Anda di halaman 1dari 12

TEKNOLOGI SERAT

PEMBUATAN SORBITOL DARI BAHAN BAKU UBI KAYU

Disusun oleh:
Annisa Novita Nurisma (131424005)
3-TKPB

Dosen :
Ir. Mukhtar Ghozali, M.Sc.

TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH


POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2017
TINJAUAN PUSTAKA

Sorbitol pertama kali ditemukan oleh ahli kimia dari Perancis yaitu Joseph
Boosingault pada tahun 1872 dari biji tanaman bunga ros. Proses hidrogenasi gula menjadi
sorbitol mulai berkembang pada tahun 1930. Pada tahun 1975 produsen utama sorbitol
adalah Roguette Freres dari Perancis. Secara alami sorbitol juga dapat dihasilkan dari
berbagai jenis buah. Di Indonesia, pertama kali sorbitol didirikan pada tahun 1983 yaitu
PT. Sorini yang berlokasi di desa Ngerong, Gempol Pandaan (Pasundan) Jawa Timur.
Sekarang ini sorbitol secara komersial diproduksi dari hidrogenasi glukosa dan tersedia
dalam bentuk kristal maupun cairan.
Sorbitol adalah senyawa monosakarida polyhidric alkohol. Nama kimia lain dari
sorbitol adalah hexitol atau glusitol dengan rumus kimia C6H14O6. Struktur molekulnya mirip
dengan struktur molekul glukosa hanya yang berbeda gugus aldehid pada glukosa diganti
menjadi gugus alkohol. Sorbitol pertama kali ditemukan dari juice Ash berry (Sorbus
auncuparia L) di tahun 1872. Setelah itu, sorbitol banyak ditemukan pada buah-buahan
seperti apel, plums, pears, cherris, kurma, peaches, dan apricots.
Zat ini berupa bubuk kristal berwarna putih yang higroskopis, tidak berbau dan berasa
manis, sorbitol larut dalam air, gliserol, propylene glycol, serta sedikit larut dalam metanol,
etanol, asam asetat, phenol dan acetamida. Namun tidak larut hampir dalam semua pelarut
organik.
Sorbitol dapat dibuat dari glukosa dengan proses hidrogenasi katalitik bertekanan
tinggi. Sorbitol umumnya digunakan sebagai bahan baku industri barang konsumsi dan
makanan seperti pasta gigi, permen, kosmetik, farmasi, vitamin C, dan termasuk industri
textil dan kulit (Othmer vol 1, 1960).
Berikut ini beberapa kegunaan Sorbitol untuk industri :
A. Bidang makanan
Ditambahkan pada makanan sebagai pemanis dan untuk memberikan
ketahanan mutu dasar yang dimiliki makanan tersebut selama dalam proses
penyimpanan. Bagi penderita diabetes, sorbitol dapat dipakai sebagai bahan pemanis
pengganti glukosa, fruktosa, maltosa, dan sucrosa. Untuk produk makanan dan
minuman diet, sorbitol memberikan rasa manis yang sejuk di mulut.
B. Bidang Farmasi
Sorbitol merupakan bahan baku vitamin C dimana dibuat dengan proses
fermentasi dengan bakteri Bacillus suboxidant. Dalam hal lain, sorbitol dapat
digunakan sebagai pengabsorpsi beberapa mineral seperti Cs, Sr, F dan vitamin B12.
Pada konsentrasi tinggi sorbitol dapat sebagai stabilisator dari vitamin dan antibiotik.
C. Bidang Kosmetik dan pasta gigi
Penggunaan sorbitol sangat luas di bidang kosmetik, diantaranya digunakan
sebagai pelembab berbentuk cream untuk mencegah penguapan air dan dapat
memperlicin kulit. Untuk pasta gigi, sorbitol dapat dipergunakan sebagai penyegar
atau obat pencuci mulut yang dapat mencegah kerusakan gigi dan memperlambat
terbentuknya karies gigi.
D. Industri Kimia
Sorbitol banyak dibutuhkan sebagai bahan baku surfaktan seperti
polyoxyethylene, Sorbitan fatty acid Esters dan Sorbitan fatty Acid Esters. Pada
industri Polyurethane, sorbitol bersama dengan senyawa polyhidric alcohol lain
seperti glycerol merupakan salah satu komposisi utama alkyl resin dan rigid
polyurethane foams. Pada industri textil, kulit, semir sepatu dan kertas, sorbitol
digunakan sebagai softener dan stabilisator warna. Sedangkan pada industri rokok
sorbitol digunakan sebagai stabilisator kelembaban, penambah aroma dan
menambah rasa sejuk. Aplikasi lain, sorbitol digunakan sebagai bahan baku
pembuatan vitamin C. Negara-negara barat mengaplikasikan sorbitol sebagai bahan
baku pembuatan vitamin C.
DESKRIPSI PROSES

A. Pemilihan Proses
Proses pembuatan sorbitol bisa dilakukan dengan berbagai cara dan bahan baku yang
digunakan juga bermacam-macam, dengan kondisi operasi dan konversi yang berbeda.
Macam-macam proses pembuatan sorbitol dari sirup glukosa:
1. Proses reduksi elektrolitik.
2. Proses hidrogenasi katalitik.

