Anda di halaman 1dari 9

1

Pengertian dan Contoh Etika dalam Organisasi atau Kelompok - Kali ini modulmakalah
akan membahas artikel tentang etika dalam organisasi atau kelompok. Melalui artikel ini
diharapkan dapat memahami dan mampu menjelaskan tentang hal-hal yang terkait dengan
etika dalam organisasi atau kelompok.

Definisi Etika
Etika berasal dari Bahasa Yunani ETHOS (jamak ta etha) yang berarti kebiasaan.Selain etika
dikenal juga Moral atau Moralitas yang dari bahasa Latin MOS (jamak mores) yang juga
berarti kebiasaan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 198) etika mengandung arti:

 Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang baik dan buruk tentang hak dan kewajiban
moral.
 Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.
 Nilai mengenai benar dan salah yang dianutsuatu golongan atau masyarakat.

Dalam bahasa sehari-hari kita sering menyebutnya dengan etiket yang berarti cara bergaul atau
berperilaku yang baik, sering disebut sebagai sopan santun. Etika menggambarkan suatu kode
perilaku yang berkaitan dengan nilai tentang mana yang benar dan mana yang salah yang berlaku
secara obyektif dalam masyarakat.Nilai-nilai perilaku yang ditunjukkan oleh individu dalam
hubungannya dengan individu lain maupun dengan lingkungannya, sangat dipengaruhi oleh nilai-
nilai yang dianut oleh individu tersebut.

Istilah etika banyak dikembangkan dalam organisasi sebagai norma-norma yang mengatur dan
mengukur perilaku profesional seseorang.Kita mengenal saat ini banyak dikembangkan etika yang
berkaitan dengan profesi yang disebut sebagai etika profesi seperti etika kedokteran, etika hukum,
etika jurnalistik, etika guru, dan sebagainya.

Profesi dimaksudkan sebagai pekerjaan yang mengandalkan keahlian dan ketrampilan sesuai
tuntutan dan persyaratan organisasi.Dalam melaksanakan pekerjaannya tentu dengan
komitmen pribadi (moral) yang mendalam atas pekerjaannya tersebut sehingga
mendorongnya untuk bekerja dengan tekun, giat dan serius, tidak sekedar hobby atau asal-
asalan.Hal inilah yang melahirkan tanggung jawab besar atas tugas yang diembannya.

Etika dalam organisasi adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kesediaan seseorang
secara sadar untuk mentaati ketentuan dan norma yang berlaku dalam suatu organisasi. Hal
itu terwujud dalam bentuk bagaimana seseorang melaksanakan tugas dan wewenang sesuai
ketentuan yang berlaku, menjaga informasi perusahaan dengan baik, membangun etos kerja
sehingga dapat meningkatkan kinerja perusahaan, bersikap hormat, jujur dan tanggung jawab.

Dalam organisasi, peran individu sangat penting, karena organisasi terbentuk dengan adanya
sekelompok orang yang saling berinteraksi dalam mewujudkan tujuan tertentu. Interaksi
antarorang atau antarkelompok yang memiliki nilai serta kepentingan dan latar belakang yang
berbeda-beda akan saling mempengaruhi satu sama lain sehingga membentuk suatu nilai baru
2

yang akan melandasi perilaku individu untuk bersama-sama mencapai tujuan organisasi.

Kepentingan dapat diidentikkan dengan kebutuhan.Abraham Maslow membedakan


kebutuhan manusia dalam 5 hirarki (Teori Hirarki Kebutuhan) :

 Fisiologi
 Rasa Aman (security)
 Afiliasi atau akseptansi
 Penghargaan (esteem needs)
 Perwujudan diri (self actualization)

Dengan demikian, etika organisasi dapat pula diartikan sebagai pola sikap dan perilaku yang
diharapkan dari setiap individu dan kelompok dalam organisasi, yang pada akhirnya akan
membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan visi, misi, dan tujuan organisasi.

Ciri organisasi yang ideal yang sekaligus menjadi nilai-nilai perilaku yang harus dianut
oleh setiap anggota organisasi adalah:

 adanya pembagian kerja


 hierarki wewenang yang jelas sesuai struktur organisasi
 prosedur seleksi yang formal
 aturan dan prosedur kerja yang rinci,
 hubungan yang tidak didasarkan atas hubungan pribadi.

