Anda di halaman 1dari 12

Referat Penyakit Radang Panggul

Pendahuluan

Pelvic inflammatory disease (PID) atau dalam Bahasa Indonesia disebut juga penyakit
radang panggul adalah infeksi pada alat genital atas wanita dimana proses penyakitnya dapat
meliputi endometrium, tuba falopii, ovarium, miometrium, parametrium, dan peritoneum
panggul.1-5 Penyebab tersering PID adalah N. gonorrhoeae atau C. trachomatis, dimana
sebanyak 85% kasus PID terjadi pada perempuan usia reproduksi yang secara seksual aktif.6

Pada makalah ini disajikan mulai dari epidemiologi di Indonesia, etologi, faktor resiko;
patofisiologi terjadinya PID antara lain naiknya mikroorganiisme dari organ genitalia bawah ke
organ genitalia atas, infeksi secara hematogen, dan infeksi secara limfogen; kriteria diagnosa
minimal, tambahan, dan penguat diagnosa PID juga akan dibahas; pada penatalaksanaan
dijelaskan kriteria pasien yang seharusnya mendapat tirah baring dan penatalaksanaan
farmakologis parenteral dan peroral berdasarkan regimen-regimennya; pencegahan; hingga
prognosis; dan kesimpulan dari referat mengenai PID ini.

1
Definisi

Pelvic inflammatory disease (PID) atau dalam Bahasa Indonesia disebut juga penyakit
radang panggul adalah infeksi pada alat genital atas wanita dimana proses penyakitnya dapat
meliputi endometrium, tuba falopii, ovarium, miometrium, parametrium, dan peritoneum
panggul.1-5

Epidemiologi

Secara epidemiologik di Indonesia insidensinya sebesar lebih dari 850.000 kasus baru
setiap tahun. PID merupakan infeksi serius yang paling biasa pada perempuan umur 16 sampai
25.1

Ada kenaikan insidensi PID dalam 2 sampai 3 dekade yang lalu, disebabkan beberapa
faktor, antara lain adat istiadat sosial yang lebih liberal, insidensi patogen menular seksual
seperti C. trachomatis, dan pemakaian metode kontrasepsi bukan rintangan yang lebih luas
seperti alat kontrasepsi dalam rahim.1

Etiologi

Kurang lebih 15% kasus PID terjadi setelah tindakan seperti biopsi endometrium,
kuretase, histeroskopi, dan insersi IUD. Sedangkan 85% kasus terjadi infeksi spontan pada
perempuan usia reproduksi yang secara seksual aktif.1

Penyebab tersering dari PID adalah N. gonorrhoeae atau C. trachomatis. Namun


mikroorganisme lainnya juga dapat menjadi penyebab PID, antara lain:6

 Gagdnerella vaginalis
 Mycoplasma hominis
 Mycoplasma genitalium
 Ureaplasma urealyticum
 Herpes simplex virus 2 (HSV-2)

2
 Trichomonas vaginalis
 Cytomegalovirus (CMV)
 Haemophilus influenzae
 Streptococcus agalactiae
 Enteric gram-negative (contoh, Escherichia coli)
 Enterococcus, sering didapat pada PID akibat pemasangan IUD.
 Peptococcus spesies
 Bakteri anaerob

Faktor Resiko

Faktor resiko dari PID antara lain:1-3

 Riwayat PID.

 Multiple sexual partners, didefinisikan sebagai lebih dari dua pasangan sex dalam kurung
waktu 30 hari.

 Infeksi oleh penyakit menular seksual, dan sekitar 15% pasien dengan gonnorea
anogenital tanpa komplikasi akan berkembang menjadi PID pada akhir atau segera
setelah menstruasi.

 Pemakaian IUD dapat meningkatkan risiko PID tiga sampai lima kali. Risiko PID
terbesar terjadi waktu pemasangn IUD dan dalam 3 minggu pertama setelah pemasangan.

