dalam bahasa Yunani , yaitu ‘Geo’ berarti bumi, ‘Morphe’ bentuk,
dan ‘Logos’ ilmu. Menurut Verstappen (1983) Geomorfologi adalah ilmu pengetahuan tentang
bentuk muka bumi yang ada di permukaan bumi, diatas dan dibawah air laut, dan penekanan
genesa dan perkembangan selanjutnya. Proses – proses geomorfik dibagi menjadi dua
berdasarkan asal energi yang membentuknya yaitu :

Proses Endogenik yaitu akibat dari aliran panas radioaktif yang memancar berupa aliran
geothermal dan arus konveksi, sehingga menyebabkan pergerakan lempeng. Implikasi dari
pergerakan lempeng tersebut nantinya memiliki andil dalam pembentukan morfologi struktural
dan vulkanisme. Morfologi yang dihasilkan oleh proses endogen membentuk rangkaian proses
geomorfi yang berlangsung (constructional process).

Proses Eksogenik adalah proses akibat radiasi matahari yang menggerakan sirkulasi air dan
udara. Selain itu ditambah dengan aktifitas kosmis berupa meteor dan kegiatan manusia
(anthropogenic process). Morfologi hasil proses eksogenik akan dirusak oleh proses endogenik
sehingga sering disebut destructional processes. Macam – maca proses yang terlibat dalam
prosek eksogen terdiri dari pelapukan, erosi, dan gerakan massa.

1. Morfologi Vulkanik
Berdasarkan sifat erupsinya, bentuk gunung api dibedakan menjadi 3 macam yaitu :
Shield Volcano atau gunung api prisai, bentuk prisai tersebut akibat dari magma yang sangat
encer, magma encer tersebut mengalir ke segala arah membentuk lerng yang landai.

Maar Volcano akibat letusan yang sangat eksplosif, bahan yang dikeluarkan relative sedikit,
karena sumber magmanya dangkal dan sempit. Gunung api ini biasanya tidak tinggi dan berupa
timbunan bahan padat (efflata). Di bekas kawahnya seperti sebuah cekungan dan terkadang
berisi air seperti sebuah danau.

Strato Volcano akibat dari erupsi campuran antara eksplosif dan efusif yang bergantian secara
terus menerus. Hal ini menyebabkan lerengnya berlapis – lapis dan terdiri dari bermacam batuan.

Selain itu terdapat pula bentang alam akibat depresi vulkanik diantaranya :
 Danau Vulkanik
 Kawah
 Kaldera

2. Morfologi Fluvial
Morfologi fluvial adalah morfoogi yang proses pembentukannya sangat erat dengan diageni aliran
air.

59
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Berhubungan dengan proses permukaan, dengan intensitas yang dipengaruhi oleh :

1. Nilai Curah hujan


2. Jumlah vegetasi
3. Kelerengan dan jenis litologi

Proses erosi

 Abrasi : Penggerusann terhadap batuan yang dilewatinya


 Scouring : Penggerusan dasar sungai akibat “Ulakan”
 Korosi : Reaksi air terhadap batuan

Erosi akan terus berlanjut sampai mencapai “Erosion Base Level”


ada Ultimate Base Level (Laut) dan Temporary Base level (Danau,rawa,dll).

60
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Bentuk bentuk sungai

Morfologi sungai meandering

61
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Tipe aluvial fan

Pola Pengaliran

1. Dendritik : pada batuan dengan resistensi sama, bisa pada batuan sedimen datar,
beku masif, lipatan, atau metamorf kompleks
2. Radial : Pola memusat jika di cekungan, menyebar jika morfolofi gunung atau bukit
3. Reectangular ; Anak sungai tegak lurus dengan sungai utama, pada daerah joints
atau patahan
4. Trellis : Memanjang sejajar jurus perlapisan batuan, dengan Sungai utama dikontrol
struktur, dan anak sungai dikontrol litologi
5. Annular: Melingkar, tetapi mengikuti jurus perlapisan pada kubah stadia dewasa

62
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

6. Contorted : arah aliran berbalik arah, kontrol struktur berupa lipatan tidak
beraturan

Selain itu terdapat pula morfologi fluvial hasil dari proses erosi dan sedimentasi lebih lanjut
diantaranya :
 Alluvial Fan
 Meander
 Channel bar
 Point bar
 Braided stream
 Oxbow lake

3. Geomorfologi struktural

Bentang alam yang diakibatkan oleh tenaga geologi


1. Pegunungan blok sesar
2. Gawir Sesar (Escarpment)
3. Pegunungan antiklinal
4. Pegunungan Sinklinal
5. Pegunungan Monoklinal
6. Kubah
7. Plato, mesa, dan butte
8. Graben dan horst
9. Monadnock
10. Cuesta
11. Hogback

63
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

4. Morfologi karst
 Morfologi Konstruksional
Mayor : Doline, Uvala, Polje, dl
Minor : Karren/Lapies, Karst split, Parit Karst

 Morfologi Sisa
Kerucut Karst
Menara Karst
Mogote

64
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

 Kenampakan dalam gua


Flowstone
Stalaktit
Stalakmit
Tiang kapur
Helektit

 Lembah Karst
Allogenik Valley : jika hulu tersusun oleh batuan kedap air
Blind Valley : Lembah karst yang tiba tiba alirannya hilang karena masuk
pada batuan
Pocket Valley : Lembah yang berasosiasi dengan mata air yang besar dan
keluar dari batuan kedap air yang berada di bawah lapisan batu gamping
Dry Valley : Mirip lembah fluviatif tapi bukan sebagai penyaluran air
permukaan, tapi langsung masuk diserap ke dalam

5. Morfologi Eolian

Faktor yang berpengaruh :

 Kecepatan dan arah angin


 Suplai Material
 Pertumbuhan Vegetasi

Hasil dari Deflasi

 Cekungan deflasi
 Lag Gravel
 Desert Varnish

Hasil Abrasi

 Beveled Stone
 Grooves
 Sculpturing (mushroom rock)
 Polished Rocks
 Ventivacts

Hasil Pengendapan Angin

Dune :

 Transversed Dune ( Punggungan tegak lurus terhadap arah angin)

65
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

 Parabolic Dune (Berbentuk Parabola, ada vegetasi di ujung)


 Longitudinal Dune ( Sejajar dengan arah angin )
 Seif
 Stardune

66
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Morfologi glasial

67
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

METEOROLOGI

68
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

69
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

DASAR METEOROLOGI

Meteorologi adalah Ilmu yang mempelajari dinamika, fisika dan kimia atmosfer.

Cuaca

keadaan fisik atmosfer pada suatu saat (waktu tertentu) di suatu tempat, yang dalam waktu
singkat (pendek) berubah keadaannya, seperti panasnya, kelembabannya, atau gerak
udaranya. Dengan jangka waktu terjadinya dari menit hingga bulan unsur unsur cuaca ada 7
yaitu:
1. Temperatur 5. Perawanan

2. Angin 6. Kecerahan

3. Kelembapan 7. Jarak Pandang

4. Presipitasi

Iklim
Deskripsi stastistik kondisi atmosfer jangka panjang, perataan dalam perioda waktu tertentu
(30 tahun menurut ketetapan WMO)

Dasar meteorologi

Dalam meteorologi ada beberapa dasar yang harus diketahui, terutama tentang satuan
penggunaan suhu, tekanan, kelembapan, dan angin

Temperatur
Satuan SI yang dipakai adalah Kelvin (K), negara negara di eropa kebanyakan memakai
sistem celsius, sedangkan amerika kebanyakan memakai farenheit, untuk itu perlu diketahui
cara mengkonversi satuan satuan tersebut

70
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Tekanan

Tekanan udara diakibatkan oleh berat udara di atmosfer, tetapi densitas udara di atmosfer
tidaklah homogen dari bawah ke atas, Sehingga gradien vertikal jauh lebih besar dari
gradien horizontal, dan tekanan menurun secara exponensial seiring dengan kenaikan
ketinggian

Gradien vertikal : 0.14 mb m-1

Gradien horizontal : < 0.1 mb km-1

71
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Satuan SI yang digunakan adalah Pascal (Pa), dengan tekanan atmosfer dinyatakan dalam
hectopascal (hPa) = seratus Pascal. Dengan konversi:

1 hPa = 100 Pa

1 mb = 1 hPa

Untuk tekanan muka laut secara rata rata diperoleh = 1013.25 mb

Pengaruh lintang bumi terhadap tekanan

1. Tek.udara rendah sepanjang lingkaran equator doldrum

2. Tek.udara tinggi sepanjang lintang 25o-35o  sub tropical high

3. Tek.udara rendah sepanjang lintang 60o-70o  sub polar low

4. Tek.udara tinggi pada lintang kutub dingin  cold polar high

Kecepatan Angin

Satuan yang secara umum digunakan adalah meter perdetik, tetapi untuk kalangan militer
biasanya memakai knots, berikut adalah perbandingan satuan meter per detik dan knot :

1 Knots (kt) = 1 mil-laut per jam

1 Knots (kt) = 0.514 m s-1  0.5 m s-1

Dengan

1 Kilometer per jam (kph) = 0.278 m s-1

1 Mil per jam (mph) = 0.447 m s-1

perlu diketahui mil laut dan mil mempunyai besaran yang berbeda

72
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Kecepatan angin menurut skala beaufort

Faktor yang mempengaruhi kecepatan angin

 Gradien tekanan horisontal : semakin besar perbedaan tekanan antara 2 tempat, maka
makin kencang angin yang dihasilkan
 Letak geografis : kecepatan angin di ekuator cenderung lebih tinggi dari pada lintang
besar
 Ketinggian tempat : Semakin tinggi tempat, maka kecepatan angin akan makin
besar (gaya gesek semakin kecil)
 Waktu : pada siang hari angin cenderung lebih kencang, karena
pada siang hari masih ada sumber pemanasan yang memperbesar perbedaan tekanan .

Menurut konvensi, arah angin dinyatakan dari arah datangnya angin tersebut, jika datang dari
timur, maka disebut angin timur

Ukuran Kelembaban
Kelembaban Relatif :

Jumlah uap air dalam udara dinyatakan dalam persentasi jumlah maksimun yang mungkin
pada suatu temperatur tertentu.

Perbandingan Campuran (Mixing Ratio)

Perbandingan masa uap air terhadap masa udara kering

Kelembaban Spesifik (Specific Humidity)

Perbandingan masa uap air terhadap masa udara lengas.

Kelembaban absolut atau densitas uap (Absolute Humidity or Vapour Density)


Masa uap air per satuan volume udara lengas.

73
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Pembagian Ruang-Waktu skala meteorologi


Lokal (skala mikro)

hanya meliputi luas wilayah yang sempit, kurang dari 2 km dengan waktu kejadian dari
beberapa jam sampai satu hari, contoh: konveksi lokal, kumulus kecil, kabut, sungai kecil,
variasi angin permukaan

Regional (skala meso)

luas wilayah mencapai beberapa km sampai 100 km, dengan waktu kejadian beberapa jam
sampai beberapa hari. Contoh : thunderstorms, front, angin darat-angin laut

Skala besar (skala sinoptik)

luas wilayah sangat besar, bisa meliputi beberapa negara, contoh : sistem tekanan tinggi,
gelombang panas, dll

74
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

KOMPOSISI & STRUKTUR ATMOSFER


Komposisi Atmosfer

Struktur vertikal atmosfer

Berdasarkan homogenitas udara

Homosfer : wilayah dengan komposisi udara yang homogen ( tercampur rata)


Heterosfer : berisi gas gas ringan ( H dan He)

Berdasarkan inversi suhu

75
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

1. Troposfer : sumber panas berasal dari radiasi bumi, sehingga semakin tinggi akan
semakin dingin

2. Stratosfer : semakin tinggi akan semakin panas, karena sumber panas berasal dari
penangkapan radiasi ultraviolet oleh lapisan gas ozon

3. Mesosfer : Suhu dan densitas berkurang secara drastis, pada ketinggian sekitar 80km
suhu bisa mencapai -90 derajat celsius ( suhu terdingin atmosfer)

4. Termosfer : dengan densitas yang sangat rendah, penambahan kalor sedikit saja oleh
radiasi matahari akan menaikkan suhu secara drastis, suhu akan mencapai titik maksimum
saat matahari sedang aktif.

Berdasarkan Propertis Elektrik: Ionosfer

pada saat malam hari, intensitas radiasi matahari akan berkurang jauh sehingga lapisan
ionosfer D tidak terbentuk dan mengakibatkan sinyal radio bisa terpancar lebih jauh (
lapisan D menyerap gelombang radio AM)

76
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

KLASIFIKASI IKLIM
Terdapat 2 tipe utama pembagian iklim yaitu :

1. Pembagian iklim secara Empiris

- diutamakan pada pengaruh dari iklim tersebut

- merangkum banyak informasi dengan cara yang sederhana

2. Pembagian secara Genetis

- diutamakan pada penyebab iklim

- bermanfaat dalam memahami mengapa suatu wilayah memiliki tipe iklim seperti itu,
dan kondisi alam, serta pengaruh dari perubahan iklim

77
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

GERAK ATMOSFER

1. Gaya gradien tekanan


dengan analogi gambar di bawah, perbedaan tekanan akan membuat udara bergerak

dengan persamaan

Gaya Gradien Tekanan :

Adalah perbedaan tekanan tiap satuan jarak

Menunjukkan berbanding terbalik dengan densitas fluida, semakin keci densitas maka
semakin .besar gaya gradien tekanannya.

2. Gaya coriolis

gaya semu akibat rotasi bumi, karena


besarnya dipengaruhi oleh lintang , maka
wilayah dengan posisi lintang kurang dari 5
derajat akan aman dari bencana hurricane.
Dengan persamaan

Fc = 2 V sin

Fc adalah besar gaya coriolis


 adalah kecepatan sudut bumi
V adalah kecepatan angin

78
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

 adalah besar lintang (jika lintang 0 maka Fc juga 0)

3. Keseimbangan geostropik
jika besar gaya gradien tekanan dan gaya coriolis sama maka akan menghasilkan angin yang
bergerak sejajar dengan isobar ( angin geostropik )

(arah angin V membelok karena Fc yang tegak lurus dengan arah angin)

4. Percepatan Sentripetal
pada isobar melengkung, angin juga bisa bergerak melengkung sejajar dengan isobar, hal ini
diakibatkan oleh percepatan sentripetal.

Angin yang dihasilkan disebut angin gradien bisa diamati dari gambar, percepatan
sentripetal muncul akibat tidak seimbangnya gaya coriolis dan gaya gradien tekanan.
Gambar diatas menunjukkan pada daerah BBU,sehingga pada daerah BBS arah V akan
berkebalikan ( arah V pada daerah High akan berkebalikan dengan arah jarum jam)

Sel Sirkulasi

dengan kombinasi rotasi bumi dan ketidak seimbangan energi radiasi yang diterima bumi,
akan mengahasilkan 3 sel sirkulasi seperti gambar dibawah

79
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

80
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

ANGIN

1. Angin lembah dan angin gunung

2. Angin darat dan Angin laut

81
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

3. Dust Devil

82
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

4. Angin Fohn

Pada beberapa tempat di indonesia angin ini disebut sebagai

1. Angin Bahorok : pada deli ,sumatera utara

2. Angin Gending : jawa timur

3. Angin Wambrau : biak, irian jaya

4. Angin Brubu : Makasar, sulawesi selatan

5. Angin Kumbang : Cirebon, jawa barat

83
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

FRONT DAN GERAK SIKLONIK

Front ( batas antara 2 massa udara )disebabkan oleh pertemuan 2 massa udara yang
berbeda, dibagi lagi menjadi

1. Front panas
bisa diperhatikan di gambar, bagaimana jenis dan lokasi presipitasi, perawanan, dan
kemiringan front

2. Front Dingin
bisa diperhatikan di gambar, bagaimana jenis dan lokasi presipitasi, perawanan, dan
kemiringan front

3. Front Occluded dingin


dengan urutan pembentukan sebagai berikut ( dari atas ke bawah)

84
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Garis ungu adalah front occluded dingin.

Perhatikan arah front panas dan front dingin yang bertemu

85
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

4. Front Occluded Panas


Perhatikan arah front panas dan front dingin yang bertemu

Dengan proses pembentukan sebagai berikut(dari atas ke bawah)

garis ungu adalah front occluded panas

86
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

5. Mid-latitude cyclone
dengan proses pembentukan sebagai berikut (di BBU)

6. Thunderstorm
dengan proses pembentukan sebagai berikut

87
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

7. Severe Thunderstorm
dengan intensitas yang jauh lebih kuat daripada thunderstorm, dan membentuk squall line

88
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

8. Tornado

Saat udara panas bertemu dengan udara dingin seperti gambar diatas, akan timbul gerak
rotasi yang membentuk seperti pipa vorteks horisontal, kemudian updraft yang kuat dalam
thunderstorm akan mengubah orientasi vorteks menjadi vertikal seperti gambar b.

Tekanan terus berkurang akibat proses kondensasi, atau puncak awan mencapai jet stream (
jet stream bisa mengurangi tekanan udara dengan cara yang mirip vacum cleaner)
kemudian dari dasar pipa vorteks akan muncul belalai kecil yang mencapai tanah (tornado)

89
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Skala Fujita

9. Hurricane

syarat pembentukan :
1. Suhu permukaan laut lebih dari 26,5 C
2. Kondisi atmosfer yang tidak stabil ( ditandai dengan awan cumulo nimbus)
3. Atmosfer yang cukup lembab di ketinggian sekitar 5 km
4. Terbentuk setidaknya 500 km dari katulistiwa
5. Perubahan kondisi angin terhadap ketinggian tidak terlalu besar, perubahan kondisi yang
besar akan mengganggu proses pembentukan hurricane.