Teori birokrasi menempatkan setiap anggota organisasi dalam suatu hierarki struktur yang
jelas, setiap pekerjaan harus diselesaikan berdasarkan prosedur dan aturan kerja yang telah
ditetapkan, dan setiap orang terikat secara ketat dengan aturan-aturan tersebut.Selain itu,
hubungan antarindividu dalam organisasi dan dengan lingkungan di dalam organisasi hanya
dibatasi dalam hubungan pekerjaan sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing.Dalam
model organisasi ini pola perilaku yang berkembang bersifat sangat kaku dan formal.

Pola perilaku atau tindakan yang telah disepakati bersama oleh setiap anggota organisasi akan
mewarnai setiap tindakan individu dalam berinteraksi dengan individu lain atau dengan
lingkungannya. Pola perilaku ini menjadi suatu kebiasaan. Pola kebiasaan ini lama kelamaan
menjadi suatu budaya dalam organisasi yang akan menjadi ciri khas organisasi bersangkutan.

Budaya Organisasi
Secara umum, perusahaan atau organisasi terdiri dari sejumlah orang dengan latar belakang,
kepribadian, emosi, dan ego yang beragam.Hasil interaksi berbagai orang tersebut membentuk
budaya organisasi. Secara sederhana, budaya organisasi dapat didefinisikan sebagai kesatuan dari
orang-orang yang memiliki tujuan, keyakinan (beliefs), dan nilai-nilai yang sama.Dalam perjalanan
waktu, budaya organisasi kemudian mungkin mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan
karakteristik orang-orang di dalam perusahaan.

Budaya organisasi mempengaruhi cara orang dalam organisasi tersebut berperilaku. Budaya
3

tersebut mempengaruhi jalannya organisasi dan seharusnya organisasi dapat mengelola budaya
tersebut dengan baik.Karena budaya memfasilitasi lahirnya komitmen pribadi terhadap sesuatu yang
lebih besar dan lebih penting daripada kepentingan individu. Selain itu budaya organisasi juga
meningkatkan stabilitas sistem sosial karena budaya adalah perekat sosial yang membantu
menyatukan organisasi dengan cara menyediakan standar mengenai apa yang sebaiknya dikatakan
dan dilakukan karyawan.

Budaya menjadi kendala manakala nilai-nilai yang dimiliki bersama tidak sejalan dengan
nilai-nilai yang dapat meningkatkan efektivitas organisasi. Hal ini paling mungkin terjadi bila
lingkungan sebuah organisasi bersifat dinamis. Contohnya budaya organisasi menjadi
hambatan bagi keragaman, yaitu ketika perusahaan merekrut karyawan baru
yang, karena faktor ras, usia, jenis kelamin, ketidakmampuan, atau perbedaan-perbedaan lain.

Budaya sebuah organisasi yang punya kemungkinan paling besar untuk membentuk standar
dan etika tinggi adalah budaya yang tinggi toleransinya terhadap risiko tinggi, rendah, sampai
sedang dalam hal keagresifan, dan fokus pada sarana selain juga hasil. Manajemen dapat
melakukan beberapa hal dalam menciptakan budaya yang lebih etis, misalnya :

1. Karyawan akan melihat perilaku manajemen puncak sebagai acuan standar untuk
menentukan perilaku yang semestinya diambil.
2. Ambiguitas etika dapat diminimalkan dengan menciptakan dan mengkomunikasikan
kode etik organisasi.
3. Pelatihan etis digunakan untuk memperkuat standar, tuntunan organisasi, menjelaskan
praktik yang diperbolehkan dan yang tidak, dan menangani dilema etikayang
mungkin muncul.

Pro Aktif
Bersikap proaktif lebih dari sekedar mengambil inisiatif.Bersikap proaktif berarti bertanggung jawab
atas perilaku kita sendiri, baik di masa lalu, masa kini, maupun masa mendatang.Bersikap proaktif
juga berarti mampu membuat pilihan-pilihan berdasarkan prinsip-prinsip serta nilai-nilai yang
berlaku.

Seseorang yang memiliki sikap proaktif selalu memiliki visi ke depan, memandang masa depan
dengan penuh optimisme, selalu aktif dan memikirkan apa yang dapat mereka lakukan untuk
meningkatkan kualitas kehidupannya. Sikap proaktif cenderung mengarah pada tindakan(action)
yang positif. Tindakan proaktif berbeda dengan tindakan reaktif yang hanya bisa mengumbar
keluhan akan keadaannya.

