Anda di halaman 1dari 128

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seiring berkembangnya pelayanan kesehatan pada era global, tuntutan
kebutuhan masyarakat akan pelayanan yang prima semakin meningkat.
Perawat dan seluruh tenaga kesehatan di rumah sakit dituntut untuk selalu
bersikap profesional. Hal ini guna menjaga mutu pelayanan suatu sistem
pelayanan keperawatan di rumah sakit mengingat saat ini semakin kritisnya
keluarga pasien terhadap upaya pelayanan kesehatan yang diberikan perawat
kepada anggota keluarganya yang sakit. Dengan berkembangnya masyarakat
dan berbagai bentuk pelayanan professional serta kemungkinan adanya
perubahan kebijakan dalam bidang kesehatan, maka mungkin saja akan terjadi
pergeseran peran keperawatan dalam system pemberian pelayanan kesehatan
kepada masyarakat.
Perawat sebagai mitra dokter dan petugas kesehatan yang paling lama
berinteraksi dengan pasien sudah seharusnya mampu untuk memberikan
pelayanan kesehatan secara maksimal dan profesional dengan didukung oleh
ilmu pengetahuan kesehatan, terutama ilmu keperawatan. Kondisi ini menjadi
tuntutan bagi para pembaharu di bidang keperawatan untuk mengembangkan
suatu metode pemberian asuhan keperawatan agar dapat diimplementasikan
dalam pengorganisasian ruang keperawatan sehingga dapat menjamin dan
meningkatkan mutu pelayanan melalui pemberian asuhan keperawatan.
Asuhan keperawatan merupakan titik sentral dalam pelayanan
keperawatan. Aspek yang tidak bisa lepas dari pemberian asuhan keperawatan
profesional adalah proses manajemen keperawatan. Manajemen keperawatan
merupakan suatu proses dalam mengelola suatu pelayanan keperawatan,
dengan melibatkan anggota staf keperawatan untuk memberikan asuhan
keperawatan yang profesional. Dalam melakukan manajemen keperawatan,
manajer keperawatan dituntut untuk merencanakan, mengorganisasikan,
memimpin dan mengevaluasi sarana dan prasaran yang tersedia untuk dapat
memberikan asuhan keperawatan seefektif dan seefisien mungkin bagi
individu, keluarga dan masyarakat (Nursalam, 2011).
Proses manajemen keperawatan sejalan dengan proses keperawatan
sebagai satu metode pelaksanaan asuhan keperawatan secara profesional,
sehingga diharapkan keduanya dapat saling mendukung. Sebagaimana yang
terjadi di dalam proses keperawatan, dalam manajamenen keperawatan juga
terdiri dari pengumpulan data, identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan
dan evaluasi hasil. Manajemen keperawatan khusus membahas mengenai
kepegawaian, maka setiap tahapan di dalam proses manajemen lebih rumit
jika dibandingkan dengan proses keperawatan. roses manajemen keperawatan
sejalan dengan proses keperawatan sebagai suatu metode pelaksanaan asuhan
keperawatan secara profesional, sehingga diharapkan keduanya saling
menopang. Manajemen keperawatan harus dapat diaplikasikan dalam tatanan
pelayanan nyata salah satunya rumah sakit, sehingga perawat perlu memahami
konsep dan aplikasinya.
Asuhan keperawatan profesional terdiri dari lima metode yang sudah ada
dan akan terus berkembang di masa depan dalam menghadapi trend pelayanan
keperawatan. Kelima metode pemberian asuhan keperawatan profesional
memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Berdasarkan hasil
pengkajian yang dilakukan mulai tanggal 6 April 2017 didapatkan bahwa
metode asuhan keperawatan yang saat ini sedang dilaksanakan pada ruang
Nusa Indah adalah metode tim, namun pada aplikasinya masih menganut
penerapan metode modifikasi fungsional tim sehingga saat ini masih
dilaksanakan metode modifikasi antara fungsional dan tim. Alasan
penggunaan metode ini menurut Nursalam (2011), bahwa penetapan sistem
model MAKP ini didasarkan pada beberapa alasan, yaitu masih terbatasnya
jumlah dan kemampuan perawat, memungkinkan pelayanan keperawatan yang
menyeluruh, mendukung pelaksanaan proses keperawatan, memungkinkan
komunikasi antar tim, sehingga konflik mudah diatasi dan memberi kepuasan
kepada anggota tim.
Berdasarkan uraian diatas maka kelompok kami ingin menganalisis
penerapan MAKP telah dilaksanakan di Ruang Nusa Indah dan melaksanakan
penerapan metode MAKP di Ruang Nusa Indah RSUP Sanglah Denpasar.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah melaksanakan kegiatan praktik manajemen keperawatan,
diharapkan mahasiswa mampu menerapkan konsep dan prinsip-prinsip
kepemimpinan serta manajemen keperawatan dengan menggunakan
Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP).
2. Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian terhadap situasi ruangan di Ruang Nusa Indah
RSUP Sanglah dengan metode pendekatan 5M (Man, Material,
Method, Money, dan Market).
b. Melakukan analisis situasi berdasarkan analisa SWOT.
c. Merumuskan permasalahan yang ditemukan dan program inovasi yang
dapat diterapkan di Ruang Nusa Indah RSUP Sanglah Denpasar.
d. Menyusun rencana strategis dan operasional ruangan berdasarkan hasil
pengkajian MAKP, antara lain timbang terima, ronde keperawatan,
supervisi keperawatan, dokumentasi keperawatan, sentralisasi obat,
dan discharge planning dan menganalisis penerapan Model Asuhan
Keperawatan Profesional (MAKP) di Ruang Nusa Indah RSUP
Sanglah Denpasar.
e. Menyusun rencana strategis untuk menjalankan program inovasi yang
telah ditemukan, diantaranya: timbang terima, ronde keperawatan,
supervisi keperawatan, dokumentasi, sentralisasi obat dan discharge
planning.
C. Manfaat
1. Bagi Pasien
Tercapainya kepuasan dan rehabilitasi klien yang optimal dengan
pelayanan keperawatan yang diperoleh di Ruang Nusa Indah RSUP
Sanglah Denpasar.
2. Bagi Perawat
a. Tercapainya tingkat kepuasan kerja optimal.
b. Terbinanya hubungan baik antara perawat dengan perawat, perawat
dengan tim kesehatan lain, dan perawat dengan pasien beserta keluarga
pasien.
c. Tumbuh dan terbinanya akuntabilitas dan disiplin perawat.
3. Bagi Rumah Sakit
a. Terciptanya inovasi baru untuk pengelolaan ruang rawat inap sehingga
metode penugasan yang akan dilaksanakan dapat dimodifikasi.
b. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan khususnya pelayanan
keperawatan.
c. Mengetahui masalah-masalah yang ada di ruang rawat inap khususnya
Ruang Nusa Indah RSUP Sanglah Denpasar yang berkaitan dengan
pelaksanaan MAKP, sehingga mampu memberikan solusi atau
perubahan yang lebih optimal dalam hal pelayanan keperawatan.

D. Tempat dan waktu


Tempat dilaksanakannya praktik klinik manajemen keperawatan ini adalah di
Ruang Nusa Indah RSUP Sanglah Denpasar mulai tanggal 6 Apri – 21 April
2017.

BAB II
KAJIAN TEORI

A. M1 (Man)
Dalam menerapkan model asuhan keperawatan professional dibutuhkan
tenaga yang mampu memberikan asuhan keperawatan professional. Untuk itu
penataan tenaga keperawatan dalam ruang rawat inap sangat diperlukan.
1. Ketenagaan
Efektifitas dan efisiensi ketenagaan dalam keperawatan sangat
ditunjang oleh pemberian asuhan keperawatan yang tepat dan kompetensi
perawat yang memadai. Oleh karena itu, perlu kiranya dilakukan
perencanaan yang strategis dan sistematis dalam memenuhi kebutuhan
tenaga keperawatan. Perencanaan yang baik mempertimbangkan
klasifikasi pasien berdasarkan tingkat ketergantungan, metode pemberian
asuhan keperawatan, jumlah dan kategori tenaga keperawatan serta
perhitungan jumlah tenaga keperawatan. Untuk itu diperlukan kontribusi
dari manajer keperawatan dalam menganalisis dan merencanakan.
Pengaturan tindakan medis secara umum dalam UU No. 36 Tahun
2009 tentang kesehatan dapat dilihat dalam pasal 63 ayat (4) yang
menyatakan bahwa pelaksanaan pegobatan dan atau perawatan
berdasarkan ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan hanya dapat dilakukan
oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk
itu.
Kinerja profesi keperawatan dinilai tidak hanya berdasarkan konsep
keilmuan yang dimiliki tetapi juga berdasarkan pelayanan yang diberikan
kepada pasien. Untuk memberikan pelayanan yang prima seorang perawat
tidak hanya membutuhkan keahlian medis tetapi harus memiliki empati
dan tingkat emosionalitas yang baik (PPNI, 2002). Dengan
berkembangnya keperawatan sebagai suatu profesi, diperlukan penetapan
standar praktik keperawatan. Standar praktik sangat penting untuk menjadi
pedoman objektif didalam menilai asuhan keperawatan. Apabila sudah ada
standar, klien akan yakin bahwa ia mendapatkan asuhan yang bermutu
tinggi. Standar praktik juga sangat penting jika terjadi kesalahan yang
terkait dengan hukum (Sitorus, 2006).
Penetapan standar ini juga bertujuan untuk mempertahankan mutu
pemberian asuhan keperawatan yang tinggi. Persatuan Perawat Nasional
Indonesia (PPNI) sudah menetapkan standar praktik keperawatan yang
dikembangkan berdasarkan standar praktik yang dikeluarkan oleh
American Nursing Association/ANA (PPNI, 2002). Standar praktik
keperawatan yang ditetapkan yaitu :
a. Standar I : Perawat mengumpulkan data tentang kesehatan klien.
b. Standar II : Perawat menetapkan diagnosa keperawatan.
c. Standar III : Perawat mengidentifikasi hasil yang diharapkan untuk
setiap klien.
d. Standar IV : Perawat mengembangkan rencana asuhan keperawatan
yang berisi rencana tindakan untuk mencapai hasil yang diharapkan.
e. Standar V : Perawat mengimplementasikan tindakan yang sudah
ditetapkan dalam rencana asuhan keperawtan.
f. Standar VI : Perawat mengevaluasi perkembangan klien dalam
mencapai hasil akhir yang sudah ditetapkan.

2. Tingkat Ketergantungan Pasien


Berdasarkan teori Self Care Defisit oleh Orem Kriteria Klasifikasi Tingkat
Ketergantungan Pasien:
Minimal Care
a. Pasien bisa mandiri/ hampir tidak memerlukan bantuan
1) Mampu naik turun tempat tidur
2) Mampu ambulasi dan berjalan sendiri
3) Mampu makan dan minum sendiri
4) Mampu mandi sendiri atau mandi sebagaian dengan bantuan.
5) Mampu membersihkan mulut (sikat gigi sendiri)
6) Mampu berpakaian dan berdandan dengan sedikit bantuan
7) Mampu BAB dan BAK dengan sedikit bantuan
b. Status psikologis stabil
c. Pasien dirawat untuk prosedur diagnostic
d. Operasi ringan
Partial Care
a. Pasien memerlukan bantuan perawat sebagaian
1) Membutuhkan bantuan satu orang untuk naik turun tempat tidur
2) Membutuhkan bantuan untuk ambulasi atau berjalan
3) Membutuhkan bantuan dalam menyiapkan makanan
4) Membutuhkan bantuan untuk makan atau disuap
5) Membutuhkan bantuan untuk kebersihan mulut
6) Membutuhkan bantuan untuk berpakaian dan berdandan
7) Membutuhkan bantuan untuk BAB dan BAK (tempat tidur/kamar
mandi)
b. Post operasi minor (24 jam)
c. Melewati fase akut dan post operasi mayor
d. Fase awal dari penyembuhan
e. Observasi tanda-tanda vital dalam 24 jam
f. Gangguan emosional ringan
Total Care
a. Pasien memerlukan bantuan perawat sepenuhnya dan memerlukan
waktu perawat yang lebih lama
1) Membutuhkan 2 orang atau lebih untuk mobilisasi dari tempat
tidur ke kereta dorong atau kursi roda
2) Membutuhkan latihan pasif
3) Kebutuhan nutrisi dan cairan dipenuhi melalui terapi intravena
(infuse) atau NGT atau sonde
4) Membutuhkan bantuan untuk kebersihan mulut
5) Membutuhkan bantuan penuh untuk berpakaian dan berdandan
6) Dimandikan perawat
7) Dalam keadaan inkontinensia, menggunakan kateter
b. 24 jam post operasi mayor
c. Pasien tidak sadar
d. Keadaan pasien tidak stabil
e. Observasi TTV < 2 jam
f. Perawatan luka bakar
g. Perawatan kolostomi
h. Menggunakan alat bantu peranafasan atau respirator
i. Menggunakan WSD
j. Irigasi kandung kemih secara terus menerus
k. Menggunakan alat traksi atau skeletal traksi
l. Fraktur atau pasca operasi tulang belakang/ leher
m. Gangguan emosional berat, bingung dan disorientasi

Sedangkan menurut Depkes RI (2005), klasifikasi ketergantungan pasien


didasarkan pada kebutuhan terhadap asuhan keperawatan/bidan sebagai
berikut :
a. Asuhan keperawatan minimal (minimal care), dengan kriteria:
1) Kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan sendiri;
2) Makan dan minum dilakukan sendiri;
3) Ambulasi dengan pengawasan;
4) Observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap sif;
5) Pengobatan minimal, status psikologis stabil.
b. Asuhan keperawatan sedang, dengan kriteria:
1) Kebersihan diri dibantu, makan minum dibantu;
2) Observasi tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali;
3) Ambulasi dibantu, pengobatan lebih dari sekali.
c. Asuhan keperawatan agak berat, dengan kriteria:
1) Sebagian besar aktivitas dibantu;
2) Observasi tanda-tanda vital setiap 2-4 jam sekali;
3) Terpasang folley chateter, intake output dicatat;
4) Terpasang infuse;
5) Pengobatan lebih dari sekali;
6) Persiapan pengobatan memerlukan prosedur.
d. Asuhan keperawatan maksimal, dengan kriteria:
1) Segala aktivitas dibantu oleh perawat;
2) Posisi pasien diatur dan observasi tanda-tanda vital setiap dua
jam;
3) Makan memerlukan NGT dan menggunakan suction;
4) Gelisah/disorientasi.

3. Kebutuhan Tenaga Perawat


Berikut ini beberapa cara dalam menghitung kebutuhan tenaga
perawat dalam suatu ruangan:
a. Pedoman cara perhitungan kebutuhan tenaga keperawatan
(Depkes RI, 2005)
Kebutuhan tenaga keperawatan (perawat dan bidan) harus
memperhatikan unit kerja yang ada di rumah sakit. Secara garis besar
terdapat pengelompokan unit kerja di rumah sakit sebagai berikut:
1) Rawat inap dewasa;
2) Rawat inap anak/perinatal;
3) Rawat inap intensif;
4) Gawat darurat (IGD);
5) Kamar bersalin;
6) Kamar operasi;
7) Rawat jalan.
Tabel 2.1. Contoh Perhitungan dalam Suatu Ruangan Berdasarkan
Klasifikasi Pasien
Rata-rata Rata-rata jam
No. Jenis/Kategori Jumlah perawatan/hari
pasien/hari perawatan/pasien/hari
1 Pasien penyakit dalam 10 3,5 35
2 Pasien bedah 8 4 32
3 Pasien gawat 1 10 10
4 Pasien anak 3 4,5 13,5
5 Pasien kebidanan 1 2,5 2,5
Jumlah 23 93,0

Jumlah tenaga keperawatan yang diperlukan adalah :

Jumlah jam perawatan


= 93 = 13 perawat
Jam kerja efektif per shif 7
Untuk penghitungan jumlah tenaga tersebut perlu ditambah (faktor
koreksi) dengan hari libur/cuti/hari besar (loss day)
Loss day =
(Jumlah hari minggu dalam 1 tahun + cuti + hari besar) x jumlah perawat tersedia
Jumlah hari kerja efektif

(52 + 12 + 14 = 78 hari) x 13 = 3,5 orang


286

Jumlah tenaga keperawatan yang mengerjakan tugas-tugas non


keperawatan (non-nursing jobs), seperti membuat perincian pasien
pulang, kebersihan ruangan, kebersihan alat-alat makan pasien dan
lain-lain, diperkirakan 25% dari jam pelayanan keperawatan.
(Jumlah tenaga keperawatan + loss day) x 25% = (13+3,5) x 25% = 4,1
Jumlah tenaga keperawatan/bidan : tenaga yang tersedia + faktor
koreksi + non-nursing jobs : 13 + 3,5 + 4,1 = 20,6 (dibuatkan 21
perawat/bidan). Jadi tenaga keperawatan yang dibutuhkan untuk
contoh tersebut adalah 21 orang.

b. Metode Gillies
Rumus kebutuhan tenaga keperawatan di satu unit perawatan
adalah:

AxBxC F
(C-D)xE G
Keterangan:
A = rata-rata jumlah perawatan/pasien/hari
B = rata-rata jumlah pasien/hari
C = jumlah hari/tahun
D = jumlah hari libur masing-masing perawat
E = jumlah jam kerja masing-masing perawat
F = jumlah jam perawatan yang diberikan perawat per tahun
G = jumlah jam perawatan yang diberikan perawat per tahun
H = jumlah perawat yang dibutuhkan untuk unit tersebut
c. Metode Formulasi Nina
Dalam metode ini terdapat lima tahapan dalam menghitung kebutuhan
tenaga.
1) Tahap I
Dihitung A = jumlah jam perawatan pasien dalam 24 jam per
pasien.
2) Tahap II
Dihitung B = jumlah rata-rata jam perawatan untuk seluruh pasien
dalam satu hari (B = A x tempat tidur).
3) Tahap III
Dihitung C = jumlah jam perawatan seluruh pasien selama setahun
(C = B 365 hari).
4) Tahap IV
Dihitung D = jumlah perkiraan relistis jam perawatan yang
dibutuhkan selama setahun (D = C x BOR / 80). 80 adalah nilai
tetap untuk perkiraan realistis jam perawatan.
5) Tahap V
Didapatkan E = jumlah tenaga perawat yang diperlukan (E =
D/1878). Angka 1878 didapatkan dari hari efektif per tahun (365-
52 hari minggu = 313 hari) dan dikalikan dengan jam kerja efektif
per hari (6 jam).

d. Metode Hasil lokakarya keperawatan


Menurut hasil lokakarya keperawatan, rumus untuk penghitungan
kebutuhan tenaga keperawatan adalah sebagai berikut:
Jam perawatan 24 jam x7 (tempat tidur BOR)
Hari kerja efektif 40 jam
Formula ini memperhitungkan hari kerja efektif yaitu 41 minggu.
Tambahan 25% adalah untuk penyesuaian terhadap produktivitas.

e. Metode Douglas
Douglas menetapkan jumlah perawat yang dibutuhkan dalam suatu
unit perawatan berdasarkan klasifikasi pasien (tingkat ketergantungan),
di mana masing-masing kategori mempunyai nilai standar per sif, yaitu
pada tabel 3.2.

Tabel 2.2 Klasifikasi Tingkat Ketergantungan Pasien


Klasifikasi Pasien
Minimal Partial Total
Pagi Siang Malam Pagi Siang Malam Pagi Siang Malam
0,17 0,14 0,07 0,27 0,15 0,10 0,36 0,30 0,20
Jumlah tenaga perawat = Jumlah pasien x tingkat ketergantungan pasien

Tabel 2.3 Contoh Penghitngan Jumlah Ketenagaan Sesuai Ketergantungan Pasien


Tingkat ketergantungan Jumlah Kebutuhan Tenaga
Tk. Ketergantungan Jumlah Px Pagi Sore Malam
Minimal 2 2 x 0,17 = 0,34 2 x 0,14 = 0,28 2 x 0,07 = 0,14
Partial 9 9 x 0,27 = 2,43 9 x 0,15 = 1,35 9 x 0,10 = 0,9
Total 4 4 x 0,36 = 1,44 4 x 0,30 = 1,2 5 x 0,20 = 0,8
Jumlah 15 4,21 = 4 orang 2,83= 3orang 1,84 = 1orang

Jumlah tenaga lepas dinas perhari


86 x 6 = 516 = 1,77 = 2
297 297
Jadi, jumlah perawat yang dibutuhkan untuk bertugas per hari adalah : 6
orang + 2 orang struktural ( kepala ruangan, wakil ruangan ) + 2 orang
lepas dinas = 10 orang

B. M2 (Material)
Di dalam manajemen keperawatan sangat diperlukan adanya pengelolaan
peralatan sebagai faktor pendukung/penunjang terlaksananya pelayanan
keperawatan. Pelayanan keperawatan merupakan semua bentuk alat kesehatan
atau peralatan lain yang dipergunakan untuk menunjang kelancaran dalam
melaksanakan asuhan keperawatan sehingga diperoleh tujuan pelayanan
keperawatan efisien dan efektif.
Jumlah fasilitas dan alat-alat kedokteran maupun keperawatan dapat
dipenuhi dengan standar yang telah ditetapkan oleh masing-masing institusi
dengan memperhatikan jenis alat, bahan, ukuran, dan jumlah yang dibutuhkan.

C. M3 (Methode)
Metode merupakan cara yang dipergunakan untuk mengelola sistem
pelayanan di suatu instansi. Dalam pengelolaan keperawatan, terdapat
beberapa metode seperti:

1. Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP)

a. Metode Fungsional (Bukan Model MPKP)


Model fungsional dilaksanakan oleh perawat dalam pengelolaan
asuhan keperawatan sebagai pilihan utama pada saat perang dunia
kedua. Pada saat itu karena masih terbatasnya jumlah dan kemampuan
perawat maka setiap perawat hanya melakukan satu atau dua jenis
intervensi keperawatan kepada semua pasien di bangsal. Model ini
berdasarkan orientasi tugas dari filosofi keperawatan, perawat
melaksanakan tugas (tindakan) tertentu berdasarkan jadwal kegiatan
yang ada (Nursalam, 2011). Model pelayanan keperawatan
dilaksanakan berdasarkan tugas yg ditentukan oleh kepala unit
keperawatan (head nurse). Model ini cocok untuk keadaan darurat
tetapi kurang untuk meningkatkan mutu askep (Gillies, 1989 dalam
Sitorus, 2006). Gambar 3.4 di bawah ini menunjukkan skema metode
penugasan fungsional.
Gambar 1 Sistem Pemberian Asuhan Keperawatan Fungsional (Sumber:
Marquis & Huston, 1998 dalam Nursalam, 2011)

1) Kelebihan
1) Manajemen klasik yang menekankan efisiensi, pembagian tugas
yang jelas, dan pengawasan yang baik.
2) Sangat baik untuk rumah sakit yang kekurangan tenaga.
3) Perawat senior menyibukkan diri dengan tugas manajerial,
sedangkan perawat pasien diserahkan kepada perawat junior dan/atau
belum berpengalaman.
2) Kelemahan
a) Tidak memberikan kepuasan pada pasien ataupun perawat.
b) Pelayanan keperawatan terpisah-pisah, tidak dapat menerapkan
proses keperawatan.
c) Persepsi perawat cenderung pada tindakan yang berkaitan dengan
keterampilan saja.