 Penyalahguna zat

 Status ekonomi rendah

 Tidak menggunakan kontrasepsi mekanis dan/atau kimiawi.

 Usia muda (10-19 tahun)

3
 Status lajang dimana jika terdapat infeksi di alat genital terapi melalui vagina tidak
dilakukan karena hymen yang masih utuh sehingga penyembuhan tidak maksimal dan
memungkinkan mikroorganisme penginfeksi untuk naik ke alat genital atas.

Patofisiologi

Secara patofisiologi ada 3 cara mikroorganisme mencapai pelvik untuk menginfeksi,


yaitu naik melalui saluran genital bawah menuju pelvik, hematogen, dan limfogen.2

Salah satu patofisiologi adalah bahwa organisme menular seksual memulai proses
inflamasi akut yang menyebabkan kerusakan jaringan sehingga memungkinkan akses oleh
organisme lain dari vagina atau serviks ke alat genital atas. Aliran darah menstruasi dapat
mempermudah infeksi pada alat genital atas dengan menghilangkan sumbat lendir serviks,
menyebabkan hilangnya lapisan endometrium dan efek protektifnya serta menyediakan medium
biakan yang baik untuk bakteri yaitu darah menstruasi.1-3

Secara hematogen dan limfogen PID memang jarang, namun dapat terjadi. Secara
hematogen PID salah satunya dapat disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.

Gejala dan Diagnosis

Dari anamnesa, seringkali keluhan yang paling sering diungkapkan adalah nyeri
abdominopelvik. Keluhan lainnya dapat berupa keuarnya cairan vagina atau perdarahan, demam
dan menggigil, serta mual dan disuria. Bisa didapatkan juga keluhan seperti infeksi traktur
urinarius.1-5

Kriteria minimum PID adalah ditemukannya ketiga gejala berikut:1-7

 Nyeri gerak serviks

 Nyeri tekan uterus

 Nyeri tekan adneksa

4
Kriteria tambahan yang dapat digunakan untuk menambah sesifisitas kriteria minimum
dan mendukung diagnosis PID, antara lain:1-7

 Suhu oral > 38,3o C.

 Sekret mukopurulen dari vagina maupun serviks.

 Lekosit dalam jumlah banyak pada pemeriksaan mikroskop sekret vagina dengan salin.

 Kenaikan laju endap darah (LED)

 Protein C-reaktif meningkat.

 Dokumentasi laboratorium infeksi serviks oleh N. gonnoerrhoae atau C. trachomatis.

Kriteria diagnosis PID paling spesifik meliputi:1-7

 Biopsi endometrium disertai bukti histopatologis endometritis.

 USG transvaginal atau MRI memperlihatkan tuba menebal penuh berisi cairan dengan
atau tanpa cairan bebas di panggul atau kompleks tubo-ovarial atau pemeriksaan Doppler
menyarankan infeksi panggul, contohnya hiperemi tuba. Incomplete septation dari
dinding tuba (“coghwheel sign”) tanda dari penyakit akut, sedangkan dinding tipis
(“beaded string”) mengindikasikan penyakit kronis. USG hampir 90% akurat
dibandingkan dengan diagnosis laparoskopi.2

 Hasil pemeriksaan laparoskopi yang konsisten dengan PID.

 Culdocentesis dilakukan dengan menggunakan jarum spinal yang panjang untuk


mengambil sampel isi rongga peritoneal dari kavum Douglasi. Dapat dilakukan dengan
atau tanpa lokal anestesi. 2

Perbandingan cairan hasil culdocentesis:2

1) Darah, dapat disebabkan:

 Ruptur kehamilan ektopik.

5
 Perdarahan dari kista korpus luteum.

 Retrograde menstruation.

 Ruptur limpa atau hati.

 Perdarahan di gastointestinal.

 Salpingitis akut.

2) Pus, dapat disebabkan:

 Ruptur tubo-ovarian abses.

 Ruptur apendiks.

 Ruptur dari divertikular abses.