Tahap tahap pertumbuhan

dengan proses pembentukan seperti gambar di bawah

90
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

91
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Ke empat fase pertumbuhan jika dilihat dari satelit

92
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

MASSA UDARA (AIR MASSES)


Definisi massa udara : Kumpulan udara dengan kesamaan sifat fisis (temperatur,
kelembapan, lapse rate) dalam jarak horisontal ratusan kilometer

*Lapse rate = Perbandingan perubahan antara 2 variabel atmosfer, bisa tekanan terhadap
ketinggian, temperatur terhadap ketinggian, dll

Pada dasarnya setiap daerah di permukaan bumi mendapat input energi dan kelembapan
yang berbeda beda, sehingga agar menjadi sama ( air masses) udara di daerah tersebut
mengalami perubahan, antara lain

1. Perubahan secara Termodinamika

 Pemanasan atau pendinginan permukaan bumi


 Penambahan kelembapan (berasal dari penguapan, atau bisa juga virga)
 Hilangnya kelembapan ( JIka ada kondensasi atau presipitasi)
 Pemanasan atau pendinginan radiatif

2. Perubahan secara Dinamik

 Percampuran Turbulen
 Pengangkatan atau penurunan skala besar

Klasifikasi Massa udara

Klasifikasi berdasarkan kombinasi Daerah sumber dan sifat permukaan

 Daerah Sumber : 1. Continental [c] (kelembapan cenderung rendah)


2. Maritime[m] (kelembapan relative tinggi)

 Sifat permukaan : 1. Polar [P] (jika suhu relative dingin)


2. Tropical [T] (jika suhu relative panas/hangat)

 Tambahan : 1. Artic [A] ( jika tipe permukaan sangat dingin )

Sehingga dari kombinasi daerah sumber dan tipe permukaan bisa didapat tipe massa udara
cP jika massa udara kering dingin, mT jika massa udara lembab dan hangat, dan seterusnya.

93
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

AWAN

Proses Pembentukan awan

Awan terbentuk saat terjadi kondensasi


uap air di udara.

Parsel udara yang mengalami kenaikan


akan secara otomatis mengembang dan
mendingin secara adiabatis ( tekanan
udara di atas lebih kecil ) sehingga
mengakibatkan kapasitas udara untuk
menyimpan uap air berkurang. Dengan
jumlah air yang tetap akan
mengakibatkan kelembapan mencapai
100%

Ada beberapa hal yang bisa menurunkan suhu udara sampai suhu titik embun nya :

1. Adiabatic Cooling
saaat udara naik keatas, udara akan mengembang karena tekanan udara di atas lebih kecil,
dan untuk mengembang diperlukan energi, karena tidak ada input energi maka udara akan
menggunakan energinya sendiri untuk mengembang dan membuat suhu udara mendingin
sampai titik embun

2. Frontal and Cyclonic Lift


Di sekitar pusat tekanan rendah, udara akan terangkat ke atas dan mengalami pendinginan,
sehingga bisa terbentuk awan

3. Convective Lift
Saat paket udara di permukaan mengalami pemanasan yang ekstrem, akan menyebabkan
suhu paket udara lebih panas daipada udara di sekitarnya yang tidak mengalami pemanasan,

94
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

hal ini akan membuat parsel udara sangat tidak stabil dan akan naik ke atas dan mendingin
sampai suhunya sama dengan lingkungannya ( sampai stabil)

4. Orographic Lift
Saar udara dipaksa naik melewati pegunungan, suhunya akan mendingin dan membentuk
awan. Jika udara cukup kering hanya terbentuk lenticularis sajam tetapi jika lembab bisa
menyebabkan hujan yang deras

Klasifikasi Awan

4 kata latin yang digunakan untuk klasifikasi awan

1. Cirrus : Fibrous, hair-like

2. Cumulus : Pile

3. Stratus : Horisontal sheet or layer

4. Nimbus : Pembawa hujan

Kata depan Alto biasanya ditambahkan untuk mengindikasikan awan dengan ketinggian
menengah

Contoh contoh awan

a. High Clouds ( terdiri dari kristal es dengan konsentrasi rendah)

- Cirrus Uncinus

95
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

- Cirrus floccus

- Cirrus fibrates

96
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

- Cirrus Spisatus

- Cirrostratus (with halo)

- Cirrocumulus

97
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

b. Middle Clouds ( terdiri dari campuran supercooled droplets dan kristal es)

- Altostratus

- Altocumulus

98
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

-Altocumulus castelanus

-Altocumulus stratiformis

-Altocumulus Lenticularis

99
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

c. Low level clouds

-Nimbostratus

- Stratocumulus

100
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

- Cumulus mediokris

-Cumulus Congestus

Awan Noctiluen

Pada suhu yang sangat rendah, udara dengan kandungan air sangat sedikitpun bisa mejadi
awan, awan ini ada pada lapisan mesosfer.

101
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Awan Nacreous

terbentuk di lapisan stratosfer, mempunyai peran dalam mempercepat menipisnya lapisan


ozon di kutub selatan

102
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

HUJAN

Dari gambar diatas sudah bisa


kita simpulkan kalau tetes
hujan dibentuk dari tetes
awan, dengan tetes awan
terbentuk dari kumpulan inti
1004 mb kondensasi yang diselimuti
lapisan air

di dalam awan terjadi mekanisme tumbukan dan tangkapan tetes awan untuk menjadi tetes
hujan,

Ada 2 gaya yang bekerja pada objek jatuh, yaitu gaya gravitasi dan gaya gesek jika kedua
gaya ini seimbang maka benda yang jatuh tersebut akan memiliki kecepatan terminal
(kecepatan yang konstan dalam fluida) dengan kecepatan terminal tetes besar > tetes kecil
maka tumbukan dan penggabungan akan sangat mungkin terjadi, saat tetes besar terus
tumbuh suatu saat akan mempunyai kecepatan terminal yang lebih besar dari updraft dan
turun sebagai hujan.

103
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Tetes hujan yang jatuh akan berbentuk bulat jika ukurannya kecil, tetapi saat ukurannya
membesar bentuknya akan seperti gambar dibawah , hal ini disebabkan karena tekanan
udara yang lebih tinggi pada bagian bawah tetes

Jenis jenis Presipitasi

1. Virga : gerimis atau hujan yang menguap sebelum menyentuh permukaan bumi

2. Drizzle : jika tetes hujan kurang dari 0,5 mm

3. (tetes hujan)Raindrop : mempunyai diameter dari 0,5 mm sampai 6mm

4. (hujan curah) Shower : jatuh dari awan konvektif, jika intensitas lebih dari 100mm/jam
disebut cloudburst

5. Hujan Kontinyu : jika hujan terus menerus selama waktu yang relatif lama, berasal dari
awan stratiform

Curah Hujan :

Curah hujan 1 (satu) millimeter, adalah banyaknya hujan yang jatuh ke permukaan tanah
dan jika diukur setinggi 1 (satu) millimeter, tanpa ada yang meresap, mengalir (run-off) dan
menguap. Apabila dikonversi, maka dalam satuan luas permukaan tanah 1 (satu) meter
persegi tertampung jumlah hujan sebanyak 1 (satu) liter.

104
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

INSTRUMEN METEOROLOGI
Pengukuran yang dilakukan ditujukan untuk memperoleh data :

- Temperatur
- Tekanan
- Suhu titik embun dan kelembapan
- Curah hujan
- Kecepatan dan arah angin
- Laju vaporasi
- Tutupan awan
- Visibilitas
- Intensitas radiasi matahari
- Intensitas radiasi infra merah

Mari kita bahas satu persatu

Pemasangan alat di tempat terbuka memerlukan persyaratan tertentu, misalnya halangan


bangunan, atau pepohonan. Dan pengukuran akan dilakukan menurut ketetapan waktu,
yang artinya pengukuran dilakukan serempak di seluruh dunia pada 0000, 0600, 1200, 1800
UTC.

gambar dari meteorological station

A. Pengukuran Radiasi

105
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Pada umumnya data yang dicari adalah jumlah energi radiasi (Cal/cm2/waktu) dan lamanya
penyinaran

1. Aktinograf
terdiri atas bimetal logam yang berwarna hitam, besarnya lengkunagn akan dikalibrasi ke
jarum penulis yang akan menuliskan datanya ke pias, data rekaman berupa grafik dan jika
dihitung luasnya (Diintegralkan) akan diperoleh total jumlah radiasi yang ditangkap selama
kurun waktu tertentu

2. Gun Bellani
terdapat bola sensor berisi air didalamnya, saat mendapat radiasi matahari air akan
menguap dan mengembun melalui buret berskala, banyaknya air yang terkondensasi akan
menunjukkan radiasi matahari yang diterima dalam sehari

3. Campbell stokes
alat ini untuk menentukan lamanya penyinaran matahari, panjang pias yang terbakar akan
menunjukkan seberapa lama penyinaran matahari. Kemiringan sumbu bola lensa akan
disesuaikan dengan lintang. Ada 3 jenis pias yaitu pias ekuator, pias uatara, pias selatan

B. Pengukuran Suhu

Termometer maksimum minimum

cara kerja dari termometer maksimum adalah dengan adanya penyempitan pada pipa
kapiler di dekat reservoir akan membuat cairan yang sudah naik sulit untuk turun lagi,
sehingga didapatkan data suhu maksimum pada hari itu

Cara kerja termometer minimum adalaha dengan menempatkan indeks pada cairan alkohol,
indeks ini akan terdorong ke bawah pada suhu rendah dan saat cairan alkohol memuai
indeks akan tetap berada pada posisi terbawah

Termometer Tanah

prinsipnya sama dengan termometer biasa tetapi yang membedakan adalah bentuk dan
panjangnya, suhu tanah yang diukur biasanya pada kedalaman 5 cm, 10cm, 20cm, 50cm,
dan 100cm. Termometer berada dalam tabung gelas yang berisi parafin lalu diikat dengan
rantai dan diturunkan pada kedalaman tertentu, adanya parafin akan memperlambat
perubahan suhu saat termometer diangkat keudara dan dibaca

C. Pengukuran Kelembapan

Termometer bola basah dan bola kering (Psikrometer)

106
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

kain yang dibalutkan pada reservoir bola basah akan menunjukkan suhu titik embun pada
waktu dan tekanan saat itu, jika membandingkannya dengan suhu yang ditunjukkan oleh
termometer bola kering akan diperoleh kelembapan relatif (dalam persen)

Termohigrograph

Menggunakan prinsip dengan sensor rambut untuk mengukur kelembapan udara dan
bimetal untuk mengukur suhu. Rambut yang lembab akan cenderung memanjang dan jika
kering akan menyusut jika dikalibrasikan dengan jarum penunjuk maka sensor rambut ini
bisa menunjukkan kelembapan 0-100 %

D. Pengukur Curah Hujan

 Penakar hujan hellman

bekerja dengan mekanisme siphon, saat air hujan terukur setinggi 10mm maka alat akan
secara otomatis mengeluarkan air kemudian dengan cepat siap untuk mengukur lagi dan
seterusnya. Didalam pelampung terdapat jarum pena penunjuk yang secara mekanis
mencatat data yang diperoleh

 Penakar hujan Bendix

Prinsipnya adalah menimbang air hujan yang ditampung, dengan cara mekanis timbangan
akan dikonversi ke jarum penunjuk berpena yang bisa mencatat data

 Penakar hujan Tilting Siphon

Air hujan yang masuk akan ditampung, bila penampung penuh akan secara otomatis miring
dan mengeluarkan air dari tabung, setiap pergerakan akan tercatat pada pias

 Penakar hujan tipping bucket


Menggunakan prinsip bejana ungkit, bila air mengisi bejana penampung yang setara o,5mm
akan berjungkit dan air dikeluarkan. Terdapat dua bejana yang saling bergantian
menampung air hujan. Jumlah hitungan dikalikan 0,5 mm adalah curah hujan yang terjadi

E. Pengukur Evaporasi

Pan evaporimeter

Terdapat 2 alat ukur dalam panci, pertama adalah mikrometer pancing dan yang kedua alat
ukur ujung paku yang dipasang tetap (fixed point). pengamatan membutuhkan kejelian
dalam melihat batas air yang diukur

107
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

F. pengukur arah dan kecepatan angin

Anemometer

Cup counter anemometer akan mengukur kecepatannya, sedangkan windfan akan


menentukan arahnya, angka 360 derajat berarti angin berasal dari arah utara, 180 derajat
maka dari selatan, dan angka 0 digunakan jika sama sekali tidak terdapat angin

Simbol cuaca

data data yang diperoleh akan dimampatkan dalam simbol cuaca seperti gambar dibawah

setiap garis pada windbarb mewakili nilai kecepatan tertentu seperti gambar dibawah

108
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Untuk tutupan awan dilakukan secara manual dengan penulisan simbol seperti gambar
dibawah

109
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

110
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

111
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

OSEANOGRAFI

112
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

113
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

SIFAT FISIS AIR LAUT

Keberadaan air laut di bumi menempati porsi paling dominan dari total air di bumi.
Sekurangnya sekitar 97% air di bumi merupakan air laut. Air laut memiliki keunikan
tersendiri dalam sifat fisis maupun kimia. air laut memiliki titik didih yang relatif lebih
tinggi daripada air murni sehingga sangat umum ditemukan dalam fasa cair. Selain
itu sangat penting bagi kehidupan karena mampu melarutkan hamir semua unsur
dalam jumlah sedikit.

Peranan air di bumi sangat penting bagi kehidupan dan keberlangsungan sistem
sirkulasi di bumi. Berikut adalah peran dari keberadaan air laut diantaranya :
 Cairan utama di Bumi
 Mengendalikan penyebaran panas di Bumi
 Air bebas dalam jumlah yang sangat banyak
 Bergerak di daratan, lautan, dan atmosfer di dalam suatu siklus – Siklus Hidrologi
 Media utama masuknya material dari daratan ke lautan

Pengaruh sifat koligatif menyebabka perubahan – perubahan sifat fisis air pada air
laut. Perubahan tersebut meliputi :
 Penurunan kapasitas panas, sehingga titik didih air laut naik
 Penaikan densitas
 Penurunan titik beku, sehingga air yang paling dingin adalah yang paling tinggi
salinitas dan densitasnya.
 Penurunan tekanan uap, menaikkan titik didih
 Kenaikan tekanan osmosis
 Kenaikan viskositas. sehingga mempengaruhi kecepatan suara di dalam air.

Beberapa karakter umum air laut yang sangat berguna untuk kita pelajari
diantaranya :

1. Temperatur Air Laut


Sumber panas air laut berasal dari tiga sumber yaitu Radiasi Sinar Matahari,
Konduksi Panas Atmosfer, Kondensasi Uap Air. Air laut pun akan mendingin dengan
kondisi radiasi balik dari permukaan laut ke atmosfer, konduksi panas balik ke
atmosfer, dan evaporasi

Distribusi temperatur secara vertikal dapat dibagi menjadi tiga zona yaitu:

 Lapisan campuran (mixed layer). Zona ini adalah zona homogen. Temperatur
dan kedalaman zona ini dikontrol oleh insolasi lokal dan pengadukan oleh angin.
Zona ini mencapai kedalaman 50 sampai 200 meter.

114
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

 Termoklin (thermocline). Di dalam zona transisi ini, temperatur air laut dengan
cepat turun seiring dengan bertambahnya kedalaman. Zona ini berkisar dari
kedalaman 200 sampai 1000 meter.
 Zona dalam (deep zone). Zona ini temperatur berubah sangat lambat atau relatif
homogen.

2. Salinitas Air Laut


Salinitas adalah ukuran yang dipergunakan untuk mengukur kandungan garam
didalam ai laut. Unsur-unsur dalam bentuk ion yang melimpah menyusun kandungan
garam di dalam air laut adalah Cl-, Na+, Mg2+, SO42-, Ca2+, dan K+ . Salinitas air
permukaan laut sangat ditentukan oleh evaporasi dan presipitasi. Salinitas akan naik
bila evaporasi naik dan presipitasi turun (Gambar 12). Faktor-faktor lain yang dapat
juga mempengaruhi salinitas air laut adalah pembekuan es, masuknya air sungai ke
laut, dan pencairan es.

115
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Seperti halnya temperatur, profil vertikal salinitas air laut bervariasi sesuai dengan
posisi lintang.

Profil salinitas memperlihatkan adanya tiga atau empat zona (Gambar 14), yaitu:
 Lapisan campuran (mixed layer). Ketebalannya 50 sampai 100 meter, dan
mempunyai salinitas seragam. Daerah tropis dan daerah berlintang tinggi dan
menengah, memiliki salinitas permukaan tinggi, sedang daerah berlintang tinggi
memiliki salinitas rendah.
 Haloklin (halocline), adalah zona dimana salinitas mengalami perubahan besar.
 Zona dalam (deep zone) adalah zona di bawah haloklin sampai dasar laut, dan
memiliki salinitas relatif seragam.
 Di daerah berlintang rendah dan menengah, terdapat salinitas minimu pada
kedalaman 600 sampai 1000 meter.

116
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

3. Densitas Air Laut


Nilai densitas air laut dikontrol oleh tiga variabel yang berinteraksi sangat kompleks,
yaitu salinitas, temperatur, dan tekanan. Secara umum, densitas meningkat dengan
meningkatnya salinitas, meningkatnya tekanan (atau kedalaman), dan turunnya
temperatur. Densitas air laut dapat dihitung bila ketiga variabl itu dapat diketahui. Di
permukaan laut, perubahan densitas air laut terjadi karena proses-proses evaporasi
atau pemanasan yang terjadi di permukaan laut.

Profil vertikal densitas memperlihatkan bahwa pengaruh yang kuat dari temperatur
terhadap densitas, terutama di daerah lintang rendah dan menengah. Di kedua
daerah tersebut, termoklin menghasilkan perubahan gradien densitas yang kuat
yang disebut piknoklin (pycnocline). Di daerah berlintang tinggi, kutub, tidak terlihat
adanya piknoklin yang kuat.

Stratifikasi densitas di daerah lintang rendah dan menengah adalah sebagai berikut:
 Lapisan atas, dengan ketebalan sekitar 100 meter, mempunyai densitas hampir
seragam.
 Piknoklin (pycnocline), yaitu zona dimana densitas bertambah dengan cepat
seiring dengan bertambahnya kedalaman.
 Zona dalam, adalah zona di bawah piknoklin, dengan densitas meningkat sangat
pelan dengan bertambahnya kedalaman.

