Anda di halaman 1dari 17

Nilai-Nilai Dasar Organisasi Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia

Pendahuluan
Organisasi merupakan sebuah wadah tempat berkumpulnya sekelompok
individu untuk mencapai satu tujuan bersama. Kehadiran sebuah organisasi dengan
tujuan, merupakan wujud dari komitmen sekelompok orang tersebut untuk mencapai
sesuatu secara terencana dan berkelanjutan pada kurun waktu tertentu. Tujuan tersebut
merupakan capaian yang diinginkan oleh organisasi tersebut, dan aktivitas dalam
organisasi merupakan roda mekanis yang bergerak secara sistematis dan terencana
untuk mencapai tujuan tersebut. Akan tetapi dalam menjalankan aktivitas dibutuhkan
arahan dan nilai-nilai yang mengikat menjadi satu individu-individu, sehingga arah
menuju kepencapain tujuan organisasi menjadi pasti. Nilai-niai merupakan akar yang
mengikat komitmen dan integritas individu dalam organisasi, sehingga memiliki
karakter yang sama dalam menjalankan roda organisasi.
Visi, misi, Amsal dan nilai-nilai yang terkandung dalam organisasi baik yang
tertulis secara eksplisit maupun implisit merupakan roh dan jiwa dari organisasi.
Infrastruktur seperti mekanisme struktur, garis kerja, program, kegiatan dan aktivitas
organisasi lainnya akan bergerak secara dinamis dan teratur, apabila roh dan jiwa
organisasi ini tetap terjaga dan tinggal dalam organisasi. Jika visi, misi, Amsal dan
nilai-nilai organisasi dipahami secara mendalam dan dihayati oleh setiap individu dalam
organisasi, maka gerak laju organisasi pada pencapaian tujuan akan lebih mudah.
Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Merupakan sebuah organisasi
pengkaderan yang bercirikan kemahasiswaan, keKristenan dan ke-Indonesiaan
(nasionalis). Organisasi ini memiliki tujuan yang ideal dalam membina generasi muda
Indonesia agar memiliki integritas dan komitmen dalam menghadirkan syallom Allah di
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Organisasi yang sudah berdiri sejak tahun 1950
ini berbeda dengan organisasi Mahasiswa Kristen lainnya. GMKI memiliki karakter
yang agak berbeda dalam memaknai pergerakan keKristenan di Indonesia. GMKI
sebagai Gereja incognito, memaknai pergerakannya keKristenannya sebagai bentuk dari
dialektika dirinya sebagai orang Kristen yang hadir sebagai orang Indonesia (Indonesia
100% dan Kristen 100%). Dua identitas yang berjalan seiring.
Memahami Ut Omnes Unum Sint
Ut Omnes Unum Sint adalah ungkapan dari Alkitab dalam bahasa Latin. Kalimat
yang sama dalam Alkitab bahasa Indonesia disebut : “supaya mereka semua menjadi
satu”. Ungkapan kalimat ini sangat jelas dikatakan dalam doa syafaat Tuhan Yesus yang
terdapat dalam Injil Yohanes 17: 21. Sedangkan, dalam Alkitab versi bahasa Yunani
(Novum Testamentum Graece – Aland Nestle), ungkapan ini dikatakan ίνα παντες έν
ωσιν (baca: hina pantes hen osin). Susunannya adalah sebagai berikut: ίνα – Ut –
Supaya; παντες – Omnes -Semua; έν – Sint - Satu; ωσιν – Unum - Menjadi. Dengan
demikian, maka arti ίνα παντες έν ωσιν atau Ut Omnes Unum Sint adalah “Supaya
mereka menjadi satu”. Kata “Ut” dalam bahasa Indonesia disebut “Agar” atau “Supaya”
merupakan suatu bentuk pernyataan. Kata ini memberi arti bahwa “seharusnya atau
semestinya menjadi seperti begini, sebab seperti inilah sesungguhnya”. Kata “Omnes“
dalam Alkitab bahasa Indonesia disebut “mereka semua”. Kata ini berarti, semua orang
atau semua manusia. Kata “Unum” dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan kata
“menjadi seperti”, atau “serupa dengan”, kata “Sint” dalam bahasa Indonesia
diterjemahkan dengan kata “Semuanya menjadi satu”1.
Dengan melihat kepada penjelasan diatas, maka pengertian “ut omnes unum
sint” atau “supaya semua menjadi satu“ memberi arti bahwa : “adalah suatu perintah
atau pernyataan yang mutlak tentang semua manusia supaya harus menjadi satu.” Hal
ini ditujukan terutama kepada orang–orang yang telah menjadi percaya kepada Yesus
Kristus. Mereka harus/wajib menjadi satu sama seperti Yesus Kristus dengan Bapa-Nya
yang adalah satu. Kata kuncinya adalah “satu“.Ini lebih lanjut dimengerti sebagai
persatuan, kesatuan (Unity).
Kesatuan yang dimaksud di sini adalah bukanlah kesatuan magis, mistik atau
institusi, akan tetapi kesatuan di sini adalah kesatuan rohani, satu di dalam iman, satu
ketaatan kepada firman (Yoh. 17:6). Persatuan atau kesatuan (unity) adalah kata yang
sering digunakan dalam Alkitab. Pemikiran yang melatarbelakangi istilah ini adalah:
“adanya kesatuan umat Allah yang dalam Perjanjian Lama berasal dari satu Bapa.”
Persekutuan ini digambarkan oleh pemazmur sebagai persekutuan yang diwarnai
dengan kehidupan bersama yang rukun (Mzm. 133:1).
