Anda di halaman 1dari 8

PEMBERIAN GIZI SEIMBANG BAGI ANAK – ANAK SEKOLAH DASAR

OLEH :

KELOMPOK 5

1. NI WAYAN PUSPITA ARI 1520025038


2. PUTU PUTRI KENCANA 1520025008
3. KADEK DWI WINDAYANTI 1520025012
4. A. A. PUTRI PRASTI PRAJNA 1520025021
5. SABRINA GRACIA MELIDIANTORO 1520025042
6. PUTU LARASSITA ABDI PERTIWI 1520025044
7. VIKY YUDI ALVIAN 1520025051
8. MADE VIDYA PRATIWI 1520025065

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS UDAYANA

JULI 2016
Pemberian Gizi Seimbang pada Anak – Anak Sekolah Dasar

Anak merupakan aset bangsa yang paling berharga. Salah satu hal penting
yang dibutuhkan anak – anak dalam masa pertumbuhannya adalah asupan gizi yang
seimbang. Gizi sangat berpengaruh pada kesehatan, kecerdasan serta produktivitas
anak – anak (Pedoman Gizi Seimbang, 2014). Oleh sebab itulah penting menjaga
pola makan dan asupan gizi anak sehingga menciptakan anak – anak yang sehat,
cerdas dan produktif.
Asupan zat gizi makanan pada seseorang dapat menentukan tercapainya
tingkat kesehatan, atau sering disebut status gizi. Enam puluh dua persen lebih anak
di perkotaan memiliki tinggi badan normal dari segi umur, sedangkan anak di
pedesaan hanya 49% (Atmarita, 2007). Anak sekolah usia 6-12 tahun sangat
memerlukan perhatian terutama dalam pemenuhan kebutuhan gizi (Handari dan
Siti, 2005).
Kelompok anak sekolah merupakan kelompok rentan gizi, kelompok
masyarakat yang paling mudah menderita kelainan gizi, bila masyarakat terkena
kekurangan penyediaan bahan makanan. Pada umumnya kelompok ini
berhubungan dengan proses pertumbuhan yang relatif pesat, karena pada usia
sekolah anak memerlukan zat-zat gizi dalam jumlah relatif besar (Sediaoetama,
2004).
Status gizi merupakan salah satu faktor yang menentukan derajat kesehatan
anak. Jumlah serta kualitas makanan yang dikonsumsi menjadi perhatian khusus
dalam mengatur pola makan yang seimbang agar terhindar dari berbagai penyakit.
Gizi yang optimal sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik serta
kecerdasan anak – anak (Pedoman Gizi Seimbang, 2014). Pendidikan anak pada
usia sekolah tidak akan berjalan optimal apabila gizi yang diperlukan tidak optimal.
Hal ini disebabkan karena gizi penentu perkembangan dan pertumbuhan otak dan
fisik anak secara kognitif, biologis dan psikososial yang sangat pesat pada fase ini
meskipun dalam waktu yang terbatas (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia, 2009).
Sebagian besar penyakit yang menyerang anak – anak diakibatkan oleh
asupan gizi yang tidak optimal. Beberapa penyakit akibat asupan gizi yang tidak
optimal pada anak – anak adalah obesitas serta malnutrisi. Menurut data dari
Rikesdas pada tahun 20007 dan 2010 terdapat kenaikan persentase penderita
obesitas pada anak usia 6-19 tahun yaitu mengalami peningkatan dari 5,2% menjadi
5,9%. Riskesdas 2007, 2010, 2013 menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki
masalah kekurangan gizi.. Prevalensi kurus anak sekolah sampai remaja. Riskesdas
2010 sebesar 28,5% (Kemenkes, 2007, 2010, 2013).
Masalah gizi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di
Indonesia. Sepanjang tahun 2006 prevalensi gizi kurang pada anak sekolah dasar
mencapai 30,1% anak usia sekolah di Indonesia, gambaran ini ditemukan baik pada
