Anda di halaman 1dari 28

BAB I

ISTILAH-ISTILAH PERPAJAKAN

Dalam membahas seluruh ketentuan umum perpajakan yang diatur berdasarkan Undang-
Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009
Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4999), selanjutnya
disebut Undang-Undang KUP, beberapa istilah yang akan sering kita temui dan harus
dipahami dalam materi pelatihan ini adalah sebagai berikut:
1. Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau
badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan
imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat.
2. Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong
pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
3. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang
melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas,
perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau badan usaha
milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi, dana
pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik,
atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi
kolektif dan bentuk usaha tetap.
4. Pengusaha adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apa pun yang dalam kegiatan
usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang, mengekspor barang,
melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar daerah
pabean, melakukan usaha jasa, atau memanfaatkan jasa dari luar daerah pabean.
5. Pengusaha Kena Pajak adalah Pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena
Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenai pajak berdasarkan Undang-
Undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya.
6. Nomor Pokok Wajib Pajak adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai
sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri
atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.
7. Masa Pajak adalah jangka waktu yang menjadi dasar bagi Wajib Pajak untuk
menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak yang terutang dalam suatu jangka waktu
tertentu sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang ini.
8. Tahun Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) tahun kalender kecuali bila Wajib Pajak
menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender.
9. Bagian Tahun Pajak adalah bagian dari jangka waktu 1 (satu) Tahun Pajak.
10. Pajak yang terutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu saat, dalam Masa
Pajak, dalam Tahun Pajak, atau dalam Bagian Tahun Pajak sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan.
11. Surat Pemberitahuan adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan
penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak,
dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan.

1
12. Surat Pemberitahuan Masa adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu Masa Pajak.
13. Surat Pemberitahuan Tahunan adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu Tahun Pajak
atau Bagian Tahun Pajak.
14. Surat Setoran Pajak adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak yang telah
dilakukan dengan menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke kas
negara melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan.
15. Surat ketetapan pajak adalah surat ketetapan yang meliputi Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak
Nihil, atau Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar.
16. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar adalah surat ketetapan pajak yang menentukan
besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran
pokok pajak, besarnya sanksi administrasi, dan jumlah pajak yang masih harus dibayar.
17. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan adalah surat ketetapan pajak yang
menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan.
18. Surat Ketetapan Pajak Nihil adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah
pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan
tidak ada kredit pajak.
19. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar adalah surat ketetapan pajak yang menentukan
jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada
pajak yang terutang atau seharusnya tidak terutang.
20. Surat Tagihan Pajak adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi
administrasi berupa bunga dan/atau denda.
21. Surat Paksa adalah surat perintah membayar utang pajak dan biaya penagihan pajak.
22. Kredit Pajak untuk Pajak Penghasilan adalah pajak yang dibayar sendiri oleh Wajib
Pajak ditambah dengan pokok pajak yang terutang dalam Surat Tagihan Pajak karena
Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar, ditambah dengan
pajak yang dipotong atau dipungut, ditambah dengan pajak atas penghasilan yang
dibayar atau terutang di luar negeri, dikurangi dengan pengembalian pendahuluan
kelebihan pajak, yang dikurangkan dari pajak yang terutang.
23. Kredit Pajak untuk Pajak Pertambahan Nilai adalah Pajak Masukan yang dapat
dikreditkan setelah dikurangi dengan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak atau
setelah dikurangi dengan pajak yang telah dikompensasikan, yang dikurangkan dari
pajak yang terutang.
24. Pekerjaan bebas adalah pekerjaan yang dilakukan oleh orang pribadi yang mempunyai
keahlian khusus sebagai usaha untuk memperoleh penghasilan yang tidak terikat oleh
suatu hubungan kerja.
25. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan,
dan/atau bukti yang dilaksanakan secara objektif dan profesional berdasarkan suatu
standar pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan
dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan.
26. Bukti Permulaan adalah keadaan, perbuatan, dan/atau bukti berupa keterangan, tulisan,
atau benda yang dapat memberikan petunjuk adanya dugaan kuat bahwa sedang atau
telah terjadi suatu tindak pidana di bidang perpajakan yang dilakukan oleh siapa saja
yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara.
27. Pemeriksaan Bukti Permulaan adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk
mendapatkan bukti permulaan tentang adanya dugaan telah terjadi tindak pidana di
bidang perpajakan.

2
28. Penanggung Pajak adalah orang pribadi atau badan yang bertanggung jawab atas
pembayaran pajak, termasuk wakil yang menjalankan hak dan memenuhi kewajiban
Wajib Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
29. Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk
mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal,
penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa,
yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca, dan laporan laba rugi
untuk periode Tahun Pajak tersebut.
30. Penelitian adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menilai ke!engkapan
pengisian Surat Pemberitahuan dan lampiran-lampirannya termasuk penilaian tentang
kebenaran penulisan dan penghitungannya.
31. Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan adalah serangkaian tindakan yang
dilakukan oleh penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu
membuat terang tindak pidana di bidang perpajakan yang terjadi serta menemukan
tersangkanya.
32. Penyidik adalah pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat Jenderal
Pajak yang diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan
tindak pidana di bidang perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
33. Surat Keputusan Pembetulan adalah surat keputusan yang membetulkan kesalahan
tulis, kesalahan hitung, dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu da!am
peraturan perundang-undangan perpajakan yang terdapat dalam surat ketetapan pajak,
Surat Tagihan Pajak, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Surat
Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi, Surat Keputusan Penghapusan Sanksi
Administrasi, Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak, Surat Keputusan
Pembatalan Ketetapan Pajak, Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan
Pajak, atau Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga.
34. Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan atas keberatan terhadap surat
ketetapan pajak atau terhadap pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga yang
diajukan oleh Wajib Pajak.
35. Putusan Banding adalah putusan badan peradilan pajak atas banding terhadap Surat
Keputusan Keberatan yang diajukan oleh Wajib Pajak.
36. Putusan Gugatan adalah putusan badan peradilan pajak atas gugatan terhadap hal-hal
yang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dapat diajukan
gugatan.
37. Putusan Peninjauan Kembali adalah putusan Mahkamah Agung atas permohonan
peninjauan kembali yang diajukan oteh Wajib Pajak atau oleh Direktur Jenderal Pajak
terhadap Putusan Banding atau Putusan Gugatan dari badan peradilan pajak.
38. Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak adalah surat
keputusan yang menentukan jumlah pengembalian pendahuluan kelebihan pajak untuk
Wajib Pajak tertentu.
39. Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga adalah surat keputusan yang
menentukan jumlah imbalan bunga yang diberikan kepada Wajib Pajak.
40. Tanggal dikirim adalah tanggal stempel pos pengiriman, tanggal faksimili, atau dalam
hal disampaikan secara langsung adalah tanggal pada saat surat, keputusan, atau putusan
disampaikan secara langsung.
41. Tanggal diterima adalah tanggal stempel pos pengiriman, tanggal faksimili, atau dalam
hal diterima secara langsung adalah tanggal pada saat surat, keputusan, atau putusan
diterima secara langsung.

3
BAB II
NOMOR POKOK WAJIB PAJAK

DEFINISI NOMOR POKOK WAJIB PAJAK (NPWP)


Nomor Pokok Wajib Pajak adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana
dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas
Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya. (Pasal 1 angka 6 UU
KUP). Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong
pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. (Pasal 1 angka 2 UU KUP).

Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) terdiri dari 15 Digit, xx.xxx.xxx.x-xxx.xxx.


Misalnya : 01.123.456.7-890.000
01.123.456 => nomor urut
7 => cek digit
890 => kode KPP
000 => kode Pusat/Suami atau Cabang/Istri
Apabila Wajib Pajak berstatus kantor pusat sesuai tempat kedudukan atau berdirinya (Wajib
Pajak Domisili), maka 3 digit terakhirnya adalah : 000
Apabila Wajib Pajak berstatus kantor cabang/perwakilan (Wajib Pajak Lokasi), maka 3 digit
terakhirnya adalah : urutan terakhir dari jumlah cabang yang ada di KPP Lokasi tersebut.
NPWP Kantor Pusat dan NPWP Cabang/Perwakilan adalah sama untuk 8 digit pertamanya.

FUNGSI NPWP
Nomor Pokok Wajib Pajak tersebut merupakan suatu sarana dalam administrasi perpajakan
yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak. Oleh karena itu,
kepada setiap Wajib Pajak hanya diberikan satu Nomor Pokok Wajib Pajak. Selain itu,
Nomor Pokok Wajib Pajak juga dipergunakan untuk menjaga ketertiban dalam pembayaran
pajak dan dalam pengawasan administrasi perpajakan. Dalam hal berhubungan dengan
dokumen perpajakan, Wajib Pajak diwajibkan mencantumkan Nomor Pokok Wajib Pajak
yang dimilikinya. (Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU KUP).