Stephen R. Covey dalam bukunya “7 Habits of Highly Effective People” menjelaskan ciri-ciri
individu proaktif (dibandingkan dengan individu reaktif), ada 5 (lima) hal, yaitu :

1. Orang proaktif selalu bertanggung jawab. Mereka tidak menyalahkan keadaan, kondisi, atau
pengkondisian untuk perilaku mereka.Perilaku adalah produk dari pilihan sadar, berdasarkan nilai,
dan bukan produk dari suasana hati, conditioning, atau tekanan sosial yang diterima.
4

2. Orang proaktif menfokuskan upaya mereka pada lingkaran pengaruh (mencakup segala hal yang
dapat dipengaruhi). Mereka mengerjakan hal-hal yang terhadapnya mereka dapat perbuat
sesuatu.Sifat dari energi mereka adalah positif, memperluas dan memperbesar, yang menyebabkan
lingkaran pengaruh mereka meningkat.

Home Komunikasi dan Etika Profesi Pengertian dan Contoh Etika dalam Organisasi atau
Kelompok

Pengertian dan Contoh Etika dalam


Organisasi atau Kelompok
Modul Makalah 1/15/2016
Pengertian dan Contoh Etika dalam Organisasi atau Kelompok - Kali ini modulmakalah
akan membahas artikel tentang etika dalam organisasi atau kelompok. Melalui artikel ini
diharapkan dapat memahami dan mampu menjelaskan tentang hal-hal yang terkait dengan
etika dalam organisasi atau kelompok.

Definisi Etika
Etika berasal dari Bahasa Yunani ETHOS (jamak ta etha) yang berarti kebiasaan.Selain etika
dikenal juga Moral atau Moralitas yang dari bahasa Latin MOS (jamak mores) yang juga
berarti kebiasaan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 198) etika mengandung arti:

 Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang baik dan buruk tentang hak dan kewajiban
moral.
 Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.
 Nilai mengenai benar dan salah yang dianutsuatu golongan atau masyarakat.

Dalam bahasa sehari-hari kita sering menyebutnya dengan etiket yang berarti cara bergaul
atau berperilaku yang baik, sering disebut sebagai sopan santun. Etika menggambarkan suatu
kode perilaku yang berkaitan dengan nilai tentang mana yang benar dan mana yang salah
yang berlaku secara obyektif dalam masyarakat.Nilai-nilai perilaku yang ditunjukkan oleh
individu dalam hubungannya dengan individu lain maupun dengan lingkungannya, sangat
dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianut oleh individu tersebut.

Istilah etika banyak dikembangkan dalam organisasi sebagai norma-norma yang mengatur
dan mengukur perilaku profesional seseorang.Kita mengenal saat ini banyak dikembangkan
etika yang berkaitan dengan profesi yang disebut sebagai etika profesi seperti etika
kedokteran, etika hukum, etika jurnalistik, etika guru, dan sebagainya.
5

image source: www.pinterest.com


baca juga: Teori Johari Window Tentang Analisis Konsep Diri Dalam Komunikasi

Profesi dimaksudkan sebagai pekerjaan yang mengandalkan keahlian dan ketrampilan sesuai
tuntutan dan persyaratan organisasi.Dalam melaksanakan pekerjaannya tentu dengan
komitmen pribadi (moral) yang mendalam atas pekerjaannya tersebut sehingga
mendorongnya untuk bekerja dengan tekun, giat dan serius, tidak sekedar hobby atau asal-
asalan.Hal inilah yang melahirkan tanggung jawab besar atas tugas yang diembannya.

Etika dalam organisasi adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kesediaan seseorang
secara sadar untuk mentaati ketentuan dan norma yang berlaku dalam suatu organisasi. Hal
itu terwujud dalam bentuk bagaimana seseorang melaksanakan tugas dan wewenang sesuai
ketentuan yang berlaku, menjaga informasi perusahaan dengan baik, membangun etos kerja
sehingga dapat meningkatkan kinerja perusahaan, bersikap hormat, jujur dan tanggung jawab.

Dalam organisasi, peran individu sangat penting, karena organisasi terbentuk dengan adanya
sekelompok orang yang saling berinteraksi dalam mewujudkan tujuan tertentu. Interaksi
antarorang atau antarkelompok yang memiliki nilai serta kepentingan dan latar belakang yang
berbeda-beda akan saling mempengaruhi satu sama lain sehingga membentuk suatu nilai baru
yang akan melandasi perilaku individu untuk bersama-sama mencapai tujuan organisasi.

