Anda di halaman 1dari 43

Usulan Teknis

PENYUSUNAN PENDATAAN KEBUTUHAN DAN KETERSEDIAAN TANAH


UNTUK PEMBANGUNAN PERUMAHAN

(Tahun Anggaran 2017)

PT
DAFTAR ISI ............................................................................................................... I
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................................... III
DAFTAR TABEL ............................................................................................................ IV

BAGIAN A DATA ORGANISASI PERUSAHAAN ..................................................... A-1


A.1 Profil Perusahaan ....................................................................A-1
A.2 Data Umum Perusahaan ..........................................................A-1
A.3 Organisasi Perusahaan .............................................................A-1

BAGIAN B PENGALAMAN PERUSAHAAN ............................................................. B-1


B.1 Umum ....................................................................................B-1
B.2 Pengalaman Perusahaan ..........................................................B-1

BAGIAN C URAIAN PENGALAMAN PERUSAHAAN ............................................... C-3


C.1 Pengalaman Perusahaan Terkait Kegiatan .................................C-3
C.2 Uraian Pengalaman Perusahaan ................................................C-3

BAGIAN D TANGGAPAN DAN SARAN TERHADAP KERANGKA ACUAN KERJA


(KAK) .................................................................................................D-1
D.1 Tanggapan Dan Saran Terhadap Kegiatan ................................ D-1
D.2 Tanggapan dan Saran Terhadap Maksud, Dan Tujuan Kegiatan. D-2
D.3 Tanggapan dan Saran Terhadap Lingkup Kegiatan ................... D-2
D.4 Tanggapan dan Saran Terhadap Jangka Waktu Pelaksanaan ...... D-3

BAGIAN E PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA ........................ E-1


E.1 Kajian Kebijakan...................................................................... E-1
E.2 Kajian Literatur ....................................................................... E-3
E.2.1 Pengertian Kota ............................................................ E-3
E.2.2 Pengertian Perumahan dan Permukiman ......................... E-4
E.2.3 Faktor Pertimbangan dan Persyaratan Umum dalam
Pemilihan Lokasi Perumahan .......................................... E-5
E.2.4 Persyaratan Umum Lokasi Perumahan dan Permukiman ... E-9
E.2.5 Geographic Information System dalam Penentuan Lokasi
Permukiman ................................................................. E-9
E.2.6 Pengertian Drone ........................................................ E-12
E.3 Garis Besar Metodologi Pelaksanaan Kegiatan .......................... E-13
E.3.1 Persiapan ................................................................... E-15

DAFTAR ISI i
E.3.2 Tahap Pelaksanaan Pengumpulan Data Lapangan.......... E-16
E.3.3 Tahap Analisis ............................................................ E-17
E.3.3.1 Tahap Laporan Akhir ...................................... E-18
E.4 Program Kerja ....................................................................... E-18

BAGIAN F JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN ................................................. F-1


F.1 Jadwal Keseluruhan Kegiatan ................................................... F-1
F.2 Rencana Jadwal Berdasarkan Kegiatan ...................................... F-1
F.3 Sistem Pelaporan..................................................................... F-2

BAGIAN G KOMPOSISI TIM DAN PENUGASAN ................................................... G-1


G.1 Struktur Organisasi Tim .......................................................... G-1
G.2 Komposisi Tim ........................................................................ G-2

DAFTAR ISI ii
Gambar A-1 Struktur Organisaasi Perusahaan PT. ..................................................A-2
Gambar E-1 Bagan Alir Metodologi Pelaksanaan Kegiatan ..................................... E-14
Gambar G-1 Struktur Organisasi Pelaksanaan Kegiatan ......................................... G-2

DAFTAR GAMBAR iii


Tabel B.1 Pengalaman Perusahaan .....................................................................B-2
Tabel C.1 Uraian Pengalaman Perusahaan PT .....................................................C-4
Tabel F.1 Rencana Jadwal Pelaksanaan Kegiatan ................................................ F-1
Tabel G.1 Komposisi Tim dan Uraian Tugas ........................................................ G-3

DAFTAR TABEL iv
BAGIAN A

A.1 Profil Perusahaan

A.2 Data Umum Perusahaan

A.3 Organisasi Perusahaan

DATA ORGANISASI PERUSAHAAN A-1


Gambar A-1 Struktur Organisaasi Perusahaan PT.

DATA ORGANISASI PERUSAHAAN A-2


BAGIAN B

B.1 Umum
PT. ........ telah berhasil menangani berbagai paket pekerjaan layanan jasa konsultansi
dengan bermacam bidang kegiatan, baik yang dibiayai oleh Pemerintah Indonesia,
BUMN, Lembaga Keuangan Internasional, maupun Swasta. Dalam proposal ini,
dilampirkan pula daftar pengalaman perusahaan dalam menangani pekerjaan-
pekerjaan sejenis dan atau yang berkaitan dengan pekerjaan ini selama kurun waktu
10 tahun terakhir.

B.2 Pengalaman Perusahaan


Pengalaman kerja PT ......... selama 10 (sepuluh) tahun terakhir pada bidang
Pendataan Kebutuhan Dan Ketersediaan Tanah Untuk Pembangunan Perumahan dan
pengalaman sejenis selama 10 (sepuluh) tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 1.2
dan Tabel 1.3.

PENGALAMAN PERUSAHAAN B-1


Tabel B.1 Pengalaman Perusahaan

PENGALAMAN PERUSAHAAN B-2


BAGIAN C

C.1 Pengalaman Perusahaan Terkait Kegiatan


Pengalaman perusahaan PT............. terkait dengan kegiatan Pendataan Kebutuhan
Dan Ketersediaan Tanah Untuk Pembangunan Perumahan diantaranya adalah sebagai
berikut:
1) ......
2) ......
3) .......
4) .....

C.2 Uraian Pengalaman Perusahaan


Dalam proposal ini, dilampirkan pula daftar uraian pengalaman perusahaan
dalam menangani pekerjaan-pekerjaan sejenis dan atau yang berkaitan dengan
pekerjaan ini selama kurun waktu 10 tahun terakhir. Sedangkan sebagai bukti
bahwa PT...... benar-benar telah melaksanakan pekerjaan-pekerjaan tersebut
dapat dilihat pada lampiran yakni dalam bentuk dokumen pendukung (copy
kontrak).

URAIAN PENGALAMAN PERUSAHAAN C-3


Tabel C.1 Uraian Pengalaman Perusahaan PT ..........

1. Pengguna Jasa : ........


2. Nama Paket Pekerjaan : ......
3. Lingkup Produk Utama : .....
4. Lokai Proyek : .....
5. Nilai Kontrak : .....
6. No. Kontrak : .........
7. Waktu Pelaksanaan : ......
8. Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada) : -
Alamat : -
Negara Asal : -
9. Jumlah Tenaga Ahli : Tenaga Ahli Asing ... OB
Tenaga Ahli Indonesia 36 OB
10. Perusahaan Mitra Kerja Jumlah Tenaga Ahli
Asing Indonesia
a. (……………………….) ....... OB ....... OB

Tenaga ahli tetap yang terlibat :


Posisi Keahlian Jumlah OB
a. Ahli Manajemen Angkutan Umum Transportasi 6
b. Ahli Perencanaan Transportasi Transportasi 6
c. Ahli Arsitek Arsitek 6
d. Ahli Manajemen Transportasi Transportasi 6
e. Ahli Planologi Perencanaan Wilayah 6
f. Ahli Lalu Lintas Transportasi 6

URAIAN PENGALAMAN PERUSAHAAN C-4


BAGIAN D

Secara umum penjelasan dari kerangka acuan kerja (KAK) pekerjaan Pendataan
Kebutuhan Dan Ketersediaan Tanah Untuk Pembangunan Perumahan sudah cukup
jelas. Hal ini tercermin dari kedalaman pembahasan mengenai maksud dan tujuan,
kriteria dan ruang lingkup pekerjaan, dan sistem pelaksanaan. Berdasarkan hal ini,
hasil akhir yang diinginkan dari kegiatan Pendataan Kebutuhan Dan Ketersediaan
Tanah Untuk Pembangunan Perumahan tersebut dapat dimengerti dengan baik
sehingga kemungkinan kesalahan dalam menafsirkan hasil yang ingin dicapai dari
pemberi tugas dapat diminimalkan.