b. Metode Tim
Metode tim merupakan suatu metode pemberian asuhan keperawatan
dimana seorang perawat profesional memimpin sekelompok tenaga
keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan kelompok pasien
melalui upaya kooperatif dan kolaboratif (Douglas, 1984 dalam Sitorus,
2006). Model tim didasarkan pada keyakinan bahwa setiap anggota
kelompok mempunyai kontribusi dalam merencanakan dan memberikan
asuhan keperawatan sehingga timbul motivasi dan rasa tanggung jawab
perawat yang tinggi sehingga diharapkan mutu asuhan keperawatan
meningkat.
Metode ini digunakan bila perawat pelaksana terdiri dari berbagai latar
belakang pendidikan dan kemampuannya. Ketua tim mempunyai tanggung
jawab untuk mengkordinasikan seluruh kegiatan asuhan keperawatan
dalam tanggung jawab kegiatan anggota tim. Tujuan metode penugasan
keperawatan tim untuk memberikan keperawatan yang berpusat pada
pasien. Ketua tim melakukan pengkajian dan menyusun rencana
keperawatan pada setiap pasien, dan anggota tim bertanggung jawab
melaksanakan asuhan keperawatan berdasarkan rencana asuhan
keperawatan yang telah dibuat. Oleh karena kegiatan dilakukan bersama-
sama dalam kelompok, maka ketua tim seringkali melakukan pertemuan
bersama dengan anggota timnya (konferensi tim) guna membahas
kejadian-kejadian yang di hadapi dalam pemberian askep.
Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-
beda dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien.
Perawat ruangan dibagi menjadi 2–3 tim/group yang terdiri dari tenaga
professional, tehnikal dan pembantu dalam satu grup kecil yang saling
membantu.
1) Kelebihan
a) Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh.
b) Mendukung pelaksanaan proses keperawatan.
c) Memungkinkan komunikasi antar tim, sehingga konflik mudah
diatasi dan memberi kepuasan pada anggota tim.
2) Kelemahan: komunikasi antar anggota tim terbentuk terutama dalam
bentuk konferensi tim, yang biasanya membutuhkan waktu, yang sulit
dilaksanakan pada waktu-waktu sibuk.
3) Konsep metode tim
Menurut Kron & Gray (1987) pelaksanaan model tim harus
berdasarkan konsep berikut:
a) Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan
tehnik kepemimpinan.
b) Komunikasi yang efektif penting agar kontinuitas rencana
keperawatan terjamin.
c) Anggota tim menghargai kepemimpinan ketua tim.
d) Peran kepala ruang penting dalam model tim. Model tim akan
berhasil baik bila didukung oleh kepala ruang.
4) Tugas dan tanggung jawab anggota tim
a) Melaksanakan tindakan keperawatan yang telah direncanakan
ketua tim.
b) Mendokumentasikan tindakan keperawatan yang dilakukan.
c) Membantu ketua tim melakukan pengkajian, menentukan diagnose
keperawatan dan membuat rencana keperawatan.
d) Membantu ketua tim mengevaluasi hasil tindakan keperawatan.
e) Membantu/bersama dengan ketua tim mengorientasikan pasien
baru.
f) Mengganti tugas pembantu keperawatan bila perlu.
5) Tugas dan tanggung jawab ketua tim
a) Bertanggung jawab terhadap pengelolaan asuhan keperawatan pasien
sejak masuk sampai pulang.
b) Mengorientasikan pasien yang baru dan keluarganya.
c) Mengkaji kondisi kesehatan pasien dan keluarganya.
d) Membuat diagnose keperawatan dan rencana keperawatan.
e) Mengkomunikasikan rencana keperawatan kepada anggota tim.
f) Mengarahkan dan membimbing anggota tim dalam melakukan
tindakan keperawatan.
g) Mengevaluasi tindakan dan rencana keperawatan.
h) Melaksanakan tindakan keperawatan tertentu.
i) Mengembangkan perencanaan pulang.
j) Memonitor pendokumentasian tindakan keperawatan yang dilakukan
oleh anggota tim.
k) Melakukan/mengikuti pertemuan dengan anggota tim/tim kesehatan
lainnya untuk membahas perkembangan kondisi pasien.
l) Membagi tugas yang harus dilaksanakan oleh setiap anggota kelompok
dan memberikan bimbingan melalui konferensi.
m) Mengevaluasi pemberian askep dan hasil yang di capai serta
pendokumentasiannya.
6) Tanggung jawab kepala ruangan
a) Perencanaan
b) Menunjuk ketua tim yang akan bertugas di ruangan masing-masing.
c) Mengikuti serah terima pasien pada sif sebelumnya.
d) Mengidentifikasi tingkat ketergantungan pasien bersama ketua tim
e) Mengidentifikasi jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan berdasarkan
aktifitas dan kebutuhan pasien bersama ketua tim, mengatur
penugasan/penjadwalan.
f) Merencanakan strategi pelaksanaan keperawatan.
g) Mengikuti visite dokter untuk mengetahui kondisi, patofisiologi,
tindakan medis yang dilakukan, program pengobatan, dan
mendiskusikan dengan doketr tentang tindakan yang akan dilakukan
terhadap pasien.
h) Mengatur dan mengendalikan asuhan keperawatan, termasuk kegiatan
membimbing pelaksanaan asuhan keperawatan, membimbing
pelaksanaan proses keperawatan dan menilai asuhan keperawatan,
mengadakan diskusi untuk pemecahan masalah, serta memberikan
informasi kepada pasien atau keluarga yang baru masuk.
7) Pengorganisasian
a) Merumuskan metode penugasan yang digunakan.
b) Merumuskan tujuan metode penugasan.
c) Membuat rincian tugas ketua tim dan anggota tim secara jelas
d) Membuat rentang kendali, kepala ruangan membawahi 2 ketua tim,
dan ketua tim membawahi 2-3 perawat.
e) Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan: membuat proses
dinas, mengatur tenaga yang ada setiap hari, dan lain-lain.
f) Mengatur dan mengendalikan logistik ruangan.
g) Mengatur dan mengendalikan situasi tempat praktik.
h) Mendelegasikan tugas saat kepala ruangan tidak berada di tempat
kepada ketua tim.
i) Memberi wewenang kepada tata usaha untuk mengurus administrasi
psien
j) Mengatur penugasan jadwal pos dan pakarnya.
k) Identifikasi masalah dan cara penanganannya.
8) Pengarahan
a) Memberi pengarahan tentang penugasan kepada ketua tim.
b) Memberi pujian pada anggota tim yang telah melaksanakan tugas
dengan baik.
c) Memberi motivasi dalam peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan
sikap.
d) Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting dan berkaitan
dengan askep pasien.
e) Melibatkan bawahan dari awal hingga akhir kegiatan.
f) Membimbing bawahan yang kesulitan dalam melaksanakan tugasnya.
g) Meningkatkan kolaborasi dengan anggota tim lain.
9) Pengawasan
a) Melalui komunikasi: mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan
ketua tim maupun pelaksana mengenai asuhan keperawatan yang
diberikan kepada pasien.
b) Melalui supervisi: (1) pengawasan langsung dilakukan melalui
inspeksi, mengamati sendiri, atau melalui laporan langsung secara
lisan, dan memeperbaiki/mengawasi kelemahan-kelamahanyang ada
saat itu juga, (2) pengawasan tidak langsung, yaitu mengecek daftar
hadir ketua tim, membaca dan memeriksa rencana keperawatan serta
catatan yang dibuat selama atau sesudah proses keperwatan
dilaksanakan (didokumentasikan), mendengan lapiran ketua tim
tentang pelalsanaan tugas, (3) evalusi, (4) mengevaluasi upaya
pelaksanaan dan membandingkan dengan rencana keperawatan yang
telah disusun bersama ketua tim, (5) audit keperawatan.

Dalam keperawatan tim, perawat profesional dapat mempraktekan


kemampuan kepemimpinannya secara maksimal. Kepemimpinan
perawat ini menjadi kunci keberhasilan praktek keperawatan dan
menjamin asuhan keperawatan bermutu bagi pasien. Skema penugasan
pada metode penugasan tim dapat dilihat pada Gambar 2.

Kepala ruangan

Ketua Tim Ketua Tim

Anggota Tim Anggota Tim

Pasien Pasien

Gambar 2 Sistem Pemberian Asuhan Keperawatan Tim (Sumber: Marquis &


Huston, 1998 dalam Nursalam, 2011)

c. Metode Primer
Metode primer adalah suatu metode pemberian askep dimana perawat
professional bertanggung jawab dan bertanggung gugat terhadap asuhan
keperawatan pasien selama 24 jam. Menurut Nursalam (2011), metode
penugasan dimana satu orang perawat bertanggung jawab penuh selama 24
jam terhadap asuhan keperawatan pasien mulai dari pasien masuk sampai
keluar rumah sakit. Tanggung jawab meliputi pengkajian pasien,
perencanaan, implementasi, dan evaluasi askep dari sejak pasien masuk
rumah sakit hingga pasien dinyatakan pulang ini merupakan tugas utama
perawat primer yang dibantu oleh perawat asosiet. Perawat yang
menggunakan metode keperawatan primer dalam pemberian asuhan
keperawatan disebut perawat primer (primary nurse). Pada metode
keperawatan primer terdapat kontinutas keperawatan dan bersifat
komprehensif serta dapat dipertanggung jawabkan, setiap perawat primer
biasanya mempunyai 4–6 pasien dan bertanggung jawab selama 24 jam
selama pasien dirawat dirumah sakit. Perawat primer bertanggung jawab
untuk mengadakan komunikasi dan koordinasi dalam merencanakan
asuhan keperawatan dan juga akan membuat rencana pulang pasien jika
diperlukan. Jika perawat primer sedang tidak bertugas, kelanjutan asuhan
akan didelegasikan kepada perawat lain (associate nurse).

Mendorong praktik kemandirian perawat, ada kejelasan antara si


pembuat rencana asuhan dan pelaksana. Metode primer ini ditandai
dengan adanya keterkaitan kuat dan terus menerus antara pasien dan
perawat yang ditugaskan untuk merencanakan, melakukan dan koordinasi
keperawatan selama pasien dirawat.

1) Kelebihan
a) Bersifat kontinuitas dan komprehensif.
b) Perawat primer mendapatkan akuntabilitas yang tinggi terhadap
hasil, dan memungkinkan pengembangan diri.
c) Keuntungan antara lain terhadap pasien, perawat, dokter, dan
rumah sakit (Gillies, 1989 dalam Nursalam, 2011).
d) Keuntungan yang dirasakan adalah pasien merasa dimanusiawikan
karena terpenuhinya kebutuhan secara individu. Selain itu, asuhan
yang diberikan bermutu tinggi dan tercapai pelayanan yang efektif
terhadap pengobatan, dukungan, proteksi, informasi, dan advokasi.
Doketr juga merasakan kepuasan dengan model primer karena
senantiasa mendapatkan informasi tentang kondisi pasien yang
selalu diperbarui dan komprehensif.
2) Kelemahan: metode ini hanya dapat dilakukan oleh perawat yang
memiliki pengalaman dan pengetahuan yang memadai dengan kriteria
asertif, self direction, kemampuan mengambil keputusan yang tepat,
menguasai keperawatan klinis, penuh pertimbangan, serta mempu
berkolaborasi dengan berbagai disiplin ilmu.
3) Konsep dasar metode primer
a) Ada tanggung jawab dan tanggung gugat.
b) Ada otonomi.
c) Ketertiban pasien dan keluarga.
4) Tugas perawat primer
a) Mengkaji kebutuhan pasien secara komprehensif.
b) Membuat tujuan dan rencana keperawatan.
c) Melaksanakan rencana yang telah dibuat selama ia dinas.
d) Mengomunikasikan dan mengoordinasikan pelayanan yang
diberikan oleh disiplin ilmu lain maupun perawat lain.
e) Mengevaluasi keberhasilan yang dicapai.
f) Menerima dan menyesuaikan rencana.
g) Meyiapkan penyuluhan untuk pulang.
h) Melakukan rujukan kepada pekerja sosial, kontak dengan lembaga
sosial di masyarakat.
i) Membuat jadwal perjanjian klinis.
j) Mengadakan kunjungan rumah.
5) Peran kepala ruang/bangsal
a) Sebagai konsultan dan pengendalian mutu perawat primer.
b) Orientasi dan merencanakan karyawan baru.
c) Menyusun jadwal dinas dan memberi penugasan pada perawat
asisten.
d) Evaluasi kerja.
e) Merencanakan/menyelenggarakan perencanaan staf.
f) Membuat 1-2 pasien untuk model agar dapat mengenal hambatan
yang terjadi.
6) Ketenagaan metode primer
a) Setiap perawat primer adalah perawat bed side atau selalu berada
dekat dengan pasien.
b) Beban kasus pasien 4-6 orang untuk satu perawat primer.
c) Penugasan ditentukan oleh kepala bangsal.
d) Perawat primer dibantu oleh perawat profesional lain maupun
nonprofesional sebagai perawat asisten.

Dokter Kepala Ruang Sarana RS

Perawat primer

Pasien/pasien

Perawat pelaksana Perawat pelaksana Perawat pelaksana


evening night jika diperlukan days

Gambar 3 Diagram Sistem Asuhan Keperawatan Primer (Sumber: Marquis &


Huston, 1998 dalam Nursalam, 2011)

d. Metode Kasus
Metode manajemen kasus sering digunakan dalam perangkat
pelayanan kesehatan masyarakat, psikiatri dan diadopsi dalam asuhan
pasien rawat inap, berfokus pada populasi semua pasien penyakit dalam
dan beresiko tinggi (Cardiac arrest). Manajemen kasus adalah model yang
digunakan untuk mengidentifikasi, koordinasi, dan monitoring
implementasi kebutuhan pelayanan untuk mencapai asuhan yang
diinginkan dalam periode waktu tertentu. Elemen penting dalam
manajemen kasus meliputi:
1) Kerjasama dan dukungan dari semua anggota pelayanan dan anggota
kunci dalam organisasi (Administrator, dokter dan perawat).
2) Kualifikasi perawat manajer kasus.
3) Praktek kerjasama tim.
4) Kualitas sistem manajemen yang diterapkan.
5) Menggunakan prinsip perbaikan mutu yang terus menerus.
6) Menggunakan critical pathway (hasil) atau asuhan Multidisciplinary
Action Plans (MAPS) yaitu kombinasi Clinical Path dengan Care
Plans.
7) Promosi praktek keperawatan profesional
Dalam satu unit diperlukan dua manajer kasus yang bekerja
mengkoordinasikan, mengomunikasikan, bekerjasama untuk
menyelesaikan masalah dan memfasilitasi asuhan sekelompok pasien.
Idealnya satu orang manajer kasus mempunyai 10-15 kasus pasien dimana
perkembangan pasien akan diikuti terus oleh manajer kasus dari masuk
sampai pulang. Bila diperlukan mengikuti perkembangan pasien di rawat
jalan. Manajer kasus melakukan monitoring terhadap asuhan keperawatan
yang dilaksanakan oleh tenaga perawat dan non keperawatan.
Setiap perawat ditugaskan untuk melayani seluruh kebutuhan pasien
saat dinas. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda untuk setiap
shift dan tidak ada jaminan bahwa pasien akan dirawat oleh orang yang
sama pada hari berikutnya. Metode penugasan kasus biasa diterapkan satu
pasien satu perawat dan hal ini umumnya dilaksanakan untuk perawat
privat atau untuk keperawatan khusus seperti isolasi, intensive care.
Metode ini berdasarkan pendekatan holistik dari filosofi keperawatan.
Perawat bertanggung jawab terhadap asuhan dan observasi pada pasien
tertentu (Nursalam, 2011).
Metode ini adalah suatu penugasan yang diberikan kepada perawat
untuk memberikan asuhan secara total terhadap seorang atau sekelompok
pasien.
1) Keuntungan:
a) Asuhan yang diberikan komprehensif, berkesinambungan dan
holistik.
b) Perawat lebih memahami kasus per kasus.
c) Sistem evaluasi dari manajerial menjadi lebih mudah.
2) Kerugian:
a) Belum dapatnya diidentifikasi perawat penganggung jawab.
b) Perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan
dasar yang sama.

Kepala ruang

Staf perawat Staf perawat Staf perawat

Pasien/pasien Pasien/pasien Pasien/pasien

Gambar 4 Sistem Asuhan Keperawatan Case Method Nursing (Marquis &


Huston, 1998 dalam Nursalam, 2011)

e. Metode Primer Modifikasi (Primer-Tim)


Metode Primer Modifikasi (Primer-Tim) disebut juga metode
keperawatan medular. Metode ini adalah suatu variasi dari metode
keperawatan primer dan metode Tim. Metode ini memiliki kesamaan
dengan metode primer dan metode tim (Gillies, 2005). Di Indonesia
pengembangan metode MPKP modifikasi ini dikembangkan oleh Sitorus
(1997) di RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo. Metode ini sama dengan
metode keperawatan tim karena baik perawat professional maupun non
professional bekerja bersama dalam memberikan askep di bawah
kepemimpinan seorang perawat profesinal disamping itu dikatakan
memiliki kesamaaan dengan metode keperawatan primer karena dua atau
tiga orang perawat bertanggung jawab atas sekelompok kecil pasien sejak
masuk dalam perawatan hingga pulang, bahkan sampai dengan waktu
follow up care. Dalam memberikan askep dengan menggunakan metode
keperawatan primer modifikasi, satu tim yang terdiri dua hingga tiga
perawat memiliki tanggung jawab penuh pada sekelompok pasien. Hal ini
tentu saja dengan suatu persyaratan peralatan yang dibutuh perawatan
cukup memadai.
Sekalipun dalam memberikan askep dengan menggunakan metode ini
di lakukan oleh dua hingga tiga perawat, tanggung jawab yang paling
besar tetap ada pada perawat professional. Perawat professional juga
memiliki kewajiban untuk membimbing dan melatih nonprofessional.
Apabila perawat professional sebagai ketua tim tidak masuk tugas dan
tanggung jawab dapat digantikan oleh perawat professional lainnya. Peran
perawat kepala ruang diarahkan dalam hal membuat jadwal dinas dengan
mempertimbangkan kecocokan anggota untuk bekerja sama, dan berperan
sebagai fasilitator, pembimbing serta motivator.
Metode primer modifikasi digunakan secara kombinasi dari kedua
sistem. Menurut Sitorus (2006) untuk kondisi di Indonesia karena saat ini
jenis pendidikan perawat yang ada di rumah sakit mayoritas lulusan
Akademi Keperawatan dan Sekolah Perawat Kesehatan maka lebih baik
menggunakan metode gabungan tim-primer. Penetapan metode ini
didasarkan pada beberapa alasan:
1) Pada metode keperawatan primer, pemberian asuhan dilaksanakan
secara berkesinambungan sehingga memungkinkan adanya tanggung
jawab dan tanggung gugat yang merupakan esensi dari suatu layanan
profesional.
2) Terdapat satu perawat profesional yang disebut PP, yang bertanggung
jawab dan bertanggung gugat atas asuhan keperawatan yang diberikan.
3) Pada metode keperawatan primer, hubungan profesional dapat
ditingkatkan terutama dengan profesi lain, karena ada satu orang
perawat primer (PP) yang memahami kondisi pasien secara detail
sehingga mampu melakukan hubungan kolaborasi secara optimal.
4) Metode keperawatan primer tidak digunakan secara murni karena
dibutuhkan tenaga SKp/Ners yang lebih banyak, karena setiap PP
hanya merawat 4-5 pasien, sedangkan pada metode perawat primer
modifikasi, setiap PP merawat 9-10 pasien. Selain itu, pada metode
perawat primer murni, seorang PP harus mempunyai latar belakang
pendidikan S-1 Keperawatan atau setara.
5) Saat ini terdapat beberapa jenis tenaga keperawatan dengan
kemampuan yang berbeda-beda. Kombinasi metode tim dan
keperawatan primer menjadi sangat penting karena perawat dengan
kemampuan yang lebih tinggi dapat mengarahkan dan membimbing
perawat lain di bawah tanggung jawabnya.
6) Keperawatan tim tidak digunakan secara murni, karena tanggung
jawab asuhan keperawatan pasien terfragmentasi pada berbagi tim
sehingga sulit menentukan siapa yang bertanggung jawab dan
bertanggung gugat atas semua asuhan yang diberikan.
7) Melalui kombinasi kedua model tersebut diharapkan komunitas asuhan
keperawatan dan akuntabilitas asuhan keperawatan terdapat pada
primer, karena saat ini perawat yang ada di rumah sakit sebagian besar
adalah lulusan D-3, bimbingan tentang asuhan keperawatan diberikan
oleh perawat primer/ketua tim.
Pada MPKP FIK-UI RSDUPNCM terdapat penataan empat
komponen yang menjadi karakteristik model tersebut, yaitu jumlah tenaga,
jenis tenaga, standar renpra, dan metode modifikasi keprawatan primer.
Melalui penataan keempat komponen tersebut hubungan perawat (PP)
dengan pasien/keluarga menjadi berkesinambungan sehingga dapat
dipertanggungjawabkan dan dipertanggunggugatkan. Sifat hubungan ini
memfasilitasi pemberian asuhan keperawatan yang didasarkan pada nilai-
nilai profesional (Sitorus, 2006). Gambar 5 menunjukkan skema sistem
penugasan primer modifikasi.
Kepala ruang

PP 1 PP 2 PP 3 PP 4

PA PA PA PA

PA PA PA PA

PA PA PA PA

7-8 7-8 7-8 7-8


pasien pasien pasien pasien

Gambar 5 Metode Primer Modifikasi (Nursalam, 2011)

Berdasarkan Gambar 5 dapat dilihat bahwa pembagian peran masing-


masing komponen yaitu, kepala ruang, perawat primer, dan perawat
asosiet adalah sebagai berikut:
1) Kepala ruangan
a) Menerima pasien baru
b) Memimpin rapat
c) Mengevaluasi kinerja perawat
d) Membuat jadwal dinas
e) Perencanaan, pengarahan, dan pengawasan
2) Perawat primer
a) Membuat perencanaan asuhan keperawatan
b) Mengadakan tindakan kolaborasi
c) Memimpin timbang terima
d) Mendelegasikan tugas
e) Memimpin ronde keperawatan
f) Mengevaluasi pemberian asuhan keperawatan
g) Bertanggung jawab terhadap pasien
h) Memberi petunjuk bila pasien akan pulang
i) Mengisi resume keperawatan
3) Perawat asosiate
a) Memberikan asuhan keperawatan
b) Mengikuti timbang terima
c) Melaksanakan tugas yang didelegasikan
d) Mendokumentasikan tindakan keperawatan

2. Timbang Terima
Timbang terima pasien (operan) merupakan teknik atau cara untuk
menyampaikan dan menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan
keadaan pasien. Timbang terima pasien harus dilakukan seefektif
mungkin dengan menjelaskan secara singkat, jelas dan lengkap tentang
tindakan mandiri perawat, tindakan kolaboratif yang sudah dilakukan atau
belum dan perkembangan pasien saat itu. Informasi yang disampaikan
harus akurat sehingga berkesinambungan dan asuhan keperawatan dapat
berjalan dengan sempurna. Timbang terima dilakukan oleh Ketua Tim
keperawatan kepada Ketua Tim (penanggung jawab) dinas sore atau dinas
malam secara tertulis dan lisan. Manfaat timbang terima yaitu:

a. Bagi perawat
1) Meningkatkan kemampuan komunikasi antar perawat
2) Menjalin hubungan kerjasama dan bertanggung jawab antar
perawat
3) Pelaksanaan asuhan keperawatan terhadap pasien yang
berkesinambungan
4) Perawat dapat mengikuti perkerbangan pasien secara paripurna
b. Bagi pasien
Pasien dapat menyampaikan masalah secara langsung bila ada yang
belum terungkap (Nursalam, 2009).
Prosedur Operan:
Tabel 2.4 Tabel Prosedur Operan
TAHAP KEGIATAN WAKTU TEMPAT PELAKSANA
Persiapan 1. Operan dilaksanakan setiap pergantian 5 menit Nurse Ketua Tim dan
sift. Station Perawat
2. Prinsip operan, terutama pada semua Asosiate
pasien baru masuk dan pasien yang
dilakukan operan khususnya pasien
yang memiliki permasalahan yang
belum atau dapat teratasi serta yang
membutuhkan observasi lebih lanjut.
3. Ketua Tim menyampaikan operan pada
Ketua Tim berikutnya mengenai hal
yang perlu disampaikan dalam operan
meliputi:
a. Jumlah pasien
b. Identitas pasien dan diagnosa medis
c. Data (keluhan/subjektif dan objektif)
d. Masalah keperawatan yang masih
muncul
e. Intervensi keperawatan yang sudah
dan belum dilaksanakan (secara
umum)
f. Intervensi kolaborasi dan dependen
g. Rencana umum dan persiapan yang
perlu dilakukan (persiapan operasi,
pemeriksaan penunjang, dan lain-
lain)
Pelaksanaan 1. Kedua kelompok dinas sudah siap (sif 20 menit Nurse Kepala
jaga). Station Ruangan,
2. Kelompok yang akan bertugas Ketua Tim,
menyiapkan buku catatan. Perawat
3. Kepala Ruangan membuka acara Asosiate
operan.
4. Perawat yang melakukan operan dapat
melakukan klarifikasi, tanya jawab dan
melakukan validasi terhadap hal-hal
yang telahdioperkan dan berhak
menanyakan mengenai hal-hal yang
kurang jelas.
5. Kepala Ruangan atau Ketua Tim
menanyakan kebutuhan dasar pasien.
6. Penyampaian yang jelas, singkatdan
padat.
7. Perawat yang melaksanakan operan
mengkaji secara penuh terhadap
masalah keperawatan, kebutuhan dan
tindakan yang telah atau belum
dilaksanakan serta hal-hal penting
lainnya selama masa perawatan.
8. Hal-hal yang sifatnya khusus dan
memerlukan perincian yang matang Ruang
sebaiknya dicatat secara khusus untuk Perawatan
kemudian diserahterimakan kepada
petugas berikutnya.
9. Lama operan untuk tiap pasien tidak
lebih dari lima menit kecuali pada
kondisi khusus dan memerlukan
keterangan yang rumit.
Post operan 1. Diskusi. 5 menit Nurse Kepala
2. Pelaporan untuk operan dituliskan Station Ruangan,
secara langsung pada format operan Ketua Tim,
yang ditandatangani oleh Ketua Tim Perawat
yang jaga saat itu dan Ketua Tim yang Asosiate
jaga berikutny diketahui oleh Kepala
Ruangan.
3. Ditutup oleh Kepala Ruangan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan:


a. Dilaksanakan tepat pada waktu pergantian shift.
b. Dipimpin oleh kepala ruangan atau penanggung jawab pasien (Ketua Tim).
c. Diikuti oleh semua perawat yang telah dan akan dinas.
d. Informasi yang disampaikan harus akurat, singkat, sistematis dan
menggambarkan kondisi pasien saat ini serta menjaga kerahasiaan pasien.
e. Operan harus berorientasi pada permasalahan pasien.
f. Pada saat operan di kamar pasien, menggunakan volume suara yang cukup
sehingga pasien di sebelahnya tidak mendengar sesuatu yang rahasia bagi
pasien. Sesuatu yang dianggap rahasia sebaiknya tidak dibicarakan secara
langsung di dekat pasien.
g. Sesuatu yang mungkin membuat pasien terkejut dan syok sebaiknya
dibicarakan di nurse station.

Alur Operan

PASIEN

DIAGNOSA MEDIS/MASALAH DIAGNOSA KEPERAWATAN


KOLABORATIF (didukung data)

TINDAKAN

TELAH DILAKUKAN BELUM DILAKUKAN

PERKEMBANGAN/KEADAAN

MASALAH:
1. TERATASI
2. BELUM TERATASI
3. TERATASI SEBAGIAN

Gambar 6 Alur Operan


4. Ronde Keperawatan
Metode keperawatan primer merupakan salah satu metode pemberian
pelayanan keperawatan dimana salah satu kegiatannya adalah ronde
keperawatan, yaitu suatu metode untuk menggali dan membahas dan
secara mendalam masalah keperawatan yang terjadi kepada pasien dan
kebutuhan pasien akan keperawatan yang dilakukan oleh PN/AN,
konselor, kepala ruangan dan seluruh tim keperawatan dengan melibatkan
secara langsung sebagai fokus kegiatan.
Ronde keperawatan akan memberikan media bagi perawat untuk
membahas lebih dalam masalah dan kebutuhan pasien serta merupakan
suatu proses belajar bagi perawat dengan harapan dalam meningkatkan
kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor. Kepekaan dan cara berfikir
kritis perawat akan tumbuh dan berlatih melalui suatu transfer
pengetahuan dan mengaplikasikan konsep teori ke dalam praktik
perawatan (Nursalam, 2011).
Ronde keperawatan adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi
masalah keperawatan pasien yang dilaksanakan oleh perawat selain
melibatkan pasien untuk membahas dan melaksanakan asuhan
keperawatan. Pada kasus tertentu harus dilakukan oleh Ketua Tim dan
atau konselor, Kepala Ruangan, perawat pelaksana yang perlu juga
melibatkan seluruh anggota tim kesehatan (Nursalam, 2011).
Adapun kegiatan ini mempunyai karakteristik yang meliputi:
a. Pasien terlibat secara langsung
b. Pasien merupakan fokus kegiatan
c. PA/Katim dan konselor melakukan diskusi bersama
d. Konselor memfasilitasi kreatifitas
e. Konselor membantu mengembangkan kemampuan PA dan Katim
dalam meningkatkan kemampuan mengatasi masalah
Menurut Nursalam (2011), manfaat dari ronde keperawatan adalah :
a. Masalah pasien dapat teratasi
b. Kebutuhan pasien dapat tepenuhi
c. Terciptanya komunitas keperawatan yang profesional
d. Terjalin kerjasama antara tim kesehatan
e. Perawat dapat melaksanakan model asuhan keperawatan dengan tepat
dan benar.
Kriteria pasien:
a. Mempunyai masalah keperawatan yang belum teratasi meskipun
sudah dilakukan tindakan keperawatan.
b. Pasien dengan kasus baru atau langka
Peran Masing-Masing Anggota Tim
a. Peran perawat primer dan perawat pelaksana
1) Menjelaskan data pasien yang mendukung masalah pasien.
2) Menjelaskan diagnosa keperawatan.
3) Menjelaskan intervensi yang dilakukan.
4) Menjelaskan hasil yang didapat.
5) Menjelaskan rasional (alasan ilmiah) tindakan yang diambil.
6) Menggali masalah-masalah pasien yang belum terkaji.
b. Peran Perawat Konselor
1) Memberikan justifikasi.
2) Memberikan reinforcement.
3) Memvalidasi kebenaran dari masalah dan intervensi keperawatan
serta rasional tindakan.
4) Mengarahkan dan koreksi.
5) Mengintegrasikan konsep dan teori yang telah dipelajari

c. Langkah-Langkah Kegiatan Ronde Keperawatan


Tahap Pra
Ketua Tim

Penetapan Pasien

Persiapan Pasien:
- Informed consent
- Hasil Pengkajian/Validasi Data

Apa diagnosis keperawatan?