Dalam Perjanjian Baru kesatuan ini lebih dimengerti sebagai keadaan akibat
dirobohkan-Nya dinding pemisah antara orang Yahudi dengan orang Kafiri yaitu antara
Yahudi dengan orang yang bukan Yahudi; antara Tuan dan Hamba; antara laki–laki dan
perempuan. Semua menjadi satu dalam Yesus Kristus (Ef. 2:12 ; Gal. 3:26–29). Yesus
Kristus adalah satu–satunya dasar dari kesatuan umat-Nya yang beragam itu. Orang
yang percaya adalah saudara–saudara Yesus Kristus, dan saudara satu terhadap yang
lain dalam satu keluarga Allah. Mereka mempunyai satu Allah dan Bapa dari semua
(Efesus 4:6).Mereka dituntun oleh Roh Kudus yang satu menjadi tempat kediaman
Allah di dalam Roh (Efesus. 2:22).Kecuali itu, mereka juga harus mempunyai pikiran
dan perasaan sebagaimana pikiran Kristus (Filipi 2:5), yakni kerendahan diri Yesus dan
ketaatan-Nya pada Bapa (Fil. 2:8).Injil Yohannes menyaksikan betapa dalamnya
keinginan Yesus agar murid–murid-Nya menjadi satu. Keinginan Yesus ini
disampaikan melalui doa permohonan-Nya kepada Bapa. Isi doa Yesus sangat penting,
sebab menyangkut eksistensi dan juga integritas orang–orang percaya di dalam Dia
(Yoh. 17:21).
Kesatuan yang didoakan oleh Tuhan Yesus bukanlah hanya sekedar kesatuan
organisasi, tetapi kesatuan rohani yang berlandaskan: hidup di dalam Kristus (Yoh.
17:23); mengenal dan mengalami kasih Bapa dan persekutuan Kristus (Yoh. 17:26);
perpisahan dari dunia (Yoh. 17: 14-16); pengudusan dalam kebenaran (Yoh. 17:17, 19);
menerima dan mempercayai kebenaran Firman Allah (Yoh. 17:6,8,17); ketaatan kepada
Firman (Yoh. 17:6); keinginan untuk membawa keselamatan kepada yang hilang (Yoh.
17:21, 23). Bilamana salah satu dari faktor ini tidak ada, maka kesatuan yang didoakan
Yesus tidak mungkin ada. Kita juga dapat melihat bahwa, doa Tuhan Yesus dalam Yoh.
17:21, mengamanatkan:
1. panggilan untuk keesaan itu mempunyai dasar dalam keesaan Anak dan Bapa:
“Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti engkau, ya Bapa, di dalam Aku,
dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita”. Dengan demikian
panggilan keesaan itu mempunyai dimensi horisontal dengan semua orang percaya
(Gereja) dan dimensi vertikal dengan Bapa dan Anak. Itu berarti bahwa gerakan
keesaan itu bergerak ke dua arah: tidak hanya harus mendekatkan hubungan dan
menyatukan Gereja-gereja, melainkan juga harus membuat Gereja-gereja secara
bersama-sama mendekat kepada Tuhan. Dua hal tersebut adalah sama pentingnya.
2. panggilan untuk keesaan secara horisontal dan vertikal itu selanjutnya juga
berkaitan dengan keberhasilan tugas missioner Gereja: “Supaya dunia percaya
bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”. Kalau Gereja-gereja sungguh-
sungguh esa secara horinsotal dan vertikal, maka misi Gereja pasti akan berhasil.
Dengan kata lain, keesaan secara horisontal dan vertikal itu dapat dikatakan sebagai
prasyarat bagi keberhasilan misi Gereja. Pada sisi lain, tiap-tiap Gereja pasti harus
melaksanakan tugas misionernya masing-masing.
3. Yesus berdoa supaya para pengikutNya “menjadi satu” (Terjemahan Bahasa
Indonesia) supaya menjadi “satu adanya”. Bentuk yang dipakai dalam bahasa
Yunani menunjuk pada suatu tindakan yang berkesinambugan: “terus-menerus
bersatu” (sustainable), kesatuan yang berlandaskan kesamaan hubungan kepada
Bapa dan Anak, dan karena memiliki sikap yang sama terhadap dunia, firman
Allah, dan perlunya menjangkau mereka yang hilang (Bnd. 1Yoh. 1:7, di mana
usaha untuk menciptakan suatu kesatuan buatan dengan mengadakan pertemuan,
konperensi, atau organisasi yang rumit dapat mengakibatkan pertentangan terhadap
kesatuan yang didoakan oleh Yesus. Yang dimaksud oleh Yesus bukan sekedar
pertemuan-pertemuan rohani yang dangkal dan asal-asalan saja. Akan tetapi, yang
di doakan Tuhan Yesus adalah kesatuan hati, tujuan, pikiran, dan kehendak di
dalam orang-orang yang mengabdi sungguh-sungguh kepada Kristus, Firman Allah
dan kesucian).
4. kesatuan yang ditekankan juga adalah kesatuan yang di dalam iman, satu
pemahaman tentang Kristus; karena mereka dibaharui oleh Roh yang sama, dan
mereka memiliki karya anugerah yang sama dan telah mengubah diri mereka.
Walaupun mereka memiliki ragam kemampuan, namun mereka memiliki titik
utama dalam Injil, yaitu bahwa keselamatan hanya oleh Kristus saja.
Keempat amanat ini juga telah termaktub dalam Prasetya keesaan Gereja-gereja
yang tergabung dalam PGI yang telah menyatakan janji setianya untuk melaksanakan
Lima Dokumen Keesaan Gereja (LDKG) dalam gerakan Oikumene Gereja-gereja yang
tergabung di dalam Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) telah merumuskan
visi dan misi mereka dalam “Dokumen Keesaan Gereja” (DKG)2. Intinya, visi Gereja-
gereja adalah mewujudkan keesaan Gereja melalui pelaksanaan tugas panggilan Gereja
yang dicakup dalam koinonia, marturia, dan diakonia.Biasanya juga dirumuskan
sebagai “Mewujudkan Gereja Kristen yang Esa di Indonesia” sebagaimana
dikalimatkan ketika DGI didirikan pada 20 Mei 1950.visi ini tidak pernah berubah. Dan
mestinya memang tidak pernah boleh berubah, sebab kalau tidak kehadiran Gereja-
gereja dalam PGI menjadi tidak punya makna. Visi inilah yang terus menerus
diterjemahkan di dalam misi bersama yang setiap lima tahun (melalui Sidang Raya)
direaktualisasikan.