laki-laki maupun perempuan dengan rincian 10% anak SD yang baru masuk
sekolah menderita Kurang Energi Protein (KEP), Gangguan Akibat Kekurangan
Yodium (GAKY) yang ditandai dengan adanya pembesaran kelenjar gondok masih
diderita oleh 9,1% anak SD, Kurang Vitamin A (KVA) diderita oleh 3% anak SD
dan Anemia gizi besi diderita oleh 8% anak SD. Kekurangan gizi belum dapat
diselesaikan sudah muncul masalah yang baru yaitu gizi lebih 11,40% (Supariasa,
dkk, 2002 dan Riskesdas 2007).
Melihat dari besaran kasus diatas maka penting halnya dalam mengatur pola
makan anak melalui asupan gizi seimbang. Gizi seimbang merupakan
pengonsumsian makanan sehari – hari yang mengandung zat gizi dalam jumlah
porsi yang sesuai dengan kebutuhan setiap orang atau kelompok umur. Konsumsi
makanan juga harus memperhatikan prinsip 4 pilar yaitu anekaragaman pangan,
perilaku hidup bersih, aktivitas fisik serta mempertahankan berat badan normal
(Pedoman Gizi Seimbang, 2014). Gizi seimbang mengandung komponen –
komponen seperti cukup dalam segi kualitas maupun kuantitas, mengandung
berbagai zat gizi (vitamin, protein, mineral, karbohidrat) yang diperlukan anak –
anak dalam proses pertumbuhan, untuk menjaga kesehatan , melakukan aktivitas
sehari – hari serta melakukan penyimpanan saat diperlukan nantinya (Pedoman Gizi
Seimbang, 2014).
Pola gizi seimbang harus ditanamkan pada anak sejak dini. Orang tua
mempunyai peranan penting dalam menanamkan pola asupan gizi seimbang pada
anak. Orang tua harus mulai menginformasikan mana makanan yang dapat
dikonsumsi ataupun yang tidak dapat dikonsumsi agar dalam melakukan
aktivitasnya anak – anak dapat memutuskan makanan apa yang akan
dikonsumsinya (Endang, 2014 dalam Pedoman Gizi Seimbang).
Berbagai aspek perlu diperhatikan dalam pemberian asupan makanan
dengan gizi seimbang pada anak usia sekolah dasar. Makanan pada anak usia
sekolah dasar harus selaras, serasi dan seimbang. Serasi berarti sesuai dengan
tingkat tumbuh kembang anak, selaras dalam arti sesuai dengan keadaan ekonomi,
sosial, budaya, agama anak serta seimbang dalam hal nilai gizi harus seimbang
sesuai proporsi dan kebutuhan anak tersebut (Widodo, 2012).
Keseluruhan pemaparan gizi seimbang dirangkum dalam sebuah piramida
yang disebut dengan istilah tumpeng gizi seimbang yang menggantikan selogan 4
sehat 5 sempurna. Porsi untuk anak dalam asupan sehari dapat mengikuti panduan
tumpeng gizi seimbang. Asupan karbohidrat yang dianjurkan adalah sekitar 3-4
porsi sedang dalam sehari. Porsi sayuran yang dianjurkan adalah 3-4 porsi sesuai
dengan kebutuhan anak. Porsi buah – buahan yang dianjurkan adalah 2-3 porsi buah
dalam ukuran sedang. Asupan protein seperti daging dan ikan dianjurkan 2-4 porsi
dalam sehari. Anak sekolah dasar sedang dalam tahap perkembangan memerlukan
protein yang cukup untuk perkembangan otak serta pertumbuhan. Selain itu tak
boleh lupa untuk mengonsumsi air putih kurang lebih 8 gelas sehari. Serta
membatasi pemberian gula, garam dan minyak berlebih yang dapat meningkatan
resiko obesitas (Pedoman Gizi Seimbang, 2014).
Kebutuhan serta kondisi fisik yang berbeda pada setiap anak menyebabkan
perbedaan kuantitas makanan yang diperlukan. Akibat dari variasi tersebut maka
dalam hal memberikan makanan pada anak harus dilakukan secara persuasif. Hal