Tahap Pelaksanaan Penyajian Masalah Apa data yang mendukung?
di Nurse Station Bagaimana intervensi yang sudah
dilakukan?
Apa hambatan yang ditemukan?

Validasi Data
Tahap Pelaksanaan
di kamar pasien Ketua Tim, Konselor,
Kepala Ruangan

Kesimpulan dan
Pasca ronde Lanjutan –Diskusi di
Rekomendasi Solusi
Nurse Station
Masalah
Gambar 7 Langkah-langkah Ronde Keperawatan

Keterangan :
a. Pra-ronde
1) Menentukan kasus dan topic (masalah yang tidak teratasi dan
masalah langka).
2) Menentukan tim ronde.
3) Mencari sumber atau literature.
4) Membuat proposal.
5) Mempersiapkan pasien : informed consent dan pengkajian.
6) Diskusi : Apa diagnosis keperawatan?, apa data yang mendukung?,
bagaimana intervensi yang sudah dilakukan?, dan apa hambatan
yang ditemukan selama perawatan.
b. Pelaksanaan Ronde
1) Penjelasan tentang pasien oleh perawat primer yang difokuskan
pada masalah keperawatan dan rencana tindakan yang akan
dilaksanakan dan atau telah dilaksanakan serta memilih prioritas
yang perlu didiskusikan.
2) Diskusi antar angota tim tentang kasus tersebut.
3) Pemberian justifikasi oleh perawat primer atau konselor atau
kepala ruangan tentang masalah pasien serta rencana tindakan
yang akan dilakukan.
c. Pasca-ronde
1) Evaluasi, revisi dan perbaikan.
2) Kesimpulan dan rekomendasi penegakan diagnosis, intervensi
keperawatan selanjutnya.
Peran masing-masing anggota tim :
a. Peran Perawat Primer dan Perawat Associate
1) Menjelaskan data pasien yang mendukung masalah pasien.
2) Menjelaskan diagnosis keperawatan.
3) Menjelaskan intervensi yang dilakukan.
4) Menjelaskan hasil yang didapat.
5) Menjelaskan rasional (alasan ilmiah) tindakan yang diambil.
6) Menggali masalah-masalah pasien yang belum terkaji

b. Peran Perawat Konselor


1) Memberikan justifikasi.
2) Memberikan reinforcement
3) Memvalidasi kebenaran dari masalah dan intervensi keperawatan
serta rasional tindakan.
4) Mengarahkan dan koreksi.
5) Mengintegrasikan konsep dan teori yang telah dipelajari.

Kriteria Evaluasi
a. Struktur
1) Persyaratan administrasi (informed consent, alat dan lainnya).
2) Tim ronde keperawatan hadir di tempat pelaksanaan ronde
keperawatan.
3) Persiapan dilakukan sebelumnya.
b. Proses
1) Peserta mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir.
2) Seluruh peserta berperan aktif dalam kegiatan ronde sesuai peran
yang telah ditentukan.
c. Hasil
1) Pasien merasa puas dengan hasil pelayanan.
2) Masalah pasien dapat teratasi.
3) Perawat dapat :
a) Menumbuhkan cara berpikir yang kritis.
b) Meningkatkan cara berpikir yang sistematis.
c) Meningkatkan kemampuan validitas pasien.
d) Meningkatkan kemampuan menentukan diagnosis
keperawatan.
e) Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang
berorientasi pada masalah pasien.
f) Meningkatkan kemampuan justifikasi.
g) Meningkatkan kemampuan menilai hasil kerja.

5. Pengelolaan Sentralisasi Obat


Sentralisasi obat adalah pengolahan obat dimana seluruh obat yang
akan diberikan kepada pasien diserahkan pengolahan sepenuhnya oleh
perawat (Nursalam, 2011). Dalam teknik pengelolaan obat akan
dilakukan sepenuhnya oleh perawat dengan acuan sebagai berikut:
a. Penanggung jawab pengelola obat adalah kepala ruangan yang
secara operasional dapat mendelegasikan kepada staf yang
ditunjukkan.
b. Keluarga wajib mengetahui dan ikut serta mengontrol penggunaan
obat serta menandatangani surat persetujuan sentralisasi obat.

c. Penerimaan Obat
1) Obat yang telah diresepkan ditunjukan kepada perawat dan
obat yang telah diambil oleh keluarga diserahkan kepada
parawat dengan menerima lembar serah terima.
2) Perawat menuliskan nama pasien, register, jenis obat, jumlah
dan sediaan dalam kartu kontol obat dan diketahui
(ditandatangani) oleh keluarga atau pasien dalam buku masuk
obat, kemudian pasien dan keluarga mendapat penjelasan
tentang kapan/bilamana obat tersebut akan habis.
3) Pasien atau keluarga selanjutnya mendapat kartu kontrol obat.
4) Obat yang telah diserahkan selanjutunya disimpan oleh
perawat dalam kotak obat (Nursalam, 2011).
d. Pembagian obat dan penyimpanan persediaan obat
1) Obat yang telah diterima untuk selanjutnya disiapkan untuk
diberikan pada pasien.
2) Obat yang telah disiapkan selanjutnya diberikan oleh perawat
dengan terlebih dahulu dicocokan dengan terapi yang
diinstruksikan dokter.
3) Pada saat memberikan obat terlebih dahulu perawat
menginformasikan kepada pasien tentang macam, kegunaan
obat, jumlah obat yang diberikan dan efek samping. Usahakan
tempat obat kembali ke perawat setelah obat
dikonsumsi/disuntikan.
4) Mencatat kembali dalam buku/lembar pemberian obat setelah
obat diberikan kepada pasien.
5) Sediaan obat yang ada selanjutnya diperiksa setiap pagi oleh
kepala ruangan atau petugas yang ditunjuk dan
didokumentasikan dalam buku obat masuk. Obat yang hampir
habis akan diinformasikan pada keluarga dan kemudian akan
dimintai resep (jika masih diperlukan) kepada dokter
penanggung jawab pasien.
6) Lemari obat selalu diperiksa dengan keamanan mekanisme
kunci, penempatan obat dipisahkan antara obat oral (untuk
diminum) maupun obat injeksi maupun obat luar (Nursalam,
2011).

e. Penambahan obat baru


1) Bilamana tedapat penambahan atau perubahan jenis, dosis atau
perubahan alur pemberian obat maka informasi ini akan
dimasukan dalam buku / lembar pemberian obat.
2) Pada pemberian obat yang bersifat tidak rutin (sewaktu saja),
maka dokumentasi hanya dilakukan pada pemberian obat dan
kemudian diinfomasikan pada keluarga (Nursalam, 2011).

Dokter
Pendekatan oleh perawat

Pasien/keluarga

Farmasi/apotek

Pasien/keluarga
Surat persetujuan sentralisasi
obat dari perawat
PN/perawat yang menerima
Lembar serah terima obat
Pengaturan dan pengelolaan
Buku serah terima/masuk obat
oleh perawat

Pasien/keluarga

Gambar 8 Alur Pengelolaan Sentralisasi Obat

6. Supervisi
Supervisi merupakan upaya untuk membantu pembinaan dan
peningkatan kemampuan pihak yang disupervisi agar mereka dapat
melaksanakan kegiatan yang telah ditetapkan secara efisien dan efektif
(Sudjana D, 2004 dalam Nursalam, 2011).
Menurut Depkes (2000), supervisi keperawatan adalah kegiatan
pengawasan dan pembinaan yang dilakukan secara berkesinambungan
oleh supervisi mencakup masalah pelayanan keperawatan, masalah
ketenagaan dan peralatan agar pasien mendapat pelayanan yang bermutu
setiap saat.
Unsur–unsur pokok dalam supervisi menurut Azwar (1996) adalah:
a. Pelaksana
Adalah atasan yang memiliki kelebihan dalam pengetahuan dan
keterampilan. Tingkat manajer dalam melakukan supervisi adalah
1) Manajer puncak/top manager (misalnya : Kakanwil Depkes,
Kadinkes daerah dan Direktur RS)
2) Manajer menengah/middle manager (misal: kepala bagian tata
usaha, kepala bidang, Kasubdin Provinsi)
3) Manajer tingkat petama/First Line Manager ( misal: Kepala Seksi
dan kepala urusan).
b. Sasaran
Sasaran atau objek dari supervisi adalah pekerjaan yang dilakukan
oleh bawahan yang melakukan pekerjaan.
c. Frekuensi
Supervisi harus dilakukan dengan frekuensi yang berbeda. Supervisi
yang dilakukan hanya sekali, bukankah supervisi yang baik. Tidak ada
pedoman yang pasti tentang seberapa sering supervisi dilakukan,
tergantung derajat kesulitan pekerjaan.
d. Tujuan
Tujuan supervisi adalah memberikan bantuan kepada bawahan secara
langsung sehingga bawahan memiliki bekal yang cukup untuk dapat
melaksanakan tugas atau pekerjaan dengan hasil baik.
e. Teknik
Kegiatan pokok pada supervisi pada dasarnya mencangkup empat hal
pokok yaitu menetapkan masalah dan prioritas, menetapkan penyebab
masalah atau prioritas/jalan kelua, melaksanakan jalan keluar, menilai
hasil yang dicapai untuk tindak lanjut berikutnya. Teknik supevisi ada
dua yaitu dengan pengamatan langsung dan kerjasama.
Langkah – langkah supervisi ada tiga yaitu:
1) Mengadakan persiapan pengawasan
2) Menjalankan pengawasan
3) Memperbaiki penyimpangan

Manfaat supervisi ada dua yaitu:


1) Meningkatkan efektivitas kerja
2) Meningkatkan efisiensi keja
Prinsip Supervisi :
1) Supervisi dilakukan sesuai dengan struktur organisasi.
2) Supervisi memerlukan pengetahuan dasar manajemen,
keterampilan hubungan antarmanusia dan kemampuan
menerapkan prinsip manajemen dan kepemimpinan.
3) Fungsi supervisi diuraikan dengan jelas, terorganisasi, dinyatakan
melalui petunjuk dan peraturan, uraian tugas, serta standar.
4) Supervisi merupakan proses kerja sama yang demokratis antara
supervisor dan perawat pelaksana.
5) Supervisi merupakan visi, misi, falsafah, tujuan dan rancana
spesifik.
6) Supervisi menciptakan lingkungan yang kondusif, komunikasi
efektif, kreatifitas, dan motivasi.
7) Supervisi mempunyai tujuan yang berhasil dan berdaya guna
dalam pelayanan keperawatan yang memberi kepuasan pasien,
perawat, dan manajer.
Pelaksana Supervisi :

1) Kepala ruang
a) Bertanggung jawab dalam supervisi pelayanan keperawatan
pada pasien di ruang perawatan
b) Merupakan ujung tombak penentu tercapai atau tidaknya
tujuan pelayanan kesehatan di rumah sakit
c) Mengawasi perawat pelaksana dalam melaksanakan praktik
keperawatan di ruang perawatan sesuai dengan yang
didelegasikan.
2) Pengawasan keperawatan
Bertanggung jawab dalam mensupervisi pelayanan kepada kepala
ruangan yang ada di instalasi.
3) Kepala seksi keperawatan
Mengawasi instalasi dalam melaksanakan tugas secara langsung
dan seluruh perawat secara tidak langsung.

Kasi Perawatan
Alur Supervisi Ka. Bid
Perawatan
Ka. Per IRNA

PRA Menetapkan kegiatan dan tujuan


serta instrumen / alat ukur
Ka. Ru

Menilai kinerja perawat R-A-A


PELAKSANAAN (RESPONSIBILITY-
ACCOUNTABILITY-
PP 1 PP 2
AUTHORITHY)

PA PA
PEMBINAAN (3-F) Supervisi
PASCA Penyampaian penilaian (Fair)
Feed back
Follow up, pemecahan masalah &
Kinerja Perawat
reward
& Kualitas
Pelayanan
PELAKSANA Supervisi
Gambar 9 Bagan Alur Supervisi

1) Langkah Supervisi
a) Pra Supervisi
1) Menetapkan kegiatan yang akan disupervisi
2) Menetapkan tujuan.

2) Pelaksanaan Supervisi
a) Supervisor menilai kinerja perawat berdasarkan alat ukur atau
instrumen yang telah disiapkan.
b) Supervisor mendapat beberapa hal yang memerlukan
pembinaan.
c) Supervisor memanggil Katim dan PA untuk mengadakan
pembinaan dan klarifikasi permasalahan.
d) Pelaksanaan supervisi dengan inspeksi, wawancara dan
memvalidasi data sekunder.
3) Pasca Supervisi
a) Supervisor memberikan penilaian supervisi (F-Fair).
b) Supervisor memberikan feedback dan klarifikasi.
c) Supervisor memberikan reinforcement dan follow up perbaikan.
4) Teknik Supervisi
a) Proses Supervisi keperawatan terdiri atas 3 elemen kelompok,
yaitu:
1) Mengacu pada standar asuhan keperawatan
2) Fakta pelaksanaan praktik keperawatan sebagai
pembanding untuk menetapkan pencapain.
3) Tindak lanjut dalam upaya memperbaiki dan
mempertahankan kulitas asuhan keperawatan
b) Area Supervisi
Secara aplikasi area supervisi keperawatan meliputi:
1) Kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan
kepada pasien
2) Pendokumentasian asuhan keperawatan
3) Pendidikan kesehatan melalui Perencanaan Pulang
4) Pengelolaan logistik dan obat.
5) Penerapan metode ronde keperawatan dalam menyelesaikan
masalah keperawatan pasien
6) Pelaksanaan timbang terima.
5) Cara Supervisi
Supervisi dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu:

a) Langsung
Supervisi dilakukan secara langsung pada kegiatan yang
sedang berlangsung dimana supervisor dapat terlibat dalam
kegiatan, umpan balik dan perbaikan.
b) Secara tidak langsung
Supervisi dilakukan nelalui laporan baik tertulis maupun lisan.
Supervisor tidak melihat langsung apa yang terjadi di lapangan.

7. Discharge Planning
Discharge planning adalah suatu proses dimana pasien mulai
mendapatkan pelayanan kesehatan yang diikuti dengan kesinambungan
perawatan baik dalam proses penyembuhan maupun dalam
mempertahankan derajat kesehatannya sampai pasien merasa siap untuk
kembali ke lingkungannya. Discharge planning menunjukkan beberapa
proses formal yang melibatkan tim atau memiliki tanggung jawab untuk
mengatur perpindahan sekelompok orang ke kelompok lainnya (RCP,
2001). Perawat adalah salah satu anggota tim discharge planner, dan
sebagai discharge planner perawat mengkaji setiap pasien dengan
mengumpulkan dan menggunakan data yang berhubungan untuk
mengidentifikasi masalah aktual dan potensial, menentukan tujuan dengan
atau bersama pasien dan keluarga, memberikan tindakan khusus untuk
mengajarkan dan mengkaji secara individu dalam mempertahankan atau
memulihkan kembali kondisi pasien secara optimal dan mengevaluasi
kesinambungan asuhan keperawatan.
Pemberian discharge planning merupakan usaha keras perawat
demi kepentingan pasien untuk mencegah dan meningkatkan kondisi
kesehatan pasien, dan sebagai anggota tim kesehatan, perawat
berkolaborasi dengan tim lain untuk merencanakan, melakukan tindakan,
berkoordinasi dan memfasilitasi total care dan juga membantu pasien
memperoleh tujuan utamanya dalam meningkatkan derajat kesehatannya.
Discharge planning keperawatan merupakan komponen yang terkait
dengan rentang keperawatan. Rentang keperawatan sering pula disebut
dengan perawatan berkelanjutan yang artinya perawatan yang dibutuhkan
oleh pasien dimanapun pasien berada. Kegagalan untuk memberikan dan
mendokumentasikan perencanaan pulang akan berisiko terhadap beratnya
penyakit, ancaman hidup dan disfungsi fisik. Dalam perancanaan pulang
diperlukan komunikasi yang baik dan terarah sehingga apa yang
disampaikan dapat dimengerti dan berguna untuk proses perawatan di
rumah.
Tujuan discharge planning adalah untuk memberikan pelayanan
terbaik untuk menjamin keberlanjutan asuhan berkualitas antara rumah
sakit dan komunitas dengan memfasilitasi komunikasi yang efektif
(Discharge Planning Association, 2008) dalam Siahaan (2009). The royal
Marsden Hospital (2004) dalam Siahaan (2009) menyatakan bahwa tujuan
dilakukannya discharge planning adalah untuk mempersiapkan pasien dan
keluarga secara fisik dan psikologis untuk di transfer ke rumah atau ke
suatu lingkungan yang dapat disetujui, menyediakan informasi tertulis dan
verbal kepada pasien dan pelayanan kesehatan untuk mempertemukan
kebutuhan mereka dalam proses pemulangan, memfasilitasi proses
perpindahan yang nyaman dengan memastikan semua fasilitas pelayanan
kesehatan yang diperlukan telah dipersiapkan untuk menerima pasien,
mempromosikan tahap kemandirian yang tertinggi kepada pasien, teman-
teman dan keluarga dengan menyediakan, memandirikan aktivitas
perawtan diri.
Ketika melakukan discharge planning dari suatu lingkungan ke
lingkunganyang lain, ada beberapa prinsip yang harus diikuti/diperhatikan.
Berikut ini adalah beberapa prinsip yang dikemukakan oleh The Royal
Marsden Hospital (2004) dalam Siahaan (2009), yaitu :
a. Discharge planning harus merupakan proses multidisiplin, dimana
sumber-sumber untuk mempertemukan kebutuhan pasien dengan
pelayanan kesehatanditempatkan pada satu tempat.
b. Prosedur discharge planning harus dilakukan secara konsisten dengan
kualitastinggi pada semua pasien
c. Kebutuhan pemberi asuhan (care giver) juga harus dikaji.
d. Pasien harus dipulangkan kepada suatu lingkungan yang aman dan
adekuat.
e. Keberlanjutan perawatan antar lingkungan harus merupakan hal yang
terutama.
f. Informasi tentang penyusunan pemulangan harus diinformasikan
antara timkesehatan dengan pasien/care giver, dan kemampuan
terakhir disediakan dalam bentuk tertulis tentang perawatan
berkelanjutan.
g. Kebutuhan atas kepercayaan dan budaya pasien harus dipertimbangkan
ketika menyusun discharge planning.
Keuntungan dilakukannya discharge planning adalah
Bagi Pasien:
a. Dapat memenuhi kebutuhan pasien
b. Merasakan bahwa dirinya adalah bagian dari proses perawatan sebagai
bagian yang aktif dan bukan objek yang tidak berdaya.
c. Menyadari haknya untuk dipenuhi segala kebutuhannya
d. Merasa nyaman untuk kelanjutan perawatannya dan memperoleh
support sebelum timbulnya masalah.
e. Dapat memilih prosedur perawatannya
f. Mengerti apa yang terjadi pada dirinya dan mengetahui siapa yang
dapat dihubunginya.

Bagi Perawat:
a. Merasakan bahwa keahliannya di terima dan dapat di gunakan
b. Menerima informasi kunci setiap waktu
c. Memahami perannya dalam system
d. Dapat mengembangkan ketrampilan dalam prosedur baru
e. Memiliki kesempatan untuk bekerja dalam setting yang berbeda dan
cara yang berbeda.
f. Bekerja dalam suatu system dengan efektif.

Adapun pelaksanaan Discharge Planning yang idealnya dilaksanakan:

a. Katim memberi Health Education (HE) pada pasien yang akan pulang
atau yang direncanakan pulang, meliputi: obat-obatan yang masih
harus diminum di rumah, diet, aktivitas, istirahat, kapan kontrol
kembali dan dimana, apa saja yang dibawa pulang dan hal-hal yang
perlu diperhatikan pasien selama di rumah.
b. Jika pasien pulang dengan meneruskan perawatan khusus, seperti
perawatan kateter atau perawatan luka, maka pasien dan keluarga
dibekali pengetahuan tentang perawatan kateter dan perawatan luka.
c. Selain memberikan penjelasan secara lisan, Katim juga memberikan
kartu discharge planning dan leaflet-leaflet lain yang berisi penjelasan
yang diperlukan.
d. Setelah pasien dan keluarga mendapatkan discharge planning maka,
pasien atau keluarga menandatangani format discharge planning
sebagai bukti telah mendapatkan discharge planning dari perawat.
Discharge planning akan menghasilkan sebuah hubungan terintegrasi,
yaitu antara perawatan yang diterima pada waktu di rumah sakit dengan
perawatan yang diberikan setelah pasien pulang. Perawatan di rumah sakit
akan bermakna jika dilanjutkan dengan perawatan di rumah. Namun,
sampai saat ini perencanaan pulang bagi pasien yang di rawat di rumah
sakit belum optimal dilaksanakan, dimana peran perawat terbatas pada
kegiatan rutinitas saja, yaitu hanya informasi kontrol ulang. Pasien yang
memerlukan perawatan kesehatan di rumah, konseling kesehatan atau
penyuluhan dan pelayanan komunitas tapi tidak dibantu dalam upaya
memperoleh pelayanan sebelum pemulangan sering kembali ke ruang
kedaruratan dengan masalah minor, dan sering kali diterima kembali
dalam 24 jam sampai 48 jam dan kemudian pulang kembali.

8. Metode/Standar/Pedoman/Protap
Standar adalah rumusan tentang penampilan atau nilai yang diinginkan
dan mampu dicapai berkaitan dengan parameter yang telah ditetapkan.
Berdasarkan Clinical Practice Guidline (1990), standar merupakan
keadaan ideal atau tingkat pencapaian tertinggi dan sempurna yang
dipergunakan sebagai batas penerimaan minimal.
Tujuan standar keperawatan menurut Gillies (1989) adalah untuk
meningkatkan kualitas asuhan keperawatan, mengurangi biaya asuhan
keperawatan, dan melindungi perawat dari kelalaian dalam melaksanakan
tugas dan melindungi pasien dari tindakan yang tidak terapeutik.
Standar Pelayanan Keperawatan merupakan standar dalam pemberian
asuhan keperawatan pada pasien sesuai dengan penyakit pasien. Standar
Asuhan Keperawatan (SAK) berdasarkan kelompok penyakit: SAK bedah,
SAK interna, SAK Anak, SAK kegawatan dan lain-lain. Masing-masing
kelompok SAK akan dijabarkan sesuai dengan jenis kasus yang ada
disuatu ruangan.
Standar administrasi merupakan standar yang berisikan kebijakan-
kebijakan dari suatu rumah sakit.

9. Dokumentasi Keperawatan
Dokumentasi keperawatan adalah suatu catatan yang dapat dibuktikan
atau dijadikan bukti dari segala macam tuntutan, yang berisi data lengkap,
nyata, dan tercatat bukan hanya tentang tingkat kesakitan dari pasien,
tetapi juga jenis/tipe, kualitas dan kuantitas pelayanankesehatan dalam
memenuhi kebutuhan pasien (Fisbach, 1991 dalam Priadi, 2010).
Tujuan Dokumentasi Keperawatan (Potter, 2006 dalam Priadi 2010)
a. Alat komunikasi anggota tim
b. Biling keuangan
c. Bahan pendidikan
d. Sumber data dalam menyusun NCP
e. Audit keperawatan
f. Dokumen yang legal
g. Informasi statistik
h. Bahan penelitian
Prinsip-prinsip dokumentasi Keperawatan (Carpenito, 1991 dalam Priadi 2010)
a. Dokumentasi harus dilakukan segera setelah pengkajian pertama
dilakukan, demikian juga pada setiap langkah kegiatan keperawatan.
b. Bila memungkinkan, catat setiap respon pasien/keluarganya tentang
informasi/data yang penting tentang keadaannya.
c. Pastikan kebenaran setiap data data yang akan dicatat.
d. Data pasien harus objektif dan bukan merupakan penafsiran perawat,
dalam hal ini perawatmencatat apa yang dilihat dari respon pasien pada
saat merawat pasien mulai dari pengkajian sampai evaluasi.
e. Dokumentasikan dengan baik apabila terjadi hal-hal sebagai berikut:
adanya perubahankondisi atau munculnya masalah baru, respon pasien
terhadap bimbingan perawat.
f. Harus dihindari dokumentasi yang baku sebab sifat individu/pasien
adalah unik dan setiap pasien mempunyai masalah yang berbeda.
g. Hindari penggunaan istilah penulisan yang tidak jelas dari setiap
catatan yang dicatat, harusdisepakati atas kebijaksanaan institut
setempat.
h. Data harus ditulis secara sah dengan menggunakan tinta dan jangan
menggunakan pensil agar tidak mudah dihapus.
i. Untuk merubah atau menutupi kesalahan apabila terjadi salah tulis,
coret dan digantidengan yang benar kemudian ditanda tangani.
j. Untuk setiap kegiatan dokumentasi, cantumkan waktu tanda tangan
dan nama jelas penulis.
k. Wajib membaca setiap tulisan dari anggota lain kesehatan yang lain
sebelum menulis data terakhir.
l. Dokumentasi harus dibuat dengan tepat, jelas dan lengkap

Proses Dokumentasi Keperawatan


a. Pengkajian
b. Diagnosa Keperawatan
c. Perencanaan/intervensi
d. Pelaksanaan/implementasi
e. Evaluasi
Sistem pendokumentasian yang berlaku saat ini adalah SOR (Sources
Oriented Record) yaitu sistem pendokumentasian yang berorientasi kepada
lima komponen (lembar penilaian berisi biodata, lembar order dokter,
lembar riwayat medis/penyakit, catatan perawat, catatan dan laporan
khusus).