Ut omnes unum sint adalah perwujudan Gerakan Oikumene.Oikumene berasal
dari dua kata dalam bahasa Yunani, yakni dari kata όικος yang berarti "rumah" dan
μενειν yang berarti "mendiami", “menghuni” atau "tinggal", sehingga secara etimologi
oikumene berarti mendiami rumah atau menghuni rumah sebagai tempat tinggal
bersama.3
Dr. W. H. Visser ‘T Hoof mendaftarkan beberapa arti kata Oikumene seperti
yang didapati di dalam sejarah. Oikumene adalah: “seluruh dunia yang didiami (Lukas
4:5, Roma 10:18, Ibrani 1:6), seluruh kekaisaran Romawi (Kis. 24:5), dari sana kata ini
juga berarti: seluruh umat manusia (Kis. 17:31, 19:27, Why. 12:19), Gereja seluruhnya,
Gereja yang sah, hubungan-hubungan diantara beberapa Gereja atau orang Kristen yang
pengakuannya berbeda-beda. Usaha dan keinginan untuk mendapatkan keesaan
Kristen”.
Dalam perkembangnya, khususnya gerakan Oikumene pada abad ke-19 kita
dapat melihat empat macam usaha yang dapat disebut sebagai usaha untuk
mempersatukan orang-orang Kristen dari Gereja-gereja yang berbeda. Yang pertama
adalah usaha mempersatukan orang-orang Kristen dari Gereja-gereja yang mempunyai
dasar teologis atau kenfesional yang sama. Usaha kedua adalah usaha untuk
mempersatukan orang-orang Kristen Protestan dalam satu perhimpunan. Usaha ini
secara khusus diprakarsai oleh seorang Pendeta Skotlandia, Thomas Chalmers (1780-
1847), walaupun juga ada orang lain yang pada waktu itu telah mengusulkan hal yang
sedemikian.
Hasilnya adalah pembentukan Evangelical Alliance (Perserikatan Injili) di
London pada tahun 1846. Sumbangan positif Evangelical Alliance pada sejarah
Oikumene adalah dengan pengadaan Minggu Doa Sedunia, untuk untuk meningkatkan
kesadaran kesatuan dan persaudaraan, pengadaan konferensi-konferensi dan penerbitan
majalah Oikumenis yang pertama, Evangelical Christendom (1847-1955). Dengan
demikian dipupuk kesadaran bahwa di luar batas-batas gereja sendiri juga ada orang-
orang Kristen dan bahwa penting untuk mencari kerjasama dengan mereka.
Pada zaman ini diadakan konferensi-konferensi yang dimaksudkan untuk
memperbaiki relasi, untuk mewujudkan saling pengertian dan menghasilkan kerjasama.
Sumbangan ketiga diberikan oleh apa yang disebut sebagai Voluntary movements
(Gerakan-gerakan Sukarela)4. Dimana Voluntary Movements ini muncul karena
pengaruh Revivalism (Gerakan Kebangunan Rohani), sebagai semangat Pembaharuan
sebagai unsur pietis di Amerika Serikat, yang kemudian dari sana tersebar ke seluruh
dunia Barat.
Dari gerakan Revivalism ini berasal organisasi-organisasi seperti Young Man
Christian Association (YMCA, Persatuan Para Pemuda Kristen 1844), Young Women
Christian Association (YWCA, Persatuan Para Pemudi Kristen 1854), Student Christian
Movement (SCM, Gerakan Mahasiswa Kristen, yang lahir pada tahun 80-an abad ke-19
di berbagai Negara dan menggabungkan diri pada tahun 1895 dalam World Student
Christian Federation (WSCF, Federasi Mahasiswa Kriten Sedunia); yang kemudian
juga membentuk diri dalam wadah-wadah lokal disetiap negara, salah satu wadah yang
ada di Indonesia adalah GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) dan Student
Volunteer Movement for Foreign Mission (SVM Gerakan Sukarela Mahasiswa untuk
Pekabaran Injil Luar Negeri yang didirikan pada tahun 1888 oleh John R. Mott).John R.
Mott berperan besar dalam pendirian CSV of Java bersama dengan Leimena sejak tahun
1920an.
Memaknai kembali Ut Omnes Unum Sint (Amsal GMKI) sebagai landasan misi
Menyadari kondisi dan keberadaannya saat ini, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia
(GMKI) yang juga berhimpun dalam wadah World Student Christian Federation
(WSCF) haruslah dapat memaknai kembali akan fungsinya sebagai alat pemersatu dan
jembatan kerjasama dalam perwujudan Gereja-Nya yang esa, yang menyaksikan Yesus
Kristus selaku Tuhan dan Juru Selamat di dalam keesaan Allah Bapa, Anak dan Roh
Kudus yang mengerjakan keselamatan manusia. Dalam praksisnya GMKI haruslah
tetap hidup dalam Amsal tersebut yang juga merupakan bersumber dari Alkitab.Sebab,
hal itu juga telah jelas tertuang dalam penjelasan AD/ART GMKI, bahwa faktor inilah
yang harus dominan dalam organisasi ini.Program inti ini tidak boleh dilupakan oleh
GMKI. Sebab, jika melupakan program tersebut berarti bahaya erosi kedirian yang
sangat fatal akan melanda organisasi. Semuanya ini adalah konsekuensi dari sumber
GMKI adalah Alkitab.