KEWAJIBAN MENDAFTARKAN DIRI


Setiap Wajib Pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan wajib mendaftarkan diri pada kantor
Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat
kedudukan Wajib Pajak dan kepadanya diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak. (Pasal 2 ayat
(1) UU KUP). Persyaratan subjektif adalah persyaratan yang sesuai dengan ketentuan
mengenai subjek pajak dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan 1984 dan perubahannya.
Sedangkan, persyaratan objektif adalah persyaratan bagi subjek pajak yang menerima atau
memperoleh penghasilan atau diwajibkan untuk melakukan pemotongan/pemungutan sesuai
dengan Undang-Undang Pajak Penghasilan 1984 dan perubahannya.

Berdasarkan ketentuan Pasal 2 ayat (3) Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 20 Tahun
2013 s.t.t.d Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 38 Tahun 2013, Wajib Pajak yang
wajib mendaftarkan diri meliputi:

4
a. Wajib Pajak orang pribadi, termasuk wanita kawin yang dikenai pajak secara terpisah
karena:
1) hidup terpisah berdasarkan keputusan hakim;
2) menghendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta
atau
3) memilih melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya terpisah dari
suaminya meskipun tidak terdapat keputusan hakim atau tidak terdapat perjanjian
pemisahan penghasilan dan harta, yang tidak menjalankan usaha atau pekerjaan
bebas dan memperoleh penghasilan di atas Penghasilan Tidak Kena Pajak;
b. Wajib Pajak orang pribadi, termasuk wanita kawin yang dikenai pajak secara terpisah
karena:
1) hidup terpisah berdasarkan keputusan hakim;
2) menghendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan
harta; atau
3) memilih melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan terpisah dari suaminya
meskipun tidak terdapat keputusan hakim atau tidak terdapat perjanjian pemisahan
penghasilan dan harta, yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas;
c. Wajib Pajak badan yang memiliki kewajiban perpajakan sebagai pembayar pajak,
pemotong dan/atau pemungut pajak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan, termasuk bentuk usaha tetap dan kontraktor dan/atau operator di bidang
usaha hulu minyak dan gas bumi;
d. Wajib Pajak badan yang hanya memiliki kewajiban perpajakan sebagai pemotong
dan/atau pemungut pajak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan,
termasuk bentuk kerja sama operasi (Joint Operation); dan
e. Bendahara yang ditunjuk sebagai pemotong dan/ atau pemungut pajak sesuai peraturan
perundang-undangan perpajakan.

Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu, yaitu Wajib Pajak orang pribadi yang
melakukan kegiatan usaha sebagai pedagang pengecer yang mempunyai 1 (satu) atau lebih
tempat usaha sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di bidang
perpajakan yang mengatur mengenai Orang Pribadi Pengusaha Tertentu, selain wajib
mendaftarkan diri pada KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal Wajib Pajak,
juga wajib mendaftarkan diri pada KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat kegiatan
usaha Wajib Pajak. Tempat pendaftaran dan pelaporan usaha sebagai Pengusaha Kena Pajak
bagi Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu adalah Kantor Pelayanan Pajak yang
wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal(sebagai pusatnya: x.000) dan Kantor Pelayanan
Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha dilakukan(sebagai cabangnya:
x.001, 002, dst).

Terhadap Wajib Pajak yang tidak mendaftarkan diri untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib
Pajak dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan
yaitu:

a. sanksi administratif, dapat diterbitkan NPWP secara jabatan dimulai sejak saat Wajib
Pajak memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan, paling lama 5 (lima) tahun sebelum
diterbitkannyanya NPWP tersebut dan ditetapkan pajak dengan sanksi administrasi
2% perbulan maksimal 24 bulan. (Pasal 4 dan 4a jo. Pasal 13 UU KUP)
b. sanksi pidana, Setiap orang yang dengan tidak mendaftarkan diri untuk diberikan
NPWP sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dipidana

5
dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun
dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang
dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau
kurang dibayar.(Pasal 39 UU KUP)

JANGKA WAKTU PENDAFTARAN NOMOR POKOK WAJIB PAJAK

Berdasarkan ketentuan Pasal 3 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 20 Tahun 2013
s.t.t.d Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 38 Tahun 2013, jangka waktu pendaftaran
Nomor Pokok Wajib Pajak adalah sebagai berikut:
(1) Wajib Pajak orang pribadi yang tidak menjalankan usaha atau tidak melakukan pekerjaan
bebas, wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak paling
lama pada akhir bulan berikutnya setelah penghasilan Wajib Pajak tersebut pada suatu
bulan yang disetahunkan telah melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak. Besarnya
Penghasilan Tidak Kena Pajak adalah sebagai berikut:
Uraian Berlaku Mulai berlaku
01/01/2015 01/01/2016

Diri Wajib Pajak Rp 36.000.000,00 Rp 54.000.000,00

Tambahan untuk Wajib Pajak kawin Rp 3.000.000,00 Rp 4.500.000,00

Tambahan untuk setiap orang keluarga Rp 3.000.000,00 Rp 4.500.000,00


sedarah dan semenda dalam garis keturunan
lurus, serta anak angkat yang menjadi
tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3
(tiga) orang untuk setiap keluarga.

Tambahan untuk seorang isteri yang Rp 3.000.000,00 Rp 4.500.000,00


mempunyai penghasilan, yang harus digabung
dengan penghasilan suami untuk
penghitungan pajak.

(2) Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau melakukan pekerjaan bebas
wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak paling lambat 1
(satu) bulan setelah saat usaha, atau pekerjaan bebas nyata-nyata mulai dilakukan.
(3) Wajib Pajak badan, wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib
Pajak paling lambat 1 (satu) bulan setelah saat pendirian.
(4) Bendahara yang ditunjuk sebagai pemotong dan/atau pemungut pajak, wajib
mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak paling lambat sebelum
melakukan pemotongan dan/atau pemungutan pajak.

TATA CARA PENDAFTARAN NOMOR POKOK WAJIB PAJAK


Berdasarkan ketentuan Pasal 4, 5 dan 6 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 20 Tahun
2013 s.t.t.d Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 38 Tahun 2013, tata cara pendaftaran
Nomor Pokok Wajib Pajak adalah sebagai berikut:

Pasal 4:

6
(1) Wajib Pajak yang diwajibkan untuk mendaftarkan diri, wajib mengajukan permohonan
pendaftaran Nomor Pokok Wajib Pajak dengan menggunakan Formulir Pendaftaran
Wajib Pajak.
(2) Permohonan pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara
elektronik dengan mengisi Formulir Pendaftaran Wajib Pajak pada Aplikasi e-
Registration yang tersedia pada laman Direktorat Jenderal Pajak di www.pajak.go.id .
(3) Permohonan pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang telah disampaikan
oleh Wajib Pajak melalui Aplikasi e-Registration dianggap telah ditandatangani secara
elektronik atau digital dan mempunyai kekuatan hukum.
(4) Wajib Pajak yang telah menyampaikan Formulir Pendaftaran Wajib Pajak melalui
Aplikasi e-Registration sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus mengirimkan
dokumen yang disyaratkan ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau
tempat kedudukan atau tempat kegiatan usaha Wajib Pajak.
(5) Pengiriman dokumen yang disyaratkan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat
dilakukan dengan cara mengunggah (upload) salinan digital (softcopy) dokumen
melalui Aplikasi e-Registration atau mengirimkan dengan menggunakan Surat
Pengiriman Dokumen yang telah ditandatangani.
(6) Apabila dokumen yang disyaratkan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) belum
diterima KPP dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari kerja setelah penyampaian
permohonan pendaftaran secara elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (3),
permohonan tersebut dianggap tidak diajukan.
(7) Apabila dokumen yang disyaratkan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) telah
diterima secara lengkap, KPP menerbitkan Bukti Penerimaan Surat secara elektronik.

Pasal 5:
(1) Dalam hal Wajib Pajak tidak dapat mengajukan permohonan pendaftaran secara
elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2), permohonan pendaftaran
dilakukan dengan menyampaikan permohonan secara tertulis.
(2) Permohonan secara tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan
mengisi dan menandatangani Formulir Pendaftaran Wajib Pajak.
(3) Wajib Pajak yang telah mengisi dan menandatangani Formulir Pendaftaran Wajib
Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus melengkapi formulir pendaftaran
tersebut dengan dokumen yang disyaratkan.
(4) Permohonan secara tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan ke KPP
atau KP2KP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan
atau tempat kegiatan usaha Wajib Pajak.
(5) Penyampaian permohonan secara tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
dilakukan:
a. secara langsung;
b. melalui pos; atau
c. melalui perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir.
(6) Terhadap penyampaian permohonan secara tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat
(4), KPP atau KP2KP memberikan Bukti Penerimaan Surat apabila permohonan
dinyatakan telah diterima secara lengkap.
(7) Terhadap penyampaian permohonan secara tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) yang diterima secara tidak lengkap berlaku ketentuan:
a. dalam hal permohonan disampaikan secara langsung, permohonan dikembalikan
kepada Wajib Pajak; atau

7
b. dalam hal permohonan disampaikan melalui pos atau melalui perusahaan jasa
ekspedisi atau jasa kurir, KPP menyampaikan pemberitahuan secara tertulis
mengenai ketidaklengkapan tersebut.