1. Proses reduksi elektrolitik


Bagian utama dari proses ini adalah ”elektrolitik cell” yang merupakan tempat
terjadinya reduksi D-glukosa menjadi sorbitol. Biasanya pada bagian ini dilengkapi
dengan sumber arus yang tidak berfluktuasi. Elektroda yang dipakai adalah amalgam
sebagai katoda dan timbal sebagai anoda, sedangkan larutan yang dipakai NaOH dan
Na2SO4. Pada prinsipnya glukosa akan direduksi dengan H2 sebagai hasil proses
elektrolisis diatas. Dari proses diatas akan dihasilkan sorbitol.(Faith,sfour edition,
1975)
2. Proses hidrogenasi katalitik
Proses pembuatan sorbitol dengan hidrogenasi katalitik dilakukan dengan cara
mereaksikan dextrosa dan gas hirogen bertekanan tinggi dengan menggunakan katalis
Raney nickel dalam reaktor, sehingga kontak yang terjadi semakin baik.

Dari proses yang telah disebutkan diatas, proses hidrogenasi katalitik untuk
pembuatan sorbitol dianggap lebih menguntungkan dengan pertimbangan-pertimbangan
sebagai berikut:
Parameter Proses
Reduksi Elektrolitik Hidrogenasi Katalitik
1. Segi proses
• Bahan baku Glukosa Glukosa
• Konversi reaksi Rendah Tinggi
Dalam proses reduksi Dalam proses
dibutuhkan waktu yang hidrogenasi waktu yang
lama untuk mencapai dibutuhkan untuk
produk yang diinginkan. mencapai proses yang
diinginkan lebih cepat.
• Kualitas Rendah Tinggi
produk Untuk bahan baku dari Bila dibandingkan
sirupglukosa produk dengan proses reduksi,
sorbitol yang dihasilkan produk sorbitol yang
kurang begitu bagus. dihasilkan lebih bagus.
Harga dari electrode sangat Bahan tambahan seperti
2. Segi ekonomi mahal. gas hydrogen dan katalis
nikel mudah dijangkau
dan murah serta efektif.

B. Deskripsi Proses Hidrogenasi Katalitik


Proses pembuatan sorbitol dengan hidrogenasi katalitik dilakukan dengan
mereaksikan larutan dekstrosa dan gas hidrogen bertekanan tinggi dengan menggunakan
katalis nikel di dalam reaktor. Gas hidrogen masuk dari bagian bawah reaktor secara bubbling
dan larutan dekstrosa diumpankan dari bagian atas reaktor, sehingga kontak yang terjadi
semakin baik.
Proses ini menghasilkan overall yield 95-99%. Secara keseluruhan proses
pembuatannya ditunjukkan pada Gambar 1.
Gambar 1. Proses pembuatan sorbitol dengan proses hidrogenasi katalitik
Proses pembuatan sorbitol dengan hidrogenasi katalitik ini terdiri dari beberapa unit
proses yaitu :
1. Glucose Production Unit
2. Catalytic Hydrogenation Unit
3. Finishing Unit