 Uterin abses dengan mioma.

3) Keruh, dapat disebabkan:

 Pelvik peritonitis (contohnya pada akut gonococal salpingitis)

 Torsio kista adnexal.

 Atau penyebab peritonitis lainnya seperti: apendisitis, pankreatitis,


kolesistitis, carcinomatosi, dan lain-lain.

Penatalaksanaan

Beberapa ahli menyarankan bahwa pasien PID dirawat inap untuk segera dimulai
istirahat tirah baring dan pemberian antibiotika parenteral dalam pengawasan. Namun keputusan
rawat inap ada di tangan masing-masing dokter. Kriteria rawat inap yang disarankan, antara
lain:1,3,8

1. Terdapat kedaruratan bedah, misalnya apendisitis.

6
2. Pasien sedang hamil.

3. Pasien tidak memberikan respon klinis terhadap antimikroba oral.

4. Pasien tidak mampu mengikuti atau mentaati pengobatan rawat jalan.

5. Pasien menderita sakit berat, mual dan muntah, atau demam tinggi.

6. Ada abses tuboovarial.

Terapi PID ditunjukkan untuk mencegah kerusakan tuba yang menyebabkan infertilitas
dan kehamilan ektopik, serta pencegahan infeksi kronik. Banyak pasien yang berhasil diterapi
dengan rawat jalan dan terapi rawat jalan dini harus menjadi pendekatan terapeutik permulaan.
Pemilihan antibiotika harus ditunjukkan pada organisme etiologik utama (N. gonorrhoeae atau
C. trachomatis) tetapi juga harus mengarah pada sifat polimikrobial PID.1,8

Untuk pasien dengan PID ringan atau sedang, terapi oral dan parenteral mempunyai daya
guna klinis yang sama. Sebagian besar klinisi menganjurkan terapi parenteral paling tidak selama
48 jam kemudian dilanjutkan dengan terapi oral 24 jam setelah ada perbaikan klinis.

Terapi parenteral:8

 Rekomendasi terapi parenteral regimen A

 Cefotetan 2 gram IV setiap 12 jam

atau

Cefoxitin 2 gram IV setiap 6 jam

ditambah

 Doxycycline 100 mg peroral atau IV setiap 12 jam

Parenteral terapi dapat dihentikan jika ada perbaikan klinis, namun terapo oral harus
berlanjut selama 14 hari.

7
Jika terdapat tuboovarian abses, clindamycin atau metronidazole dapat digunakan
untuk melanjutkan terapi dibandingkan metronidazole terapi doxycycline tunggal
karena regimen ini memberikan perlindungan lebih terhadap bakteri anaerob.

 Rekomendasi terapi parenteral regimen B

 Clindamycin 900 gram IV setiap 8 jam

ditambah

 Gentamicin loading dose IV atau IM (2mg/kgBB), dilanjutkan maintenance dose


(1,5 mg/kgBB) setiap 8 jam. Dapat diganti dengan dosis tunggal harian (3-5
mg/kgBB).

Parenteral terapi dapat dihentikan 24 jam setelah perbaikan klinis. Oral terapi yang
sedang diberikan 100 mg peroral sebanyak 2 kali sehari harus dilanjutkan atau
clindamycin 450 mg peroral sebanyak 4 kali sehari selama 14 hari.

Jika terdapat tuboovarian abses, clyndamycin harus dilanjutkan karena memiliki


perlindungan yang lebih efektif terhadap bakteri anaerob.

 Rekomendasi terapi parenteral regimen alternatif

 Ampicillin/Sulbactam 3 gram IV setiap 6 jam

ditambah

 Doxycycline 100 mg peroral atau IV setiap 12 jam.

Ampicillin/sulbactam ditambah doxycycline efektif terhadap C. trachomatis, N.


gonorrhoeae, dan bakteri anaerob pada tuboovarian abses.