Sifat keKristenan ini menunjukkan bahwa GMKI adalah bagian dari Gereja.
GMKI adalah kelanjutan pelayanan Gereja di Perguruan Tinggi, dengan berbagai
karakteristik Gereja, sebagaimana Gereja menempatkan Alkitab sebagai dasar, maka ini
pulalah yang menjadi sumber bagi GMKI. Sumber GMKI tidak mengaburkan arti dan
sifat gerejawinya.Dalam pengalaman sumber organisasi ini, maka haruslah relevan
dengan panggilannya, dan tidak asing bagi lingkungannya.Oleh sebab itu, memaknai
kembali ut omnes unum sint dalam konteks kekinian adalah peran penting yang harus
dilakukan oleh organisasi ini.Jika tidak, berarti kita berada di luar konteks Amsal
tersebut. Sebab, kekuatan kultur dari organisasi (sosio budaya) adalah terletak pada
fleksibilitas dan relevansi fondasi filosofis (muatan nilai-nilai) serta visi dan misi
organisasi.

Memahami Visi GMKI


Sebagai sebuah organisasi pergerakan maka GMKI memiliki tujuan yang
menjadi dasar dan arah bergeraknya roda organisasi. Tujuan ini tampak jelas dari visi
GMKI, “Terwujudnya kedamaian, kesejahteraan, keadilan, kebenaran, keutuhan
ciptaan dan demokrasi di Indonesia berdasarkan kasih”5. Visi ini roh dari GMKI, roh
yang akan terus memberikan inspirasi dan motivasi bagi kader-kader GMKI, agar mau
terus bergerak untuk mewujud nyatakan dan menggapai visi tersebut.
Visi GMKI sendiri baru dirumuskan dan ditetapkan secara eksplisit dalam
Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga GMKI pada Kongres GMKI 2004 di
Pematang Siantar. Visi ini lahir dari6:
1. Refleksi Historis
Secara historis GMKI lahir dari pemahaman akan panggilan dan pengutusan
sebagai warga gereja, secara khusus sebagai mahasiswa Kristen, dalam
kehadirannya di dunia kemahasiswaan, gereja, dan masyarakat Indonesia.
Karenanya para pendiri organisasi telah meletakkan dasar ideologi sekaligus
identitas gerakan organisasi yaitu Oikumenisme dan Nasionalisme. Hal ini
dinyatakan dalam Pembukaan Anggaran Dasar GMKI, yang menunjukkan
kehadiran GMKI diantara dua proklamasi, yakni:
Pertama, proklamasi karya penyelamatan Tuhan Yesus Kristus,dan
Kedua, proklamasi negara Republik Indonesia.
Selain itu secara historis dalam Sidang Raya WCC ke-VI pada tahun 1983 di
Vancouver, Kanada, gereja-gereja telah memperhatikan secara khusus masalah
ketidakadilan, perang, dan penghancuran lingkungan hidup sebagai akibat dari
keserakahan dan kerakusan umat manusia sebagai upaya gereja dalam mewujudkan
Gerakan Oikumene, maka berangkat dari hal itu sidang telah mengusulkan agar
gereja-gereja mengambil bagian dalam proses konsilier untuk keadilan,
perdamaian, dan keutuhan ciptaan (Dalam bahasa Inggris : Justice, Peace, and the
Integrity of Creation disingkat menjadi JPIC).7
2. Refleksi Theologis
Secara theologis umat kristiani mempunyai kewajiban untuk menyatakan iman
eksklusifnya kepada Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan pusat kehidupan,
sebagaimana bersumber pada kesaksian Alkitab. Memegang teguh keyakinan iman
merupakan hak komunitas, yang mesti dihargai negara dan anggota masyarakat lain
yang berbeda kepercayaan serta umat kristiani yang menyaksikan bahwa kelahiran,
Kematian dan kebangkitan Yesus Kristus adalah perbuatan Allah untuk menebus,
membebaskan dan menyelamatkan manusia bagi pembaharuan manusia dan alam
semesta, memjadikannya baru dan sempurna
.
3. Refleksi Filosofis
Secara filosofis GMKI hidup dalam kenyataan masyarakat Indonesia yang
majemuk, hal mana merupakan realitas alamiah yang tidak dapat dihindari. Dalam
kondisi tersebut, tentunya inklusifitas mesti menjadi paradigma dalam berinteraksi
dengan anggota masyarakat lain yang berbeda keyakinan dan pandangan. Dalam
kerangka itulah diyakini bahwa Pancasila digunakan sebagai kerangka interaksi
antar warga bangsa Indonesia yang plural secara sosial-budaya. Penghargaan dan
penerimaan kita akan nilai-nilai Pancasila adalah didasari niat kita untuk
mempertahankan keutuhan bangsa Indonesia yang majemuk.
Ketiga rekfleksi inilah yang menjadi sumber inspirasi dan motivasi dalam
merumuskan visi GMKI. Untuk menyatakan keinginan dan tekad GMKI dalam
mewujudkan kesejahteraan, perdamaian, keadilan dan kebenaran ditengah-tengah
masyarakat, bangsa dan negara. Sehingga gerak GMKI adalah memerangi akar dari
penyebab tidak terjadinya hal yang diinginkan tersebut.
Sebagai Gereja incognito, GMKI juga memiliki satu kesamaan tujuan pelayanan
dengan Gereja lainnya, yakni menghadirkan syallom Allah ditengah-tengah dunia.