lain yang tak kalah penting yaitu membedakan porsi makan pada anak laki – laki
dan perempuan. Anak laki – laki pada usia sekolah dasar umumnya lebih aktif
dalam beraktivitas, maka harus diberikan porsi makan yang lebih besar dari anak
perempuan (Widodo, 2012).
Pemberian sarapan bagi anak – anak sebelum berangkat ke sekolah adalah
hal yang sangat baik dilakukan. Anak – anak pada usia sekolah sangat aktif
beraktivitas sehingga memerlukan energi yang lebih besar. Sarapan pagi dianjurkan
untuk memenuhi setidaknya ¼ kalori sehari. Makanan bergizi yang baik
dikonsumsi saat sarapan adalah roti, telur, semangkuk bubur ayam, susu, serta buah.
Namun jika anak – anak tidak mendapat sarapan pagi ada baiknya anak – anak
dibekali dengan snack atau makanan berat yang bergizi lengkap dan seimbang
misalnya roti isi daging. Bagi anak sekolah sarapan terbukti dapat meningkatkan
konsentrasi dan stamina belajar. Selain itu dengan sarapan terbukti anak dapat
terhindar dari bahaya obesitas. Pada anak sekolah makan pagi sangat dianjurkan
sehingga pada saat menerima pelajaran (1-2 jam setelah makan) gula darah naik
dan dapat dipakai sebagai sumber energi otak. Otak mendapat energi terutama dari
glukosa. Pada proses belajar otak merupakan organ yang sangat penting untuk
menerima informasi, mengolah informasi, menyimpan informasi dan
mengeluarkan informasi (Pedoman Gizi Seimbang, 2014).
Protein bagi anak sekolah mempunyai peranan penting dalam pertumbuhan
anak. Protein selain untuk membangun struktur tubuh ( pembentukan berbagai
jaringan ) juga akan disimpan untuk digunakan dalam keadaan darurat sehingga
pertumbuhan atau kehidupan dapat terus terjamin dengan wajar. Kekurangan
protein yang terus menerus akan menimbulkan gejala yaitu pertumbuhan kurang
baik, daya tahan tubuh menurun, rentan terhadap penyakit, daya kreatifitas dan daya
kerja merosot, mental lemah dan lain-lain (Kartasapoetra & Marsetyo,2003).
Sumber-sumber protein diperoleh dari bahan makanan berasal dari hewan dan
tumbuh-tumbuhan. Protein hewani termasuk kualitas lengkap dan protein nabati
mempunyai nilai kualitas setengah sempurna atau protein tidak lengkap
(Sediaoetama, 1987)
Asupan air juga tak kalah penting bagi anak usia sekolah. Air berpengaruh
dalam melancarkan metabolisme serta melancarkan sistem sirkulasi darah. Berikan
anak – anak air secukupnya sesuai kebutuhannya. Kekurangan air pada anak usis
sekolah dapat menimbulkan kelelahan (Fatique), menurunkan atensi atau
konsentrasi belajar (Depkes RI, 2007).
Pesan gizi seimbang pada anak sekolah adalah dengan membiasakan makan
3 kali sehari (Pagi, siang, malam) secara teratur untuk mengurangi intensitas anak
mengonsumsi jajanan di luar rumah. Tidak hanya itu, anak usia sekolah perlu
membiasakan diri makan ikan serta sumber protein lainnya untuk memelihara sel
dan jaringan dalam tubuh serta mengganti sel – sel yang telah rusak. Biasakan untuk
makan sayur dan buah – buahan yang kaya akan vitamin, mineral dan serat. Hal
yang tak kalah penting adalah dengan membatasi konsumsi makanan cepat saji,
jajanan, makanan asin, manis dan berlemak yang dapat meningkatkan resiko
obesitas (Pedoman Gizi Seimbang, 2014).
Anak usia sekolah dasar yang banyak menghabiskan waktu bermain di luar
cenderung terpengaruh oleh makanan jajanan serta mempunyai kecenderungan