Pasal 6:
(1) Dokumen yang disyaratkan sebagai kelengkapan permohonan pendaftaran Nomor
Pokok Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (4) dan Pasal 5 ayat (3)
meliputi:
a. Untuk Wajib Pajak orang pribadi, yang tidak menjalankan usaha atau pekerjaan
bebas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf a berupa:
1) fotokopi Kartu Tanda Penduduk bagi Warga Negara Indonesia; atau
2) fotokopi paspor, fotokopi Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS) atau Kartu
Izin Tinggal Tetap (KITAP), bagi Warga Negara Asing.
b. Untuk Wajib Pajak orang pribadi, yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf b berupa:
1) fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) bagi Warga Negara Indonesia, atau
fotokopi paspor, fotokopi Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS) atau Kartu
Izin Tinggal Tetap (KITAP), bagi Warga Negara Asing, dan fotokopi
dokumen izin kegiatan usaha yang diterbitkan oleh instansi yang berwenang
atau surat keterangan tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dari Pejabat
Pemerintah Daerah sekurang-kurangnya Lurah atau Kepala Desa atau lembar
tagihan listrik dari Perusahaan Listrik/bukti pembayaran listrik; atau

2) fotokopi e-KTP bagi Warga Negara Indonesia dan surat pernyataan di atas
meterai dari Wajib Pajak orang pribadi yang menyatakan bahwa yang
bersangkutan benar-benar menjalankan usaha atau pekerjaan bebas.

c. Untuk Wajib Pajak badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf c
yang berorientasi pada profit (profit oriented) berupa:

1) fotokopi akta pendirian atau dokumen pendirian dan perubahan bagi Wajib
Pajak badan dalam negeri, atau surat keterangan penunjukan dari kantor pusat
bagi bentuk usaha tetap;
2) fotokopi Kartu Nomor Pokok Wajib Pajak salah satu pengurus, atau fotokopi
paspor dan surat keterangan tempat tinggal dari Pejabat Pemerintah Daerah
sekurang-kurangnya Lurah atau Kepala Desa dalam hal penanggung jawab
adalah Warga Negara Asing; dan
3) fotokopi dokumen izin usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkan oleh instansi
yang berwenang atau surat keterangan tempat kegiatan usaha dari Pejabat
Pemerintah Daerah sekurang-kurangnya Lurah atau Kepala Desa atau lembar
tagihan listrik dari Perusahaan Listrik/bukti pembayaran listrik.

d. untuk Wajib Pajak badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf c yang
tidak berorientasi pada profit (non profit oriented) berupa:

1) fotokopi e-KTP salah satu pengurus badan atau organisasi; dan

2) surat keterangan domisili dari pengurus Rukun Tetangga (RT)/Rukun Warga


(RW)

8
e. Untuk Wajib Pajak badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf d
berupa:
1) fotokopi Perjanjian Kerjasama/Akte Pendirian sebagai bentuk kerja sama
operasi (Joint Operation);
2) fotokopi Kartu Nomor Pokok Wajib Pajak masing-masing anggota bentuk
kerja sama operasi (Joint Operation) yang diwajibkan untuk memiliki Nomor
Pokok Wajib Pajak;
3) fotokopi Kartu Nomor Pokok Wajib Pajak orang pribadi salah satu pengurus
perusahaan anggota bentuk kerja sama operasi (Joint Operation), atau
fotokopi paspor dan surat keterangan tempat tinggal dari Pejabat Pemerintah
Daerah sekurang-kurangnya Lurah atau Kepala Desa dalam hal penanggung
jawab adalah Warga Negara Asing; dan
4) fotokopi dokumen izin usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkan oleh instansi
yang berwenang atau surat keterangan tempat kegiatan usaha dari instansi
yang berwenang sekurang-kurangnya Lurah atau Kepala Desa.
f. Untuk Bendahara sebagai Wajib Pajak pemotong dan/atau pemungut pajak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf e berupa:
1) surat penunjukan sebagai Bendahara; dan
2) Kartu Tanda Penduduk.
g. Untuk Wajib Pajak dengan status cabang dan Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha
Tertentu berupa:
1) fotokopi Kartu Nomor Pokok Wajib Pajak pusat atau induk;
2) surat keterangan sebagai cabang untuk Wajib Pajak Badan; dan
3) fotokopi dokumen izin kegiatan usaha yang diterbitkan oleh instansi yang
berwenang atau surat keterangan tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas
dari Pejabat Pemerintah Daerah sekurang-kurangnya Lurah atau Kepala Desa.
(2) Dalam hal Wajib Pajak orang pribadi adalah wanita kawin yang dikenai pajak secara
terpisah karena menghendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan
penghasilan dan harta, dan wanita kawin yang memilih melaksanakan hak dan
kewajiban perpajakannya secara terpisah, permohonan juga harus dilampiri dengan:
a. fotokopi Kartu Nomor Pokok Wajib Pajak suami;
b. fotokopi Kartu Keluarga; dan
c. fotokopi surat perjanjian pemisahan penghasilan dan harta, atau surat
pernyataan menghendaki melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban
perpajakan terpisah dari hak dan kewajiban perpajakan suami.

PERUBAHAN DATA WAJIB PAJAK DAN/ATAU PENGUSAHA KENA PAJAK

Perubahan data Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak dapat dilakukan dalam hal data
yang terdapat dalam administrasi perpajakan berbeda dengan data Wajib Pajak dan/atau
Pengusaha Kena Pajak menurut keadaan yang sebenarnya yang tidak memerlukan
pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak baru dan/atau pengukuhan Pengusaha Kena Pajak
baru. Termasuk dalam perubahan data sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:

a. perubahan identitas Wajib Pajak orang pribadi;


b. perubahan alamat tempat tinggal Wajib Pajak orang pribadi atau tempat kedudukan
Wajib Pajak badan masih dalam wilayah kerja KPP yang sama;

c. perubahan kategori Wajib Pajak orang pribadi;

9
d. perubahan sumber penghasilan utama Wajib Pajak orang pribadi;

e. perubahan identitas Wajib Pajak badan tanpa perubahan bentuk badan seperti CV
MAKMUR TANJUNG berubah namanya menjadi CV TANJUNG MULIA atau PT
ABADI JAYA berubah nama menjadi PT ABADI JAYA MAKMUR; dan/atau

f. perubahan permodalan atau kepemilikan Wajib Pajak badan tanpa perubahan bentuk
badan seperti PT ALAM JAYA semula status permodalannya sebagai Penanaman
Modal Dalam Negeri berubah menjadi PT ALAM JAYA dengan permodalan sebagai
Penanaman Modal Asing.

Perubahan data Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak dapat dilakukan atas
permohonan Wajib Pajak atausecara jabatan. (Pasal 18 Peraturan Direktur Jenderal Pajak
Nomor 20 Tahun 2013 s.t.t.d Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 38 Tahun 2013)

PEMINDAHAN WAJIB PAJAK

Wajib Pajak dengan Nomor Pokok Wajib Pajak 3 (tiga) digit terakhir 000 (status domisili)
yang tempat tinggal atau tempat kedudukan menurut keadaan yang sebenarnya pindah ke
wilayah kerja KPP lain dapat mengajukan permohonan pemindahan dengan menggunakan
Formulir Pemindahan Wajib Pajak yang dilakukan secara elektronik dengan mengisi
Formulir Pemindahan Wajib Pajak pada Aplikasi e-Registration yang tersedia pada laman
Direktorat Jenderal Pajak di www.pajak.go.id atau secara tertulis (manual) dalam hal Wajib
Pajak tidak dapat mengajukan permohonan pemindahan secara elektronik. (Pasal 33 dan 34
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 20 Tahun 2013 s.t.t.d Peraturan Direktur Jenderal
Pajak Nomor 38 Tahun 2013). Permohonan pindah diajukan oleh Wajib Pajak melalui KPP
Lama.