D.1 Tanggapan Dan Saran Terhadap Kegiatan


Kota-kota di Indonesia masih menghadapi masalah utama terkait penyediaan
perumahan bagi warganya. Kebutuhan akan perumahan jauh lebih tinggi dari
ketersediaan yang ada. Badan Pusat Statistik mencatat besarnya kebutuhan rumah
pada tahun 2010 mencapai 13 juta unit (Kompas, 18 Des 2011). Jika dihitung setiap
tahunnya dibutuhkan rumah sebanyak 700 ribu unit pertahun padahal kemampuan
penyediaan rumah hanya bisa mencapai 200-500 ribu unit pertahun (Kompas, 28
Maret 2011). Real Estate Indonesia menyebutkan bahwa kebutuhan rumah di
Indonesia mencapai angka 2,6 juta pertahun, suatu jumlah yang sangat besar.
Kebutuhan jumlah rumah sebanyak itu diakibatkan kebutuhan alami karena
pertumbuhan penduduk, kondisi rumah tidak layak yang ada saat ini dan backlog
perumahan yang terakumulasi dari dulu hingga sekarang. Rumah yang dibutuhkan
tersebar di seluruh Indonesia, sebagian besar kebutuhan berada di kawasan perkotaan
terutama adalah rumah bagi Masyarakat Menengah ke Bawah atau Masyarakat
Berpenghasilan Rendah (MBR). Mengapa begitu sulit membangun perumahan di
perkotaan khususnya perumahan bagi MBR? Salah satu fakor penghambat utama
adalah masalah lahan. Lahan yang terbatas menyebabkan ketidakseimbangan supply

TANGGAPAN DAN SARAN TERHADAP KAK D-1


dan demand sehingga menyebabkan harga tanah menjadi mahal. Harga tanah yang
mahal tidak menjadi masalah jika produk yang dihasilkan adalah rumah bagi
masyarakat mampu, tapi akan menjadi masalah jika produk yang dihasilkan adalah
rumah murah bagi MBR.

D.2 Tanggapan dan Saran Terhadap Maksud, Dan Tujuan Kegiatan


Penyusunan Pendataan Kebutuhan Dan Ketersediaan Tanah Untuk Pembangunan
Perumahan ini dimaksudkan untuk melakukan pendataan ketersediaan tanah untuk
memenuhi kebutuhan tanah untuk pembangunan perumahan, Maksud ini dapat
dipahami dengan baik oleh konsultan. Dengan keberadaan data ketersediaan tanah di
setiap perkotaan maka akan membantu memudahkan dalam proses penyediaan
perumahan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Tujuan Penyusunan Pendataan Kebutuhan Dan Ketersediaan Tanah Untuk


Pembangunan Perumahan adalah
1) Memproyeksikan kebutuhan tanah untuk perumahan;
2) Mengidentifikasi secara akurat ketersediaan tanah untuk pembangunan
perumahan;
3) Memberikan rekomendasi skenario penyediaan perumahan;
4) Tersedianya data base mengenai tanah yang akurat untuk pembangunan
perumahan, terutama untuk mendukung kawasan strategis.

Maksud dan tujuan yang termuat dalam KAK sudah sangat jelas dan dapat dipahami
konsultan dengan baik. Dengan memahami maksud dan tujuan tersebut diharapkan
apa yang akan dihasilkan oleh konsultan dalam kegiatan ini dapat sesuai dengan
pemberi kerjaan dan dapat bermanfaat bagi pihak terkait dengan kegiatan ini.

D.3 Tanggapan dan Saran Terhadap Lingkup Kegiatan


Lingkup kegiatan seperti yang termuat di dalam Kerangka Acuan Kerja yang ada
harus dilaksanakan oleh konsultan mencakup beberapa bagian pekerjaan yang
sudah dirinci tahapan pelaksanaannya, dan setelah dipelajari dan diamati dengan
sebaik ‐ baiknya maka konsultan berpendapat bahwa lingkup pekerjaan sudah cukup
jelas dan mudah dipahami oleh Konsultan.

TANGGAPAN DAN SARAN TERHADAP KAK D-2


D.4 Tanggapan dan Saran Terhadap Jangka Waktu Pelaksanaan
Konsultan berpendapat bahwa jangka waktu pelaksanaan pekerjaan yang disediakan
selama 240 (dua ratus empat puluh) hari kalender atau selama 6 bulan
mencukupi untuk menyelesaikan pekerjaan ini dengan sebaik ‐ baiknya.
Konsultan sanggup menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan jangka waktu yang te
lah ditentukan tersebut dengan bantuan dari Direksi Pekerjaan dan Instansi terkait
lainnya.

TANGGAPAN DAN SARAN TERHADAP KAK D-3


BAGIAN E

E.1 Kajian Kebijakan


Kebijakan yang mengatur tentang perumahan dan permukiman diatur dalam
perundangan sebagai berikut :

1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Kawasan


Permukiman. Undang undang ini dibuat untuk menggantikan Undang-undang no 4
tahun 1992 yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan kebutuhan
perumahan dan permukiman yang layak dan terjangkau dalam lingkungan yang
sehat, aman, serasi, dan teratur. Negara bertanggung jawab dalam menyediakan
dan memberikan kemudahan perolehan rumah bagi masyarakat melalui
penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman serta keswadayaan
masyarakat. Penyediaan dan kemudahan perolehan rumah tersebut merupakan
satu kesatuan fungsional dalam wujud tata ruang, kehidupan ekonomi, dan sosial
budaya yang mampu menjamin kelestarian lingkungan hidup sejalan dengan
semangat demokrasi, otonomi daerah, dan keterbukaan dalam tatanan kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

2. Undang Undang Nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka


Panjang Nasional (RPJN). Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional
(disingkat RPJP Nasional), adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional
untuk periode 20 (dua puluh) tahun. RPJP Nasional untuk tahun 2005 sampai
dengan 2025 diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007. Pelaksanaan
RPJP Nasional 2005-2025 terbagi dalam tahap-tahap perencanaan pembangunan
dalam periodisasi perencanaan pembangunan jangka menengah nasional 5 (lima)
tahunan. Dalam RPJN ke-3 (2015-2019) diharapkan pemenuhan kebutuhan hunian
yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana pendukung bagi seluruh masyarakat
terus meningkat karena didukung oleh sistem pembiayaan perumahan jangka

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA E-1


panjang dan berkelanjutan, efisien, dan akuntabel. Kondisi itu semakin mendorong
terwujudnya kota tanpa permukiman kumuh.

3. Peraturan Presiden Nomor 2 tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka


Menengah Nasional Tahun 2015 – 2019. Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 19
ayat (1) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional, dipandang perlu menetapkan Peraturan Presiden tentang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015 - 2019. Dengan
tujuan meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional
maka pembangunan perumahan dan kawasan permukiman merupakan salah satu
prioritas.

4. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2015 tentang Organisasi Kementerian Negara


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 8). Organisasi
Kementerian Negara Indonesia adalah organisasi Kementerian Negara Republik
Indonesia yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2015 tentang
Organisasi Kementerian Negara. Organisasi Kementerian Negara ditetapkan dalam
rangka mendukung pelaksanaan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang
Kementerian Negara. Dalam Peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2015 Kementerian
Negara dikelompokan menjadi empat kelompok yakni : Kementerian Kelompok I;
Kementerian Kelompok II; Kementerian Kelompok III; dan Kementerian
Koordianator.

5. Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2015 tentang Kementerian Pekerjaan Umum


dan Perumahan Rakyat. Dalam pasal 3 dalam peraturan presiden ini dijelaskan
bahwa tugas Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakya adalah
perumusan, penetapan dan pelaksanaan kebijakan dalam penyelenggaraan
perumahan dan pengembangan kawasan permukiman.
6. Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2015 tentang Rencana Kerja Pemerintah
Tahun 2016. Sesuai dengan perpres tersebut penurunan angka kekurangan rumah
menjadi tantangan bagi pemerintah dalam pembangunan nasional, dimana
kebutuhan rumah baru di Indonesia sekitar 800.000 unit pertahunnya.

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA E-2


E.2 Kajian Literatur
E.2.1 Pengertian Kota
Istilah perkotaan adalah istilah yang digunakan untuk menunjukan area tertentu yang
berasosiasi dengan kewenangan pengaturan wilayah oleh pemerintah kota. Daerah
perkotaan adalah daerah yang dibatasi oleh batas- batas yuridis administratif yang
berada dalam suatu kewenangan pemerintah kota. Konsekwensi spasialnya adalah
apapun bentuk dan ekspresi keruangan yang ada di dalam batas-batas administratif
yang telah ditetapkan sebagai perkotaan tersebut adalah daerah perkotaan. Atau
dengan kata lain dapat diungkapkan walaupun beberapa bagian wilayah pemerintah
kota tersebut masih berupa daerah kedesaan atau bersifat kedesaan dalam arti fisik,
sosial, ekonomi, maupun kutural apabila berada dalam batas yuridis administrasi
pemerintah kota merupakan daerah perkotaan (Hadi Sabari Yunus, 2006).