10. Uraian Tugas


a. Pengertian
Uraian tugas adalah seperangkat fungsi dan tugas serta tanggung jawab
yang dijabarkan ke dalam kegiatan pekerjaan. Pernyataan tertulis untuk
semua tingkat jabatan dalam satu unit yang mencerminkan fungsi,
tanggung jawab, dan kualitas yang dibutuhkan.
b. Manfaat
1) Seleksi individu yang berkualitas
2) Menyediakan alat evaluasi
3) Menentukan budget
4) Penentuan fungsi departemen
5) Klasifikasi fungsi departemen
c. Lingkup Uraian Tugas
Uraian tugas dapat menjadi rintangan bila tidak akurat, tidak
lengkap dan kadaluarsa. Penulisan uraian tugas yang sempurna dapat
menjadi aset dan dapat menggambarkan organisasi kerja yang
memberikan pandangan operasional secara keseluruhan dan
menunjukkan bahwa uraian tugas telah dirancang dan dianalisa sebagai
suatu bagian integral dari pelayanan organisasi kerja. Dalam
menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi,
uraian tugas adalah subyek perubahan. Perawat atau bidang manajer
harus memelihara agar pekerjaan tetap relevan dengan uraian tugas
melalui perbaikan secara periodik dan sistematis.
d. Klasifikasi Uraian Tugas
Terdiri dari lima dimensi:
1) Administrasi: jadwal, permintaan dan pemeliharaan alat, uraian
tugas personil, klarifikasi tanggung jawab dan akuntabilitas.
2) Jaminan mutu: pengetahuan tentang standar, pengembangan staf,
peningkatan motivasi, membangun kerjasama tim, refleksi kasus.
3) Promosi: komunikasi, motivasi, pendidikan dan bimbingan.
4) Monitoring kinerja klinik: observasi, memeriksa dokumen,
diskusi/pecatatan.
5) Kepemimpinan: pengarahan, pelimpahan wewenang, dan advokasi.
e. Prinsip-prinsip Uraian Tugas
1) Mengidentifikasi fungsi dan tugas yang telah ditetapkan
2) Membuat urutan tugas secara logis dan jelas
3) Mulaim dengan kalimat aktif
4) Gunakan kata kerja
Jadi deskripsi tugas adalah seperangkat fungsi dan tugas tanggung
jawab yang dijabarkan ke dalam kegiatan pekerjaan.
D. M4 (Money)
Dalam manajemen keperawatan sangat diperlukan adanya pengelolaan dalam
keuangan sebagai faktor pendukung terlaksananya pelayanan keperawatan.

E. M5 (Market)
1. Bed Occupation Rate
Bed Occupancy Rate (BOR) adalah persentase pemakaian tempat
tidur pada waktu tertentu yang didefinisikan sebagai jumlah tempat tidur
yang terpakai untuk perawatan pasien di dalam ruangan terhadap jumlah
tempat tidur yang tersedia. Standar nilai BOR menurut Barber Johnson
adalah 75% - 85% (Standar Internasional), sedangkan standar nilai Depkes
RI adalah 60% - 85%. Adapun perhitungan BOR adalah sebagai berikut.

BOR = Jumlah Tempat Tidur yang Terisi x 100%


Kapasitas Tempat Tidur yang Tersedia
2. Mutu Pelayanan Keperawatan
Penerapan upaya penjamin mutu keperawatan pasien dapat dilihat
dari beberapa aspek penilaian penting yang terdapat didalamnya. Indicator
peningkatan mutu pelayanan dapat dilihat dari beberapa aspek, antara lain:
a. Keselamatan Pasien (Patient Safety)
1) Kejadian Dekubitus
Dekubitus atau pressure ulcer adalah nekrosis jaringan
lokal yang cenderung terjadi ketika jaringan lunak tertekan di
antara tonjolan tulang dengan permukaan eksternal dalam jangka
waktu lama yang menyebabkan peningkatan tekanan kapiler
(EPUAP & NPUAP, 2009). Dekubitus merupakan kerusakan kulit
dan jaringan di bawahnya akibat penekanan yang lama sehingga
pembuluh darah terjepit dan daerah tersebut tidak memperoleh
suplai darah, makanan, dan oksigen yang menyebabkan jaringan
tersebut mengalami kematian. Pencegahan dekubitus dapat
dilakukan dengan penggunaan peralatan yang tepat, nutrisi yang
adekuat, menghindari trauma kulit, dan menjaga kebersihan kulit.
Dekubitus yang dimaksud dalam peningkatan mutu pelayanan
adalah dekubitus yang tidak terjadi saat pasien mendapat
perawatan selama di rumah sakit.
Pasien yang berisiko terjadi dekubitus adalah pasien baru
setelah dilakukan pengkajian memiliki satu atau lebih faktor risiko
sebagai berikut :
a) Usia lebih dari 75 tahun
b) Ketidakmampuan bergerak pada bagian tertentu dari tubuh
tanpa bantuan, seperti pada cidera medulla spinalis atau cidera
kepala atau mengalami penyakit neuromuscular.
c) Malnutrisi, obesitas
d) Berbaring lama di tempat tidur atau penggunaan kursi roda.
e) Mengalami kondisi kronik seperti DM, penyakit vaskuler.
f) Inkontinen urine dan feses, yang dapat menyebabkan iritasi
kulit akibat kulit yang lembab.

2) Upaya Pengurangan INOS (Infeksi Nosokomial)


Infeksi nosokomial merupakan suatu keadaan yang penting
dalam pelayanan pasien di Rumah Sakit di seluruh dunia karena
insidennya yang sangat tinggi. Isnfeksi nosokomial dapat diartikan
infeksi yang berasal atau terjadi di rumah sakit. Infeksi yang timbul
dalam kurun waktu 48 jam setelah dirawat di rumah sakit sampai
dengan 30 hari lepas rawat dianggap sebagai infeksi nosokomial.
Adapun yang bisa dijadikan indicator penilaian INOS adalah :
a) Infeksi intravaskular (Flebitis)
b) Infeksi mata, hidung, telinga dan mulut
c) Pneumonia
d) Bakterimia/sepsis

3) Pasien Jatuh
Pasien jatuh adalah peristiwa jatuhnya pasien dari tempat
tidur ke lantai atau ke tempat lainnya yang lebih rendah pada saat
istirahat maupun saat pasien terjaga yang tidak disebabkan oleh
penyakit stroke, epilepsy, selzure, bahaya karena terlalu banyak
aktivitas (Depkes RI, 2008).
Pasien yang berisiko jatuh adalah pasien yang
dikategorikan mempunyai satu atau lebih faktor risiko jatuh pada
saat pengkajian keperawatan, diantaranya pengkajian faktor risiko
intrinsic meliputi karakteristik pasien dan fungsi fisik umum,
diagnosis/perubahan fisik, medikasi dan interaksi obat, dan kondisi
mental/penggunaan alkohol. sedangkan pengkajian faktor risiko
ekstrinsik meliputi karakteristik lingkungan yang dapat
membahayakan pasien.
4) Kesalahan dalam Pemberian Obat oleh Perawat
Kesalahan dalam pemberian obat oleh perawat terjadi jika
perawat melakukan kesalahan dalam prinsip 6 benar dalam
pemberian obat, yaitu benar pasien, benar obat, benar waktu
pemberian, benar dosis obat, benar cara pemberian, dan benar
dokumentasi. Kejadian kesalahan pengobatan pasien yang dirawat
inap dapat mengakibatkan keadaan fatal atau kematian (Depkes RI,
2008).

b. Kepuasan Pasien
Adapun indikator kepuasan pasien terhadap pelayanan
keperawatan dapat dilihat dari kuesioner yang berjumlah 16
pertanyaan, masing-masing pertanyaan diberi nilai berdasarkan
jawaban kemudian dijumlah secara keseluruhan. Jika pilihan jawabn
“Ya”, maka mendapat skor 2, jawaban “Kadang-kadang” mendapat
skor 1, dan jawaban “Tidak” mendapat skor 0. Penilaian kepuasan
dilakukan berdasarkan rentang presentase yang diadopsi dari criteria
Notoatmodjo, dimana <56% menunjukkan kurang puas, 56-75%
menunjukkan cukup puas, dan 75-100% menunjukkan puas.
c. Kecemasan
Cemas adalah perasaan was-was, khawatir atau tidak nyaman seakan-
akan terjadi suatu yang dirasakan sebagai ancaman.
Skala pasien cemas (1-10) :
1) 8-10 : Cemas ringan
Ketegangan yang dialami sehari-hari, mampu memecahkan
masalah sendiri, waspada, lapang persepsi meluas.
2) 6-7 : Cemas sedang
Focus pada hal yang menjadi perhatiannya, lapang persepsi
menyempit, mampu melakukan dengan arahan.
3) 3-5 : Cemas berat
Lapang persepsi sangat sempit, hanya mampu berpikir untuk hal
kecil, perlu banyak arahan untuk berpikir tentang hal lain.
4) 1-2 : Panik
Kehilangan kendali diri, tidak mampu melakukan apapun, biasanya
dengan disorganisasi kepribadian, peningkatan aktivitas motorik,
kegagalan berhubungan, persepsi terganggu, tidak mampu
berkomunikasi efektif.
Informasi yang cukup diberikan untuk mengurangi cemas,
diidentifikasikan pada skala 8-9 yang berarti kecemasan pasien
normal/adaptif. Apabila skala kurang dari 8 diidentifikasikan
pasien cemas sedangkan jika skala diatas 9 maka pasien
diidentifikasikan bebas dari cemas (Depkes RI, 2008).

d. Kenyamanan Pasien
Rasa nyaman (comfort) adalah bebas dari rasa nyeri atau nyeri
terkontrol. Rasa nyeri merupakan sebuah rasa/emosi yang tidak
menyenangkan. Nyeri dapat disebabkan oleh satu atau lebih penyebab
atau bahkan tidak diketahui penyebabnya. Nyeri bisa mempengaruhi
sistem tubuh manusia, psikososial, ekonomi dan spiritual,
menyebabkan suatu kondisi bertambah parah.
Manajemen nyeri yang buruk merupakan suatu indikator dari
kualitas asuhan yang buruk. Tujuan dari manajemen nyeri adalah
memaksimalkan rasa nyaman dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Tiga faktor yang dapat menyebabkan tidak adekuatnya manajemen
nyeri, yaitu :
1) Tidak adekuatnya pengkajian nyeri
2) Potensial risiko dari pengobatan nyeri
3) Penggunaan yang terbatas/sedikit dari intervensi non-
farmakologis dalam manajemen nyeri (Depkes RI, 2008).
Pemberian intervensi non-farmakologis dalam manajemen nyeri
dapat membantu dalam memberikan kenyamanan pasien. Intervensi
yang dapat dilakukan antara lain distraksi, relaksasi napas dalam,
terapi music, dan guided imagery.

BAB III
HASIL PRAKTIK
A. Gambaran Umum Lokasi Praktik/Ruangan
RSUP Sanglah mulai dibangun pada tahun 1956 dan diresmikan pada
tanggal 30 Desember 1959 dengan kapasitas 150 tempat tidur. Pada tahun
1962 bekerjasama dengan FK Unud sebagai RS Pendidikan. Pada tahun 1978
menjadi rumah sakit pendidikan tipe B dan sebagai Rumah Sakit Rujukan
untuk Bali, NTB, NTT, Timor Timur (SK Menkes RI No.134/1978).
Dalam perkembangannya RSUP Sanglah mengalami beberapa kali
perubahan status, pada tahun 1993 menjadi rumah sakit swadana (SK Menkes
No. 1133/Menkes/SK/VI/1994). Kemudian tahun 1997 menjadi Rumah Sakit
PNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak). Pada tahun 2000 berubah status
menjadi Perjan (Perusahaan Jawatan) sesuai peraturan pemerintah tahun 2000.
Terakhir pada tahun 2005 berubah menjadi PPK BLU (Kepmenkes RI
NO.1243 tahun 2005 tgl 11 Agustus 2005) dan ditetapkan sebagai RS
Pendidikan Tipe A sesuai Permenkes 1636 tahun 2005 tertanggal 12 Desember
2005.
Seperti halnya organisasi lain, RSUP Sanglah Denpasar juga memiliki visi
sebagai arah yang akan dituju, menjadi Rumah Sakit Unggulan dalam bidang
Pelayanan, Pendidikan dan Penelitian tingkat Nasional dan Internasional.
Dalam mewujudkan visi tersebut RSUP Sanglah dalam memberikan
pelayanan selalu berusaha dengan segala upaya agar pelayanannya prima
sehingga dapat memuaskan masyarakat yang membutuhkan pelayanan.
Apalagi RSUP Sanglah adalah merupakan rumah sakit rujukan utama untuk
wilayah Bali, NTB dan NTT.
Disamping itu RSUP Sanglah juga selalu mengedepankan pemberdayaan
sumber daya yang dimilikinya untuk bisa menghasilkan unggulan di bidang
pendidikan dan penelitian kedokteran, kesehatan dan keperawatan.

1. Visi, Misi, Keyakinan Dasar, Nilai-Nilai Dasar dan Motto RSUP


Sanglah
Gambaran khusus tentang RSUP Sanglah Denpasar ditinjau dari visi,
misi, keyakinan dasar, nilai-nilai dasar RSUP Sanglah, dan motto rumah
sakit dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Visi
”Menjadi Rumah Sakit Rujukan Nasional Kelas Dunia Tahun 2019”
"To Be A World Class National Referral Hospital In 2019"
b. Misi
1) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan interprofesi yang
paripurna, bermutu untuk seluruh lapisan masyarakat ;
2) Menyelenggarakan pendidikan tenaga kesehatan yang profesional
dan berdaya saing serta menyelenggarakan penelitian dalam bidang
kesehatan berbasis rumah sakit ;
3) Menyelenggarakan kemitraan dengan pemangku kesehatan terkait;
4) Menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman
c. Motto :
“Kepuasan Anda Adalah Kebahagiaan Kami”
d. Sasaran :
1) Terciptanya tata kelola rumah sakit yang berhasil guna dan berdaya
guna Terciptanya pelayanan rumah sakit kelas dunia.
2) Terselenggaranya pendidikan dokter umum, dokter spesilalis
disemua SMF/Bagian dan tenaga kesehatan lainnya.
3) Terselenggaranya penelitian kesehatan yang berkualitas,
terdokumentasi dan dipublikasikan ke seluruh dunia.
e. Tugas
RSUP Sanglah mempunyai tugas menyelenggarakan upaya
penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi, terpadu
dan berkesinambungan melalui peningkatan kesehatan dan pencegahan
serta upaya rujukan.

f. Tujuan
Tercapainya tata kelola rumah sakit yang berhasil guna dan
berdaya guna, dalam rangka mewujudkan pelayanan rumah sakit yang
berkelas dunia agar tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya.
g. 3 Keyakinan Dasar Pegawai
1) Insan Profesional
2) Tat Wam Asi
3) Bekerja Dalam Teamwork
h. Tujuan
Tercapainya tata kelola rumah sakit yang berhasil guna dan
berdaya guna, dalam rangka mewujudkan pelayanan rumah sakit yang
berkelas dunia agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya.
i. Falsafah
“Menjunjung Tinggi Harkat dan Martabat Manusia Dalam
Pelayanan Kesehatan, Pendidikan dan Penelitian.”

2. Pelayanan Kesehatan
a. Fasilitas pelayanan
Pelayanan Kesehatan utama yang ada pada RSUP Sanglah antara lain:
1) Poliklinik Rawat Jalan
No Poliklinik No Poliklinik
1 Poliklinik Penyakit Dalam 14 Poliklinik Rehabilitasi Medik
2 Poliklinik Bedah 15 Poliklinik Konsultasi Gizi
3 Poliklinik Anak 16 Poliklinik Paliatif
4 Poliklinik Kulit Kelamin 17 Poliklinik
Kebidanan/Kandungan & KB
5 Poliklinik Bayi Tabung 18 Hyperbaric Chamber
6 Poliklinik Saraf 19 Poliklinik Akupunktur
7 Poliklinik Jiwa 20 Poliklinik Geriatri
8 Poliklinik THT 21 Poliklinik Methadon
9 Poliklinik Mata 22 Poliklinik Anestesi
10 Poliklinik Gigi & Mulut 23 Poliklinik Wing Amertha
11 Poliklinik Filter 24 Poliklinik Kardiologi
12 Poliklinik Rawat Luka 25 Diabetic Center
13 Klinik VCT 26 Klinik Tuberculosa
Tabel 3.1 Poliklinik Rawat Jalan

2) Staf Medis Fungsional


No Nama SMF No Nama SMF
1 Penyakit Dalam (Interne) 13 Mata
2 Kardiologi dan Kedokteran 14 THT-KL
Vaskuler
3 Bedah 15 Kulit dan Kelamin
4 Bedah Syaraf 16 Patologi Klinik
5 Urologi 17 Mikrobiologi Klinik
6 Orthopaedi & Traumatologi 18 Patologi Anatomi
7 Obstetri dan Gynecologi 19 Radiologi
8 Ilmu Kesehatan Anak 20 Rehabilitasi Medis
9 Anastesi dan Reanimasi 21 Gizi Klinik
10 Neurologi 22 Gigi dan Mulut
11 Jiwa 23 Forensik
12 Dokter Umum
Tabel 3.2 Staf Medis Fungsional

3) Jenis Instalasi
No Nama Instalasi No Nama Instalasi
1 Instalasi Rawat Jalan 17 Instalasi Rehabilitasi Medis
2 Instalasi Gawat Darurat 18 Instalasi Radiologi
3 Instalasi Rawat Inap A 19 Instalasi Patologi Klinik
4 Instalasi Rawat Inap B 20 Instalasi Patologi Anatomi
5 Instalasi Rawat Inap C 21 Instalasi Mikrobiologi
6 Instalasi Rawat Inap D 22 Instalasi Paviliun Amertha
7 Instalasi Rawat Inap 23 Instalasi Gizi
Intensif
8 Instalasi Bedah Sentral 24 Instalasi Binatu
9 Instalasi Sterilisasi Sentral 25 Instalasi Rekam Medik
10 Instalasi Kedokteran 26 Instalasi Security
Forensik
11 IPS Prasarana Gedung & 27 Instalasi Electronic Data
Sanitasi Processing
12 IPS Medik,Non Medik & 28 Instalasi KKL
Perbengkelan
13 Instalasi Farmasi 29 Instalasi PKRS
14 Instalasi Hemodialisa 30 Instalasi Penjaminan Klaim
15 InstalasiGeriatri 31 Instalasi Admission
16 Instalasi Pelayanan Jantung
Terpadu
Tabel 3.3 Jenis-jenis Instalasi
b. Tempat Tidur
Jumlah Ratio Perawat Jaga
No Ruangan Jumlah Paramedis Jumlah Perawat Jaga
TT Dengan TT
1 Paviliun Amerta 28 41 7 1 : 3,6
IRNA A

Mahotama 25 33 7 1 : 3,6
2 Sanjiwani 16 19 5 1:3
Wijaya Kusuma 18 18 4 1 : 4,5
Flamboyan 28 19 4 1:7
IRNA B
Bakung Barat 28 23 5 1 : 5,6
Bakung Timur 29 16 3-4 1 : 6,7
Cempaka Timur 20 14 3 1:6
3
Cempaka Barat 40 23 5 1 : 7,5
Anggrek 16 18 4 1 : 3,2
Jempiring 40 21 5 1:8
Pudak 20 17 3 1 : 3,3
IRNA C
Angsoka I 45 24 5 1 : 9,6
Angsoka II 39 24 5 1 : 8,4
4
Angsoka III 45 23 5 1 : 9,6
Gadung 18 12 3 1 : 6,7
Kamboja 24 12 3 1:9
IRNA D
Lely 28 17 4 1:7
Mawar 32 18 4 1:8
5
Nusa Indah 23 20 4 1 : 5,8
1 : 3,8
Nagasari 10 11 3
Intensif Terpadu
Luka Bakar 15 21 4 1:4
6
ICU 10 24 5 1:2
ICCU 7 17 3 1 : 3,8
Instalasi Geriatri
7
Gandasturi 11 12 3 1 : 4,1
TOTAL 704
c. Praktek Dokter Spesialis di Paviliun Amerta

HARI NO NAMA DOKTER JAM


1. Dr. Kt. Surya Negara, Sp OG 17.00 - 20.00
HARI NO NAMA DOKTER 2. Dr. Km Arimbawa,Sp S 17.00 - 20.00
JAM
SELASA 1. Dr. Mega3.Putra,
Dr. Widnyana,
Sp OG Sp A 17.00- 20.00
17.00 - 20.00
4. Dr. Sp
2. Dr. Widnyana, Andi
A Dwi Saputra, Sp THT 17.00
17.00- 20.00
- 20.00
5.Utama,
3. Dr. Susila Dr. Susila Utama, Sp PD
Sp PD 17.00- 20.00
17.00 - 20.00
6. Dr. Mahayasa,
4. Dr. Km Arimbawa,Sp S Sp B 14.00- 20.00
17.00 - 17.00
SENIN 7. Dr. Anda
5. Dr. Peri Adijaya, Sp BTusta, Sp BS 17.00- 20.00
17.00 - 20.00
7. Dr. Anda8.Tusta,
Dr. Niryana,
Sp BS Sp BS 17.00- 20.00
17.00 - 20.00
9. Drg.SpS B
8. Dr. Mahayasa, N Ana Satriana 17.00- 17.00
14.00 - 20.00
10. Dr.
9. Dr. Niryana, SpTjok
BS G B Mahadewa, Sp BS17.00
14.00- 20.00
- 17.00
10. Dr. Tjok11.
GB Dr.Mahadewa,
Wien Aryana, Sp B OT
Sp BS 17.00- 17.00
14.00 - 20.00
11. Dr. Wien12.Aryana,
Dr. Yuli,
SpSpM
B OT 17.00- 20.00
17.00 - 20.00
12. Dr. Andi13.Dwi
Dr.Saputra,
Kambayana, Sp PD
Sp THT 15.00- 20.00
17.00 - 17.00
13. Drg. S N Ana Satriana 17.00 - 20.00
14. Dr. Yuli, SpM 17.00 - 20.00
15. Dr. Kambayana, Sp PD 15.00 - 17.00

HARI NO NAMA DOKTER JAM


1. Dr. Kt. Surya Negara, Sp OG 17.00 - 20.00
2. Dr. Susila Utama, Sp PD 17.00 - 20.00
3. Dr. Widnyana, Sp A 17.00 - 20.00
4. Dr. Andi Dwi Saputra, Sp THT 17.00 - 20.00
5. Dr. Sudiasa, Sp B 17.00 - 20.00
6. Dr. Anda Tusta, Sp BS 17.00 - 20.00
RABU 7. Dr. Niryana, Sp BS 17.00 - 20.00
8. Dr. Mahayasa, Sp B 14.00 - 17.00
9. Dr. Wien Aryana, Sp B OT 17.00 - 20.00
10. Dr. Km Arimbawa,Sp S 17.00 - 20.00
11. Drg. S N Ana Satriana 17.00 - 20.00
12. Dr. Yuli, SpM 17.00 - 20.00
13. Dr. Kambayana, Sp PD 15.00 - 17.00
HARI NO NAMA DOKTER JAM
1. Dr. Mega Putra, Sp OG 17.00 - 20.00
2. Dr. Susila Utama, Sp PD 17.00 - 20.00
3. Dr. Widnyana, Sp A 17.00 - 20.00
4. Dr. Andi Dwi Saputra, Sp THT 17.00 - 20.00
5. Dr. I B Kusuma Putra, Sp S 17.00 - 20.00
6. Drg. S N Ana Satriana 17.00 - 20.00
7. Dr. Hendra Sanjaya, Sp BS 17.00 - 20.00
KAMIS
8. Dr. Anda Tusta, Sp BS 17.00 - 20.00
9. Dr. Niryana, Sp BS 17.00 - 20.00
10. Dr. Tjok G B Mahadewa, Sp BS 14.00 - 16.00
11. Dr. Mahayasa, Sp B 14.00 - 17.00
12. Dr. Wien Aryana, Sp B OT 17.00 - 20.00
13. Dr. Yuli, SpM 17.00 - 20.00
14. Dr. Kambayana, Sp PD 15.00 - 17.00

HARI NO NAMA DOKTER JAM


1. Dr. Mega Putra, Sp OG 17.00 - 20.00
2. Dr. Widnyana, Sp A 17.00 - 20.00
3. Dr. Yenny Kandarini, Sp PD 17.00 - 20.00
4. Dr. Susila Utama, Sp PD 17.00 - 20.00
5. Dr. I B Kusuma Putra, Sp S 17.00 - 20.00
6. Drg. S N Ana Satriana 17.00 - 20.00
7. Dr. Anda Tusta, Sp BS 17.00 - 20.00
JUMAT
8. Dr. Tjok G B Mahadewa, Sp BS 14.00 - 16.00
9. Dr. Mahayasa, Sp B 14.00 - 17.00
10. Dr. Niryana, Sp BS 17.00 - 20.00
11. Dr. Yuli, SpM 17.00 - 20.00
12. Dr. Andi Dwi Saputra, Sp THT 17.00 - 20.00
13. Dr. Wien Aryana, Sp B OT 17.00 - 20.00
14. Dr. Kambayana, Sp PD 15.00 - 17.00
HARI NO NAMA DOKTER JAM
1. Dr. Mega Putra, Sp OG 17.00 - 20.00
2. Dr. I B Kusuma Putra, Sp S 17.00 - 20.00
3. Dr. Anda Tusta, Sp BS 17.00 - 20.00
4. Dr. Mahayasa, Sp B 14.00 - 17.00
5. Dr. Wien Aryana, Sp B OT 17.00 - 20.00
6. Drg. S N Ana Satriana 17.00 - 20.00
SABTU
7. Dr. Susila Utama, Sp PD 17.00 - 20.00
8. Dr. Andi Dwi Saputra, Sp THT 17.00 - 20.00
9. Dr. Widnyana, Sp A 17.00 - 20.00
10. Dr. Yuli, SpM 17.00 - 20.00
11. Dr. Niryana, Sp BS 17.00 - 20.00
12. Dr. Kambayana, Sp PD 15.00 - 17.00

d. Fasilitas penunjang
1) CT-Scan single & multislice -MRI
2) USG 3-4 D & color Doppler -Endoskopi
3) ESWL - Echocardiografi
4) ECG-Treadmill
5) EEG-Laparaskopi
6) Angiografi - TUR
7) Bone Marrow Densitometer - EMG
8) Radioterapi (Cobalt 60,Brachiterapi)- Holter
9) Intervensi RadIologi -C-Arm
10) Argon Laser-Biometri B Scan

e. Jumlah Kunjungan
Untuk jumlah kunjungan pasien dibagi sesuai dengan instalasi
terkait. Untuk poliklinik kunjungan pasien pertahun kurang lebih
206.460 pasien dimana rata-rata kunjungan perhari 735 pasien. Untuk
rawat jalan IGD kunjungan pasien pertahun kurang lebih 56.186
pasien dimana rata-rata kunjungan perhari sekitar 154 pasien. Untuk
Paviliun Amerta kunjungan pasien pertahun kurang lebih 46.829
pasien dimana rata-rata kunjungan pasien perhari sekitar 167 pasien.
Untuk VK IGD kunjungan pasien pertahun kurang lebih 1548 pasien
dimana rata-rata kunjungan pasien perhari sekitar 4 pasien. Untuk
pasien Asing kunjungan pasien pertahun kurang lebih 1562 pasien
dimana rata-rata kunjungan perhari sekitar 4 pasien.