4. Sinar di Laut
Sinar matahari hanya dapat menembus lapisan permukaan laut. Kedalaman
penetrasi cahaya menentukan ketebalan zona eufotik (euphotic zone), yaitu zona
tempat terjadinya fotosintesis yang menghasilkan unsur-unsur organik oleh
tumbuhan. Zona eufotik membentang dari permukaan laut ampai kedalaman yang
hanya 1% sinar dapat masuk. Kedalam zona ini sangat bervariasi. Di Laut Mediterania
dan Karibia, zona eufotik menacapai kedalaman 100 sampai 160 m. Di daerah dekat
pantai, penetrasi sinar matahari hanya sampai 15 m. lebih dalam lagi, zona dimana
matahari tidak dapat masuk samasekali disebut zona afotik.

5. Warna Laut
Warna Laut juga dapat memberikan beberapa indikasi, antara lain:
Laut berwarna biru gelap, bila laut dalam dan airnya jernih, dan tidak banyak
mengandung organisme plankton milkroskopis
Laut berwarna coklat, coklat muda, coklat kekuningan, atau biru kecoklatan, bila
banyak muatan suspensi di dalam air laut. Keadaan ini umumnya terjadi atau
dijumpai di perairan dangkal, dekat pantai, khususnya di sekitar muara sungai pada
saat banjir.

117
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Laut berwarna biru muda jernih, bila air dangkal dan jernih, seperti di kawasan
terumbu karang.
Laut berwarna merah, merak kecoklatan, hijau, hijau-kuning, oranye atau putih
keruh, mengindikasikan terjadinya blooming fitoplankton atau red tide. Pada
peristiwa itu, terjadi penigkatan jumlah fitoplankton dalam jumlah besar dalam
waktu yang cepat.

GERAKAN AIR LAUT

Air laut bersifat dinamis, selalu bergerak. Sifat dinamis air laut tersebut terutama
disebabkan oleh interaksi antara samudera dengan atmosfer, pengaruh gerak rotasi
Bumi, pengaruh gaya gravitasi Bulan dan Matahari. Pada dasarnya gerakan air laut
terjadi dalam bentuk: gelombang, pasang surut, dan arus.

1. Gelombang
Gelombang adalah gerakan air laut yang sangat menonjol dan menarik perhatian bila
seseorang berdiri di tepi pantai. Di alam, fenomena gelombang muncul bilaada dua
massa yang berbeda densitasnya berada pada posisi yang berdampingan dan
berinteraksi,dimana yang satu bergerak terhadap yang lain. Oleh karena itu,
fenomena gelombang tidak hanyaterjadi di permukaan laut saja – interaksi antara
udara dan air laut, tetapi juga terjadi di permukaantanah – interaksi antara udara
dengan pasir seperti di daerah gurun, atau di permukaan dasar lautatau pantai –
interaksi antara dasar laut dengan air laut. Di permukaan laut, fenomena gelombang
dapat terlihat sebagai gerakan air laut yang bergelora atau air laut yang
menghempas ke pantai.

118
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Gambar bagian – bagian gelombang

Bila gelombang dari laut dalam menuju ke pantai, maka ketika gelombang itu
memasuki perairan dangkal, akan terjadi perubahan bentuk. Perubahan bentuk itu
mulai terjadi ketika kedalaman air sama dengan ½ panjang gelombang, dan mulai
berubah secara tegas ketika kedalaman air ¼ panjang gelombang (batas air dalam
menurut teori gelombang Airy). Perubahan bentuk yang terjadi pada gelombang itu
adalah kecepatan dan panjang gelombang berkurang, tinggi gelombang bertambah,
sedang periode gelombang tetap. Di bagian perairan yang tidak jauhdi belakang zona
tempat gelombang pecah (breaker zone), puncak-puncak gelombang
menjadibertambah runcing dan dipisahkan oleh lembah yang relatif datar. Akhirnya,
gelombang pecah setelah menjadi sangat curam dan tak stabil. Gelombang menjadi
tidak stabil karena kecepatan gerakan partikel-partikel air di puncak gelombang
melebihi kecepatan fase gelombang

Ada 4 jenis gelombang pecah :


Spilling breaker. Pecahan gelombang jenis ini terjadi bila gelombang menjalar di
pantai dengan dasar yang landai. Pada pecahan jenis ini, puncak gelombang yang
tidak stabil turun sebagai “white water” (gelembung-gelembung dan buih).
Plunging breaker. Pecahan jenis ini terjadi bila gelombang menjalar di pentai yang
miring. Padapecahan jenis ini, gelombang yang mendekat ke pantai memiliki lereng
depan yang menghadap ke daratan menjadi vertikal, puncak gelombang kemudian
menggulung ke depan, dan akhirnya menghunjam ke depan.
Surging breaker. Pecahan jenis ini terjadi bila lereng pantai sangat curam. Pada
pecahan jenis ini, puncak gelombang naik seperti akan menghunjam ke depan, tetapi
kemudian dasar gelombang naik ke atas permukaan pantai sehingga gelombang
jatuh dan menghilang.
Collapsing breaker. Pecahan ini adalah bentuk menengah antara pecahan tipe
plunging dan surging.

119
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Gambar macam bentuk gelombang pecah

2. Pasang surut
Pasang surut adalah gerakan air laut naik dan turun karena pengaruh gaya gravitasi
dari Bulan dan Matahari. Tipe pasang surut yang terjadi di bumi tidak sama di semua
tempat. Perbesaan tipe pasang surut ini terjadi karena: (1) bentuk dan konfigurasi
cekungan yang mempengaruhi gerakan air, (2) kondisi topografi dasar laut lokal, dan
(3) pengaruh efek Coriolis.

Secara umum, ada 4 tipe pasang surut (Gambar 11), yaitu:


1) Pasang surut harian tunggal (diurnal tide). Pada pasang surut tipe ini, perubahan
pasang surutharian menghasilkan satu kali pasang dan satu kali surut. Periode
pasang surut ini 24 jam 50 menit 47 detik. Faktor yang menyebabkannya adalah
rotasi bumi dan deklinasi matahari dan bulan.
2) Pasang surut harian ganda (semidurnal tide). Pada pasang surut tipe ini, dalam
satu hari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi yang hampir
sama. Periode pasang surut ini rata-rata 12 jam 24 menit 23,5 detik. Faktor yang
menyebabkannya adalah rotasi bumi.
3) Pasang surut campuran dominan harian ganda (mixed tide predominant
semidiurnal). Pada tipe ini, dalam satu hari terjadi dua kali pasang surut dan dua
kali surut dengan tinggi dan periode berbeda.
4) Pasang surut campuran dominan harian tunggal (mixed tide predominant
diurnal). Pada tipe ini, dalam satu hari terjadi satu kali pasang dan satu kali surut,

120
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

tetapi kadang-kadang terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi
dan periode yang sangat berbeda.

3. Arus laut
Arus laut adalah fenomena berpindahnya massa air laut dari satu tempat ke tempat
lain, yang terjadi antara lain terutama karena interaksi antara lautan dengan udara di
atasnya maupun karena pengaruh gerak rotasi Bumi. Untuk kemudahan, kita dapat
membedakan sirkulasi massa air menjadi dua bagian yang saling berkaitan satu sama
lain, yaitu: (1) sirkulasi massa air permukaan yang sebagian besar disebabkan oleh
sirkulasi atmosferik atau angin, dan (2) sirkulasi laut dalam, yaitu pergerakan massa
air yang disebabkan oleh perubahan densitas massa air yang disebabkan oleh
perubahan temperature dan salinitas.

Sirkulasi Massa Air Permukaan


Air laut dalam gerakan yang konstan melintasi samudera, membentuk gerakan
berputar raksasa yang bergerak searah jarum jam di Hemisfer Utara (Northern
Hemisphere) dan bergerak berlawanan arah dengan gerak jarum jam di Hemisfer
Selatan (Southern Hemisphere). Setiap gerakan berputar, atau “gyre” (gir), dapat
dibagi menjadi beberapa aliran kecil dengan karakteristik yang bervariasi.

121
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Setiap samudera memiliki pola arusnya sendiri dalam bentuk gerakan massa air yang
melintasi zona iklim yang satu ke zona iklim lain. Meskipun demikian, setiap
samudera memiliki pola umum sirkulasi permukaan yang sama satu sama lainnya,
karena faktor-faktor yang mencetuskan arus dan memodifikasinya sama di seluruh
dunia. Faktor – faktor tersebut adalah gaya coriolis dan spiral Ekman yang
membentuk pola melinglar (gyre) dari arus laut permukaan tersebut.

Sirkulasi Laut Dalam


Gerakan air-dalam terjadi karena perbedaan densitas air laut. Perbedaan densitas air
laut terutama karena variasi salinitas dan temperatur air laut. Sirkulasi massa air laut
yang terjadi karena perbedaan densitas itu disebut “Thermohaline circulation”
(sirkulasi termohalin). Kata “thermohaline” berasal dari kata “thermo” yang berarti
“panas”, dan “haline” yang berarti “garam atau halite” Jadi sirkulasi termohalin
adalah gerakan massa air yang terjadi karena perubahan densitas air laut yang
disebabkan oleh perubahan temperatur dan salinitas. Sirkulasi termohalin di
samudera terjadi karena peningkatan densitas di lapisan permukaan, baik karena
pendinginan langsung maupun karena pencairan es yang melepaskan garam-garam
ke laut. Sirkulasi ini adalah proses konveksi dimana air dingin dengan densitas tinggi
terbentuk di daerah lintang tinggi turun dan secara perlahan mengalir ke arah
ekuator. Sirkulasi termohalin berjalan sangat lambat, karena itu tidak dapat dilihat
secara langsung. Sebagian besar informasi tentang sirkulasi ini diperoleh dari
pengukuran temperatur, salinitas, densitas di bawah laut

122
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Upwelling dan Downwelling


Upwelling dan Down welling merupakan pergerakan air laut secara vertikal.
Upwelling adalah gerakan air yang naik menuju permukaan. Prosesnya ketika tiupan
angin bertiup disepanjang pesisir pantai, efek coriolis dan spiral Ekman membawa
massa air dekat pesisir menuju kelaut. Akibat ada kekosongan massa air tersebut. Air
laut dalam naik mengisi kekosongan tersebut. Upwelling ditandai dengan muka air
laut yang lebih dingin dan kaya dengan ikan karena membawa nutrient dari laut
dalam. Sedangkan downwelling adalah kebalikan dari upwelling. Tiupan angin
sepanjang pesisir pantai dan efek coriolis dan spiral Ekman mendesak air laut
permukaan menuju ke pesisir. Akibat desakan itu, muka air laut akan mengalami
subsidensi/ penunjaman ke perairan yang lebih dalam.

123
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

124
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

125
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

ASTRONOMI

126
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

127
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

1. FENOMENA GEOSENTRIK
Bab ini disebut fenomena geosentrik, sebab kita menggunakan asumsi bumi diam dan
benda-benda langit lain mengitarinya. Benda-benda langit terletak pada jarak yang
berbeda-beda. Namun untuk memudahkan pemetaan posisi bintang bagi pengamat di
Bumi, semuanya diasumsikan berada pada jarak yang sama jauhnya, seolah-olah
ditempatkan pada suatu bola khayalan mahabesar yang menyelubungi bumi, yang
disebut bola langit. Dalam bola langit kita memperhitungkan arah dari suatu bintang tanpa
mempedulikan jaraknya.

1.1 BOLA LANGIT


Bola langit memiliki bagian-bagian yang penting, yaitu ekuator langit, Kutub Langit
Utara (KLU), Kutub Langit Selatan (KLS), dimana masing-masing adalah perpanjangan
dari saudaranya di bola Bumi.

Bagian lain yang penting


ialah ekliptika (Bidang edar
tahunan matahari) , dan
titik aries dan titik libra
(perpotongan ekuator langit-
ekliptika). Bagi pengamat di
bumi (yang diam), bola langit
tampak berputar (lihat tanda
panah) dengan arah timur ke
barat atau dilihat dari arah
Utara searah jarum jam,
dengan periode 23 jam 56
menit. Akibat dari putaran bola langit, semua bintang akan nampak bergerak mengikuti
lintasan harian bintang. Sementara matahari akan mengikuti lintasan harian
matahari. Perlu diingat bahwa selama bola langit berputar, matahari pun bergerak
mengikuti lintasan tahunan, sehingga membutuhkan 1 derajat atau 4 menit
tambahan untuk memenuhi satu putaran lintasan hariannya, sehingga periode 1 hari
matahari ialah 24 Jam. Bola langit akan berbeda-beda penampakannya tergantung
pada posisi pengamat di permukaan bumi.

Di lintang utara 0 < lintang <90


Pada pengamat di lintang tertentu. Kutub langit akan tampak
naik dari arah kutub belahan bumi pengamat sebesar lintang
pengamat tersebut. Misalnya untuk pengamat di lintang
30o Utara, maka KLU akan naik 30o dari titik Utara. Ekuator
langit akan membentuk sudut 90o terhadap arah KLU, dan

128
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

lintasan harian bintang akan sejajar dengan ekuator langit.

1.2 BINTANG & RASI BINTANG


Titik-titik yang berkelap-kelip di langit yang disebut bintang sebenarnya masing-masing
adalah sebuah benda serupa Matahari kita. Karena jaraknya yang sangat jauh
cahayanya tampak sangat redup dibandingkan dengan cahaya Matahari kita. Bahkan
pada zaman dahulu orang membedakan antara Matahari dengan bintang. Padahal
sesungguhnya matahari bukan suatu bintang yang spesial.

Menurut imajinasi manusia, bintang-bintang di langit nampak membentuk pola-pola


yang menggambarkan bentuk khusus. Oleh karena itu bintang-bintang yang dekat arah
datang cahayanya dikelompokan dan dinamai berdasarkan figur yang terbentuk olehnya
(rasi bintang), yang kebanyakan berdasarkan mitos dan legenda setempat.

Namun, akibatnya penamaan menjadi berbeda-beda bergantung pada tempat.


Misalnya rasi disamping dikenal sebagai rasi Scorpio (kalajengking) oleh bangsa
Yunani, namun oleh orang Jawa disebut rasi Kelapa Doyong, karena dinilai mirip
pohon kelapa yang miring. Di zaman modern ini, rasi bintang digunakan bukan
hanya untuk menamai bentuk, namun juga untuk membagi daerah. Seluruh bola langit
dibagi ke dalam 88 daerah rasi bintang, yang dinamakan berdasarkan tata penamaan
orang Yunani.

Tiga belas diantara rasi-rasi bintang itu dilintasi oleh matahari sepanjang tahun, dan 12
diantaranya dinamakan rasi zodiak. Seseorang dikatakan memiliki rasi Aries bila saat
dia lahir matahari berada di rasi tersebut. Satu rasi lagi Ophiucus (sang pemegang ular)
tidak diikutsertakan dalam zodiak namun letaknya berada diantara rasi scorpio dan
Sagittarius.

Bintang paling terang dalam satu rasi dinamakan bintang Alpha (misal Alpha cygnii
adalah bintang paling terang dari rasi cygnus), kedua Beta, ketiga Gamma,
dan seterusnya menurut abjad Yunani.

Bintang-bintang dalam satu rasi tidak harus dekat dalam kenyataannya, namun
hanya tampak dekat dilihat dari bumi. Sebagai contoh bintang Alpha Centauri yang
merupakan bintang
terdekat dengan matahari, berjarak 4,26 tahun cahaya, sementara Beta
Centauri berjarak 360 tahun cahaya, namun keduanya nampak bersebelahan
dilihat dari bumi.

129
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Berikut adalah daftar beberapa rasi, dan kapan dia bisa dilihat di meridian pengama
(lingkaran besar yang melalui KLU, Zenith, dan KLS) saat tengah malam waktu lokal.

15 bintang paling terang di langit dan magnitudo tampak (skala keterangan) masing-
masing ialah:
1.Sirius (-1,46) 5. Vega (0,03) 9. Achernar (0,46) 13.
Aldebaran(0,85)
2.Canopus (-0,72) 6. Capella (0,08) 10. Betelgeuse(0,50) 14. Acrux (0,87)
3.Rigil Kent (-0,27) 7. Rigel (0,12) 11. Agena (0,60) 15. Antares (0,96)
4. Arcturus (-0,04) 8. Procyon (0,34) 12. Altair (0,77)

130
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

1.3 MATAHARI
Ketika siang hari tiba, langit yang penuh bintang akan tertutupi oleh cahaya Matahari
yang mendominasi langit. Sebenarnya langit berwarna biru karena adanya fenomena
penyebaran cahaya matahari (scattering) oleh atmosfer Bumi, dimana cahaya dengan
panjang gelombang terpendek (biru) akan paling efisien disebarkan.

Di bola langit, Matahari memiliki lintasan tahunan yaitu bidang ekliptika. Dimana
Matahari akan menempuh lintasan tersebut dengan periode satu Tahun. Apabila kita
mengambil acuan bintang tertentu, periode tersebut bernilai 365,25636 hari atau 1
tahun sideris. Namun apabila kita mengambil acuan titik Aries, periode tersebut
bernilai 365,2422 hari atau 1 tahun tropis.
Mengapa terdapat perbedaan dalam dua periode tersebut ?

Akibat lintasan ekliptika yang berinklinasi


terhadap ekuator, deklinasi Matahari (jarak
sudut Matahari terhadap ekuator langit)
akan berubah-ubah dari +23,5o hingga –
23,5o. Deklinasi Matahari juga
berhubungan dengan panjang siang,
perubahan musim, dan titik terbit
Matahari di suatu tempat (problem yang sering keluar ialah mengenai panjang
bayangan tongkat di suatu tempat, prinsip dasar yang harus anda ingat ialah panjang
bayangan tongkat akan nol pada pukul 12 waktu local hanya saat deklinasi matahari
= lintang pengamat) .