Makna syallom Allah diinterpertasi oleh GMKI lewat terwujudnya kedamaian,
kesejahteraan, keadilan, kebenaran, keutuhan ciptaan dan demokrasi. Hasil interpertasi
tersebut, membuat syallom Allah akan lebih mudah terukur dan tampak kehadirannya
ditengah-tengah masyarakat, serta jauh dari sifat utopis. Rumusan visi GMKI ini juga
merupakan bagian dari perjuangan GMKI dalam mencapai tujuan Nasional
sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 dalam Negara kesatuan Republik
Indonesia. GMKI menyadari bahwa menciptkansyallom Allah di Indonesia, haruslah
sesuai dengan cita-cita perjuangan rakyat Indonesia yang tertuang dalam UUD 1945.
Dalam visi GMKI menempatkan “kasih” sebagai dasar dari terwujudnya syallom Allah.
Karena “kasih” merupakan dasar dari ajaran keKristenan yang memiliki makna akan
nilai universal. Kedamaian, kesejahteraan, keadilan, kebenaran, keutuhan ciptaan dan
demokrasi tidak dapat hanya diwujudkan hanya lewat faktor kepemimpinan seorang
pemimpin, atau tegasnya hukum ditegakkan, atau kewajiban dalam menjalankan agama
atau hal lainnya. Upaya-upaya dalam mewujudkan kedamaian, kesejahteraan, keadilan,
kebenaran, keutuhan ciptaan dan demokrasi tersebut akan sia-sia jika tidak berdasarkan
pada “kasih”.
Dalam kasih ada kesabaran, tidak sombong, tidak pencemburu, lemah lembut,
perhatian, murah hati dan penguasaan diri. Dengan kasih maka akan ada ketulusan dan
kerelaan dalam melakukan sesuatu sebagai upaya dalam mewujudnyatakan kedamaian,
kesejahteraan, keadilan, kebenaran, keutuhan ciptaan dan demokrasi. Kasih bebas dari
intervensi politik tujuan pribadi, politik kelompok dan politik golongan. Kasih
merupakan perlambang dari wujud kehadiran kerajaan Allah ditengah-tengah
ketercapaian akan kedamaian, kesejahteraan, keadilan, kebenaran, keutuhan ciptaan dan
demokrasi. Dengan kasih maka bangsa Indonesia yang plural dan majemuk akan
menjadi satu dalam melakukan pembangunan dan pengembangan akan kapasitas sosial.
Kasih tidak akan melihat warna kulit, jenis kelamin, suku bangsa dan ras. Semuanya
menjadi satu dalam Kerajaan Allah di Indonesia.
Apa makna kedamaian di Indonesia berdasarkan kasih? Perlu dipahami bahwa
Indonesia merupakan masyarakat yang plural dan beragam. Dari Sabang sampai
Merauke, Indonesia memiliki keragaman budaya, geografis, karakter sosial dan tingkat
ekonomi. Pluralitas dan kemajemukan tersebut dapat menjadi akar konflik jika tidak
adanya kesadaran akan pentingnya hidup damai dalam kasih dalam kebersamaan.
Berbagai konflik horizontal dan vertikal merupakan dampak dari kurangnya kesadaran
akan pentingnya hidup damai. Jika saja kedamaian dipahami dan diaplikasikan oleh
setiap orang Indonesia, maka Kerajaan Allah akan tampak dalam wajah-wajah yang
plural dan majemuk tersebut. Kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda warna
kulit, suku bangsa dan ras akan bahu membahu dalam membina kerukunan sebagai satu
bangsa Indonesia. GMKI hadir di Indonesia untuk berupaya menghadirkan hal tersebut
agar terwujud dalam dasar kasih yang bebas dari kepentingan dan tujuan kelompok
tertentu.
Apa makna kesejahteraan di Indonesia berdasarkan kasih? Dengan letak
geografis yang luas dan terdiri dari banyak pulau, maka memungkinkan pembangunan
kesejahteraan penduduk tidak merata diberbagai wilayah di Indonesia. Hal ini
menyebabkan makin melebarnya kesenjangan dalam masyarakat. Banyak masyarakat
yang masih hidup dibawah garis kemiskinan secara ekonomi, dan sulit mendapatkan
pelayanan kesehatan serta pendidikan. Padahal sebagai negara yang kaya akan sumber
daya alamnya, Indonesia seharusnya memiliki peluang besar dalam meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. GMKI hadir di Indonesia untuk berupaya mewujudkan hal
tersebut berdasarkan kasih. Dengan dasar kasih, maka terwujudnya kesejahteraan akan
lebih dimaknai bukan sebagai kelimpahan, akan tetapi kebersamaan, tidak ada rasa
cemburu, namun hanya ada aktivitas saling mendukung dalam masyarakat.
Apa makna keadilan di Indonesia berdasarkan kasih? Banyak masyarakat di
Indonesia merasakan ketidak adilan, baik itu diperlakukan didepan hukum maupun
dampak dari kemajuan pembangunan. Penguasa dan orang-orang kaya dengan mudah
membeli dan memperjual belikan keadilan, serta mengorbankan orang miskin dan
masyarakat biasa. Berbedanya kesenjangan putusan keadilan antara koruptor (pencuri
uang rakyat) dan pencuri ubi (untuk menahan rasa lapar) dan bentuk ketidak adilan
lainnya, menyebabkan masyarakat merasa ketidak adilan masih menjadi pondasi
aktivitas hukum di Indonesia. GMKI hadir dengan dasar kasih untuk memperjuangkan
keadilan bagi rakyat Indonesia. Keadilan dengan dasar kasih memberikan panduan
kepada hukum di Indonesia untuk melihat masyarakat sebagai satu kesatuan dan tidak
dibeda-bedakan dalam mendapatkan keadilan. Kasih memberikan makna yang lebih
dalam, terhadap makna keadilan yang diharapkan oleh masyarakat. Dengan kasih, setiap
orang akan bersikap adil dengan memperhatikan kondisi dan situasi orang lain, serta
tidak mementingkan diri sendiri.
