Anda di halaman 1dari 33

RESPON TUBUH TERHADAP TANTANGAN IMUNOLOGIK

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan syukur atas ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya makalah
dengan judul “Respon Tubuh Terhadap Tantangan Imunologik” ini dapat diselesaikan.
Pembuatan makalah ini dimaksudkan sebagai nilai ujian pada mata kuliah Patologi.
Teriring ucapan terima kasih kepada dosen penanggung jawab mata kuliah yang telah
membimbing kami sehingga makalah ini dapat diselesaikan.
Dalam penyusunan makalah ini kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari
kesempurnaan baik dalam bentuk penyajian, kelengkapan isi, dan lain-lainnya. Untuk itu dengan
senang hati kami akan menerima segala saran, kritik dari para pembaca guna memperbaikan
makalah ini di kemudian hari.
Akhir kata, semoga buku ini dapat bermanfaat dan berguna, serta dapat menambah
pengetahuan bagi para pembaca.

Gorontalo, 3 Juni 2012

Kelompok 1 (Satu)
DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang………………………………………………......1
BAB II. Teori
II.1 Imunitas…………………………………………………………..2
II.2 Respon Imun.........................................................................3
II.3 Sistem Imun..........................................................................5
II.4 Tipe Imunitas……………………………………………………10
II.5 Faktor Yang Mempengaruhi Fungsi Sistem Imun…………...12
II.6 Fisiologi Reaksi Hipersensitifitas ……………………………...13
II.7 Imunodefisiensi………………………………………………….17
II.8 Kompleks Histokompatibilitas Mayor…………...…….……...20
BAB III. PENUTUP
III.1 KESIMPULAN………………………………………………….32
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Tubuh manusia tidak mungkin terhindar dari lingkungan yang mengandung mikroba
pathogen disekelilingnya. Mikroba tersebut dapat menimbulkan penyakit infeksi pada manusia.
Mikroba patogen yang ada bersifat poligenik dan kompleks. Oleh karena itu respon imun tubuh
manusia terhadap berbagai macam mikroba patogen juga berbeda. Umumnya gambaran biologic
spesifik mikroba menentukan mekanisme imun mana yang berperan untuk proteksi. Begitu juga
respon imun terhadap bakteri khususnya bakteri ekstraseluler atau bakteri intraseluler
mempunyai karakteriskik tertentu pula.
Tubuh manusia akan selalu terancam oleh paparan bakteri, virus, parasit, radiasi
matahari, dan polusi. Stress emosional atau fisiologis dari kejadian ini adalah tantangan lain
untuk mempertahankan tubuh yang sehat. Biasanya kita dilindungi oleh system pertahanan
tubuh, sistem kekebalan tubuh, terutama makrofag, dan cukup lengkap kebutuhan gizi untuk
menjaga kesehatan. Kelebihan tantangan negattif, bagaimanapun, dapat menekan system
pertahanan tubuh, system kekebalan tubuh, dan mengakibatkan berbagai penyakit fatal.
Respon imun yang alamiah terutama melalui fagositosis oleh neutrofil, monosit serta
makrofag jaringan. Lipopolisakarida dalam dinding bakteri Gram negative dapat mangativasi
komplemen jalur alternative tanpa adanya antibody. Kerusakan jaringan yang terjaddi ini adalah
akibat efek samping dari mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeliminasi bakteri. Sitokin juga
merangsang demam dan sintesis protein.

BAB II
TEORI
II.1 Imunitas
Imunitas adalah resistensi terhadap penyakit terutama penyakit infeksi. Gabungan sel,
molekul dan jaringan yang berperan dalam resistensi terhadap infeksi disebut sistem imun.
Reaksi yang dikoordinasi sel-sel, molekul-molekul terhadap mikroba dan bahan lainnya disebut
respons imun. Sistem imun diperlukan tubuh untuk mempertahankan keutuhannya terhadap
bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup.
Mikroba dapat hidup ekstraseluler, melepas enzim dan menggunakan makanan yang
banyak mengandung gizi yang diperlukannya. Mikroba lain menginfeksi sel pejamu dan
berkembang biak intraseluler dengan menggunakan sumber energi sel pejamu. Baik mikroba
ekstraseluler maupun intraseluler dapat menginfeksi subyek lain, menimbulkan penyakit dan
kematian, tetapi banyak juga yang tidak berbahaya bahkan berguna untuk pejamu.
Pertahanan imun terdiri atas sistem imun alamiah atau nonspesifik (nature innate/ native)
dan didapat atau spesifik (adaptive/ acquired).

Gambar 1. Gambaran umum sistem imun


Mekanisme imunitas nonspesifik (sawar mekanis, fagosit, sel NK dan sistem komplemen)
memberikan pertahanan terhadap infeksi. Imunitas spesifik (respons limfosit) timbul lebih
lambat. Perbedaan-perbedaan antara kedia sistem imun tersebut terlihat pada gambar dan tabel di
bawah.
II.2 Respon Imun
Respons imun adalah respons tubuh berupa suatu urutan kejadian yang kompleks terhadap
antigen, untuk mengeliminasi antigen tersebut. Respons imun ini dapat melibatkan berbagai
macam sel dan protein, terutama sel makrofag, sel limfosit, komplemen, dan sitokin yang saling
berinteraksi secara kompleks. Mekanisme pertahanan tubuh terdiri atas mekanisme pertahanan
non spesifik dan mekanisme pertahanan spesifik.
Mekanisme pertahanan non spesifik disebut juga komponen nonadaptif atau innate, atau
imunitas alamiah, artinya mekanisme pertahanan yang tidak ditujukan hanya untuk satu jenis
antigen, tetapi untuk berbagai macam antigen. Imunitas alamiah sudah ada sejak bayi lahir dan
terdiri atas berbagai macam elemen non spesifik. Jadi bukan merupakan pertahanan khusus
untuk antigen tertentu.
Mekanisme pertahanan tubuh spesifik atau disebut juga komponen adaptif atau imunitas
didapat adalah mekanisme pertahanan yang ditujukan khusus terhadap satu jenis antigen, karena
itu tidak dapat berperan terhadap antigen jenis lain. Bedanya dengan pertahanan tubuh non
spesifik adalah bahwa pertahanan tubuh spesifik harus kontak atau ditimbulkan terlebih dahulu
oleh antigen tertentu, baru ia akan terbentuk. Sedangkan pertahanan tubuh non spesifik sudah
ada sebelum ia kontak dengan antigen.