Kota didefinisikan sebagai sebuah permukiman yang relatif besar, padat, dan
permanen yang terdiri dari kelompok individu–individu yang heterogen dari segi sosial,
sedangkan kota dalam arti modern terbentuk bukan dari segiciri morfologis tertentu
melainkan dari fungsi khususnya, yaitu menyusun dan menciptakan ruang-ruang
efektif melalui pengorganisasian berdasarkan hierarki–hierarki tertentu (Rapoport
dalam Markus, 1999: 5). Kota secara umum dapat didefinisikan sebagai tempat
tinggal dan tempat bekerja bagi sebagian penduduk dunia, tempat yang dapat
memberikan peluang dan harapan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi
sekelompok orang, dan tempat yang menarik penduduk dari pinggiran kota dari waktu
ke waktu (Wilsher dalam Branch, 1996:7).

Dalam konteks pemerintah daerah yang dilaksanakan di Indonesia terdapat dua


macam kota:

1) Kota Ibukota Kabupaten


Pada umumnya suatu Kota Ibukota Kabupaten itu terencana dan hampir seimbang
dengan metropolitan karena hampir semua aspek kehidupan dan fungsinya relatif
sama. Perbedaannya dalam hal kemampuan dan kualitas dari sektor yang ada.
Sektor yang ada masih tergantung dengan daerah hinterland .

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA E-3


2) Kota Ibukota Kecamatan
Kota Ibukota Kecamatan merupakan suatu kota yang baru berkembang dan
tergantung pada potensi dan kehidupan perkotaan yang mendukung pertumbuhan
dan perkembangannya sebagai suatu perubahan struktur kehidupan masyarakat
dari agraris ke nonagraris dengan diawali perkembangan pada sektor perdagangan
yang didukung sektor agraris dari hinterland . Tumbuh dan berkembangnya suatu
kota kecamatan selain didukung oleh potensi yang terdapat di kota tersebut juga
lokasi kota yang menguntungkan.

E.2.2 Pengertian Perumahan dan Permukiman


Menurut Undang Undang No.4 Tahun 1992 pengertian rumah, perumahan dan
permukiman adalah sebagai berikut:
1) Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan
sarana pembinaan keluarga
2) Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat
tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana
lingkungan.
3) Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik
yang berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai
lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang
mendukung perikehidupan dan penghidupan.
4) Satuan lingkungan permukiman adalah kawasan perumahan dalam berbagai
bentuk dan ukuran dengan penataan tanah dan ruang prasarana dan sarana
lingkungan yang teratur.

Sedangkan menurut Silas (1996: 6) rumah adalah bagian yang utuh dari permukiman
dan bukan semata – mata hasil fisik yang sekali jadi. Perumahan bukan kata benda
melainkan merupakan suatu kata kerja yang berupa proses berlanjut dan terkait
dengan mobilitas sosial ekonomi penghuninya. Bermukim pada hakikatnya adalah
hidup bersama, dan untuk itu fungsi rumah dalam kehidupan adalah sebagai tempat
tinggal dalam suatu lingkungan yang mempunyai prasarana dan sarana yang
diperlukan oleh manusia dalam memasyarakatkan diri. Rumah merupakan suatu gejala
struktural yang bentuk dan organisasinya sangat dipengaruhi oleh lingkungan budaya
yang dimilikinya, serta erat hubunganya dengan kehidupan penghuninya (Rapoport,

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA E-4


1969:77) makna simbolisme dan fungsi akan mencerminkan status penghuninya,
manusiasebagai penghuni, rumah, budaya serta lingkunganya merupakan satu
kesatuan yang erat (Rapoport, 1969:47), sehingga rumah sebagai lingkungan binaan
merupakan refleksi dari kekuatan sosial budaya seperti kepercayaan, hubungan
keluarga, organisasi sosial serta interaksi sosial antar individu. Hubungan penghuni
dengan rumahnya merupakan hubungan saling ketergantungan (transactionalinterd
ependency), yaitu manusia mempengaruhi rumah dan sebaliknya rumah
mempengaruhi penghuninya. Rumah bukan hanya sebagai sarana kehidupan semata,
tetapi lebih merupakan suatu proses bermukim, yaitu kehadiran manusia sebagai
penghuni dalam menciptakan ruang hidup dalam rumah dan lingkungan sekitarnya.
Nilai-nilai seutuhnya menempati tempat yang utama dalam proses perancangan
rumah, sehingga perilaku penghuni, keinginan serta kebutuhan penghuni merupakan
hal yang sangat menentukan kualitas dan bentuk rumah serta lingkunganya (Fischer
Bell, 1976 dalam Trilistyo, 1998:12).

Kebutuhan perumahan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk. Jenis


kebutuhan akan perumahan dapat dilihat dari jenis permintaannya, antar lain :

1) Permintaan Potensial, yaitu semata-mata meninjau permintaan berdasarkan jumlah


penduduk yang memerlukan rumah tanpa memperhatikan kemampuan untuk
mendapatkannya.
2) Permintaan efektif, yaitu besarnya permintaan potensial yang diikuti dengan
peninjauan afoordability penduduk terhadap pemenuhan kebutuhan rumahnya,
yang tercermin dalam alokasi pendapatan di sektor perumahan.

E.2.3 Faktor Pertimbangan dan Persyaratan Umum dalam Pemilihan Lokasi


Perumahan
Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan dalam Pemilihan Lokasi Perumahan
adalah sebagai berikut:
1) Aksesibilitas
Transportasi menuju tempat kerja, pusat kota, pusat perbelanjaan, sekolah, tempat
ibadah, dan tempat rekreasi merupakan pertimbangan utama dalam menentukan
pemilihan serta pengembangan lokasi perumahan. Lokasi perumahan harus

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA E-5


mempertimbangkan aksesibilitas lokal maupun regional. Aksesibilitas lokasi
permukiman harus dievalusi terhadap lokasi tempat kerja dan pusat perdagangan,
atau pada masa yang lalu sering diartikan sebagai jarak lokasi perumahan menuju
ke pusat kota. Perumahan harus aksesibel terhadap jalan lingkungan maupun jalan
arteri. Pengembangan lokasi perumahan yang memiliki akses terbatas harus
diimbangi dengan investasi untuk pengembangan jalan menunju lokasi perumahan
tersebut.

2) Penggunaan Lahan
a. Penggunaan Historis
Contoh tujuan dari penggunaan lahan historis yaitu untuk mengetahui apakah
di masa yang lalu lokasi perumahan terkontaminasi terhadap bahan kimia
berbahaya sehingga pembangunan lokasi perumahan dapat
dipertanggungjawabkan. Guna mempertanggungkjawabkan pembangunan
suatu lokasi perumahan maka dapat dilakukan investigasi lokasi secara
mendalam terhadap lokasi dan sekitarnya sebelum lokasi tersebut dibeli
lahannya untuk dibangun menjadi perumahan baru.
Usaha dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan survey terhadap
penggunaan historis harus proporsional dengan level resiko. Apabila dalam
sejarahnya suatu lokasi digunakan untuk pertanian maka survey yang dilakukan
hanya sepintas saja. Berbeda apabila dalam sejarahnya suatu lokasi digunakan
untuk aktivitas industri, diperlukan penelitian dan tes terhadap lahan untuk
menentukan kemungkinan kontaminasi lahan. Pengembang lokasi perumahan
harus sadar bahwa tak semua aktivitas historis suatu lokasi merupakan hal
yang negatif bagi pengembangan perumahan.

b. Penggunaan Saat Ini


Pengembangan suatu lokasi perumahan juga harus memperhatikan
penggunaan lahan eksisting. Pengembangan lokasi diatas lahan yang tak
berkonflik akan menaikan pemasukan (bagi developer). Penggunaan lahan
eksisting dimana dalam pengembangan lokasi perumahan membutuhkan
relokasi, meningkatkan kerusakan lingkungan, serta menurunkan estetika
kawasan menyebabkan penurunan kemanfaatan pengembangan lokasi
perumahan.

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA E-6


c. Penggunaan Sekitar
Pengembangan lokasi perumahan kebanyakan menginginkan lokasi yang
berdekatan dengan open space dan fasilitas komunal misalnya taman, area
rekreasi, museum, dan perpustakaan.
d. Penggunaan Bermasalah
Penggunaan lahan utama yang mungkin bermasalah dengan pengembangan
perumahan baru antara lain : rel kereta api, dekat dengan pengembangan area
komersial, kawasan yang penggunaannya sebagai industrial berbahaya,
lingkungan yang buruk, pengembangan part -lokasi perumahan yang buruk,
kawasan bandara, jalan tol yang memiliki kemacetan dan arus yang tinggi, dan
lokasi-lokasi yang memiliki kebisingan tinggi. Dalam pengembangannya,
perumahan juga harus mempertimbangkan apakah lokasinya terlalu dekat
dengan lahan bermasalah. Kedekatan dengan tangki penyimpanan gas, minyak,
dan material flammable (mudah terbakar) lainnya harus dihindari. Selain itu
lokasi perumahan juga harus menghindari kawasan rawan banjir dan gempa
bumi. Secara umum kecocokan lokasi untuk dijadikan perumahan dapat diukur
melalui tingkat peningkatan arus lalu lintas, kebisingan, polusi, dan disharmoni
visual yang menyebabkan degradasi lingkungan perumahan.