Dari gambar diatas, keadaan yang tercapai bila Matahari berada pada titik-titik tersebut
ialah,

KEADAAN A (Titik Aries, deklinasi 0o, bujur ekliptika 0o) dicapai saat 21 Maret.
Disebut titik Vernal equinox (equinox = sama), karena panjang siang sama di semua
tempat di muka bumi yaitu 12 jam. Titik ini adalah titik awal musim Semi bagi lintang
sedang Utara. Matahari akan terbit tepat di titik timur dan tenggelam tepat di titik barat
di semua tempat di Bumi.
KEADAAN B (Titik Cancer, deklinasi +23,5o, bujur ekliptika 90o) dicapai saat 22 Juni.
Disebut titik Summer solstice (solstice = berhentinya matahari), karena pada saat ini
Matahari berhenti menambah deklinasinya ke Utara dan mulai berbalik ke Selatan. Saat
itu, tercapai lama siang terpanjang (lebih dari 12 jam) bagi belahan bumi Utara, dan
lama siang terpendek bagi belahan Bumi selatan. Titik ini adalah titik awal musim
Panas bagi lintang sedang Utara. Matahari akan terbit di titik terbit paling jauh ke
Utara dari titik Timur, dan akan terbenam di titik terbenam paling jauh ke Utara dari titik

131
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Barat. Apabila dilihat dari Ekuator, Matahari akan terbit 23,5o ke Utara dari Titik Timur,
dan terbenam 23,5o di Utara titik Barat.
KEADAAN C (Titik Libra) dicapai saat 23 September. Disebut titik Autumnal Equinox.
Panjang siang sama untuk semua bagian Bumi. Titik ini adalah titik awal musim gugur
bagi lintang sedang Utara. Matahari akan terbit di titik Timur di semua bagian Bumi.
KEADAAN D (Titik Capricornus) dicapai tanggal 22 Desember. Disebut titik Winter
solstice. Lama siang terpendek bagi belahan bumi Utara. Merupakan titik awal musim
dingin bagi lintang sedang Utara. Matahari akan terbit di titik terbit paling jauh ke
selatan dari titik Timur.

Sebelum terbenam atau sesudah terbit Matahari tidak


berbentuk bulat sempurna (saat jauh dari horizon
diameter sudut matahari sekitar 0,5o) namun akan
berbentuk agak benjol. Ini disebabkan karena efek
refraksi atmosfer yang menyebabkan kedudukan
benda langit nampak lebih tinggi dari sebenarnya, dan
efek ini berdampak paling kuat bagi benda langit di
dekat horizon, sehingga bagian piringan matahari yang lebih dekat ke horizon akan naik.

1.4 PLANET

Para astronom sejak zaman dahulu telah menyadari bahwa tidak semua benda melekat
di bola langit. Ada beberapa objek yang tidak tunduk pada gerakan bola
langit, misalnya matahari. Selain itu termasuk planet-planet yang artinya pengembara,
sebab planet tampak bergerak terhadap latar belakang bintang-bintang.

Di langit, planet-planet dapat dibedakan dari bintang, karena cahayanya yang tidak
berkelap-kelip. Hal tersebut disebabkan oleh dekatnya jarak planet dengan bumi. Selain
itu, diameter sudut planet akan jauh lebih besar dari diameter sudut bintang
(yang berupa benda titik) dan dari teleskop akan tampak seperti piringan.

Planet-planet tidak akan ditemui terlalu jauh dari ekliptika bumi sebab bidang orbit
semua planet hanya membentuk sudut kecil terhadap ekliptika. Maka planet-planet
bisasanya ditemui berada pada rasi zodiak.

Planet-planet yang dapat dilihat oleh mata telanjang hanya Merkurius, Venus, Mars,
Jupiter, dan Saturnus. Astronom terlatih dan beberapa orang dengan
kemempuan khusus dapat melihat planet Uranus, yang sangat redup dan
berada pada batas penglihatan manusia normal.

132
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Planet-planet juga memiliki fase (seperti layaknya bulan) yang tergantung pada posisi
matahari, planet, dan bumi. Akibatnya terang (magnitudo) semu akan berubah-ubah.
Sudut pisah antara suatu planet dengan matahari dilihat dari bumi disebut sudut
elongasi.

Diamati dari Bumi dari hari ke hari, planet akan terlihat bergerak dengan latar belakang
bintang-bintang, dengan arah barat ke timur (berlawanan arah bola langit). Gerakan ini
disebut gerak direct dan menggambarkan arah yang benar dari arah revolusi planet
inferior mengitari Matahari. Namun ada kalanya planet tampak bergerak dari timur ke
barat dan disebut gerak retrograd.

Gambar disamping menunjukkan


konfigurasi planet inferior. Gerak
retrograd terjadi ketika planet melintas
diantara Bumi dan Matahari (saat
bergerak dari B ke F). Namun karena
kebanyakan planet inferior hanya
dapat diamati saat senja/fajar maka gerak
retrograd ini tidak teramati.Posisi Planet
inferior :
C – Elongasi Timur Maksimum (ETM)-
senja
D – Konjungsi Inferior
E – Elongasi Barat Maksimum (EBM)- fajar
A – Konjungsi Superior
Perlu diingat bahwa keadaan C dan E terjadi saat sudut Matahari-planet inferior-Bumi
90o.

Sekarang perhatikan kembali gambar diatas, dan sekarang tukar Bumi menjadi yang di
orbit dalam, sehingga gambar di atas menunjukkan konfigurasi planet superior. Posisi
Planet superior, saat Bumi di posisi.
A – Konjungsi ( Elongasi 0 )
C – Kuadratur Barat ( Elongasi 90o)
D – Oposisi (Elongasi 180o –maks-)
E – Kuadratur Timur ( Elongasi 90o)

Gerak retrograd bagi planet superior terjadi karena semakin dekat suatu planet
ke Matahari, semakin cepat kecepatan orbitnya, maka akan ada periode ketika
Bumi melintas diantara planet superior dan Matahari, planet akan “tersusul” oleh
bumi, sehingga tampak bergerak mundur, seperti diilustrasikan gambar disamping.

133
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Gerak retrograd selalu terjadi beberapa waktu


sebelum dan sesudah planet superior mencapai
fase oposisi.

Seandainya kita mengetahui waktu antara satu


oposisi ke oposisi berikutnya atau satu fase ke
fase yang sama lagi (Periode Sinodis) yang dapat
diamati dengan mudah dari bumi, dapatkah
anda menghitung periode revolusi planet
tersebut terhadap matahari ? (Perhitungan ini
dipakai Astronom purba untuk menghitung secara kasar periode revolusi suatu planet,
dan nantinya berujung pada jarak planet ke Matahari).

1.5 PERIODE SINODIS PLANET


Astronom purba mengetahui periode orbit planet mengelingi matahari dengan
mengamati periode dari satu oposisi planet ke oposisi berikutnya. Bagaimana metoda
perhitungan mereka ?

Perhatikan gambar disamping yang


menunjukan orbit planet A dan B yang dilihat
dari kutubnya dan diasumsikan orbitnya
berbentuk lingkaran. Menurut pengamat di
planet A, oposisi planet B terjadi pada posisi
1. Setelah oposisi, kedua planet akan
bergerak dengan kecepatan sudut masing-
masing, dimana planet A akan bergerak
dengan kecepatan sudut Lalu,
kecepatan Sudut Planet B

Karena periode orbit kedua planet berbeda, maka kecepatan sudut kedua planet pun
berbeda, sehingga akan membuat perbedaan sudut setiap satuan waktu.
Karena kecepatan sudut planet A lebih besar, maka perbedaan sudut per satuan waktu
kedua planet ialah

Oposisi berikutnya (keadaan 3) akan tercapai apabila perbedaan sudut mencapai 360o,
sehingga akan satu garis kembali. Dimana waktu yang diperlukan disebut periode
sinodis, atau

134
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Dengan menggunakan dua persamaan diatas didapat persamaan

Persamaan diatas berlaku bagi semua planet atau benda lain yang mengelilingi matahari
dengan orbit mendekati lingkaran. Bila pengamat berada di bumi dan mengamati planet
Mars, maka bumi menjadi planet A dan Mars menjadi planet B. Keadaan harus ditukar
dalam kasus pengamat di bumi mengamati planet Venus.

1.6 BULAN

Bulan adalah satelit alami Bumi satu-satunya. Dan Bulan memiliki periode
revolusi yang sama dengan periode rotasi sebesar 27,32 hari, akibatnya Bulan
akan selalu menampakan bagian yang (nyaris) sama kepada bumi. Periode
Revolusi diukur dengan acuan posisi Bulan terhadap bintang tertentu. Orbit bulan
memiliki kemiringan sekitar 5o terhadap ekliptika, sehingga akan nampak memiliki
kemiringan 18,5ohingga 28,5o terhadap ekuator langit. Setiap hari, bulan terbit
terlambat sekitar 48-56 menit.

Akibat konfigurasi Bulan-Bumi-Matahari yang berubah-ubah, bulan tampak memiliki


fase-fase. Namun waktu yang dibutuhkan dari satu purnama ke purnama berikutnya
tidak sama dengan periode revolusinya, yaitu sekitar 29,53 hari dan disebut periode
sinodis. Bagaimana kita membedakan fase awal (waxing) dengan fase akhir (waning) ?
Pertama waktu terbit bulan akan berbeda-beda sesuai fasenya. Kedua, jika bagian barat
dari Bulan yang tersinari matahari, maka ia sedang berada dalam fase awal.

1.7 GERHANA, TRANSIT, DAN OKULTASI

Inklinasi orbit bulan terhadap ekliptika membuat tidak


setiap konjungsi/oposisi terjadi gerhana. Gerhana hanya
akan terjadi apabila bulan,bumi, dan matahari berada
pada satu garis DAN satu bidang. Keadaan itu hanya
akan terjadi bila saat konjungsi/oposisi bulan berada
pada titik simpul bidang orbit bulan dan ekliptika
(analogi titik simpul ialah serupa dengan titik aries
dan libra untuk bidang ekuator dengan ekliptika).
Gerhana total hanya akan terjadi apabila saat terjadi
gerhana, Bumi/Bulan memasuki Umbra. Gerhana
Matahari cincin terjadi apabila hanya perpanjangan
kerucut Umbra (antumbra) yang sampai ke bumi.
Saat gerhana bulan, bulantidak akan gelap total, melainkan agak kemerahan karena

135
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

adanya refraksi cahaya matahari oleh atmosfer bumi, yang jatuh di permukaan
bulan.

Besar kerucut Umbra akan maksimal apabila jarak benda penghalang dengan
pengamat minimal, dan jarak sumber cahaya maksimal. Diameter benda penghalang
juga berpengaruh, misalnya besar kerucut umbra bumi jauh lebih besar dari besar
kerucut umbra bulan.

Saat Venus / Merkurius berada pada Konjungsi Inferior, ada kemungkinan


terjadi transit, Yaitu lewatnya planet di depan matahari, layaknya gerhana, namun
diameter sudut benda penghalang jauh lebih kecil dari benda yang dihalangi. Transit
tidak terjadi di setiap kunjungsi Inferior karena orbit Venus memiliki inklinasi
3,4o terhadap ekliptika. Apabila diameter benda penghalang jauh lebih besar
dari benda yang dihalangi, disebut okultasi, misalnya bulan lewat didepan planet
Saturnus.

1.8 PRESESI & NUTASI


Saat ini, sumbu rotasi Bumi memiliki kemiringan 23,5o
terhadap ekliptika, dan arah sumbu Rotasi (hampir) ke
arah bintang polaris. Namun ternyata dari catatan
peradaban dulu, arah sumbu rotasi bukan ke arah
polaris, tapi ke arah Thuban (α Draco). Ternyata fenomena
yang menyebabkannya ialah presesi sumbu Bumi. Yaitu
peristiwa berubahnya arah kemiringan sumbu rotasi
bumi (dengan mempertahankan besar kemiringan) ,
dengan periode sekitar 26.000 tahun. Pada gambar di
samping, garis tebal menunjukan kemiringan sumbu bumi
saat ini (mengarah ke titik P), dan garis putus-putus
menunjukkan kemiringan bumi 13.000 tahun mendatang (arah titik P’). Akibat
presesi, bintang terang (yang terdekat dengan) kutub Utara Langit berubah-ubah
diantaranya
Thuban-Polaris-Er Rai (γ Cepheus)-Alderamin (α Cepheus)-Vega (α Lyra). Penyebab
presesi ialah pengaruh gravitasi Bulan dan matahari terhadap bentuk bumi yang tidak
bulat sempurna. Seperti gasing yang berputar mengalami gangguan. Selain bintang
kutub, Presesi menyebabkan titik Aries bergerak, dahulu ada di rasi Aries, dan sekarang
berada di rasi Pisces. Begitu pula titik Libra, yang sekarang ada di rasi Virgo saat ini.
Presesi juga menyebabkan asensio rekta dan deklinasi bintang berubah.

Dalam presesi, ternyata sumbu rotasi tidak bergerak mulus dan agak “bergoyang” yang
disebut Nutasi. Nutasi menyebabkan sumbu rotasi bergoyang dari lintasan presesinya
dengan amplitudo sekitar 9 detik busur.

136
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

1.9 OBJEK LANGIT LAINNYA

a. Galaksi, Nebula, Kluster Bola


Apabila kita mengamati langit di tempat yang jauh dari polusi cahaya kota, dan di malam
tanpa Bulan, maka kita akan mendapati di langit terdapat kabut putih tipis yang
membentang luas seperti sungai di angkasa, namun bentuknya tidak berubah, dan
tampak bergerak mengikuti bola langit. Sebenarnya itu adalah bagian galaksi bima
sakti (milky way) galaksi dimana matahari berada. Terlihat seperti kabut karena terlalu
jauhnya bintang-bintang tersebut sehingga mata kita tidak bisa membedakan satu sama
lain, dan hanya menangkap energi cahaya redup gabungannya.

Arah pusat galaksi bima sakti kira-kira sekitar arah rasi Sagittarius, dan arah
berlawanan arah pusat galaksi ialah arah rasi Auriga. Sehingga kita bisa melihat kabut
putih tersebut sangat pekat di daerah dekat Sagittarius.Galaksi diluar Bima Sakti karena
jaraknya yang sangat jauh tidak akan tampak oleh mata telanjang kecuali 4 galaksi :
Awan Magellan besar di rasi Dorado, Awan Magellan kecil di rasi Tucana, Galaksi
Andromeda(M31) di rasi Andromeda, dan galaksi Triangulum (M33) di rasi
Triangulum.

Galaksi, Nebula, dan Globular Cluster didaftar oleh Astronom Perancis Charles Messier
dalam katalog yang dinamakan atas namanya. Benda-benda itu diberi kode M1, M2,
M3 dan seterusnya hingga M110. Hingga kini penamaan Messier masih dipakai
meskipun perkembangan teleskop menunjukkan ada lebih dari 110 benda-
benda tersebut. Dalam keperluan pendataan objek redup langit modern dibuat katalog
baru misalnya NGC, HIP, TYC, dan lain lain.

b. Komet
Komet atau bintang berekor ialah anggota tata surya yang dari bumi terlihat
gerakannya sangat tidak tunduk terhadap gerakan bola langit, dan terlihat hanya saat
tertentu lalu menghilang. Masyarakat zaman dahulu belum bisa memprediksi dan
menghitung gerakan dan posisi komet, ketidaktahuan tersebut menimbulkan ketakutan
pada masyarakat zaman dahulu bahwa komet adalah pembawa pesan khusus dari
langit atau bencana. Barulah setelah ilmu pengetahuan astronomi berkembang, dan
Edmund Halley (teman dari Isaac Newton) berhasil memprediksi kedatangan komet
dan posisinya di langit, masyarakat mulai percaya bahwa komet hanyalah salah satu
anggota tata surya yang mengelilingi matahari dan tunduk pada hukum-hukum
Newton.
Bagi pengamat dengan mata telanjang, beberapa Komet akan tampak cemerlang dan
memiliki ekor yang panjang dan selalu melawan arah dari Matahari, dengan
magnitudo bervariasi dan maksimal saat paling dekat dengan matahari. Kebanyakan

137
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

komet hanya dapat dilihat dengan bantuan alat. Komet yang memiliki lintasan elips
(biasanya memiliki eksentrisitas elips mendekati 1, artinya sangat lonjong)
disebut komet periodic, karena akan mengitari matahari dengan suatu periode
tertentu. Misalnya komet Halley dengan periode 76 tahun bumi. Komet-komet yang
memiliki lintasan parabola hanya akan mendekati Matahari sekali dan tidak akan
kembali lagi.

c. Planet Kerdil dan Asteroid


Planet kerdil di tata surya ada 3 : Pluto, Ceres, dan Eris. Ketiganya hanya akan terlihat
dengan bantuan teleskop. Begitu pula dengan Asteroid dan benda-benda kecil tata surya
lainnya.

d. Meteoroid
Meteoroid adalah benda-benda serpihan yang berada di Tata surya. Karena
massanya kecil, kadangkala ia tertarik oleh gravitasi suatu planet dan jatuh ke planet
tersebut. Saat memasuki bumi, akibat gesekannya dengan atmosfer ia akan
tampak seperti bintang jatuh/bintang beralih, disebut meteor. Apabila Meteor tidak
terbakar habis di atmosfer dan mencapai permukaan bumi disebut meteorit.

138
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

2. PENGUKURAN SUDUT DAN PARALAKS

2.1 SUDUT

Dalam kehidupan sehari-hari sudut dinyatakan dalam satuan


derajat, dimana 36o derajat sama dengan satu lingkaran penuh.
Namun ternyata angka 360 tersebut tidak memiliki latar belakang
ilmiah yang pasti, maka dirumuskan satuan sudut radian dimana 1
radian didefinisikan sebagai besar sudut yang dibentuk oleh
busur lingkaran sepanjang jari-jari lingkaran tersebut (lihat
gambar disamping). Maka besar sudut satu lingkaran penuh (dalam radian) ialah
sudut yang dibentuk oleh busur lingkaran sepanjang keliling lingkaran tersebut atau
senilai 2π radian.

Besar satu derajat dibagi-bagi lagi ke dalam 60 bagian yang sama besar
untuk memperbesar keakuratan, dimana satu bagiannya ( 1/60 derajat) disebut satu
menit busur (dinyatakan dengan ‘ ). Satu menit busur juga dibagi-bagi lagi kedalam 60
bagian sama besar yang disebut satu detik busur (“).