Gambar 2. Mekanisme utama imunitas nonspesifik dan spesifik


Gambar 3. Perbedaan sistem imun nonspesifik dan spesifik

Tabel 1. Perbedaan sifat-sifat sistem imun nonspesifik dan spesifik


Pembagian di atas hanya dimaksudkan untuk memudahkan pengertian saja. Sebenernya
antara kedua sistem tersebut ada kerja sama yang erat, yang satu tidak apat dipisahkan dari yang
lain.
II.3 Sistem Imun
Sistem imun adalah semua mekanisme yang digunakan tubuh untuk mempertahankan
keutuhan tubuh, sebagai perlindungan terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan
dalam lingkungan hidup
A. Fungsi sistem imun:
1. Melindungi tubuh dari invasi penyebab penyakit; menghancurkan & menghilangkan
mikroorganisme atau substansi asing (bakteri, parasit, jamur, dan virus, serta tumor) yang masuk
ke dalam tubuh .
2. Menghilangkan jaringan atau sel yg mati atau rusak (debris sel) untuk perbaikan jaringan.
3. Mengenali dan menghilangkan sel yang abnormal.
B. Tipe sistem imun.
Secara umum sistem imun manusia terbagi dalam dua, yaitu : alamiah dan adaptif
(spesifik). Sistem imun alamiah terentang luas, mulai dari air mata, air liur, keringat (dengan
pHnya yang rendah/asam), bulu hidung, kulit, selaput lendir, laktoferin dan asam neuraminik
(pada air susu ibu), sampai asam lambung termasuk di dalamnya. Secara lebih mendetail di
dalam cairan tubuh seperti air mata atau darah terdapat komponen sistem imun alamiah yang
antara lain terdiri dari fasa cair seperti IgA (Imunoglobulin A), Interferon, Komplemen, Lisozim,
ataupun c-reactive protein (CRP). Sementara fasa seluler terdiri dari sel-sel pemangsa (fagosit)
seperti sel darah putih (polymorpho nuclear/PMN), sel-sel mono nuklear (monosit atau
makrofag), sel pembunuh alamiah (Natural Killer), dan sel-sel dendritik. Sedangkan pada sistem
imun adaptif terdapat sistem dan struktur fungsi yang lebih kompleks dan beragam. Sistem imun
adaptif terdiri dari sub sistem seluler yaitu keluarga sel limfosit T (T penolong dan T sitotoksik)
dan keluarga sel mono nuklear (berinti tunggal). Sub sistem kedua adalah sub sistem humoral,
yang terdiri dari kelompok protein globulin terlarut yaitu: Imunoglobulin G, A, M, D, dan E.
Imunoglobulin dihasilkan oleh sel limfosit B melalui suatu proses aktivasi khusus, bergantung
kepada karakteristik antigen yang dihadapi. Secara berkesinambunangan dalam jalinan
koordinasi yang harmonis, sistem imun baik yang alamiah maupun adapatif senantiasa bahu-
membahu menjaga keselarasan interaksi antara sistem tubuh manusia dengan media hidupnya
(ekosistem).
C. Mekanisme kerja sistem imun
Keberadaan mikroba patogen dapat menimbulkan dampak-dampak yang tidak diharapkan
akan memicu sistem imun untuk melakukan tindakan dengan urutan mekanisme sebagai berikut :
introduksi, persuasi, dan represi.
Meskipun komplemen dapat diasosiasikan sesuai artinya, yaitu pelengkap, namun
sesungguhnya fungsinya amatlah vital. Faktor komplemen bertugas untuk menganalisa masalah
untuk selanjutnya mengenalkannya kepada imunoglobulin, untuk selanjutnya akan diolah
dandipecah-pecah menjadi bagian-bagian molekul yang tidak berbahaya bagi tubuh. Setelah itu
limfosit T bekerja dengan memakan mikroba patogen. Sel limfosit terdiri dari dua spesies besar,
yaitu limfosit T dan B. Bila limfosit B kelak akan bermetamorfosa menjadi sel plasma dan
selanjutnya akan menghasilkan imunoglobulin (G,A,M,D,E), maka sel T akan menjadi divisi T
helper, T sitotoksik, dan T supresor.
Dalam kondisi yang berat akan terjadi beberapa proses berikut : sel limfosit T akan
meminimalisasi efek patogenik dari mikroba patogen dengan cara bekerjasama dengan antibodi
untuk mengenali dan merubah antigen dari mikroba patogen menjadi serpihan asam amino
melalui sebuah mekanisme yang disebut Antibody Dependent Cell Cytotoxicity (ADCC). Selain
itu sel limfosit T bersama dengan sel NK (Natural Killer) dan sel-sel dendritik dapat bertindak
langsung secara represif untuk menghentikan kegiatan mikroba patogen yang destruktif melalui
aktivitas kimiawi zat yang disebut perforin. Dalam beberapa kondisi khusus, sel limfosit T dapat
memperoleh bantuan dari sel makrofag yang berperan sebagai Antigen Presenting Cell (APC)
alias sel penyaji antigen.
Sedangkan Sel limfosit B bertugas untuk membangun sistem manajemen komunikasi
terpadu di wilayah cairan tubuh (imunitas humoral). Bila ada antigen dari unsur asing yang
masuk, maka sel limfosit B akan merespon dengan cara membentuk sel plasma yang spesifik
untuk menghasilkan molekul imunoglobulin yang sesuai dengan karakteristik antigen dari unsur
asing tersebut.
D. Sel – sel sistem imun
A. SEL-SEL IMUN NON SPESIFIK
1. Sel Fagosit Fagosit Agranulosit
 Sel Monosit : sel yang berasal dan matang di sum-sum tulang dimana setelah matang akan
bermigrasi ke sirkulasi darah dan berfungsi sebagai fagosit
 Sel makrofag : diferensiasi dari sel monosit yang berada dalam sirkulasi. Ada 2 golongan, yaitu:
 Fagosit professional: monosit dan makrofag yang menempel pada permukaan dan akan memakan
mikroorganisme asing yang masuk. Monosit dan makrofag juga mempunyai resepto interferon
dan Migration Inhibition Factor (MIF). Selanjutanya monosit dan makrofag diaktifkan oleh
Macrophage Activating Factor (MAF) yang dilepas oleh sel T yang disensitasi.
 Antigen Presenting Cell (APC): sel yang mengikat antigen asing yang masuk lalu meprosesnya
sebelum dikenal oleh limfosit. Sel-sel yang dapat menjadi APC antara lain: kelenjar limfoid, sel
Langerhans di kulit, Sel Kupffer di hati, sel mikrogrial di SSP dan sel B.
Fagosit Garnulosit
 Neutrofil : mempunyai reseptor untuk fraksi Fc antibody dan komplemen yang diaktifkan.
 Eosinofil: eosinofil dapat dirangsang untuk degranulasi sel dimana mediator yang dilepas dapat
menginaktifkan mediator- mediator yang dilepas oleh mastosit/basofil pada reaksi alergi.