3) Bentuk Permukaan
Bumi Pengembangan optimal suatu lokasi tergantung dari pengembangan yang
dijalankan serta besarnya ukuran pasar. Bentuk fisik suatu lokasi mempengaruhi
tipe produk (rumah) yang dihasilkan, susunan rumah, dan fungsi pendukung.
Pilihan desain bertambah benyak seiring dengan cepatnya peningkatan luas.

4) Karakter Fisik
Karakter fisik merupakan faktor yang peling memepengaruhi dalam pemilihan
lokasi perumahan. Faktanya, pengembangan lokasi perumahan memperhatikan
kemiringan lahan, jenis tanah, geologi, hidrologi, dan keterbatasan fisik lain.

5) Utilitas dan Layanan Umum


a. Air
Suatu lokasi perumahan harus terhubung dengan sistem suplai air publik.
Koneksi air juga harus memperhatikan penggunaan air bagi fungsi lain.

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA E-7


Semakin banyak rumah yang dibangun maka semakin banyak suplai air yang
dibutuhkan. Air juga digunakan untuk irigasi dan pemadam kebakaran.
b. Pembuangan Saluran
pembuangan merupakan alternatif terbaik untuk sistem pembuangan dalam
suatu lokasi perumahan. Terdapat dua solusi dalam sistem pembuangan :
secara pribadi maupun komunal. Apabila secara komunal tak mungkin
dilakukan maka harus dikembangkan sistem pembuangan pribadi (sistem
pembuangan skala kecil)
c. Sampah Padat
Pengelolaan sampah padat ditangani oleh agensi tertentu yang bertugas
mengambil sampah padat. Pengambilan tersebut sebisa mungkin tidak
terlambat atau tertunda. Pengambilan sampah menggunakan pembayaran
berupa taksiran pajak yang mungkin digunakan dalam pembangunan
perumahan di masa yang akan datang baik secara individual maupun lewat
asosiasi penghuni.
d. Listrik dan Gas
Layanan listrik dan gas biasanya dipegang oleh perusahaan di daerah masing-
masing. Dalam pengembangan perumahan baru sebaiknya developer
bekerjasaman dengan perusahaan penyedia listrik dan gas untuk mensuplai
kebutuhan perumahan tersebut.
e. Layanan Keamanan
Layanan keamanan termasuk keberadaan polisi dan pemadam kebakaran yang
mana sebagian besar sudah tersedia di dalam mayarakat. Pengembangan
lokasi perumahan harus memasukan kantor polisi dalam daerah
pembangunannya. Pengembangan lokasi perumahan yang lebih besar bahkan
harus menambahkan kantor polisi dan pemadam kebakaran baru dalam
perencanaannya.
f. Sistem Komunikasi
Semua lokasi perumahan baru harus terlayani oleh jaringan telefon, dan di
metropolitan area perumahan harus dilengkapi dengan TV kabel.
g. Pendidikan
Pengembangan lokasi perumahan baru harus memperhatikan
keterjangkauannnya terhadap akses pendidikan (sekolah) yang ada. Idealnya,
sekolah dasar dapat dicapai dengan jalan kaki dari lokasi perumahan.

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA E-8


E.2.4 Persyaratan Umum Lokasi Perumahan dan Permukiman
Berdasarkan Tata cara pemilihan lokasi prioritas untuk pengembangan perumahan dan
permukiman di kawasan perkotaan (Badan Litbang DPU) disebutkan bahwa lokasi
kawasan perumahan harus sesuai dengan rencana peruntukan lahan yang diatur
dalam Rencana Tata Ruang Wilayah setempat atau dokumen perencanaan tata ruang
lainnya yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah setempat, atau memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
1) Tidak berada pada kawasan lindung,
2) Bebas dari pencemaran air, udara, dan gangguan suara atau gangguan lainnya,
baik yang ditimbulkan sumber daya buatan manusia maupun sumber daya alam
seperti banjir, tanah longsor, tsunami,
3) Ketinggian lahan kurang dari 1.000 meter di atas permukaan air laut (MDPL),
4) Kemiringan lahan tidak melebihi 15 %, dengan ketentuan:
- Tanpa rekayasa untuk kawasan yang terletak pada lahan bermorfologi
datarlandai dengan kemiringan 0-8%,
- Diperlukan rekayasa teknis untuk lahan dengan kemiringan 8- 15%.
5) Pada kota-kota yang mempunyai bandar udara, tidak menggangu jalur
penerbangan pesawat,
6) Kondisi sarana-prasarana memadai,
7) Dekat dengan pusat-pusat kegiatan dan pelayanan kota,
8) Bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, keterkaitan antara lokasi
perumahan dengan pusat-pusat kegiatan (tempat kerja) dan pelayanan kota akan
mempunyai implikasi ekonomi. Jarak yang relatif jauh akan berpengaruh banyak
terhadap pengeluaran biaya transport dibandingkan seluruh pengeluaran rutin
keluarga. Hal ini akan menimbulkan tambahan beban terhadap penghuninya,
sehingga mempengaruhi kemampuannya untuk mengalokasikan sebagian
penghasilannya untuk perumahan.

E.2.5 Geographic Information System dalam Penentuan Lokasi Permukiman


Geographic Information System dirancang untuk memadukan komputerisasi pemetaan
tingkat tinggi, dengan kemampuan pengelolaan database secara luas (Catanase,
Snyder, 1988 : 153). Semua data yang dianalisis sebagian besar berupa data spasial
dalam bentuk peta tematik. Untuk itu dalam lanjutan analisis data dilakukan dengan

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA E-9


menggunakan tools Geographic Information System dalam bentuk analisis tumpang-
susun ( overl ay ). Selanjutya dalam studi ini tumpangsusun disebut sebagai overlay .
Analisis overlay dilakukan dengan melakukan pengharkatan atau pembobotan
berdasarkan kriteria yang disyaratkan secara teoritis, menyangkut analisis penentuan
lokasi perumahan. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan peta, beberapa hal
terkait SIG dalam menentukan lokasi perumahan antara lain :

1) Pengertian Peta Tematik


Peta Tematik adalah peta yang mempelihatkan data secara kualitatif dan atau
kuantitatif pada unsur-unsur yang spesifik. Unsur-unsur tersebut ada hubungannya
dengan detail-detail topografi (T. Lukman Aziz dan Ridwan Rachman, 1977). Tema
tersebut disajikan dalam bermacam- macam bentuk yang berhubungan dengan
unsur asli dari muka bumi atau unsur-unsur buatan manusia. Peta tematik kadang-
kadang juga memperlihatkan situasi atau keadaan sebenarnya. Jenis Informasi
Geospasial Tematik terdiri dari peta tematik dasar, peta tematik analisis, dan peta
tematik sintesis.
a. Peta Tematik Dasar adalah peta yang berisi satu tema tertentu yang
menyajikan informasi dasar muka bumi, baik fisik maupun hasil budidaya
manusia, serta merupakan fenomena muka bumi tunggal. Data untuk
penyusunan peta tematik dasar dapat diperoleh dari hasil survey lapangan,
interpretasi citra penginderaan jauh, dan data statistik. Peta tematik dasar
bersifat terbuka dan dibuat oleh instansi pemerintah yang mempunyai otoritas
pada tema tersebut.
b. Peta Tematik Analisis adalah peta yang berisi suatu tema tertentu hasil dari
proses analisis dan transformasi dari suatu peta tematik dasar
c. Peta Tematik Sintesis adalah peta yang berisi suatu tema tertentu hasil proses
sintesis (penggabungan) dari peta tematik dasar, dan atau peta tematik
analisis. Satuan pemetaan baru pada peta tematik sintesis diperoleh dari
penggabungan dua atau lebih peta masukan (Sukwardjono, 1990; Sinaga,
1986).
informasi yang memuat batas wilayah yang menunjukkan hak dan/atau kewajiban
pihak tertentu di dalam wilayah yang ditentukan oleh batas tersebut. Misalnya peta
yang menggambarkan izin pertambangan atau pengelolaan hutan yang dikeluarkan
instansi terkait. Pada setiap peta Rupa Bumi Indonesia (RBI), gambar garis batas

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA E-10


selalu diberi disclaimer (“Peta ini bukan merupakan referensi resmi batas-batas
internasional maupun nasional”). Banyak orang sering tidak membaca disclaimer
ini, dan peta RBI menjadi awal dari persengketaan antar daerah. Pengguna peta
tentunya menginginkan agar disclaimer ini dihapus, dengan cara semua garis batas
yang digambar di atas peta diberi kejelasan status hukumnya, dan ini mendorong
agar semakin banyak data batas wilayah yang telah memiliki kepastian hokum.