Dapat kita tarik kesimpulan bahwa :


1 Radian = 360o / 2π ≈ 57,29578o
21600’ / 2π ≈ 3437,75 ‘
1.296.000”/ 2π ≈ 206265 “

2.2 JARAK SUDUT

Lebar bentangan sudut suatu benda dilihat oleh pengamat pada jarak
tertentu disebut jarak sudut. Besar diameter sudut benda (θ) dengan
lebar r, dan berada pada jarak d dari pengamat, dinyatakan dengan
persamaan sederhana

(Diameter sudut sebesar 1”didapat bila kita meletakkan tiang sepanjang 1 m pada jarak
206.265 m atau sekitar 200 km) Dalam pengukuran diameter sudut benda-benda langit
dengan kondisi d >> r (d jauh lebih besar dari r), maka berlaku

θ ≈ tan
Dengan syarat besar sudut dinyatakan dalam radian. Contohnya tangen 0,01 =
0,010000333 (gunakan kalkulator dalam mode radian).

139
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Bila dinyatakan dalam derajat menjadi

Dalam detik busur menjadi

Perlu diingat, untuk benda piringan (misalnya matahari), apabila faktor r ialah radius
matahari, maka θ akan menyatakan setengah diameter sudut matahari.

2.3 PARALAKS TRIGONOMETRI

Perhatikan gambar kedudukan bumi (B), matahari (M), dan


bintang (S) di samping! Pada suatu saat bumi berada di
kedudukan B1, maka saat itu pengamat di bumi akan melihat
bintang memiliki kedudukan S1. Akibat revolusi bumi
mengelilingi matahari, kedudukan bintang akan berubah-ubah
relatif terhadap bintang-bintang jauh yang ada di latar
belakangnya, misalnya saat bumi di B2, bintang akan nampak di
S2. Sudut B1 – S – B2 disebut 2 sudut paralaks. Adapun yang
disebut sudut paralaks ialah sudut B1 – S – M. Besar sudut
paralaks (p) ialah

Persamaan di atas analog dengan persamaan (2.1) dan memenuhi syarat SM >> B1M. Maka
sudut paralaks dalam detik busur dapat dinyatakan dengan

Dimana r adalah jarak bumi-matahari dan d adalah jarak bintang-matahari (keduanya harus
dalam satuan yang sama, misalkan meter). Namun karena sudut p mendekati nol, maka
cosinus p mendekati 1 dan SB1 ≈ SM. Maka besaran d dapat dianggap sebagai jarak
bintang ke bumi.

Bila r dan d dinyatakan dalam satuan astronomi (SA) atau astronomical unit (AU)
dimana 1 SA = jarak (rata-rata) bumi-matahari, maka persamaan paralaks menjadi

140
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Dari persamaan diatas kita bisa lihat bahwa benda yang memiliki jarak 206265 SA akan
memiliki sudut paralaks 1 detik busur.Untuk mempersingkat persamaan, ditetapkan
satuan panjang baru yaitu parsec (parallax second) dimana satu parsec didefinisikan
sebagai jarak bintang yang memiliki sudut paralaks sebesar satu detik busur diukur dari
bumi. Sehingga 1 SA = 1/206265 parsec. Bila persamaan (2.4) kita nyatakan r dan d
dalam satuan parsec kita akan mendapat persamaan

Persamaan (2.6) memberikan hubungan yang sangat sederhana antara besar sudut
paralaks yang diamati dari bumi dengan jarak bintang tersebut terhadap bumi. Dari sini kita
bisa mengukur seberapa jauh sebuah bintang tanpa harus meninggalkan bumi, disinilah
hebatnya ilmu astronomi.

Apabila pengukuran dilakukan bukan dari bumi, maka persamaan (2.7) akan menjadi

Dimana besaran r ialah jarak posisi pengamat terhadap matahari dinyatakan dalam
SA.Tentunya semakin jauh suatu bintang, sudut paralaksnya akan semakin kecil, semakin
sulit pula untuk mengukurnya dengan tingkat keakuratan yang baik. Maka metode ini hanya
dapat dipakai untuk menentukan jarak bintang-bintang yang tidak terlalu jauh dari
matahari. Untuk menentukan jarak bintang-bintang yang jauh digunakan metode paralaks
spektroskopi.

141
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

3. ASTROFISIKA 1
3.1 GELOMBANG
h
g
h
g
h
s
g
h
g
d
h
Dalam penelitian bintang, satu-satunya informasi yang bisa didapat ialah cahaya
dari bintang tersebut. Cahaya adalah gelombang elektromagnet, yang merambat
tegak lurus arah getarannya (transversal). Dalam perambatannya, jarak yang
ditempuh cahaya per detik yaitu panjang gelombang ( λ ) dikalikan banyak
gelombang dalam satu detik ( f ), selalu konstan (disebut c), dinyatakan dengan

Dimana besar c dalam ruang vakum ialah = 299.792 km/s, atau mendekati 3x108
m/s.
Karena banyak gelombang dalam satu detik (frekuensi) ialah kebalikan dari
periode gelombang (T ), maka bentuk lain dari persamaan (3.1) ialah

Apabila c dalam m/s, maka λ harus dalam meter dan T dalam detik.

3.2 HUKUM PANCARAN


Sifat-sifat pemancaran cahaya bintang ternyata mendekati sifat-sifat
pancaran benda hitam (benda ideal yang menyerap semua energi cahaya
yang diterimanya), yaitu bintang memancarkan cahaya pada seluruh panjang
gelombang, mulai dari sinar gamma hingga gelombang radio, namun
intensitas (kekuatan) pancarannya tidak merata untuk semua panjang
gelombang, artinya ada panjang gelombang tertentu dimana bintang akan
paling kuat memancarkan cahaya.

142
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Secara matematis, panjang gelombang dimana intensitas mencapai


maksimum berbanding terbalik dengan suhu efektif benda. Hal tersebut
dinyatakan oleh hukum pergeseran Wien,

Dimana λ dinyatakan dalam cm, dan temperatur dalam Kelvin.

Dari hukum Wien, kita dapat menjelaskan mengapa bintang-bintang berwarna


biru lebih tinggi temperaturnya dari bintang-bintang berwarna merah atau
kuning.

Besaran-besaran yang penting untuk diketahui dalam penyebaran cahaya


bintang yaitu:
1. Energi yang melewati satu satuan luas permukaan bintang untuk satu
panjang gelombang secara tegak lurus disebut intensitas spesifik atau
Bλ(T). Dinyatakan dengan persamaan Dimana h =
konstanta planck, k = konstanta Boltzmann, c = kecepatan cahaya, dan T =
temperatur benda.

2. Energi yang melewati satu satuan luas permukaan bintang untuk seluruh
panjang gelombang secara tegak lurus disebut intensitas atau B(T) . Yaitu
merupakan integrasi persamaan intensitas spesifik, untuk seluruh panjang
gelombang. Dinyatakan dengan persamaan Dengan σ adalah
konstanta stefan-boltzmann = 5,67x10-8 W/m2K4.

3. Energi yang melewati satu satuan luas permukaan bintang ke segala arah
disebut radiance (ℜ), dinyatakan dengan persamaan ℜ = π.B(T) = σT4

4. Energi yang melewati seluruh permukaan bintang ke segala arah disebut


luminositas (L). Luminositas ini juga menyatakan daya yang dipancarkan bintang
dan menentukankecerlangan asli sebuah bintang. Didapat dari mengalikan
radiance dengan luas permukaan bintang, atau dinyatakan oleh

Dimana r adalah radius permukaan bintang (m) dan luminositas memiliki satuan
Watt (dapat diibaratkan bintang adalah bola lampu yang watt-nya sangat besar).

143
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

3.3 TERANG BINTANG


Tingkat keterangan suatu bintang di
langit ditentukan oleh seberapa besar
energi cahaya yang kita terima dari bintang
tersebut. Namun apakah bintang yang
memiliki luminositas paling besar akan
tampak paling terang di langit ? Jawabannya
tentu saja tidak, apabila bintang tersebut
terletak sangat jauh, tentu cahaya yang
datang akan redup. Hal ini menegaskan
faktor lain yang mempengarhi keterangan
bintang, yaitu jarak.

Energi yang diterima pengamat (Elluminance/flux) ialah sama dengan


luminositas bintang dibagi dengan luas permukaan sebuah bola yang memiliki
radius jarak bintang dari pengamat. Hal ini karena bintang meradiasikan cahaya
ke segala arah, dan dianggap energi total yang dipancarkan tidak berubah.
Maka energi (E) yang diterima pengamat berjarak d dari suatu bintang
berluminositas L ialah

Dimana L bersatuan Watt, d dalam meter, sehingga E dalam W/m2. Bentuk-


bentuk lain dari persamaan elluminance/flux antara lain,Dengan menggabungkan
persamaan 3.3 dan 3.4, didapat hubungan

……………………(3.5)

144
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Apabila anda ingat persamaan 2.2 maka bisa kita masukkan ke persamaan 3.5,
didapat

Atau dalam detik busur ……………(3.6)


Dimana θ ialah setengah diameter sudut matahari

3.4 MAGNITUDO
Untuk menyatakan terang suatu bintang, astronom biasa menggunakan
satuan magnitudo, yang merupakan logaritma dari jumlah energi yang diterima.
Hipparchos (astronom yunani kuno) membagi bintang-bintang menjadi enam
satuan magnitudo dimana bintang paling terang memiliki magnitudo 1 dan yang
paling redup 6.

Seiring dengan semakin majunya teknologi pengamatan, skala magnitudo


pun didefinisikan semakin tegas. Oleh pogson dinyatakan bintang bermagnitudo
1 seratus kali lebih terang dari bintang bermagnitudo 6. Atau setiap beda satu
magnitudo, akan berbeda terang sebesar . Secara matematis
dinyatakan,

Perhatikan letak E dan m bintang pertama dan kedua! Dapat dilihat bahwa
bintang
yang lebih terang akan memiliki magnitudo lebih kecil / lebih negatif.

Dari skala pogson, terdapat bintang yang magnitudonya lebih kecil dari satu,
misalnya Sirius, bintang kedua paling terang di langit, memiliki magnitudo
-1,46. Bahkan Matahari (yang paling terang di langit) memiliki magnitudo -26,7.
Magnitudo yang kita lihat di langit dinamakan magnitudo semu atau apparent
magnitude.

Magnitudo semu suatu bintang gagal menunjukan terang asli


(luminositas) suatu bintang, karena ada satu faktor yang mempengaruhi
yaitu jarak bintang. Sebagai contoh, bintang yang luminositasnya tinggi
namun jarak dari pengamat sangat jauh akan memiliki magnitudo semu besar
(redup di langit).

145
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Untuk menghapus pengaruh faktor jarak bintang, maka dibuat sistem magnitudo
yang meletakkan semua bintang pada jarak yang sama, yaitu 10 parsec
dan disebut magnitudo mutlak. Secara sederhana, magnitudo mutlak ialah
magnitudo semu yang akan diamati apabila bintang berada pada jarak 10 parsec
dari pengamat.

Penurunan persamaan magnitudo mutlak didapat dari persamaan 3.7 :

(Persamaan 3.7 b ialah bentuk lain dari persamaan magnitudo semu) Sekarang
misalkan E1 dan m1 adalah yang teramati sekarang di jarak d parsec, dan E2 dan
m2 adalah yang akan diamati pada jarak 10 parsec, maka

Magnitudo yang teramati di jarak 10 parsec (m2) ialah magnitudo mutlak


dan kita nyatakan dengan M, sementara magnitudo semu (m ) kita nyatakan
dengan m.

Dimana m – M disebut modulus Jarak.

146
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

3.5 SPEKTRUM
Apabila kita lewatkan cahaya matahari melalui sebuah prisma, maka akan
terbentuk apa yang dinamakan spektrum cahaya yang terdiri dari warna merah,
jingga, kuning, hingga ungu. Dengan prinsip yang serupa ternyata kita bisa
mengamati spektrum cahaya bintang lain, dan dapat menarik banyak informasi
penting.

Pembentukan spektrum dinyatakan oleh Kirchoff dalam 3 hukumnya, yaitu


1. Hukum Kirchoff 1
Sumber cahaya yang memiliki kerapatan tinggi akan memancarkan spektrum
yang kontinu pada seluruh panjang gelombang

2. Hukum Kirchoff 2
Sumber cahaya yang memiliki kerapatan rendah akan memancarkan spektrum
hanya pada panjang gelombang tertentu (garis emisi).

3. Hukum Kirchoff 3
Apabila berkas cahaya dari benda bertekanan tinggi melewati benda bertekanan
rendah sebelum sampai di pengamat, maka spektrum yang akan teramati ialah
spektrum kontinu yang diselingi garis-garis gelap (garis absorpsi).

Bila gas bertekanan rendah pada hukum 3 = hukum 2, maka letak garis-garis
emisi dan absorpsi akan sama.

Untuk mengamati spektrum biasa digunakan alat Spektrograf, yang memiliki


sebuah prisma atau kisi cahaya di dalamnya, untuk menguraikan spektrum.

147
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Apabila kita melihat spektrum suatu bintang, maka kita akan mengamati
spektrum seperti pada ilustrasi hukum kirchoff 3. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa cahaya dari pusat bintang (gas bertekanan tinggi) melewati
atmosfer bintang tersebut (gas bertekanan rendah) sebelum sampai ke
pengamat.

Perlu diperhatikan bahwa setiap unsur apabila dipijarkan akan memiliki garis
yang
khas, layaknya sidik jari sebuah unsur. Maka kita dapat mengidentifikasi unsur
apa saja yang dikandung oleh sebuah bintang dengan mengamati garis absorpsi
yang muncul. Misalnya pada bintang A ditemui garis-garis helium (sidik jari unsur
helium), dan pada bintang B ditemui garis-garis Titanium Oksida. Maka dapat kita
simpulkan bahwa pada bintang A memiliki unsur helium, dan bintang B
mengandung unsur Titanium Oksida.

3.6 KELAS SPEKTRUM BINTANG


Astronom membentuk suatu sistem klasifikasi bintang yang didasari atas
karakteristik garis absorpsi spektrum bintang tersebut. Klasifikasi awal
ialah bintang diurutkan berdasarkan kekuatan / ketebalan garis-garis hidrogen
(Antonia Maury). Bintang yang paling kuat garis hidrogennya dikelompokkan
dalam kelas A, berurut abjad hingga kelas Q yang memiliki garis hidrogen paling
lemah.

Klasifikasi Maury disempurnakan oleh Annie Cannon, rekannya di


Observatorium harvard. Cannon mengklasifikasikan bintang berdasarkan
temperatur permukaannya. Hal ini dapat dilakukan dengan melihat panjang
gelombang dimana terdapat intensitas pancaran terbesar, dan menerapkan
hukum pergeseran Wien. Intensitas maksimum ditunjukkan oleh bagian paling
terang dari spektrum, dan panjang gelombangnya dapat diukur.

Karena ke kanan panjang gelombang naik, maka bintang yang sebelah kiri tentu
lebih panas (hukum Wien).

148
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Namun, untuk bintang yang jauh, perbedaan antara intensitas


maksimum dan sekitarnya akan menjadi tidak jelas, sehingga sulit untuk
diamati. Alternatif lain penentuan kelas bintang ialah dengan mengamati
garis hidrogen, berdasarkan pengetahuan bahwa kekuatan garis hidrogen
berhubungan dengan suhu bintang. Pada suhu tertentu, garis hidrogen
akan paling jelas, untuk suhu diatas atau dibawahnya, garis akan semakin
tidak jelas. Suhu ideal tersebut dicapai oleh bintang kelas A.

Lalu diamati dari kelas A sampai Q, bahwa ada beberapa kelas yang sama dan
berulang, sehingga beberapa dihapus dan digabung, sehingga membentuk
klasifikasi bintang modern sebagai berikut,

Untuk memudahkan mengingat urutan kelas ini biasa digunakan singkatan Oh


Be A
Fine Girl, Kiss Me, atau anda boleh membuat sendiri sesuka hati.

3.7 DIAGRAM H-R


Apabila kita membuat grafik kartesius dengan kelas spektrum bintang sebagai
absis (sumbu-x) dan luminositas bintang sebagai ordinat (sumbu-y), lalu
kita memplot bintang-bintang yang telah kita ketahui karakter fisisnya ke dalam
grafik tersebut, kita akan mendapati bahwa bintang-bintang memiliki
kecenderungan untuk mengisi daerah tertentu dalam grafik tersebut.

Grafik tersebut dibuat pertama kali oleh Ejnar Hertzprung dan Henry Russell
pada 1910, dan dinamakan Diagram Hertaprung-Russell atau Diagram H-R, dan
merupakan lompatan besar dalam pemahaman manusia terhadap evolusi
bintang.

Skema diagram H-R :

149
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Kelas spektrum bintang berhubungan dengan temperaturnya, maka akan lebih


akurat apabila kita memplot diagram H-R dengan absis logaritma temperatur,
atau grafik y terhadap log x, yang berbeda dengan grafik y terhadap x biasa,
dimana temperatur tertinggi terletak di sebelah kiri.

Secara umum, bintang dengan temperatur semakin tinggi akan terletak semakin
ke kiri, dan bintang dengan daya pancar semakin besar akan terletak makin
ke atas. Dari persamaan 3.3, kita dapat pula menentukan ukuran sebuah
bintang. Misalnya di daerah kiri bawah, kita akan menemui bintang-bintang
dengan temperatur tinggi, namun memiliki daya pancar rendah, sehingga
pasti ukurannya kecil dan disebut katai putih. Begitu pula dengan daerah kanan
atas, yang pasti memiliki ukuran besar, sehingga disebut raksasa atau
maharaksasa.

Banyak bintang yang teramati berada pada daerah V dimana luminositas


bintang seimbang dengan temperaturnya, sehingga mengindikasikan ukuran
yang proporsional. Bintang-bintang ini disebut deret utama.

3.8 EVOLUSI BINTANG


Bintang ternyata mengikuti jenjang kehidupan yang serupa dengan manusia.
Mereka lahir, remaja, dewasa, tua, sekarat, dan akhirnya mati. Yang
berbeda hanyalah usia bintang jauh lebih lama dari usia terpanjang hidup
manusia, sehingga perubahan yang terjadi tidak bisa diamati secara akurat oleh
manusia.

Yang dapat kita lakukan ialah mengamati bintang-bintang yang masing-masing


berada pada tahap kehidupan yang berbeda-beda, dan merangkaikan

150
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

potongan-potongan puzzle tersebut sehingga kita bisa memahami, atau


setidaknya membayangkan suatu gambaran utuh mengenai alur kehidupan
bintang. Tentunya seiring semakin majunya ilmu pengetahuan manusia, semakin
akurat pula gambaran yang kita bentuk.