eosinofil mengandung berbagai granul seperti Major Basic Protein (MBP), Eosinophil Cationic
Protein (ECP), Eosinophil Derived Neurotoxin (EDN) & Eosinophil Peroxidase (EPO) yang
besifat toksik dan dapat menghancurkan sel sasaran bila dilepas.
2. Sel Nol
Berupa Large Granular Lymphocyte (LGL) yang terbagi dalam sel NK (Natural Killer)
dan sel K (Killer). Sel NK dapat membunuh sel tumor dengan cara nonspesifik tanpa bantuan
antibody sedang sel K merupakan efektor Antibody Dependent Cell (ADCC) ynag dapat
membunuh sel secara nonspesifik namun bila sel sasaran dilapisi antibody.
3. Sel Mediator
Basofil dan Mastosit: melepaskan bahan-bahan yang mempunyai aktivitas biologic antara
lain: meningkatkan permeabilitas vaskuler dan respons inflamasi.
Trombosit: berfungsi pada homeostasis, memodulasi respons inflamasi, sitotoksik sebagai
selefektor dan penyembuhan jaringan.
B. SEL IMUN SPESIFIK
1. Sel T
 Petanda Permukaan: mempunyai resptor sel yang dapat dibedakan dengan yang lain, beberapa
macam sel T
 T11 : Penanda bahwa sel T sudang matang
 T 4 dan T8 : T4 berfungsi sebagai pengenalan molekul kelas II MHC dan T8 dalam
pengenalankelas I MHC
 T3 : resptor yang diperlukan untukperangsangan sel T
 TcT (Terminal deoxyribonuckleotidyl Transferase) : enzim yang diperlukan untuk menemukan
pre T cell
Petanda Cluster Differentiation (CD) : berperan dalam meneruskan sinyal aktivasi yang datang
dari luar sel ke dalam sel (bila ada interaksi antara antigen molekul MHC dan reseptor sel T)
 Petanda fungsional
Mitogen dan lectin merupakan alamiah yang berkemampuan mengikat dan merangsang banyak
klon limfoid untuk proliferasi dan diferensiasi.
Subkelas Sel T
 Sel Th (T Helper) : menolong sel b dalam memproduksi antibody
 Sel Ts (T Supresor): menekan aktivitas sel T yang lain dan sel B. Sibagi menjadi Sel Ts spesifik
untuk antigen tertentu dan sel Ts nonspesifik
 Sel Tdh / Td (delayed hypersensivity): berperan pada pengerahan makrofag ddan sel inflamasi
lain ke tempat terjadinya reaksi hipersensivitas tipe lambat.
 Sel Tc (cytotoxic): berkemampuan untuk menghancurkan sel allogeneic dan sel sasaran yang
mengandung virus.
2. Sel B
Sel yang berploriferasi dan berdiferensiasi menjadi sel plasma yang mampu membentuk
dan melepan antibody atas pengaruh sel T. macam macam antibody yang dihasilkan
 Ig G : berjumlah 75% dari seluruh Imunoglobin, terdapat dalam jaringan & serum (darah, cairan
SSP)ม mengaktifkan sistem komplemen sehingga berperan dalam imunitas selular ม Ig G dapat
menembus plasenta masuk k fetus
 Ig A: berjumlah 15% dari seluruh Imunoglobin, terdapat dalam cairan tubuh (darah,saliva,air
mata, ASI, sekret paru, GI, dll), Ig A dpt menetralisir toksin & mencegah terjadinya kontak
antara toksin dgn sel sasaran
 Ig M : berjumlah 10% dari seluruh Imunoglobin, Merupakan antibodi pertama yang dibentuk
dalam respon imun, kebanyakan sel B mengandung IgM pada permukaannya sebagai reseptor
antigen, dapat mencegah gerakan mikroorganisme, memudahkan fagositosis & aglutinator kuat
terhadap antigen
 Ig D : berjumlah 0,2% dari seluruh Imunoglobin, merupakan komponen utama pada permukaan
sel B & penanda dari diferensiasi sel B yang lebih matang, Ditemukan dgn kadar rendah dlm
sirkulasi ใ
 Ig E : berjumlah 0,004% dari seluruh Imunoglobin, Ig dengan jumlah tersedikit namun sangat
efisien, terdapat dalam serum, mudah diikat oleh mast cell, basofil & eosinofil yang pada
permukaannya memiliki reseptor untuk fraksi Fc dr Ig E.
II.4 Tipe Imunitas
 Imunitas : alami dan di dapat
Ada dua tipe umum imunitas, yaitu : alami (natural) dan di dapat ( akuisita). Setiap tipe imunitas
meaninkan peranann yang berbeda dalam mempertahankan tubuh terhadap para penyerang yang
berbahaya, namun berbagai komponen biasanya bekerja dengan cara yang saling tergantung
yang satu dengan yang lain.
 Imunitas alami
Imunitas alami merupakan kekebalan yang non-spesifik yang di temukan pada saat lahir dan
memberikan respon non-spesifik terhadap setiap penyerang asing tampa memperhatikan
kompossisi penyerang tersebut. Dasar mekanisme pertahanan aalami semata-mata merupakan
kemampuan untuk membedakan antara sahabat dan musuh atau antara diri sendiri dan bukan diri
sendiri.
Mekanisme alami semacam ini mencakup :
a. Sawar ( barier) fisik
Mencakup kulit serta membrane mukosa yang utuh sehingga mikro organism pathogen dapat di
cegah agar tidak masuk kedalam tubuh, dan silia pada traktus respiratorius bersama respon batuk
serta bersin yuang bekerja sebagai filter dan membersihkan saluran napas atas dari mokro
organism pathogen sebel;um mikro organism tersebut menginflasi tubuh lebuh lajut.
b. Sawar (barier) kimia
Mencakup getah lambung yang asam, enzim dalam air mata serta air liur (saliva) dan substansi
dalam secret kelenjar sbasea serta lakrimalis, bekerja dengan cara non-spesifik untuk
menghancurkan bakteri dan jamur yang menginvasi tubuh. Virus dihadapi dengan cara
interveron yaitu salah satu tipe pengubah (modifier) respon biologi yang meruakan substansi
virisaida non-spesifik yang secara alami yang diprodukasi oleh tubuh dan dapat mengaktifkan
komponen lainya dari sistem imun.
c. Sel darah putih ( leukosit)
Leukosit granular atau granolosit mencakup neutrofil (leukosit polimorfonuklear atau PMN
karena nukleusnya terdiri atas beberapa lobus) merupakan sel pertama yang tiba pada tempat
terjadinya inflamasi. Eosinofil dan basofil yaitu tipe leukosit .ain yang neningkat jumlahnya pada
saart terjadi reaksi alergi dan respon terhadap stress. Granulosit akan memerangi serbuan benda
asing atau toksin dengan melepaskan mediator sel seperti histamine, brandikinin, prostaglandin,
dan akan menyerang benda asing atau toksin tersebut. Leukosit non granuler mencakup
monosityang berfungsi sebagai sel fagosit yang dapat menelan, mencerna, dan menghancurkan