Apa makna kebenaran di Indonesia berdasarkan kasih? Kebenaran merupakan
sesuatu yang sulit diungkapkan jika ada kepentingan dan tujuan tertentu. Banyak fakta
dan kasus di Indonesia tidak terungkap kebenarannya dikarenakan adanya kepentingan
kekuasaan. Selain itu prinsip-prinsip kebenaran diputar balikan sehingga menjadi
senjata untuk menyerang orang lain. Kehidupan beragama yang harusnya toleran, dan
bebas dari kriminalitas, dapat diputar menjadi perjuangan dengan cara yang tidak
toleran dan kriminal untuk tujuan tertentu dalam kehidupan beragama. Hal lainnya juga
terjadi sebagai bagian dari upaya melenyapkan kebenaran. GMKI berjuang untuk
menyuarakan kebenaran Firman Tuhan dan juga berjuang untuk mengedepankan
kebenaran di bumi Indonesia. Dengan dasar kasih, maka kebenaran tidak perlu
diperjuangkan dengan kekerasan, akan tetapi dengan cara yang lebih toleran. Dengan
dasar kasih, maka ada proses saling mengingatkan sebagai satu bangsa untuk terus
mengungkapkan kebenaran sehingga terus tumbuh dalam terang kasih Kristus.
Apa makna keutuhan ciptaan di Indonesia berdasarkan kasih? Rusaknya
hubungan manusia dengan lingkungan, manusia dengan manusia lainnya, merupakan
wujud dari rusaknya ciptaan Allah. Secara pribadi manusia sudah tidak utuh lagi, karena
hilangnya hubungan dengan lingkungan sekitar. Bencana banjir merupakan contoh dari
rusaknya ciptaan Tuhan. Manusia mengeksploitasi lingkungan dengan kepentingan
yang tidak seimbang. GMKI hadir dalam upaya untuk mewujudkan kembali utuhnya
ciptaan Tuhan. Ciptaan yang telah sempurna dan saling mendukung sebagai sebuah
ekosistem harus terus dijaga, sehingga tetap utuh. Dengan dasar kasih, maka ada sarasa
saling menolong serta kesadaran akan keutuhan ciptaan akan menjaga manusia untuk
saling menghargai dengan lingkungan dan sesamannya manusia.
Apa makna demokrasi di Indonesia berdasarkan kasih? Proses demokratisasi di
Indonesia menuju pada pendewasaan, akan tetapi harus diwaspadai agar tidak terpusat
pada kelompok atau golongan tertentu. Masyarakat harus dilibatkan secara sadar dalam
proses demokrasi di Indonesia. GMKI berjuang untuk mewujudkan demokrasi yang
berdasarkan kasih, dengan berpihak pada rakyat. Berdasarkan kasih yang menjauhkan
sikap-sikap negatif dalam menjaga kekuasaan dan mempolitisirnya menjadi kekuatan
yang dapat melakukan intervensi terhadap suara demokrasi rakyat. Kasih dalam
demokrasi mengutamakan suara rakyat sebagai satu kesatuan dari berdirinya sebuah
negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dengan mewujudkan visi GMKI, kader-kader GMKI telah berperan serta dalam
menghadirkan syallom Allah dibumi Indonesia. GMKI berhasil menginterpretasi
syallom Allah kedalam wujud yang lebih konkret dengan nilai yang universal melewati
batas-batas agama, geografis, dan suku bangsa. Visi menjadi panduan, kader-kader
dalam berperilaku dalam organisasi dan dengan penyertaan Kristus sebagai kepala
gerakan, maka visi tersebut akan diwujudkan sedikit demi sedikit oleh kepengurusan
dalam lintas waktu dan lintas generasi.

Misi GMKI
Dalam mewujudkan visi tersebut, maka diperlukan misi sebagai upaya
pencapaiannya. Visi tanpa misi hanyalah merupakan aktivitas pemimpi. Akan tetapi
sebaliknya visi dengan misi yang jelas maka merupakan aktivitas sebuah organisasi
yang bertanggung jawab dan berintegritas.
Adapun misi GMKI meliputi aktivitas GMKI di tiga medan layan, yakni Gereja,
Perguruan tinggi dan Masyarakat. Misi GMKI merupakan wujud dari tiga tugas
panggilan gereja, yakni bersekutu, bersaksi dan melayani. Aktivitas tersebut merupakan
langkah-langkah strategis yang dilakukan sebagai upaya pencapaian visi organisasi.
Misi GMKI ada tiga, yakni :
1. Mengajak mahasiswa dan warga perguruan tinggi lainnya kepada pengenalan akan
Yesus Kristus selaku Tuhan dan Penebus dan memperdalam iman dalam kehidupan
dan pekerjaan sehari-hari.
2. Membina kesadaran selaku warga gereja yang esa di tengah-tengah mahasiswa dan
perguruan tinggi dalam kesaksian memperbaharui masyarakat, manusia dan gereja.
3. Mempersiapkan pemimpin dan penggerak yang ahli dan bertanggungjawab dengan
menjalankan panggilan di tengah-tengah masyarakat, negara, gereja, perguruan
tinggi dan mahasiswa, dan menjadi sarana bagi terwujudnya kesejahteraan,
perdamaian, keadilan, kebenaran dan cinta kasih ditengah-tengah manusia dan alam
semesta.
Sebagai organisasi Kristen, maka GMKI memiliki kewajiban untuk menyatakan
kebenaran Firman Tuhan dan memperkuat persekutuan iman dalam Yesus Kristus.
Mengapa hal ini perlu dilakukan? Hal ini dilakukan untuk menjaga integritas dan
komitmen sebagai orang Kristen. Jika tidak ada pemahaman yang benar akan identitas
diri dan panggilan sebagai orang Kristen, maka kader-kader GMKI akan sulit
mewujudkan syallom Allah dimuka bumi. Mengadakan persekutuan dalam Yesus
Kristus, juga merupakan bagian dari mengenal “kasih” yang telah diajarkan dan
diberikan oleh Yesus Kristus kepada seluruh umat manusia. Dengan mengenal “kasih”
Kristus, maka memungkinkan setiap orang untuk mampu melakukannya dalam
kehidupan sehari-hari.