PENGHAPUSAN NOMOR POKOK WAJIB PAJAK


Berdasarkan ketentuan Pasal 2 ayat (6) UU KUP, penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak
dilakukan oleh Direktur Jenderal Pajak apabila:
a. diajukan permohonan penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak oleh Wajib Pajak
dan/atau ahli warisnya apabila Wajib Pajak sudah tidak memenuhi persyaratan
subjektif dan/atau objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan;
b. Wajib Pajak badan dilikuidasi karena penghentian atau penggabungan usaha;
c. Wajib Pajak bentuk usaha tetap menghentikan kegiatan usahanya di Indonesia; atau
d. dianggap perlu oleh Direktur Jenderal Pajak untuk menghapuskan Nomor Pokok Wajib
Pajak dari Wajib Pajak yang sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan/atau
objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan pemeriksaan harus memberikan keputusan atas
permohonan penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak daiam jangka waktu 6 (enam) bulan
untuk Wajib Pajak orang pribadi atau 12 (dua belas) bulan untuk Wajib Pajak badan, sejak
tanggal permohonan diterima secara lengkap. (Pasal 2 ayat (7) UU KUP)

10
BAB III
PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK (PKP)

DEFINISI PENGUSAHA KENA PAJAK


Pengusaha Kena Pajak adalah Pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak
dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenai pajak berdasarkan Undang-Undang
Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya. (Pasal 1 angka 5 UU KUP)
Pengusaha yang melakukan penyerahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf
a, huruf c, huruf f, huruf g, dan huruf h UU PPN, kecuali pengusaha kecil yang batasannya
ditetapkan oleh Menteri Keuangan, wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai
Pengusaha Kena Pajak dan wajib memungut, menyetor, dan melaporkan Pajak Pertambahan
Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang terutang. (Pasal 3A ayat (1) UU PPN).
Pengusaha kecil adalah pengusaha yang selama satu tahun buku melakukan penyerahan
Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dengan jumlah peredaran bruto dan/atau
penerimaan bruto tidak lebih dari Rp 4.800.000.000,00 (empat milyar delapan ratus juta
rupiah). (Pasal 1 ayat (1) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 197/PMK.03/2013)
Pengusaha Kecil sebagaimana dapat memilih untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena
Pajak. engusaha Kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak
melaksanakan ketentuan untuk memungut, menyetor, dan melaporkan Pajak Pertambahan
Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang terutang.

FUNGSI PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK


Fungsi pengukuhan Pengusaha Kena Pajak selain dipergunakan untuk mengetahui identitas
Pengusaha Kena Pajak yang sebenarnya juga berguna untuk melaksanakan hak dan
kewajiban di bidang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah serta
untuk pengawasan administrasi perpajakan. (Penjelasan Pasal 2 ayat (2) UU KUP)

KEWAJIBAN MELAPORKAN USAHA


Setiap Wajib Pajak sebagai Pengusaha yang dikenai pajak berdasarkan Undang-Undang
Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya, wajib melaporkan usahanya pada kantor
Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat
kedudukan Pengusaha, dan tempat kegiatan usaha dilakukan untuk dikukuhkan menjadi
Pengusaha Kena Pajak. (Pasal 2 ayat (2) UU KUP)

Pengusaha orang pribadi berkewajiban melaporkan usahanya pada kantor Direktorat


Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal Pengusaha dan tempat
kegiatan usaha dilakukan, sedangkan bagi Pengusaha badan berkewajiban melaporkan
usahanya tersebut pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi
tempat kedudukan Pengusaha dan tempat kegiatan usaha dilakukan. Dengan demikian,
Pengusaha orang pribadi atau badan yang mempunyai tempat kegiatan usaha di wilayah
beberapa kantor Direktorat Jenderal Pajak wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan
sebagai Pengusaha Kena Pajak baik di kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah
kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Pengusaha maupun di kantor
Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha dilakukan.

11
Terhadap Pengusaha yang telah memenuhi syarat sebagai Pengusaha Kena Pajak, tetapi
tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak dikenai sanksi
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yaitu:
a. sanksi administratif, dapat dikukuhkan PKP secara jabatan dimulai sejak saat Wajib
Pajak memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan, paling lama 5 (lima) tahun sebelum
dikukuhkannya Pengusaha Kena Pajak tersebut dan ditetapkan pajak dengan sanksi
administrasi 2% perbulan maksimal 24 bulan. (Pasal 4 dan 4a jo. Pasal 13 UU KUP)
b. sanksi pidana, Setiap orang yang dengan tidak melaporkan usahanya untuk
dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak sehingga dapat menimbulkan kerugian
pada pendapatan negara dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam)
bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah
pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali
jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.(Pasal 39 UU KUP)

JANGKA WAKTU PELAPORAN KEGIATAN USAHA

Berdasarkan ketentuan Pasal 4 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 197/PMK.03/2013


jangka waktu pelaporan usaha untuk dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak adalah
sebagai berikut:
(1) Pengusaha wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena
Pajak, apabila sampai dengan suatu bulan dalam tahun buku jumlah peredaran bruto
dan/atau penerimaan brutonya melebihi Rp 4.800.000.000,00 (empat milyar delapan
ratus juta rupiah).
(2) Kewajiban melaporkan usaha untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lama akhir bulan berikutnya
setelah bulan saat jumlah peredaran bruto dan/atau penerimaan brutonya melebihi Rp
4.800.000.000,00 (empat milyar delapan ratus juta rupiah).
Bagi pengusaha kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak jangka
waktu pelaporan usaha adalah sebelum menerbitkan faktur pajak.

TATA CARA PELAPORAN PENGUSAHA KENA PAJAK


Berdasarkan ketentuan Pasal 16, 17 dan 18 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 20
Tahun 2013 s.t.t.d Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 38 Tahun 2013, tata cara
pendaftaran Nomor Pokok Wajib Pajak adalah sebagai berikut:

Pasal 16:

(1) Wajib Pajak sebagai Pengusaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 wajib
melaporkan usahanya dan mengajukan permohonan untuk dikukuhkan sebagai
Pengusaha Kena Pajak dengan menggunakan Formulir Pengukuhan Pengusaha Kena
Pajak.
(2) Permohonan pengukuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara
elektronik dengan mengisi Formulir Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak pada Aplikasi
e-Registration yang tersedia pada laman Direktorat Jenderal Pajak di www.pajak.go.id
(3) Permohonan pengukuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang telah disampaikan
oleh Wajib Pajak melalui Aplikasi e-Registration dianggap telah ditandatangani secara
elektronik atau digital dan mempunyai kekuatan hukum.
(4) Wajib Pajak yang telah menyampaikan Formulir Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak
melalui Aplikasi e-Registration sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus

12
mengirimkan dokumen yang disyaratkan ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi
tempat tinggal atau tempat kedudukan atau tempat kegiatan usaha Wajib Pajak.
(5) Pengiriman dokumen yang disyaratkan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat
dilakukan dengan cara mengunggah (upload) salinan digital (softcopy) dokumen
melalui Aplikasi e-Registration atau mengirimkannya dengan menggunakan Surat
Pengiriman Dokumen yang telah ditandatangani.
(6) Apabila dokumen yang disyaratkan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) belum
diterima KPP dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari kerja setelah penyampaian
permohonan pengukuhan secara elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (3),
permohonan tersebut dianggap tidak diajukan.
(7) Apabila dokumen yang disyaratkan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) telah
diterima secara lengkap, KPP menerbitkan Bukti Penerimaan Surat secara elektronik.

Pasal 17:

(1) Dalam hal Wajib Pajak tidak dapat mengajukan permohonan pengukuhan secara
elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2), permohonan pengukuhan
dapat dilakukan dengan menyampaikan permohonan secara tertulis.
(2) Permohonan secara tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan
mengisi dan menandatangani Formulir Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak.
(3) Wajib Pajak yang telah mengisi dan menandatangani Formulir Pengukuhan
Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus melengkapi
formulir pengukuhan tersebut dengan dokumen yang disyaratkan.
(4) Permohonan secara tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan ke KPP
atau KP2KP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal, tempat kedudukan atau
tempat kegiatan usaha Wajib Pajak.
(5) Penyampaian permohonan secara tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
dilakukan:
a. secara langsung;
b. melalui pos; atau
c. melalui perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir.
(6) Terhadap penyampaian permohonan secara tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat
(4), KPP atau KP2KP memberikan Bukti Penerimaan Surat apabila permohonan
dinyatakan telah diterima secara lengkap.
(7) Terhadap penyampaian permohonan secara tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) yang diterima secara tidak lengkap berlaku ketentuan:
a. dalam hal permohonan disampaikan secara langsung, permohonan dikembalikan
kepada Wajib Pajak; atau
b. dalam hal permohonan disampaikan melalui pos atau melalui perusahaan jasa
ekspedisi atau jasa kurir, KPP menyampaikan pemberitahuan secara tertulis
mengenai ketidaklengkapan tersebut.
Pasal 18:
Dokumen yang disyaratkan sebagai kelengkapan permohonan pengukuhan Pengusaha Kena
Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (4) dan Pasal 17 ayat (3), meliputi:
a. Untuk Wajib Pajak orang pribadi:
1) fotokopi Kartu Tanda Penduduk bagi Warga Negara Indonesia, atau fotokopi
paspor, fotokopi Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS) atau Kartu Izin Tinggal
Tetap (KITAP) bagi Warga Negara Asing, yang dilegalisasi oleh pejabat yang
berwenang;
2) dokumen izin kegiatan usaha yang diterbitkan oleh instansi yang berwenang; dan