2) Digitasi Peta, Check Plot , dan Editing


Digitasi dilakukan untuk memperoleh data digital dari data sekunder yang berupa
peta manual (hardcopy). Dalam pelaksanaan digitasi peta untuk memperoleh data
digital dilakukan dengan metode sebagai berikut:
 Metode Digitasi
Digitasi pada dasarnya adalah memindahkan data/informasi yang ada pada
peta manual menjadi suatu peta digital. Ada dua metode yang dikenal dalam
metode digitasi on screen dilakukan dengan cara:
- Peta manual sekunder di- scan sehingga menjadi gambar (image) dengan
resolusi yang cukup untuk keperluan digitasi, data hasil scanning disimpan
dalam format yang dapat dibaca oleh perangkat lunak untuk digitasi
(*.JPG),
- Proses digitasi dilakukan dengan perangkat lunak Geographic Information
System dengan cara meng import data image kemudian dilakukan digitasi
unsur-unsur image yang ada dengan mengelompokkannya ke dalam layer.
 Check Plot
ceckplot dilakukan untuk memeriksa kebenaran hasil digitasi. Pemeriksaan
kebenaran ini dilakukan dengan membandingkan peta asli ( hardcopy ) dengan
hasil cetak peta digitasi
 Editing Peta
Maksud editing adalah memeriksa kelengkapan peta hasil digitasi atas dasar
peta sumber yang digunakan serta kesinambungan unsur peta yang
bersebelahan. Tindak lanjut dari pemeriksaan tersebut adalah melengkapi
unsur yang belum didigitasi, membetulkan hasil digitasi yang tidak sempurna
dan mendigitasi ulang unsur-unsur yang posisinya bergeser dari posisi unsur
yang seharusnya.

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA E-11


3) Kemampuan, Fungsi Analisis Spasial, dan Fungsi Analisis Atribut dalam Geographic
Information System, Kemampuan-kemampuan yang dapat dilakukan menggunakan
Kemampuan Geographic Information System antara lain :
 Mengumpulkan dan mengumpulkan data geografi (spasial dan atribut).
 Mengintegrasikan data geografi (spasial dan atribut).
 Memeriksa, meng- update (meng- edit ) data geografi (spasial dan atribut).
 Menyimpan dan memanggil kembali data geografi (spasial dan atribut).
 Merepresentasikan atau menampilkan data geografi (spasial dan atribut).
 Mengelola data geografi (spasial dan atribut).
 Memanipulasi data geografi (spasial dan atribut).
 Menganalisa data geografi (spasial dan atribut).
 Menghasilkan keluaran ( output ) data geografi dalam bentuk- bentuk ; peta
tematik ( view dan layout ), tabel, grafik ( chat ), laporan ( report ), dan lainnya
baik dalam bentuk hardcopy maupun softcopy.

E.2.6 Pengertian Drone


Pengertian Drone Drone atau pesawat tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle atau
disingkat UAV) adalah sebuah mesin terbang yang berfungsi dengan kendali jarak jauh
oleh pilot seperti gambar 2.1. Drone mampu mengendalikan dirinya sendiri,
menggunakan hukum aerodinamika untuk mengangkat dirinya, bisa digunakan kembali
dan mampu membawa muatan baik senjata maupun muatan lainnya. Dahulu mungkin
orang mengenal drone atau pesawat tanpa awak digunakan oleh militer untuk
memata-matai musuh di
daerah konflik. Cara kerja
drone sederhana ini tidak
sepenuhnya berhasil.
Beberapa balon mengenai
sasaran, tetapi adapula yang
terjebak angin dan berubah
arah.

Saat ini, selain digunakan untuk militer, drone sudah mulai dikembangkan untuk misi
pencarian dan penyelamatan. Tentunya cara kerja drone disesuaikan dengan fungsi

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA E-12


dan tujuan penggunaanya. Sampai saat ini, drone memiliki banyak fungsi dalam
berbagai layanan, seperti:

 Melihat Luas lahan dan kontur yang ada sehingga memudahkan dalam
perencanaan pembangunan lahan tersebut.
 Membantu pemerintah dalam membuat tata kota yang lebih teratur.
 Mengetahui luas lahan yang terbakar dalam kebakaran hutan
 Menciptakan peta tambang 3 dimensi yang telah digarap dalam bidang
pertambangan

Kegunaan-kegunaan tersebut tak terlepas dari pemanfaatan UAV yang lebih ekonomis
dan dapat dibekali dengan kamera-kamera yang dapat memberikan gambaran secara
nyata terhadap suatu area. Bahkan data dari kamera tersebut bisa langsung ditransfer
kepengguna baik melalui video maupun gambar-gambar foto.

E.3 Garis Besar Metodologi Pelaksanaan Kegiatan

Penyediaan tempat hunian untuk masyarakat dapat berupa Rumah tapak atau rumah
susun, juga perlu diperhatikan kawasan-kawasan disekitar perbatasan, kawasan pantai
yang merupakan masyarakat nelayan, masyrakat pertanian dan sebagainya. Untuk
memenuhi ketersediaan hunian perumahan tersebut Pemerintah dan Pemerintah
daerah mengalami kesulitan dalam hal penyediaan tanah untuk perumahan. Untuk itu
pemerintah telah mendukung ketercapaian program tersebut dengan regulasi sesuai
yang tertuang dalam Undang Undang Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah
Untuk Kepentingan Umum.

Garis besar metodologi kegiatan Pendataan Kebutuhan Dan Ketersediaan Tanah Untuk
Pembangunan Perumahan dubagi dalam 4 tahapan yaitu:
1) Tahap Persiapan
2) Tahap Pelaksanaan Pengumpulan Data
3) Tahap Analisis
4) Tahap Akhir

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA E-13


Persiapan
Administrasi

Persiapan Teknis

Kajian Tentang
Kebijakan
Penataan Ruang
(dan RTRW Kab/
Kota Lokasi
TAHAP Kegiatan
PERSIAPAN
Kajian Tentang
GAGASAN AWAL
Kebijakan Sektoral
PENYEDIAAN TANAH
(Bidang
UNTUK PEMBANGUNAN
Pertanahan dan
PERUMAHAN
Perumahan)

Kajian Literatur Stakerholder Terkait


Terkait Kegiatan
Focus Group ü PEMDA
Discussion ü Narasumber
(FGD) ü Tim Teknis

VERIFIKASI LAPANGAN DAN


PENGUMPULAN DATA PRIMER
DAN SEKUNDER

DATA PRIMER DATA SEKUNDER


TAHAP
PELAKSANAAN
PENGUMPULAN
DATA Terkait Peta/ Data Terkait
Data Bukan Peta Data Statistik Data Kebijakan
Spasial Perumahan
ü Foto Udara ü Dokumentasi
ü Indek ü Realisasi
Lokasi Lapangan ü RTRW Kab/
Kebutuhan Bantuan
Ketersediaan ü Wawancara Rumah
Kota
Perumahan
Tanah dengan pihak ü Kebijakan
ü Kota dalam ü Lokasi
ü Ground chek terkait sektor
angka perumahan
Point lokasi penyediaan perumahan
ü Indek MBR
ketersediaan tanah untuk ü RPJM dan
kepemilikan ü dll
tanah perumahan. RPJP
rumah

ANALISIS KEBUTUHAN DAN


KETERSEDIAAN TANAH UNTUK
PERUMAHAN

ANALISIS DAYA ANALISIS


ANALISIS KEBUTUHAN ANALISIS PERATURAN
TAHAP DUKUNG & DAYA PRASARANA
RUMAH BANGUNAN
ANALISIS TAMPUNG LAHAN DAN SARANA
ü Jaringan
ü Analisis indeks
ü Analisis Daya ü Koefisien Dasar Utilitas
Tingkat Kepemilikan
Dukung Lahan Bangunan (KDB) ü Jaringan
Rumah
ü Analisis Daya ü Koefisien Lantai Transportasi
ü Analsis kebutuhan
Tampung Lahan Bangunan (KLB) ü Fasilitas
rumah
ü Analisis Kesesuaian ü Tinggi Bangunan umum
ü Analisis tingkat
Lahan Untuk ü Garis sempadan ü Fasilitas
kekurangan rumah
Perumahan Bangunan dll sosial