Kepentingan dapat diidentikkan dengan kebutuhan.Abraham Maslow membedakan


kebutuhan manusia dalam 5 hirarki (Teori Hirarki Kebutuhan) :

 Fisiologi
 Rasa Aman (security)
 Afiliasi atau akseptansi
 Penghargaan (esteem needs)
 Perwujudan diri (self actualization)

Dimensi Materil-Spiritual dari Kebutuhan

Dengan demikian, etika organisasi dapat pula diartikan sebagai pola sikap dan perilaku yang
diharapkan dari setiap individu dan kelompok dalam organisasi, yang pada akhirnya akan
membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan visi, misi, dan tujuan organisasi.

Ciri organisasi yang ideal yang sekaligus menjadi nilai-nilai perilaku yang harus dianut
oleh setiap anggota organisasi adalah:
6

 adanya pembagian kerja


 hierarki wewenang yang jelas sesuai struktur organisasi
 prosedur seleksi yang formal
 aturan dan prosedur kerja yang rinci,
 hubungan yang tidak didasarkan atas hubungan pribadi.

Teori birokrasi menempatkan setiap anggota organisasi dalam suatu hierarki struktur yang
jelas, setiap pekerjaan harus diselesaikan berdasarkan prosedur dan aturan kerja yang telah
ditetapkan, dan setiap orang terikat secara ketat dengan aturan-aturan tersebut.Selain itu,
hubungan antarindividu dalam organisasi dan dengan lingkungan di dalam organisasi hanya
dibatasi dalam hubungan pekerjaan sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing.Dalam
model organisasi ini pola perilaku yang berkembang bersifat sangat kaku dan formal.

Pola perilaku atau tindakan yang telah disepakati bersama oleh setiap anggota organisasi akan
mewarnai setiap tindakan individu dalam berinteraksi dengan individu lain atau dengan
lingkungannya. Pola perilaku ini menjadi suatu kebiasaan. Pola kebiasaan ini lama kelamaan
menjadi suatu budaya dalam organisasi yang akan menjadi ciri khas organisasi bersangkutan.

Budaya Organisasi
Secara umum, perusahaan atau organisasi terdiri dari sejumlah orang dengan latar belakang,
kepribadian, emosi, dan ego yang beragam.Hasil interaksi berbagai orang tersebut
membentuk budaya organisasi. Secara sederhana, budaya organisasi dapat didefinisikan
sebagai kesatuan dari orang-orang yang memiliki tujuan, keyakinan (beliefs), dan nilai-nilai
yang sama.Dalam perjalanan waktu, budaya organisasi kemudian mungkin mengalami
perubahan-perubahan sesuai dengan karakteristik orang-orang di dalam perusahaan.

Budaya organisasi mempengaruhi cara orang dalam organisasi tersebut berperilaku. Budaya
tersebut mempengaruhi jalannya organisasi dan seharusnya organisasi dapat mengelola
budaya tersebut dengan baik.Karena budaya memfasilitasi lahirnya komitmen pribadi
terhadap sesuatu yang lebih besar dan lebih penting daripada kepentingan individu. Selain itu
budaya organisasi juga meningkatkan stabilitas sistem sosial karena budaya adalah perekat
sosial yang membantu menyatukan organisasi dengan cara menyediakan standar mengenai
apa yang sebaiknya dikatakan dan dilakukan karyawan.

Budaya menjadi kendala manakala nilai-nilai yang dimiliki bersama tidak sejalan dengan
nilai-nilai yang dapat meningkatkan efektivitas organisasi. Hal ini paling mungkin terjadi bila
lingkungan sebuah organisasi bersifat dinamis. Contohnya budaya organisasi menjadi
hambatan bagi keragaman, yaitu ketika perusahaan merekrut karyawan baru
yang, karena faktor ras, usia, jenis kelamin, ketidakmampuan, atau perbedaan-perbedaan lain.

Budaya sebuah organisasi yang punya kemungkinan paling besar untuk membentuk standar
dan etika tinggi adalah budaya yang tinggi toleransinya terhadap risiko tinggi, rendah, sampai
sedang dalam hal keagresifan, dan fokus pada sarana selain juga hasil. Manajemen dapat
melakukan beberapa hal dalam menciptakan budaya yang lebih etis, misalnya :

1. Karyawan akan melihat perilaku manajemen puncak sebagai acuan standar untuk
menentukan perilaku yang semestinya diambil.
7

2. Ambiguitas etika dapat diminimalkan dengan menciptakan dan mengkomunikasikan


kode etik organisasi.
3. Pelatihan etis digunakan untuk memperkuat standar, tuntunan organisasi, menjelaskan
praktik yang diperbolehkan dan yang tidak, dan menangani dilema etikayang
mungkin muncul.