f. Pelayanan Unggulan
Terdapat beberapa pelayanan yang diunggulkan di RSUP Sanglah
antara lain pelayanan jantung terpadu, pelayanan intensif dan
pelayanan medical tourism.
DIREKTUR UTAMA DEWAN PENGAWAS

SATUAN
g. Struktur Organisasi RSUP Sanglah PEMERIKSAAN
INTER

DIREKTUR MEDIK DIREKTUR SDM DIREKTUR DIREKTUR UMUM


DAN KEPERAWATAN DAN PENDIDIKAN KEUANGAN DAN OPERASIONAL

Bidang Bidang Bidang Bagian Bagian Bagian Bagian Bagian Bagian Bagian Bagian
yan medik yankep yan jang SDM pend. Dan penyusunan Perbend. Akuntansi Umum Perencana Hukum
penelitian dan evaluasi dan Mob. dan an dan Dan
anggaran Dana verifikasi Evaluasi Humas

Sie yanmed Sie yankep Sie yanpen Subbag Subbag Subbag Subbag Subbag Subbag TU Subbag Subbag
rawat jalan rawat jalan medik admin pend dan penyusunan perbend. akuntansi perencanaan hukum
kepeg penel. angg. keuangan
medik

Sie yanmed Sie yankep Sie yanpen Subbag Subbag Subbag Subbag Subbag Subbag Subbag Subbag
rawat inap rawat jalan non medik pengemb. pend dan evaluasi mob. dana akuntansi perleng dan evaluasi dan humas
SDM penel. Kep. angg. manajemen RT pelaporan
Dan non dan
Sie yanmed Sie yankep medik verifikasi Subbag
rawat rawat jalan pemasaran
khusus dan yan
pelanggan

Instalasi Instalasi DIV Instalasi


SMF: 21
LITBAN
G Instalasi :23
3. Hasil Kegiatan
Laporan Pemantauan Indikator Mutu Pelayanan :
Tabel 3.1. Indikator Pelayanan

N JUDUL FORMULA DATA


O INDIKATO
R
1 Pengkajian Jumlah
pre-anasthesi pengkajian pre-
dilaksanakan anasthesi
untuk pasien dilaksanakan
pra-operasi untuk pasien pra-
elektif operasi elektif
dengan dengan anesthesi
anesthesi umum dalam satu
umum bulan (orang) :
Jumlah seluruh
pasien pra-
operasi elektif
dengan anesthesi
umum dalam
bulan yang sama
(orang) x 100%
2 Ketidaklengk Jumlah rekam
apan medik yang tidak
pengisian lengkap diisi oleh
rekam medik staf medis dalam
24 jam sejak 24 jam untuk
setelah pasien pulang
selesai rawat inap dalam
pelayanan satu bulan
rawat inap (orang) : Jumlah
pasien yang
dinyatakan telah
selesai pelayanan
rawat inap dalam
bulan yang sama
(orang) x 100%
3 Persentase Jumlah
Pelaksanaan pemberian
Prosedur transfusi darah
Identifikasi atau produk darah
Pada yang
Pemberian dilaksanakan
Transfusi prosedur
Darah atau identifikasi
Produk pasien dengan
Darah tepat dan benar,
menanyakan 2
(dua) identitas
yaitu nama dan
nomer rekam
medik sebelum
tindakan (hitung
per-kantong
transfuse darah
atau produk
darah) : Jumlah
seluruh kegiatan
pemberian
transfusi darah
atau produk darah
dalam satu bulan
(hitung per-
kantong transfuse
darah atau produk
darah) x 100% =
___%
4 Persentase Jumlah
Permintaan permintaan NaCl
(prescription/ 3% yang
R/) NaCl 3% diiencerkan
yang dalam satu bulan
diiencerkan (hitung
di Instalasi permintaan/prescr
Farmasi iption/ R/) :
Jumlah seluruh
NaCl 3% yang di
order dalam
bulan yang sama
(hitung
permintaan/prescr
iption/ R/) x
100% = ___%
5 Kelengkapan Jumlah check list
Pengisian keselamatan
Format pasien operasi
Check List yang dinyatakan
Keselamatan lengkap(hitung
Pasien per-format) :
Operasi Jumlah seluruh
tindakan operasi
dalam satu bulan
(hitung per-
jumlah tindakan)
x 100% = ___%
Sumber : Data Sekunder Indikator Pelayanan RSUP Sanglah

4. Jenis Layanan
a. Rawat Jalan
1) Poliklinik Penyakit Dalam -Poliklinik Rehabilitasi Medik
2) Poliklinik Bedah-Poliklinik Konsultasi Gizi
3) Poliklinik Anak -Poliklinik Paliatif
4) Poliklinik Kulit Kelamin -Poliklinik Kebidanan/Kandungan & KB
5) Poliklinik Bayi Tabung -Hyperbaric Chamber
6) Poliklinik Saraf-Poliklinik Akupunktur
7) Poliklinik Jiwa-Poliklinik Geriatri
8) Poliklinik THT-Poliklinik Methadon
9) Poliklinik Mata-Poliklinik Anestesi
10) Poliklinik Gigi & Mulut-Poliklinik Wing Amertha
11) Poliklinik Filter-Poliklinik Kardiologi
12) Poliklinik Rawat Luka- Diabetic center
13) Klinik VCT
14) Klinik TB

b. Rawat Inap
RSUP Sanglah memiliki 693 tempat tidur yang dapat memenuhi
kebutuhan seluruh lapisan masyarakat dari kelas 3 sampai VVIP
dengan mengupayakan pelayanan yang memuaskan masyarakat. Bagi
pasien yang memilih VIP dan VVIP dapat memilih pelayanan dari
dokter spesialis sesuai yang diinginkan.
Untuk informasi mengenai tarif dan fasilitas rawat inap yang
diinginkan, masyarakat dapat menghubungi Admission yang ada di
RSUP Sanglah.
c. Rawat Darurat
Instalasi Gawat Darurat dibangun atas kerjasama dengan JICA
Jepang pada tahun 1989 dan mulai beroperasi pada bulan Maret 1991.
Instalasi Gawat Darurat melayani kunjungan rawat inap dan rawat
jalan.Dalam melaksanakan pelayanan, Instalasi Gawat darurat
memiliki fasilitas 3 kamar operasi didukung oleh fasilitas penunjang
yaitu antara lain Laboratorium, Radiologi, CSSD, Farmasi, Binatu, dan
Tim ambulance service dengan SDM yang mendapat pelatihan di
negeri Belanda.
Ruangan rawat inap di IGD meliputi Ruangan MS, Ruangan ICU ,
Ruangan Ratna dan Ruangan NICU dengan jumlah tempat tidur
sebanyak 92 tempat tidur.Pada Juli 2001 dibentuklah Tim Trauma
Centre, terdiri dari dokter spesialis Bedah Umum yang bertugas 24 jam
serta diperkuat oleh Tim Konsultan BedahSpesialis lainnya serta Tim
BSB (Brigade Siaga Bencana).
Untuk lebih meningkatkan lagi kualitas pelayanan Instalasi Gawat
Darurat mengadakan kerjasama (sister hospital) dengan Darwin Royal
Hospital Australia pada tahun 2012.
d. Bedah Sentral
Dibentuk pada tahun 2011 dengan 40 Mesin Hemodialisa
termasuk Ruang Hemodialisa VIP.
e. Hemodialisa
Diresmikan pada 30 Desember 2004 dan khusus diperuntukkan
untuk pelayanan yang bersifat private. Bangunan terdiri dari 4 lantai
dengan jumlah tempat tidur 28 TT yang terdiri dari Super VIP dan VIP,
dengan fasilitas berupa Poliklinik Dokter Spesialis pagi dan Sore,
general Chck up, Apotik, Cafetaria, Bank, Laboratorium, Radiologi,
ESWL, Pemeriksaan Bone Marrow Densitometer, Spirometer, serta
pemeriksaan canggih lainnya.
f. Pavilliun Amerta
Diresmikan pada 30 Desember 2004 dan khusus diperuntukkan
untuk pelayanan yang bersifat private. Bangunan terdiri dari 4 lantai
dengan jumlah tempat tidur 28 TT yang terdiri dari Super VIP dan VIP,
dengan fasilitas berupa Poliklinik Dokter Spesialis pagi dan Sore,
general Chck up, Apotik, Cafetaria, Bank, Laboratorium, Radiologi,
ESWL, Pemeriksaan Bone Marrow Densitometer, Spirometer, serta
pemeriksaan canggih lainnya.
g. Jantung Terpadu
Di RSUP Sanglah Pelayanan jantung dimulai pada tahun 1978
dengan nama Unit Perawatan Intensif Jantung (UPIJ). Pada Bulan
Desember 2005 berubah menjadi Instalasi Pelayanan Jantung Terpadu
RSUP Sanglah dan merupakan pusat pelayanan jantung tingkat III
(tersier)
Pada Tahun 1998 Untuk Pertama Kali RSUP Sanglah melakukan
Operasi Jantung terbuka dengan bantuan dari RS Jantung Harapan
Kita. Operasi jantung yang dilakukan di RSUP Sanglah meningkat dari
tahun ke tahun, Pada tahun 2011 operasi jantung sebanyak 30
(meningkat 7 %) dari tahun sebelumnya, dengan mortalitas post
operasi 17-20 %. Sedangkan jumlah kateterisasi yang telah
dilakukandi Instalasi Jantung Terpadu pada tahun 2011 adalah
sebanyak 298 tindakan dengan diagnosa terbanyak Penyakit Jantung
Koroner (PJK) yaitu : 156 kasus dan tindakan terbanyak adalah
koronarografi (159 tindakan)
Adapun Jenis pelayanan yang dilakukan oleh Instalasi Pelayanan
Jantung Terpadu RSUP Sanglah adalah berupa :
1. Pelayanan Rawat Jalan yang meliputi konsultasi kardiologi anak,
kardiologi dewasa, bedah non invasif jantung dan anestesi jantung
2. Pelayanan Diagnostik Jantung : Echocardiografi dan treadmill
3. Pelayanan EKG
4. Pelayanan Holter
5. Pelayanan Catheterisasi Cardiovaskuler (Cath.Lab)
6. Pelayanan Bedah Jantung
7. Pelayanan ICCU/ICU Bedah Jantung

Sarana dan Prasarana


Ruangan :
1. Ruang Diagnostik dan terapi ( Echo, treadmill, cath.lab, Bedah
jantung, Holter)
2. Ruang perawatan (ICCU, ICU Bedah Jantung, rawat inap
khusus jantung, dll)
3. Poliklinik (jantung anak dan dewasa)
Fasilitas :
1. Ruang ICCU : 1 unit dengan 7 bed + 7 monitor NIBP
2. Ruang ICU bedah jantung : 1 unit dengan 3 bed + 3 monitor
IBN
3. Echo
4. Treadmill
5. Cath.lab
6. Mesin CPB
7. Mesin IABP
8. Kamar Operasi Bedah jantung
9. Compact monitor Holter
h. Kedokteran Forensik
Pelayanan Kedokteran Forensik mulai dibuka di RSUP Sanglah
pada tanggal 1 April 1973 dengan kegiatan pelayanan meliputi
pelayanan pemeriksaan jenazah dan pemulasaraan jenazah. Tahun
1995 berdirilah Instalasi Kodokteran Forensik, Setelah kejadian Bom
Bali I (12 Oktober 2002) dan Bam Bali II ( 1 Oktober 2006), instalasi
Kedokteran Forensik mendapat penghargaan dari dalam maupun luar
negeri berupa sumbangan renovasi pembangunan gedung kantor, ruang
otopsi, ruang perawatan jenazah, alat otopsi dan 2 buah container
dingin yang memuat 48 jenazah.
Sejak tahun 2005 jenis pelayanan di Instalasi Kedokteran Forensik
meliputi :
1. Pelayanan Patologi Forensik
2. Pemulasaraan Jenazah
3. Pelayanan Forensik Klinik (untuk korban hidup) meliputi
 Pembuktian medis
 Pemeriksaan litigasi
 Pemeriksaan toksikologi
 Pembuktian “fit and cmpetence to be interviewed, stan
trial and detained”
 Pembuatan visum et repertum
 Surat keterangan medis
4. Medikolegal

Denah RSUP Sanglah


Gambar 2. Denah Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah
Gambaran Umum Ruang Nusa Indah
Ruang Nusa Indah merupakan salah satu ruangan rawat inap di RSUP
Sanglah yang difokuskan untuk merawat pasien kelas III dan ruang intensif
terutama Umum, JKBM dan BPJS (PBI dan Non PBI). Ruang Nusa Indah
merupakan ruangan rawat inap untuk penyakit Menular seperti TB Paru,
HIV/AIDS, SARS, Rabies, Flu Burung, Flu Babi, MERS, Ebola, Varisela,
Morbili dengan kapasitas 32 TT. Pengkajian pada tanggal 01 Febuari 2016
didapatkan bahwa ada 22 orang pasien. Jumlah perawat di ruangan sejumlah
30 orang ( S1 Keperawatan sebanyak 8 orang, DIV Keperawatan sebanyak 2
orang, dan DIII Keperawatan sebanyak 20 orang). Di kepalai oleh seorang
Kepala Ruangan yang membawahi 4 Tim, masing – masing Tim di kepalai
oleh seorang Kepala Tim. 1 Tim beranggotakan 7 orang. Klasifikasi pasien
dibagi sesuai dengan jenis penyakit.
Di lantai 1 terdapat 4 Ruangan Isolasi Bertekanan Negatif dengan
kapasitas 4 TT, 1 Ruangan pasien Suspec SARS, Flu Burung, MERS, Ebola,
Varisela, dan Morbili. Dengan kapasitas 4 TT, 1 Ruangan untuk pasien Rabies
dengan kapasitas 1 TT, 2 Ruangan Suspect Rabies yang sementara di
fungsikan sebagai ruangan rawat inap pasien penyakit dalam dengan kapasitas
8 TT, 1 Ruang pertemuan, 2 Ruang ganti perawat, 1 Dapur, 1 Ruang
Persiapan, 2 Ruang perawat, 1 Ruang Dekontaminasi, 2 Ruang Spoel Hock, 1
Ruang gudang.
Di lantai 2, terdapat 1 ruangan KIE pasien, 1 ruang isolasi pasien TB Paru
dengan BTA positif dengan kapasitas 6 TT, 1 Ruang isolasi pasien TB paru
dengan BTA negatif dengan kapasitas 6 TT, 1 ruangan Suspect TB Paru
dengan kapasitas 4 TT, 2 Ruang pasien dengan TB MDR dengan kapasitas 2
TT, 1 Ruang pasien dengan Suspect TB MDR dengan kapasitas 4 TT, 1
Ruangan dekontaminasi, 2 Ruang perawatan, 1 Ruang pembersihan, 1 Ruang
Medis dan Non medis, 1 Ruang penyimpanan oksigen dan kursi roda, 1 Ruang
Kepala ruangan, 1 Ruang ganti petugas, 1 Ruang alat tenun, 1 Ruang tempat
penyimpanan obat, 1 Ruang Spoel Hock, serta 20 buah kamar mandi dengan 1
kamar mandi di setiap ruang rawat inap yang ada di lantai 1 timur sebanyak 5
ruangan, 1 kamar mandi di setiap ruang rawat inap di lantai 1 barat, lantai 2
timur dan lantai 2 barat yang masing-masing terdapat 3 ruangan, dan 1 kamar
mandi khusus untuk pegawai, 1 kamar mandi di Ruang Kepala Ruangan.
Untuk data perawat di ruangan Darmawangsa dapat dilihat di table
berikut:
Tabel 3.4 data tenaga keperawatan di ruangan Nusa Indah
NO. NAMA NIP/NPP PEND. TAHUN GOL KET.
TAMAT
1. Gst. Pt. Rai Sumiari, Nip.196803031988032001 DIV 2010 IV a PNS
SST. Kep
2. Ni Wayan Serni, Amk Nip. DIII 2000 IIId PNS
196811251990032001 Kep
3. Novi Lindayanti, Nip.198011302002122001 S1 Kep 2014 IIIa PNS
S.Kep
4. Dewa Ayu Taman S. Npp.242080368 DIII 2007 IIIc PNS
Kep
5. Ketut Juniarta Npp. 242090505 DIII 2008 KTR
Kep
6. Rusi Susilawati Nip. DIII 2008 IIIb PNS
196703141991012001 Kep
7. Ni Wayan Suprapti R. Nip.195709282014022001 DIII 2008 IIc PNS
Kep
8 Oktarina Dwipayati Npp.242151257 DIII 2014 KTR
Kep
9 Ns. Ayuk Ermayanti, Npp. 252110759 S1 Kep 2011 KTR
S.Kep
10 Komang Dewi Sriyati Nipp. 242151244 DIII 2015 KTR
Kep
11 G.A. Ari Yuliawati Npp. 242080402 DIII 2008 KTR
Kep
12 Luh Gd Therressya Nip. DIII 2007 IIc PNS
Ajna 198702062008122004 Kep
13 Ketut Widiaspami, Nip. DIV 2011 IIIc PNS
SST 197106141993022001 Kep
14 G.A Anik Nip. S1 Kep 2008 IIc PNS
Darmaswari, S.Kep 198706182010122002
15 Valentina lenny P Nip. DIII 2006 IIc PNS
198507272010122001 Kep
16 Ayu Putu Sariningsih Nip. DIII 2006 IIc PNS
198411172012122001 Kep
17 Ni Nyoman Devi Nipp.242151267 DIII 2014 KTR
Nurcahyani Kep
18 Nengah wardana, Nip. S1 Kep 2014 IIIa PNS
S.Kep 197905282006041006
19 Kadek Yuliana Dewi Nip. 19867072010122008 DIII 2007 IIc PNS
Kep
20 I Nyoman Npp. 242130996 DIII 2012 KTR
Sudirgayasa Kep
21 Wayan Uttistha Purwa Npp. 242151102 DIII 2013 KTR
W Kep
22 Ade Nirmala Sari Npp. 2421512246 DIII 2013 KTR
Kep
23 Putri Diantari Npp. 242151152 DIII 2014 KTR
Kep
24 Made Ayu Krisna Npp. 242130992 DIII 2012 KTR
Deviani Kep
25 Wayan Suhermini Npp. 232090472 DIII 2012 KTR
Kep
26 Ni Komang Yuliani Nip. DIII 2012 Iic PNS
198707182012122001 Kep
27 Gusti Pt Alik Nip. S1 Kep 2004 IIIa PNS
Wirawan, S.Kep 198004271999031001
28 Ns. Nurul Huda, Nip. S1 Kep 2010 IIIa PNS
S.Kep 198505178010122002
29 Ni Made Fitriani, S. Nip. S1 Kep 2012 Iic PNS
Kep 198902092012122002
30 Ns. Md. Agus Subawa Npp. 252151150 S1 Kep 2014 KTR
W., S.Kep
31 Ni Nengah Sumiati Nip. SMA 1984 IId PNS
196006161983032004

32 Made Rinayanti Nip. DIV 2011 IIIb PNS


197209172997032002 Gizi
33 Nengah Nari Nip. SMK 197 IIa
197804152009122001
34 Ni Komang Ayu Npp. 235060069 SMA 2005 HNR
Mastarini
35 Siti Fatimah Nip. SD 1994 Ia
198005282009122001
36 Eka Parwati Npp.325050054 SMA 2002 HNR
37 Kadek Suantara Npp. 235130958 SMA 2012 KTR
Denah Ruang Nusa Indah
Lantai 1

Jalur
Nurse
pasien
station

R. R. alat R. R. Kam
ganti tenun oksige obat ar Spoel
petug n man hook
Kama
as di r
Ruang Ruang
mand
R. pertemuan Spo
rabies
i
karu el

R. R. R. hoo
Kamar
Ward 1 Ward 2 Susp. k
mandi Jalan ke
Lantai II Lantai I timur TB
px ITB
Ruang ganti
Timur
R. Ruang
Lantai II Barat
OksigenR Nurse station periks
R.
Gambar 3.1 Denah Ruangan Nusa Indah Lantai 1 RSUP Sanglah
uang a
Dekontami
rabies
nasi Spoel

Lantai II Timur hook


R. Ante room R. Ante Room
R. R. B
Lantai 2 S U
R. 5
dekontami R. 4 R. 3
pember R. 2
Nurse R. 1
R. alat R. KIE T
nasiRuang si Station
rabies han

R.
R. 6Jalan
R. 8 7Lantai ke
I barat Lantai I
timur
B

S U

T
Gambar 3.2 Denah Ruangan Nusa Indah Lantai 2 RSUP Sanglah
Tata Ruang
Fakta Di Ruangan
No Jenis Ruangan Standar MPKP
Ada Tidak
Ruang Kepala Ruangan Terdapat ruang karu √
1
tersendiri tersendiri
2 Ruang Staf tersendiri Terdapat ruang staf √
tersendiri
Ruang ganti pakaian Terdapat Ruang ganti √
3
tersendiri pakaian tersendiri
Kamar mandi petugas Terdapat Kamar mandi √
4
petugas
Ruang istirahat petugas Terdapat Ruang istirahat √
5
petugas
Nurse Station yang Terdapat Nurse Station √
lokasinya memudahkan yang lokasinya
6 perawat untuk memudahkan perawat
mengawasi sekeliling untuk mengawasi
ruangan sekeliling ruangan
Ruang penyimpanan Terdapat Ruang √
7 alat-alat keperawatan penyimpanan alat-alat
keperawatan
Ruang dekontaminasi Terdapat Ruang √
8 (Cuci alat ) dekontaminasi (Cuci
alat )
Ruang pasien Terdapat Ruang pasien √
9 dilengkapi kamar dilengkapi kamar mandi
mandi

B. Hasil Pengkajian (Man, Money, Material, Marketing, Method)


1. M1 (MAN)
a. Struktur Organisasi
Ruang Nusa Indah sudah memiliki struktur organisasi yang terdiri
dari Kepala Ruangan, Inventaris, Administrasi Ruangan, Perawat
Primer dan Perawat Pelaksana.
Ruang Nusa Indah dipimpin oleh seorang kepala ruangan dengan
latar belakang pendidikan DIV Keperawatan. Dalam memberikan
asuhan keperawatan, staf keperawatan dibagi menjadi empat orang
Perawat Primer yang masing-masing membawahi enam orang Anggota
Perawat Pelaksana. Ruang Nusa Indah juga memiliki satu orang
inventaris dan satu orang Administrasi Ruangan.
STRUKTUR ORGANISASI DI RUANG NUSA INDAH
RSUP SANGLAH DENPASAR TAHUN 2017

STRUKTUR ORGANISASI PELAYANAN RUANG NUSA


INDAH RSUP SANGLAH DENPASAR
KABID KEPERAWATAN
KA. INSTALASI IRNA D
Ns. AA Sri Adilatri,
Ns. Abdul Aziz, S.Kep. S.Kep.,MM.
KOORDINATOR KOORDINATOR KASI YANRAT RWT. INAP
ADMINISTRASI DAN PELAYANAN
Ni Nyoman Sukarti, SST
KEUANGAN
Rai Dewi Darmayanti, S.Kep.,Ns
Ni Luh Gede Agustini, SST.
KARU NUSA INDAH
INVENTARIS
Gst. Putu Rai Sumiari, SST. ADMINISTRASI
NI Wayan Serni, AMK. Nyoman Sumiati
PP
PP II PP
PP II
II PP
PP III
III PP
PP IV
IV
Ns.
Ns. Ni
Ni Luh
Luh Novi
Novi Gst.
Ns. Gst. Putu
Putu Alik
Alik Wirawan,
Wirawan, Ketut
Ketut Widhiaspami,
Widhiaspami, SST
SST
Lindayati,
Lindayati, S.Kep
S.Kep Ns. II Nengah
Nengah Wardana,
Wardana, S.Kep
S.Kep
S.Kep
S.Kep
PA I PA II PA III PA IV
Ni Kadek Widiyani,AMK. Rusi Susilawati
II Wayan Uttistha Purwa, Ni Kadek Yuliana Dewi, AMK
AMK
Luh Ade Nirmalasari L. Gede Therressia Ajna, Putu Ayu Sariningsih, Ns. Made Agus Subawa Wisnawa,
AMK AMK S. Kep
D.A. Taman Swandani, Ns. Ayuk Ermayanti, S.Kep I Nyoman Sudirgayasa I.G.A Anik Darmaswari, AMK
AMK.
Oktarina Dwipayanti Ketut Juiarta, M.K Valentina Leny P, AMK
Ni Wayan Suhermini, AMK

G.A. Ari Yuliawati, AMK. Ni Wayan Suprapti R, PEKARYA/


PEKARYA/ CS
AMK CSPutri Diantari, AMK Ns. Nurul Huda , S. Kep
Siti
Siti Fatimah
Fatimah Nengah
Nengah
Ni Nari
NariYuliani
Komang
Ni Made Fitriani Komang Dewi Sriati Made Ayu Krisna Deviani
Ni
Ni Komang
Komang Ayu
Ayu Mastarini
Mastarini II Kadek
Kadek Suantara
Suantara
Eka
Eka Parwati
Parwati

Gambar . Struktur Organisasi Ruang Nusa Indah RSUP Sanglah Tahun 2017

b. Tenaga Keperawatan
Dilihat dari kuantitasnya Ruang Nusa Indah dipimpin oleh seorang
kepala ruangan, 1 orang inventaris, 1 orang Administrasi, 4 orang
perawat primer, 24 orang perawat pelaksana dan 5 orang cleaning
service yang dapat dilihat pada Tabel 3.6 berikut :
Tabel . Pola Ketenagaan di Ruang Nusa Indah RSUP Sanglah Tahun
2017

No. JUMLAH STATUS TOTAL


KUALIFIKASI P L PNS Kontrak/
PENDIDIKAN Honorer
1 S1 Keperawatan 5 3 6 2 8
2 DIII 17 3 11 9 20
Keperawatan
3 D IV 2 0 2 - 2
Keperawatan
Sumber : Laporan Pola Ketenagaan Ruang Nusa Indah Tahun 2017
Dari tabel diatas terdapat 2 orang staf berpendidikan D IV, 20
orang staf berpendidikan DIII Keperawatan,dan saat ini terdapat 8
orang staf yang berpendidikan S1 Keperawatan. Status staff
keperawatan di Ruang Nusa Indah adalah 19 orang berstatus PNS
dan 11 orang berstatus pegawai kontrak/honorer.

c. Tenaga Non Keperawatan


Tenaga non keperawatan di ruang Nusa Indah sebanyak 7 orang, 5
orang sebagai cleaning service dan satu orang administrasi.