benda asing atau toksin dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan granulosit dan limfosit
yang trdiri atas sel T dan sel B yang memainkan peranan utama dalam imunitas humoral dan
imunitas yang diantarai oleh sel.
d. Respon inflamasi
Merupakan fungsi utama dari sistem imun alami yang dicetuskan sebagai reaksi terhadap cidera
jaringan atau mikro organism penyerang. Zat-zat mediator komia turut membantu respon
inflamasi untuk mengurangi kehilangan darah, mengisolasi mokro organism penyerang,
mengaktifkan sel-sel fagosit, dan meningkatkan pembentukan jaringan parut fibrosa serta
regenerasi jaringan yang cedera.
 Imunitas yang di dapat.
Imunitas yang didapat (acquired imunity) terdiri atas respon imun yang tidak di jumpai pada saat
lahir tetapi diperoleh dalam kehidupan seseorang. Imunitas didapat biasanya terjadi setelah
seseorng terjangkit penyakit atau mendapatkan imunisasi yang menghasilkan respon imun yang
bersifat protektif. Ada dua tipe imunitas yang di dapat, yaitu aktif dan pasif. Pada imunitas
didapat yang aktif , pertahanan imunologi akan dibetuk oleh tubuh orang yang dilindungi oleh
imunitas tersebut dan umumnya berlangsung selama bertahun-tahun bahkan seumur hidup.
Imunitas didapat yang pasif merupakan imunitas temporer yang di transmisikan dari sumber lain
yang sudah memiliki kekebala setelah menderita sakit atau menjalani imunisasi.
II.5 Faktor Yang Mempengaruhi Fungsi Sistem Imun
A. Usia
1. Penurunan kemampuan untuk bereaksi secara memadai terhadap mikroorganisme yang
menginvasinya.
2. Terganggunya produksi limfosit B dan T.
3. Kulit tipis, tidak elastic, neuropati perifer, penurunan sensitabilitas serta sirkulasi yang
menyertainya ulkus statis dan dekubitus.
B. Gender
 Estrogen
1. Memodulasi aktivitas limfosit T khususnya sel T supresor
2. Mengaktifkan populasi sel-sel B berkaitan dengan autoimun yang mengekspresikan marker CD5
3. Cenderung menggalakkan imunitas, sedangkan androgen=imunosupresif mempertahankan
produksi IL-2 dan aktivitas sel T supresor
4. Androgen
5. Lebih sering pada wanita terkait dengan estrogen
 Faktor-faktor psikoneuro-imunologik
• Kelainan organ lain
• Obat-obatan
• Radiasi
II.6 Fisiologi Reaksi Hipersensitifitas
Reaksi hipersensitif merujuk kepada reaksi berlebihan , tidak diinginkan (menimbulkan
ketidaknyamanan dan kadang-kadang berakibat fatal) dari sistem kekebalan tubuh. Pada keadaan
normal, mekanisme pertahanan tubuh baik humoral maupun selular tergantung pada aktivasi sel
B dan sel T. Aktivasi berlebihan oleh antigen atau gangguan mekanisme ini, akan menimbulkan
suatu keadaan imunopatologik yang disebut reaksi hipersensitivitas.
Menurut Gell dan Coombs ada 4 tipe reaksi hipersensitif yaitu :
1. Reaksi hipersensitif tipe I atau reaksi anafilaktik.
2. Reaksi hipersensitif tipe II atau sitotoksik.
3. Reaksi hipersensitif tipe III atau kompleks imun.
4. Reaksi hipersensitif tipe IV atau reaksi yang diperantarai sel.
Berdasarkan kecepatan reaksinya, tipe I, II dan III termasuk tipe cepat karena diperantarai
oleh respon humoral (melibatkan antibodi) dan tipe IV termasuk tipe lambat.
REAKSI ANAFILAKTIK
Sel mast dan basofil pertama kali dikemukakan oleh Paul Ehrlich lebih dari 100 tahun yang
lalu. Sel ini mempunyai gambaran granula sitoplasma yang mencolok. Pada saat itu sel mast dan
basofil belum diketahui fungsinya. Beberapa waktu kemudian baru diketahui bahwa sel-sel ini
mempunyai peran penting pada reaksi hipersensitivitas tipe cepat (reaksi tipe I) melalui mediator
yang dikandungnya, yaitu histamin dan zat peradangan lainnya.
Reaksi hipersensitivitas tipe I, atau tipe cepat ini ada yang membagi menjadi reaksi
anafilaktik (tipe Ia) dan reaksi anafilaktoid (tipe Ib). Untuk terjadinya suatu reaksi selular yang
berangkai pada reaksi tipe Ia diperlukan interaksi antara IgE spesifik yang berikatan dengan
reseptor IgE pada sel mast atau basofil dengan alergen yang bersangkutan.
Proses aktivasi sel mast terjadi bila IgE atau reseptor spesifik yang lain pada permukaan sel
mengikat anafilatoksin, antigen lengkap atau kompleks kovalen hapten-protein. Proses aktivasi
ini akan membebaskan berbagai mediator peradangan yang menimbulkan gejala alergi pada
penderita, misalnya reaksi anafilaktik terhadap penisilin atau gejala rinitis alergik akibat reaksi
serbuk bunga.
Reaksi anafilaktoid terjadi melalui degranulasi sel mast atau basofil tanpa peran IgE.
Sebagai contoh misalnya reaksi anafilaktoid akibat pemberian zat kontras atau akibat
anafilatoksin yang dihasilkan pada proses aktivasi komplemen (lihat bab mengenai komplemen).
Eosinofil berperan secara tidak langsung pada reaksi hipersensitivitas tipe I melalui faktor
kemotaktik eosinofil-anafilaksis (ECF-A = eosinophil chemotactic factor of anaphylaxis). Zat ini
merupakan salah satu dari preformed mediators yaitu mediator yang sudah ada dalam granula sel
mast selain histamin dan faktor kemotaktik neutrofil (NCF = neutrophil chemotactic factor).
Mediator yang terbentuk kemudian merupakan metabolit asam arakidonat akibat degranulasi sel
mast yang berperan pada reaksi tipe I.
Eosinofil dapat memproduksi protein sitotoksik seperti major basic protein (MBP) afau
eosinophil cationic protein (ECP). Makrofag dan neutrofil melepas faktor kemotaktik, sitokin,
oksigen radikal bebas, serta enzim yang berperan di dalam peradangan. Neutrofil adalah sel yang
pertama berada pada infiltrat peradangan setelah reaksi alergi fase cepat dalam keadaan
teraktivasi yang selanjutnya akan menyebabkan kerusakan jaringan dan menarik sel lain,
terutama eosinofil.
Menurut jarak waktu timbulnya, reaksi tipe I dibagi menjadi 2, yaitu fase cepat dan fase
lambat.
REAKSI SITOTOKSIK
Antibodi (igG dan IgM) menyebabkan penyakit dengan berikatan pada target antigennya
yang ada pada permukaan sel atau jaringan, misalnya pada penyakit anemia hemolitik
.