yang tinggi terinfeksi penyakit. Jajanan sangat berpengaruh terhadap kejadian
obesitas yang terjadi pada anak. Pangan jajanan anak sekolah memberikan
kontribusi sebesar 31.1 % dan 27,4% terhadap keseluruhan asupan energi dan
protein anak sekolah dasar (BPOM RI, 2009). Anak sekolah yang melewatkan
sarapan cenderung akan mengonsumsi jajanan lebih sering. Makanan jajanan kaki
lima menyumbang asupan energi bagi anak sekolah sebanyak 36%, protein 29%
dan zat besi 52%. Makanan jajanan kaki lima memang tidak dapat dipisahkan dari
kehidupan anak – anak sekolah. Namun hal yang perlu diperhatikan adalah terkait
dengan keamanan jajanan tersebut. Jajanan kaki lima yang tercemar secara biologis
maupun kimiawi dapat berakibat buruk pada kesehatan anak. Bahan – bahan
pembuat jajanan kaki lima yang terkontaminasi zat berbahaya seperti borax yang
bersifat karsinogenik harus dihindarkan dari anak – anak. Selain dapat
menyebabkan kanker, makanan jajanan yang terkontaminasi jika terakumulasi di
dalam tubuh anak dapat menyebabkan gangguan tidur dan gangguan perilaku pada
anak (Soepardi, 2003). Untuk menghindari hal tersebut, penting halnya bagi orang
tua untuk selalu memperhatikan makanan yang dikonsumsi anak – anaknya.
Langkah yang dapat dilakukan orang tua adalah dengan menyediakan camilan sehat
dan bergizi bagi anak sekolah dasar yang sedang dalam tahap pertumbuhan dengan
memperhatikan kandungan gizi serta kebersihan makanan yang diberikan.
Hal yang tak kalah penting adalah membiasakan perilaku hidup bersih pada
anak. Perilaku hidup bersih sangat berkaitan dengan gizi seimbang. Apabila anak
menderita penyakit infeksi akibat perilaku hidup yang tidak sehat, maka anak akan
cenderung mengalami penurunan nafsu makan. Hal tersebut akan berdampak pada
penurunan jumlah dan jenis zat gizi yang masuk ke dalam tubuh. Sebaliknya dalam
keadaan infeksi, tubuh memerlukan lebih banyak asupan gizi untuk meningkatkan
metabolisme pada anak yang menderita apalagi jika disertai dengan demam. Pada
beberapa kasus anak yang menderita infeksi dan disertai dengan diare maka akan
berdampak pada hilangnya zat gizi dan cairan tubuh. Hal tersebut akan
memperparah kondisi anak akibat penurunan daya tahan tubuh. Oleh sebab itu
penting untuk membiasakan anak dalam menerapkan pola hidup sehat seperti
mencuci tangan setelah bermain, serta sebelum makan, menutup makanan yang
akan dihidangkan untuk menghindari penularan bakteri melalui perantara lalat, dan
membiasakan anak untuk selalu menggunakan alas kaki sebagai bagian dari
penerapan gizi seimbang pada anak.
Perubahan pengetahuan gizi pada anak SD merupakan suatu perubahan
tingkat pengetahuan ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Perubahan
pengetahuan gizi diharapkan dapat memberikan perubahan sikap dan perilaku anak
dalam upaya perbaikan gizi. Anak dapat secara rutin sarapan sebelum berangkat
sekolah dan mengetahui apa yang dibutuhkan oleh tubuh.
DAFTAR PUSTAKA

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Pedoman Gizi Seimbang.


Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Judarwanto, Widodo. 2012. Perilaku Makan Anak Sekolah.

Mulyani, Erry Yudhya, dkk. 2014. Pengetahuan, Sikap, Perilaku Gizi Seimbang
Anak Sekolah Dasar di SDN GU 12 Pagi. Jurnal Abdimas Volume 1 Nomor
1 Tahun 2004.