Tabel . Tenaga Non Medis


No Kualifikasi Jumlah Keterangan
1 Cleaning Service 5 2 PNS 3 Kontrak
2 Administrasi 1 PNS
3 Ahli Gizi 1 PNS

d. Tingkat Kebutuhan Pasien dan Kebutuhan Tenaga Perawat


Tingkat ketergantungan klien di ruang Nusa Indah dinilai dengan
menggunakan instrumen penilaian ketergantungan klien menurut Orem
yaitu: total care, parsial care, minimal care. Berdasarkan pengkajian
tanggal 6 April – 7 April 2017, didapatkan hasil perhitungan kebutuhan
tenaga menurut tingkat ketergantungan pasien dapat dijabarkan
pengklasifikasian menurut Douglas dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel . Klasifikasi Ketergantungan Pasien Menurut Douglas (Sitorus, 2006)
KlasifikasiPasien
Minimal Partial Total
Pagi Siang Malam Pagi Siang Malam Pagi Siang Malam
0,17 0,14 0,07 0,27 0,15 0,10 0,36 0,30 0,20
Tingkat kebutuhan pasien dan tenaga keperawatan secara umum
Berdasarkan pengkajian tanggal 6 April 2017 di Ruang Nusa Indah
dengan kapasitas 32 tempat tidur pasien dan terisi 15 pasien.
Didapatkan hasil perhitungan kebutuhan tenaga menurut tingkat
ketergantungan pasien dapat dijabarkan sebagai berikut: (Nursalam,
2009)
Tabel . Tingkat Ketergantungan Pasien Ruang Nusa Indah Tahun 2017
Tingkat ketergantungan Jumlah Kebutuhan Tenaga
Tingkat Jumlah Pagi Siang Malam
ketergantungan pasien
Minimal 2 2x0,17= 0,34 2x0,14= 0,28 2x0,07=0,14
Partial 9 9x0,27= 2,43 9x0,15= 1,35 9x0,10=0,9
Total 4 4x0,36= 1,44 4x0,30= 1,2 4x0,20=0,8
Jumlah 15 4,21=4 2,83= 3 1,84= 2

Total tenaga perawat :


Pagi = 4 orang
Siang = 3 orang
Malam = 2 orang

Jumlah = 9 orang

Jumlah tenaga keperawatan lepas dinas/hari

= 3 orang

Jumlah tenaga non keperawatan

C= (9+3) x 25%
=3
Jadi tenaga perawat yang dibutuhkan di Ruang Nusa Indah pada tanggal 6
April 2017:
9 + 2 orang struktural + 3 orang tenaga lepas = 14 orang

Cara kedua dilakukan penghitungan menurut Metode Depkes RI :


Cara :

A=axb
c
Untuk perhitungan tenaga tersebut perlu ditambahkan dengan faktor
koreksi yang meliputi
 Loss day . Dengan cara : B= (78 hari: 287) x A
 Jumlah tenaga yang mengerjakan tugas non keperawatan
(diperkirakan 25% dari jam perawatan). Dengan cara : C= (A+B) x
25%
Jadi jumlah tenaga yang dibutuhkan dalam memberikan pelayanan di
suatu ruangan adalah :

D=A+B+C
Keterangan :
A= Jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan
B= Loss Day
C= Jumlah tenaga yang mengerjakan tugas non keperawatan
D= Jumlah tenaga yang dibutuhkan dalam memberikan pelayanan di suatu
ruangan
a= Jumlah pasien
b= Jam perawatan perhari (parsial 3 jam, selfcare 2 jam, total 4-6)
c= Jam kerja efektif tiap shift
Jadi, kebutuhan tenaga total di ruang Nusa Indah berdasarkan perhitungan
Depkes adalah :
A= 2x2 A= 9x3 A= 4x4
7 7 7
Jadi,=diperlukan
0,5 7 orang=perawat.
3,85 = 2,28

Jadi, loss day yang diperlukan


B= (78 hari: 287) x sebanyak 2 hari.
7=2 Jadi jumlah tenaga non keperawatan

C= (7+2) x 25% diperlukan sebanyak 2 orang

= 2,5 = 3

Jadi total kebutuhan tenaga di ruang Nusa Indah berdasarkan perhitungan


Depkes sebanyak 12 orang.

e. Komunikasi
Komunikasi antar staf di ruang Nusa Indah dilakukan secara lisan
dan tertulis. Timbang terima ruangan dilakukan hampir setiap
pertukaran shift jaga. Sosialisasi instruksi atau pengumuman dilakukan
tertulis melalui buku dan papan pengumuman.

Kesimpulan M1 (Man) :
Metode penugasan yang digunakan di Ruang Nusa Indah adalah metode PP
modifikasi dengan jumlah pasien 15 orang. Jika dilihat dari tingkat
ketergantunga pasien, jumlah perawat yang dibutuhkan belum memenuhi
perhitungan (perhitungan sudah di jabarkan diatas) karena apabila dilihat
dari jadwal pegawai, jumlah perawat tidak sebanding dengan jumlah pasien.
Untuk tingkat pendidikan masih ada tenaga keperawatan DIII keperawatan,
komunikasi yang digunakan antara tim menggunakan komunikasi lisan dan
tertulis.

2. M2 (MATERIAL)
Dalam manajemen suatu ruangan sangat diperlukan adanya
pengelolaan peralatan sebagai faktor pendukung terlaksananya pelayanan
keperawatan. Peralatan kesehatan untuk pelayanan keperawatan merupakan
semua bentuk alat kesehatan atau peralatan lain yang dipergunakan untuk
melaksanakan asuhan keperawatan untuk menunjang kelancaran
pelaksanakan sehingga diperoleh tujuan pelayanan keperawatan efisien dan
efektif.
a. Kajian Teori
Pengelolaan peralatan merupakan faktor penunjang terlaksananya
pelayanan keperawatan. Semua bentuk alat kesehatan atau peralatan lain
dipergunakan untuk melaksanakan asuhan keperawatan sebagai penunjang
kelancaran pelaksanaan sehingga diperoleh tujuan pelayanan keperawatan
efisien dan efektif. Jumlah fasilitas dan alat-alat medis maupun
keperawatan dapat dipenuhi dengan standar yang telah ditetapkan oleh
masing-masing institusi dengan memperhatikan jenis alat, bahan, ukuran,
jumlah yang dibutuhkan.
Untuk Ruang Nusa Indah RSUP Sanglah penyediaan alat-alat
menggunakan buku Standar Peralatan Keperawatan disarana Kesehatan
yang disusun oleh tim Departemen Kesehatan RI.
b. Kajian Data
Ruang Nusa Indah RSUP Sanglah merupakan ruang rawat khusus
penyakit menular. Kapasitas Ruang Nusa Indah adalah 32 tempat tidur
kelas III dengan total pasien sebanyak 15 pasien.
1) Fasilitas Alat Tenun, Alat Medis, dan Alat Rumah Tangga
Berdasarkan data yang didapat dari hasil pengkajian yang dilakukan
tanggal 6 April 2017 diperoleh fasilitas alat medis atau keperawatan
pada tabel berikut ini.

Tabel . Fasilitas Alat Medis di Ruang Nusa Indah RSUP Sanglah


ALAT-ALAT MEDIS

NO NAMA ALAT JUMLAH

1 Stetoskop anak 6
2 Stetoskop dewasa 20
3 Termometer telinga 10
4 Thermometer 5
5 Tensimeter berdiri 4
10 Tensimeter duduk 21
11 Tensimeter anak 2
12 Tabung Oksigen besar 9
13 Tabung Oksigen kecil 6
14 Stik Pean 10
15 Urinal 10
16 Bengkok 26
17 Gunting Lurus 10
18 Nebulizer berdiri 2
19 Nebulizer duduk 1
20 O2 Concentrator 2
21 Ambubag anak 1
22 Ambubag dewasa 2
23 Syringe pump 4
24 ETT dewasa 12
25 ETT anak 10
26 Gudel untuk anak 5
27 Gudel untuk dewasa 5
28 Bed Side monitor 8
29 Sentral monitor 1
30 Infusion pump 3
31 Ventilator 4
32 Tromol gas besar 2
33 Tempat tranfusi 2
34 Botol sonde 4
35 EKG 3
36 Bronchus copy 1
37 Oxigen consentrate 3
38 Suction 2
39 Standar infuse 11
40 Troly injeksi 6
41 Defebrilator 2

Tabel .Fasilitas Alat Non Medis di Ruang Nusa Indah RSUP Sanglah
ALAT-ALAT NON MEDIS

NO NAMA ALAT JUMLAH

1 Meja Kayu 3
2 Bed Pasien Lengkap 42
3 Bed side cabinet 44
4 Almari kayu 4
5 Loker Kayu 16 Pintu 1
6 Loker Kayu 20 Pintu 1
7 Loker Kayu gantung 2 1
Pintu
8 Loker Kayu gantung 7
aluminium APD
9 Loker Besi 12 Pintu 1
10 Rak Kaca aluminium 1
11 Almari aluminium 2
12 Almari TV aluminium 2
13 Almari kaca 1
14 Meja pasien stenless 4
15 Kursi lipat hitam 50
16 Kursi coklat 37
17 Kompor gas 1
18 Tabung gas 12 kg 1
19 Meja computer 2
20 Pesawat telepon 4
langsung
21 Tempat Sampah Non- 4
Infeksius
22 Rak handuk 11
23 Tangga lipat 1
24 Kereta pakaian bersih 2
25 Kereta pakaian kotor 1
26 Troly untuk sampah 1
27 Troly untuk mandi 8
28 Kereta makanan 1
stenless
29 Troly swalayan 1
30 Ember besar untuk 8
sampah
31 Ember tanggung 7
32 Kenceng aluminium 1
33 Plato 49
34 Rak piring 2
35 Kursi roda 3
36 Alat Pemadam/APAR 10
37 AC 1,5 PK 1
38 AC 1 PK 7
39 AC 2 PK 15
40 AC 5 PK 5
41 Exaus fan 10
42 Konter pegawai 4
43 Konter administrasi 1
44 Almari obat aluminium 4
45 Almari obat sentral 4
46 Rak buku kaca 1
47 Waskom untuk mandi 10
48 Sentral CCTV 1
49 Kulkas besar 1
50 Kulkas kecil 3
51 Lampu senter 2
52 Brancard 3
53 Komputer 2
54 Jerigen 20 liter 1
55 Papan pengumuman 1
56 Gayung mandi 20
57 Keset 20
58 Jam dinding 7
59 Kapstok 20
60 Rak susun plastic 3 11
tingkat
61 Rak susun plastic 4 4
tingkat
62 Tempat sampah 55
otomatis
63 Rak sepatu 6
64 Rak sepatu plastic 2
65 Double bucket 6
66 Tangkai pel 12
67 Kabel rol 1
68 Sepatu boot 15
69 Timbangan dewasa 3
70 Tempat tissue 17
71 Over bed table 18
72 Bed periksa pasien 1
73 Dispenser 4
74 Hair dryer 1
75 Lampu emergency 2

Tabel. Fasilitas Bahan Habis Pakai di Ruang Nusa Indah RSUP Sanglah
BAHAN HABIS PAKAI
NO NAMA ALAT JUMLAH

1 Masker 19 kotak
2 Handscoon 6 kotak
3 Nursing Cap 5 kotak

Tabel . Fasilitas Alat Tenun di Ruang Nusa Indah RSUP Sanglah


Data ini didapatkan dari inventaris ruangan Nusa Indah
serta dari hasil observasi di ruangan
ALAT TENUN
NO NAMA ALAT JUMLAH

1 Linen putih 18
2 Selimut lurik 10
3 Sarung bantal 12
4 Lap 8

2) Fasilitas Untuk Petugas Kesehatan


a) Ruang Kepala Ruangan terpisah dengan Nurse Station berada di
lantai 2 sebelah barat
b) Nurse Stationada empat berada di masing-masing ruang perawatan
c) Spoelhock ada di setiap ruang perawatan
d) Ruang perawat tersedia fasilitas lemari obat, meja, AC, telepon,
dan kursi, serta wastafel
e) Terdapat 1 Ruang Persiapan alat berguna untuk tempat alat-alat
yang akan dipakai dalam pemberian tindakan
f) 1 Ruang Pertemuan, 1 Ruang KIE, 1 Ruang alat medis dan non
medis
g) 4 Ruang ganti perawat
h) 5 kamar mandi khusus untuk pegawai, 1 kamar mandi di Ruang
Kepala Ruangan
i) 2 Ruang dekontaminasi, 1 Ruang periksa, 2 Ruang oksigen dan
kursi roda
j) 1 Ruang penyimpanan obat, dan 1 Ruang alat tenun
3) Fasilitas Untuk Pasien
a) Terdapat 14 ruang rawat inap, dengan jumlah tempat tidur
sebanyak 42 bed. terdapat 4 bagian ruang perawatan yang dibagi 2
lantai yaitu lantai 1 bagian barat dan timur serta lantai 2 bagian
barat dan timur. Lantai 1 bagian timur adalah ruangan intensif
dengan penyakit menular melalui udara yang dilengkapi dengan
anteroom, lantai 1 bagian barat adalah ruangan khusus penyakit
rabies, lantai 2 bagian timur adalah ruangan khusus untuk penyakit
TB Paru, dan lantai 2 bagian barat adalah ruangan isolasi tanpa
anteroom.
b) Terdapat 14 buah kamar mandi dengan 1 kamar mandi di setiap
ruang rawat inap yang ada di lantai 1 timur sebanyak 5 ruangan, 1
kamar mandi di setiap ruang rawat inap di lantai 1 barat, lantai 2
timur dan lantai 2 barat yang masing-masing terdapat 3 ruangan.
4) Kelengkapan Dokumentasi
Kondisi administrasi penunjang di ruang Nusa Indah sudah cukup
baik yang terdiri dari buku catatan pulang pasien, buku absensi
pegawai, buku lest pasien, buku sensus pasien, buku jenazah, buku lab,
buku operan, buku laporan alat-alat, buku jadwal perawat, buku tamu,
buku supervise, buku laporan harian, buku laporan insiden
keselamatan (patient safety), buku rapat team, dan buku tindakan..
Beberapa dari buku laporan tersebut tidak diisi dengan lengkap seperti
buku laporan alat-alat dan buku harian ruangan. Form yang dibutuhkan
selama pemberian asuhan keperawatan di ruangan Nusa Indah sudah
cukup lengkap dan tertata dengan baik antara lain form pengkajian,
form kelengkapan administrasi, form pasien keluar, form
persetujuan/penolakan, form pengkajian/assessment, form terintegrasi,
form monitoring, form pengobatan, form pasien yang dilakukan
tindakan operasi, hasil pemeriksaan penunjang, dan form lainnya yang
diperlukan di Ruang Nusa Indah. Serta adanya beberapa SOP (standar
operasional prosedur) keperawatan, Standar Pelayanan Medis RSUP
Sanglah, dan Pedoman Mutu.

Kesimpulan M2 (Material) :
Untuk M2 (Material) keberadaan alat-alat fisik yang ada di ruangan baik
medis dan non medis sudah tertata cukup baik. Jumlah yang tersedia dengan
kebutuhan ruangan juga cukup seimbang misalnya keberadaan linen dengan
jumlah pasien, alat medis dan bahan habis pakai yang jumlahnya sesuai
dengan standar. Perawatan alat-alat di ruangan juga sudah dilakukan dengan
baik, diruangan sudah memiliki buku kartu inventaris ruangan yang tertempel
di tembok, namun buku catatan laporan alat-alat yang tidak diperbaharui
secara berkala. Untuk kelengkapan dokumentasi, ruangan sudah memiliki
beberapa SOP yang dibutuhkan untuk setiap tindakan dan form-form
pengkajian pasien sudah cukup lengkap.

3. M3 (METHOD)
Metode merupakan cara yang dipergunakan untuk mengelola sistem
pelayanan di suatu instansi. Dalam pengelolaan pelayanan keperawatan,
Ruang Nusa Indah menerapkan beberapa metode yaitu :
a. Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP)
Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) yang diterapkan
diruangan Nusa Indah berupa MAKP model keperawatan PP Modifikasi,
hal ini dapat dilihat dari:
1) Dalam struktur organisasi pemberian asuhan keperawatan kepada
pasien di Ruang Nusa Indah terdapat 4 (empat) PP yang masing-
masing terdiri dari beberapa perawat associate.
2) Masing- masing PP membawahi (6) anggota perawat associate yang
membantu PP dalam melaksanakan proses keperawatan mulai dari
pengkajian sampai evaluasi kondisi pasien.
3) Kepala Ruangan dalam pelaksanaan tugasnya dibantu oleh PP dan
untuk penanganan tugas saat dinas sore dan malam diserahkan pada
Anggota yang dipimpin oleh perawat yang paling senior ditinjau dari
lama bekerja di ruangan. Apabila terdapat masalah di ruangan maka
Anggota wajib melaporkannya kepada PP dan PP kemudian
melaporkannya kepada Kepala Ruangan.
4) Kepala ruangan memegang peranan penting dalam proses pemilihan
PP, dimana didasarkan dalam penentuan PP didasarkan atas
kompetensi, leadership, jenjang pendidikan (minimal DIII
Keperawatan), dan pengalaman kerja perawat minimal 5 tahun.
Setelah dilakukan proses pengumpulan data melalui wawancara dan
observasi ditemukan bahwa pelaksanaan MAKP Tim di ruang Nusa Indah
sudah berjalan secara optimal dan dalam pelaksanaannya dilakukan
dengan metode tim, PP dan PA sudah bekerja sesuai dengan jabatan dan
uraian tugas masing-masing.
a) Timbang Terima
Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara yang telah
dilakukan ditemukan bahwa operan dilakukan tiga kali sehari, yaitu
setiap pergantian shift malam ke pagi (pukul: 07.30), pagi ke sore
(pukul: 13.30), dan sore ke malam (pukul: 19.30). Hasil pengamatan
juga menunjukkan bahwa sebagian besar operan dilaksanakan dengan
tepat waktu. Operan diikuti oleh perawat yang telah dan akan dinas.
Kegiatan operan didampingi oleh PP, kepala ruangan atau yang
mewakili untuk operan pagi.
Berdasarkan hasil observasi, operan disaat shift pagi dilaksanakan
di nurse station dan perawat tidak berkeliling langsung ke kamar
pasien. Pada saat operan jaga ke pasien belum terlihat adanya
perkenalan perawat jaga berikutnya ke pasien. Kegiatan operan dibuka
dan ditutup oleh kepala ruangan atau yang mewakili dan setelah
dilaksanakan operan, terlihat adanya doa bersama.Operan jaga
dilakukan secara umum terkait kondisi pasien dan operan tentang
penyampaian tindak lanjut obat pasien dilakukan saat pasien
mendapatkan terapi obat lanjut dan untuk pasien yang mendapatkan
terapi lanjut dicatat di buku dokumentasi. Metode operan yang
digunakan di ruangan Nusa Indah mengacu pada metode SBAR
(Situation, Background, Analysis, Recomendation) dalam
pendokumentasiannya namun dalam hal komunikasi pada saat operan
belum efektif menggunakan SBAR (Situation, Background, Analysis,
Recomendation).
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan perawat jaga
di ruang Nusa Indah mengatakan untuk pelaporan operan jaga selama
ini dilakukan secara rutin dengan cara lisan dan untuk
pendokumentasiannya dilakukan di buku operan Ruang Nusa Indah.
Saat diobservasi secara umum pada buku operan dokumentasinya
sudah ditulis secara berkelanjutan setiap harinya.
Berdasarkan data tersebut di atas, jika ditinjau dari segi penerapan
MAKP di sebuah ruangan dapat disimpulkan dimana operan pasien di
ruang Nusa Indah sudah dilakukan setiap operan jaga, namun belum
berjalan secara optimal dan perlu ditingkatkan terkait dengan operan
langsung berkeliling ke kamar pasien serta melakukan perkenalan
perawat jaga berikutnya ke pasien langsung. Pendokumentasian operan
jaga pada buku operan jaga yang ditulis setiap harinya saat operan
sudah dilakukan di ruangan.

b) Ronde Keperawatan
Berdasarkan pengkajian data melalui hasil wawancara dengan
kepala ruangan dan perawat jaga, selama ini di ruang Nusa Indah,
pernah melaksanakan ronde keperawatan. Kegiatan ronde ini tidak
dilakukan secara efektif lagi karena adanya kesulitan untuk
mengumpulkan anggota ronde seperti dokter spesialis yang terkait,
bidang gizi dan juga dari tim lain yang terkait dengan kasus. Kegiatan
ronde keperawatan dilakukan apabila ada mahasiswa yang praktek
stase managemen di ruangan. Ronde keperawatan dilakukan dengan
alur penetapan kasus atau topik ronde yang ditetapkan dengan kriteria
lama perawatan dan tidak adanya perbaikan kondisi setelah perawatan.
Pelaksanaan ronde keperawatan di dalam ruang Nusa Indah jarang
dilakukan dan dilakukan apabila terdapat masalah pasien yang
kompleks yang memang benar-benar tidak bisa diselesaikan oleh
perawat ruangan baru dilakukan ronde keperawatan. Berdasarkan hasil
wawancara dengan kepala ruangan, di dalam ruangan sendiri sudah
dilakukan rapat rutin setiap bulannya terkait dengan kondisi pasien di
ruang Nusa Indah.
Berdasarkan hal tersebut di atas dapat disimpulkan, dimana
pelaksanaan ronde keperawatan di rungan sudah dilakukan saat ada
mahasiswa yang praktek stase manajemen di ruangan, namun belum
dilakukan secara berkelanjutan. Dan dari hasil wawancara dengan
kepala ruangan dan perawat jaga mengatakan setiap bulannya sudah
dilakukan laporan terkait status kondisi pasien.
c) Pengelolaan Sentralisasi Obat
Di ruang Nusa Indah, setelah dokter meresepkan obat, resep akan
diberikan langsung ke perawat dan akan dilakukan pengamprahan ke
apotek. Setelah obat dan alat diterima di ruangan, obat dan alat tersebut
akan diperiksa apakah sudah sesuai dengan pemesanan. Obat dan alat
nantinya akan dipisahkan tempat penyimpanannya. Berdasarkan hasil
wawancara dan observasi ditemukan bahwa pemisahan obat dilakukan
berdasarkan dengan nama pasien dan bed serta ruangan pasien, obat
tidak dipisahkan berdasarkan jenis obatnya seperti obt oral dan obat
injeksi diletakan pada satu tempat. Dan untuk obat high alert disimpan
tidak bersamaan dengan kotak obat pasien secara umum. Saat
pemberian obat, persiapan dilakukan diruang tindakan terlebih dahulu
kemudian baru diberikan kepada masing-masing pasien. SOP
pemberian obat di ruangan Nusa Indah mengacu pada prinsip 6 benar
(benar nama pasien, jenis obat, nama obat, dosis obat, cara pemberian
dan dokumentasi). Dalam pelaksanaan pemberian obat di ruangan
sendiri mengacu pada 6 benar. Obat – obat sisa ditaruh di ruang khusus
obat-obatan.
Berdasarkan hal tersebut di atas dapat disimpulkan dimana
penyimpanan atau sentralisasi obat yang diterapkan belum sepenuhnya
mengacu pada program MAKP, dimana penyimpanan obat didasarkan
pada jenis obat yaitu penyimpanan antara obat oral dan injeksi di
letakan masih dalam satu wadah yang sama dan dalam pemberian obat
perawatan mengacu pada 6 benar.
d) Penerimaan Pasien Baru
Setelah dilakukan wawancara dengan kepala ruangan, dikatakan
bahwa di ruang Nusa Indah telah dilakukan orientasi pasien baru
secara lisan dan sudah terdapat standar operasional penerimaan pasien
baru dan sudah terdapat lembar orientasi pasien. Penerimaan pasien
langsung dilakukan di ruang perawat dari perawat UGD ke perawat
ruangan. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu perawat
ruangan di Nusa Indah terkait dengan penerimaan pasien baru sudah
dilaksanakan oleh perawat ruangan.
Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat disimpulkan dimana
pelaksanaan orientasi ruangan terhadap pasien baru di ruang Nusa
Indah sudah dilakukan dan sudah sesuai dengan program MPKP.
e) Supervisi
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan di Nusa
Indah selama ini supervisi dilakukan. Perawat ruangan telah
mengetahui mengenai supervisi dan tujuannya. Supervisi dilakukan
oleh petugas yaang telah ditunjuk berdasarkan jenjang pendidikan dan
juga pengalaman kerja perawatan. Hasil supervise juga langsung
diberikan oleh supervisor kepada pihak yang disupervisi. Di ruang
Nusa Indah sudah terdapat format baku dalam melaksanakan supervisi
dan biasanya supervisi dilakukan oleh kepala ruangan kepada PP dan
dari PP ke PA. Pelaksanaaan supervisi telah dilakukan sesuai dengan
standar operasional prosedur dan sudah dijadwalkan. Di ruangan Nusa
Indah sendiri sudah memiliki buku khusus supervisi, tetapi dalam
pelaksanaannya sendiri supervisi di ruangan Nusa Indah dilakukan
secara lisan dan jarang didokumentasikan secara tertulis.
Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat disimpulkan dimana
pelaksanaan supervisi di ruangan Nusa Indah sudah dilakukan
mengacu pada pedoman MPKP tetapi belum maksimal, dimana
supervisi dilakukan secara lisan dan penulisan dokumentasi belum
dilakukan secara berkelanjutan.
f) Discharge Planning
Discharge planning sudah dilakukan di ruang Nusa Indah
mengenai waktu kontrol kembali dan obat-obatan yang harus diminum
di rumah, aktifitas dan istirahat, hasil lab/ foto/ ECG jika ada dan surat
keterangan istirahat. Pasien juga mendapatkan HE tentang cara
perawatan di rumah dan pencegahan kekambuhan penyakit. Biasanya
HE yang diberikan secara lisan tanpa menggunakan leaflet karena
leaflet tidak tersedia. Pasien yang akan keluar dari rumah sakit
dibuatkan ringkasan keluar (resume) yang disimpan di rekam medis
pasien.
Berdasarkan hal tersebut di atas dapat disimpulkan dimana
pemberian discharge planning sudah dilakukan dengan baik di dalam
Ruang Nusa Indah dan sudah sesuai dengan penerapan MPKP.
g) Metode/Standar/Pedoman/Protap
Ruang Nusa Indah merupakan ruang perawatan untuk kasus
penyakit menular, Ruang Nusa Indah lantai 1 Barat merupakan ruang
perawatan untuk kasus Rabiesdi ruang 6, ruangan khusus untuk pasien
tetanus di ruang 7 dan ruang 8 ruangan untuk penyakit dalam tidak
menular, saat ini terisi dengan kasus DHF, Ruang Nusa Indah lantai 1
timur merupakan ruang khusus penyakit yang menular melalui
airbone, Ruang Nusa Indah lantai 2 timur merupakan ruang khusus
suspect TB, dan Ruang Nusa Indah lantai 2 barat merupakan ruang
khusus penyakit yang menular. Di ruangan sudah terdapat SOP
(standar operasional prosedur) yang berisi tentang pedoman-pedoman
tata cara tindakan keperawatan.
b. Dokumentasi Keperawatan
Format dokumentasi perawatan pasien yang digunakan di ruang Nusa
Indah dapat dilihat pada Tabel 3.14