A. Awal kehidupan bintang


Semua bintang berawal dari awan gas
antarbintang. Sebagian memiliki
kandungan materi-materi berat seperti
oksigen atau silikon dalam beberapa
persen massa, namun kebanyakan hanya
mengandung zat paling sederhana di alam
semesta, hidrogen. Adanya gangguan dari
lingkungan, membuat awan gas tersebut
menjadi tidak stabil dan terbentuk
kumpulan-kumpulan massa yang
masing-masing berotasi dan mengerut
akibat gravitasi penyusunnya. Saat itu
terbentuklah protobintang, yang boleh
disebut sebagai “janin” bintang.

Seiring dengan menyusutnya protobintang, suhu dan tekanan di pusat menjadi


semakin tinggi. Apabila kedua variabel tersebut mencapai suatu nilai tertentu,
maka terpiculah reaksi inti berantai yang mengubah hidrogen menjadi deuterium
lalu menjadi helium. Tekanan radiasi ke arah luar tersebut mampu melawan
tekanan gravitasi ke arah dalam, sehingga mencegah keruntuhan gravitasi lebih
lanjut.

Saat pertama kali terjadi reaksi inti tersebut boleh disebut sebagai momen
kelahiran bintang, dimana untuk pertama kali dia bisa memancarkan energinya
sendiri untuk menerangi alam semesta yang gelap.

Apabila awan antarbintang memiliki massa yang terlalu sedikit, maka


panas dan tekanan di inti tidak akan cukup untuk memicu reaksi inti hidrogen-
deuterium-helium, dengan kata lain ia adalah bintang yang gagal terbentuk.
Benda seperti ini disebut sebagai katai coklat. Ada beberapa katai coklat yang
mampu menghasilkan reaksi inti hidrogen-deutrium, namun semua katai coklat
akan tampak sangat redup, dan akan “berpendar” dalam waktu yang sangat
lama. Kita dapat membayangkan katai coklat akan tampak serupa dengan
planet Jupiter yang diterangi matahari, namun memiliki massa dan ukuran yang
jauh lebih besar.

151
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

B. Masa stabil bintang


Evolusi bintang, sesungguhnya adalah pertarungan antara dua gaya,
yaitu gaya gravitasi ke arah pusat bintang melawan gaya tekan radiasi ke
luar. Ukuran bintang akan stabil apabila besarnya kedua gaya tersebut sama.
Keadaan tersebut tidak tercapai segera setelah pembakaran pertama, namun
bintang harus melewati masa “remaja” yang tidak stabil terlebih dahulu
meskipun sangat singkat.

Setelah dalam tahap sebelumnya kedudukan bintang dalam diagram H-R


berubah-ubah secara cepat, pada saat bintang telah mencapai keadaan
stabil barulah dia akan mencapai titik yang tetap di diagram tersebut, yaitu di
daerah deret utama, dimana dia akan menghabiskan waktu paling lama dalam
hidupnya, yang juga merupakan masa “dewasa” suatu bintang. Letak setiap
bintang di deret utama tidak sama dan bergantung pada massa awal
bintang, dimana bintang bermassa lebih besar akan terletak lebih ke atas
(pada sabuk deret utama), memenuhi hubungan luminositas bintang
pangkat tiga sebanding dengan massa bintang.

Bintang bermassa besar akan memiliki gaya gravitasi ke dalam yang


juga besar, sehingga membutuhkan energi dalam jumlah besar untuk
mengimbanginya, yang akhirnya mengakibatkan proses pembakaran yang lebih
boros pula. Akibatnya, semakin besar massa bintang, semakin cepat dia
“kehabisan” bahan bakar dan meninggalkan deret utama. Bintang berukuran
sedang seperti matahari akan menghabiskan 10 miliar tahun bumi untuk berada
di deret utama, dan saat ini sedang berada kira-kira di tengah-tengah masa
tersebut. Bintang-bintang bermassa 20 kali massa matahari hanya akan
memiliki waktu sekitar beberapa juta tahun saja, dan berlaku sebaliknya untuk
bintang bermassa kecil.

152
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

C. Pasca deret utama


Akibat pembakaran terus menerus jumlah hidrogen di pusat semakin kecil,
sementara terjadi tumpukan “abu” sisa pembakaran berupa helium. Pada
akhirnya hidrogen di pusat akan habis dan pusat bintang akan mengalami
keruntuhan gravitasi.

Bagi bintang yang memiliki massa sedang atau besar ( > 0,5 massa
matahari), mengerutnya inti akan menyebabkan suhu dan tekanan di inti begitu
besar, sehingga memicu terjadinya reaksi termonuklir kedua, yang mengubah
helium menjadi karbon. Akibatnya bintang akan mempunyai dua reaksi
pembakaran, yaitu fusi helium di inti, dan fusi hidrogen di kulit inti.

Meningkatnya Laju pembakaran hidrogen dan adanya tambahan energi dari fusi
helium akan menyebabkan bintang mengembang, bagi bintang bermassa sedang
akan menjadi raksasa merah, dan bintang bermassa besar akan menjadi
maharaksasa. Proses ini juga menyebabkan suhu permukaan bintang turun,
sehingga warnanya akan menjadi lebih merah dari saat dia di deret utama. Awal
terjadinya fusi helium biasanya ditandai oleh peristiwa helium flash, yaitu
peningkatan kecerlangan secara tiba-tiba suatu bintang akibat fusi kedua
tersebut.
Pembakaran helium hanya akan terjadi apabila massa bintang cukup
besar untuk memberikan suhu dan tekanan tertentu di pusat. Maka bintang

153
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

bermassa kecil tidak akan berkembang menjadi raksasa atau maharaksasa,


tetapi melewati masa yang sangat lama dan ukuran yang relatif stabil hingga
akhirnya kehabisan hidrogen di inti untuk dibakar.

D. Akhir hidup bintang


Bagi bintang dengan massa sedang hingga besar, proses fusi tidak hanya berhenti
pada reaksi helium menjadi karbon. Pada akhirnya proses yang sama yang
menyebabkan pembakaran helium akan terulang lagi, sehingga memaksa
terjadinya reaksi fusi ketiga, karbon menjadi neon yang terjadi di inti.
Sementara itu di kulit inti masih terjadi pembakaran helium, dan diatas
lapisan helium masih terjadi fusi hidrogen.

Proses diatas terus berlanjut hingga berturut-turut terjadi reaksi fusi


neon menjadi oksigen, neon-magnesium, oksigen-silikon, dan proses lain
yang semuanyamembutuhkan suhu dan tekanan yang semakin tinggi untuk
dapat terjadi, sehingga hanya bintang bermassa sangat besarlah yang
bisa mencapai tahap reaksi akhir : pembentukan inti besi, yang merupakan
unsur paling berat yang bisa dibentuk di inti bintang.

Hasilnya di akhir hidupnya, bintang akan


dalam keadaan berlapis-lapis seperti
bawang, yang terdiri dari zat-zat yang
pernah dibentuknya mulai dari hidrogen
yang paling luar, lalu helium dibawahnya,
dan seterusnya. Lapisan terdalam
ditentukan oleh massa bintang. Di pusat
bintang bermassa seperti matahari akan diisi
oleh karbon, karena tidak akan mampu
membentuk inti Neon. Sementara pada
bintang yang lebih besar bisa ditemui
Oksigen. Dan pada bintang bermassa
sangat besar baru akan ditemui pusat besi.

Setelah bintang tidak mampu lagi membakarmateri di inti, maka saat


itulah bintang akan mendekati keruntuhan gravitasi. Yaitu dimana energi
yang dihasilkan tidak mampu menahan gaya gravitasinya sendiri, akibatnya
bintang akan menyusut

Seiring menyusutnya ukuran bintang, tekanan degenerasi elektron


semakin besar karena elektron-elektronnya akan semakin rapat. Bagi bintang
bermassa kurang dari 1,44 massa matahari (batas ini dirumuskan oleh ilmuwan

154
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

India-Amerika Subramaniyan Chandrasekhar) tekanan tersebut akan cukup


untuk menghentikan keruntuhan gravitasi, dan bintang akan berhenti
mengerut saat berukuran tidak jauh dari ukuran bumi, dan disebut bintang katai
putih.

Katai putih akan menjadi akhir dari kehidupan matahari, setelah


sebelumnya akan membentuk nebula planeter, yaitu awan gas yang terbentuk
ketika terjadi pembakaran helium, dimana lapisan terluar bintang akan “lepas”
dan meninggalkan bintang. Kabut tersebut biasa terbentuk pada bintang semassa
matahari.

Meskipun telah “pensiun”, bintang katai putih masih akan melakukan reaksi fusi
dan akan menghabiskan bahan bakarnya secara perlahan selama sisa
hidupnya, hingga akhirnya berhenti memproduksi energi, dan “mati” sebagai
bintang katai gelap. Masa hidup bintang-bintang bermassa kecil ini sangat lama,
sehingga umur alam semesta saat ini belum cukup untuk membentuk bahkan
satu katai gelap pun.

Bagi bintang yang memiliki massa diatas batas Chandrasekhar, tekanan


degenerasi elektron tidak kuasa menahan laju keruntuhan bintang. Sementara
dia terus menyusut, suhu dan tekanan akan meningkat secara drastis, hingga
akhirnya mencapai suatu titik dimana seluruh permukaannya, yang pada
dasarnya merupakan bahan bakar, dari mulai hidrogen hingga yang terdalam,
akan terpicu oleh suatu reaksi berantai yang tiba-tiba, layaknya satu gedung
penuh bubuk mesiu yang diledakkan secara serentak dan tiba-tiba. Hasilnya
adalah suatu ledakan mahadashyat yang disebut supernova.

Kecerlangan bintang bisa meningkat jutaan kali lipat akibat supernova, bahkan
sekitar 1000 tahun yang lalu, terdapat catatan dari astronom Cina yang
mengamati adanya bintang yang tiba-tiba
menjadi sangat terang sehingga dapat
dilihat di siang hari. Setelah diamati
posisinya saat ini, yang tampak disana ialah
nebula sisa supernova yangdisebut crab
nebula. Dapat disimpulkan bahwa bintang
yang tampak di siang hari tersebut adalah
suatu bintang yang mengalami supernova.

Supernova melepaskan energi yang luar biasa


besar dan sebagian materi bintang
dimuntahkan dari permukaannya. Bahkan

155
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

supernova adalah salah satu sumber “pengotor” awan gas antarbintang,


sehingga memiliki unsur berat seperti oksigen, besi, dan silikon yang
terbentuk di inti bintang. Keberadaan unsur-unsur berat tersebut di bumi
dan bahkan di dalam tubuh kita mengindikasikan awan gas antarbintang
yang membentuk matahari, dahulu
setidaknya telah terpengaruh oleh supernova.
Setelah supernova, jalan hidup bintang bergantung pada massanya. Bagi
bintang yang massanya dibawah 3 massa matahari (batasnya sendiri masih
berupa perkiraan), materi yang tersisa dari supernova akan terus menyusut
hingga ukuran sangat kecil (hanya beradius sekitar 10 km saja), dimana
tekanan neutron mampu menolak keruntuhan lebih lanjut. Saat itu gaya
elektromagnet yang memisahkan dua inti atom telah terkalahkan, sehingga
atom-atom menjadi sangat rapat dan dekat sehingga tampak seperti bola-
bola neutron. Bintang seperti ini disebut bintang neutron. Dapat
dibayangkan bagaimana kerapatan bintang neutron ini, dimana satu sendok teh
permukaanya bisa memiliki massa hingga 20 ton!

Bintang neutron adalah pemancar gelombang radio yang sangat kuat,


dan akibat rotasinya, dan arah sumbu rotasinya terhadap bumi, gelombang
radio yang diterima oleh bumi tampak seperti denyutan-denyutan dengan
periode tertentu. Semula diduga denyutan tersebut adalah sinyal dari makhluk
dari luar angkasa. Namun setelah diteliti lebih lanjut dapat dipastikan
gelombang tersebut berasal dari bintang neutron yang berputar cepat, dan
disebut PULSAR (Pulsating Radio Source). Semakin kecil radius bintang
neutron, rotasinya semakin cepat karena kekekalan momentum sudut.

Bagi bintang-bintang yang massanya melebihi 3 massa matahari, setelah


supernova, bahkan tekanan neutron pun sudah tidak mampu lagi mencegah
keruntuhan bintang. Akibatnya tidak ada lagi gaya apapun yang bisa melawan
gaya gravitasi. Akibatnya bintang akan menyusut hingga satu titik singularitas
dimana bahkan cahaya tidak lagi bisa melepaskan diri dari permukaannya
(karena massa yang besar dan radius yang luar biasa kecil) kerana kecepatan
lepas di permukaannya melebihi kecepatan cahaya. Benda seperti ini disebut
sebagai lubang hitam atau black hole.

Keberadaan lubang hitam sendiri diprediksikan secara teori dan telah dibuktikan
secara observasi. Meskipun cahaya tidak bisa meninggalkan permukaan black
hole (otomatis kita tidak bisa mendeteksi black hole tersebut), namun
apabila black hole tersebut adalah anggota dari sistem bintang ganda (sistem
dua bintang yang mengitari pusat massa sistem) dia akan dapat dideteksi. Bila di
dekatnya ada sebuah bintang lain yang masih “hidup” dan jaraknya cukup dekat

156
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

maka akan terjadi perpindahan materi dari bintang ke black hole membentuk
suatu piringan akresi (piringan yang berupa materi yang berpindah dan bergerak
mengitari benda tujuan secara spiral dengan radius yang semakin lama semakin
mengecil).

Jumlah black hole di alam semesta ini diperkirakan cukup banyak. Kemungkinan
benda yang ada di pusat galaksi-galaksi adalah Black Hole, sebab dibutuhkan
massa yang sangat besar untuk bisa menggerakkan satu galaksi agar tunduk pada
dirinya.

157
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

4. MEKANIKA

4.1 HUKUM KEPLER


Pencarian manusia akan pertanyaan bagaimana benda-benda langit
sesungguhnya bergerak, telah didengungkan secara berabad-abad dan telah banyak
gagasan dan teori (baik dengan dasar logika maupun murni khayalan) yang
mencoba menjelaskannya. Pada abad ke-16 muncul banyak Astronom yang mulai
menentang paham Geosentris yang telah lama diimani. Salah satunya adalah Tycho
Brahe, astronom Denmark yang melakukan pengamatan dengan peralatan
minimum, namun dengan akurasi yang sangat baik.

Adalah murid Brahe, Johannes Kepler, yang kemudian berhasil merumuskan teori
dasar
tentang pergerakan planet-planet, berdasarkan data pengamatan yang
dikumpulkan
Brahe.

A. Hukum kepler pertama


Hukum Kepler pertama berbunyi,

“orbit setiap planet berbentuk elips dengan matahari berada di salah


satufokusnya”
Elips adalah bentuk bangun datar yang merupakan salah satu dari irisan kerucut
(selain lingkaran, hiperbola, dan parabola). Dimana eksentrisitas elips bernilai antara
0 dan 1. Lintasan suatu planet mengelilingi matahari akan berupa sebuah elips,
dan matahari akan selalu berada di salah satu dari dua focus elips tersebut.

158
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Hukum pertama kepler jelas-jelas menentang pernyataan Nicolaus Copernicus


yang menyatakan bahwa orbit planet berbentuk lingkaran dengan matahari berada
di pusat lingkaran. Dan terbukti dari hasil pengamatan bahwa orbit elips
Kepler dapat memberikan posisi yang lebih akurat dibandingkan orbit lingkaran.

Kesalahan Copernicus ini dapat dipahami sebab meskipun memiliki lintasan


elips, namun eksentrisitas orbit planet mendekati nol, sehingga sekilas akan
tampak mendekati lingkaran, bahkan untuk perhitungan-perhitungan
sederhana kita boleh mengasumsikan orbit planet adalah lingkaran.

B. Hukum kepler kedua


Hukum kepler kedua berbunyi,
“vektor radius suatu planet akan menempuh luas areal yang sama untuk selang
waktu yang sama”
Vektor radius ialah garis hubung antara planet dengan pusat gravitasi
(matahari).
Gambaran dari hukum kepler kedua ialah

Apabila Planet membutuhkan waktu yang sama untuk menempuh P1 – P2 dan P3 -


P4, maka luas areal P1 – F – P2 akan sama dengan P3 - F - P4, begitu pula
sebaliknya. Dengan kata lain kita dapat menyatakan bahwa kecepatan angulernya
konstan.

Karena planet selalu mematuhi hokum kepler, maka konsekuensi dari hukum
kedua kepler ini ialah kecepatan linear planet di setiap titik di orbitnya
tidaklah konstan, tetapi bergantung pada jarak planet. Contohnya planet akan
bergerak paling cepat saat dia ada di perihelium, dan akan bergerak paling lambat
saat dia ada di aphelium.

C. Hukum kepler ketiga


Hukum kepler ketiga berbunyi

159
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

“pangkat tiga sumbu semi major orbit suatu planet sebanding dengan kuadrat
dari periode revolusi planet tersebut”

Kepler menemukan hubungan diatas, atau apabila sumbu semi mayor kita nyatakan
dengan a dan periode revolusi planet kita nyatakan dengan T, maka secara
matematis hukum ketiga kepler dapat ditulis

Ternyata untuk benda-benda yang mengelilingi pusat gravitasi yang sama,


besarnya kontanta akan sama, misalnya bagi planet Venus dan planet Bumi, atau
bagi Io dan Europa. Untuk benda-benda yang memenuhi syarat tersebut berlaku

Apabila benda yang kita tinjau adalah planet yang mengitari matahari, dan
kita nyatakan a dalam Satuan Astronomi dan T dalam tahun, maka kita akan
mendapati

Persamaan 4.5 c adalah bentuk sederhana dari hukum kepler 3, namun hanya
bisa digunakan apabila a dinyatakan dalam Satuan Astronomi, T dalam tahun dan
pusat gravitasi adalah benda bermassa sama dengan matahari.