13
3) surat keterangan tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dari Pejabat
Pemerintah Daerah sekurang-kurangnya Lurah atau Kepala Desa.
b. Untuk Wajib Pajak badan:
1) fotokopi akta pendirian atau dokumen pendirian dan perubahan bagi Wajib Pajak
badan dalam negeri, atau surat keterangan penunjukan dari kantor pusat bagi
bentuk usaha tetap, yang dilegalisasi oleh pejabat yang berwenang;
2) fotokopi Kartu Nomor Pokok Wajib Pajak salah satu pengurus, atau fotokopi
paspor dan surat keterangan tempat tinggal dari Pejabat Pemerintah Daerah
sekurang-kurangnya Lurah atau Kepala Desa dalam hal penanggung jawab
adalah Warga Negara Asing;
3) dokumen izin usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkan oleh instansi yang
berwenang; dan
4) surat keterangan tempat kegiatan usaha dari Pejabat Pemerintah Daerah
sekurang-kurangnya Lurah atau Kepala Desa.
c. Untuk Wajib Pajak badan bentuk kerja sama operasi (Joint Operation):
1) fotokopi Perjanjian Kerjasama/Akta Pendirian sebagai bentuk kerja sama operasi
(Joint Operation), yang dilegalisasi oleh pejabat yang berwenang;
2) fotokopi Kartu Nomor Pokok Wajib Pajak masing-masing anggota bentuk kerja
sama operasi (Joint Operation) yang diwajibkan untuk memiliki Nomor Pokok
Wajib Pajak;
3) fotokopi Kartu Nomor Pokok Wajib Pajak orang pribadi salah satu pengurus
perusahaan anggota bentuk kerja sama operasi (Joint Operation), atau fotokopi
paspor dalam hal penanggung jawab adalah orang Warga Negara Asing;
4) dokumen izin kegiatan usaha yang diterbitkan oleh instansi yang berwenang; dan
5) surat keterangan tempat kegiatan usaha dari Pejabat Pemerintah Daerah
sekurang-kurangnya Lurah atau Kepala Desa bagi Wajib Pajak badan dalam
negeri maupun Wajib Pajak badan asing.

PENCABUTAN PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK


Direktur Jenderal Pajak karena jabatan atau atas permohonan Wajib Pajak dapat melakukan
pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak. (Pasal 2 ayat (8) UU KUP). Direktur
Jenderal Pajak setelah melakukan pemeriksaan harus memberikan keputusan atas
permohonan pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak dalam jangka waktu 6 (enam)
bulan sejak tanggal permohonan diterima secara lengkap. (Pasal 2 ayat (9) UU KUP).

Berdasarkan ketentuan Pasal 21 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 20 Tahun 2013
s.t.t.d Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 38 Tahun 2013, pencabutan Pengukuhan
Pengusaha Kena Pajak dilakukan terhadap:
a. Pengusaha Kena Pajak dengan status Wajib Pajak Non Efektif;
b. Pengusaha Kena Pajak yang tidak diketahui keberadaan dan/atau kegiatan usahanya;
c. Pengusaha Kena Pajak menyalahgunakan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak;
d. Pengusaha Kena Pajak pindah alamat ke wilayah kerja KPP lain;
e. Pengusaha Kena Pajak yang sudah tidak memenuhi persyaratan sebagai Pengusaha Kena
Pajak;
f. Pengusaha Kena Pajak telah dipusatkan tempat terutangnya Pajak Pertambahan Nilai di
tempat lain; atau
g. Pengusaha Kena Pajak yang sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan/atau
objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

14
BAB IV
SURAT PEMBERITAHUAN (SPT)

PENGERTIAN SPT
Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk
melaporkan penghitungan dan pembayaran pajak, objek pajak dan atau bukan objek pajak
dan atau harta dan kewajiban, menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
(Pasal 1 angka 11 UU KUP)
Surat pemberitahuan terdiri dari :
1. Surat Pemberitahuan Masa (SPT Masa) yaitu Surat Pemberitahuan untuk suatu Masa
Pajak.
2. Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT Tahunan) yaitu Surat Pemberitahuan untuk suatu
Tahun Pajak atau bagian Tahun Pajak.
Surat Pemberitahuan berbentuk formulir kertas (hardcopy) atau e-SPT.

FUNGSI SPT
Bagi Wajib Pajak PPh:
Fungsi Surat Pemberitahuan bagi Wajib Pajak Pajak Penghasilan adalah sebagai sarana
untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah pajak yang
sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang:
a. pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri dan/atau melalui
pemotongan atau pemungutan pihaklain dalam 1 (satu) Tahun Pajak atau Bagian
Tahun Pajak;
b. penghasiian yang merupakan objek pajak dan/atau bukan objek pajak;
c. harta dan kewajiban; dan/atau
d. pembayaran dari pemotong atau pemungut tentang pemotongan atau pemungutan
pajak orang pribadi atau badan lain dalam 1 (satu) Masa Pajak sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Bagi Pengusaha Kena Pajak:
Bagi Pengusaha Kena Pajak, fungsi Surat Pemberitahuan adalah sebagai sarana untuk
melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah Pajak Pertambahan Nilai
dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan
tentang:
a. pengkreditan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran; dan
b. pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri oleh Pengusaha
Kena Pajak dan/atau melalui pihak lain dalam satu Masa Pajak, sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Bagi Pemotong atau Pemungut Pajak:
Bagi pemotong atau pemungut pajak, fungsi Surat Pemberitahuan adalah sebagai sarana
untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong atau dipungut dan
disetorkannya.

PENGAMBILAN SPT

15
Berdasarkan ketentuan Pasal 3 ayat (2) UU KUP, Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan ayat (1a) mengambil sendiri Surat Pemberitahuan di tempat yang ditetapkan
oleh Direktur Jenderal Pajak atau mengambil dengan cara lain yang tata cara
pelaksanaannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Adapun cara
pengambilan SPT diatur dengan Pasal Pasal 5 Peraturan Menteri Keuangan Nomor
181/PMK.03/2007 s.t.t.d. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 152/PMK.03/2009 yaitu
sebagai berikut:
(1) SPT berbentuk formulir kertas (hardcopy) dapat diambil secara langsung di tempat
yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak seperti Kantor Pelayanan Pajak
Pratama, Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan, Pojok Pajak,
diunduh dari website Direktorat Jenderal Pajak dan tempat lain yang ditetapkan oleh
Direktur Jenderal Pajak.
(2) SPT berbentuk e-SPT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) huruf b,
aplikasinya dapat:
a. diambil secara langsung oleh Wajib Pajak di Kantor Pelayanan Pajak atau
Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan; atau
b. diunduh dari website Direktorat Jenderal Pajak.

PENYAMPAIAN SPT
Tempat dan Cara Penyampaian SPT
Berdasarkan ketentuan Pasal 6 UU KUP jo. , penyampaian SPT adalah sebagai berikut:

(1) Surat Pemberitahuan yang disampaikan langsung oleh Wajib Pajak ke kantor
Direktorat Jenderal Pajak harus diberi tanggal penerimaan oleh pejabat yang ditunjuk
dan kepada WajibPajak diberikan bukti penerimaan.
(2) Penyampaian Surat Pemberitahuan dapat dikirimkan melalui pos dengan tanda bukti
pengiriman surat atau dengan cara lain yang diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan.

(3) Tanda bukti dan tanggal pengiriman surat untuk penyampaian Surat Pemberitahuan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dianggap sebagai tanda bukti dan tanggal
penerimaan sepanjang Surat Pemberitahuan tersebut telah lengkap.

Berdasarkan ketentuan Pasal 8 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 181/PMK.03/2007


s.t.t.d Peraturan Menteri Keuangan Nomor 152/PMK.03/2009, Penyampaian SPT oleh Wajib
Pajak ke Kantor Pelayanan Pajak, atau tempat lain yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal
Pajak, dapat dilakukan:

a. secara langsung;
b. melalui pos dengan bukti pengiriman surat; atau

c. dengan cara lain (melalui perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir dengan bukti
pengiriman surat; atau e-Filling)

Penyampaian SPT selain melalui Kantor Pos dapat dilakukan dengan melalui perusahaan
jasa ekspedisi atau jasa kurir yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak. Perusahaan jasa
ekspedisi atau jasa kurir harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Berbentuk badan
b. Memiliki izin usaha jasa ekspedisi atau jasa kurir
c. Mempunyai NPWP dan telah dikukuhkan sebagai PKP

16
d. Bersedia menandatangani perjanjian dengan Direktorat Jenderal Pajak.

Perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir yang memenuhi syarat di atas dapat mengajukan
permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak agar ditunjuk sebagai perusahaan jasa ekspedisi
atau jasa kurir yang dapat menerima SPT untuk disampaikan ke Kantor Pelayanan Pajak.

Tanda bukti dan tanggal penerimaan untuk penyampaian SPT melalui perusahaan jasa
ekspedisi atau jasa kurir yang telah ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak, dianggap sebagai
tanda bukti dan tanggal penerimaan SPT, sepanjang SPT tersebut telah lengkap.

Penyampaian SPT melalui e-Filling akan diberikan bukti penerimaan elektronik yang
merupakan bukti penerimaan SPT.