REAKSI KOMPLEKS IMUN


Penyakit hipersensitivitas yang diperantarai oleh antibodi (antibody-mediated) merupakan
bentuk yang umum dari penyakit imun yang kronis pada manusia. Antibodi terhadap sel atau
permukaan luar sel dapat mengendap pada berbagai jaringan yang sesuai dengan target antigen.
Penyakit yang disebabkan reaksi antibodi ini biasanya spesifik untuk jaringan tertentu. Kompleks
imun biasanya mengendap di pembuluh darah pada tempat turbulansi (cabang dari pembuluh
darah) atau tekanan tinggi (glomerulus ginjal dan sinovium). Oleh karena itu, penyakit kompleks
imun cenderung merupakan suatu penyakit sistemis yang bermanifestasi sebagai vaskulitis,
artritis dan nefritis.
REAKSI YANG DIPERANTARAI SEL
Peranan dari limfosit T pada penyakit imunologis pada manusia telah semakin dikenal dan
diketahui. Patogenesis dan tatalaksana penyakit autoimun pada manusia pada saat ini lebih
ditujukan pada kerusakan jaringan yang disebabkan terutama oleh sel limfosit T.
Hampir semua penyakit yang diperantarai T cell disebabkan oleh mekanisme autoimun.
Reaksi autoimun biasanya ditujukan langsung terhadap antigen pada sel yang distribusinya
terbatas pada jaringan organ tertentu. Oleh karena itu penyakit T cell mediated cenderung
terbatas mengenai organ-organ tertentu dan biasanya tidak bersifat sistemis. Kerusakan organ
juga dapat terjadi menyertai reaksi sel T terhadap reaksi mikroba, misalnya pada tuberculosis,
terdapat reaksi T cell-mediated terhadap M. tuberculosis, dan reaksi tersebut menjadi kronik oleh
karena infeksinya sulit dieradikasi. Inflamasi granulomatous yang terjadi mengakibatkan
kerusakan jaringan pada tempat infeksi. Pada infeksi virus hepatitis, virusnya sendiri tidak terlalu
merusak jaringan, tetapi sel limfosit T sitolitik (CTL) yang bereaksi terhadap hepatosit yang
terinfeksi menyebabkan kerusakan jaringan hepar.
Pada penyakit yang diperantarai oleh sel T (T cell-mediated), kerusakan jaringan dapat
disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas tipe lambat yang diperantarai oleh sel T CD4+ atau sel
lisis oleh CD8+ CTLs.
Mekanisme dari kerusakan jaringan sama dengan mekanisme yang digunakan oleh sel T
untuk mengeliminasi sel yang berkaitan dengan mikroba. Sel T CD4+ bereaksi terhadap antigen
pada sel atau jaringan, terjadi sekresi sitokin yang menginduksi inflamasi dan mengaktivasi
makrofag. Kerusakan jaringan disebabkan oleh sekresi sitokin dari makrofag dan sel-sel
inflamasi yang lain. Sel T CD8+ dapat menghancurkan sel yang berikatan dengan antigen asing.
Pada banyak penyakit autoimun yang diperantarai oleh sel T, terdapat sel T CD4+ dan sel T
CD8+ yang spesifik untuk antigen diri, dan keduanya berperan pada kerusakan jaringan.
II.7 Imunodefisiensi
Defisiensi Imun yaitu gangguan fungsi sistem imun penyakit yang menyertai defisiensi.
1. Sel B
2. Sel T
3. Fagosit
4. komplemen
Infeksi bakteri rekuren seperti otitis media, pnemumonia rekuren
Kerentanan meningkat terhadap virus, jamur, dan protozoa
Infeksi sistemik oleh bakteri yang dalam keadaan biasa mempunyai virulensi rendah, infeksi
bakteri piogenik Infeksi bakteri, autoimunitas
 PEMBAGIAN DEFISIENSI SISTEM IMUN
1. DEFISIENSI IMUN NONSPESIFIK
1.1 DEFISIENSI KOMPLEMEN
Berhubungan dengan peningkatan insiden infeksi atau penyakit autoimun Lupus
Eritematosis Sistemik (LES). Defisiensi komplemen dapat menimbulkan berbagai akibat seperti
infeksi bakteri yang rekuren, peningkatan sensitivitas terhadap penyakit autoimun. Kebanyakan
defisiensi komplemen adalah herediter.
A. DEFISIENSI KOMPLEMEN KONGENITAL
Biasanya mengakibatkan infeksi yang berulang atau penyakit kompleks imun seperti LES.
B. DEFISIENSI KOMPLEMEN FISIOLOGIK
Defisiensi Ck, C7, dan C8 menimbulkan peningkatan kerentanan terhadap septikemi
meningokok dan gonokok oleh karena lisis melalui jalur komplemen merupakan mekanisme
kontrol utama. Defisiensi komplemen fisiogenik hanya ditemukan pada neonatus yang
disebabkan karena kadar C3, C5, dan faktor B yang masih rendah.
C. DEFISIENSI KOMPLEMEN DIDAPAT
Disebabkan oleh depresi sintesis, misalnya pada sirosis hati dan malnutrisi protein/kalori
1.2 DEFISIENSI INTERFERON (IFN) DAN LISOZIM
A. DEFISIENSI IFN KONGENITAL
Dapat menimbulkan infeksi mononukleosis yang fatal
B. DEFISIENSI IFN DAN LISOZIM DIDAPAT
Dapat ditemukan pada malnutrisi protein / kalori.
1.3 DEFISIENSI NK
A. DEFISIENSI KONGENITAL
Terjadi pada penderita dengan osteopetrosis (defek osteoklas dan monosit). Kadat IgG, IgA,
dan kekerapak antibodi biasanya meningkat
B. DEFISIENSI DIDAPAT
Terjadi akibat imunosupresi atau radiasi
1.4 DEFISIENSI SISTEM FAGOSIT
Fagosit dapat menghancurkan mikroorganisme dengan atau tampa bantuan komplemen.
Defisiensi fagosit sering disertai dengan infeksi berulang.
A. DEFISIENSI KUANTITATIF
Merupakan fenomena autoimun akibat pemberian obat tertentu yang dapat memacu produksi
antibodi dan berfungsi sebagai opsonin neutrofil normal
B. DEFISIENSI KUALITATIF
Dapat mengenai fungsi fagosit seperti kemotaksis, menelan atau membunuh mikroba
intraselular.
2. DEFISIENSI IMUN SPESIFIK
2.1 DEFINSIASI IMUN KONGENITAL ATAU PRIMER
A. DEFISIENSI IMUN PRIMER B
Dapat berupa gangguan perkembangan pada sel B. Berbagai akibat dapat ditemukan seperti
tidak adanya semua Ig atau atu kelas atau subkelas. Penderita dengan defisiensi semua jenis IgG
akan lebih mudah menjadi sakit dibanding dengan yang hanya menderita defisiensi Ig tertentu
saja.
B. DEFISIENSI IMUN PRIMER SEL T
Penderita dengan defisiensi sel T kongenital sangat rentan terhadap infeksi virus, jamur, dan
protozoa. Oleh karena sel T juga berpengaruh pada sel B, maka defisiensi sel t disertai lupa
gangguan produksi Ig yang nampak dan tidak adanya respons terhadap vaksinasi dan seringnya
terjadi infeksi.
C. DEFISIENSI KOMBINASI SEL B DAN SEL
2.2 DEFISIENSI IMUN SPESIFIK FISIOLOGIK
A. Kehamilan
Defisiensi imun selular dapat ditemukan pada kehamilan. Keadaan ini mungkin diperlukan
untuk kelangsungan hidup fetus yang merupakan allograft dengan antigen paternal.
B. Usia Tahun Pertama
Sistem imun pada usia satu tahun pertama sampai usia 5 tahun masih belum matang.
Meskipu neonatus menunjukkan jumlah sel T yang tinggi, semuanya berupa sel naif dan tidak
memberikan respons yang kuat terhadap antigen
C. Usia Lanjut
Disebabkan oleh karena terjadi atrofi timus, fungsi timus menurun. Akibat invusi timus,
jumlah sel T naif dan kualitas respons sel T makin berkurang. Jumlah sel T memori meningkat
tetapi mungkin sulit untuk berkembang.
3. DEFISIENSI IMUN DIDAPAT SEKUNDER
a. Malnutrisi
b. Infeksi
c. Obat, trauma, tindakan kateterisasi
d. Penyinaran
e. Penyakit berat
f. Kehilangan imunoglobulin/leukosit
g. Stres
h. Agamaglobulinemia dengan timoma (disertai menghilangnya sel B total dari sirkulasi)
4. AIDS
II.8 Kompleks Histokompatibilitas Mayor
Kompleks histokompatibilitas utama (major histocompatibility complexatau MHC) adalah
sekumpulan gen yang ditemukan pada semua jenis vertebrata. Gen tersebut terdiri dari ± 4 juta
bp yang terdapat di kromosom nomor 6 manusia dan lebih dikenal sebagai kompleks antigen
leukosit manusia (HLA). Protein MHC yang disandikan berperan dalam mengikat dan
mempresentasikan antigen peptida ke sel T. Molekul permukaan sel yang bertanggung jawab
terhadap rejeksi transplan dinamakan molekul histokompatibilitas, dan gen yang mengkodenya
disebut gen histokompatibilitas. Nama ini kemudian disebut dengan histokompatibilitas mayor
karena ternyata MHC bukan satu-satunya penentu rejeksi. Terdapat pula molekul lain yang
walaupun lebih lemah juga ikut menentukan rejeksi, yang disebut molekul histokompatibilitas
minor. Pada saat ini telah diketahui bahwa molekul MHC merupakan titik sentral inisiasi respons
imun.