Pro Aktif
Bersikap proaktif lebih dari sekedar mengambil inisiatif.Bersikap proaktif berarti
bertanggung jawab atas perilaku kita sendiri, baik di masa lalu, masa kini, maupun masa
mendatang.Bersikap proaktif juga berarti mampu membuat pilihan-pilihan berdasarkan
prinsip-prinsip serta nilai-nilai yang berlaku.

Seseorang yang memiliki sikap proaktif selalu memiliki visi ke depan, memandang masa
depan dengan penuh optimisme, selalu aktif dan memikirkan apa yang dapat mereka lakukan
untuk meningkatkan kualitas kehidupannya. Sikap proaktif cenderung mengarah pada
tindakan(action) yang positif. Tindakan proaktif berbeda dengan tindakan reaktif yang hanya
bisa mengumbar keluhan akan keadaannya.

Stephen R. Covey dalam bukunya “7 Habits of Highly Effective People” menjelaskan


ciri-ciri individu proaktif (dibandingkan dengan individu reaktif), ada 5 (lima) hal,
yaitu :

1. Orang proaktif selalu bertanggung jawab. Mereka tidak menyalahkan keadaan, kondisi,
atau pengkondisian untuk perilaku mereka.Perilaku adalah produk dari pilihan sadar,
berdasarkan nilai, dan bukan produk dari suasana hati, conditioning, atau tekanan sosial yang
diterima.

2. Orang proaktif menfokuskan upaya mereka pada lingkaran pengaruh (mencakup segala hal
yang dapat dipengaruhi). Mereka mengerjakan hal-hal yang terhadapnya mereka dapat
perbuat sesuatu.Sifat dari energi mereka adalah positif, memperluas dan memperbesar, yang
menyebabkan lingkaran pengaruh mereka meningkat.

3. Berfokus pada lingkaran pengaruh, orang proaktif bekerja dari dalam ke luar (in side –
out), yaitu berusaha memulai perubahan dengan mengubah dirinya lebih dahulu, bahkan dari
yang paling dalam dari dirinya, yaitu dengan memeriksa kebenaran paradigma dan persepsi-
persepsinya.

4. Orang proaktif hidup berpusat pada prinsip (principle centered) kemudian ia


menerjemahkan prinsip-prinsip itu kedalam seperangkat nilai-nilai (values) yang telah
dipilihnya dengan sadar. Berdasarkan nilai-nilai itulah ia mengarahkan pilihan sikap dan
perilakunya.

5. Orang proaktif mengembangkan dan menggunakan “empat anugrah unik manusianya”


secara optimal. Empat anugrah itu adalah sifat-sifat unik manusia yang membuatnya berbeda
dengan makhluk hidup lainnya. Covey menyebutkan “four unique human gifts” itu adalah :

 Self Awareness (kesadaran diri)


 Conscience (hati nurani)
8

 Creative Imagination (imajinasi kreatif)


 Independent Will (kebebasan kehendak)

Dahulukan Yang Utama


Mendahulukan yang utama adalah bagaimana menentukan prioritas dan mengatur waktu
dengan baik, sehingga yang penting didahulukan dan sebaiknya tidak ditunda dalam
melaksanakannya.Karena dalam lingkungan organisasi, didalamnya terdapat banyak hal yang
harus diselesaikan.Maka sudah seharusnya anggota organisasi tersebut dapat menentukan
skala prioritas, yang mana yang utama dan perlu didahulukan.

Manajemen yang efektif adalah mendahulukan yang utama. Sementara kepemimpinan yang
memutuskan apa saja ‘hal-hal yang utama” itu. Manajemenlah yang mendahulukan hal-hal
tersebut hari demi hari, setiap waktu.Manajemen adalah disiplin dalam
melaksanakannya.Karena manajemen mengikuti kepemimpinan.