Tabel 3.14Format Dokumentasi Perawatan Pasien yang Digunakan di Ruang Nusa Indah
Yang
No Uraian Form
Melengkapi
1. Form : RM 6.1 Discharge summary Dokter
2. Form : RM 6.2 Catatan Keperawatan Pemulangan pasien Perawat
3. Form : RM 1.1 General Consent Rawat Inap Perawat
4. Form : RM 1.2 General Consent Rawat Jalan (dari IGD) Perawat
5. Form : RM 1…. Informed consent Dokter
6. Form : RM 1.12 Pengkajian Kebutuhan edukasi pasien dan keluarga Perawat
7. Form : RM 5…. Pengkajian keperawatan RI Perawat
8. Form : RM.10.2.2 Form Triage Obgyn Dokter
9. Form : RM.10.3 Pengkajian Keperawatan Gawat Darurat Perawat
10. Form : RM 12.1 Pengkajian Gizi RI, Gizi Anak, Gizi Geriatrik Ahli Gizi
11. Form : RM. 2.1 Catatan perkembangan pasien terintegrasi Perawat
12. Form : RM. 2.1.1 Catatan Timbang terima pasien- SBAR Perawat
13. Form : RM. 2.2 Catatan Pemindahan Pasien antar ruangan Perawat
14. Form : RM. 2.2.1 Catatan Pemindahan Pasien antar RS Perawat
15. Form : RM. 5.20 Rencana dan Implementasi Perawat
16. Form : RM. 2.3 Catatan Observasi Komprehensif Perawat
17. Form : RM. 2… Observasi /Monitoring Perawat
18. Form : RM. 2.8 Keseimbangan Cairan Perawat
19. Form : RM. 2.12 Monev Transfusi Darah (Label Darah Klip) Perawat

Berdasarkan atas data buku dokumentasi yang ada diruangan,


penyediaan dokumentasi sudah cukup lengkap. Pendokumentasian yang
dilakukan di ruangan secara lisan dan tertulis seperti dokumentasi
pelaksanaan timbang terima, supervisi, dan lainnya.
Tabel 3.15. Dokumentasi Asuhan Keperawatan
No 5 Langkah Standar Fakta Kesenjangan

1 Pengkajian 1. Mencatat data yang dikaji sesuai dengan Berdasarkan 8 les Sudah sesuai
pedoman pengkajian pasien yang dengan
2. Data dikelompokkan secara komprehensif
diambil, standar
(indikator pengkajian jiwa: identitas,
ditemukan
alasan masuk, faktor predisposisi,
poin/kolom
pemeriksaan fisik psikososial, status
pengkajian sudah
mental, kebutuhan perencanaan pulang)
lengkap.
3. Data dikaji sejak pasien masuk sampai
pulang
4. Masalah dirumuskan berdasarkan
kesenjangan antara status kesehatan fisik
dan atau mental dengan norma dan pola
fungsi kehidupan
5. Singkatan/istilah yang digunakan berlaku
secara umum (ada daftar singkatan daftar
dan istilah yang di SK kan oleh RS dan
disebarkan ke rumah sakit
6. Tidak ada aspek pengkajian/no, kolom
pengkajian yang kosong
7. Data identitas pasien tertulis lengkap
(nama, umur, jenis kelamin, no. RM)
8. Dapat diidentifikasi dengan jelas oleh
perawat yang melakukan pengkajian dan
waktu pelaksanaan pengkajian (tanggal,
jam , nama lengkap perawat yang
mengkaji dan ttd perawat)
2 Diagnosis 1. Diagnosis keperawatan ditegakkan Berdasarkan dari Sudah sesuai
berdasarkan analisis data sesuai dengan 8 les pasien yang dengan
temuan data maladaptif selama diambil dan dari standar
pengkajian berlangsung hasil observasi
2. Diagnosis keperawatan dirumuskan
didapatkan hasil
berdasarkan buku/dasar acuan
bahwa diagnosis
keperawatan
keperawatan
3. Diagnosa keperawatan dibuat oleh Katim
4. Ada nama lengkap perawat dan tanda dibuat tidak hanya
tangan perawat yang merumuskan oleh PP tapi juga
diagnosis dibuat oleh oleh
5. Katim memperbaharui rumusan diagnosis PA; tidak ada
sesuai dengan perkembangan pembaharuan
assesment/analisis pada evaluasi sesuai rumusan
indikator SOAP (Subjective, Objective, diagnosis.
Assesment, Planning)

3 Perencanaan 1. Perencanaan asuhan keperawatan sesuai Berdasarkan dari Sudah sesuai


dengan diagnosis keperawatan 8 les pasien yang dengan
2. Perencanaan asuhan keperawatan disusun
diambil di standar
menurut urutan prioritas tindakan yang
temukan data
berdasarkan prioritas pemilihan diagnosis
bahwa poin yang
sesuai dengan core problema dan etiologi
tidak dilakukan
3. Rumusan tujuan dilengkapi dengan
adalah pada poin
kriteria hasil sesuai dengan konsep
perencanaan
SMART yaitu harus spesifik (specific),
asuhan
bisa diukur (measureable), bisa diterima
keperawatan
(achieveable), bisa dipercaya (reliable),
sudah berdasarkan
waktu yang terukur (timeable)
dengan mengandung komponen metode SMART
perubahan ke arah positif kondisi klinis dan berdasarkan
pasien. buku acuan
4. Rencana tindakan mengacu pada tujuan
asuhan
dengan kalimat perintah, terinci dan jelas
keperawatan
dan atau melibatkan pasien /keluarga
dengan indicator
5. Rencana tindakan komprehensif :
tujuan dan criteria
mengandung rencana tindakan
hasil, rencana
independen, dependen, interdependen
tindakan yang
melibatkan
keluarga dan
secara
komprehensif.

4 Implementasi 1. Implementasi dilaksanakan mengacu Berdasarkan dari Sudah sesuai


pada rencana keperawatan 8 les pasien yang dengan
2. Bukti implementasi dicatat langsung pada
diambil di standar
format yang resmi, terdapat tanggal, jam,
temukan bahwa
no diagnosis.
dokumentasi
3. Rumusan kalimat implementasi
implementasi
menggunakan kalimat aktif
4. Singkatan/istilah yang digunakan berlaku asuhan
secara umum (ada daftar singkatan daftar keperawatan
dan istilah yang di SK kan oleh RS dan dilengkapi dengan
disebarkan ke rumah sakit nama dan paraf
5. Perawat yang melakukan tindakan adalah
perawat yang
perawat yang mendokumentasikan
melakukan;
tindakan tersebut.
terdapat format
6. Setiap tindakan keperawatan yang telah
pemberian obat
dilakukan kepada pasien
injeksi maupun
didokumentasikan dengan dilengkapi
oral.
nama lengkap dan paraf perawat yang
melakukan.
7. Format pemberian obat injeksi terisi
secara lengkap dan benar sesuai kolom
yang tersedia dalam format
8. Format pemberian obat oral terisi secara
lengkap dan benar sesuai kolom yang
tersedia dalam format
5 Evaluasi Evaluasi Formatif Berdasarkan dari Sudah sesuai
1. Setiap tindakan yang dilakukan kepada
8 les pasien yang dengan
pasien, perawat memonitoring respon
diambil di standar
pasien dan dicatat pada kolom evaluasi
temukan data
sejajar dengan kalimat implementasi
bahwa sudah
keperawatan tersebut
dilakukan
2. Perawat melakukan evaluasi
evaluasi sumatif,
perkembangan kondisi pasien (Progress
dikaji respon
Note) pada saat sebelum operan shift jaga
subjektif sesuai
dengan menggunakan teknik SOAP
3. Penulisan lengkap : dengan SOAP;
S : keluhan pasien/keluarga pasien,
evaluasi formatif
O : hasil pengamatan, pengukuran,
dilakukan per
pemeriksaan fisik, pemeriksaan
tindakan
penunjang terakhir
A : masalah yang sudah teratasi, masalah implementasi.
yang belum teratasi, masalah baru yang
muncul)
P : perencanaan perawatan independen,
rencana tindakan dokter (fisik/penunjang)
rencana terapi/perubahan terapi, dan
rencana penatalaksanaan pasien lainnya)
4. Dicatat lengkap dan tercantum nama dan
paraf perawat yang melakukan

Evaluasi Sumatif
5. Pada saat pasien pulang evaluasi sumatif
dengan teknik SOAP ditulis lengkap
seperti di atas
6. Pada saat pasien pulang, perawat
merumuskan Disharge Planning
7. Pada saat pasien pulang, perawat
merumuskan Resume Keperawatan
8. Evaluasi sumatif SOAP dibuat pada saat
habisnya kriteria waktu sesuai tujuan pada
setiap aspek diagnosa
9. Semua poin di atas dilengkapi nama
lengkap dan paraf
Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan dimana pelaksanaan
pengkajian keperawatan sudah dilakukan secara efektif.

c. Uraian Tugas
Dari data yang didapatkan di ruang Nusa Indah, masing-masing
petugas (kepala ruangan, wakil kepala ruangan, ketua tim, dan anggota)
memiliki tugas masing-masing dan sudah ada buku pedoman mengenai
uraian tugas dari masing – masing perawat. Dari data yang didapatkan di
ruang Nusa Indah, masing-masing petugas (kepala ruangan, wakil kepala
ruangan, ketua tim, dan anggota) memiliki tugas masing-masing dan sudah
ada buku pedoman mengenai uraian tugas dari masing – masing perawat.
Dilihat dari segi pelaksanaan tugas di ruang Nusa Indah berkaitan dengan
peran tugas masing-masing karu, katim dan pelaksana di dalam
managemen MPKP belum secara 100% terlaksana sesuai dengan pedoman
MPKP.

Kepala Ruangan
1) Melaksanakan fungsi perencanaan ( P1 ) meliputi
a) Menyusun rencana kerja Kepala Ruangan.
b) Berperan serta menyusun falsafah dan tujuan pelayanan
keperawatan di ruang rawat yang bersangkutan.
c) Menyusun rencana kebutuhan tenaga keperawatan dari segi jumlah
maupun kualifikasi untuk ruang rawat , koordinasi dengan Kepala
Perawatan / Ka. Instalansi.
2) Melaksanakan fungsi pergerakan dan pelaksanaan ( P2 ) meliputi :
a) Mengatur dan mengkoordinasikan seluruh kegiatan pelayanan di
ruang rawat melalui kerjasama dengan petugas lain yang bertugas
di ruang rawatnya.
b) Menyusun daftar dinas tenaga keperawatan dan tenaga lain sesuai
kebutuhan pelayanan dan peraturan yang berlaku di rumah sakit
c) Melaksanakan orientasi kepada tenaga keperawatan baru / tenaga
lain yang akan bekerja di ruang rawatnya.
d) Memberi orientasi, membimbing siswa / mahasiswa keperawatan
yang menggunakan ruang rawatnya sebagai lahan praktik.
e) Memberi orientasi kepada pasien dan keluarganya tentang
peraturan rumah sakit, tata tertib, fasilitas yang ada serta kegiatan
rutin sehari – hari.
f) Mengadakan pertemuan berkala / sewaktu – waktu dengan staff
keperawatan dan petugas lain yang ada di ruangan
g) Memberi ijin kepada staff keperawatan yang mengikuti kegiatan
ilmiah dengan koordinasi dengan staff koordinasi dengan Kepala
Seksi / Bidang Keperawatan
h) Mengupayakan pengadaan peralatan dan obat – obatan sesuai
kebutuhan berdasarkan ketentuan rumah sakit.
i) Mengatur dan mengkoordinasikan pemeliharaan alat agar selalu
dalam keadaan siap pakai.
j) Mengelompokkan pasien dan mengatur penempatannya di ruang
rawat.
k) Member motivasi kepada petugas dalam memelihara kebersihan
lingkungan ruang rawat.
l) Meneliti pengisian sensus harian pasien di ruang rawat.
3) Melaksanakan fungsi pengawasan, pengendalian dan penilaian ( P3 )
meliputi :
a) Mengendalikan dan menilai pelaksanaa asuhan keperawatabn yang
telah ditentukan.
b) Mengawasi dan atau menilai siswa/mahasiswa keperawatan untuk
memperoleh pengalaman belajar sesuai tujuan program bimbingan
yang telah ditentukan.
c) Menentukan penilaian kinerja tenaga keperawatan yang berada
dibawah tanggung jawabnya.
d) Mengawasi, mengendalikan dan menilai pendayagunaan tenaga
keperawatan , peralatan dan obat – obatan.
e) Mengawasi dan menilai mutu asuhan keperawatan sesuai standar
yang berlaku secara mandiri atau koordinasi dengan Tim
Pengendali Mutu Asuhan Keperawatan.
Perawat Primer Rawat Inap
1) Bersama kepala ruangan mengadakan serah terima dan pembagian
tugas atas anggota kelompok.
2) Menyusun rencana dan menyiapkan fasilitas yang diperlukan oleh
asuhan keperawatan serta membuat laporan pasien.
3) Merumuskan tujuan dan mendelegasikan pelaksanaan proses Asuhan
Keperawatan kepada anggota tim.
4) Member pengarahan dan petunjuk kepada anggota tim dalam
melaksanakan asuhan keperawatan.
5) Memberi teguran kepada anggota tim yang melalaikan tugasnya.
6) Mengawasi proses asuhan keperawatan dan catatan yang dibuat selama
proses asuhan keperawatan yang berlangsung.
7) Mengevaluasi kegiatan dan laporan dari semua anggota tim bersama
kepala ruangan
8) Membuat laporan untuk disampaikan kepada perawat jaga/ pengawas.

Perawat Associate
1) Melakukan pengkajian komprehensif kepada pasien
2) Menentukan masalah keperawatan pasien berdasarkan pengkajian
3) Merencanakan tindakan keperawatan berdasarkan hasil pengkajian.
4) Melaksanakan tindakan sesuai rencana.
5) Mendokumentasikan hasil tindakan keperawatan pada rekam medis
disertai tanda tangan dan nama jelas
6) Menerima pasien baru sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku.
7) Menata ruangan, memelihara kebersihan, kelengkapan peralatan, serta
lancarnya pelaksanaan pelayanan terhadap pasien
8) Menyiapakan pasien untuk pemeriksaan dokter.
9) Memberikan penyuluhan kepada pasien dan keluarganya tentang
penggunaan obat, kebersihan perorangan dan member motivasi
mengikuti advis dokter.
10) Mengambil sediaan pemeriksaan laboratorium pasien.
11) Menghadiri pertemuan klinik dengan dokter dan membahas kasus –
kasus untuk meningkatkan mutu pelayanan kepada pasien.
12) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan.

Administrasi
1) Melengkapi dokumen pasien
2) Mempersiapkan Surat Jaminan Kesehatan Pasien
3) Mengisi CBS pasien.
4) Mengurus Resep Pasien
5) Melengkapi administrasi pasien masuk rumah sakit, pasien pindah
ruangan, pasien pulang dan pasien cuti.
6) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan.

4. M4 (MONEY)
a. Mengidentifikasi sumber dana (M4 : Money)
1) Jenis dan Tarif Pelayanan Kesehatan RSUP Sanglah Denpasar
Berikut dijelaskan dalam tabel beberapa jenis dan tarif layanan
kesehatan pada badan layanan umum RSUP Sanglah Denpasar, sesuai
dengan Keputusan Direktur Utama Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah
Denpasar NOMOR : HK. 02.04/IV.C11.D.23/2803/2015.

No Jenis Pelayanan Besar Tarif

Jasa Sarana Jasa Pelayanan Tarif

1 2 3 4 5

I RAWAT JALAN

A. Karcis Registrasi

1. Kartu Identitas Berobat (KIB) 10.000 - 10.000

2. Dengan Rujukan 3.000 - 3.000

3. Tanpa rujukan 5.000 - 5.000

4. Pemeriksaan dokter - 7.500 7.500

5. Konsultasi antar spesialis - 7.500 7.500

B. Registrasi Instalasi Rawat Darurat

1. Karcis registrasi 10.000 5.000 15.000

2. Pemeriksaan Dokter di IRD 10.000 15.000 25.000

3. Konsultasi antara SMF di IRD 10.000 15.000 25.000

4. False emergency 10.000 15.000 25.000

5. Pemberian Injeksi 10.000 15.000 25.000

C. Tariff penilaian Stratus Genetika, - 5.000 5.000


Oncologi

D. Biaya pemeriksaan Penunjang


diagnostic, Tindakan Medik, dan
Therapi, Tindakan Medik dan
Radio Terapi, serta Pelayanan
RehabilitasiMedik apabila ada,
dibayar terpisah oleh pasien sesuai
dengan tariff
pemeriksaan/tindakan sejenis
pasien rawat inap kelas III

E. Biaya pemeriksaan penunjang


Diagnostik dan tindakan pasien
rawat jalan yang berasal dari
rujukan swasta disarankan dengan
tariff pemeriksaan/tindakan pasien
rawat inap kelas II

F. Biaya tindakan medic dan Therapi


di poliklinik dibayar terpisah oleh
pasien sesuai dengan tarif dengan
rujukan atau tanpa rujukan

G.
1.Pasien control/kunjungan
ulang dikenakan tarif
dengan rujukan
2.Pasien control/kunjungan
ulang yaitu pasien yang
perlu diperiksa dengan
penyakit (diagnose) lama
pada poliklinik yang sama
3.Pasien control di bagian/
divisi yang sama tidak
dikenakan biaya lagi
4.Pasien control/kunjungan
ulang yang memerlukan
tindakan perawatan, missal
: ganti balut/tampo,
salep/tetes mata dll, maka
pasien dikenakan tarif
karcis dan tindakan.

H. Pasien rawat jalan di Poliklinik


yang harus dilakukan pemeriksaan
penunjang ( Laboratorium,
Radiologi, PA) dan hasil
pemeriksaan tidak selesai hari itu,
maka status Catatan Medik tidak
dikembalikan ke Medical Record,
tetapi di tahan di Poliklinik sampai
selesai ( didapatkan diagnose
penyakitnya) sehingga pasien
tidak dikenakan tarif/biaya lagi
pada waktu membawa
(melaporkan) hasil pemeriksaan
penunjang.
Catatan : setiap hari TU Poliklinik
menyertakan laporan ke MR pada
waktu mengembalikan status
catatan medic yang berisi :

1.Jumlah Pasien ...... Orang,


Jumlah Status/Catatan
Medik

2.Jumlah status/Catatan Medik


yang belum selesai oleh
karena pemeriksa
penunjang

3.Jumlah status/CM yang telah


diselesaikan dan
dikembalikan ke Medical
Record.

I. Untuk semua periksaan penunjang


Diagnostik tidak dipungut karcis

J. Untuk pasien radio therapy yang 7.500


datang untuk control diantara dua
seri penyinaran dan control setelah
selesai penyinaran

K. Tindakan double lumen 40.000

L. Tariff yang tidak tercantum diatas


dapat mengacu pada tariff dan unit
lain

II RAWAT INAP

A. Tarif akomodasi/Pel. Perawat 40.000


Dasar

B. Konsultasi/visite - 7.500 7.500

C. Tim penilaian status genetika, - 5.000 5.000


Oncologi

D. Tarif rawat inap di instalasi Rawat


Darurat, Perinatologi dan
Detoksinasi disamakan dengan
tariff Rawat Inap kelas II

E. Tarif rawat inap bayi baru lahir Dihitung


yang bermasalah 50% dari
tariff
Rawat
Inap Ibu

F. Biaya ekstra Bed bagi ibu dan Tiap hari


bayinya di ruang perinatologi Rp 3.000

G. Biaya perawatan pasien pada


dasarnya tidak termasuk biaya
obat-obatan

H. Biaya pemeriksaan penunjang


diagnostic, tindakan medik dan
therapy, pelayanan rehabilitasi
medic serta perawatan jenazah,
apabila ada harus dibayar terpisah
dengan biaya akomodasi

I. Pasien dengan menggunakan surat


keterangan tidak mampu (SKTM),
perawatan di kelas III dan SKTM
harus diserahkan paling lambat
hari ke-3, perawatan pasien
dengan “Kartu Sehat”/kartu
sejenis sesuai ketentuan yang
berlaku

J. Selisih tarif kelas bagi peserta PT


ASKES Indonesia diperhitungkan
antara tarif rawat Inap RS dengan
hak peserta/tarif PT ASKES

K. Tarif pasien kelas III, yang pindah Ditambah


ke ruang Intensif 50% dari
tariff
kelas asal
L. Tarif peningkatan nilai gizi/makan 5.000
kelas III

M. Akomodasi NICU (Neonatal 200.000


Intensive Care Unit) di IRD

N. Visite dokter di NICU IRD 100.000

O. Tindakan Keperawatan di NICU 50.000


IRD

b. Tarif Akomodasi RSUP Sanglah Tahun 2017

Tarif Tarif
No. Jenis Layanan
WNI WNA

1. Ruang Rawat

Kelas III 135.000 270.000

Kelas II 150.000 300.000

Kelas I 350.000 700.000

VIP 550.000 1.100.000

VVIP Sandat 800.000 1.500.000

VVIP Jepun 1.500.000 2.500.000

Intermediate (Gandasturi, PJT, IRNA B, IATI) 350.000 700.000

Intensif (ICU, ICCU, NICU, PICU, Luka Bakar, Nusa Indah, 550.000 1.100.000
IGD, PJT, ITAI)

Kelas 1 Single/IRD Single 350.000 700.000

IRD Double/Lebih 150.000 300.000

2. Visite

Kelas III 18.000 36.000


Kelas II 20.000 40.000

Kelas I 100.000 200.000

VIP 200.000 300.000

VVIP Sandat 300.000 400.000

VVIP Jepun 300.000 500.000

Intermediate (Gandasturi, PJT, IRNA B, IATI) 100.000 200.000

Intensif (ICU, ICCU, NICU, PICU, Luka Bakar, Nusa Indah, 200.000 300.000
IGD, PJT, IATI)

Kelas 1 Single / IRD Single 100.000 200.000

IRD Double / Lebih 20.000 40.000

3. Keperawatan

Kelas III 6.750 13.500

Kelas II 7.500 15.000

Kelas I 50.000 100.000

VIP 100.000 150.000

VVIP Sandat 150.000 200.000

VVIP Jepun 150.000 200.000

Intermediate (Gandasturi, PJT, IRNA B, IATI) 50.000 100.000

Intensif (ICU, ICCU, NICU, PICU,Luka Bakar, Nusa Indah, 100.000 150.000
IGD, PJT, IATI)

Kelas 1 Single / IRD Single 50.000 100.000

IRD Double / Lebih 7.500 15.000


Total Tarif Total Tarif
No. Jenis Layanan
WNI WNA

1 Kelas III 159.700 319.000

2 Kelas II 177.500 355.000

3 Kelas I 500.000 1.000.000

4 VIP 850.000 1.550.000

5 VVIP Sandat 1.250.000 2.100.000

6 VVIP Jepun 1.950.000 3.200.000

7 Intermediate (Gandasturi, PJT, IRNA B, IATI) 500.000 2.800.000

8 Intensif (ICU, ICCU, NICU, PICU,Luka Bakar, Nusa Indah, 850.000 1.550.000
IGD, PJT, IATI)

9 Kelas 1 Single / IRD Single 500.000 1.000.000

10 IRD Double / Lebih 177.500 355.000

c. Tarif Pelayanan Kesehatan di Ruang Nusa Indah


Ruang Nusa Indah merupakan Ruang Intensif dengan penyakit menular
melalui udara yang dilengkapi dengan anteroom, ruangan khusus penyakit
TB BTA Positif, TB HIV, TB MDR, Ebola, Tetanus, Flu Burung (H5N1),
Flu Babi (H1N1), Varicella, Rabies, Mers Cov, Morbili, Campak, Difteri,
Zika, Herpes dan ruang isolasi tanpa anteroom. Ruang Nusa Indah
melayani pasien dengan status pembayaran dengan Umum, BPJS (PBI dan
Non PBI), KBS (Kartu Badung Sehat).