Setelah bersekutu sebagai orang Kristen, maka selanjutnya membina kesadaran
orang-orang Kristen yang berada dalam universitas untuk berani bersaksi dalam
membawa pembaharuan bagi masyarakat dan Gereja. GMKI harus mengajak setiap
orang untuk menjadi alat kesaksian tentang kebenaran dan memperjuangkan keadilan
menuju masyarakat yang sejahtera, utuh dan demokrasi. Disini GMKI dengan
intelektualitasnya memperjuangkan syallom Allah agar hadir ditengah-tengah bangsa
Indonesia. Dengan sikap kritis dan logis sebagai bagian dari masyarakat intelektual,
GMKI harus menunjukan perannya dalam memberikan perubahan dalam masyarakat.
GMKI harus memperjuangkan HAM, keadilan, kesetaraan, dan hal lainnya yang
berdampak pada kehadiran masyarakat yang beradab. Dengan memperbaharui
masyarakat maka GMKI telah menjalankan fungsi alat kesaksiannya sebagai bagian dari
tubuh Kristus. Menjalankan fungsi pembaharuan, GMKI juga harus menggunakan
metode dialektika, sehingga proses pembinaan sebagai masyarakat perguruan tinggi
juga terjadi.
Misi berikutnya yakni GMKI mempersiapkan calon-calon pemimpin dan
penggerak ahli dalam berbagai bidang untuk secara bertanggung jawab menjalankan
panggilannya ditengah-tengah masyarakat dan Gereja. Peran yang ketiga ini merupakan
peran pelayanan GMKI. Atas dengan kata lain, GMKI melayani bangsa Indonesia
dengan menyiapkan kader-kader yang berkualitas secara iman dan intelektual agar siap
diutus ketengah-tengah masyarakat dan Gereja, dalam mewujud nyatakansyallom Allah.
Pelayan-pelayan yang berkualitas ini memiliki karakter pemimpin yang kuat dan
bertanggung jawab serta memiliki kesadaran yang tinggi untuk mengabdi terhadap
masyarakat dan Gereja.

Tri Panji GMKI


Setelah mengenal visi dan misi GMKI, maka penting untuk mengetahui turunan
dari visi misi tersebut kedalam nilai-nilai yang mengikat kader-kader GMKI. Nilai-nilai
ini merupakan karakter yang harus dibangun dan dimiliki oleh kader-kader GMKI,
karena merupakan identitas dan cirri GMKI. Nilai-nilai inilah yang membedakan GMKI
berbeda dengan organisasi pergerakan lainnya.
Nilai-nilai atau karakter dasar dari GMKI terdapat secara ringkas dalam “Tri
Panji”. Tri panji merupakan tiga identitas GMKI yang tampak dari karakter kader-kader
GMKI. Karakter kader inilah yang mampu membawa kader untuk melaksanakan misi
dalam mewujudkan visi GMKI. Tri pandji dalam lambang GMKI, disimbolkan dengan
tiga garis tegak. Tiga simbol yang mencirikan kader GMKI sebagai warga Gereja dan
warga negara NKRI. Adapun Tri Panji GMKI meliputi : Tinggi Iman, Tinggi Ilmu
dan Tinggi Pengabdian.
Tinggi iman berkaitan erat dengan menjalankan misi pertama melakukan
persekutuan sebagai orang Kristen dan anggota Gereja. Kader GMKI haruslah memiliki
iman yang kuat dan teguh kepada Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja dan Sang
Kepala Gerakan. Iman ini yang membangun intergritas dan komitmen kader dalam
menyuarakan suara kebenaran. Iman yang kuat merupakan sesuatu yang lahir dari
dalam diri dan tidak dapat tergantikan dengan sesuatu yang berada diluar diri. Dengan
iman juga, kader-kader GMKI akan menyadari dirinya sebagai ciptaan yang sempurna
dari Allah dan menjawab panggilannya sebagai orang Kristen.
Selanjutnya kader-kader GMKI juga harus tinggi ilmu. Tinggi ilmu merupakan
karakter sebagai masyarakat intelektual (perguruan tinggi) Kader-kader GMKI
menguasai bidang ilmu yang ditekuninya dan juga memiliki wawasan pengetahuan
umum yang luas. Dengan demikian kader GMKI tidak hanya beriman, namun juga
berintelektual. Dengan menguasai secara dalam bidang ilmu yang ditekuni, maka kader
GMKI akan menjadi tenaga ahli dan berkualitas dalam masyarakat. Selain ahli dalam
satu bidang, kader juga memiliki wawasan pengetahuan umum yang luas, yang
memungkinkan dia mampu bertukar pikiran dengan orang lain, kreatif dan inovatif
dalam melakukan pembaharuan.
Terakhir, kader GMKI harus tinggi pengabdian. Tingginya pengabdian
merupakan karakter kader GMKI dalam menjawab tugas panggilan pengutusan Gereja.
kader-kader harus mampu berinteraksi dengan masyarakat serta terjun kedalam
masyarakat untuk melakukan pembaharuan. Kader harus mampu mengaplikasikan ilmu
yang telah dimilikinya serta berdasarkan tanggung jawab iman kepada Yesus Kristus,
kepada masyarakat yang plural dan majemuk. Pengabdian yang dilakukan harus
berdasarkan pada sikap nasionalisme sebagai bangsa Indonesia, dan tidak terjebak pada
pengkotak-kotakan masyarakat. Kader-kader harus mampu berbaur dalam masyarakat
dan menjadi pemimpin dan penggerak ahli yang menciptakan perubahan dan
pembaharuan menuju pada Terwujudnya kedamaian, kesejahteraan, keadilan,
kebenaran, keutuhan ciptaan dan demokrasi di Indonesia berdasarkan kasih.