Apabila SPT tidak lengkap, Direktur Jenderal Pajak wajib memberitahuan kepada Wajib
Pajak untuk melengkapi, sedangkan tanda bukti dan tanggal penerimaan kelengkapan SPT
dianggap sebagai tanda bukti dan tanggal penerimaan SPT.

Batas Waktu Penyampaian SPT

Berdasarkan ketentuan Pasal 3 ayat (3) UU KUP, batas waktu penyampaian Surat
Pemberitahuan adalah:

a. untuk Surat Pemberitahuan Masa, paling lama 20 (dua puluh) hari setelah akhir Masa
Pajak;
b. untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi,
paling lama 3 (tiga) bulan setelah akhir Tahun Pajak; atau

c. untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak badan, paling
lama 4 (empat) bulan setelah akhir Tahun Pajak.

Khusus Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai disampaikan paling lama akhir
bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak. (Pasal 15 A ayat (2) UU PPN)

Lebih detil batas waktu penyampaian SPT diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 184/PMK.03/2007 s.t.t.d Peraturan Menteri Keuangan Nomor 80/PMK.03/2010
adalah sebagai berikut:

(1) Wajib Pajak orang pribadi atau badan, baik yang melakukan pembayaran pajak
sendiri maupun yang ditunjuk sebagai Pemotong atau Pemungut PPh, wajib
menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa paling lama 20 (dua puluh) hari setelah
Masa Pajak berakhir.
(2) Pengusaha Kena Pajak wajib melaporkan PPN atau PPN dan PPnBM dengan
menggunakan Surat Pemberitahuan Masa PPN ke Kantor Pelayanan Pajak tempat
Pengusaha Kena Pajak dikukuhkan, paling lama akhir bulan berikutnya setelah Masa
Pajak berakhir.

(3) Orang pribadi atau badan yang bukan Pengusaha Kena Pajak wajib melaporkan
Pajak Pertambahan Nilai atas Kegiatan Membangun Sendiri yang telah disetor
dengan menggunakan lembar ketiga Surat Setoran Pajak ke Kantor Pelayanan Pajak

17
yang wilayahnya meliputi tempat bangunan tersebut, paling lama akhir bulan
berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.

(4) Orang pribadi atau badan yang bukan Pengusaha Kena Pajak wajib melaporkan
Pajak Pertambahan Nilai atas pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud
dan/atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean harus disetor oleh orang pribadi
atau badan yang memanfaatkan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan/atau Jasa
Kena Pajak dari luar Daerah Pabean yang telah disetor dengan menggunakan lembar
ketiga Surat Setoran Pajak ke Kantor Pelayanan Pajak yang wilayahnya meliputi
tempat tinggal orang pribadi atau tempat kedudukan badan tersebut, paling lama
akhir bulan berikutnya setelah saat terutangnya pajak.

(5) Direktorat Jenderal Bea Cukai sebagai Pemungut Pajak (PPh Pasal 22, PPN atau
PPN dan PPnBM) atas impor wajib melaporkan hasil pemungutannya secara
mingguan paling lama pada hari kerja terakhir minggu berikutnya.

(6) Bendaharawan sebagaima Pemungut PPh Pasal 22 wajib melaporkan hasil


pemungutannya paling lama 14 (empat belas) hari setelah Masa Pajak berakhir.

(7) Pemungut PPN wajib melaporkan PPN atau PPN dan PPnBM yang telah disetor ke
Kantor Pelayanan Pajak tempat Pemungut PPN terdaftar paling lama akhir bulan
berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.

(8) Wajib Pajak dengan kriteria tertentu (antara lain Wajib Pajak Usaha Kecil) yang
melaporkan beberapa Masa Pajak dalam satu Surat Pemberitahuan Masa, wajib
menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa paling lama 20 (dua puluh) hari setelah
berakhirnya Masa Pajak terakhir.

Dalam hal batas pelaporan bertepatan dengan hari libur termasuk hari Sabtu atau hari
libur nasional (termasuk hari yang diliburkan untuk penyelenggaraan Pemilihan Umum
yang ditetapkan oleh Pemerintah dan cuti bersama secara nasional yang ditetapkan oleh
Pemerintah), pelaporan dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya.

Apabila SPT tidak disampaikan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud Pasal 3 ayat
ayat (3) UU KUP atau batas waktu perpanjangan penyampaian SPT sebagimana dimaksud
Pasal 3 ayat (4) UU KUP, dikenai denda administrasi Pasal 7 KUP sebesar:
1. Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) untuk SPT Masa PPN dan Rp100.000,00
(seratus ribu rupiah) untuk SPT Masa lainnya; dan
2. Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah)untuk SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Badan dan
Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang
Pribadi.
Betrdasarkan ketentuan Pasal 7 ayat (2) UU KUP, pengenaan sanksi administrasi berupa
denda tidak dilakukan terhadap:
1. Wajib Pajak orang pribadi yang telah meninggal dunia;
2. Wajib Pajak orang pribadi yang sudah tidak melakukan kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas;
3. Wajib Pajak orang pribadi yang berstatus sebagai warga negara asing yang tidak
tinggal lagi di Indonesia;
4. Bentuk Usaha Tetap yang tidak melakukan kegiatan lagi di Indonesia;
5. Wajib Pajak badan yang tidak melakukan kegiatan usaha lagi tetapi belum

18
dibubarkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
6. Bendahara yang tidak melakukan pembayaran lagi;
7. Wajib Pajak yang terkena bencana, yang ketentuannya diatur dengan Peraturan
Menteri Keuangan; atau

8. Wajib Pajak lain yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
Beradasarkan ketentuan Pasal 38 UU KUP, Setiap orang yang karena kealpaannya tidak
menyampaikan Surat Pemberitahuan sehingga dapat menimbulkan kerugian pada
pendapatan negara dan perbuatan tersebut merupakan perbuatan setelah perbuatan yang
pertama kali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13A, didenda paling sedikit 1 (satu) kali
jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 2 (dua) kali jumlah
pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar, atau dipidana kurungan paling singkat 3 (tiga)
bulan atau paling lama 1 (satu) tahun.

Apabila perbuatan tersebut dialukan dengan sengaja maka berdasarkan ketentuan Pasal 39
UU KUP dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6
(enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau
kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau
kurang dibayar.

PENGISIAN SPT

Setiap Wajib Pajak wajib mengisi Surat Pemberitahuan dengan benar, lengkap, dan jelas,
dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan hurut Latin, angka Arab, satuan mata uang
Rupiah, dan menandatangani serta menyampaikannya ke kantor Direktorat Jenderal Pajak
tempat Wajib Pajak terdaftar atau dikukuhkan atau tempat lain yang ditetapkan oleh Direktur
Jenderal Pajak (Pasal 3 ayat (1) UU KUP). Wajib Pajak wajib mengisi dan menyampaikan
Surat Pemberitahuan dengan benar, lengkap, jelas, dan menandatanganinya (Pasal 4 ayat (1)
UU KUP). Yang dimaksud dengan benar, lengkap, dan jelas dalam mengisi Surat
Pemberitahuan adalah:

a. benar adalah benar dalam perhitungan, termasuk benar dalam penerapan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan, dalam penulisan, dan sesuai dengan
keadaan yang sebenarnya;
b. lengkap adalah memuat semua unsur-unsur yang berkaitan dengan objek pajak dan
unsur-unsur lain yang harus dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan; dan

c. jelas adalah melaporkan asal-usul atau sumber dari objek pajak dan unsur-unsur lain
yang harus dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan.

Wajib Pajak yang telah mendapat izin Menteri Keuangan untuk menyelenggarakan
pembukuan dengan menggunakan bahasa asing dan mata uang selain Rupiah, wajib
menyampaikan Surat Pemberitahuan dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan satuan
mata uang selain Rupiah yang diizinkan, yang pelaksanaannya diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (Pasal 3 ayat (1a) UU KUP).

Surat Pemberitahuan Wajib Pajak badan harus ditandatangani oleh pengurus atau direksi
(Pasal 4 ayat (2) UU KUP). Dalam hal Wajib Pajak menunjuk seorang kuasa dengan surat

19
kuasa khusus untuk mengisi dan menandatangani Surat Pemberitahuan, surat kuasa khusus
tersebut harus dilampirkan pada Surat Pemberitahuan (Pasal 4 ayat (3) UU KUP).

Penandatanganan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan secara biasa, dengan
tanda tangan stempel, atau tanda tangan elektronik atau digital, yang semuanya mempunyai
kekuatan hukum yang sama, yang tata cara pelaksanaannya diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan. (Pasal 3 ayat (1b) UU KUP)

Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasiian Wajib Pajak yang wajib menyelenggarakan
pembukuan harus dilampiri dengan laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi
serta keterangan lain yang diperlukan untuk menghitung besarnya Penghasiian Kena Pajak
(Pasal 4 ayat (4) UU KUP). Dalam hal laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat
(4a) diaudit oleh Akuntan Publik tetapi tidak dilampirkan pada Surat Pemberitahuan, Surat
Pemberitahuan dianggap tidak lengkap dan tidak Jelas, sehingga Surat Pemberitahuan
dianggap tidak disampaikan (Pasal 4 ayat (4b) UU KUP).