1. Glucose Production Unit


Pada tahap ini bahan baku mengalami proses gelatinasi. Ubi kayu yang sudah
dikeringkan sampai kadar airnya 7 – 8 % (w/w) dan dihaluskan sampai ukuran 200 mesh
diangkut menggunakan pneumatic conveyor menuju mixing tank. Pada proses ini, serbuk ubi
kayu dicampur dengan CaCl2 yang telah dilarutkan menggunakan larutan pengencer air
sehingga menghasilkan suspense pati 35%. Larutan CaCl2 berasal dari tangki penyimpangan
dengan konsentrasi 400 ppm. Fungsi penambahan CaCl2 adalah untuk menjaga stabilitas
enzim. Pada saat enzim memiliki kestabilan yang tinggi diharapkan inaktivasi enzim aka
membutuhkan waktu yang lama walaupun dalam keadaan suhu tinggi. Kondisi tangki
pencampuran adalah pada suhu 30oC dan tekanan 1 atm. Waktu tinggal di dalam tangki
mixing adalah 15 menit.
Suspensi pati kemudian dipompa menuju jet cooker. Proses ini bertujuan untuk
membuat suspense pati larut sempurna dengan menginjeksikan steam jenuh ke dalam aliran.
Selain itu, jet cooker juga bertujuan untuk menaikkan suhu suspense pati menjadi 98oC
menuju reaktor liquidifikasi.
1.1.Proses Liquidifikasi
Suspensi pati dimasukkan ke dalam reaktor liquifkasi dengan tujuan untuk memecah
rantai pati yang telah tergelatinasi menjadi dekstrin, maltosa dan dekstrosa. Tepung ubi
kayu biasanya mengandung 80% amilosa dan 20% amilopektin. Ikatan α-1,4 dalam
amilosa dan amilopektin yang terdapat di dalam pati dihidrolisa oleh α amylase sehingga
dapat meningkatkan harga DE (dextrose ekuivalen). Pada proses ini terbentuk larutan
dekstrin.
Setelah proses gelatinasi selesai, suspense pati menuju ke reaktor. Reaktor ini
dilengkapi dengan coil pendingin yang berfungsi menjaga suhu reaktor tetap pada suhu
95oC. Dalam reaktor, suspensi pati ditambahkan enzim α-amilase dengan dosis 0,7L/
metric ton dry starch. Kondisi operasi pada reaktor adalah 95oC, tekanan atmosferik dan
pH = 6. Waktu tinggal dalam reaktor ini selama 3 jam.
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
α-amilase
(C6H10O5)1000 + 500 H2O 25(C6H10O5)10 + 250(C12H22O11) + 250(C6H12O6)
Pati air dekstrin maltose dekstrosa
Dari reaktor, larutan dekstrn dipompa ke dalam tangki penampung yang kemudian
dilewatkan cooler dengan suhu keluaran 60oC yang kemudian diumpankan ke reaktor
sakarifikasi. Proses liquidifikasi ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Proses Liquidifikasi


1.2.Proses Sakarifikasi
Larutan dekstrin dimasukkan ke dalam reaktor sakarifikasi dengan menggunakan
pompa. Reaktor sakarifikasi berfungsi mengkonversi dekstrin menjadi dekstrosa oleh
enzim glukoamilase (amiloglukosidase). Dalam reaktor ini ditambahkan HCl 0,01 M
yang bertujuan untuk menurunkan pH menjadi 4,2. Suhu operasi dalam reaktor ini adalah
60oC. Dosis enzim yang ditambahkan yaitu 0,7L/metric ton dry matter. Reaktor
dilengkapo dengan coil untuk menjaga suhu reaktor. Proses sakarifikasi berlangsung
selama 72 jam dan kandungan glukosa dalam larutan tersebut adalah 50% yang kemudian
disebut sirup glukosa. Reaksi yang terkjadi adalah sebagai berikut :
 Reaksi I
glukoamilase
2(C6H10O5)1000 + 1000H2O 1000(C12H22O11)
pati maltose
 Reaksi II
glukoamilase
(C6H10O5)1000 + 1000H2O 1000(C6H12O6)
pati dekstrosa
 Reaksi III
glukoamilase
(C6H10O5)10 + 10H2O 10(C6H12O6)
dekstrin dekstrosa
Setelah dari reaktor sakarifikasi, larutan dekstrosa (sirup glukosa) dipompa menuju
rotary vacuum filter untuk proses purifikasi glukosa. Proses sakarifikasi ditunjukkan pada
Gambar 3.

Gambar 3. Unit Proses Sakarifikasi


1.3.Proses Pemurnian Glukosa
Sirup glukosa masuk ke rotary vacuum fliter untuk memisahkan padatan yang ada di
dalam larutan dekstrosa. Padatan tersebut berupa serat. Air pencuci berupa filtrate hasil
penyaringan rotary vacuum filter sebelumnya dengan perbandingan 15% dari berat filtrat.
Selanjutnya sirup glukosa dipompa menuju kation exchanger untuk menukar ion negative
yang berasal dari HCl. HCl harus dihilangkan sebelum masuk ke evaporator karena
bersifat korosif dan menganggu proses pemurnia sirup glukosa.
Sirup glukosa dipompa menuju preheater sebelum masuk ke evaporator,suhu masukan
evaporatr adalah 60oC dan keluaran evaporator pada suhu70oC. Evaporator bertekanan
148,9 mmHg. Diharapkan keluaran evaporator ini adalah sirup glukosa dengan
konsentrasi 50% glukosa. Proses pemurnian glukosa ditunjukkan pada Gambar 4