Kesimpulan M4 ( Money ) :
Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah merupakan Rumah Sakit Pusat yang
dijadikan sebagai pusat rujukan dari Rumah Sakit Daerah yang berada di Bali,
yang langsung di kelola dan dibiayai oleh Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia. Hal ini menyebabkan seluruh pendanaan pelayanan kesehatan,
pemeriksaan, dan perawatan serta kelengkapan sarana dan prasarana sudah
diatur secara sentral dan jelas oleh peraturan yang telah ditetapkan. Aliran
pendanaan untuk ruang Nusa Indah diatur oleh pusat sehingga prosedur
pengadaan fasilitas membutuhkan waktu yang relatif lama. Karena dibiayai
oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia melayani pasien dengan status
pembayaran Umum, BPJS (PBI dan Non PBI), KBS (Kartu Badung Sehat)
sehingga banyak pasien dengan kasus penyakit yang tidak mendapatkan
pelayanan yang menunjang untuk kesembuhan pasien akan dirujuk ke Rumah
Sakit Umum Pusat Sanglah. Namun, banyaknya pasien BPJS membuat rumah
sakit harus menyediakan anggaran cadangan untuk melakukan pelayanan
kesehatan kepada pasien apabila pembayaran belum dibayarkan di rumah
sakit. RSUP Sanglah juga bekerja sama dengan beberapa perusahaan untuk
menunjang ketersediaan sarana dan prasarana melalui KSO (Kerja Sama
Operasional), yang pada sistem ini saling menguntungkan kedua belah pihak
sesuai perjanjian yang ditetapkan. Beberapa contoh pihak yang menjalin kerja
sama dengan RSUP Sanglah antara lain : Kimia Farma (penyediaan obat),
IRD Menjangan (Penyediaan alat CT-Scan), PT.Citra Dian Pratama
(Penyediaan alat X-Ray), IGM (Penyediaan bahan HD dan alat). Jika pada
KSO (Kerja Sama Operasional) dikeluarkan alat terbaru (lebih modern) maka
setiap tahun dapat berubah sesuai dengan perjanjian.

5. M5 (MARKET)
a. Jumlah Kunjungan
Ruang Nusa Indah RSUP Sanglah merupakan ruang rawat khusus
untuk penyakit Menular seperti TB BTA Positif, TB HIV, TB MDR, Ebola,
Tetanus, Flu Burung (H5N1), Flu Babi (H1N1), Varicella, Rabies, Mers
Cov, Morbili, Campak, Difteri, Zika, Herpes dengan kapasitas 32
TT.Berdasarkan indikator dari Bulan Januari-Maret 2017, jumlah pasien
yang dirawat di Ruang Nusa Indah sebanyak 145 orang.
1) BOR (Bed Occupancy Rate)
BOR (Bed Occupancy Rate) adalah presentase pemakaian tempat
tidur pada waktu tertentu yang didefinisikan sebagai jumlah tempat
tidur yang terpakai untuk perawatan pasien di dalam ruangan terhadap
jumlah tempat tidur yang tersedia. Standar nilai BOR menurut Barber
Johnson adalah 75% - 85% (standar internasional), sedangkan menurut
standar nilai Depkes RI adalah 60% - 85%.
Berdasarkan hasil penghitungan, didapatkan gambaran BOR (Bed
Occupancy Rate) di Ruangan Nusa IndahLantai 1 dan 2 (Barat dan
Timur) pada tanggal 6-7 April 2017, sebagai berikut :

a) Tanggal 6 April 2017

BOR = Jumlah Tempat Tidur yang Terisi x 100%


Kapasitas Tempat Tidur yang Tersedia
15
BOR
BOR == x 100%
32
BOR = 46,9 %

b) Tanggal 7 April 2017

BOR = Jumlah Tempat Tidur yang Terisi x 100%


Kapasitas Tempat Tidur yang Tersedia
17
BOR = x 100%
= 53,1 %. 32
BOR =
Berdasarkan hasil perhitungan BOR (Bed Occupancy Rate) di
Ruang Nusa Indah pada tanggal 6-7 April 2017 didapatkan 46,9%-
53,1%%, jadi BOR pada tanggal 6-7 April 2017 belum memenuhi
standar dari nilai Depkes RI.
2) Kasus terbanyak
Gambaran kasus penyakit terbanyak yang dirawat di Nusa Indah
selama bulan Januari-Maret 2017 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 3.24. Urutan Penyakit Terbanyak di Ruang Nusa Indah RSUP Sanglah Januari-Maret 2017
No Jenis Penyakit Jumlah
1 Susp. TB 59
2 Susp. DHF 51
3 DHF 46
4 TB HIV 23
5 TB BTA Positif 13
6 Tetanus 4
7 Varicella 2
8 Campak 2
9 Morbili 1
10 Herpes 1
Sumber : Arsip Ruangan Nusa Indah Januari-Maret 2017

3) Mutu Pelayanan Keperawatan


a) Meningkatkan Mutu Pelayanan
Berdasarkan Buku Indikator Mutu Pelayanan yang terdapat di
ruang Nusa Indah, indikator mutu pelayanan dilihat dari beberapa
aspek, antara lain :
(1) Presentase pelaksanaan prosedur identifikasi pada saat
pengambilan sampel darah dan spesimen lainnya oleh petugas
sampling.
Berdasarkan arsip ruang Nusa Indah Bulan Januari 2017,
persentase pelaksanaan prosedur identifikasi pada saat
pengambilan sampel darah dan spesimen lainnya oleh petugas
sampling adalah 100% dimana sudah dilakukanoleh seluruh
petugas saat pengambilan sampel darah dan spesimen.
(2) Presentase pelaksanaan standart identifikasi pasien pada
pemberian indentitas pasien untuk pasien rawat inap.
Berdasarkan arsip ruang Nusa indah Bulan Januari 2017,
Persentase pelaksanaan standart identifikasi pasien pada
pemberian indentitas pasien untuk pasien rawat inap adalah
100% dimana hal ini sudah dilakukan guna mengidentifikasi
pasien dengan benar.
(3) Presentase pelaporan hasil kritis pemeriksaan laboratorium
dengan teknik SBAR dan READBACK.
Berdasarkan arsip ruang Nusa indah Bulan Januari 2017,
Presentase pelaporan hasil kritis pemeriksaan laboratorium
dengan teknik SBAR dan READBACK adalah 100% dimana
hal ini sudah dilakukan guna meningkatkan komunikasi yang
efektif.
(4) Kepatuhan pelaksanaan READBACK diverifikasi oleh
pemberian instruksi dalam waktu 1x24jam
Berdasarkan arsip ruang Nusa indah Bulan Januari 2017,
Kepatuhan pelaksanaan READBACK diverifikasi oleh
pemberian instruksi dalam waktu 1x24jam adalah 100%
dimana hal ini sudah dilakukan guna meningkatkan
komunikasi yang efektif pula.
(5) Berdasarkan arsip ruang Nusa indah Bulan Januari 2017,
presentase ketidaksesuaian penulisan singkatan untuk
diagnosa dan terapi pada form pengkajian awal sesuai dengan
buku daftar singkatan RSUP Sanglah Denpasar 100%, hal ini
100% tidak dilakukan oleh perawat diruang Nusa Indah.
(6) Persentase kepatuhan pemberian label High Alert pada obat-
obat high alert
Berdasarkan arsip ruang Nusa Indah Bulan Januari 2017,
presentase kepatuhan pemberian label High Alert pada obat-
obat high alert adalah 100% hal ini telah dilakukan di ruangan
guna meningkatkan keamanan obat-obatan yang harus
diwaspadai.
(7) Presentase tersedianya pelayanan rawat inap oleh tenaga
spesialis yang kompeten di RS sesuai dengan kelas RS adalah
100%.
(8) Presentase pemberian pelayanan di Rawat Inap adalah 100%
(9) Presentase dokter penanggung jawab pasien rawat Inap di
ruangan Nusa Indah adalah 100%
(10) Presentase jam visite dokter spesialis (DPJP) di Instalasi rawat
inap (< jam 11.00 WITA) di Ruang Nusa Indah :
(a) Presentase jam visite dokter spesialis (DPJP) di Instalasi
rawat inap (< jam 11.00 WITA) bulan Januari 2017 adalah
94,2% dari target pencapaian 100%
(b) Presentase jam visite dokter spesialis (DPJP) di Instalasi
rawat inap (< jam 11.00 WITA) bulan Februari 2017 adalah
91,8% dari target pencapaian 100%
(11) Presentase tidak adanya kejadian pasien jatuh di ruang Nusa
Indah adalah 100%.
(12) Presentase tidak adanya kejadian perawat tertusuk jarum
selama bulan Januari-Maret 2017 100%
(13) Presentase tidak adanya kejadian dekubitus pada pasien
selama bulan Januari-Maret 2017 100%
(14) Presentase kejadian pulang sebelum sembuh (Pulang Paksa) di
Ruang Nusa Indah:
(a) Presentase kejadian pulang sebelum sembuh (Pulang
Paksa) di Ruang Nusa Indah bulan Jnauari 2017 adalah
4,76% dari target <5%
(b) Presentase kejadian pulang sebelum sembuh (Pulang
Paksa) di Ruang Nusa Indah bulan Jnauari 2017 adalah 0%
dari target <5%.

b) Indikator Mutu
(1) Tingkat Kepuasan Pasien
Berdasarkan pengkajian tanggal 6 April 2017, dengan
kondisi pasien yang ada di ruang Nusa Indah, pasien
mengatakan puas dengan pelayanan yang didapatkan
selama perawatan.
(2) Keamanan Pasien
Indikator penilaian mutu pelayanan di ruang Nusa Indah
dapat dilihat dari jumlah pengulangan KTD (Kejadian
Tidak Diinginkan), dari hasil wawancara dengan kepala
ruangan serta buku Laporan Indikator Mutu Ruang Nusa
Indah RSUP Sanglah tahun 2017, terdapat 3 kasus KTD
(Kejadian Tidak Diinginkan) di Ruang Nusa Indah selama
bulan Januari-Maret 2017. Tiga (3) kasus KTD (Kejadian
Tidak Diinginkan) di Ruang Nusa Indah tersebut
berhubungan dengan kegiatan pemberian obat oleh depo
(sentralisasi obat), adapun pemaparannya sebagai berikut :
No. Tanggal/Jam Insiden Unit Penyebab
KIO dan obat salah
9/01/2017
1 alamat (Kejadian Depo
(13.00 wita)
Nyaris Cedera/KNC)
Obat tidak berisi
30/01/2017 identitas pasien
2 Depo
(14.00 wita) (Kejadian Nyaris
Cedera/KNC)
Kesalahan pemberian
2/02/2017
3 obat (Kejadian Nyaris Depo
(14.00 wita)
Cedera/KNC)
Terkait dengan pengetahuan perawat tentang patient safety
di Ruang Nusa Indah berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala
Ruangan serta hasil observasi, sebanyak 100% tenaga perawat
sudah mengetahui dan mengimplementasikan patient safety.
Berdasarkan indikator dari bulan Januari-Maret 2017,
jumlah pasien yang dirawat di Ruang Nusa Indah sebanyak 145
orang. Berdasarkan hasil penghitungan, didapatkan gambaran BOR
Ruangan Nusa Indah pada tanggal 6 April 2017 sebesar 46,9% dan
pada tanggal 7 April 2017 sebesar 53,1%.
Berdasarkan pengkajian tanggal 6 April 2017, dengan
kondisi pasien yang ada di ruang Nusa Indah, pasien mengatakan
puas dengan pelayanan yang didapatkan selama perawatan di ruang
Nusa Indah.
Terkait dengan pengetahuan perawat tentang patient safety
di Ruang Nusa Indah berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala
Ruangan serta hasil observasi, sebanyak 100% tenaga perawat
sudah mengetahui dan mengimplementasikan patient safety.
Dibuktikan dengan terdapat gelang untuk identias pasien dan
penerapan gelang kuning (untuk pasien yang berisiko jatuh)
sebagai penerapan pasien safety, terdapat form pengkajian risiko
jatuh, terdapat kuisioner untuk mengkaji tingkat kepuasan pasien
atau keluarga sebagai salah satu indikator mutu pelayanan, selain
itu RSUP Sanglah sering mengadakan pelatihan setiap tahun untuk
memfasilitasi dan memperbaharui pengetahuan tenaga
kesehatannya dalam memberikan pelayanan kesehatan. Kegiatan
pelatihan yang ada di RSUP Sanglah seperti Pelatihan Patient
Safety, BHD, dan mengenai program-program yang terdapat di
RSUP Sanglah.
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan serta
buku Laporan Indikator Mutu Ruang Nusa Indah RSUP Sanglah
tahun 2017, terdapat 3 kasus KTD (Kejadian Tidak Diinginkan) di
Ruang Nusa Indah selama bulan Januari-Maret 2017.Tiga (3) kasus
KTD (Kejadian Tidak Diinginkan) di Ruang Nusa Indah tersebut
berhubungan dengan kegiatan pemberian obat oleh depo
(sentralisasi obat). Perawat di ruangan sudah berupaya melakukan
perawatan pada pasien untuk meminimalisir KTD (kejadian tidak
diinginkan) terkait Patient Safety seperti mengidentifikasi
identifikais pasien, meningkatkan komunikais yang efektif antara
perawat dengan pasien maupun dengan keluarga pasien,
meningkatkan keamanan dari obat berisiko tinggi (high allert),
mengurangi kesalahan penempatan maupun prosedur operasi,
mengurangi risiko infeksi (dengan membersihkan tempat tidur dan
lingkungan pasien setiap pagi serta memastikan pasien sudah
mandi atau belum), mengurangi risiko jatuh (dengan memasang
siderall di tempat tidur pasien, meminta salah satu anggota
keluarga menemani pasien dan membantu memenuhi kebutuhan
pasien) untuk meningkatkan indikator mutu pelayanan kesehatan
guna meningkatkan pelayanan keperawatan di ruang Nusa Indah.

Kesimpulan M5 (Market) :
RSUP Sanglah Denpasar merupakan rumah sakit tipe A terbesar di Bali
dan rumah sakit pusat rujukan yang berstandar internasional, sehingga RSUP
Sanglah adalah pusat rujukan dari berbagai rumah sakit daerah di Bali maupun
luar Bali. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan serta buku
Laporan Indikator Mutu Ruang Nusa Indah RSUP Sanglah tahun 2017,
terdapat 3 kasus KTD (Kejadian Tidak Diinginkan) di Ruang Nusa Indah
selama bulan Januari-Maret 2017.Tiga (3) kasus KTD (Kejadian Tidak
Diinginkan) di Ruang Nusa Indah tersebut berhubungan dengan kegiatan
pemberian obat oleh depo (sentralisasi obat).
Terkait dengan pengetahuan perawat tentang patient safety di Ruang Nusa
Indah berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Ruangan serta hasil
observasi, sebanyak 100% tenaga perawat sudah mengetahui dan
mengimplementasikan patient safety. Dibuktikan dengan terdapat gelang
untuk identias pasien dan penerapan gelang kuning (untuk pasien yang
berisiko jatuh) sebagai penerapan pasien safety, terdapat form pengkajian
risiko jatuh, terdapat kuisioner untuk mengkaji tingkat kepuasan pasien atau
keluarga sebagai salah satu indikator mutu pelayanan, selain itu RSUP
Sanglah sering mengadakan pelatihan setiap tahun untuk memfasilitasi dan
memperbaharui pengetahuan tenaga kesehatannya dalam memberikan
pelayanan kesehatan. Kegiatan pelatihan yang ada di RSUP Sanglah seperti
Pelatihan Patient Safety, BHD, dan mengenai program-program yang terdapat
di RSUP Sanglah.
Perawat di ruangan sudah berupaya melakukan perawatan pada pasien
untuk meminimalisir KTD (kejadian tidak diinginkan) terkait Patient Safety
seperti mengidentifikasi identifikais pasien, meningkatkan komunikais yang
efektif antara perawat dengan pasien maupun dengan keluarga pasien,
meningkatkan keamanan dari obat berisiko tinggi (high allert), mengurangi
kesalahan penempatan maupun prosedur operasi, mengurangi risiko infeksi
(dengan membersihkan tempat tidur dan lingkungan pasien setiap pagi serta
memastikan pasien sudah mandi atau belum), mengurangi risiko jatuh (dengan
memasang siderall di tempat tidur pasien, meminta salah satu anggota
keluarga menemani pasien dan memenuhi kebutuhan pasien) untuk
meningkatkan indikator mutu pelayanan kesehatan guna meningkatkan
pelayanan keperawatan di ruang Nusa Indah. Selain itu, RSUP Sanglah sering
mengadakan pelatihan setiap tahun untuk memfasilitasi dan memperbaharui
pengetahuan tenaga kesehatannya dalam memberikan pelayanan kesehatan.
Kegiatan pelatihan yang ada di RSUP Sanglah seperti Pelatihan Patient Safety,
BHD, dan mengenai program-program yang terdapat di RSUP Sanglah. Hal
ini menunjukkan mutu pelayanan kesehatan di ruangan tersebut sudah berjalan
dengan baikyaitu dilihat dari presentase indikator mutu pelayanan di ruang
Nusa Indah RSUP Sanglah Denpasar.

C. ANALISIS SWOT
Analisis kelebihan dan kekurangan dari 5M tersebut dijabarkan sebagai
berikut.
Tabel 3.23. Tabel Analisis Kelemahan dan Kekurangan dari 5M
No. Analisis SWOT Bobot Rating Bobot x Rating
1 M1 (Man)
a. Internal Faktor (IFAS)
Strength/Kekuatan S-W
1. Sebagian besar perawat di ruangan 0,30 3 0,90 2,8 -2= 0,8
telah berkualifikasi pendidikan
minimal DIII Keperawatan.
2. Telah terdapat tenaga keperawatan 0,20 3 0,60
dengan pendidikan S1 Keperawatan
yaitu 8 orang.
3. Kinerja ketua tim yang sudah 0,2 2 0,40
kompeten dengan tugas-tugasnya.
4. Jumlah tenaga perawat sudah 0,3 3 0,90
memenuhi standar kebutuhan dari
depkes (perhitungan depkes
diperlukan 11 orang)
Total 1 2,80
Weakness/Kelemahan :
1. Staff keperawatan yang 1 2 2
mengikuti seminar atau pelatihan
belum merata

Total 1 2
b. Eksternal Faktor (EFAS)
Opportunity/Peluang 0,3 4 1,2 O–T
1. Adanya institusi pendidikan yang 3,4-1,8 =
memberikan kesempatan bagi para 1,6
perawat untuk melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih 4
tinggi. 0,3 1,2
2. Adanya kerjasama dengan institusi
pendidikan atau institusi kesehatan
yang memberikan kesempatan untuk 2
mengikuti pelatihan 0,2 0,4
3. Adanya kebijakan pemerintah 3
tentang profesionalisme perawat. 0,2 0,6
4. Rumah sakit memberikan kebijakan
untuk memberi beasiswa dan
pelatihan bagi perawat ruangan.
Total 1 3,4
Threatened/Ancaman
1. Semakin tingginya kesadaran 0,5 3 0,9
masyarakat tentang pentingnya
kesehatan
2. Adanya tuntutan tinggi dari 0,5 3 0,9
masyarakat untuk pelayanan yang
lebih professional
2 M2 (Material)
a. Internal Factor (IFAS)
Strength :
1. Pemilahan sampah medis dan non 0,25 4 1
medis sudah optimal
2. Tersedia peralatan untuk pengelolaan 0,20 3 0,6
sampah medis dan non medis.
3. Tersedia ruang ganti dan ruang
0,3 2 0,6
istirahat untuk perawat.
4. Pemberian label sudah dilakukan
0,25 3 0,75
secara optimal

Total 1,00 2,95

Weakness
1. Memiliki sarana dan prasarana 0,5 2 1,0
namun ada yang belum memadai,
seperti pengembalian linen ke
ruangan yang masih lambat sehingga
menghambat perilaku caring perawat
2. Alat yang tersedia sudah dapat 0,5 2 1
dioperasikan, namun belum optimal
karna ada beberapa alat yang rusak
Total 1,0 2,0

b. Eksternal Faktor (EFAS)


Opportunity
1. Adanya kesempatan untuk 0,3 2 0,6
penyediaan alat tenun yang sesuai
dengan jumlah bed di ruangan.
2. Adanya kesempatan untuk
0,3 2 0,6
mendiskusikan berapa banyak alat
tenun yang di butuhkan perhari.
3. Adanya kesempatan untuk 0,4 2 0,8
berkoordinasi dengan petugas
laundry mengenai jumlah linen yang
dibutuhkan.
Total 1,00 2,00
Threatened
1. Terdapat tuntutan yang tinggi dari 0,5 1 0,5
masyarakat dalam memperoleh
perawatan yang optimal.
2. Terdapat tuntutan dari masyarakat 0,5 1 0,5
dalam penggantian linen yang kotor.
Total 1,00 1,00

3 M3 (Method) MAKP
a. Internal faktor (IFAS)
Strength
1. Memiliki standar asuhan 0,2 3 0,6
keperawatan
2. Tersedianya resume keperawatan 0,1 3 0,3
untuk pasien pindah ruang
perawatan.
3. Adanya kemampuan dari perawat 0,2 3 0,6
untuk memberikan pendidikan
kesehatan pasien dan keluarga
4. Sudah dilakukam pengamatan 0,1 2 0,2
kinerja masing-masing PP.
5. Terdapat ruang untuk tempat lemari 0,1 3 0,3
sentralisasi obat di Ruang Nusa
Indah
6. Format dokumentasi asuhan 0,1 4 0,4
keperawatan, catatan medis dan
catatan keperawatan pasien
diletakkan dalam satu rekam medis.
7. Sudah memiliki SOP untuk setiap 0,2 3 0,6
tindakan keperawatan

Total 1 2,9
Weakness
1. Pelaksanaan timbang terima belum 0,25 4 1
dilaksanakan secara optimal dengan
tidak melakukan observasi langsung
ke pasien saat timbang terima
2. Pelaksanaan ronde keperawatan
0,25 3 0.75
belum dilaksanakan secara optimal
ronde dilakukan hanya saat ada
mahasiswa praktik (tidak dilakukan
scara rutin)
3. Sentralisasi penyimpanan obat
0,25 3 0.75
belum dipisihkan antara tempat obat
oral dan obat injeksi
4. Pelaksanaan pembagian tugas antara
PP da PA belum berjalan maksimal 0,25 2 0.50
sesuai dengan tugas masing masing

Total 1 2,5
2. Adanya pemberian penyuluhan dari
mahasiswa praktik kepada pasien
pindah ruang perawatan 0,2 2 0,4
3. Terdapat program supervisi di
ruangan.
4. Adanya kerjasama dengan instansi 0,1 4 0,4
pendidikan kesehatan sehingga
dapat memberikan masukan dalam
pelaksanaan supervisi. 0,1 2 0,2
5. Adanya kerjasama yang baik dengan
instansi kesehatan dalam 0,2 3 0,6
meningkatkan proses pengobatan.
6. Adanya peluang perawat untuk
meningkatkan pendidikan
(pengembangan SDM). 0,2 2 0,4

0,2 2 0,4

Total 1 2,4
Threat
1. Adanya tuntutan masyarakat yang 0,2 3 0,6
semakin tinggi terhadap peningkatan
pelayanan keperawatan yang lebih
professional
2. Kebebasan pers mengakibatkan
0,2 2 0,4
mudahnya penyebaran informasi di
dalam ruangan ke masyarakat
3. Adanya persaingan rumah sakit
0,2 2 0,4
yang menuntut pelayanan yang lebih
professional
4. Adanya tuntutan yang lebih tinggi
dari masyarakat untuk mendapatkan 0,2 2 0,4
pelayanan keperawatan yang
profesional.
5. Meningkatnya kesadaran
masyarakat tentang tanggung jawab
0,2 2 0,4
dan tanggung gugat perawat sebagai
pemberi asuhan keperawatan.
Total 1 2,2
4 M4 (Money)
a. Internal faktor (IFAS)
Strength
1. Biaya rawat inap lebih terjangkau. 0,3 3 0,9 S-W=
2. Merupakan satu-satunya rumah sakit 0,3 3 0,9 2,6 – 2 = 0,6
terakreditasi A dan berstandar
internasional di Provinsi Bali.
3. Pendanaan pelayanan kesehatan, 0,2 2 0,4
pemeriksaan, dan perawatan sudah
diatur secara sentral oleh rumah sakit.
4. Adanya pemberian jasa pelayanan 0,2 2 0,4
perawat.
Total 1 2,6
Weakness
1. Aliran pendanaan untuk ruang Nusa 1 2 2
Indah diatur oleh pusat sehingga
prosedur pengadaan fasilitas
membutuhkan waktu yang relatif
lama
Total 1 2
b. Eksternal faktor (EFAS)
Opportunity O–T=
1. Semakin meningkatnya kebutuhan 1 3 3 3–2=1
pelayanan kesehatan di masyarakat.
Total 1 3
Threats
1. Adanya keterlambatan pembayaran 1 2 2
dari pihak II
Total 1 2
5 M5 (Market)
a. Internal faktor (IFAS)
Streangth:
1. Tidak ditemukan kejadian perawat 0,2 2 0,4 S–W=
tertusuk jarum dan kejadian 2,6 –0= 2,6
dekubitus pada pasien selama 3 bulan
terakhir
2. Terdapat gelang untuk identias pasien
0,3 3 0,9
sebagai penerapan pasien safety
3. Terdapat kuisioner untuk mengkaji
0,3 3 0,9
tingkat kepuasan pasien atau keluarga
sebagai salah satu indicator mutu
pelayanan
4. Terdapat form pengkajian risiko jatuh
0,2 2 0,4
Total 1 2,6
Weakness:
0 0
- 1

Total 1 0
b. Eksternal faktor (EFAS) O–T=
Opportunity:
3–2=1
1. Adanya jaminan kesehatan yang
1 3 3
dibiayai total oleh pemerintah.
Total 1 3
Threatened
1. Adanya persaingan dengan rumah
1 2 2
sakit swasta
Total 1 2

D. Pengorganisasian
Dalam hal ini, kelompok menyelesaikan permasalahan yang dihadapi
Ruangan Nusa Indah dengan menyusun pengorganisasian/tim kerja selama
praktek manajemen keperawatan, serta berfungsi dalam menentukan
kebijakan-kebijakan internal kelompok seputar teknik pelaksanaan kegiatan
manajemen. Adapun susunan organisasi kelompok yaitu:
Ketua : Dewa Gede Sastra Ananta Wijaya (P07120214005)
Wakil Ketua : Ida Ayu Rika Kusumadewi (P07120214002)
Sekretaris : Ni Made Ayu Rahayuni (P07120214001)
Bendahara : Ni Putu Amelia Rosalita Dewi (P07120214003)
Anggota :
- Putu Yeni Yunitasari (P07120214004)
- Nyoman Wita Wihayati (P07120214006)
Selain itu, dalam pengelolaan ruang rawat dan pelaksanaan MAKP,
kelompok menyusun pengorganisasian dengan pembagian peran yaitu satu
orang sebagai Kepala Ruangan, satu orang sebagai Perawat primer dan
sisanya berperan sebagai Perawat pelaksana. Pelaksanaan/aplikasi peran
diatur setiap hari