BUKU PROFIL
KETERSEDIAAN TANAH
UNTUK PERUMAHAN

Luas Tanah
TAHAP
LAPORAN
AKHIR Lokasi Tanah

Sarana
Pendukung
Dan Lain
sebagainya

Gambar E-1 Bagan Alir Metodologi Pelaksanaan Kegiatan

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA E-14


E.3.1 Persiapan
Tahap persiapan merupakan PERSIAPAN
ADMINISTRASI

rangkaian kegiatan sebelum


TAHAP
Mobilisasi Tim
PERSIAPAN
Kontrak Tenaga Ahli

memulai pengumpulan dan PERSIAPAN


TEKNIS

pengolahan data. Dalam


MENYIAPKAN KERANGKA KAJIAN PERATURAN
KERJA, PERANGKA PERUNDANGAN DAN
SURVEY DAN JADWAL STUDI TERKAIT DENGAN
KEGIATAN KEGIATAN

tahap ini dilakukan


q Undang-Undang
q Peraturan
penyusunan rencana yang INSTRUMEN
PELAKSANAAN KEGIATAN q
Pemerintah
Peraturan Menteri
q Studi Terkait

kiranya perlu dilakukan agar


Kegiatan

diperoleh efisiensi dan efektifitas waktu dan pekerjaan. Pada tahap ini juga dilakukan
kajian pendahuluan agar didapat gambaran umum dalam mengidentifikasi dan
merumuskan masalah yang ada di lapangan. Secara keseluruhan tahap persiapan ini
meli puti : (a). Studi literatur terhadap materi untuk proses pendataan kebutuhan
tanah untuk perumahan di lokasi kegiatan, (b). Menentukan kebutuhan data dan
instrumen survey (c). Mendata instansi dan institusi yang dapat dijadikan sumber data
(d). Pengadaan persyaratan administratif/surat-menyurat untuk pengumpulan data

Pada tahap awal ini konsultan akan melakukan persiapan pelaksanaan pekerjaan
meliputi mobilisasi personil, elaborasi proposal, persiapan survei detail, review
terhadap berbagai produk studi dan peraturan terkait kegiatan. Persiapan teknis
pelaksanaan dilakukan berdasarkan data sekunder yang tersedia. Modifikasi dapat
dilakukan setelah kajian pendahuluan dilaksanakan. Kajian-kajian tersebut adalah:

a. Kajian tentang Kebijakan dan Sasaran dalam penyediaan tanah untuk


perumahan.
b. Kajian tentang permasalahan dalam penyediaan tanah untuk pembangunan
perumahan.
c. Kajian tentang kekurangan rumah (backlog) untuk masyarakat berpenghasilan
rendah.
d. Peraturan-peraturan dalam penyediaan tanah untuk pembangunan perumahan.
e. Dan beberapa kajian lainnya terkait penyediaan tanah untuk pembangunan
perumahan.

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA E-15


Kajian terhadap beberapa aspek diatas minimal harus dipenuhi dalam upaya
menghasilkan rekomendasi dan keputusan penanganan penyediaan tanah untuk
pembangunan perumahan.

E.3.2 Tahap Pelaksanaan Pengumpulan Data Lapangan


Tahap pengumpulan data merupakan langkah awal setelah tahap persiapan dalam
proses kegiatan ini, pengumpulan data ini merupakan proses yang sangat penting
karena dari sini dapat ditentukan permasalahan dan rangkaian pendataan tanah untuk
pembangunan perumahan. Adapun beberapa metode yang dilakukan dalam rangka
pengumpulan data ini
VERIFIKASI LAPANGAN DAN
PENGUMPULAN DATA PRIMER
antara lain :
DAN SEKUNDER

1) Metode
DATA PRIMER DATA SEKUNDER
TAHAP
PELAKSANAAN
PENGUMPULAN

sekunder yaitu dengan


DATA Terkait Peta/ Data Terkait
Data Bukan Peta Data Statistik Data Kebijakan
Spasial Perumahan
ü Foto Udara ü Dokumentasi
ü Indek ü Realisasi
Lokasi Lapangan ü RTRW Kab/

meminjam data dari


Kebutuhan Bantuan
Ketersediaan ü Wawancara Rumah
Kota
Perumahan
Tanah dengan pihak ü Kebijakan
ü Kota dalam ü Lokasi
ü Ground chek terkait sektor
angka perumahan

instansi terkait sebagai


Point lokasi penyediaan perumahan
ü Indek MBR
ketersediaan tanah untuk ü RPJM dan
kepemilikan ü dll
tanah perumahan. RPJP
rumah

ANALISIS KEBUTUHAN DAN


landasan permasalahan
KETERSEDIAAN TANAH UNTUK

yang ada sekaligus


PERUMAHAN

pembanding keadaan saat ini. Data yang diperoleh dari instansi terkait ini biasa
disebut data sekunder.
2) Metode survei atau observasi yaitu dengan mengadakan pengamatan langsung
keadaan lapangan sesungguhnya. Hal ini mutlak dilakukan agar dapat diketahui
kondisi aktual pada saat ini, sehingga diharapkan tidak terjadi kesalahan dalam
eveluasi. Teknik survey primer adalah dengan melakukan penyebaran kuesioner
dan wawancara terhadap pihak terkait kegiatan. Dilakukan juga kegiatan FGD
untuk menjaring isu dan permasalahan tentang program pembiayaan perumahan.

Data yang telah diperoleh tersebut kemudian diklasifikasikan berdasarkan : jenis data,
tempat diperoleh data, dan jumlah data yang harus dikumpulkan agar diperoleh data
yang memadai (cukup, seimbang, dan akurat). Kebutuhan data terkait kegiatan adalah
sebagai berikut:

1) Foto Udara Lokasi Ketersediaan Tanah


2) Ground chek Point lokasi ketersediaan tanah

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA E-16


3) Dokumentasi Lapangan
4) Wawancara dengan pihak terkait penyediaan tanah untuk perumahan.
5) Indek Kebutuhan Rumah
6) Kota dalam angka
7) Indek kepemilikan rumah
8) RTRW Kab/Kota
9) Kebijakan sektor perumahan
10) RPJM dan RPJP
11) Realisasi Bantuan Perumahan
12) Lokasi perumahan MBR
13) dll

E.3.3 Tahap Analisis


Analisa data adalah upaya mengolah data statistik berupa angka-angka maupun non
statistik yang berupa informasi dan kejadian dilapangan yang dilakukan dengan model
kuantitatif dan juga kualitatif. Model analsia data kuantitatif dalam kegiatan ini
mencakup data-data statistik seperti pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi
maupun melakukan
ANALISIS KEBUTUHAN DAN

pembobotan dan KETERSEDIAAN TANAH UNTUK


PERUMAHAN

skala prioritas
penanganan masalah.
ANALISIS DAYA ANALISIS
ANALISIS KEBUTUHAN ANALISIS PERATURAN
TAHAP DUKUNG & DAYA PRASARANA
RUMAH BANGUNAN
ANALISIS TAMPUNG LAHAN DAN SARANA
ü Jaringan
Sedangkan model ü Analisis Daya
Dukung Lahan
ü Analisis indeks
Tingkat Kepemilikan
ü Koefisien Dasar
Bangunan (KDB)
Utilitas
ü Jaringan
Rumah
ü Analisis Daya ü Koefisien Lantai Transportasi
ü Analsis kebutuhan
kualitatif yang menitik ü
Tampung Lahan
Analisis Kesesuaian ü
rumah
Analisis tingkat
ü
Bangunan (KLB)
Tinggi Bangunan
ü Fasilitas
umum
Lahan Untuk ü Garis sempadan ü Fasilitas
kekurangan rumah
Bangunan dll sosial
beratkan pada
Perumahan

deskriptif merupakan
upaya untuk melakukan penilaian rasional mengenai kondisi maupun gambaran situasi
dan juga permasalahan-permasalahan sosial pada wilayah kegiatan.