Mendahulukan yang utama adalah penciptaan kedua secara fisik.Mendahulukan yang utama
artinya mengorganisasikan dan melaksanakan, apa-apa yang telah diciptakan secara mental
(tujuan Anda, visi Anda, nilai-nilai Anda, dan prioritas-prioritas Anda).Hal-hal sekunder
tidak didahulukan.Hal-hal utama tidak dikebelakangkan. Individu dan organisasi
memfokuskan perhatiannya pada apa yang paling penting, entah mendesak entah tidak.
Intinya adalah memastikan diutamakannya hal yang utama.

Win-Win Solution
Berpikir menang/menang adalah cara berpikir yang berusaha mencapai keuntungan bersama,
dan didasarkan pada sikap saling menghormati dalam semua interaksi. Berpikir
menang/menang artinya tidak berpikir egois (menang/kalah).Dalam kehidupan bekerja
maupun keluarga, para anggotanya berpikir secara saling tergantung – dengan istilah “kita”,
bukannya “aku”.Berpikir menang/menang mendorong penyelesaian konflik dan membantu
masing-masing individu untuk mencari solusi-solusi yang sama-sama
menguntungkan.Berpikir menang/menang artinya berbagi informasi, kekuasaan, pengakuan,
dan imbalan.

Hal ini adalah landasan untuk bisa bergaul dengan baik dengan orang lain tanpa ada yang
merasa dirugikan. Dimulai dengan keyakinan bahwa kita semua adalah sama, tidak ada yang
lebih rendah atau lebih unggul dari lainnya.

Sikap menang-kalah itu banyak cirinya, antara lain :

 Menggunakan orang lain, baik secara emosional maupun fisik demi tujuanmu sendiri
yang egois.
 Berusaha maju atas pengorbanan orang lain
 Menjelek-jelekkan orang lain (gossip)
 Selalu memaksakan kehendak tanpa memusingkan perasaan orang lain.
 Menjadi cemburu atau iri jika sesuatu yang baik terjadi pada orang lain

Sikap menang-kalah seperti contoh tersebut sangatlah tidak baik dan tidak sesuai dengan
9

etika dalam organisasi bahkan dapat memicu konflik antar anggota organisasi.Sebaiknya hal
tersebut kita hindari.

Mengerti Dahulu Baru Dimengerti


Kalau kita mendengarkan dengan seksama, untuk memahami orang lain, ketimbang untuk
menanggapinya, kita memulai komunikasi sejati dan membangun hubungan. Kalau orang lain
merasa dipahami, mereka merasa ditegaskan dan dihargai, mau membuka diri, sehingga
peluang untuk berbicara secara terbuka serta dipahami terjadi lebih alami dan mudah.
Berusaha memahami ini menuntut kemurahan; berusaha dipahami menuntut
keberanian.Keefektifan terletak dalam keseimbangan di antara keduanya.

Kunci komunikasi dan punya kuasa serta pengaruh terhadap orang lain bisa dirangkum dalam
satu kalimat : berusahalah untuk memahami terlebih dahulu, baru dipahami. Dengan kata lain
dengarkanlah dulu baru berbicara.Kita bisa memahami permasalahan dari sudut pandang
lawan bicara kita dan menunjukkan peduli hanya dengan meluangkan waktu untuk
mendengarkan tanpa menghakimi atau memberi nasehat.

Wujudkan Sinergi
Sinergi adalah soal menghasilkan alternatif ketiga – bukan caraku, bukan caramu, melainkan
cara ketiga yang lebih baik ketimbang cara kita masing-masing. Memanfaatkan perbedaan-
perbedaan yang ada dalam mengatasi masalah dan memanfaatkan peluang.

Sinergi akan tercapai jika dua orang atau lebih bekerjasama untuk menciptakan solusi
yang lebih baik ketimbang kalau bekerja sendirian. Dapat dikatakan, sinergi adalah :

 Bekerja dengan memanfaatkan perbedaan


 Kerjasama (teamwork)
 Keterbukaan pikiran
 Menemukan cara-cara baru yang lebih baik

Asah Gergaji
Mengasah gergaji adalah soal memperbaharui diri terus-menerus dalam keempat bidang
kehidupan dasar: fisik, sosial/emosional, mental, dan rohaniah. Kebiasaan inilah yang
meningkatkan kapasitas kita utnuk menerapkan kebiasaan-kebiasaan efektif lainnya.Bagi
sebuah organisasi, kebiasaan ini menggalakkan visi, pembaharuan, perbaikan terus-menerus,
kewaspadaan terhadap kelelahan atau kemerosotan moral, dan memposisikan organisasinya
di jalan pertumbuhan yang baru.