Suatu percobaan menunjukkan tingginya penyembuhan jangka pendek dengan


azithromycin, baik monoterapi selama 1 minggu (500 mg IV untuk 1 atau 2 dosis
dilanjutkan dengan 250 mg peroral selama 5-6 hari) atau kombinasi dengan
metronidazole selama 12 hari.

8
Terapi Oral8

 Rekomendasi regimen

 Ceftriaxone 250 mg IM dosis tunggal

atau

Cefoxitin 2 gram IM dosis tunggal dan Probenecid 1 gram peroral dosis tunggal

atau

Sefalospotin generasi tiga lainnya (contoh ceftizoxime atau cefotaxime)

ditambah

 Doxycycline 100 mg peroral 2x/hari selama 14 hari

dengan/tanpa

 Metronidazole 500 mg peroral 2x/hari selama 14 hari.

Follow Up

Pasien yang mendapatkan terapi dan tidak menunjukkan perbaikan klinis dalam 3 hari
harus dievaluasi ulang. Biasanya evaluasi ulang dapat dengan memasukan pasien ke RS,
memastikan ulang diagnosis dengan pemeriksaan tambahan, hingga intervensi bedah.1,7

Pasien dengan infeksi chlamydia atau gonococcal memiliki angka kekambuhan cukup
tinggi dalam waktu 6 bulan, sehingga dianjurkan untuk kontrol lagi dalam waktu 3-6 bulan
setelah pengobatan, dan juga dianjurkan untuk ditawarkan tes HIV.7

Komplikasi

Komplikasi dari PID antara lain pelvik peritonitis, prolonged adynamic ileus,
pembentukan abses dengan kerusakan adhneksa, infertilitas, intestinal adhesi dan obstruksi.
Dermatitis, gonococcal arthritis, maupun bacteremia dengan syok septik jarang terjadi.

9
Diagnosis Banding

Diagnosis banding untuk PID antara lain apendisitis akut, kehamilan ektopik, ruptur kista
korpus luteum dengan perdarahan, divertikulitis, torsi dari masa adnexal, degenerasi leiomyoma,
endometriosis, infeksi akut traktus urinarius, kolitis ulseratif.

Pencegahan

Pencegahan PID bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan terutama organ genital,
penggunaan kondom, serta melakukan skrining dan pengobatan pada pasangan seksual penderita
PID.8

Prognosis

Ad vitam : ad bonam

Ad functionam : Sebanyak 25% mengalami reinfeksi setelah 10 tahun, 21% infertil, 13%
mengalami oklusi tuba. Pasien dengan riwayat PID yang hamil memiliki
kemungkinan 6 kali lebih besar untuk mengalami kehamilan ektopik.

Ad sanationam : ad bonam

10
Kesimpulan

Pelvic inflammatory disease (PID) adalah infeksi pada alat genital atas wanita dimana
proses penyakitnya dapat meliputi endometrium, tuba falopii, ovarium, miometrium,
parametrium, dan peritoneum panggul, dimana sebanyak 85% kasus PID terjadi pada perempuan
usia reproduksi yang secara seksual aktif. Mikroorganisme penyabab tersering adalah N.
gonorrhoeae atau C. trachomatis. Proses terjadinya infeksi dapat berasal dari genitalia bawah,
hematogen, maupun limfogen. Komplikasi PID dapat berupa pelvik peritonitis, prolonged
adynamic ileus, pembentukan abses dengan kerusakan adhneksa, infertilitas, intestinal adhesi
dan obstruksi. Dan dapat dicegah dengan menjaga kebersihan alat genital, penggunaan kondom,
serta skrining dan pengobatan pada pasangan seksual penderita PID. Prognosis PID terhadap
fungsi organ kurang baik karena 25% penderita PID mengalami reinfeksi setelah 10 tahun, 21%
infertil, 13% mengalami oklusi tuba. Pasien dengan riwayat PID yang hamil memiliki
kemungkinan 6 kali lebih besar untuk mengalami kehamilan ektopik.

11
12