MOLEKUL MHC
Gen MHC berhubungan dengan gen imunoglobulin dan gen reseptor sel T (TCR = T-cell
receptors) yang tergabung dalam keluarga supergen imunoglobulin, tetapi pada
perkembangannya tidak mengalami penataan kembali gen seperti halnya gen imunoglobulin dan
TCR. Daerah MHC sangat luas, sekitar 3500 kb di lengan pendek kromosom 6, meliputi regio
yang mengkode MHC kelas I, II, III, dan protein lain, serta gen lain yang belum dikenal, yang
mempunyai peran penting pada fungsi sistem imun.
Ekspresi gen MHC bersifat kodominan, artinya gen orang tua akan tampak ekspresinya
pada anak mereka. Selain itu jelas terlihat beberapa gen yang terkait erat dengan gen MHC dan
mengkode berbagai molekul MHC yang berbeda, karena itu gen MHC disebut sebagai gen
multigenik. Pada populasi terlihat bahwa setiap gen tersebut mempunyai banyak macam alel
sehingga MHC bersifat sangat polimorfik. Untuk memudahkan maka semua alel pada gen MHC
yang berada pada satu kromosom disebut sebagai haplotip MHC. Setiap individu mempunyai
dua haplotip, masing-masing satu dari ayah dan ibu yang akan terlihat ekspresinya pada individu
tersebut.
Struktur Protein MHC
Protein MHC terdiri dari dua kelas struktur, yaitu protein MHC kelas I dan kelas II.
 Protein MHC kelas I
Protein MHC kelas I ditemukan pada semua permukaan sel berinti. Protein ini bertugas
mempresentasikan antigen peptida ke sel T sitotoksik (Tc) yang secara langsung akan
menghancurkan sel yang mengandung antigen asing tersebut. Protein MHC kelas I terdiri dari
dua polipeptida, yaitu rantai membrane integrated alfa (α) yang disandikan oleh gen MHC pada
kromosom nomor 6, dan non-covalently associated beta-2 mikroglobulin(β2m). Rantai α akan
melipat dan membentuk alur besar antara domain α1 dan α2 yang menjadi tempat penempelan
molekul MHC dengan antigen protein. Alur tersebut tertutup pada pada kedua ujungnya dan
peptida yang terikat sekitar 8-10 asam amino. MHC kelas satu juga memiliki dua α heliks yang
menyebar di rantai beta sehingga dapat berikatan dan berinteraksi dengan reseptor sel T.
 Protein MHC kelas II
Protein MHC kelas I terdapat pada permukaan sel B, makrofag, sel dendritik, dan beberapa
sel penampil antigen (antigen presenting cell atau APC) khusus. Melalui protein MHC kelas II
inilah, APC dapat mempresentasikan antigen ke sel-T penolong (Th) yang akan menstimulasi
reaksi inflamatori atau respon antibodi.MHC kelas II ini terdiri dari dua ikatan non kovalen
polipeptida integrated-membrane yang disebut α dan β. Biasanya, protein ini akan berpasangan
untuk memperkuat kemampuannnya untuk berikatan dengan reseptor sel T. Domain α1 dan β1
akan membentuk tempat untuk pengikatan MHC dan antigen.
Gen MHC dan polimorfisme
Pada manusia, gen yang mengkodekan MHC terletak pada kromosom nomor 6 dan terbagi
menjadi dua kelas gen, yaitu kelas I untuk MHC I dan kelas II untuk MHC II [4]. Kelompok gen
yang termasuk kelas I terdiri dari tiga lokus mayor yang disebut B, C, dan A, serta beberapa
lokus minor yang belum diketahui. Setiap lokus mayor menyandikan satu polipeptida tertentu.
Pada gen pengkode rantai alfa, terdapat banyak alel atau dengan kata lain bersifat polimorfik.
Rantai beta-2-mikroglobulin dikodekan oleh gen yang terletak di luar kompleks gen MHC,
namun apabila terjadi kecacatan pada gen tersebut maka antigen kelas I tidak bisa dihasilkan dan
dapat terjadi defisiensi sel T sitotoksik. Kompleks gen kelas II terdiri dari tiga lokus yaitu DP,
DQ, dan DR yang masing-masing mengkodekan satu rantai alfa atau beta.Rantai polipetida yang
dihasilkan akan saling berikatan dan membentuk antigen kelas II. Seperti halnya antigen kelas II,
antigen kelas II juga bersifat polimorfik (unik) karena lokus DR dapat terdiri atas lebih dari satu
macam gen penyandi rantai beta
Molekul HLA
Pada manusia terdapat 3 macam molekul MHC kelas I polimorfik, yaitu HLA-A, HLA-B,
dan HLA-C. Molekul HLA kelas I terdiri dari rantai berat a polimorfik yang berpasangan
nonkovalen dengan rantai nonpolimorfik b2-mikroglobulin yang bukan dikode oleh gen MHC.
Rantai a yang mengandung 338 asam amino terdiri dari 3 bagian, yaitu regio hidrofilik
ekstraselular, regio hidrofobik transmembran, dan regio hidrofilik intraselular. Regio
ekstraselular membentuk tiga domain al, a2, dan a3 (lihat Gambar 8-2). Domain a3 dan b2-
mikroglobulin membentuk struktur yang mirip dengan imunoglobulin tetapi kemampuannya