Perlu diingat bahwa hukum kepler tidak hanya berlaku pada planet di tata surya saja,
namun juga berlaku pada satelit planet-planet, asteroid, komet, pada sistem
bintang ganda, dan lain-lain.
4.2 HUKUM GRAVITASI NEWTON

160
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Sebelum era Newton, bidang mekanika benda langit merupakan bidang


yang berdasarkan pengamatan empiris. Baru dengan kejeniusannya Newton
dapat menjelaskan fenomena alam yang terjadi secara teoritis dan mampu
menerangkan “mengapa” peristiwa tersebut dapat terjadi.

Dua pertanyaan, mengapa apel jatuh dari pohon dan mengapa bulan mengitari
bumi, yang tampak sebagai dua hal yang sama sekali berbeda dan tidak
berhubungan, ternyata dijawab Newton oleh satu kata : Gravitasi.

Hukum Gravitasi Newton sendiri berbunyi,

“ semua partikel materi di alam semesta menarik semua partikel lain dengan gaya
yang sebanding dengan produk massa dan berbanding terbalik dengan pangkat
dua
dari jarak antara keduanya”,

atau secara matematis,

Dimana F ialah gaya gravitasi (newton), m1 dan m2 adalah massa kedua


benda (kilogram), r adalah jarak kedua benda (meter), dan G ialah
konstanta gravitasi universal yang besarnya 6,67 x 10-11 N.m2.kg-2.
Lalu menurut persamaan gaya yang kita ketahui, bahwa gaya ialah perkalian antara
massa dan percepatan benda, atau

bila kita gabungkan dengan persamaan 4.6 kita akan mendapat,

Apabila kita tinjau benda 1 sebagai pemberi gaya gravitasi dan kita nyatakan dengan
M, lalu benda 2 sebagai objek yang terkena pengaruh gaya kita nyatakan sebagai m,
kita akan dapat,

yaitu persamaan kuat medan gravitasi atau lebih dikenal sebagai percepatan
gravitasi, yang dalam fisika dinyatakan sebagai “g”, yang ternyata bergantung pada
massa benda sumber dan jarak benda.

161
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Energi potensial gravitasi yang dimiliki sebuah benda, sebanding dengan


produk massa benda tersebut dan massa benda sumber, serta berbanding terbalik
dengan jarak antara kedua benda, serta bernilai selalu negatif, sebab energi
potensial gravitasi selalu bersifat seolah-olah “kekurangan” energi, atau dinyatakan
dengan,

Potensial gravitasi yang dimiliki sebuah benda didefinisikan sebagai energi potensial
gravitasi per satuan massa, atau dinyatakan

Dimana perlu diingat bahwa massa benda yang berpengaruh ialah benda
sumber gravitasi saja.

4.3 MEKANIKA ORBIT SEDERHANA


Bulan mengalami gaya tarik gravitasi ke arah bumi, namun mengapa bulan
tidak pernah jatuh ke bumi padahal tidak ada gaya yang tampak menahan atau
menarik bulan ke arah berlawanan ?
Ternyata bulan dapat mempertahankan posisinya terhadap bumi ialah
karena
melakukan revolusi mengelilingi bumi, sehingga gaya gravitasi akan berlaku sebagai
gaya sentripetal bagi putaran bulan, analoginya adalah apabila kita memutar
bola bertali, maka bola tersebut adalah bulan, dan gravitasi adalah tali tersebut,
atau kita nyatakan

Orbit bulan berupa elips, namun memiliki eksentrisitas mendekati nol, sehingga
dapat kita dekati sebagai sebuah lingkaran. Maka radius orbit dapat kita
asumsikan tetap, sehingga dapat kita nyatakan,

Dimana vorbit ialah kecepatan orbit mengelilingi benda pusat (yang besarnya
selalu konstan), dan bergantung pada massa benda pusat dan jarak. Persamaan

162
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

4.10 hanya berlaku bagi benda-benda yang mengelilingi benda pusat gravitasi
dengan orbit lingkaran.

Untuk gerak melingkar, berlaku

Karena lingkaran adalah elips yang memiliki eksentrisitas 0, maka berlaku


, sehingga menjadi

Uraian diatas adalah salah satu pembuktian hukum kepler 3. Dimana


sebelum dirumuskannya hukum gravitasi oleh Newton, tidak dapat dibuktikan orang
(termasuk Kepler sendiri !). Dan Newton mampu menentukan nilai konstanta
dari ruas kiri persamaan 4.5, yaitu sebesar .

Persamaan 4.11 adalah bentuk umum hukum kepler 3, dan berlaku untuk semua
orbit yang terpengaruh oleh gravitasi, baik itu lingkaran, elips, parabola, atau
hiperbola.

Bagi benda-benda yang mengelilingi matahari, atau mengelilingi bintang dengan


massa sama dengan massa matahari Persamaan 4.11 menjadi :

Bagi benda-benda yang mengelilingi bintang bermassa selain matahari menjadi

Apabila kita bagi kedua persamaan di atas didapat

163
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Apabila a dinyatakan dalam satuan astronomi, dan T dalam tahun, maka kita
dapat memasukkan persamaan 4.5 c kedalam persamaan diatas

Dan bila kita nyatakan semua massa bintang dalam massa matahari, ruas kanan
dapat
kita ganti menjadi

Dengan catatan dinyatakan dalam SA, T dalam tahun, dan Mstar dinyatakan
dalam massa matahari. Bila kita masukan matahari sebagai bintang yang kita tinjau,
kita akan mendapati persamaan 4.12 menjadi persamaan 4.5 c. Dapat kita simpulkan
persamaan 4.12 ialah bentuk umum hukum kepler 3 bagi benda bermassa
berbeda dengan matahari.

4.4 TITIK NETRAL DAN TITIK PUSAT MASSA


A. Titik Netral
Pada sistem tiga benda (dua sumber gravitasi, dan satu benda objek), terdapat titik-
titik dimana gaya gravitasi dari kedua benda saling meniadakan, sehingga apabila
benda objek ditempatkan di titik tersebut, maka benda tersebut akan diam relatif
terhadap kedua benda sumber gravitasi (mengalami keseimbangan gravitasi). Titik-
titik tersebut disebut titik netral, atau titik Lagrange.

Dari gambar disamping, dapat dilihat


posisi kelima titik Lagrange (L1,L2,L3,L4,L5).

Penurunan titik-titik ini menggunakan


kurva potensial gravitasi dalam ruang
dimensi tiga, dan pertama kali dipecahkan
oleh matematikawan Prancis Josef
Lagrange.

164
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Yang paling mudah tentunya titik Lagrange kedua, yang letaknya berada di
antara kedua benda sumber. Dan secara sederhana dapat dihitung letaknya
dengan menyamakan gaya gravitasi dari kedua benda sumber.

B. Titik Pusat Massa


Pada sistem dua benda, sesungguhnya kedua benda selalu saling mengitari pusat
massa sistem. Hal tersebut berlaku juga untuk matahari dan planet-planetnya. Jika
kita tinjau sistem matahari-Jupiter, kita sekilas akan melihat Jupiter bergerak
mengelilingi Matahari. Namun apabila kita perhatikan lebih seksama, ternyata
matahari dan Jupiter keduanya mengitari pusat massa sistem Jupiter-Matahari,
namun letak titik itu sangat dekat dengan pusat matahari, sehingga gerakan
matahari tidak kentara terlihat, melainkan hanya bergoyang sedikit saja. Hal
serupa terjadi bagi sistem Bumi-Bulan, Jupiter-Ganymede, dan lain-lain, namun
tidak bagi Pluto-Charon, dimana letak titik pusat massa sistem berada di luar
permukaan Pluto.

Secara sederhana, prinsip menghitung letak titik pusat massa (untuk sistem dua
benda) serupa dengan cara menghitung letak titik tumpu suatu penggaris yang
diberi beban berbeda di kedua sisinya.

4.5 GAYA PASANG SURUT


Kita telah mengenal peristiwa naiknya muka air laut di saat bulan purnama dan bulan
baru, namun apa yang sebenarnya menJadi penyebab fenomena tersebut ?

Gaya pasang surut didefinisikan sebagai selisih gaya gravitasi di permukaan benda
dengan di pusat benda. Pada terapan umumnya gaya ini tidak hanya menyebabkan
naiknya permukaan air laut di bumi saJa, namun Juga menyebabkan komet yang
lewat terlalu dekat dengan matahari akan pecah, atau satelit yang terlalu dekat
dengan planet induknya akan terpecah membentuk cincin.

Perhatikan gambar berikut, dengan asumsi kemiringan orbit Bulan terhadap ekuator
0.

165
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Kita akan menghitung besar gaya pasang surut oleh bulan kepada bumi. Gaya pasang
surut di titik A didefinisikan sebagai selisih gaya di permukaan dengan gaya di pusat,
atau dinyatakan

Dengan d ialah Jarak bulan ke bumi (dari pusat ke pusat), R ialah radius permukaan
bumi (kita sumsikan berupa bola sempurna), M adalah massa bumi, dan m adalah
massa bulan.

Karena d Jauh lebih besar daripada R (d >> R), maka persamaan menjadi

Melalui penurunan yang sama akan diperoleh gaya pasang surut di masing-masing
titik

Atau bila digambar dalam diagram gaya di seluruh permukaan akan berbentuk :

166
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Dimana tinggi permukaan air laut akan mengikuti diagram diatas, terbesar di
ekuator, dan terus menurun hingga terkecil di kutub. Perlu dilihat bahwa besar gaya
pasang surut di titik A akan sama dengan di titik D, hanya berlawanan arah. Sehingga
walaupun Bulan ada di sisi kanan Bumi dalam gambar, sisi kiri bumi Juga akan
“menggelembung” dengan besar yang sama. Hal inilah yang menyebabkan pasang
saat Purnama sama dengan pasang saat Bulan Baru. Dan setiap hari, pengamat di
permukaan bumi akan mengalami 2 kali pasang dan 2 kali surut, akibat rotasi bumi.

Persamaan 4.13 berlaku umum bagi dua benda yang saling mempengaruhi karena
gravitasi.

167
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

5. ASTROFISIKA 2

5.1 ABSORPSI
Meskipun nampak kosong, namun ruang antar bintang sesungguhnya memiliki
materi yang cukup untuk melemahkan cahaya bintang. Pengaruh dari
absorpsi ini bisa diabaikan untuk bintang-bintang dekat, namun tidak untuk
bintang-bintang Jauh. Salah satu efeknya ialah pada persamaan modulus Jarak atau
persamaan 3.8, dimana persamaan tersebut sesungguhnya hanya berlaku bagi
bintang-bintang dekat. Untuk-bintang-bintang Jauh perlu ada koreksi absorbsi
sehingga persamaan menjadi

Dimana A adalah besarnya absorpsi oleh materi antarbintang. Besarnya absorpsi


tidak hanya bergantung pada Jarak saJa, namun Juga bergantung pada temperature
bintang dan panjang gelombang yang dipancarkan (dengan intensitas maksimum)
oleh bintang. Dimana panJang gelombang yang lebih pendek akan lebih mudah
diserapdaripada panjang gelombang yang lebih panjang.

5.2 GERAK BINTANG


A. Gerak Radial
Alam semesta ini tidaklah statis, sehingga Jarak antar bintang pun tidaklah
konstan, namun bagaimana kita bisa mendeteksi suatu bintang apakah bergerak
mendekati atau menJauhi bumi ?

Tentu dalam pelaJaran fisika anda pernah mempelaJari tentang efek Doppler,
dimana ambulan yang bergerak mendekati kita bunyi sirinenya lebih keras dibanding
ambulan yang bergerak menJauhi kita. Ternyata efek Doppler ini berlaku Juga
untuk cahaya, dimana apabila suatu bintang bergerak mendekati kita, maka panJang
gelombangnya akan mendekati biru, sedangkan bila menJauh, akan tampak
mendekati merah. Pergeseran panJang gelombang ini dapat diamati dengan
mengamati garis garis spectrum bintang. Pergeseran ini diamati untuk komponen
gerak bintang yang sejajar garis pandang atau disebut gerak radial.

168
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

Seorang pengamat mengamati spektrum tiga bintang kembar yang masing-


masing berbeda keadaan, bintang a diam terhadap pengamat, bintang b bergerak
mendekat, dan bintang c bergerak menJauh. Ternyata dari hasil pengamatan,
spectrum bintang a akan sesuai dengan yang diamati di laboratorium / perhitungan.
Pada spectrum bintang b, garis-garis absorpsi telah bergeser ke sebelah kiri
(panJang gelombang memendek), sedangkan pada bintang c garis-garis absorpsi
bergeser ke sebelah kanan (panJang gelombang memanJang).

Semakin besar pergeseran spectrum bintang tersebut, semakin besar pula


kecepatan sebenarnya (kecepatan radial) bintang tersebut. Dinyatakan oleh
persamaan

Dimana λdiam adalah panJang gelombang yang diamati di laboratorium


(panJang gelombang diam), Δλ adalah besar pergeseran panJang gelombang akibat
gerak radial bintang (dinyatakan dengan diam λobs – λdiam ) yang akan bernilai
negatif bila bintang bergerak mendekat dan positif bila menJauh, Vr adalah
kecepatan radial bintang, dan c adalah kecepatan cahaya. Perlu diingat bahwa

169
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

satuan λdiam dan Δλ harus sama, bgitu pula satuan Vr dan c, karena persamaan 6.2
berupa perbandingan.

Apabila benda yang kita tinjau bergerak dengan kecepatan rendah dan tidak
mendekati kecepatan cahaya, atau memenuhi syarat Vr << c (kecepatan radial Jauh
lebih kecil dari kecepatan cahaya). Maka persamaan 6.2 akan menjadi persamaan
yang lebih sederhana

B. Gerak Tangensial
Bintang tidak hanya bergerak seJaJar dengan garis pandang kita, namun komponen
gerak yang bergerak tegak lurus garis pandang kita disebut gerak tangensial.

Gerak tangensial lebih mudah untuk diamati, sebab pergerakannya akan tampak
nyata di langit, tentunya dalam Jangka waktu sangat lama. Oleh karena itu
perlu ada penyesuaian RA dan Deklinasi bintang pada catalog bintang secara
berkala, agar posisi tetap akurat.

Besarnya gerak tangensial bergantung pada Jarak bintang, dan besar pergeseran
di
langit (proper motion), dan dinyatakan oleh persamaan

Dimana Vt adalah kecepatan tangensial (m/s), ω adalah kecepatan sudut atau


proper motion yang tampak di langit(rad/s), dan d adalah Jarak bintang (m).

Agar lebih mudah, kita nyatakan satuan Vt dalam km/s, ω dalam detik busur per
tahun (karena besar pergeseran sangat kecil), dan d dalam parsec, maka
persamaan diatas menjadi

Apabila kita gabungkan dengan persamaan 2.7, kita akan dapat

Dimana p adalah besar paralaks bintang.

170
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

C. Gerak Linear

Besar gerak sesungguhnya bintang (gerak linear) ialah resultan dari dua
komponennya,
gerak radial dan tangensial, dan besarnya dinyatakan oleh

171
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

SOAL LATIHAN

172
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

173
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

1. Bidang kristal adalah?


a. Bidang yang memotong pusat simetri kristal
b. Bidang yang membentuk permukaan kristal
c. Bidang yang mencerminkan sifat dalam kristal
d. Bidang yang tegak lurus dengan pusat simetri kristal
e. Bidang yang sejajar dengan pusat kristal

2. Jika suatu kristal punya 3 sumbu simetri,hanya 2 sumbu yang saling tegak lurus, semua
sumbu tidak sama panjang, maka termasuk sistem kristal :
a. tetragonal
b. Monoklin
c. Triklin
d. Ortorombik
e. Trigonal

3. Jika besar sudut antara bidang kristal besarnya 120 derajat, maka termasuk sistem kristal?
a. Triklin
b. Monoklin
c. Heksagonal
d. Ortorombik
e. Tetragonal

4. Salah satu sifat dalam suatu mineral adalah malleable, yaitu?


a. Bisa diiris
b. Bisa ditempa
c. lentur
d. Kenyal
e. Bisa dipintal

5. Limonit termasuk mineral ?


a. Oksida
b. Hidroksida
c. Halida
d. Sulfida
e. Native

6. Yang termasuk proses asimilasi magma adalah?


a. Pencampuran 2 magma yang beda komposisi
b. Reaksi magma dengan batuan samping
c. Pelelehan batuan asal yang menjadi magma
d. Kristal kristal alkali yang bergerak mengapung ke bagian atas
e. Kristal kristal calsic yang membeku di dasar dapur magma

174
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

7. Yang termasuk mineral penyusun batuan beku adalah?


a. Garnet
b. Plagioklas
c. Epidot
d. Silimanit
e. Staurolit

8. Pegmatit terutama dicirikan oleh?


a. Komposisi intermediat dengan kristal kecil
b. Asam dengan kristal besar
c. Basa dengan kristal sangat besar
d. Ultrabasa dengan kekerasan tinggi
e. Batuan beku dengan kekerasan rendah

9. Dibawah ini yang mempunyai komposisi silika paling rendah adalah?


a. Gabro
b. Basalt
c. Dunit
d. Serpentin
e. Blueschist

10. Struktur dibawah ini yang terbentuk setelah proses pengendapan adalah
a. Ripple mark
b. Silang siur
c. Gradded bedding
d. Convolute lamination
e. Tool marks

11. Mineral di bawah ini yang mudah ditemukan pada metamorfisme kontak adalah?
a. Silimanit
b. Staurolit
c. Garnet
d. Actinolit
e. Glaukofan

12. Batuan metamorf yang termasuk fasies granulit cenderung terbentuk pada ?
a. Suhu rendah tekanan tinggi
b. Suhu tinggi tekanan tinggi
c. Suhu tinggi tekanan rendah
d. Suhu sedang tekanan sedang
e. Suhu tinggi tekanan sedang

175
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

13. Jika pada suatu perlapisan ditemukan loncat fosil, maka kemungkinan besar perlapisan
tersebut mengalami ketidak selarasan berjenis?
a. Angular unconformities
b. Nonconformities
c. Disconformities
d. Para conformities