Gambar 4. Proses Pemurnian Glukosa


2. Catalytic Hydrogen Unit
Unit ini merupakan unit yang paling menentukan dari keseluruhan proses produksi
diaman terjadi reaksi antara sirup glukosa dengan gas H2 menghasilkan produk utama sorbitol
dan produk samping malitol. Reaksi ini dinamakan reaksi hidrogenasi katalitik karena dalam
proses yang terjadi di reator ini, menggunakan bantuan katalis Raney Nickel. Sirup glukosa
50% dari evaporator dipompa menuju preheater kemudian diumpankan ke dalam reaktor
pada suhu 130oC. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
 Reaksi I :
C6H12O6 + H2 C6H14O6
dekstrosa sorbitol
 Reaksi II :
C12H22O11 + H2 C12H24O11
maltosa maltitol
Kondisi operasi pada reaktor ini adalah pada temperature 130oC, tekanan 70 atm, serta
waktu tinggal di dalam reaktor 3 jam dengan penambahan H2 bertekanan 175 atm dan katalis
Raney Nickel 2% dari glukosa yang masuk. Sisa gas H2 yang keluar reaktor dikompres
dengan kompresor untuk dikembalikan ke dalam penampung. Produk keluar menuju tangki
sehingga suhunya dijaga pada 70oC dan kemudian dipompa menuju tangki adsorbs untuk
purifikasi sorbitol.

3. Finishing Unit
Pada unit ini terjadi beberapa proses pemurnian yaitu:
3.1.Adsorpsi oleh Karbon Aktif
Tujuan dari adsorbs oleh karbon aktif ini adalah untuk menyerap warna yang
ditimbulkan dari proses sebelumnya, sehingga diperoleh sorbitol yang lebih jernih.
Produk dari tangki dipompa menuju tangki adsorpsi dengan penambahan karbon aktif.
karbon aktif berbentuk serbuk dengan ukuran 125 mesh dengan massa jenis 0,2-0,6
gram/ml. Karbon aktif yaitu 10-15 kg/1000 kg sorbitol. Kondisi operasi pada alat ini
yaitu pada tekanan atmosferik dengan suhu 70oC. Waktu tinggal dalam tangki adsorpsi ini
adalah 1 jam.
3.2.Filtrasi
Tujuan dari filtrasi adalah untuk memisahkan padatan berupa Raney Nickel dan
karbon aktif yang terbawa dari proses sebelumnya. Karena zat yang akan dipisahkan
berupa padatan dapat menggunkan rotary vacuum filter. Cake dari rotary vacuum filter
akan diolan untuk dipakai kembali dengan perlakuan lanjutan dengan memisahkan antara
katalis dan karbon aktif. Karbon aktif dpat dibuang sebagai limbah dan katalis Raney
Nickel dapat digunakan kembali. Sedangkan filtrate yang berupa sorbitol dan L-malitol
masuk ke dalam kation exchanger menggunakan pompa. Waktu yang dibutuhkan untuk
prose filtrasi ini adalah 3 jam.
3.3.Kation Exchanger
Tujuan dari kation exchanger adlah menghilangkan ion-ion positif yang terkandung
dalam larutan seperti Al2O3 yang terbawa oleh katalis Raney Nickel.
3.4.Evaporasi
Larutan sorbitol dari kation exchanger dipompa menuju evaporator. Suhu masuk
evaporator adalah 70oC. Evaporator bertekanan 233,7mmHg. Tujuand ari evaporasi
adalah untuk memekatkan produk sorbitol dari 50% menjadi 70%. Proses pemurnian
sorbitol ditunjukkan pada Gambar 5.

Gambar 5. Proses Pemurnian Sorbitol


Daftar Pustaka

Faith, Keyes and Clark’s. 1975. Industrial Chemical. New Jersey : A Willey – Interscience
Publication.
Hellen Kartika Dewi, Debra Arlin Puspasari, Arief Widjaja.2008. Desain Pabrik Sorbitol dari
Tepung Tapioka dengan Hidrogenasi Katalitik. Institut Teknologi Sepuluh November
: Surabaya.
Peter, M.S. and Timmerhaus, K.D. 1991. Plant Design and Economic for Chemical Engineers
4th Edition. New York : McGraw-Hill, Inc.
Rangga Sonifa. 2017. Prarancangan Pabrik Sorbitol dengan Proses Hidrogenasi Katalitik
dengan Kapasitas Produksi 55.000 Ton/Tahun. Universitas Sumatera Utara.
Winata Adie Wicaksono. 2011. Pabrik Kristal Dekstrosa Dari Pati Ubi Kayu Dengan Proses
Hidrogenasi Katalitik. Universitas Pembangunan Nasional “VETERAN” : Jawa
Timur.

Anda mungkin juga menyukai