Dikecualikan dari kewajiban penyampaian SPT adalah Wajib Pajak Pajak Penghasilan
tertentu yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Pada prinsipnya
setiap Wajib Pajak Pajak Penghasilan diwajibkan menyampaikan Surat Pemberitahuan.
Dengan pertimbangan efisiensi atau pertimbangan lainnya, Menteri Keuangan dapat
menetapkan Wajib Pajak Pajak Penghasilan yang dikecualikan dari kewajiban
menyampaikan Surat Pemberitahuan, misalnya Wajib Pajak orang pribadi yang menerima
atau memperoleh penghasilan di bawah Penghasilan Tidak Kena Pajak, tetapi karena
kepentingan tertentu diwajibkan memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak. Berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 183/PMK.03/2007, Wajib Pajak Penghasilan tertentu
yang dikecualikan dari kewajiban menyampaikan SPT PPh adalah:
a. Wajib Pajak orang pribadi yang dalam satu Tahun Pajak menerima atau memperoleh
penghasilan neto tidak melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 7 Undang-Undang Perubahan Ketiga Pajak Penghasilan 1984
(dikecualikan dari kewajiban menyampaikan SPT Masa Pajak Penghasailan Pasal 25
dan SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi); atau
b. Wajib Pajak orang pribadi yang tidak menjalankan kegiatan usaha atau tidak
melakukan pekerjaan bebas (dikecualikan dari kewajiban menyampaikan SPT Masa
Pajak Penghasilan Pasal 25).
Beradasarkan ketentuan Pasal 38 UU KUP, Setiap orang yang karena kealpaannya
menyampaikan Surat Pemberitahuan, tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap, atau
melampirkan keterangan yang isinya tidak benar sehingga dapat menimbulkan kerugian
pada pendapatan negara dan perbuatan tersebut merupakan perbuatan setelah perbuatan yang
pertama kali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13A, didenda paling sedikit 1 (satu) kali
jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 2 (dua) kali jumlah
pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar, atau dipidana kurungan paling singkat 3 (tiga)
bulan atau paling lama 1 (satu) tahun.

Apabila perbuatan tersebut dialukan dengan sengaja maka berdasarkan ketentuan Pasal 39
UU KUP dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6
(enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau
kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau
kurang dibayar.

PERPANJANGAN PENYAMPAIAN SPT

20
Apabila Wajib Pajak baik orang pribadi maupun badan ternyata tidak dapat menyampaikan
Surat Pemberitahuan dalam jangka waktu yang ditetapkan pada Pasal 4 ayat (3) huruf b atau
huruf c UU KUP karena luasnya kegiatan usaha dan masalah-masalah teknis penyusunan
laporan keuangan, atau sebab lainnya sehingga sulit memenuhi batas waktu penyelesaian
dan memerlukan kelonggaran dari batas waktu yang telah ditentukan, Wajib Pajak dapat
memperpanjang jangka waktu penyampaian Surat Pemberitahuan TahunanPajak Penghasilan
sebagaimana dimaksud Pasal 4 ayat (3) untuk paling lama 2 (dua) bulan dengan cara
menyampaikan pemberitahuan secara tertulis atau dengan cara lain kepada Direktur Jenderal
Pajak yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
(Pasal 4 ayat (4) UU KUP). Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) harus
disertai dengan penghitungan sementara pajak yang terutang dalam 1 (satu) Tahun Pajak dan
Surat Setoran Pajak sebagaibukti pelunasan kekurangan pembayaran pajak yang terutang,
yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

Berdasarkan ketentuan Pasal 10 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 181/PMK.03/2007


s.t.t.d Peraturan Menteri Keuangan Nomor 152/PMK.03/2009 , pemeritahuan perpanjangan
SPT Tahunan tersebut disampaikan dalam bentuk formulir kertas (hardcopy) atau dalam
bentuk data elektronik yang dihasilkan dari aplikasi yang dibuat oleh Direktur Jenderal
Pajak. Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan dibuat secara tertulis dan disampaikan ke
Kantor Pelayanan Pajak, sebelum batas waktu penyampaian SPT Tahunan berakhir, dengan
dilampiri:

a. penghitungan sementara pajak terutang 1 (satu) tahun pajak yang batas


penyampaiannya diperpanjang;
b. laporan keuangan sementara; dan

c. Surat Setoran Pajak sebagai bukti pelunasan kekurangan pembayaran pajak yang
terutang.

Pemberitahuan yang tidak memenuhi syarat di atas dianggap bukan merupakan


Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan dan Direktur Jenderal Pajak wajib
memebritahukan kepada Wajib Pajak.

Pajak Dalam hal Wajib Pajak diperbolehkan menunda penyampaian Surat Pemberitahuan
Tahunan dan ternyata penghitungan sementara pajak yang terutang sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 3 ayat (5) UU KUP kurang dari jumlah pajak yang sebenarnya terutang atas
kekurangan pembayaran pajak tersebut, dikenai bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan
yang dihitung dari saat berakhirnya batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf b dan huruf c UU KUP sampai dengan
tanggal dibayarnya kekurangan pembayaran tersebut dan bagian dari bulan dihitung penuh 1
(satu) bulan. (Pasal 19 ayat (3) UU KUP)

BAB V
JATUH TEMPO DAN TATA CARA PEMBAYARAN

21
Jatuh tempo pembayaran adalah batas akhir pembayaran pajak harus dilakukan. Berdasarkan
ketentuan Pasal 9 ayat (1) UU KUP, Menteri Keuangan menentukan tanggal jatuh tempo
pembayaran dan penyetoran pajak yang terutang untuk suatu saat atau Masa Pajak bagi
masing-masing jenis pajak, paling lama 15 (lima belas) hari setelah saat terutangnya pajak
atau berakhirnya Masa Pajak. Sedangkan Kekurangan pembayaran pajak yang terutang
berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan harus dibayar lunas sebelum
Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan disampaikan. (Pasal 9 ayat (2) UU KUP. Khusus
SPT Masa PPN jatuh tempo penyetoran pajak oleh Pengusaha Kena Pajak adalah akhir
bulan berikutnya sebelum jatuh tempo disampaikannya SPT Masa PPN. (Pasal 15 A atay (1)
UU PPN)

Lebih detil batas waktu pembayaran diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
184/PMK.03/2007 s.t.t.d Peraturan Menteri Keuangan Nomor 80/PMK.03/2010 adalah
sebagai berikut:

(1)

PPh
Pasal
4
ayat
(2)
yang
dipot
ong
oleh
Pem
oton
g
Paja
k
Peng
hasil
an
haru
s
diset
or
palin
g
lama
tang
gal
10
(sep
uluh)
bula

22
n
berik
utny
a
setel
ah
Mas
a
Paja
k
bera
khir
kecu
ali
ditet
apka
n
lain
oleh
Ment
eri
Keua
ngan
.

(2) PPh Pasal 4 ayat (2) yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak harus disetor paling
lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir kecuali
ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan.

(3) PPh Pasal 15 yang dipotong oleh Pemotong PPh harus disetor paling lama tanggal 10
(sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.

(4) PPh Pasal 15 yang harus dibayar sendiri harus disetor paling lama tanggal 15 (lima
belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.

(5) PPh Pasal 21 yang dipotong oleh Pemotong PPh harus disetor paling lama tanggal 10
(sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.

(6) PPh Pasal 23 dan PPh Pasal 26 yang dipotong oleh Pemotong PPh harus disetor paling
lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.

(7) PPh Pasal 25 harus dibayar paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya
setelah Masa Pajak berakhir.

(8) PPh Pasal 22, PPN atau PPN dan PPnBM atas impor harus dilunasi bersamaan dengan
saat pembayaran Bea Masuk dan dalam hal Bea Masuk ditunda atau dibebaskan, PPh
Pasal 22, PPN atau PPN dan PPnBM atas impor harus dilunasi pada saat penyelesaian
dokumen pemberitahuan pabean impor.

23
(9) PPh Pasal 22, PPN atau PPN dan PPnBM atas impor yang dipungut oleh Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai, harus disetor dalam jangka waktu 1 (satu) hari kerja setelah
dilakukan pemungutan pajak.

(10) PPh Pasal 22 yang dipungut oleh bendahara harus disetor pada hari yang sama dengan
pelaksanaan pembayaran atas penyerahan barang yang dibiayai dari belanja Negara
atau belanja Daerah, dengan menggunakan Surat Setoran Pajak atas nama rekanan dan
ditandatangani oleh bendahara.

(11) PPh Pasal 22 atas penyerahan bahan bakar minyak, gas, dan pelumas kepada
penyalur/agen atau industri yang dipungut oleh Wajib Pajak badan yang bergerak
dalam bidang produksi bahan bakar minyak, gas, dan pelumas, harus disetor paling
lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.

(12) PPh Pasal 22 yang pemungutannya dilakukan oleh Wajib Pajak badan tertentu sebagai
Pemungut Pajak harus disetor paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya
setelah Masa Pajak berakhir.