untuk mengikat antigen sangat terbatas.
Molekul HLA kelas I terdapat pada hampir semua permukaan sel berinti mamalia, yang
berfungsi untuk presentasi antigen pada sel T CD8 (pada umumnya Tc). Oleh karena itu perlu
terdapat ekspresi MHC kelas I di timus untuk maturasi CD8.
Pada manusia terdapat 3 macam molekulα MHC kelas II polimorfik, yaitu HLA-DR, HLA-
DQ, dan HLA-DP. Molekul HLA kelas II terdiri dari 2 rantai polimorfik a dan b yang terikat
secara nonkovalen, dan masing- masing terdiri dari 229 dan 237 asam amino yang membentuk 2
domain. Seperti halnya rantai a HLA kelas I, maka rantai a dan b kelas II terdiri dari regio
hidrofilik ekstraselular, regio hidrofobik transmembran, dan regio hidrofilik intraselular. Selain
itu terdapat pula rantai nonpolimorfik yang disebut rantai invarian, berfungsi untuk pembentukan
dan transport molekul MHC kelas II dengan antigen.
Molekul MHC kelas II terdapat pada sel makrofag dan monosit, sel B, sel T aktif, sel
dendrit, sel Langerhans kulit, dan sel epitel, yang umumnya timbul setelah rangsangan sitokin.
Fungsi molekul MHC kelas II adalah untuk presentasi antigen pada sel CD4 (umumnya Th) yang
merupakan sentral respons imun, karena itu sel yang mempunyai molekul MHC kelas II
umumnya disebut sel APC (antigen presenting cells). Molekul MHC kelas II perlu terdapat
dalam timus untuk maturasi sel T CD4
Terdapat beberapa molekul lain yang dikode pula dan daerah MHC tetapi mempunyai
fungsi yang berbeda dengan molekul MHC kelas I dan II. Suatu daerah dalam MHC yang
dikenal sebagai regio MHC kelas III mengkode sejumlah protein komplemen (C2, B, C4A, C4)
dan enzim sitokrom p450 2l-hidroksilase. Selain itu terdapat pula gen sitokin TNF a dan b, atau
gen lain yang mengkode molekul yang berfungsi untuk pembentukan dan transport molekul
MHC dalam sel. βα
Gen respons imun (Ir) semula diterangkan pada hewan percobaan sebagai gen yang
menentukan respons imun individu terhadap antigen asing tertentu. Dengan pemetaan genetika
klasik terlihat bahwa gen Ir mirip dengan gen MHC kelas II, sehingga diangap bahwa molekul
MHC keIas II adalah produk gen Ir. Studi tentang struktur molekul kelas I dan II, serta tempat
ikatan antigen pada molekul kelas II, memperkuat anggapan bahwa molekul kelas II merupakan
mediator gen Ir.
Keragaman tempat ikatan antigen dalam berbagai molekul kelas II, serta perbedaan
kemampuan molekul kelas II tertentu untuk mengikat antigen spesifik, menimbulkan dugaan
bahwa hanya molekul keIas II tertentu saja yang dapat mempresentasikan suatu antigen tertentu
pula. Hal ini terlihat pada pemetaan bahwa hanya individu yang mempunyai gen kelas II tertentu
saja yang dapat bereaksi terhadap suatu antigen khusus.
Contoh tentang efek gen Ir pada manusia adalah respons antibodi IgE terhadap
antigenragweed Ra5 yang sangat berhubungan dengan HLA-DR2, serta respons IgE terhadap
antigen ragweed Ra6 yang sangat berhubungan dengan HLA-DR5. Walaupun belum jelas
terbukti, antigen ragweed dipercaya terikat pada molekul MHC kelas II.
Hubungan dengan penyakit tertentu
Selain peran dalam rejeksi transplan, beberapa alel spesifik mempunyai hubungan dengan
penyakit tertentu yang umumnya mempunyai kelainan dasar imunologik. Mayoritas penyakit
tersebut berhubungan dengan HLA kelas II, dan ini menunjukkan peran penting molekul kelas II
untuk presentasi antigen pada sel T CD4. Hubungan itu dinyatakan dengan nilai risiko relatif.
Semakin besar nilai tersebut untuk alel HLA tertentu maka semakin meningkat pula risiko
seseorang untuk mendapat penyakit tersebut.
Terdapat beberapa hipotesis untuk menerangkan asosiasi penyakit dengan HLA ini, yaitu 1)
molekul HLA sebagai reseptor etiologi, 2) HLA bersifat selektif untuk antigen, 3) TCR sebagai
penentu predisposisi penyakit, 4) agen penyebab menyerupai molekul HLA, dan 5)
penyimpangan ekspresi molekul kelas II.
Molekul HLA dapat berlaku sebagai reseptor untuk etiologi penyakit seperti virus atau
toksin. Dugaan ini berdasarkan bukti bahwa molekul lain pada permukaan sel dapat berlaku
sebagai reseptor etiologi, misalnya molekul CD4 selaku reseptor HIV.
Hanya tempat ikatan antigen pada lekukan molekul HLA tertentu saja yang dapat mengikat
suatu antigen penyebab penyakit. Jadi hanya individu yang mempunyai molekul HLA seperti itu
saja yang dapat menderita penyakit tersebut.