Dengan demikian maka berikut beberapa analisa yang akan dilakukan sebelum
merumuskan pendataan kebutuhan dan ketersediaan tanah untuk perumahan adalah
sebagai berikur :
 Analisis backlog perumahan
 Analisis daya dukung lahan untuk perumahan

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA E-17


 Analisis peraturan bangunan lokasi perumahan
 Analisis ketersediaan prasarana dan sarana lokasi perumahan
 Analisis lainnya terkait dengan kegiatan

E.3.3.1 Tahap Laporan Akhir

Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah penyusunan laporan akhir pekerjaan
pendataan kebutuhan dan ketersediaan tanah untuk perumahan, substansi dalam
laporan minimal meliputi:

A. Data dan informasi yang meliputi :


1) Ketersediaan dan lokasi tanah, serta dokumen terkait dengan tanah yang telah
disurvey di kabupaten/kota untuk pembangunan perumahan;
2) Luas tanah yang dibutuhkan bagi penyediaan perumahan di lokasi kegiatan;
3) Permasalahan kebutuhan tanah bagi penyediaan perumahan pada lokasi
kegiatan; 4) Struktur kepemilikan tanah pada lokasi kegiatan;
4) Tata bangunan dan lingkungan meliputi KDB, KLB, KDH, Ketinggian Bangunan,
arsitektur bangunan, pemanfaatan bangunan.
B. Hasil koordinasi dengan pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan ini;
C. Hasil analisis/kajian yang meliputi:
1) Daya dukung lahan dan daya tampung tanah pada lokasi kegiatan;
2) Ketersediaan dan kesesuaian tanah;
3) Ketersediaan fasilitas umum, sarana dan prasarana transportasi, serta
prasarana, sarana dan utilitas umum.
D. Buku profil ketersediaan dan kebutuhan tanah untuk pembangunan perumahan di
kabupaten/kota yang telah disurvey, yang memuat hal-hal sesuai dengan lingkup
kegiatan

E.4 Program Kerja

Program kerja merupakan rangkaian pelaksanaan kegiatan dari awal hingga


terselesainya kegiatan. Pola kerja dalam kegiatan Pendataan Kebutuhan Dan
Ketersediaan Tanah Untuk Pembangunan Perumahan adalah sebagai berikut :

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA E-18


1) Untuk memulai pelaksanaan pekerjaan setelah SPMK diperoleh, maka tim akan
segera dimobilisasi dan segera melakukan rapat/ diskusi guna mendapatkan
persamaan persepsi mengenai pekerjaan yang akan dilakukan terutama
pemahaman terhadap KAK.
2) Melakukan diskusi informal dengan pemberi kerja dalam rangka penyamaan
persepsi mengenai rencana pelaksanaan pekerjaan.
3) Mobilisasi tenaga ahli disesuaikan dengan jadwal dan penugasan, serta
keterlibatan masing-masing tenaga ahli dalam pelaksanaan kegiatan penyusunan
sesuai dengan jumlah orang-bulan masing-masing tenaga ahli.
4) Pekerjaan studio, yaitu semua pekerjaan/ kegiatan yang dilakukan tim kerja
untuk sampai menghasilkan produk/ dokumen rencana. Kegiatan yang dilakukan
pada pekerjaan studio meliputi mempersiapkan kebutuhan data penelitian,
Pengumpulan dan seleksi data, proses Penyusunan laporan Pendahuluan, Proses
tabulasi data, Pembuatan Kompilasi Data, Proses pengolahan dan analisis data,
proses penyusunan laporan antara, proses pembuatan laporan akhir, termasuk
penyempurnaan dari mulai laporan pendahuluan, laporan antara, dan laporan
final berdasarkan hasil masukan dari diskusi dengan tim dan instansi terkait.
5) Konsultan secara berkala berkoordinasi dan melakukan konsultasi teknis kepada
tim teknis dan Instansi Terkait, Asosiasi profesi, pakar, pemerhati, maupun
dengan stakeholder lainnya yang terlibat dan mempunyai kepentingan dalam
pelaksanaan Pendataan Kebutuhan Dan Ketersediaan Tanah Untuk
Pembangunan Perumahan. Konsultan secara periodik melaporkan setiap progres
yang telah dihasilkan kepada Tim Teknis.
6) Diskusi Pembahasan Laporan dilakukan di instansi terkait pada tahap Laporan
Pendahuluan, Laporan Antara, dan Laporan Draft Akhir.

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA E-19


BAGIAN F

F.1 Jadwal Keseluruhan Kegiatan


Rencana jadwal kegiatan terpadu dalam pelaksanaan Kegiatan Pendataan Kebutuhan
Dan Ketersediaan Tanah Untuk Pembangunan Perumahan secara keseluruhan dapat
diselesaikan dalam waktu 8 (delapan) bulan kerja atau 240 hari kerja. Diharapkan
dalam kurun waktu tersebut semua kegiatan dapat diselesaikan dengan baik.

F.2 Rencana Jadwal Berdasarkan Kegiatan


Berdasarkan rencana kegiatan yang telah disusun sebelumnya maka rencana jadwal
secara rinci pelaksanaan kegiatan Pendataan Kebutuhan Dan Ketersediaan Tanah
Untuk Pembangunan Perumahan dibagi dalam beberapa tahapan yaitu:

1) Tahap pendahuluan/ persiapan


2) Tahap pelaksanaan Survey
3) Tahap Analisis
4) Tahap Pelaporan dan Pembahasan

Uraian dari jadwal pelaksaan kegiatan tersebut berdasarkan tahapan dapat dilihat pada
tabel F-1 di bawah ini:

JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN F-1


Tabel F.1 Rencana Jadwal Pelaksanaan Kegiatan

Bulan Ke-
No URAIAN KEGIATAN I II III IV V VI VII VIII

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
I TAHAP PERSIAPAN
1 Mobilisasi tim dan kebutuhan peralatan kegiatan
2 Menyiapkan rencana kerja
3 Menyusun metodologi kerja
4 Mengumpulkan data dan informasi awal (studi literatur)
5 Menyiapkan laporan pendahuluan dan presentasi
II TAHAP PELAKSANAAN PENGUMPULAN DATA
1 Melakukan survei primer dan Sekunder ke lokasi kegiatan
2 Kompilasi data primer dan sekunder
III TAHAP ANALISIS
3 Analisis kondisi potensi dan permasalahan
4 Analis daya dukung lahan
5 Analisis ketersediaan prasarana dan sarana
6 Analisis peraturan bangunan bangunan
7 Menyiapkan laporan Antara dan presentasi
IV TAHAP LAPORAN AKHIR
1 Menyusun Informasi terkait ketersediaan tanah
2 Pembuatan pera tematik
3 penyusunan buku profil
4 Koreksi buku profil
5 Menyusun laporan
6 Menyelenggarakan ekspose dan diskusi Laporan Akhir
7 Finalisasi Laporan Akhir hasil diskusi

JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN F-1


F.3 Sistem Pelaporan
Produk yang dihasilkan dari pekerjaan Pendataan Kebutuhan Dan Ketersediaan
Tanah Untuk Pembangunan Perumahan minimal sebagai berikut:

1) Laporan Pendahuluan
- Pemahaman terhadap KAK
- Orientasi dan observasi permasalahan serta penyiapan alur pikir rencana
pelaksanaan pekerjaan;
- Metodologi pelaksanaan pekerjaan;
- Rencana, jadwal dan tahapan pelaksanaan kegiatan termasuk nama dan
jadwal penugasan tenaga ahli dan tenaga pendukung.

Laporan Pendahuluan diserahkan 1 (satu) bulan sejak SPMK diterbitkan


sebanyak 5 (lima) eksemplar. Laporan ini harus terlebih dahulu dibahas dalam
rapat di tingkat pusat yang dihadiri oleh tim teknis dan pemangku kepentingan
terkait untuk selanjutnya diperiksa oleh Tim Teknis sebelum dilakukan serah
terima kepada Pengguna Jasa.

2) Laporan Bulanan
- Rencana dan realisasi pelaksanaan kegiatan dalam format diagram balok
(bar chart) dan kurva S untuk seluruh kegiatan secara kumulatif;
- Kemajuan yang dicapai serta peranan setiap tenaga ahli dalam pelaksanaan
kegiatan tersebut dalam bulan yang dilaporkan;
- Permasalahan dan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan bulan
yang dilaporkan serta usulan tindak turun tangan yang diperlukan;
- Uraian rencana kegiatan yang akan dilaksanakan pada bulan berikutnya
serta peranan setiap Tenaga Ahli dalam kegiatan tersebut.

Laporan Bulanan dibuat sebanyak 8 (delapan) buku laporan dan diserahkan


selambat lambatnya setiap akhir bulan dari periode kegiatan. Laporan Bulanan
sekurang-kurangnya memuat rencana dan realisasi pelaksanaan kegiatan baik
pada bulan berjalan maupun secara kumulatif dalam format diagram balok dan
kurva S, pelaksanaan kegiatan pokok, permasalahan dan kendala yang dihadapi

JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN F-2


dalam pelaksanaan kegiatan pada bulan yang dilaporkan, dan uraian rencana
kegiatan pokok yang akan dilaksanakan pada bulan berikutnya serta peranan
setiap tenaga ahli dalam kegiatan tersebut.

3) Laporan Antara
- Data lokasi tanah hasil survey beserta luasannya;
- Analisa lokasi tanah yang berupa kesesuaian dengan RTRW, dan daya
dukung serta daya tampung tanah dalam mendukung pembangunan
perumahan;
- Analisa fasilitas umum, sarana dan prasarana transportasi, serta prasarana,
sarana dan utilitas umum, serta fasilitas pendukung lainnya;
- Analisa dampak pembangunan perumahan terhadap sosial dan lingkungan
sekitar lokasi kegiatan;
- Analisa perkiraan nilai tanah pada lokasi kegiatan.