Panca Kegiatan
Dalam membangun karakter kader GMKI yang tinggi iman, tinggi ilmu dan
tinggi pengadian, dibutuhkan aktivitas-aktivitas organisasi yang mengarahkan kader
pada kualitas tersebut. Aktivitas-aktivitas ini melekat dalam Panca Kegiatan GMKI.
Panca kegiatan GMKI disimbolkan dalam lambang GMKI tampak seperti sebuah
perisai segi lima. Perisai segi lima ini merupakan senjata untuk menangkis serangan dari
luar dan membawa gerakan GMKI untuk terus maju dalam mewujudkan syallom Allah.
Adapun panca kegiatan GMKI meliputi : Berdoa/bersekutu, Belajar, Bersaksi,
Bersosial, dan Berkreasi. Panca kegiatan ini hadir dalam aktivitas organisasi dan
aktivitas keseharian kader GMKI. Dengan melaksanakan panca kegiatan, maka kader-
kader GMKI akan ditingkatkan iman, ilmu dan kesadaran akan pengabdiannya.
Berdoa dan bersekutu merupakan aktivitas yang harus terus dilakukan oleh
GMKI, mengingat GMKI hadir dari persekutuan para founding father GMKI lewat PA
dan ibadah. Kader-kader harus selalu bersekutu dan berama-sama membangun iman
mereka. Mengapa hal ini penting? Karena dalam mewujudkan visi GMKI banyak
halangan dan rintangan yang dapat merubah arah gerakan kader-kader GMKI, untuk itu
dengan berdoa dan bersekutu para kader akan selalu dikuatkan dan dibangun imannya
untuk selalu berpengharapan pada Sang Kepala Gerakan dan memiliki kekuatan untuk
membawa perubahan.
Selain aktivitas berdoa, kader juga selalu melakukan aktivitas belajar. Sebagai
masyarakat intelektual, kader-kader GMKI tidak selalu berpuas dengan ketercapaian
tingkatan pembelajaran tertentu. Kader-kader selalu memiliki rasa haus akan untuk terus
belajar dan belajar. Kader selalu belajar dari pengajaran dan pengalaman lewat
berefleksi. Dengan terus belajar, maka kader selalu ditingkatkan ilmu dan wawasannya
sebagai calon pemimpin.
Berikutnya bersaksi. Bersaksi merupakan aktivitas GMKI sebagai gerakan.
Kader GMKI harus memahami bahwa iman dan ilmu bukan hanya untuk diri sendiri,
namun perlu terus diberikan kepada orang sekitar. Kader harus mampu memberitakan
Firman Tuhan sebagai kabar keselamatan yang diberikan oleh Kristus kepada seluruh
orang dan seluruh bangsa. Selain itu juga dirinya harus juga menjadi terang dan garam
dilingkungan sekitar dimana pun ia berada, sehingga tubuhnya digunakan sebagai alat
kesaksian.
Kader harus melakukan aktivitas sosial, hal ini untuk meningkatkan kepekaan
sosial. Aktivitas sosial dapat dilakukan secara bersama-sama sebagai satu kesatuan
organisasi, dan atau melakukan secara individu sebagai bangunan karakter kader GMKI.
Aktivitas sosial dengan cara meleburkan diri kedalam masyarakat dan menunjukan
kepekaan terhadap fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Kader harus mampu
mengenal dan memahami lingkungan masyarakat disekitar ia berada, selain itu juga
membantu dan melakukan pendampingan terhadap masyarakat, sebagai bagian dari
kepekaan dan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari anggota masyarakat.
Aktivitas yang terakhir adalah berkreasi. Perubahan dalam Gereja dan
masyarakat sulit ditebak dan dapat terjadi secara mendadak. Untuk itu kader harus
mampu ikut melakukan pembaharuan jika terjadi perubahan secara mendadak.
Kemampuan mengantisipasi perubahan tersebut dapat dilatih dengan melakukan
aktivitas kreativitas. Dengan berkreasi, kader diajak untuk selalu melakukan kreativitas
dalam menjalankan organisasi dan melakukan perubahan dalam diri. Kader harus selalu
melakukan aktivitas-aktivitas yang baru/ dinamis dan tidak terjebak pada pola yang
kaku dan monoton. Kader GMKI harus selalu mampu mengggunakan sumber-sumber
daya disekelilingnya untuk berkreasi dalam melakukan gerakannya. Dengan demikian
kader tidak dibatasi oleh sumber daya, namun menjadikan sumber daya yang terbatas
menjadi sebuah kreasi gerakan dalam melakukan pembaharuan.

Penutup
Memahami GMKI dengan ber-GMKI adalah aktivitas untuk lebih menyalami
visi dan misi GMKI. GMKI memiliki karakter dan ciri yang berbeda dengan organisasi
lainnya. kader-kader GMKI dimampukan untuk mewujudkan visi GMKI pada tingkatan
yang sederhana namun berdampak besar terhadap Gereja dan masyarakat. Karakter
tinggi iman, tinggi ilmu dan tinggi pengabdian diharapkan mampu membawa kader agar
mewujud nyatakan visi GMKI bukan hanya pada saat berorganisasi, namun juga ketika
berada dalam kehidupan sehari-hari dan bahkan ketika menjadi senior GMKI. Dengan
tripanji dan panca kegiatan, GMKI membuat visi dan misi GMKI dipahami secara lebih
sederhana dan terus melekat dalam karakter kader dimana pun ia berada dan dalam
kurun waktu yang berbeda. Untuk itu tetaplah tinggi imanmu, tinggi ilmumu dan tinggi
pengabdianmu. Ut Omnes Unum Sint