TCR sebagai penentu predisposisi penyakit


TCR bertanggung jawab terhadap predisposisi untuk suatu penyakit, tetapi karena
pengenalan antigen oleh sel T ditentukan oleh molekul HLA maka sebetulnya asosiasi dengan
penyakit tersebut adalah dengan HLA. Agen penyebab menyerupai molekul HLA
Hipotesis ini memiliki dua alternatif. Pertama, karena kemiripan agen penyebab dengan
molekul HLA maka akan dianggap sebagai antigen diri sehingga dapat menimbulkan kerusakan
tubuh tanpa perlawanan sistem imun. Kedua, agen penyebab dikenal sebagai antigen asing
sehingga mendapat perlawanan respons imun, dan karena mirip dengan molekul HLA maka
sistem imun tubuh akan menyerang molekul HLA pula sehingga terjadi kerusakan jaringan
seperti pada penyakit autoimun.
Penyimpangan ekspresi molekul MHC kelas II
Diduga bahwa induksi ekspresi kelas II pada permukaan sel yang tidak biasa
mengekspresikan molekul tersebut dapat menimbulkan penyakit. Dalam keadaan normal,
molekul spesifik pada permukaan sel selalu mengalami pergantian dan degradasi. Bila sel
tersebut tidak mempunyai ekspresi molekul kelas II maka degradasi molekul spesifik itu tidak
membawa akibat bila terpajan antigen. Tetapi bila pada sel tersebut timbul ekspresi molekul
kelas II, maka degradasi molekul spesifik tersebut akan memulai pemrosesan antigen. Fragmen
peptida molekul spesifik yang mengalami degradasi tadi akan terikat pada tempat ikatan antigen
molekul kelas II, sehingga terbentuk kompleks imun yang merangsang respons imun terhadap
molekul spesifik tersebut. Bila hanya molekul kelas II tertentu saja (misalnya HLA-DR3) yang
dapat mengikat fragmen molekul spesifik, barulah terlihat asosiasi antara HLA dengan penyakit
tertentu.
PENYAKIT AUTOIMUN
Sebagian besar penyakit yang berhubungan dengan HLA adalah kelompok penyakit
autoimun, dan prototip asosiasi ini adalah hubungan antara HLA-B27 dan spondilitis angkilosis.
Dengan risiko relatif 91, maka individu ras Kaukasia HLA-B27 (+) mempunyai risiko 91 kali
lebih besar untuk mendapat spondilitis angkilosis dibandingkan dengan individu HLA-B27 (-).
Ekspresi molekul MHC pada berbagai ras dapat berbeda bermakna sehingga harus selalu
dibandingkan dengan kontrol. Contohnya, HLA-B27 terdapat pada 48% ras hitam penderita
spondilitis angkilosis di USA dibandingkan dengan 2% pada kelompok kontrol ras yang sama
sehingga risiko relatif ras hitam di USA adalah 31.
Karena daerah MHC sangat luas maka dapat saja terjadi rekombinasi genetik pada berbagai
lokus individu. Rekombinasi ini tidak seluruhnya terjadi secara acak karena terbukti bahwa
beberapa alel memperlihatkan kecenderungan tinggi untuk merangkai dengan alel lain, yang
disebut sebagai rangkaian yang tidak seimbang (linkage disequilibrium). Jadi dapat saja suatu
penyakit yang selama ini kita kenal sebagai berhubungan dengan alel MHC tertentu, sebetulnya
dipengaruhi alel lain yang terangkai dengan alel terdahulu. Contohnya adalah sindrom Sjogren
yang dikenal berhungan dengan HLA-B8, sebetulnya dipengaruhi oleh HLA-DR3 yang
terangkai dengan HLA-B8. Yang sangat menarik adalah bahwa ternyata hubungan antara
penyakit autoimun dengan HLA-DR3 cukup sering terlihat.
Defek respons imun
Keadaan lain yang dihubungkan dengan MHC adalah defek respons imun. Kemampuan
individu untuk membuat respons imun adekuat berhubungan dengan regio MHC kelas II, yang
menentukan kemampuan presentasi antigen kepada sel T yang harus berkaitan dengan molekul
HLA. Selain itu antigen tertentu lebih suka bergabung dengan molekul HLA tertentu pula. Jadi
suatu molekul HLA kelas II dapat lebih baik mengikat antigen dibanding molekul HLA kelas II
lainnya, sehingga presentasi antigen pun akan lebih efektif. Karena itu jenis HLA seseorang akan
menentukan baik-buruknya respons imun yang berhubungan dengan produk MHC miliknya.
Suatu antigen hanya akan dikenal oleh sel T (melalui TCR) bila berasosiasi dengan molekul
HLA tertentu, dan hal ini dikenal sebagai terbatas HLA (HLA restricted). Gabungan antigen
dengan molekul HLA membentuk ligan untuk TCR tertentu, dan ikatan ini dapat mengaktivasi
sel T. Asosiasi antara suatu antigen dengan molekul HLA sangat bervariasi, tetapi akan terbatas
oleh molekul HLA yang tersedia pada sel T. Bila molekul HLA hanya sedikit maka asosiasi yang
terbentuk mungkin terlalu lemah untuk mengaktivasi sel T .
BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Imunitas mengacu kepada respons protektif tubuh yang spesifik terhadap benda asing atau
mikroorganismeyang menginvasinya. Komponen dan fungsi pada imunitas terdiri leukosit,
sumsum tulang, jaringan limfoid yang terdiri dari kelenjar thymus, limfe, tonsil, lien,tonsil serta
adenoid, dan jaringan serupa.
Dari leukosit terdapat sel B dan sel T. sel B mencapai maturasinya pada sumsum tulang dan
sel T mencapai maturasinya di kelenjar thymus. Imunitas dibagi menjadi imunitas alami dan
imunitas yang didapat. Imunitas alami merupakan respons nonspesifik terhadap setiap penyerang
asing tanpa mempertahankan komposisi penyerang tersebut.
Mekanismenya mencakup sawar fisik, kimia, sel darah putih, respon inflamasi. Imunitas
yang didapat terdiri dari respon imun yang tidak dijumpai pada saat lahir tetapi akan diperoleh
kemudian dalam hidup seseorang. Biasanya terjadi setelah seseorang terjangkit penyakit atau
mendapatkan imunisasi yang menghasilkan respon imun yang bersifat protektif.
Terdapat 2 tipe pada imunitas yang didapat yaitu imunitas didapat aktif dan pasif.
Pertahanan system imun dibagi pada respons imun fagositik, respon humoral/antibody respon,
dan respon imun seluler. Disamping system pertahanan, terdapat stadium respon imun; yakni
stadium pengenalan, bersirkulasi, proliferasi, respon, dan efektor.
Faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi system imun yaitu usia, gender, faktor-faktor
psikoneuro-imunologik, kelainan organ lain, obat-obatan dan radiasi.
Imunodefisiensi bisa diklasifikasikan sebagai kelainan primer/sekunder dan dapat pula
berdasar komponen yang terkena pada system imun tersebut. Imunodefisiensi sekunder lebih
sering dijumpai, akibat dari proses penyakit yang mendasarinya. Penyebabnya malnutrisi, stress
kronik, luka bakar, uremia, DM, kelainan autoimun, AIDS. Penderita ini mengalami
imunosupresi dan sering disebut hospes yang terganggu kekebalannya (immunocompromised
host). Gangguan imun yang terakhir adalah hipersensitivias adalah reaksi tipe 1 yang
memerlukan kontak sebelumnya dengan antigen yang spesifik sehingga terjadi produksi antibody
IgE oleh sel-sel plasma (sel T helper membantu menggalakkan reaksi ini).
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Ghaffar, Prakash Nagarkatti (2009). “MHC: GENETICS AND ROLE IN
TRANSPLANTATION”. Microbiology and Immunology
Online.http://pathmicro.med.sc.edu/ghaffar/mhc2000.htm.
Anthony L. DeFranco, Richard M. Locksley, Miranda Robertson (2007). Immunity: the immune
response in infectious and inflammatory disease. Oxford University Press.
Baratawidjaja KG. 2006. Imunologi Dasar. 7th ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
Baratawidjaja KG. 2009. Imunologi Dasar. 8th ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
Brunner, Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Edisi 8. Jakarta: EGC.
David S. Wilkes, William J. Burlingham. 2004. Immunobiology of organ transplantation. Springer.
Nobuaki Ishii, Mitsuro Chiba, Masahiro Iizuka, Hiroyuki Watanabe, Tomonori Ishioka, Osamu
Masamune (1992). “Expression of MHC class II antigens (HLA-DR, -DP, and -DQ) on human
gastric epithelium”. Journal of Gastroenterology 27 (1): 23-28.
http://www.springerlink.com/content/116 u7825q2615448/fulltext.pdf?page=1.
Pandjassarame Kangueane. 2009. Bioinformation Discovery: Data to Knowledge in Biology. Springer.
Price, Wilson. 2005. Pathophysiology Edisi 6. Jakarta: EGC

Diposkan oleh Freaknie Freakz di 05.18 1 komentar:


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Beranda
Langganan: Entri (Atom)