Laporan Antara diserahkan 4 (empat) bulan sejak SPMK diterbitkan sebanyak 5


(lima) eksemplar. Laporan ini harus terlebih dahulu dibahas dalam rapat di
tingkat pusat yang dihadiri oleh tim teknis dan para pemangku kepentingan
terkait untuk selanjutnya diperiksa oleh Tim Teknis sebelum dilakukan serah
terima kepada Pengguna Jasa.

4) Laporan Akhir
- Data dan informasi kebutuhan dan penyediaan tanah untuk pembangunan
perumahan;
- Laporan Akhir memuat output hasil akhir seluruh pelaksanaan pekerjaan
serta evaluasi dan rekomendasi untuk keberlanjutan kegiatan;
- Bukti input data ke Sistem Informasi Geografis;
- Rekomendasi atau usulan terhadap pendataan dan penyediaan tanah untuk
pembangunan perumahan;
- Dilengkapi dengan Ringkasan Eksekutif (Executive Summary), yang berisi
ringkasan/intisari kandungan yang termuat pada produk akhir dalam laporan

JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN F-3


akhir. Ringkasan ini dilengkapi dengan abstrak produk akhir kegiatan dan
diserahkan bersamaan dengan Laporan Akhir;
- Data dan informasi seluruh hasil kegiatan dalam bentuk CD sebanyak 10
(sepuluh) keping.

Laporan tersebut diserahkan paling lambat 30 hari kerja sejak berakhirnya


pelaksanaan kegiatan kontraktual yang ditandai dengan Berita Acara Serah
Terima Akhir Barang/Pekerjaan berupa buku laporan sebanyak 10 (sepuluh)
eksemplar.

JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN F-4


BAGIAN G

Dalam pelaksanaan kegiatan Kegiatan Pendataan Kebutuhan Dan Ketersediaan Tanah


Untuk Pembangunan Perumahan perlu dilakukan upaya sinkronisasi kegiatan, karena
sifat pekerjaan yang multi disiplin. Organisasi pelaksanaan kegiatan sangat diperlukan
untuk mengelola kegiatan ini sehingga dapat berjalan dengan baik dan lancar. Pada
bab ini akan dibahas mengenai komposisi tim dan penugasan yang diatur dalam orang
bulan.

G.1 Struktur Organisasi Tim


Pekerjaan ” Kegiatan Pendataan Kebutuhan Dan Ketersediaan Tanah Untuk
Pembangunan Perumahan.” merupakan Paket Pekerjaan yang didalamnya melibatkan
berbagai disiplin ilmu serta keterlibatan tim teknis dalam penyusunan ini. Berdasarkan
metodologi dan pendekatan penanganan pekerjaan sebagaimana telah diuraikan
sebelumnya maka disusun organisasi proyek yang mempunyai tujuan koordinasi,
pertukaran informasi, konsultasi, evaluasi dan pengendalian pelaksanaan proyek
secara maksimum.

Pengelolaan dan koordinasi yang baik diperlukan agar dalam pelaksanaan pekerjaan
berjalan dengan lancar sesuai dengan rencana dan tujuan yang diharapkan. Sesuai
dengan petunjuk pada kerangka acaun kerja (KAK) dan menyadari pentingnya
keberhasilan kegiatan Pendataan Kebutuhan Dan Ketersediaan Tanah Untuk
Pembangunan Perumahan, maka selain pengelolaan dan koordinasi yang baik juga
ditunjang oleh tenaga-tenaga ahli profesional yang berpengalaman dibidangnya.

Tenaga ahli tersebut diantaranya ahli geodesi yang juga bertindak sebagai ketua tim,
ahli lingkungan, ahli perencanaan wilayah dan kota, ahli Sipil, ahli Arsitektur, ahli
Mekanikal, ahli hidrogeologi, ahli geodesi dan ahli estimator.

KOMPOSISI TIM DAN PENUGASAN G-1


PEMBERI
KERJA

PIHAK
KONSULTAN DISKUSI
TERKAIT

KETUA TIM
KETUA TIM
(PERENCANA
AHLI GEODESI
TRANSPORTASI)

AHLI ANGKUTAN AHLI MANAJEMEN


JALAN REKAYASA LALIN
AHLI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA ASISTEN DAN
AHLI TENAGA
AHLI
PEMODELAN PENDUKUNG
PRASARANA JALAN
LALIN

Gambar G-1 Struktur Organisasi Pelaksanaan Kegiatan

G.2 Komposisi Tim


Kebutuhan tim pada kegiatan Kegiatan Pendataan Kebutuhan Dan Ketersediaan Tanah
Untuk Pembangunan Perumahan berdasarkan kerangka kerja sebanyak 7 tenaga ahli
dan beberapa asisten. Komposisi tim untuk melaksanakan kegiatan ini dapat dilihat
pada tabel berikut ini

KOMPOSISI TIM DAN PENUGASAN G-2


Tabel G.1 Komposisi Tim dan Uraian Tugas
TENAGA AHLI POSISI YANG
NAMA PERSONIL PERUSAHAAN LINGKUP KEAHLIAN URAIAN PEKERJAAN
LOKAL/ASING DIUSULKAN
A. TENAGA AHLI
Lokal a. Penanggung jawab Ahli Geodesi 1. Menyusun organisasi kerja tim secara
teknis pelaksanaan (Team Leader) keseluruhan;
pekerjaan secara 2. Mengkoordinasikan pelaksanaan pekerjaan
keseluruhan; terhadap semua hal yang berhubungan
b. Koordinator semua dengan kelancaran pekerjaan;
kegiatan administrasi 3. Mengkoordinasikan hubungan kerja antar
maupun teknis dari organisasi kerja sesuai tugas masing-
organisasi pekerjaan; masing dengan semua unsur proyek dan
c. Pengarah, pengawas instansi terkait;
dan pengendali mutu 4. Mengintegrasikan berbagai aspek/disiplin
pekerjaan pada setiap ilmu yang mendukung pekerjaan ini;
tahap kegiatan. 5. Membuat laporan mengenai data-data
yang didapat serta menganalisa untuk
mendapatkan output, guna penyusunan
buku laporan pada setiap tahap kegiatan.
a. Sebagai koordinator Ahli Perencanaan a. Melaksanakan semua pekerjaan yang
studi bidang analisa Wilayah Dan Kota diterimanya, sesuai dengan diskripsi kerja
Perencanaan Wilayah dan berpedoman pada ketentuan yang
Dan Kota berlaku;
b. Membantu Ketua Tim b. Mengkoordinasikan pelaksanaan pekerjaan
dalam mengarahkan bidang Perencanaan Wilayah Dan Kota;
dan memecahkan c. Bekerjasama dengan tenaga ahli lainnya
permasalahan yang dalam kegiatan Pendataan Kebutuhan Dan
berhubungan dengan Ketersediaan Tanah Untuk Pembangunan
Perencanaan Wilayah Perumahan;
Dan Kota d. Menyusun progres laporan tentang hasil
analisis dan rencana berkaitan dengan
Perencanaan Wilayah Dan Kota;
e. Melakukan konsultasi tentang pekerjaan
kepada Ketua Tim secara intern, dan
kepada pemberi tugas secara ekstern.
a. Sebagai koordinator Ahli Survey dan a. Melaksanakan semua pekerjaan yang
studi bidang analisa Pemetaan diterimanya, sesuai dengan diskripsi kerja
Survey dan Pemetaan dan berpedoman pada ketentuan yang

KOMPOSISI TIM DAN PENUGASAN G-3


TENAGA AHLI POSISI YANG
NAMA PERSONIL PERUSAHAAN LINGKUP KEAHLIAN URAIAN PEKERJAAN
LOKAL/ASING DIUSULKAN
b. Membantu Ketua Tim berlaku;
dalam mengarahkan b. Mengkoordinasikan pelaksanaan pekerjaan
dan memecahkan bidang Survey dan Pemetaan;
permasalahan yang c. Bekerjasama dengan tenaga ahli lainnya
berhubungan dengan dalam kegiatan Pendataan Kebutuhan Dan
Survey dan Pemetaan Ketersediaan Tanah Untuk Pembangunan
Perumahan;
d. Menyusun progres laporan tentang hasil
analisis dan rencana berkaitan dengan
Survey dan Pemetaan;
e. Melakukan konsultasi tentang pekerjaan
kepada Ketua Tim secara intern, dan
kepada pemberi tugas secara ekstern.
c. f.
B. TENAGA PENDUKUNG
Lokal Surveyor Asisten Membantu team dalam menyelesaikan urusan
proyek
Lokal Surveyor Asisten Membantu team dalam menyelesaikan urusan
proyek
Administrasi Administrasi Membantu team dalam menyelesaikan urusan
proyek

KOMPOSISI TIM DAN PENUGASAN G-4


JADWAL PENUGASAN TENAGA AHLI G-1