14. Faktor yang mempengaruhi geomorfologi eolian adalah kecuali ?


a. Vegetasi
b. Suplai material
c. Arah angin
d. Kecepatan angin
e.semua benar

15. Trace fossil bisa berupa kecuali?


a.burrow
b.cast
c.track
d.trail
e. Boring

16. Yang disebut sebut sebagai zaman ikan adalah?


a.trias
b.karbon
c. Devon
d. Perm
e. Silur

17. Yang disebut sebagai zaman crinoid adalah?


a.trias
b.karbon
c. Devon
d. Perm
e. Silur

18. “the present is the key to the past” adalah istilah yang berhubungan erat dengan hukum
stratigrafi?
a. Cross cutting relationship
b. Lateral continuity
c. Horisontality

176
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

d. Faunal succesion
e. Uniformtriarisme
19. Pengendapan lempung di daerah rawa rawa pada umumnya terjadi melalui proses?
a. Traction current
b. Rolling
c. suspension
d. debris flow
e. Tidak ada yang benar

20. Keuntungan memakai sumber air tanah daripada sumber air permukaan adalah kecuali?
a. Volume besar
b. Sangat berpolusi
c. Jarang kering
d. Kualitas air bagus
e. Semua benar

21. Batuan yang paling mungkin mengandung fosil adalah?


a. Gabro
b. Chalk
c. Granit
d. Skis
e. Filit

22. Garis kontur dalam peta topografi merupakan?


a. Garis perpotongan antara morfologi dan bidang vertikal
b. Garis yang menghubungkan titik titik dengan ketinggian sama
c. Garis pada peta yang menunjukkan morfologi
d. Garis dengan ketinggian tertentu
e. Tidak ada yang benar

23. Ketidakselarasan antara batuan sedimen dengan sedimen tanpa adanya bidang erosi
disebut?
a. Non conformity
b. Paraconformity
c. Angular conformity
d. Disconformity

24. Tipe letusan yang mengakibatkan gugurnya kubah lava adalah?


a. Plinian
b. Merapi
c. Hawaian
d. Vulkanian
e. Strombolian

177
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

25. Berikut ini adalah tanda tanda datangnya tsunami kecuali


a. Terjadinya gempa dengan kekuatan lebih dari 6,5 SR
b. Permukaan air surut dengan drastis
c. Suara gemuruh dari dasar laut
d. Terjadinya gempa dengan kekuatan lebih dari 7 SR
e. Semua benar

26. Gelombang internal adalah?


a. Terjadi pada pantai yang tertutup(terisolasi)
b. Terjadi di dalam laut
c. Terjadi karena tiupan badai
d. Gelombang yang tidak memperlihatkan gerakan maju
e. Terjadi karena material longsor yang masuk ke laut

27. Suhu permukaan laut menjadi dingin disebabkan oleh kecuali?


a. Evaporasi
b. Kondensasi uap air
c. Radiasi dari laut ke atmosfer
d. Konduksi panas ke atmosfer
e. Semua salah

28. Perbedaan tipe pasang surut terjadi karena?


a. Bentuk cekungan yang mempengaruhi gerakan air
b. Kondisi topografi laut
c. pengaruh efek coriolis
d. Jawaban b dan c benar
e. Jawaban a,b,c benar

29. Atol merupakan pulau berbentuk cincin yang mengelilingi suatu laguna, dapat terbentuk
karena:
a. gunung api dasar laut yang meletus menghasilkan sebuah kawah
b. adanya tumbukan benda angkasa yang meninggalkan lubang besar
c. tumbuhnya terumbu secara vertikal pada suatu pulau gunung api yang tenggelam
d. mencairnya es atau gletser yang airnya terkumpul menjadi sebuah laguna
e. berlubangnya terumbu karang akibat pemanasan global

30. Fenomena gelombang stasioner, yaitu gelombang yang tidak memperlihatkan gerakan maju
dari bentuk gelombang yang terjadi disebut sebagai
a. Seiche
b. Tsunami
c. Difraksi
d. gelombang internal
e. fetch

31. Berdasarkan sifat kelistrikannya struktur atmosfer terdiri dari….. yang dibagi menjadi……..

178
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

a. Ionosfer, dan lapisan E, F, G


b. Homosfer, dan Heterosfer
c. Heterosfer, dan Nitrogen, Oksigen, Argon
d. Ionosfer, dan lapisan D,E,F
e. Thermosfer, dan lapisan E, F, G

32. Gas Argon di atmosfer merupakan gas yang memiliki kandungan yang lebih besar dari
Karbondioksida. Kegunaan dari gas argon tersebut di atmosfer adalah……
a. Merupakan gas inert sekaligus sebagai penjaga kesetimbangan penjalaran energi di
atmosfer
b. Merupakan gas rumah kaca yang menyebabkan bumi tetap hangat
c. Merupakan gas yang bisa mereduksi radiasi elektromagnetik berbahaya dari luar
permukaan bumi
d. Keberadaanya tidak berpengaruh di bumi dan dapat diabaikan
e. Merupakan gas pembentuk fenomena atmosfer di permukaan bumi

33. Suhu pada bagian bawah mesosfer lebih hangat dari pada suhu bagian atasnya hal ini
membuktikan bahwa terdapat sumber panas di lapisan bawah atmosfer. Sumber panas
tersebut terbentuk dari
a. Panas radiasi matahari yang merambat melalui atmosfer
b. Adanya gas rumah kaca yang menjebak panas di bawah lapisan atmosfer
c. Energi yang dipancarkan akibat pemecahan gas O2 oleh sinar UV membentuk O3
d. Radiasi Matahari yang dipantulkan kembali oleh ozon di lapisan Stratosfer
e. Radiasi gelombang panjang yang dipancarkan oleh bumi

34. Informasi yang terdapat pada simbol sinop di samping diantaranya…..


a. Tekanan udara 1093.2 mb dengan tutupan awan 6/8
932
b. Tekanan udara 993.2 mb dengan tutupan awan 8/8
c. Tekanan udara 932 mb dengan tutupan awan 7/8
d. Tekanan udara 993.2 mb dengan tutupan awan 7/8
e. Tekanan udara 932 mb dengan tutupan awan 6/8

35. Pada bulan Juli di stasiun cuaca Halmahera Maluku Utara arah angin akan cenderung bertiup
ke arah….
a. Barat laut
b. Timur laut
c. Tenggara
d. Barat daya
e. Timur

36. Kabut adveksi terjadi akibat….


a. Wilayah pegunungan yang puncaknya menyentuh bagian dasar awan stratus
b. Akibat pelepasan panas oleh massa udara yang mengandung uap air sehingga udara
tersebut mengalami kondensasi

179
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

c. Adanya masssa udara yang panas dan lembab terdinginkan secara tiba – tiba oleh
permukaan yang dingin
d. Adanya arus konveksi dekat permukaan yang mengangkat massa udara yang banyak
mengandung uap air sehingga mengalami kondensasi
e. Adanya awan stratus yang turun secara perlahan dari atmosfer

37. Gambar berikut merupakan lambang dari fenomena cuaca bernama front, jenis front berikut
adalah……
a. Occluded Front
b. Ana Front
c. Front Stasioner
d. Kata Front
e. Front Panas

38. Kebanyakan gurun terletak di sekitar lintang 30o hal tersebut secara ilmiah disebabkan
karena
a. Lintang tersebut merupakan tempat dimana matahari mencapai titik perihelium
b. Daerah tersebut merupakan daerah subduksi aliran udara akibat pertemuan sel Hadley
dan Ferrel
c. Merupakan lintang terpanas di muka bumi sehingga jarang terjadi kondensasi di tempat
tersebut
d. Merupakan daerah yang tidak pernah hujan
e. Karena efek gaya coriolis yang cukup kuat, sehingga hujan tidak dapat terjadi

39. Awan Sirus Unsinus terbentuk karena


a. Bagian bawah awan cumulus nimbus yang tersobekkan oleh angin lalu terangkat dan
mengalami kristalisasi es
b. Awan stratus yang terangkat dan mengalami kristalisasi es
c. Sisa dari awan cumulus nimbus yang telang mengalami disipasi selanjutnya mengalami
pengangkatan dan terkristalkan
d. Awan cumulus yang mengalami kristalisasi es
e. Awan stratus yang dengat dengan permukaan gunung es, sehingga membawa Kristal es
tersebut ke atmosfer

40. Ciri – ciri dari iklim monsoon tropis adalah kecuali


a. Variasi temperatur tahunan kecil
b. Puncak musim hujan terjadi di pertengahan tahun
c. Memiliki fasa cuaca basah dan fasa cuaca kering
d. Presipitasi musim panas lebih banyak dari musim dingin
e. Curah Hujan tinggi sepanjang tahun

41. Gejala cuaca berikut yang menunjukkan terjadinya front panas adalah……
a. Terjadi awan cumulus nimbus dan hujan curah yang amat deras
b. Adanya gerak siklonik yang memungkinkan terjadinya badai tropis

180
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

c. Terjadi pengembangan awan cumulus nimbus yang cepat dan statis


d. Muncul awan nimbostratus, altostratus, dan sirostratus serta hujan ringan yang meluas
e. Terdapat awan berjenis squall line di zona front

42. Berikut ini tahap pembentukan siklon tropis adalah


a. Gangguan Tropis – Badai Tropis – Siklon Tropis – Depresi Tropis
b. Gangguan Tropis – Depresi Tropis – Badai Tropis – Siklon Tropis
c. Depresi Tropis – Gangguan Tropis – Badai Tropis – Siklon Tropis
d. Depresi Tropis – Siklon Tropis – Badai Tropis – Gangguan Tropis
e. Badai Tropis – Siklon Tropis – Gangguan Tropis – Depresi Tropis

43. Perhatikan gambar disamping, siklon tersebut terdapat


di belahan bumi……dan kecepatan angina paling cepat berada
di……
a. Utara, Atas
b. Selatan, Kiri
c. Utara, Kanan
d. Selatan Bawah
e. Selatan Kanan

44. Salah satu alasan mengapa jangkauan sinyal radio lebih luas di malam hari daripada siang
hari adalah…..
a. Karena pada malam hari terdapat lapisan D,E, dan F yang bisa menghamburkan sinyal
radio lebih luas
b. Karena pada malam hari lapisan D dan E yang bersifat menyerap gelombang hilang, dan
lapisan F memiliki sifat memantulkan gelombang
c. Karena pada malam hari suhu relative lebih rendah sehingga kerpatan udara lebih besar
dan memudahkan penjalaran gelombang radio
d. Karena pada malam hari tidak ada radiasi elektromagnetik dari matahari yang dapat
mengganggu penjlaran gelombang radio
e. Karena pada malam hari pengguna jaringan radio lebih sedikit daripada di siang hari

45. Lapisan di atmosfer yang gerakan udaranya dipengaruhi oleh gesekan udara dengan
permukaan bumi disebut……
a. Lapisan transisi
b. Lapisan bawah atmosfer
c. Lapisan batas
d. Lapisan gradasi tekanan
e. Lapisan zona gesek

46. Suatu zat memiliki temperature tinggi berarti……..


a. Molekul – molekul bergerak cepat
b. Zat dalam wujud gas
c. Radiasi yang dipancarkan memiliki panjang gelombang besar
d. Zat mengikuti hukum kedua termodinamika

181
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

e. Tidak ada jawaban yang benar

47. Hujan es bisa terjadi di daerah tropis karena……


a. Perubahan iklim yang menyebabkan daerah tropis memiliki gejala musim dingin seperti
di lintang tinggi
b. Es yang terbawa dari pegunungan tinggi yang terdapat salju abadi
c. Perkembangan inti kondensasi es yang lebih cepat di bagian atas awan cumulus nimbus
d. Suhu udara di daerah tropis yang mampu mencapai suhu titik beku es
e. Merupakan salah satu gejala akan terjadi el-nino di wilayah tropis

48. Menurut klasifikasi Koppen, iklim di nusa tenggara timur (NTT) berjenis
a. Af
b. Am
c. BWh
d. Aw
e. Bsh

49. Bintang berdasarkan suhunya dibagi menjadi 7 kelas spektrum. Diantara nama bintang –
bintang berikut yang merupakan bintang dengan kelas spektrum O adalah
a. Rigel
b. Spica
c. Aldebaran
d. Lacerta
e. Sirius

50. Jika konstanta fluks matahari yang diterima bumi 1300 W/m2 berapakah fluks yang diterima
oleh Jupiter dengan jarak 5.2 SA
a. 48 W/m2
b. 96 W/m2
c. 250 W/m2
d. 24 W/m2
e. 162.5 W/m2

51. Paralaks sebuah bintang jika diukur di bumi sebesar 0.23” berapakah paralaks jika diukur
dari saturnus yang memiliki jara 10 SA
a. 0.28”
b. 2.208”
c. 1.08”
d. 2.3”
e. 43.47”

52. Magnitudo bintang Rigel adalah 0.1 dan bintang Polaris 2.1, Berapakah perbandingan fluks
kedua bintang tersebut?
a. 2.0
b. 2.512

182
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

c. 5.024
d. 6.31
e. 100

53. Berikut ini yang bukan merupakan keadaan sebuah bintang setelah terjadinya Supernova
adalah
a. Bintang Neutron
b. Katai Putih
c. Katai Hitam
d. Pulsar
e. Black Hole

54. Pada saat kita mengamati bintang ganda gerhana dengan ukuran berbeda, yang terjadi
dengan pengamatan jejak fluks berikut ini yang benar adalah
a. Kecerlangan maksimum saat bintang yang lebih kecil berada di balik bintang yang besar
b. Kecerlangan maksimum saat bintang yang lebih kecil di samping bintang yang lebih
besar
c. Kecerlangan maksimum saat bintang yang lebih kecil berada di depan bintang yang lebih
besar
d. Kecerlangan minimum primer ketika bintang lebih kecil di depan bintang yang lebih
besar
e. Kecerlangan minimum sekunder ketika bintang lebih kecil di samping bintang yang lebih
besar

55. Apa yang terjadi dengan pengamatan panjang gelombang elektromagnetik sebuah bintang
ketika bintik gelap bergerak ke tepi bintang
a. Panjang gelombang yang diterima akan memanjang
b. Panjang gelombang yang diterima akan memendek
c. Panjang gelombang yang diterima akan tetap
d. Bintang akan tampak menjadi lebih merah
e. Panjang gelombang akan tidak terdeteksi

56. Apabila pada jarak 45 000 000 km diameter sudut planet Venus adalah 55”, maka diameter
liniernya adalah….
a. 11 999 km
b. 8.18 x 105 km
c. 25 210 km
d. 2.48 x 109 km
e. 35 999 km

57. Jam berapakah waktu sideris yang bertepatan dengan jam 09.00 pada tanggal 4 Juni 2013?
a. 10.12 Waktu Sideris
b. 16.58 Waktu Sideris
c. 01.58 Waktu Sideris
d. 11.12 Waktu Sideris

183
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

e. 08.58 Waktu Sideris

58. Diantara bintang berikut yang bereda diatas horizon paling cepat jika dilihat di Beijing adalah
a. Capella
b. Polaris
c. Vega
d. Betelgeus
e. Crux

59. Jika diketahui sebuah asteroid memiliki jarak 3.4 SA dengan eksentrisitas 0.16 maka jarak
perihelium asteroid tersebut adalah
a. 2.856
b. 3.56
c. 3.24
d. 2.658
e. 3.944

60. Fenomena Aurora biasanya berkaitan dengan fenomena luar angkasa yaitu
a. Hujan sinar kosmis yang berenergi tinggi
b. Badai electromagnet di magnetosfer bumi
c. Angin matahari yang mengenai bumi
d. Induksi medan magnet antara bumi dan mars
e. Sisa partikel akibat hujan meteor yang jatuh di bumi

184
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

KUNCI JAWABAN SOAL LATIHAN


1. B 31. D
2. B 32. A
3. C 33. C
4. B 34. D
5. B 35. B
6. B 36. C
7. B 37. A
8. B 38. B
9. C 39. A
10. D 40. B
11. D 41. D
12. B 42. B
13. C 43. C
14. E 44. B
15. B 45. C
16. C 46. E
17. B 47. C
18. E 48. D
19. E 49. D
20. D 50. A
21. B 51. D
22. B 52. E
23. B 53. B
24. B 54. B
25. E 55. A
26. A 56. A
27. B 57. C
28. A 58. E
29. C 59. A
30. A 60. B

185
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

DAFTAR PUSTAKA
Anugrahadi, Afiat. 1989. Penuntun Praktikum Geologi Fisik. Jakarta : Universitas Trisakti

Sapiie, Benyamin., dkk. 2009. Geologi Dasar. Bandung : Penerbit ITB

Nichols, Gary. 2009. Sedimentology and Stratigraphy.Chichester : Wiley-Blackwell

Yulianto, dkk. 1995. Diktat Praktikum Petrologi. Yogyakarta : UGM

Turk., dan Thompson. 2002. Introduction to Physical Geology. Cincinati, OH : West

Ahrens, Donald C., .2004. Essentials of Meteorology. Canada : Brooks

Gunawan, Hans.2006. Modul Persiapan Menuju Olimpiade Sains Nasional Bidang :


Astronomi. Jakarta : SMAK 1 BPK Penabur

Setyawan, Wahyu B.2007. Materi Pembekalan Oseanografi – 1st IESO 2007. Yogyakarta .

Anonim. 2008. Diktat Pelatihan Astronomi Tingkat Nasional.

Syahrizal,Eddi 2009. Identifying


Minerals.<http://eddysyahrizal.blogspot.com/search/label/mineralogi >

Sulaiman, Firdaus 2010. Pembagian mineral berdasarkan komposisi kimia <


http://firdaussulaiman.blogspot.com/geology/mineralogi/pembagian mineral >

Galleries.com web sevice 2012. Minerals< http://www.galleries.com/>

Wikipedia.com 2013. Layered Intrusion <http://en.wikipedia.org/wiki/Layered_intrusion>

Cashman 2013. Bowen’s Reaction Series <


http://darkwing.uoregon.edu/~cashman/GEO311/311pages/L10-mafic%20rocks.htm >

Nelsons 2013. Petrology < http://www.tulane.edu/~sanelson/eens212/ >

Madison 2013. Structure of Silicates


<http://nature.berkeley.edu/classes/eps2//wisc/Lect4.html>

Andrean Eka. Proses pembentukan Hujan <http://zonegeologi.blogspot.com/ >

Aan Pambudi. Gambar awan < http://aanpambudi.wordpress.com/>

186
Lembaga Pelatihan OSN ALC Indonesia II www.alcindonesia.com
Diktat Kebumian

187