(13) PPN yang terutang atas kegiatan membangun sendiri harus disetor oleh orang pribadi
atau badan yang melakukan kegiatan membangun sendiri paling lama tanggal 15 (lima
belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.

(13a)PPN yang terutang atas pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan/atau Jasa
Kena Pajak dari luar Daerah Pabean harus disetor oleh orang pribadi atau badan yang
memanfaatkan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak dari luar
Daerah Pabean, paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah saat
terutangnya pajak.

(14) PPN atau PPN dan PPnBM yang pemungutannya dilakukan oleh Bendahara
Pengeluaran sebagai Pemungut PPN, harus disetor paling lama tanggal 7 (tujuh) bulan
berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.

(14a)PPN atau PPN dan PPnBM yang pemungutannya dilakukan oleh Pejabat
Penandatangan Surat Perintah Membayar sebagai Pemungut PPN, harus disetor pada
hari yang sama dengan pelaksanaan pembayaran kepada Pengusaha Kena Pajak
Rekanan Pemerintah melalui Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara.

(15) PPN atau PPN dan PPnBM yang pemungutannya dilakukan oleh Pemungut PPN
selain Bendahara Pemerintah yang ditunjuk, harus disetor paling lama tanggal 15
(lima belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.

(16) PPh Pasal 25 bagi Wajib Pajak dengan kriteria tertentu sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3 ayat (3b) Undang-Undang KUP yang melaporkan beberapa Masa Pajak dalam
satu Surat Pemberitahuan Masa, harus dibayar paling lama pada akhir Masa Pajak
terakhir.

(17) Pembayaran masa selain PPh Pasal 25 bagi Wajib Pajak dengan kriteria tertentu
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3b) Undang-Undang KUP yang
melaporkan beberapa masa pajak dalam satu Surat Pemberitahuan Masa, harus

24
dibayar paling lama sesuai dengan batas waktu untuk masing-masing jenis pajak.

Dalam hal batas pembayaran atau penyetoran pajak bertepatan dengan hari libur
termasuk hari Sabtu atau hari libur nasional (termasuk hari yang diliburkan untuk
penyelenggaraan Pemilihan Umum yang ditetapkan oleh Pemerintah dan cuti bersama
secara nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah), pembayaran atau penyetoran pajak
dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya.

Pembayaran atau penyetoran pajak untuk suatu masa pajak sebagaimana dimaksud pada
Pasal 9 ayat (1) UU KUP, yang dilakukan setelah tanggal jatuh tempo pembayaran atau
penyetoran pajak, dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per
bulan yang dihitung dari tanggal jatuh tempo pembayaran sampai dengan tanggal
pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan. (Pasal 9 nayat (2a) UU
KUP)

Atas pembayaran atau penyetoran pajak untuk SPT Tahunan sebagaimana dimaksud pada
Pasal 9 ayat (2) yang dilakukan setelah tanggal jatuh tempo penyampaian Surat
Pemberitahuan Tahunan, dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen)
per bulan yang dihitung mulai dari berakhirnya batas waktu penyampaian Surat
Pemberitahuan Tahunan sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung
penuh 1 (satu) bulan. (Pasal 9 ayat (2b) UU KUP).

Berdasarkan ketentuan Pasal 10 UU KUP, Pembayaran pajak dilakukan dengan


menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) melalui Kantor Pos atau Bank Persepsi, yaitu
Bank-bank pemerintah atau bank swasta yang ditunjuk oleh pemerintah untuk menerima
setoran pajak. Formulir SSP tersebut dapat diperoleh di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dan
dapat diperbanyak sendiri oleh Wajib Pajak.

Formulir SSP terdiri dari 5 lembar dengan peruntukan :


1. Lembar ke 1 untuk Wajib Pajak
2. Lembar ke 2 untuk KPP melalui KPKN
3. Lembar ke 3 untuk KPP melalui Wajib Pajak
4. Lembar ke 4 untuk bank persepsi
5. Lembar ke 5 untuk Pemungut Pajak/kepentingan lain

Tempat Pembayaran
1. Tempat pembayaran dan penyetoran pajak adalah di Kantor Pos dan Giro dan Bank-bank
yang ditunjuk oleh Direktorat Jenderal Anggaran.
2. Direktorat Jenderal Pajak tidak dibenarkan menerima setoran pajak dari Wajib Pajak.
3. Untuk pembayaran fiskal Luar Negeri selain ditempat-tempat tersebut diatas dapat
dilakukan pada loket-loket pembayaran yang telah disediakan di Pelabuhan
keberangkatan.

PEMINDAHBUKUAN
Dasar dilakukan Pemindahbukuan
 Adanya Kelebihan Pembayaran pajak yang besarnya dinyatakan dalam SKPLB;

25
 Telah dilakukan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang yang besarnya
dinyatakan dalam SKPLB atas pajak yang seharusnya tidak terhutang.
 Adanya surat keputusan lainnya yang menyebabkan timbulnya kelebihan
pembayaran pajak yaitu antara lain ; Surat Keputusan atas permohonan
keberatan/banding yang mengakibatkan kelebihan pembayaran pajak.
 Adanya pembayaran yang lebih besar dari pajak terhutang dalam surat ketetapan
pajak yang mengakibatkan kelebihan pembayaran pajak.
 Adanya pemberian bunga terhadap Wajib Pajak akibat keterlambatan pengembalian
kelebihan pembayaran pajak.
 Adanya kesalahan dalam mengisi SSP baik yang menyangkut Wajib Pajak Sendiri
maupun Wajib Pajak lain.
 Adanya pemecahan setoran pajak yang berasal dari SSP menjadi beberapa jenis
pajak atau setoran dari beberapa Wajib Pajak.

Syarat Formal :
1. Diajukan kepada Kepala KPP yang berwenang melaksanakan pemindahbukuan
2. Diajukan secara tertulis dengan melampirkan :
a. Asli SSP yang akan dipindahbukukan
b. Asli PIB dalam hal Pbk dilakukan untuk pembayaran PPh Pasal 22 atau PPN Impor.
c. Daftar Nominatif Wajib Pajak yang menerima Pbk untuk pemecahan SSP oleh
Bendaharawan/Pemotong/Pemungut
d. Fotokopi SPT Masa/Tahunan yang setorannya diajukan pemindahbukuan beserta
pembetulannya
e. Bukti potong asli PPh Pasal 23 dan surat pernyataan tidak pernah membuat bukti
potong PPh Pasal 23 dalam hal bukti potong tersebut belum pernah dibuat
f. Alasan pengajuan Pbk secara jelas disertai bukti-bukti pendukung lain yang
diperlukan.
3. Dalam hal Nama dan pemegang asli SSP (yang mengajukan Pbk) tidak sama dengan
nama dan NPWP yang tercantum dalam SSP, maka pada permohonan disamping harus
dilampiri tersebut pada huruf a sampai dengan f juga harus dilampiri surat pernyataan
dari wajib pajak yang nama dan NPWP-Nya tercantum dalam SSP bahwa SSP tersebut
sebenarnya bukan pembayaran pajak untuk kepentingan sendiri dan tidak keberatan
dipindahbukukan kepada wajib pajak yang mengajukan Pbk.

26
Contoh Surat Setoran Pajak

1
DEPARTEMEN KEUANGAN R.I
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
SURAT SETORAN PAJAK LEMBAR
Untuk Arsip WP
PRATAMA SLEMAN (SSP)
NPWP : 0 2 . 8 0 4 . 2 9 9 . 7 - 5 4 2 . 0 0 0
Diisi sesuai dengan Nomor Pokok Wajib Pajak yang dimiliki
NAMA WP : …PT ABC……………………………………………...

27
ALAMAT : …Jl. Palagan 77 Ngaglik Sleman…………………………
…………………………………………………………………………………

Uraian Pembayaran
MAP/Kode Jenis Pajak Kode Jenis Setoran ………………PPh Pasal 25……..……………………
4 1 1 1 2 6 1 0 0 ……………………………………..………………………
…………………………………..…………………………
Masa Pajak
Tahun
2 0 0 9
Jan Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
Peb
Diisi tahun terutangnya pajak
Beri tanda silang pada salah satu kolom bulan untuk masa yang berkenaan

Nomor Ketetapan : / / / /
Diisi sesuai Nomor Ketetapan : STP, SKPKB, SKPKBT

Terbilang : ……TUJUHBELAS JUTA TIGARATUS RIBU …………


Jumlah Pembayaran
Diisi dengan rupiah penuh ………DUAPULUH LIMA RUPIAH…………………

Rp. …17.300.025………………….
Diterima oleh Kantor Penerima Pembayaran Wajib Pajak/Penyetor
Tanggal …………………. …SLEMAN., tgl 15 MARET 2009

Cap dan tanda tangan Cap dan tanda tangan

Nama Jelas : Nama Jelas : ………SUKAMTO………………


…………………………………………...
Ruang Validasi Kantor Penerima Pembayaran

28